Selasa, 08 Januari 2013

Tuhan Selalu Mereka-rekakan yang Baik



Selasa, 8 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 50:15-21
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kej 50:20)


Tuhan Selalu Mereka-rekakan yang Baik


Beberapa waktu yang lalu, unit kerja saya berencana melakukan audit ke sejumlah daerah di Indonesia selama kurang lebih satu bulan. Total ada enam daerah yang dituju, yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi. Saat itu salah seorang ketua tim saya berkata kepada saya bahwa saya masuk ke dalam tim Jawa Tengah. Saat itu saya sangat senang karena jika demikian maka saya akan dapat bertemu lebih lama dengan keluarga saya yang memang berada di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Saya bahkan sudah bersiap-siap membawa kendaraan saya ke Jawa Tengah untuk memudahkan mobilitas saya.

Akan tetapi, pada saat surat tugas terbit, ternyata saya tidak mendapat daerah Jawa Tengah, melainkan Jawa Timur. Saat itu saya sempat down dan agak kecewa. Walaupun demikian, setelah itu justru saya merasa bersyukur karena ternyata saya mendapatkan tim yang benar-benar kooperatif dan saya juga tetap dapat mengunjungi keluarga saya setiap akhir pekan. Ditambah lagi dengan berada di Jawa Timur saya pun dapat mengunjungi keluarga besar saya yang ada di Surabaya dengan mudah.

Kadang-kadang hidup itu memang seperti gambaran di atas. Kita memiliki keinginan dan rencana-rencana dalam hidup kita, dan menyangka bahwa rencana tersebut adalah rencana yang terbaik menurut kita. Akan tetapi justru dengan demikian kita memposisikan Tuhan sebagai pihak yang lebih rendah dari kita, karena kita menganggap diri kita dan rencana kita jauh lebih hebat daripada rencana Tuhan.

Saudara-saudara Yusuf juga pernah berada dalam kondisi yang galau, terlebih ketika ayah mereka, Yakub, telah mati. Mereka khawatir bahwa Yusuf akan membalaskan kesalahan mereka dahulu ketika mereka menjual Yusuf (ay. 15), sehingga mereka mengirim orang agar mengatakan bahwa sebelum mati, Yakub telah berpesan agar Yusuf mengampuni saudara-saudaranya (ay. 16-17). Saudara-saudara Yusuf bahkan datang dan bersujud di depan Yusuf dan meminta belas kasihan Yusuf, bahkan rela menjadi budak Yusuf (ay. 18).

Tetapi sungguh luar biasa perkataan Yusuf yang t elah mengampuni saudara-saudaranya. Perhatikan kalimat Yusuf  yaitu bahwa walaupun saudara-saudara Yusuf telah mereka-rekakan yang jahat terhadap Yusuf, tetapi Allah telah mereka-rekakanya untuk kebaikan (ay. 19-20). Bahkan Yusuf dapat melihat bahwa Tuhan punya rencana yang luar biasa bagi Yusuf dan juga saudara-saudaranya, yaitu agar Yusuf dapat mempersiapkan jalan untuk memelihara seluruh keluarga besar Yakub di Mesir (ay. 21).

Yusuf tahu bahwa walaupun saudara-saudaranya merencanakan yang jahat, tetapi Tuhan bisa membuat rencana tersebut menjadi rencana yang baik. Jika demikian, terlebih ketika kita merencanakan sesuatu yang baik, pasti Tuhan dapat membuat rencana kita menjadi jauh lebih baik lagi. Permasalahannya adalah apakah kita mau tunduk kepada rencana Tuhan dan menyerahkan rencana kita kepadaNya. Seringkali ketika Tuhan mau menyatakan rencanaNya yang jauh lebih baik daripada rencana kita, justru kita yang belum siap untuk membiarkan Tuhan mengambil alih rencana kita.

Saat keadaan tidak berjalan sesuai rencana, walaupun kita sudah membuat rencana yang begitu baik, bahkan kita sudah mendoakan rencana-rencana tersebut di dalam doa-doa kita, mungkin memang itu bukan rencana Tuhan. Kita hanyalah manusia biasa yang sangat jauh dibandingkan dengan Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta, bumi beserta isinya, termasuk kita sendiri. Bukankah dengan demikian Tuhan pasti mampu melakukan sesuatu yang tidak masuk dalam nalar atau akal manusia? Jangan sampai kita membatasi Tuhan dengan logika pikiran kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang perkasa, yang mampu mengubah rencana manusia yang tidak baik menjadi sesuatu yang baik, bahkan Tuhan selalu merencanakan yang terbaik bagi anak-anakNya yang taat kepadaNya.


Bacaan Alkitab: Kejadian 50:15-21
50:15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya."
50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:
50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.
50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu."
50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?
50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Senin, 07 Januari 2013

Injil dan Iman



Senin, 7 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Roma 1:16-17
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."” (Rm 1:17)


Injil dan Iman


Paulus merupakan salah seorang yang dipakai Tuhan luar biasa untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang dan bangsa-bangsa yang belum pernah mendengar Injil. Sampai dengan hari ini pun, masih banyak orang-orang yang mau mengabdikan hidup mereka untuk mengabarkan Injil di suku-suku terpencil, di pedalaman hutan, bahkan di tempat-tempat yang ekstrem lainnya. Apa motivasi mereka untuk mengabarkan Injil hingga mereka rela untuk berkorban sedemikian besarnya hanya demi Injil, bahkan mungkin harus meninggalkan keluarga mereka dan bahkan berisiko kehilangan nyawa mereka dalam pengabaran Injil?

Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka sadar bahwa Injil adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia. Paulus menulis dalam kitab Roma ini bahwa Injil sebenarnya adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya, entah apapun status dan suku orang tersebut (ay. 16b). Semua orang yang percaya kepada Injil akan selamat. Bagaimana orang bisa percaya kepada Injil jika tidak ada orang yang mau menyampaikan kepada mereka? Harus ada orang-orang yang rela mengabarkan Injil tersebut sehingga mereka mendengar kabar keselamatan tersebut. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan (Rm 10:15).

Firman Tuhan mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran dari Firman Kristus (Rm 10:17). Orang tidak mungkin beriman kepada Tuhan kalau ia tidak pernah mendengar tentang Firman Tuhan. Abraham sekalipun, menjadi percaya karena ia mendengar Firman Tuhan kepadanya (Kej 12:1). Firman Tuhan membuat orang menjadi beriman kepada Tuhan, karena di dalam Firman Tuhan terkandung kebenaran Allah sendiri, yang akan membuat orang tersebut beriman dan memimpin orang tersebut kepada iman yang lebih tinggi lagi tingkatannya (ay. 17a).

Oleh sebab itu sangat disayangkan apabila di satu sisi begitu banyak orang percaya yang terbeban untuk mengabarkan Injil (entah menjadi pendeta, penginjil, guru agama, atau jenis pelayanan lainnya) tetapi di sisi lain justru ada orang percaya yang lupa dengan Injil. Mereka sangat jarang membaca Firman Tuhan, dan mungkin hanya membaca Firman Tuhan satu kali seminggu, yaitu ketika mereka ke gereja pada hari Minggu. Parahnya lagi, dengan perkembangan teknologi mereka pun tidak pernah membawa Alkitab karena lebih suka membaca ayat Alkitab yang ditayangkan di layar. Lalu, menjadi pertanyaan apabila seseorang mengaku sebagai orang percaya tetapi tidak pernah membaca Injil yang adalah Firman Tuhan itu sendiri, benarkan ia benar-benar telah percaya kepada Tuhan?

Injil membuat hidup kita menjadi kokoh dan berakar kuat di dalam Firman Tuhan (ay. 16a). Injillah yang membuat orang benar (orang percaya) hidup, karena orang benar akan hidup oleh iman (ay. 17b), dan bagaimana mungkin orang benar bisa hidup oleh iman ketika mereka tidak pernah membaca Firman Tuhan yang akan menumbuhkan iman kita? Iman merupakan gambaran dari kehidupan rohani kita. Tubuh rohani kita juga membutuhkan makanan rohani, dan makanan rohani itu adalah Firman Tuhan (Mat 4:4).

Hari ini mari kita instropeksi diri kita masing-masing. Mungkin kita bukanlah orang-orang yang terpanggil untuk mengabarkan Injil kepada orang lain. Tidak masalah, selama kita sendiri juga memiliki kerinduan untuk meningkatkan kualitas iman kita dengan membaca Firman Tuhan secara teratur tiap hari. Percuma jika kita pun memaksakan diri untuk mengabarkan Injil ketika kita saja belum menikmati membaca Injil. Kesukaan membaca Injil dapat dilihat dari apa reaksi tubuh kita ketika membaca Alkitab. Jika Alkitab kita jadikan sebagai obat tidur (membaca Alkitab langsung mengantuk), maka kita belum memiliki kesukaan akan Firman Tuhan. Tetapi ketika kita selalu ingin untuk membaca Alkitab setiap hari, bahkan ketika kita tidak membaca Alkitab rasanya ada yang kurang, berarti kita sudah mencapai tahap suka akan Firman Tuhan. Bacalah Firman Tuhan dengan rutin, sehingga iman kita pun bertumbuh dan membuat hidup kita semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.


Bacaan Alkitab: Roma 1:16-17
1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Sabtu, 05 Januari 2013

Filter Tuhan di Kerajaan Surga



Minggu, 6 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Wahyu 21:22-27
Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.” (Why 21:27)


Filter Tuhan di Kerajaan Surga


Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bepergian ke negara tetangga yaitu Singapura. Itu adalah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri. Saat itu memang tujuan kami hanya untuk berwisata ala backpacker dengan budget yang minim, pokoknya yang penting sudah pernah pergi ke luar negeri. Ketika kami masuk ke Singapura, kami harus melewati pemeriksaan imigrasi yang luar biasa ketat. Bahkan wajah saya berkali-kali dilihat oleh petugas imigrasi dan dibandingkan dengan KTP saya. Kami pun harus melewati pemeriksaan bagasi dan metal detector yang sangat ketat, barulah kami bisa masuk ke Singapura.

Akan tetapi, di Singapura, saya hampir tidak pernah melihat petugas keamanan. Selama empat hari tiga malam saya di sana, saya baru melihat satu orang petugas, dan itu pun karena saya berada di wilayah yang memang agak “rawan”. Tidak ada petugas keamanan yang memeriksa kita ketika kita masuk ke dalam pusat perbelanjaan di sana. Berbeda dengan di Indonesia yang setiap kita masuk gedung pasti dicek oleh petugas pengamanan (walau saya tidak tahu apakah memang betul-betul dicek atau hanya sekedar formalitas belaka).

Dalam hal ini, perbedaan utama kondisi di Singapura (dan juga di negara-negara lainnya seperti Amerika Serikat, Eropa, dan lain sebagainya) dengan di Indonesia adalah bahwa di Singapura, orang sudah “difilter” sebelum mereka masuk ke dalam wilayah negara mereka, sementara di Indonesia hal tersebut tidak bisa dilakukan sehingga filter mereka ada di setiap gedung. Di Singapura, orang yang membawa bom atau senjata api akan terfilter ketika mereka masuk ke imigrasi. Di Indonesia, orang tidak akan tahu kecuali mereka masuk ke dalam gedung. Itulah mengapa banyak bom yang meledak di Indonesia dilakukan di luar gedung.

Mengingat hal tersebut, saya teringat dengan kondisi di surga nanti. Surga adalah suatu tempat yang luar biasa indah, karena Tuhan sendiri ada dan bertahta di dalamnya (ay. 22). Begitu indah dan mulia, sehingga kemuliaan Tuhanlah yang menerangi seluruh surga itu (ay. 23). Semua yang ada di surga begitu indah, penuh dengan kekayaan bangsa-bangsa (ay. 24 & 26), dan tidak ada lagi dukacita, bahkan tidak ada lagi malam di dalamnya (ay. 25).

Jika gambaran surga tersebut begitu indah, bagaimana Tuhan menyaring siapa-siapa saja yang bisa masuk ke dalam surga tersebut? Jika gambaran surga begitu mulia, bahkan dalam ayat lain digambarkan bahwa surga itu penuh dengan emas, maka bisa jadi orang-orang yang serakah dan tamak akan mengambil emas tersebut bukan? Bagaimana Tuhan tetap menjaga agar surga menjadi tempat yang kudus?

Alkitab mengatakan bahwa Tuhan pun sudah melakukan hal yang demikan. Segala sesuatu yang ada di surga adalah kudus. Tidak ada sesuatu yang najis bisa masuk ke dalam dosa, termasuk orang-orang yang najis, dan yang melakukan kekejian atau dusta (ay. 27b). Alkitab mengatakan bahwa hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab Anak Domba akan diizinkan Tuhan untuk masuk ke dalam surga (ay. 27b).

Oleh karena itu, jika kita sungguh-sungguh ingin masuk ke dalam surga, penting bagi kita agar kita berusaha agar nama kita tercatat di dalam kitab tersebut (Luk 10:20) dan jangan sampai terhapus. Bagaimana caranya? Pertama kita harus percaya kepada Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat pribadi kita. Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan untuk kita dapat masuk ke dalam kerajaan Surga dan bertemu dengan Allah Bapa (Yoh 14:6). Lalu, dalam sisa hidup kita di dunia ini, kita harus setia sampai akhir dan menang terhadap dunia, sehingga nama kita tidak terhapus dari kitab kehidupan (Why 3:5). Standar yang Tuhan tetapkan begitu tinggi, tetapi tidak ada yang mustahil selama kita mau melakukan perintahNya. Jadi, mana yang kita pilih? Hidup sesuka kita di dunia ini tetapi tidak masuk surga, atau hidup sesuai perintah Tuhan dan kita masuk surga?


Bacaan Alkitab: Wahyu 21:22-27
21:22 Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.
21:23 Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.
21:24 Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya;
21:25 dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana;
21:26 dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.
21:27 Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.

Pandangan Alkitab Terhadap Ramalan, Tenungan, dan Sebagainya



Sabtu, 5 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Ulangan 18:9-14
Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.” (Ul 18:14)


Pandangan Alkitab Terhadap Ramalan, Tenungan, dan Sebagainya


Banyak suku bangsa di dunia ini yang memiliki “budaya” ramal-meramal. Tidak usah jauh-jauh, di suku Jawa saja, biasanya ketika seseorang mau mengadakan suatu acara semisal acara pernikahan, maka akan dihitung “hari baik” berdasarkan tanggal lahir kedua calon mempelai berdasarkan kalender jawa. Saya sendiri tidak terlalu memikirkan hal tersebut karena toh menurut pendapat saya semua hari baik, karena ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu di langit dan bumi, Tuhan selalu melihat bahwa segala sesuatunya baik.

Bahkan di masa modern seperti saat ini, justru saya melihat ada kemunduran moral pada manusia. Jika kita lihat, manusia sekarang justru terikat dengan apa yang disebut ramalan. Lihat saja majalah-majalah yang beredar di Indonesia saat ini, mulai dari majalah remaja, majalah pemuda, majalah ibu-ibu hingga majalah bapak-bapak pun biasanya memiliki rubrik “Zodiak Anda”, yang menunjukkan ramalan per masing-masing zodiak untuk minggu atau bulan tersebut. Herannya, itu menjadi rubrik yang paling dicari-cari oleh orang yang membaca majalah tersebut, walaupun mungkin hanya iseng belaka atau bahkan memang karena mereka percaya akan ramalan zodiak tersebut.

Lalu apa kata Alkitab terhadap ramalan? Setelah saya mencari di dalam Alkitab, saya teringat akan bagian Alkitab yang saya kutip hari ini. Kitab Ulangan bercerita tentang kisah perjalanan Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian secara ringkas. Inti utama dari kitab ini adalah bagaimana Musa mengingatkan bangsa Israel untuk tidak berpaling dari Tuhan Allah dan tidak mengikuti cara-cara yang dilakukan bangsa-bangsa lain, karena mereka adalah bangsa yang kudus (ay. 9).  Salah satunya adalah terkait dengan ilmu sihir (magic) yang umum dilakukan bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan, seperti mempersembahkan anak menjadi korban dan juga meramal nasib, bertanya kepada arwah, dan lain sebagainya (ay. 10-11).

Ketika Alkitab menulis seperti ini, berarti memang pada dasarnya aktivitas ini sudah terjadi sejak dulu kala, dan juga terjadi di mana-mana. Bangsa mana yang tidak punya kebiasaan ramal-meramal? Bangsa mana yang tidak mengenal adanya tumbal untuk mendapatkan sesuatu? Bahkan di Indonesia ini pun penuh dengan hal-hal seperti itu. Alkitab tidak mengatakan bahwa ramalan itu hanyalah joke semata. Praktek sihir seperti itu memang ada dan memang bisa berhasil. Akan tetapi semuanya itu dikarenakan bahwa sesungguhnya mereka sedang beribadah kepada Iblis.

Oleh karena itu Tuhan berfirman agar bangsa Israel tidak ikut-ikutan hal ini, dan tidak meniru apa yang dilakukan bangsa-bangsa lain, karena semua itu adalah kekejian di hadapan Tuhan (ay. 12). Tuhan ingin agar bangsa Israel senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal, tidak mengandalkan peramal atau petenung (ay. 14). Tuhan ingin agar bangsa Israel kudus dan tidak bercacat dan bercela di hadapan Tuhan (ay. 13).

Hal yang sama juga masih berlaku bagi kita, anak-anakNya yang hidup di masa sekarang ini. Ketika sekitar 3000 tahun yang lalu Tuhan saja sudah berfirman seperti itu, masihkah kita sekarang meminta ramalan kepada orang lain? Saya sendiri melihat bahwa orang yang suka diramal, sesungguhnya hidupnya menjadi terikat dengan roh peramal itu sendiri. Padahal sesungguhnya orang percaya hidupnya sudah ada di tangan Tuhan. Jadi seharusnya kita menanyakan masa depan kita kepada Tuhan yang adalah pemilik hidup kita, bukan kepada peramal. Bukankah Tuhan jauh lebih besar dari apapun yang ada di dunia ini? Bukankah Tuhan juga sudah berjanji bahwa akan memberikan masa depan yang penuh harapan kepada kita (Yer 29:11)?

Iblis pun bisa menyamar menjadi malaikat terang (2 Kor 11:14). Iblis pun bisa memberikan kekayaan yang luar biasa, bahkan Iblis pernah menawarkannya kepada Yesus ketika mencobaiNya di padang gurun (Mat 4:8-9). Tetapi semuanya itu tidak akan berarti karena jiwa kita menjadi milik Iblis. Alkitab mengatakan untuk apa kita memperoleh seisi dunia tetapi jiwa kita binasa (Mat 16:26)? Saya sangat sedih ketika banyak orang pergi ke dukun hanya untuk mencari kesembuhan, mencari kekayaan, atau bahkan mencari santet dan pelet untuk mendapatkan sesuatu di dunia ini. Bukan di dunia ini yang kita cari, tetapi di surga nanti. Hidup kita harus kita persiapkan untuk hidup di surga nanti. Bagi kita anak-anak Tuhan, penyertaan dan perlindungan Tuhan sudah sangat cukup bagi kita. Tidak perlu ikut-ikutan orang dunia yang meminta berkat ke dukun, meminta perlindungan terhadap santet, dan lain sebagainya. Tuhanlah Allah kita. Tidak akan ada mantera yang mempan terhadap kita (Bil 23:23), selama kita setia mengiring Tuhan dan sepanjang kita tidak membuka celah.


Bacaan Alkitab: Ulangan 18:9-14
18:9 "Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu.
18:10 Di antaramu janganlah didapati seorang pun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir,
18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.
18:12 Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.
18:13 Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu.
18:14 Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.