Sabtu, 07 Januari 2012

Perbuatan Jahat Bangsa Israel yang Dibenci Tuhan


Sabtu, 7 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Amos 2:6-8
“Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut;” (Am 2:6)


Perbuatan Jahat Bangsa Israel yang Dibenci Tuhan


Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sedang dihebohkan dengan pemberitaan tentang sidang terhadap seorang anak remaja yang dituduh mencuri sepasang sandal milik seorang Polisi di kota Palu. Karena saya tidak tahu permasalahannya dengan pasti, saya tidak berada dalam posisi untuk menyatakan siapa yang salah. Tetapi yang menjadi perhatian saya adalah mengapa orang yang mencuri sandal saja sampai harus dilaporkan ke dalam persidangan tetapi orang yang korupsi hingga miliaran rupiah saja masih dapat hidup dengan tenang di negara ini.

Sekitar 2500 tahun yang lalu, nabi Amos pun telah menyampaikan Firman Tuhan yang menyatakan hukuman Allah atas bangsa Israel. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menghukum bangsa Israel karena tiga bahkan empat perbuatan jahat mereka, yaitu:

Pertama, bangsa Israel menjual orang benar karena uang dan menjual orang miskin hanya karena sepasang kasut (ay. 6b). Keadilan diputarbalikkan, orang-orang yang benar dihukum karena adanya orang-orang jahat yang memiliki uang. Mereka yang melanggar hukum tetapi memiliki uang dapat membeli hukum, sementara orang-orang yang benar namun tidak memiliki uang justru ditindas. Orang-orang miskin dihukum hanya karena mencuri sepasang kasut, sementara orang-orang kaya yang korupsi justru bebas dengan enaknya. Hal ini terlihat misalnya ketika Ahab membunuh Nabot dengan menuduhnya mengucapkan hujat kepada Allah, padahal itu semua dilakukan karena Ahab menginginkan kebun anggur milik Nabot (1 Raj 21:1-29).

Kedua, bangsa Israel menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara (ay. 7a). Orang yang berkuasa menginjak-injak orang yang lemah. Para pemimpin bukannya berpikir untuk menyejahterakan rakyat, tetapi justru menganggap rakyat sebagai sapi perah. Mereka tidak membela rakyat tetapi justru menindas rakyat. Orang-orang yang sudah hidup susah dan sengsara tidak mereka tolong tetapi justru semakin dibelokkan dari jalan yang seharusnya.

Ketiga, bangsa Israel melanggar kekudusan nama Tuhan, dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan dursila (ay. 7b). Tuhan sendiri telah memilih bangsa Israel sebagai bangsa yang dikuduskan dari bangsa-bangsa lainnya. Tetapi seringkali bangsa Israel melanggar kekudusan nama Tuhan. Mereka sering meninggalkan Tuhan dan menyembah dewa-dewa lainnya. Itulah sebabnya akhirnya Tuhan membiarkan kerajaan Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka (2 Raj 17:7-23).

Keempat, bangsa Israel melakukan ibadah di atas ketidakadilan yang terjadi, mereka merebahkan diri di samping mezbah di atas pakaian gadaian orang dan minum anggur dari orang-orang yang kena denda di rumah Allah (ay. 8). Hal ini menunjukkan bagaimana para imam yang seharusnya menyatakan kebenaran Firman Tuhan justru ikut-ikutan arus yang salah. Mereka tidur di samping mezbah dengan alas pakaian orang lain yang digadaikan. Para imam yang seharusnya membela orang-orang miskin justru bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Mereka bersenang-senang dengan minum anggur dari denda-denda yang dipungut dari umatnya. Mereka membuat peraturan-peraturan yang memberatkan orang-orang lain, tetapi mereka justru bersenang-senang atas denda-denda dari peraturan yang mereka tetapkan sendiri. Mereka memutarbalikkan Firman Tuhan untuk kesenangan mereka sendiri, padahal apa yang mereka lakukan sungguh jahat di mata Tuhan.

Ketika kita melihat perbuatan-perbuatan bangsa Israel yang dibenci Tuhan, bukankah kondisi tersebut hampir sama dengan apa yang terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia? Keadilan diputarbalikkan, uang dapat membeli hukum, rakyat sengsara dibiarkan dan justru semakin ditindas, para pemimpin sibuk memikirkan jabatannya, dan seterusnya. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya di negeri ini? Yang pertama, kita perlu berdoa kepada Tuhan, meminta ampun atas segala dosa yang diperbuat oleh bangsa kita dan meminta Tuhan memulihkan bangsa kita (2 Taw 7:14). Kedua, kita sebagai umat Tuhan perlu memiliki sikap yang berani tampil beda dari orang-orang lain. Kita perlu tampil sebagai garam dan terang, yang menyuarakan dan melakukan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan kita (Mat 5:13-16). Minimal dua hal tersebut harus kita lakukan sebagai anak-anak Tuhan di tengah dunia ini. Sudahkah kita melakukan bagian kita?


