Minggu, 18 Desember 2011

Jangan Takut, Sebab Tuhan Menyertai Kita


Rabu, 14 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Yesaya 41:8-10
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yes 41:10)


Jangan Takut, Sebab Tuhan Menyertai Kita


Ayat 10 dari Yesaya pasal 41 ini adalah salah satu ayat yang paling berkesan dalam kehidupan saya. Saya ingat ketika saya akan menghadapi sidang skripsi di kampus beberapa tahun yang lalu, pacar saya (yang saat ini telah menjadi isteri saya) mengirimkan sms yang berisi ayat ini. Saya awalnya cukup tegang menghadapi sidang skripsi ini mengingat skripsi saya membutuhkan waktu dua semester untuk disusun, dan itulah salah satu penyebab saya lulus 4,5 tahun dibandingkan teman-teman saya yang lulus 3,5 hingga 4 tahun. Saya pun mengamini ayat tersebut, dan akhirnya saya lulus dengan nilai yang memuaskan.

Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini adalah apa yang Tuhan janjikan kepada orang-orang pilihan Tuhan. Ayat ini sebenarnya merupakan Firman Tuhan yang disampaikan melalui nabi Yesaya kepada bangsa Israel, bangsa pilihan Tuhan. Tuhanlah yang telah memilih bangsa Israel dari segala bangsa lainnya di muka bumi ini (ay. 8). Prinsip Tuhan adalah sekali Tuhan telah memilih orang-orang pilihanNya, Tuhan tidak akan pernah menolak kita (ay. 9). Memang bangsa Israel pun pernah menolak Tuhan hingga akhirnya dibuang ke Babel, tetapi Tuhan selalu mengingat bangsa Isreal, dan hingga kini bangsa Israel pun tetap menjadi bangsa pilihan Tuhan. Demikian kita pun yang percaya kepada Tuhan adalah orang-orang pilihan Tuhan (Rm 8:29-30).

Ketika kita menjadi orang-orang pilihan Tuhan, maka Tuhan memberikan janjiNya untuk selalu menyertai kita. Dalam ayat 10, ada beberapa prinsip yang dapat kita pelajari dari Firman Tuhan tersebut:

Pertama, kita tidak boleh takut. Banyak ayat di Alkitab yang menyebutkan Tuhan berkata, “Jangan takut” kepada manusia, kepada Gideon (Hak 6:23), kepada murid-murid Tuhan Yesus (Mat 14:27), kepada Maria, ibu Yesus (Luk 1:30), dan juga kepada gembala-gembala di padang saat kelahiran Tuhan Yesus (Luk 2:10). Apa yang membuat kita tidak takut adalah karena Tuhan menyertai kita. Jika Tuhan menyertai kita dan ada di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita? (Rm 8:31).

Kedua, kita tidak boleh bimbang. Kita tidak boleh menjadi bimbang karena Tuhan itu adalah Allah yang berkuasa atas apapun. Untuk apakah kita menjadi bimbang? Ketika kita berseru kepada Tuhan, jangan sampai kita merasa bimbang, karena orang bimbang adalah orang yang diombang-ambingkan, sama seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan oleh angin (Yak 1:6).

Ketiga, Tuhan akan meneguhkan dan menolong kita. Dalam kondisi apapun dan dalam keadaan seburuk apapun, Tuhan berjanji akan meneguhkan dan menolong kita. Tuhan akan meneguhkan kita sehingga sekalipun kita jatuh, kita tidak akan sampai tergeletak (Mzm 37:23-24). Tuhan pun akan memberikan pertolongan kepada kita tepat pada waktunya.

Keempat, Tuhan akan memegang kita dan membawa kemenangan. Sesulit apapun kehidupan kita, pada akhirnya Tuhan telah menjanjikan kemenangan kepada kita. Kemenangan yang terutama adalah kemenangan atas dosa dan kemenangan atas kematian kekal. Barangsiapa yang telah percaya kepada Tuhan telah menang atas dosa dan menang atas maut (1 Kor 15:54-57).

Luar biasa janji Tuhan kepada kita, orang-orang pilihanNya. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, saya sangat yakin bahwa Tuhan sangat mengasihi kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang setia dengan perjanjianNya kepada kita. Tidak akan pernah Tuhan meninggalkan kita begitu saja, tetapi kebanyakan malah kita yang meninggalkan Tuhan. Oleh karena itu, ketika kita menghadapi keadaan yang sukar, ingatlah janji Tuhan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Marilah kita berdiri teguh, tidak takut dan bimbang, tetapi percaya kepada Tuhan dan Ia akan memberikan kemenangan kepada kita.


Bacaan Alkitab: Yesaya 41:8-10
41:8 Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi;
41:9 engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau";
41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Jika Tuhan Mau, Tuhan Dapat Menjawab Doa Kita


Selasa, 13 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Markus 1:40-45
"Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."" (Mrk 1:41)


Jika Tuhan Mau, Tuhan Dapat Menjawab Doa Kita


Kisah Alkitab kita pada hari ini bercerita tentang bagaimana seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus. Dalam kisah Alkitab terutama di Perjanjian Lama, penyakit kusta merupakan hukuman Allah atas dosa seseorang. Seseorang yang terkena penyakit kusta adalah orang yang najis, dan orang tersebut harus tinggal di luar perkemahan, atau dengan kata lain harus hidup terasing dari orang lainnya, termasuk dari keluarganya (Im 13:45-46). Itulah mengapa ketika Alkitab mengatakan bahwa ada orang kusta yang datang kepada Yesus, Alkitab mau mengatakan bagaimana usaha orang tersebut untuk mau disembuhkan.

Bayangkan kondisi pada zaman di mana Tuhan Yesus hidup, mungkin ketika Yesus sedang mengajar orang banyak, tiba-tiba ada orang kusta yang mendekat kepada Tuhan Yesus. Pastilah banyak orang banyak yang sehat akan lari ketakutan karena takut tertular penyakit kusta orang tersebut. Pastilah banyak orang yang marah kepada orang tersebut, karena seharusnya orang yang kena penyakit kusta tidak boleh datang mendekat kepada orang yang sehat, malahan ketika ada orang sehat yang tidak sengaja datang mendekat ke orang yang terkena kusta tersebut, orang kusta itu harus berkata “najis, najis” agar orang yang tidak sengaja mendekat tahu bahwa ia sedang mendekati seseorang yang sakit kusta.

Tetapi orang yang sakit kusta ini berbeda. Ia datang kepada Yesus, dan berlutut dan berkata kepada Yesus, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (ay. 40). Dapat dikatakan bahwa orang ini adalah orang yang cukup nekad. Pernahkah ketika kita sakit, kita nekad mendatangi rumah seorang pendeta yang terkenal untuk minta didoakan olehnya? Saya rasa kita pun tidak akan bertindak senekad orang tersebut bukan? Kita pasti akan berpikir dua kali bahkan lebih sebelum kita memutuskan untuk nekad mendatangi rumah pendeta tersebut. Tetapi orang yang sakit kusta ini tentu saja tidak hanya bertindak karena nekad, tetapi ia juga bertindak karena imannya kepada Tuhan Yesus.

Satu hal yang cukup menarik adalah ucapannya kepada Yesus. Ia tidak berteriak-teriak, “Yesus, sembuhkanlah aku!”, tetapi ia berkata, “Jika Engkau [Tuhan Yesus] mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Ucapannya adalah ucapan yang memposisikan Yesus sebagai Tuhan. Orang itu tentunya tahu bahwa Tuhan Yesus mampu menyembuhkan siapapun dari penyakit apapun, permasalahannya adalah apakah Tuhan Yesus mau menyembuhkan dirinya dari penyakit kusta tersebut.

Tuhan Yesus pun tergerak hatinya oleh belas kasihan (ay. 41), dan singkat cerita Tuhan Yesus pun mau menyembuhkan orang tersebut (ay. 42). Setelah menyembuhkan orang tersebut dari penyakit kustanya, selain Tuhan Yesus meminta orang tersebut untuk tidak memberitahukan tentang hal ini kepada orang lain, Tuhan Yesus juga meminta orang tersebut untuk tetap melakukan kewajiban keagamaan Yahudinya, yaitu memperlihatkan kepada imam dan mempersembahkan korban untuk kesembuhan dari penyakitnya itu. Tuhan ingin agar orang tersebut tidak hanya sembuh dari penyakit kustanya begitu saja, tetapi Tuhan Yesus juga ingin agar ia dapat kembali diterima di masyarakat. Saat itu, satu-satunya orang yang dapat menyatakan  bahwa status seseorang telah sembuh dari kusta adalah para  imam, sesuai dengan hukum Taurat yang diperintahkan oleh Musa kepada bangsa Israel (Im 14:1-32).

Ketika saya membaca kisah ini, saya kagum dengan sikap orang kusta itu yang meminta Tuhan untuk menyembuhkannya dengan kata-kata yang luar biasa. Bukankah kita pun meminta sesuatu kepada Tuhan dengan sikap yang tidak semestinya? Ketika kita meminta sesuatu, kita memintanya dengan ngotot, seakan-akan kita meminta sesuatu kepada pembantu kita. Seringkali saya dan anda meminta sesuatu seperti ini, “Tuhan, saya minta Tuhan memberkati saya dengan A, B, C, D, E, dan seterusnya...”. Bahkan mungkin secara tidak sadar kita merasa diri kita lebih tahu daripada Tuhan sendiri dengan berkata, “Tuhan, aku ingin punya isteri yang putih, cantik, tinggi, kaya, pintar memasak, dan seterusnya...”. Bukankah Tuhan pasti lebih tahu apa yang kita perlukan daripada kita sendiri? Tidak salah memang meminta kepada Tuhan, tetapi mari kita juga boleh meminta kepada Tuhan seperti orang yang sakit kusta tersebut, “Jika Tuhan mau, Tuhan dapat menjawab doaku ini dan memberkati aku dalam kehidupanku”. Bukankah itu lebih baik? Ingat bahwa kita berdoa kepada Tuhan di atas segala Tuhan. Ia adalah Tuhan yang berkuasa, bukan pembantu kita yang harus selalu melakukan apa yang kita inginkan. Kalau Tuhan mau dan berkenan akan permohonan kita, pasti Tuhan akan mampu mengabulkan apapun yang kita minta kepada Tuhan.



Bacaan Alkitab: Markus 1:40-45
1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."
1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.
1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:
1:44 "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."
1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.


Senin, 12 Desember 2011

Tanda-tanda Akhir Zaman


Senin, 12 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Matius 24:3-14
"Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!" (Mat 24:4)


Tanda-tanda Akhir Zaman


Ketika kita membaca bagian Alkitab ini, bagaimana perasaan kita? Apakah ketika kita membaca tentang akhir zaman kita menjadi takut, atau justru kita semakin bersukacita membaca tanda-tanda akhir zaman tersebut? Jika kita merasa takut, mungkin hal tersebut disebabkan karena kita belum sungguh-sungguh mengikut Yesus, sehingga kedatangan Yesus yang kedua kali terasa menakutkan bagi kita. Tetapi ketika kita telah sungguh-sungguh mengikut Yesus, kita justru akan mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Kita memang tidak pernah tahu kapan Tuhan Yesus akan datang kembali untuk yang kedua kalinya, tetapi melalui bacaan kita, saya rindu kita boleh melihat tanda-tandanya sehingga kita bisa lebih menyiapkan diri kita menyambut kedatanganNya yang kedua kali.

Pertama, akan muncul banyak nabi-nabi palsu yang menyesatkan orang-orang (ay. 5 & 11). Mereka mengaku bahwa mereka adalah Mesias, dan sangat mungkin mereka pun mengajarkan ajaran yang menyimpang dari Firman Tuhan. Sangat mungkin ajaran mereka sangat mirip dengan Firman Tuhan, namun ada unsur-unsur yang menyimpang yang sangat sulit untuk dibedakan. Tuhan ingin kita semua tetap waspada sehingga kita tidak tersesat (ay. 4).

Kedua, terjadi deru perang dan kabar tentang perang (ay. 6-7). Sepanjang tahun 2009 sampai dengan 2011, kita melihat bagaimana banyak sekali perang-perang antar bangsa-bangsa yang terjadi. Perang antara Amerika Serikat dengan Afghanistan, Irak, dan Libya, Revolusi yang terjadi di bangsa-bangsa Arab hingga memakan korban, Perang saudara di negara-negara Afrika, hingga kabar-kabar tentang perang yang masih belum terjadi namun menjadi semakin panas, antara lain antara Korea Selatan dan Korea Utara. Belum lagi di Indonesia, terjadi beberapa “pertempuran” di Aceh dan juga di Papua. Hal tersebut menjadi penggenapan ayat 6 dan 7 di atas.

Ketiga, Penganiayaan terhadap orang Kristen meningkat (ay. 9). Kita yang berada di kota-kota besar mungkin saja masih merasa aman-aman saja beribadah, tetapi masih banyak tempat di Indonesia ini dan juga di seluruh dunia, di mana orang-orang percaya harus beribadah secara sembunyi-sembunyi. Akibatnya banyak orang percaya yang imannya tidak kuat akan menjadi murtad dan meninggalkan Tuhan (ay. 10). Mengapa orang percaya bisa menjadi murtad? Karena mereka kehilangan kasih mula-mula mereka kepada Tuhan, sehingga iman mereka pun menjadi dingin (ay. 12)

Keempat, Injil Tuhan akan diberitakan ke seluruh dunia (ay. 14). Memang kelihatannya agak kontradiktif dengan poin ketiga di atas, tetapi sebenarnya hal ini dapat berjalan bersamaan. Injil harus diberitakan walaupun dalam keadaan yang sulit. Sejarah justru membuktikan bahwa di dalam tekanan, di situlah kekristenan bertumbuh dengan pesat. Di masa Romawi yang menindas orang Kristen, jemaat mula-mula tumbuh dengan cepat. Sementara ketika kekristenan sudah menjadi agama yang “resmi” pada abad pertengahan, mulai muncul kemunduran-kemunduran. Saat ini, Injil sudah diberitakan ke semua bangsa melalui para penginjil, para misionaris, melalui tabloid dan traktat-traktat, melalui siaran radio dan televisi, bahkan melalui internet yang dapat menjangkau hampir semua penduduk dunia.

Melihat tanda-tanda di atas, sudah jelas bahwa memang waktu kedatangan Tuhan Yesus sudah dekat. Memang tidak ada orang yang tahu kapan pastinya Tuhan Yesus akan datang, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Yesus sendiri tidak tahu, karena hanya Bapa di surga yang tahu (Mat 24:36). Tetapi kita harus sadar bahwa tanda-tandanya sudah menunjukkan bahwa akhir dunia ini sudah sangat dekat. Saatnya kita untuk hidup lebih sungguh-sungguh lagi di hadapan Tuhan. Mari kita belajar dari pohon ara, apabila kita melihat ranting-rantingnya sudah mulai bertunas, maka kita tahu bahwa musim panas sudah dekat, demikian juga ketika kita melihat tanda-tanda akhir zaman sudah semakin jelas, maka kita harus sadar bahwa kedatanganNya sudah sangat dekat (Mrk 13:28-29). Sudah siapkah kita menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali?


Bacaan Alkitab: Matius 24:3-14
24:3 Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"
24:4 Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!
24:5 Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
24:6 Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.
24:7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.
24:8 Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.
24:9 Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku,
24:10 dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.
24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.
24:12 Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.
24:13 Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
24:14 Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."

Perbuatan Tuhan yang Ajaib


Minggu, 11 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Mazmur 105:1-6
"Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" (Mzm 105:2)


Perbuatan Tuhan yang Ajaib


Ketika kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, bagaimana kualitas sesuatu yang kita minta tersebut? Andaikan saja kita meminta tempat tinggal kepada Tuhan, apakah kita meminta rumah yang sederhana saja, yang penting cukup untuk tinggal, ataukah kita meminta rumah yang besar dengan kolam renang dan perabot yang mahal kepada Tuhan? Memang jawaban dari pertanyaan tersebut tidak dapat digeneralisasi. Menurut saya pun, jawabannya tergantung kepada iman kita masing-masing. Jika iman kita setinggi gunung, maka kita pun dapat memindahkan gunung. Tetapi jika iman kita hanya sebesar bukit, atau lebih parah lagi hanya sebesar polisi tidur, ya sebesar itulah benda yang dapat kita  pindahkan. Jadi, ketika kita berdoa meminta rumah yang besar dan mewah padahal gaji kita dihitung-hitung hanya cukup untuk membeli rumah yang sederhana, di situlah iman kita diuji.

Ketika kita membaca kisah-kisah dalam Alkitab, kita melihat bahwa dalam banyak kasus, Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib dan tidak masuk akal. Dalam Perjanjian Lama kita dapat membaca bagaimana Tuhan bisa membelah air Laut Merah (Kel 14:21), Tuhan bisa membuat matahari dan bulan tidak bergerak (Yos 10:13), Tuhan bisa membuat bayang-bayang mundur sepuluh tapak (2 Raj 20:11). Dan dalam Perjanjian Baru pun kita dapat membaca bagaimana Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat dalam pelayananNya, mulai dari mengubah air menjadi anggur (Yoh 2:7-11), membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari lamanya (Yoh 11:43-44), berjalan di atas air (Mrk 6:48), dan banyak hal lainnya yang Tuhan Yesus lakukan. Dari apa yang kita baca dalam Alkitab, tentunya kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan memang ingin melakukan perkara-perkara yang dashyat dan ajaib bagi orang-orang yang percaya kepadaNya.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana pemazmur mengajak orang lain untuk bersyukur senantiasa kepada Tuhan atas perbuatan-perbuatanNya yang ajaib (ay. 1). Terlebih lagi, pemazmur mengajak kita untuk mempercakapkan dan mengingat perbuatan-perbuatanNya yang ajaib (ay. 2 & 5). Memang seharusnya kita bersukacita kepada Tuhan dalam kondisi apapun, tetapi Tuhan mau melakukan perkara-perkara yang besar bagi kita agar kita lebih bersukacita lagi.

Tuhan mau kita mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar bagi kita, karena Tuhan sendiri yang ingin melakukan perbuatan-perbuatanNya yang besar bagi setiap anak-anakNya. Tuhan Yesus sendiri mengajar murid-muridNya untuk meminta kepada Tuhan. Tentunya Yesus tahu bahwa Bapa di surga adalah Allah yang memiliki segala sesuatu. Tidak mungkin Tuhan Yesus berani mengajar murid-muridNya untuk meminta apapun kepada Bapa kalau Yesus tahu bahwa Bapa tidak punya apa-apa. Tetapi karena Allah kita adalah Allah atas langit dan bumi, bahkan Allah atas segala ciptaanNya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk meminta hal-hal yang besar bagi Tuhan. Kalau kita beriman untuk membeli rumah sederhana dengan mencicil setiap bulannya dari gaji kita, itu bagus. Tetapi ketika kita beriman untuk memiliki rumah yang besar agar rumah kita tersebut bisa digunakan sebagai tempat ibadah, padahal secara matematis, gaji kita tidak akan cukup untuk membeli rumah tersebut, itulah hal yang dashyat dan luar biasa. Bagaimana agar hal-hal yang ajaib dan luar biasa itu bisa terjadi dalam kehidupan kita, tentunya ketika kita memiliki motivasi yang benar, hati yang tulus, iman yang besar dan ketika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan. Ketika kita telah melakukan bagian kita, maka tinggal tunggu saatnya Tuhan akan melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib dalam kehidupan kita, bahkan hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan sedikitpun.


Bacaan Alkitab: Mazmur 105:1-6
105:1 Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!
105:2 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!
105:3 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!
105:4 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!
105:5 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,
105:6 hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!


Ulang Tahun = Tambah Umur atau Kurang Umur?


Sabtu, 10 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Amsal 3:13-18
" Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (Ams 3:16)


Ulang Tahun = Tambah Umur atau Kurang Umur?


Hari ini adalah hari ulang tahun salah satu sahabat saya. Awalnya saya sendiri lupa bahwa ia berulang tahun, tetapi ketika melihat beberapa petunjuk di akun jejaring sosial miliknya, saya baru sadar bahwa ia berulang tahun pada hari ini. Lucunya, isteri saya justru lebih ingat ulang tahunnya daripada saya, malah isteri saya yang mengingatkan saya bahwa sahabat saya itu sedang berulang tahun. Akhirnya saya pun mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya melalui SMS.

Sehubungan dengan ulang tahun, sejak kecil kita diajarkan bahwa ketika seseorang ulang tahun, kita harus bersukacita dan merayakan bertambahnya umur kita satu tahun lagi. Memang benar, ketika kita berulang tahun kita merayakannya karena usia kita bertambah satu tahun di dunia ini. Tetapi jika dipikir-pikir, semakin bertambahnya umur seseorang, ketika ia berulang tahun, justru hal tersebut menunjukkan bahwa usia dan waktu dia di dunia ini sudah berkurang satu tahun lagi. Itulah mengapa semakin tinggi usia seseorang, seharusnya orang tersebut menjadi semakin bijaksana dalam menggunakan waktu sisa hidupnya di dunia ini. 
Kitab Amsal mengatakan bahwa seseorang seharusnya berbahagia bukan karena hal-hal duniawi, apalagi berbahagia karena usia kita bertambah. Kitab Amsal mengatakan dengan jelas bahwa “berbahagialah  orang yang mendapatkan hikmat dan kepandaian” (ay. 13). Hikmat dan kepandaian dari Tuhan tersebut jauh melebihi harta duniawi, bahkan melebihi emas dan perak (ay. 14). Itulah mengapa ketika Salomo meminta hikmat kepada Tuhan dan bukannya kekayaan, harta benda, serta umut panjang, Tuhan pun akhirnya memberikan hal-hal lainnya tersebut kepada Salomo sebagai bonus (2 Taw 1:11-12).

Demikian juga dalam ayat 16, yang merupakan salah satu ayat yang paling banyak dikutip saat kita mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang-orang terdekat kita, “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan”. Memang ayat tersebut merupakan ayat yang sangat indah, namun sayangnya banyak orang lupa membaca beberapa ayat sebelumnya. Umur panjang, kekayaan, dan kehormatan itu adalah bonus bagi orang-orang yang takut akan Tuhan, yaitu bagi orang-orang yang meminta hikmat kepada Tuhan. Mazmur 90:12 mengatakan bahwa pemazmur meminta agar Tuhan mengajarnya untuk menghitung hari-harinya, agar ia memperoleh hati yang bijaksana.

Bonus yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang mengutamakan hikmat dari Tuhan bukan hanya bonus di saat ini berupa umur panjang, kekayaan, dan kehormatan. Tuhan juga dapat memberi bonus di masa depan yaitu jalan hidup yang bahagia dan sejahtera (ay. 17). Selain itu, Tuhan juga memberi bonus tidak hanya kepada diri kita, tetapi juga kepada orang-orang di sekitar kita. Kitab Amsal mengatakan bahwa kita akan menjadi seperti pohon yang menjadi berkat bagi orang lain, sehingga setiap orang yang memegang kita akan mendapatkan kebahagiaan (ay. 18). Tuhan tidak ingin kita diberkati begitu saja dan semua selesai. Tuhan ingin agar kita diberkati dan menjadi berkat bagi orang lain juga. Tuhan ingin agar melalui diri dan kehidupan kita, orang lain juga dapat merasakan berkat dan kasih Allah dalam kehidupan mereka.

Kembali lagi ke pokok bahasan kita di awal, terkait dengan umur panjang, tentunya sah-sah saja pada setiap kita merayakan ulang tahun, kita berdoa kepada Tuhan agar kita diberikan umur panjang. Tidak ada ayat Alkitab yang melarang kita untuk meminta umur panjang kepada Tuhan. Walaupun demikian, seharusnya kita juga memikirkan, andaikata kita diberi umur panjang, apa yang kita lakukan bagi Tuhan? Apakah kita dapat memuliakan Tuhan melalui kesempatan dan umur panjang  yang Tuhan berikan kepada kita? Atau jangan-jangan justru umur panjang kita gunakan untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi saja. Alangkah baiknya jika pada setiap hari ulang tahun, kita menginstropeksi diri kita, apa saja hal-hal yang sudah saya lakukan selama satu tahun ke belakang? Berapa banyakkah hal-hal yang memuliakan Tuhan? Mari kita selalu instropeksi diri kita masing-masing agar kita lebih baik lagi menjalani hari-hari kehidupan kita di dunia ini.


Bacaan Alkitab: Amsal 3:13-18
3:13 Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian,
3:14 karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.
3:15 Ia lebih berharga dari pada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya.
3:16 Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.
3:17 Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata.
3:18 Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.

Jumat, 09 Desember 2011

Ketika Semua Tidak Berjalan Sesuai Rencana Kita


Jumat, 9 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Yeremia 29:10-14
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yer 29:11)


Ketika Semua Tidak Berjalan Sesuai Rencana Kita


Saya memiliki salah satu sahabat yang sekaligus sebagai adik rohani saya. Saya pertama kali bertemu dengan dirinya pada saat sama-sama melakukan pelayanan di kampus. Uniknya, ia adalah satu dari sedikit laki-laki yang mengambil kuliah di fakultas ilmu keperawatan. Suatu saat saya iseng-iseng bertanya kepadanya, mengapa ia memilih jurusan keperawatan dan bukannya jurusan yang lain? Awalnya saya pikir ia memang bercita-cita menjadi seorang perawat sehingga memilih untuk berkuliah di fakultas keperawatan, tetapi ternyata apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Sahabat saya tersebut awalnya ingin berkuliah di jurusan komputer, sehingga ketika seleksi masuk, ia endaftar untuk masuk ke FIK, karena disangkanya FIK tersebut adalah singkatan dari Fakultas Ilmu Komputer, padahal seharusnya ia memilih Fasilkom yang sebenarnya merupakan singkatan dari Fakultas Ilmu Komputer. Alhasil, ia pun “terdampar” masuk ke fakultas yang awalnya tidak diinginkannya.

Ketika mendengar kisah ini, apakah sahabat saya tersebut bisa dibilang telah gagal? Apakah segala cita-cita sahabat saya tersebut menjadi gagal karena ia salah masuk fakultas? Orang dunia bisa saja berkata bahwa kesalahan yang diperbuatnya sangat fatal dan tidak ada lagi harapan bagi dia untuk bisa berprestasi di fakultas yang sangat jauh berbeda dengan fakultas yang diinginkannya. Tetapi bagi kita orang-orang percaya, kita yakin bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28). Dan sahabat saya adalah salah satu bukti nyata tersebut. Ia berhasil menikmati perkuliahan di fakultas tersebut, lulus S1 dengan nilai yang memuaskan, ia kemudian mengambil gelar profesi perawat, dan akhirnya ia saat ini pun dapat bekerja menjadi dosen. Terlebih lagi, ia mendapatkan pasangan hidup di fakultas tersebut, mereka pun sejak awal telah belajar untuk mengambil bagian dalam pelayanan mahasiswa bersama-sama. Saya sendiri melihat, bahwa Tuhan sungguh memberkati sahabat saya ini dan membuatnya menjadi saluran berkat bagi orang lain. Tuhan telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih hebat daripada rencana dan cita-cita yang dahulu disusun oleh sahabat saya tersebut.

Sama seperti kisah di atas,  Bangsa Israel pun mengalami hal yang tidak mengenakkan, yaitu dibuang ke Babel selama 70 tahun, padahal Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan (ay. 10). Sudah begitu banyak mujizat yang dibuat oleh Tuhan di hadapan bangsa Israel melalui nabi-nabiNya. Jika kita memposisikan diri kita sebagai bangsa Israel, tentunya kita pasti sedikit banyak akan merasa kecewa dengan Tuhan. Padahal ada maksud Tuhan yaitu sebagai “hukuman” atas dosa-dosa bangsa Israel agar bangsa Israel mau bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Tuhan berkata, bahwa dalam pembuangan pun, itu adalah rencana Tuhan bagi bangsa Israel. Tuhan berjanji bahwa rencana Tuhan adalah rencana damai sejahtera, bukan rencana kecelakaan. Rencana Tuhan adalah untuk memberikan masa depan yang penuh dengan harapan (ay. 11). Tuhan menjanjikan bahwa ketika bangsa Israel mau kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan memulihkan bangsa Israel. Tuhan akan menjadi Tuhan bagi bangsa Israel, Tuhan akan mendengarkan bangsa Israel ketika mereka berseru kepadaNya (ay. 12), Tuhan akan membiarkan diriNya ditemui ketika bangsa Israel mencariNya (ay. 13), dan Tuhan bahkan menjanjikan untuk memulihkan keadaan bangsa Israel (ay. 14). Rencana Tuhan mungkin tidak mengenakkan bagi bangsa Israel, tetapi akhirnya kita tahu bahwa setelah pembuangan, bangsa Israel menjadi bangsa yang sangat taat kepada Tuhan dan segala perintah serta hukum-hukum Tuhan.

Rancangan Tuhan selalu adalah rancangan yang terbaik bagi kita. Saya berkata hal ini bukan karena saya sok tahu atau bagaimana, bukan juga karena saya hanya bermaksud menghibur dengan menulis ayat-ayat yang indah bagi anda, tetapi karena saya sendiri mengalami sendiri, betapa ayat Yeremia 29:11 tersebut benar-benar hidup dalam diri saya. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan saya yang awalnya saya rasa tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Banyak masalah dan pergumulan yang harus saya hadapi, sebagian memang karena kesalahan saya sendiri, sebagian juga memang karena Tuhan yang ijinkan. Tetapi setelah semuanya berlalu, saya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam kehidupan saya. Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, ingatlah dan percayalah bahwa selalu ada pelangi yang indah sehabis hujan yang deras.



Bacaan Alkitab: Yeremia 29:10-14
29:10 Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
29:12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;
29:13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
29:14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. --

Kamis, 08 Desember 2011

Mempercayakan kepada Orang yang Dapat Dipercaya


Kamis, 8 Desember 2011
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:1-7
" Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." (2 Tim 2:2)


Mempercayakan kepada Orang yang Dapat Dipercaya


Pernahkah kita menonton film kungfu yang menceritakan kisah pendekar kungfu di Cina? Dalam film tersebut kita dapat melihat bagaimana pada zaman dahulu orang-orang Cina memiliki ilmu kungfu yang luar biasa. Mereka bisa memukul dengan tenaga dalam, mereka bisa memiliki ilmu yang memperingan tubuh sehingga bisa meloncat atau “terbang” menghindari musuhnya, bahkan dalam beberapa film digambarkan bahwa si tokoh jagoan dapat melawan puluhan orang tanpa terluka sedikitpun. Saya sangat yakin bahwa memang jaman dulu memang para jagoan kungfu tersebut pernah hidup, tetapi pertanyaannya, kemana para jagoan kungfu tersebut? Seharusnya jika orang-orang Cina memiliki ilmu yang setinggi itu, tidak akan mungkin mereka bisa dijajah oleh bangsa-bangsa lain.

