Selasa, 11 Oktober 2011

Dilarang Merokok

Sabtu, 8 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Korintus 6:12-20

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Kor 6:19)


Dilarang Merokok


Saya pernah berbicara dengan seorang saudara seiman yang hobi merokok, Ia tidak bisa lepas dari kebiasaannya merokok, bahkan begitu keluar dari gereja, biasanya ia langsung menyalakan rokoknya. Ketika saya bertanya mengapa ia tak bisa berhenti merokok, ia mengatakan bahwa ia akan berhenti merokok asalkan di Alkitab tertulis “Dilarang merokok”. Lalu saya katakan, kalau di Alkitab, mau dicari dari Kitab Kejadian sampai Wahyu, mau dicari di terjemahan mana pun, sampai ke bahasa daerah, bahasa Jawa, Aceh, hingga ke Papua, kita tidak akan menemukan kata-kata “Dilarang merokok”. Justru kalau kita ke SPBU kita pasti menemukan ada tulisan “Dilarang merokok” tertempel di mana-mana. Walaupun demikian, jika kita cermati Alkitab dengan mendalam, kita bisa menemukan sebuah ayat yang mendekati dengan kata-kata “Dilarang merokok” tersebut, yang salah satunya adalah dalam bacaan Kitab Suci kita hari ini.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, menasehatkan jemaat bahwa semua sesuatu, walaupun telah dianggap halal, namun tidak semuanya berguna atau bermanfaat. Memang segala sesuatu pasti ada yang bermanfaat, ada juga yang tidak bermanfaat namun tidak merugikan juga, tetapi juga ada yang merugikan. Rokok misalnya, saya rasa lebih bannyak negatifnya daripada positifnya. Buktinya, dalam setiap kemasan dan iklan rokok selalu dituliskan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan ganguan kehamilan dan janin”. Lha, kalau sudah tahu merokok itu tidak sehat malah bikin penyakit, kok masih ada yang mau merokok ya?

Salah satu penyebabnya adalah orang tersebut sudah terikat dengan rokok. Dengan kata lain, ia sudah menjadi hamba rokok. Dalam ayat 12, Paulus mengatakan bahwa kita yangan sampai diperhamba oleh apapun, apalagi oleh rokok. Sangat disayangkan karena ketika seseorang ketagihan merokok, orang itu akan menghabiskan uangnya untuk membeli rokok, padahal mungkin uang tersebut akan lebih berguna untuk membeli beras atau membayar uang sekolah anak-anaknya. Selain itu merokok juga dapat mengganggu kesehatan orang lain, terlebih orang-orang terdekat dengan kita, entah itu isteri kita, atau anak-anak kita.

Banyak hal-hal di dunia ini yang tidak berguna. Dalam konteks Jemaat di Korintus, mereka lebih banyak digoda oleh percabulan, karena di kota Korintus sendiri terdapat kuil romawi yang cukup besar, dimana para pendeta kuil tersebut yang sebagian besar adalah perempuan, menjadikan diri mereka sebagai pelacur di kuil tersebut. Karena kuil tersebut adalah landmark dari kota Korintus, maka percabulan seakan-akan menjadi hal yang biasa bagi setiap orang di Korintus, termasuk jemaat yang ada di sana. Jika ditarik ke konteks di masa kini, maka mungkin selain percabulan, tentunya banyak hal yang tidak berguna seperti rokok, minuman keras, dugem, dan lain-lain.

Terhadap percabulan, dan juga hal-hal lain, Paulus menegaskan bahwa bagi orang percaya, Roh Kudus telah diam dalam tubuh kita, dan dengan demikian tubuh kita adalah Bait Roh Kudus (ay. 15 & 18). Apakah kita masih tega untuk merusak tubuh kita dengan hal-hal yang tidak berguna dan bahkan merugikan kita? Paulus mengartakan agar kita memuliakan Allah dengan tubuh Kita. Bahkan seharusnya tubuh kita itu digunakan untuk memuliakan Tuhan (ay. 13 & 20). Bagaimana mungkin kita dapat memuliakan Allah jika tubuh kita saja sakit-sakitan karena merokok? Bagaimana pula orang lain bisa memuliakan Allah jika kita yang mengaku orang Kristen saja merokok di sembarang tempat, mengganggu orang lain terlebih wanita dan anak-anak yang ada di sekitar kita? Belajarlah dari hal-hal yang sederhana. Jangan mau diperhamba oleh apapun, karena Tuhan telah membebaskan kita dari perhambaan (Gal 5:1).


