Minggu, 12 Januari 2014

Selalu Beruntung



Selasa, 14 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Yosua 1:7-8
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yos 1:8)


Selalu Beruntung


Mungkin kita pernah membaca komik Donal Bebek. Dalam komik tersebut, ada satu tokoh yang bernama Untung Bebek. Singkatnya, si Untung Bebek sesuai dengan namanya memang selalu beruntung alias hoki dalam hidupnya. Ia tidak pernah mengalami kesialan dan selalu beruntung, sedangkan si Donal Bebek justru lebih sering ketiban sial ketika bersama-sama dengan si Untung. Memang si Untung Bebek ini hanya ada di komik, tetapi setelah saya renungkan, mungkinkah kita bisa menjadi beruntung di dunia ini?

Saya mencari dalam Alkitab, dan menemukan sejumlah ayat mengenai keberuntungan, tentang bagaimana kita dapat menjadi orang yang beruntung. Saya percaya ayat-ayat Alkitab yang saya kutip hari ini akan dapat membuat kita beruntung, asalkan kita mau melakukan syarat-syaratnya, yaitu sebagai berikut:

Pertama, kita perlu menguatkan dan meneguhkan hati kita dengan sungguh-sungguh (ay. 7a). Menguatkan dan meneguhkan hati ini tidaklah mudah. Kita perlu mengarahkan hati kita kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap hati, karena jika kita mau jujur, hanya Tuhanlah yang dapat menguatkan hati kita. Oleh karena itu, cara satu-satunya agar kita memiliki hati yang kuat dan teguh adalah dengan mengarahkan dan memautkan hati kita kepada Tuhan.

Kedua, kita pun perlu bertindak hati-hati sesuai dengan Firman Tuhan (ay. 7b & 8c). Kita sebagai orang Kristen mungkin sudah sangat sering mendengar khotbah Firman Tuhan. Akan tetapi pernahkah kita mempertimbangkan Firman Tuhan sebelum kita bertindak? Misal saja ketika kita mendengar Firman “Jangan mencuri”, apakah kita mau taat kepada Firman tersebut? Atau kita justru tetap melakukan pencurian atau korupsi? Bertindaklah hati-hati, dalam artian mempertimbangkan segala sesuatu sebelum kita bertindak.

Ketiga, kita pun perlu mengikuti jalan Tuhan dan tidak menyimpang ke kanan ataupun ke kiri dari apa yang dikatakan Firman Tuhan (ay. 7c). Firman Tuhan memang pada umumnya menyatakan dengan jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sudahkah kita taat terhadap Firman Tuhan tersebut, atau justru kita suka menyimpang sedikit demi sedikit dari garis yang telah ditetapkan Firman Tuhan, dan lambat laun tanpa kita sadari, kita sudah berada sangat jauh dari jalan Tuhan.

Keempat, kita perlu sering memperkatakan Firman Tuhan (ay. 8a). Memperkatakan Firman Tuhan dapat diartikan secara harafiah yaitu sering mengucapkan Firman Tuhan dengan mulut kita, sehingga lambat laun kita senantiasa ingat dengan Firman Tuhan (sebagaimana cara menghafal anak SD pada umumnya), tetapi di sisi lain memperkatakan Firman Tuhan juga dapat diartikan yaitu senantiasa menyampaikan dan membagikan Firman kepada orang lain, sehingga selain diri kita yang diingatkan tentang Firman Tuhan, orang lain pun juga mendapatkan berkat Tuhan dari Firman yang kita sampaikan.

Kelima, kita pun perlu merenungkan Firman Tuhan siang dan malam alias setiap saat (ay. 8b). Jangan kita terlena dengan kesibukan kita sehingga jangankan siang dan malam, setiap pagi saja kita lupa membaca dan merenungkan Firman Tuhan tersebut. Ingatlah bahwa Firman Tuhan adalah jalan kehidupan, dan kita sungguh membutuhkan Firman Tuhan setiap saat untuk menuntun kehidupan kita.

Jika kita mau melakukan kelima syarat di atas, maka Tuhan berjanji bahwa perjalanan kita akan berhasil dan beruntung, kemanapun kita pergi (ay. 7d dan 8c). Janji Tuhan ini tetap berlaku baik dahulu maupun saat ini dan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, jika kita mau hidup kita beruntung, maka kita pun perlu melakukan hal tersebut.

Jujur saja, saya pun masih belum mencapat taraf tersebut. Banyak momen di kehidupan saya yang saya lewati dengan ketidakberuntungan. Banyak saat dimana saya merasa seakan-akan salah mengambil keputusan dan akibatnya banyak waktu dan uang yang terbuang dengan percuma. Bahkan ketika saya menulis renungan ini bisa dibilang saya sedang salah mengambil keputusan karena ketika saya sedang di bandara, saya dihadapkan pada 2 pilihan, maskapai yang murah tetapi sering delay atau maskapai yang agak mahal tetapi lebih terjamin ketepatan waktunya. Saya pun memilih maskapai yang agak mahal walaupun jamnya agak lebih belakangan, dan ternyata saya salah memilih karena maskapai yang biasanya sering delay justru saat ini bisa dibilang tepat waktu (hanya delay beberapa menit saja).

Mungkin ada di antara kita yang sering merasa salah mengambil keputusan dalam hidup kita. Apa yang kita pikir adalah keputusan yang benart dan tepat, sering kali justru ternyata kurang tepat. Saya sendiri juga pernah mengalami hal tersebut, dalam 1 hari ternyata keputusan yang saya ambil selalu kurang tepat. Ternyata saya juga sedang ditegur Tuhan karena lalai melakukan Firman Tuhan dalam kedua ayat bacaan kita hari ini. Jangan melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah saya lakukan. Saya mengingatkan kita semua agar kita sungguh-sungguh melakukan Firman Tuhan sehingga kita semua menjadi orang yang beruntung, karena Firman Tuhan sendiri yang menyatakannya. Tuhan ingin kita semua menjadi orang-orang yang beruntung, tetapi bukan beruntung karena garis tangan, melainkan karena tangan Tuhan yang membuat kita beruntung.


Bacaan Alkitab: Yosua 1:7-8
1:7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.
1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

Memperbaharui Komitmen



Senin, 13 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Yosua 24:16-27
Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.” (Yos 24:25)


Memperbaharui Komitmen


Kita sebagai manusia adalah makhluk yang penuh dengan ketidaksempurnaan. Alkitab sendiri sebagai Kitab Suci, juga dengan jelas mencatat hal ini. Alkitab bukanlah buku yang dikarang sedemikian rupa sehingga hanya menulis hal-hal positif tentang suatu tokoh tertentu dan tidak menulis hal-hal yang negatif. Alkitab sangat jujur, karena Alkitab menulis hal-hal baik yang dilakukan para tokoh Alkitab dan juga hal-hal buruk yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh Alkitab. Alkitab mencatat bagaimana Abraham pernah berbohong tentang isterinya, Alkitab mencatat bagaimana raja Daud pernah berselingkuh, Alkitab mencatat bagaimana Petrus pernah menyangkal Tuhan Yesus, dan lain sebagainya.

Dari hal-hal buruk yang dicatat Alkitab inilah, kita juga akan belajar dari bangsa Israel, dimana walaupun bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, tetapi mereka juga berkali-kali berbalik dari jalan Tuhan, bahkan nyaris murtad kepada Tuhan. Padahal bangsa Israel telah dipimpin Tuhan keluar dari tanah Mesir, mengalahkan bangsa-bangsa lain sepanjang perjalanan menuju tanah Kanaan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, di bawah pimpinan Yosua sebagai pengganti Musa, apa yang dilakukan Yosua adalah sangat tepat, yaitu memperbaharui komitmen bangsa Israel sebelum Yosua meninggal dunia.

Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya, Yosua mengingatkan bagaimana bangsa Israel sudah ditolong Tuhan selama ini dengan cara-cara yang ajaib, tetapi mereka mengabaikan Tuhan begitu saja. Oleh karena itu, Yosua menantang bangsa Israel apakah mereka mau beribadah kepada Tuhan, atau tidak. Secara serempak, seluruh bangsa itu menjawab bahwa mereka tidak akan meninggalkan Tuhan (ay. 16-18). Akan tetapi, Yosua yang pernah menjadi abdi dan ajudan Musa, tahu bahwa bangsa Israel seringkali hanya semangat di awal, kemudian lambat laun menjadi loyo dan akhirnya berbalik dari Tuhan. Oleh karena itu, Yosua mengingatkan bahwa bangsa Israel hampir-hampir tidak mungkin mampu beribadah kepada Tuhan, karena Tuhan adalah Tuhan yang kudus dan bangsa Israel sendiri memiliki riwayat tidak setia kepada Tuhan (ay. 19). Justru ketika bangsa Israel meninggalkan Tuhan maka Tuhan akan menghukum dan membinasakan bangsa Israel (ay. 20).

Ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang bagaimana bangsa Israel dan Yosua bertanya jawab dan mengingatkan agar bangsa Israel sungguh-sungguh mengambil komitmen untuk mengiring Tuhan (ay. 21-24). Ketika Yosua melihat bahwa bangsa Israel sungguh-sungguh telah mengambil komitmen di hadapan Tuhan, maka Yosua pun mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem (ay. 25). Yosua  bahkan menuliskan isi perjanjian tersebut di dalam sebuah kitab, dengan tujuan agar bangsa Israel tidak lupa dengan komitmen yang telah mereka buat di hadapan Tuhan (ay. 26-27).

Bagaimana dengan kita? Bukankah kita juga sering membuat komitmen kepada Tuhan dan sering juga melupakannya? Coba kita ingat-ingat, minimal ada beberapa momen dimana kita membuat komitmen di hadapan Tuhan. Yang pertama ketika kita dibaptis atau disidi. Kita pasti berdoa dan mengambil komitmen untuk mengiring Tuhan. Ingatkah kita dengan komitmen kita tersebut? Yang kedua adalah ketika kita menikah, kita berkomitmen untuk setia dan mengasihi pasangan kita. Sudahkah kita konsisten melaksanakan komitmen kita tersebut? Mungkin ada juga di antara kita yang berkomitmen menjadi hamba Tuhan dan melayani Tuhan, sudahkah kita melaksanakan komitmen kita tersebut dengan baik?

Memang lebih baik kita selalu ingat dan setia terhadap komitmen yang dulu pernah kita buat. Akan tetapi, terkadang ketika kita lupa, kita mungkin perlu memperbaharui komitmen kita tersebut. Tidak salah memang memperbaharui komitmen, tetapi juga jangan terlalu sering memperbaharui karena jika demikian maka komitmen yang dulu kita ambil patut kita pertanyakan, apakah kita waktu itu sungguh-sungguh membuat komitmen, atau hanya main-main semata. Ingat bahwa setiap komitmen yang pernah kita ucapkan kepada Tuhan, Tuhan akan selalu mencatat dan tidak pernah melupakannya. Tuhan tidak pernah menjadi pihak yang lupa akan perjanjian yang dibuat dengan manusia. Justru manusia yang terlalu sering lupa tentang komitmen dan perjanjian yang pernah dibuatnya.


Bacaan Alkitab: Yosua 24:16-27
24:16 Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!
24:17 Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,
24:18 TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita."
24:19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.
24:20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu."
24:21 Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: "Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah."
24:22 Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya." Jawab mereka: "Kamilah saksi!"
24:23 Ia berkata: "Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel."
24:24 Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan."
24:25 Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.
24:26 Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN.
24:27 Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu."

Ketika Tuhan Menghajar Kita



Minggu, 12 Januari 2013
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:5-6
Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr 12:6)


Ketika Tuhan Menghajar Kita


Sebenarnya saya agak malu untuk menulis kembali renungan ini. Jujur saja, karena kesibukan dan juga kemalasan saya, saya agak vakum menulis renungan ini. Dan entah mengapa tiba-tiba hari ini saat saya sedang di luar kota, saya justru mendengar kabar ayah saya masuk rumah sakit dan harus masuk ke ruang ICU. Jujur, ketika mendengar kabar tersebut, saya seperti diingatkan Tuhan bahwa ada banyak hal yang harusnya saya kerjakan, justru saya abaikan.

Oleh karena itu, mungkin tidak heran jika belakangan ini hidup saya penuh dengan pergumulan. Memang setiap orang penuh dengan pergumulan hidup, akan tetapi saya secara pribadi merasa bahwa saya sedang ditegur Tuhan, agar saya kembali lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan. Ketika saya agak melupakan Tuhan, maka Tuhan memberi saya masalah agar saya kembali mengingat Tuhan. Akan tetapi ketika saya masih “membandel juga”, maka Tuhan pun tidak akan segan-segan menghajar saya hingga saya akhirnya “menyerah” dan bertobat kembali kepadaNya.

Saya diingatkan Tuhan tentang ayat dalam Alkitab yang bunyinya pendek saja, seperti yang saya tulis di atas. Ketika Tuhan mendidik kita, Tuhan tidak akan mendidik kita dengan cara yang enak secara duniawi. Semakin tinggi tingkat kedewasaan rohani kita, maka Tuhan pun tidak akan segan-segan mengingatkan kita dengan lebih keras lagi (ay. 5). Saya rasa, memang tipe Tuhan itu seperti ini. Apa yang diinginkan Tuhan sebenarnya sederhana, yaitu agar kita sebagai anak-anakNya mau dengar-dengaran suara Tuhan, mau menurut akan kehendak Tuhan. Nah, justru hal itu yang sering kita abaikan. Ketika Tuhan memanggil kita, justru kita tidak dengar-dengaran kepada suara Tuhan. Bahkan mungkin kita mendengar tetapi sesungguhnya kita mengabaikan suara Tuhan dan pura-pura tidak mendengar.

Oleh karena itu, jangan heran ketika Tuhan sudah memanggil kita dengan suara yang lembut tetapi selama ini kita abaikan, Tuhan akan memanggil kita dengan suara yang lebih keras lagi. Ketika kita tidak mau mendengarkan suara Tuhan walaupun Ia telah memanggil kita dengan keras, maka Tuhan tidak akan segan-segan menghajar kita. Ia tidak menghajar dengan membabi buta, tetapi Tuhan akan menghajar kita dengan penuh kasih, yaitu agar kita sadar akan kesalahan kita dan mau bertobat serta berbalik kepadaNya.

Kita sebagai anak-anak Tuhan, harus mau dididik dengan cara Tuhan (ay. 6). Kita harus mau mengikuti pola didikan Tuhan, dan bukan bertindak semau kita sendiri. Tuhan mendidik kita dalam kebenaran, oleh karena itu, taatilah didikan Tuhan dengan penuh sukacita. Ketika masalah datang silih berganti dalam hidup kita, coba tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah sungguh-sungguh hidup menurut cara Tuhan? Atau jangan-jangan kita selama ini sudah hidup sangat jauh dari Tuhan.

Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan begitu saja menghajar kita tanpa alasan  yang  jelas. Didikan dan hajaran Tuhan bagi kita pasti ada alasannya, dan semua itu adalah untuk kebaikan kita sendiri. Jika saat ini Tuhan sedang menghajar saya, dan juga mungkin ada di antara kita yang sedang dihajar oleh Tuhan, ingat bahwa mungkin saja Tuhan sedang mencari “perhatian” dari kita, sehingga apa yang selama ini kita telah salah lakukan, dapat kita perbaiki sehingga hidup kita dapat lebih berkenan kepadaNya.



Bacaan Alkitab: Ibrani 12:5-6
12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
12:6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."

Senin, 25 November 2013

Meminta Warisan Sebelum Waktunya



Senin, 25 November 2013
Bacaan Alkitab: Lukas 15:11-14
Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.” (Luk 15:12)


Meminta Warisan Sebelum Waktunya

 
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya mengajukan cuti yang agak mendadak, maksudnya di saat orang lain tidak ada yang cuti, justru teman saya itu mengambil cuti selama seminggu. Saya yang heran mencoba bertanya kepada teman saya yang lain (yang cukup dekat dengan teman saya yang pertama itu). Ternyata saya memperoleh informasi bahwa teman saya mengambil cuti karena ia sedang pindah rumah. Yang cukup membuat saya heran, ia pindah rumah karena rumahnya yang lama (rumah orang tuanya) dijual. Kata teman saya lagi, kedua orang tuanya memutuskan untuk menjual rumah tersebut karena ingin membagikan warisan kepada anak-anaknya sebelum mereka meninggal dunia. Untungnya teman saya ini adalah anak yang bungsu, dan dari hasil “jatah warisannya” itu ia membeli rumah (yang lebih kecil dan lebih jauh) dan tetap mengajak kedua orang tuanya tinggal di rumahnya.

Ketika mendengar cerita itu, saya langsung teringat akan perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus dalam bacaan Alkitab kita hari ini. Tuhan Yesus mengumpamakan ada seorang bapa yang memiliki 2 orang anak, yang sulung dan yang bungsu (ay. 11). Dan ketika bapanya belum meninggal, anak bungsu itu meminta warisan yang menjadi jatahnya (ay. 12a). Pada masa itu (bahkan hingga masa sekarang pun) meminta jatah warisan sebelum orang tuanya meninggal adalah hal yang dianggap kurang ajar atau durhaka. Akan tetapi, si bapa tetap membagi-bagikan harta kekayaan itu kepada kedua anaknya (ay. 12).

Akhirnya apa yang terjadi? Anak bungsu yang telah mendapat bagian warisannya pun pergi ke negeri yang jauh dan berfoya-foya memboroskan dan menghabiskan harta miliknya tersebut (ay.13). Ia berpikir bahwa dengan memiliki harta yang banyak, maka ia bisa melakukan apa saja dengan hartanya tersebut. Memang mungkin pada awalnya benar demikian. Si anak bungsu memiliki banyak teman dan banyak sahabat karena kekayaan yang dimiliki si anak bungsu tersebut. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ketika muncul bencana kelaparan (krisis) di negeri itu, kekayaan yang dimilikinya, teman-temannya yang dahulu banyak, lambat laun mulai hilang satu persatu. Ia mulai melarat dan akhirnya menjadi sangat miskin (ay. 14). Sebenarnya ia menjadi miskin bukan karena krisis yang melanda negeri tersebut, tetapi karena ia tidak bijaksana mengelola kekayaannya tersebut.

Tanpa kita sadari, banyak orang (bahkan termasuk kita) yang berpikir atau memiliki pola sama dengan si bungsu ini. Apa saja kesalahan seperti yang anak bungsu ini lakukan, yang juga sering kita lakukan dalam hidup kita?

Pertama, kita suka meminta apa yang bukan/belum menjadi hak kita. Seringkali ketika kita meminta kepada Tuhan dalam doa, kita meminta sesuatu lebih cepat dari waktunya Tuhan. Kita meminta agar Tuhan segera menjawab doa-doa kita dengan secepatnya. Padahal, mungkin ada maksud Tuhan agar kita menunggu beberapa waktu sebelum Tuhan menjawab doa kita. Atau mungkin saja kita meminta apa yang sebetulnya tidak layak kita terima karena itu adalah bukan hak kita, melainkan sudah menjadi milik orang lain. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak boleh mengingini apa yang sudah menjadi milik orang lain (Kel 20:17).

Kedua, seringkali kita lebih melihat harta duniawi sebagai sesuatu yang berharga. Si bungsu lebih melihat bahwa uang warisan yang akan diterimanya lebih berharga daripada menikmati indahnya suasana kekeluargaan dengan bapa dan kakaknya. Memang di dunia ini kita sangat membutuhkan uang dan harta duniawi agar kita dapat hidup. Akan tetapi, jangan jadikan harta duniawi itu sebagai segala-galanya. Ketika kita melayani, jangan jadikan uang menjadi motivasi utama, karena jika demikian maka kita akan menjadi hamba uang dan bukan hamba Tuhan.

Ketiga, kita suka hidup jauh dari Bapa kita. Si anak bungsu yang mendapatkan harta, langsung pergi ke negeri yang jauh untuk memboroskannya. Sebenarnya, mengapa si bungsu tidak menggunakan harta itu untuk membeli tanah dekat bapanya dan memulai usaha dengan uang hasil warisannya tersebut? Tanpa kita sadari kita pun sering melakukan hal itu. Kita suka hidup jauh dari jalan Bapa kita di surga. Kita suka menempuh jalan kita sendiri yang ternyata justru menjerumuskan kita. Ingat, kita akan jauh lebih kuat apabila kita hidup dekat dengan Bapa kita di surga, tetapi kita akan menjadi lemah jika kita hidup jauh dari jalan Tuhan.

Keempat, kita sering berpikir jangka pendek daripada berpikir jangka panjang. Si bungsu tidak memikirkan bahwa uang yang ia peroleh itu jika dikelola dengan benar maka akan memberi dampak yang luar biasa. Ia pun dapat menjadi jauh lebih kaya jika mengelola modal uang warisannya tersebut dengan bijaksana. Akan tetapi, si bungsu lebih suka melakukan hal yang salah. Ia memboroskan uangnya di negeri yang jauh. Ia lebih berpikir bagaimana bisa memuaskan hawa nafsunya, memiliki teman-teman baru (walau mungkin hanya teman “sementara” ketika ia masih kaya), dan lain sebagainya. Ia tidak pernah menabung dan mengembangkan uang tersebut sehingga ketika krisis melanda, ia sudah memiliki cadangan. Sama dengan kita, seringkali kita lebih berpikir jangka pendek daripada jangka panjang. Berapa banyak kesempatan emas yang kita abaikan begitu saja karena kita lebih memandang ke jangka pendek daripada melihat ke jangka panjang?

Keempat hal di atas menunjukkan hal-hal yang dapat kita pelajari dari bagian awal perumpamaan tentang anak yang hilang. Tuhan Yesus sering menyampaikan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan melalui perumpamaan. Oleh karena itu, tugas kita adalah belajar dan mendalami perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus agar kita bisa hidup lebih baik lagi di hadapan Allah. Jangan menjadi orang bebal yang tidak mau berubah, tetapi jadilah orang-orang yang dengan rendah hati mau dibentuk oleh Tuhan sehingga hidup kita semakin berkenan kepadaNya.


Bacaan Alkitab: Lukas 15:11-14
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.