Menurut saya, jawabannya cukup menarik. Ilmu kungfu biasanya diturunkan secara turun temurun kepada murid-muridnya. Ketika sang guru memiliki sepuluh ilmu, mereka biasanya hanya akan menurunkan sembilan ilmu kepada murid-muridnya, sisanya yang satu ilmu digunakan sebagai ilmu pamungkas untuk berjaga-jaga apabila sang murid mencoba untuk melawan gurunya. Jadi sang guru masih memiliki ilmu yang lebih tinggi dari muridnya jika muridnya ternyata berkhianat. Murid yang memperoleh sembilan ilmu  tersebut juga hanya akan menurunkan delapan ilmu kepada murid generasi selanjutnya, dan begitu seterusnya hingga lama kelamaan ilmu kungfu yang awalnya sangat sakti akan menjadi hilang satu persatu dan lama-lama pun akan punah.

Syukurlah bahwa Tuhan tidak menurunkan FirmanNya seperti ilmu kungfu tersebut. Tuhan Yesus ketika memberitakan Kabar Baik, tidak pernah menyembunyikan satu hal pun kepada murid-muridNya. Bahkan sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Tuhan memerintahkan murid-muridNya agar memberitakan menjadikan bangsa-bangsa menjadi muridNya dan mengajar mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan perintahkan kepada murid-muridNya (Mat 28:19-20). Perhatikan frasa “segala sesuatu”, hal ini berarti bahwa Tuhan ingin agar murid-muridNya tidak menyembunyikan sejumlah ajaran Tuhan Yesus, tetapi Tuhan ingin agar murid-muridNya mengajar orang lain sama seperti Tuhan Yesus telah mengajar murid-muridNya.

Demikian juga Paulus menasihatkan Timotius, anak rohaninya, agar mempercayakan apa yang telah ia peroleh dari Paulus kepada orang lain yang dapat dipercaya, yang juga cakap untuk mengajar orang lain (ay. 2). Paulus ingin agar Timotius mempercayakan Firman Tuhan dan ajaran Tuhan kepada orang lain. Tentunya, Paulus dan juga Tuhan menginginkan agar Firman Tuhan itu tidak berhenti hanya di satu generasi saja, sehingga Paulus mengingatkan Timotius juga mencari orang yang dapat dipercaya dan yang juga cakap mengajar orang lain.

Paulus menekankan agar Timotius melakukan semuanya itu bukan karena terpaksa, tetapi karena Timotius sadar akan panggilannya dalam pelayanan. Paulus mengibaratkan Timotius sebagai seorang prajurit, olahragawan atau atlet, dan juga sebagai seorang petani. Sebagai seorang prajurit, berarti Paulus ingin agar Timotius hanya memfokuskan diri pada apa yang diinstruksikan oleh komandannya (au. 4). Ketika bertugas, seorang prajurit seharusnya hanya melakukan instruksi komandannya, untuk hal-hal lainnya, komandan itulah yang bertanggung jawab, termasuk untuk hal-hal kecil seperti makanan, gaji, dan lain-lain. Apalagi jika komandan kita adalah Tuhan Yesus sendiri (ay. 3), pasti Tuhan akan memberikan yang lainnya ketika kita mau sungguh-sungguh melakukan apa yang Tuhan mau (Mat 5:33). Sama juga dengan seorang atlet. Ketika akan bertanding, atlet yang baik seharusnya akan berlatih keras serta memfokuskan diri untuk bertanding. Urusan lain-lainnya tentunya bukan menjadi urusan atlet tersebut, tetapi sudah diurus oleh pelatihnya atau panitia pertandingan. Seorang petani pasti akan bersukacita ketika tanamannya akhirnya dipanen (ay. 6), dan tentunya ini menggambarkan Paulus yang akan sangat bersukacita jika ia memiliki anak rohani seperti Timotius, dan pastinya akan lebih bersukacita ketika Timotius dapat mempercayakan Firman Tuhan tersebut kepada orang lain.

Kita semua juga merupakan orang-orang yang telah dipercayakan Firman Tuhan dari orang lain. Mungkin orang yang mempercayakan Firman Tuhan kepada kita adalah kedua orang tua kita, atau mungkin saja kita menjadi orang percaya karena jasa dari orang lain yang mengabarkan Injil kepada kita. Sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan atas hal itu? Atau pernahkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah mempercayakan Firman Tuhan itu kepada kita? Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah apakah kita mau mempercayakan Firman Tuhan yang telah kita terima itu kepada orang lain? Mungkin kita mengelak dengan alasan belum siap, tidak berani, atau alasan-alasan yang lainnya. Tetapi ingatlah janji Tuhan bahwa Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita melalui kasih karuniaNya (ay. 1), dan akan memberi pengertian kepada kita dalam segala sesuatu (ay. 7). Jadi seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk berkata tidak, melainkan kita harus berkata “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8).


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 2:1-7
2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.
2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.
2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.
2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.
2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.