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 6:12-20

6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

6:13 Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.

6:14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.

6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!

6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging."

6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.

6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Mutiara yang Indah

Jumat, 7 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Matius 13:44-46

“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:45-46)

Mutiara yang Indah


Dalam perikop yang kita baca hari ini, Tuhan Yesus mengumpamakan hal Kerajaan Surga seperti sebuah mutiara yang indah. Awalnya saya sempat berpikir, kenapa ya Tuhan Yesus tidak memakai istilah seperti “emas yang indah”, atau “perak yang indah”, tetapi justru memakai istilah mutiara yang indah? Banyak penafsiran mengenai hal ini, tetapi menurut pendapat saya. Tuhan Yesus menggunakan istilah “mutiara” dalam perumpamaanNya karena mutiara dibentuk melalui proses yang rumit. Mutiara awalnya adalah kotoran yang masuk ke dalam sejenis kerang, dan karena dianggap sebagai benda asing, maka tubuh kerang mengeluarkan sejenis zat yang melapisi kotoran tersebut hingga menjadi mutiara yang indah. Salah satu perbedaan mutiara dengan emas adalah semakin besar mutiara, maka semakin berharga mutiara itu. Mutiara tidak dapat dibagi menjadi beberapa bagian, karena dengan melakukan itu, maka mutiara tersebut akan turun nilainya. Sementara emas, sebesar apapun batangan emas, jika dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, maka total nilai potongan-potongan emas tersebut akan sama dengan jika emas tersebut masih dalam keadaan utuh.

Dengan demikian, dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut, kemungkinan besar mutiara yang ditemukan tersebut adalah sebuah mutiara yang besar. Dalam ayat 44, dikatakan bahwa Kerajaan Surga digambarkan sebagai sebuah harta. Namun sesungguhnya walaupun diumpamakan sebagai sebuah harta, Kerajaan Surga itu sendiri tidak dapat dinilai oleh apapun. Adakah seseorang yang sangat kaya sekalipun mampu membeli tiket masuk ke Surga setelah ia meninggal? Tidak ada yang mampu membelinya. Alkitab bahkan mengatakan “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat 16:26). Justru karena terlalu mahal dan tidak dapat dibeli dengan harga berapapun, Tuhan memberikan tiket masuk ke Surga tersebut dengan uma-cuma, melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib (Rm 3:24)

Dalam perumpamaan ini juga dikisahkan bahwa harta tersebut dikatakan sebagai harta yang terpendam. Artinya, bahwa harta tersebut sepertinya tersembunyi, walau sebenarnya harta itu sudah ada di sana sejak dahulu. Kerajaan Surga juga sebenarnya telah tersedia, namun bagi dunia ini jalan masuk ke kerajaan Surga seperti tersembunyi, walaupun sebetulnya sangat mudah yaitu dengan percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Namun apa yang dunia lihat adalah bahwa keselamatan harus diperoleh dengan susah payah, dengan ibadah yang menyiksa diri, dengan mempersembahkan korban, dengan segala macam ritual dan sebagainya. Tugas kita yang telah diselamatkan adalah membantu orang lain yang belum percaya Tuhan untuk menemukan harta kerajaan surga tersebut.

Ketika seseorang akhirnya dapat menemukan harta tersebut, dan melihat bahwa harta tersebut tak ternilai oleh apapun juga, maka orang tersebut pun akan rela menjual seluruh miliknya untuk membeli tanah di tempat harta tersebut berada. Demikian juga dengan Kerajaan Surga, Ada harga yang harus dibayar oleh setiap orang yang telah memiliki tiket masuk ke Kerajaan Surga. Ini bukan berarti kita harus membayar untuk tiket tersebut, tetapi kita harus mau membayar harga untuk mempertahankan tiket tersebut agar tidak hilang. Seperti dalam bacaan kita, orang yang menemukan harta pun kembali menimbun harta tersebut agar tidak hilang diambil orang lain. Ketika kita menganggap sesuatu sangat berharga, tentunya kita akan menjaga harta kita tersebut dengan sekuat tenaga, jangan sampai hilang atau berpindah tangan. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Yesus, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Tuhan Yesus (Mrk 8:34)

Bagaimana dengan kita? Kalau kita menganggap Kerajaan Surga seperti mutiara yang indah, pasti kita tidak akan setengah-setengah mengikut Tuhan. Pasti kita akan berusaha sekuat tenaga untuk membayar harga, dan juga akan berusaha sekuat tenaga untuk membagikan kabar tersebut ke orang-orang yang kita kasihi. Sudahkah kita melakukannya?


Bacaan Alkitab: Matius 13:44-46

13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

Selasa, 04 Oktober 2011

Jangan Menyia-nyiakan Keselamatan

Kamis, 6 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Ibrani 2:1-4

“bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu…” (Ibr 2:3a)

Jangan Menyia-nyiakan Keselamatan

Saat musim lebaran tahun ini, saya akhirnya ikut-ikutan mudik ke kampung halaman. Bukan ke kampung halaman orang tua saya, karena mereka pun ada di Jakarta, tetapi ke kampung halaman isteri saya. Dulu sebelum menikah, biasanya saya tidak pernah pulang ke tempat isteri saya (dulu masih berstatus pacar saya) pada masa lebaran, karena terlalu macet dan penuh, belum lagi harga tiket yang gila-gilaan. Namun setelah menikah, mau tidak mau karena hal itu merupakan tradisi akhirnya saya ikut juga mudik bersama dengan orang banyak lainnya.

Saat mudik tersebut, saya memilih moda transportasi bus karena langsung menuju kota tempat keluarga isteri saya berada. Jika menggunakan kereta api atau pesawat, saya masih harus menyambung dengan naik bus lagi menuju kota tempat keluarga isteri saya tinggal. Saat di terminal itulah saya melihat ada sebuah pemandangan yang sangat kontras menurut saya, yang saya rasa juga terjadi di terminal, stasiun, pelabuhan, maupun bandara lainnya. Sekelompok orang yang saat itu belum memiliki tiket terlihat bingung dan mencoba bolak balik dari satu loket ke loket lain untuk memperoleh tiket. Ada beberapa orang dari mereka yang menjadi mangsa calo-calo tiket yang menjual tiket dengan harga lebih mahal hingga dua kali lipat. Sementara ada sekelompok orang (termasuk saya) yang tenang-tenang saja, karena tiket mudik sudah di tangan. Saya tinggal naik ke bus yang sudah menunggu dan tinggal menunggu waktu berangkat. Andaikata ada orang lain yang mau meminta atau menukar tiket saya dengan tiket lain, tentu saya tidak mau. Mengapa? Karena tiket yang saya miliki sangat berharga dan saya dapat dengan susah payah. Saya sendiri waktu itu membeli tiket mudik satu bulan sebelum hari-H. Masakan pada hari-H saya menyia-nyiakan tiket yang saya sudah pegang di tangan dengan hal lainnya?

Demikian juga dengan keselamatan. Saya yakin kita semua yang membaca tulisan saya ini sudah yakin dengan keselamatan dirinya, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mungkin ada di antara kita yang lahir dan besar di keluarga yang telah percaya Tuhan, sehingga sejak kecil sudah mengerti tentang arti keselamatan, sedangkan sebagian di antara kita mungkin baru mengenal Tuhan setelah beranjak dewasa. Tidak peduli kapan kita mengenal keselamatan itu, tetapi yang terpenting adalah kita menjaga dan tidak menyia-nyiakan keselamatan yang telah kita peroleh tersebut.

Yang harus kita lakukan adalah menjaga agar kita tidak sampai terbawa arus dunia (ay. 1b). Terlalu banyak godaan dunia yang mengiming-imingi hal lain agar kita melepaskan keselamatan kita. Saya melihat banyak orang percaya yang akhirnya meninggalkan iman mereka hanya demi kedudukan tinggi di pemerintahan, atau melepaskan keselamatan karena memilih pasangan hidup yang tidak seiman. Sangat disayangkan bahwa keselamatan yang mereka peroleh dengan pengorbanan Yesus di atas kayu salib disia-siakan hanya untuk sesuatu yang fana.

Kita harus belajar seperti Tuhan Yesus yang ketika dicobai iblis, Ia tetap mampu melawan godaan tersebut (Mat 4:1-11). Tuhan Yesus digoda dengan hal-hal duniawi seperti makanan, kekayaan dunia, bahkan kekuasaan dunia, namun Tuhan Yesus mampu melawan iblis. Dengan apa Tuhan Yesus melawan iblis? Dengan Firman Tuhan. Setiap kali Iblis menawarkan sesuatu kepada Tuhan Yesus, di situlah Tuhan Yesus membalasnya dengan kutipan Firman Tuhan. Artinya adalah salah satu cara untuk kita menang terhadap godaan-godaan dunia, kita harus selalu memiliki Firman Tuhan dalam hati kita, salah satu caranya adalah dengan cara dengan teliti memperhatikan Firman Tuhan yang kita dengar, kita baca, kita lihat (ay. 1a) dan kita menyimpannya dalam hati kita, bahkan kita harus selalu membawa Firman tersebut dalam keseharian kita (Yos 1:8).

