Selasa, 06 Desember 2011

Mintalah, Maka Akan Diberikan

Rabu, 7 Desember 2011

Bacaan Alkitab: Matius 7:7-11
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Mat 7:7)


Mintalah, Maka Akan Diberikan



Beberapa waktu yang lalu, saya dan isteri saya mencoba membuat daftar hal-hal yang menjadi pokok doa bagi kami berdua. Kami berinisiatif untuk menulis pokok-pokok doa tersebut dalam sebuah kertas, kemudian menempelkannya di lemari es dengan menggunakan magnet. Harapan kami adalah dengan ditulis dan diletakkan di tempat yang strategis, kami dapat selalu ingat tentang hal-hal yang kami doakan. Awalnya, sepertinya apa yang kami doakan masih lama dijawab Tuhan. Tetapi seiring berjalannya waktu, satu demi satu permohonan kami mulai dijawab oleh Tuhan, dan ajaibnya lagi, pokok doa yang dijawab Tuhan pertama kali adalah pokok doa yang menurut saya merupakan pokok doa yang “agak sulit”. Sampai dengan sekarang, saya sering merasa kagum kepada Tuhan karena sudah cukup banyak pokok-pokok doa yang telah dijawab Tuhan, dan beberapa di antaranya dijawab Tuhan dengan cara yang ajaib.

Sekitar 2000 tahun yang lalu, Tuhan Yesus pernah berkata agar kita meminta kepada Tuhan (ay. 7). Tuhan Yesus tidak secara spesifik mengatakan apa-apa saja yang harus kita minta kepadaNya, tetapi dikatakan bahwa setiap orang yang meminta akan menerima (ay. 8). Tuhan tentunya tahu apa yang terbaik bagi kita, dan tidak mungkin Tuhan akan memberikan yang jahat ketika kita meminta yang baik. Sama seperti seorang bapa yang tidak mungkin memberikan batu ketika anaknya meminta roti, atau memberikan ular ketika anaknya meminta ikan (ay. 9-10). Permasalahannya adalah justru di pihak kita, yaitu seringkali kita meminta hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam berdoa, seringkali justru kita meminta batu ketika Tuhan mau memberi roti kepada kita. Sebagai contoh, kita ingin agar hidup kita lurus-lurus saja, tanpa ada masalah, padahal justru masalah itu yang akan membuat iman kita semakin bertumbuh kepada Tuhan. Bayangkan jika hidup kita aman-aman saja tanpa ada masalah, bisa-bisa kita akan lupa kepada Tuhan. Masalah dalam hidup kita justru menjadi ujian bagi kita agar kita bisa naik tingkat ke tingkatan rohani yang lebih tinggi lagi. Kadang kita tidak mengerti apa yang Tuhan mau bagi kita. Apa yang kita minta mungkin menurut kita adalah yang terbaik bagi Tuhan, tetapi sesungguhnya Tuhan sedang memiliki rencana yang lebih baik lagi dari rencana kita. Dalam hal ini, mana yang kita pilih, apakah kita memilih untuk tetap meminta agar rencana kita terlaksana, atau kita memilih berserah kepada Tuhan?

Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri berkata, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Artinya adalah dalam berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan, kita harus mengerti apakah hal tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan. Beberapa hari yang lalu saya menulis renungan tentang doa Tuhan Yesus yang tidak dijawab Allah Bapa ketika Tuhan Yesus meminta agar Allah Bapa melalukan “cawan penderitaan” yang harus diterima oleh Yesus. Jika doa Tuhan Yesus saja tidak dijawab doanya, apalagi kita yang adalah manusia biasa ketika kita meminta sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah Bapa.

