Rabu, 26 Oktober 2011

Menjadi Pemimpin seperti Nehemia

Sabtu, 29 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Nehemia 5:14-19

“Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati.” (Neh 5:14)


Menjadi Pemimpin seperti Nehemia


Nehemia adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang memiliki peran penting dalam pembangunan kembali Yerusalem serta Bait Allah setelah pembuangan bangsa Yahudi ke Babel. Nehemia adalah tokoh utama dalam pembangunan kembali Yerusalem. Ia adalah juru minuman raja Persia, Artahsasta yang bertugas untuk menyediakan anggur dan menyampaikannya kepada raja (Neh 1:11b, 2:1). Sebagai seorang buangan Yahudi, kedudukan Nehemia sudah cukup tinggi karena ia memiliki akses langsung ke raja. Namun Nehemia lebih memilih untuk pergi ke Yerusalem untuk membangun kembali Yerusalem, daripada menikmati kedudukannya yang nyaman di istana raja (Neh 2:5).

Nehemia pun akhirnya diangkat sebagai bupati di Yehuda selama 12 tahun dari tahun ke-20 sampai dengan tahun ke-32 pemerintahan raja Artahsasta. Satu hal yang membuat kita kagum adalah pernyataannya bahwa selama 12 tahun itu Nehemia dan juga saudara-saudaranya tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati (ay. 14). Padahal sebagai bupati, tentunya Nehemia mendapatkan sejumlah fasilitas dan hak-hak istimewa yang memang berhak untuk diterima atau dinikmati. Tetapi Nehemia tidak mau mengambil hak-haknya karena ia melihat kondisi rakyat pada saat pemerintahan bupati sebelumnya.

Dalam ayat 15 disebutkan bahwa bupati sebelum Nehemia sangat memberatkan rakyat. Mereka mengambil 40 syikal perak sehari hanya untuk makanan dan minuman bupati, belum lagi untuk anak buah bupati. Jika dikonversi ke perhitungan saat ini, 40 syikal perak setara dengan setengah kilogram perak. Bayangkan, jika harga perak saat ini sekitar seratus ribu rupiah per gramnya, maka untuk makanan dan minuman bupati sehari mencapai lima puluh juta rupiah. Belum lagi kebutuhan lain dari bupati beserta segenap anak buahnya. Itulah mengapa Nehemia memutuskan untuk meringankan beban rakyat dengan cara tidak mengambil apa yang menjadi haknya. Nehemia lebih memilih untuk menggunakan haknya tersebut untuk dana pembangunan kembali Yerusalem.

Nehemia hanya memilih makanan yang secukupnya yaitu seekor lembu, enam ekor kambing, dan beberapa ekor unggas sehari, serta anggur setiap 10 hari sekali (ay, 18). Apakah itu kelihatan berlebihan? Tentu tidak, karena Nehemia juga memiliki tanggungan di mejanya minimal sebanyak 150 orang Yahudi dan para penguasa lainnya, yang tentunya harus diberi makan setiap hari (ay. 17). Selain itu saya rasa harga seekor lembu dan enam ekor kambing dan beberapa unggas tersebut tidak akan melebihi harga 40 syikal perak. Bandingkan saja, pada zaman bupati sebelumnya, 40 syikal perak sehari hanya untuk makanan dan minuman bupati, sementara di zaman Nehemia, dengan biaya kurang dari 40 syikal perak sudah cukup untuk memberi makan 150 orang.

Nehemia tidak mau mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Bahkan jika kita baca di keseluruhan kitab, Nehemia selalu mengutamakan kepentingan rakyat banyak. Yang terpenting adalah bagaimana tembok Yerusalem dapat dibangun dengan baik. Nehemia melakukan hal tersebut karena ia adalah seorang yang takut akan Allah (ay. 15b). Pemimpin seperti Nehemia sangat langka kita temukan di masa-masa saat ini. Kebanyakan pemimpin ketika sudah menjabat sebagai pemimpin justru lupa dengan rakyat yang harusnya dipimpin dengan bijaksana. Mari kita belajar sebagai pemimpin yang mengutamakan kepentingan orang lain seperti Nehemia. Sama seperti apa yang dikatakan Yesus “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:11-12).


Bacaan Alkitab: Nehemia 5:14-19

5:14 Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati.

5:15 Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah.

5:16 Aku pun memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang. Dan semua anak buahku dikumpulkan di sana khusus untuk pekerjaan itu.

5:17 Duduk pada mejaku orang-orang Yahudi dan para penguasa, seratus lima puluh orang, selain mereka yang datang kepada kami dari bangsa-bangsa sekeliling kami.