Keselamatan itu gratis, tanpa syarat apapun, hanya percaya kepada Yesus Kristus, maka kita akan diselamatkan (Kis 16:31). Namun keselamatan itu bukan hanya untuk didiamkan saja, tetapi juga harus dijaga. Jangan kita seperti Esau yang menukar hak kesulungan dengan hanya semangkuk sup kacang merah. Jangan pula kita menukar keselamatan dengan kekayaan dunia yang bersifat fana. Apakah gunanya kita memperoleh seluruh dunia ini tetapi kita kehilangan nyawa kita? (Mat 16:26). Tuhan telah memberikan keselamatan kepada kita dengan pengorbananNya di atas kayu salib. Kita telah lunas dibayar dari kematian kekal kepada kehidupan kekal, oleh karena itu marilah kita tetap mengerjakan keselamatan kita dengan sungguh-sungguh (Flp 2:12).

Bacaan Alkitab: Ibrani 2:1-4

2:1 Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.

2:2 Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,

2:3 bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan

2:4 Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.

Mengembangkan Talenta

Rabu, 5 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Matius 25:14-30

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat 25:21)

Mengembangkan Talenta

Ketika saya datang ke Gereja pada kebaktian hari Minggu yang lalu, ada kesaksian pujian dari sebuah yayasan. Ada satu orang yang bersaksi, kemudian dua orang menyanyikan lagu pujian, dan satu orang memainkan keyboard untuk mengiringi lagu tersebut. Sepertinya biasa ya, tapi yang membuat saya kagum adalah semua orang tersebut adalah orang yang tidak dapat melihat alias buta. Saya cukup terpukau melihat orang yang memainkan keyboard tersebut. Saya sendiri dapat bermain keyboard sedikit-sedikit, namun tidak dengan mata tertutup. Dan orang tersebut mampu memainkan melodi dengan indah jauh lebih bagus jika dibandingkan jika saya yang memainkannya dengan mata terbuka. Apa yang terjadi saat itu membuka mata saya, bahwa jika orang buta saja mampu memuliakan Tuhan dengan menyanyi dan bermain musik, bukankah saya yang tidak buta seharusnya juga mampu memuliakan Tuhan dengan apa yang ada pada saya?

Dalam bacaan kita kali ini, Tuhan mengumpamakan hal Kerajaan Sorga seperti talenta. Talenta di sini dapat berarti banyak hal, tetapi mari kita anggap talenta ini sebagai sesuatu yang Tuhan telah berikan dalam hidup kita. Dalam perumpamaan ini, ada beberapa prinsip yang dapat kita pelajari agar kita dapat mengembangkan talenta kita.

Pertama, Tuhan memberikan talenta kepada setiap orang, walaupun mungkin jumlahnya berbeda-beda (ay. 15). Tuhan tidak pernah tidak memberikan talenta kepada seseorang. Bahkan minimal Ia akan memberikan satu talenta kepada seseorang. Pemberian talenta ini bukan karena kita yang meminta, tetapi ini adalah kewenangan Tuhan sendiri. Ia yang menentukan apakah si A mendapatkan satu talenta, atau si B mendapatkan lima talenta, atau bahkan si C mendapatkan seratus talenta. Dalam hal ini kita tidak bisa membanding-bandingkan talenta yang Tuhan berikan kepada kita dengan talenta yang Tuhan berikan ke orang lain, karena Tuhan memberi talenta tersebut menurut kesanggupan kita (ay. 15b).

Kedua, Tuhan ingin kita mengembangkan talenta kita (ay. 14). Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit, namun secara implisit dalam perumpamaan ini kita dapat melihat bahwa Tuhan mau talenta yang telah diberikanNya tersebut tidak hanya disimpan di dalam tanah, melainkan dikembangkan sehingga menjadi berlipat ganda. Dalam mengembangkan talenta kita tidak perlu berfokus kepada berapa hasil yang akan kita peroleh. Dalam perumpamaan ini, Tuhan tidak memuji hamba berdasarkan berapa jumlah hasil perolehan laba hamba-hamba tersebut, melainkan Tuhan memuji sikap hamba tersebut yang baik dan setia melakukan apa yang Tuhan ingin lakukan. Walaupun demikian, seseorang yang diberikan talenta lebih banyak, seharusnya mampu menghasilkan laba yang lebih besar pula. Semakin banyak kita diberi, semakin banyak kita dituntut.

