Jumat, 27 September 2013

Disiksa Iblis di Neraka?

Sabtu, 28 September 2013
Bacaan Alkitab: Wahyu 20:7-15
Dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.” (Why 20:10)


Disiksa Iblis di Neraka?


Ketika masih anak-anak, saya membayangkan neraka sebagai suatu tempat dimana orang-orang jahat masuk ke dalamnya setelah mereka mati. Ditambah dengan film-film atau cerita-cerita yang pernah saya lihat atau saya dengar, saya menggambarkan neraka dimana setelah kita mati nanti, maka kita akan disiksa oleh iblis di neraka. Kita akan menerima hukuman kekal di neraka nanti dan dihukum oleh iblis. Jadi waktu itu saya menggambarkan neraka sebagai “kerajaan iblis” dimana iblis berkuasa penuh untuk menghukum kita.

Gambaran itu masih saya bawa terus-menerus bahkan hingga saya dewasa. Bahkan ketika dewasa saya sempat membaca suatu selebaran yang ditulis oleh pendeta terkenal yang (katanya) sudah pernah ditunjukkan neraka, dan beliau menggambarkan neraka sebagai tempat orang-orang jahat disiksa oleh iblis. Tetapi ketika saya mencoba untuk mempelajari Alkitab, muncul pertanyaan dalam diri saya. Benarkah iblis menjadi penguasa neraka?

Saya menemukan jawabannya di ayat-ayat ini. Memang ayat ini menggambarkan tentang kondisi pada akhir zaman nanti, yaitu ketika Tuhan datang untuk yang kedua kalinya. Pada kitab Wahyu disebutkan bahwa Iblis akan dilepaskan dari penjaranya (ay. 7) dan menyesatkan bangsa-bangsa di seluruh bumi untuk berperang melawan orang-orang kudus (ay. 8). Namun setelah itu, iblis dan  bangsa yang berperang melawan orang-orang kudus ini akan dikalahkan oleh Tuhan (ay. 9), bahkan Iblis yang menyesatkan bangsa-bangsa tersebut juga dikalahkan dan dilemparkan ke lautan api dan belerang dan disiksa siang dan malam selama-lamanya (ay. 10).

Baru setelah itu, Tuhan turun dengan tahtaNya, dan langit serta bumi yang kita kenal sekarang ini lenyap tak berbekas (ay. 11). Kemudian semua orang mati dihakimi di depan tahta pengadilan Allah (ay. 12-13), dan maut beserta kerajaan maut juga dilemparkan ke dalam api (ay. 14), dan semua orang yang tidak ditemukan namanya di dalam kitab kehidupan itu dilemparkan juga ke lautan api (ay. 15). Jadi, kesimpulan dari ayat-ayat ini adalah baik iblis maupun orang-orang yang tidak ada di dalam kitab kehidupan (orang-orang yang menolak dan tidak percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat) sama-sama dilemparkan ke lautan api yaitu neraka (ay. 10 dan 15), serta mereka sama-sama menerima siksaan kekal di neraka.  

Alkitab merupakan satu-satunya kitab suci agama di dunia ini yang menyatakan dengan jelas bahwa iblis tidak menyiksa jiwa-jiwa di dalam neraka. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Iblis pun akan disiksa di neraka kekal. Ini berarti baik surga maupun neraka ada dalam kendali Tuhan sepenuhnya. Berbeda dengan “ajaran” lain yang menyatakan bahwa iblis berkuasa atas neraka. Jika memang iblis berkuasa di neraka, tentu hal ini akan menjadi masalah, karena neraka menjadi wilayah yang tidak dapat dikuasai oleh Tuhan.

Oleh karena itu, mengingat iblis saja nanti akan dimasukkan ke dalam neraka, sudah sepantasnya kita hidup menurut jalan Tuhan dan bukan hidup menurut jalan iblis. Sangat disayangkan apabila ada orang (apalagi orang Kristen) yang masih suka melakukan hal-hal seperti apa yang iblis lakukan. Pergi ke dukun untuk mencari kekayaan dunia, pergi ke dukun agar bisa “memelet” orang, dan lain sebagainya. Ingat bahwa cara tersebut mungkin bisa digunakan di dunia, tetapi tidak dapat membawa kita ke surga. Melakukan cara-cara iblis sama saja dengan bersekutu dengan iblis. Tidak percaya? Lihat saja kalimat iklan-iklan dukun di surat kabar. Mereka meminta uang yang disebut dengan “mahar”. Apa gunanya mahar? Bukankah mahar itu adalah syarat perkawinan? Jadi ketika kita membayar si dukun untuk ilmu-ilmu tertentu, berarti kita sudah kawin (bersekutu) dengan iblis, dan jika kita tidak bertobat, maka kita pun akan tetap bersekutu dengan iblis di dalam lautan api yang kekal.

Ingat, iblis tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari lautan api kekal tersebut. Oleh karena itu iblis akan berusaha sekeras mungkin untuk menarik banyak manusia bersama-sama dengannya masuk ke neraka. Mana pilihan kita? Ikut jalan Tuhan atau ikut jalan iblis?


Bacaan Alkitab: Wahyu 20:7-15
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya,
20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.
20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka,
20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.
20:11 Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.
20:12 Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
20:13 Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.
20:14 Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
20:15 Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

Kamis, 26 September 2013

Perjalanan Karir Yusuf



Jumat, 27 September 2013
Bacaan Alkitab: Kejadian 39:20-23
Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.” (Kej 39:20)


Perjalanan Karir Yusuf


Sejak saya menikah, saya dan isteri saya menulis permohonan-permohonan kami di hadapan Tuhan dan selalu mendoakannya. Salah satu yang kami minta adalah pekerjaan baru yang lebih baik bagi saya dibanding pekerjaan saya yang sekarang. Dan beberapa bulan yang lalu, saya “ditawari” oleh salah seorang bos saya untuk pindah ke instansi lain karena katanya ia mempunyai “channel” untuk pindah ke sana. Saya sih mengiyakan saja, terlebih karena saya tahu bahwa di instansi tersebut memang kesejahteraannya jauh lebih baik. Akan tetapi apa yang terjadi, bulan demi bulan, tidak ada kabar berita, dan yang ada malah instansi tersebut mengadakan rekrutmen secara umum. Saya yang tidak tahu info terbaru dari bos saya tersebut pun memutuskan untuk mendaftar lewat rekrutmen umum tersebut. Dan hasilnya, bahkan untuk seleksi administrasi pun saya tidak lolos.

Ya, itu adalah hal yang cukup membuat saya sempat down. Akan tetapi saya seakan-akan diingatkan Tuhan bahwa saya tidak boleh mengandalkan manusia tetapi harus mengandalkan Tuhan. Dan ketika saya mencoba mencari dalam Alkitab, apakah ada tokoh Alkitab yang mengalami seperti apa yang saya alami, saya justru menemukan tokoh Alkitab yang memiliki karir yang seperti saya, bahkan mungkin sempat mengalami karir yang lebih buruk lagi sebelum Tuhan mengangkat dirinya.

Ya, tokoh dalam Alkitab yang saya maksud adalah Yusuf di Perjanjian Lama. Banyak hamba Tuhan dan Pendeta yang hanya melihat Yusuf hanya dari sisi kesuksesannya saja yaitu ia mampu menjadi penguasa di Mesir (hanya setingkat di bawah Firaun) padahal ia adalah orang Ibrani. Kisah Yusuf seringkali diangkat oleh para hamba Tuhan tersebut untuk menunjukkan bahwa Tuhan akan mengangkat anak-anakNya menjadi kepala, dan bahwa anak-anak Tuhan akan selalu sukses tanpa masalah. Akan tetapi hanya sedikit hamba Tuhan dan Pendeta yang mengangkat tentang karir Yusuf yang sempat berada pada titik terendah yaitu sebagai budak dan sebagai tahanan.

Jika kita mengibaratkan Yusuf sebagai seorang pekerja karir, maka ia baru saja merintis karir sebagai “pembantu” di rumah Potifar. Ia sudah bekerja dengan sebaik-baiknya sehingga Potifar pun mempercayai  Yusuf sebagai kepala atas rumah tangganya. Jika diibaratkan dengan kondisi saat ini, maka Yusuf ini ibarat seorang pegawai yang merintis karir di suatu perusahaan dari bawah, hingga ia pun bisa menjadi seorang pimpinan puncak di perusahaan tersebut.

Akan tetapi, ketika Yusuf sedang dalam puncak karirnya, ia pun difitnah hingga akhirnya ia masuk ke dalam penjara (ay. 20). Secara manusia, ini adalah kehancuran karir Yusuf. Secara manusia, Yusuf saat ini berada di titik terendah dalam kehidupannya. Mana mungkin seorang tahanan penjara bisa bangkit lagi untuk meniti karir? Bahkan bisa keluar dari penjara pun sudah sangat disyukuri.

Walaupun demikian, ingatlah bahwa jalan Tuhan itu bukanlah seperti jalan yang dikpikirkan manusia. Tuhan punya rencana yang indah bagi Yusuf. Di dalam penjara sekalipun, Tuhan menyertai Yusuf dan membuat Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara itu (ay. 21). Bahkan walaupun status Yusuf adalah seorang tahanan, tetapi Yusuf dipercaya untuk mengurus tahanan-tahanan yang lain dan mengurus segala urusan penjara itu (ay. 22). Alkitab juga menulis bahwa kepala penjara memberikan wewenang penuh kepada Yusuf dan tidak mencampuri apa yang dilakukan Yusuf, karena Tuhan menyertai Yusuf dan apa yang dikerjakannya dibuat Tuhan berhasil (ay. 23).

Apa yang dapat kita pelajari hari ini? Saya sendiri ketika membaca ayat-ayat ini dikuatkan Tuhan bahwa sebetulnya masalahnya bukan pada dimana kita bekerja saat ini, tetapi adalah bagaimana kita bekerja dengan sebaik-baiknya di tempat kita saat ini, dimanapun kita berada. Jika Tuhan menempatkan kita di suatu tempat, entah di suatu kantor, suatu perusahaan, suatu sekolah atau kampus, atau dimanapun kita berada, berarti ada maksud Tuhan dibalik itu semua. Tuhan ingin kita melakukan yang terbaik dimanapun kita berada. Tuhan ingin tetap menyertai kita dan membuat kita berhasil dan kita menjadi kepala di tempat kita berada saat ini.

Ingatlah apa yang terjadi selanjutnya dengan Yusuf. Tuhan pun akhirnya mengangkat Yusuf jauh lebih tinggi dari apapun juga, yaitu menjadi orang kedua di Mesir (hanya berada di bawah Firaun sebagai raja Mesir). Tuhan kita jauh lebih sanggup untuk memberi kita posisi yang tinggi. Permasalahannya, apakah kita sudah siap? Yusuf sendiri sudah terbukti tetap melakukan apa yang benar dimanapun ia berada. Dan ia pun hanya tinggal menunggu saatnya Tuhan mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi lagi.

Mungkin ada di antara kita yang memiliki karir tidak bagus. Mungkin pekerjaan kita saat ini merupakan “kemunduran” di mata manusia. Mungkin saat ini kita berseru kepada Tuhan, “Tuhan berikan pekerjaan baru yang lebih baik lagi, dengan gaji yang lebih besar, dan lain sebagainya”. Doa kita itu tidak salah, dan menurut saya kita juga harus mendoakan seperti itu. Tetapi jika memang masih belum waktu Tuhan, berarti kita pun masih harus besabar dan tetap harus bekerja sebaik-baiknya di tempat kita bekerja saat ini. Jika memang alasan kita untuk meminta pekerjaan baru kepada Tuhan itu adalah alasan yang benar, maka saya yakin Tuhan pun akan menjawab doa kita.

Jadilah orang seperti Yusuf yang tetap mau melakukan apa yang terbaik yang ia lakukan dimanapun ia berada, bahkan sebagai budak maupun sebagai tahanan, sehingga sikap dan karakter itu tetap  terbawa kemanapun Yusuf berada, hingga ia pun akhirnya menjadi pemimpin yang bijaksana, yang mau bekerja keras, dan menjadi orang yang berhasil dimanapun ia berada. Ingat, bukan jenis pekerjaan yang menentukan keberhasilan Yusuf. Tetapi Tuhanlah yang membuat Yusuf selalu berhasil dimanapun ia berada, bahkan ketika karirnya berada di titik terendah sekalipun.


Bacaan Alkitab: Kejadian 39:20-23
39:20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.
39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
39:22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
39:23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

Ketika Orang Kudus pun Protes



Kamis, 26 September 2013
Bacaan Alkitab: Wahyu 6:9-11
Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"” (Why 6:10)


Ketika Orang Kudus pun Protes


Di Jakarta, kegiatan rutin seperti pergi ke kantor setiap pagi dan pulang ke rumah setiap sore atau malam hari ini bisa menjadi kegiatan yang sangat melelahkan. Kepadatan lalu lintas dan kemacetan di Jakarta benar-benar membuat stress dan pusing. Tidak hanya kemacetan yang disebabkan oleh tingginya angka kendaraan bermotor, tetapi kelakuan para pengguna jalan (khususnya sepeda motor) yang seringkali ugal-ugalan atau tidak memikirkan orang lain pun bisa sangat berbahaya. Contohnya saja, ada segelintir pengendara sepeda motor yang tidak mau memakai helm, tidak ada kaca spion, knalpot berisik, lampu tidak nyala, dan lain sebagainya, tetapi gaya mengemudinya sangat membahayakan karena main potong kiri dan potong kanan. Sampai saya pun pernah protes ke Tuhan, “Ya Tuhan, mengapa sih orang-orang seperti itu kok ya nggak kecelakaan terus meninggal gitu, daripada menyusahkan pengendara lain dan membahayakan orang-orang yang sebenarnya sudah taat lalu lintas?”

Tanpa kita sadari, kita pun sering mengucapkan protes kita kepada Tuhan, khususnya apabila kita melihat orang-orang yang sering berbuat dosa tetapi hidupnya enak-enak saja. Atau melihat orang-orang yang “menganiaya” gereja Tuhan tetapi Tuhan tidak segera membalaskan kesalahan mereka. Seringkali protes kita hingga berkata negatif di hadapan Tuhan. Apakah hal itu salah menurut Firman Tuhan?

Saya tidak dapat mengatakan dengan pasti apakah hal itu salah atau tidak. Bahkan jika kita membaca dalam bacaan Kitab Suci kita hari ini, dikatakan bahwa di akhir zaman, ketika meterai kelima dibuka, maka orang-orang kudus, yaitu mereka yang telah mati karena Firman Tuhan dan karena kesaksian hidup mereka pun protes kepada Tuhan (ay. 9). Mereka yang meninggal karena mempertahankan iman mereka kepada Tuhan (yang artinya mereka pun adalah orang-orang yang “lebih hebat” dari kita), berseru dengan suara nyaring kepada Tuhan, “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” (ay. 10).

Jiwa-jiwa ini adalah mereka yang mati karena nama Tuhan. Mereka dibunuh bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena mempertahankan iman mereka kepada Tuhan. Mereka tentunya memiliki iman yang sudah terbukti dan teruji, bahkan mungkin iman mereka lebih dari iman kita. Akan tetapi mereka pun sempat protes kepada Tuhan dan bertanya, “Berapa lama lagi ya Tuhan, Engkau tidak membalas darah kami ini?”.

Tetapi jika kita membaca ayat selanjutnya, Alkitab menulis bahwa masing-masing jiwa ini pun diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan (entah siapa yang mengatakan, apakah Tuhan sendiri ataukah malaikat Tuhan) agar mereka bersabar dan beristirahat sebentar lagi hingga genap jumlah orang-orang kudus yang akan dibunuh sama seperti mereka, barulah pembalasan dan hukuman Tuhan bisa dilakukan seluruhnya (ay. 11). Memang setelah meterai kelima ini, hukuman Tuhan atas bumi menjadi semakin luar biasa beratnya hingga akhirnya Tuhan menghakimi semua manusia dan melemparkan iblis dan para pengikutnya ke neraka, sedangkan orang-orang kudus menempati langit dan bumi yang baru.

Apa artinya ini? Saya melihat sebenarnya sah-sah saja protes kepada Tuhan. Tetapi dalam protes kita itu pun kita harus menjaga perkataan kita di hadapan Tuhan, jangan sampai kita menganggap diri kita lebih hebat daripada Tuhan (2 Ptr 2:11). Kita harus ingat bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Siapakah kita jika dibanding dengan Tuhan yang adalah pencipta kita? Ingat bahwa pembalasan itu adalah hak Tuhan, bukan hak kita (Ibr 10:30). Hanya Tuhan saja yang berhak membalas dan menghakimi, bukan kita. Walaupun kita tidak merasakan bahwa balasan Tuhan terhadap orang-orang fasik atau orang-orang yang sudah merugikan kita, tetapi ingatlah bahwa suatu saat nanti, pada saat akhir zaman, tidak ada satu orang pun yang akan luput dari penghakiman Tuhan nantinya. Sabarlah, dan biarlah kita melakukan bagian kita dan biarkan Tuhan sendiri yang melakukan bagianNya.


Bacaan Alkitab: Wahyu 6:9-11
6:9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.
6:10 Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"
6:11 Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.



Selasa, 24 September 2013

Sungai yang Berguna



Rabu, 25 September 2013
Bacaan Alkitab: Yehezkiel 47:1-12
Sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.” (Yeh 47:9)


Sungai yang Berguna


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sungai-sungai yang cukup panjang. Sebut saja sungai Bengawan Solo, yang berasal dari waduk Gajah Mungkur di daerah Wonogiri. Saya sendiri beberapa kali sempat melihat bendungan di waduk tersebut dan melihat aliran sungai yang baru keluar dari bendungan tersebut, bisa dibilang sangat kecil. Beberapa kali saya pun melintasi sungai ini sejak di daerah hulu hingga hilir. Semakin ke hilir, sungai tersebut pun semakin lebar, serta semakin banyak sawah yang tergantung pada sungai tersebut.

Cerita saya di atas menjadi pengantar bagi bacaan Alkitab kita hari ini. Ayat yang kita baca hari ini berbicara tentang penglihatan yang dialami oleh nabi Yehezkiel, dimana saat itu Tuhan membawa Yehezkiel ke pintu Bait Suci dan ia melihat ada air yang keluar dari Bait Suci tersebut dan mengalir menuju ke arah timur (ay. 1). Saya tidak tahu apakah ini sebenarnya adalah hal yang benar-benar terjadi atau hanya kiasan saja, karena saya pun belum pernah mengunjungi Israel. Akan tetapi jika melihat ayat-ayat sebelumnya maka menurut pendapat saya, ini pun hanya sekedar penglihatan saja (bukan hal yang nyata), tetapi maknanya akan sangat dalam apabila kita renungkan dengan sungguh-sungguh.

Yehezkiel kemudian keluar melalui pintu gerbang, dan ia melihat air yang keluar tersebut menjadi membual (ay. 2). Yehezkiel kemudian dibawa 1.000 hasta ke arah timur dan masuk ke dalam air tersebut. Pada saat itu, dalamnya air adalah sampai di pergelangan kaki (ay. 3). Seribu hasta lagi ke arah timur, Yehezkiel masuk ke dalam air dan saat itu sudah sedalam lutut (ay. 4a). Seribu hasta lagi ke arah timur, dalamnya pun sudah sepinggang (ay. 4b). Hingga akhirnya seribu hasta lagi ke arah timur (total 4.000 hasta), air tersebut yang awalnya adalah aliran air kecil kini sudah berubah menjadi suatu sungai besar yang tidak mungkin diseberangi manusia tanpa alat bantu (ay. 5).

Akan tetapi cerita ini tidak berhenti sampai di sini saja. Tuhan pun mengajak Yehezkiel kembali menyusuri tepi sungai yaitu kembali ke arah Bait Suci (ay. 6). Sepanjang jalan, ternyata sudah banyak pohon yang tumbuh di keduatepian sungai (ay. 7). Bahkan Tuhan sendiri berkata bahwa walau sungai tersebut akan bermuara di Laut Asin (Laut Mati), tetapi air dari sungai tersebut justru membuat Laut Asin menjadi tawar (ay. 8). Air yang mengalir dari Bait Suci tersebut bukan sembarang air. Air tersebut membawa kehidupan, kemana saja air sungai itu mengalir, banyak ikan yang hodup di sepanjang sungai tersebut, antara lain ikan-ikan yang kemudian ditangkap oleh para nelayan (ay. 9-10), menjadi tempat untuk mengambil garam (ay. 11), bahkan pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang sungai pun adalah pohon yang daunnya tidak pernah layu dan buahnya tidak pernah habis (ay. 12).

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas? Jika kita maju ke masa Perjanjian Baru, kita akan mengerti bahwa yang dimaksud dengan Bait Suci bukanlah hanya sekedar bangunan Bait Suci yang ada di Yerusalem (yang saat ini sudah dihancurkan oleh pasukan Romawi sekitar tahun 70 masehi). Yang dimaksud dengan Bait Suci atau Bait Allah adalah tubuh kita sendiri, yaitu orang-orang yang percaya kepada Tuhan (1 Kor 3:16). Sama dengan yang dimaksud dengan Gereja sebenarnya bukan merujuk kepada bangunan gereja tetapi lebih kepada persekutuan orang-orang percaya itu sendirilah yang disebut dengan gereja.

Dengan kata lain, yang dimaksudkan ayat-ayat di kitab Yehezkiel ini adalah bahwa kita selaku Bait Tuhan, harus mampu mengalirkan air keluar. Maksudnya adalah kita sebagai anak-anak Tuhan harus dapat memberi dampak atau pengaruh kepada lingkungan sekitar kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Ingat, bahwa dampak yang kita berikan haruslah dampak yang positif, bukan dampak negatif. Percuma kita mengaku sebagai orang Kristen jika justru kehidupan kita menjadi cibiran bagi tetangga-tetangga kita. Jangan sampai tetangga kita malah berkata, “Ih, katanya orang Kristen tapi kok setiap hari kerjanya berantem terus...” atau “Setiap Minggu pergi ke gereja tapi senin sampai sabtu kerjanya Cuma main togel saja...”. Bukankah itu sama saja dengan menjelek-jelekkan nama Tuhan kita?

Ingat bahwa Kristen berarti pengikut Kristus. Jangan korbankan nama Kristus dengan perilaku kita yang jelek dan memalukan nama Tuhan kita. Tetapi justru kita harus berbuat sebaik-baiknya untuk memuliakan nama Tuhan. Jadilah orang-orang yang berdampak positif, sehingga kehadiran kita tidak dihujat, tetapi disyukuri.

Marilah kita menjadi orang-orang yang seperti itu. Kehadiran kita memberi dampak positif bagi orang di sekitar kita. Menjadi berkat bagi mereka yang ada di sekeliling kita, bahkan membuat orang lain diberkati melalui kehadiran dan kehidupan kita, seperti sungai yang memberi kehidupan di sepanjang alirannya, sehingga pohon-pohon yang berada di sekitarnya pun menjadi hidup dan bahkan memberi buah sepanjang waktu.


Bacaan Alkitab: Yehezkiel 47:1-12
47:1 Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah.
47:2 Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.
47:3 Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki.
47:4 Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang.
47:5 Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi.
47:6 Lalu ia berkata kepadaku: "Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?" Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai.
47:7 Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana.
47:8 Ia berkata kepadaku: "Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar,
47:9 sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.
47:10 Maka penangkap-penangkap ikan penuh sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak.
47:11 Tetapi rawa-rawanya dan paya-payanya tidak menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam.
47:12 Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat."