Jumat, 05 April 2013

Dilepaskan dari Jaring



Rabu, 3 April 2013
Bacaan Alkitab: Mazmur 31:4-5
Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.” (Mzm 31:5)


Dilepaskan dari Jaring


Banyak orang Kristen seringkali memiliki pola pikir yang salah. Mereka berpikir karena mereka adalah orang Kristen, maka Tuhan pasti akan melindungi dari segala sesuatu. Mereka berpikir bahwa mereka tidak akan pernah jatuh sakit, mereka tidak akan pernah gagal dalam usaha mereka, mereka akan bebas dari masalah, dan lain sebagainya. Segala macam sakit penyakit, kegagalan, masalah, itu dianggap sebagai kutuk. Orang Kristen seringkali mencap bahwa orang miskin dan yang sakit adalah karena mereka kena kutuk.

Benarkah demikian? Memang ada benarnya juga, bahwa Tuhan juga sangat ingin memberkati anak-anakNya, dan juga ingin anak-anakNya sukses. Bapa mana di dunia ini yang tidak ingin akan-anaknya berhasil? Demikian juga dengan Bapa di Surga, pasti Ia ingin anak-anakNya berhasil dan sukses. Tetapi, jika kita mau jujur, sebenarnya ayat-ayat di Alkitab juga banyak yang berbicara tentang hidup manusia yang banyak masalah. Bacaan ayat Alkitab kita hari ini misalnya, dimulai dengan pernyataan pemazmur yang menyatakan bahwa Tuhan adalah bukit batu dan pertahanannya (ay. 4a). Alkitab hampir selalu menyatakan Tuhan sebagai tempat perlindungan kita, bukan tempat penyerangan. Mengapa? Karena Tuhan tidak ingin kita bersikap ofensif. Tuhan ingin kita sebagai anak-anaknya bersikap defensif. Defensif dalam hal ketika masalah datang, ya harus dihadapi. Jangan justru kita lari dari masalah.

Ketika Tuhan adalah bukit batu dan pertahanan kita, maka kita harus benar-benar mengandalkan Tuhan ketika masalah datang “menyerang” kita. Syukurlah kepada Tuhan bahwa Ia adalah Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan kita. Ia akan menuntun kita dan membimbing kita melalui jalanNya yang terbaik bagi kita (ay. 4b).

Ingat sekali lagi bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan mulus tanpa masalah. Tuhan bahkan tidak pernah menjanjikan bahwa kita tidak akan terperangkap dalam jaring yang dipasang orang-orang fasik. Akan tetapi satu janji Tuhan bahwa sekalipun kita masuk ke dalam jaring itu, Tuhan akan melepaskan dan mengeluarkan kita (ay. 5a). Ia adalah Tuhan yang setia, Tuhan yang kita bisa percaya untuk menjadi tempat perlindungan bagi kita (ay. 5b).

Saya  tidak tahu apa yang sedang kita alami saat ini. Mungkin kita sedang dalam keadaan yang kurang baik. Ada orang jahat yang sedang memasang jaring terhadap kita. Mungkin juga kita sudah jatuh ke dalam jaring tersebut. Ingat akan ayat yang kita baca hari ini. Tuhan akan melepaskan dan mengeluarkan kita dari jaring. Sesulit apapun keadaan kita hari ini, mungkin jaring-jaring itu sudah melilit dan membelit kita sehingga kita seakan-akan sudah tidak punya harapan lagi, percayalah bahwa Tuhan kita sanggup mengeluarkan kita. Tuhan kita jauh lebih besar dari jaring apapun yang pernah dibuat manusia. Percayalah, berserahlah dan Ia akan bertindak bagi kita.


Bacaan Alkitab: Mazmur 31:4-5
31:4 Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
31:5 Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.

Selasa, 02 April 2013

Jangan Coba-Coba Mencobai Tuhan



Selasa, 2 April 2013
Bacaan Alkitab: Matius 4:5-7
Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"” (Mat 4:7)


Jangan Coba-Coba Mencobai Tuhan


Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan dengan sebuah kabar. Salah seorang sahabat wanita saya, yang pernah bersama-sama melayani Tuhan di gereja, yang juga adalah seorang lulusan Sekolah Tinggi Teologia (STT), tiba-tiba saya mendengar kabar bahwa ia melahirkan seorang bayi, padahal ia belum menikah. Intinya ia hamil di luar nikah, dan bukan hamil dari pacarnya yang selama ini saya kenal (yang juga adalah orang Kristen), tetapi ia hamil dari orang lain yang tidak seiman. Selama ini ia menyembunyikan kehamilannya begitu rupa, sehingga tidak ada seorangpun yang tahu, bahkan keluarganya, pendetanya, dan orang-orang lainnya tidak ada yang tahu.

Saya saja yang mendengar kabar tersebut lewat telepon langsung lemas dan benar-benar tidak menyangka, apalagi kedua orang tuanya dan pendetanya yang mengetahui hal itu secara langsung. Untungnya sahabat saya ini merupakan seorang wanita yang sangat kuat, sehingga ketika ia mengetahui bahwa dirinya hamil, ia pun bertekad untuk tidak menggugurkan kandungannya, dan berani mengambil risiko untuk memendam rahasia ini seorang diri selama 9 bulan lamanya. Bukan perkara mudah bagi seorang wanita untuk dapat bersikap seperti itu.

Pertanyaan yang masih mengganjal benak saya, “Kok bisa seorang pelayan Tuhan, seorang lulusan STT, kok bisa jatuh seperti itu?”. Itu pertanyaan juga yang saya ajukan kepada orang-orang yang sudah melayani Tuhan, tetapi juga jatuh ke dalam dosa-dosa yang terlihat sepele. Saya melihat kecenderungan bahwa para pelayan Tuhan dan para hamba Tuhan yang melakukan “pelayanan mimbar” (yaitu istilah saya untuk menggambarkan para pelayan-pelayan Tuhan yang “tampil” di depan jemaat, seperti pengkhotbah, worship leader, singer, choir, dan pemain musik), sangat rentan terhadap godaan dosa.

Hal ini dapat terlihat sekitar 2.000 tahun yang lalu, ketika Iblis datang untuk mencobai Yesus di padang gurun setelah Ia berpuasa 40 hari 40 malam lamanya. Setelah gagal mencobai Tuhan Yesus dengan pencobaan pertama, Iblis pun datang dengan pencobaan kedua. Menurut saya justru bobot pencobaan kedua ini yang paling besar, karena Iblis mencobai dengan cara membawa Yesus di bubungan Bait Allah (ay. 5) dan kemudian meminta Yesus untuk menjatuhkan diriNya ke bawah, karena dalam Firman Tuhan juga tertulis bahwa Allah akan memerintahkan malaikat-malaikatNya untuk menjaga agar Ia tidak jatuh (ay. 6).

Sepintas pencobaan Iblis yang kedua ini sangat Alkitabiah. Kalau kita dicobai seperti itu, mungkin kita juga akan terpancing dan tergoda untuk melakukannya bukan? Ini yang menjadi kelemahan orang Kristen, dan terutama para pelayan-pelayan Tuhan yang melayani di depan (para pelayan mimbar), karena mereka terbiasa memimpin orang lain dan kurang mau untuk mendengarkan orang lain. Akibatnya mereka merasa diri mereka benar dan tidak sadar bahwa di balik keegoisan mereka itu ada celah dimana Iblis bisa masuk perlahan-lahan untuk membuat kita jatuh ke dalam dosa.

Salah satu contoh paling gampang adalah bagaimana Iblis membuat kita menganggap enteng dosa. Misalnya kita adalah seorang pengkhotbah, tetapi kita hidup di dalam dosa percabulan. Kita tahu bahwa Firman Tuhan memang secara jelas mengatakan ini dosa, akan tetapi Iblis membisikkan bahwa kita adalah pelayan Tuhan, sehingga kita pun bisa tetap  hidup dalam kasih karunia walau kita berbuat dosa. Toh tidak ada orang lain yang tahu tentang dosa kita, toh orang lain melihat kita sebagai pelayan Tuhan, toh kita masih bisa melayani Tuhan, dan lain sebagainya. Iblis mempengaruhi pikiran dan hati kita dengan cara membuat kita menganggap enteng dosa yang kita lakukan, dan memperkecil arti pertobatan terhadap dosa. Hal ini sedikit demi sedikit akan membuat kita semakin dekat dengan jurang dosa, dan tanpa kita sadari tahu-tahu kita sudah melakukan dosa yang besar.

Tuhan mengajar kita agar kita jangan mencobai Tuhan (ay. 7). Jangan kita menganggap bahwa karena kita adalah pelayan Tuhan, kita sudah melayani Tuhan, maka kita boleh kompromi dengan dosa. Jangan sesat, Tuhan tidak akan pernah membiarkan diriNya dipermainkan. Apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai (Gal 6:7). Mungkin orang lain tidak tahu dosa apa yang kita sembunyikan saat ini, tetapi  Tuhan pasti tahu. Tuhan tahu setiap dosa dan perbuatan yang kita lakukan bahkan di tempat tersembunyi sekalipun.

Bagi kita yang adalah para pelayan dan hamba Tuhan, berjaga-jagalah senantiasa. Kita tahu bahwa Iblis itu sama seperti singa yang mencoba mencari waktu yang tepat untuk menyerang kita (1 Ptr 5:8). Oleh karena itu jangan kita lengah dan tergoda untuk mencobai Tuhan. Kita yang seharusnya lebih tahu tentang Firman Tuhan daripada jemaat biasa, seharusnya lebih dapat menjaga diri kita sendiri agar tidak jatuh. Tetapi kadang-kadang keegoisan kita membuat kita justru lebih rentan jatuh dalam dosa. Iblis itu adalah musuh yang pintar. Ia tidak akan menyerang jemaat-jemaat biasa, tetapi ia akan menyerang para pemimpin-pemimpin dan pelayan jemaat, sehingga ketika mereka tidak hati-hati dan akhirnya jatuh ke dalam dosa, hal tersebut juga akan berdampak ke jemaat Tuhan.

Berapa banyak gereja Tuhan yang pecah hanya karena hamba Tuhan tidak hidup benar di hadapan Tuhan? Berapa banyak jemaat yang mundur karena mereka melihat para hamba Tuhan juga jatuh ke dalam dosa yang memalukan? Ini menjadi perhatian bagi kita, agar kita boleh sungguh-sungguh hidup benar di hadapan Tuhan. Jangan sekali-kali kita mencobai Tuhan, tetapi layanilah Tuhan dengan sungguh-sungguh, agar kita boleh berkenan di hadapan Tuhan, dan kita boleh menyenangkan hatiNya. Pikirkan orang-orang yang kita layani, sehingga ketika godaan Iblis datang, kita bisa berani berkata “Tidak!” kepada godaan Iblis tersebut.



Bacaan Alkitab: Matius 4:5-7
4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Sempurna Seperti Tuhan



Senin, 1 April 2013
Bacaan Alkitab: Matius 5:43-48
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48)


Sempurna Seperti Tuhan


Jika kita perhatikan bagaimana Tuhan Yesus memberitakan Firman Tuhan semasa Ia hidup di dunia ini, kita akan melihat bagaimana Tuhan memberitakan Firman yang “berbeda” dengan Firman yang selama ini diajarkan oleh para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi di zaman itu. Yesus membawa suatu paradigma baru yang bukan saja sangat luar biasa bagi ukuran manusia di masa itu, tetapi juga bagi kita yang hidup di masa sekarang.

Selama ini bangsa Yahudi memiliki Hukum Taurat yang menjadi dasar perilaku mereka sejak zaman nenek moyang mereka keluar dari tanah Mesir. Hukum Taurat itu begitu rinci mengatur tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh mereka lakukan. Bahkan dalam hukum Taurat tersebut diatur tentang bagaimana hukum terhadap sesama. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan seterusnya. Di mata manusia, mungkin ini adalah hukum yang paling adil. Tetapi Tuhan tahu bahwa jika demikian adanya, manusia tidak akan mungkin selamat, karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm 3:23).

Oleh karena itu, Tuhan harus menurunkan hukum baru, yaitu hukum kasih, melalui kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini. Tuhan Yesus turun ke dunia, menderita, mati dan dibangitkan lalu naik ke surga, semuanya adalah karena kasih Allah kepada kita (Yoh 3:16), sehingga kemudian hukum kasih ini menjadi hukum baru yang menyempurnakan hukum Taurat. Ketika hukum Taurat berkata “Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu” (ay. 43), hukum kasih justru berkata “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (ay. 44). Hukum kasih bukan bertolak belakang dengan hukum Taurat, tetapi hukum kasih menyempurnakan hukum Taurat. Jika hukum Taurat diberikan khusus bagi bangsa Israel, maka hukum kasih ini dapat dilakukan oleh semua orang dari semua suku bangsa manapun di dunia ini. Dengan melakukan huum kasih, maka kita pun menjadi anak-anak Bapa di surga, karena kita mau mengasihi orang lain tanpa melihat siapa mereka dan apa yang mereka lakukan bagi kita, sama seperti Allah Bapa yang juga memberikan matahari dan hujan kepada semua orang, termasuk orang benar dan juga orang yang tidak benar (ay. 45).

Lebih lanjut lagi, Tuhan mengatakan bahwa ketika kita hanya berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik kepada kita, di mata Tuhan itu bukan suatu perbuatan yang pantas untuk dipuji. Itu sama saja dengan berlaku impas. Kita baik karena mereka baik. Kita jahat karena mereka juga jahat. Lalu apa kelebihan kita dibanding mereka? Apa kita pantas untuk menganggap kita sebagai orang baik? Hal itu sih sama saja dengan orang-orang lain di luar Tuhan. Kita tidak pantas mengharapkan upah atas perbuatan kita seperti itu (ay. 46-47).

Tuhan menuntut kita untuk tampil beda dengan orang lain. Tuhan menuntut kita untuk memiliki cara hidup seperti cara hidup surgawi. Tuhan ingin agar kita yang mengaku sebagai anak-anakNya juga hidup seperti Tuhan. Bahkan Tuhan ingin agar kita hidup dengan sempurna, sama seperti Bapa kita di surga juga sempurna (ay. 48).

Banyak orang ketika mendengar atau membaca ayat 48 ini berkata, “Kesempurnaan hanya milik Allah”. Memang Allah itu sempurna, tetapi Allah juga tidak akan memberikan perintah kepada umatNya yang tidak dapat dilakukan umatNya. Tuhan kita bukan Tuhan yang kejam, yang memberikan perintah yang mustahil. Jika kita membaca Alkitab maka kita akan tahu bahwa semua Firman Tuhan selalu dapat dilakukan manusia. Nuh bisa hidup benar di tengah-tengah orang-orang yang tidak benar. Daniel bisa tetap hidup benar di tengah-tengah tekanan dari orang-orang yang membencinya. Mereka sudah membuktikan bahwa mereka sanggup berusaha untuk hidup sesempurna mungkin. Permasalahannya adalah bukan kita tidak bisa sempurna, tetapi kita tidak mau berusaha untuk hidup sempurna seperti Tuhan kita.


Bacaan Alkitab: Matius 5:43-48
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Senin, 01 April 2013

Murid-Murid Perempuan pada Saat Kebangkitan Yesus



Minggu, 31 Maret 2013
Bacaan Alkitab: Markus 16:1-8
Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.” (Mrk 16:1)


Murid-Murid Perempuan pada Saat Kebangkitan Yesus


Sejarah membuktikan bahwa peran kaum perempuan seringkali terpinggirkan. Di banyak kebudayaan di seluruh dunia, perempuan hanya dijadikan sebagai “kaum kelas dua”. Mereka tidak memiliki hak yang setara dengan kaum laki-laki. Tetapi, sadar atau tidak sadar, para perempuan ternyata memegang peranan penting terhadap pelayanan Yesus. Ada sejumlah perempuan yang tercatat dalam Alkitab, termasuk beberapa yang setia mengiring Yesus. Dan ketika Yesus bangkit pada hari yang ketiga setelah kematiannya, justru para perempuanlah yang pertama kali datang ke kubur Yesus.

Bacaan Alkktab kita hari ini menyatakan bahwa ada 3 orang perempuan yang datang ke kubur Yesus setelah hari Sabat, yaitu Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome (ay. 1). Dalam ayat-ayat paralel di ketiga Injil lainnya, walaupun jumlah dan nama mereka mungkin tidak sama, tetapi ketiga Injil lain juga menyatakan bahwa para perempuanlah yang pertama-tama datang ke kubur Yesus (Mat 28:1, Luk 23:55-24:1, dan Yoh 20:1). Semua ayat-ayat tersebut menyebutkan perempuanlah yang pertama kali datang ke kubur Yesus, walau mereka memang datang dengan maksud yang lain, yaitu untuk meminyaki dan merempah-rempahi Yesus (ay. 1b). Memang mereka juga belum mengerti bahwa Yesus akan bangkit, tetapi mereka memiliki kerinduan yang besar untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan mereka.

Mereka tidak datang siang-siang, tetapi mereka datang pada pagi hari, bahkan pagi-pagi benar (ay.2). Mereka ingin segera melakukan apa yang mereka ingin lakukan, walaupun mereka tahu bahwa ada batu besar yang menutupi kubur (ay.3) dan juga para penjaga yang menjaga kubur Yesus tersebut. Akan tetapi, ketika mereka datang, mereka mendapati bahwa batu tersebut sudah terguling, dan tidak ada para penjaga di sana (ay. 4). Mereka yang terkejut kemudian segera masuk ke dalam kubur, dan melihat ada seorang muda di dalama kubur yang menyatakan bahwa Yesus telah bangkit (ay. 5-6). Kita tidak tahu siapa orang muda ini, tetapi sangat mungkin bahwa orang ini adalah malaikat Tuhan seperti ayat paralel di Injil lain (Mat 28:2). Kita tidak akan terlalu mempermasalahkan siapa orang tersebut, tetapi yang lebih penting justru adalah isi pesan dari orang tersebut, yaitu agar perempuan tersebut menyampaikan ke murid-murid yang lain dan juga kepada Petrus agar mereka segera menyusul Tuhan Yesus ke Galilea (ay. 7).

Orang tersebut (yang kemungkinan adalah malaikat Tuhan), tidak menunggu Petrus datang lalu menyampaikan pesan tersebut kepada Petrus, walaupun Petrus adalah salah satu murid “terbaik” Yesus. Ia justru menyampaikan pesan tersebut kepada para perempuan, lalu meminta para perempuan tersebut untuk menyampaikan kepada murid-murid lainnya. Dalam ayat paralel di ketiga Injil lainnya pun, Petrus yang walaupun pernah datang ke kubur tersebut, tidak menjumpai siapa-siapa. Hanya kepada para perempuanlah Tuhan memberikan FirmanNya yang pertama setelah Ia bangkit dari kematian, baru setelah itu Yesus mulai menampakkan diri kepada murid-murid yang lain (ay. 8).

Apa yang dapat kita pelajari dari hal ini? Kita harus meneladani para perempuan yang mau datang pagi-pagi ke kubur Yesus. Walaupun motivasi mereka belum sepenuhnya benar, akan tetapi mereka mau mengorbankan waktu mereka yang terbaik untuk mencari Tuhan. Coba lihat Jika gereja kita mengadakan doa pagi pada pukul 4 pagi, saya yakin jumlah jemaat yang ikut doa pagi pasti lebih banyak perempuannya daripada laki-laki. Perempuan memang memiliki sifat lebih rajin daripada laki-laki, dan itu yang membuat mereka mau datang pagi-pagi benar, dibandingkan dengan para laki-laki. Ini yang membuat Tuhan mempercayakan para perempuan untuk menyampaikan kabar kebangkitan Yesus kepada murid laki-laki yang lain.

Maukah kita dipercaya Tuhan? Jadilah seperti perempuan-perempuan tersebut yang mau mengorbankan waktu mereka yang berharga untuk mencari Tuhan. Karena itulah nama mereka pun tercatat dalam Alkitab sebagai orang-orang pertama yang datang ke kubur Yesus. Demikian juga ketika kita mau melayani Tuhan dan memberi yang terbaik bagi Tuhan, maka Tuhan pun tidak akan menghapus nama kita dari buku kehidupan.


Bacaan Alkitab: Markus 16:1-8
16:1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.
16:2 Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.
16:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?"
16:4 Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.
16:5 Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut,
16:6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: "Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.
16:7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."
16:8 Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.