Jumat, 06 April 2012

Belajar dari Para Wanita pada Saat Kebangkitan Yesus


Minggu, 8 April 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 24:1-11
“Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” (Luk 24:11)


Belajar dari Para Wanita pada Saat Kebangkitan Yesus


Di masa Tuhan Yesus hidup, kaum wanita tidak memiliki akses untuk maju dan tampil di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu cukup unik jika Alkitab memberi ruang untuk menulis tentang para wanita yang hidup di zaman itu. Lebih unik lagi ketika para wanita tersebut disebutkan dalam kisah Paskah ini, mulai dari wanita yang mengurapi kaki Yesus, wanita-wanita yang menyaksikan kematian Yesus di atas kayu salib, dan wanita yang mendapat kesempatan pertama melihat kebangkitan Yesus seperti  bacaan Alkitab kita pada hari ini. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kisah kebangkitan Yesus yaitu:

Pertama, kita harus bangun pagi untuk mencari Tuhan (ay. 1). Memang Tuhan sendiri pernah berfirman bahwa Ia akan mati namun akan bangkit pada hari yang ketiga, dan saya yakin bahwa para wanita itu juga mendengar apa yang Yesus katakan tentang kematian dan kebangkitanNya. Sehingga menurut saya, apa yang dilakukan oleh para wanita tersebut dengan membawa rempah-rempah untuk merempah-rempahi tubuh Yesus adalah juga kurang tepat. Namun kita dapat melihat bahwa para wanita tersebut pergi ke kubur pada pagi-pagi benar. Tidak seperti murid-murid Yesus yang bersikap lebih pasif, para wanita justru lebih aktif dan mau membayar harga bangun pagi-pagi benar untuk merempahi tubuh Yesus. Hal ini pun patut kita contoh, yaitu bagaimana kita harus bangun pagi untuk mencari Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa ia bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janjiMu (Mzm 119:148).

Kedua, kita harus memiliki sikap takut akan Tuhan dan rendah hati (ay. 5). Ketika para wanita sampai di kubur Yesus, mereka menemukan batu sudah terguling (ay. 2), dan tak mungkin para wanita itu sanggup menggulingkan batu, apalagi kubur Yesus pun telah dimeterai dan dijaga oleh sekumpulan orang (Mat 27:63-66). Sehingga mereka pun semakin terkejut karena tidak menemukan mayat Tuhan Yesus (ay. 3), dan lebih terkejut lagi ketika tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan (ay. 4). Apa yang mereka lakukan, mereka takut dan menundukkan kepala (ay. 5). Ini merupakan gambaran sikap yang Tuhan inginkan yaitu takut dan rendah hati, walau saya yakin bahwa saat itu para wanita lebih cenderung ke rasa takut yang berlebihan, tetapi hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk dapat bersikap takut yang benar kepada Tuhan.

Ketiga, kita harus percaya kepada Firman Tuhan, dan lebih baik lagi jika kita dapat menyimpan Firman tersebut dalam hati dan pikiran kita, serta tidak melupakannya (ay. 6-8). Saat itu, kedua orang tersebut (kemungkinan adalah malaikat Tuhan) mengatakan kebenaran Firman Tuhan bahwa Yesus akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Saya cukup yakin saat itu para wanita (dan juga murid-murid Yesus) sudah lupa akan apa yang pernah diucapkan Tuhan Yesus tentang hal ini. Kita harus menyiapkan hati kita sedemikian rupa sehingga ketika kita mendengar Firman Tuhan, maka Firman tersebut dapat tumbuh subur dan berbuah hingga 100 kali lipat. Jangan sampai masalah dan ketakutan dunia membuat kita menjadi lupa akan Firman Tuhan tersebut.

Keempat, kita harus bersaksi dan menyampaikan Firman kepada orang lain (ay. 9-11). Setelah para wanita menemukan bahwa Yesus telah bangkit, mereka tidak tinggal diam, melainkan kembali ke kota dan menceritakan hal tersebut kepada para murid dan juga semua saudara yang lain, serta para rasul (ay. 9-10), walaupun orang yang mereka sampaikan itu justru menganggap apa yang diucapkan para wanita adalah omong kosong belaka (ay. 11). Demikian juga apa yang harus kita lakukan, yaitu bersaksi (terutama kepada saudara seiman) dan menyampaikan Firman Tuhan kepada orang lain. Kita tidak bisa menyimpan Firman tersebut untuk diri kita sendiri, tetapi kita juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan Firman tersebut kepada orang lain.

Mari di hari kebangkitan Tuhan Yesus ini, kita memiliki sikap seperti para wanita. Bukan masalah perbedaan antara pria atau wanita, tetapi bagaimana kita boleh mencontoh hal-hal baik yang dilakukan oleh para wanita dalam bacaan Alkitab hari ini. Yesus sudah bangkit dari kematian demi menyelamatkan kita. Masihkah kita berdiam diri terhadap kabar sukacita ini? Bukankah sudah seharusnya kita menyampaikan kabar tersebut kepada orang lain?

Bacaan Alkitab: Lukas 24:1-11
24:1 tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
24:2 Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,
24:3 dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
24:4 Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
24:5 Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
24:6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,
24:7 yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga."
24:8 Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.
24:9 Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain.
24:10 Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.
24:11 Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.

Yusuf orang Arimatea


Sabtu, 7 April 2012
Bacaan Alkitab: Matius 27:57-60
“Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.” (Mat 27:57)


Yusuf orang Arimatea


Nama Yusuf orang Arimatea mungkin memang tidak pernah disebutkan dalam Alkitab selain bahwa ia adalah salah satu pihak yang “berjasa” dalam menguburkan Yesus. Namanya pun disebutkan dalam keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Hari ini kita akan melihat mengapa nama Yusuf dari Arimatea sangat penting hingga keempat penulis Injil pun tidak melupakan namanya.

Pertama, Yusuf orang Arimatea adalah seorang yang kaya namun telah menjadi murid Yesus (ay. 57). Ini mungkin menjadi alasan pertama mengapa nama Yusuf orang Arimatea disebut dalam keempat Injil tersebut. Yusuf memang orang kaya, tetapi ia adalah orang kaya yang mau menjadi murid Yesus juga. Ingatkah tentang orang muda yang kaya yang sedih ketika Yesus memintanya untuk menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikan kepada orang miskin? Tidak demikian dengan Yusuf dari Arimatea. Ketika Alkitab mengatakan bahwa ia adalah murid Yesus, pastilah ia juga telah melakukan apa yang Tuhan Yesus ajarkan.

Kedua, Yusuf orang Arimatea adalah seseorang yang sangat berpengaruh (ay. 58). Ia dapat dengan mudah pergi menghadap Pilatus (yang merupakan penguasa daerah Yudea saat itu) dan meminta mayat Yesus. Hebatnya lagi, Pilatus pun dengan segera memerintahkan agar mayat Yesus diserahkan kepada Yusuf dari Arimatea. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena Injil Markus mencatat bahwa Yusuf dari Arimatea tersebut adalah anggota Majelis Besar yang terkemuka (Mrk 15:43). Namun tidak seperti rekan-rekannya, Yusuf dari Arimatea adalah anggota Majelis Besar yang takut akan Tuhan. Ia tidak setuju dengan pendapat dan tindakan dari rekan-rekan seprofesinya (Luk 23:51). Hal ini menunjukkan bahwa Yusuf dari Arimatea bisa tetap memegang prinsip hidupnya walau berada di tengah-tengah lingkungan dan pekerjaan yang memiliki prinsip yang berbeda.

Ketiga, Yusuf mau membayar harga untuk memakamkan Yesus (ay. 59-60). Setelah mendapatkan ijin dari Pilatus, maka Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafani dengan kain lenan yang putih bersih, serta membaringkan dalam kubur yang baru, yang digali di dalam bukit batu. Yusuf dari Arimatea tidak meletakkan mayat Yesus di dalam kubur biasa, bercampur dengan mayat orang lain. Alkitab mengatakan bahwa Yusuf dari Arimatea membaringkan mayat Yesus dalam kuburnya yang baru (ay. 60a). Apa artinya ini? Saya yakin bahwa Yusuf dari Arimatea bukanlah orang yang berprofesi sebagai makelar makam, sehingga bisa dibilang bahwa kubur tersebut sebenarnya merupakan kubur yang awalnya disiapkan bagi dirinya sendiri. Sebagai orang yang kaya, Yusuf dari Arimatea tentu ingin dikuburkan dengan layak di tempat yang khusus. Tetapi apa yang terjadi, kematian Yesus di atas kayu salib mengubah rencana Yusuf dari Arimatea. Kini ia pun harus merelakan makamnya ditempati oleh Yesus. Saya sendiri pernah melihat brosur pemakaman modern dengan sistem hak milik, dimana kita akan bayar sekali seumur hidup dan akan mendapatkan fasilitas selamanya tanpa perlu membayar biaya apapun lagi selanjutnya), dan harga paling murah dari tanah berukuran 2 meter x 1 meter adalah Rp20 juta. Bayangkan harga kubur Yesus, yang masih baru dan terletak di dalam bukit batu. Harga itulah yang dibayar Yusuf untuk memakamkan Yesus, walaupun sebagai murid Tuhan, tentu Yusuf pernah mendengar bahwa Yesus akan mati namun pada hari ketiga akan bangkit kembali.

Di masa Paskah ini, mari kita instropeksi apakah kita telah bersikap seperti Yusuf dari Arimatea? Apakah segala kekayaan, harta benda, dan berkat-berkat Tuhan tidak menjauhkan kita dari Tuhan, melainkan semakin membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan? Apakah kita tetap dapat memegang iman dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari kita, walaupun lingkungan kita melakukan apa yang sebaliknya? Apakah kita sudah membayar harga untuk mengiring Tuhan dan menyenangkan hatiNya? Saya rindu kita semua semakin bertumbuh dan hidup semakin kudus sehingga kita menyenangkan hati Tuhan. Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita melalui pengorbanan, kematian, dan kebangkitan Yesus, sudahkah kita memberikan yang terbaik bagiNya?


Bacaan Alkitab: Matius 27:57-60
27:57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.
27:59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.

Sudah Selesai


Jumat, 6 April 2012
Bacaan Alkitab: Yohanes 19:28-30
“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yoh 19:30)


Sudah Selesai


Ketika kita bekerja, tentunya kita mempunyai target-target tertentu yang harus kita capai. Entah pekerjaan kita merupakan pekerjaan rutin, ataukah pekerjaan kita lebih ke arah project based. Akan ada kondisi dimana kita diminta memenuhi suatu target tertentu yang diberikan atasan kita. Lalu bagaimana misalkan kita telah menyelesaikan pekerjaan kita atau target yang diberikan kepada kita? Ketika kita berkata kepada pimpinan kita “Sudah selesai”, sebenarnya hal tersebut bukanlah suatu penyelesaian yang sebenarnya, karena suka atau tidak suka pasti akan ada pekerjaan, proyek, atau target baru yang diberikan atasan kita di masa yang akan datang.

Tetapi tidak demikian halnya dengan apa yang diucapkan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Tuhan Yesus menyadari bahwa apa yang ia lakukan ini memang merupakan tujuan hidupNya. Ia turun dari tahta sebagai Anak Allah ke dunia ini dan menjadi manusia biasa seperti kita, semuanya dilakukanNya demi menyelesaikan tujuan hidupNya. Hal ini bahkan tetap disadari Tuhan Yesus hingga ia berada di atas kayu salib. Alkitab mengatakan bahwa setelah mengalami penderitaan dan penyaliban yang amat berat, Yesus masih tahu bahwa ia harus menyelesaikan hingga akhir. Saat menjelang akhir pun Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai (ay. 28). Apakah arti dari “selesai” itu? Selesai di sini dapat berarti bahwa apa yang dilakukan Yesus telah menggenapi apa yang tertulis dalam kitab Suci, yaitu menyelesaikan tugasNya sebagai Mesias, Juruselamat dunia.  

Bahkan ucapan Yesus sebelum mengucapkan “Sudah selesai”, yaitu ketika Ia mengatakan “Aku haus”, juga dilakukanNya untuk menggenapi apa yang tertulis dalam kitab suci (ay. 28b), yaitu sebagaimana yang telah tertulis di kitab Mazmur 69:22. Yesus pun akhirnya meminum angggur asam, yang diberikan oleh para prajurit dengan cara mencucukkan bunga karang ke anggur tersebut dan mengunjukkannya ke mulut Yesus (ay. 29). Alkitab pun mengatakan bahwa Yesus meminum anggur asam tersebut (ay. 30).

Barulah setelah ia meminum anggur asam tersebut (yang artinya menggenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci), Yesus berkata “Sudah selesai”. Itulah perkataan terakhir Kristus menurut Injil Yohanes (yang ditulis oleh Yohanes, murid yang sangat dikasihi Yesus). Sesudah Ia mengucapkan kalimat tersebut, maka Tuhan Yesus menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya (ay. 30). Yesus mati bukan karena kehabisan darah atau karena rasa sakit yang amat sangat, tetapi Yesus mati karena Ia menyerahkan nyawaNya kepada Allah. Yesus mati dengan penuh kesadaran, karena tahu bahwa misinya di dunia ini adalah untuk mati di atas kayu salib demi menebus dosa dunia.

Ucapan Yesus yaitu “sudah selesai”, memberikan kepastian kepada kita bahwa dosa kita pun telah diselesaikan oleh Yesus, sepanjang kita mau percaya kepadaNya. Segala permasalahan kita pun juga sudah diselesaikan oleh Yesus, sepanjang kita juga mau berusaha dan berserah kepadaNya. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk berkata kepada diri kita sendiri bahwa “permasalahan yang kita hadapi kok nggak selesai-selesai”, atau “hidup kok kayaknya sulit sekali, nggak ada jalan keluar”. Ingat, bahwa kematian Yesus di kayu salib itu bertujuan untuk menebus kita dari anak-anak yang hidup di bawah perhambaan dosa menjadi anak-anak Allah, dan ketika kita menjadi anak-anak Allah, maka kita mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Jika keselamatan saja diberikan Allah kepada kita, apalagi hal-hal duniawi yang lain, entah itu uang, rejeki, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya, sepanjang kita mencari dulu Kerajaan Allah dan segala kebenarannya, maka hal-hal lain akan ditambahkan ke dalam kehidupan kita (Mat 6:33).


Bacaan Alkitab: Yohanes 19:28-30
19:28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --: "Aku haus!"
19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Rabu, 04 April 2012

Makna Perjamuan Kudus


Kamis, 5 April 2012
Bacaan Alkitab: 1 Kor 11:23-28
“Dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"” (1 Kor 11:24)


Makna Perjamuan Kudus


Sebagai orang percaya, tentu kita semua yang telah percaya kepada Tuhan dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita, pasti telah mengerti tentang perjamuan kudus/perjamuan suci. Berdasarkan penelusuran saya, entah di gereja yang beraliran protestan hingga yang beraliran karismatik, hanya orang-orang yang telah dibaptis (menurut aliran karismatik) atau disidi (menurut aliran protestan) yang boleh ikut dalam perjamuan kudus tersebut. Hal ini tentunya terkait dengan prinsip bahwa hanya orang-orang yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatlah yang telah mengerti prinsip ini, sehingga mereka tidak menerima perjamuan kudus tersebut dengan cara yang tidak layak (ay. 27). Hanya orang-orang yang telah dewasa dan telah menerima Yesus Kristus sajalah yang dapat mengerti apakah dirinya telah layak untuk dapat makan roti dan anggur tersebut (ay. 28). Hal tersebut menunjukkan bahwa perjamuan kudus bukan sekedar seremonial belaka, tetapi ada makna yang agung yang tersirat di dalamnya.

Sayangnya, saya merasa di beberapa gereja ada sedikit penurunan makna dari perjamuan kudus itu sendiri. Kita harus tahu, bahwa pasti ada maksud Tuhan melakukan perjamuan terakhir menjelang Paskah dengan murid-muridNya (Mrk 14:22-25). Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di kota Korintus, juga menyatakan demikian, yaitu perjamuan kudus dilatarbelakangi peristiwa penyerahan Yesus, penderitaan, kematian dan kebangkitanNya (ay. 23). Perjamuan kudus tidak memiliki hubungan dengan kelahiran Yesus, tetapi lebih kepada kematian dan kebangkitanNya. Kita seharusnya melakukan perjamuan kudus sebagai peringatan akan Tuhan Yesus, yaitu peringatan bahwa Ia telah menderita, mati dan bangkit serta naik ke surga bagi kita (ay. 24).

Roti dan anggur yang kita terima pada saat perjamuan kudus itu melambangkan tubuh dan darah Kristus (ay. 25 & 27). Prinsip ini hanya dapat diterima oleh orang-orang yang telah dewasa, dan telah sungguh-sungguh memiliki iman untuk percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dunia. Ketika Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikutNya bahwa Ia adalah Roti hidup yang turun dari surga (Yoh 6:51) dan menyampaikan prinsip perjamuan kudus (Yoh 6:53-55), Alkitab mengatakan bahwa banyak orang, bahkan banyak di antara murid-muridNya yang mengundurkan diri (Yoh 6:66). Oleh karena itu, kita yang telah menerima perjamuan kudus, seharusnya memiliki pandangan yang benar tentang perjamuan kudus, yaitu sebagai peringatan akan kematian Yesus, dan sebagai bentuk memberitakan kematianNya sampai Tuhan Yesus datang kembali (ay. 24b, 25b & 26).

Oleh karena itu, menurut saya, sangat disayangkan jika ketika menerima perjamuan kudus, kita hanya berpikir bahwa setiap kita melakukan perjamuan kudus, maka kita akan semakin diberkati oleh Tuhan, atau bahwa perjamuan kudus itu akan melindungi kita dari segala hal jahat, serta menyembuhkan kita dari segala penyakit. Memang hal-hal tersebut benar adanya, tetapi makna dari perjamuan kudus bukan hanya terkait berkat dan kesembuhan saja, melainkan bagaimana kita dapat menghayati makna dari kematian Kristus di atas kayu salib untuk menebus dan menyelamatkan kita. Ketika kita mengingat pengorbanan Kristus tersebut, tentunya kita harus menyadari bahwa kita semestinya dapat melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Tuhan, yaitu menjauhi segala hal yang mendukakan hati Tuhan.

Perjamuan kudus bukan sekedar roti dan anggur. Perjamuan kudus juga bukan jimat yang bisa menyembuhkan segala penyakit, memberikan rejeki dan menyelesaikan masalah. Perjamuan kudus adalah kesempatan bagi kita untuk dapat merenungkan kasih dan pengorbanan Yesus bagi kita, dan ikut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus sehingga kita pun dapat semakin hidup kudus dan berkenan kepada Tuhan. Ketika kita mengaku bahwa kita telah diselamatkan oleh Yesus, maka kita pun harus hidup sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Di saat-saat menjelang Paskah ini, mari kita kembali lagi menginstropeksi diri kita, sudahkah kita hidup benar di hadapan Tuhan? Biarlah setiap kali kita mengambil bagian dalam perjamuan kudus, kita boleh melakukannya dengan pengertian yang benar, dan bukan karena hanya sekedar ikut-ikutan saja.


Bacaan Alkitab: 1 Kor 11:23-28
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"
11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
11:27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.
11:28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Selasa, 03 April 2012

Kesetian Seorang Hana


Rabu, 4 April 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 2:36-38
Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya.” (Luk 2:36)


Kesetian Seorang Hana


Sejak saya menikah, saya semakin mengerti tentang makna kesetiaan. Setia itu tidak hanya dalam hal tindakan atau perilaku, tetapi juga dalam pikiran dan perasaan.  Saya pun sempat terpikir bagaimana jika salah satu di antara saya atau isteri saya dipanggil Tuhan terlebih dahulu? Apa yang akan saya lakukan? Apa yang akan isteri saya lakukan? Memang sebuah keluarga Kristen dibentuk dengan dasar kesetiaan “sampai maut memisahkan”. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika maut telah memisahkan suami dan isteri tersebut?

Saya sendiri telah berjanji kepada isteri saya, jika ternyata isteri saya dipanggil Tuhan terlebih dahulu, maka saya tidak akan mencari pengganti dirinya. Memang sulit, karena hal itu sebenarnya tidak diatur dalam Alkitab. Akan tetapi mengingat apa yang telah isteri saya lakukan dalam kehidupan saya, maka memang sudah seharusnya saya tetap setia, bukan hanya setia sampai mati, tetapi juga setia setelah mati.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang nabiah (nabi perempuan) yang bernama Hana. Saat Yesus lahir, usia Hana sudah sangat tua, yaitu 84 tahun (ay. 36a & 37a). Alkitab menceritakan sedikit tentang latar belakang Hana. Ia menikah selama tujuh tahun sebelum suaminya dipanggil Tuhan dan ia menjadi seorang janda. Alkitab memang tidak mengatakan apakah setelah ditinggal suaminya kemudian Hana menikah kembali atau tidak. Tetapi melihat sikap Hana yang ketika menjadi nabi, ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah (ay. 37b), maka boleh dikatakan kemungkinan besar (bahkan hampir pasti) kesetiaannya dalam pelayanan juga mencerminkan kesetiaan dalam aspek kehidupan lainnya yaitu untuk tetap menjanda setelah suaminya meninggal.

Hana mengisi waktu jandanya dengan beribadah kepada Tuhan. Ia berpuasa dan berdoa siang dan malam (ay. 37b). Jika diperkirakan usia Hana saat menikah adalah sekitar 25 s.d. 28 tahun, maka ia menjanda sekitar 32 s.d. 35 tahun. Pada saat Yesus lahir, Hana telah menjadi nabi dan melayani di Bait Allah selama sekitar 50 tahun. Ia tidak menyesal dengan kehidupannya sebagai seorang janda, tetapi justru ia memanfaatkan masa jandanya untuk melayani Tuhan dengan sepenuh waktu (full time). Dan sebagai akibat dari kesetiaannya melayani Tuhan, Hana diberikan kesempatan untuk melihat bayi Yesus, yang adalah Anak Allah sendiri yang turun ke dalam dunia. Saya rasa, Hana pasti sangat bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan akan kesempatan yang diterimanya untuk melihat sang Mesias (ay. 38a). Hana pun akhirnya menyampaikan kepada orang-orang bahwa Anak inilah yang nantinya akan membawa kelepasan bagi Yerusalem, Israel, dan bahkan seluruh dunia (ay. 38b).

Bagaimana dengan kita? Sanggupkah kita meneladani apa yang diperbuat Hana? Mungkin masih ada di antara kita yang masih belum menikah, atau masih belum memiliki pacar, atau mungkin ada yang sudah menjadi janda/duda. Saran saya, manfaatkan waktu lajang kita semaksimal mungkin. Ada maksud Tuhan ketika Ia belum memberikan pasangan hidup kepada kita, yaitu agar kita dapat melayani Tuhan dengan waktu yang lebih longgar. Saya sendiri merasakan bahwa masa-masa lajang adalah kesempatan emas untuk melayani di ladang Tuhan. Bukan berarti ketika kita menikah kemudian kita tidak melayani Tuhan lagi, tetapi jika kita telah menikah, maka waktu kita akan tersita oleh keluarga kita, suami atau isteri kita, serta anak-anak kita.

Saya rindu kita semua bisa belajar dari Hana yang tetap setia, bukan saja dalam hal pernikahan, tetapi juga dalam hal pelayanan. Orang-orang seperti Hana inilah yang Tuhan sedang cari di zaman ini, ketika kesetiaan menjadi hal yang mahal dan sulit dicari. Maukah kita belajar untuk hidup setia dalam hal apapun? Karena saya yakin ada upah yang besar atas kesetiaan kita tersebut.


Bacaan Alkitab: Lukas 2:36-38
2:36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Ketika Tuhan Menyembunyikan WajahNya


Selasa, 3 April 2012
Bacaan Alkitab: Yesaya 54:7-8
Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu.” (Yes 54:8)


Ketika Tuhan Menyembunyikan WajahNya


Jika kita ingat-ingat, kapankah kita terakhir kali bertengkar dengan orang lain, entah itu rekan kita di kantor, tetangga kita, orang tua, anak, atau pasangan hidup kita? Apa yang kita lakukan saat itu? Apakah ada di antara kita yang bertengkar sedemikian hebatnya sehingga kita sampai tidak mau melihat muka orang yang bertengkar dengan kita? Atau minimal kita mencoba menghindar untuk bertemu dengan orang itu? Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi kita untuk akhirnya memaafkan atau berbaikan dengan orang tersebut? Satu hari, dua hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau mungkin sampai sekarang kita masih belum mau berbaikan dengan orang tersebut?

Pernahkah kita berpikir, jika ketika bertengkar dengan manusia saja kita bisa begitu benci dengan seseorang, apa yang Tuhan rasakan ketika sedang “bertengkar” dengan kita, manusia yang diciptakanNya? Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan untuk menyembahNya, tetapi justru banyak manusia yang tidak percaya kepadaNya, dan banyak juga manusia yang terus menerus berbuat dosa dan semakin jauh dari Tuhan. Itulah mungkin yang dirasakan Tuhan ketika bangsa yang dipilihNya (bangsa Israel) justru jatuh ke dalam penyembahan berhala. Bangsa Israel yang diselamatkan dari Mesir dan diberikan tanah perjanjian, justru berbalik dari segala perintah Tuhan yang diberikan kepada mereka.

Akibatnya Tuhan pun tidak menyayangkan bangsa Israel untuk dibuang dan ditawan ke Babel. Ibaratnya, untuk sesaat lamanya Tuhan meninggalkan bangsa Israel (ay. 7b). Tuhan meninggalkan bangsa Israel bukan karena Tuhan tidak sayang lagi kepada bangsa Israel, tetapi karena bangsa Israel sudah sangat kelewatan “berzinah” dengan menyembah dewa-dewa dan berhala-berhala lainnya. Oleh karena itu Tuhan pun sangat murka kepada bangsa Israel, sehingga Ia pun memalingkan mukanya dari mereka (ay. 8a).

Tetapi apa yang menarik di sini adalah penggunaan frasa “sesaat lamanya”. Berbeda dengan manusia yang bisa marah dan benci berlarut-larut, Tuhan hanya “meninggalkan” dan “memalingkan wajahNya” sebentar saja. Tuhan tidak tahan untuk berlama-lama menghukum manusia. Kasih Tuhan kepada manusia begitu besar hingga Tuhan pun segera kembali kepada manusia dan menunjukkan wajahNya kepada manusia (ay. 7b & 8b).

Tuhan begitu mengasihi manusia hingga Tuhan akhirnya mengaruniakan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk datang ke dunia, mati di kayu salib dan menebus dosa manusia. Tuhan begitu sayang kepada manusia sehingga satu-satunya alasan Ia menghukum manusia adalah karena dosa-dosa manusia. Bahkan dengan dosa-dosa yang begitu besar sekalipun, Tuhan tidak memalingkan wajahNya secara terus menerus. Ia begitu mengasihi sehingga jika manusia mengaku dosa, maka Tuhan pun akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Hari-hari ini kita sedang memasuk masa Pra Paskah. Paskah adalah bukti nyata kasih Tuhan kepada manusia melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Pernahkah kita merenung, apakah selama ini kita sudah membuat Tuhan memalingkan wajahNya dari kita? Apa saja yang membuat Tuhan memalingkan wajahNya walau hanya sesaat saja? Bukankah segala dosa dan pelanggaran kita yang membuat kita jauh dari Tuhan? Kita semua, termasuk saya, adalah manusia yang sangat rentan berbuat dosa dan pelanggaran di hadapan Tuhan. Saya rindu kita semua, pada momen Pra Paskah ini, mulai mengambil komitmen untuk hidup semakin benar dan kudus di hadapan Tuhan. Maukah kita semakin menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan apa yang Tuhan inginkan? Jangan sampai Tuhan memalingkan wajahNya dari kita sebagai akibat dari segala dosa dan pelanggaran yang kita lakukan. Ketika Tuhan memalingkan wajahNya dari kita, kepada siapa lagi kita mencari berkat dan perlindungan, selain dari Tuhan?


Bacaan Alkitab: Yesaya 54:7-8
54:7 Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali.
54:8 Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu.


Minggu, 01 April 2012

Bahaya Membanggakan dan Memegahkan Diri


Senin, 2 April 2012
Bacaan Alkitab: 2 Raja-Raja 20:12-19
Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka segenap gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya. Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada mereka di istananya dan di seluruh daerah kekuasaannya.” (2 Raj 20:13)


Bahaya Membanggakan dan Memegahkan Diri


Ada kecenderungan manusia saat sekarang ini selalu suka membanggakan dan memamerkan apa yang dimilikinya. Hal ini terutama terlihat sejak maraknya jejaring sosial dan akses internet yang jauh lebih mudah dan murah dari sebelumnya. Lihat saja di status Facebook, Twitter, atau Blackberry Messenger (BBM), ita akan dapat dengan mudah melihat seseorang membuat status “Naik mobil baru ah”, “Lagi makan di Restoran X”, “Ketemu dengan artis A”, atau “Lagi mau belanja tas merk Z”. Sadar atau tidak sadar, ada unsur ingin menonjolkan diri kita sendiri dalam status-status jejaring sosial tersebut.

Hal yang sama terjadi sekitar tiga ribu tahun yang lalu, pada zaman raja-raja Israel dan Yehuda. Saat itu, Hizkia, raja Yehuda sakit keras dan hampir mati, namun disembuhkan secara ajaib oleh Tuhan (2 Raj 20:1-11). Sama seperti saat ini, tentunya jika seorang pemimpin negara mengalami musibah (entah sakit atau meninggal dunia), pasti ada perhatian dari negara-negara tetangga entah mengirimkan surat, bunga, atau mengutus pejabat dari negara tersebut untuk menjenguk atau melayat (jika meninggal dunia). Demikian juga, raja Babel saat itu menyuruh orang untuk membawa surat dan pemberian kepada Hizkia karena telah mendengar kabar sakit raja Hizkia (ay. 1).

Seharusnya apa yang dilakukan raja Babel tersebut cukup ditanggapi secara netral oleh raja Hizkia. Namun Alkitab mengatakan bahwa raja Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka (ay. 13a). Kemungkinan ini disebabkan karena kerajaan Babel merupakan kerajaan yang paling berkuasa saat itu sehingga Hizkia sangat senang mendapatkan perhatian (yang belum tentu diterima raja-raja lainnya) dari raja Babel tersebut. Saking senangnya, Hizkia menyambut mereka dan menunjukkan semua harta bendanya, emas, perak, dan lain-lain, tidak ada yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada utusan raja Babel tersebut (ay. 13b).

