Selasa, 14 Agustus 2012

Berpegang pada Visi dari Tuhan


Selasa, 14 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Kejadian 37:5-11
Lalu ia [Yusuf] memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku."” (Kej 37:9)


Berpegang pada Visi dari Tuhan


Yusuf adalah salah satu manusia yang luar biasa, tidak hanya pada zamannya, tetapi hingga masa sekarang ini. Apa rahasia sukses Yusuf, sehingga  ia bisa menjadi orang yang sangat hebat di manapun ia berada? Salah satu kuncinya adalah bagaimana dalam masa mudanya, ia mendapatkan visi dari Tuhan dan berpegang teguh pada visi itu hingga ia berhasil mewujudkan visi tersebut.

Bacaan Alkitab kita hari ini mengatakan bahwa pada suatu kali Yusuf mendapatkan mimpi dari Tuhan, kemudian mimpi tersebut diceritakannya kepada saudara-saudaranya (ay. 5). Yusuf ini adalah anak pertama Yakub dari Rahel, isteri yang dicintainya, sehingga Yusuf mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari Yakub, dan hal tersebut membuat saudara-saudaranya iri kepadanya (Kej 37:3-4). Saudara-saudara Yusuf pun semakin iri kepada Yusuf karena mimpi yang diceritakan Yusuf itu, yaitu berkas-berkas gandum milik saudaranya sujud menyembah kepada berkas gandum milik Yusuf (ay. 6-7). Saudara-saudaranya kemudian berkata dengan nada menyindir, “Apakah engkau ingin menjadi raja dan berkuasa atas kami?” (ay. 8).

Tetapi setelah mimpi yang pertama tersebut, Yusuf kemudian mendapatkan mimpi yang lain yaitu matahari, bulan, dan sebelas bintang sujud menyembah kepadanya (ay. 9). Setelah mendapatkan mimpi yang kedua, Yusuf kemudian menceritakannya kepada ayahnya dan saudara-saudaranya. Saat itu Yakub pun menegor Yusuf dengan berkata, “Mimpi apa itu? Masakan aku dan ibumu dan saudara-saudaramu akan menyembah kepadamu?” (ay. 10). Alkitab mengatakan bahwa setelah mendengar mimpi tersebut, saudara-saudaranya menjadi tambah benci kepada Yusuf, tetapi ayahnya (Yakub) menyimpan hal itu dalam hatinya (ay. 11).

Apa yang dapat kita pelajari di sini? Sebenarnya Yusuf pun sudah tahu makna dari mimpi-mimpi tersebut. Hal ini terlihat dari tindakan Yusuf, yang pada mimpi pertama hanya menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, dan pada mimpi kedua ia menceritakan juga kepada ayahnya dan saudara-saudaranya. Kemampuan mengartikan mimpi tersebutlah yang akhirnya membawa Yusuf pada posisi sebagai wakil Firaun, setelah ia berhasil mengartikan dua buah mimpi Firaun.

Dalam bahasa Inggris, mimpi (dream) juga dapat diartikan sebagai penglihatan (vision). Kata vision ini juga dapat diterjemahkan sebagai visi. Jadi Yusuf memegang teguh mimpi (visi) yang ia dapatkan dari Tuhan, sehingga ia pun dapat menjadi orang yang berhasil. Visi inilah yang membuat Yakub sanggup bertahan ketika ia dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, bahkan menjadi tahanan karena apa yang ia sebenarnya tidak lakukan. Visi itu membuat Yusuf sabar menantikan waktu Tuhan bahkan ketika keadaan di sekitarnya tidak seperti apa yang ia inginkan. Dalam Alkitab kita tidak pernah menemukan catatan bahwa Yusuf pernah mengeluh atas apa yang ia alami dalam kehidupannya. Mengeluh dan bersyukur adalah dua hal yang saling bertentangan. Orang yang mengeluh adalah orang yang tidak bersyukur, dan orang yang tidak mengeluh berarti adalah orang yang bersyukur senantiasa kepada Tuhan.

Sudah saatnya kita berpegang kepada visi yang dari Tuhan. Paulus pun mengatakan kepada raja Agripa bahwa “Kepada penglihatan yang dari sorga (heavenly vision) itu tidak pernah aku tidak taat”. Dari bahasa Inggris ayat tersebut juga dapat berbunyi, “Kepada visi dari surga itu, tidak pernah aku tidak taat”. Jika kita perhatikan sikap Yakub dan saudara-saudara Yusuf yang lain pada ayat 11, kita pun akan melihat bahwa ketika saudara-saudara Yusuf semakin benci kepada Yusuf, Yakub justru menyimpan semua hal itu dalam hatinya. Yakub sebagai orang yang sudah berpengalaman dengan hal-hal supranatural bersama Tuhan, menyadari bahwa jika Tuhan sudah memberikan visi itu kepada Yusuf, maka bisa jadi memang Tuhan menginginkan Yusuf menjadi raja, bahkan ketika Yakub harus menyembah Yusuf, anaknya yang ia kasihi tersebut.

