Selasa, 23 September 2014

Budaya Instan



Selasa, 23 September 2014
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 8:9-24
“Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” (Kis 8:18-19)


Budaya Instan


Manusia pada masa kini cenderung tidak mau repot. Mereka ingin segala sesuatunya serba cepat. Jika perlu, mereka rela membayar lebih mahal agar dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih menyenangkan. Bahkan tidak jarang mereka berani membayar lebih agar mereka dapat melanggar aturan yang berlaku. Inilah cikal bakal korupsi di negeri kita, terlebih pada saat-saat ini, dimana begitu banyak kesempatan untuk korupsi. Dengan membayar sejumlah uang kita dapat memperoleh SIM tanpa harus ikut tes, kita dapat memperoleh ijin mendirikan pabrik walaupun ternyata melanggar aturan lingkungan hidup, dan lain sebagainya. 

Namun demikian, budaya instan seperti itu pun ternyata sudah ada pada zaman gereja mula-mula. Bacaan Alkitab kita hari ini berbicara mengenai Filipus yang pada mulanya memberitakan Injil di daerah Samaria (ay. 12). Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa Samaria telah menerima Firman Allah, maka mereka mengutus Petrus juga ke Samaria (ay. 14). Filipus dan Petrus bekerja sama dalam mengabarkan Injil di Samaria, bahkan berdoa agar Roh Kudus turun di antara orang-orang Samaria (ay. 15-16). Filipus dan Petrus pun menumpangkan tangan atas orang-orang Samaria, dan mereka pun beroleh Roh Kudus (ay. 17).

Pada saat itu, ada seseorang yang bernama Simon yang dikenal sebagai tukang sihir di Samaria. Simon sangat terkenal karena perbuatan sihirnya yang selama ini dia lakukan (ay. 9-11). Namun ketika Filipus mengabarkan Injil dan banyak orang Samaria dibaptis, Simon si tukang sihir pun ikut dibaptis, bahkan ia takjub ketika melihat sendiri mujizat-mujizat yang dilakukan Filipus di sana (ay. 12-13). Simon selama ini memang sering melakukan perbuatan sihir (yang umum dikenal sebagai mujizat oleh orang-orang awam), sehingga walaupun takjub, ia tidak terlalu mengingini “kuasa mujizat” yang dimiliki oleh Filipus. Namun ketika melihat bagaimana Filipus dan Petrus menumpangkan tangan agar orang-orang menerima Roh Kudus (dan mungkin saat itu banyak orang Samaria yang berbahasa Roh), Simon langsung tertarik kepada karunia tersebut.

Simon pun berkata kepada Filipus dan Petrus agar mereka berdua mau memberikan kuasa dan karunia tersebut kepada Simon dengan imbalan sejumlah uang (ay. 18-19). Ini menunjukkan budaya instan yang sudah dimiliki oleh orang-orang di masa gereja mula-mula. Mereka menyangka bahwa karunia dalam pelayanan itu dapat dibeli dengan uang. Ini adalah pola pikir yang salah. Kerajaan Allah maupun karunia dari Tuhan tidak dapat dibeli dengan uang (ay. 20).

Permasalahannya, di akhir zaman ini banyak orang Kristen dan juga hamba Tuhan yang lupa dengan prinsip kebenaran ini. Mereka menyangka bahwa uang dapat membeli segala-galanya. Banyak orang Kristen berani “memberi persembahan” dalam jumlah besar, agar mereka dapat dianggap terhormat dan dijadikan pelayan Tuhan di gereja. Mereka berharap bahwa dengan memberi persembahan dalam jumlah besar, maka mereka dapat menduduki posisi-posisi yang tinggi di gereja dan menjadi pribadi yang dihormati. Bahkan banyak hamba Tuhan yang juga memiliki motivasi yang menyimpang (ay. 21). Mereka melayani demi uang, sehingga khotbah mereka dapat “dibeli” dengan uang. Mereka bukan lagi hanba Tuhan, tetapi sudah menjadi hamba uang atau budak uang. Mereka mulai memilih-milih melakukan pelayanan yang uangnya banyak, dan menolak pelayanan-pelayanan yang tidak menghasilkan uang.

Terkait dengan hal tersebut, Petrus dengan tegas berkata bahwa hal ini adalah sebuah kejahatan di mata Tuhan, dan Petrus berharap agar orang-orang seperti ini harus bertobat dan meminta  Tuhan untuk mengampuni kejahatan niat di dalam hati tersebut (ay. 22). Bahkan diibaratkan orang yang mengira bahwa uang dapat membeli segala-galanya termasuk kerajaan Allah dan kebenarannya, sama saja dengan orang yang memiliki hati yang pahit seperti empedu, dan mereka telah terjerat dalam kejahatan (ay. 23).

Jika kita berada dalam posisi seperti Simon, mungkin sudah saatnya kita juga sadar dan bertobat. Simon sendiri setelah ditegur oleh Filipus dan Petrus, tidak terlihat dengan jelas apakah ia mau bertobat atau tidak. Tetapi ia minta untuk didoakan agar ia mampu mengubah pola pikirnya, sehingga hukuman Tuhan tidak terjadi atas dirinya (ay. 24). Tentunya kita harus mampu lebih baik dibandingkan Simon. Ketika kita ditegur Tuhan, kita harus mau menerima teguran Tuhan itu dengan hati yang terbuka. Kita harus menjadi orang yang lemah lembut, yang mau menerima teguran Tuhan ketika kita memiliki motivasi atau hati yang salah dan tidak tulus.

Seberapa tinggi pun jabatan kita (baik di luar gereja maupun di dalam gereja), saatinya kita belajar bahwa dalam kerajaan Allah, tidak ada sesuatu yang instan. Uang tidak dapat membeli pelayanan, bahkan tidak dapat membeli kebenaran Firman Tuhan. Jika kita ingin melayani atau mendapatkan karunia dalam pelayanan, kita harus mau mengikuti proses Tuhan. Kita harus menjadi pelayan Tuhan yang setia, mulai dari hal yang kecil hingga Tuhan percayakan hal-hal yang lebih besar (Luk 16:10). Jadilah hamba-hamba Tuhan yang setia mengikuti proses Tuhan, dan bukan orang-orang yang selalu ingin instan dan cepat, bahkan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang kita inginkan.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 8:9-24
8:9 Seorang yang bernama Simon telah sejak dahulu melakukan sihir di kota itu dan mentakjubkan rakyat Samaria, serta berlagak seolah-olah ia seorang yang sangat penting.
8:10 Semua orang, besar kecil, mengikuti dia dan berkata: "Orang ini adalah kuasa Allah yang terkenal sebagai Kuasa Besar."
8:11 Dan mereka mengikutinya, karena sudah lama ia mentakjubkan mereka oleh perbuatan sihirnya.
8:12 Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.
8:13 Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.
8:14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ.
8:15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus.
8:16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
8:17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.
8:18 Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka,
8:19 serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus."
8:20 Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.
8:21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah.
8:22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini;
8:23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."
8:24 Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu."

Senin, 01 September 2014

Berdoa dan Berpuasa bagi Orang Lain



Rabu, 3 September 2014
Bacaan Alkitab: Ester 4:15-16
"Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Est 4:16)


Berdoa dan Berpuasa bagi Orang Lain


Sebagai orang Kristen, walaupun tidak rutin atau tidak sering melakukannya, saya sudah pernah beberapa kali melakukan doa dan puasa. Memang hal tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan baik lisan maupun melalui tulisan. Akan tetapi apa yang saya ingin sampaikan adalah saya belum pernah melakukan doa dan puasa bagi orang lain yang tidak ada kepentingannya bagi saya. Selama ini saya melakukan doa dan puasa adalah ketika saya mengalami pergumulan atau mengalami masalah dan membutuhkan jalan keluar dari Tuhan.

Akan tetapi belakangan saya digerakkan Tuhan untuk berdoa dan berpuasa bagi orang lain. Orang yang saya doakan ini adalah pendeta saya sendiri, dimana saya melihat bahwa ada pihak lain yang mencoba memasang “jerat” bagi kehidupan keluarga pendeta saya tersebut. Saya belum dapat membuktikannya secara langsung, tetapi saya memiliki kerinduan agar jerat tersebut jangan sampai kena kepada pendeta saya dan juga keluarganya. Selama ini memang saya cukup rutin mendoakan pendeta saya dan keluarganya, tetapi baru beberapa hari yang lalu saya diberikan “beban” oleh Tuhan untuk melakukan doa puasa bagi beliau.

Banyak orang berdoa dan berpuasa bagi kepentingan dirinya sendiri. Saya mencoba mencari di Alkitab tentang berdoa dan berpuasa, dan hampir semua melakukan doa puasa untuk kepentingannya sendiri. Akan tetapi, dalam bacaan Kitab Suci kita hari ini, ketika bangsa Yahudi terancam dimusnahkan oleh Haman, dan Mordekhai meminta bantuan Ester untuk menolong bangsanya (bisa dibaca di ayat-ayat sebelumnya), Ester akhirnya menyampaikan jawabannya yang luar biasa kepada Mordekhai (ay. 15), yaitu bahwa ia meminta seluruh orang Yahudi untuk berdoa dan berpuasa tiga hari tiga malam lamanya, dan ia sendiri beserta dayang-dayangnya juga akan berpuasa yang sama, dan ia akan mencoba menghadap raja untuk menolong bangsanya (ay. 16).

Perhatikan bagaimana Ester mengajak dayang-dayangnya untuk berpuasa. Kemungkinan besar dayang-dayang Ester ini bukanlah orang Yahudi, tetapi mereka adalah orang-orang yang sudah ada di dalam istana dan bertugas melayani Ester sebagai ratu. Dayang-dayang itu tidak punya kepentingan apa-apa terhadap Ester dan bangsa Yahudi. Justru kalau Ester mati pun dalam pemusnahan massal yang dirancangkan Haman, mereka juga tidak dirugikan apa-apa. Akan tetapi dayang-dayang Ester tersebut tetap melakukan doa dan puasa demi Ester dan bangsanya.

Mungkin memang mereka melakukannya dengan terpaksa (karena atas perintah Ester sebagai ratu mereka). Akan tetapi, apa yang mereka lakukan tercatat sebagai salah satu doa dan puasa yang dilakukan bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka melakukan doa dan puasa bagi orang lain, agar orang lain tidak terkena jerat yang disusun dengan rencana yang sangat jahat oleh Haman. Dan doa puasa yang dilakukan oleh dayang-dayang Ester tersebut, ikut berandil dalam gagalnya rencana pemusnahan bangsa Yahudi. Meskipun mereka bukan orang Yahudi, tetapi Tuhan tetap mendengar seruan para dayang-dayang tersebut dalam doa dan puasa mereka.

Kembali kepada doa dan puasa yang saya lakukan. Mungkin di mata manusia hal tersebut terlihat sebagai sesuatu yang kecil artinya, dan mungkin nyaris tidak ada berdampak. Tetapi saya percaya pada kekuatan doa dan puasa. Saya hanya ingin pendeta saya dan keluarganya dilepaskan Tuhan dari rencana jahat yang ingin menjerat mereka, dan hanya itu yang saya naikkan dalam doa puasa saya. Saya percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan saya percaya Tuhan akan menolong pendeta saya beserta seluruh keluarganya.

Mungkin jika selama ini kita sering berdoa dan berpuasa bagi diri kita sendiri, bagi masalah yang kita hadapi, sudah saatnya kita lebih peka lagi terhadap suara Tuhan dan melakukan doa puasa bagi orang lain. Kita bisa menaikkan doa puasa bagi keluarga kita, bagi gereja kita, bagi para pendeta kita, bagi bangsa dan negara kita, atau juga bagi orang lain yang memang kita tidak ada kepentingan sekalipun. Yang jelas, jika suatu saat Tuhan menaruh “beban” dalam hati kita untuk kita doakan, bahkan kita doakan sambil berpuasa juga, lakukanlah itu, karena mungkin saja Tuhan ingin memakai kita untuk ambil bagian berdoa bagi orang itu.


Bacaan Alkitab: Ester 4:15-16
4:15 Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai:
4:16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."

Sudah Bukan Saatnya Berdiri di Tengah-tengah



Selasa, 2 September 2014
Bacaan Alkitab: Wahyu 22:10-11
“Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” (Why 22:11)


Sudah Bukan Saatnya Berdiri di Tengah-tengah


Beberapa waktu yang lalu, Indonesia mengadakan pesta demokrasi yang menurut sepengetahuan saya paling menarik dibanding pesta demokrasi di tahun-tahun sebelumnya. Khususnya dalam pemilihan presiden Republik Indonesia, dimana ada dua calon kuat yang bersaing untuk memperebutkan kursi RI-1 selama lima tahun ke depan. Saya tidak akan mengulas tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi saya melihat suatu fenomena yang menarik, dimana kebanyakan rakyat Indonesia terbagi menjadi dua kelompok, yang mendukung calon presiden (capres) nomor urut satu, dan yang mendukung capres nomor urut dua.

Walau sebagian besar rakyat Indonesia memilih salah satu dari kedua capres tersebut, masih terbuka kemungkinan bagi rakyat Indonesia untuk tidak memilih salah satu dari kedua capres tersebut. Pilihan ini dinamakan golongan putih (golput), dimana mereka tidak menggunakan hak pilihnya atau tidak memberikan dukungannya kepada salah satu dari kedua capres tersebut. Meskipun tidak disarankan, tetapi saya rasa cukup banyak rakyat Indonesia yang berdiri di tengah-tengah. Mereka tidak memilih capres nomor urut satu dan juga tidak memilih capres nomor urut dua.

Hal tersebut menggelitik saya, dan pada akhirnya saya mencoba menjawab pertanyaan diri saya sendiri, “Mungkinkah jika kita menjadi seorang Kristen, kita bisa berdiri di tengah-tengah juga?”. Maksud dari pertanyaan saya tersebut adalah apakah mungkin orang Kristen bisa menjadi orang Kristen yang ada di tengah-tengah, dalam artian kita melakukan kebenaran Firman Tuhan, tetapi kita juga tetap melakukan dosa yang selama ini kita lakukan? Mungkin ada sebagian orang Kristen yang selama ini rajin datang ke Gereja setiap hari Minggu, rajin memberikan persembahan bahkan perpuluhan, akan tetapi hidupnya selama ini tidak pernah ada pertobatan. Mereka mungkin melakukan ibadah mereka secara rutin, tetapi di sisi lain mereka tetap melakukan dosa dan kejahatan. Mereka mungkin tetap melakukan korupsi, melakukan perzinahan, melakukan dosa-dosa lain yang jelas-jelas mereka tahu bahwa hal itu adalah dosa, tetapi mereka tidak mau beranjak dari “status quo” yang selama ini mereka jalani.

Firman Tuhan hari ini memberi peringatan keras tentang hal ini. Firman Tuhan berkata bahwa waktunya (waktu kesudahan segala sesuatu) sudah dekat, bahkan menurut saya sudah sangat dekat (ay. 10). Dan ketika Tuhan datang untuk yang kedua kali, Tuhan menghendaki sebuah standar yang sangat tinggi, dimana orang Kristen tidak bisa tidak harus memilih, apakah mereka mau berusaha dan berjuang untuk dapat mencapai standar tersebut, atau membiarkan diri mereka tenggelam dan terseret dalam pusaran dosa yang terasa enak namun berujung pada maut. Lihat Firman Tuhan pada ayat berikutnya, dimana dikatakan bahwa barangsiapa yang berbuat jahat dan cemar (hidup dalam kejahatan dan dosa/kecemaran), biarlah ia terus berbuat jahat dan cemar, dan siapa yang berbuat benar dan kudus, biarlah ia terus berbuat kebenaran dan menguduskan dirinya (ay. 11).

Di akhir zaman ini, mau tidak mau dunia (termasuk anak-anak Tuhan) akan terbagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah mereka yang jahat dan cemar, dan kelompok kedua adalah mereka yang benar dan kudus. Dalam ayat-ayat yang paralel lainnya, digunakan istilah lain tetapi memiliki makna yang sama, karena hanya ada dua kelompok, antara lain:
-         Gadis-gadis yang bijaksana serta gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:1-2)
-         Hamba yang baik dan setia, serta hamba yang jahat dan malas (Mat 25:21 & 26)
-         Kelompok domba serta kelompok kambing (Mat 25:32)
-         Kelompok panas serta kelompok dingin (Why 3:15)

Sudah saatnya kita mati-matian dan “all out” dalam mengiring Tuhan. Bukan saatnya lagi kita berada di tengah-tengah atau suam-suam kuku (Why 3:16). Pilihan ada di tangan kita, apakah kita akan memilih kelompok pertama atau kelompok kedua? Apakah kita akan memilih kelompok orang benar atau kelompok orang cemar? Semakin hari dunia ini semakin larut dalam dosa, kejahatan dan kecemaran. Siapa yang tidak mau melakukan kebenaran dan berusaha untuk berakar kuat dalam Firman Tuhan, maka akan berpotensi terseret dan masuk ke dalam kelompok yang kedua, yaitu mereka yang terus menerus berbuat cemar sehingga akan dilemparkan Tuhan ke dalam neraka. Ingat, di akhir zaman ini, tidak ada jalan tengah, yang ada hanyalah jalan menuju surga, dan jalan menuju kebinasaan kekal di neraka.


Bacaan Alkitab: Wahyu 22:10-11
22:10 Lalu ia berkata kepadaku: "Jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya sudah dekat.
22:11 Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!"

Cantik-cantik Selingkuh



Senin, 1 September 2014
Bacaan Alkitab: Yohanes 4:16-18
“Sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” (Yoh 4:18)


Cantik-cantik Selingkuh


Siapa di antara para pembaca pria yang tidak bangga mempunyai pasangan hidup yang cantik? Tentu semua pria normal akan bangga jika pacar atau isterinya cantik. Bahkan orang tua pun akan bangga jika mempunyai anak perempuan yang cantik. Meskipun definisi cantik memang relatif, akan tetapi tontonan di televisi saat ini cenderung mendefinisikan kecantikan dengan “wajah putih, kulit bersih, bentuk tubuh proporsional, dan sebagainya”. Bahkan saat ini hampir semua stasiun televisi menayangkan acara-acara yang menunjukkan bahwa perempuan yang cantik itu adalah perempuan yang diidam-idamkan semua laki-laki.

Sayangnya, tidak banyak yang mengerti bahwa kecantikan fisik itu masih kalah penting dibandingkan kecantikan hati. Banyak laki-laki yang mencari pacar, atau bahkan isteri, namun hanya melihat dari sisi kecantikan luar saja, dari sisi keindahan tubuhnya saja. Padahal ketika nanti kita sudah menikah, kecantikan itu akan bergeser dari prioritas utama. Justru kasih dan karakter hati yang dimiliki isteri kita itulah yang akan menjadi jauh lebih bernilai dibandingkan kecantikan fisik.

Terkait dengan hal tersebut, bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang bagaimana Yesus bertemu dengan seorang perempuan Samaria di pinggir sebuah sumur. Setelah percakapan yang cukup panjang, Yesus mengakhirinya dengan perkataan “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (ay. 16). Perkataan Yesus bukan menunjukkan bahwa Yesus tidak tahu apa yang terjadi dengan perempuan tersebut, tetapi perkataan Yesus itu pada akhirnya “memaksa” perempuan Samaria itu untuk mengerti kondisi dirinya. Ia memang menjawab “Aku tidak mempunyai suami” (ay. 17a), dan saat itulah Yesus masuk dan mengemukakan kebenaran  kepada perempuan itu, yaitu bahwa Yesus mengerti bahwa ia sudah mempunyai lima orang suami, dan membenarkan perkataan perempuan itu bahwa yang tinggal dengannya sekarang ini bukanlah suaminya (ay. 17b-18).

Saya tidak dapat membayangkan ada seorang perempuan yang mempunyai lima orang suami, dan minimal satu orang selingkuhan dalam satu waktu. Apalagi di masa Yesus dimana adat Yahudi sangatlah kuat, rasa-rasanya hampir tidak mungkin seorang perempuan dapat  bertindak seperti itu. Jadi, perempuan ini tentulah orang yang sangat spesial. Ia mungkin saja adalah seseorang yang sangat kaya, atau seseorang yang sangat cantik, hingga banyak laki-laki yang mau menjadi suaminya, walaupun mungkin suami kedua, ketiga, keempat, kelima, bahkan menjadi selingkuhannya. Mungkin di masa sekarang ini, perempuan Samaria tersebut melebihi kecantikan artis-artis yang sering masuk di televisi kita.

Dari gambaran di atas, jelas bahwa kecantikan fisik tidak menjamin kecantikan hati. Bahkan mungkin orang-orang yang memiliki kelebihan dalam hal kecantikan fisik, justru akan lebih rawan tergoda untuk selingkuh. Memang tidak semua orang cantik itu adalah tipe orang yang doyan atau gemar berselingkuh. Ada juga orang yang tidak cantik atau buruk rupa, tetapi juga doyan berselingkuh. Tetapi mereka yang memiliki kecantikan fisik di atas rata-rata harus lebih berhati-hati agar tidak jatuh dalam godaan berselingkuh.

Saya yakin Tuhan pasti memberi anak-anakNya kelebihan untuk digunakan bagi kemuliaan Tuhan. Termasuk kecantikan yang diberikan kepada anak-anak Tuhan, seharusnya kecantikan itu digunakan sebaik-baiknya bagi kemuliaan Tuhan. Orang yang cantik, bisa menjadi seorang penerima tamu, atau seorang pelayan mimbar. Akan tetapi jika kecantikan tersebut disalahgunakan untuk kepentingan dirinya sendiri, apalagi digunakan untuk “mencari mangsa” bahkan untuk berselingkuh, kecantikan kita itu tidak akan ada artinya.


Bacaan Alkitab: Yohanes 4:16-18
4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."
4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."