Oleh karena itu nabi Yesaya datang kepada raja Hizkia dan menanyakan apa yang telah dilakukannya. Perhatikan jawaban Hizkia di ayat 14 yaitu "Mereka datang dari negeri yang jauh, dari Babel!". Penggunaan tanda seru menunjukkan penekanan raja Hizkia tentang kata “Babel”. Mungkin waktu itu segala sesuatu yang berhubungan dengan Babel menjadi kebanggaan bagi seseorang, sehingga raja Hizkia tidak berkeberatan melakukan segala sesuatu kepada orang-orang Babel, termasuk menunjukkan semua yang ada di istananya (ay. 15).

Tuhan tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh raja Hizkia. Tuhan menegur Hizkia karena ia telah memamerkan apa yang ia miliki kepada bangsa Babel. Jika kita mencoba merenungkan lebih dalam, Tuhan menegur Hizkia karena saat itu Hizkia justru jauh lebih bersukacita ketika ada perhatian khusus dari raja Babel (raja yang sangat dihormati pada saat itu), daripada bersukacita karena ia telah disembuhkan oleh Tuhan (dimana Tuhan seharusnya lebih dihormati daripada raja Babel). Bukankah Hizkia seharusnya lebih bersukacita karena ia telah disembuhkan, dan bahkan karena ia telah melihat tanda berupa mundurnya bayang-bayang sejauh sepuluh tapak yang dilakukan Tuhan?  Tetapi jika kita baca ayat-ayat sebelumnya, kita tidak akan menemukan raja Hizkia bersukacita karena apa yang dilakukan Tuhan, berbeda dengan ketika ia menerima utusan raja Babel tersebut, dimana Alkitab mengatakan bahwa ia bersukacita.

Oleh karena itu, melalui perantaraan nabi Yesaya, Tuhan menunjukkan konsekuensi dari perbuatannya, yaitu nanti bangsa Babel akan datang untuk mengangkut segala yang ada di istana dan tidak akan meninggalkan apapun. Bahkan orang-orang Yehuda akan diangkut ke Babel (ay. 16-18). Hal ini merupakan konsekuensi dari apa yang dilakukan oleh raja Hizkia yang telah menunjukkan kekayaannya kepada orang-orang Babel  tersebut. Memang Hizkia akhirnya menyesal telah melakukan hal tersebut, walaupun jika kita lihat bahwa penyesalan itu bukanlah penyesalan yang sungguh-sungguh (ay. 19).

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membanggakan diri, membanggakan koneksi kita, membanggakan apa yang kita miliki dan juga agar kita dapat menahan diri kita untuk tidak “sok pamer” kepada orang lain. Kita tidak boleh memegahkan diri kita secara berlebihan. Apa yang kita miliki hingga saat ini merupakan anugerah Tuhan semata. Jika kita harus bermegah, kita pun harus bermegah karena Tuhan (1 Kor 1:31). Sudahkah kita melakukan prinsip ini? Bukan berarti kita tidak boleh membuat status di jejaring sosial kita, tetapi alangkah baiknya jika status-status yang kita buat di jejaring sosial kita tersebut kita gunakan untuk memuliakan nama Tuhan.


Bacaan Alkitab: 2 Raja-Raja 20:12-19
20:12 Pada waktu itu Merodakh-Baladan bin Baladan, raja Babel, menyuruh orang membawa surat dan pemberian kepada Hizkia, sebab telah didengarnya bahwa Hizkia sakit tadinya.
20:13 Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka segenap gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya. Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada mereka di istananya dan di seluruh daerah kekuasaannya.
20:14 Kemudian datanglah nabi Yesaya kepada raja Hizkia dan bertanya kepadanya: "Apakah yang telah dikatakan orang-orang ini? Dan dari manakah mereka datang?" Jawab Hizkia: "Mereka datang dari negeri yang jauh, dari Babel!"
20:15 Lalu tanyanya lagi: "Apakah yang telah dilihat mereka di istanamu?" Jawab Hizkia: "Semua yang ada di istanaku telah mereka lihat. Tidak ada barang yang tidak kuperlihatkan kepada mereka di perbendaharaanku."
20:16 Lalu Yesaya berkata kepada Hizkia: "Dengarkanlah firman TUHAN!
20:17 Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN.
20:18 Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel."
20:19 Hizkia menjawab kepada Yesaya: "Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!" Tetapi pikirnya: "Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!"