Ketiga, hamba yang mau mengembangkan talenta disebut sebagai hamba yang baik dan setia, sedangkan hamba yang tidak mau mengembangkan talenta disebut sebagai hamba yang jahat dan malas (ay. 21a & 26a). Apakah anda mau menjadi hamba yang jahat dan malas? Atau mau menjadi hamba yang baik dan setia? Tuhan tidak minta banyak, Tuhan hanya ingin kita mengembangkan talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita. Soal hasilnya bagaimana, yang penting kita sudah berusaha dan sudah setia dengan apa yang ada bagi kita. Ketika kita sudah setia mengembangkan talenta yang Tuhan berikan, di situ Tuhan akan menambahkan tanggung jawab yang lebih besar lagi kepada kita.

Bagaimana dengan kita? Berapa banyak talenta yang Tuhan telah berikan dalam kehidupan kita. Saya iseng-iseng mencoba melihat apa sih talenta yang Tuhan berikan dalam hidup saya, dan ketika saya mencoba melihat diri saya sendiri, saya menyadari bahwa Tuhan memberikan dua talenta utama dalam diri saya yang dapat saya gunakan dalam pelayanan. Pertama adalah talenta di bidang musik, dan kedua adalah talenta di bidang menulis. Oleh karena itu akhirnya saya mencoba mengembangkan talenta saya di kedua bidang tersebut, termasuk menulis renungan ini. Cobalah kita lihat diri kita masing-masing, barangkali Tuhan memberikan kepada anda lima talenta yang luar biasa, mungkin hanya dua, atau mungkin hanya satu. Tidak menjadi masalah berapa talenta yang Tuhan berikan, yang menjadi masalah adalah apakah Anda mau mengembangkan talenta tersebut atau tidak. Apapun talenta anda, apakah sebagai penginjil, sebagai pengkhotbah, sebagai gembala, sebagai penyanyi, sebagai pemusik, sebagai penulis, sebagai pendoa, atau sebagai apapun juga, saatnya bagi kita untuk mengembangkan talenta kita, sehingga suatu saat nanti kita dapat mendengar Tuhan berkata kepada kita “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”.

Bacaan Alkitab: Matius 25:14-30

25:14 "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

25:17 Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Rendah Hati di Hadapan Tuhan

Selasa, 4 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Mazmur 131:1-3

“TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.” (Mzm 131:1)

Rendah Hati di Hadapan Tuhan

Pasal ini adalah salah satu pasal terpendek di kitab Mazmur. Dalam pasal ini, Daud menulis mazmur yang menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan. Padahal Daud adalah salah satu orang yang diberkati oleh Tuhan secara luar biasa. Tuhan telah mengurapi Daud sejak muda, menolong Daud melawan Goliat, mendudukkan Daud sebagai raja atas bangsa Israel, menolong Daud ketika terjadi pemberontakan, hingga akhir hayatnya. Tuhan telah menjanjikan bahwa Mesias akan datang dari keturunan Daud, hingga Yesus pun disebut sebagai anak Daud.

Selain itu Daud menulis begitu banyak mazmur yang salah satunya kita baca saat ini. Tapi dalam mazmur ini, Daud justru tidak ingin memegahkan diri atas segala sesuatu yang pernah dicapainya. Daud menyadari bahwa semua yang ia dapat raih dan ia dapat lakukan adalah karena pertolongan Tuhan semata. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari mazmur Daud ini, terkait bagaimana kita tetap memiliki sikap rendah hati di hadapan Tuhan.

Pertama, kita tidak boleh timggi hati memandang orang lain dengan sombong (ay. 1a). Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Adakah kita melihat orang lain yang lebih buruk keadaannya dari kita? Itu berarti Tuhan masih memberkati kita dengan luar biasa. Ketika kita melihat orang miskin, orang sakit, orang yang kedudukannya lebih dari kita, itu berarti Tuhan sedang mengajar kita untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Jangan karena Tuhan pakai kita dalam pelayanan dengan luar biasa, kemudian kita tidak memandang orang lain. Barangkali seseorang yang kita lihat adalah jemaat biasa justru adalah orang yang lebih tinggi kedudukannya di hadapan Tuhan, karena ia selalu mendoakan pelayanan kita, sementara kita tidak pernah mendoakan orang tersebut.

Kedua, kita tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau terlalu ajaib (ay. 1b). Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh memilki cita-cita atau iman yang besar, tetapi ada bagian-bagian tertentu yang merupakan bagian kita, ada bagian-bagian tertentu yang merupakan bagian orang lain, dan ada bagian-bagian tertentu yang merupakan bagian Tuhan. Kita tak dapat mengerti rencana-rencana Tuhan, karena rencana Tuhan terlalu ajaib. Namun di situlah kita boleh berserah kepada Tuhan. Ketika kita berkata, “jadilah kehendakMu Tuhan”, di situlah Tuhan hadir dan mewujudkan rencananya bahkan ketika kita masih belum paham apa sebenarnya yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita

Ketiga, kita harus belajar tenang dan diam, sama seperti seorang anak yang tenang di dekat ibunya (ay. 2). Dalam kondisi apapun, ada ketenangan yang luar biasa ketika kita dekat dengan Tuhan, sama seperti seorang anak yang tenang ketika ia dekat dengan ibunya. Mungkin badai kehidupan sedang bergelora, sama seperti apa yang dialami murid-murid Yesus ketika naik perahu dan Yesus sedang tidur di perahu tersebut. Murid-murid Yesus panik dan berusaha berbuat apa saja, tetapi badai tetap ada. Namun ketika Yesus akhirnya bangun, Ia mampu mengubah cuaca buruk menjadi baik, Ia mampu mengubah badai menjadi angin sepoi-sepoi (Mrk 4:35-41). Ketika kita panik, kita cenderung mengandalkan kemampuan kita sendiri, dan akibatnya keadaan justru tidak menjadi lebih baik. Namun ketika kita berserah kepada Tuhan, kita hanya diam tenang, dan membiarkan Tuhan yang bekerja.

Keempat, kita harus selalu berharap hanya kepada Tuhan (ay. 3). Percuma kita berharap kepada apa yang kita miliki atau kepada orang lain. Firman Tuhan berkata “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yer 17:5). Berharap kepada Tuhan bukan hanya pada saat kondisi kita sedang baik, tetapi dalam kondisi apapun kita harus selalu berharap kepada Tuhan. Justru di saat kita sedang mengalami masalah, di situ kita harus lebih berharap kepada Tuhan.

Saya mengatakan hal ini bukan karena saya lebih pandai dari anda, tetapi karena saya juga sedang belajar untuk tidak tinggi hati. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin sulit seseorang untuk bersikap rendah hati. Karena apa? Karena di kantor orang tersebut terbiasa memiliki anak buah, dan terbiasa menyuruh orang. Semakin kaya seseorang, biasanya juga akan semakin sulit bagi orang tersebut untuk bersikap rendah hati. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa sangat sulit bagi orang kaya untuk masuk surga (Mat 19:24). Namun ingatlah bahwa Tuhan pun akan memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan (Mzm 149:4), tetapi orang yang tinggi hati adlah kekejian bagi Tuhan, dan mereka tidak akan luput dari hukuman (Ams 16:5).

Bacaan Alkitab: Mazmur 131:1-3

131:1 Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.

131:2 Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.

131:3 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Hamba Uang atau Hamba Tuhan

Senin, 3 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:1-5

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang…” (2 Tim 3:2)

Hamba Uang atau Hamba Tuhan

Surat Paulus yang kedua kepada Timotius dipercaya banyak ahli Alkitab sebagai surat terakhir sebelum akhirnya Paulus mati dibunuh di Roma. Paulus sendiri menulis di dalam surat ini bahwa kematiannya sudah dekat (2 Tim 4:6). Menyadari bahwa kematiannya sudah dekat, tentunya apa yang ditulis Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, anak rohaninya, merupakan pesan yang penting bagi Timotius, dan juga bagi kita yang membacanya di zaman ini.

Paulus menggambarkan kondisi manusia pada akhir zaman, di mana ciri utamanya adalah mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang, selain sifat-sifat lainnya seperti membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah (ay. 2-4).

Apa artinya menjadi hamba uang? Menjadi hamba uang artinya adalah menganggap uang sebagai yang terutama dalam hidup ini, dan menjadikan uang sebagai segala-galanya. Menjadi hamba uang berarti menganggap bahwa segala sesuatunya dapat dibeli dengan uang, dan semua yang dilakukan haruslah diukur dengan uang. Saya pernah membaca sebuah cerita yang kira-kira isinya seperti ini: Uang memang bisa membeli buku, tetapi tidak bisa membeli hikmat. Uang memang bisa membeli pengawal, tetapi tidak bisa membeli keamanan. Uang memang bisa membeli salib, tetapi tidak bisa membeli keselamatan. Uang memang bisa membeli cincin kawin, tetapi tidak bisa membeli cinta. Banyak hal yang dapat dibeli dengan uang, tetapi uang tidak dapat membeli semua hal.

