Selasa, 05 Agustus 2014

Perkataan Iblis yang Tercatat dalam Alkitab (1): Iblis dan Hawa



Rabu, 6 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Kejadian 3:1-7
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kej 3:1)


Perkataan Iblis yang Tercatat dalam Alkitab (1): Iblis dan Hawa


Alkitab yang kita baca selama ini, sesungguhnya adalah Firman Allah yang diberikan Allah kepada kita sehingga kita dapat mengerti isi hati Allah dan apa yang Allah mau kita lakukan bagiNya. Akan tetapi, mungkin tidak banyak orang Kristen yang tahu bahwa Alkitab sesungguhnya tidak hanya berisi tentang perkataan atau ucapan Allah dan Tuhan Yesus sendiri. Ada pula sejarah, nyanyian pujian (seperti kitab Mazmur), perkataan-perkataan manusia, bahkan ada pula perkataan Iblis yang tercatat dalam Alkitab. Tentu dalam hal ini kita tidak boleh menganggap bahwa Alkitab bukan 100% Firman Allah, karena apapun yang tertulis dalam Alkitab, semua diilhamkan Allah untuk tujuan yang baik, yaitu agar kita dapat belajar dari Firman Allah tersebut.

Bahkan, dalam 4 hari ke depan, saya akan menulis tentang perkataan Iblis yang tercatat dalam Alkitab, dan bagaimana kita dapat belajar dari Iblis. Ya, tanpa kita sadari, Iblis pun dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran, tentu bukan dalam artian kita meniru apa yang dilakukan oleh Iblis, tetapi bagaimana kita belajar untuk mengantisipasi dan melawan Iblis dari apa yang tertulis dalam Alkitab.

Bacaan Kitab Suci kita hari ini berbicara tentang bagaimana Iblis (dalam bentuk ular) mendatangi Hawa di Taman Eden (ay. 1a). Kita dapat membaca bahwa Iblis tidak mendatangi Adam, tetapi mendatangi Hawa. Mengapa demikian? Jika kita baca ayat-ayat sebelumnya, kita akan melihat bagaimana Tuhan memberikan perintah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, hanya kepada Adam, karena waktu itu Hawa belum diciptakan (Kej 2:16-17). Nah, Iblis ternyata memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk dapat mendekati manusia (dalam hal ini Hawa). Bahkan Iblis mengawali dengan pertanyaan yang sangat menarik, yaitu “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (ay. 1b).

Jika ditanya seperti itu, Hawa yang mungkin pernah “mendengar” sepenggal cerita mengenai pohon-pohon di Taman Eden dari Adam, merasa harus menjawab Iblis (ay. 2-3). Hal ini adalah hal yang sangat salah. Jangan pernah mengajak komunikasi dengan Iblis, karena Iblis sangat tahu bagaimana cara memancing kita untuk memutarbalikkan kebenaran. Hal ini terbukti dari jawaban Hawa yang ternyata kurang tepat, karena mengenai buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (yang terletak di tengah-tengah taman), Hawa menjawab bahwa Tuhan melarangnya untuk memakan atau meraba buah tersebut, karena nanti ia bisa mati (ay. 3). Padahal larangan Tuhan kepada Adam adalah untuk tidak memakan buah tersebut.

Dari kesalahan jawaban Hawa yang sangat kecil tersebut, Iblis pun mulai masuk lebih dalam lagi. Iblis memancing bahwa perintah atau larangan Allah itu salah. Jika Hawa mau memakannya, ia tidak akan mati tetapi justru matanya akan terbuka dan akan menjadi seperti Allah (ay. 4-5). Hal tersebut adalah suatu tawaran yang sangat menggiurkan. Dari zaman Adam dan Hawa, hingga saat ini, banyak orang berusaha menjadi seperti Allah. Lihat saja bagaimana manusia mencoba membangun menara Babel untuk mencoba mencapai Allah, atau bagaimana di zaman sekarang ini, manusia yang memerintah negara adidaya bertindak semena-mena menyerang negara lain dan membunuh orang lain karena merasa bahwa adalah sudah tanggung jawabnya untuk menjaga kedamaian dunia, atau bagaimana manusia mencoba menemukan cara agar manusia tidak perlu mati, bahkan bagaimana manusia mencoba menjadi seperti Allah dengan cara menciptakan kloning manusia. Bukankah itu adalah gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana manusia mencoba untuk menyamai Allah?

