Selasa, 05 Agustus 2014

Perkataan Iblis yang Tercatat dalam Alkitab (2): Iblis dan Ayub Bagian 1



Kamis, 7 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Ayub 1:6-12
Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." (Ay 1:9-11)


Perkataan Iblis yang Tercatat dalam Alkitab (2): Iblis dan Ayub Bagian 1


Hari ini kita akan melanjutkan tentang perkataan Iblis yang tercatat dalam Alkitab. Setelah pembicaraan Iblis dan Hawa, ternyata Iblis juga pernah berkata di dalam Alkitab, yaitu ketika ia menghadap Tuhan. Mungkin ada di antara para pembaca yang tidak percaya bahwa Iblis pun menghadap Tuhan, tetapi Alkitab kita dengan jelas menyatakan bahwa ketika anak-anak Allah menghadap Tuhan, di antara mereka juga datang Iblis untuk menghadap Tuhan (ay. 6).

Apa yang Iblis lakukan saat itu? Kita dapat melihat dari jawaban Iblis ketika Tuhan bertanya kepada Iblis, “Dari mana engkau?”, dan dijawab Iblis bahwa ia dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi (ay. 7). Dari ayat 7 ini dapat kita lihat bahwa Iblis adalah pihak yang sangat rajin. Ia tidak kenal lelah mengelilingi dan menjelajah bumi untuk membuat manusia terbujuk rayuannya dan berbuat dosa. Iblis terus menerus mencari cara agar manusia berbalik dari Tuhan dan terus menerus berbuat dosa di dunia ini.

Singkat cerita, Tuhan pun membanggakan salah satu manusia yang begitu saleh, yaitu Ayub, kepada Iblis. Tuhan memuji Ayub karena ia adalah orang yang saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ay. 8). Saya membayangkan betapa bangga orang yang dipuji dan disanjung Tuhan. Tetapi saat itu, Iblis justru balik menyerang Tuhan dengan mengatakan “Ya wajar saja Ayub takut akan Tuhan, karena Tuhan juga sudah memberkati Ayub dengan luar biasa” (ay. 9-10). Iblis juga menuntut Tuhan agar mengulurkan tanganNya dan menjamah segala hartanya (dalam artian negatif, yaitu agar segala berkat yang Tuhan berikan kepada Ayub dicabut), maka Ayub pasti akan mengutuk Tuhan (ay. 11).

Kelanjutan dari cerita ini tentu sudah kita ketahui bersama, yaitu Tuhan mengabulkan apa yang diminta oleh Iblis, dengan syarat agar Iblis tidak menjamah tubuh Ayub (ay. 12). Jadi, jangan bangga dulu jika permintaan dalam doa kita dijawab oleh Tuhan, karena permintaan Iblis saja pun dikabulkan oleh Tuhan. Doa pun bukan sekedar masalah dijawab atau tidak dijawab, tetapi bagaimana doa kita berisi hal-hal yang benar. Isi doa jauh lebih penting daripada sekedar jawaban doa kita.

Tapi kembali kepada pokok pembahasan kita dalam renungan hari ini, ada tiga poin penting yaitu adalah bagaimana Iblis juga ikut datang menghadap Tuhan, bagaimana Iblis senantiasa berkeliling dunia untuk mencari cara membawa manusia jatuh ke dalam dosa, serta bagaimana Tuhan melindungi setiap anak-anakNya dengan pagar di sekeliling kita.

Poin pertama, yaitu bagaimana Iblis juga ikut datang menghadap Tuhan, adalah suatu “tamparan keras” bagi setiap orang yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak pernah datang menghadap Tuhan. Iblis saja juga menghadap Tuhan, masa kita sebagai manusia apalagi yang mengaku sebagai anak Tuhan tidak pernah datang menghadap Tuhan? Jangan hanya bangga jika kita datang kepada Tuhan hanya seminggu sekali, bahkan hanya sehari sekali. Justru kita harus lebih sering datang kepada Tuhan lebih daripada Iblis. Jangan mau kalah dari Iblis dalam hal ini.

Poin kedua, yaitu bagaimana Iblis senantiasa berkeliling dunia untuk mencari cara membawa manusia jatuh ke dalam dosa, kita dapat belajar bahwa Iblis pun berusaha keras untuk menyesatkan manusia dalam waktu yang singkat ini. Waktu yang dimiliki Iblis mungkin adalah ribuan tahun sejak Tuhan menciptakan manusia pertama. Dari sudut pandang manusia, waktu tersebut mungkin sangat lama. Tetapi Iblis sadar bahwa waktu ribuan tahun tersebut tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan kekekalan yang tidak ada batasnya. Oleh karena itu, Iblis selalu bekerja keras karena ia tahu bahwa ketika Tuhan datang kembali untuk yang kedua kalinya ke dunia ini, bagi Iblis sudah sangat terlambat. Kita pun seharusnya dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk kemuliaan nama Tuhan. Jangan bersantai-santai, tetapi kita harus bekerja keras selagi hari masih siang dan masih ada kesempatan bagi kita untuk memberitakan Firman Tuhan kepada orang lain (Yoh 9:4).

Poin ketiga, yaitu bagaimana Tuhan melindungi setiap anak-anakNya dengan pagar di sekelilingnya, menunjukkan bahwa walaupun Iblis seringkali mencoba untuk menjatuhkan kita, tetapi sesungguhnya perlindungan Tuhan bagi anak-anakNya tidak pernah kurang. Tuhan selalu melindungi setiap anak-anakNya dari gangguan Iblis. Ada dua kemungkinan mengapa anak Tuhan dapat kena “serangan” Iblis, yaitu: 1) Orang tersebut sendiri yang membuka celah; atau 2) Tuhan yang mengijinkan untuk “mengangkat pagar perlindungan” orang tersebut dan mengizinkan Iblis untuk mencobai kita. Jika penyebabnya adalah karena kesalahan kita sendiri, tentu kita sendiri yang harus menyelesaikannya. Tetapi jika penyebabnya adalah karena Tuhan yang mengizinkan (kehendak Tuhan dalam hidup kita), maka tentu saja kita harus mau tunduk dan taat kepada Tuhan dan membiarkan rencananya terjadi dalam hidup kita. Seperti apa yang dialami Ayub, walaupun Tuhan sendiri yang mengizinkan Iblis untuk mengambil habis seluruh harta Ayub, pada akhirnya Tuhan pun akan mengembalikan dua kali lipat banyaknya (Ay 42:10).



Bacaan Alkitab: Ayub 1:6-12
1:6 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
1:7 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."
1:8 Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."
1:9 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?
1:10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
1:11 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."
1:12 Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.

Perkataan Iblis yang Tercatat dalam Alkitab (1): Iblis dan Hawa



Rabu, 6 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Kejadian 3:1-7
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kej 3:1)


Perkataan Iblis yang Tercatat dalam Alkitab (1): Iblis dan Hawa


Alkitab yang kita baca selama ini, sesungguhnya adalah Firman Allah yang diberikan Allah kepada kita sehingga kita dapat mengerti isi hati Allah dan apa yang Allah mau kita lakukan bagiNya. Akan tetapi, mungkin tidak banyak orang Kristen yang tahu bahwa Alkitab sesungguhnya tidak hanya berisi tentang perkataan atau ucapan Allah dan Tuhan Yesus sendiri. Ada pula sejarah, nyanyian pujian (seperti kitab Mazmur), perkataan-perkataan manusia, bahkan ada pula perkataan Iblis yang tercatat dalam Alkitab. Tentu dalam hal ini kita tidak boleh menganggap bahwa Alkitab bukan 100% Firman Allah, karena apapun yang tertulis dalam Alkitab, semua diilhamkan Allah untuk tujuan yang baik, yaitu agar kita dapat belajar dari Firman Allah tersebut.

Bahkan, dalam 4 hari ke depan, saya akan menulis tentang perkataan Iblis yang tercatat dalam Alkitab, dan bagaimana kita dapat belajar dari Iblis. Ya, tanpa kita sadari, Iblis pun dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran, tentu bukan dalam artian kita meniru apa yang dilakukan oleh Iblis, tetapi bagaimana kita belajar untuk mengantisipasi dan melawan Iblis dari apa yang tertulis dalam Alkitab.

Bacaan Kitab Suci kita hari ini berbicara tentang bagaimana Iblis (dalam bentuk ular) mendatangi Hawa di Taman Eden (ay. 1a). Kita dapat membaca bahwa Iblis tidak mendatangi Adam, tetapi mendatangi Hawa. Mengapa demikian? Jika kita baca ayat-ayat sebelumnya, kita akan melihat bagaimana Tuhan memberikan perintah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, hanya kepada Adam, karena waktu itu Hawa belum diciptakan (Kej 2:16-17). Nah, Iblis ternyata memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk dapat mendekati manusia (dalam hal ini Hawa). Bahkan Iblis mengawali dengan pertanyaan yang sangat menarik, yaitu “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (ay. 1b).

Jika ditanya seperti itu, Hawa yang mungkin pernah “mendengar” sepenggal cerita mengenai pohon-pohon di Taman Eden dari Adam, merasa harus menjawab Iblis (ay. 2-3). Hal ini adalah hal yang sangat salah. Jangan pernah mengajak komunikasi dengan Iblis, karena Iblis sangat tahu bagaimana cara memancing kita untuk memutarbalikkan kebenaran. Hal ini terbukti dari jawaban Hawa yang ternyata kurang tepat, karena mengenai buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (yang terletak di tengah-tengah taman), Hawa menjawab bahwa Tuhan melarangnya untuk memakan atau meraba buah tersebut, karena nanti ia bisa mati (ay. 3). Padahal larangan Tuhan kepada Adam adalah untuk tidak memakan buah tersebut.

Dari kesalahan jawaban Hawa yang sangat kecil tersebut, Iblis pun mulai masuk lebih dalam lagi. Iblis memancing bahwa perintah atau larangan Allah itu salah. Jika Hawa mau memakannya, ia tidak akan mati tetapi justru matanya akan terbuka dan akan menjadi seperti Allah (ay. 4-5). Hal tersebut adalah suatu tawaran yang sangat menggiurkan. Dari zaman Adam dan Hawa, hingga saat ini, banyak orang berusaha menjadi seperti Allah. Lihat saja bagaimana manusia mencoba membangun menara Babel untuk mencoba mencapai Allah, atau bagaimana di zaman sekarang ini, manusia yang memerintah negara adidaya bertindak semena-mena menyerang negara lain dan membunuh orang lain karena merasa bahwa adalah sudah tanggung jawabnya untuk menjaga kedamaian dunia, atau bagaimana manusia mencoba menemukan cara agar manusia tidak perlu mati, bahkan bagaimana manusia mencoba menjadi seperti Allah dengan cara menciptakan kloning manusia. Bukankah itu adalah gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana manusia mencoba untuk menyamai Allah?

Kembali kepada Iblis dan Hawa, sangat disayangkan Hawa justru mengikuti ajakan Iblis untuk tidak menaati Allah. Bahkan lebih parah lagi, Hawa juga memberikan buah tersebut kepada Adam untuk dimakan bersama-sama (ay. 6), hingga akhirnya mata mereka terbuka dan tahu bahwa mereka telah telanjang (ay. 7).

Menarik bahwa Iblis sangat tahu cara untuk membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Iblis dapat menggunakan celah sekecil apapun untuk dapat menjatuhkan Adam dan Hawa. Mulai dari mendatangi Hawa yang sedang sendirian, memanfaatkan kesalahan jawaban (atau ketidakmengertian) Hawa tentang perintah Allah, hingga menawarkan sesuatu yang menarik kepada Hawa. Lalu, bagaimana kita dapat berjaga-jaga dari Iblis? Salah satu caranya adalah dengan tidak memberikan kesempatan kepada Iblis, sekecil apapun kesempatan itu (Ef 4:27). Terjemahan New International Version (NIV) menggunakan istilah “foothold” sebagai kesempatan, sehingga juga dapat dikatakan agar kita tidak memberikan Iblis suatu “tempat berpijak” sekecil apapun dalam hidup kita. Karena jika Iblis sudah mendapatkan tempat berpijak sekecil apapun dalam hidup kita, ia akan mulai untuk menggoda kita dan membuat kita jatuh jika kita tidak berhati-hati (lihat contoh Hawa di atas).

Oleh karena itu, dalam segala hal, biasakan untuk tidak membuka celah sedikitpun bagi Iblis, yaitu dengan meminta Tuhan untuk mengisi seluruh hati kita, pikiran kita, serta hidup kita. Biarlah dalam hidup kita sepenuhnya kita izinkan Tuhan untuk bertahta, sehingga Iblis tidak akan sanggup masuk ke dalam hidup kita. Tentu hal ini juga harus menjadi bagian kita setiap hari bahkan setiap saat, dan kita juga harus berjaga-jaga agar kita tidak membuka celah sedikitpun. Pepatah mengatakan bahwa orang tidak akan jatuh karena batu besar, tetapi justru kerikil kecil yang sering menyebabkan orang jatuh. Artinya adalah jangan menganggap sepele celah yang terlihat kecil, karena melalui celah itu, Iblis dapat masuk dan kita dapat jatuh hanya karena kita tidak pernah mau menutup celah kecil tersebut.


Bacaan Alkitab: Kejadian 3:1-7
3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Senin, 04 Agustus 2014

Sudah Saatnya Menjadi Pengajar



Selasa, 5 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: Ibrani 5:11-14
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (Ibr 5:12)


Sudah Saatnya Menjadi Pengajar


Dalam kehidupan kita di dunia ini, adalah umum jika kita harus naik tingkat seiring berjalannya waktu. Ambil contoh pada saat kita bersekolah, adalah sangat umum jika kita seharusnya naik kelas setiap tahunnya. Dari kelas 1 SD, naik ke kelas 2 SD, dan begitu seterusnya hingga kelas 6 SD, bahkan seharusnya juga dapat diteruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi di S1, S2, dan S3. Di dunia kerja juga sama demikian halnya. Seharusnya seiring perjalanan waktu, kita akan naik posisi, naik gaji, atau naik jabatan. Hampir tidak ada orang normal yang ingin terus-menerus berada di posisi yang sama, baik di sekolah maupun di kantor. Orang akan ingin untuk selalu naik walaupun tentu hal tersebut juga diiringi dengan meningkatnya beban tanggung jawab kita.

Dalam hal rohani juga demikian halnya. Di sebuah gereja yang umum, sejak kecil anak-anak diajar di dalam sekolah minggu, kemudian seiring bertambahnya umur mereka, maka mereka mulai masuk ke persekutuan remaja, pemuda, dewasa muda, dan setelah menikah pada umumnya beribadah di ibadah umum atau ibadah raya. Akan tetapi sayangnya banyak orang Kristen setelah menikah akhirnya berhenti “hanya” menjadi jemaat di ibadah raya. Mereka tidak lagi terlibat dalam pelayanan. Ketika ditanya alasannya, mereka hanya menjawab “biarkan saja generasi yang lebih muda yang aktif di gereja, kami ini sudah cukup menjadi jemaat biasa saja”.

Bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini? Sesungguhnya Kekristenan adalah suatu perjalanan seumur hidup. Saya bahkan lebih suka menggunakan istilah bahwa Kekristenan adalah “Sekolah Teologi” seumur hidup. Oleh karena itu, sangat salah jika orang Kristen yang kemudian hanya ingin menjadi jemaat biasa.

Oleh karena itu penulis kitab Ibrani ini benar-benar menegur umat Tuhan yang selama ini selalu malas untuk naik level. Dalam hal ini, penulis kitab Ibrani mengkritik sikap mereka yang selalu lamban dalam mendengarkan walaupun sudah banyak yang disampaikan dan dijelaskan (ay. 11). Penulis kitab Ibrani ini mengkritik sikap umat Tuhan yang sebenarnya sudah sangat senior alias sudah cukup lama menjadi orang percaya, namun mereka belum siap untuk menjadi pengajar (ay. 12a). Bahkan mereka masih harus diajarkan hal-hal yang masih mendasar, ibarat bayi yang terus membutuhkan susu dan bukan makanan keras (ay. 12b).

Tentu saja untuk menjadi pengajar bukan hal yang mudah. Bukan hanya sekedar usia yang cukup atau telah menjadi orang Kristen selama puluhan tahun, tetapi juga adalah kompetensi dan hati yang memang terbeban untuk menjadi pengajar. Akan tetapi, jika seseorang sudah menjadi orang Kristen selama 30 atau 40 tahun, seharusnya orang tersebut pun minimal sudah mampu menjadi pengajar atau “pembawa Firman”, minimal dalam ibadah-ibadah keluarga atau kelompok sel. Gereja pun juga membuat suatu mekanisme untuk dapat memfasilitasi jemaatnya, bukan hanya membiarkan mereka menjadi jemaat yang pasif saja.

Gereja juga harus mengembangkan suatu sistem yang memungkinkan para anggota gereja mendapatkan makanan rohani dengan kualitas yang berbeda-beda. Jemaat yang masih merupakan “bayi rohani” atau “anak rohani” tentu membutuhkan makanan rohani yang masih lembut atau susu (ay. 13). Namun tentu si “bayi rohani” itu pun tetap harus bertumbuh dan diharapkan segera menjadi orang yang “dewasa rohani” sehingga dapat memakan makanan rohani yang keras (ay. 14). Oleh karena itu gereja (termasuk Gembala Sidang dan para Pendeta dan hamba Tuhan di gereja tersebut) harus sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan jemaat. Jangan jemaat yang baru percaya langsung dijejali dengan makanan-makanan rohani yang bersifat “keras”, tetapi harus ada suatu mekanisme bertahap agar ia pada akhirnya sanggup menerima makanan rohani yang “keras” tersebut. Di sisi lain, bagi jemaat yang sudah lama di gereja tersebut juga harus dijejali makanan rohani yang “keras”, bahkan mereka-mereka yang seharusnya secara waktu sudah siap untuk menyampaikan makanan rohani, perlu dibuatkan sistem agar mereka juga belajar menjadi pengajar atau pemberita Firman, meskipun mungkin belum pada ibadah raya di hari Minggu. Gereja Tuhan tidak dapat hanya menjadi gereja yang pasif, yang tidak mau mengerti kebutuhan jemaatnya, tetapi harus bertindak seperti Yesus Kristus, yang dalam pelayananNya pun terkadang menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut, namun di sisi lain (terutama kepada murid-muridNya), Ia menyampaikan Firman yang “keras” dan sulit dimengerti.

Menjadi pertanyaan yang menarik bagi diri kita sendiri, apakah diri kita sendiri sudah layak untuk menjadi pengajar atau pembawa Firman? Jika dalam seminggu kita minimal mendengarkan khotbah 1 kali saja, maka dalam setahun minimal kita sudah mendengarkan 52 khotbah yang berbeda (itu dengan asumsi minimal kita tidak pernah mendengarkan khotbah lain, baik melalui radio, TV, atau ibadah lain selain ibadah raya hari Minggu). Bayangkan jika kita sudah 20 atau 30 tahun menjadi orang Kristen, masihkah kita menganggap diri kita hanya sebagai jemaat biasa? Saya dengan tegas menyampaikan bahwa jika kita sudah 20 tahun menjadi orang Kristen, seharusnya kita sudah naik level ke tingkat pengajar. Memang mungkin diperlukan banyak latihan, tetapi jika tidak demikian, maka suatu saat nanti kita akan kalah oleh orang-orang baru di gereja kita. Jangan sampai Firman Tuhan yang berkata “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mat 19:30) ternyata terjadi dalam hidup kita, dimana kita yang awalnya terdahulu tetapi justru menjadi yang  terakhir.


Bacaan Alkitab: Ibrani 5:11-14
5:11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.
5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.
5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Menjadi Anak-anak Allah



Senin, 4 Agustus 2014
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 3:1-2
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. (1 Yoh 3:1)


Menjadi Anak-anak Allah


Banyak orang Kristen yang belum mengerti apa artinya menjadi orang Kristen. Banyak orang Kristen hanya bangga memiliki status “Kristen” di kolom agama pada KTP mereka. Padahal menjadi orang Kristen sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dari hanya sekedar kolom agama di KTP.

Kata “Kristen”, dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan “Christian”, artinya adalah pengikut Kristus. Dengan demikian, menjadi orang Kristen tidak hanya sekedar memiliki nama yang berbau Kristen, tidak hanya sekedar memakai kalung salib, atau tidak hanya sekedar memasang salib di rumah kita. Tetapi menjadi orang Kristen artinya harus mau mengikut dan meneladani Kristus dalam segala hal. Dan hari ini, saya ingin menekankan bahwa menjadi orang Kristen, berarti kita juga siap menjadi anak-anak Allah.

Banyak orang Kristen sering mendengar istilah “anak-anak Allah”. Bahkan cukup banyak orang Kristen yang merasa bahwa ketika mereka menjadi orang Kristen, ketika mereka datang ke gereja, maka mereka adalah anak-anak Allah. Benarkah demikian?

Menurut pendapat saya, menjadi orang Kristen tidak langsung secara otomatis kita menjadi anak-anak Allah, karena cukup banyak orang yang mengaku dirinya Kristen tetapi ia tidak mau mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Orang-orang semacam ini biasanya adalah orang-orang yang sudah “Kristen” karena orang tua mereka juga Kristen. Tetapi dalam hidupnya, mereka tidak pernah memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.

Oleh karena itu, kita hanya akan disebut sebagai anak-anak Allah, jika kita meresponi kasih karunia yang dikaruniakan Allah Bapa kepada kita (ay. 1a). Apa artinya? Artinya adalah bahwa kita mengakui bahwa Allah Bapa sangat mengasihi seisi dunia (termasuk kita), dan mengakui bahwa Allah Bapa telah mengirim AnakNya yang tunggal (Yesus Kristus) sebagai Juruselamat bagi setiap orang yang percaya kepadaNya (Yoh 3:16). Oleh karena itu, jika kita hanya mengaku sebagai orang Kristen, tanpa pernah percaya kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, maka sesungguhnya kita bukan dan tidak pantas disebut sebagai anak-anak Allah.

Alkitab menulis bahwa ketika kita percaya kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, maka kita secara otomatis menjadi anak-anak Allah. Karena manusia memang diciptakan oleh Allah, tetapi karena dosa kita menjadi terpisah dengan Allah. Oleh karena itu, ketika Yesus Kristus turun ke dunia ini, melalui kematian dan kebangkitanNya hubungan kita dengan Allah dipulihkan kembali, dan kita menjadi anak-anak Allah. Bahkan saat ini pun sebenarnya status kita adalah anak-anak Allah (ay. 2a), walau memang akan baru nampak secara nyata ketika Tuhan Yesus datang kembali untuk yang kedua kalinya (ay. 2b), yaitu ketika kita nanti akan dibawa masuk ke dalam kerajaan surga yang mulia. Di dalam iman kepada Yesus Kristus, kita adalah anak-anak Allah (Gal 3:26).

Karena kita adalah anak-anak Allah, tentu kita saat ini bukan lagi anak-anak dunia, atau anak-anak Iblis. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa dunia sudah tidak lagi mengenal kita sebagai, karena dunia juga tidak mengenal Allah (ay. 1b). Jadi, jangan heran jika ketika kita telah menjadi anak-anak Allah, hidup kita di dunia seakan-akan menjadi lebih berat. Kita mungkin akan dimusuhi oleh lingkungan sekitar kita, oleh teman kita, bahkan mungkin oleh keluarga kita. Tetapi hal tersebut pun tidak boleh menjadi penghambat kita untuk kita tetap percaya kepada Allah, karena hanya dengan status sebagai anak-anak Allah, maka kita boleh menghadap tahta Allah, dan boleh memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Rm 8:15).


Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 3:1-2
3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.