Saya tidak mengatakan bahwa uang tidak penting. Saya membutuhkan uang, untuk itulah saya bekerja keras di kantor, dan saya yakin anda pun bekerja demi mendapatkan uang. Tapi yang Alkitab sorot adalah janganlah kita menjadi hamba uang. Jangan kita karena mengejar uang yang banyak kemudian bekerja mati-matian dan bahkan tidak memiliki waktu lagi untuk keluarga, apalagi untuk Tuhan karena terlalu sibuk bekerja mencari uang. Jangan juga kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, entah dengan mencuri, korupsi, dan lain sebagainya. Alkitab bahkan mengatakan bahwa orang-orang seperti ini secara lahiriah tetap menjalankan ibadah mereka, namun hati mereka bukan lagi untuk Tuhan, tetapi sudah berfokus kepada uang, karena mereka udah dikuasai oleh hawa nafsu (ay. 4).

Bagaimana cara mengatasinya? Caranya sebetulnya mudah, jadilah hamba Tuhan dan bukan hamba uang. Jadikan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita, dan bukan uang yang terutama. Jika kita menjadikan Tuhan sebagai tuan kita, maka kita menjadi hamba Tuhan. Jika kita menjadikan uang sebagai tuan kita, maka kita manjadi hamba uang. Kita harus memilih salah satu, karena tidak ada orang yang dapat mengabdi ke dua tuan (Mat 6:24). Ingatlah bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang (1 Tim 6:10).

Saya sering mendengar dari beberapa hamba Tuhan yang berkhotbah, bahwa sesungguhnya kita salah ketika kita mencari uang tapi tidak mencari Tuhan. Tetapi kita harus mencari Tuhan terlebih dahulu, maka selanjutnya uang akan datang dengan sendirinya kepada kita. Firman Tuhan berkata: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Jika kita mencari Tuhan terlebih dahulu dan menjadi hamba Tuhan, maka bukan kita yang mencari uang, tetapi uanglah yang akan mencari kita. Buat apa menjadi hamba uang, padahal Tuhan kita adalah Tuhan yang memiliki emas dan perak (Hag 2:9). Jadi ketika kita menjadi hamba Tuhan, yang adalah Tuhan atas emas dan perak, maka Tuhan akan memberkati kita dengan limpah, dan mencukupkan segala keperluan dan kebutuhan kita, menurut kekayaanNya dan kemuliaanNya (Flp 4:19). Kesimpulannya, marilah kita menjadi hamba Tuhan, dan bukan menjadi hamba uang, maka berkat Tuhan akan melimpah dalam kehidupan kita.

Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:1-5

3:1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

3:3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,

3:4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Mendengarkan Nasihat Orang Lain

Minggu, 2 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Keluaran 18:13-27

“Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.” (Kel 18:24)

Mendengarkan Nasihat Orang Lain

Ketika saya mulai menulis renungan ini, awalnya saya tak berencana untuk membuat renungan setiap hari. Tidak mudah menulis renungan setiap hari, karena dibutuhkan hikmat dalam menulis. Ketika saya menulis, kadang-kadang dalam satu hari saya dapat menulis beberapa judul renungan, tetapi bisa jadi saya hanya dapat menulis satu judul renungan dalam empat atau lima hari. Saya salut kepada hamba-hamba Tuhan yang mampu menulis renungan harian hingga satu bulan penuh dengan isi renungan yang sangat berbobot, terlebih bagi hamba-hamba Tuhan yang selain menulis juga mampu berkhotbah di mana-mana. Ketika saya melihat mereka, jujur saya menjadi termotivasi, walau mungkin renungan yang saya tulis ini tidaklah dapat dibandingkan dengan renungan yang dibuat oleh hamba-hamba Tuhan lainnya.

Selama ini, banyak saran dan masukan yang saya terima mengenai renungan ini. Saya mungkin tidak dapat mengirimkan setiap hari karena kesibukan saya di kantor, sehingga ada masukan dari beberapa teman untuk memuat tulisan ini di sebuah website agar orang lain dapat membacanya. Ada juga yang memberikan masukan tentang salah ketik dan lain sebagainya. Ada juga yang mengkritik. Ya, saya berterima kasih atas masukan-masukan tersebut, karena itu berarti ada yang membaca dan ada yang memperhatikan. Saya sendiri tidak berharap membuat renungan yang luar biasa bagus setiap hari, namun saya berharap ada bagian dari tulisan saya yang dapat menjadi berkat bagi para pembacanya.

