Selasa, 27 Desember 2011

Menemukan Tuhan dalam Ketenangan


Selasa, 27 Desember 2011
Bacaan Alkitab: 1 Raja-Raja 19:11-14
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. (1 Raj 19:12)


Menemukan Tuhan dalam Ketenangan


Apa yang biasanya kita lakukan dalam masa-masa Natal ini? Apakah kita suka menghadiri perayaan-perayaan Natal yang diadakan di berbagai Gereja dengan segala hingar bingarnya? Kita suka melihat acara-acara Natal di mal-mal yang dikemas dengan begitu meriah?  Melihat pohon natal yang besar-besar atau acara berfoto dengan sinterklas? Memang tidak semuanya salah, tetapi mungkin ada saatnya bagi kita di masa Natal ini untuk sesekali menikmati natal dalam suasana yang tenang dan damai. Kelahiran Yesus di sebuah kandang pun tidak dirayakan besar-besaran oleh penduduk kota Betlehem, tetapi hanya dihadiri oleh sejumlah gembala saja. Orang majus yang datang untuk membawa persembahan kepada Yesus pun pasti tidak mengadakan acara besar-besaran. Kemungkinan besar mereka hanya menemui Yesus, mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus, menyembah Yesus, lalu kemudian pulang ke negerinya.

Demikian juga dengan apa yang kita baca dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Saat itu Elia sedang dalam ketakutan dan keputusasaan yang sangat berat karena Izebel, isteri raja Ahab berencana untuk membunuh Elia (1 Raj 19:1-3). Elia pun pergi ke gunung Horeb, yaitu gunung tempat Allah pernah menyatakan dirinya kepada Musa. Saat itu, Tuhan berfirman agar Elia keluar dan berdiri di atas gunung itu di hadapan Tuhan (ay. 11a). Tuhan ingin bertemu muka dengan muka kepada Elia. Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita dapat melihat bagaimana Tuhan menampakkan diri kepada Elia.

Pertama, dalam bentuk angin yang besar dan kuat (ay. 11a). Tuhan menunjukkan keperkasaannya melalui angin yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu. Tetapi ternyata itu hanyalah angin yang mendahului Tuhan, tetapi tidak ada Tuhan dalam angin besar tersebut.

Kedua, dalam  bentuk gempa (ay. 11b). Gempa tersebut pasti terasa sangat hebat dan menggetarkan bumi, tetapi ternyata tidak ada Tuhan dalam gempa tersebut.

Ketiga, dalam bentuk api (ay. 12a). Tetapi ternyata api tersebut juga hanyalah api yang mendahului Tuhan, tetapi tidak ada Tuhan dalam api tersebut.

Keempat, dalam bentuk angin sepoi-sepoi (ay. 12b). Ternyata dalam bentuk angin yang halus dan lembut inilah Tuhan hadir. Alkitab mengatakan bahwa setelah mendengar angin sepoi-sepoi, Elia menyelubungi mukanya dengan jubahnya (untuk melindunginya dari kemuliaan Tuhan, karena manusia tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan), dan pergi keluar. Barulah setelah itu Tuhan memanggil Elia dan akhirnya Elia menjawab Tuhan (ay. 13-14).

Ternyata walaupun ada angin besar, gempa, dan api yang mendahului, Tuhan sendiri ada dalam angin sepoi-sepoi itu. Memang Tuhan pun pernah menampakkan diri kepada bangsa Israel dalam bentuk guruh, kilat, awan, suara yang keras, bahkan hingga asap dan api di gunung Horeb ini juga (Kel 19:16-18). Ini pun berarti bahwa Tuhan pun dapat ditemui dalam hingar bingar perayaan Natal maupun dalam ibadah-ibadah yang ramai. Tetapi jika menyangkut hubungan antar pribadi, sesungguhnya Tuhan lebih mudah ditemui sebagai angin sepoi-sepoi, sama seperti Elia. Ketika Allah mencari Adam dan Hawa yang telah memakan buah dari pohon terlarang, Alkitab pun menyatakan bahwa Allah berjalan-jalan pada hari yang sejuk (Kej 3:8).

Apa yang kita dapat simpulkan adalah bahwa kita membutuhkan suasana yang tenang untuk dapat bertemu Tuhan secara pribadi. Kita memang dapat merasakan hadirat Tuhan dalam ibadah hari Minggu, atau dalam keadaan apapun, tetapi ketika menyangkut hubungan pribadi kita, perlu ada persiapan yang mendukung. Sangat sulit untuk bersaat teduh ketika kita ada dalam rutinitas dan kebisingan kota. Tuhan Yesus sendiri pun ketika hendak bersaat teduh, ia mencari tempat yang sunyi untuk berdoa (Mrk 1:35). Oleh karena itu, saya rindu di masa Natal ini, kita menyiapkan waktu yang tenang untuk kita dapat merenungkan kasih Tuhan, dan dapat menemukan hadirat Tuhan, di sela-sela kebisingan dan hiruk pikuk Natal ini. Ingat bahwa jika dahulu para gembala dan orang majus saja mencari Tuhan, demikian juga kita pun perlu mencari Tuhan. Dan tidak ada cara yang lebih baik lagi dalam mencari Tuhan, selain mencarinya dalam ketenangan dan kesunyian.


Bacaan Alkitab: 1 Raja-Raja 19:11-14
19:11 Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
19:12 Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.
19:13 Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"
19:14 Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku."


Yusuf, Orang yang Langsung Bertindak Mengikuti Perintah Tuhan


Senin, 26 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Matius 2:13-15
Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." (Mat 2:13)


Yusuf, Orang yang Langsung Bertindak Mengikuti Perintah Tuhan


Ketika Yesus lahir ke dalam dunia, kelahirannya disertai oleh tanda-tanda dashyat. Pertama, ada bintang di langit yang mampu menuntun orang majus dari timur untuk datang ke kota Betlehem dan menemukan bayi Yesus. Para malaikat pun juga menampakkan diri kepada para gembala untuk menyampaikan kabar baik. Tapi apa yang kita baca dalam bacaan Alkitab kita hari ini sepertinya menunjukkan hal yang kontradiktif.

Saat akhirnya orang majus berangkat pulang ke negerinya tanpa memberitahu Herodes, malaikat Tuhan kembali menampakkan diri dalam mimpi kepada Yusuf dan berfirman agar Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus lari ke Mesir dan tinggal di sana sampai malaikat Tuhan tersebut kembali berfirman kepada Yusuf. Hal tersebut dikarenakan Herodes akan berusaha untuk membunuh bayi Yesus (ay. 13).

Cukup unik apa yang dialami Yusuf. Injil Matius mencatat tiga kali malaikat Tuhan berbicara kepada Yusuf tetapi tidak dengan menampakkan diri secara langsung, melainkan melalui mimpi (Mat 1:20, 2:13, 2:19). Agak berbeda memang dengan apa yang diceritakan dalam Injil Lukas yang menulis bahwa malaikat Tuhan menampakkan dirinya langsung kepada Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis (Luk 1:11), kepada Maria, Ibu Yesus (Luk:1:16-18), dan kepada para gembala pada saat kelahiran Yesus (Luk 2:9 & 13). Jika kita lihat, sepertinya tingkatan apa yang dilakukan Tuhan kepada Yusuf agak sedikit di bawah apa yang dilakukan Tuhan kepada Maria. Yusuf mendapatkan perintah Tuhan melalui mimpi, sedangkan Maria sendiri langsung mendapatkan berita dari Tuhan melalui malaikat yang menampakkan diri. Saya juga heran, mengapa Tuhan tidak mengutus malaikatNya kepada Maria dan memberi tahu Maria untuk pergi ke Mesir.

Walaupun saya juga masih belum tahu jawaban dari pertanyaan di atas, kita bisa melihat bagaimana Yusuf begitu taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Setelah ia mendapatkan mimpi tersebut, Yusuf bangun dan langsung membawa Maria dan Yesus pergi untuk lari ke Mesir pada malam itu juga (ay. 14). Perhatikan frasa “malam itu juga”. Padahal mungkin baru beberapa hari yang lalu atau baru pada siang harinya para orang majus datang dan membawa hadiah, tetapi pada malam itu juga Yusuf harus lari ke Mesir. Apa yang kita lihat di sini adalah bagaimana Yusuf tidak menunda-nunda sedetik pun untuk langsung melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Akibat dari ketaatan Yusuf tersebut, bayi Yesus pun selamat dari rencana jahat yang dilakukan Herodes.

Bagaimana dengan kita? Pernahkah Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu hal dalam kehidupan kita? Mungkin apa yang Tuhan perintahkan bukanlah hal yang sukar, tetapi justru kita yang sering menunda-nunda dengan berbagai alasan. Tetapi apa yang kita pelajari pada hari ini menunjukkan bahwa kita pun perlu untuk bertindak dengan cepat saat Tuhan berfirman kepada kita. Ketika bos kita di kantor memberi tugas kepada kita, pasti kita akan berusaha dengan cepat untuk melakukan apa yang bos kita perintahkan, tetapi mengapa kita jarang melakukan hal yang sama saat Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu? Mari kita belajar dari Yusuf yang mau cepat bertindak ketika Tuhan berfirman sehingga Yesus pun bisa selamat dari ancaman pembunuhan oleh Herodes.


Bacaan Alkitab: Matius 2:13-15
2:13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia."
2:14 Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."


Senin, 26 Desember 2011

Mengapa Tuhan Memberitakan Kabar Kelahiran Yesus kepada Para Gembala?


Minggu, 25 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Lukas 2:1-20
" Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka." (Luk 2:20)


Mengapa Tuhan Memberitakan Kabar Kelahiran Yesus kepada Para Gembala?


Semua dari kita pasti pernah membaca atau minimal mendengar kisah Natal dalam bacaan Alkitab di Lukas pasal 2 ini. Bagaimana saat itu Kaisar Agustus sebagai Kaisar Romawi yang sedang berkuasa memerintahkan semua orang untuk mendaftarkan diri di kotanya masing-masing (ay. 1-3). Oleh karena hal tersebut, Yusuf pun harus membawa Maria, tunangannya, yang sedang mengandung untuk pergi ke Betlehem, kota asal Yusuf (ay. 4-5). Pada saat itu, akhirnya tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, sementara kondisi pada saat itu semua penginapan pasti menjadi penuh karena banyak orang yang berada di Betlehem untuk mendaftarkan diri. Karena tidak ada tempat, mereka pun akhirnya membaringkan Yesus yang baru lahir di dalam palungan atau tempat makan hewan (ay. 6-7).

Sampai di sini rasanya cerita kelahiran Yesus cukup familiar. Bayi Yesus yang adalah Allah sendiri mau turun ke dunia dan menjadi sama seperti manusia. Saya berpikir, seharusnya palungan tempat Yesus dibaringkan terletak di sebuah kandang hewan, dan seharusnya pula, kandang hewan tempat Maria melahirkan Yesus pun bukan berada di tempat yang sunyi dan terpencil, atau di tengah-tengah padang rumput. Minimal kandang hewan tersebut berada di dekat rumah seseorang atau di dekat sebuah penginapan. Bahkan beberapa literatur pun memperkirakan Yesus dilahirkan di kandang hewan yang terletak di alun-alun kota Betlehem. Tapi di manapun Yesus dilahirkan, kemungkinan besar Yesus lahir di dalam kota Betlehem itu sendiri, bukan di luar kota.

Apa yang terjadi kemudian, diceritakan bahwa malaikat Tuhan kemudian menampakkan diri kepada para gembala yang sedang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada malam hari (ay. 8-9), dan memberitakan kabar sukacita bahwa telah lahir Juruselamat dunia yaitu Kristus di kota Daud (Betlehem), dan ia adalah bayi yang sedang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan (ay. 10-12). Sampai di sini saya berpikir, bukankah Yesus dilahirkan di dalam kota Betlehem? Mengapa para malaikat Tuhan tidak menampakkan diri kepada para penduduk kota? Mengapa para malaikat Tuhan tidak menampakkan diri kepada para imam di kota Betlehem tersebut? Mengapa  Tuhan memilih untuk menyampaikan kabar sukacita tersebut kepada para gembala yang jelas-jelas mereka berada di luar kota (sedang berada di padang untuk menjaga kawanan ternak mereka). Para gembala itu jelas-jelas bukan orang-orang yang memiliki status rohani dan status sosial yang tinggi, tetapi mereka adalah orang-orang yang dipandang rendah baik dari status sosial maupun secara rohani.

Tetapi Tuhan memilih untuk menyampaikan kabar sukacita kelahiran Yesus tersebut kepada para gembala. Saya pun sampai dengan saat ini juga masih belum dapat paham 100% mengapa para gembala tersebut mendapatkan keistimewaan untuk menjadi orang yang melihat bayi Yesus yang baru lahir tersebut. Tetapi melihat apa yang dilakukan oleh para gembala setelah mendengar kabar tersebut dimana mereka langsung berangkat ke kota Betlehem dan melihat apa yang terjadi di sana (ay. 15). Saya rasa karena mereka cepat-cepat pergi ke Betlehem (ay. 16), kemungkinan besar mereka tidak membawa ternak mereka, karena pastinya perjalanan mereka akan menjadi terlalu lama. Kemungkinan mereka meninggalkan ternak mereka di padang untuk melihat bayi Juruselamat tersebut. Dan ketika mereka telah melihat bayi Yesus, Alkitab mengatakan bahwa mereka pun kembali ke padang sambil memuji dan memuliakan Allah (ay. 20).

Apa yang kita tarik dari bacaan di atas? Memang pemilihan para gembala sebagai orang-orang yang mendapatkan anugerah untuk bisa melihat bayi Yesus merupakan kehendak mutlak Allah. Tapi dari bacaan tersebut kita dapat melihat bahwa para gembala itu, walaupun secara sosial mereka adalah orang-orang yang dianggap rendah, namun mereka memiliki sikap hati yang cepat menanggapi Firman Tuhan. Bayangkan jika saat itu Tuhan berfirman kepada para orang-orang kaya yang ada di kota Betlehem, apakah mereka langsung berlari menjumpai bayi Yesus di dalam palungan? Saya pikir pasti sebagian dari orang-orang di kota Betlehem justru akan bersikap cuek walaupun malaikat Tuhan telah menampakkan diri kepada mereka. Mereka akan beralasan sedang sibuk lah, sedang capek lah, atau alasan-alasan lain agar mereka tidak perlu keluar melihat ke kandang hewan tersebut. Atau kalaupun mereka akhirnya berangkat, mereka tidak berangkat dengan antusias dan dengan segera seperti para gembala tersebut, namun mungkin mereka pergi melihat Yesus pun hanya formalitas. Sesampainya di kandang hewan, orang-orang Betlehem mungkin justru merasa ragu, “Apa iya bayi yang di dalam palungan tersebut merupakan bayi Juruselamat? Masa iya sih bayi Juruselamat kok lahirnya ngenes banget, di dalam palungan lagi. Mana mungkin bayi tersebut adalah bayi Juruselamat?”

Dalam menyambut Natal kali ini, saya rindu kita semua memiliki sikap seperti para gembala-gembala tersebut yang dalam mendengar suara Tuhan tidak ragu-ragu dan tidak banyak pertimbangan, tetapi segera melangkah dalam iman. Kita perlu memiliki iman kepada Tuhan seperti iman anak kecil kepada kedua orang tuanya, yang tidak pernah ragu sedikitpun akan kedua orang tuanya. Sering kali ketika kita menjadi semakin dewasa, iman seperti anak kecil itu pun semakin hilang dan digantikan oleh logika pikiran, yang seakan-akan membuat diri kita lebih percaya kepada logika dan mengurangi kepercayaan kita kepada Allah. Maukah kita di hari Natal ini, kita kembali belajar dari para gembala tersebut? Jika para gembala yang tidak pernah melihat Yesus saja mau langsung pergi menjumpai Yesus dalam iman, apalagi kita yang pasti telah mengenal Yesus, sudah seharusnya kita pun lebih memiliki iman percaya kepada Tuhan. Mari di momen Natal ini, kita kembali memperbaharui iman percaya kita kepada Tuhan. Natal bukan hanya perayaan semata, tetapi juga momen di mana kita harus mengintropeksi diri kita agar kita pun semakin siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, bukan kedatanganNya di dunia ini sebagai bayi, tetapi kedatanganNya kedua kali untuk menghakimi umat manusia.


Bacaan Alkitab: Lukas 2:1-20
2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud --
2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
2:14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."
2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Jumat, 23 Desember 2011

Hadiah Apa yang Kita Berikan Menyambut Kelahiran Yesus?


Sabtu, 24 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Matius 2:9-12
"Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur." (Mat 2:11)


Hadiah Apa yang Kita Berikan Menyambut Kelahiran Yesus?


Sudah menjadi kebiasaan yang berlaku umum bahwa ketika seseorang merayakan hari-hari spesialnya, misalkan ulang tahun, menikah, atau pada saat hari raya, tentunya orang-orang terdekatnya akan memberikan semacam kado atau hadiah kepada orang yang merayakan. Pada hari raya biasanya anak-anak kecil akan mendapatkan “angpao”, sementara pada hari pernikahan, akan banyak orang yang datang mengucapkan selamat kepada kita dan memberikan hadiah atau jika mau lebih praktis lagi berupa “amplop” kepada kedua mempelai. Pada saat ulang tahun, tentunya orang-orang terdekat akan memberikan hadiah kepada kita. Nah, menyambut kelahiran Tuhan Yesus yang kita akan rayakan esok hari, pernahkah kita merenungkan, kira-kira hadiah apa yang akan kita berikan kepada Tuhan Yesus yang berulang tahun besok?

Memang Tuhan Yesus sendiri adalah Tuhan di atas segala Tuhan, yang tidak membutuhkan apapun dari manusia. Ia sebenarnya tidak memerlukan kado yang bersifat duniawi dari kita. Tetapi kembali lagi ke sikap hati kita kepada Tuhan. Sebenarnya ketika kita memberikan kado kepada orang lain, mungkin belum tentu orang lain itu memerlukan kado yang kita berikan, tetapi karena kita mengasihi orang tersebut, atau kita sudah dekat dan karib dengan orang tersebut, maka kita pun memberi sesuatu kepadanya sebagai wujud kasih kita kepada orang itu. Demikian juga seharusnya sikap hati kita saat kita menyambut hari Natal ini.

Firman Tuhan berkata bahwa ketika orang majus itu mengikuti bintang di langit, mereka akhirnya menemukan tempat di mana Yesus berada (ay. 9). Alkitab mengatakan bahwa mereka sangat bersukacita ketika menemukan lokasi Yesus Kristus (ay. 10). Mereka mungkin tidak menemukan Yesus di istana yang megah, atau di rumah bangsawan yang mewah, tetapi walaupun mereka hanya menjumpai Yesus di dalam sebuah rumah yang sederhana, mereka tetap bersukacita. Sukacita orang majus itu bukan timbul karena lokasi dimana Yesus dilahirkan, tetapi mereka bersukacita karena mereka melihat seorang Raja, bahkan Mesias yang akan menyelamatkan dunia. Itulah sukacita yang sejati yang tidak tergantung kepada kondisi lingkungan yang ada di sekitar kita.

Ketika orang majus tersebut menemui Yesus dan ibuNya, Maria, mereka pun memberikan persembahan kepada Yesus berupa emas, kemenyan, dan mur (ay. 11). Alkitab tidak mengatakan berapa banyak emas, kemenyan, dan Mur yang dipersembahkan kepada Yesus. Alkitab tidak pernah menilai kualitas persembahan seseorang berdasarkan berapa banyak persembahan yang diberi, tetapi Alkitab melihat bagaimana sikap hati orang yang memberi persembahan tersebut.

Alkitab mengatakan bahwa pernah pada suatu saat Yesus duduk di depan peti persembahan dan mengamati orang yang memberi persembahan, banyak orang kaya yang memberikan persembahan dalam jumlah yang besar, tetapi ada seorang janda miskin yang hanya mempersembahkan dua peser saja. Tetapi apa kata Tuhan Yesus? Yesus berkata bahwa janda miskin itu sesungguhnya memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan, karena orang lain memberi dari kelimpahannya, tetapi janda tersebut memberi persembahan dari seluruh kekurangannya (Mrk. 12:41-44). Tuhan tidak pernah menilai kualitas persembahan kita dari berapa banyak perpuluhan yang kita berikan kepada Tuhan, atau berapa banyak kita maju ke depan untuk memberikan persembahan Natal,  tetapi Tuhan lebih melihat bagaimana sikap hati kita dalam memberi persembahan tersebut.

Kembali kepada hari Natal, apa yang sudah kita siapkan dalam menyambut ulang tahun Tuhan Yesus? Bukan hanya soal materi tentang berapa banyak kita sudah memberi persembahan untuk perayaan Natal, tetapi yang terpenting lagi bagaimana kita memberi hadiah kepada Yesus berupa hati kita yang mau mengasihi Tuhan dengan lebih lagi. Kalau orang majus saja rela membawa hadiah-hadiah yang telah mereka siapkan sebelumnya di tanah kelahiran mereka nun jauh di timur, menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju tanah Yudea, dan akhirnya menemukan Yesus dan mempersembahkan hadiah yang telah mereka siapkan itu kepada Yesus, bukankah kita juga harus bersikap seperti itu? Bukankah kita seharusnya memberi hadiah yang terbaik kepada Yesus? Saya rindu kita semua bisa merayakan Natal ini sambil berkata, “Tuhan, aku memang tidak bisa memberikan hadiah seperti emas, kemenyan, dan mur yang diberikan orang majus kepadaMu. Tetapi apa yang aku punya saat ini hanyalah hati dan hidupku, dan aku mau memberikannya kepadaMu sebagai hadiah dariku untukMu. Mari Tuhan, pakailah hati dan hidupku sesuai dengan apa yang Engkau ingini, sehingga aku pun dapat menyenangkan hatiMu. Semoga hadiah yang kuberikan di hari Natal ini boleh berkenan di hadapanMu”. Saya sangat yakin bahwa itulah salah satu hadiah terindah yang dapat kita berikan kepada Tuhan menyambut hari Natal ini. Maukah kita memberikan hadiah tersebut kepada Tuhan Yesus?


Bacaan Alkitab: Matius 2:9-12
2:9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Orang yang Mengerti Firman tetapi Tidak Percaya Firman


Jumat, 23 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Matius 2:1-6
"Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi." (Mat 2:4-5)


Orang yang Mengerti Firman tetapi Tidak Percaya Firman


Ketika kita membaca judul di atas pasti kita menjadi heran, kok bisa-bisanya ada orang yang mengerti Firman tapi nggak percaya ya? Kalau misalnya orang itu tidak percaya Firman karena ia tidak tahu Firman atau tidak mengerti Firman tentunya itu wajar. Tetapi kalau seseorang tidak percaya Firman tetapi ia tahu dan mengerti tentang Firman Tuhan, itu baru hal yang aneh. Tapi percaya atau tidak, ternyata banyak orang-orang yang seperti ini, dan Alkitab bahkan menceritakan tentang orang seperti ini dalam kisah Natal yang biasanya kita baca.

Semua pasti pernah mendengar tentang kisah tentang orang majus yang datang untuk mengunjungi Yesus yang baru lahir. Bagaimana caranya orang majus itu tahu bahwa Yesus telah lahir? Ternyata Tuhan pun memberikan tanda melalui ciptaanNya di langit yaitu bintang yang bersinar terang (ay. 2). Alkitab mengatakan bahwa orang majus tersebut datang dari timur ke Yerusalem, yang menunjukkan bahwa kemungkinan besar orang majus ini adalah raja-raja atau pembesar-pembesar yang berasal dari daerah Mesopotamia, sekitar sungai Efrat. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian sejarah yang mengatakan bahwa orang-orang dari daerah tersebut sejak zaman bangsa Babel hingga Persia merupakan orang-orang yang rajin mengamati bintang-bintang di langit. Ketika mereka mengamati langit inilah mereka menemukan bintang yang bersinar menunjukkan kelahiran Yesus, Raja atas segala raja.

Jika Tuhan membuat bintang yang bersinar khusus untuk menunjukkan kelahiran Yesus, pastilah bintang itu dapat dilihat oleh semua orang di dunia ini, apalagi bagi orang yang tinggal di tanah Yudea. Jika orang-orang majus yang berada ribuan kilometer dari Yerusalem saja bisa melihat bintang itu dan rela bersusah-susah untuk datang ke Yerusalem, tentunya agak mengherankan ketika Alkitab mengatakan bahwa Herodes dan seluruh Yerusalem terkejut mendengar hal tersebut (ay. 3). Bagaimana mungkin mereka yang tinggal di Yerusalem tidak tahu bahwa Mesias sudah lahir di tanah Yudea? Bagaimana mungkin mereka tidak melihat bintangNya yang bersinar terang di atas tanah Yudea?

Dari bacaan di atas kita dapat melihat perbedaan antara orang majus dengan Herodes, para Imam dan ahli Taurat yang ada di Yerusalem. Orang majus, mau datang beribu-ribu kilometer untuk menyembah Raja tersebut, walaupun mereka tidak tahu siapa raja yang baru lahir itu. Sementara para Imam dan ahli Taurat yang sesungguhnya mengerti akan Firman Tuhan justru tidak sadar bahwa seorang Raja telah lahir di antara mereka. Yang lebih menyedihkan lagi, Herodes yang bertanya kepada para Imam justru mendapatkan konfirmasi dari para Imam bahwa memang Mesias akan dilahirkan di Betlehem, di tanah Yudea sesuai dengan Kitab Suci (ay. 5-6). Sampai di sini, seharusnya minimal para Imam dan ahli Taurat sadar bahwa Mesias memang benar-benar telah lahir. Bukankah para Imam dan ahli Taurat bisa saja berkata kepada orang majus tersebut, “Kami juga mau melihat Mesias itu, oleh karena itu biarkanlah kami ikut bersama-sama dengan kalian untuk mencari Mesias tersebut”. Apa susahnya sih untuk mencari Mesias di kota Betlehem? Apalagi dengan adanya petunjuk “bintang” yang bahkan mampu menuntun orang majus dari  timur, tentunya “bintang” tersebut akan lebih mudah mengarahkan para Imam dan ahli Taurat tersebut.

Sayangnya, para Imam dan ahli Taurat tidak mau “berusaha sedikit lebih keras lagi” untuk menemukan Mesias tersebut. Jika kita baca kelanjutan kisah ini, Herodes, para Imam, dan juga ahli  Taurat bahkan sepertinya dengan sengaja membiarkan orang majus ini mencari Yesus sendirian. Padahal, jika saja mereka mau untuk sedikit “bersusah payah” pergi ke Betlehem yang berjarak tidak jauh dari Yerusalem, mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri sang Mesias yang telah dilahirkan di tanah mereka.

Kadang-kadang saya berpikir, apa mungkin saya juga seperti para imam dan ahli Taurat ini ya? Dan memang saya mengakui bahwa saya pun masih sering bersikap seperti mereka. Saya mungkin sudah pernah membaca banyak ayat, pasal, bahkan kitab dari Firman Tuhan, tetapi dalam beberapa kesempatan saya bertindak seolah-olah sebagai orang yang tidak percaya Firman Tuhan. Saya seringkali masih melakukan dosa-dosa yang seharusnya sudah tidak dilakukan oleh orang yang percaya Tuhan. Memang tidak mudah bagi kita untuk bisa hidup terus bergantung dan percaya kepada Tuhan di tengah-tengah gelombang kehidupan yang menakutkan kita. Tetapi kita pun harus tetap dapat percaya dan beriman kepada Tuhan dalam kondisi apapun.

Firman Tuhan yang kita dengar dan kita baca setiap hari bagaikan benih yang jatuh di hati kita. Bagaimana benih tersebut dapat tumbuh tergantung kepada bagaimana perlakuan kita terhadpa benih tersebut. Ketika kita merawat benih itu, menyirami dan memberi pupuk, tentunya benih itu akan tumbuh subur. Tetapi ketika kita tidak pernah merawat benih tersebut, maka Firman Tuhan itu tidak akan pernah bisa tumbuh. Manakah yang kita pilih? Menjadi orang yang mengerti dan percaya dengan Firman Tuhan, ataukah kita menjadi orang yang mengerti Firman, tetapi tidak percaya Firman Tuhan?


Bacaan Alkitab: Matius 2:1-6
2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2:2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
2:5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."

Selasa, 20 Desember 2011

Yusuf, Seorang yang Tulus Hati


Kamis, 22 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Matius 1:18-25
"Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." (Mat 1:19)


Yusuf, Seorang yang Tulus Hati


Pernahkah kita berpikir bagaimana rasanya berada dalam posisi Yusuf? Bayangkan ketika kita masih berpacaran, tetapi tiba-tiba pacar kita berkata, “Aku hamil”. Mungkin kalau kita memang berpacaran dengan cara yang salah hingga pacar kita hamil, ceritanya mudah ditebak, kita akan menikahi pacar kita toh, anak itu juga adalah anak kita sendiri. Tetapi masalahnya adalah bagaimana jika kita tidak pernah berbuat yang “aneh-aneh” dengan pacar kita, lalu pacar kita berkata, “Aku hamil”. Apa perasaan kita saat itu? Apakah kita langsung memutuskan dan meninggalkan pacar kita? Atau kita langsung menginterogasi pacar kita tentang siapa orang yang menghamilinya, dan kemudian melabrak orang tersebut? Ataukah kita tetap menerima pacar kita dan menikahinya untuk menolong pacar kita tersebut.

Nah, bayangkan kondisi 2000 tahun yang lalu, ketika Yusuf yang saat itu masih bertunangan dengan Maria dan mendengar kabar bahwa Maria hamil. Apa yang ada di pikiran Yusuf saat itu? Maria bisa saja dihukum mati karena ia mengandung tanpa suami jika Yusuf mempermasalahkan hal tersebut ke para imam dan tua-tua (Ul 22:22-24). Tetapi apa yang Alkitab katakan adalah bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati, sehingga ia bermaksud untuk menceraikan/membatalkan pertunangan tersebut dengan diam-diam (ay. 19). Maksud Yusuf adalah dengan menceraikan diam-diam. kehamilan Maria ini tidak sampai terdengar ke para imam.

Saya melihat bahwa pilihan Yusuf ini adalah pilihan yang terbaik menurut pandangan manusia. Pilihan Yusuf ini adalah win-win solution yang tidak merugikan salah satu pihak. Tetapi apa yang baik menurut manusia belum tentu yang terbaik menurut Allah. Malaikat Tuhan pun akhirnya menampakkan diri kepada Yusuf agar Yusuf tetap mengambil Maria menjadi isterinya karena anak dalam kandungan Maria adalah anak dari Roh Kudus, dan anak tersebut akan dinamai Yesus, dan anak tersebut akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa dan menjadi Juruselamat dunia (ay. 20-21).

Ketika Yusuf mendengar hal itu, Yusuf berbuat seperti apa yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya. Ia akhirnya mengambil Maria menjadi isterinya (ay. 24). Namun Yusuf sadar bahwa anak dalam kandungan Maria adalah anak yang dikandung dari Roh Kudus, sehingga Yusuf pun tetap menjaga kekudusan dan tidak bersetubuh dengan isterinya sampai dengan Maria melahirkan Yesus (ay. 25).

Sulit mencari sosok seperti Yusuf yang tulus hati di masa sekarang ini. Kebanyakan orang saat ini lebih suka melakukan apa yang menguntungkan dirinya sendiri. Dalam memberi bantuan pun, banyak orang yang tidak tulus hatinya. Mereka memberi bantuan kepada orang lain dengan motivasi tertentu. Tetapi kita melihat bahwa sikap Yusuf yang tulus hati akhirnya membuat namanya menjadi terkenal sebagai ayah Tuhan Yesus secara jasmani. Jika saat itu Yusuf menceraikan Maria, atau Yusuf tidak mau melakukan apa yang diperintahkan malaikat Tuhan, mungkin kisah kelahiran Tuhan Yesus pun akan berbeda.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki sikap seperti Yusuf yang memiliki hati yang tulus? Sudahkah kita memiliki sikap seperti Yusuf yang mencoba mencari solusi yang terbaik dalam menghadapi permasalahan? Sudahkah kita tidak mencari keuntungan diri sendiri tetapi mengutamakan kepentingan orang lain? Sudahkah kita taat juga terhadap perintah Tuhan bagi kita? Tidak mudah memang, tetapi saya rindu kita semua sama-sama belajar untuk memiliki sikap hati yang tulus seperti Yusuf. Memang, hati tulus pun tidak cukup menghadapi dunia yang jahat ini, kita pun tetap perlu hati yang cerdik agar kita tidak lugu dan terseret arus dunia ini (Mat 10:16). Jika kita sudah memiliki sikap hati seperti itu, maka Tuhan pun akan memakai kita secara luar biasa dalam pekerjaanNya, sama seperti Yusuf yang akhirnya tercatat di Alkitab sebagai seseorang yang tulus hatinya, yang menjadi ayah Tuhan Yesus.


Bacaan Alkitab: Matius 1:18-25
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.


Pelayanan yang Berbasis pada Panggilan


Rabu, 21 Desember 2011
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 6:1-7
"Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."" (Kis 6:2-4)


Pelayanan yang Berbasis pada Panggilan


Dalam permainan sepakbola, masing-masing pemain memiliki perannya masing-masing. Ada yang menjadi penjaga gawang, ada yang menjadi bek, ada yang menjadi gelandang, penyerang, dan juga ada yang menjadi pemain cadangan. Masing-masing harus dapat bermain di posisi yang ditempati dengan sebaik mungkin. Seorang pelatih yang baik tentunya tidak akan menempatkan seseorang penyerang untuk menjadi penjaga gawang. Bisa-bisa justru gawang sendiri yang dibobol. Seorang pelatih akan melihat posisi apa yang paling pas ditempati oleh pemain tersebut. Ia harus melihat kemampuan dan potensi yang ada dalam diri mereka masing-masing. Demikian juga pemain yang baik harus sadar dengan kemampuannya dan harus terus melatih diri agar menjadi lebih baik lagi. Seorang pemain yang baik harus tahu posisinya dalam tim tersebut dan saling mendukung sehingga timnya dapat bermain bagus dan memenangkan pertandingan.

Demikian juga dalam pelayanan, setiap orang percaya memiliki peranan masing-masing dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, sesuai dengan panggilan masing-masing. Ada yang terpanggil menjadi gembala, ada yang terpanggil menjadi penginjil, ada yang terpanggil menjadi pemusik, dan lain sebagainya. Masing-masing orang percaya harus tahu panggilan mereka sehingga dapat saling mendukung pekerjaan Tuhan.

Bacaan Alkitab kita pada hari ini menunjukkan kondisi pada jemaat mula-mula, di mana jumlah orang percaya bertumbuh sangat cepat, hingga terjadi sedikit konflik di antara orang percaya, yang disebabkan karena pelayan kepada janda-janda mulai diabaikan (ay. 1). Apa yang dilakukan oleh kedua belas rasul sebagai pemimpin Gereja pada saat itu? Mereka tidak memasang sikap defensif dan bersikap tidak mau tahu, tetapi mereka justru membuka diri dan mengevaluasi apa yang salah (ay. 2). Kedua belas rasul tersebut sadar bahwa mereka terpanggil untuk memberitakan Injil sesuai dengan perintah Yesus kepada mereka (Mat 28:16-20). Oleh karena itu, kedua belas rasul memutuskan untuk memilih orang-orang yang khusus untuk melayani jemaat (ay. 3).

Apakah kedua belas rasul tersebut mencoba melarikan diri dari pelayanan terhadap jemaat? Saya rasa tidak, tetapi hal tersebut dilakukan kedua belas rasul agar mereka dapat memusatkan pelayanan mereka dalam doa dan pelayanan Firman Tuhan (ay. 4). Apa yang dilakukan kedua belas Rasul tersebut adalah memikirkan apa yang lebih baik bagi jemaat Tuhan, bukan untuk kepentingan sendiri. Hal tersebut terlihat dari sikap jemaat yang tidak memprotes usulan tersebut, tetapi justru mendukung sepenuhnya usulan dari kedua belas rasul tersebut (ay. 5a). Akhirnya terpilihlah tujuh orang yang memiliki tugas khusus untuk melayani jemaat (ay. 5b). Ketujuh orang ini pun didoakan oleh rasul-rasul dengan penumpangan tangan yang menjadi simbol berkat dan penugasan dari Tuhan (ay. 6). Ketujuh orang tersebut sadar bahwa mereka dapat melayani hanya karena anugerah Tuhan semata dan mereka pun sadar bahwa secara hierarki, mereka masih berada di bawah kedua belas rasul, sehingga mereka pun mau menundukkan diri di hadapan para rasul.

Apa akibat dari keputusan ini? Alkitab mengatakan bahwa Firman Allah makin tersebar dan jumlah murid di Yerusalem semakin bertambah banyak, bahkan sejumlah besar imam (yang dulunya adalah mereka yang tidak percaya kepada Yesus Kristus), akhirnya menyerahkan diri mereka dan percaya kepada Yesus Kristus (ay. 7). Ada dampak yang luar biasa dari keputusan rasul-rasul untuk menyerahkan pelayanan jemaat kepada ketujuh orang tersebut.

Dari bacaan di atas kita melihat bahwa pelayanan pun tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Para rasul bisa saja tetap memaksakan diri untuk melayani pemberitaan Firman Tuhan dan juga melayani jemaat, tetapi saya yakin dengan semakin banyaknya jumlah orang percaya pada saat itu, pelayanan mereka pun menjadi tidak maksimal. Saya tidak mengatakan bahwa kita seharusnya mengambil pelayanan yang sedikit saja tetapi dapat maksimal, tetapi seharusnya kita mengerti apa panggilan Tuhan bagi diri kita masing-masing. Sering kali omongan orang lain membuat kita untuk mengerjakan apa yang bukan merupakan panggilan kita, atau sebaliknya, membuat kita untuk tidak mengerjakan apa yang sebenarnya merupakan panggilan kita. Oleh karena itu, marilah kita mengintropeksi diri kita sendiri, apakah panggilan Tuhan dalam kehidupan kita? Dan sudahkah kita melakukan panggilan kita? Salah satu ciri bahwa kita telah melakukan panggilan Tuhan adalah pelayanan kita menjadi  berdampak bagi orang lain. Pelayanan kita tidak hanya dilihat dari berapa banyak jemaat yang kita layani atau berapa banyak ibadah hari Minggu yang kita ikut ambil bagian di dalamnya, tetapi pelayanan kita dilihat dari berapa banyak panggilan Tuhan yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 6:1-7
6:1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
6:2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.
6:3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
6:4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
6:5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
6:6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
6:7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.