Selasa, 07 Mei 2013

Persembahan bagi Tuhan



Jumat, 3 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Imamat 1:1-17
Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.” (Im 1:2)


Persembahan bagi Tuhan


Sejak kapan manusia mulai memberi persembahan kepada Tuhan? Alkitab mencatat bahwa orang yang pertama kali mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan adalah kakak beradik Kain dan Habel (Kej 4:3-4). Sejak itu persembahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Bapa-Bapa leluhur bangsa Israel, dan menjadi suatu adat dan tradisi bagi bangsa Israel. Ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, salah satu hal penting yang Tuhan perintahkan kepada bangsa Israel pada umumnya dan kepada para imam dan suku Lewi pada khususnya.

Apa saja yang Tuhan perintahkan saat itu? Kita dapat membacanya dalam pasal pertama kitab Imamat (yang adalah salah satu dari 5 kitab Taurat Musa). Kitab Imamat ini berbicara dengan rinci mengenai bagaimana bangsa Israel harus melaksanakan ibadah mereka di hadapan Tuhan. Tentunya, pasal 1 dari kitab Imamat ini merupakan salah satu perintah yang pertama ditulis dan salah satu yang menggambarkan tata cara ibadah bangsa Israel. Hari ini kita akan coba mempelajari bagaimana kita harus mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan melalui pendalaman bagian Alkitab kita hari ini.

Pasal 1 dari kitab Imamat (dan juga keseluruhan kitab Imamat) adalah perintah Tuhan secara langsung kepada bangsa Israel melalui Musa (ay. 1). Tuhan berbicara atau berfirman kepada Musa dari dalam kemah pertemuan. Dengan demikian, ketika kita membaca kitab Imamat ini, ada satu hal yang penting yaitu bangsa Israel sudah membangun kemah pertemuan, yaitu kemah tempat bangsa Israel (khususnya Musa, Harun, dan para Imam) bisa bertemu dengan Tuhan.

Perintah pertama yang Tuhan berikan terkait dengan tata cara ibadah ini adalah mengenai persembahan. Syarat pertama mengenai persembahan yang diberikan oleh bangsa Israel adalah bahwa persembahan yang mereka berikan harus berasal dari lembu sapi atau dari kambing domba (ay. 2). Walaupun nanti di ayat-ayat selanjutnya kita akan melihat bahwa bangsa Israel boleh mempersembahkan sesuatu yang bukan hewan, tetapi hal tersebut lebih berbicara mengenai korban-korban lainnya. Namun dalam pasal 1 kitab Imamat ini seluruhnya berbicara tentang persembahan dari hewan,.

Saya sendiri masih belum mengerti 100% tentang perintah Tuhan, tetapi jika kita kembali ke kisah Kain dan Habel, Tuhan lebih memilih persembahan Habel yang berupa domba daripada persembahan Kain yang berupa hasil bumi (tanaman). Tuhan menetapkan standar yang tinggi dan jelas kepada bangsa Israel, ketika mereka mau memberi persembahan kepada Tuhan (ingat bahwa yang dimaksud dengan persembahan adalah persembahan yang diberikan khusus kepada Tuhan), mereka harus memberi persembahan (korban bakaran) dari lembu/sapi, kambing/domba, atau bahkan dari burung tekukur/merpati. Jika korban bakaran yang diberikan dari lembu/sapi atau kambing/domba, haruslah korban itu adalah seekor jantan yang tidak bercela (ay. 3 & 10).

Hewan itu haruslah disembelih,  dan imam-imam harus mempersembahkan darahnya di sekeliling mezbah (ay. 4, 5 & 11). Kemudian hewan tersebut harus dipotong-potong dan seluruh bagian hewan tersebut haruslah dibakar di atas kayu api (ay. 6-8 & 12). Sementara itu isi perutnya harus dibasuh dahulu dan kemudian dipersembahkan oleh imam (ay. 9 & 13). Saya sendiri kurang tahu mengapa bagian daging boleh langsung dibakar sementara bagian isi perut harus dibasuh dengan air terlebih dahulu. Tetapi mari kita menganggap bahwa itu adalah hak prerogatif Tuhan sendiri. Bahkan bagi bangsa Israel yang mungkin tidak mampu untuk mempersembahkan seekor lembu/sapi atau kambing/domba, mereka dapat mempersembahkan burung tekukur atau anak burung merpati (ay. 14). Mengapa jenis burung itu yang dipilih? Saya juga tidak tahu. Akan tetapi jika persembahan orang Israel adalah burung, maka tembolok dan bulunya harus dibuang dan baru sisanya dibakar dan menjadi korban persembahan bagi Tuhan (ay. 15-17).

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa saya menulis hal ini? Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang luar biasa. Ia memberi syarat bagi bangsa Israel dalam memberikan persembahan kepadaNya. Dengan kata lain, Tuhan ingin agar bangsa Israel tidak sembarangan saja membawa persembahan mereka ke hadapan Tuhan. Ini adalah inti dari bacaan Alkitab kita hari ini, yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita masing-masing. Ketika kita akan memberikan persembahan kepada Tuhan, sudahkah kita memberikan yang persembahan yang terbaik dan bukan hanya “sembarangan” saja? Apakah ketika kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan maka kita hanya memberi begitu saja tanpa adanya rasa hormat dan takut akan Tuhan?

Sebenarnya yang paling utama adalah bagaimana kita boleh terlebih dahulu mempersembahkan hati dan kehidupan kita bagi Tuhan. Jika hati kita sudah kita persembahkan bagi Tuhan, maka kita tidak akan memiliki masalah ketika kita mempersembahkan yang lain, termasuk uang kita, waktu kita, atau apapun yang kita miliki. Tetapi selama kita belum memberikan hati kita kepada Tuhan, jangan harap kita mau memberikan yang lain dengan hati yang tulus ikhlas. Pertanyaannya, sudahkah kita melakukannya?



                                                                                                              
Bacaan Alkitab: Imamat 1:1-17
1:1 TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan:
1:2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.
1:3 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela. Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia.
1:4 Lalu ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala korban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.
1:5 Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan.
1:6 Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.
1:7 Anak-anak imam Harun haruslah menaruh api di atas mezbah dan menyusun kayu di atas api itu.
1:8 Dan mereka harus mengatur potongan-potongan korban itu dan kepala serta lemaknya di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
1:9 Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air dan seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
1:10 Jikalau persembahannya untuk korban bakaran adalah dari kambing domba, baik dari domba, maupun dari kambing, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela.
1:11 Haruslah ia menyembelihnya pada sisi mezbah sebelah utara di hadapan TUHAN, lalu haruslah anak-anak Harun, imam-imam itu, menyiramkan darahnya pada mezbah sekelilingnya.
1:12 Kemudian haruslah ia memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan bersama-sama kepalanya dan lemaknya diaturlah semuanya itu oleh imam di atas kayu yang sedang menyala di atas mezbah.
1:13 Isi perut dan betisnya haruslah dibasuhnya dengan air, dan seluruhnya itu haruslah dipersembahkan oleh imam dan dibakar di atas mezbah: itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.
1:14 Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati.
1:15 Imam harus membawanya ke mezbah, lalu memulas kepalanya dan membakarnya di atas mezbah. Darahnya harus ditekan ke luar pada dinding mezbah.
1:16 Temboloknya serta dengan bulunya haruslah disisihkan dan dibuang ke samping mezbah sebelah timur, ke tempat abu.
1:17 Dan ia harus mencabik burung itu pada pangkal sayapnya, tetapi tidak sampai terpisah; lalu imam harus membakarnya di atas mezbah, di atas kayu yang sedang terbakar; itulah korban bakaran, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN."

Kamis, 02 Mei 2013

Prinsip Pendidikan Anak-anak Bangsa Israel



Kamis, 2 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Ulangan 6:1-9
Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ul 6:19)


Prinsip Pendidikan Anak-anak Bangsa Israel


Hari ini, tanggal 2 Mei, kita di Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei sebenarnya adalah hari kelahiran salah satu tokoh Indonesia yang berperan penting dalam pendidikan di Indonesia (bahkan pada waktu Indonesia belum merdeka) yaitu Ki Hajar Dewantara. Karena itulah pemerintah pun memutuskan agar tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional yang diperingati khususnya oleh sekolah-sekolah pada setiap tahunnya.

Walaupun demikian, kita pun menyadari bahwa di Indonesia ini pendidikan masih sangat jauh dari sempurna. Anak-anak kita yang mendapatkan begitu banyak pendidikan moral dan agama di sekolah, ternyata masih memiliki sikap yang jauh dari harapan kita. Saat ini, anak-anak usia sekolah pun sudah banyak yang melakukan kejahatan, yang dulu identik dengan kejahatan orang dewasa. Cukup sering kita mendengar ada anak-anak yang mencuri, yang menggunakan narkoba, yang tawuran, bahkan yang memperkosa dan membunuh temannya hanya karena masalah sepele. Itu adalah kondisi generasi penerus kita saat ini, dan menjadi pertanyaan, bagaimana nasib bangsa dan negara ini di masa yang akan datang? Generasi seperti itukah yang nantinya akan memimpin bangsa dan negara ini?

Semua tidak lepas dari konsep pendidikan yang kurang tepat di negeri ini. Jika kita berbicara tentang pendidikan, hal itu tidak hanya berupa pendidikan formal di sekolah, tetapi juga pendidikan informal di keluarga dan lingkungan sekitar. Hari ini kita akan coba mempelajari tentang prinsip-prinsip pendidikan bangsa Israel dan bagaimana hal tersebut mampu membuat bangsa Israel (sekarang bangsa Yahudi) menjadi salah satu bangsa yang paling pintar, paling kaya, dan paling berpengaruh di dunia.

Memang di dalam Alkitab tidak ada ayat khusus yang berbicara tentang bagaimana pola pendidikan bangsa Israel atau bangsa Yahudi secara teknis. Akan tetapi melalui bagian bacaan Alkitab kita hari ini, kita akan mencoba untuk belajar bagaimana prinsip-prinsip yang Alkitabiah untuk mendidik anak-anak dan generasi penerus kita.

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa bangsa Israel mendapatkan Firman Tuhan (Hukum Taurat) langsung dari Tuhan. Tuhan pun memerintahkan bangsa Israel agar melakukan Firman Tuhan tersebut untuk dilakukan oleh mereka ke negeri yang akan mereka tempati (ay. 1). Saat itu mereka baru saja akan memasuki tanah perjanjian (Kanaan). Tuhan pun mengatakan bahwa jika bangsa Israel mau melakukan Firman Tuhan dengan setia, yaitu mereka dan anak cucu mereka hidup takut akan Tuhan, maka Tuhan menjanjikan bahwa mereka akan panjang umur dan menikmati kasih setia Tuhan, serta hidup kita diberkati dalam segala hal (ay. 2-3). Oleh karena itu, mengingat janji Tuhan yang begitu besar kepada bangsa Israel, Tuhan memerintahkan agar mereka mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan, serta menyembah Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah (ay. 4-5).

Sampai di sini, sepertinya Firman Tuhan hanya berbicara tentang hal-hal umum saja. Akan tetapi perhatikan mulai ayat 6 dan seterusnya. Tuhan memerintahkan agar bangsa Israel memperhatikan dengan sungguh-sungguh Firman Tuhan dan perintah Tuhan tersebut (ay. 6). Selain melakukannya dalam kehidupan masing-masing, Tuhan memerintahkan agar bangsa Israel mengajarkan Firman Tuhan ini kepada anak-anak mereka secara berulang-ulang (ay. 7a). Bahkan ketika mereka sedang duduk di rumah, ketika mereka dalam perjalanan, bahkan ketika mereka sedang berbaring sekalipun (ay. 7b). Bahkan lebih ekstrem lagi, Tuhan meminta agar Firman itu selalu dibawa kemanapun mereka pergi, seperti frasa “dituliskan pada dahi dan diikatkan pada tangan” (ay. 8), dan juga ditulis di tiang pintu rumah dan pintu gerbang mereka (ay. 9). Menurut keterangan beberapa hamba Tuhan yang pernah ke Israel, memang bangsa Israel memiliki kebiasaan untuk menulis beberapa ayat Taurat di ambang pintu rumah mereka dan memakai semacam gelang di tangan mereka yang berisi ayat-ayat Taurat.

Memang pada masa dahulu Firman Tuhan belum ditulis di berbagai media seperti saat ini. Akan tetapi prinsip mengajarkan Firman Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita dan generasi penerus kita pun perlu tetap kita lakukan. Bangsa Israel memiliki sistem pendidikan anak-anak yang luar biasa, dari sejak anak itu dapat membaca hingga 12 tahun, mereka belajar di rumah-rumah ibadat. Perhatikan Yesus Kristus yang pada usia 12 tahun bercakap-cakap dengan para imam dan ahli Taurat di Bait Allah (Luk 2:46). Oleh karena itu anak-anak bangsa Israel memiliki pengetahuan tentang Taurat yang sangat kuat, yang mewarnai kehidupan mereka hingga dewasa nantinya.

Menurut saya, itulah salah satu rahasia kesuksesan bangsa Yahudi hingga saat ini. Mereka membiasakan anak-anak mereka hidup dalam Taurat sejak mereka kecil. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Kita memang bukan bangsa Yahudi yang memegang teguh hanya Taurat Musa saja. Tetapi kita lebih lagi, selain Taurat Musa dan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama, kita juga memiliki kitab-kitab dalam Perjanjian Baru yang berisi Firman Tuhan yang lebih dashyat dan luar biasa karena berbicara tentang keselamatan di dalam nama Yesus Kristus. Sudahkah kita membiasakan anak-anak kita hidup dalam Firman Tuhan sejak mereka kecil?

Mungkin ada beberapa di antara kita yang berkata, “Anak saya sudah ikut sekolah minggu setiap hari Minggu”, atau “Di sekolah juga sudah ada pendidikan agama Kristen”, atau “Saya sudah memasukkan mereka ke sekolah Kristen”. Memang itu baik, tetapi menurut saya, itu pun belum cukup. Berapa lama sih anak kita ikut sekolah minggu setiap minggunya? Hanya 2 jam saja bukan? Berapa banyak sih pendidikan agama di sekolah? Barangkali paling banyak hanya 4 jam semingu. Lalu jika dalam seminggu itu ada 7 hari x 24 jam = 168 jam dalam seminggu, maka pendidikan agama formal di sekolah selama 4 jam itu hanya setara dengan 2,4% waktu selama 1 minggu. Apakah itu sudah cukup?

Bukankah Tuhan juga memerintahkan agar kita mengajarkan Firman Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita? Sudahkah kita membayar harga bagi mereka? Ingat bahwa merekalah yang akan meneruskan jejak kita di dunia ini? Apakah kita mau membiarkan mereka tanpa persiapan ketika mereka hidup di dunia yang semakin hari semakin jahat ini? Ingat, membiarkan anak-anak kita hidup tanpa Firman Tuhan itu sama saja dengan membiarkan mereka masuk ke dalam jurang kebinasaan, yaitu neraka. Sudahkah kita melakukan yang terbaik bagi anak-anak dan generasi penerus kita?



Bacaan Alkitab: Ulangan 6:1-9
6:1 "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,
6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Rabu, 01 Mei 2013

Suka Menyalahkan Orang Lain



Rabu, 1 Mei 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 3:9-13
Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."” (Kej 3:12)


Suka Menyalahkan Orang Lain


Saya melihat bahwa para ibu-ibu di Indonesia ini berperan cukup besar terhadap kekacauan yang terjadi di negara kita. Tidak percaya? Coba saja lihat ibu-ibu yang memiliki anak kecil (balita). Ketika anaknya jatuh misalnya, maka ibu-ibu pada umumnya akan menenangkan anaknya lalu “menyalahkan” pihak lain. Contohnya saja si ibu akan berkata, “Duh, kamu jatuh ya nak? Kursinya nakal ya?” atau “Cup cup cup... lantainya nakal ya, sini ibu pukul lantainya”, dan begitu seterusnya. Ibu-ibu sudah mengajarkan prinsip menyalahkan pihak lain sejak kita kecil. Bahkan kadang-kadang benda mati pun bisa disalahkan. Apa hubungannya kursi, meja, lantai, dan lain sebagainya, padahal anak itu jatuh karena si ibu atau si anak sendiri yang tidak hati-hati? Akibatnya, saat ini di negeri kita, semua orang saling menyalahkan. Atasan menyalahkan bawahan, bawahan menyalahkan atasan, dan begitu seterusnya. Tidak ada orang yang mau disalahkan, sehingga jika mungkin mereka mencari orang lain untuk disalahkan.

Sifat saling menyalahkan orang lain ini ternyata sudah ada jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan pada masa Adam dan Hawa hidup ketika masih di Taman Eden. Ketika manusia (Adam dan Hawa) jatuh ke dalam dosa akibat memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (pohon terlarang), maka manusia sadar bahwa mereka telanjang dan berdosa. Oleh karena itu, Adam dan Hawa pun bersembunyi ketika Tuhan datang untuk bertemu dengan manusia dan memanggil Adam, “Di manakah engkau?” (ay. 9). Saat itu Adam lalu menjawab “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi” (ay. 10).

Tuhan pun bertanya kepada Adam, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” (ay. 11). Perhatikan pertanyaan Tuhan kepada Adam. Ada 2 pertanyaan yang diajukan Tuhan yaitu: 1) siapa yang memberitahukan kepada Adam bahwa ia telanjang?; dan 2) Apakah Adam makan buah pohon terlarang? Sebenarnya hanya 2 pertanyaan yang diajukan Tuhan tersebut. Tetapi Adam tidak menjawab sama sekali 2 pertanyaan Tuhan tersebut, melainkan justru mengatakan bahwa “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (ay. 12). Adam justru melempar kesalahan kepada Hawa di hadapan Tuhan. Padahal baru saja Adam mengatakan bahwa Hawa adalah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23). Tetapi ketika ada permasalahan, Adam langsung memojokkan Hawa, isterinya tersebut.

Tuhan pun tidak langsung menyalahkan Adam maupun Hawa, tetapi Tuhan bertanya kepada Hawa, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” (ay. 13a). Hawa juga tidak mau disalahkan, sehingga ia pun menyalahkan iblis, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (ay. 13b). Perhatikan bahwa Hawa sama sekali tidak mau mengakui bahwa ia salah karena memberikan buah kepada Adam. Hawa memposisikan dirinya sebagai korban dari ular. Padahal jika mau jujur, sebenarnya Hawa juga salah karena ia sendiri yang memberikan buah terlarang itu kepada Adam (Kej 3:6). Adam pun juga salah karena ia tidak menanyakan dulu  buah apa yang diberikan Hawa kepada Adam. Adam juga salah karena ia tidak menjaga isterinya dengan cara membiarkan isterinya memiliki pemahaman yang salah tentang pohon terlarang itu. Tuhan memerintahkan Adam agar tidak memakan buah dari pohon terlarang tersebut (Kej 2:17). Tetapi yang Hawa tahu adalah bahwa selain tidak boleh memakan buah dari pohon terlarang, ia juga tidak boleh meraba buah tersebut (Kej 3:3).

Sejak kejadian itulah, manusia menjadi makhluk yang suka menyalahkan orang lain. Bahkan jika tidak ada orang lain, benda mati pun bisa disalahkan. Bahkan mungkin saja kita juga menyalahkan iblis. Kita yang tidak suka ngebut ketika mengendarai sepeda motor, tidak suka memakai helm, dan lain sebagainya, ketika kita mengalami kecekakaan, terjatuh dan harus dirawat, kita (atau mungkin Pendeta) menyalahkan Iblis. Ya mungkin saja iblis telah mempengaruhi orang itu secara tidak langsung, tetapi sebenarnya orang itu sendiri yang salah karena melanggar peraturan lalu lintas bukan? Hal itu sebenarnya lebih kepada karakter orang yang suka ugal-ugalan dan kebut-kebutan, bukan melulu salah Iblis yang menyebabkan kecelakaan secara langsung.

Apa yang dapat kita pelajari hari ini? Bagi kita yang memiliki anak kecil, ajarlah sejak kecil anak kita agar bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Jangan karena rasa sayang kita kemudian kita membiasakan anak kita untuk menyalahkan orang lain. Bahkan kita yang sudah dewasa pun harus dapat memiliki sikap bertanggung jawab. Jika kita memang salah, ya akuilah kesalahan kita. Jika kita tidak salah, ya katakan saja yang sebenarnya, walaupun mungkin ada sebagian kecil kesalahan kita karena kita kurang mengontrol orang lain yang salah tersebut. Jadilah orang yang bertanggung jawab di dunia ini, dari hal-hal yang kecil, karena ketika nanti kita mati dan menghadap tahta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita secara pribadi di hadapanNya. Karena pada saat itu, kita sudah tidak bisa menyalahkan orang lain lagi.




Bacaan Alkitab: Kejadian 3:9-13
3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
3:10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
3:11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"
3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."