Selasa, 05 Juni 2012

Empat Kuda yang Keluar Saat Meterai Tuhan Dibuka


Selasa, 5 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Wahyu 6:1-8
Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."” (Why 6:5-6)


Empat Kuda yang Keluar Saat Meterai Tuhan Dibuka


Bicara tentang kitab Wahyu, kitab ini penuh dengan simbol yang menggambarkan akhir dari langit dan bumi yang kita kenal, dan menggambarkan langit dan bumi yang baru. Saya sendiri juga tidak terlalu mengerti tentang hal-hal yang digambarkan di dalam kitab Wahyu, namun saya rindu kita sama-sama berjaga-jaga, karena justru ketika kita tidak tahu banyak hal, kita akan lebih waspada. Bayangkan jika kita tahu bahwa kita akan mati pada usia 70 tahun, maka kita akan hidup berfoya-foya dan bersenang-senang, melakukan dosa-dosa selama 69 tahun, dan barulah menjelang usia kita 70 tahun kita bertobat. Tetapi ketika kita tidak tahu kapan kita akan mati, maka kita harus selalu berjaga-jaga agar hidup kita berkenan kepada Tuhan.

Dalam kitab Wahyu, ada 3 macam gambaran hukuman Tuhan, yaitu tujuh meterai (Why 6:1-17), dimana ketika meterai yang ketujuh dibuka maka muncul hukuman Tuhan berupa tujuh sangkakala (Why 8:1-10:7), serta tujuh cawan murka Allah (Why 16:1-21). Ke-21 hukuman tersebut merupakan hukuman terhadap manusia dan Iblis atas dosa-dosa yang diperbuat, sampai pada akhirnya Tuhan menurunkan langit dan bumi yang baru, serta Yerusalem baru, yaitu surga dimana orang-orang yang percaya kepada Tuhan akan hidup kekal di surga yang mulia.

Hari ini saya akan menulis tentang empat meterai pertama, dimana ketika keempat meterai pertama tersebut dibuka, ada seekor kuda yang maju setiap kali meterai tersebut dibuka. Ketika meterai pertama dibuka, muncullah seekor kuda putih dan penunggangnya memegang sebuah panah dan dikaruniakan sebuah mahkota. Penunggang kuda putih ini maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan (ay. 1-2). Siapa yang digambarkan dengan penunggang kuda putih ini? Ada yang mengatakan bahwa penunggang kuda putih ini adalah Yesus, sehingga ketika meterai pertama dibuka maka hal tersebut berarti Injil diberitakan ke seluruh dunia. Yang lain berpendapat bahwa penunggang kuda putih ini justru adalah Antikristus, yang pergi untuk menaklukkan seluruh dunia di  bawah kuasanya. Saya sendiri tidak tahu mana yang benar, tetapi hal tersebut juga jangan membuat kita semakin apatis, tetapi kita justru harus tetap waspada, karena untuk meterai kedua sampai keempat justru menggambarkan sesuatu yang lebih jelas lagi.

Ketika meterai kedua dibuka, muncullah kuda merah padam dan kepada penunggangnya diberikan kuasa untuk mengambil damai sejahtera sehingga manusia saling membunuh (ay. 3-4). Suka atau tidak suka, jika kita memperhatikan perkembangan berita akhir-akhir ini, kita tahu bahwa meterai kedua sudah dibuka, walaupun kuda tersebut masih belum tiba di garis akhir. Peperangan sekarang ini seakan-akan sudah menjadi hal yang biasa. Tidak hanya di daerah yang biasa berkonflik seperti Israel dan Palestina, Iran, Irak, dan Afghanistan. Justru  muncul banyak konflik berdarah di negara-negara Arab seperti Mesir, Siria, dan Lebanon. Bahkan di Indonesia yang katanya masyarakatnya adalah masyarakat yang ramah, justru banyak sekali pertikaian yang berujung pada kekerasan.

