Selasa, 07 Februari 2012

Ada Maksud Tuhan ketika Tuhan Melakukan Hal yang Tidak Biasa


Jumat, 10 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Markus 4:35-41
Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang. Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.” (Mrk 4:35-36)


Ada Maksud Tuhan ketika Tuhan Melakukan Hal yang Tidak Biasa


Sejak awal pelayanannya, Tuhan Yesus selalu ingin menyampaikan Injil Kerajaan Allah kepada sebanyak mungkin orang. Oleh karena itu tidaklah heran kalau orang banyak yang datang kepada Yesus untuk mendengarkan kabar baik itu bisa mencapai ribuan orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Bisa dipahami apabila Yesus membuat mujizat memberi makan empat ribu dan lima ribu orang laki-laki, karena memang jumlah orang yang ingin mendengarkan khotbah Yesus mencapai ribuan orang. Oleh karena itu, agak aneh rasanya jika Yesus ingin menghindari orang banyak dalam perjalanannya.

Dalam ayat 35 dikatakan pada waktu hari sudah petang, Yesus mengajak murid-muridNya untuk bertolak ke seberang danau Galilea. Jika memang Yesus ingin menyampaikan kabar baik pada saat itu, tentunya Ia akan memilih memutar melalui jalur darat. Memang jalur darat akan lebih jauh daripada jika menyeberangi danau menggunakan kapal, tetapi di jalur darat, Yesus akan memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk bertemu orang dan mengabarkan Injil melalui desa-desa yang terletak di sepanjang pesisir danau.

Alkitab menceritakan bahwa saat itu Yesus dan murid-muridNya meninggalkan orang banyak dan membawa Yesus ke dalam perahu untuk menyeberang. Dikatakan juga bahwa banyak orang yang mengikut dia dengan menggunakan perahu-perahu lainnya (ay. 36). Walaupun demikian, ternyata dalam perjalanan menyeberang danau Galilea, muncullah angin topan yang dashyat dan memporakporandakan perahu yang ditumpangi Yesus beserta dengan murid-muridNya (ay. 37). Kita harus ingat bahwa sebagian murid Yesus berasal dari nelayan yang biasa mencari ikan di danau Galilea. Tentunya mereka adalah nelayan yang sudah tahu seluk beluk danau Galilea, sehingga agak mengherankan bagaimana murid-murid Yesus yang merupakan eks nelayan tidak dapat mengetahui bahwa angin topan akan datang dan tidak bisa mengatasi angin topan tersebut.

Saat itu, apa yang Tuhan Yesus lakukan? Ia tidur di buritan kapal. Maka ketika murid-murid Yesus tidak dapat mengatasi angin topan tersebut, mereka akhirnya membangunkan Yesus yang sedang tidur tersebut (ay. 38). Setelah dibangunkan murid-muridNya, Yesus pun akhirnya bangun dan berkata kepada danau tersebut, “Diam, tenanglah!”, lalu tiba-tiba angin topan itu reda dan danau menjadi sangat teduh seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya (ay. 39).

Apa yang kita bisa pelajari di sini, adalah bagaimana Tuhan Yesus memiliki kuasa yang demikian besar sehingga Ia mampu meredakan angin topan. Hal tersebut membuat murid-muridNya merasa takut dan berkata, “Bagaimana mungkin angin dan danau bisa taat kepada ucapan Tuhan Yesus?” (ay. 41). Murid-murid Tuhan Yesus lupa bahwa sebelumnya Tuhan Yesus telah mengajarkan tentang iman yang sebesar biji sesawi (Mrk 4:31, bandingkan dengan Mat 17:20). Bahkan Tuhan Yesus pun meluangkan waktu dan mengajar murid-muridNya secara khusus (Mrk 4:34). Jadi apa hubungannya mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di danau tersebut dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus sebelumnya?

Menurut pendapat saya pribadi, apa yang dilakukan Tuhan Yesus di danau Galilea tersebut merupakan ujian yang dilakukan terhadap murid-muridNya. Mengapa murid-muridNya tidak dapat meredakan angin ribut, padahal sebelumnya mereka telah diajar Yesus tentang iman sebesar biji sesawi khusus untuk murid-murid Yesus? Jawabannya adalah karena mereka tidak dapat diam dan tenang di kala angin topan datang. Akibatnya, murid-murid Yesus lupa tentang apa yang telah diajarkan Yesus sebelumnya. Pikiran mereka tidak lagi berisi tentang Firman, tetapi digantikan oleh logika. Sehingga, ketika Yesus berkata, “Diam, tenanglah!” (ay. 39), itu tidak hanya ditujukan kepada angin ribut tetapi juga ditujukan kepada murid-muridNya. Itulah mengapa Yesus berkata kepada murid-muridnya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ay. 40), karena ternyata murid-muridNya begitu takut sehingga segala iman percaya mereka juga hilang karena ketakutan mereka tersebut.

Yesus mengajak murid-muridNya menyeberang danau Galilea dengan maksud tertentu, yaitu untuk menguji iman murid-muridNya. Tuhan pun juga dapat melakukan hal-hal yang tidak lazim dalam kehidupan kita dengan maksud tertentu. Tentunya maksud Tuhan bukanlah maksud yang tidak baik, tetapi segala hal yang dilakukan Tuhan itu memang memiliki maksud untuk menumbuhkan iman kita kepada Tuhan. Mungkin saja kita tidak mengerti mengapa Tuhan mengajak kita menyeberang danau, padahal Tuhan bisa saja membawa kita berjalan menyusuri pinggir danau. Tetapi satu hal yang saya percaya, bahwa semakin Tuhan membawa kita melewati danau yang semakin dalam, maka itu berarti semakin Tuhan menguji iman kita semakin dalam. Jadi, ketika Tuhan sedang melakukan hal-hal yang tidak biasa dalam kehidupan kita, itu berarti ada maksud Tuhan di balik itu semua.



Bacaan Alkitab: Markus 4:35-41
4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."
4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.
4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"
4:39 Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Keluar dari Zona Nyaman


Kamis, 9 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 12:1-6
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” (Kej 12:1)


Keluar dari Zona Nyaman


Saya membayangkan apa yang dirasakan seorang bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Sekitar sembilan bulan lamanya ia menikmati suasana yang hangat dan tenang, gizi yang diserap dari makanan ibunya melalui ari-ari, serta keamanan dan kenyamanan yang dirasakan selama dalam kandungan. Saya berpikir tentunya seorang bayi akan senang berada dalam kandungan ibunya bukan? Tetapi suatu saat nanti, suka atau tidak suka, bayi tersebut harus mau keluar dari zona nyaman di dalam kandungan ibunya. Pada usia kehamilan sembilan bulan, sang bayi harus keluar dan merasakan dunia yang sebenarnya. Seorang bayi hanya dapat bertumbuh dan menjadi dewasa ketika ia keluar dari kandungan ibunya dan lahir ke dunia ini. Jika bayi tersebut tidak mau keluar, maka lambat laun ia akan mati, karena memang sudah kodratnya bagi bayi tersebut untuk lahir setelah sekitar sembilan bulan ada dalam perut ibunya.

Demikian juga dengan apa yang dialami Abram dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Saya yakin bahwa Abram adalah seorang yang berasal dari keluarga yang cukup kaya, walaupun hal ini tidak disebutkan dalam Alkitab. Ia bisa saja tinggal di Haran, dan memulai usaha di sana. Jika kita melihat ke peta Alkitab di bagian belakang Alkitab kita, kita dapat melihat bahwa kota Haran terletak di antara dua sungai besar yaitu sungai Efrat dan sungai Tigris. Daerah tersebut merupakan daerah yang sangat subur dan menjadi pusat peradaban sejarah dunia. Lalu, mengapa Abram harus keluar dari negeri yang subur itu?

Tuhan berfirman kepada Abram untuk pergi dari negerinya, negeri bapanya, dan negeri sanak saudaranya ke negeri yang akan Tuhan tunjukkan (ay. 1). Perhatikan kata “akan” yang disebutkan dalam ayat 1, di sini Tuhan masih belum mengatakan tujuan Abram pergi. Tetapi satu hal yang Tuhan ingin Abram lakukan adalah pergi meninggalkan segala kaum keluarga dan masa lalunya. Tuhan sendiri tidak menjanjikan negeri yang lebih subur atau negeri yang lebih besar daripada kota Haran, tetapi janji-janji Tuhan adalah janji-janji yang jauh melebihi hal tersebut. Tuhan berjanji akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar, Tuhan berjanji akan memberkati Abram, Tuhan berjanji akan membuat nama Abram menjadi mashyur, dan Tuhan berjanji Abram akan menjadi saluran berkat (ay. 2-3). Jika kita perhatikan, tidak ada janji Tuhan akan negeri yang lebih subur daripada kota asal Abram.

Walaupun demikian, Abram taat kepada Tuhan. Ia pergi sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan kepadanya (ay. 4). Apa yang membuat kita lebih kagum lagi adalah usia Abram yang berumur 75 tahun ketika ia meninggalkan Haran. Jika kita baca di ayat-ayat selanjutnya, Abram yang kemudian bernama Abraham meninggal dunia pada usia 175 tahun. Artinya adalah bahwa Abram sudah menjalani hampir setengah usia kehidupannya saat memutuskan untuk pergi dari kota Haran. Saya yakin saat itu Abram pun sudah memiliki tanah dan pekerjaan yang bagus di kota Haran. Tetapi Abram melepaskan itu semua, dan bersama dengan Sara, Lot, segala harta benda dan orang-orang yang diperoleh mereka, akhirnya rombongan Abram pindah ke Kanaan (ay. 5). Saat tiba di Kanaan pun, Tuhan tidak langsung memberikan tanah tersebut kepada Abram. Tuhan tidak membawa Abram ke daerah yang subur namun kosong, sehingga Abram dapat langsung menempatinya. Bukan demikian halnya, tetapi Alkitab mengatakan bahwa pada saat Abram tiba di tanah Kanaan, ternyata sudah ada orang-orang Kanaan yang tinggal dan mendiami  tanah tersebut.

Tuhan membawa Abram keluar dari zona nyamannya di kota Haran dan membawanya melalui perjalanan jauh, melintasi padang gurun dan padang rumput, hingga akhirnya Abram tiba di Kanaan. Setibanya di sana, ternyata tanah tersebut sudah ditinggali oleh orang-orang Kanaan. Apakah ini berarti bahwa rencana Tuhan adalah rencana yang gagal? Jika kita hanya melihat sebatas sudut pandang manusia, mungkin kita dapat berkata bahwa rencana Tuhan itu adalah rencana yang gagal. Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang Tuhan, maka sesungguhnya kita akan mengerti bahwa hal tersebut pun masuk dalam rencana dan rancangan Tuhan.

Jika Abram tidak mau berangkat, mungkin Abram tidak akan disebut “Bapa orang beriman”, dan tidak akan ada bangsa Israel, tidak akan ada raja Daud, dan mungkin juga tidak akan ada Yesus yang lahir melalui keturunan Abram. Tetapi karena Abram taat dan mau tunduk pada rencana Tuhan, akhirnya Tuhan memakai Abram menjadi bagian dari rencana Tuhan yang luar biasa untuk menyelamatkan umat manusia. Bagaimana dengan kita? Adakah di tahun 2012 ini Tuhan sedang menarik kita dari zona nyaman kita? Mungkin kita mengeluh kepada Tuhan, atau mungkin juga kita protes kepada Tuhan karena selama ini kita sedang mengalami hal-hal yang nyaman. Tetapi mari kita belajar seperti Abram, yang tidak mengeluh tetapi hanya tunduk dan taat akan perintah Tuhan, dan Tuhan akan membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. Keluar dari zona nyaman merupakan ujian bagi kita apakah iman kita kepada Tuhan melebihi logika kita, apakah ketaatan kita kepada Tuhan mampu mengalahkan keinginan untuk aman dan nyaman di kondisi kita saat ini. Jika kita telah mampu keluar dari zona nyaman kita, Tuhan pasti tidak akan meninggalkan kita, Ia akan menyertai kita dan memberkati kita selalu.


Bacaan Alkitab: Kejadian 12:1-6
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.
12:6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

Senin, 06 Februari 2012

Cinta dan Benci


Rabu, 8 Februari 2012
Bacaan Alkitab: 2 Samuel 13:11-17
Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya ...” (2 Sam 13:15)


Cinta dan Benci


Dalam kehidupan saat ini, banyak anak muda yang mudah mengatakan cinta kepada orang lain. Sayangnya, apa yang mereka ucapkan kebanyakan bukan berasal dari hati mereka. Banyak anak muda yang mengatakan cinta, tapi sesungguhnya yang mereka maksud bukanlah cinta, melainkan hanya persahabatan, atau justru sebaliknya, yang mereka maksud hanya nafsu belaka. Apa akibatnya? Banyak pasangan muda-mudi yang awalnya jatuh cinta, kemudian ketika akhirnya terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan, akhirnya cinta tersebut berubah menjadi rasa benci. Bahkan, di beberapa kasus, rasa benci yang dialami itu justru menjadi luar biasa besar dibandingkan rasa cinta yang semula ada dalam hati mereka.

Alkitab juga memberi contoh bagaimana rasa cinta itu dapat berubah menjadi rasa benci dalam waktu yang sangat cepat. Dalam kitab 2 Samuel yang kita baca hari ini, dikatakan bahwa Amnon jatuh cinta kepada Tamar, yang tak lain adalah saudaranya sendiri karena mereka berdua adalah anak Daud, walaupun berbeda ibu (2 Sam 13:1). Dengan rencana yang jahat dari Yonadab, sahabat Amnon, akhirnya Amnon berhasil membuat Tamar masuk ke dalam kamar tidurnya, dan akhirnya Amnon berusaha untuk meniduri Tamar (ay. 11).

Apa yang terjadi selanjutnya? Di saat-saat itu Tamar pun masih berusaha untuk menyadarkan Amnon, dan berkata bahwa seandainya saja Amnon mau memiliki dirinya, Tamar menyarankan Amnon agar memintakan hal tersebut kepada Raja Daud, yang merupakan ayah mereka berdua (ay. 12-13). Ucapan Tamar tersebut juga dapat bermakna bahwa Tamar sama sekali tidak keberatan untuk dijadikan isteri oleh Amnon, asalkan dengan cara yang benar. Namun ternyata Amnon sudah tidak dapat lagi mengendalikan nafsunya dan sama sekali tidak mendengar apa yang disarankan Tamar. Karena Amnon jauh lebih kuat daripada Tamar, akhirnya Amnon pun berhasil memperkosa dan meniduri Tamar.

Secara logis, seharusnya Amnon senang dan bahagia karena ia telah berhasil tidur dengan Tamar, seorang wanita yang diidam-idamkannya selama ini. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa setelah itu, timbul kebencian yang luar biasa dalam diri Amnon terhadap Tamar. Bahkan rasa benci itu jauh lebih besar daripada cinta yang sebelumnya ia rasakan (ay. 15). Bahkan, Amnon akhirnya menyuruh Tamar keluar, dan saat Tamar tidak mau keluar, Amnon memerintahkan orang untuk mengeluarkan Tamar dari kamarnya dan menguncinya di luar (ay. 16-17).

Apa yang terjadi pada Amnon sangat mungkin kita alami, terlebih pada orang-orang yang masih muda. Seseorang pernah berkata bahwa jatuh cinta itu adalah hal yang mudah, tetapi membangun cinta adalah hal yang sangat sulit. Cinta bisa datang tiba-tiba, namun jika itu tidak dibangun dengan dasar yang benar, sangat mudah bagi kebencian untuk datang menggantikan cinta itu. Cinta yang dimaksud bukan hanya cinta antara sepasang kekasih, tetapi juga cinta kita kepada Tuhan. Jika cinta atau kasih dari Tuhan adalah cinta dan kasih yang sesungguhnya, seringkali cinta kita kepada Tuhan hanyalah cinta yang semu. Itulah mengapa seseorang yang telah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun juga dapat meninggalkan imannya hanya karena posisi di kantor, atau karena pasangan hidup yang tidak seiman. Cinta harus memiliki dasar yang kuat dan juga dasar yang benar, sehingga cinta itu dapat tahan uji. Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua hari ini merenungkan, apakah kita telah memberikan cinta yang tepat kepada orang-orang yang memang seharusnya kita cintai dan kasihi? Apakah cinta itu sudah kita bangun di atas dasar yang benar? Jika tidak, maka mungkin saja cinta tersebut dapat berubah menjadi benci ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.


Bacaan Alkitab: 2 Samuel 13:11-17
13:11 Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: "Marilah tidur dengan aku, adikku."
13:12 Tetapi gadis itu berkata kepadanya: "Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu.
13:13 Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu."
13:14 Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia.
13:15 Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar pada Amnon terhadap gadis itu, bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. Lalu Amnon berkata kepadanya: "Bangunlah, enyahlah!"
13:16 Lalu berkatalah gadis itu kepadanya: "Tidak kakakku, sebab menyuruh aku pergi adalah lebih jahat dari pada apa yang telah kaulakukan kepadaku tadi." Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan dia.
13:17 Dipanggilnya orang muda yang melayani dia, katanya: "Suruhlah perempuan ini pergi dari padaku dan kuncilah pintu di belakangnya."

Mujizat yang Membawa Pertobatan


Selasa, 7 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 9:32-35
Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.” (Kis 9:35)


Mujizat yang Membawa Pertobatan


Tidak dapat dipungkiri, bahwa mujizat yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan pada zaman gereja mula-mula memegang peranan yang sangat penting terhadap pertobatan orang-orang yang belum percaya. Banyak orang menjadi percaya dengan kuasa Tuhan setelah mereka melihat dengan mata kepala sendiri, atau mengalami sendiri mujizat kesembuhan yang dari Tuhan. Hal ini juga telah terjadi sejak Tuhan Yesus mengabarkan kabar baik dan membuat mujizat dimana-mana. Dari sejak zaman Tuhan Yesus hingga zaman modern saat ini, mujizat pun seharusnya tetap menjadi salah satu metode bagaimana orang yang belum percaya juga dapat menjadi percaya kepada kuasa Tuhan. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita dapat melihat bagaimana seharusnya jemaat dan gereja bertindak agar mereka dapat menjangkau jiwa-jiwa untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan.