Mungkin kita pernah meminta berkat jasmani kepada Tuhan. Mungkin kita pernah meminta mobil, meminta rumah, meminta anak, meminta pacar atau pasangan hidup, atau meminta uang dan rejeki yang berlimpah dalam doa-doa kita. Pernahkah kita merenungkan, sebenarnya untuk apa hal-hal yang kita minta tersebut? Apakah setelah Tuhan memberikan mobil kepada kita, justru kita sering menggunakan mobil tersebut untuk pergi ke diskotik, pub, dan lain sebagainya? Apakah ketika Tuhan memberikan pacar kepada kita, justru kita semakin banyak menggunakan waktu untuk berpacaran, padahal dulu ketika kita masih jomblo, kita sangat rajin melayani Tuhan? Apakah ketika kita diberikan uang yang banyak justru kita semakin lupa memberi bagi pekerjaan Tuhan? Mungkin saja Tuhan belum memberikan yang kita minta karena kita sendiri yang belum siap untuk menerimanya. Saya sangat yakin, ketika kita berdoa minta mobil dengan motivasi agar kita lebih mudah untuk melayani Tuhan, untuk mengunjungi orang-orang yang membutuhkan pelayanan kita, Tuhan pasti memberikan mobil kepada kita. Ketika kita berdoa minta pasangan hidup agar kita dapat melayani bersama-sama, Tuhan pasti memberikan pasangan hidup kepada kita. Ketika kita berdoa minta uang kepada Tuhan agar kita pun bisa membantu orang lain dan juga membantu pekerjaan Tuhan, pasti Tuhan akan memberikan rejeki kepada kita. Semua tergantung dari motivasi apa yang kita miliki pada saat kita meminta sesuatu kepada Tuhan.

Firman Tuhan pada ayat 11 dalam bacaan Alkitab kita hari ini berkata bahwa Bapa di surga tahu pemberian mana yang baik bagi anak-anakNya, dan pasti Bapa akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya. Sekarang tinggal bergantung kepada kita, apakah kita mau meminta dengan motivasi untuk memuliakan nama Tuhan? Jika apa yang kita minta hanya bertujuan untuk memenuhi hawa nafsu kita, tentu Tuhan tidak akan memberikannya kepada kita (Yak 4:3). Tetapi ketika kita meminta sesuatu yang sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, maka saya yakin tidak ada alasan bagi Tuhan untuk menunda-nunda dalam menjawab doa-doa kita, dan Firman Tuhan yang berkata “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7) pasti digenapi dalam kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Matius 7:7-11
7:7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Providensia Allah

Selasa, 6 Desember 2011

Bacaan Alkitab: Keluaran 16:13-18
"...maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya." (Kel 16:18)


Providensia Allah



Ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Tuhan membawa mereka melewati padang gurun, dan bukannya melewati jalan raya yang biasa dipakai untuk jalur perdagangan (Kel 13:18). Bayangkan sebanyak 600 ribu laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak (Kel 12:37) berduyun-duyun sedang berjalan di padang gurun, berapa banyak makanan dan air yang dibuutuhkan agar seluruh bangsa Israel dapat makan dan minum? Tentunya sangat banyak bukan? Apalagi bangsa Israel ketika keluar dari tanah Mesir pun dalam keadan terburu-buru, sehingga mereka mungkin hanya membawa makanan seadanya. Bahkan roti yang mereka buat pun adalah roti yang tak beragi, karena mereka tidak dapat berlambat-lambat untuk menyiapkan bekal dalam perjalanan mereka (Kel 12:39).

Secara manusia, bahkan dengan teknologi saat ini, hampir mustahil Musa dapat menyediakan makanan dan minuman bagi begitu banyak orang di padang gurun. Tetapi bukan Musa yang menyediakan makanan dan minuman tersebut, Tuhan Allah lah yang menyediakannya. Dan ketika Tuhan yang menyediakan, pasti Ia akan memberikan yang terbaik. Tuhan pun memberikan burung puyuh kepada bangsa Israel ketika mereka meminta daging (ay. 13a). Bayangkan, bagaimana bisa burung puyuh “nyasar” sampai ke padang gurun? Tetapi itulah Tuhan, kuasaNya tak terbatas apapun juga karena Ia adalah pencipta alam semesta ini.

Bahkan, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menyediakan makanan bagi bangsa Israel yaitu manna (ay. 31). Manna adalah sejenis roti yang diberikan Tuhan setiap pagi (ay. 13-15). Dikatakan bahwa bangsa Israel makan manna hingga bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan (Yos 5:12). Tuhan bisa saja membuat bangsa Israel menjadi kenyang tanpa makan, tetapi Tuhan ingin agar bangsa Israel juga berusaha untuk memperoleh makanannya. Alkitab mengatakan bahwa bangsa Israel harus mengambil manna tersebut untuk keperluan seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa yang ada di kemah tersebut (ay. 16).

Namanya manusia, pasti ada unsur ketamakan dalam diri manusia. Alkitab mengatakan bahwa ada bangsa Israel yang mengumpulkan banyak, dan ada juga yang sedikit (ay. 17). Sangat mungkin orang yang mengumpulkan manna yang banyak bertujuan agar ia akan mendapat banyak makanan dan mungkin sisanya bisa untuk dijual. Tetapi ternyata apa yang diambil orang tersebut adalah sudah sesuai dengan kebutuhan orang tersebut. Alkitab mengatakan bahwa ketika ditakar, ternyata orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit ternyata tidak kekurangan (ay. 18).

