Kamis, 09 Agustus 2012

Jangan Bimbang


Rabu, 8 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Yakobus 1:6-7
Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.” (Yak 1:6)


Jangan Bimbang


Mungkin ada di antara kita yang pernah menonton acara televisi yang berjudul “Superdeal” atau sejenisnya. Dalam acara tersebut, para peserta kuis atau permainan tersebut, disuguhi hadiah yang lumayan nilainya. Akan tetapi, selanjutnya pembawa acara itu akan berusaha untuk “menggoda” peserta dengan hadiah lain yang belum ketahuan apa bentuknya (biasanya disembunyikan di balik tirai atau di dalam kotak). Kadang-kadang pembawa acara juga berusaha menukar hadiah tersebut dengan sejumlah uang tunai. Kita dapat melihat bagaimana peserta acara tersebut bereaksi, ada yang tetap kukuh memegang hadiahnya, ada yang akhirnya mengganti hadiahnya, dan lain sebagainya. Hasilnya memang ada peserta yang berhasil dan mendapat hadiah dengan nilai yang besar seperti mobil atau sepeda motor, tetapi ada juga peserta yang sebenarnya sudah mendapatkan hadiah dengan nilai yang besar tetapi akhirnya justru pulang dengan tangan hampa karena ia salah menukarkan hadiahnya.

Ketika saya renungkan, mungkin ini juga adalah gambaran kehidupan manusia. Jujur saja, kadang-kadang kita sebagai orang Kristen pun pernah meminta sesuatu di luar iman. Apa maksudnya? Kadang-kadang kita berdoa meminta “A”. Akan tetapi karena sudah lama berdoa dan sepertinya tidak ada jawaban Tuhan, akhirnya kita berdoa minta “B”, padahal sebenarnya Tuhan pun sudah menyiapkan “A” bagi kita, hanya saja belum waktu Tuhan untuk memberikannya kepada kita. Ketika kita berdoa minta “B”, kemudian salah seorang teman kita berkata, “Wah kok kamu minta “B” sih, kan lebih baik “C” buat kamu?”. Akhirnya kita pun mengganti doa kita dengan “C”, dan begitu seterusnya.

Alkitab kita hari ini berkata bahwa ketika kita meminta sesuatu, maka kita harus meminta dalam iman (ay. 6a). Apa artinya ini? Artinya kita harus meminta kepada Tuhan yang benar, dalam iman yang benar kepada Tuhan, dengan motivasi yang benar kepada Tuhan. Itulah inti dari doa, yaitu harus didasarkan pada iman yang benar, bukan pada iman yang asal-asalan, atau hanya pada ajaran seseorang yang sebenarnya tidak Alkitabiah. Itulah mengapa penting bagi kita untuk senantiasa berpegangan kepada Firman Allah, sehingga kita tahu apa sebenarnya yang Tuhan inginkan bagi kita, sehingga ketika kita meminta, bukan kita meminta untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak 4:3), tetapi agar kehendak Allah terjadi dalam hidup kita (Mat 6:10).

Ketika kita sudah meminta dalam iman yang benar, maka satu lagi yang harus kita lakukan adalah tidak bimbang (ay. 6b). Bimbang itu serupa dengan ragu-ragu atau plin-plan, yaitu tidak yakin dengan apa yang ia lakukan, sehingga ia berubah-ubah pendirian. Mengapa Yakobus sampai menulis tentang hal ini, bahkan menggambarkan orang bimbang seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan oleh angin? Karena ketika kita sudah berdoa dengan iman yang benar, dengan motivasi yang benar untuk memuliakan Tuhan, sebenarnya Tuhan sudah hampir pasti akan memberikannya kepada kita, tinggal kita menunggu waktu Tuhan. Akan tetapi dalam masa penantian ini, seringkali Iblis mengganggu kita sehingga kita mulai bimbang, apakah Tuhan akan mendengar doa kita, atau apakah doa kita sudah berkenan di hadapan Tuhan. Jika hal ini tidak segera kita atasi, maka yang terjadi adalah kita mulai bimbang.

