Senin, 22 Desember 2014

Makna Kekudusan Menyambut Malam yang Kudus



Rabu, 24 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Matius 1:18-25
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. (Mat 1:24-25)


Makna Kekudusan Menyambut Malam yang Kudus


Tidak terasa sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal. Tentu beberapa minggu terakhir ini kita sudah cukup familiar dengan lagu-lagu bertema natal yang terdengar di televisi, radio, di gereja, bahkan di pusat-pusat perbelanjaan. Apa lagu natal kesukaan kita? Dengan jawaban yang beragam, saya berani mengatakan bahwa salah satu lagu natal favorit umat Kristiani adalah lagu “Malam Kudus”. Kita tentu sering menyanyikan lirik lagu Malam Kudus ini bukan? Akan tetapi pernahkah kita berpikir mengapa malam tersebut disebut malam (yang) kudus? Dimana letak kekudusannya?

Pertama-tama kita perlu mengerti arti kata kudus. Jika kita melihat di kamus Alkitab di bagian belakang Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, salah satu penjelasan terhadap kata kudus adalah “dipilih dan dijadikan sebagai miliknya”. Lalu apa hubungannya antara kudus/kekudusan dengan hari Natal?

Dalam bacaan Kitab Suci kita hari ini, yang saya yakin bahwa kita sudah sangat sering membaca atau mendengarnya, terlebih di masa-masa Natal ini, kita melihat bahwa paling tidak ada tiga hal terkait kekudusan yang dapat kita pelajari.

Pertama, kita melihat bagaimana Maria menjaga kekudusan dengan menjaga keperawanannya dalam masa tunangannya dengan Yusuf (ay. 18). Hal ini dapat kita lihat lebih jauh lagi dalam Lukas 1:26-38, dimana dikatakan bahwa Maria adalah seorang perawan (Luk 1:27). Tentu saja Allah tidak akan sembarangan memilih orang yang akan mengandung dan melahirkan bayi Yesus di dunia ini. Saya yakin bahwa Maria adalah pilihan terbaik karena memang Maria adalah seorang gadis yang sangat menjaga kekudusan, dan juga memiliki ketaatan dan keberanian untuk menjadi “ibu jasmani” Yesus di dunia ini. Itulah salah satu sebab mengapa  Gereja Katolik Roma pun sangat menghargai peran dan jasa Maria sehingga menempatkkannya sebagai salah satu figur sentral dalam agama Katolik.

Kedua, kita melihat bagaimana Yusuf menjaga kekudusan dengan berencana untuk menceraikan Maria secara diam-diam (ay. 19). Pada masa itu, di masyarakat Yahudi ada tiga tingkatan sebelum menikah, yaitu: 1) pacaran; 2) bertunangan; dan 3) pernikahan. Posisi Maria dan Yusuf saat itu adalah pada tahap bertunangan, dan jika dalam masa pertunangan itu diketahui bahwa si wanita sudah hamil, maka pihak pria dapat mengadukannya kepada tua-tua dan jika memang si wanita hamil bukan karena pria yang telah menjadi tunangannya, si wanita itu akan dijatuhi hukuman yaitu dilempari denga batu. 

Tentu Yusuf memiliki pilihan untuk membawa perkara hamilnya Maria kepada tua-tua Yahudi. Akan tetapi kita melihat bagaimana Yusuf bertindak dengan bijaksana yaitu bermaksud untuk “menceraikan” Maria dengan diam-diam (ay. 19). Arti menceraikan di sini berbeda dengan cerai yang kita kenal saat ini. Istilah yang lebih tepat adalah membatalkan pertunangan, tetapi Yusuf bermaksud melakukannya dengan diam-diam untuk menjaga nama baik Maria. Tentu Maria sudah bercerita kepada Yusuf bahwa ia hamil karena Roh Kudus, tetapi ingatlah bahwa pada masa itu tidak ada yang tahu apa itu Roh Kudus, dan Yusuf sebagai seorang manusia pun tentu mengalami kebimbangan tentang apakah yang dikatakan Maria adalah benar atau hanya kebohongan semata. 

Tetapi Alkitab mengatakan bahwa ketika Yusuf sedang merencanakan untuk membatalkan pertunangannya dengan Maria secara diam-diam, seorang malaikat Tuhan datang kepada Yusuf dalam mimpi dan menjelaskan bahwa Maria memang mengandung dari Roh Kudus (ay. 20-23). Setelah mendapat penglihatan melalui mimpi tersebut, Yusuf pun segera mengambil Maria untuk menjadi isterinya (ay. 24). Hal ini berarti Yusuf segera “melegalkan” pertunangan mereka menjadi pernikahan yang sah secara adat dan agama Yahudi pada waktu itu.

Ini adalah sebuah keputusan yang besar yang diambil oleh Yusuf. Yusuf memilih untuk menikahi Maria dengan segala pertanyaan yang mungkin masih tersisa di benaknya. Yusuf memilih untuk taat kepada perintah Tuhan. Yusuf memilih untuk melindungi Maria dan bayi Yesus yang ada dalam kandungan Maria. Tanpa peran Yusuf, mungkin tidak akan ada bayi Yesus yang lahir ke dunia. Yusuf mampu memilih apa yang benar dan melakukan bagiannya untuk mendatangkan kerajaan Allah di dunia ini.

Ketiga, Yusuf dan Maria secara bersama-sama menjaga kekudusan mereka setelah mereka resmi hidup sebagai suami dan isteri (ay. 25). Ketika Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya yang sah dalam ikatan pernikahan Yahudi pada saat itu, tentu saja Yusuf dan Maria memiliki hak penuh untuk melakukan apa  yang boleh mereka lakukan sebagai suami dan isteri, yaitu bersetubuh. Akan tetapi Yusuf dan Maria memilih untuk tetap menjaga kekudusan dengan tidak bersetubuh sampai Maria melahirkan Yesus di kota Betlehem. Alkitab memang tidak mengatakan berapa lama mereka menunda untuk melakukan hubungan suami isteri, tetapi saya yakin bahwa hal tersebut adalah hal yang sulit untuk mereka lakukan, karena mereka sudah tinggal serumah, bahkan sekamar, tetapi tetap menjaga dan menahan diri untuk menjaga kekudusan demi bayi Yesus. 

Inilah makna kekudusan yang sangat luar biasa di hari Natal ini. Tidak hanya malam kelahiran Yesus yang merupakan malam yang kudus, tetapi jauh sebelum itu, berbulan-bulan sebelumnya, sudah ada kekudusan yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria sebagai “ayah dan ibu jasmani” Yesus. 

Sebentar lagi Natal akan datang. Jika 2.000 tahun yang lalu saja ada kekudusan yang luar biasa di balik makna Natal, bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita menyambut Natal dengan segala pesta pora, kemabukan, dan justru dengan segala ketidakkudusan hidup kita? Apakah kita mau berkorban menjaga kekudusan kita menyambut hari Natal ini? Bahkan seharusnya kita tetap  hidup kudus dan menjaga kekudusan dalam setiap hari kehidupan kita. Jika umat Islam saja benar-benar bertobat dan menjaga kekudusan menyongsong hari raya mereka, bukankah kita sebagai umat Kristiani juga perlu memiliki sikap seperti itu? Mari kita menjaga dan memelihara kekudusan menyambut malam yang kudus di hari Natal ini, bahkan seterusnya kita akan berusaha untuk hidup lebih kudus lagi untuk menyenangkan hati Allah.


Bacaan Alkitab: Matius 1:18-25
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Seperti Seorang Ibu



Selasa, 23 Desember 2014
Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 2:5-7
“Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” (1 Tes 2:7)


Seperti Seorang Ibu

Setiap tanggal 22 Desember, kita memperingati hari ibu. Tentu sudah banyak sekali renungan tentang ibu, bagaimana seorang ibu berkorban bagi anak-anaknya, dan lain sebagainya. Hari ini saya pun mencoba menulis sebuah renungan tentang ibu, tetapi tentu saja saya mencoba melihat dari sisi yang jarang dilihat oleh orang lain. 

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Paulus menulis kepada jemaat Tesalonika tentang sikap yang ditunjukkan Paulus kepada mereka. Paulus menekankan bahwa dalam pelayanannya maupun dalam khotbah-khotbahnya, Paulus tidak pernah bermulut manis (ay. 5a). Fakta tersebut pun sudah diketahui benar oleh jemaat Tesalonika. Paulus dalam khotbah-khotbahnya tidak pernah bermulut manis demi kepentingan sendiri, atau memiliki maksud loba yang tersembunyi (ay. 5b). Bahkan Paulus mengatakan bahwa Allah adalah saksi atas pernyataannya tersebut.

Sungguh hebat apa yang dilakukan Paulus, Ia tidak pernah mencari pujian dari manusia, baik dari jemaat, dari hamba Tuhan lain, bahkan dari orang lain (ay. 6a). Baginya, jauh lebih baik bagi Paulus untuk mencari pujian dari Tuhan. Paulus berkata bahwa sudah seharusnya ia bersikap demikian sebagai seorang rasul Kristus (ay. 6b). Seorang hamba Tuhan apalagi seorang rasul tentu harus memiliki standar yang demikian. Tidak sekedar berkata-kata manis, tidak sekedar mengkhotbahkan hal-hal yang enak-enak saja, tidak sekedar mengkhotbahkan hal-hal yang memberi kenyamanan, tetapi jika perlu mengkhotbahkan teguran yang keras, asalkan sesuai dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi (Ams 27:5).

Namun di balik itu semua, Paulus memposisikan dirinya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, yaitu antara lain jemaat di kota Tesalonika. Paulus tetap berlaku ramah, dan mengasuh serta merawat jemaat Tesalonika (ay. 7). Ia mungkin bukan seperti seorang ibu yang selalu mengabulkan apa yang diminta anaknya, tetapi ia bertindak seperti seorang ibu yang sabar mendidik anak-anaknya di dalam kebenaran. Inilah terkadang perbedaan seorang ibu dan nenek, dimana seorang nenek pada umumnya lebih memanjakan cucunya dibanding seorang ibu kepada anaknya. Jika hal ini kurang diantisipasi, seorang anak bisa menjadi manja karena terbiasa dimanja oleh neneknya. 

Menyambut hari ibu di tahun ini, kita kembali diingatkan bahwa terkadang kita memiliki seorang gembala sidang, pendeta, atau pemimpin rohani yang mengajar dengan tegas dan tidak bermulut manis. Mungkin seringkali kita kesal dengan perkataan mereka yang seakan-akan membuat kita tidak nyaman. Tetapi saya percaya bahwa mungkin itulah yang kita butuhkan, yaitu seorang pemimpin rohani yang berani mengatakan kebenaran dengan maksud yang baik. Sama seperti seorang ibu yang tetap mendidik dan merawat anak-anaknya dalam kasih. Mungkin saat ini kita tidak mengerti mengapa kita seakan-akan dididik dengan keras, tetapi seiring berjalannya waktu, ketika kita sudah semakin dewasa, kita akan mengerti bahwa semua itu adalah bagi kebaikan kita, yaitu agar kita menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang tangguh.


Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 2:5-7
2:5 Karena kami tidak pernah bermulut manis -- hal itu kamu ketahui -- dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi -- Allah adalah saksi --
2:6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.
2:7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.


Kamis, 18 Desember 2014

Kota yang Celaka



Senin, 22 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Zefanya 3:1-5
“Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan!” (Zef 3:1)


Kota yang Celaka


Saya percaya para pembaca renungan ini pastilah tinggal di sebuah kota. Atau minimal pasti tinggal di sebuah desa. Tidak mungkin para pembaca renungan ini tinggal di sebuah rumah yang terpencil dan sendirian di atas sebuah gunung, tanpa tetangga di kanan kirinya. Ijinkan saya bertanya satu hal kepada para pembaca sekalian, “menurut anda, kota mana yang merupakan kota yang paling celaka di Indonesia ini?”. Saya kira jawabannya pasti bermacam-macam. Ada yang menyebutkan nama kotanya sendiri, ada juga yang menyebutkan nama kota lain. Akan tetapi, saya menebak bahwa kebanyakan dari kita lebih melihat kota yang besar sebagai kota yang paling celaka. 

Memang harus kita akui bahwa semakin besar sebuah kota, maka masalah yang dihadapi pun semakin  besar. Saya sendiri yang besar di kota Jakarta, sebagai ibukota negara kita, merasa bahwa mungkin Jakarta adalah kota yang paling banyak dosanya di Indonesia. Mulai dari kejahatan kemanusiaan, korupsi, permufakatan jahat, segala konspirasi, pelacuran, dan lain sebagainya. Saya rasa jika Tuhan menerapkan standar yang sama dengan Yerusalem pada zaman dahulu, Jakarta akan menjadi kota pertama di Indonesia yang diluluhlantakkan.

Terkait dengan hal tersebut, bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan ucapan celaka. Ya benar, ucapan celaka kepada si pemberontak dan si cemar (ay. 1a). Dan ucapan celaka tersebut ditujukan bukan secara individual, tetapi secara kolektif, yaitu kepada kota yang penuh dengan penindasan (ay. 1b). Kita sekarang mengetahui bahwa kota yang dimaksud adalah kota Yerusalem, dimana kota tersebut adalah kota yang penuh dengan pemberontakan dan kecemaran. Apa ciri-ciri kota yang celaka seperti itu?

Pertama, kota yang celaka adalah kota yang tidak pernah mau mendengarkan teguran dan kecaman kepada dirinya (ay. 2a). Kota yang celaka tentu kota yang penuh dengan kecemaran. Di balik mayoritas orang yang hidup cemar, ada beberapa orang yang tetap berusaha hidup kudus, dan dari beberapa orang tersebut, sejumlah kecil di antaranya berani menyampaikan teguran dan kecaman dengan maksud baik, yaitu agar ada pertobatan di kotanya. Namun kota yang celaka tidak pernah mau mendengar teguran, dan selalu merasa bahwa dirinya adalah paling benar.

Kedua, kota yang celaka adalah kota yang tidak percaya kepada Tuhan dan tidak menganggap penting persekutuan dengan Tuhan (ay. 2b). Bukan hanya para penduduk kota tersebut banyak yang tidak/belum percaya kepada Tuhan, bahkan orang-orang yang percaya kepada Tuhan pun banyak yang melalaikan persekutuan dengan Tuhan. Gambaran sederhananya adalah ketika hari Minggu, banyak orang yang tidak beribadah tetapi sibuk dengan kegiatan lainnya. Mereka terlalu sibuk sehingga lupa bahwa persekutuan dengan Tuhan adalah sesuatu hal yang sangat penting.

Ketiga, kota yang celaka adalah kota yang memiliki pemuka yang seperti singa (ay. 3a). Seharusnya pemuka kota adalah orang-orang yang peduli dengan rakyatnya. Mereka seharusnya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya, bukannya justru memeras dan bersukacita di atas penderitaan rakyatnya. Jika pemuka kotanya saja seperti ini, tak dapat dibayangkan bagaimana dengan penduduk yang lain, dan betapa cemar kota tersebut.

Keempat, kota yang celaka adalah kota yang tidak memiliki keadilan. Hal ini digambarkan dengan para hakim yang seperti serigala pada waktu malam, yang tidak meninggalkan apapun sampai pagi hari (ay. 3b). Para hakim seharusnya bertindak atas dasar kebenaran dan keadilan. Jika hukum saja dapat diputarbalikkan, dan para hakim yang seharusnya adil justru menjualbelikan keadilan demi keuntungan pribadinya, maka tidak akan ada pernah ada kesejahteraan di dalam kota tersebut.

Kelima, kota yang celaka adalah kota dimana para nabi justru adalah orang-orang yang ceroboh dan berkhianat (ay. 4a). Nabi adalah penyambung lidah Tuhan. Seorang nabi seharusnya menyampaikan suara kenabian yang tidak lain dan tidak bukan adalah suara Tuhan sendiri. Bayangkan apa yang akan terjadi jika seorang nabi adalah orang yang ceroboh. Ia tidak akan menyampaikan suara yang benar bukan? Bahkan yang lebih parah lagi adalah jika nabi tersebut adalah pengkhianat. Tentu bukan suara Tuhan yang disampaikan oleh “sang nabi”, tetapi justru suara iblis.

Keenam, kota yang celaka adalah kota dimana para imam tidak menjaga kekudusan, bahkan memanfaatkan hukum Taurat (Firman Tuhan) untuk kepentingannya sendiri (ay. 4b). Seorang imam menjadi alat Tuhan untuk menjaga kekudusan umat dan menjaga umat agar hidup seturut Firman Tuhan. Seorang imam harus mampu memimpin jemaat sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan standar Tuhan. Dan bayangkan jika “sang imam” justru tidak menjaga kekudusan, maka umat/jemaat akan hidup dalam kecemaran juga, karena mereka akan mencontoh sikap hidup imam tersebut. Bahkan seringkali imam memanfaatkan Firman Tuhan demi keuntungan mereka sendiri. Sebagai contoh, menekankan tentang pentingnya jemaat memberi persembahan yang besar, bahkan dengan setengah memaksa, namun uang persembahan jemaat digunakan untuk kepentingan pribadinya.

Apa yang akan terjadi pada kota yang celaka tersebut? Satu hal yang mereka lupa adalah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa, dan Tuhan pasti melihat segala sesuatu. Suatu saat nanti Tuhan pasti menunjukkan keadilanNya dengan menghukum kota tersebut (ay. 5a). Sayangnya kota yang celaka tersebut terlalu malu untuk mengakui bahwa mereka adalah orang-orang pemberontak dan cemar (ay. 5b). Sehingga mereka akan terlambat  bertobat dan terlambat pula menyadari bahwa waktu Tuhan untuk menghukum kota tersebut sudah datang.

Kita mungkin tidak dapat menghindari tinggal di kota yang penuh dosa dan kecemaran. Tetapi minimal kita masih dapat bertindak dengan benar. Kita tetap dapat hidup kudus di tengah-tengah lingkungan yang cemar. Tuhan memanggil kita untuk melakukan  yang kudus dan bukan melakukan hal yang cemar. Oleh karena itu, mintalah kekuatan dari Tuhan agar kita mampu menjaga iman kita di tengah lingkungan yang sulit ini. Dan percayalah, segala jerih payah kita di dalam Tuhan tidak akan pernah sia-sia.



Bacaan Alkitab: Zefanya 3:1-5
3:1 Celakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan!
3:2 Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada TUHAN ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap.
3:3 Para pemukanya di tengah-tengahnya adalah singa yang mengaum; para hakimnya adalah serigala pada waktu malam yang tidak meninggalkan apa pun sampai pagi hari.
3:4 Para nabinya adalah orang-orang ceroboh dan pengkhianat; para imamnya menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat.
3:5 Tetapi TUHAN adil di tengah-tengahnya, tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi Ia memberi hukum-Nya; itu tidak pernah ketinggalan pada waktu fajar. Tetapi orang lalim tidak kenal malu!

Percaya Lalu Murtad



Minggu, 21 Desember 2014
Bacaan Alkitab: Ibrani 6:4-6
“Namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibr 6:6)


Percaya Lalu Murtad


Jika ditanya tentang definisi kata murtad, saya akan menjawab dengan sederhana. Murtad adalah keadaan dimana orang yang sudah bertobat, justru kembali ke kehidupan lama sebelum bertobat. Orang murtad beda dengan orang fasik. Orang fasik mungkin tidak pernah bertobat, sehingga hidup mereka penuh dengan kefasikan dan kejahatan. Orang fasik tidak pernah mengerti tentang kebenaran Firman Tuhan, sehingga mereka terus menerus berjalan di dalam kegelapan. 

Akan tetapi orang yang murtad tidaklah demikian. Orang hanya dapat dikatakan murtad jika ia pernah percaya kepada Tuhan lalu kemudian menyangkal dan meninggalkan Tuhan. Intinya, orang murtad adalah orang yang dulu pernah mengerti dan pernah hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan, namun karena keputusannya sendiri, memilih untuk meninggalkan Tuhan.

Sejumlah orang berpendapat  bahwa karena Tuhan sangat sayang kepada manusia, maka setiap orang yang (pernah) percaya kepada Tuhan tidak akan binasa, tetapi akan diselamatkan. Mereka mengacu kepada ayat pada Injil Yohanes 3:16, dan juga pada pola pikir bahwa Tuhan sangat mengasihi manusia. Akan tetapi, bacaan Alkitab kita hari ini tidak bicara seperti itu. Firman Tuhan berkata dengan sangat keras, bahwa orang percaya yang kemudian murtad lagi (kembali ke hidupnya sebelum percaya Tuhan), tidak mungkin dibaharui sekali lagi hingga mereka bertobat kembali (ay. 6a).

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Firman Tuhan menulis tentang definisi orang percaya, yaitu orang yang diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, yang mengecap Firman dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, yaitu kerajaan Allah yang akan datang nanti di akhir zaman (ay. 4-5). Intinya orang percaya adalah orang yang pernah mengaku percaya kepada Allah dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi satu-satunya.

Orang yang sudah pernah percaya tersebut tentu saja sudah diselamatkan. Namun ketika mereka diperhadapkan pada suatu kondisi dan mereka mau memilih apakah mau tetap mengiring Yesus atau meninggalkan Yesus, mereka akhirnya memilih untuk meninggalkan iman mereka. Ada banyak sebab orang menjadi murtad, tapi pada umumnya mereka murtad karena tiga hal: harta, tahta, dan cinta (saya tidak menggunakan kata wanita karena bisa saja orang yang murtad adalah wanita karena memilih pria yang tidak seiman). Tiga hal tersebut dapat membuat orang menjadi murtad.

Namun jangan salah, saya dapat memastikan bahwa orang yang murtad tidak akan pernah lebih baik daripada sebelumnya. Mungkin orang yang murtad akan menjadi seperti selebritis, diwawancarai oleh berbagai media massa, masuk berita koran, majalah, bahkan televisi, atau mungkin sering diundang untuk mengisi acara-acara terkait agama baru yang dianutnya. Semua itu hanyalah hal-hal semu di dunia ini. Firman Tuhan berkata bahwa orang yang murtad, adalah orang yang menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum (ay. 6).

Yesus memang sudah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kita yang percaya kepadaNya, sudah mendapatkan pengampunan dosa dan keselamatan dari Tuhan. Namun jika kita yang sudah ditebus Yesus, lalu kini meninggalkan Yesus dan murtad, maka itu sama saja dengan menyia-nyiakan dan mempermainkan pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa itu sama saja dengam menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya dan bahkan menghina nama Yesus di muka umum. Jangan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Yesus yang telah menebus kita dengan darah yang sangat mahal. Jangan pernah mengganti keselamatan kita dengan hal-hal yang remeh. Ingat bahwa sekali kita murtad, maka kita tidak akan mendapatkan kesempatan kedua lagi. Jagalah iman kita hingga akhir hidup kita, sehingga kita didapati Tuhan sebagai orang-orang yang setia memelihara iman.


Bacaan Alkitab: Ibrani 6:4-6
6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.