Pelajaran apakah yang dapat kita petik dari bacaan Alkitab kita hari ini? Tentunya kita belajar bahwa Allah kita adalah Allah yang selalu memberkati kita dengan caraNya. Jika bangsa Israel di padang gurun diberikan makanan berupa manna setiap hari, tentu Allah yang sama juga pasti memberikan makanan kepada kita, selama kita mau berusaha menurut jalan Tuhan. Sama seperti bangsa Israel harus mengikuti cara Tuhan ketika mereka mengumpulkan manna, yaitu memungut manna sebelum matahari terbit dan membuat manna menjadi cair (Kel 16:21), tidak meninggalkan manna tersebut sampai pagi keesokan harinya (Kel 16:19-20), dan memungut dua kali lipat pada hari sebelum hari Sabat (Kel 16:23-24), dan tidak memungut manna pada hari Sabat (Kel 16:25-27). Semua itu adalah peraturan dari Allah bagi bangsa Israel yang suka tidak suka harus dilakukan oleh bangsa Israel jika ingin mendapatkan makanan, dan tentunya Allah pun memberikan peraturan-peraturan bagi kita yang tertulis dalam Kitab Suci untuk kita taati jika kita ingin mendapatkan berkat dari Tuhan.

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2012. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di tahun 2012. Mungkin saja banyak ahli ekonomi meramalkan bahwa tahun 2012 akan menjadi tahun yang sukar dan penuh resesi, tetapi ketika kita berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan mau hidup menurut aturan Tuhan, pasti akan ada penyertaan dan berkat dari Tuhan (Providensia Allah). Sama seperti bangsa Israel yang masuk ke dalam kondisi yang sulit di padang gurun, tetapi ternyata dalam padang gurun itu pun Allah tetap menyertai bangsa Israel dan mereka pun menadapatkan makanan yang melimpah setiap harinya. Bagi kita, pilihannya hanya ada dua, maukah kita tetap hidup dalam providensia Allah, ataukah kita memilih untuk hidup diluar providensia Allah? Jika kita mau hidup dalam penyertaan, perlindungan, dan berkat Tuhan, tentunya kita pun harus membayar harga, yaitu harus berusaha untuk hidup dalam aturan-aturan Tuhan, melakukan kehendakNya dan menyenangkan hati Allah.


Bacaan Alkitab: Keluaran 16:13-18
16:13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.
16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.
16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.
16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."
16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.
16:18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

Ketika Doa Tuhan Yesus Tidak Dijawab Allah Bapa

Senin, 5 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Lukas 22:39-42
"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk 22:42)

Ketika Doa Tuhan Yesus Tidak Dijawab Allah Bapa

Sebagai Anak Allah yang turun ke dunia dan menjadi manusia, tentunya Tuhan Yesus punya kuasa yang luar biasa. Ia dapat menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, membuat mujizat mengubah air menjadi anggur, dan bahkan membangkitkan orang mati. Bahkan ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari lamanya, Tuhan Yesus berkata kepada Allah Bapa: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 11:41-42). Perhatikan frase “Engkau [Allah Bapa] selalu mendengarkan Aku [Tuhan Yesus]”. Kita bisa melihat bahwa adanya hubungan yang sangat dekat antara Tuhan Yesus dengan Allah Bapa sehingga dikatakan bahwa Allah Bapa selalu mendengarkan doa Tuhan Yesus, bahkan beberapa kali Allah Bapa berkata “Inilah AnakKu yang Kukasihi”, yaitu pada saat Tuhan Yesus dibaptis (Mat 3:17), dan pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat 17:5).

Akan tetapi, ternyata pernah sekali di mana doa Tuhan Yesus tidak dijawab oleh Allah Bapa, yaitu ketika ia meminta agar Bapa mengambil “cawan” yang harus diminum oleh Yesus (ay. 42). Cawan tersebut menggambarkan penderitaan Tuhan Yesus yang harus menderita dan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Tuhan Yesus yang adalah Anak Allah itu sendiri harus mengalami terpisah hubungan dengan Allah Bapa sehingga Ia pun berseru “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). Bayangkan, Yesus yang selalu disertai Allah Bapa yang dalam kehidupan Yesus, sejak saat pembaptisannya hingga saat Yesus membuat mujizat, tiba-tiba harus terputus hubungan dengan Allah Bapa. Suatu keadaan yang sangat sulit bagi Yesus, sehingga Ia pun berdoa agar Allah Bapa mengambil “cawan” tersebut.

Walaupun demikian, sesungguhnya Tuhan Yesus pun tahu bahwa bagaimanapun juga “cawan” itu tetap harus diminum oleh Tuhan Yesus. Yesus pun sadar bahwa kehendak Allah Bapa adalah agar Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Itulah sebabnya akhirnya Tuhan Yesus berkata, “Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”. Tuhan Yesus menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah Bapa, dan membiarkan Allah Bapa menggenapi rencanaNya dalam kehidupan Tuhan Yesus. Yesus sadar bahwa Ia turun dari surga untuk melakukan kehendak Allah Bapa yang telah mengutusNya (Yoh 6:38-40)

Bagaimana dengan kita? Tentunya kita sering berdoa kepada Tuhan. Tentunya kita pun sering meminta sesuatu kepada Tuhan, mulai dari berkat, rejeki, jodoh, anak, dan segala hal-hal lainnya. Tapi pernahkah kita berdoa seperti Tuhan Yesus? Sudahkah kita berdoa meminta agar kehendak Allah yang terjadi? Kita pun harus belajar agar semakin hari kita semakin mengerti kehendak Allah dalam kehidupan kita (Rm 12:2). Marilah kita tidak menjadi orang-orang yang bodoh, tetapi kita harus menjadi orang-orang yang mengerti kehendak Tuhan (Ef 5:17), dan kita memanfaatkan waktu yang masih ada ini untuk bertindak sesuai dengan kehendak Allah, dan bukan menuruti kehendak manusia (1 Pet 4:2). Jangan sampai kita berdoa tetapi kita memaksakan kehendak kita sendiri, untuk memenuhi hawa nafsu kita sendiri (Yak 4:2-3). Tetapi ketika kita mencari kehendak Tuhan, kita mengutamakan apa yang menjadi kehendak Allah, maka Tuhan akan menambah-nambahkan hal yang lain kepada kita. Firman Tuhan berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).



Bacaan Alkitab: Lukas 22:39-42
22:39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.
22:40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan."
22:41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:
22:42 "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Maria, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus

Minggu, 4 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Lukas 1:26-38
“Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."” (Luk 1:38)

Maria, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus

Maria adalah perempuan keempat yang disebutkan dalam silsilah Yesus Kristus. Berbeda dengan tiga nama perempuan sebelumnya (Tamar, Rahab, dan Rut), Maria bukan berasal dari bangsa non Israel, tetapi merupakan keturunan asli bangsa Israel. Maria juga mendapatkan kekhususan karena Allah sendiri yang memilih Maria untuk menjadi ibu jasmani Yesus Kristus. Allah sendiri yang berinisiatif menyuruh malaikan Gabriel untuk menyampaikan kabar tersebut langsung kepada Maria (ay. 26). Mengapa Allah memilih Maria untuk menjadi ibu Yesus? Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Maria dalam bacaan kita kali ini.

Pertama, Maria adalah perempuan yang menjaga kekudusan. Dalam ayat 27 dikatakan bahwa Maria adalah seorang perawan yang sedang bertunangan dengan Yusuf. Memang di zaman dahulu, keperawanan sangat penting bagi wanita, tetapi saya rasa hal ini juga seharusnya masih bersifat penting di masa kini. Terlebih dengan pergaulan anak muda saat ini, semakin sulit untuk menjaga kekudusan baik bagi pria dan wanita. Oleh karena itu, kita pun juga harus tetap menjaga kekudusan di hadapan Allah.

Kedua, Maria memiliki sikap kritis. Ketika malaikat Gabriel menyampaikan kabar bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan Yesus, Maria justri bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (ay. 34). Pertanyaan Maria bukan berarti Maria tidak percaya akan Allah, tetapi Maria ingin memastikan bagaimana cara ia akan mengandung. Tentunya Maria juga tidak ingin ia mengandung karena dihamili oleh Yusuf. Maria tentu ingin mengandung Yesus karena memang Roh Kudus yang menaungi Maria (ay. 35). Sikap kritis Maria tersebut menunjukkan bahwa Maria pun sebenarnya tahu bahwa secara manusia memang hal tersebut tidak mungkin, tetapi sebenarnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang mustahil (ay. 37).

Ketiga, Maria memiliki sikap mau tunduk kepada kehendak Allah. Ketika mendengar kabar dari Gabriel, tentunya Maria dapat saja menolak untuk menyelamatkan “nama baiknya”. Bayangkan Maria yang memang adalah gadis baik-baik bisa saja dianggap sebagai perempuan yang “tidak baik” karena ternyata mengandung sebelum menikah. Bisa saja Yusuf kemudian lepas tanggung jawab sehingga Maria harus menanggungnya seorang diri. Akan tetapi, kita harus belajar dari Maria, yang berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Dengan berserah kepada apa yang Tuhan inginkan, maka Tuhan akan membentuk kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kita pun harus meneladani sikap Maria yang mau mengikuti rencana Tuhan tanpa kecuali. Apapun resikonya, ia pun siap menerimanya tanpa syarat. Tuhan pun akhirnya memakai Maria sebagai ibu dari Tuhan Yesus. Bahkan Maria diangkat menjadi orang suci dalam agama Katolik dan ajaran gereja Ortodoks. Di masa-masa kini, sulit menemukan orang-orang yang memiliki karakter sebagai Maria. Saatnya bagi kita untuk belajar memiliki sikap sebagai Maria. Ketika Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, apakah kita sering menolak kehendakNya? Apakah kita sering menunda-nunda untuk melakukan sesuatu yang Tuhan minta? Ataukah kita mau bersikap seperti Maria yang berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.




Bacaan Alkitab: Lukas 1:26-38
1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Rut, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus

Sabtu, 3 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Rut 1:7-17
“Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"” (Rut 1:16-17)


Rut, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus


Setelah Tamar dan Rahab, Rut adalah perempuan ketiga yang disebutkan dalam silsilah Yesus Kristus (Mat 1:5). Rut merupakan perempuan bangsa Moab, yang menjadi menantu dari Naomi ketika keluarga Naomi pindah ke Moab untuk mengungsi karena adanya kelaparan di tanah Israel (Rut 1:1-4). Akhirnya suami dan kedua anak Naomi pun mati, dan tinggallah Naomi beserta kedua menantunya, yaitu Orpa dan Rut, dan Naomi pun memutuskan untuk kembali ke tanah Yehuda. Naomi pun dengan halus meminta kedua menantunya untuk pulang ke rumah mereka. Singkat cerita Orpa pun memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya, tetapi Rut bersikeras untuk tetap mengikut Naomi.


Apa yang kita lihat di sini adalah bagaimana sikap Rut yang setelah menikah dengan anak Naomi, sudah menganggap bahwa ia sekarang telah menjadi bagian dari bangsa Israel. Berbeda dengan Orpa yang akhirnya kembali ke Moab, Rut justru mengambil sikap radikal dengan berkata, “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (ay. 16-17). Luar biasa bukan? Rut yang merupakan perempuan Moab, justru dalam kesempatan ini seakan-akan memiliki iman yang lebih dari Naomi. Rut memiliki prinsip bahwa sekali ia memutuskan untuk menikah, ia tidak hanya menikahi suaminya, tetapi juga “menikah” dengan keluarga dan Tuhan suaminya.

Apa yang dilakukan Rut tersebut ternyata berkenan di hati Allah. Rut adalah salah satu dari beberapa orang di luar bangsa Israel yang mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian menjadi bangsa pilihan Tuhan. Tentunya ada harga yang harus dibayar oleh Rut, ia harus meninggalkan keluarganya, masa lalunya, dan segala hal yang menyenangkan di kampung halamannya di Moab. Rut bisa saja kembali ke Moab seperti Orpa dan kembali ke kehidupannya yang lama, termasuk kehidupan rohani mereka. Tetapi Rut memutuskan untuk memiliki kehidupan rohani yang baru bersama Tuhan bangsa Israel. Hal ini tergambar jelas dalam kalimat yang diucapkan Rut: “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”.


Akhirnya, Tuhan pun memberkati Rut dan juga Naomi dengan luar biasa. Sebagai janda, tentunya secara manusia akan sulit bagi Rut untuk dapat menemukan suami lagi, tetapi Rut adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan juga mau bekerja keras. Ketika tiba di Israel, Rut tidak hanya berdiam diri saja, tetapi ia pergi untuk memungut jelai di ladang (Rut 2:3). Akibat dari iman dan kerja keras Rut, Tuhan pun memberkati Rut dan Naomi dengan melimpah. Rut pun menjadi isteri Boas, dan akhirnya melahirkan anak yang dinamainya Obed (Rut 4:13-17). Obed pun nantinya akan memperanakkan Isai, yang selanjutnya memperanakkan Daud. Dari keturunan Daud inilah nantinya Yesus Kristus, Juruselamat dunia akan dilahirkan.

Tuhan mau kita menjadi seperti Rut, yang tidak tanggung-tanggung dalam memutuskan untuk mengikut Tuhan. Maukah kita menjadi seperti Rut yang sekali mengikut Tuhan akan selalu mengikut Tuhan dan tidak mau kembali ke belakang? Ketika kita setia dalam mengiring Tuhan, maka Tuhan akan memberkati kita dengan melimpah, dan bahkan akan memakai kita dengan luar biasa. Kita akan menjadi kepala dan bukan ekor (Ul 28:13). Kita akan diberkati dan bahkan akan menjadi berkat bagi orang lain.


Bacaan Alkitab: Rut 1:7-17
1:7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,
1:8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;
1:9 kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras
1:10 dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."
1:11 Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti?
1:12 Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,
1:13 masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"
1:14 Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.
1:15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."
1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
1:17 di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"

Rahab, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus

Jumat, 2 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Yosua 2:1-14
“Dan [Rahab] berkata kepada orang-orang itu: "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.” (Yos 2:9)


Rahab, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus


Rahab adalah satu dari empat orang perempuan yang disebutkan dalam silsilah Yesus (Mat 1:5). Rahab sebetulnya adalah perempuan yang tinggal di kota Yerikho. Memang Alkitab tidak menceritakan latar belakang Rahab ini, tetapi dalam ayat 1 dikatakan bahwa Rahab adalah seorang perempuan sundal. Saya juga tidak paham mengapa para pengintai yang dilepas Yosua untuk memata-matai kota Yerikho justru menuju ke rumah perempuan sundal, tetapi mungkin hal tersebut adalah salah satu taktik agar mereka tidak ketahuan oleh bangsa Yerikho tersebut.

Akan tetapi Rahab ternyata justru bertindak untuk menyembunyikan kedua pengintai tersebut. Ia menyembunyikan kedua pengintai bangsa Israel tersebut di atas sotoh rumahnya (ay. 6). Rahab bahkan memberikan informasi yang salah kepada orang-orang Yerikho sehingga kedua pengintai tersebut aman di rumahnya (ay. 4-5). Apa yang mendasari Rahab untuk bertindak seperti itu? Tentunya karena Rahab sendiri telah mendengar kabar bahwa bangsa Israel telah keluar dari Mesir serta telah menumpas bangsa Amori dengan cara yang ajaib (ay. 10).

Yang luar biasa adalah iman dari Rahab yang berbeda dengan bangsa Yerikho. Rahab dan bangsa Yerikho sama-sama takut ketika mendengar bahwa Tuhan telah menyertai bangsa Israel sejak keluar dari tanah Mesir hingga akhirnya akan masuk ke Tanah Kanaan. Kebanyakan bangsa Yerikho bersikap akan tetap melawan bangsa Israel, tetapi Rahab tahu bahwa Tuhan Allah bangsa Israel adalah Tuhan atas langit dan bumi, dan tak akan ada allah atau dewa lain yang sanggup menghadapi Tuhan (ay. 11). Bahkan Rahab dengan iman dapat berkata bahwa Tuhan telah menyerahkan negeri ini (Yerikho) kepada bangsa Israel (ay. 9a).

Luar biasa iman Rahab. Seorang yang tidak mengenal Tuhan dan berasal dari bangsa yang bukan bangsa pilihan Tuhan, tetapi dapat memiliki iman yang luar biasa. Iman Rahab justru dapat dikatakan lebih besar daripada iman para pengintai bangsa Israel yang diutus Musa (Bil 13:27-33). Karena iman tersebut, Rahab dan keluarganya akhirnya menjadi satu-satunya keluarga yang diselamatkan dari bangsa Yerikho ketika bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua (Yos 6:17). Rahab beserta keluarganya pun mendapatkan tempat bersama-sama dengan orang Israel (Yos 6:25). Nama Rahab bahkan selain disebut dalam silsilah Yesus Kristus, juga disebut dalam Ibrani 11:31 dan Yakobus 2:25, di mana kedua ayat tersebut berbicara tentang iman dan perbuatan Rahab tersebut. Dengan ditulisnya nama Rahab sebagai contoh dalam surat Ibrani dan Yakobus tersebut, berarti nama Rahab sendiri sesungguhnya telah dikenal oleh bangsa Israel sebagai semacam pahlawan yang telah menolong bangsa Israel, walaupun Rabah sebenarnya bukan berasal dari bangsa Israel.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Rahab adalah bahwa bagaimana Tuhan sendiri dapat menyelamatkan orang yang takut akan Tuhan, walaupun dia bukan berasal dari bangsa pilihan Tuhan. Tuhan mengetahui iman Rahab yang luar biasa, dan tidak hanya cukup beriman, Rahab juga bertindak sesuai dengan imannya tersebut. Alkitab mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17). Dengan demikian Rahab diselamatkan dan dihidupkan karena iman dan perbuatannya untuk menolong pengintai bangsa Israel tersebut. Jika Tuhan saja menyelamatkan Rahab yang sebenarnya adalah bukan termasuk bangsa pilihan Tuhan, terlebih Tuhan akan menyelamatkan kita yang adalah bangsa pilihan Tuhan. Jika Tuhan saja memakai Rahab yang dulunya adalah perempuan sundal untuk menjadi salah satu orang yang menjadi nenek moyang Tuhan Yesus, pastilah Tuhan juga dapat memakai kita untuk menjadi seseorang yang nantinya akan memuliakan Tuhan. Semua itu tergantung dari iman kita dan tindakan kita. Maukah kita memiliki iman yang luar biasa dan bertindak berdasarkan iman tersebut?




Bacaan Alkitab: Yosua 2:1-14
2:1 Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: "Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho." Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.
2:2 Kemudian diberitahukanlah kepada raja Yerikho, demikian: "Tadi malam ada orang datang ke mari dari orang Israel untuk menyelidik negeri ini."
2:3 Maka raja Yerikho menyuruh orang kepada Rahab, mengatakan: "Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini."
2:4 Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu. Berkatalah ia: "Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka,
2:5 dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka."
2:6 Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu.
2:7 Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar.
2:8 Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh
2:9 dan berkata kepada orang-orang itu: "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.
2:10 Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas.
2:11 Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.
2:12 Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya,
2:13 bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut."
2:14 Lalu jawab kedua orang itu kepadanya: "Nyawa kamilah jaminan bagi kamu, asal jangan kaukabarkan perkara kami ini; apabila TUHAN nanti memberikan negeri ini kepada kami, maka kami akan menunjukkan terima kasih dan setia kami kepadamu."

Kamis, 01 Desember 2011

Tamar, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus


Kamis, 1 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Kejadian 38:1-26
“Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: "Bukan aku, tetapi perempuan itulah [Tamar] yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku."” (Kej 38:26a)


Tamar, Perempuan yang Disebutkan dalam Silsilah Yesus Kristus


Tak terasa saat ini kita telah memasuki bulan Desember 2011, bulan di mana kita akan merayakan Natal sebagai peringatan akan kelahiran Yesus Kristus. Dan pada hari ini, kita akan mencoba untuk belajar dari silsilah Tuhan Yesus dalam Matius 1:1-17, dimana dalam silsilah tersebut, ada beberapa nama perempuan yang ditulis namanya di situ. Tentunya dalam kebudayaan bangsa Yahudi yang bersifat patriakal, perempuan seringkali tidak dianggap penting dalam suatu silsilah, sehingga ada alasan yang penting ketika terdapat perempuan tersebut disebutkan dalam silsilah Tuhan Yesus.

Alkitab mengatakan bahwa Tamar adalah menantu Yehuda, anak dari Yakub. Ia dahulu adalah isteri dari Er, anak sulung Yehuda, tetapi Tuhan membunuh Er karena Er adalah jahat di mata Tuhan (ay. 6-7). Sebagaimana tradisi di Israel, maka anak kedua Yehuda, Onan, wajib untuk menikahi Tamar (ay. 8). Tetapi ternyata Onan juga jahat di mata Tuhan sehingga Onan pun mati (ay. 9-10). Seharusnya setelah ini, anak ketiga Yehuda yaitu Syela dikawinkan dengan Tamar, tetapi Yehuda takut bahwa Syela juga akan mati seperti kedua kakaknya, sehingga akhirnya Yehuda meminta Tamar untuk pulang ke rumah orang tua Tamar dengan alasan jika Syela sudah besar maka Tamar akan dikawinkan dengan Syela. Padahal sesungguhnya Yehuda sedang mencari alasan agar Tamar tidak perlu menikahi Syela (ay. 11).

Apa yang dilakukan oleh Tamar adalah, ia berusaha untuk mendapatkan haknya mendapatkan keturunan dari anak-anak Yehuda, sehingga ketika ia melihat bahwa Syela sudah besar namun Yehuda sengaja menunda-nunda untuk menikahkan Syela dengan Tamar (ay. 14), akhirnya Tamar pun bertindak nekad. Ketika Tamar mendengar bahwa Yehuda akan datang, Tamar menyamar menjadi perempuan sundal untuk tidur dengan Yehuda dan mendapatkan keturunan dari Yehuda. Tamar meminta jaminan berupa meterai, kalung, serta tongkat Yehuda dari Yehuda (ay. 18). Hingga beberapa saat kemudian Yehuda mendengar kabar bahwa Tamar hamil, sehingga Yehuda pun awalnya bermaksud untuk menghukum mati Tamar (ay. 24). Tetapi dengan cerdik Tamar menunjukkan bukti dari Yehuda sehingga Yehuda pun akhirnya berkata “Tamarlah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku” (ay. 26)

Sebenarnya, dari sudut pandang Alkitab, apa yang dilakukan Tamar terbilang licik karena ia menjebak Yehuda, mertuanya sendiri untuk tidur dengannya. Apa yang dilakukan Tamar sebenarnya adalah dosa. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa tindakan Tamar adalah tindakan yang benar, tetapi dengan disebutkannya nama Tamar dalam silsilah Yesus, hal tersebut menunjukkan bahwa Tuhan mampu membuat sesuatu yang baik dari masa lalu yang tidak baik. Alkitab mengatakan bahwa dari Peres yang merupakan anak dari Yehuda dan Tamar, lahirlah Yesus Kristus (Mat 1:3). Peres sebetulnya dapat dikatakan sebagai anak haram, tetapi Yesus mau lahir dari silsilah seperti itu.

Tuhan tidak melihat masa lalu kita sekelam apa, tetapi Tuhan mau melihat kita bangkit dan menyerahkan kehidupan kita kepada Tuhan. Sepahit apapun kisah hidup kita dahulu, jika kita mau dipakai Tuhan maka Tuhan pasti akan memakai kita. Banyak kisah bahwa hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa dahulu adalah orang-orang yang sangat jauh dari Tuhan, orang-orang yang penuh dengan dosa. Tetapi Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa, yang mampu mengubah yang tidak baik menjadi baik, bahkan menjadi sungguh amat baik. Maukah kita masuk ke dalam rencana Tuhan? Ketika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengubah kita menjadi orang-orang yang luar biasa, yang akan memuliakan nama Tuhan.


Bacaan Alkitab: Kejadian 38:1-26
38:1. Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira.
38:2  Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu ialah Syua. Lalu Yehuda kawin dengan perempuan itu dan menghampirinya.
38:3  Perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Er.
38:4  Sesudah itu perempuan itu mengandung lagi, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Onan.
38:5  Kemudian perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki sekali lagi, dan menamai anak itu Syela. Yehuda sedang berada di Kezib, ketika anak itu dilahirkan.
38:6  Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang isteri, yang bernama Tamar.
38:7  Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia.
38:8  Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: "Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu."
38:9  Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya.
38:10  Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.
38:11  Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: "Tinggallah sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar," sebab pikirnya: "Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu." Maka pergilah Tamar dan tinggal di rumah ayahnya.
38:12. Setelah beberapa lama matilah anak Syua, isteri Yehuda. Habis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu.
38:13  Ketika dikabarkan kepada Tamar: "Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya,"
38:14  maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya.
38:15  Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya.
38:16  Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: "Marilah, aku mau menghampiri engkau," sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: "Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?"
38:17  Jawabnya: "Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku." Kata perempuan itu: "Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku."
38:18  Tanyanya: "Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab perempuan itu: "Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu." Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.
38:19  Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya.
38:20  Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi.
38:21  Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: "Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?" Jawab mereka: "Tidak ada di sini perempuan jalang."
38:22  Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: "Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini."
38:23  Lalu berkatalah Yehuda: "Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu."
38:24. Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: "Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu." Lalu kata Yehuda: "Bawalah perempuan itu, supaya dibakar."
38:25  Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan: "Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung." Juga dikatakannya: "Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan tongkat ini?"
38:26  Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: "Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku." Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu.