Sabtu, 05 Mei 2012

Jangan Bertele-tele


Selasa, 1 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Matius 6:7-8
Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Mat 6:7)


Jangan Bertele-tele


Pernahkah kita menghadiri suatu acara dimana acara tersebut begitu protokoler? Bagaimana perasaan kita apabila dalam suatu acara, ada banyak orang yang menyampaikan sambutan, dan masing-masing orang tersebut menyampaikan kata sambutan yang bertele-tele, panjang, berputar-putar tidak jelas, dan sangat lama? Tentu kita merasa bosan bukan? Saya yakin bahwa sebagian besar dari kita pasti tidak terlalu suka dengan hal-hal sepert itu. Nah, pernahkah kita berpikir, bagaimana perasaan Tuhan ketika kita berdoa kepada Tuhan dengan cara yang sama seperti itu?

Saya rasa, harus dibedakan antara berdoa dengan waktu yang lama dan berdoa yang bertele-tele. Kadang-kadang, karena kondisi kita yang sangat membutuhkan jawaban Tuhan, kita berdoa dengan waktu yang cukup lama. Saat berdoa di taman Getsemani, Tuhan Yesus sendiri pernah berkata kepada Petrus yang mendampinginya di sana, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Mat 26:40). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dengan menghabiskan waktu satu jam atau bahkan lebih untuk berdoa dan berbicara dengan Tuhan ketika kita memang membutuhkannya. Tetapi apa yang Tuhan Yesus sampaikan dalam perikop yang kita baca hari ini adalah jangan kita berdoa dengan bertele-tele (ay. 7a). Apa yang dimaksud Tuhan Yesus?

Tuhan tidak ingin kita berdoa dengan bertele-tele, dengan doa yang panjang tapi tidak ada intinya. Pada zaman Tuhan Yesus hidup, saat itu banyak orang menyangka bahwa dengan doa yang bertele-tele, dengan doa yang diulang-ulang, doa mereka akan didengar Tuhan. Itulah mengapa  di banyak agama lain di luar Kristen, sering ditemukan banyak agama lain yang mengajarkan bahwa doa harus diulang-ulang hingga tiga kali, tujuh kali, sembilan kali, bahkan mungkin 40 kali. Mereka berpikir bahwa semakin sering diulang, maka doa tersebut akan semakin manjur. Mereka berpikir bahwa doa yang disebut 40 kali atau bahkan 100 kali akan lebih didengar Tuhan daripada doa yang hanya diucapkan satu atau dua kali saja (ay. 7b).

Memang Tuhan sendiri ingin agar kita berdoa secara militan, yaitu dengan cara berdoa dengan tidak jemu-jemu, yaitu berdoa hingga sesuatu terjadi, atau istilah yang lebih familiar dalam bahasa Inggris adalah Pray Until Something Happens (PUSH). Hal ini pun dapat terlihat dalam Lukas 18:1-8, yang menggambarkan bagaimana Tuhan akan menjawab orang-orang yang siang malam berdoa kepadaNya. Akan tetapi, sekali lagi saya tegaskan, ada perbedaan antara niat doa yang hanya diulang-ulang dan doa yang tidak jemu-jemu. Berdoa dengan tidak jemu-jemu berarti kita berdoa dengan terus menerus kepada Tuhan yang kita kenal, untuk menjawab kita yang sedang berada dalam kesesakan. Sementara doa yang bertele-tele berarti kita hanya mengucapkan kata-kata doa kita tanpa kita mengenal Tuhan, karena doa yang kita ucapkan itu hanya hafalan saja. 

Itulah mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa sebetulnya Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan, bahkan sebelum kita meminta kepada Tuhan melalui doa (ay. 8). Tetapi hal tersebut juga bukan berarti kita tidak perlu berdoa, karena berdoa itu pada intinya adalah menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Tuhan. Jika keinginan kita sudah selaras dengan keinginan Tuhan, maka saya katakan tidak akan ada alasan bagi Tuhan untuk tidak menjawab doa kita. Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan tepat setelah ayat-ayat bacaan Alkitab kita hari ini, merupakan contoh yang baik dari doa yang tidak bertele-tele, terlebih inti dari doa tersebut adalah “Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga” (ay. 10). Tetapi satu hal yang perlu kita waspadai adalah jangan sampai kita pun menjadikan doa Bapa Kami menjadi doa yang harus diulang-ulang agar doa kita dijawab. Doa Bapa Kami memang salah satu contoh doa yang sangat bagus, terlebih karena diajarkan Tuhan Yesus sendiri, tetapi itu bukan menjadi alasan untuk mengulang-ulang doa Bapa Kami hingga 40 kali atau 100 kali sehari. Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang-orang yang disindir Tuhan berdoa dengan bertele-tele?


Bacaan Alkitab: Matius 6:7-13
6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Ketika Yosua Akan Menggantikan Musa


Senin, 30 April 2012
Bacaan Alkitab: Ulangan 31:1-8
Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya."” (Ul 31:7)


Ketika Yosua Akan Menggantikan Musa


Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Musa adalah salah satu nabi terpenting dalam sejarah bangsa Israel. Musa adalah orang yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir untuk menuju ke tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan. Walaupun demikian, karena Musa telah melanggar perintah Tuhan, yaitu ketika Tuhan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada bukit batu agar keluar air dari batu tersebut, akan tetapi Musa justru memukul bukit batu tersebut dengan tongkatnya, maka Musa tidak diizinkan Tuhan untuk masuk ke dalam tanah perjanjian tersebut (Bil 20:7-12). Walaupun demikian, Musa juga tidak menjadi patah hati dan meninggalkan tanggung jawabnya untuk memimpin bangsa Israel. Dalam usianya yang sudah 120 tahun, Musa pun menyampaikan salah satu perkataan terakhirnya kepada seluruh orang Israel (ay. 1). Apa yang disampaikan Musa ini sangat penting karena Musa tahu bahwa ia sendiri sudah tidak kuat seperti dahulu dan ia pun sudah tahu bahwa Tuhan tidak mengizinkan dirinya mauk ke dalam tanah Kanaan (ay. 2). Perkataan Musa tersebut antara lain yaitu:

Pertama, Musa mengingatkan Tuhan bahwa Allah yang menuntun mereka hingga saat ini (ay. 3a). Bangsa Israel dapat keluar dari Mesir bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena Tuhan yang berinisiatif dan berkehendak. Mereka pun dapat berjalan di padang gurun tanpa kekurangan suatu apapun karena penyertaan Tuhan yang luar biasa, mulai dari pemberian manna setiap hari hingga mujizat-mujizat dan pertolongan Tuhan lainnya yang dapat kita baca di kitab Keluaran hingga Ulangan ini.

Kedua, Musa menyampaikan bahwa penggantinya adalah Yosua (ay. 3b). Hal ini penting untuk menunjukkan kejelasan siapa yang memegang otoritas atas bangsa Israel. Musa tidak mau bangsa Israel terpecah selepas ia mati, sehingga dalam kesempatan ini Musa menyatakan dengan jelas bahwa Yosua akan memimpin bangsa Israel menyeberang sungai Yordan untuk masuk ke dalam tanah Kanaan.

Ketiga, Musa menyampaikan bahwa Tuhan akan menyertai bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan dan mengalahkan bangsa-bangsa yang diam di sana (ay. 4-5). Bangsa Israel sudah mengalahkan bangsa Amalek dan orang Amori dalam perjalanan mereka menuju tanah Kanaan, dan pada kesempatan ini, Musa menyampaikan janji Tuhan bahwa Tuhan akan juga membuat bangsa Israel mampu merebut tanah Kanaan tersebut dari bangsa-bangsa yang lebih kuat dari mereka.

Keempat, Musa menyampaikan agar bangsa Israel tidak takut dan gentar namun menguatkan dan meneguhkan hati (ay. 6-8). Dalam ketiga ayat tersebut, Musa berkali-kali mengingatkan agar bangsa Israel dan Yosua sebagai orang yang akan menggantikan Musa untuk memimpin bangsa Israel tersebut agar tidak takut dan gentar, serta menguatkan dan meneguhkan hati mereka. Sebenarnya ini adalah Firman Tuhan sendiri yang nantinya juga akan disampaikan Tuhan kepada Yosua (Yos 1:1-9). Mengapa kita tidak boleh takut dan justru malah harus bersikap kuat dan teguh hati? Karena kita memiliki Tuhan yang berkuasa, yang ada di sebelah kita. Ia akan memberikan kemenangan demi kemenangan ketika kita mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Berapa kali kita merasa takut ketika kita akan menghadapi kondisi yang baru? Mungkin ketika kita harus berhenti dari pekerjaan kita, atau ketika kita memilih untuk sungguh-sungguh melayani Tuhan secara full time, dan lain sebagainya. Yosua dan bangsa Israel pun mengalami hal yang sama ketika Musa akan meninggalkan mereka dan tidak memimpin mereka lagi. Tetapi melalui Firman Tuhan hari ini, saya berharap kita semua akan dikuatkan dan diteguhkan dalam melangkah, bukan karena kekuatan kita sendiri, tetapi karena Tuhan yang menyertai dan memampukan kita semua untuk berjalan bersamaNya.


Bacaan Alkitab: Ulangan 31:1-8
31:1 Kemudian pergilah Musa, lalu mengatakan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel.
31:2 Berkatalah ia kepada mereka: "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi, dan TUHAN telah berfirman kepadaku: Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi.
31:3 TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.
31:4 Dan TUHAN akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya itu, dan terhadap negeri mereka.
31:5 TUHAN akan menyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu.
31:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."
31:7 Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya.
31:8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."

Mengenal dan Percaya


Minggu, 29 April 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 9:10-11
Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.” (Mzm 9:11)


Mengenal dan Percaya


Pepatah mengatakan bahwa “Tak kenal maka tak sayang”. Memang ada benarnya, bagaimana mungkin kita bisa menyayangi seseorang jika kita saja tidak mengenal orang tersebut. Hal yang sama berlaku juga tentang hubungan antara kita dengan Tuhan. Bagaimana kita dapat mengasihi Tuhan jika kita tidak mengenal Tuhan? Lebih lagi, bagaimana kita bisa percaya kepada Tuhan ketika kita belum mengenal Tuhan?

Pernahkah kita merenung sejenak apakah selama ini kita telah mengenal Tuhan dengan pengenalan yang benar? Apakah selama ini kita mengaku telah mengenal Tuhan hanya karena kita dilahirkan dalam keluarga yang sudah Kristen? Atau kita mengaku telah mengenal Tuhan karena selama ini kita rutin pergi ke gereja setiap hari Minggu? Mengenal Tuhan bukan hanya ditunjukkan dengan status agama di KTP kita yang adalah “Kristen”, mengenal Tuhan bukan juga hanya ditunjukkan dengan kehadiran kita di gereja setiap hari minggu. Mengenal Tuhan secara pribadi memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekedar hal-hal tersebut.

Alkitab mengatakan bahwa orang yang mengenal Tuhan, yaitu orang yang mengenal nama Tuhan akan percaya kepadaNya (ay. 11a). Hanya orang-orang yang telah memiliki pengenalan yang benar kepada Tuhan akan percaya kepadaNya. Orang-orang yang masih “kanak-kanak” dalam mengenal Tuhan, tentunya tidak akan dapat percaya 100% kepada Tuhan. Mereka hanya akan percaya ketika mereka melewati jalan-jalan yang mudah, tetapi ketika mereka mulai melewati masalah demi masalah, orang-orang seperti ini akan berguguran dan kehilangan kepercayaan mereka kepada Tuhan.

Daud adalah salah satu orang yang memiliki iman yang luar biasa kepada Tuhan. Ia benar-benar mengandalkan Tuhan dalam kehidupannya, sejak kecil hingga akhirnya menjadi raja bangsa Israel. Oleh karena itu dalam perikop ini, Daud menggubah mazmur yang menunjukkan perlindungan Tuhan terhadap orang-orang saleh. Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak dan mengalami kesesakan (ay. 10). Daud juga mengatakan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang mencari Tuhan (ay. 11b). Hal ini tentu saja timbul karena Daud memiliki pengenalan yang dalam dan intim dengan Tuhan, sehingga walaupun Daud mengalami banyak persoalan dalam hidupnya, antara lain dikejar-kejar oleh raja Saul, hingga harus melarikan diri dari istana, namun Daud tetap tahu dan percaya bahwa Tuhan akan selalu menjadi tempat perlindungan baginya.

Bagaimana dengan kita, seberapa dalam kita mengenal Tuhan? Salah satu tanda apakah kita memang telah mengenal Tuhan adalah melihat apakah kita sudah menuruti perintah-perintah Tuhan dalam kehidupan kita (1 Yoh 2:3). Jika kita sudah mengenal Tuhan, maka kita akan percaya kepadaNya, dan ketika kita sudah percaya kepadaNya dengan sungguh-sungguh, maka kondisi apapun yang kita alami tidak akan menggoyahkan iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan, sehingga kita akan berkata kepada Tuhan “Engkau adalah tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai” (Mzm 91:2).


Bacaan Alkitab: Mazmur 9:10-11
9:10 Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan.
9:11 Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.

Kamis, 03 Mei 2012

Ketika Tuhan Mengaudit Hidup Kita


Sabtu, 28 April 2012
Bacaan Alkitab: Roma 12:1-2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rm 12:2)


Ketika Tuhan Mengaudit Hidup Kita


Saya sendiri bukan seorang yang ahli dalam hal audit, tetapi sejak saya lulus dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, saya sudah didaulat menjadi internal auditor dan hingga saat ini saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil di sebuah badan yang bergerak di bidang audit. Secara singkat dapat saya katakan bahwa audit itu sebenarnya adalah membandingkan kenyataan (kondisi di lapangan) dengan standar (kriteria yang ada). Jika kondisi sudah sesuai dengan kriteria maka dapat dikatakan bahwa hal tersebut adalah wajar, tetapi jika masih terdapat hal-hal yang menyimpang dari standar atau kriteria yang ada, maka hal tersebut adalah tidak wajar. Dalam audit atas laporan keuangan, ada empat tingkatan predikat audit yaitu “Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)”, “Wajar Dengan Pengecualian (WDP)”, “Tidak Wajar”, dan “Tidak Menyatakan/Memberikan Pendapat”.

Ternyata, saya sebagai auditor juga merasa diaudit oleh Tuhan. Bukan mengada-ada, tetapi memang kita semua pun sedang diaudit oleh Tuhan. Apa dasarnya? Jika boleh saya katakan, Tuhan memiliki standar yang jelas bagi kehidupan kita, yaitu Firman Tuhan. Tentu saja, Tuhan ingin agar kehidupan kita pun bisa sesuai dengan Firman Tuhan. Permasalahannya, apakah saat ini kita sudah sadar bahwa kehidupan kita pun harus sesuai dengan Firman Tuhan? Sesuai yang bagaimana yang dimaksud dalam Alkitab?

Bacaan Alkitab kita hari ini berkata tentang bagaimana kita harus hidup di hadapan Tuhan. Firman Tuhan tersebut berbicara tentang bagaimana kita mempersembahkan kehidupan kita bagi Tuhan. Sudahkah kita memberi hidup kita kepadaNya, yang telah memberikan kehidupan itu kepada kita? Kriteria kita mempersembahkan hidup kita adalah sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan (ay. 1). Itulah ibadah yang sejati bagi Tuhan.

Terkait dengan standar ibadah sejati yang sudah ditetapkan Tuhan di ayat 1 tersebut, kita harus bisa tampil beda dan berubah, menuju ke arah yang lebih baik lagi. Kita tidak dapat menjadi serupa atau sama dengan dunia ini, tetapi kehidupan kita harus semakin hari menjadi semakin baik lagi (ay. 2a). Seperti tingkatan audit yang biasa dilakukan oleh manusia, Tuhan pun memiliki tiga tingkatan audit bagi kehidupan kita (ay. 2b), yaitu:

Pertama, tingkat “Baik”. Baik di sini berarti tidak buruk atau tidak jelek. Ketika kita percaya kepada Tuhan, itu baik. Ketika kita berdoa kepada Tuhan, itu baik. Ketika kita datang ke gereja untuk beribadah, itu baik. Tetapi tidak hanya cukup sampai di tingkat baik saja, hidup kita pun harus kita bawa ke tingkatan selanjutnya.

Kedua, tingkat “Berkenan”. Berkenan di sini berarti apa yang kita lakukan sudah mulai menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak datang ke gereja hanya karena kita merasa wajib datang sebagai orang Kristen, atau karena malu ditanya tetangga mengapa pada hari minggu kita tidak pergi ke gereja. Kita seharusnya pergi ke gereja karena kita ingin bertemu Tuhan. Demikian juga dengan hal-hal lain yang terkait dengan kehidupan kita.

Ketiga, tingkat “Sempurna”. Memang sulit untuk menentukan contoh dari tingkat sempurna ini, tetapi semakin kita ingin menyenangkan hati Tuhan dan ingin selalu melakukan apa yang Tuhan perintahkan, maka semakin dekat kita dengan tingkat sempurna ini. Ini adalah tingkatan tertinggi dari kehidupan rohani orang-orang percaya, karena Tuhan Yesus sendiri pun meminta agar kita menjadi sempurna, karena Bapa di Surga juga sempurna (Mat 5:48).

Jadi mari kita lihat kembali diri kita masing-masing, andaikata saat ini Tuhan datang untuk kedua kalinya, bagaimanakah kita mempertanggungjawabkan kehidupan kita kepadaNya? Apakah kita yakin bahwa kehidupan kita sudah merupakan kehidupan yang baik di hadapan Tuhan? Apakah kehidupan kita juga sudah masuk ke dalam tingkat kehidupan yang berkenan atau sempurna? Ataukah kita justru akan mendengar Tuhan berkata bahwa kehidupan kita adalah kehidupan yang sama sekali tidak sempurna, tidak berkenan dan tidak baik? Kita yang tahu bagaimana kualitas kehidupan kita saat ini, dan marilah kita pun berusaha untuk hidup sebaik-baiknya serta sesempurna mungkin di hadapan Tuhan, agar kita mampu mendapatkan tingkatan yang paling tinggi ketika Tuhan mengaudit kehidupan kita.


Bacaan Alkitab: Roma 12:1-2
12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Berdiri Teguh


Jumat, 27 April 2012
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 15:56-58
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Kor 15:58)


Berdiri Teguh


Bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan pernyataan bahwa sengat maut adalah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat (ay. 56). Apakah yang dimaksud dengan hal tersebut? Memang banyak penafsiran tentang hal ini, tetapi menurut saya, secara sederhana hal ini menyatakan bahwa dosa itu adalah hal yang sangat berbahaya dan berujung kepada maut. Ayat lain menyatakan bahwa upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Di sisi lain, hukum Taurat sebagai hukum yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, tidak dapat menghilangkan dosa. Hukum Taurat bukannya menghilangkan dosa tetapi justru membuat orang mengenal dosa (Rm 3:20), karena dengan adanya Hukum Taurat tersebut, maka manusia menjadi tahu hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan menurut Hukum Taurat, dan sesuai dengan sifat dasar manusia yaitu selalu melanggar apa saja yang dilarang, maka justru dengan adanya Hukum Taurat tersebut, manusia semakin mengenal dosa.

Jika demikian, bagaimanakah manusia bisa lepas dari dosa itu, ketika Hukum Taurat yang awalnya diharapkan mampu membuat manusia hidup benar justru tidak berhasil “menjalankan tugasnya”? Syukur kepada Allah, bahwa kemenangan atas dosa tidak berada dalam Hukum Taurat (yang hanya diberikan kepada bangsa Israel saja), tetapi kemenangan atas dosa diberikan kepada kita di dalam nama Yesus, Tuhan kita (ay. 57). Dengan penderitaan, kematian, kebangkitan, serta kenaikan Tuhan Yesus, maka kita yang percaya kepadaNya pun kini telah memperoleh kemenangan atas dosa. Tetapi ternyata kehidupan orang Kristen pun tidak cukup hanya percaya kepada Kristus lalu kemudian diam saja, melainkan harus memiliki kehidupan rohani yang dinamis. Ayat 58 dari bacaan Alkitab kita pada hari ini menunjukkan beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai orang-orang yang telah menang.

Pertama, kita harus berdiri dengan teguh. Berdiri dengan teguh dapat berarti bahwa kita selalu siap sedia dan berdiri dengan penuh semangat serta keteguhan hati. Kita tidak berdiri dengan santai atau dengan loyo, melainkan memiliki sikap selalu siap sedia dalam mengiring Tuhan.

Kedua, kita tidak boleh goyah. Ketika kita mau hidup di dalam Tuhan, kita tidak dapat hidup goyah alias plin plan karena tidak memiliki pendirian yang kuat. Ketika kita percaya kepada Tuhan, itu artinya kita harus meninggalkan kehidupan kita yang lama dan tidak melihat lagi ke belakang. Jangan sampai kita seperti isteri Lot yang ketika lari justru menjadi goyah karena teringat akan harta bendanya.

Ketiga, kita harus giat dalam pekerjaan Tuhan. Menjadi orang percaya bukan hanya sekedar percaya kepada Yesus lalu semuanya selesai begitu saja. Menjadi orang percaya adalah proses seumur hidup. Ketika kita memutuskan untuk menjadi orang percaya, kitatidak hanya cukup menjadi jemaat biasa, tetapi juga harus mau melayani Tuhan. Ingatlah, bahwa ketika kita melayani Tuhan, maka jerih payah kita tidak akan sia-sia (ay. 58).


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 15:56-58
15:56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
15:57 Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Berani Mengatakan Kebenaran


Kamis, 26 April 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 3:18-20
Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.” (Luk 3:19-20)


Berani Mengatakan Kebenaran


Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir sebelum Tuhan Yesus yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia menyampaikan tentang pentingnya pertobatan dan membaptis orang sebagai tanda pertobatan mereka. Yohanes Pembaptis lahir dengan cara yang ajaib, ketika kedua orang tuanya sudah tua. Jika kita membaca dalam Alkitab, kita akan menemukan bagaimana Yohanes Pembaptis adalah orang yang terus terang dan apa adanya. Ia hanya mau menyampaikan kebenaran dalam pengajarannya. “Bertobat dan berilah dirimu dibaptis” merupakan inti ajaran Yohanes Pembaptis (Mrk 1:4).

Yohanes Pembaptis pun tidak segan-segan menegur orang-orang yang telah jelas-jelas berbuat dosa. Ia bahkan berani berkata keras kepada orang-orang Farisi dan Saduki yang datang untuk mendengarkan ajarannya di tepi sungai Yordan (Mat 3:7), padahal orang Farisi dan Saduki merupakan orang-orang yang berasal dari golongan terpandang waktu itu. Walaupun demikian, Yohanes Pembaptis pun juga bersikap sama kepada orang-orang lain, termasuk orang-orang yang biasa-biasa saja. Ia pun menyampaikan dan memberitakan Injil kepada banyak orang, dengan berbagai-bagai nasihat lain yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis (ay. 18).

Alkitab juga mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak hanya “berani” kepada orang-orang kecil, tetapi Yohanes Pembaptis juga “berani” mengatakan kebenaran dan menegor raja Herodes, yang saat itu adalah penguasa wilayah. Apa yang ditegur oleh Yohanes Pembaptis dari raja Herodes? Yohanes Pembaptis menegur raja Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya yang dinikahi raja Herodes, dan segala kejahatan lain yang telah dilakukannya (ay. 19). Yohanes Pembaptis berani menegur raja Herodes karena Herodias adalah isteri dari saudara raja Herodes, dan justru sebenarnya bukan hanya raja Herodes yang merasa tersinggung, tetapi justru Herodias sendiri yang tersinggung dan benci kepada Yohanes Pembaptis hingga ingin membunuh Yohanes Pembaptis (Mrk 6:17-19).

Akan tetapi Yohanes Pembaptis tetap teguh pada pendiriannya, bahkan ketika ia telah dimasukkan ke dalam penjara oleh raja Herodes (ay. 20), Yohanes Pembaptis tetap menyampaikan ajarannya, bahkan sempat mengutus muridnya pergi kepada Yesus (Mat 11:2-3). Ia tetap setia hingga akhir masa hidupnya, bahkan ketika ia pun harus mati dengan kepala yang terpenggal (Mat 14:10-11). Yohanes Pembaptis adalah salah satu nabi besar, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengakui bahwa dari antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis Pembaptis (Mat 11:11).

Jika kita melihat kehidupan kita, sudahkah kita bersikap seperti Yohanes Pembaptis yang berani berkata benar bahkan ketika hidupnya dipertaruhkan sekalipun? Ataukah kita semakin hari justru semakin hilang ditelan dunia dan tidak pernah lagi menyatakan kebenaran? Yohanes Pembaptis setia sampai akhir dan konsisten menyampaikan kebenaran. Maukah kita rindu menjadi seperti Yohanes Pembaptis yang selalu berani menyatakan kebenaran?


Bacaan Alkitab: Lukas 3:18-20
3:18 Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.
3:19 Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya,
3:20 raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.