Meterai ketiga menggambarkan tentang kelaparan. Ketika meterai ketiga dibuka, muncullah kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang timbangan (ay. 5). Ada suara yang berkata, “Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar (ay. 6a). Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu”. Sedinar adalah upah harian seseorang pada zaman Romawi. Jika saat ini UMR adalah Rp1,2 juta untuk 30 hari kerja, maka upah hariannya kira-kira adalah Rp40 ribu sehari. Jadi bayangkan jika uang Rp40 ribu tersebut hanya dapat untuk membeli secupak gandum (dalam konteks saat ini seperti nasi yang merupakan makanan utama) atau tiga cupak jelai (dalam konteks saat ini seperti jagung atau singkong yang merupakan makanan pengganti). Hal tersebut menunjukkan kelaparan yang luar biasa, atau penurunan nilai mata uang sehingga upah satu hari hanya cukup untuk membeli makanan saja. Tetapi ada jaminan Tuhan bahwa minyak dan anggur tidak akan dirusakkan (ay. 6b). Minyak dan anggur merupakan gambaran dari Roh Kudus, yang antara lain berarti bahwa orang-orang yang hidup dekat dengan Tuhan, yang hidup dipimpin Roh Kudus tidak akan mengalami dampak dari meterai ketiga tersebut.

Ketika meterai keempat dibuka, mucullah kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya diberi kuasa untuk membunuh (ay. 7-8). Hal ini menggambarkan tentang kematian yang akan dialami penduduk bumi, baik dengan peperangan, penyakit, bahkan binatang buas. Alkitab mengatakan bahwa seperempat penduduk bumi akan mati pada saat meterai keempat dibuka. Kita tidak tahu apakah gereja akan diangkat sebelum meterai tersebut dibuka, atau gereja juga akan mengalami masa-masa sengsara tersebut. Tetapi marilah ketika kita membaca tentang meterai ini, kita hidup lebih sungguh-sungguh lagi di hadapan Tuhan agar hidup kita berkenan dan juga kita boleh mendapatkan perlindungan dari Tuhan di tengah-tengah kesusahan yang terjadi di dunia ini. Walaupun di dunia ini terjadi resesi, tetapi kita pun yakin bahwa orang pilihan Tuhan justru akan tetap resepsi.


Bacaan Alkitab: Wahyu 6:1-8
6:1 Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: "Mari!"
6:2 Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.
6:3 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: "Mari!"
6:4 Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.
6:5 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.
6:6 Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
6:7 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!"
6:8 Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.

Perkataan Kita Merupakan Buah dari Hati Kita


Senin, 4 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Lukas 6:43-45
Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Luk 6:45)


Perkataan Kita Merupakan Buah dari Hati Kita


Pernahkah kita merenungkan, mengapa setiap kita melamar pekerjaan, pasti ada tes wawancara? Mengapa perusahaan tersebut tidak mengadakan tes tertulis saja kemudian yang memiliki nilai tertinggi adalah orang yang paling baik dan diterima bekerja di perusahaan tersebut? Salah satu jawabannya menurut saya adalah karena dalam wawancara, pihak perusahaan akan lebih mengerti karakter dan sifat si pelamar daripada sekedar membaca hasil tes. Melalui wawancara dan bercakap-cakap secara langsung, kita akan dapat mengetahui apa karakter seseorang melalui perkataan orang tersebut, walau memang juga masih ada kemungkinan kita tidak dapat mengetahui 100% karakter seseorang dari perkataannya.

Demikian juga halnya dengan masa pacaran, yang seharusnya digunakan sebagai kesempatan untuk saling mengenal karakter masing-masing, dan mellihat apakah hubungan tersebut dapat diteruskan ke pernikahan. Bayangkan jika ada dua orang yang belum pernah bertemu apalagi bercakap-cakap, lalu kemudian mereka harus menikah (misalkan karena dijodohkan), bagaimana mereka dapat mengetahui karakter pasangannya? Orang yang sudah berpacaran lama saja belum tentu sudah 100% mengenal karakter pasangannya ketika sudah menikah nantinya, banyak hal-hal yang baru diketahui setelah menikah.

Firman Tuhan mengatakan bahwa hati seseorang tercermin dari perkataannya. Apa yang diucapkan oleh mulut seseorang itu meluap dari hatinya (ay. 45b). Oleh karena itu melalui perkataan seseorang kita minimal akan mengetahui apakah perbendaharaan hatinya itu baik atau tidak, apakah hatinya penuh dengan tipu daya atau tidak. Orang yang baik akan mengucapkan kata-kata yang baik dan positif (ay. 45a), demikian juga sebaliknya. Firman Tuhan mengatakan bahwa pohon yang baik juga akan menghasilkan buah yang baik (ay. 43), dan pohon itu pun memiliki buah yang khas, yang membedakan satu pohon dengan pohon yang lain (ay. 44), sehingga tidak mungkin orang memetik buah durian dari pohon kelapa dan memetik buah kelapa dari pohon durian.