Memang kita pun harus menguji apakah suatu visi yang kita terima itu adalah benar-benar visi dari Tuhan. Akan berbahaya jika seorang pendeta misalnya, mengatakan kepada jemaatnya bahwa ia mendapatkan visi dari Tuhan padahal sebenarnya itu adalah visinya sendiri dan bukan visi dari Tuhan. Tuhan pasti akan menuntut pertanggungjawaban dari pendeta tersebut ketika hari penghakiman tiba. Tetapi apabila kita yakin bahwa visi tersebut adalah visi dari Tuhan, maka kita pun harus berpegang teguh kepada visi tersebut.



Bacaan Alkitab: Kejadian 37:5-11
37:5 Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.
37:6 Karena katanya kepada mereka: "Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini:
37:7 Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu."
37:8 Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?" Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu.
37:9 Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku."
37:10 Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?"
37:11 Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.

Jumat, 10 Agustus 2012

Mempersiapkan bagi Generasi yang Akan Datang


Senin, 13 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 22:14-16
Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.” (1 Taw 22:14)


Mempersiapkan bagi Generasi yang Akan Datang


Saya saat ini setiap minggunya beribadah di sebuah gereja di kota asal isteri saya, dan biasanya saya pun diminta untuk melayani di gereja tersebut sebagai pemusik, sesuai dengan talenta saya. Akan tetapi saya sadar, bahwa sebentar lagi saya juga akan meninggalkan gereja tersebut karena saya akan beribadah di kota saya sendiri. Saya pun sempat berpikir, apa yang akan saya tinggalkan di sana? Saat ini saya tidak mungkin meninggalkan uang ataupun bahan bangunan untuk membangun gereja tersebut menjadi lebih besar. Saat ini saya juga tidak mungkin membelikan seluruh isi perlengkapan gereja seperti kursi dan AC agar gereja tersebut bisa menjadi nyaman. Salah satu yang bisa saya berikan adalah bagaimana saya bisa mentransfer talenta saya dalam bidang musik kepada jemaat di gereja tersebut yang memiliki kerinduan untuk melayani, sehingga ketika saya pergi, ada generasi penerus yang tetap bisa melayani Tuhan di sana sebagai pemusik.

Demikian juga halnya dengan raja Daud. Raja Daud sendiri sudah ingin membangun sebuah rumah bagi Tuhan. Akan tetapi Tuhan tidak mengizinkannya karena Daud sendiri sudah banyak menumpahkan darah ketika berperang (1 Taw 22:8), oleh karena itu rumah Tuhan akan dibangun oleh Salomo, yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Oleh karena itu, Daud tidak hanya berpangku tangan dan membiarkan nanti Salomo yang membangun rumah Tuhan tersebut, tetapi Daud juga menyiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan dalam pembangunan rumah Tuhan oleh Salomo, anaknya.

Alkitab mengatakan bahwa Daud telah menyediakan 100.000 talenta emas dan 1.000.000 talenta perak, belum terhitung tembaga, besi, kayu dan batu yang tidak tertimbang beratnya (ay. 14). Kamus Alkitab kita mengatakan bahwa satu talenta itu setara dengan 34 kilogram. Sehingga perkiraan jumlah emas dan perak yang disiapkan Daud adalah 3,4 juta kilogram emas dan 34 juta kilogram perak. Jika harga emas saat ini adalah sekitar Rp500 ribu per gramnya dan harga perak saat ini adalah sekitar Rp100 ribu per gramnya, maka jumlah emas tersebut setara dengan nilai Rp1,7 triliun dan perak senilai Rp3,4 triliun, totalnya adalah Rp5,1 triliun, belum termasuk nilai bahan bangunan lainnya dan upah pekerjanya. Boleh dikatakan ini adalah salah satu proyek dengan anggaran termahal dalam sejarah Alkitab, bahkan mungkin termahal dalam sejarah dunia.

