Jumat, 13 Januari 2012

Fokus kepada Suara Tuhan, Bukan kepada Suara Orang Lain


Jumat, 13 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Markus 10:46-52
Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"” (Mrk 10:47)


Fokus kepada Suara Tuhan, Bukan kepada Suara Orang Lain


Hari ini saya sedang dihadapkan pada sebuah dilema. Beberapa waktu yang lalu, ayah dari salah satu pimpinan saya meninggal dunia, dan karena mereka masih keturunan keluarga pendeta Hindu di Bali, akan diadakan upacara ngaben (pembakaran jenazah) pada hari Sabtu besok. Awalnya saya memang tidak ada rencana ke sana karena biasanya setiap hari Jumat saya pulang ke kota tempat isteri saya berada. Biasanya saya pun diminta untuk melayani di gereja tempat isteri saya beribadah di kota itu (Biasanya saya melayani sebagai pemusik, namun lebih sering sebagai cadangan saat pemain musik yang sesungguhnya sedang berhalangan). Namun kemarin saya pun baru menyadari bahwa hampir semua teman-teman saya di seksi saya (bahkan di dua seksi yang bersebelahan dengan seksi saya) memutuskan untuk pergi ke Bali. Memang pimpinan saya ini adalah orang yang sangat baik bagi saya, sehingga saya pun berada dalam dilema, apakah saya harus pergi ke Bali atau tidak, lalu bagaimana dengan tanggapan atau reaksi dari orang-orang di ruangan saya, dan terlebih bagaimana reaksi dari pimpinan saya tersebut jika saya adalah satu-satunya orang yang tidak hadir di antara tiga seksi tersebut.

Lama saya merenung dan bertanya kepada Tuhan. Sempat juga saya tergoda untuk pergi ke Bali, bahkan isteri saya pun sudah mengijinkan saya untuk pergi ke Bali. Saya sempat  berpikir, “Ah tidak apa-apa mungkin jika minggu ini saya ke Bali, toh saya juga belum tentu diminta untuk melayani pada minggu ini”. Tetapi ketika saya mencoba berpikir kembali, seakana-akan Tuhan mengingatkan saya untuk tetap pulang ke kota tempat isteri saya berada. Saya merasa seperti ditegor Tuhan, dan saya merasa walau saya masih belum diminta untuk melayani Tuhan di gereja di kota isteri saya berada, tetapi sebagai “pemain cadangan”, saya harus selalu siap sedia. Saya harus lebih mengutamakan pekerjaan Tuhan dan mengutamakan Tuhan itu sendiri di atas apapun. Saya harus lebih memilih untuk menyenangkan hati Tuhan daripada menyenangkan hati teman-teman sekerja saya dan juga menyenangkan hati pimpinan saya. Saat saya merenung, Tuhan mengingatkan saya tentang perikop yang kita baca hari ini.

Dalam ayat 46, dikatakan bahwa Yesus dan murid-muridNya tiba di kota Yerikho, bersama mereka juga ada orang banyak yang mengikutinya. Saat itu ada pengemis buta yang bernama Bartimeus sedang duduk di pinggir jalan. Logikanya, ia tentu senang mendengar ada kerumunan orang datang karena tentunya akan ada lebih banyak orang yang memberi sedekah kepadanya. Namun, ketika ia mendengar bahwa yang datang adalah Yesus, maka ia pun mulai berseru dan meminta kepada Yesus. Apa yang Bartimeus minta? Ia tidak meminta uang kepada Yesus, tetapi ia meminta kasih Tuhan Y esus untuk menyembuhkannya. Alkitab mengatakan bahwa ia berseru-seru dari pinggir jalan, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay. 47). Alkitab kita menggunakan tanda seru untuk menggambarkan bagaimana Bartimeus berseru-seru kepada Tuhan Yesus.

Apa yang terjadi selanjutnya, orang banyak menganggap seruan Bartimeus tersebut sebagai gangguan. Dikatakan bahwa banyak orang menegornya agar ia diam, tetapi justru Bartimeus pun semakin keras berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay. 48). Mengapa ia bisa terus berseru kepada Yesus walaupun banyak orang yang menegornya dan menyuruhnya diam? Menurut saya salah satu kuncinya adalah dengan fokus kepada suara Tuhan Yesus dan bukan suara orang lain. Bartimeus adalah orang buta, sehingga ia tidak dapat melihat Tuhan Yesus, sehingga satu-satunya hal yang ia dapat lakukan adalah berteriak dan berseru hingga Tuhan meresponnya. Jika Bartimeus lebih mendengarkan suara orang lain, barangkali ia tidak akan disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Tetapi karena Bartimeus mengabaikan suara-suara yang mengganggunya, ia pun beroleh kesempatan dari Tuhan. Tuhan Yesus akhirnya memanggil Bartimeus (ay. 49).

Ketika Bartimeus hendak pergi kepada Tuhan Yesus, dikatakan bahwa Bartimeus menanggalkan jubahnya (ay. 50). Menanggalkan jubah di sini dapat berarti Bartimeus menghadap Tuhan Yesus dengan penuh kerendahan hati. Tuhan ingin agar ketika kita datang kepada Tuhan, kita datang dengan penuh kerendahan hati. Ketika Tuhan Yesus bertanya apa yang Bartimeus inginkan, Bartimeus hanya menginginkan agar ia dapat melihat (ay. 51). Apa yang terjadi selanjutnya, Alkitab mengatakan bahwa pada saat itu juga Bartimeus dapat melihat, dan selanjutnya ia mengikuti Yesus dalam perjalananNya (ay. 52).

Apa yang dapat kita pelajari dari Bartimeus adalah bahwa ia fokus terhadap suara Tuhan. Ia tidak menghiraukan perkataan-perkataan orang lain yang mencoba untuk menjatuhkan imannya. Iman Bartimeus tetap teguh walaupun di tengah banyak omongan-omongan yang menyakitkan. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa iman Bartimeuslah yang telah menyembuhkan dan menyelamatkan dirinya (ay. 51a). Bagaimana dengan kita? Saya sendiri pun masih dalam proses belajar untuk dapat mengabaikan suara-suara orang lain dan berfokus kepada Tuhan. Saya sendiri pun masih dalam proses belajar untuk dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan. Saya sendiri pun masih jauh dari sempurna, tetapi saya rindu kita sama-sama belajar untuk bersikap seperti Bartimeus yang lebih mengutamakan suara Tuhan daripada suara manusia, yang memiliki iman yang teguh, dan akhirnya  mengiring Tuhan Yesus senantiasa.


Bacaan Alkitab: Markus 10:46-52
10:46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.
10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
10:49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau."
10:50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.
10:51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!"
10:52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Khusus untuk Murid Tuhan


Kamis, 12 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 12:1-12
Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” (Luk 12:1)


Khusus untuk Murid Tuhan


Selama pelayananNya di dunia ini, Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan tentang kerajaan Allah kepada orang banyak yang mengerumuninya, tapi Ia pun juga memberikan pengajaran khusus kepada murid-muridNya. Alkitab mengatakan bahwa walaupun beribu-ribu orang banyak telah berkerumun dan berdesak-desakan, tetapi Tuhan Yesus mulai memberikan pengajaran bukan kepada orang banyak tersebut, tetapi justru pertama-tama kepada murid-muridNya (ay. 1). Jika Tuhan Yesus sendiri lebih mengutamakan memberi pengajaran kepada murid-muridNya daripada kepada orang banyak tersebut, berarti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus saat itu sangatlah penting. Hari ini kita akan melihat apa saja hal-hal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.

Pertama, Tuhan meminta murid-muridNya waspada terhadap ragi orang Farisi (ay. 1b). Yang dimaksud dengan ragi di sini adalah ajaran-ajaran orang Farisi yang munafik. Di satu sisi mereka mengajarkan tentang hukum Taurat, sementara di sisi lain mereka sendiri tidak melakukan hukum Taurat tersebut (Mat 23:3). Ini berarti Tuhan Yesus tidak ingin kita menjadi seperti orang Farisi yang hanya menjalankan kewajiban agamanya secara lahiriah, tetapi kita harus menjadi pelaku Firman. Kita harus beribadah sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Ibadah maupun pelayanan kita haruslah didasarkan pada motivasi yang benar, yaitu karena kita mengasihi Tuhan karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita.

Kedua, Tuhan meminta murid-muridNya untuk hidup terbuka dan jujur (ay. 2-3). Ini berarti bahwa kehidupan kita harus benar-benar mencerminkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Sebagai terang dunia, kehidupan kita tidak dapat tersembunyi, tetapi kehidupan kita harus memancarkan cahaya kasih Tuhan kepada lingkungan di sekitar kita (Mat 5:14-16).

Ketiga, Tuhan meminta murid-muridNya untuk tidak takut dan kuatir akan ancaman dunia ini (ay. 4-12). Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa ketika kita mengiring Tuhan kehidupan kita akan aman dan tenang-tenang saja. Justru Tuhan mengatakan kepada kita untuk menyangkal diri kita dan  memikul salib ketika kita mengikut Tuhan (Mat 16:24). Ini berarti ada harga yang harus dibayar dalam mengkikut Tuhan. Sepanjang sejarah perjalanan gereja di Indonesia bahkan di dunia, penganiayaan selalu ada dalam periode-periode pertumbuhan gereja. Semakin gereja dianiaya dan ditekan, semakin juga gereja bertumbuh dan berkembang. Justru ketika tidak ada ancaman dan tekanan, di situ pula gereja perlahan-lahan menjadi mati.

Tuhan Yesus mengajak murid-muridNya untuk tidak kuatir menghadapi aniaya tersebut. Tuhan mengatakan agar murid-muridNya tidak takut terhadap ancaman dari manusia (ay. 4), tetapi mereka harus lebih takut kepada Tuhan. Manusia  hanya dapat membunuh tubuh jasmani kita, tetapi Tuhan dapat membunuh tubuh jasmani dan juga memasukkan kita ke dalam penderitaan kekal di neraka (ay. 5). Kehidupan kita sepenuhnya berada di dalam tangan Allah (ay. 6-7), jadi kita pun tidak perlu kuatir.

Menghadapi ancaman sekeras apapun, Tuhan mengingatkan murid-muridNya untuk tidak menyangkal Tuhan. Anugerah Tuhan yang luar biasa adalah bahwa ketika kita mengakui Tuhan Yesus di hadapan orang lain, Tuhan pun akan mengakui kita di hadapan malaikat-malaikatNya (ay. 8). Tetapi orang yang menyangkalNya juga nanti akan disangkal Tuhan ketika ia akan menghadapi penghakiman terakhir (ay. 9). Dalam kondisi seperti apapun, jangan sampai kita menghujat Roh Kudus karena dosa tersebut tidak akan terampuni (ay. 10). Apa yang indah adalah bahwa janji Tuhan bahwa ia akan tetap menyertai kita sekalipun kita harus dihadapkan kepada para penguasa-penguasa dunia ini. Tuhan akan memampukan kita untuk dapat berkata-kata di hadapan mereka (ay. 11-12).

Sungguh suatu pengajaran yang luar biasa indah khusus bagi murid-murid Tuhan Yesus. Ajaran tersebut juga masih relevan hingga saat ini. Kita harus waspada akan ajaran-ajaran yang menyimpang, kita pun perlu tetap menjadi pelaku-pelaku Firman, hidup kita pun harus bercahaya seperti terang, dan kita tidak boleh takut terhadap ancaman-ancaman dan tekanan-tekanan dari manusia. Kita harus tetap berdiri teguh dan tidak menyangkal Tuhan Yesus. Ketika kita mau tunduk dan melakukan apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita, maka Tuhan akan memampukan kita untuk menjalani semuanya itu.


Bacaan Alkitab: Lukas 12:1-12
12:1 Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.
12:2 Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
12:3 Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.
12:4 Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
12:5 Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!
12:6 Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah,
12:7 bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
12:8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.
12:9 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.
12:10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.
12:11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu.
12:12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."

Panggilan Nabi Yeremia


Rabu, 11 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Yeremia 1:4-10
Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (Yer 1:7)


Panggilan Nabi Yeremia


Dalam Alkitab, terdapat beberapa kejadian dimana Tuhan memanggil seseorang untuk menjadi hambaNya. Salah satu yang akan kita pelajari adalah kejadian ketika Tuhan memanggil Yeremia untuk menjadi nabi yang menyuarakan Firman Tuhan. Pada masa dimana Yeremia hidup, Tuhan seringkali menyatakan FirmanNya secara langsung kepada nabi, kemudian nabi tersebut akan menyampaikan Firman tersebut kepada rakyat atau bahkan kepada raja. Pada umumnya, Firman Tuhan pada masa-masa itu adalah Firman yang keras, yang menegur kehidupan bangsa Israel yang menyembah allah-allah lain. Firman Tuhan tersebut juga pada umumnya berisi ancaman hukuman yang akan bangsa Israel terima jika mereka tidak bertobat dari jalan mereka yang jahat.

Apa yang terjadi pada saat Tuhan memanggil Yeremia untuk menyampaikan suara Tuhan, terlihat jelas pada ayat 5. Tuhan berkata bahwa sebelum Yeremia lahir, bahkan sebelum Yeremia dibentuk dalam rahim ibunya, Tuhan telah mengenal dan menguduskan Yeremia untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Menurut saya hal ini berarti bahwa sesungguhnya segala kehidupan kita itu sudah direncanakan Tuhan. Hidup kita itu memiliki suatu tujuan yang Tuhan telah tetapkan bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Kehadiran kita di dunia ini tidak kebetulan, tetapi Tuhan telah merancang kedua orang tua kita untuk bertemu dan kemudian menikah dan melahirkan kita di dunia ini. Tuhan sudah merancang kehidupan kita jauh-jauh hari sebelum kita, bahkan sebelum orang tua kita, berada di dunia ini.

Jika keberadaan kita di dunia ini saja berada dalam rencana Tuhan, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk menolak apa yang Tuhan kehendaki bagi kita. Yeremia awalnya menolak panggilan tersebut dengan alasan bahwa ia tidak pandai berbicara dan masih muda (ay. 6). Suatu alasan yang sangat logis mengingat jabatan sebagai nabi Tuhan bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang nabi pada zaman tersebut menghadapi tekanan lingkungan yang luar biasa berat, bahkan risikonya adalah mati.

Namun demikian, alasan apapun yang diungkapkan oleh Yeremia tidak dapat menggoyahkan hati Tuhan. Tuhan tidak mencari alasan Yeremia, Tuhan hanya ingin Yeremia taat kepada Tuhan, kemanapun Tuhan mengutusnya, Yeremia harus siap pergi, dan apapun yang Tuhan perintahkan kepadanya, harus dilakukan oleh Yeremia (ay. 7). Permasalahannya, apakah Yeremia mau pergi kemanapun Tuhan memerintahkan? Iya kalau Tuhan memerintahkan yang enak-enak, pasti Yeremia tidak akan menolak perintah Tuhan. Tetapi bagaimana jika perintah Tuhan adalah perintan yang  berat, dengan jalan yang berat untuk ditempuh? Belum lagi orang-orang yang memusuhi bahkan mencoba untuk membunuh Yeremia?

Itulah mengapa Tuhan meminta Yeremia untuk tidak takut, karena Tuhan berjanji akan selalu menyertai Yeremia dan melepaskan Yeremia dari orang-orang jahat tersebut (ay. 8). Salah satu penggenapan janji Tuhan tersebut terjadi ketika Tuhan menyelamatkan Yeremia secara ajaib dari dalam perigi (sumur) yang penuh lumpur (Yer 38:1-13). Tuhan benar-benar menepati janjiNya kepada Yeremia untuk menyertai dan melindungi Yeremia.

Sejak saat itu, Tuhan telah menaruh perkataan-perkataanNya ke dalam mulut Yeremia (ay. 9) dan mengangkat Yeremia menjadi nabi atas bangsa-bangsa (ay. 10). Jika kita memperhatikan isi kitab Yeremia, kita akan menemukan bahwa Yeremia tidak hanya menyampaikan Firman Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi ia juga menyampaikan Firman Tuhan kepada bangsa-bangsa lain, termasuk Firman Tuhan dan nubuatan kepada bangsa Babel yang nantinya akan menghancurkan bangsa Israel.

Kita dapat melihat bahwa walaupun Yeremia awalnya menolak, tetapi Yeremia pun akhirnya sadar bahwa Tuhan sendirilah yang telah memilih dirinya untuk menjadi nabi yang menyuarakan kehendak Tuhan. Ketika ia mau taat terhadap panggilan Tuhan, tentunya Tuhan pun akan menyertai Yeremia dan memperlengkapi Yeremia sehingga ia menjadi salah satu nabi besar di sejarah bangsa Israel. Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita menolak panggilan Tuhan? Hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu. Tetapi mari mengingat hal ini, Tuhan tidak pernah salah memanggil seseorang untuk menjadi hambaNya, karena sesungguhnya Tuhan telah mengenal orang tersebut jauh sebelum ia dilahirkan. Panggilan Tuhan tidak pernah salah, justru kitalah yang salah jika kita mengabaikan bahkan menolak panggilan Tuhan dalam kehidupan kita, karena jika demikian, maka sesungguhnya justru kitalah yang menolak kehidupan kita sendiri di dunia ini.


Bacaan Alkitab: Yeremia 1:4-10
1:4 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."
1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."
1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.
1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."
1:9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
1:10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam."

Pentingnya Hikmat dari Tuhan


Selasa, 10 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 2:9-20
Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;” (Ams 2:10)


Pentingnya Hikmat dari Tuhan


Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi orang pintar? Tentu semua dari kita ingin menjadi pintar. Siapa pula di antara kita yang tidak ingin menjadi orang berhikmat? Tentu tidak ada, karena semua orang juga ingin memiliki hikmat. Walaupun mirip, menurut saya kepintaran dan hikmat cukup jauh berbeda. Seseorang bisa saja pintar di kelas, tetapi tidak memiliki hikmat. Pengertian hikmat jauh lebih luas dari sekedar kepintaran, kecerdasan, maupun kecerdikan. Alkitab mengatakan bahwa seseorang yang berhikmat akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik (ay. 9). Selain itu dikatakan juga bahwa orang yang memiliki hikmat di dalam hatinya akan memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, dan kepandaian, untuk menyenangkan, memelihara, dan menjaga kita dalam kehidupan kita (ay. 10-11).

Tentu saja, hikmat yang paling baik adalah hikmat yang berasal dari Tuhan (Ams 2:6), bukan hanya sekedar hikmat yang berasal dari manusia. Dan bagaimana cara kita mendapatkan hikmat dari Tuhan adalah dengan cara takut akan Tuhan (Ams 9:10). Dengan takut akan Tuhan, maka itu akan membentuk sikap hati kita untuk belajar menghormati Tuhan dan menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. Dengan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, otomatis kita akan semakin dibentuk serupa dengan Tuhan. Jika kita sudah semakin serupa dengan Tuhan, tentunya pola pikir dan pandangan kita pun akan menjadi sama dengan Tuhan, dan secara otomatis hikmat Tuhan pun akan turun atas kita. Alkitab mengatakan bahwa ada dua kegunaan hikmat yang berguna bagi orang-orang yang takut akan Tuhan, yaitu:

Pertama, hikmat akan melepaskan kita dari jalan yang jahat dan menyimpang (ay, 12-15). Sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia ini, sangat sedikit orang-orang yang benar-benar tulus hati. Jauh lebih banyak orang-orang yang terlihat baik namun ternyata memiliki maksud terselubung. Mereka mengucapkan tipu muslihat (ay. 12), menempuh jalan yang gelap (ay. 13), melakukan kejahatan (ay. 14), dan memiliki perilaku yang sesat (ay. 15). Mereka ini bagaikan ular berbisa yang siap memagut orang-orang yang tidak hati-hati dalam bertindak. Kita memerlukan hikmat dari Tuhan untuk dapat mengetahui jalan-jalan yang jahat tersebut.

Kedua, hikmat akan melepaskan kita dari tangan perempuan jalang yang menyesatkan (ay. 16-19). Banyak orang-orang (terutama pria) yang jatuh karena wanita. Mereka menyangka bahwa wanita yang mereka kenal adalah wanita yang baik-baik, tetapi ternyata wanita tersebut memiliki maksud lain terhadap orang-orang tersebut. Mereka memiliki lidah yang suka menipu (ay. 16), mereka adalah wanita-wanita yang tidak setia (ay. 17), mereka adalah wanita-wanita yang menyesatkan (ay. 18), dan mereka menjauhkan orang-orang dari jalan kehidupan (ay. 19). Memang saya yakin tidak semua wanita seperti itu, pasti ada juga wanita-wanita yang baik-baik, terlebih dalam komunitas orang percaya. Tetapi percaya atau tidak, banyak sekali pria-pria Kristen yang jatuh dan terjebak dalam tipu daya rayuan wanita-wanita “asing”, yang memiliki motivasi untuk menjauhkan para pria dari jalan kebenaran dan kehidupan kepada jalan kegelapan dan kesesatan.

Dengan melihat bagaimana kondisi dunia ini pada akhir-akhir ini, sungguh kita membutuhkan hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Ketika saya mengaudit salah satu kasus besar di negara ini, saya melihat bagaimana ada orang yang menipu hingga triliunan rupiah dari para nasabah. Lucunya lagi, para nasabah yang tertipu itu bukanlah orang-orang yang berpendidikan rendah. Mereka adalah orang-orang kaya, pada umumnya wiraswasta, yang berpendidikan cukup tinggi, memiliki pengalaman bisnis yang cukup, namun ternyata mereka pun dapat tertipu hingga miliaran bahkan puluhan miliar rupiah karena teriming-imingi tingkat imbal hasil yang tinggi.

Itulah mengapa kita harus membutuhkan hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Ayat 20 menyatakan dua hal yang harus kita lakukan untuk menghindari hal-hal yang jahat yang mengancam kehidupan kita. Pertama, menempuh jalan orang baik. Di sini kita harus dapat memilah dan mengidentifikasi mana-mana saja jalan yang baik dan jalan yang tidak baik. Ketika kita menemukan bahwa apa yang kita lakukan adalah hal-hal yang baik, maka jangan ragu-ragu untuk menjalaninya. Hal yang kedua, kita harus memelihara jalan orang benar. Tidak cukup hanya memilih jalan yang baik, kita pun perlu memiliki sikap untuk memelihara kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Memelihara berarti belajar untuk menambah-nambahkan kebenaran dalam hari demi hari. Kebenaran itu bukanlah hal yang statis, tetapi kebenaran adalah hal yang dinamis. Jika kita setiap hari semakin memelihara kebenaran, maka kita pun akan memiliki hikmat dari Tuhan untuk dapat menghindari hal-hal yang jahat.


Bacaan Alkitab: Amsal 2:9-20
2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
2:10 Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;
2:11 kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau
2:12 supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat,
2:13 dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap;
2:14 yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat,
2:15 yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;
2:16 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya,
2:17 yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya;
2:18 sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah.
2:19 Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan.
2:20 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.




Pentingnya Hikmat dari Tuhan


Selasa, 10 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 2:9-20
Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;” (Ams 2:10)


Pentingnya Hikmat dari Tuhan


Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi orang pintar? Tentu semua dari kita ingin menjadi pintar. Siapa pula di antara kita yang tidak ingin menjadi orang berhikmat? Tentu tidak ada, karena semua orang juga ingin memiliki hikmat. Walaupun mirip, menurut saya kepintaran dan hikmat cukup jauh berbeda. Seseorang bisa saja pintar di kelas, tetapi tidak memiliki hikmat. Pengertian hikmat jauh lebih luas dari sekedar kepintaran, kecerdasan, maupun kecerdikan. Alkitab mengatakan bahwa seseorang yang berhikmat akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik (ay. 9). Selain itu dikatakan juga bahwa orang yang memiliki hikmat di dalam hatinya akan memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, dan kepandaian, untuk menyenangkan, memelihara, dan menjaga kita dalam kehidupan kita (ay. 10-11).

Tentu saja, hikmat yang paling baik adalah hikmat yang berasal dari Tuhan (Ams 2:6), bukan hanya sekedar hikmat yang berasal dari manusia. Dan bagaimana cara kita mendapatkan hikmat dari Tuhan adalah dengan cara takut akan Tuhan (Ams 9:10). Dengan takut akan Tuhan, maka itu akan membentuk sikap hati kita untuk belajar menghormati Tuhan dan menjalin hubungan yang intim dengan Tuhan. Dengan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, otomatis kita akan semakin dibentuk serupa dengan Tuhan. Jika kita sudah semakin serupa dengan Tuhan, tentunya pola pikir dan pandangan kita pun akan menjadi sama dengan Tuhan, dan secara otomatis hikmat Tuhan pun akan turun atas kita. Alkitab mengatakan bahwa ada dua kegunaan hikmat yang berguna bagi orang-orang yang takut akan Tuhan, yaitu:

Pertama, hikmat akan melepaskan kita dari jalan yang jahat dan menyimpang (ay, 12-15). Sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia ini, sangat sedikit orang-orang yang benar-benar tulus hati. Jauh lebih banyak orang-orang yang terlihat baik namun ternyata memiliki maksud terselubung. Mereka mengucapkan tipu muslihat (ay. 12), menempuh jalan yang gelap (ay. 13), melakukan kejahatan (ay. 14), dan memiliki perilaku yang sesat (ay. 15). Mereka ini bagaikan ular berbisa yang siap memagut orang-orang yang tidak hati-hati dalam bertindak. Kita memerlukan hikmat dari Tuhan untuk dapat mengetahui jalan-jalan yang jahat tersebut.

Kedua, hikmat akan melepaskan kita dari tangan perempuan jalang yang menyesatkan (ay. 16-19). Banyak orang-orang (terutama pria) yang jatuh karena wanita. Mereka menyangka bahwa wanita yang mereka kenal adalah wanita yang baik-baik, tetapi ternyata wanita tersebut memiliki maksud lain terhadap orang-orang tersebut. Mereka memiliki lidah yang suka menipu (ay. 16), mereka adalah wanita-wanita yang tidak setia (ay. 17), mereka adalah wanita-wanita yang menyesatkan (ay. 18), dan mereka menjauhkan orang-orang dari jalan kehidupan (ay. 19). Memang saya yakin tidak semua wanita seperti itu, pasti ada juga wanita-wanita yang baik-baik, terlebih dalam komunitas orang percaya. Tetapi percaya atau tidak, banyak sekali pria-pria Kristen yang jatuh dan terjebak dalam tipu daya rayuan wanita-wanita “asing”, yang memiliki motivasi untuk menjauhkan para pria dari jalan kebenaran dan kehidupan kepada jalan kegelapan dan kesesatan.

Dengan melihat bagaimana kondisi dunia ini pada akhir-akhir ini, sungguh kita membutuhkan hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Ketika saya mengaudit salah satu kasus besar di negara ini, saya melihat bagaimana ada orang yang menipu hingga triliunan rupiah dari para nasabah. Lucunya lagi, para nasabah yang tertipu itu bukanlah orang-orang yang berpendidikan rendah. Mereka adalah orang-orang kaya, pada umumnya wiraswasta, yang berpendidikan cukup tinggi, memiliki pengalaman bisnis yang cukup, namun ternyata mereka pun dapat tertipu hingga miliaran bahkan puluhan miliar rupiah karena teriming-imingi tingkat imbal hasil yang tinggi.

Itulah mengapa kita harus membutuhkan hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan kita. Ayat 20 menyatakan dua hal yang harus kita lakukan untuk menghindari hal-hal yang jahat yang mengancam kehidupan kita. Pertama, menempuh jalan orang baik. Di sini kita harus dapat memilah dan mengidentifikasi mana-mana saja jalan yang baik dan jalan yang tidak baik. Ketika kita menemukan bahwa apa yang kita lakukan adalah hal-hal yang baik, maka jangan ragu-ragu untuk menjalaninya. Hal yang kedua, kita harus memelihara jalan orang benar. Tidak cukup hanya memilih jalan yang baik, kita pun perlu memiliki sikap untuk memelihara kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Memelihara berarti belajar untuk menambah-nambahkan kebenaran dalam hari demi hari. Kebenaran itu bukanlah hal yang statis, tetapi kebenaran adalah hal yang dinamis. Jika kita setiap hari semakin memelihara kebenaran, maka kita pun akan memiliki hikmat dari Tuhan untuk dapat menghindari hal-hal yang jahat.


Bacaan Alkitab: Amsal 2:9-20
2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
2:10 Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;
2:11 kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau
2:12 supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat,
2:13 dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap;
2:14 yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat,
2:15 yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;
2:16 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya,
2:17 yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya;
2:18 sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah.
2:19 Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan.
2:20 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.




Rabu, 11 Januari 2012

Firman yang Membumi


Senin, 9 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Ulangan 30:11-14
Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.” (Ulangan 30:11)


Firman yang Membumi


Ketika saya kembali melihat beberapa renungan yang pernah saya tulis, saya menyadari bahwa dari seluruh tulisan-tulisan saya, pada umumnya memiliki ciri yaitu tidak terlalu berat dan tidak terlalu dalam dikupas. Mengapa demikian? Alasan yang pertama adalah bahwa saya sendiri tidak pernah mendapatkan pelajaran teologi yang sesungguhnya. Memang saya pernah membaca beberapa buku teologi, tetapi saya pun tidak pernah berkuliah di sekolah teologi atau mendapatkan bimbingan langsung dari para ahli teologi. Alasan yang kedua adalah karena saya ingin bahwa renungan yang saya buat tersebut benar-benar bersifat sebagai sebuah renungan. Menurut saya, salah satu ciri renungan adalah membuat para pembacanya merenung setelah membaca, menginstropeksi diri sendiri setelah membaca, dan mencari apa yang harus dilakukan setelah membaca. Dalam bahasa sederhana, hal tersebut dapat diartikan sebagai aplikasi Firman Tuhan.

Saya ingin membuat renungan-renungan yang sederhana namun aplikatif, walaupun setelah saya perhatikan memang tidak semua renungan yang saya buat dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, satu hal yang pasti adalah bahwa Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab kita adalah Firman Tuhan yang hidup. Firman tersebut bukan Firman yang terlalu sulit untuk dilakukan (ay. 11). Jika kita baca seluruh isi Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, adakah Firman yang tidak dapat kita lakukan? Perintah Tuhan yang pertama kepada manusia adalah beranak cucu dan bertambah banyak, memenuhi dan menaklukkan bumi (Kej 1:28). Tentunya perintah tersebut tidaklah terlalu sulit untuk dilakukan Adam dan Hawa bukan? Larangan pertama Tuhan kepada manusia adalah larangan untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (Kej 2:17). Jika kita pikir-pikir lagi, apa sih susahnya tidak memakan buah dari satu pohon itu saja? Bukankah pasti ada ribuan pohon lainnya yang berbuah di taman Eden? Dan demikian seterusnya, Hukum Taurat, ajaran Tuhan Yesus bahkan ajaran-ajaran dalam surat-surat Paulus, semuanya pun berbicara tentang hal-hal yang membumi, yang sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah oleh orang-orang yang memang mau melakukannya.

Firman Tuhan yang berisi perintan serta larangan dari Tuhan bukan berada di awang-awang atau di langit sehingga kita tidak dapat mengambilnya (ay. 12), dan juga bukan berada di seberang laut sehingga kita harus berenang susah payah untuk mengambilnya (ay. 13). Ayat 14 mengatakan bahwa Firman tersebut sesungguhnya berada sangat dekat, bahkan berada di mulut dan di hati kita untuk dilakukan.

Menurut saya secara pribadi, pengertian frasa “di mulut” tersebut berarti bahwa Firman Tuhan tersebut juga cukup mudah untuk disampaikan kepada orang lain. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menyampaikan Firman Tuhan tersebut kepada orang lain. Pengertian frasa “di hati” berarti Tuhan telah menaruh Firman tersebut dalam hati setiap orang percaya. Ketika kita melakukan sesuatu dan merasa bahwa hal itu salah, berarti Tuhan sedang mengingatkan kita untuk bertindak sesuai dengan Firman Tuhan. Saya rasa sebagian Firman Tuhan, terutama di Perjanjian Lama, merupakan aturan-aturan yang umum berlaku, bahkan yang juga berlaku di peradaban primitif, seperti perintah untuk tidak membunuh, tidak berbohong, dan tidak berzinah. Semua sudah ada di dalam hati kecil kita masing-masing, bahkan jauh sebelum orang tersebut pernah mendengar Firman Tuhan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertama-tama, marilah kita menjadi pelaku Firman itu sendiri (Yak 1:22). Kita sendiri harus melakukan Firman Tuhan yang telah kita baca atau kita dengar. Percuma jika kita mengaku diri kita beriman kepada Tuhan tetapi kita tidak pernah melakukan Firman Tuhan. Bukankah Firman Tuhan adalah Firman yang membumi? Ketika Tuhan memberi perintah atau larangan, pastilah Tuhan sudah memperhitungkan bahwa manusia akan mampu untuk melakukannya. Selanjutnya, marilah kita membagikan Firman tersebut kepada orang lain. Dengan Firman yang sederhana dan membumi, seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membagikan Firman tersebut kepada orang lain. Sudahkah kita menjadi pelaku dan pembagi Firman hari ini?


Bacaan Alkitab: Ulangan 30:11-14
30:11 "Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.
30:12 Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?
30:13 Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?
30:14 Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.

Merampas dari Dalam Api


Minggu, 8 Januari 2012
Bacaan Alkitab: Yudas 1:20-23
Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api.” (Yud 1:22-23a)


Merampas dari Dalam Api


Jika kita mau jujur, coba kita hitung berapa banyak orang-orang yang kita kasihi namun masih belum percaya kepada Tuhan Yesus. Mungkin di antara mereka adalah teman-teman terdekat kita di kantor, di kampus, tetangga dekat, keluarga, bahkan mungkin ayah atau ibu kita, anak-anak kita, atau malahan pasangan hidup kita. Saya yakin bahwa mereka-mereka adalah orang-orang yang sangat kita kasihi, dan di dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti banyak berinteraksi dengan mereka. Pernahkah kita berpikir, andai suatu saat nanti mereka meninggal dunia dalam keadaan yang belum percaya kepada Kristus, bagaimanakah perasaan kita? Mungkin kita sedih karena mereka telah meninggalkan kita di dunia ini, tetapi seharusnya kita pun jauh lebih sedih karena nantinya mereka yang belum percaya kepada Kristus, akan masuk ke dalam neraka kekal.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? Memang kita yang telah percaya kepada Kristus pun memiliki tanggung jawab untuk membagikan kabar sukacita tersebut kepada orang lain, terlebih kepada orang-orang terdekat kita. Tetapi sebelumnya, kita harus mengecek apakah motivasi di balik tindakan kita tersebut?
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kita harus melakukannya dengan dasar belas kasihan (ay. 22), sama seperti Tuhan Yesus yang dalam Alkitab diceritakan juga memiliki belas kasihan yang luar biasa kepada orang banyak (Mat 9:36, 14:14, dan 15:32). Karena belas kasihan tersebut, Tuhan Yesus walaupun sangat lelah tetap melayani orang banyak tersebut, bahkan memberi mereka makan dengan cara yang penuh mujizat.

Ayat 22 dan 23 dari bacaan Alkitab kita pada hari ini mengatakan bahwa khusus kepada mereka yang masih ragu, kita harus bertindak proaktif. Kita harus memiliki motivasi yang didasarkan pada belas kasihan, namun kita pun harus mampu bertindak cepat, seperti merampas mereka dari api. Apa yang kita lakukan haruslah bertujuan agar mereka pun selamat dari api kekal di neraka nantinya. Tetapi dalam mengabarkan berita keselamatan tersebut, kita pun juga dituntut hidup suci. Kita harus mampu mengatakan bahwa apa yang tidak sesuai dengan Firman Allah adalah dosa. Jangan sampai kita menyampaikan kabar keselamatan namun kita berkompromi dengan dosa, hanya karena ingin agar orang tersebut datang ke gereja kita.

Namun terlebih dahulu, kita pun harus memiliki dasar iman yang kuat sebelum menyampaikan kabar sukacita  tersebut. Kita harus memiliki hidup yang suci dan kudus serta senantiasa berdoa di dalam Roh Kudus (ay. 20). Hal tersebut berarti kita pun perlu memiliki hubungan yang intim dan erat dengan Tuhan dengan cara bersekutu dengan Tuhan setiap hari, membaca FirmanNya dengan rutin, serta memiliki kehidupan doa yang baik. Dengan demikian, dalam mengabarkan kabar keselamatan, kita selalu memiliki motivasi yang benar dan tulus di hadapan Tuhan.

Setiap orang percaya memiliki kewajiban untuk menyampaikan kabar baik tersebut kepada orang lain, termasuk kepada mereka-mereka yang masih belum mengenal Tuhan. Tentunya sebelum menyampaikan kabar baik tersebut, kita pun harus meyakini bahwa kita sendiri telah mengenal Tuhan dan telah yakin memperoleh hidup yang kekal. Rasul Paulus mengingatkan bahwa ia saja harus melatih dan menguasai tubuhnya agar ketika ia memberitakan Injil, jangan sampai ia sendiri ditolak (1 Kor 9:27). Jadi, sudahkah kita merampas dari dalam api orang-orang yang kita kasihi namun masih belum mengenal kasih Kristus?


Bacaan Alkitab: Yudas 1:20-23
1:20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.
1:21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.
1:22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,
1:23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.