Senin, 16 Juni 2014

Arti Kata Sepadan



Selasa, 17 Juni 2014
Bacaan Alkitab: Kejadian 2:18-23
TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2:18)


Arti Kata Sepadan


Hampir setiap orang Kristen pasti pernah mendengar kata “sepadan”. Bahkan kata “sepadan” sepertinya pasti tidak asing bagi telinga para pemuda dan remaja, karena banyak pendeta atau hamba Tuhan yang mengingatkan para pemuda dan remaja untuk mencari pasangan hidup yang sepadan. Namun coba kita tanya kepada para pemuda dan remaja tersebut, apakah yang dimaksud dengan “sepadan” itu? Bahkan jika pertanyaan yang sama diajukan kepada kita, apakah jawaban kita? Kebanyakan dari orang Kristen termasuk kita pada umumnya akan menjawab bahwa pasangan yang sepadan itu adalah pasangan yang setara, yang sederajat, yang serasi, bahkan cukup banyak hamba Tuhan yang mengajarkan bahwa pasangan yang sepadan itu ibaratnya jika kita lulus S1, maka carilah pasangan yang sederajat juga, minimal D3, jangan yang hanya lulusan SD. Akan tetapi, pertanyaannya, benarkah demikian?

Hal tersebut menggelitik saya selama ini, karena selama ini yang saya terima dari para hamba Tuhan, bahkan dari hampir semua buku-buku mengenai Love, Sex, and Dating (LSD) juga demikian adanya. Saya kemudian membandingkan kata sepadan ini dengan Alkitab-alkitab terjemahan lain, dan saya menemukan bahwa Alkitab terjemahan lama menggunakan kata “sejodoh”, sedangkan terjemahan bahasa inggris menggunakan istilah “suitable” (New International Version), “meet for” (King James Version), dan “comparable” (New King James Version). Sedangkan dalam bahasa aslinya (bahasa Ibrani) digunakan kata “kenegdo” yang dapat diartikan sebagai “didesain dan dirancang untuk menjadi teman dan partner yang sesuai hanya untuk Adam”. 

Dengan demikian, sesungguhnya sepadan itu bukan hanya berarti selaras, sederajat, atau seimbang, tetapi ada makna yang jauh lebih dalam daripada itu, karena kata sepadan itu adalah kata yang diucapkan oleh Tuhan Allah sendiri, yang artinya adalah Tuhan yang berinisiatif dan berencana untuk memberikan seorang penolong yang sepadan bagi manusia (ay.18). Setelah inisiatif Tuhan itu, maka Tuhan memberikan binatang kepada Adam dan Adam menamai binatang-binatang tersebut (ay. 19). Namun demikian, Adam tidak menemukan penolong yang sepadan tersebut (ay. 20).

Hingga pada akhirnya Tuhan melakukan “operasi” pertama di dunia, yaitu mengambil tulang rusuk Adam dan kemudian membentuk Hawa dari tulang rusuk Adam tersebut (ay. 21-22). Jika kita coba untuk pikirkan, mengapa Tuhan susah-susah membuat Hawa dari tulang rusuk Adam? Bukankah Tuhan dapat menjadikan Hawa dari debu tanah sama seperti ketika Ia membuat Adam (Kej 2:7)? 

Inilah kunci dari definisi atau arti sepadan itu. Sepadan bukan hanya seimbang atau sederajat, tetapi sepadan itu adalah memang cocok (saya lebih suka menggunakan istilah “sejodoh” seperti pada Alkitab Terjemahan Lama). Hawa memang dibuat khusus untuk Adam, karena itulah Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam. Hawa adalah tulang rusuk Adam, yaitu bagian dari Adam itu sendiri. Sehingga ketika Adam dan Hawa bertemu, maka Adam langsung berseru, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki”. Artinya adalah Adam menemukan kesempurnaan ketika ia bertemu dengan Hawa. Kodrat Hawa adalah melengkapi Adam. Tanpa Hawa, Adam tidaklah sempurna, sama seperti halnya tanpa Adam, Hawa pun tidak sempurna. 

Oleh karena itu, salah satu dari kunci mencari pasangan hidup yang sepadan, tidak hanya melihat dari latar belakang keluarganya, pendidikannya, pekerjaannya, atau pelayanannya. Pasangan hidup yang sepadan adalah pasangan hidup yang memang dibentuk Tuhan untuk hanya cocok dengan kita. Oleh karena itu, carilah pasangan hidup yang memang benar-benar melengkapi hidup kita, tidak hanya melihat dari kesetaraan pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Carilah pasangan hidup yang mampu membuat kita menjadi lebih baik lagi, dan terutama adalah pasangan hidup yang memiliki tujuan akhir yang sama dengan kita, yaitu untuk siap menjadi mempelai Kristus ketika Ia datang untuk yang kedua kalinya di dunia ini (Ef 5:31-32).

Jika ada di antara kita yang saat ini belum memiliki pasangan hidup, maka saatnya mengubah pola pikir kita agar kita tidak terpaku hanya mencari pasangan hidup yang seimbang dengan kita, antara lain hanya mencari di kantor kita, di sekolah atau kampus kita, atau mungkin di gereja kita. Memang sangat mungkin pasangan hidup kita memang ada di tempat-tempat seperti itu, akan tetapi jika kita memiliki pola pikir tentang “sepadan” yang benar, maka kita akan mencari pasangan kita yang memang benar-benar pasangan kita, seseorang yang memang diciptakan secara khusus dan spesial bagi kita. Oleh karena itu, jangan andalkan diri kita sendiri, tetapi mintalah kepada Sang Pencipta kita (dan juga Sang Pencipta pasangan kita) agar kita boleh menemukan tulang rusuk kita yang tepat. Jangan jadikan pacaran sebagai ajang coba-coba atau main-main, tetapi pastikan bahwa orang yang kita pacari adalah pasangan hidup kita yang sepadan. Jangan sampai terlalu menutup mata sehingga kita pada akhirnya menikah dengan orang yang salah.


Bacaan Alkitab: Kejadian 2:18-23
2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."

Apa Alasan Kita Menikah?



Senin, 16 Juni 2014
Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 4:1-8
Supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan (1 Tes 4:4)


Apa Alasan Kita Menikah?


Bagaimanapun juga, pernikahan adalah sesuatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Bahkan saya sendiri menilai bahwa pernikahan adalah hal yang sangat penting selain keselamatan kita. Ketika kita memutuskan untuk menikah, sesungguhnya kita harus mengerti mengapa kita menikah, apa tujuan kita menikah, dan apa yang harus kita lakukan saat kita menikah dan setelah kita menikah. Menurut pendapat saya secara pribadi, keputusan untuk menikah dengan seseorang adalah keputusan terpenting kedua setelah keputusan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. 

Ketika kita memilih presiden dalam pemilihan umum, jika kita salah memilih presiden maka kita akan merasakan dampaknya selama 5 tahun ke depan. Tetapi jika kita salah memilih pasangan hidup yang kita nikahi, maka kita akan merasakan dampaknya seumur hidup kita. Keputusan untuk menikah hanya berada di bawah keputusan untuk menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus, karena jika kita salah memilih (tidak mau memilih Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita), maka kita akan mengalami sengsara kekal di neraka kelak.

Oleh karena itu, saya bersyukur diingatkan tentang sejumlah ayat yang akan kita baca dalam bagian bacaan Alkitab kita hari ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus awalnya memuji jemaat Tesalonika bahwa mereka telah mendengarkan Firman Tuhan dan telah mencoba untuk menuruti Firman Tuhan agar mereka dapat hidup berkenan kepada Tuhan, namun di sisi lain Paulus pun melihat masih ada beberapa hal yang harus mereka tingkatkan lagi dalam konteks hidup menurut Firman Tuhan (ay. 1-2). Salah satu hal yang cukup ditekankan Paulus adalah mengenai perkawinan atau pernikahan.

Paulus memulai dengan kalimat agar jemaat Tesalonika menjauhi percabulan, karena mereka telah dikuduskan oleh Allah (ay. 3). Terkait dengan hal tersebut, maka Paulus menasehatkan jemaat Tesalonika agar mereka mengambil seorang perempuan menjadi isteri mereka sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan (ay. 4), dan bukan di dalam keinginan hawa nafsu seperti yang dibuat oleh kebanyakan orang yang tidak mengenal Allah (ay. 5). Memang pada waktu itu masih terjadi ketidaksetaraan gender yang menyebabkan surat Tesalonika terutama ditujukan kepada kaum pria saja, sehingga Paulus meminta mereka untuk mengambil isteri, dan tidak ditulis agar kaum wanita mengambil suami. Tetapi dalam konteks saat ini, saya rasa ayat 3 s.d. 5 ini sangat relevan digunakan kepada seluruh jemaat Tuhan baik pria maupun wanita. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari ketiga ayat tersebut, antara lain:

Pertama, Tuhan ingin agar kita menikah di dalam kekudusan (ay. 3a). Dalam sejarah kekristenan, pernikahan adalah suatu hal yang sangat kudus dan sakral, karena terdapat unsur perjanjian antara kedua belah mempelai (pria dan wanita) di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, ketika kedua mempelai mengucapkan janji nikah mereka di hadapan Tuhan, maka Tuhan pun melihat mereka sudah dipersatukan dalam suatu ikatan pernikahan yang kudus dan mereka tidak boleh dan tidak dapat diceraikan (Mat 19:6)

Kedua, Tuhan ingin agar kita menikah dengan 1 orang saja (ay. 4a). Pernikahan Kristen adalah pernikahan seumur hidup, artinya selama maut belum memisahkan, maka seorang suami hanya boleh memiliki 1 isteri dan sebaliknya seorang isteri juga hanya boleh memiliki 1 suami. Ingat bahwa bagi Adam pun hanya diciptakan seorang Hawa, dan bukan banyak Hawa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari kebenaran ini, agar kita sungguh-sungguh memikirkan dengan benar siapa orang yang akan menikah dengan kita. Jangan melihat contoh-contoh poligami dalam Alkitab Perjanjian Lama, karena itu adalah konteks bangsa Israel pada waktu itu. Kita yang hidup di zaman anugerah (masa Perjanjian Baru), harus memiliki standar yang lebih tinggi, dalam hal ini yaitu menikah dengan 1 orang hingga maut memisahkan.

Ketiga, Tuhan ingin agar dalam pernikahan ada pengudusan dan penghormatan (ay. 4b). Dalam keluarga atau rumah tangga yang dibentuk oleh Tuhan dalam suatu pernikahan yang kudus, harus ada suatu prinsip pengudusan dan penghormatan antar anggota-anggota keluarga. Hal tersebut banyak dibahas oleh Paulus dalam surat-suratnya yang lain, dimana antara lain isteri harus tunduk kepada suami sedangkan suami harus mengasihi isteri (Ef 5:22-28), anak-anak harus menaati orang tua dan orang tua harus mendidik anak dalam kebenaran (Ef 6:1-4), dan lain sebagainya. Dengan adanya suatu keharmonisan dalam keluarga Kristen, maka ada pengudusan Tuhan yang turun terhadap keluarga tersebut.

Keempat, Tuhan ingin agar kita menikah bukan sekedar agar tidak melakukan percabulan atau bukan di dalam keinginan hawa nafsu (ay. 3b & 5). Banyak orang di dunia ini yang menikah hanya sekedar agar sudah “sah” dalam melakukan hubungan suami isteri, atau menikah agar tidak jatuh dalam dosa hawa nafsu. Hal tersebut mungkin terlihat tidak salah, tetapi melalui ayat-ayat ini Tuhan mengingatkan bahwa motivasi atau tujuan tersebut adalah salah besar. Mau menikah atau tidak menikah, kita seharusnya menjauhi percabulan dan dapat mengendalikan hawa nafsu. Jika kita meinkah hanya karena sudah tidak kuat mengontrol hawa nafsu seksual kita, maka pernikahan kita akan menjadi pernikahan yang “hanya” berorientasi pada seks, dan tidak akan menjadi suatu pernikahan yang diberkati oleh Tuhan.

Tuhan mengingatkan kita agar tidak membanding-bandingkan dengan orang di luar Tuhan yang seringkali menikah karena motivasi-motivasi yang tidak benar, melainkan kita harus menikah karena memiliki motivasi dan tujuan yang benar. Pernikahan yang dimulai dengan dasar atau motivasi yang salah, kemungkinan besar tidak akan bertahan lama kecuali mereka sadar dan segera bertobat dari motivasi yang salah tersebut.

Dalam segala hal, ingat bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan tujuan atau motivasi yang salah, itu adalah hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, dan Tuhan dapat membalas kepada kita atas kesalahan kita tersebut (ay. 6). Selain itu, kita pun harus ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang kudus dan kita pun harus mampu hidup kudus di hadapan Tuhan sesuai dengan panggilan Tuhan kepada kita (ay. 7). Kita pun  tidak boleh menolak Firman yang mungkin sangat menegur kita (ay. 8), tetapi kita justru harus bersyukur jika saat ini kita masih diingatkan Tuhan melalui FirmanNya yang mungkin tegas dan keras, tapi bertujuan membuat kita untuk dapat hidup semakin berkenan di hadapanNya.

Jika saat ini kita belum menikah, maka inilah kesempatan kita untuk memulai dengan dasar yang benar. Jika kita mau mengubah pola pikir kita sehingga kita menikah dengan motivasi yang benar, maka pernikahan kita akan diberkati dengan luar biasa oleh Tuhan.  Bahkan jika kita sudah menikah namun dulu atau selama ini kita masih memiliki motivasi yang salah dalam pernikahan kita, maka saat ini adalah saat dimana kita kembali diingatkan Tuhan agar kembali memiliki motivasi yang benar dalam pernikahan. Pernikahan bukanlah permainan, tetapi suatu hal yang sangat serius dan penting sehingga harus didasari dengan benar, bukan dengan main-main.


Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 4:1-8
4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.
4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus.
4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.
4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.
4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

Kamis, 12 Juni 2014

Amin untuk Kutuk Tuhan



Jumat, 13 Juni 2014
Bacaan Alkitab: Ulangan 27:11-26
Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!  (Ul 27:26)


Amin untuk Kutuk Tuhan


Saya yakin bahwa hampir semua anak-anak Tuhan sering berkata “Amin!” ketika Firman Tuhan disampaikan di gereja atau di persekutuan. Bahkan sejak anak-anak (sekolah minggu) sekalipun, mereka sudah diajar tentang doa yang selalu diakhiri dengan kata “Amin”. Kata “Amin” sendiri secara sederhana dapat  diartikan sebagai “ya, sungguh, benar”, sehingga ketika kita mengucapkan “Amin”  terhadap Firman Tuhan, maka kita meyakini dan mengakui dengan lidah dan mulut kita bahwa Firman Tuhan yang disampaikan adalah benar adanya.

Bahkan di beberapa gereja denominasi tertentu, ada suatu kecenderungan bahwa setiap kali ibadah akan berakhir, maka pendeta atau hamba Tuhan akan mengucapkan doa berkat dan/atau menyampaikan berkat kepada jemaat, dan jemaat tersebut akan merespon dengan kata “Amin!”. Sebagai contoh: pendeta mengatakan “Diberkatilah keluargamu”, maka jemaat serentak menjawab “Amin!” dengan suara yang lantang, dan begitu seterusnya untuk setiap berkat yang diucapkan oleh si pendeta. Bahkan mungkin rasanya kurang afdol jika kata “Amin” tidak diucapkan dengan keras.

Memang mengucapkan kata “Amin” pun tidak salah karena hal tersebut tertulis di Alkitab. Tetapi apa yang menjadi renungan kita hari ini adalah apakah “Amin” itu hanya berani kita ucapkan saat Firman Tuhan yang disampaikan adalah Firman Tuhan yang berbicara tentang berkat Tuhan yang enak-enak saja? Saya mencoba mencari di dalam Alkitab, dan penyebutan kata “Amin” pertama kali dalam Alkitab terjadi dalam kitab Ulangan, yang menjadi bagian bacaan Alkitab kita pada hari ini.

Pada waktu itu Musa menyampaikan Firman Tuhan kepada segenap bangsa Israel (ay. 11). Saat itu Musa membagi 2 bangsa Israel, 1 untuk memberkati dan 1 untuk mengutuki (ay. 12-13). Saya juga masih belum terlalu paham mengapa dibagi sedemikian rupa, tetapi kita akan lebih melihat ayat-ayat berikutnya, dimana untuk pertama kalinya kata “Amin!” diucapkan oleh bangsa Israel, bahkan harus diucapkan dengan suara yang nyaring dan lantang (ay. 14). Bahkan di Alkitab kita menggunakan tanda seru untuk menggambarkan betapa lantang dan nyaring suara yang dihasilkan bangsa Israel.

Jika kita mau melihat ayat 15 s.d. 26, kita akan mengerti bahwa bangsa Israel tidak mengucapkan “Amin” bagi ayat-ayat Tuhan yang enak-enak saja atau mengandung berkat, akan tetapi mereka mengucapkan “Amin” bagi kutuk Tuhan. Ada banyak kutuk Tuhan yang disebutkan mulai ayat 15 s.d 26, antara lain kutuk Tuhan bagi orang yang membuat allah lain (ay. 15), kutuk Tuhan bagi orang yang tidak menghormati orang tuanya (ay. 16), kutuk Tuhan bagi orang yang suka berbuat kejahatan terhadap orang lain (ay. 17, 19), kutuk Tuhan bagi orang yang menyesatkan orang lain (ay. 18), kutuk Tuhan bagi orang yang melakukan penyimpangan seksual (ay. 20-23), kutuk Tuhan bagi orang yang membunuh dan menerima suap untuk membunuh (ay. 24-25), dan kutuk Tuhan bagi orang yang sudah mendengar hukum Taurat (Firman Tuhan) tetapi tidak melakukannya dalam perbuatan (ay. 26).

Jika kita membaca ayat-ayat di atas tentang kutuk Tuhan, kita mungkin merasa bahwa kutuk Tuhan itu sangat keras. Tetapi jika kita mau membandingkan dengan sepuluh hukum Taurat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel, sesungguhnya ayat-ayat di sini hampir sama dengan apa yang menjadi isi kesepuluh hukum Taurat tersebut. Akan tetapi jika dalam Keluaran 20 hanya disampaikan tentang kesepuluh perintah Tuhan, maka di dalam Ulangan 27 ini ditambahkan dengan kata “terkutuklah” yang menunjukkan bahwa  hal tersebut adalah hal yang serius dan membutuhkan komitmen tinggi bangsa Israel untuk menaati Firman Tuhan tersebut.

Walaupun mungkin hal ini adalah hal yang cukup keras, bahkan bagi kita yang hidup di masa sekarang ini, saya percaya bahwa bacaan Alkitab kita hari ini mengingatkan kita bahwa Alkitab tidak hanya mengandung ayat-ayat yang berbicara tentang berkat saja. Alkitab juga berbicara tentang standar Tuhan yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita setiap hari. Ayat-ayat di atas adalah ayat pendahulu sebelum janji berkat diberikan kepada bangsa Israel. Jika bangsa Israel baik-baik mendengarkan suara Tuhan dan melakukannya, maka Tuhan akan memberkati bangsa Israel secara luar biasa (Ul 28:1). Janji tersebut pun berlaku juga bagi Tuhan. Tuhan itu adalah Tuhan yang adil. Dia memberikan janji berkat kepada orang yang mau mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan, dan janji kutuk jika orang tersebut tidak mau mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan. Kata “Amin” pun berlaku baik untuk Firman Tuhan yang “enak” maupun Firman Tuhan yang “keras”, dan kita seharusnya tidak hanya berkata “Amin” atas hal-hal yang enak saja.


Bacaan Alkitab: Ulangan 27:11-26
27:11 Pada hari itu Musa memberi perintah kepada bangsa itu:
27:12 "Sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka mereka inilah yang harus berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, yakni suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf dan Benyamin.
27:13 Dan mereka inilah yang harus berdiri di gunung Ebal untuk mengutuki, yakni suku Ruben, Gad, Asyer, Zebulon, Dan serta Naftali.
27:14 Maka haruslah orang-orang Lewi mulai bicara dan mengatakan kepada seluruh orang Israel dengan suara nyaring:
27:15 Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah menjawab: Amin!
27:16 Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:17 Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:18 Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:19 Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:20 Terkutuklah orang yang tidur dengan isteri ayahnya, sebab ia telah menyingkapkan punca kain ayahnya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:21 Terkutuklah orang yang tidur dengan binatang apa pun. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:22 Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah atau anak ibunya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:23 Terkutuklah orang yang tidur dengan mertuanya perempuan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:24 Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!
27:25 Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh seseorang yang tidak bersalah. Dan seluruh bangsa itu harus berkata: Amin!
27:26 Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!"