Bimbang atau ragu-ragu itu adalah salah bukti bahwa iman kita tidak cukup kuat untuk membuat kita percaya kepada Tuhan. Itulah mengapa Yakobus menekankan bahwa orang yang bimbang tidak akan menerima sesuatu dari Tuhan (ay. 7). Bahkan dalam bahasa lain, Yakobus mengatakan bahwa orang yang mendua hati (bimbang), tidak akan tenang dalam hidupnya (ay. 8). Orang Kristen harus memiliki iman yang teguh, yang tidak ragu-ragu, yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Firman Tuhan. Orang Kristen tidak boleh memiliki iman yang kuat tetapi didasarkan pada prinsip yang salah, karena jika demikian, kita akan menjadi sama seperti orang-orang Farisi, yang kuat memegang iman, tetapi tidak mau membuka mata pada kenyataan bahwa Yesus adalah Mesias. Kita harus memiliki iman yang teguh kepada Yesus Kristus, iman yang didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan, sehingga kita bisa berdiri teguh dan tidak terombang-ambingkan oleh apapun juga.


Bacaan Alkitab: Yakobus 1:6-7
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.


Bukan Karena Kecakapan Kita sehingga Tuhan Memilih Kita


Selasa, 7 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 1:26-31
Dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” (1 Kor 1:28)


Bukan Karena Kecakapan Kita sehingga Tuhan Memilih Kita


Dalam Alkitab, kita sering melihat bagaimana Tuhan memilih para pelayan dan hamba-hambaNya yang berasal dari golongan orang biasa, dengan segala kekurangan mereka. Hal paling nyata dapat kita lihat dari 12 murid Yesus yang dipilihNya dari orang-orang biasa, dari nelayan, pemungut cukai, bahkan orang Zelot. Jika kita lihat perjalanan gereja dari zaman gereja mula-mula hingga saat ini, kita pun dapat menemukan banyak orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa yang berasal dari golongan orang biasa. Mungkin saja para pendeta atau hamba Tuhan yang melayani kita di gereja kita masing-masing ada yang berasal dari latar belakang yang biasa-biasa saja, atau malah dari latar belakang yang cukup buruk, namun kemudian Tuhan ubahkan dan justru Tuhan pakai secara luar biasa.

Hal yang sama juga dialami Paulus dalam kehidupannya, dari seorang yang mengejar-ngejar jemaat Tuhan untuk ditangkap, sekarang menjadi mengejar jiwa-jiwa untuk dimenangkan dalam Kristus. Oleh karena itulah Paulus membagikan kepada jemaat di Korintus tentang rahasia panggilan Allah. Paulus menekankan bahwa panggilan Allah itu tidak tergantung pada siapa diri kita. Sama seperti keselamatan itu hanya berdasarkan kasih karunia Allah, bukan karena hasil usaha kita (Ef 2:8), demikian juga panggilan Tuhan itu didasarkan oleh kasih karunia Allah, bukan karena keadaan kita. Justru banyak di antara kita yang dipanggil sewaktu kita masih bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal, bukan orang yang berpengaruh, bukan orang yang terpandang, dan bukan orang yang berhikmat (ay. 26-27a). Tetapi  ketika Allah memutuskan untuk memanggil kita dalam keadaan kita yang apa adanya, ada maksud dan tujuan Tuhan yang luar biasa bagi kita, yaitu untuk menunjukkan bahwa Tuhan dapat memakai kita yang biasa-biasa itu untuk menjadi luar biasa, ketika kita mau menerima panggilanNya (ay. 27b-28).

Jalan Tuhan itu berbeda dengan jalan atau pemikiran dunia. Tuhan bisa mengubah pencuri menjadi penginjil. Tuhan bisa mengubah pembunuh menjadi pendeta, sesuatu yang tidak masuk logika bagi orang-orang dunia. Dan ketika Tuhan melakukan itu, hal tersebut berarti bukan karena kecakapan atau kebaikan kita maka Tuhan memilih kita, tetapi kembali lagi ke prinsip Sola Gracia, yaitu semua karena anugerah dan kasih karuniaNya. Sehingga, ketika suatu saat Tuhan mau untuk memanggil dan memakai kita, kita tidak boleh memegahkan diri kita di hadapan Allah (ay. 29), melainkan haruslah kita bermegah di dalam Tuhan (ay. 31).

Saya sendiri mengalami, bahwa saya adalah seorang yang biasa-biasa saja, bahkan mungkin kehidupan lama saya penuh dengan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Saya tidak pernah sekolah teologi secara formal, saya bukan anak seorang pendeta besar, tetapi Tuhan memampukan saya untuk menulis renungan ini hingga hampir satu tahun lamanya, walau saya sering terlambat menulis renungan karena kesibukan saya. Itu semua karena kasih karunia Tuhan yang diberikanNya kepada saya, bukan karena saya pintar atau karena saya cakap.