Demikian juga dengan orang percaya, orang lain akan mengenal kita sebagai orang percaya apabila buah kita mencerminkan buah-buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. (Gal 5:22-23). Jika hidup kita sudah dipimpin oleh Roh Kudus, maka orang lain pasti akan melihat karakter dari buah Roh ini di dalam kehidupan kita. Memang tidak mudah, karena kita juga manusia yang memiliki keinginan daging yang bertentangan dengan keinginan Roh. Tetapi ketika kita sadar bahwa tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, tentunya kita akan berhati-hati ketika mengucapkan kata-kata yang keluar dari mulut kita, jangan sampai ada perkataan yang sia-sia keluar dari mulut kita. Ketika kita sadar bahwa tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, tentu saja kita akan berusaha untuk hidup benar dan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, supaya hidup kita juga memuliakan Tuhan, dan orang lain boleh diberkati melalui segenap kehidupan kita.

Marilah kita instropeksi diri kita. Dalam hari ini saja, sudahkah kita mengucapkan kata-kata berkat dan kata-kata positif? Ataukah justru kita lebih banyak menggosip, memfitnah, dan mengucapkan perkataan yang sia-sia? Sudahkah kita memperkatakan Firman Tuhan hari ini? Bagi kita yang sudah memiliki anak, sudahkah kita mendidik anak kita dengan kata-kata yang membangun? Atau justru ketika anak kita mendapatkan nilai jelek, kita justru memarahinya dengan kata-kata negatif? Ingat bahwa perkataan kita mencerminkan hati kita. Sudahkah kita menjaga perkataan kita dan hati kita?


Bacaan Alkitab: Lukas 6:43-45
6:43 "Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
6:44 Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.
6:45 Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."

Ketika Tuhan Yesus Mengabarkan Kabar Baik ke Samaria


Minggu, 3 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Yohanes 4:39-42
Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya.” (Yoh 4:40-41)


Ketika Tuhan Yesus Mengabarkan Kabar Baik ke Samaria


Tentunya kita tidak asing lagi dengan cerita tentang Yesus dan perempuan Samaria yang ia temui di pinggir sumur. Jikalau pun kita lupa, kita dapat membacanya lagi di ayat-ayat sebelumnya. Tetapi saya menemukan sesuatu yang menarik dalam bacaan Alkitab kita hari ini, yaitu bagaimana melalui percakapan Yesus dengan perempuan Samaria tersebut, akhirnya banyak orang Samaria dari kota tersebut yang menjadi percaya kepadaNya karena perkataan perempuan tersebut (ay. 39a). Perempuan Samaria itu baru saja mengenal Tuhan, mungkin hanya dalam hitungan jam sejak ia berjumpa Tuhan. Tetapi dalam hitungan jam tersebut ia sudah berhasil membawa banyak orang percaya kepadaNya karena kesaksiannya, padahal apa yang ia saksikan sebenarnya adalah hal yang sederhana saja, yaitu bahwa Tuhan Yesus telah mengatakan kepadanya segala sesuatu yang telah ia perbuat (ay. 39b).

Ketika saya membaca ayat ini, saya tertegun. Saya sendiri sudah menjadi orang Kristen sejak lahir karena kedua orang tua saya juga adalah orang Kristen. Tetapi mungkin saya belum dapat membawa orang lain datang kepada Tuhan. Tetapi perempuan Samaria ini sudah dapat membawa banyak orang dari kotanya datang kepada Yesus hanya dalam beberapa jam saja setelah ia bertemu Tuhan. Padahal perempuan Samaria ini pun bukanlah orang yang benar, ia memiliki lima orang suami dan laki-laki yang bersama dengan dia pada saat itu pun bukan suaminya (Yoh 4:18). Tetapi justru karena perkataan perempuan tersebutlah banyak orang yang percaya kepada Tuhan. Perhatikan kembali ayat 39, bahwa awalnya mereka percaya kepada Yesus bukan karena perkataan Tuhan Yesus, tetapi karena perkataan perempuan tersebut. Justru setelah mereka percaya kepada Tuhan, barulah mereka pergi mencari Tuhan Yesus dan menjumpai Yesus, mereka baru meminta kepadaNya untuk tinggal lebih lama lagi (ay. 40).

Ketika Yesus akhirnya menyanggupi untuk tinggal dua hari lebih lama di Samaria, semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus karena perkataan Tuhan Yesus sendiri (ay. 41). Jelas bahwa perempuan Samaria tersebut telah menjadi alat Tuhan bagi kotanya, dan bagi kaumnya, yaitu kaum Samaria. Padahal jika kita baca di dalam kamus Alkitab di bagian belakang Alkitab kita, kita akan mengetahui bahwa orang Samaria adalah orang-orang yang berasal dari kerajaan Israel (kerajaan Utara saat bangsa Israel pecah menjadi dua kerajaan), namun karena dikalahkan oleh orang Asyur mereka pun kawin campur dan memiliki agama yang dicampur dengan ajaran agama lain. Bangsa Yahudi (keturunan dari kerajaan Yehuda yang dibuang ke Babel) sangat membenci orang Samaria karena perbedaan agama dan kebiasaan, bahkan di Alkitab pun dikatakan bahwa orang Yahudi seharusnya pun tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh 4:9).

Tetapi bagi Tuhan, Firman Tuhan tetap harus disampaikan walaupun ada penghalang perbedaan suku bangsa sekalipun. Dalam Injil Yohanes, dikatakan bahwa ketika Tuhan Yesus pergi memberitakan kabar baik, yang pertama-tama percaya kepadaNya adalah murid-muridNya (Yoh 2:11), Nikodemus (Yoh 3:1-21), dan barulah orang Samaria tersebut (ay. 39 & 41). Ke mana bangsa Yahudi? Walaupun Yesus sendiri sudah membuat mujizat di Kana, daerah Yahudi, tetapi justru orang Yahudi baru percaya kemudian. Menurut saya, orang-orang Samaria itu justru lebih mudah menerima pengajaran Tuhan Yesus, bahkan dari mulut mereka pun terucap bahwa mereka yakin Yesus adalah benar-benar Juruselamat dunia (ay. 42).

Tuhan ingin agar semua orang percaya kepadaNya, di sisi lain, Tuhan juga ingin memakai anak-anakNya menjadi saksi-saksi Tuhan agar semakin banyak orang yang percaya kepadaNya. Pertanyaannya, sudahkah kita bersedia menjadi saksi-saksi Tuhan? Sudahkah kita menyampaikan Firman Tuhan kepada orang lain, sama seperti perempuan Samaria tadi bersaksi kepada orang-orang sekotanya? Bagian kita adalah melakukan apa yang kita lakukan, selebihnya adalah bagian Tuhan. Sudahkah kita melakukannya?


Bacaan Alkitab: Yohanes 4:39-42
4:39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."
4:40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya.
4:41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya,
4:42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."


Jangan Iri kepada Orang Fasik


Sabtu, 2 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 37:7-11
Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.” (Mzm 37:7)


Jangan Iri kepada Orang Fasik


Pernahkah kita merasa iri kepada orang lain yang sepertinya gampang saja mendapatkan segala sesuatu walaupun kita tahu bahwa hidupnya sebenarnya tidak lebih baik daripada kita? Pernahkah kita iri kepada orang lain yang cepat naik pangkat hanya karena ia memiliki koneksi padahal kinerjanya juga tidak lebih baik daripada kita? Pernahkah kita iri kepada para koruptor yang tampaknya hidupnya tenang-tenang saja, uangnya banyak, bahkan mungkin sampai dengan kita pensiun belum tentu kita memiliki uang sebanyak itu? Memang tidak mudah memiliki sikap untuk tidak iri kepada orang fasik yang sepertinya hidupnya lebih beruntung daripada kita.

Di kantor saya juga pernah merasakan hal yang sama. Ada seorang pejabat yang saya tahu hidupnya tidak benar tetapi kok sepertinya hidupnya tenang-tenang saja. Ia sering melakukan hal-hal yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seseorang dengan jabatan yang dimilikinya. Saya tidak dapat merincinya di dalam tulisan saya ini, tetapi saya pernah merasa kesal sama Tuhan, “Tuhan, kok hidupnya kayaknya baik-baik saja sih? Duitnya banyak, hartanya banyak, padahal kan Tuhan juga tahu kalau hidupnya itu seperti itu”, begitu protes saya kepada Tuhan.

Memang dalam hal tersebut, saya juga salah, karena saya seakan-akan sedang menghakimi orang tersebut. Tetapi ternyata Firman Tuhan juga tetap berlaku hingga hari ini. Firman Tuhan dalam bacaan Alkitab kita berkata agar kita berdiam diri dan menantikan saatnya Tuhan bertindak (ay. 7a). Bukan bagian kita untuk menghakimi orang lain dan bukan bagian kita juga untuk marah dan iri kepada orang-orang fasik (ay. 7b). Memang betul, ketika kita mulai iri dan marah, hal tersebut akan membawa kita ke dalam dosa, karena kita akan menghakimi orang lain, dan juga kita seakan-akan menjadi lebih tahu daripada Tuhan. Kita harus dapat mengendalikan diri kita, karena ketika kita marah, kita akan mudah sekali jatuh ke dalam dosa (Ef 4:26).

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Hal terbaik yang kita lakukan adalah meyakini Firman Tuhan  bahwa orang-orang jahat dan orang fasik akan dilenyapkan (ay. 9). Bahkan jika kita melihat dari sudut pandang Tuhan, kita akan mengerti bahwa di dalam pandangan Tuhan, sebenarnya orang fasik tersebut sudah tidak ada lagi (ay. 10). Posisi orang fasik itu sudah hilang, dan sudah tidak ada lagi (Mzm 9:6). Justru orang-orang benar, orang-orang yang hidup kudus di hadapan Tuhan, orang-orang yang tidak berlaku fasik akan mewarisi negeri yang ditinggalkan oleh orang-orang fasik tersebut. Tuhan akan membuat orang-orang benar tampil dan bercahaya, mereka akan mendapatkan kesejahteraan yang berlimpah-limpah (ay. 11).

Terkait dengan cerita saya tadi, saya baru merasakan bahwa Firman Tuhan itu pun masih digenapi. Akhirnya justru karir orang tersebut yang hancur dan orang tersebut akhirnya keluar dari kantor tempat saya bekerja karena alasan tertentu. Ternyata Tuhan memang masih bekerja hingga saat ini, dan saya sendiri menjadi saksinya. Firman Tuhan masih berlaku hingga hari ini. Luar biasa bukan? Tuhan kita adalah Tuhan yang tetap berkuasa dari dahulu, sekarang, dan hingga selama-lamanya. Apa yang dapat saya pelajari hari ini adalah bahwa memang di satu sisi kita tidak boleh marah terhadap orang-orang fasik yang berhasil, tetapi di sisi lain kita pun perlu menjaga diri kita agar kita juga tidak berlaku sama seperti orang fasik tersebut, menjaga agar hidup kita tetap benar di hadapanNya dan tidak menghakimi orang lain. Akan ada waktuNya Tuhan ketika orang fasik tersebut akhirnya gugur dan digantikan oleh orang-orang benar. Tugas kita adalah menyiapkan diri untuk menempati posisi yang ditinggalkan oleh orang fasik tersebut.


Bacaan Alkitab: Mazmur 37:7-11
37:7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.
37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.
37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.
37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

Memisahkan yang Kudus dengan yang Tidak Kudus


Jumat, 1 Juni 2012
Bacaan Alkitab: Yehezkiel 42:15-20
Keempat sisinya diukur. Sekeliling lingkungan itu ada tembok: panjangnya lima ratus hasta dan lebarnya lima ratus hasta, untuk memisahkan yang kudus dari yang tidak kudus.” (Yeh 42:20)


Memisahkan yang Kudus dengan yang Tidak Kudus


Pernahkah kita melihat di suatu tempat, ketika kita hendak membuang sampah ada dua tempat sampah, yang satu digunakan untuk tempat sampah organik dan yang satu lagi merupakan tempat sampah non organik? Kira-kira mengapa harus dibedakan antara kedua jenis sampah? Bukankah kedua-duanya juga sama-sama sampah? Memang benar, tetapi kedua jenis sampah tersebut, walaupun memang sama-sama merupakan sampah, memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlu dipisahkan.

Demikian juga apa yang dialami Yehezkiel dalam penglihatannya. Saat itu, Yehezkiel mendapatkan penglihatan tentang zaman yang baru, tentang Yerusalem yang baru dan Bait Suci yang baru. Yehezkiel diperlihatkan tentang Bait Suci, serta ukuran dari lingkungan Bait Suci tersebut (ay. 15). Apa inti dari penglihatan Yehezkiel? Ia melihat bangunan Bait Suci dan mengukur keempat sisi lingkungan Bait Suci tersebut, yaitu sisi timur sepanjang 500 hasta (ay. 16), menurut tongkat pengukur yang diberikan kepadanya, sisi utara sepanjang 500 hasta (ay. 17), sisi selatan sepanjang 500 hasta (ay. 18), serta sisi barat sepanjang 500 hasta (ay. 19).

Saya pun bertanya-tanya, apa maksud Tuhan memberikan penglihatan seperti itu? Ukuran sepanjang 500 hasta sendiri kira-kira adalah 500 x 45 cm atau 225 meter. Walaupun demikian, kita juga harus ingat bahwa ukuran 500 hasta tersebut belum tentu sama dengan 225 meter karena yang digunakan adalah tongkat pengukur yang berasal dari Tuhan sendiri (Yeh 40:3). Walaupun demikian, kita tahu bahwa pasti ada maksud Tuhan dalam menunjukkan penglihatan tersebut yang mungkin di luar pemahaman kita.

Di balik angka-angka yang  tidak kita mengerti tersebut, minimal kita tahu dengan pasti bahwa dalam lingkungan Bait Suci tersebut, seluruh sisi-sisinya dikelilingi oleh suatu tembok yang panjangnya 500 hasta dan lebar 500 hasta (ay. 20a), persis sama dengan ukuran lingkungan Bait Suci yang tadi diukur oleh Yehezkiel. Dengan kata lain, tembok tersebut benar-benar mengelilingi seluruh lingkungan Bait Suci. Mengapa harus ada tembok di sekeliling Bait Suci?

Alkitab mengatakan bahwa tembok tersebut ada untuk memisahkan antara yang kudus dengan yang tidak kudus (ay. 20b). Sesuai namanya, Bait Suci berarti Bait yang suci dan kudus, sehingga hanya kekudusan saja yang seharusnya ada di dalam Bait Suci tersebut. Hal-hal yang tidak kudus tidak boleh dan tidak layak untuk berada di Bait Suci. Bukan berarti Tuhan tidak berkuasa untuk mencegah orang-orang yang tidak kudus masuk ke dalam Bait Suci, tetapi tembok tersebut merupakan tanda pemisah antara yang kudus dan yang tidak kudus.

Apa implikasinya bagi kita saat ini? Kita yang telah percaya kepada Tuhan adalah anak-anak Tuhan, dan kita sendiri juga adalah Bait Allah. Ketika tubuh kita serta hidup kita adalah Bait Allah (1 Kor 6:19), maka sudah seharusnya kita juga menjaga hidup kita agar hidup kita kudus dan tidak bercela di hadapan Tuhan (Flp 2:15). Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Sudahkah kita hidup benar? Sudahkah semua perbuatan kita, perkataan kita, dan seluruh hidup kita kudus dan tidak bercela di hadapan Tuhan?


Bacaan Alkitab: Yehezkiel 42:15-20
42:15 Sesudah ia selesai dengan mengukur seluruh bangunan dalam itu, ia mengiring aku menuju pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur, lalu mengukur sekeliling lingkungan Bait Suci itu.
42:16 Ia mengukur sisi timur dengan tongkat pengukur: lima ratus hasta menurut tongkat pengukur. Lalu ia berputar
42:17 dan mengukur sisi utara: lima ratus hasta menurut tongkat pengukur. Ia berputar lagi
42:18 ke sisi selatan dan mengukurnya: lima ratus hasta menurut tongkat pengukur.
42:19 Kemudian ia berputar ke sisi barat dan mengukurnya: lima ratus hasta menurut tongkat pengukur.
42:20 Keempat sisinya diukur. Sekeliling lingkungan itu ada tembok: panjangnya lima ratus hasta dan lebarnya lima ratus hasta, untuk memisahkan yang kudus dari yang tidak kudus.


Menyampaikan 100% Kebenaran Firman Tuhan


Kamis, 31 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Yehezkiel 3:22-27
Tetapi kalau Aku berbicara dengan engkau, Aku akan membuka mulutmu dan engkau akan mengatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. Orang yang mau mendengar, biarlah ia mendengar; dan orang yang mau membiarkan, baiklah membiarkan, sebab mereka adalah kaum pemberontak.” (Yeh 3:27)


Menyampaikan 100% Kebenaran Firman Tuhan


Yehezkiel merupakan salah satu nabi Tuhan yang menyuarakan Firman Tuhan kepada bangsa Yehuda menjelang masa-masa keruntuhan Yerusalem dan juga termasuk pada masa pembuangan. Suatu waktu, datanglah kekuasaan Tuhan meliputi dirinya dan Tuhan berfirman kepada Yehezkiel agar ia pergi ke lembah karena Tuhan akan berbicara dengannya (ay. 22). Ketika Yehezkiel kemudian pergi ke lembah, ia pun melihat kemuliaan Tuhan dan ia pun sujud ke tanah menyembah Tuhan (ay. 23).

Pada saat itu, Firman Tuhan mengatakan bahwa masuklah Roh Tuhan ke dalam diri Yehezkiel dan menyuruh Yehezkiel untuk pulang dan mengurung diri di dalam rumah (ay. 24). Mengapa Tuhan sampai menyuruh Yehezkiel untuk pulang dan mengurung diri dalam rumah? Bukankah Yehezkiel adalah nabi Tuhan yang ditugaskan untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan? Bukankah Tuhan sendiri yang memilih Yehezkiel sebagai nabiNya? Mengapa Tuhan juga seakan-akan menahan Yehezkiel untuk berbicara? Bahkan jika kita baca ayat-ayat selanjutnya, Tuhan sendiri berfirman bahwa Yehezkiel akan diikat dan dibelenggu sehingga ia tidak dapat keluar masuk di antara orang-orang lain (ay. 25). Tuhan bahkan membuat Yehezkiel bisu dan tidak dapat berbicara.

Jika kita lihat sekilas, sepertinya Tuhan kejam. Tetapi sesungguhnya Tuhan ingin mengajar Yehezkiel agar ia tidak menyampaikan apa yang menjadi pemikirannya sendiri. Tuhan ingin agar Yehezkiel hanya menyampaikan Firman yang Tuhan ingin sampaikan. Itulah mengapa Tuhan membuat Yehezkiel bisu, sehingga ketika Tuhan ingin menyampaikan Firman Tuhan kepada umatNya, Tuhan baru akan membuka mulut Yehezkiel sehingga ia akan menyampaikan Firman Tuhan.

Jika kita memperhatikan kebenaran Firman Tuhan tersebut, memang benar bahwa seorang hamba Tuhan memang sudah seharusnya hanya menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Seorang pengkhotbah misalnya, harus berusaha mengurangi perkataan sia-sia yang keluar dari mulutnya, sehingga seharusnya hanya kebenaran Firman Tuhan yang ia sampaikan ketika ia berkhotbah. Demikian juga seorang penulis renungan seperti saya, seharusnya juga hanya menyampaikan kebenaran Firman Tuhan saja. Sayangnya, masih banyak di antara para hamba Tuhan yang masih belum sadar bahwa ketika ia berbicara di atas mimbar ia pun harus menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Demikian juga masih banyak di antara jemaat yang masih belum mendoakan para hamba-hamba Tuhan agar hanya menyampaikan kebenaran Firman Tuhan ketika ia berkhotbah.

Saya sendiri mungkin lebih suka jika berada dalam posisi seperti Yehezkiel. Walaupun bisu, tetapi kondisi tersebut mengakibatkan bahwa apa yang disampaikan Yehezkiel merupakan 100% Firman Tuhan. Demikian juga saya berharap agar apa yang saya tulis juga merupapkan 100% Firman Tuhan. Bagaimana dengan kita? Mungkin ada di antara kita yang memang tidak memiliki tanggung jawab untuk berkhotbah atau menyampaikan Firman Tuhan, tetapi minimal tugas kita adalah mendoakan para hamba-hamba Tuhan, pendeta kita, atau orang-orang yang kita tahu memiliki tanggung jawab menyampaikan Firman Tuhan sehingga mereka dapat menyampaikan kebenaran Firman Tuhan kepada orang lain. Sudahkah kita melakukan bagian kita?


Bacaan Alkitab: Yehezkiel 3:22-27
3:22 Maka di sana kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia berfirman kepadaku: "Bangunlah dan pergilah ke lembah, di sana Aku akan berbicara dengan engkau."
3:23 Aku bangun dan pergi ke lembah; sesungguhnya di sana kelihatan kemuliaan TUHAN seperti kemuliaan yang telah kulihat di tepi sungai Kebar, dan aku sujud.
3:24 Tetapi masuklah Roh ke dalam aku dan ditegakkannya aku, lalu Ia berbicara dengan aku, kata-Nya: "Pergilah pulang, kurunglah dirimu di dalam rumahmu.
3:25 Dan engkau, anak manusia, sesungguhnya, engkau akan diikat dengan tali dan akan dibelenggu, sehingga engkau tidak bisa keluar masuk di tengah-tengah mereka.
3:26 Dan Aku akan membuat lidahmu melekat pada langit-langitmu, sehingga engkau menjadi bisu dan tidak akan menempelak mereka, sebab mereka adalah kaum pemberontak.
3:27 Tetapi kalau Aku berbicara dengan engkau, Aku akan membuka mulutmu dan engkau akan mengatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. Orang yang mau mendengar, biarlah ia mendengar; dan orang yang mau membiarkan, baiklah membiarkan, sebab mereka adalah kaum pemberontak."

Manusia di Hadapan Tuhan


Rabu, 30 Mei 2012
Bacaan Alkitab: Mazmur 144:3-4
Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?” (Mzm 144:3)


Manusia di Hadapan Tuhan


Saya pernah melihat suatu video yang menggambarkan bagaimana manusia itu di bandingkan dengan alam semesta. Seakan-akan kamera yang merekam tersebut kemudian naik hingga ke atas awan, sehingga terlihat manusia semakin lama semakin kecil hingga tidak terlihat, kemudian naik terus hingga terlihat seluruh bulatan bumi. Lalu bumi pun semakin lama semakin kecil ketika video itu membandingkan matahari dengan bumi, dan begitu seterusnya hingga matahari pun semakin kecil jika dibandingkan dengan galaksi-galaksi dan alam semesta ini.

Memang di bumi ini kita merasa bahwa kita (manusia) adalah makhluk yang paling modern dan paling berakal budi. Manusia mampu melakukan apa saja, dari menciptakan hal-hal yang berguna bagi orang lain, hingga merusak alam. Bahkan saat ini manusia pun bertindak seakan-akan mereka adalah Tuhan. Manusia sanggup membuat kloning hewan, bahkan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan mereka juga akan membuat kloning manusia. Manusia pun menciptakan senjata-senjata yang canggih, sehingga dapat membunuh banyak orang sekaligus. Manusia semakin pintar tetapi juga semakin rentan hidup jauh dari Tuhan.

Tuhan kita tentu saja adalah Tuhan yang luar biasa besar. Ia adalah Tuhan yang menciptakan dunia ini beserta isinya, termasuk segala benda langit dan alam semesta ini. Mengapa pemazmur berkata bahwa Tuhan begitu memperhatikan dan memperhitungkan manusia (ay. 3)? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej 1:26). Dengan demikian, manusia juga memiliki rupa dan gambar Allah dalam dirinya, walaupun rupa dan gambar Allah ini akhirnya rusak karena dosa, tetapi hal ini tidak mengurangi kasih Tuhan kepada manusia. Tuhan tetap mengasihi manusia, bahkan karena kasihNya kepada manusia, termasuk saya dan anda, Tuhan pun turun ke dunia ini dalam rupa Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Yoh 3:16).

Tuhan kita adalah Tuhan yang kekal, demikian juga manusia, walaupun usia kita di dunia ini hanya 70 sampai 80 tahun saja (Mzm 90:10), tetapi kita pun nantinya akan hidup dalam kekekalan, tinggal memilih saja mau hidup kekal di surga, atau mau hidup kekal di neraka. Hidup kita di dunia ini sama seperti angin, hari-hari kita sama seperti bayang-bayang yang lewat (ay. 4). Di ayat lain, Firman Tuhan pun mengatakan bahwa manusia itu bagaikan uap (Yak 4:14). Jika demikian, bukankah kita seharusnya lebih memfokuskan diri dan mempersiapkan diri kita untuk kehidupan kekal, dibandingkan dengan kehidupan kita di dunia ini?

Kita berharga di hadapan Allah (Yes 43:4), oleh karena itu sudah seharusnya kita yang adalah ciptaan Allah, hidup benar di hadapan Allah. Hidup kita harus memuliakan Allah, bukan memuliakan kita. Hidup kita harus memiliki tujuan yang benar, yaitu tujuan yang Allah berikan bagi kita masing-masing, dan hidup kita harus sesuai dengan tujuan yang Allah berikan tersebut. Sudahkah kita hidup seperti itu? Sudahkah kita hidup benar di hadapan Tuhan? Sudahkah hidup kita memuliakan Tuhan? Atau justru sebaliknya, ketika orang lain melihat kehidupan kita, justru mereka tidak bisa memuliakan Tuhan karena kehidupan kita begitu buruknya?


Bacaan Alkitab: Mazmur 144:3-4
144:3 Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?
144:4 Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.