Senin, 31 Juli 2017

Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya



Senin, 31 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Galatia 5:1-5
Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Gal 5:1)


Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya


Beberapa saat lagi kita akan masuk ke dalam bulan Agustus, dimana kita akan merayakan hari kemerdekaan negara kita yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus. Berbicara tentang kemerdekaan, di bulan Agustus akan banyak gereja dan pendeta yang berkhotbah mengenai kemerdekaan. Salah satu ayat Alkitab yang sering digunakan di bulan Agustus ini adalah Galatia 5:1 sebagaimana yang terdapat dalam bagian bacaan Alkitab kita pada hari ini.

Ayat tersebut sangat indah dan sering dikutip, yaitu: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (ay. 1). Sekilas membaca ayat tersebut, banyak orang Kristen berpendapat bahwa Kristus telah memerdekakan kita (seperti Indonesia merdeka dari penjajah) sehingga kita sudah merdeka secara total. Akibatnya, banyak orang Kristen yang merasa sudah merdeka dan tidak berjuang secara proporsional. Hal ini yang merusak iman sebagian orang Kristen karena mereka tidak sungguh-sungguh mengerti maksud ayat ini.

Ayat 1 dalam bahasa aslinya berbunyi demikian: Τῇ ἐλευθερίᾳ ἡμᾶς Χριστὸς ἠλευθέρωσεν στήκετε οὖν καὶ μὴ πάλιν ζυγῷ δουλείας ἐνέχεσθε atau Tē eleutheria hēmas Christos ēleutherōsen stēkete oun kai palin zygō douleias enechesthe. Di dalam ayat tersebut ada 2 kata yang mirip yaitu eleutheria (merdeka) dan ēleutherōsen (memerdekakan). Kata eleutheria sendiri merupakan kata benda yang dapat berarti liberty/freedom (kemerdekaan/kebebasan). Jadi Tuhan ingin kita supaya merdeka atau bebas. Oleh karena itulah Kristus memerdekakan (ēleutherōsen) kita. Kata ēleutherōsen sendiri adalah kata kerja dengan jenis verb aorist indicative active 3rd person singular

Secara singkat definisi aorist adalah untuk menyatakan bahwa sesuatu hal pernah terjadi atau pernah dilakukan. Tidak menyatakan terus-menerus atau berulang kali, melainkan perbuatan pada satu titik waktu (punctiliar). Karena itu kata kerja ini tidak berpatokan pada waktu lampau, sekarang atau depan. Adapun nuansa makna yang dapat dinyatakan oleh fungsi aorist adalah yang terpenting adalah tindakan dilihat sebagai suatu keseluruhan, bukan lamanya tindakan. Oleh karena itu definisi memerdekakan dapat dilihat bahwa Tuhan Yesus Kristus sudah memerdekakan kita ketika Ia mati dan bangkit bagi kita. 

Namun demikian, Kristus memerdekakan kita supaya kita sungguh-sungguh merdeka. Jadi memang benar Kristus sudah memerdekakan kita, tetapi adalah bagian kita untuk kita menjadi sungguh-sungguh merdeka. Ibarat kemerdekaan negara kita, dahulu per tanggal 17 Agustus 1945 kita sudah memproklamirkan kemerdekaan kita. Tetapi apakah saat ini negara kita benar-benar merdeka? Di situ bagian kita untuk mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan kita. Indonesia tetap merdeka karena ada orang-orang yang berjuang merebut kemerdekaan dan bagian kita yaitu berjuang mengisi dan mempertahankan kemerdekaan tersebut. 

Pada masa itu, jemaat mula-mula mengalami perdebatan di antaranya mengenai apakah jemaat non-Yahudi harus tetap mengikuti hukum Taurat atau tidak. Sementara itu Jemaat dari latar belakang Yahudi tentu sudah terbiasa mengikuti hukum Taurat sejak kecil, dan perbedaan pandangan antara kedua kelompok tersebut semakin meruncing misalnya terkait dengan apakah orang Kristen harus disunat atau tidak (ay. 2). Perbedaan ini yang dikatakan oleh Paulus sebagai kuk perhambaan (ay. 1b). Jadi sebagai orang percaya kita telah dimerdekakan dari segala aturan hukum Taurat. Kita tidak lagi diperhamba oleh hukum  Taurat, tetapi kita harus menjadi hamba Tuhan. Artinya Tuhan harus menjadi satu-satunya hukum dalam diri kita (The Lord is my law). Dalam hal ini setiap orang percaya harus menguji apakah tindakannya, perkataannya, maupun pikirannya sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau belum.

Kehidupan orang percaya jauh lebih tinggi standarnya daripada sekedar melakukan hukum (dalam hal ini hukum Taurat). Standar hidup orang percaya adalah melakukan kehendak Bapa di surga. Oleh karena itu jika orang percaya masih berdebat soal hukum Taurat seperti sunat (yang dialami jemaat mula-mula), maka Paulus dengan tegas mengatakan bahwa mereka masih belum merdeka. Sunat (secara lahiriah) adalah tuntutan hukum Taurat. Jika di dalam jemaat Galatia pada masa itu ada orang yang menyunatkan dirinya karena ia takut terhadap tuntutan hukum Taurat, maka ia pun wajib melakukan seluruh hukum Taurat (ay. 3). Tentu ayat ini juga masih relevan bagi kita yang hidup di masa kini. Tidak ada salahnya menyunatkan diri sendiri atau menyunatkan anak selama hal itu kita lakukan demi alasan kesehatan. Tetapi jika kita disunat karena alasan bahwa hal itu ada tertulis di dalam Alkitab (Perjanjian Lama yaitu hukum Taurat), maka kita sama dengan mereka yang belum merdeka. Kita belum sungguh-sungguh menjadi hamba Tuhan karena kita masih menjadi hamba hukum Taurat.

Mereka yang masih berjuang untuk hidup menurut hukum Taurat, maka mereka belum menjadi hamba Kristus. Mereka adalah orang-orang yang masih belum merdeka (dari hukum Taurat), dan sesungguhnya mereka sedang “terlepas” dari Kristus jika mereka mengharapkan kebenaran oleh karena melakukan hukum Taurat (ay. 4). Alkitab juga menjelaskan bahwa oleh Roh dan karena iman kita menantikan kebenaran yang kita harapkan (ay. 5). Kebenaran apakah yang kita harapkan? Satu-satunya pengharapan kita sebagai orang percaya seharusnya adalah langit yang baru dan bumi yang baru. Itulah pengharapan kita yang hakiki karena disanalah terdapat kebenaran (2 Ptr 3:13).

Jadi mari kita uji diri kita masing-masing, apakah kita sudah sungguh-sungguh merdeka atau belum. Kemerdekaan kita yang sejati hanya ada di dalam Kristus. Maksudnya adalah Kristus telah memerdekakan kita sehingga kita menjadi hamba-Nya, yaitu hidup seperti diri-Nya yang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34). Kemerdekaan di dalam Kristus bukanlah kemerdekaan yang “liar”, yang membuat kita hidup suka-suka kita sendiri. Kemerdekaan di dalam Kristus adalah kemerdekaan yang mengembalikan kita sesuai rancangan Allah semula, yang membuat kita mampu menjadi anak-anak Allah yang sah, yaitu mereka yang mau hidup melakukan kehendak-Nya dan dipimpin oleh Roh Allah (Rm 8:14).



Bacaan Alkitab: Galatia 5:1-5
5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

Jumat, 28 Juli 2017

Beda Frekuensi



Jumat, 28 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Yohanes 8:42-47
Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. (Yoh 8:43)


Beda Frekuensi


Dahulu saya pernah punya radio lama dengan model tuner yang masih analog (belum digital). Artinya untuk mencari-cari siaran suatu radio tertentu, saya harus memutar-mutar tuner untuk mendapatkan frekuensi yang tepat. Memang di radio-radio model lama tersebut ada semacam patokan frekuensi yang biasanya berupa garis-garis. Namun seringkali frekuensi sebenarnya agak bergeser dari patokan garis tersebut sehingga kita harus mencarinya secara manual, dan mengingat-ingat posisi frekuensi radio favorit kita. Belum lagi jika tuner tersebut tersenggol sehingga bergeser yang mengakibatkan sinyal radio menjadi tidak pas (suara menjadi kurang jelas) dan kita harus menggeser tuner tersebut untuk mendapatkan frekuensi yang tepat.

Sama seperti radio tersebut yang baru bisa menghasilkan suara yang jernih ketika frekuensinya tepat, demikian pula dengan hubungan antara kita dan Tuhan. Kita baru bisa mendengarkan suara Tuhan dengan jelas hanya jika kita satu frekuensi dengan Tuhan. Jika frekuensi kita berbeda dengan frekuensinya Tuhan, maka kita tidak akan dapat menangkap suara Tuhan.

Dalam bagian bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus berkata kepada orang Farisi dan ahli Taurat (yang berpikir bahwa mereka adalah umat pilihan Allah karena merupakan keturunan Abraham), bahwa jika memang mereka adalah umat Allah atau anak-anak Allah, maka seharusnya mereka bisa mengasihi Tuhan Yesus dan tidak menentang-Nya, karena mereka sama-sama datang dari sumber yang sama (ay. 42). Jadi karena orang Farisi dan ahli Taurat justru menentang dan memusuhi Tuhan Yesus, maka sesungguhnya mereka bukan anak-anak Allah tetapi anak-anak iblis (ay. 44a). Hal tersebut akan semakin nyata terlihat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh mereka, karena mereka tidak pernah melakukan keinginan Allah tetapi melakukan keinginan iblis, yaitu membunuh manusia dan tidak hidup dalam kebenaran (ay. 44b).

Jadi jika frekuensinya beda, sebanyak apapun Tuhan Yesus mengatakan kebenaran kepada mereka, maka mereka pun tidak percaya kepada-Nya (ay. 45). Bahkan meskipun mereka pun tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan Yesus berbuat dosa (yang artinya Tuhan Yesus adalah orang benar), tetapi mereka tetap tidak dapat percaya kepada-Nya (ay. 46). Jadi inilah pentingnya satu frekuensi dengan Tuhan Yesus supaya kita dapat mendengar suara-Nya dengan jelas.

Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa salah satu sebab orang Farisi dan ahli Taurat tidak dapat mengerti perkataan Tuhan Yesus adalah karena mereka tidak dapat menangkap Firman Tuhan (ay. 43). Mengapa mereka tidak menangkap Firman Tuhan? Kata “menangkap” di ayat tersebut dalam bahasa aslinya adalah akouein (ἀκούειν) dari kata dasar akouó (ἀκούω) yang tidak hanya berarti to hear (mendengar) saja, tetapi juga berarti to understand, to learn, to comprehend, to perceive the distinct words of a voice, to yield obedience to the voice (mengerti, belajar, memahami, membedakan kata-kata dari suatu ucapan/suara, menghasilkan ketaatan terhadap suatu suara/perintah).

Jadi pengertian “menangkap Firman Tuhan” tidak hanya sekedar berarti mendengar atau membaca Firman Tuhan, melainkan jauh lebih dari itu. Jika diperhatikan lebih seksama, para ahli Taurat dan orang Farisi tersebut juga adalah mereka yang rajin membaca dan mendengar Firman (dalam hal ini Hukum Taurat atau kitab-kitab Perjanjian Lama). Mereka bahkan sudah menjadi pengajar di antara bangsa Yahudi. Namun demikian, mereka ternyata masih belum bisa menangkap Firman Tuhan dan tidak mengerti bahasa Tuhan Yesus.

Dalam kondisi kita saat ini, sangat mungkin ada orang-orang yang sudah mengambil bagian dalam pelayanan di gereja (misal menjadi pengurus, pemimpin pujian, pemusik), bahkan sudah menjadi pengkhotbah dan pendeta, tetapi mereka belum bisa menangkap Firman Tuhan. Mereka mungkin sudah banyak membaca Firman Tuhan bahkan sudah mengajarkan Firman Tuhan, tetapi mereka masih belum satu frekuensi dengan Tuhan. Frekuensi kehidupan orang-orang seperti ini berbeda dengan frekuensi Tuhan sehingga mereka tidak bisa menangkap suara-Nya. Apa ciri-ciri frekuensi Tuhan? Secara sederhana frekuensi Tuhan adalah frekuensi surgawi dan pasti berbeda dengan frekuensi duniawi.

Jika seseorang masih mencintai dunia, maka ia masih berada pada frekuensi duniawi dan belum masuk ke frekuensi surgawi. Dalam hal ini kita dapat melihat kehidupan dan ajaran Tuhan Yesus seperti: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58), “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk 13:24), atau “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:33). Semua ajaran Tuhan Yesus tersebut (dan masih banyak lagi lainnya) menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak membawa murid-murid-Nya menikmati segala kesenangan dunia. Inilah frekuensi ajaran Tuhan Yesus yang semakin jarang disuarakan gereja Tuhan pada akhir zaman ini.

Tidak heran jika saya merasakan kesepian yang luar biasa, ketika menawarkan ajaran Tuhan Yesus yang sebenarnya. Saya sempat bergumam, siapakah yang mau mendengarkan suara Tuhan Yesus yang seperti ini? Siapa yang siap menderita, menyangkal diri dan memikul salib di akhir zaman ini? Tidak jarang saya merasa “beda frekuensi” ketika duduk di gereja dan mendengar khotbah dari sejumlah pembicara yang fokus pengajarannya hanya mengajarkan berkat jasmani di dunia ini. Saya lebih baik belajar langsung dari Tuhan dan berjuang untuk satu frekuensi dengan-Nya, supaya saya dapat menangkap suara-Nya dan mendengarkan Firman-Nya, karena itulah tanda bahwa kita adalah anak-anak Allah yang berasal dari Allah, yaitu ketika kita mampu mendengarkan Firman-Nya (ay. 47). Ingat bahwa Firman-Nya tidak selalu Firman yang lembut dan penuh kasih. Ada kalanya Firman-Nya ibarat api yang menghanguskan, ibarat pedang bermata dua yang tajam. Di situ kita harus belajar peka mendengar suara-Nya, supaya kita dapat satu frekuensi dengan-Nya dan menangkap Firman-Nya.



Bacaan Alkitab: Yohanes 8:42-47
8:42 Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
8:43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.
8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.
8:45 Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.
8:46 Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
8:47 Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah."

Selasa, 25 Juli 2017

Bukan Harta Milik Kita Sendiri



Selasa, 25 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Lukas 16:10-13
Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? (Luk 16:12)


Bukan Harta Milik Kita Sendiri


Kebanyakan orang (termasuk orang Kristen) tentu merasa dan menganggap bahwa harta yang dimilikinya di dunia ini adalah hartanya sendiri. Tentu di mata manusia pada umumnya, hal ini adalah wajar, apalagi harta yang dimiliki dari usaha atau kerja keras seseorang. Pada umumnya mereka juga menganggap bahwa adalah wajar jika seseorang menikmati harta miliknya yang diperoleh dari kerja keras tersebut. Pertanyaan berikutnya kemudian muncul seperti judul renungan ini: Apakah benar harta yang kita miliki ini adalah harta kita sendiri?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat kita lihat di bagian bacaan Alkitab kita pada hari ini yang dimulai dengan ayat yang sudah tidak asing lagi: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (ay. 10). Ayat ini begitu familiar hingga sering digunakan dalam banyak kesempatan. Dahulu saya juga mengira bahwa ayat ini berbicara mengenai kesetiaan kita dalam hal-hal yang kecil sebelum Tuhan percayakan hal-hal yang lebih besar. Sebagai contohnya, saya membayangkan bahwa jika kita setia melayani di gereja dari hal-hal kecil (misalnya membereskan kursi sebelum dan sesudah ibadah), maka Tuhan akan melihat ketulusan kita dan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi kepada kita.

Hal itu tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi menarik melihat ucapan Tuhan Yesus dalam ayat sebelumnya, yaitu jika kita tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepada kita harta yang sesungguhnya (ay. 11)? Jika kita melihat ke kamus Alkitab di bagian akhir Alkitab Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), kata mamon sendiri diartikan sebagai “harta benda dan kekayaan dibayangkan sebagai oknum (yang jahat)”. Ketika saya merenungkan hal ini, muncul pemahaman dalam diri saya bahwa ayat 10 di atas sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai kesetiaan dalam hal yang kecil (seperti contoh/ilustrasi saya di atas), tetapi erat kaitannya dengan mamon dan harta yang sesungguhnya.

Banyak orang berpikir bahwa mamon (uang atau harta) yang dimiliki di dunia adalah harta yang sesungguhnya. Namun demikian, Tuhan Yesus dengan jelas membedakan mamon dengan harta yang sesungguhnya. Dalam hal ini mamon dianggap sebagai “hal atau perkara yang kecil” dan harta yang sesungguhnya adalah “hal atau perkara yang besar”. Oleh karena itu, dengan kata lain Tuhan Yesus ingin berkata bahwa orang (yaitu orang Kristen) harus bisa setia dalam hal mamon di dunia ini, barulah nanti ia akan dipercaya dengan harta yang sesungguhnya. Hal ini jelas terlihat di ayat selanjutnya, dimana Tuhan Yesus berkata bahwa jika kita tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan harta kita sendiri kepada kita? (ay. 12).

Dengan kata lain, ayat 10 hingga 12 mengerucut kepada satu kesimpulan yang luar biasa: segala harta yang kita miliki di dunia ini (yaitu mamon), bukanlah harta milik kita sendiri. Itu adalah “titipan Tuhan” yang dipercayakan kepada kita. Oleh karena itu suatu saat nanti Tuhan sebagai pemilik harta akan meminta pertanggungjawaban dari kita. Jika kita dipandang setia dalam hal mamon (yaitu dalam perkara kecil), maka kita akan dipercayakan harta kita yang sesungguhnya, yaitu harta milik kita sendiri, dalam kerajaan Allah yang kekal. Jadi jelas bahwa harta yang kita miliki di dunia ini sebenarnya bukanlah harta milik kita. Harta milik kita baru akan kita terima nanti di kekekalan, dengan catatan kita harus setia mengelola harta titipan Tuhan di bumi ini.

Hal ini paralel dengan ucapan Tuhan Yesus mengenai perumpamaan tentang talenta (Mat 25:14-26). Secara singkat kita bisa mengerti bahwa raja dalam perumpamaan tersebut memberikan talenta kepada hamba-hambanya untuk dikelola dan dikembangkan. Hamba yang baik dan setia akan mengembangkan talenta tersebut, sementara hamba yang tidak setia tidak akan mengembangkan talenta milik tuannya. Ingat bahwa talenta dalam perumpamaan itu bukanlah milik si hamba, melainkan milik tuan mereka. Para hamba tersebut hanya bertindak sebagai pengelola (manager) dan bukan pemilik (owner). Dan hanya manager yang baik dan setia yang kepadanya akan dipercayakan harta milik mereka sendiri.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berpikir bahwa semua hal yang kita miliki di dunia ini bukanlah milik kita sendiri. Dengan demikian kita tidak akan takut untuk “melepaskan” harta tersebut ketika Tuhan menghendakinya. Sama seperti Abraham yang sama sekali tidak ragu mempersembahkan Ishak, anaknya yang sangat ia kasihi, kepada Tuhan. Atau sama seperti Paulus yang rela kehilangan segala seuatu bahkan menganggap dunia ini seperti sampah supaya ia dapat mendapatkan Kristus (Flp 3:8). Di sini kita akan belajar sampai pada level dimana kita akan menyadari bahwa uang yang ada di dompet kita maupun tabungan kita itu bukanlah uang milik kita. Itu adalah uang milik Tuhan yang dititipkan atas nama kita. Oleh karena itu kita harus menggunakan uang (dan juga segenap harta) dengan bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang seperti ini tidak akan menggunakan uang dan hartanya untuk kepentingannya sendiri, melainkan hidupnya hanyalah untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya.

Satu hal prinsip yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada 2 tuan (ay. 13a). Ini adalah prinsip yang penting terkait dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu jika kita tidak menjadi hamba Tuhan yang baik dan setia, maka kita “pasti” menjadi hamba dunia. Iblis sangat cerdik, ia tidak membuat kita terang-terangan menjadi hamba iblis. Namun iblis menawarkan dunia dan segala percintaan dunia supaya kita menjadi hamba dunia. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah (Yak 4:4). Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh berjuang menjadi hamba-hamba Tuhan yang benar. Dalam hal ini kita harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tuan atau majikan kita. Kepada-Nyalah kita harus tunduk sepenuhnya tanpa batas, yaitu dengan menjadi hamba-hamba yang mau melakukan kehendak-Nya, mengelola harta titipan milik-Nya dengan sebaik-baiknya. Itulah kasih dan kesetiaan kita yang seharusnya, yaitu hanya kepada Tuhan. Itulah bukti pengabdian kita yang total kepada-Nya.




Bacaan Alkitab: Lukas 16:10-13
16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
16:11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?
16:12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
16:13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."