Mari hari ini kita mengiingat-ingat, adakah Allah pernah memanggil kita untuk melakukan sesuatu bagiNya? Di dalam Tuhan Yesus, Allah telah membenarkan, menguduskan, dan menebus kita menjadi anak-anakNya dan ahli waris kerajaan Surga (ay. 31). Oleh sebab itu, sudah saatnya kita pun mau melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam kehidupan kita. Bagian kita adalah taat melakukan apa yang Tuhan inginkan, dan janganlah mencuri kemuliaan Tuhan ketika kita telah dipakai Tuhan dengan luar biasa. Ingatlah bahwa segala kemuliaan hanyalah bagi Tuhan (Rm 11:36).




Bacaan Alkitab: 1 Korintus 1:26-31
1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.
1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,
1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,
1:29 supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.
1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
1:31 Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."


Rabu, 08 Agustus 2012

Hati yang Tulus dan Tangan yang Suci


Senin, 6 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 20:1-7
Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.” (Kej 20:5)


Hati yang Tulus dan Tangan yang Suci


Saat ini banyak sekali orang berpacaran yang sudah melampaui batas. Tidak heran jika kita sering mendengar banyak orang yang harus menikah karena “kecelakaan”. Banyak juga yang akhirnya melakukan aborsi karena belum siap menerima risiko hamil sebelum nikah. Sayangnya, hal ini juga banyak terjadi di kalangan orang Kristen. Cukup sering kita melihat bahwa para pemuda atau pemudi Kristen yang terlanjur hamil lalu terpaksa “dinikahkan” di Gereja. Sayangnya, cukup banyak pula pemuda atau pemudi Kristen yang akhirnya menikah dengan orang yang tidak seiman. Sungguh disayangkan apabila terjadi hal seperti itu. Jika mereka hamil duluan dan dua-duanya adalah sama-sama orang percaya, maka hal tersebut tidak akan terlalu sulit, akan tetapi jika salah satunya adalah orang non Kristen, maka akan menjadi jauh lebih sulit karena ada potensi pemuda atau pemudi Kristen tersebut (dan juga anaknya nanti) akan mengikuti agama pasangannya itu.

Lalu bagaimanakah prinsip berpacaran yang baik? Alkitab memang tidak mengenal prinsip berpacaran, karena pacaran itu baru ada di masa modern ini. Akan tetapi ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Alkitab, dan salah satunya akan kita bahas pada hari ini.

Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang Abraham dan Sara yang pindah dari Tanah Negeb dan tinggal di daerah Gerar (ay. 1). Saat itu Abraham takut akan dibunuh karena isterinya, Sara, adalah orang yang cantik (walaupun saat itu Sara sudah tua dan sudah memasuki masa menopause), sehingga Abraham mengatakan bahwa Sara adalah saudaranya, dan tidak mengatakan bahwa Sara adalah isterinya (ay. 2). Hal tersebut mengakibatkan Abimelekh, raja Gerar menyuruh untuk mengambil Sara menjadi isterinya (atau gundiknya).

Sangat mungkin bahwa Abimelekh dalam hal ini sudah menikahi Sara secara adat yang berlaku pada masyarakat zaman itu. Akan tetapi, pada malam Abimelekh telah mengambil Sara, Tuhan datang kepada Abimelekh melalui mimpi dan memperingatkan Abimelekh atas kesalahannya, yaitu mengambil Sara yang sudah bersuami (ay. 3). Tentu saja Abimelekh kaget, dan ia pun membela diri. Perhatikan pembelaan yang diucapkan Abimelekh, “Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tak bersalah? Bukankah orang itu sendiri (Abraham) mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci” (ay. 4-5). Abimelekh mengambil Sara menjadi isterinya bukan karena nafsu semata dan juga bukan karena ambisi atau kekuasaannya sebagai raja Gerar, melainkan dengan hati yang tulus dan tangan yang suci. Untungnya, walaupun Abimelekh telah mengambil Sara, ia belum menghampiri Sara (ay. 4a), sehingga ia masih belum melakukan dosa secara fisik.

Itulah mengapa Tuhan mengingatkan Abimelekh melalui mimpi, yaitu untuk mencegah Abimelekh berbuat dosa, karena Tuhan tahu bahwa Abimelekh telah mengambil Sara dengan hati yang tulus (ay. 6). Walaupun demikian, hati yang tulus dan tangan yang suci saja tidak cukup. Allah ingin agar Abimelekh juga mengembalikan Sara kepada yang berhak, yaitu Abraham, suaminya. Pilihannya hanya ada dua: Pertama, mengembalikan Sara kepada Abraham dengan konsekuensi bahwa ia tidak akan mendapatkan Sara sebagai isterinya, atau Kedua, tidak mengembalikan Sara dengan konsekuensi akan dibunuh Tuhan. Tentu saja Abimelekh akhirnya memilih pilihan kedua yaitu  mengembalikan Sara kepada Abraham.

Apa yang dapat kita pelajari hari ini, adalah bahwa penting kita memiliki hati yang tulus dan tangan yang suci dalam hidup kita, khususnya ketika kita sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Hati yang tulus berarti memiliki motivasi yang benar, dalam konteks berpacaran berarti kita memiliki motivasi dan tujuan yang benar yaitu untuk saling mengenal menuju pernikahan yang kudus. Oleh karena itu jika kita memiliki hati yang tulus, maka kita tidak akan berpacaran dengan orang yang tak seiman, karena kita tahu bahwa hal tersebut tidak akan menyenangkan hati Tuhan. Tangan yang suci berarti kita memiliki sikap yang benar, menjaga kekudusan di hadapan Tuhan, dan tidak melakukan sesuatu yang belum waktunya. Terutama bagi para pemuda dan pemudi Kristen, sudahkah kita memiliki hati yang tulus dan tangan yang suci dalam hidup kita?


Bacaan Alkitab: Kejadian 20:1-7
20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing.
20:2 Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: "Dia saudaraku," maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara.
20:3 Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: "Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami."
20:4 Adapun Abimelekh belum menghampiri Sara. Berkatalah ia: "Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tak bersalah?
20:5 Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci."
20:6 Lalu berfirmanlah Allah kepadanya dalam mimpi: "Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia.
20:7 Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau."

Gereja dan Suara Nabi


Minggu, 5 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 11:27-30
Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea.” (Kis 11:28-29)


Gereja dan Suara Nabi


Saya tidak tahu persis, apakah gereja-gereja yang ada di masa kini masih memiliki nabi-nabi yang menyuarakan kehendak Tuhan?  Andaikata ada gereja yang memiliki nabi (atau orang-orang yang mengaku sebagai nabi atau mengaku memiliki suara kenabian), saya juga tidak tahu persis, apakah perkataan atau nubuatan yang diucapkan orang tersebut benar-benar suara Tuhan ataukah hanya hasil pemikiran orang tersebut.

Jika kita melihat sejarah bangsa Israel, mulai zaman bapa leluhur Israel di zaman Perjanjian Lama, hingga zaman Perjanjian Baru, kita akan menemukan di Alkitab bahwa begitu banyak orang yang menjadi nabi Tuhan, yang menyuarakan kebenaran Firman Tuhan. Salah satunya adalah nabi Agabus, yang termasuk golongan nabi-nabi “terakhir” yang disebutkan dalam Alkitab. Nabi Agabus hidup pada zaman gereja mula-mula. Ia bersama-sama dengan beberapa nabi lain, datang dari Yerusalem ke Antiokhia (ay. 27). Pada zaman itu, Antiokhia merupakan pusat dari gerakan gereja mula-mula. Di Antiokhialah pertama kali jemaat disebut sebagai orang Kristen/Kristiani (Kis 11:26).

Dalam kesempatan itu, salah satu nabi, yaitu Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh Kudus mengatakan bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar (ay. 28). Mungkin saja yang dimaksud dengan “seluruh dunia” adalah “seluruh kerajaan Romawi”, karena pada saat itu, daerah yang dikuasai Romawi mencapai Eropa Barat hingga ke Asia Barat, bahkan sampai ke daerah Afrika Utara. Lagipula, pada zaman itu, dunia yang diketahui baru sebatas itu dan belum sampai hingga ke Asia Timur, Indonesia, bahkan benua Amerika.

Menarik melihat apa reaksi murid-murid (jemaat Kristen) menanggapi suara nabi ini. Mereka sadar bahwa mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa jika kelaparan akan diderita seluruh dunia (termasuk mereka sendiri yang berada di Antiokhia). Akan tetapi di tengah-tengah kekhawatiran mereka bahwa mereka juga akan menderita kelaparan tersebut, mereka tetap melakukan apa yang menurut saya luar biasa, yaitu tetap memberikan sejumlah sumbangan yang akan diberikan kepada jemaat yang ada di Yudea (ay. 29). Mereka bahkan mengirimkannya melalui perantaraan Barnabas dan Saulus (ay. 30), dua orang hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa oleh Tuhan.

Sangat penting bagi gereja untuk memiliki orang-orang yang mempunyai karunia sebagai nabi. Bahkan nabi pun termasuk dalam jabatan gereja, selain rasul, pemberita Injil, gembala, dan pengajar (Ef 4:11). Dalam ayat lain, karunia nabi pun termasuk dalam karunia-karunia yang Tuhan berikan bagi gerejaNya (1 Kor 12:28). Walaupun demikian, suara nabi pun perlu diuji, karena di masa akhir zaman ini, akan muncul banyak nabi-nabi palsu yang akan menyesatkan manusia (Mat 24:11, Mat 24:24, 1 Yoh 4:1). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menguji ucapan orang yang mengaku sebagai nabi, apakah ucapannya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan atau tidak. Karena tidak mungkin Tuhan menyampaikan Firman via nabi dengan isi yang berbeda dari Firman Tuhan di dalam Alkitab.

Salah satu hal lagi yang juga dapat kita lihat adalah apakah perkataan/nubuatan yang diucapkan nabi tersebut benar-benar terjadi atau tidak (Ul 18:22). Seorang nabi yang menyampaikan perkataan yang tidak diberikan oleh Tuhan, akan menanggung hukumannya di hadapan Tuhan. Jika apa yang ia nubuatkan tidak terjadi, apalagi sampai berkali-kali, maka sudah seharusnya kita tidak mendengarkan orang tersebut, karena mungkin saja bahwa selama ini ia hanya menyampaikan perkataannya sendiri, bukan perkataan Tuhan. Karena itu penting bagi kita untuk memiliki pemahaman yang baik akan Firman Tuhan dan peka akan suara Tuhan, sehingga kita dapat membedakan mana suara Tuhan dan mana suara yang bukan dari Tuhan (Yoh 10:4-5).


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 11:27-30
11:27 Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia.
11:28 Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.
11:29 Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea.
11:30 Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.

Ketika Tuhan Tidak Berkenan atas Ibadah Kita


Sabtu, 4 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Amos 5:21-24
Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.” (Am 5:22)


Ketika Tuhan Tidak Berkenan atas Ibadah Kita


Seringkali kita beribadah tanpa motivasi yang benar di hadapan Tuhan. Seringkali kita melayani Tuhan juga tanpa motivasi yang benar di hadapan Tuhan. Coba kita renungkan, ketika kita menghadiri ibadah di gereja yang terakhir kali, apakah motivasi kita? Apakah kita datang hanya karena kewajiban agama semata? Apakah kita datang karena ada orang yang kita taksir juga hadir di ibadah tersebut? Apakah kita datang hanya karena orang tua kita seorang pendeta sehingga kita wajib hadir untuk menjaga nama baik keluarga kita? Apakah kita datang hanya karena tidak enak kepada pak pendeta yang mengajak kita? Apakah kita datang hanya karena rumah kita dekat dengan  gereja? Apakah kita datang karena ada acara makan bersama setelah ibadah?

Jika mau, kita dapat menyusun sebuah daftar yang berisi 1001 alasan mengapa kita datang ke gereja, dan mungkin hal yang sama dapat kita tanyakan ke diri kita sendiri: Apa motivasi kita melayani di gereja? Apa motivasi kita memberi persembahan atau persepuluhan di gereja? Dan saya rasa jawabannya tidak akan berbeda jauh dengan jawaban kita di atas. Tetapi jika kita renungkan, sungguhkah segala yang kita lakukan (beribadah, melayani, dan memberi persembahan) itu berkenan di hadapan Tuhan? Apakah ibadah kita adalah ibadah yang manis dan harum di hadapan Tuhan? Ukuran dari berkenan atau tidak berkenannya ibadah kita di hadapan Tuhan bukan dilihat dari seberapa banyak kita beribadah atau seberapa mewah dan megah ibadah-ibadah yang kita lakukan, tetapi dari seberapa ibadah kita sesuai dengan apa yang Tuhan mau.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan bahwa Tuhan membenci apa yang dilakukan oleh bangsa Israel terkait ibadah mereka kepada Tuhan (ay. 21). Jika sampai Tuhan berkata seperti ini kepada kita, itu berarti apa yang kita lakukan, entah perayaan ibadah kita maupun perkumpulan raya kita sudah tidak berkenan di hadapan Tuhan. Bahkan Tuhan begitu benci kepada ibadah mereka, sehingga persembahan-persembahan yang mereka lakukan (ay. 22), segala puji-pujian dan mazmur yang mereka nyanyikan (ay. 23) sudah tidak berguna lagi di hadapan Tuhan.

Mengapa demikian? Jika kita lihat latar belakang bangsa Israel pada saat itu, secara  rohani mereka hidup jauh dari Tuhan, walaupun secara jasmani mereka tetap  melakukan ibadah-ibadah mereka seperti sediakala. Ibadah yang mereka lakukan adalah ibadah-ibadah lahiriah saja, tanpa ada kerinduan secara rohani dari hati mereka yang terdalam untuk beribadah dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Mereka hanya melakukan rutinitas ibadah dan liturgi mereka, tanpa menyadari siapa Tuhan yang mereka sembah. Salah satu kesalahan yang mereka lakukan adalah tetap melakukan ibadah kepada Tuhan, tetapi di sisi lain mereka melakukan ketidakadilan, mereka tetap melakukan penyembahan berhala, mereka menindas sesama mereka. Itulah mengapa Tuhan sendiri mengatakan “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (ay. 24), karena bangsa Israel waktu itu tidak konsisten dengan apa yang mereka lakukan dalam ibadah-ibadah mereka.

Perenungan bagi kita hari ini, sudahkah kita memiliki motivasi yang benar ketika kita datang beribadah kepada Tuhan? Sudahkah kita memiliki hati yang mencari Tuhan setiap kali kita datang kepadaNya, dan bukan hanya sekedar mencari berkatNya? Atau dalam konteks yang lebih luas lagi, apakah kita hanya menjalankan ibadah-ibadah kita secara lahiriah semata, dan dalam kehidupan sehari-hari, kita justru melakukan apa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan? Apakah di gereja kita memakai topeng untuk menutupi segala yang kita lakukan? Ingat, bahwa sia-sia kita beribadah ketika Tuhan tidak berkenan kepada ibadah kita. Ibadah kita seharusnya adalah ibadah yang berkenan kepada Tuhan, yaitu ketika kita mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan yang kita sembah (Rm 12:1)




Bacaan Alkitab: Amos 5:21-24
5:21 "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.
5:22 Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.
5:23 Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.
5:24 Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Jumat, 03 Agustus 2012

Indera Seorang Hamba Tuhan


Jumat, 3 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Yesaya 50:4-6
Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” (Yes 50:4)


Indera Seorang Hamba Tuhan


Seorang yang telah menjadi hamba Tuhan, atau minimal mengaku sebagai hamba Tuhan, seharusnya memiliki perilaku yang komplit luar dalam yang memuliakan Tuhan. Seorang hamba Tuhan harus mencerminkan Tuhan yang ia layani dalam segala aspek hidupnya, tidak hanya melalui perkataan yang ia sampaikan di atas mimbar misalnya, tetapi juga dari apa yang ia lakukan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam kehidupan bertetangga dan juga kehidupan keluarganya.

Nabi Yesaya adalah salah satu hamba Tuhan yang dipanggil Tuhan dan dipakai Tuhan secara luar biasa pada zamannya. Yesaya menyadari panggilannya, bahwa ia dipanggil terutama untuk menjadi nabi Tuhan yang menyuarakan isi hati Tuhan kepada bangsa Yehuda (Yes 6:8-9). Dalam pasal 50, kembali Yesaya menyampaikan bahwa Tuhan telah memberikan kepada Yesaya lidah seorang murid (ay. 4). Lho, kok Tuhan malah memberi Yesaya lidah seorang murid? Bukankah seharusnya Tuhan memberikan lidah seorang pengajar?

Ini yang akan kita pelajari dari Yesaya, bahwa seorang hamba Tuhan atau pelayan Tuhan pertama-tama harus menjadi murid terlebih dahulu sebelum dapat memuridkan atau mengajar orang lain. Kesebelas murid-murid Yesus (minus Yudas yang sudah mati akibat berkhianat kepada Yesus), terlebih dahulu belajar dari Yesus selama kurang lebih 3,5 tahun sebelum akhirnya mereka menjadi para pemberita Injil yang akhirnya memuridkan orang lain.

Lidah adalah salah satu indera terpenting yang dimiliki seorang hamba Tuhan, karena dengan lidah ia memuji dan memuliakan Tuhan dan juga mengajar orang lain. Tetapi lidah juga sangat mudah digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Oleh karena itu penting bagi seorang hamba Tuhan untuk memiliki lidah seorang murid, yang hanya menyampaikan apa yang diterima dari gurunya, yaitu Tuhan sendiri, kepada orang yang membutuhkannya (ay. 4b).

Terkait dengan hal itu, sebelum seorang hamba Tuhan bisa memiliki lidah yang dapat memberi semangat bagi orang-orang yang letih lesu, hamba Tuhan tersebut perlu memiliki telinga seorang murid (ay. 4c). Seorang murid harus mendengar apa yang diajarkan gurunya. Ia tidak boleh mendengarkan apa yang diajarkan orang lain tetapi harus fokus mendengar suara gurunya (ay. 5). Ketika seorang murid memberontak dan tidak mau mendengarkan suara gurunya, maka di mata guru tersebut, orang itu sudah bukan muridnya lagi. Ketika murid tersebut sudah memiliki level yang sama dengan gurunya, barulah sang guru boleh menyatakan bahwa murid tersebut telah lulus dalam pelajarannya. Jadi, jika seorang murid tidak mau mendengarkan apa yang diajarkan oleh guru tersebut, bagaimana murid tersebut bisa memiliki tingkatan yang sama dengan gurunya?

Selain itu, seorang hamba Tuhan juga harus memiliki hati seperti murid. Sama seperti dunia membenci Yesus karena Yesus tidak berasal dari dunia, maka seorang hamba Tuhan juga harus siap dibenci oleh dunia karena ia adalah murid Yesus (Yoh 15:18-19). Yesaya menggambarkan dengan jelas sekali konsekuensi atau risiko yang harus ditanggung seorang hamba Tuhan, yaitu ketika ia harus mengalami aniaya, maka ia harus siap menerimanya (ay. 6). Hal ini konsisten dengan ajaran Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa jika ada orang yang menampar pipi kanan kita, maka kita pun harus memberikan pipi kiri kita (Mat 5:39).

Sekali lagi, tidak mudah menjadi hamba Tuhan. Harus ada harga yang kita bayar untuk dapat memiliki perkataan, pendengaran, dan hidup yang sesuai dengan standar Yesus. Menjadi hamba Tuhan bukan hanya membayangkan hal yang enak-enak saja, tetapi juga harus siap menghadapi aniaya yang mungkin harus kita terima. Untuk itulah seorang hamba Tuhan harus memiliki sikap hati sebagai murid, yang selalu memiliki keinginan dan kerinduan selalu belajar dari Guru Agung kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus.


Bacaan Alkitab: Yesaya 50:4-6
50:4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.
50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.
50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Membuat Tuhan Tidak Dapat Menahan HatiNya untuk Menolong Kita


Kamis, 2 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 10:10-16
Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada TUHAN. Maka TUHAN tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.” (Hak 10:16)


Membuat Tuhan Tidak Dapat Menahan HatiNya untuk Menolong Kita


Seseorang yang telah memiliki anak pada umumnya akan mengalami kondisi dimana kita tidak mampu lagi menolak permintaan anak yang meminta sesuatu kepada kita, walaupun kadang-kadang apa yang diminta anak kita sebenarnya adalah hal yang tidak berguna. Jika terhadap permintaan yang tidak berguna saja kadang-kadang kita akhirnya terenyuh dan memberikan apa yang anak kita minta, bagaimana perasaan kita jika anak kita meminta pertolongan kepada kita, misal dalam kondisi sakit atau dalam kondisi darurat lainnya? Bukankah kita pasti akan segera menolong anak kita yang meminta pertolongan kita, walaupun mungkin saja hal tersebut disebabkan oleh kelalaian anak kita, misalnya karena bermain benda tajam sehingga anak kita terluka?

Jika kita sebagai manusia saja dapat bertindak seperti itu, bagaimana perasaan Tuhan jika manusia yang diciptakanNya berseru-seru minta tolong? Bangsa Israel menjadi gambaran paling bagus untuk belajar tentang hati Tuhan. Bangsa Israel adalah bangsa yang menurut saya kurang ajar, sudah merasakan mujizat Tuhan berkali-kali, sudah mendapatkan nabi-nabi yang diutus Tuhan berkali-kali, akan tetapi kehidupannya masih sama bahkan semakin hari lebih parah, karena mereka menyembah dewa-dewa dan allah-allah lain. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan bagaimana bangsa Israel telah berdosa kepada Tuhan dan Tuhan menghukum mereka dengan menyerahkan mereka ke tangan orang Filistin dan orang Amon (Hak 10:7). Mereka akhirnya berseru-seru kepada Tuhan dan mengaku dosa mereka di hadapan Tuhan (ay. 10).

Menarik melihat jawaban Tuhan kepada bangsa Israel (ay. 11-14). Tuhan seakan-akan membiarkan seruan bangsa Israel, dan justru menyuruh orang Israel meminta tolong kepada dewa-dewa yang mereka sembah selama ini (ay. 14). Tuhan bahkan sudah berkata bahwa selama ini Tuhan sudah menolong bangsa Israel dari tangan orang Mesir, orang Amori, orang Amon, orang Filistin, orang Sidon, orang Amalek, dan juga orang Maon ketika mereka berseru kepada Tuhan (ay. 11-12), tetapi apa balasannya? Orang Israel justru malah meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah lain (ay. 13a). Karena begitu kesalnya dengan bangsa Israel, Tuhan bahkan sempat mengucapkan perkataan bahwa Ia tidak akan menyelamatkan bangsa Israel lagi (ay. 13b).

Untungnya ketika mendengar ucapan Tuhan seperti itu, bangsa Israel tetap berseru kepada Tuhan, “Tuhan, kami telah berbuat dosa. Terserah Kau mau hukum kami seperti apa sesuai dengan kehendakMu, hanya saja, tolonglah kami sekarang ini” (ay. 15). Bangsa Israel sadar akan dosa-dosa mereka dan siap menghadapi konsekuensi apapun dari Tuhan. Namun, bangsa Israel tetap meminta pertolongan Tuhan saat itu. Mereka tidak hanya berkata-kata saja kepada Tuhan, tetapi juga bertindak yaitu dengan menjauhkan allah-allah asing dari tengah-tengah mereka dan beribadah kepada Tuhan (ay. 16a).

Sebenarnya apa yang dilakukan bangsa Israel sudah pernah dilakukan sebelumnya. Bahkan jika mau jujur saya katakan, inilah pola orang Israel: dibebaskan dari masalah, lalu lambat laun kembali jatuh dalam penyembahan berhala, lalu ditindas bangsa asing, lalu minta tolong kepada Tuhan dan bertobat, lalu Tuhan membebaskan dari masalah, dan begitu terus berulang setiap waktu. Dan hal ini juga sering kita lakukan. Ketika kita dalam persoalan, kita sering berseru kepada Tuhan, namun ketika masalah kita sudah selesai, maka kita pun kembali “cuekin” Tuhan. Maka tidak heran apabila Tuhan sering memberi masalah dalam kehidupan kita, karena justru dengan adanya masalah kita malah semakin sering berdoa dan mencari Tuhan.

Untungnya, bacaan Alkitab kita hari ini ditutup dengan sebuah akhir yang indah, yaitu Tuhan akhirnya tetap menolong bangsa Israel, karena Tuhan tidak dapat lagi menahan hatiNya melihat kesukaran yang mereka alami (ay. 16). Ini salah satu karakter Tuhan, yaitu tidak dapat menahan hati melihat kesusahan anak-anakNya. Hal ini bukan berarti kita bisa berbuat dosa seenak kita lalu kita berseru-seru minta tolong, akan tetapi hal ini menunjukkan bahwa ketika kita melakukan dosa atau kesalahan dan kita mau bertobat, mengakui dosa dan kesalahan kita, serta berbalik dari jalan kita yang salah dan sungguh-sungguh berseru kepada Tuhan, maka Tuhan tidak akan mampu menolak kita.

Walaupun demikian, hal tersebut juga ada batasnya. Selama kita hidup, kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan Tuhan akan membuka tangannya dan menolong kita. Akan tetapi setelah kita mati, maka sudah tidak ada lagi kesempatan bagi kita untuk bertobat dan meminta kasih karunia serta pengampunan Allah bagi kita (bandingkan Luk 16:19-31). Selain itu kita juga sudah tidak memiliki kesempatan untuk bertobat lagi ketika Tuhan Yesus sudah datang untuk kedua kali ke bumi. Saat Tuhan Yesus datang kembali, maka kita akan dihakimi menurut iman dan perbuatan kita (Why 20:12-15). Jadi, selagi hari ini masih ada kesempatan, mari kita segera bertobat dengan sungguh-sungguh dan meminta pertolongan Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak dapat menahan hati untuk menolong anak-anakNya yang berseru-seru kepadaNya. Mari kita bertobat dan berseru kepada Tuhan selagi ada kesempatan, yaitu sebelum hidup kita berakhir dan sebelum Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya.



Bacaan Alkitab: Hakim-hakim 10:10-16
10:10 Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, katanya: "Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal."
10:11 Tetapi firman TUHAN kepada orang Israel: "Bukankah Aku yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir, orang Amori, bani Amon, orang Filistin,
10:12 orang Sidon, suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku?
10:13 Tetapi kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi.
10:14 Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak."
10:15 Kata orang Israel kepada TUHAN: "Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!"
10:16 Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada TUHAN. Maka TUHAN tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.