Pertama, gereja harus aktif berkeliling untuk mengabarkan kabar baik (ay. 32). Petrus sebagai pemimpin jemaat mula-mula, tidak hanya duduk diam dan mengurus administrasi jemaat. Petrus justru aktif mengabarkan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum percaya. Awalnya Petrus memang hanya mengabarkan Injil di daerah Yerusalem dan sekitarnya, termasuk di Bait Allah, namun kemudian Petrus juga mengabarkan Injil hingga ke daerah Lida, sekitar 30 hingga 40 kilometer sebelah barat Yerusalem.

Kedua, gereja juga harus memiliki perhatian kepada individu-individu yang membutuhkan (ay. 33). Petrus tidak hanya menyampaikan kabar baik kepada kerumunan orang banyak yang ada di rumah-rumah ibadat, tetapi Petrus juga mendatangi Eneas, yang sudah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Tidak disebutkan siapa Eneas ini dan apa latar belakangnya, tetapi kemungkinan besar Eneas adalah salah satu dari orang percaya yang ada di kota Lida. Petrus tidak hanya menyampaikan khotbah di ibadah-ibadah besar, tetapi ia juga memiliki waktu untuk mengunjungi jemaat yang memiliki kebutuhan khusus.

Ketiga, gereja juga harus memiliki tanda-tanda heran dan mujizat dalam pelayanannya (ay. 34). Memang hal ini masih menjadi kontroversi di antara gereja dan juga hamba-hamba Tuhan. Tetapi jika gereja mula-mula adalah gereja yang penuh dengan mujizat, maka seharusnya gereja-gereja di akhir zaman ini haruslah juga gereja yang penuh dengan mujizat. Menurut saya, mujizat ini hanya dapat terjadi di gereja-gereja yang memiliki tim pelayanan/diakonia yang baik. Bagaimana mungkin mujizat dapat terjadi jika jemaat suatu gereja tidak pernah menjenguk orang sakit dan mendoakannya? Tetapi di gereja yang memiliki tim pelayanan yang baik, mereka akan mendatangi jemaat yang sakit dan mendoakan. Dan jika Tuhan berkehendak, maka mujizat pun dapat terjadi ketika jemaat setia mendoakan orang yang sakit.

Dengan tiga hal di atas, seharusnya gereja akan menjadi magnet bagi orang-orang yang belum percaya untuk mencari Tuhan, dan akan banyak jiwa yang bertobat dan berbalik kepada Tuhan (ay. 35). Diakui atau tidak, gereja seperti inilah yang akan berkembang luar biasa dan dapat menjangkau banyak jiwa. Gereja yang hanya diam di tempat dan tidak pernah keluar maka gereja tersebut tidak akan pernah bertumbuh, kalaupun ada pertambahan jemaat itu pun karena ada yang menikah, punya anak, dan lain sebagainya. Bagaimanakah kehidupan berjemaat kita? Sudahkah kita berperan aktif dan mengusahakan agar gereja kita menjadi gereja yang misioner dan penuh dengan mujizat?




Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 9:32-35
9:32 Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida.
9:33 Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh.
9:34 Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu.
9:35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Kamis, 02 Februari 2012

Tidak Ada yang Tahu Kapan Tuhan Yesus Akan Datang Kembali


Senin, 6 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Matius 24:32-36
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mat 24:36)


Tidak Ada yang Tahu Kapan Tuhan Yesus Akan Datang Kembali


Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang asyik menelusuri salah satu forum Indonesia terbesar di Internet, saya menemukan ada seseorang yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan, mengatakan bahwa kiamat akan datang pada tanggal 20 Desember 2012. Memang sudah banyak isu yang menyatakan hal demikian, mulai dari ramalan suku Maya, adanya isu badai matahari, hingga analisa-analisa dan teori-teori modern lainnya. Tetapi apa yang membuat saya tercengang adalah bahwa orang ini (yang berasal dari non agama Kristen), mengatakan bahwa ia mendapatkan hal tersebut dari tubuh manusia. Salah satu yang ia katakan adalah bahwa karena jumlah jari di tangan kiri ada lima, dan di tangan kanan ada lima, maka totalnya adalah sepuluh jari. Dengan demikian, ia menganalisis bahwa kiamat akan datang pada tanggal 20 Desember 2012.

Saya yakin pasti anda yang membaca cerita saya di atas pasti bingung, apa hubungan antara jumlah jari dengan 20 Desember 2012? Orang tersebut dalam tulisannya mengatakan bahwa angka 10 merupakan angka keramat, sehingga kiamat akan jatuh pada tanggal 20 Desember 2012 (20/12/2012), dengan dasar perhitungan seperti ini: 2+0+1+2+2+0+1+2 = 10. Ketika saya membaca penjelasannya, saya pun semakin heran, bagaimana mungkin orang tersebut dapat mengatakan kiamat tanggal 20 Desember 2012 hanya dengan menjumlahkan angka-angka pada tanggal tersebut? Dan ternyata tidak hanya saya, banyak orang juga terheran-heran bahkan cukup banyak yang mencibir analisa dari orang tersebut (kebanyakan yang mencibir justru mereka yang berasal dari non agama Kristen).

Kembali ke Alkitab, Tuhan Yesus sendiri tidak pernah memberitahukan secara pasti kapan kiamat  (atau kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali) akan datang. Tuhan Yesus hanya berkata bahwa kita harus dapat melihat tanda-tanda zaman. Tuhan Yesus memberikan pelajaran dari pohon ara, dimana jika ranting-ranting pohon ara sudah mulai bertunas, maka itulah tandanya musim panas sudah dekat (ay. 32). Demikian juga kita pun hanya bisa melihat tanda-tanda akhir zaman seperti yang tertulis dalam ayat-ayat sebelumnya (Mat 24:3-31). Jika tanda-tanda tersebut sudah mulai terjadi,berarti waktu kedatangan Tuhan juga sudah semakin dekat. Salah satu tanda yang Tuhan Yesus berikan adalah bahwa akan banyak nabi palsu yang muncul yang menyesatkan orang-orang (Mat 24:11). Saya sendiri sempat berpikir, apakah orang dari Sulawesi yang mengatakan kiamat akan datang pada tanggal 20 Desember 2012 itu juga termasuk golongan nabi palsu ya?

Saya merasa bahwa ke depannya, akan semakin banyak orang-orang yang mengaku bahwa kiamat akan datang pada tanggal segini atau segitu. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada juga beberapa hamba Tuhan yang “tergoda” untuk menyampaikan prediksi kapan kiamat akan datang. Masalahnya, Tuhan Yesus sendiri sudah berkata bahwa “tentang hari dan saat itu (kedatangan Tuhan Yesus yang kedua), tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” (ay. 36). Jadi kalau malaikat saja tidak tahu, Tuhan Yesus saja pun tidak tahu kapan Ia akan datang, dan yang tahu hanyalah Allah Bapa sendiri, untuk apa kita mencoba meramal-ramal maupun membuat prediksi kapan Tuhan Yesus akan datang lagi?

Saya memang merasa bahwa tanda-tanda akhir zaman yang disebutkan Tuhan Yesus memang semakin hari semakin jelas saja. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa memang waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali ini semakin dekat. Hanya saja, menurut saya, apa yang harus kita lakukan adalah bukan menebak-nebak kapan Tuhan Yesus akan datang, melainkan menyiapkan diri kita sehingga kita sebagai mempelai perempuan siap menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang merupakan mempelai pria kita. Di satu pihak, kita pun tidak boleh bersikap apatis dan lama-lama menjadi tidak yakin dengan janji kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Ingatlah, bahwa Tuhan Yesus sudah berjanji bahwa Ia akan datang kembali, dan walaupun langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan Tuhan tidak akan pernah berlalu. Firman Tuhan adalah ya dan amin, dan pasti akan digenapi. Sekarang pertanyaannya bukan “Kapan Tuhan Yesus akan datang kembali?”, melainkan “Apakah kita sudah siap ketika Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya?”.


Bacaan Alkitab: Matius 24:32-36
24:32 Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
24:33 Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
24:34 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.
24:35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri."


Tuhan Senantiasa Menolong dalam Masa Kesesakan


Minggu, 5 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 35:1-5
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu."” (Kej 35:1)


Tuhan Senantiasa Menolong dalam Masa Kesesakan


Apa yang dialami Yakub pada bacaan Alkitab kita hari ini sebenarnya merupakan deja vu, alias suatu kejadian yang berulang karena kejadian yang mirip juga pernah terjadi di masa lalu. Perintah Allah kepada Yakub untuk pergi ke Betel dan tinggal di daerah tersebut, mengingatkan Yakub akan peristiwa dimana ia kabur dari rumahnya, meninggalkan Ishak, ayahnya, dan Ribka, ibunya, karena takut Esau, saudaranya, akan membalas dendam akibat Yakub telah merebut hak kesulungannya. Dalam perjalanannya dari tanah Kanaan ke Haran di Mesopotamia, Yakub pun akhirnya bermalam di daerah Betel dan ketika ia tidur, ia bermimpi melihat malaikat Tuhan naik turun di sebuah tangga. Oleh karena itu, Yakub menamai daerah tersebut dengan nama “Betel”, yang artinya “Rumah Allah” (Kej 28:16-19).

Dalam perjalanannya ke Betel yang kedua kali ini, Yakub pun sedang dalam posisi sebagai pelarian, karena ia dan keluarganya menghadapi ancaman dari seluruh penduduk Kanaan, yang disebabkan karena anak-anak Yakub telah membunuh penduduk sebuah kota di daerah Kanaan tersebut. Hal ini mengakibatkan Yakub pun harus terpaksa mengungsi dan akhirnya diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Betel, tinggal di situ, dan membuat mezbah bagi Allah (ay. 1).

Perbedaan antara kejadian pertama dengan yang kedua adalah ketika Yakub datang ke Betel untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki apa-apa saat itu. Ia hanya seorang biasa yang lari ke daerah Haran, tanpa keluarga, tanpa teman, dan pastinya juga tanpa ternak yang banyak. Saat Yakub datang untuk yang kedua kali, ia datang dengan empat orang isteri, dua belas anak laki-laki dan satu anak perempuan, hamba-hamba dan budak-budak, dan tak terhitung ternak dan kekayaan yang dimilikinya semasa ia bekerja kepada Laban. Tentunya Yakub pasti ingat bagaimana Tuhan telah menyertai perjalanan hidupnya dari nol hingga menjadi kaya. Oleh karena itu, Yakub pun menginstruksikan kepada seluruh keluarganya, dan juga hamba dan budaknya agar menjauhkan segala dewa-dewa asing serta mentahirkan diri mereka (ay. 2).

Hal tersebut dilakukan Yakub karena ia sadar betul bahwa Tuhan yang ia sembah memang benar-benar Tuhan yang berkuasa dan tidak ada dewa-dewa lain yang dapat menandingiNya. Yakub mengalami sendiri bahwa Tuhan yang disembahnya memang adalah Tuhan yang luar biasa, Tuhan selalu menjawab Yakub dalam masa-masa kesesakannya, serta Tuhan pun selalu menyertai Yakub pada setiap jalan yang ditempuhnya (ay. 3). Ketika seluruh keluarga dan hamba-hamba Yakub melakukan apa yang Yakub perintahkan, serta mengubur segala dewa-dewa asing yang ada pada mereka, termasuk anting-anting yang mereka kenakan (pada zaman itu, anting-anting yang dipakai dapat diartikan sebagai simbol ketundukan seseorang terhadap suatu dewa) dan menguburkannya di bawah pohon (ay. 4), maka Tuhan bertindak dengan luar biasa. Alkitab mengatakan bahwa kedashyatan Tuhan yang luar biasa meliputi kota-kota di sekeliling mereka dan tidak ada penduduk Kanaan yang mengejar anak-anak Yakub (ay. 5).

Tuhan yang kita sembah juga adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang disembah oleh Yakub. Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu menyertai dalam masa-masa kesesakan dan selalu menyertai kita dalam setiap kehidupan kita. Pertanyaannya adalah apakah ketika kita menyadari bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang luar biasa, kita telah menyiapkan diri kita untuk menghadap Tuhan? Sudahkah kita menyingkirkan hal-hal yang dapat menjadi berhala dalam kehidupan kita? Kita pun perlu menjaga kekudusan kehidupan kita agar kita dapat merasakan penyertaan Tuhan secara luar biasa dalam kehidupan kita. Yakub dan keluarganya sebetulnya merupakan sasaran empuk bagi penduduk Kanaan untuk diserang, tetapi karena Yakub dan keluarganya takut akan Tuhan, maka Tuhan meluputkan mereka dari ancaman penduduk Kanaan. Demikian juga saya percaya, ketika kita mau hidup kudus di hadapan Tuhan, maka Tuhan pun akan meluputkan kita dari hal-hal yang jahat dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ingatlah, bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia, yang senantiasa menolong kita dalam masa kesesakan kita.


Bacaan Alkitab: Kejadian 35:1-5
35:1 Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu."
35:2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu.
35:3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh."
35:4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.
35:5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar.


Permintaan Agur bin Yake kepada Tuhan


Sabtu, 4 Februari 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 30:7-9
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan ...” (Ams 30:8)


Permintaan Agur bin Yake kepada Tuhan


Pernahkah kita berandai-andai ketika kita sedang berjalan-jalan, kemudian kita menemukan lampu wasiat yang ketika kita gosok kemudian muncul jin yang sanggup mengabulkan permintaan kita? Kira-kira jika kita berada dalam kondisi seperti itu, apa yang akan kita minta? Kekayaan? Kekuasaan? Ataukah hal-hal duniawi lainnya? Sekarang bayangkan jika Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk meminta sesuatu kepadanya, apakah yang kita minta?

Jika saya berada dalam posisi seperti itu saya pun masih belum terpikir akan meminta apa kepada Tuhan. Tetapi penulis amsal dalam bacaan Alkitab kita hari ini, yaitu Agur bin Yake, berkata bahwa ia telah meminta dua hal kepada Tuhan. Begitu besar kerinduan Agur bin Yake ini sehingga ia berkata kepada Tuhan agar permintaannya tersebut jangan sampai ditolak Tuhan selama ia masih belum mati (ay. 7). Kedua hal yang diminta Agur bin Yake kepada Tuhan ini adalah:

Pertama, Agur bin Yake meminta Tuhan untuk menjauhkan kecurangan dan kebohongan (ay. 8a). Ayat ini yang ditulis ribuan tahun yang lalu ternyata masih relevan dalam kehidupan manusia di masa-masa sekarang ini. Bukan rahasia lagi bahwa di era modern saat ini, semakin banyak manusia yang hidup penuh kecurangan dan kebohongan. Barangkali kebohongan sangat sering dilakukan manusia dalam melakukan bisnisnya. Barang yang jelek dikatakan sebagai barang bagus, adanya kecurangan dalam melakukan transaksi bisnis, dan lain sebagainya. Sesungguhnya hal inilah yang seharusnya dihindari oleh setiap orang percaya termasuk kita. Kita harus hidup dengan jujur, jika ya maka kita pun harus berkata “ya”, sedangkan jika tidak, kita pun harus dapat berkata “tidak” (Mat 5:37).

Kedua, Agur bin Yake meminta agar Tuhan tidak memberikan kemiskinan atau kekayaan kepadanya (ay. 8b). Ayat inilah yang sedikit mengundang kontoversi. Benarkah kita sebagai orang percaya tidak boleh meminta kekayaan dan juga tidak boleh meminta kemiskinan kepada Tuhan? Lalu apa yang harusnya kita minta kepada Tuhan?

Pendapat saya terhadap ayat 8.b ini adalah melihat latar belakang mengapa Agur bin Yake ini sampai harus menulis seperti itu. Jika kita lihat konteks pada ayat 8.b bagian terakhir, Agur bin Yake meminta Tuhan agar memberikan makanan yang menjadi bagian Agur bin Yake kepadanya. Hal ini berarti Agur bin Yake ingin agar ia mendapatkan rejeki yang memang seharusnya menjadi bagiannya. Ia tidak ingin menjadi kaya dengan cara mengambil rejeki orang lain, atau dengan melakukan hal-hal yang curang dan bohong. Di sisi lain, Agur bin Yake juga tidak mau ia menjadi miskin karena Tuhan tidak memberikan apa yang menjadi haknya. Dengan kata lain, Agur bin Yake tidak menolak kekayaan dan berkat Tuhan, tetapi dalam amsal yang ditulisnya, ia lebih menekankan bahwa lebih baik ia tidak kaya tetapi hidupnya jujur, daripada ia hidup kaya namun hidupnya penuh dengan kecurangan dan kebohongan belaka.

Prinsip Agur bin Yake tersebut juga dapat kita lihat pada ayat 9, yang seharusnya juga dimiliki oleh setiap orang percaya. Ketika kita kenyang, kita tidak menjadi sombong dan menyangkal Tuhan, melainkan kita juga harus bersyukur kepada Tuhan. Segala berkat dan rejeki yang kita terima hingga saat ini, bahkan nafas kehidupan yang Tuhan masih berikan hingga saat ini, itu semua karena kasih karunia Tuhan semata. Di sisi lain, ketika kita miskin, kita tidak menyalahkan Tuhan, apalagi kita mencuri dan mencemarkan nama Tuhan. Kita harus tetap dapat memuliakan nama Tuhan dalam kondisi apapun. Kaya atau miskin, sehat atau sakit, senang atau sedih, muda atau tua, hidup kita seharusnya hanyalah untuk memuliakan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Amsal 30:7-9
30:7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni:
30:8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
30:9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.