Tangan yang Rajin


Rabu, 25 April 2012
Bacaan Alkitab: Amsal 10:3-5
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Ams 10:4)


Tangan yang Rajin


Dahulu saya cukup sering menonton acara reality show di televisi yang pada umumnya menayangkan tentang kisah kehidupan orang-orang yang dapat dikatakan sebagai orang-orang pinggiran yang kurang beruntung. Pernah dikisahkan tentang orang yang walaupun sudah bekerja keras di sana sini, namun hanya membawa pulang kurang dari Rp10.000,00 per harinya. Tentunya kita yang menyaksikan acara tersebut akan terenyuh melihat bagaimana kerja keras orang tersebut hanya dihargai dengan uang yang jumlahnya tidak seberapa. Barangkali kita menghabiskan uang tiga kali lipatnya hanya untuk membeli secangkir kopi di kafe. Namun syukurlah, hampir semua acara reality show tersebut menyajikan akhir yang cukup baik, dimana biasanya orang tersebut akhirnya mendapatkan “rejeki” mendadak dari pembuat program.

Saya kira, dalam membuat reality show tersebut, stasiun televisi tidak akan mencari orang yang miskin tetapi malas. Mereka akan mencari orang yang miskin tetapi memiliki kemauan kuat dalam mencari uang, namun nasib mereka saja yang tidak dapat lepas dari jerat kemiskinan. Demikian juga dengan apa yang dikatakan dalam kitab Amsal hari ini, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (ay. 4). Tapi kenyataannya, mengapa kita masih saja mendengar atau melihat orang-orang yang berkata bahwa dirinya sudah rajin tapi kok keadaannya tetap saja miskin? Apakah Firman Tuhan dalam kitab Amsal ini sudah tidak relevan pada kondisi di masa kini?

Saya berpendapat bahwa Firman Tuhan adalah Firman selalu relevan dari sejak mulai ditulis sekitar 6.000 tahun yang lalu bahkan hingga saat ini. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tangan orang rajin menjadikan kaya. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku dirinya rajin tetapi belum kaya? Saya rasa orang tersebut pertama-tama harus melihat kepada diri mereka sendiri terlebih dahulu. Berapa persen mereka mengerahkan kerajinan mereka? Apakah mereka selama ini menganggap bahwa bekerja 75% sudah tergolong rajin? Apakah mereka yang bekerja 100% sudah dapat dikatakan rajin? Bukankah kita masih bisa bekerja lebih dari 100%? Dalam Perjanjian Baru pun Paulus mengatakan bahwa jika ada orang yang tidak bekerja, maka janganlah ia makan (2 Tes 3:10). Hal ini menunjukkan bahwa kita memang harus bekerja keras untuk mencari nafkah. Hal itu adalah salah satu akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kita harus bersusah payah bahkan hingga berpeluh dalam mencari rejeki kita (Kej 3:17-19).

Memang ada faktor lainnya yang lebih penting, yaitu Tuhan itu sendiri. Tuhan adalah sumber berkat, dan hal tersebut yang membedakan antara kita sebagai orang percaya dengan orang lain yang belum percaya. Ketika kita hidup benar di hadapan Tuhan, maka Tuhan pasti tidak akan membiarkan kita menderita kelaparan (ay. 3). Sudah banyak contoh di Alkitab, bahkan dari kesaksian yang kita dengar bahwa Tuhan selalu menolong anak-anakNya tepat pada waktuNya. Dengan kata lain, kombinasi dari iman dan usaha itulah yang akan membuat kita mampu hidup dalam berkat Tuhan bahkan dalam segala kelimpahanNya.

Ketika kita merasa bahwa kehidupan kita selalu susah, pernahkah kita intropeksi diri kita, apakah selama ini kita sudah hidup benar di hadapan Tuhan, dan apakah kita memang sudah sungguh-sungguh berusaha untuk mengubah kehidupan kita? Sudahkah dalam bekerja kita memberikan yang terbaik bahkan hingga berpeluh (gambaran bekerja yang sungguh-sungguh)? Kitab Amsal sendiri menyatakan bahwa kita pun harus bekerja keras agar kita bisa menikmati hasilnya. Bagaimana kita dapat menikmati berkat Tuhan ketika kita malas? Bagaimana lumbung kita bisa terisi penuh jika ketika musim panas (musim panen) kita justru tidur dan tidak mengumpulkan makanan? Tuhan kita adalah Tuhan yang kaya, tetapi kita pun juga tetap perlu berusaha untuk menggapai berkat Tuhan  tersebut.


Bacaan Alkitab: Amsal 10:3-5
10:3 TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.
10:4 Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
10:5 Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu.