Rabu, 21 Mei 2014

Ketika Tuhan Tidak Menjawab Kita



Kamis, 22 Mei 2014
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 28:3-6
Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi. (1 Sam 28:6)


Ketika Tuhan Tidak Menjawab Kita


Sebagai seorang manusia biasa, pastilah kita semua pernah mengalami masalah dalam kehidupan kita, baik masalah-masalah yang “biasa” maupun masalah yang dapat kita katakan sebagai “luar biasa”. Bagi kita yang adalah orang percaya kepada Tuhan, tentu kita juga sering berdoa dan bertanya kepada Tuhan ketika kita menghadapi masalah. Pada umumnya, setiap orang Kristen, baik jemaat Tuhan maupun hamba Tuhan, pasti akan meminta Tuhan untuk memberikan jalan keluar, atau setidaknya bertanya bagaimana ia boleh melalui masalah-masalah tersebut.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, cukup sering doa-doa dan pertanyaan kita kepada Tuhan tidak dijawab Tuhan. Ketika kita bertanya kepada Tuhan, justru Tuhan diam. Apa yang harus kita lakukan jika berada dalam keadaan seperti itu?

Kita akan belajar dari Firman Tuhan, yaitu dari seorang raja yang dahulu diurapi Tuhan serta dipakai Tuhan secara luar biasa, namun pada saat-saat terakhir hidupnya, justru ia meninggalkan dan ditinggalkan Tuhan. Orang tersebut adalah Raja Saul.

Saul adalah raja pertama orang Israel yang diurapi oleh Samuel. Jika kita membaca ayat-ayat dan pasal-pasal sebelumnya, maka kita akan melihat bahwa selama Samuel masih hidup, maka Raja Saul pada umumnya hidup menurut jalan Tuhan. Samuel menyampaikan apa yang menjadi suara Tuhan kepada Saul. Akan tetapi, pada bagian Alkitab yang kita baca, Samuel sudah mati sehingga tidak dapat menjadi perpanjangan mulut Tuhan bagi Saul lagi (ay.3).

Saat itu, Saul sedang menghadapi masalah yang begitu berat, yaitu peperangan dengan orang Filistin (ay. 4). Memang selama hidupnya, orang Filistin selalu menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa Israel. Walaupun demikian dalam peperangan yang akan dihadapi Saul, peperangan itu adalah salah satu peperangan terbesar karena orang Filistin dan orang Israel sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan ketika Saul (yang adalah raja Israel) melihat segenap tentara Filistin, ia menjadi takut dan hatinya sangat gemetar (ay. 5). Bayangkan jika hati seorang raja saja sangat gemetar, bagaimana dengan hati para rakyatnya?

Saat itulah Saul mencoba mencari jawaban dari Tuhan. Tetapi terlambat sudah. Tuhan tidak menjawab Saul. Bahkan Alkitab menuliskan tentang 3 cara bagaimana Tuhan pada umumnya menjawab seseorang pada masa itu: dengan mimpi, dengan Urim, ataupun dengan perantaraan para nabi (ay. 6). Pada waktu itu sangat umum Tuhan menjawab doa seseorang melalui mimpi (ada banyak contoh tokoh Alkitab yang dijawab Tuhan melalui mimpi atau penglihatan, misalnya Daniel (Dan 2:18-19). Tuhan juga juga dapat menyatakan kehendakNya melalui perantaran urim dan tumim yang dipakai oleh Imam Tuhan, bahkan Saul sendiri pun pernah menggunakan urim dan tumim ketika mencari jawaban dari Tuhan (1 Sam 14:41). Selain itu, Tuhan juga lebih banyak lagi menyatakan jawabanNya melalui suara nabi-nabiNya yang dapat kita baca di seluruh Alkitab.

Tentu saja ada alasan mengapa Tuhan tidak mau menjawab doa Saul bahkan melalui ketiga metode yang umum digunakan pada saat itu. Jika kita mau membaca ayat-ayat lain tentang jawaban Tuhan terhadap doa yang kita naikkan, maka kita akan menemukan setidaknya 3 alasan mengapa Tuhan tidak mendengar apalagi menjawab doa kita.

Pertama, karena dosa-dosa kita (Yes 59:1-2). Ketika doa-doa kita yang kita naikkan tidak dijawab oleh Tuhan, bisa jadi hal tersebut karena masih ada dosa-dosa yang belum kita bereskan di hadapan Tuhan. Mungkin orang lain tidak ada yang tahu dosa kita, mungkin pasangan kita pun tidak, orang tua kita pun tidak, bahkan pendeta atau gembala sidang kita tidak tahu. Akan tetapi, jangan lupakan bahwa Tuhan tahu dan mengerti setiap perbuatan kita termasuk dosa-dosa kita. Bereskan segera dan lihatlah bagaimana Tuhan akan segera menjawab doa-doa kita.

Kedua, karena kehidupan keluarga kita tidak beres (1 Ptr 3:7). Dalam ayat tersebut digambarkan suami-suami yang tidak menghormati isteri mereka. Menghormati isteri sepadan dengan frasa mengasihi isteri. Bahkan isteri pun juga seharusnya menghormati suami (Ef 5:25-28). Jika masih ada permasalahan dalam kehidupan keluarga, khususnya antara suami dengan isteri, mungkin ada sesuatu perkara yang masih disembunyikan antara suami dengan isterinya, barangkali itulah penyebab doa-dpa kita masih belum dijawab.

Ketiga, karena memang itu bukan kehendak Tuhan dalam hidup kita (Mat 26:39). Kita bisa melihat hal ini dari teladan Yesus sendiri. Yesus yang adalah Anak Allah saja pernah mengalami doaNya tidak dijawab oleh Allah Bapa. Saat akan menghadapi penderitaanNya, Yesus berdoa di taman Getsemani agar “cawan murka Allah” dilalukan dari padaNya. Akan tetapi, ternyata Allah tidak menjawab doaNya, karena memang menurut kehendak Allah, Yesus harus menderita, mati disalibkan, dikubur dan bangkit demi umat manusia. Jika kita merasa bahwa hidup kita sudah benar, tidak ada dosa yang belum beres, kehidupan keluarga juga sudah harmonis, namun ternyata masih ada doa-doa kita yang tidak dijawab oleh Tuhan, maka sangat mungkin hal tersebut dikarenakan memang ada kehendak khusus dari Allah Bapa kita di surga.

Ketiga hal di atas menunjukkan bagaimana kita sebagai manusia sangat tergantung kepada Allah Bapa kita di surga. Oleh karena itu, jika doa-doa kita tidak dijawab oleh Tuhan, perhatikanlah bagaimana kita hidup selama ini, atau mungkin saja ada rencana atau kehendak Tuhan yang lain bagi hidup kita.



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 28:3-6
28:3 Adapun Samuel sudah mati. Seluruh orang Israel sudah meratapi dia dan mereka telah menguburkan dia di Rama, di kotanya. Dan Saul telah menyingkirkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal.
28:4 Orang Filistin itu berkumpul, lalu bergerak maju, dan berkemah dekat Sunem. Saul mengumpulkan seluruh orang Israel, lalu mereka berkemah di Gilboa.
28:5 Ketika Saul melihat tentara Filistin itu, maka takutlah ia dan hatinya sangat gemetar.
28:6 Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi.

Selasa, 20 Mei 2014

Privasi dengan Tuhan (3): Berpuasa

Rabu, 21 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:16-18
Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (Mat 6:16)


Privasi dengan Tuhan (3): Berpuasa


Bagian ketiga mengenai hal privasi dengan Tuhan adalah tentang hal berpuasa. Puasa adalah bagian dari adat orang Yahudi, dan juga merupakan adat yang umum di hampir semua suku bangsa di dunia ini (kecuali mungkin di dunia barat). Puasa adalah suatu bentuk dari penyangkalan diri yang pada umumnya ditujukan sebagai bentuk pertobatan, sebagai salah satu bentuk untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan lain sebagainya.

Dalam hal berpuasa, ternyata cukup banyak orang Yahudi pada masa itu yang memiliki pandangan yang salah tentang berpuasa. Puasa yang seharusnya menjadi suatu bentuk ibadah manusia kepada Tuhan, justru dijadikan sebagai suatu kebiasaan yang harus dipamerkan dan ditunjukkan kepada orang lain. Deskripsi kesalahan dalam berpuasa yang dilakukan oleh orang Yahudi adalah mereka menunjukkan muka muram serta mengubah air mukanya (wajahnya) sehingga dari jauh mereka terlihat seperti orang yang berpuasa (ay. 16). Mungkin mereka terlihat sangat lemas, pucat, dan sebagainya sehingga dari jauh pun orang akan bertanya, “Kenapa kok kamu terlihat lemas?” dan dijawab “Saya sedang berpuasa”.

Hal tersebut di mata Tuhan bukanlah sesuatu yang baik, karena di mata Tuhan berpuasa adalah salah satu hal yang seharusnya menjadi privasi antara kita dengan Tuhan. Berpuasa adalah lebih spesifik dibandingkan dengan berdoa, karena orang lain masih mungkin melihat kita saat kita berdoa, tetapi orang lain tidak akan mengetahui kita sedang berpuasa kecuali jika kita mengubah raut muka kita seperti orang yang sedang berpuasa.

Yesus tidak suka dengan sikap tersebut. Yesus ingin agar hanya Tuhan saja dan diri kita sendiri saja  yang tahu tentang hal puasa. Mengapa demikian? Karena puasa (dalam hal ini doa dan puasa) adalah tingkatan tertinggi dari doa kita kepada Tuhan (Mat 17:21). Oleh karena itu jika kita sampai melakukan puasa, maka itu harus menjadi urusan kita pribadi dengan Tuhan.

Oleh karena itu, jika kita berpuasa, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus berlaku seolah-olah kita tidak berpuasa. Dalam artian, raut muka kita harus kita jaga agar tampak seperti biasa (ay. 17). Dengan demikian, puasa kita akan menjadi puasa yang berkenan kepada Tuhan (ay. 18). Jangan sampai kita sibuk dengan menunjukkan raut muka yang lemas ketika kita berpuasa, tetapi seharusnya saat kita berpuasa, kita harus lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ketika kita berpuasa, waktu yang kita gunakan untuk makan harusnya kita pakai untuk berdoa atau untuk bersaat teduh, bukan digunakan untuk hal-hal lain yang tidak bermanfaat secara rohani.

Ketiga hal yang privasi sebagaimana saya tulis sebelumnya (memberi, berdoa, dan berpuasa), adalah 3 hal yang penting dalam hidup seorang Kristen. Walaupun seseorang mengaku bahwa ia adalah seorang Kristen, sudah percaya Yesus, sudah dibaptis bahkan sudah ke gereja, kalau ia tidak pernah melakukan ketiga hal diatas, maka status kekristenannya diragukan. Bahkan jikalaupun orang tersebut sudah memberi, berdoa, dan berpuasa, namun jika dilakukan dengan cara yang tidak tepat, itu pun tidak akan berkenan di mata Tuhan.


Bacaan Alkitab: Matius 6:16-18
6:16 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Privasi dengan Tuhan (2): Berdoa



Selasa, 20 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:5-15
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:6)


Privasi dengan Tuhan (2): Berdoa


Bagian kedua terkait dengan privasi antara kita dengan Tuhan yaitu mengenai doa atau hal berdoa. Orang Yahudi pada zaman Yesus hidup juga sering melakukan kesalahan dalam berdoa. Hal inilah yang dikritik dan ditegur Yesus melalui ucapanNya pada bagian bacaan Alkitab kita hari ini. Orang Yahudi pada saat itu cenderung suka berdoa di tempat-tempat umum, dengan cara yang menarik perhatian orang lain, misalnya dengan menengadahkan tangan di tempat-tempat strategis yang mudah terlihat orang, atau berdoa dengan suara keras-keras. 

Sebenarnya Tuhan Yesus tidak mengkritik cara berdoa kebanyakan orang Yahudi. Apa yang dikritik Tuhan adalah sikap munafik yang dilakukan oleh kebanyakan orang Yahudi (para pemuka agama) pada waktu itu. Mereka suka berdoa denganberdiri di tempat-tempat strategis agar dilihat dan dipuji orang (ay. 5a). Sama seperti dengan hal memberi, Tuhan Yesus berkata bahwa orang-orang seperti itu sudah menerima upahnya (ay. 5b). Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa ketika kita berdoa sebaiknya kita berdoa di dalam kamar, dengan menutup pintu, agar doa kita didengarkan oleh Bapa kita (ay. 6).

Hal tersebut bukan berarti kita tidak boleh berdoa bersama-sama dengan orang lain. Kita tentu harus berdoa bersama-sama di gereja atau di persekutuan, atau dalam kondisi-kondisi tertentu. Tetapi yang lebih penting lagi adalah motivasi kita dalam berdoa, yaitu agar kita tidak berdoa agar dipuji orang, tetapi tujuan utama kita adalah agar doa kita didengar Tuhan. Bahkan selain mengajarkan agar kita berdoa di tempat tersembunyi, Tuhan Yesus juga mengajar kita suatu konsep doa yang sangat luar biasa, yang kita lebih kenal dengan nama “Doa Bapa Kami” (ay.9-15).

Walaupun demikian, ada sejumlah orang Kristen yang salah menangkap makna atau esensi dari Doa Bapa Kami ini. Mereka menjadikannya hanya sebagai hafalan semata atau suatu doa yang harus sering diulang-ulang setiap saat. Padahal Tuhan ingin agar kita berdoa dengan motivasi yang benar. Doa Bapa Kami harus dimaknai sebagai suatu contoh doa dengan prinsip-prinsip yang benar, antara lain yang memuliakan Bapa (ay. 9), meminta kehendak Bapa terjadi dalam kehidupan kita (ay. 10), bahkan meminta hal-hal yang cukup (bukan berkelimpahan) dalam hidup kita (ay. 11). Ini suatu konsep doa yang luar biasa, dan konsep ini yang harus kita lakukan dan aplikasikan dalam doa-doa pribadi kita kepada Tuhan, bukan hanya sekedar mengulang kata-kata yang sama dari Doa Bapa Kami.

Ingatlah bahwa bukan dari banyaknya kata-kata atau banyaknya pengulangan doa maka doa kita dikabulkan (ay. 7). Banyak agama lain di luar agama Kristen mengajarkan bahwa doa-doa yang diulang-ulang secara terus menerus hingga 100 kali bahkan lebih, maka hal itu akan mampu menjadi suatu doa yang akan dijawab oleh Tuhan. Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan seperti itu. Kita harus menyadari bahwa Tuhan kita sudah mengerti apa yang menjadi keperluan kita bahkan sebelum kita berdoa dan meminta kepadaNya (ay. 8). Oleh karena itu, menurut pendapat saya, doa yang benar bukan saja hanya doa yang dijawab oleh Tuhan, tetapi doa yang benar adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau doa kita sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, mau doa kita dijawab atau tidak dijawab sekalipun, tidak akan menjadi masalah bagi kita. Bukankah Yesus sendiri juga memiliki doa yang tidak dijawab oleh Allah Bapa ketika ia berdoa di taman Getsemani?

Kita harus belajar memiliki suatu privasi dalam doa-doa pribadi kita, khususnya doa-doa terkait pergumulan pribadi kita. Jangan pernah kita berdoa agar orang lain memuji kata-kata doa kita yang terdengar indah, padahal doa kita tidak berkuasa karena kita lebih fokus terhadap kata-kata doa kita dibandingkan dengan fokus kepada Tuhan yang mendengarkan doa kita. Belajarlah dari Tuhan Yesus, ketika ia berdoa pagi-pagi benar, ia berdoa sendirian tanpa murid-muridNya (Mrk 1:35). Bahkan ketika menaikkan doaNya di taman Getsemani, Yesus berdoa sendiri meninggalkan murid-muridNya yang tertidur (Mat 26:36-39). Doa yang dilakukan dengan motivasi yang benar, akan menjadi doa yang berkenan di hadapan Tuhan.


Bacaan Alkitab: Matius 6:5-15
6:5 "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Senin, 19 Mei 2014

Privasi dengan Tuhan (1): Memberi



Senin, 19 Mei 2014
Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:4)


Privasi dengan Tuhan (1): Memberi


Apa yang dimaksud dengan privasi? Privasi secara sederhana dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang bukan merupakan konsumsi publik. Suatu hal yang bersifat privasi berarti adalah hal yang tidak dapat dilihat atau dinikmati oleh banyak orang selain orang-orang tertentu yang memang berhak atau diijinkan untuk melihat dan menikmatinya. Contoh paling baik dari privasi ini adalah hubungan suami isteri, yang memang hanya boleh dilakukan oleh suami dan isteri yang sah, dan seharusnya tidak boleh menjadi konsumsi publik alias dilihat oleh orang lain atau dilakukan dengan orang lain.

Dalam Alkitab, Tuhan pun menggambarkan hubungan antara Tuhan dengan jemaatNya bagaikan suami dan isterinya. Beberapa kali jemaat Tuhan digambarkan sebagai mempelai perempuan yang harus selalu siap sedia menyongsong kedatangan sang mempelai pria, yaitu Tuhan sendiri. Dalam Alkitab, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan secara privasi dengan Tuhan, artinya hal yang kita lakukan bukan merupakan konsumsi publik melainkan harus menjadi urusan kita antara kita dengan Tuhan secara pribadi.

Hal pertama yang harus kita jaga privasinya adalah tentang bersedekah atau memberi. Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang “kritikan” Yesus mengenai kebiasaan kebanyakan orang-orang Yahudi pada waktu itu, yaitu  mereka suka memberi dengan memamerkan kepada orang lain. Orang Yahudi pada waktu itu memiliki kecenderungan untuk memberikan persembahan di rumah ibadat dengan kebiasaan yang unik, yaitu sebelum memberi mereka mencanangkan pemberian mereka (ay. 2a). Mereka bahkan mencanangkan dengan suara keras sehingga orang lain bisa mendengarnya. Sangat mungkin pada waktu itu orang yang mendengarkan “pencanangan pemberian” tersebut akan memuji orang-orang yang mencanangkan pemberian dalam jumlah yang besar. Yesus berkata dengan sangat keras mengenai hal tersebut: “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (ay. 2b).

Ketika kita memberi sesuatu bagi sesama kita apalagi ketika kita memberi bagi Tuhan, maka saya sangat percaya Tuhan pasti melihat pemberian kita. Jangankan dalam ajaran Kristiani, dalam agama manapun di dunia, ketika kita memberi kepada sesama, kepada orang yang membutuhkan, bahkan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti mencatat perbuatan kita tersebut. Namun demikian, jika kita memberi dengan motivasi yang salah, yaitu agar kita dipuji orang, maka di hadapan Tuhan upah kita tersebut sebenarnya sudah kita terima, yaitu pujian dari orang lain. Oleh karena itu Tuhan mengajarkan kepada kita agar ketika kita memberi (baik dalam hal memberi sedekah maupun memberi persembahan kepada Tuhan), kita melakukannya dengan cara yang benar. Tidak perlu orang lain mengetahui berapa jumlah yang kita berikan. Dalam bahasa kiasan, Tuhan Yesus bahkan mengatakan agar tangan kiri kita tidak perlu mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan kita (ay. 3).

Sayangnya, banyak orang Kristen masih belum mengerti prinsip ini. Contoh paling mudah, berapa banyak ketika kita memberikan persembahan persepuluhan di gereja, atau persembahan lainnya dalam rangka pelayanan pekerjaan Tuhan, kita mencantumkan nama lengkap kita? Padahal kita tahu bahwa gereja akan menerbitkan laporan penerimaan persembahan dan nama kita akan tercantum di buletin gereja atau laporan persembahan tersebut. Apa motivasi kita melakukan hal tersebut? Jika kita melakukannya hanya agar orang lain mengetahui berapa jumlah persembahan yang kita berikan, maka sesungguhnya kita sudah menerima upah kita dan Tuhan tidak akan berkenan kepada persembahan kita.

Jika kita ingin agar penerimaan persembahan kita dapat dilacak misalnya, kita cukup memberikan kode nama kita atau kode apapun yang kita ingin tuliskan. Misal nama saya Randite, saya cukup memberi inisial Rd atau bahkan inisial lain yang tidak berhubungan dengan nama saya dalam amplop persembahan. Bahkan saya cenderung lebih suka tidak menulis kode atau inisial apapun dalam amplop persembahan saya. Yang terpenting Tuhan tahu bahwa saya sudah memberi kepada Tuhan. Urusan apakah persembahan saya “ditilep” atau “disalahgunakan” oleh pihak yang mengelola persembahan, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan. Bagian saya hanyalah memberi apa yang menjadi kewajiban saya kepada Tuhan, atau memberi apa yang saya ingin berikan kepada Tuhan.

Memang tidak mudah, terlebih beberapa suku atau daerah pada umumnya terbiasa untuk menuliskan nama dalam amplop yang kita berikan (misal amplop yang kita berikan pada saat pernikahan kerabat kita). Akan tetapi, mari kita berusaha minimal ketika kita memberikan persembahan bagi Tuhan, kita memberikan dengan tersembunyi (ay. 4), dengan motivasi yang benar, yaitu bukan agar kita dipuji Tuhan, tetapi agar persembahan kita berkenan di hadapan Tuhan (ay. 1).


Bacaan Alkitab: Matius 6:1-4
6:1 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."