Kita juga dapat melihat bahwa Daud juga mempersiapkan para pekerjanya yang kompeten di bidangnya masing-masing yaitu para pemahat batu, tukang batu, tukang kayu, dan para ahli lainnya (ay. 15). Mereka dipersiapkan dari jauh-jauh hari oleh Daud agar bangunan rumah Tuhan dapat dibangun sebagus mungkin. Daud menyadari bahwa ketika kita mau memberikan yang terbaik untuk Tuhan, maka Tuhan pun juga akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Satu hal lagi yang dilakukan Daud walaupun tidak tertulis dalam bacaan Alkitab kita hari ini adalah memberikan keamanan bagi Salomo. Pada masa raja Daud memerintah, ia melakukan begitu banyak usaha untuk menjaga keamanan negerinya. Ia berperang melawan orang Filistin, merebut Yerusalem, dan bahkan memadamkan pemberontakan anaknya, agar nantinya Salomo ketika bertahta memiliki kerajaan yang sudah aman dan stabil. Raja Daud berjuang begitu keras hingga ia pun tidak diizinkan Tuhan membangun rumah Tuhan karena tangannya telah berlumuran darah. Raja Daud berkorban sedemikian besar agar Salomo dapat membangun rumah Tuhan dalam keadaan yang tenang dan damai

Walaupun demikian, Daud menyadari bahwa hal itu mungkin tidak cukup, tetapi Daud pun hanya mampu menyediakan sejumlah itu bagi Salomo, karena kondisi kerajaan Israel pada waktu itu pun dalam kesusahan, karena adanya peperangan dan pemberontakan yang cukup menguras kas negara.  Akan tetapi, Daud pun memberikan hal terakhir yang ia miliki kepada Salomo, yaitu semangatnya. Daud memberikan semangat kepada raja Salomo untuk mulai bekerja membangun rumah Tuhan. Daud memberikan kata-kata motivasi kepada Salomo, dan memberikan pesan terakhir yang sangat menguatkan yaitu “Tuhan kiranya menyertai engkau!” (ay. 16).

Sudahkah kita melakukan seperti apa yang raja Daud lakukan kepada Salomo? Sudahkah kita menyiapkan sesuatu bagi generasi penerus kita? Mungkin kita sudah menyiapkan semacam tabungan dan asuransi bagi anak-anak kita, tetapi apakah yang telah kita berikan khususnya bagi generasi penerus kita di jemaat atau gereja kita? Sudahkah kita memberikan teladan bagi mereka? Sudahkah kita menyiapkan bekal bagi mereka agar nantinya mereka juga bisa menjadi sama seperti kita, bahkan menjadi lebih baik dari kita? Jika belum, mungkin sudah saatnya kita memikirkan warisan apa yang akan kita berikan kepada generasi penerus kita (Ams 13:22).



Bacaan Alkitab: 2 Tawarikh 22:14-16
22:14 Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.
22:15 Lagipula engkau mempunyai sangat banyak pekerja, yakni pemahat-pemahat batu, tukang-tukang batu dan kayu dan orang-orang yang ahli dalam segala macam pekerjaan
22:16 emas, perak, tembaga dan besi, yang tidak terhitung banyaknya. Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!"

Firman Tuhan dalam Kitab Suci


Minggu, 12 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:15-16
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Tim 3:16)


Firman Tuhan dalam Kitab Suci


Apakah kita mengetahui bagaimana sejarah Alkitab sehingga hari ini kita bisa membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia dengan mudah? Pada zaman dahulu, Alkitab disalin dengan tangan dan ditulis dalam perkamen-perkamen, sehingga Alkitab itu hanya milik pemimpin-pemimpin gereja, dan jemaat hanya bisa mendengarkan Firman Tuhan ketika mereka datang ke gereja, itu pun dalam bahasa latin. Tetapi seiring perkembangan zaman, dengan adanya percetakan, Alkitab mulai dapat dicetak lebih banyak lagi tanpa harus disalin dengan tangan. Di sisi lain, para pemimpin gereja pun menyadari bahwa agar jemaat dapat mengerti Firman Tuhan, maka Alkitab pun harus diterjemahkan ke bahasa lokal. Di Indonesia sendiri, proses penerjemahan Alkitab memakan waktu lama dari tahun 1800-an (saat itu bahasa Alkitab masih merupakan terjemahan yang masih sulit dibaca) hingga akhirnya muncul Alkitab Terjemahan Baru pada tahun 1970-an yang menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. Saat ini pun Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga sudah menerjemahkan Alkitab ke sejumlah bahasa daerah di Indonesia. Bahkan seiring berkembangnya teknologi, saat ini ada Alkitab Elektronik yang dapat di-install pada komputer maupun handphone, bahkan dengan mudah kita dapat mencari ayat di internet. Di beberapa gereja besar, ayat Alkitab pun dapat ditayangkan di layar melalui proyektor ketika pendeta sedang berkhotbah.

Sayangnya, semakin banyak orang Kristen tidak menyadari sejarah Alkitab ini, sehingga saya melihat kecenderungan orang Kristen pun semakin tidak menghargai Alkitab. Coba lihat saja, ketika ibadah raya hari Minggu di gereja, berapa banyak orang yang membawa Alkitab, dan berapa banyak orang yang tidak membawa Alkitab, tetapi mereka justru membuka handphone atau tablet mereka untuk membaca ayat-ayat Firman Tuhan? Berapa banyak pula orang yang hanya mengandalkan ayat Alkitab yang ditampilkan di layar besar? Memang mungkin saja orang membawa tablet mereka untuk membaca Firman Tuhan karena ia sudah tidak dapat lagi membaca tulisan-tulisan yang kecil. Akan tetapi jujur saja, saya melihat lebih banyak orang yang membaca Firman Tuhan di gadget mereka karena mereka ingin menunjukkan gadget mereka. Saya ragu orang-orang seperti ini memiliki kebiasaan membaca Alkitab yang baik dalam hidup keseharian mereka.

Paulus memberi pesan kepada Timotius untuk mengingat bahwa sejak kecil, Timotius sudah mengenal Kitab Suci yang telah memberi hikmat dan menuntun Timotius kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (ay. 15). Paulus juga menekankan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah (di dalam Kitab Suci) itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (ay. 16), sehingga kita pun diperlengkapi untuk melakkan perbuatan baik (ay. 17).

Begitu banyak manfaat dari Firman Tuhan dalam Kitab Suci. Perhatikan bahwa Alkitab kita menggunakan kata “Kitab Suci”, bukan “handphone suci” atau “tablet suci” atau “Laptop suci”. Menurut saya ini merujuk pada Alkitab yang memang keseluruhan bukunya (atau kitabnya) memang berisi Firman Tuhan seluruhnya, paling-paling ada edisi lain seperti Alkitab plus Kidung Jemaat, atau Alkitab edisi studi, yang terdapat tambahan berupa buku lagu Kidung Jemaat atau penjelasan Alkitab, tapi seluruhnya adalah hal-hal yang bersifat rohani. Kita tidak akan pernah melihat LAI menerbitkan Kitab yang di dalamnya berisi Alkitab, resep masakan, komik, berita selebritis, dan lain-lain. Bandingkan dengan handphone, tablet, atau laptop kita yang walaupun ada program Alkitab di dalamnya, tapi juga berisi file-file lain seperti pekerjaan, musik, film-film, dan bahkan mungkin hal-hal yang sebenarnya tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Itulah mengapa saya memiliki pandangan yang agak konservatif dalam hal Firman Tuhan dan teknologi, yaitu orang Kristen seharusnya memiliki Firman Tuhan dalam bentuk Kitab Suci, dan memiliki kesukaan membaca Firman Tuhan dalam Kitab Suci tersebut, serta membawa Kitab Suci tiap kali kita datang beribadah. Saya rasa harga Alkitab ukuran normal cukup terjangkau untuk ukuran saat ini. Alkitab bukan barang mahal seperti puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Dan akan sangat disayangkan apabila kita sebagai orang Kristen justru tidak pernah membaca Firman Tuhan di dalam Kitab Suci.

Teknologi memang sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat mencari ayat di internet dengan mudah. Saya sendiri menulis renungan ini dan memuatnya di blog saya agar lebih banyak orang dapat lebih mudah mengaksesnya. Akan tetapi saya sebagai penulis renungan juga harus membaca Firman Tuhan dengan porsi yang lebih banyak. Dan menurut saya, kecuali ada alasan tidak dapat membaca Alkitab karena tulisannya yang terlalu kecil, jauh lebih mudah untuk membaca Firman Tuhan dalam bentuk tulisan di Kitab Suci, daripada membaca Firman Tuhan dalam bentuk lain, sekalipun itu di komputer yang memiliki kemudahan untuk mencari (search) ayat atau kata tertentu.

Saya rindu melalui tulisan saya hari ini, kita memiliki kerinduan kembali untuk membaca Firman Tuhan secara rutin setiap harinya. Firman Tuhan itu makanan rohani bagi kita, dan sama seperti tubuh kita memerlukan makanan jasmani setiap harinya, demikian juga roh dan jiwa kita membutuhkan makanan rohani setiap harinya. Jangan mau kalah dengan orang-orang dari agama lain yang bisa menghafalkan ayat-ayat dalam kitab suci versi mereka. Sudah saatnya kita sebagai orang Kristen juga membaca Alkitab dan menghafalkannya, sama seperti dahulu pada waktu sekolah minggu kita belajar menghafal ayat. Ingatlah bahwa seberapa banyak Firman Tuhan yang kita simpan dalam hati kita, itulah faktor yang membuat kita mampu menjalani kehidupan ini dengan berkemenangan setiap harinya.


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:15-16
3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Janda yang Baik


Sabtu, 11 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 5:3-16
Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan -- pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.” (1 Tim 5:9-10)


Janda yang Baik


Definisi kata “janda” merujuk pada seorang wanita yang telah ditinggal suaminya pergi. Dalam makna yang umum kita jumpai di masyarakat, seorang wanita dapat menjadi janda ketika suaminya meninggal dunia, atau meninggalkan wanita tersebut dalam artian menceraikannya. Alkitab kita melalui surat Paulus yang pertama kepada Timotius ini, memberi perhatian khusus kepada janda yang ada di dalam jemaat, karena hal ini berpotensi menimbulkan masalah dalam jemaat jika tidak ditangani dengan baik.

Secara umum dalam tulisannya ini, Paulus membagi dua kategori janda dalam jemaat, yaitu janda yang “baik” dan janda yang “kurang baik”. Kita akan melihat bagaimana ciri-ciri janda yang “baik” dan janda yang “kurang baik” tersebut, karena mereka harus diperlakukan secara berbeda.

Pertama, janda yang “baik” adalah janda yang hidup dengan menaruh pengharapannya kepada Allah dan tekun berdoa (ay. 5). Hal ini tentu terkait dengan kondisinya yang sudah tidak dapat mengandalkan suaminya lagi, sehingga ia hanya dapat bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Janda yang “baik” adalah janda yang hidup dengan tidak bercela (ay. 7). Janda yang “baik” adalah janda yang hanya sekali bersuami, bukan yang berkali-kali menikah lagi, karena hal tersebut menunjukkan kesetiaannya (ay. 9b). Janda yang “baik” adalah janda yang melakukan pekerjaan baik di lingkungan jemaat, bahkan masyarakat (ay. 10).

Sementara itu janda yang “kurang baik” adalah janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan (ay. 6), dan tidak memeliharakan sanak saudaranya yang masih ada (ay. 8a). Janda yang “kurang baik” adalah janda yang sering keluyuran keluar masuk rumah orang untuk menggosip atau melakukan hal-hal yang kurang baik dan hidup dengan bermalas-malasan saja (ay. 13). Paulus mengatakan bahwa janda seperti ini justru adalah orang-orang yang lebih buruk dari orang yang tidak beriman (ay. 8b), dan berpotensi untuk tersesat mengikuti iblis (ay. 15).

Persoalan janda ini memang kelihatan sederhana, tetapi juga bisa membebani jemaat, dan juga bisa menjadi hal yang menjelek-jelekkan nama jemaat, apabila jemaat Tuhan tidak bertindak dengan bijaksana. Oleh karena itu, Paulus pun menyarankan agar definisi janda yang dibantu oleh jemaat adalah janda yang secara usia memang sudah tua, berumur lebih dari 60 tahun (ay. 9a), karena janda-janda yang lebih muda, cenderung untuk memiliki keinginan bersuami lagi (ay. 11-12), dan dapat berpotensi membuat nama jemaat menjadi tercoreng, apabila janda yang muda tersebut menikah dengan suami yang tidak seiman misalnya.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Jika ada di antara kita yang berstatus janda, tentunya kita harus memperhatikan betul Firman Tuhan hari ini agar kita menjadi janda-janda yang “baik”, yang memuliakan Tuhan. Hamba-hamba Tuhan dan juga jemaat Tuhan pun perlu memiliki sikap yang benar terhadap janda-janda. Mereka harus menghormati janda-janda yang “baik” (ay. 3) dengan cara membantu kehidupan janda-janda tersebut. DI satu sisi, jika kita memiliki anggota keluarga yang menjadi janda, sudah sepatutnya kita terlebih dahulu membantu anggota keluarga kita tersebut sehingga tidak menjadi beban bagi jemaat yang lain (ay. 16). Kita harus dapat berbakti kepada anggota keluarga kita yang telah menjadi janda, entah orang tua kita, atau nenek kita (ay. 4). Dengan demikian, jemaat Tuhan dapat benar-benar memberikan bantuan kepada janda-janda yang membutuhkan.


Bacaan Alkitab: 1 Timotius 5:3-16
5:3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.
5:4 Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.
5:5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.
5:6 Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.
5:7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela.
5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.
5:9 Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali bersuami
5:10 dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan, membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang yang hidup dalam kesesakan -- pendeknya mereka yang telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat baik.
5:11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin
5:12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya.
5:13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.
5:14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita.
5:15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis.
5:16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Masih Kanak-kanak atau Sudah Dewasa?


Jumat, 10 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 13:11-12
Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Kor 13:11)


Masih Kanak-kanak atau Sudah Dewasa?


Ketika saya masih sekolah di tingkat SMU, adik perempuan saya yang masih SMP menjalin hubungan (entah pacaran atau entah masih cinta monyet) dengan salah seorang remaja di gereja saya. Mungkin karena usianya masih muda, jadi apa yang mereka lakukan ya hampir sama seperti apa yang biasa remaja-remaja lakukan, yaitu jalan bareng, ngobrol bareng, dan lain sebagainya. Hanya saja, mereka biasanya hanya bertemu di gereja saja setiap minggunya. Tiba-tiba suatu hari remaja itu datang ke rumah saya untuk bertemu adik saya itu. Akan tetapi, ada yang aneh, ia datang dengan mengajak teman-teman SMP-nya dengan total enam orang termasuk dirinya. Saya saat itu agak heran dengan anak ini, okelah jika ingin berkunjung dan malu datang sendiri, ya sebaiknya mengajak satu orang teman saja sudah cukup, lha ini malah mengajak serombongan dan “bertamunya” pun hanya di luar rumah di depan pagar. Sejak itu sepertinya hubungan adik saya dengan anak tersebut lama-lama renggang dan akhirnya putus.

Ketika saya mengingat kembali kejadian tersebut, saya berpikir, mengapa anak itu sampai melakukan hal yang aneh seperti itu ya? Mungkin saja kalau ia berani datang sendiri ke rumah, ia akan diterima dengan baik di rumah saya. Tetapi justru karena membawa teman-temannya, hal itu malah menjatuhkan image-nya di depan adik saya dan seluruh keluarga saya. Akan tetapi saya teringat bahwa apa yang dilakukan anak tersebut mungkin wajar menurut pemikiran anak seusianya. Akan tetapi, bagi orang yang lebih dewasa, apalagi bagi orang tua saya, hal itu adalah hal yang sangat kekanak-kanakan.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak selalu memiliki pola pikir seperti kanak-kanak. Sama seperti manusia bertumbuh secara jasmani, dari bayi, kanak-kanak, remaja, pemuda, dan menjadi dewasa, demikian pula manusia juga harus bertumbuh secara rohani (ay. 11). Ketika kita baru percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita, itu dinamakan sebagai lahir baru (lahir secara rohani), dan selanjutnya kita harus bertumbuh dan menjadi dewasa secara rohani. Inilah tujuan hidup kita, bukan hanya puas sebagai kanak-kanak rohani, tetapi menjadi dewasa secara rohani. Ketika kita masih kanak-kanak, maka pola pikir dan iman kita pun adalah pola pikir kanak-kanak dan iman secara kanak-kanak. Kita berdoa hanya untuk meminta bagi diri kita sendiri. Kita membaca Alkitab dan datang ke gereja pun hanya karena rutinitas. Akan tetapi ketika kita sudah mencapai tingkatan dewasa secara rohani, maka kita pun akan berdoa dengan pola pikir yang lebih dewasa, yaitu agar kehendak Allah terjadi dalam kehidupan kita dan dalam dunia ini.

Paulus menekankan, bahwa inti dari perbedaan kanak-kanak dan dewasa adalah seberapa banyak kita mengenal Tuhan dan memiliki hubungan dengan Tuhan (ay. 12). Ketika kita kanak-kanak, kita masih melihat Tuhan sebagai gambaran yang samar-samar. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan rohani kita, kita harus semakin bertambah mengenal Tuhan, karena nanti ketika kita berada di surga dalam kekekalan, maka kita akan melihat Tuhan secara langsung, muka-dengan muka. Ukuran pertumbuhan rohani kita diukur bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, apakah selama ini kita hanya seperti anak-anak yang hanya bisa terus menerus meminta sesuatu kepada Bapa kita yang di surga, atau semakin hari semakin kita menjadi mempelai perempuan yang berusaha untuk menyenangkan mempelai laki-laki yaitu Tuhan Yesus Kristus. Pilihan ada pada kita, apakah kita mau hidup tetap seperti anak-anak, ataukah kita mau berani melangkah dan belajar untuk menjadi dewasa, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan dunia di sekitar kita?


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 13:11-12
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Kamis, 09 Agustus 2012

Ilmu atau Iman?


Kamis, 9 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 12:12-14
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pkh 12:13)


Ilmu atau Iman?


Saat ini saya sedang mengambil kuliah S2 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Memang ada alasan kuat dibalik usaha saya untuk mengambil kuliah S2 ini setelah saya lulus S1 sekitar delapan tahun yang lalu. Dan jika kita perhatikan, ada banyak orang mencoba untuk mengambil gelar yang lebih tinggi, entah dari SMA ke D3, dari D3 ke S1, dari S1 ke S2, dari S2 ke S3, dan begitu seterusnya. Tidak ada salahnya memang mencoba mencapai gelar yang lebih tinggi, bahkan di dalam pelayanan pun orang berlomba-lomba mengambil gelar S1 teologi, S2, bahkan S3 teologi. Tetapi sekali lagi pertanyaan saya, untuk apa semua gelar tersebut?

Jika kita hanya berpandangan bahwa gelar-gelar tersebut membantu menaikkan gengsi kita di hadapan manusia, maka sesungguhnya kita sedang berada di jalan yang salah. Jika kita berpandangan bahwa gelar-gelar tersebut mampu membuat kita menjadi lebih baik lagi, dalam pekerjaan ataupun pelayanan, sehingga orang lain yang melihat kita memuliakan nama Tuhan, maka itulah salah satu motivasi yang benar di hadapan Tuhan.

Pengkhotbah, yang kemungkinan besar adalah Raja Salomo, adalah orang yang paling berhikmat yang pernah hidup di muka bumi ini. Akan tetapi Pengkhotbah memberikan nasihat agar kita tidak terpaku hanya kepada ilmu (apalagi hanya mengejar gelar tanpa mempelajari ilmu) yang ada di dunia ini. Pengkhotbah mengatakan bahwa seandainya kita membuat banyak buku pun itu tidak akan ada akhirnya, apalagi belajar dari banyak buku, tentunya juga tidak akan ada habisnya, bahkan melelahkan badan kita sendiri (ay. 12). Belajar ilmu pengetahuan memang baik, tetapi jika kita hidup hanya untuk terus-terusan belajar ilmu pengetahuan, kapankah kita akan belajar tentang Tuhan kita?

Itulah mengapa dalam nasihatnya, Pengkhotbah lebih menekankan hal yang penting bagi manusia, yaitu takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintahNya (ay. 13). Ini adalah hal yang lebih penting daripada segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk ilmu pengetahuan. Dengan mengenal Allah serta hidup takut akan Tuhan, maka kita akan hidup sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan, yaitu menjauhi dosa dan menaati perintah-perintahNya. Dengan hidup takut akan Tuhan maka kita tidak perlu takut ketika pengadilan Allah tiba (ay. 14), karena Tuhan akan membenarkan kita.

Paulus sendiri telah menganggap dunia dan isinya sebagai sampah (Flp 3:7-8), dan justru lebih suka untuk mengenal Tuhan Yesus secara pribadi (Flp 3:10). Ilmu pengetahuan merupakan bagian dari dunia, dan barangsiapa mengasihi dunia lebih daripada mengasihi Tuhan, sesungguhnya kasih akan Tuhan tidak ada dalam diri orang itu (1 Yoh 2:15). Memang kita masih hidup di dunia, tetapi kita tidak boleh mengasihi dunia lebih daripada mengasihi Tuhan, pencipta kita.

Apa yang dapat kita pelajari hari ini adalah tidak salah memang belajar dan mencari ilmu pengetahuan dengan cara membaca buku, membaca jurnal, bahkan mengambil kuliah yang lebih tinggi lagi. Tetapi ingat bahwa kita harus menempatkan Tuhan dan kehendakNya sebagai faktor yang tertinggi dalam kehidupan kita. Contoh paling mudah, setiap hari, berapa banyak Firman Tuhan yang kita baca dibandingkan dengan buku-buku pelajaran, atau bahkan surat kabar? Jika dalam hal yang sederhana saja kita tidak dapat memprioritaskan Tuhan dalam kehidupan kita, bagaiamana Tuhan juga akan memprioritaskan kita? Apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita lebih banyak menabur pada belajar ilmu, maka kita juga akan menuai pengetahuan dan mungkin juga gelar akademis. Tetapi ketika kita lebih banyak menabur pada iman dan hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan, maka kita akan menuai harta di surga yang tidak akan habis, yang abadi dan kekal (Luk 12:33). Mana yang akan kita pilih?



Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 12:12-14
12:12 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.
12:13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.
12:14 Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.

Jangan Bimbang


Rabu, 8 Agustus 2012
Bacaan Alkitab: Yakobus 1:6-7
Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.” (Yak 1:6)


Jangan Bimbang


Mungkin ada di antara kita yang pernah menonton acara televisi yang berjudul “Superdeal” atau sejenisnya. Dalam acara tersebut, para peserta kuis atau permainan tersebut, disuguhi hadiah yang lumayan nilainya. Akan tetapi, selanjutnya pembawa acara itu akan berusaha untuk “menggoda” peserta dengan hadiah lain yang belum ketahuan apa bentuknya (biasanya disembunyikan di balik tirai atau di dalam kotak). Kadang-kadang pembawa acara juga berusaha menukar hadiah tersebut dengan sejumlah uang tunai. Kita dapat melihat bagaimana peserta acara tersebut bereaksi, ada yang tetap kukuh memegang hadiahnya, ada yang akhirnya mengganti hadiahnya, dan lain sebagainya. Hasilnya memang ada peserta yang berhasil dan mendapat hadiah dengan nilai yang besar seperti mobil atau sepeda motor, tetapi ada juga peserta yang sebenarnya sudah mendapatkan hadiah dengan nilai yang besar tetapi akhirnya justru pulang dengan tangan hampa karena ia salah menukarkan hadiahnya.

Ketika saya renungkan, mungkin ini juga adalah gambaran kehidupan manusia. Jujur saja, kadang-kadang kita sebagai orang Kristen pun pernah meminta sesuatu di luar iman. Apa maksudnya? Kadang-kadang kita berdoa meminta “A”. Akan tetapi karena sudah lama berdoa dan sepertinya tidak ada jawaban Tuhan, akhirnya kita berdoa minta “B”, padahal sebenarnya Tuhan pun sudah menyiapkan “A” bagi kita, hanya saja belum waktu Tuhan untuk memberikannya kepada kita. Ketika kita berdoa minta “B”, kemudian salah seorang teman kita berkata, “Wah kok kamu minta “B” sih, kan lebih baik “C” buat kamu?”. Akhirnya kita pun mengganti doa kita dengan “C”, dan begitu seterusnya.

Alkitab kita hari ini berkata bahwa ketika kita meminta sesuatu, maka kita harus meminta dalam iman (ay. 6a). Apa artinya ini? Artinya kita harus meminta kepada Tuhan yang benar, dalam iman yang benar kepada Tuhan, dengan motivasi yang benar kepada Tuhan. Itulah inti dari doa, yaitu harus didasarkan pada iman yang benar, bukan pada iman yang asal-asalan, atau hanya pada ajaran seseorang yang sebenarnya tidak Alkitabiah. Itulah mengapa penting bagi kita untuk senantiasa berpegangan kepada Firman Allah, sehingga kita tahu apa sebenarnya yang Tuhan inginkan bagi kita, sehingga ketika kita meminta, bukan kita meminta untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak 4:3), tetapi agar kehendak Allah terjadi dalam hidup kita (Mat 6:10).

Ketika kita sudah meminta dalam iman yang benar, maka satu lagi yang harus kita lakukan adalah tidak bimbang (ay. 6b). Bimbang itu serupa dengan ragu-ragu atau plin-plan, yaitu tidak yakin dengan apa yang ia lakukan, sehingga ia berubah-ubah pendirian. Mengapa Yakobus sampai menulis tentang hal ini, bahkan menggambarkan orang bimbang seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan oleh angin? Karena ketika kita sudah berdoa dengan iman yang benar, dengan motivasi yang benar untuk memuliakan Tuhan, sebenarnya Tuhan sudah hampir pasti akan memberikannya kepada kita, tinggal kita menunggu waktu Tuhan. Akan tetapi dalam masa penantian ini, seringkali Iblis mengganggu kita sehingga kita mulai bimbang, apakah Tuhan akan mendengar doa kita, atau apakah doa kita sudah berkenan di hadapan Tuhan. Jika hal ini tidak segera kita atasi, maka yang terjadi adalah kita mulai bimbang.

Bimbang atau ragu-ragu itu adalah salah bukti bahwa iman kita tidak cukup kuat untuk membuat kita percaya kepada Tuhan. Itulah mengapa Yakobus menekankan bahwa orang yang bimbang tidak akan menerima sesuatu dari Tuhan (ay. 7). Bahkan dalam bahasa lain, Yakobus mengatakan bahwa orang yang mendua hati (bimbang), tidak akan tenang dalam hidupnya (ay. 8). Orang Kristen harus memiliki iman yang teguh, yang tidak ragu-ragu, yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Firman Tuhan. Orang Kristen tidak boleh memiliki iman yang kuat tetapi didasarkan pada prinsip yang salah, karena jika demikian, kita akan menjadi sama seperti orang-orang Farisi, yang kuat memegang iman, tetapi tidak mau membuka mata pada kenyataan bahwa Yesus adalah Mesias. Kita harus memiliki iman yang teguh kepada Yesus Kristus, iman yang didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan, sehingga kita bisa berdiri teguh dan tidak terombang-ambingkan oleh apapun juga.


Bacaan Alkitab: Yakobus 1:6-7
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.