Memang kadang kala mendengarkan nasihat orang lain itu berat, terlebih jika kita memiliki ego yang tinggi. Dulu ketika saya menjabat pernah sebagai kepala seksi, saya cukup kesal jika ada audit ISO 9001 maupun 14001, baik audit internal maupun audit eksternal. Rasa-rasanya ada saja yang salah dengan pekerjaan saya. Tetapi ketika saya pindah kerja menjadi auditor, ternyata tugas auditor adalah menemukan ketidakcocokan dengan prosedur sehingga dapat menjadi perbaikan bagi pihak-pihak yang diaudit.

Demikian juga dengan Musa. Siapa yang tidak mengenal Musa? Seorang anak angkat Putri Firaun (Kej 2:10), seorang yang mampu membuat mujizat dan tulah dengan tongkatnya di hadapan Firaun, seorang yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian, seorang yang mampu membelah Laut Merah (Kel 14:21-22), seorang pemimpin besar pada masanya. Tapi Musa tetap mau mendengarkan nasihat orang lain. Oke, kalau nasihat itu diberikan oleh seorang raja atau misal orang tuanya mungkin itu adalah hal yang biasa. Namun nasihat ini diberikan oleh mertuanya. Sangat jarang seorang pemimpin mau mendengarkan orang lain, terlebih mendengarkan mertuanya. Dan Musa pun tidak hanya mendengarkan nasihat orang lain, tetapi juga mau melakukannya (ay. 24).

Dalam prinsip manajemen modern, apa yang dilakukan Musa dapat dikatakan sebagai pendelegasian kewenangan Musa kepada orang lain secara berjenjang. Akhirnya, keadaan pun menjadi lebih baik bagi Musa dan juga bagi bangsa Israel. Pekerjaan Musa pun menjadi lebih ringan, dan Musa akhirnya memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal lain. Bangsa Israel pun tidak perlu mengantri lama untuk meminta nasihat dari Musa, karena mereka sudah memiliki pemimpin-pemimpin untuk 1000 orang, 100 orang, 50 orang, dan 10 orang (ay. 25). Merekalah yang akhirnya mengadili perkara-perkara kecil yang mereka mampu tangani. Untuk perkara-perkara yang besar memang masih tetap diserahkan kepada Musa. Dengan metode ini pula, dari bangsa Israel pun akan lahir orang-orang yang mampu menjadi pemimpin, yang nantinya akan menjadi penerus Musa. Mungkin dari sinilah muncul Yosua, yang nantinya menjadi penerus Musa untuk memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian.

Mendengarkan nasihat tidaklah salah. Kita memiliki dua telinga dan satu mulut, yang artinya kita harus mendengar lebih banyak daripada berbicara. Adalah baik menampung sebanyak-banyaknya nasihat dari orang lain, walaupun memang nantinya kita harus memilah apakah memang nasihat tersebut memang bermanfaat bagi kita atau tidak. Kita juga harus berhati-hati agar tidak mendengarkan nasihat dari orang yang salah, dengan cara tidak duduk dan bergaul dengan kumpulan orang-orang fasik yang tidak takut akan Tuhan (Mzm 1:1). Orang yang mendengarkan nasihat sesungguhnya adalah orang yang bijaksana, dan justru semakin bijaksana seseorang, maka ia akan semakin mendengarkan nasihat-nasihat dari orang lain (Ams 9:9, 19:20).

Selain mendengarkan nasihat, kita juga perlu menasihati orang lain, terlebih saudara-saudara seiman kita jika mereka berbuat salah atau menyimpang dari ajaran Firman Tuhan (Mzm 18:15). Kita harus memberikan nasihat yang tulus kepada saudara-saudara kita, bukan untuk kepentingan kita, tetapi untuk kepentingan bersama, dan juga agar saudara kita menjadi lebih baik lagi (1 Tes 5:11). Jadi, marilah kita saling menasihati di dalam Kristus, dengan penuh kasih, agar kita semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Milikilah sikap seperti Musa yang mau mendengarkan nasihat orang lain, dan juga seperti Yitro yang juga memberikan nasihat dengan tulus, agar semua menjadi lebih baik lagi.

Bacaan Alkitab: Keluaran 18:13-27

18:13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang.

18:14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?"

18:15 Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah.

18:16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah."

18:17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

18:18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

18:19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

18:20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

18:21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

18:22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

18:23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

18:24 Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.

18:25 Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

18:26 Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri.

18:27 Kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya.