Kamis, 18 Desember 2014

Kota yang Celaka



Senin, 22 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Zefanya 3:1-5
“Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan!” (Zef 3:1)


Kota yang Celaka


Saya percaya para pembaca renungan ini pastilah tinggal di sebuah kota. Atau minimal pasti tinggal di sebuah desa. Tidak mungkin para pembaca renungan ini tinggal di sebuah rumah yang terpencil dan sendirian di atas sebuah gunung, tanpa tetangga di kanan kirinya. Ijinkan saya bertanya satu hal kepada para pembaca sekalian, “menurut anda, kota mana yang merupakan kota yang paling celaka di Indonesia ini?”. Saya kira jawabannya pasti bermacam-macam. Ada yang menyebutkan nama kotanya sendiri, ada juga yang menyebutkan nama kota lain. Akan tetapi, saya menebak bahwa kebanyakan dari kita lebih melihat kota yang besar sebagai kota yang paling celaka. 

Memang harus kita akui bahwa semakin besar sebuah kota, maka masalah yang dihadapi pun semakin  besar. Saya sendiri yang besar di kota Jakarta, sebagai ibukota negara kita, merasa bahwa mungkin Jakarta adalah kota yang paling banyak dosanya di Indonesia. Mulai dari kejahatan kemanusiaan, korupsi, permufakatan jahat, segala konspirasi, pelacuran, dan lain sebagainya. Saya rasa jika Tuhan menerapkan standar yang sama dengan Yerusalem pada zaman dahulu, Jakarta akan menjadi kota pertama di Indonesia yang diluluhlantakkan.

Terkait dengan hal tersebut, bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan ucapan celaka. Ya benar, ucapan celaka kepada si pemberontak dan si cemar (ay. 1a). Dan ucapan celaka tersebut ditujukan bukan secara individual, tetapi secara kolektif, yaitu kepada kota yang penuh dengan penindasan (ay. 1b). Kita sekarang mengetahui bahwa kota yang dimaksud adalah kota Yerusalem, dimana kota tersebut adalah kota yang penuh dengan pemberontakan dan kecemaran. Apa ciri-ciri kota yang celaka seperti itu?

Pertama, kota yang celaka adalah kota yang tidak pernah mau mendengarkan teguran dan kecaman kepada dirinya (ay. 2a). Kota yang celaka tentu kota yang penuh dengan kecemaran. Di balik mayoritas orang yang hidup cemar, ada beberapa orang yang tetap berusaha hidup kudus, dan dari beberapa orang tersebut, sejumlah kecil di antaranya berani menyampaikan teguran dan kecaman dengan maksud baik, yaitu agar ada pertobatan di kotanya. Namun kota yang celaka tidak pernah mau mendengar teguran, dan selalu merasa bahwa dirinya adalah paling benar.

Kedua, kota yang celaka adalah kota yang tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menganggap penting persekutuan dengan Tuhan (ay. 2b). Bukan hanya para penduduk kota tersebut banyak yang tidak/belum percaya kepada Tuhan, bahkan orang-orang yang percaya kepada Tuhan pun banyak yang melalaikan persekutuan dengan Tuhan. Gambaran sederhananya adalah ketika hari Minggu, banyak orang yang tidak beribadah tetapi sibuk dengan kegiatan lainnya. Mereka terlalu sibuk sehingga lupa bahwa persekutuan dengan Tuhan adalah sesuatu hal yang sangat penting.

Ketiga, kota yang celaka adalah kota yang memiliki pemuka yang seperti singa (ay. 3a). Seharusnya pemuka kota adalah orang-orang yang peduli dengan rakyatnya. Mereka seharusnya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya, bukannya justru memeras dan bersukacita di atas penderitaan rakyatnya. Jika pemuka kotanya saja seperti ini, tak dapat dibayangkan bagaimana dengan penduduk yang lain, dan betapa cemar kota tersebut.

Keempat, kota yang celaka adalah kota yang tidak memiliki keadilan. Hal ini digambarkan dengan para hakim yang seperti serigala pada waktu malam, yang tidak meninggalkan apapun sampai pagi hari (ay. 3b). Para hakim seharusnya bertindak atas dasar kebenaran dan keadilan. Jika hukum saja dapat diputarbalikkan, dan para hakim yang seharusnya adil justru menjualbelikan keadilan demi keuntungan pribadinya, maka tidak akan ada pernah ada kesejahteraan di dalam kota tersebut.

Kelima, kota yang celaka adalah kota dimana para nabi justru adalah orang-orang yang ceroboh dan berkhianat (ay. 4a). Nabi adalah penyambung lidah Tuhan. Seorang nabi seharusnya menyampaikan suara kenabian yang tidak lain dan tidak bukan adalah suara Tuhan sendiri. Bayangkan apa yang akan terjadi jika seorang nabi adalah orang yang ceroboh. Ia tidak akan menyampaikan suara yang benar bukan? Bahkan yang lebih parah lagi adalah jika nabi tersebut adalah pengkhianat. Tentu bukan suara Tuhan yang disampaikan oleh “sang nabi”, tetapi justru suara iblis.

Keenam, kota yang celaka adalah kota dimana para imam tidak menjaga kekudusan, bahkan memanfaatkan hukum Taurat (Firman Tuhan) untuk kepentingannya sendiri (ay. 4b). Seorang imam menjadi alat Tuhan untuk menjaga kekudusan umat dan menjaga umat agar hidup seturut Firman Tuhan. Seorang imam harus mampu memimpin jemaat sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan standar Tuhan. Dan bayangkan jika “sang imam” justru tidak menjaga kekudusan, maka umat/jemaat akan hidup dalam kecemaran juga, karena mereka akan mencontoh sikap hidup imam tersebut. Bahkan seringkali imam memanfaatkan Firman Tuhan demi keuntungan mereka sendiri. Sebagai contoh, menekankan tentang pentingnya jemaat memberi persembahan yang besar, bahkan dengan setengah memaksa, namun uang persembahan jemaat digunakan untuk kepentingan pribadinya.

Apa yang akan terjadi pada kota yang celaka tersebut? Satu hal yang mereka lupa adalah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa, dan Tuhan pasti melihat segala sesuatu. Suatu saat nanti Tuhan pasti menunjukkan keadilanNya dengan menghukum kota tersebut (ay. 5a). Sayangnya kota yang celaka tersebut terlalu malu untuk mengakui bahwa mereka adalah orang-orang pemberontak dan cemar (ay. 5b). Sehingga mereka akan terlambat  bertobat dan terlambat pula menyadari bahwa waktu Tuhan untuk menghukum kota tersebut sudah datang.

Kita mungkin tidak dapat menghindari tinggal di kota yang penuh dosa dan kecemaran. Tetapi minimal kita masih dapat bertindak dengan benar. Kita tetap dapat hidup kudus di tengah-tengah lingkungan yang cemar. Tuhan memanggil kita untuk melakukan  yang kudus dan bukan melakukan hal yang cemar. Oleh karena itu, mintalah kekuatan dari Tuhan agar kita mampu menjaga iman kita di tengah lingkungan yang sulit ini. Dan percayalah, segala jerih payah kita di dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia.



Bacaan Alkitab: Zefanya 3:1-5
3:1 Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan!
3:2 Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada TUHAN ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap.
3:3 Para pemukanya di tengah-tengahnya adalah singa yang mengaum; para hakimnya adalah serigala pada waktu malam yang tidak meninggalkan apa pun sampai pagi hari.
3:4 Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat.
3:5 Tetapi TUHAN adil di tengah-tengahnya, tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya; itu tidak pernah ketinggalan pada waktu fajar. Tetapi orang lalim tidak kenal malu!

Percaya Lalu Murtad



Minggu, 21 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Ibrani 6:4-6
“Namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibr 6:6)


Percaya Lalu Murtad


Jika ditanya tentang definisi kata murtad, saya akan menjawab dengan sederhana. Murtad adalah keadaan dimana orang yang sudah bertobat, justru kembali ke kehidupan lama sebelum bertobat. Orang murtad beda dengan orang fasik. Orang fasik mungkin tidak pernah bertobat, sehingga hidup mereka penuh dengan kefasikan dan kejahatan. Orang fasik tidak pernah mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan, sehingga mereka terus menerus berjalan di dalam kegelapan. 

Akan tetapi orang yang murtad tidaklah demikian. Orang hanya dapat dikatakan murtad jika ia pernah percaya kepada Tuhan lalu kemudian menyangkal dan meninggalkan Tuhan. Intinya, orang murtad adalah orang yang dulu pernah mengerti dan pernah hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan, namun karena keputusannya sendiri, memilih untuk meninggalkan Tuhan.

Sejumlah orang berpendapat  bahwa karena Tuhan sangat sayang kepada manusia, maka setiap orang yang (pernah) percaya kepada Tuhan tidak akan binasa, tetapi akan diselamatkan. Mereka mengacu kepada ayat pada Injil Yohanes 3:16, dan juga pada pola pikir bahwa Tuhan sangat mengasihi manusia. Akan tetapi, bacaan Alkitab kita hari ini tidak bicara seperti itu. Firman Tuhan berkata dengan sangat keras, bahwa orang percaya yang kemudian murtad lagi (kembali ke hidupnya sebelum percaya Tuhan), tidak mungkin dibaharui sekali lagi hingga mereka bertobat kembali (ay. 6a).

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Firman Tuhan menulis tentang definisi orang percaya, yaitu orang yang diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, yang mengecap Firman dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, yaitu kerajaan Allah yang akan datang nanti di akhir zaman (ay. 4-5). Intinya orang percaya adalah orang yang pernah mengaku percaya kepada Allah dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi satu-satunya.

Orang yang sudah pernah percaya tersebut tentu saja sudah diselamatkan. Namun ketika mereka diperhadapkan pada suatu kondisi dan mereka mau memilih apakah mau tetap mengiring Yesus atau meninggalkan Yesus, mereka akhirnya memilih untuk meninggalkan iman mereka. Ada banyak sebab orang menjadi murtad, tapi pada umumnya mereka murtad karena tiga hal: harta, tahta, dan cinta (saya tidak menggunakan kata wanita karena bisa saja orang yang murtad adalah wanita karena memilih pria yang tidak seiman). Tiga hal tersebut dapat membuat orang menjadi murtad.

Namun jangan salah, saya dapat memastikan bahwa orang yang murtad tidak akan pernah lebih baik daripada sebelumnya. Mungkin orang yang murtad akan menjadi seperti selebritis, diwawancarai oleh berbagai media massa, masuk berita koran, majalah, bahkan televisi, atau mungkin sering diundang untuk mengisi acara-acara terkait agama baru yang dianutnya. Semua itu hanyalah hal-hal semu di dunia ini. Firman Tuhan berkata bahwa orang yang murtad, adalah orang yang menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum (ay. 6).

Yesus memang sudah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kita yang percaya kepadaNya, sudah mendapatkan pengampunan dosa dan keselamatan dari Tuhan. Namun jika kita yang sudah ditebus Yesus, lalu kini meninggalkan Yesus dan murtad, maka itu sama saja dengan menyia-nyiakan dan mempermainkan pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa itu sama saja dengam menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya dan bahkan menghina nama Yesus di muka umum. Jangan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Yesus yang telah menebus kita dengan darah yang sangat mahal. Jangan pernah mengganti keselamatan kita dengan hal-hal yang remeh. Ingat bahwa sekali kita murtad, maka kita tidak akan mendapatkan kesempatan kedua lagi. Jagalah iman kita hingga akhir hidup kita, sehingga kita didapati Tuhan sebagai orang-orang yang setia memelihara iman.


Bacaan Alkitab: Ibrani 6:4-6
6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Rabu, 17 Desember 2014

Bahasa Roh dalam Ibadah



Sabtu, 20 Desember 2014
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 14:26-28
“Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.” (1 Kor 14:27)


Bahasa Roh dalam Ibadah


Bahasa Roh merupakan suatu karunia yang umum bagi jemaat Tuhan sekarang ini, khususnya bagi jemaat di gereja-gereja yang beraliran pantekosta atau karismatik. Bahasa Roh sendiri adalah suatu karunia dimana orang yang mendapatkan karunia tersebut, berkata-kata dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain, atau berkata-kata dengan bahasa asing. Di sejumlah gereja aliran pantekosta dan karismatik, kita dapat melihat bagaimana dalam ibadah, hampir semua orang menyembah Tuhan dengan berbahasa Roh. Mulai dari pemimpin pujian (worship leader/song leader), para singer, para choir, gembala sidang, pendeta, para majelis, diaken, pengerja, bahkan jemaat itu sendiri.

Saya membayangkan orang yang pertama kali datang ke gereja tersebut (yang berasal dari latar belakang non Kristen) dan mendengar orang lain yang berada di depannya, di samping atau sebelahnya, dan di belakangnya sedang berbahasa Roh, apakah tidak menimbulkan kebingungan di depan jemaat baru tersebut? Bahasa Roh memang adalah suatu karunia yang sangat luar biasa, karena kita bisa mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang hanya kita dengan Tuhan yang mengerti. Akan tetapi, bahasa Roh pun memiliki kelemahan jika digunakan dengan kurang tepat.

Paulus sangat mengerti tentang hal ini. Paulus adalah orang yang cukup sering berbahasa Roh, bahkan lebih dari orang lain (1 Kor 14:18). Akan tetapi Paulus ingin menekankan bahwa bahasa Roh sebaiknya digunakan di tempat yang tepat, yaitu dalam persekutuan pribadi kita dengan Tuhan, atau di dalam persekutuan-persekutuan kecil. Dalam ibadah raya (pertemuan jemaat), Paulus memberi nasehat kepada jemaat Korintus agar mereka lebih memprioritaskan hal-hal yang penting dan membangun jemaat. Bahasa Roh pun termasuk dalam hal-hal penting tersebut, di samping hal-hal lainnya seperti mazmur, pengajaran, penyataan Allah, dan karunia-karunia lainnya (ay. 26).

Namun terkait dengan bahasa Roh, Paulus memberikan nasehat yang sangat jelas yaitu agar orang-orang mengucapkan bahasa Roh secara teratur. Satu persatu jemaat berkata-kata dengan bahasa Roh dengan bergantian, dan harus ada orang lain untuk menafsirkan bahasa Roh tersebut (ay. 27). Bahkan Paulus menegaskan bahwa jika tidak ada orang yang memiliki karunia untuk menafsirkan bahasa Roh, maka lebih baik orang-orang yang berbahasa Roh berdiam diri dan berkata-kata secara pribadi kepada Allah (ay. 28).

Lalu  bagaimana dampaknya dengan ibadah gereja saat ini, dimana bagi sejumlah gereja aliran pantekosta dan karismatik, bahasa Roh sudah menjadi hal yang umum? Meskipun tulisan Paulus adalah saran bagi jemaat Korintus sekitar 2.000 tahun yang lalu, tetapi tidak ada salahnya kita pun mengikuti nasehat Paulus, karena nasehat Paulus itu pun bertujuan untuk keteraturan dalam ibadah jemaat. Paulus tidak ingin ibadah menjadi kacau, dan sepertinya hal itu yang mulai terlupakan oleh gereja-gereja di masa kini. Tidak ada aturan yang jelas sehingga semua orang bisa saja berbahasa Roh pada setiap waktu ibadah, baik dalam penyembahan, ketika sedang memuji Tuhan, ketika berdoa, dan lain sebagainya.

Saya percaya bahwa Alkitab yang kita miliki adalah suatu kesatuan yang utuh, termasuk bacaan Alkitab kita hari ini. Mungkin bagi kita yang adalah jemaat, kita tidak mempunyai wewenang untuk mengubah kebiasaan di gereja kita. Akan tetapi minimal kita bisa menjaga ketertiban di gereja kita. Tidak salah kita berbahasa Roh, bahkan adalah suatu kebanggan kita dapat memiliki karunia berbahasa Roh. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita berbahasa Roh di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat. Tidak berbahasa Roh ketika ibadah raya yang “mungkin” dihadiri oleh orang yang baru pertama kali datang, tetapi silahkan berbahasa Roh dalam ibadah pribadi kita, atau ibadah-ibadah kelompok kecil dimana kita sudah saling mengenal. Alangkah indahnya jika dalam jemaat ada keteraturan, karena saya percaya, Tuhan kita adalah Tuhan yang sempurna, yang ingin segala sesuatunya berjalan dengan rapi dan teratur juga.


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 14:26-28
14:26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.
14:27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.
14:28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.

Belum Tentu Karena Dosa



Jumat, 19 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Lukas 13:1-5
“Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?”” (Luk 13:2)


Belum Tentu Karena Dosa


Beberapa waktu sebelum saya menulis renungan ini, terjadi musibah tanah longsor di daerah Banjarnegara yang menelan banyak korban jiwa. Bahkan mungkin cukup banyak korban yang masih hilang tertimbun tanah longsor dan belum ditemukan. Jika kita kembali flashback ke tahun 2004, kita tentu akan ingat bencana tsunami yang sangat dashyat yang meluluhlantakkan daerah Aceh. Saya sendiri pernah berkunjung ke Aceh di tahun 2010, dan walau berselang 6 tahun, bekas dari tsunami itu pun masih dapat saya rasakan.

Musibah seperti itu tentu saja sangat mungkin terjadi di masa yang akan datang, bahkan mungkin saja kita pun pernah atau akan mengalami musibah seperti itu. Permasalahannya, manusia sering mengait-kaitkan musibah atau bencana yang dialami dengan dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadi korban. Tidak usah jauh-jauh, beberapa hamba Tuhan pun pernah berkata bahwa musibah itu adalah tanda hukuman dari Tuhan kepada orang-orang yang jahat. Tetapi, benarkah demikian?

Bacaan Alkitab kita hari ini berkata tentang beberapa orang yang membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang mati dibunuh atas perintah Pilatus. Bahkan Pilatus mencampurkan darah mereka dengan darah korban yang mereka persembahkan (ay. 1). Hal ini merupakan suatu hukuman yang sangat sadis, bahkan suatu penghinaan bagi orang-orang yang terbunuh itu. Tentu saja orang-orang sangat mudah menghubungkan atau mengaitkan kematian mereka dengan dosa-dosa yang mereka lakukan, sehingga mereka mati dengan cara yang sangat mengenaskan.

Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka dan menghardik mereka. Yesus mengkritik pemikiran mereka yang sangat dangkal (ay. 2). Perhatikan ucapan Yesus yang sangat keras (disertai tanda seru) di ayat selanjutnya: “Tidak!” (ay. 3a). Hal tersebut menunjukkan bahwa musibah atau bencana yang dialami  belum tentu disebabkan karena dosa-dosa mereka. Namun demikian Yesus menambahkan bahwa jika orang-orang yang mendengarkan Yesus tidak mau bertobat, mereka pun akan binasa dengan cara yang demikian (ay. 3b). 

Bahkan Yesus menambahkan dengan gambaran tentang orang-orang yang mati tertimpa menara dekat Siloam (ay. 4a). Kematian orang-orang ini tentu tak kalah tragis dengan orang-orang  Galilea seperti yang  telah diceritakan sebelumnya. Namun demikian, Yesus sekali lagi menegaskan bahwa mereka pun tidak lebih besar kesalahannya dari orang lain di Yerusalem (ay. 4b). Perhatikan kata “Tidak!” yang digunakan Yesus (ay. 5a), dan penjelasan yang sama selanjutnya, yaitu jika orang-orang tidak bertobat, maka mereka semua akanbinasa dengan cara demikian (ay. 5b).

Tentu saja Tuhan Yesus tidak hendak menyampaikan bahwa orang boleh berbuat dosa seenaknya, karena kematian pun tetap akan terjadi. Tuhan Yesus justru ingin menekankan agar semua orang bertobat agar tidak binasa (ay. 3b dan 5b). Dan hal lain yang lebih penting, adalah bukan bagian kita untuk mencoba menghakimi dan mengait-kaitkan kematian orang lain dengan dosanya. Dosa adalah urusan orang tersebut dengan Tuhan. Dan kita tidak perlu menambah dosa kita sendiri dengan mencoba memposisikan diri sebagai Tuhan. 

Bahkan beberapa waktu yang lalu, ada sebuah bus yang mengangkut jemaat suatu gereja yang baru saja pulang dari persekutuan di luar kota yang jatuh ke dalam jurang dan menewaskan sejumlah jemaat gereja. Apakah kita boleh menghakimi bahwa mereka juga penuh dosa sehingga mereka mati dengan cara yang menurut pandangan orang adalah cara yang mengenaskan? Tentu bukan bagian kita untuk menghakimi mereka. Bagian kita adalah tetap memberikan penghiburan, bahkan bantuan dan pertolongan yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang terkena musibah. Hal itu jauh lebih baik dan dapat menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Kristus, ketika hidup kita penuh dengan kasih Kristus yang kita tunjukkan kepada sesama kita.


Bacaan Alkitab: Lukas 13:1-5
13:1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
13:2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
13:3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
13:4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
13:5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."