5:18 Yang disediakan sehari atas tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap sepuluh hari. Namun, dengan semuanya itu, aku tidak menuntut pembagian yang menjadi hak bupati, karena pekerjaan itu sangat menekan rakyat.

5:19 Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.

Menjadi Terang di Tengah Kegelapan

Jumat, 28 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Raja-Raja 18:3-8

“Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN.” (1 Raj 18:3)


Menjadi Terang di Tengah Kegelapan


Beberapa waktu yang lalu, saya merenung, mengapa banyak anak-anak Tuhan yang tidak mau menjadi pegawai negeri. Apakah karena gajinya yang kecil dibandingkan dengan bekerja di sektor swasta? Apakah karena godaan yang cukup besar untuk berbuat dosa sehingga banyak anak-anak Tuhan yang benar-benar takut akan Tuhan pun tidak tertarik untuk bekerja di sektor pemerintahan? Apakah karena sulitnya untuk menjaga iman mereka di tengah-tengah tawaran kenaikan pangkat dan lain-lain yang ditawarkan kepada anak-anak Tuhan apabila mereka meninggalkan imannya? Saya tidak tahu pasti alasannya, tetapi terkait dengan hal tersebut, kali ini kita mau belajar dari kisah Obaja dalam bacaan Alkitab kita hari ini.

Obaja adalah kepala istana pada sahat Ahab menjadi raja Israel. Saya rasa kita semua tahu bahwa Ahab adalah salah satu dari raja yang jahat yang diceritakan dalam Alkitab. Alkitab mengatakan bahwa Ahab melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya (1 Raj 16:30). Bahkan selanjutnya dikatakan bahwa Ahab pun mengambil Izebel yang akhirnya mempengaruhi Ahab dan bahkan orang Israel untuk menyembah dewa Baal (1 Raj 16:31). Karena kejahatan dan dosa-dosa Ahab itulah akhirnya melalui perantaraan nabi Elia, Tuhan menahan hujan selama tiga tahun atas tanah Israel, sehingga terjadi kekeringan yang luar biasa di Israel (1 Raj 17:1).

Jika kita membayangkan kejahatan raja Ahab yang demikian besar di hadapan Tuhan, tentunya kita menyangka bahwa hampir semua orang Israel juga bersikap seperti itu, terlebih pegawai-pegawai Ahab yang pastinya akan mendapat tekanan juga untuk ikut menyembah Baal. Bisakah kita bayangkan posisi Obaja sebagai kepala istana di zaman raja Ahab berkuasa? Sebagai kepala istana tentunya ia harus melayani segala kebutuhan raja Ahab beserta keluarganya, dan mungkin ia pun harus berhadapan dengan penyembahan dewa Baal yang dilakukan oleh Ahab. Sangat mudah bagi Obaja untuk menyerah dan akhirnya ikut menyembah dewa Baal, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Obaja tidak mau ikut-ikutan arus. Dalam hal imannya kepada Allah, Obaja tetap tidak kompromi. Disebutkan bahwa Obaja adalah seseorang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan (ay. 3).

Dalam ayat 4 bahkan disebutkan bahwa Obaja selaku kepala istana justru melindungi nabi-nabi Tuhan ketika Izebel melenyapkan nabi-nabi Tuhan dari tanah Israel. Dengan dananya sendiri, Obaja menyembunyikan seratus nabi-nabi Tuhan dan memberi mereka makanan dan minuman, padahal saat itu adalah saat-saat kekeringan besar dimana mungkin makanan dan minuman menjadi sangat langka. Obaja mau mengambil resiko untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Mungkin caranya memang tidak frontal, tetapi ia melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan nabi-nabi Tuhan.

Ketika Ahab menyuruh Obaja untuk mencari rumput untuk ternak, di mana Ahab dan Obaja saling pergi berlawanan arah, Tuhan berkenan kepada Obaja untuk ditemui oleh Elia. Tuhan memakai Obaja untuk menyampaikan kabar bahwa Elia ingin bertemu dengan Ahab (ay. 7-8). Tuhan tahu bahwa Obaja adalah orang yang sungguh-sunguh takut akan Tuhan, dan dengan demikian seakan-akan kinerja Obaja pun menjadi baik di mata Ahab. Jika kita takut akan Tuhan pun, Tuhan dapat membuat hal-hal sederhana menjadi berpihak kepada kita, sehingga atasan kita pun dapat melihat bahwa kita memang dapat dipercaya untuk mengerjakan tugas-tugas kita dengan baik.

Di satu sisi memang kita tidak boleh kompromi terhadap dosa. Tetapi di sisi lain kita juga harus menjadi garam dan terang bagi dunia (Mat 5:13-17). Dunia ini memang sudah penuh dengan dosa dan kejahatan, tetapi untuk itulah kita dipanggil, supaya kita menjadi saksi-saksi Kristus di dunia yang penuh dosa. Biarlah kita menjadi lilin-lilin kecil yang menerangi dunia yang gelap ini. Kita tidak bisa hanya diam di Gereja, memuji dan menyembah Tuhan sementara dunia semakin jauh dari Tuhan. Kita diutus Tuhan seperti seekor domba diutus ke tengah-tengah serigala, sehingga kita pun harus dapat cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati (Mat 10:16). Sama seperti Obaja yang mampu menjadi kepala istana yang takut akan Tuhan di tengah-tengah kekuasaan raja Ahab yang jahat, atau seperti Daniel dan kawan-kawannya yang mampu menjadi pejabat tinggi di Babel, di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan, kita pun harus mampu menjadi saksi-saksi Tuhan yang memuliakan namaNya, apapun pekerjaan kita dan dimanapun kita berada.


Bacaan Alkitab: 1 Raja-Raja 18:3-8

18:3 Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala istana. Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN.

18:4 Karena pada waktu Izebel melenyapkan nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka lima puluh lima puluh sekelompok dalam gua dan mengurus makanan dan minuman mereka.

18:5 Ahab berkata kepada Obaja: "Jelajahilah negeri ini dan pergi ke segala mata air dan ke semua sungai; barangkali kita menemukan rumput, sehingga kita dapat menyelamatkan kuda dan bagal, dan tidak usah kita memotong seekor pun dari hewan itu."

18:6 Lalu mereka membagi-bagi tanah itu untuk menjelajahinya. Ahab pergi seorang diri ke arah yang satu dan Obaja pergi ke arah yang lain.

18:7 Sedang Obaja di tengah jalan, ia bertemu dengan Elia. Setelah mengenali dia, ia sujud serta bertanya: "Engkaukah ini, hai tuanku Elia?"

18:8 Jawab Elia kepadanya: "Benar! Pergilah, katakan kepada tuanmu: Elia ada."

Sahabat Sejati

Kamis, 27 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 18:1-4

“Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (1 Sam 18:1)


Sahabat Sejati


Saat saya masih bekerja di perusahaan produsen sepeda motor, saya memiliki banyak teman dan juga sahabat, tetapi dari sekian banyak sahabat saya, ada satu orang sahabat wanita yang paling berkesan dalam kehidupan saya. Pertama kali saya mengenal dirinya ketika saya dan dia sama-sama menumpang mobil teman saya yang lain karena ia masih kos di daerah dekat rumah saya, jadi kami pun pulangnya searah. Waktu itu ia sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu universitas di daerah dekat rumah saya. Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai sukses dalam pekerjaan dan kehidupannya. Ia mulai dipindahkan ke bagian yang lebih baik, dan juga akhirnya memiliki kendaraan sendiri dan tempat tinggal sendiri, bahkan ia telah beberapa kali bepergian ke luar negeri termasuk pergi ke Israel. Ia pun melayani Tuhan secara luar biasa dengan talenta menyanyi yang dimilikinya. Ia sering mengirimkan saya sms-sms atau email yang berisi pengalaman pribadinya yang menguatkan saya, bahkan saya suka membaca blog-blognya yang berisi kisah hidupnya yang menjadi berkat bagi saya. Tapi di balik semua keberhasilan itu, yang paling membuat saya berkesan adalah sikapnya yang rendah hati. Walau telah memiliki mobil sendiri, tak terhitung berapa kali ia memberikan tumpangan kepada saya. Dalam hal pekerjaan, ketika saya mengalami banyak masalah terkait produksi, ia juga selalu siap membantu saya dan memberikan saya jalan keluar, karena kebetulan memang bagian produksi saya sangat terkait dengan material yang menjadi tanggung jawabnya.

Saat saya mengalami masa-masa sulit ketika saya dan pacar saya pun bergumul untuk mendapatkan izin menikah dari orang tua saya, sahabat saya tersebut selalu menguatkan saya. Ia bahkan rela meluangkan waktu weekendnya untuk bertemu dengan saya dan memberikan beberapa nasihat yang sampai saat ini masih saya ingat. Hingga akhirnya saya akhirnya memperoleh izin untuk menikah, ia adalah salah satu dari beberapa orang yang saya beritahu pada kesempatan pertama. Dan yang membuat saya salut adalah menjelang saya menikah, ia seperti sedikit menjauh dari saya. Awalnya saya berpikir apa saya pernah berbuat salah dengan dirinya, tapi ternyata ia menjauh karena ia ingin memberikan kesempatan kepada saya untuk fokus dengan pernikahan yang akan saya lalui.

Tidak mudah bagi saya memiliki seorang sahabat, apalagi seorang wanita yang benar-benar tulus menjadi sahabat bagi saya. Sama seperti Yonatan dengan Daud, walau sebetulnya Yonatan pun baru saja mengenal Daud, tetapi saat itu Yonatan menyadari ada suatu chemistry antara dirinya dengan Daud (ay. 1). Yonatan pun akhirnya mengikat perjanjian dengan Daud, dan memberikan jubah serta perlengkapan perangnya kepada Daud (ay. 2 & 4). Apakah ciri-ciri sahabat yang sejati itu? Alkitab menunjukkan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, sahabat sejati mengasihi sahabatnya seperti dirinya sendiri (ay. 1 & 3). Yonatan mengasihi Daud walaupun ia tahu ayahnya, Raja Saul, membenci Daud karena Daud telah memperoleh kepopuleran lebih daripada Saul. Di satu sisi Yonatan memang anak dari Saul, tapi karena Daud adalah sahabatnya, Yonatan lebih memilih untuk memihak Daud, karena ia tahu bahwa apa yang diperbuat ayahnya adalah salah.

Kedua, sahabat sejati bersikap ramah kepada sahabatnya. Dalam 2 Samuel 1:26, ketika Daud meratapi Yonatan yang tewas ketika berperang dengan orang Filistin, ia mengatakan bahwa “engkau (Yonatan) sangat ramah kepadaku”. Sikap ramah ini tentunya tidak dapat datang begitu saja. Kita pasti sulit dapat bersikap ramah kepada orang yang tidak kita sukai. Tetapi ketika kita menjalin persahabatan, perlu ada kasih yang ramah antara kita dengan sahabat kita tersebut.

Ketiga, sahabat sejati rela berkorban bagi sahabatnya. Dalam 1 Samuel 20:1-43, Yonatan pun membela Daud di hadapan Saul, ayahnya. Dalam peristiwa itu bahkan Yonatan nyaris dibunuh oleh Saul karena membela Daud (1 Sam 20:33). Yesus sendiri mengatakan bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Dunia ini membutuhkan orang-orang yang tulus menjadi sahabat. Bukan sahabat yang pura-pura dan penuh kelicikan dengan maksud tertentu. Terlebih dalam persekutuan atau Gereja, kita memerlukan sahabat-sahabat yang mau mendukung kita ketika kita mengalami masalah, yang mau mendoakan kita ketika kita mengalami pergumulan, yang mau membantu kita ketika kita mengalami kesulitan. Dengan demikian, Gereja akan menjadi tempat yang indah dimana kasih Tuhan dapat dinyatakan. Bukankah jika kita memiliki banyak sahabat maka akan ada kerukunan yang indah? Dan ketika ada kerukunan di antara umat Tuhan, maka Tuhan akan memberikan berkatNya dengan melimpah (Mzm 133:1-3).



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 18:1-4

18:1 Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.

18:2 Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya.

18:3 Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.

18:4 Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.

Belajar untuk Mengasihi dan Memperhatikan Orang Lain

Rabu, 26 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-6

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yoh 1:4)


Belajar untuk Mengasihi dan Memperhatikan Orang Lain


Surat ketiga Rasul Yohanes ini ditujukan kepada Gayus, yang adalah salah satu anak rohani dari Rasul Yohanes. Rasul Yohanes sangat mengasihi Gayus sehingga ia menulis surat khusus kepada Gayus, setelah sebelumnya Rasul Yohanes menulis surat kepada anak-anak rohaninya secara umum (Kitab 1 Yohanes) serta kepada seorang “ibu yang terpilih dan anak-anaknya” (Kitab 2 Yohanes). Ini berarti Gayus sangat spesial dalam kehidupan Rasul Yohanes. Dalam awal kitab ini, sesuai dengan bacaan kita hari ini, kita dapat melihat bagaimana sikap Yohanes yang sungguh sangat memperhatikan Gayus sebagai anak rohaninya.

Pertama, Rasul Yohanes sangat mengasih Gayus dalam kebenaran (ay. 1). Kasih itu memang harus dimiliki oleh setiap orang percaya, namun kasih dalam kebenaran. Kasih dalam kebenaran berarti bukan kasih yang buta, melainkan kasih yang tetap berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran. Kasih bukan berarti membiarkan jika orang yang kasihi berbuat salah, tetapi menegor dan menasihati agar orang yang kita kasihi dapat kembali kepada jalan kebenaran.

Kedua, Rasul Yohanes sangat memperhatikan Gayus dan selalu berdoa untuknya (ay. 2). Kita pun seharusnya mendoakan dengan setia orang-orang yang ada di sekitar kita, terlebih anak-anak rohani kita. Mereka membutuhkan doa-doa kita. Selain itu kita pun perlu memperhatikan mereka secara khusus, seperti bagaimana keadaan mereka, baik secara jasmani terlebih secara rohani.

Ketiga, Rasul Yohanes bersukacita atas setiap kabar yang menceritakan bahwa Gayus telah hidup dalam kebenaran (ay. 3-4). Pernahkah kita bertanya kepada orang tua kita, apa yang paling membahagiakan mereka? Saya yakin salah satu jawabannya adalah ketika mereka melihat kita tumbuh, belajar, dan akhirnya berhasil mencapai apa yang kita cita-citakan, entah itu mungkin lulus kuliah, menikah, ataupun mencapai sesuatu yang lain. Setiap orang tua pastilah bangga ketika anaknya berhasil, demikian juga kita juga harus bersukacita ketika kita mendengar orang-orang yang kita kasihi juga telah berhasil, terlebih berhasil hidup dalam kebenaran Firman Tuhan serta memuliakan Tuhan.

Keempat, Rasul Yohanes tetap memberikan nasihat dan bimbingan kepada Gayus, serta mengapresiasi Gayus yang telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan (ay. 5-6). Menurut saya, Gayus ini adalah salah satu murid Yohanes yang telah dipakai Tuhan secara luar biasa. Tidak ada catatan negatif mengenai Gayus dalam Alkitab. Tetapi Rasul Yohanes tetap memberikan arahan kepada Gayus, antara lain berbuat baik kepada saudara-saudara seiman lainnya yang merupakan orang asing (dalam hal ini berasal dari tempat lain dan sedang berkunjung ke tempat Gayus). Rasul Yohanes pun tetap memuji dan mengapresiasi Gayus, karena ia telah melakukan apa yang baik dan berkenan kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Mungkin kita memiliki beberapa orang yang menjadi anak rohani kita, atau mungkin ada beberapa orang yang menjadi teman dekat kita atau sahabat kita. Sudahkah kita mengasihi mereka seperti Rasul Yohanes mengasihi Gayus? Sudahkah kita memperhatikan, mendoakan, mengasihi, bahkan memberikan dukungan kepada mereka? Mungkin apa yang kita lakukan seperti mengirimkan sms yang berisi ayat-ayat Alkitab, atau mendoakan mereka dalam doa syafaat kita kelihatannya hanyalah hal sepele, tetapi dalam Tuhan, apapun yang kita lakukan pasti tidak akan sia-sia, selama kita melakukannya dengan tulus, dan dengan motivasi yang benar. Firman Tuhan berkata, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat 10:42).


Bacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:1-6

1:1 Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran.

1:2 Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.

1:3 Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.

1:4 Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

1:5 Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.

1:6 Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi

Selasa, 25 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Yohanes 8:2-11

“…Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11b)


Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi


Dalam bacaan Kitab Suci kita kali ini, kita melihat bagaimana perbedaan antara Yesus dan para ahli Taurat serta orang Farisi. Ketika Yesus sedang mengajar dalam Bait Allah, ahli Taurat dan orang Farisi datang kepadaNya sambil membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah (ay. 3). Dalam hukum Taurat, memang dikatakan bahwa orang yang berzinah memang harus dihukum mati (Ul 22:22-24). Saat itu ahli Taurat dan orang Farisi bisa saja langsung menghukum mati perempuan tersebut, namun mereka justru membawanya kepada Yesus untuk meminta pendapat Yesus mengenai hal ini (ay. 5). Mereka berharap dengan demikian, mereka dapat memperoleh sesuatu untuk menyalahkan Yesus (ay. 6).

Tetapi Yesus tidak menghiraukan mereka karena Yesus tahu bahwa mereka hanya bermaksud untuk mencobainya. Yesus pun hanya membungkuk sambil menulis dengan jariNya di tanah. Alkitab memang tidak menceritakan apa yang Yesus tulis saat itu. Ketika mereka terus menerus bertanya kepadanya, akhirnya Yesus berdiri dan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Setelah itu Yesus pun kembali membungkuk dan menulis di tanah.

Alkitab mencatat bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi pun mulai meninggalkan Yesus dan perempuan itu satu persatu mulai dari yang tertua. Mereka sadar, bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak berdosa. Perempuan tersebut pun tetap diam di tempatnya. Mungkin perempuan itu sudah pasrah, karena ia sudah ditangkap oleh para ahli Taurat dan orang Farisi, dan kemudian juga dibawa kepada Yesus. Mungkin perempuan ini pun sudah menyiapkan dirinya andaikan ia akhirnya dilempari batu sampai mati. Ia tidak pernah menyangka bahwa ketika dirinya dibawa kepada Yesus, justru di situ ada kesempatan kedua bagi hidupnya.

Tuhan Yesus pun bertanya, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?". Perempuan itu pun menjawab “Tidak ada, Tuhan”. Saya yakin perempuan itu mungkin masih berpikir bahwa Yesus juga adalah sama dengan para ahli Taurat dan orang Farisi lainnya yang akan menghukum dirinya. Tetapi Tuhan Yesus memang penuh dengan kasih, Ia pun akhirnya berkata “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.

Saya yakin perempuan itu pasti terkejut, ia diselamatkan dari hukuman mati. Ia lolos dari lubang jarum. Alkitab memang tidak menceritakan lagi kisah selanjutnya, apakah perempuan tersebut akhirnya pergi dan benar-benar bertobat, ataukah akhirnya pergi dan kembali lagi berbuat zinah. Tetapi sangat keterlaluan apabila perempuan tersebut yang telah diselamatkan dari kematian masih berani melakukan dosa lagi.

Demikian juga dengan kita, mungkin kita pernah mengalami masa-masa jauh dari Tuhan. Mungkin kita sudah jatuh di dalam dosa. Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang masih memberi kesempatan kepada kita. Sejauh apapun kita telah menyimpang, Tuhan masih mau memberikan pengampunan sepanjang kita mau benar-benar bertobat. Sama seperti bapa dalam perumpamaan anak yang hilang, Bapa kita yang di surga selalu menerima kita dengan tangan terbuka kapanpun kita mau kembali kepadaNya (Luk 15:20). Yang terpenting bagi kita, jika kita ingin bertobat kita harus mau mengikuti apa yang Tuhan katakan yaitu “Pergi dan jangan berbuat dosa lagi”.

Pergi di sini artinya pergi menjauhi dosa. Mungkin kita berada di lingkungan orang-orang fasik yang membuat kita jatuh ke dalam dosa. Untuk itu kita perlu pergi dari lingkungan pencemooh dan orang-orang berdosa, dan kembali mengikuti jalan Tuhan serta merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Mzm 1:1). Jangan berbuat dosa lagi berarti kita harus meninggalkan apa yang dahulu kita anggap sebagai keuntungan, tetapi sekarang kita harus hidup mengikuti kehendak Yesus Kristus (Flp 3:8-13). Jadi, sudahkah kita pergi dari dosa dan tidak berbuat dosa lagi?



Bacaan Alkitab: Yohanes 8:2-11

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"

8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Meminta kepada Tuhan, Bukan kepada yang Lain

Senin, 24 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Zakharia 10:1-2

“Mintalah hujan dari pada TUHAN pada akhir musim semi! TUHANlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikanNya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang.” (Za 10:1)


Meminta kepada Tuhan, Bukan kepada yang Lain


Beberapa waktu yang lalu, Indonesia dilanda kekeringan yang luar biasa. Biasanya menjelang bulan yang diakhiri dengan suku kata “ber”, kita sudah memasuki musim hujan. Tetapi sampai dengan saat ini, hujan pun rasanya masih menjadi hal yang langka di tempat kita. Saya membaca di surat kabar, beberapa waktu yang lalu di beberapa daerah diadakan semacam upacara atau ritual untuk memanggil hujan. Saya berpikir, kalau kita mengadakan ritual tersebut, sebenarnya kita sedang meminta hujan kepada siapa ya?

Hal tersebut hampir mirip dengan apa yang kita baca dalam Alkitab kita pada hari ini. Kita di Indonesia memang hanya mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Akan tetapi di Israel dan di kebanyakan negara beriklim sub tropis, terdapat empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Pada musim semi, tentunya tanaman mulai bersemi dan biasanya banyak hujan di musim semi, sedangkan memasuki musim panas, hujan biasanya akan mulai berkurang, serta suhu pun menjadi lebih panas daripada musim semi. Logikanya, banyak orang akan mengharapkan hujan di akhir musim semi sebagai persiapan untuk memasuki musim panas.

Nah, masalahnya kepada siapa kita meminta hujan tersebut? Firman Tuhan jelas berkata bahwa kita seharusnya meminta hujan kepada Tuhan, dan memang seharusnya hanya kepada Tuhan (ay. 1a). Mengapa demikian? Tentunya karena Tuhan sendirilah yang menciptakan alam semesta beserta isinya (Kej 1:1-31). Jika Tuhan adalah pencipta alam semesta, maka Ia juga berkuasa penuh atas alam semesta, termasuk dengan iklim dan musim. Tuhan bisa menurunkan kemarau berkepanjangan hingga tiga tahun tidak turun hujan (Yak 5:17, 1 Raj 18:1), tetapi Tuhan juga bisa menurunkan hujan deras untuk mengakhiri kemarau tersebut (1 Raj 18:45). Terlebih lagi, Tuhan juga sanggup menurunkan hujan selama 40 hari dan 40 malam sehingga air memenuhi bumi dan membinasakan seluruh makhluk hidup kecuali yang ada di bahtera Nuh (Kej 7:12).

Tuhan menjanjikan hujan lebat kepada setiap orang yang meminta kepadanya (ay. 1b). Bukankah dalam Alkitab, Tuhan Yesus juga pernah berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Tuhan ingin kita meminta kepadaNya, apapun permintaan kita. Walau mungkin tidak semua permintaan kita akan dijawab Tuhan dengan jawaban “ya”, tetapi paling tidak ketika kita meminta kepada Tuhan, itu menunjukkan bahwa kita memang mengakui Tuhan sebagai Tuhan yang berkuasa atas kehidupan kita. Sama seperti seorang anak yang meminta sesuatu kepada bapanya, tentunya bapa manapun tidak akan memberikan batu ketika anaknya meminta roti (Mat 7:9-11).

Tuhan melarang kita untuk meminta selain kepada Tuhan. Dalam konteks penulisan kitab Nabi Zakharia ini, orang Israel lebih suka meminta petunjuk atau meminta berkat kepada para terafim, juru tenung, dan para peramal-peramal. Mereka tidak bertanya kepada Tuhan yang adalah Tuhannya orang Israel. Mereka lebih percaya kepada perkataan para juru tenung dan peramal. Padahal apa yang dikatakan oleh mereka adalah hampa dan sia-sia. Tidak ada gunanya meminta sesuatu kepada para juru tenung dan peramal. Justru dengan berbuat demikian, akhirnya bangsa Israel pun semakin jauh dari Tuhan, dan semakin terserak seperti domba yang tidak bergembala. Ya, bagaimana mungkin Tuhan mau menggembalakan orang Israel ketika orang Israel sendiri tidak mau digembalakan oleh Tuhan? Malah mereka lebih suka mencari apa yang menyenangkan hati mereka melalui perkataan juru tenung.

Saya tidak tahu apakah anda pernah meminta sesuatu melalui dukun, peramal, ataupun “orang-orang pintar” lainnya. Tapi seharusnya ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Tuhan, itu berarti kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kondisi apapun, kita harus berserah dalam tuntunan Tuhan. Sekalipun kita melewati lembah kekelaman, ataupun melewati padang rumput dan air yang tenang, kita harus tetap berserah kepada Tuhan. Jangan pernah sekalipun kita berpaling dari Tuhan dan bertanya atau meminta sesuatu kepada orang lain, juru tenung atau apapun namanya. Kita harus percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang berkuasa, dan Ia pun akan memberikan yang terbaik kepada kita.



Bacaan Alkitab: Zakharia 10:1-2

10:1 Mintalah hujan dari pada TUHAN pada akhir musim semi! TUHANlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikanNya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang.

10:2 Sebab apa yang dikatakan oleh terafim adalah jahat, dan yang dilihat oleh juru-juru tenung adalah dusta, dan mimpi-mimpi yang disebutkan mereka adalah hampa, serta hiburan yang diberikan mereka adalah kesia-siaan. Oleh sebab itu bangsa itu berkeliaran seperti kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala.

Bukan Siapa, tetapi Mengapa

Minggu, 23 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Yohanes 9:1-7

“Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh 9:3)


Bukan Siapa, tetapi Mengapa


Saya suka memberi ilustrasi dari pengalaman-pengalaman pribadi saya, termasuk pada hari ini saya akan menceritakan pengalaman saya dulu sewaktu masih bekerja di pabrik sepeda motor. Seperti yang saya ceritakan beberapa waktu yang lalu, saya bekerja di bagian Production Control, yang artinya saya bertanggung jawab terhadap pencapaian produksi sepeda motor setiap harinya. Ketika produksi sepeda motor tidak sesuai dengan target atau rencana atau adanya minus produksi, berarti ada sesuatu yang salah. Pernah ada masa-masa sulit di perusahaan saya, sehingga saat itu setiap ada minus produksi, harus dicari tahu siapa pihak yang salah sehingga menyebabkan minus produksi. Kondisi saat itu menurut saya sangat tidak mengenakkan. Saat itu, orang lebih suka mencari siapa yang menyebabkan minus produksi daripada mencari mengapa minus produksi tersebut dapat terjadi. Tapi syukurlah berdasarkan informasi setelah saya keluar dari perusahaan tersebut, kondisi menjadi lebih baik dan kondusif, bahkan sekarang rasanya perusahaan tersebut sudah jauh berkembang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian juga yang kita baca dalam bacaan Kitab Suci kita kali ini. Saat rombongan Yesus dan murid-muridNya melewati seorang yang buta sejak lahir, murid-muridnya bertanya “Siapa yang berdosa sehingga orang ini dilahirkan buta? Apakah orang ini sendiri ataukah orang tuanya?” (ay. 2). Murid-muridnya masih berpandangan bahwa ketika ada suatu hal yang kelihatannya salah, berarti ada pihak-pihak yang menyebabkan salah. Mereka ingin mencari kambing hitam, siapa yang bertanggung jawab atas butanya orang ini sejak lahir. Mungkin jika ditarik lagi, bisa-bisa murid-murid Yesus akhirnya menyalahkan Allah yang membuat orang tersebut buta sejak lahirnya.

Tapi Yesus menjawab dengan bijaksana. Ketika sudut pandang murid-murid Yesus adalah “siapa”, Tuhan Yesus melihat dari sudut pandang “Mengapa” dan “Bagaimana”. Yesus menjawab bahwa bukan dia yang berdosa, dan juga bukan orang tuanya yang berdosa sehingga orang tersebut buta sejak lahir. Yesus mengatakan bahwa melalui orang buta tersebut, pekerjaan Allah akan dinyatakan dalam dirinya (ay. 3). Perhatikan kata “karena” yang dipergunakan Yesus untuk menjawab pertanyaan murid-muridNya. Yesus tidak melihat suatu permasalahan sebagai ajang untuk saling menyalahkan, tetapi Yesus melihat suatu permasalahan sebagai kesempatan untuk melakukan pekerjaan Allah. Ketika murid-murid Yesus hanya sibuk mendiskusikan siapa yang salah, Tuhan Yesus datang untuk memberi solusi yaitu menyembuhkan orang buta tersebut (ay. 6-7).

Demikian juga kita, mungkin ada di antara kita yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, atau suka membicarakan kejadian buruk yang dialami oleh orang lain, bahkan mungkin di antara sesama jemaat. Tapi kita seharusnya belajar dari teladan Tuhan Yesus yang tidak pernah menyalahkan orang lain, tetapi langsung bertindak dan dengan demikian memuliakan nama Tuhan. Kita harus berusaha mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan mau, selagi masih ada kesempatan bagi kita (ay. 4). Ketika ada sesama kita yang mengalami masalah, bukankah seharusnya kita langsung berinisiatif untuk menolongnya, tanpa harus berdebat terlebih dahulu siapa yang salah sehingga masalah ini bisa terjadi.

Yesus berkata di dalam ayat 5 bahwa selama Yesus di dalam dunia, Yesuslah terang dunia. Lalu bagaimana setelah Yesus telah naik ke surga dan sudah tidak ada di dalam dunia lagi? Tentunya kita sebagai murid-muridNya memiliki tanggung jawab untuk menjadi terang dunia itu sendiri. Yesus sendiri juga berkata bahwa kita adalah terang dunia (Mat 5:14). Kita pun memiliki tanggung jawab untuk menerangi dunia ini dengan kasih Kristus. Kalau kita adalah terang dunia, tentunya kita harus belajar untuk memiliki sudut pandang “mengapa” dan “bagaimana” seperti Tuhan Yesus, bukan “siapa” seperti sudut pandang murid-murid. Tujuan kita yang utama sebagai terang dunia adalah agar terang kita bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa yang di surga (Mat 5:16).



Bacaan Alkitab: Yohanes 9:1-7

9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.

9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

9:3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.

9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."

9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi

9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.