Bacaan Alkitab: Amos 2:6-8
2:6 Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut;
2:7 mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku;
2:8 mereka merebahkan diri di samping setiap mezbah di atas pakaian gadaian orang, dan minum anggur orang-orang yang kena denda di rumah Allah mereka.

Kamis, 05 Januari 2012

Mengerti Kehendak Tuhan dalam Waktu-waktu yang Sulit


Jumat, 6 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 3:1-11
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pkh 3:11)


Mengerti Kehendak Tuhan dalam Waktu-waktu yang Sulit


Awalnya saya berpikir bahwa Tuhan pasti memiliki rencana yang indah dalam kehidupan orang percaya. Saya berpikir bahwa kalau kita ikut Tuhan pasti hidup kita lancar-lancar saja. Tidak ada masalah, tidak ada persoalan, hidup penuh berkat Tuhan, hidup bahagia, dan seterusnya. Tetapi setelah saya semakin mengerti kebenaran Firman Tuhan, ternyata ketika kita sungguh-sungguh hidup mengiring Tuhan, tidak menjamin masalah akan menghilang dari kehidupan kita, justru saya merasa bahwa semakin kita sungguh-sungguh mengikut Tuhan, semakin banyak masalah yang datang dalam kehidupan kita.

Bacaan Alkitab kita pada hari ini berbicara bahwa untuk segala sesuatu ada masa dan waktunya (ay. 1). Waktu di sini berbicara tentang waktu Tuhan, dimana Tuhan telah menentukan waktu dan masa untuk setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita, mulai dari kelahiran kita hingga nanti ketika kita meninggal dunia (ay. 2a). Ketika saya membaca ayat 2 sampai 8 dari bacaan Alkitab kita hari ini, ternyata saya menemukan bahwa memang ada masa-masa atau waktu-waktu dimana kita akan mengalami hal-hal yang sukar. Pengkhotbah tidak hanya berbicara tentang waktu-waktu yang indah seperti waktu untuk menyembuhkan dan membangun (ay. 3), waktu untuk tertawa dan menari (ay. 4), waktu untuk memeluk (ay. 5), waktu untuk menyimpan (ay. 6), serta waktu untuk mengasihi dan damai (ay. 8). Pengkhotbah juga menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia, Tuhan pun mengizinkan waktu-waktu yang sulit seperti waktu untuk membunuhdan merombak (ay. 3), waktu untuk menangis dan meratap (ay. 4), waktu untuk menahan diri dari memeluk (ay. 5), waktu untuk membiarkan rugi dan membuang (ay. 6), waktu untuk merobek dan berdiam diri (ay. 7), serta waktu untuk membenci dan perang (ay. 8).

Apakah di sini Pengkhotbah mengajarkan bahwa kita sebagai manusia juga harus membunuh, membenci serta berperang? Menurut saya sebenarnya tidak mutlak seperti itu, tetapi Pengkhotbah ingin menekankan bahwa dalam kehidupan manusia, akan ada waktu-waktu yang sulit yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita. Kehidupan kita tidak selalu diisi dengan hari-hari yang menggembirakan, tetapi juga diisi oleh hari-hari yang menyedihkan. Jika kita lihat kehidupan Tuhan Yesus sendiri pun tidak selalu diisi oleh hari-hari yang bahagia, ada kalanya Tuhan Yesus pernah menangis (Yoh 11:35), pernah marah (Mrk 11:15), pernah dikhianati (Yoh 18:5), pernah disangkal (Luk 22:61), dan juga pernah menderita hingga mati di atas kayu salib (Flp 2:8).

Jadi, ketika Tuhan Yesus saja harus mengalami waktu-waktu yang sulit dalam kehidupanNya, kita sebagai anak-anaknya juga tidak mungkin mengalami hidup yang lebih enak dan tanpa masalah. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20a). Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengerti bahwa terkadang (dan bahkan seringkali) Tuhan memberikan masalah kepada kita agar kita mengerti bahwa kita tidak mampu berjalan sendiri dan kita membutuhkan Tuhan senantiasa dalam kehidupan kita.

Jika saat ini kita sedang mengalami masa-masa sulit, ingatlah perkataan pengkhotbah yang mengatakan bahwa “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (ay. 11). Ya, Tuhan pasti akan membuat akhir yang indah dalam segala sesuatu yang kita alami. Sayangnya, seringkali saat menghadapi waktu-waktu yang sulit kita tidak dapat menyelami pekerjaan-pekerjaan Allah. Kita seringkali tidak dapat mengerti apa maksud dan rencana Tuhan dalam masalah-masalah yang kita hadapi. Untuk itulah kita memerlukan sikap yang rendah hati, yang mau dibentuk oleh Tuhan melalui persoalan-persoalan dalam kehidupan kita. Biarlah kita bisa bersikap seperti bejana yang sedang dibentuk oleh tukang periuk, yang mengijinkanNya untuk membentuk kita sesuai dengan kehendakNya, sehingga kehidupan kita nantinya pun akan menjadi bejana yang indah dan berharga di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 3:1-11
3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Menimbang-nimbang Sebelum Menentukan Pilihan


Kamis, 5 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 13:8-13
“Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. -- Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.” (Kej 13:10-11)


Menimbang-nimbang Sebelum Menentukan Pilihan



Beberapa waktu yang lalu ketika saya hendak memotong rambut, saya ingin memendekkan rambut saya hingga hanya satu centimeter. Alasan utama saya memotong pendek rambut saya adalah karena saya ingin praktis, sehingga tidak perlu sering keramas dan tidak perlu menyisir rambut. Saat datang ke tukang pangkas rambut, saya meminta tukang pangkas rambut untuk membuat botak saja. Biasanya sih tukang pangkas rambut itu sudah mengerti bahwa walaupun saya bilang botak, itu berarti rambut saya masih disisakan satu centimeter. Tetapi saat itu, ia salah menangkap maksud saya sehingga rambut saya langsung dihabiskan. Alhasil, kepala saya pun akhirnya mirip dengan kepala Deddy Corbuzier. Mungkin ada di antara kita yang mengalami hal serupa seperti apa yang saya alami seperti salah memilih model rambut pada saat ke salon. Tapi kesalahan dalam menentukan pilihan model rambut biasanya hanya berdampak satu atau paling lama dua bulan saja. Selanjutnya, setelah rambut kita tumbuh kembali, kita pun dapat belajar dari kesalahan kita dan memilih model rambut yang lebih cocok bagi kita.

Hari ini kita akan belajar bagaimana menentukan pilihan yang tepat dengan pertimbangan yang matang. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, diceritakan bagaimana Abram dan Lot yang awalnya bersama-sama berangkat dari Haran (Kej 12:4), akhirnya memperoleh banyak harta dan banyak ternak, sehingga negeri yang mereka diami akhirnya pun tidak cukup bagi mereka berdua (Kej 13:6). Akhirnya Abram pun berinisiatif untuk berpisah dari Lot, bukan karena perselisihan atau pertengkaran, tetapi karena memang tempat yang ada saat ini tidak memungkinkan mereka berdua untuk tetap bersama (ay. 8).

Abram, walaupun posisinya lebih tua dan sebenarnya adalah paman dari Lot (Kej 12:31), tetapi Abram tidak mengambil haknya untuk memilih lebih dulu. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Lot untuk memilih lebih dulu mana tempat yang akan ia tuju. Kalimat yang terkenal dari Abram adalah “jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri”. Hal ini menunjukkan sikap mengalah yang luar biasa dari Abram. Ia tidak mementingkan posisi dan haknya sebagai paman Lot, tetapi Abram justru mengalah dan membiarkan keponakannya tersebut memilih lebih dulu. Abram sadar bahwa andaikata Lot memilih tanah Kanaan dan bukan lembah Yordan sekalipun, Tuhan pasti akan tetap menyertai Abram.

Singkat cerita, Alkitab mengatakan bahwa Lot melihat bahwa lembah Yordan sangat menggiurkan, penuh dengan air (mungkin sungai, danau, atau mata air), yang sangat penting bagi kawanan ternak dengan jumlah yang besar. Alkitab mengatakan  bahwa saat itu (sebelum Sodom dan Gomora dimusnahkan oleh Tuhan), lembah Yordan sangat subur, sehingga sangat menyerupai taman Tuhan atau taman Eden (ay. 10). Oleh karena itu, Lot pun akhirnya memilih lembah Yordan sebagai tempat tinggalnya selanjutnya. Yang menjadi masalah, adalah bahwa ketika akhirnya Lot berpisah dengan Abram dan memilih untuk tinggal di lembah Yordan (ay. 11), ia akhirnya mendirikan kemah dekat kota Sodom (ay. 12).

Apa yang dilakukan Lot sangatlah wajar. Mungkin saya pun jika berada dalam posisi Lot juga akan memilih lembah Yordan sebagai tempat tinggal. Namun demikian Alkitab mengatakan bahwa Lot tidak mempertimbangkan kondisi sebenarnya dari penduduk di kota Sodom dan Gomora. Alkitab mengatakan bahwa penduduk kota Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan (ay. 13). Hal inilah yang kurang dipertimbangkan oleh Lot dalam menentukan pilihan. Lot hanya terfokus pada hal-hal yang terlihat bagus di luarnya. Tanah yang subur, penuh dengan mata air, tanah yang cocok untuk menggembalakan domba, hal-hal itulah yang dilihat Lot di lembah Yordan. Ia melupakan fakta bahwa para penduduk Sodom dan sekitarnya adalah orang-orang yang jahat di mata Tuhan.

Saya merasa di tahun 2012 ini, kita sebagai orang-orang percaya akan dihadapkan pada banyak keputusan-keputusan yang harus diambil. Akan ada banyak momen di mana kita harus menentukan pilihan yang sangat penting bagi kita, entah di dalam pekerjaan, di dalam keluarga, di dalam pelayanan, dan dalam segala hal. Satu hal yang ingin sampaikan adalah agar kita dapat berhati-hati dalam menentukan pilihan. Tidak mudah memang untuk menentukan pilihan, apalagi ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menarik hati kita. Mungkin di tahun 2012 ini ada di antara kita yang berencana untuk mencari pekerjaan baru. Berhati-hatilah dalam mengambil keputusan, karena bisa saja pekerjaan yang baru tersebut menawarkan gaji dan fasilitas yang lebih besar, tetapi ternyata hal tersebut menyita waktu kita dan akibatnya mengurangi kesempatan kita untuk melayani Tuhan. Mungkin saja ada di antara kita yang di tahun ini harus memilih pasangan hidupnya. Saran saya, dalam memilih pasangan hidup, kita pun perlu berhati-hati, tidak terfokus pada kecantikan luar saja, tetapi juga melihat karakter dari calon pasangan hidup kita tersebut. Ingatlah akan Lot, akibat dari ketidakhati-hatiannya dalam menentukan pilihan, ia akhirnya harus kehilangan segala harta bendanya, isterinya pun menjadi tiang garam (Kej 19:26), dan akhirnya tinggal di dalam gua (Kej 19:30). Marilah kita belajar menimbang segala sesuatunya sebelum menentukan pilihan, dan terlebih lagi meminta hikmat dari Tuhan agar kita tidak salah melangkah. “Akuilah Dia (Tuhan) dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Ams 3:6).


Bacaan Alkitab: Kejadian 13:8-13
13:8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.
13:9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."
13:10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. -- Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. --
13:11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.
13:12 Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.
13:13 Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.

Rabu, 04 Januari 2012

Meminta Penyertaan Tuhan


Rabu, 4 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Keluaran 33:15-17
“Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (Kel 33:15)


Meminta Penyertaan Tuhan


Bayangkan kondisi dimana ada seseorang mengajak kita untuk pergi mendaki Gunung Merapi. Ketika kita mengiyakan, ternyata orang itu hanya mengajak kita, tanpa mau mendampingi kita untuk mendaki gunung tersebut. Orang tersebut hanya memberikan arahan kepada kita sebelum kita berangkat, tetapi orang tersebut tidak pernah menjanjikan untuk siap sedia membantu kita ketika kita membutuhkan pertolongan. Jika kita berada dalam posisi tersebut, apakah kita tetap mau berangkat mendaki gunung?

Demikian juga dengan apa yang Musa alami ketika ia harus memimpin bangsa Israel berjalan keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan. Sejak awal Tuhan telah berjanji untuk menyertai Musa memimpin bangsa Israel. Namun di pertengahan jalan, ternyata bangsa Israel berubah setia terhadap Tuhan. Pada saat Musa meminta dua loh batu yang berisi sepuluh perintah Allah di atas gunung Sinai, bangsa Israel justru membuat anak lembu emas dan menyembahnya. Mereka lupa bahwa Tuhan Allahlah yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Bangsa Israel dengan cepat melupakan sepuluh tulah yang Tuhan perbuat bagi orang Mesir, mereka pun dengan cepat melupakan bagaimana Tuhan membelah Laut Merah sehingga mereka dapat berjalan di dasar lautan yang kering, mereka pun lupa akan Manna yang Tuhan berikan setiap hari. Apa yang terjadi selanjutnya, Tuhan pun menjadi marah. Tuhan pun akhirnya menulahi bangsa Israel karena mereka telah membuat anak lembu emas dan menyembah kepadanya (Kel 32:35).

Sebagai pemimpin bangsa Israel, tentunya Musa sangat malu di hadapan Tuhan. Musa tentunya merasa bahwa ia tidak dapat menjadi pemimpin yang baik bagi bangsa Israel di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, walau Tuhan pun berfirman bahwa Tuhan akan tetap meminta Musa untuk tetap memimpin bangsa Israel masuk ke dalam tanah Kanaan, tetapi Musa berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini” (ay. 15). Ini bukanlah merupakan ancaman dari Musa kepada Tuhan, melainkan ini adalah pernyataan Musa yang mengakui bahwa dirinya serta segenap bangsa Israel tidak berdaya jika Tuhan tidak menyertai perjalanan mereka. Musa sadar bahwa tidaklah mudah berjalan keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan tanpa campur tangan Tuhan. Jika saja Tuhan tidak memberikan manna sebagai makanan bangsa Israel, mungkin dalam waktu beberapa hari saja bangsa Israel sudah kelaparan. Itulah sebabnya Musa sangat bergantung kepada Tuhan, bahkan perkataannya dalam kata lain dapat diartikan seperti “Jika Tuhan tidak mau memimpin perjalanan kami, lebih baik kami mati di sini”.

Apa yang Musa katakan juga berlaku dalam kehidupan kita saat ini. Ketika kita akan memasuki tahun 2012 ini, kita sungguh membutuhkan Tuhan. Bagaimanakah kita dapat melewati hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun tanpa penyertaan Tuhan? Kita membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk dapat melewati hari-hari kehidupan kita. Satu-satunya perbedaan antara orang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya dalam kehidupannya adalah adanya Tuhan yang berjalan beserta dengan setiap orang percaya melewati jalan kehidupannya. Kita memiliki Tuhan yang berjalan di sisi kita, yang selalu setia menuntun kita bahkan dalam lembah kekelaman sekalipun. Itulah sebabnya Musa mengatakan bahwa perbedaan bangsa Israel yang Musa pimpin dengan bangsa-bangsa lain adalah karena Tuhan berjalan bersama-sama dengan bangsa Israel (ay. 16).

Tak dapat dipungkiri lagi kita membutuhkan Tuhan untuk menuntun kehidupan kita setiap saat. Mari kita mengakui keterbatasan kita dan memohon pimpinan Tuhan untuk boleh menjalani kehidupan kita di dunia ini. Biarlah kita meminta kasih karunia Tuhan yang memampukan kita untuk terus berjalan mengiring Tuhan, serta meminta anugerah Tuhan untuk semakin memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Mari kita bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet 3:18), sehingga Tuhan pun akan berkata bahwa Ia akan menyertai kita, karena kita telah mendapat kasih karunia di hadapan Tuhan dan Tuhan sendiri telah mengenal kita (ay. 17).


Bacaan Alkitab: Keluaran 33:15-17
33:15 Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.
33:16 Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?"
33:17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau."




Selasa, 03 Januari 2012

Jangan Menjadi Batu Sandungan


Selasa, 3 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Roma 14:13-18
“Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Rm 14:13)


Jangan Menjadi Batu Sandungan


Beberapa hari yang lalu, isteri saya harus masuk rumah sakit karena demam. Usut punya usut, ternyata hal tersebut disebabkan karena ia terlalu banyak minum es. Sebenarnya ia tahu bahwa minum es tidak baik untuk kesehatannya, tetapi karena dalam beberapa kesempatan saat kami sedang makan baik di rumah maupun di luar rumah saya sering kali memesan es juga, sehingga akhirnya isteri saya tergoda juga untuk meminum es. Apa dampaknya? Hanya gara-gara es teh yang seharga dua ribu rupiah saja, isteri saya harus diopname dan menghabiskan biaya lebih dari seribu kali lipatnya.

Seringkali apa yang kita lakukan, walaupun hal tersebut tidak berdampak negatif kepada kita, tetapi sesungguhnya hal tersebut memiliki dampak negatif kepada orang lain yang ada di sekeliling kita. Dalam hal-hal rohani, mungkin saja kita telah memiliki tingkat iman yang dewasa dan tinggi, tetapi belum tentu orang lain memiliki tingkat iman seperti kita. Barangkali masih banyak orang-orang yang belum dewasa secara rohani sehingga apa yang kita lakukan, walau sebenarnya kita yakin bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi hal tersebut dapat menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita yang lemah.

Oleh karena itu Firman Tuhan pada bacaan Alkitab kita hari ini berbicara agar kita tidak membuat saudara kita jatuh atau tersandung (ay. 13). Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus menulis kepada jemaat Roma agar tidak saling menghakimi satu sama lain. Jika definisi menghakimi lebih condong melihat ke apa yang orang lain lakukan, definisi menjadi batu sandungan justru lebih condong melihat ke apa yang kita lakukan dan dampaknya kepada orang lain. Pada saat surat Roma ini ditulis, pada jemaat di kota Roma terjadi perselisihan mengenai makanan apa yang dapat dimakan oleh orang-orang percaya. Kemungkinan besar terdapat beberapa golongan yang mengutarakan pendapat berbeda. Golongan yang satu menyatakan bahwa orang percaya harus makan sayuran saja, golongan lain menyatakan bahwa semua makanan adalah halal (Rm 14:2), sementara golongan lainnya menyatakan bahwa anggur yang memabukkan tidak boleh diminum (Rm 14:21). Di sisi lain juga ada golongan yang menyatakan bahwa semua makanan yang telah dipersembahkan ke dewa-dewa tidak boleh dimakan oleh orang percaya (1 Kor 8:4-13). Semua ini akhirnya menimbulkan kebingungan dan perselisihan di antara orang percaya lainnya.

Apa reaksi Paulus terhadap perselisihan tersebut? Paulus tidak secara tegas menyatakan golongan mana yang benar. Sepertinya Paulus berpendapat bahwa makanan bukan sesuatu yang harus diatur secara ketat dalam doktrin jemaat mula-mula. Paulus berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hal ini mungkin didasari ucapan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa semua makanan adalah halal (Mrk 7:19). Oleh karena sebenarnya bagi orang-orang percaya tidak ada sesuatu larangan pun terhadap apa yang akan kita makan. Walaupun demikian, Paulus menasihatkan agar dalam hal makanan, jangan apa yang kita makan menjadi batu sandungan bagi orang lain (ay. 15).

Saya rasa hal ini pun masih terjadi di zaman sekarang ini, walaupun mungkin bukan dalam bentuk makanan, tetapi dalam banyak hal lainnya masih ada yang sering menjadi batu sandungan. Sebagai contoh, dalam hal berpakaian ketika beribadah di gereja, mungkin saja ada beberapa jemaat yang suka memakai baju yang agak “minim” saat pergi ke gereja. Bahkan suatu waktu di sebuah kota di pulau Jawa, saya pernah melihat suatu gereja dimana terdapat beberapa jemaat gadis yang masih muda menggunakan celana hotpants saat pergi ke gereja pada ibadah minggu. Memang dalam Alkitab tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang menggunakan pakaian dengan warna khusus atau dengan seragam khusus, namun alangkah baiknya jika kita juga menggunakan pakaian yang rapi dan sopan. Saya yakin jika kita pergi ke gereja dan orang di depan kita menggunakan pakaian yang minim, entah itu tanktop atau rok mini pada saat ibadah, sekuat apapun iman kita, tetap saja kita akan cukup terganggu dengan pakaian orang di depan kita tersebut. Saya yakin, selain masalah pakaian, pasti cukup banyak hal yang dapat menjadi batu sandungan dalam kehidupan berjemaat.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertama kita pun harus sadar bahwa hal Kerajaan Allah bukan terletak pada hal-hal duniawi seperti makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya, tetapi justru terletak pada hal-hal rohani yaitu kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (ay. 17). Saat kita memfokuskan diri kepada hal-hal rohani, maka Roh Kudus akan menuntun kehidupan kita sehingga apa yang kita lakukan akan menjadi hal-hal yang berkenan kepada Allah dan juga kepada manusia (ay. 18). Hal tersebut berarti semakin kita memfokuskan diri terhadap apa yang Allah inginkan dalam kehidupan kita, dan bukan kepada hal-hal duniawi dalam pelayanan maupun kehidupan berjemaat kita, maka kita pun tidak akan membuat orang lain tersandung.

Apapun tingkat iman kita saat ini, mari kita sama-sama belajar untuk tidak tersandung dan tidak menjadi batu sandungan. Jika saat ini kita pun masih belum terlalu dewasa dalam iman, mari kita belajar untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang tidak esensial. Mari kita belajar untuk terus bertumbuh dan mengikuti teladan Yesus Kristus tanpa mempermasalahkan hal-hal duniawi. Jika saat ini kita sudah cukup dewasa dalam iman, mari kita pun juga ikut belajar agar kita tidak membuat orang lain tersandung. Kita harus belajar bagaimana agar kehidupan kita sungguh-sungguh menjadi menjadi teladan bagi orang lain, seperti Paulus yang dapat berkata kepada jemaat di Korintus, “Turutilah teladanku!” (1 Kor 4:16).


Bacaan Alkitab: Roma 14:13-18
14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!
14:14 Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.
14:15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.
14:16 Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.
14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
14:18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

Tuhan dapat Membuat Awal yang Kurang Baik Menjadi Akhir yang Baik


Senin, 2 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Matius 2:19-23
“Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.” (Mat 2:23)


Tuhan dapat Membuat Awal yang Kurang Baik Menjadi Akhir yang Baik


Saya melihat ada beberapa tren di antara para orang tua pada masa-masa belakangan ini. Mereka akan memberikan nama-nama yang “modern” dan tidak berbau “ndeso”. Bahkan di daerah desa saat ini sudah muncul nama-nama seperti “Robert”, “Michael”, dan nama-nama yang berbau kebarat-baratan, sedangkan nama-nama seperti “Mulyadi”, “Mulyono” dan sebagainya sepertinya semakin lama semakin ditinggalkan. Padahal nama “Mulyadi” dan “Mulyono” sesungguhnya merupakan harapan orang tua agar anaknya nanti menjadi orang yang “mulia”. Hanya karena gengsi, anak-anak zaman sekarang mulai diberikan nama-nama yang “go international”. Demikian juga dengan tempat kelahirannya, walaupun kedua orangtuanya berasal dari desa atau kota kecil, tetapi mereka mau bersusah payah untuk membawa isteri yang sedang melahirkan itu ke kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, atau bahkan mungkin sekalian ke luar negeri supaya di akta kelahiran anak tersebut, tertulis bahwa anak tersebut dilahirkan di kota Jakarta, Surabaya, Denpasar, atau mungkin di Singapura, London, atau bahkan di New York.

Ada apa di balik tren ini? Untuk masalah nama, saya rasa wajar karena semua orang juga pasti menginginkan anaknya mempunyai nama yang bagus. Tetapi untuk urusan kelahiran di kota-kota besar, jika memang alasan utamanya adalah untuk mencari rumah sakit bersalin yang bagus sehingga anaknya mendapatkan perawatan yang terbaik, menurut saya memang tidak masalah. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik, termasuk pada saat kelahirannya. Tetapi jika orang tua tersebut hanya mendasarkan dirinya pada gengsi semata agar dalam akta kelahirannya, sang anak tercatat lahir di kota besar, saya rasa hal tersebut sudah menyimpang dari tujuan semula. Mungkin saja sang orang tua memiliki uang yang cukup untuk melahirkan di kelas 1 atau VIP pada rumah sakit terbaik di kotanya, tetapi karena ingin agar anaknya lahir di Jakarta, orang tua tersebut rela menghabiskan biaya untuk transportasi ke Jakarta (dengan resiko sang ibu harus menempuh perjalanan jauh), dan ternyata ketika sampai Jakarta, ternyata uang yang mereka siapkan hanya cukup untuk melahirkan di kelas 3 pada rumah sakit di Jakarta (karena biaya melahirkan di Jakarta pasti jauh lebih besar daripada biaya melahirkan di kota asal orang tua tersebut). Saya sendiri berpendapat, walau tempat kelahiran memang penting, tetapi menurut saya jauh lebih penting bagaimana orang tua menyiapkan langkah selanjutnya dari sang anak.

Ketika saya membaca Alkitab, saya melihat Tuhan Yesus saja dilahirkan bukan di Yerusalem (yang merupakan ibukota bangsa Israel pada saat itu), tetapi Tuhan Yesus dilahirkan di Betlehem, yang merupakan kota kecil pada saat itu, bahkan Nabi Mikha mengatakan bahwa Betlehem merupakan yang terkecil daripada kaum-kaum Yehuda (Mi 5:1), tetapi dari Betlehem itulah akhirnya lahir Yesus, Sang Juruselamat Dunia. Allah telah memilih Betlehem yang sebenarnya adalah kota kecil sebagai tempat di mana Yesus akan dilahirkan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri pernah harus mengungsi ke Mesir (Mat 2:14), hingga akhirnya setelah Herodes mati, malaikat Tuhan menampakkan diri ke Yusuf agar membawa Yesus kembali ke tanah Israel (ay. 19-20). Walaupun demikian, Yusuf pun takut kembali ke Yudea karena Arkhelaus telah naik menjadi raja menggantikan Herodes, ayahnya. Sehingga malaikat Tuhan pun kembali menasehati Yusuf melalui mimpi untuk pergi dan tinggal di daerah Galilea, tepatnya di kota Nazaret (ay. 22-23).

Saya cukup heran juga mengapa Allah memilih Yesus untuk lahir di Betlehem, kemudian sempat pergi ke Mesir, dan tinggal di Nazaret sebelum akhirnya Yesus memulai tugas pelayananNya. Nazaret saat itu digambarkan sebagai suatu kota yang “kurang baik”. Hingga Natanael, orang yang dipanggil Yesus pun berkata bahwa “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Yesus sendiri (dan bahkan Tuhan Allah sendiri) tidak mempermasalahkan di mana Yesus lahir, di mana Yesus harus mengungsi, dan di mana Yesus bertambah besar. Sejelek apapun kota tempat tinggal Yesus di Nazaret, yang terpenting adalah bagaimana Yesus mengambil bagian dalam pelayanan setelah Ia menjadi dewasa.

Demikian juga dengan kita. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan kita sebelumnya. Apakah kita berasal dari keluarga yang broken home? Apakah masa lalu kita adalah masa lalu yang sangat kelam dan kita bahkan ingin menghapus masa lalu tersebut dari kehidupan kita? Apapun latar belakang kita, saya sungguh percaya bahwa yang terpenting adalah saat ini kita tetap berjalan dalam Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita.



Bacaan Alkitab: Matius 2:19-23
2:19 Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya:
2:20 "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati."
2:21 Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.
2:22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.
2:23 Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.


Awal yang Baik


Minggu, 1 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 1:1-5
“Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.” (Kej 1:4)


Awal yang Baik


Kita seharusnya bersyukur bahwa hari pertama di tahun 2012 ini jatuh di hari minggu. Ini artinya kita dapat beribadah kepada Tuhan dalam ibadah di Gereja pada hari pertama di tahun ini. Saya sungguh bersyukur bahwa kita dapat mengawali tahun ini dan menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan. Bandingkan dengan apa yang kita lakukan setiap hari sebelum berangkat kerja, kita pasti menyerahkan seluruh hari yang akan kita jalani ke dalam tangan Tuhan, demikian juga pada tahun ini kita bersyukur bahwa di awal tahun, kita dapat menyerahkan seluruh tahun yang akan kita jalani ke dalam tangan Tuhan.

Jika kita melihat bagaimana kisah penciptaan langit dan bumi oleh Tuhan, kita dapat melihat sesuatu yang menarik dalam kisah penciptaan itu. Jika kita memposisikan diri kita sebagai Tuhan, kira-kira apa yang pertama kali kita ciptakan? Bumi, matahari, bintang-bintang, atau alam semesta? Ya sebagian besar di antara kita pasti akan menciptakan benda-benda di atas, tetapi tidak dengan Tuhan. Dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan langit dan bumi (ay. 1), awalnya bumi belum berbentuk dan kosong (ay. 2). Kemudian Allah menciptakan hal yang pertama kali melalui Firman Allah, “Jadilah terang”. Ya, terang adalah hal pertama yang diciptakan oleh Tuhan Allah. Agak aneh memang ketika Allah menciptakan terang, namun sebenarnya benda-benda penerang di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang diciptakan pada hari keempat (Kej 1:16 & 19). Walaupun banyak penafsiran tentang hal ini, tetapi menurut saya hal ini berarti bahwa terang itu adalah terang ilahi yang tercipta jauh sebelum terciptanya matahari, bulan, dan bintang. Artinya adalah bahwa terciptanya terang itu akan menjadi dasar dari segala hal yang akan diciptakan selanjutnya.

Apa yang terjadi setelah penciptaan pada hari pertama? Allah melihat bahwa terang itu baik, sehingga Allah kemudian memisahkan terang itu dari pada kegelapan (ay. 4). Sebenarnya, definisi terang dan gelap itu bukan sesuatu yang saling berlawanan. Kita dapat mengukur besarnya terang, tetapi kita tidak dapat mengukur besarnya gelap. Gelap adalah suatu kondisi dimana tidak ada terang. Alkitab tidak pernah menceritakan bahwa Allah menciptakan kegelapan, tetapi Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan. Allah menciptakan terang agar dunia tidak lagi berada dalam kegelapan, tetapi agar dunia dapat melihat terang dan kegelapan tidak dapat lagi menguasai terang itu (Yoh 1:5).

Ketika Allah selesai menciptakan terang, maka jadilah hari pertama dalam proses penciptaan oleh Allah (ay. 5). Kita dapat melihat bahwa hari-hari penciptaan yang seluruhnya berjumlah 7 hari diawali oleh penciptaan terang pada hari pertama. Proses penciptaan terang ini memakan waktu satu hari penuh, bandingkan dengan penciptaan pada hari keenam di mana Allah menciptakan seluruh binatang dan manusia pada hari keenam (Kej 1:24-27). Itu berarti dalam penciptaan, Allah benar-benar mengawali penciptaan dengan sesuatu yang penting. Terang diciptakan terlebih dahulu sebelum hal-hal lainnya. Dengan diciptakannya terang pada hari pertama, segala sesuatu yang diciptakan kemudian akan tetap berada dalam terang itu sendiri. Apa yang Allah ciptakan pada hari kedua hingga keenam, bukan diciptakan dalam kegelapan, tetapi diciptakan dalam terang.

Jika Allah saja begitu mementingkan awal penciptaan langit dan bumi, bukankah kita sebagai manusian ciptaanNya juga harus mementingkan awal dari kehidupan kita? Memang kita sendiri tidak dapat mengatur bagaimana kita diciptakan, dan bagaimana kita dilahirkan di dunia ini. Tetapi ketika saat ini kita telah menyadari tentang kehidupan kita, bukankah kita seharusnya mengawali kehidupan kita dengan awal yang benar? Setiap hari sebelum kita beraktivitas, sudahkah kita mengawali hari kita dengan baik? Sudahkah kita berdoa kepada Tuhan sebelum kita beraktivitas di hari itu? Demikian juga pada setiap awal minggu, awal bulan, dan juga awal tahun 2012 ini, sudahkah kita mengawalinya dengan awal yang baik? Jika Tuhan saja mengawali hari-hari pelayanannya dengan berdoa kepada Tuhan pada pagi hari (Mrk 1:35), bukankah kita juga seharusnya bersikap seperti itu. Saya sungguh mengucap syukur jika semua di antara kita pada awal tahun tanggal 1 Januari 2012 memulai tahun tersebut dengan beribadah kepada Tuhan, memuji dan memuliakan nama Tuhan serta meminta Tuhan menuntun langkah kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kita akan memiliki hidup yang berkemenangan, dengan tuntunan dari Tuhan dalam kehidupan kita. Kita akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, yang tidak layu daunnya, dan pa saja yang kita perbuat akan berhasil (Mzm 1:3).



Bacaan Alkitab: Kejadian 1:1-5
1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.