Kembali kepada Iblis dan Hawa, sangat disayangkan Hawa justru mengikuti ajakan Iblis untuk tidak menaati Allah. Bahkan lebih parah lagi, Hawa juga memberikan buah tersebut kepada Adam untuk dimakan bersama-sama (ay. 6), hingga akhirnya mata mereka terbuka dan tahu bahwa mereka telah telanjang (ay. 7).

Menarik bahwa Iblis sangat tahu cara untuk membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Iblis dapat menggunakan celah sekecil apapun untuk dapat menjatuhkan Adam dan Hawa. Mulai dari mendatangi Hawa yang sedang sendirian, memanfaatkan kesalahan jawaban (atau ketidakmengertian) Hawa tentang perintah Allah, hingga menawarkan sesuatu yang menarik kepada Hawa. Lalu, bagaimana kita dapat berjaga-jaga dari Iblis? Salah satu caranya adalah dengan tidak memberikan kesempatan kepada Iblis, sekecil apapun kesempatan itu (Ef 4:27). Terjemahan New International Version (NIV) menggunakan istilah “foothold” sebagai kesempatan, sehingga juga dapat dikatakan agar kita tidak memberikan Iblis suatu “tempat berpijak” sekecil apapun dalam hidup kita. Karena jika Iblis sudah mendapatkan tempat berpijak sekecil apapun dalam hidup kita, ia akan mulai untuk menggoda kita dan membuat kita jatuh jika kita tidak berhati-hati (lihat contoh Hawa di atas).

Oleh karena itu, dalam segala hal, biasakan untuk tidak membuka celah sedikitpun bagi Iblis, yaitu dengan meminta Tuhan untuk mengisi seluruh hati kita, pikiran kita, serta hidup kita. Biarlah dalam hidup kita sepenuhnya kita izinkan Tuhan untuk bertahta, sehingga Iblis tidak akan sanggup masuk ke dalam hidup kita. Tentu hal ini juga harus menjadi bagian kita setiap hari bahkan setiap saat, dan kita juga harus berjaga-jaga agar kita tidak membuka celah sedikitpun. Pepatah mengatakan bahwa orang tidak akan jatuh karena batu besar, tetapi justru kerikil kecil yang sering menyebabkan orang jatuh. Artinya adalah jangan menganggap sepele celah yang terlihat kecil, karena melalui celah itu, Iblis dapat masuk dan kita dapat jatuh hanya karena kita tidak pernah mau menutup celah kecil tersebut.


Bacaan Alkitab: Kejadian 3:1-7
3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Senin, 04 Agustus 2014

Sudah Saatnya Menjadi Pengajar



Selasa, 5 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Ibrani 5:11-14
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (Ibr 5:12)


Sudah Saatnya Menjadi Pengajar


Dalam kehidupan kita di dunia ini, adalah umum jika kita harus naik tingkat seiring berjalannya waktu. Ambil contoh pada saat kita bersekolah, adalah sangat umum jika kita seharusnya naik kelas setiap tahunnya. Dari kelas 1 SD, naik ke kelas 2 SD, dan begitu seterusnya hingga kelas 6 SD, bahkan seharusnya juga dapat diteruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi di S1, S2, dan S3. Di dunia kerja juga sama demikian halnya. Seharusnya seiring perjalanan waktu, kita akan naik posisi, naik gaji, atau naik jabatan. Hampir tidak ada orang normal yang ingin terus-menerus berada di posisi yang sama, baik di sekolah maupun di kantor. Orang akan ingin untuk selalu naik walaupun tentu hal tersebut juga diiringi dengan meningkatnya beban tanggung jawab kita.

Dalam hal rohani juga demikian halnya. Di sebuah gereja yang umum, sejak kecil anak-anak diajar di dalam sekolah minggu, kemudian seiring bertambahnya umur mereka, maka mereka mulai masuk ke persekutuan remaja, pemuda, dewasa muda, dan setelah menikah pada umumnya beribadah di ibadah umum atau ibadah raya. Akan tetapi sayangnya banyak orang Kristen setelah menikah akhirnya berhenti “hanya” menjadi jemaat di ibadah raya. Mereka tidak lagi terlibat dalam pelayanan. Ketika ditanya alasannya, mereka hanya menjawab “biarkan saja generasi yang lebih muda yang aktif di gereja, kami ini sudah cukup menjadi jemaat biasa saja”.

Bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini? Sesungguhnya Kekristenan adalah suatu perjalanan seumur hidup. Saya bahkan lebih suka menggunakan istilah bahwa Kekristenan adalah “Sekolah Teologi” seumur hidup. Oleh karena itu, sangat salah jika orang Kristen yang kemudian hanya ingin menjadi jemaat biasa.

Oleh karena itu penulis kitab Ibrani ini benar-benar menegur umat Tuhan yang selama ini selalu malas untuk naik level. Dalam hal ini, penulis kitab Ibrani mengkritik sikap mereka yang selalu lamban dalam mendengarkan walaupun sudah banyak yang disampaikan dan dijelaskan (ay. 11). Penulis kitab Ibrani ini mengkritik sikap umat Tuhan yang sebenarnya sudah sangat senior alias sudah cukup lama menjadi orang percaya, namun mereka belum siap untuk menjadi pengajar (ay. 12a). Bahkan mereka masih harus diajarkan hal-hal yang masih mendasar, ibarat bayi yang terus membutuhkan susu dan bukan makanan keras (ay. 12b).

Tentu saja untuk menjadi pengajar bukan hal yang mudah. Bukan hanya sekedar usia yang cukup atau telah menjadi orang Kristen selama puluhan tahun, tetapi juga adalah kompetensi dan hati yang memang terbeban untuk menjadi pengajar. Akan tetapi, jika seseorang sudah menjadi orang Kristen selama 30 atau 40 tahun, seharusnya orang tersebut pun minimal sudah mampu menjadi pengajar atau “pembawa Firman”, minimal dalam ibadah-ibadah keluarga atau kelompok sel. Gereja pun juga membuat suatu mekanisme untuk dapat memfasilitasi jemaatnya, bukan hanya membiarkan mereka menjadi jemaat yang pasif saja.

Gereja juga harus mengembangkan suatu sistem yang memungkinkan para anggota gereja mendapatkan makanan rohani dengan kualitas yang berbeda-beda. Jemaat yang masih merupakan “bayi rohani” atau “anak rohani” tentu membutuhkan makanan rohani yang masih lembut atau susu (ay. 13). Namun tentu si “bayi rohani” itu pun tetap harus bertumbuh dan diharapkan segera menjadi orang yang “dewasa rohani” sehingga dapat memakan makanan rohani yang keras (ay. 14). Oleh karena itu gereja (termasuk Gembala Sidang dan para Pendeta dan hamba Tuhan di gereja tersebut) harus sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan jemaat. Jangan jemaat yang baru percaya langsung dijejali dengan makanan-makanan rohani yang bersifat “keras”, tetapi harus ada suatu mekanisme bertahap agar ia pada akhirnya sanggup menerima makanan rohani yang “keras” tersebut. Di sisi lain, bagi jemaat yang sudah lama di gereja tersebut juga harus dijejali makanan rohani yang “keras”, bahkan mereka-mereka yang seharusnya secara waktu sudah siap untuk menyampaikan makanan rohani, perlu dibuatkan sistem agar mereka juga belajar menjadi pengajar atau pemberita Firman, meskipun mungkin belum pada ibadah raya di hari Minggu. Gereja Tuhan tidak dapat hanya menjadi gereja yang pasif, yang tidak mau mengerti kebutuhan jemaatnya, tetapi harus bertindak seperti Yesus Kristus, yang dalam pelayananNya pun terkadang menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut, namun di sisi lain (terutama kepada murid-muridNya), Ia menyampaikan Firman yang “keras” dan sulit dimengerti.

Menjadi pertanyaan yang menarik bagi diri kita sendiri, apakah diri kita sendiri sudah layak untuk menjadi pengajar atau pembawa Firman? Jika dalam seminggu kita minimal mendengarkan khotbah 1 kali saja, maka dalam setahun minimal kita sudah mendengarkan 52 khotbah yang berbeda (itu dengan asumsi minimal kita tidak pernah mendengarkan khotbah lain, baik melalui radio, TV, atau ibadah lain selain ibadah raya hari Minggu). Bayangkan jika kita sudah 20 atau 30 tahun menjadi orang Kristen, masihkah kita menganggap diri kita hanya sebagai jemaat biasa? Saya dengan tegas menyampaikan bahwa jika kita sudah 20 tahun menjadi orang Kristen, seharusnya kita sudah naik level ke tingkat pengajar. Memang mungkin diperlukan banyak latihan, tetapi jika tidak demikian, maka suatu saat nanti kita akan kalah oleh orang-orang baru di gereja kita. Jangan sampai Firman Tuhan yang berkata “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mat 19:30) ternyata terjadi dalam hidup kita, dimana kita yang awalnya terdahulu tetapi justru menjadi yang  terakhir.


Bacaan Alkitab: Ibrani 5:11-14
5:11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.
5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.
5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Menjadi Anak-anak Allah



Senin, 4 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 3:1-2
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. (1 Yoh 3:1)


Menjadi Anak-anak Allah


Banyak orang Kristen yang belum mengerti apa artinya menjadi orang Kristen. Banyak orang Kristen hanya bangga memiliki status “Kristen” di kolom agama pada KTP mereka. Padahal menjadi orang Kristen sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dari hanya sekedar kolom agama di KTP.

Kata “Kristen”, dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan “Christian”, artinya adalah pengikut Kristus. Dengan demikian, menjadi orang Kristen tidak hanya sekedar memiliki nama yang berbau Kristen, tidak hanya sekedar memakai kalung salib, atau tidak hanya sekedar memasang salib di rumah kita. Tetapi menjadi orang Kristen artinya harus mau mengikut dan meneladani Kristus dalam segala hal. Dan hari ini, saya ingin menekankan bahwa menjadi orang Kristen, berarti kita juga siap menjadi anak-anak Allah.

Banyak orang Kristen sering mendengar istilah “anak-anak Allah”. Bahkan cukup banyak orang Kristen yang merasa bahwa ketika mereka menjadi orang Kristen, ketika mereka datang ke gereja, maka mereka adalah anak-anak Allah. Benarkah demikian?

Menurut pendapat saya, menjadi orang Kristen tidak langsung secara otomatis kita menjadi anak-anak Allah, karena cukup banyak orang yang mengaku dirinya Kristen tetapi ia tidak mau mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Orang-orang semacam ini biasanya adalah orang-orang yang sudah “Kristen” karena orang tua mereka juga Kristen. Tetapi dalam hidupnya, mereka tidak pernah memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.

Oleh karena itu, kita hanya akan disebut sebagai anak-anak Allah, jika kita meresponi kasih karunia yang dikaruniakan Allah Bapa kepada kita (ay. 1a). Apa artinya? Artinya adalah bahwa kita mengakui bahwa Allah Bapa sangat mengasihi seisi dunia (termasuk kita), dan mengakui bahwa Allah Bapa telah mengirim AnakNya yang tunggal (Yesus Kristus) sebagai Juruselamat bagi setiap orang yang percaya kepadaNya (Yoh 3:16). Oleh karena itu, jika kita hanya mengaku sebagai orang Kristen, tanpa pernah percaya kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, maka sesungguhnya kita bukan dan tidak pantas disebut sebagai anak-anak Allah.

Alkitab menulis bahwa ketika kita percaya kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, maka kita secara otomatis menjadi anak-anak Allah. Karena manusia memang diciptakan oleh Allah, tetapi karena dosa kita menjadi terpisah dengan Allah. Oleh karena itu, ketika Yesus Kristus turun ke dunia ini, melalui kematian dan kebangkitanNya hubungan kita dengan Allah dipulihkan kembali, dan kita menjadi anak-anak Allah. Bahkan saat ini pun sebenarnya status kita adalah anak-anak Allah (ay. 2a), walau memang akan baru nampak secara nyata ketika Tuhan Yesus datang kembali untuk yang kedua kalinya (ay. 2b), yaitu ketika kita nanti akan dibawa masuk ke dalam kerajaan surga yang mulia. Di dalam iman kepada Yesus Kristus, kita adalah anak-anak Allah (Gal 3:26).

Karena kita adalah anak-anak Allah, tentu kita saat ini bukan lagi anak-anak dunia, atau anak-anak Iblis. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa dunia sudah tidak lagi mengenal kita sebagai, karena dunia juga tidak mengenal Allah (ay. 1b). Jadi, jangan heran jika ketika kita telah menjadi anak-anak Allah, hidup kita di dunia seakan-akan menjadi lebih berat. Kita mungkin akan dimusuhi oleh lingkungan sekitar kita, oleh teman kita, bahkan mungkin oleh keluarga kita. Tetapi hal tersebut pun tidak boleh menjadi penghambat kita untuk kita tetap percaya kepada Allah, karena hanya dengan status sebagai anak-anak Allah, maka kita boleh menghadap tahta Allah, dan boleh memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Rm 8:15).


Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 3:1-2
3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Senin, 21 Juli 2014

Jangan Sampai Tawar Hati



Selasa, 22 Juli 2014
Bacaan Alkitab: Kolose 3:20-21
Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. (Kol 3:21)


Jangan Sampai Tawar Hati


Beberapa hari yang lalu, anak sulung saya yang saat itu masih berumur 2 tahun lebih sedang tidak mau tidur, padahal hari sudah cukup larut malam. Meskipun sudah malam, anak saya yang pertama masih tetap suka bermain-main di atas kasur, dimana hal itu adalah hal yang tidak terlalu saya sukai karena saya ingin agar kasur atau kamar tidur memang hanya digunakan untuk tidur. Sejak jam 8.30 malam memang saya sudah mengajaknya untuk tidur, tetapi hingga hampir jam 10 malam anak saya masih belum tidur, sehingga saat itu saya cukup emosi dan mencoba menarik anak saya untuk keluar kamar jika ia masih belum mau tidur, karena saya juga sudah capek dan ingin beristirahat. Anak saya waktu itu sampai hampir menangis dan meminta untuk masuk kamar, dan akhirnya saya ijinkan masuk kamar tetapi ia ternyata masih belum tidur dan  begitu berulang-ulang hingga hampir mencapai jam 11 malam (saat anak saya tidur, saya sudah terlalu capek dan sudah tertidur dahulu).

Saat itu memang saya cukup emosi karena saya capek dan kesal dengan “ulah” anak pertama saya. Tetapi kemudian setelah saya pikirkan, ternyata mungkin apa yang saya lakukan terlalu  berlebihan. Mungkin anak saya yang baru berumur 2 tahun belum cukup mengerti tentang apa yang ia lakukan. Ia mungkin hanya ingin bermain  bersama dengan saya hingga larut malam, tetapi saya tidak dapat mengerti perasaan dan keinginannya, akibatnya sikap saya ke anak saya munghkin kurang tepat dan mungkin akan membuat dirinya kecewa.

Ketika saya menulis renungan ini, saya cukup menyesal dengan apa yang saya lakukan, karena ternyata apa yang saya lakukan sangat bertentangan dengan Firman Tuhan. Bacaan Alkitab kita hari ini cukup pendek, hanya 2 ayat saja. Ayat pertama berbicara tentang bagaimana anak-anak harus menaati orang tua di dalam segala hal, karena itu adalah hal yang indah di dalam Tuhan (ay. 20). Jika kita hanya melihat ayat ini saja, mungkin ini akan menjadi pembenaran bagi orang tua agar anak-anaknya mau menuruti dan menaati apapun yang orang tua katakan. Tetapi sayangnya (saya lebih suka mengatakan “untungnya”), masih ada ayat 21, dimana ayat tersebut mengatakan bahwa agar para bapa (dalam konteks lebih luas adalah para orang tua, termasuk ibu) tidak boleh menyakiti hati anak-anaknya, agar jangan sampai tawar hatinya (ay. 21).

Jujur, ketika saya mengetik untuk menulis renungan ini, saya menangis. Saya menangis karena saya tahu bahwa saya masih belum cukup sabar menghadapi anak-anak saya. Padahal ia mungkin baru berusia 2 tahun dan belum cukup mengerti tentang pola pikir orang dewasa. Dan saya sangat menyesal karena mungkin sudah membuat ia sedikit kecewa atau tawar hati kepada saya.

Memang menjalankan perintah Tuhan pun tidak mudah. Butuh perjuangan ekstra keras agar kita dapat hidup sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Ayat-ayat tersebut (khususnya ayat 21) mengingatkan kita yang sudah menjadi orang tua bagi anak-anak kita, untuk dapat mendidik anak-anak kita dalam kebenaran, dalam kasih, dan dalam iman yang benar. Anak-anak kita adalah generasi penerus kita. Apa yang kita tabur adalah apa yang kita tuai. Jangan sampai kita mendidik anak dengan cara yang salah, atau dengan penuh emosi sehingga mereka menjadi tawar hati kepada kita. Bagaimanapun juga, sikap anak-anak kita kepada kita ketika kita nanti sudah tua akan sangat tergantung kepada apa yang kita ajarkan kepada mereka, melalui perkataan kita dan juga melalui sikap hidup kita. Anak-anak akan mencontoh apa yang orang tuanya lakukan.

Ayat 21 ini mungkin sederhana, tetapi pada kenyataannya sangat sulit dilakukan. Berapa banyak anak-anak yang tawar hati karena orang tua tidak bijaksana dalam bersikap? Berapa banyak keluarga yang hancur karena tidak ada kasih dalam keluarga? Bahkan mungkin permasalahan ini pun juga banyak terjadi dalam keluarga para hamba Tuhan. Jika hari ini kita membaca renungan ini, mari kita bertekad dan berusaha untuk dapat menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita. Mungkin akan ada saatnya kita untuk marah ketika anak-anak kita berbuat salah, tetapi mari kita bijaksana agar kita tidak marah dengan emosi yang berlebihan, yang hanya akan membuat mereka menjadi tawar hatinya kepada kita.


Bacaan Alkitab: Kolose 3:20-21
3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.