Jumat, 20 Februari 2015

Ketika Imam Lewi Digantikan oleh Nabi Non-Lewi



Minggu, 22 Februari 2015
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:19-21
Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN. (1 Sam 3:20)


Ketika Imam Lewi Digantikan oleh Nabi Non-Lewi


Orang Israel yang merupakan keturunan Yakub dibagi menjadi 13 suku sesuai dengan anak-anak Yakub, yaitu: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Efraim, Manasye, dan Benyamin. Memang tanah perjanjian itu (tanah Kanaan) dibagi-bagi hanya kepada 12 suku dari Israel, karena suku Lewi adalah suku yang dikuduskan oleh Tuhan untuk melayani Tuhan sebagai imam Tuhan di antara suku-suku Israel lainnya.

Oleh karena itu, suku Lewi sangatlah spesial, karena mereka hidup di tengah-tengah kedua belas suku lainnya dengan memegang jabatan sebagai imam. Hanya orang dari suku Lewi yang boleh menjabat sebagai Imam. Sejak masa Harun yang diangkat sebagai Imam Besar dan anak-anaknya serta keturunannya yang menjadi imam bagi bangsa Israel, bahkan hingga zaman Tuhan Yesus dimana Imam besar dan para imam lainnya harus berasal dari suku Lewi.

Pada masa Samuel hidup, yang menjadi Imam Besar adalah Eli, yang dibantu oleh kedua anaknya yang bernama Hofni dan Pinehas (1 Sam 1:3). Seorang Imam Besar tentu saja memiliki posisi yang sangat terhormat. Tidak hanya dari posisi, tetapi juga secara ekonomi dan penghasilan, keluarga imam tentu sudah sangat berkecukupan. Mereka juga mendapatkan hak dari setiap korban yang dipersembahkan oleh segenap bangsa Israel. Mereka tidak perlu menabur dan menanam, membajak dan menuai, atau beternak dan bedagang untuk hidup. Mereka hanya cukup melayani bangsa Israel sebagai imam dan semua kebutuhan hidupnya pasti berkecukupan bahkan berkelimpahan.

Seharusnya dengan kondisi seperti itu, para imam di masa itu menjadi imam yang hidup benar di hadapan Tuhan. Sayangnya, Alkitab menulis bahkan para imam pun melakukan tindakan yang sangat keji dan memalukan Tuhan. Anak-anak Eli (dan mungkin saja imam-imam lainnya juga melakukannya) mengambil garpun untuk memakan daging yang sedang dipersembahkan/dikorbankan kepada Allah (1 Sam 2:12-14), meminta kepada jemaat Tuhan yang datang dengan kekerasan (1 Sam 2:16), bahkan tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan kemah Tuhan (1 Sam 2:22). Kejahatan yang terakhir ini sungguh sangat keji. Saya mengandaikan jika hal ini masih terjadi di masa sekarang ini, maka hal itu dapat digambarkan sebagai “anak-anak Pendeta/Gembala sidang yang melakukan hubungan seks dengan sesama pelayan Tuhan, yaitu perempuan-perempuan yang melayani sebagai Worship Leader/Singer/Choir/Pemusik/Pendoa, dan mereka melakukan hubungan seks itu di depan (atau di dalam) gereja”. Semoga di masa sekarang ini hal tersebut tidak pernah terjadi karena sungguh-sungguh memalukan nama Tuhan.

Namun Tuhan tidak tinggal diam. Dia membangkitkan seorang nabi yang menyuarakan kebenaran Firman Tuhan, yaitu Samuel. Tuhan menyertai Samuel sedemikian rupa sehingga Alkitab menulis bahwa tidak ada satu pun dari FirmanNya yang dibiarkan Tuhan gugur (ay. 19). Arti dari kalimat ini sungguh sangat dalam karena setiap Firman yang disampaikan oleh Samuel benar2 tertanam di hati setiap orang yang mendengarnya. Bahkan hal tersebut juga dapat diartikan bahwa setiap nubuatan yang disampaikan Samuel, semuanya digenapi oleh Tuhan.

Samuel memang bukan berasal dari keturunan imam yaitu keturunan suku Lewi. Ia adalah seorang dari suku Efraim karena ayahnya, Elkana, adalah orang Efraim (1 Sam 1:1). Oleh karena itu dia tidak dapat menjadi seorang imam. Akan tetapi Samuel tidak mempermasalahkan latar belakangnya. Ia tetap berusaha menjadi seorang pelayan Tuhan sesuai dengan posisinya. Samuel tidak ngotot untuk menjadi imam, tetapi ia belajar dan menekuni agar dapat menjadi seorang  nabi, yaitu seorang nabi yang menyampaikan suara-suara Tuhan kepada segenap bangsa Israel. Dari ketekunannya itulah, seluruh Israel pun tahu dan mengakui bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan (ay. 20). Bukan Samuel yang mengangkat diri sebagai nabi, tetapi Tuhan sendiri yang mengangkat Samuel sebagai nabiNya. Bahkan pada masa itu, Tuhan memilih Samuel sebagai perantara yang menyampaikan Firman Tuhan (ay. 21). Ia tidak memilih imam besar, ia tidak memilih imam-imam lainnya dari suku Lewi yang seharusnya lebih pantas memimpin bangsa Israel, tetapi kita dapat melihat bahwa segenap bangsa Israel menganggap Samuel menjadi pemimpin mereka, dan bukan Imam Besar, sampai dengan bangsa Israel memiliki seorang raja yaitu Saul.

Oleh karena itu, saya berharap para pembaca renungan ini tidak mempermasalahkan latar  belakang kita, segala kelemahan dan kekurangan kita dalam melayani Tuhan. Bagian kita adalah senantiasa belajar dan bertekun dalam panggilan kita masing-masing. Kita juga mungkin tidak berasal dari keluarga pendeta atau keluarga hamba Tuhan. Mungkin keluarga besar kita justru belum mengenal Tuhan. Tetapi Tuhan tidak mau melihat latar belakang kita. Ia mau kesungguhan hati kita. Jika kita mau seperti Samuel, yang berjuang agar menjadi seorang nabi yang benar, bukankah kita juga seharusnya seperti itu? Yaitu berjuang melakukan yang terbaik bagi Tuhan, untuk kepentingan Tuhan dan kerajaanNya.



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 3:19-21
3:19 Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.
3:20 Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.
3:21 Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.

Dampak Negatif Poligami



Sabtu, 21 Februari 2015
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
Tetapi madunya (Penina) selalu menyakiti hatinya supaya ia (Hana) gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. (1 Sam 1:6)


Dampak Negatif Poligami


Poligami. Satu kata yang sering kali diperdebatkan, tidak hanya di kalangan non-Kristen tetapi juga di kalangan Kristen sendiri. Beberapa orang Kristen menganut paham bahwa karena banyak tokoh-tokoh Alkitab yang berpoligami (sebut saja Abraham, Daud, Salomo, dan lain sebagainya) maka sesungguhnya Tuhan tidak melarang laki-laki berpoligami. Mereka bahkan berkata bahwa Tuhan Yesus sendiri pun tidak pernah melarang orang untuk berpoligami.

Saya sendiri tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa poligami itu tidak dibolehkan. Mengapa demikian? Karena pada awalnya Tuhan menciptakan satu Hawa untuk satu Adam. Tuhan tidak menciptakan banyak Hawa untuk satu Adam. Dan kita manusia yang hidup di dunia ini setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, juga harus menyadari posisi kita yang penuh dosa dan kelemahan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosa kita dan membuat kita mampu berjalan mengikuti jejak Tuhan di dunia ini.

Kita harus dikembalikan kepada rancangan Tuhan yang semula seperti di taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, kita yang lahir di masa Perjanjian Baru, harus betul-betul memegang hal itu sehingga hidup kita boleh menjadi hidup yang berkenan bahkan sempurna di hadapan Bapa di Surga.

Terkait dengan Poligami, saya mengambil satu contoh dalam Alkitab Perjanjian Lama. Contoh ini bukan saya gunakan untuk membenarkan praktek Poligami (karena jika Poligami itu benar dan sesuai standar Allah, maka saya yakin Yesus pasti sudah berpoligami juga). Alkitab menulis contoh tentang seorang laki-laki dari Efraim yang bernama Elkana (ay. 1). Elkana memiliki dua orang isteri yang sah, yang pertama bernama Hana, yang kedua bernama Penina. Alkitab menulis bahwa Penina memiliki anak tetapi Hana tidak memiliki anak (ay. 2).

Dari ayat 2 tersebut saya mengambil kesimpulan saya sendiri bahwa kemungkinan besar Elkana ini sudah menikah dengan Hana tetapi mereka tidak memiliki anak. Karena anak (keturunan) adalah hal yang sangat penting bagi orang Israel pada masa itu (dan bahkan juga penting bagi sejumlah suku/kebudayaan di masa sekarang ini), akhirnya Elkana mengambil isteri kedua (isteri muda) yang bernama Penina. Kebetulan Elkana ini bisa memiliki keturunan dari Penina, isteri mudanya tersebut.

Saya yakin Elkana sudah mencoba bertindak seadil mungkin kepada kedua isterinya. Ketika mereka datang ke rumah Tuhan di kota Silo untuk beribadah dan mempersembahkan korban setiap tahunnya, Elkana membagi-bagi korban persembahannya per orang, dimana Penina mendapatkan banyak bagian (karena anak-anak yang dilahirkan Penina), sementara Hana hanya satu bagian saja (karena Hana tidak melahirkan anak bagi Elkana) (ay. 3-4).

Hana tahu bahwa Elkana suaminya sangat mengasihinya (ay. 5), dan Elkana berusaha untuk tetap seadil mungkin kepada kedua isterinya. Akan tetapi ternyata persoalan di rumah tangga mereka tidak hanya berhenti sampai di situ. Memang setiap rumah tangga pasti memiliki persoalan dan masalahnya sendiri-sendiri. Tetapi masalah yang dialami Hana adalah ketika madunya (Penina) selalu membuatnya gusar (ay. 6). Saya yakin yang dimaksud di sini adalah Penina senantiasa mengejek bahwa Hana tidak dapat memberikan keturunan kepada suaminya, sehingga suaminya pasti lebih sayang kepada Penina.

Hal tersebut membuat Hana sangat sedih. Bahkan ketika setiap tahun mereka sekeluarga datang ke Rumah Tuhan dan mempersembahkan korban, Penina senantiasa menyakiti hati Hana (ay. 7). Suatu hari raya yang sebetulnya adalah momen untuk para keluarga bersukacita, tidak dapat dirasakan oleh Hana karena kesedihannya itu. Meskipun Elkana suaminya mencoba untuk menenangkannya dan menghiburnya (ay. 8), tetapi Hana tetap sedih karena kondisinya yang tidak dapat memberi anak bagi suaminya.

Memang pada akhirnya nanti Tuhan membela Hana dengan cara memberi anak yang dinamakan Samuel untuk menghapus kesedihan Hana. Akan tetapi kita melihat di sini bahwa poligami tidak memberikan “kesenangan” kepada seorang suami, tetapi justru memberikan “kesedihan” bagi para isteri, khususnya isteri-isteri yang dimadu. Bahkan saya berani berkata bahwa poligami hanya memberikan “kesenangan” sesaat kepada si suami karena pada akhirnya, dia sendiri akan direpotkan oleh segala macam permasalahan yang terjadi. Belum lagi harus menafkahi lebih dari satu isteri dan anak-anak yang banyak, permasalahan harta warisan, dan lain sebagainya

Oleh karena itu sebagai anak-anak Tuhan yang hidup dalam kebenaran, kita mesti menyadari betul tentang hal ini dan menolak prinsip Poligami, Poliandri, dan sebagainya. Kita harus mengerti bahwa Tuhan menciptakan satu orang pasangan hidup bagi kita. Oleh sebab itu janji nikah kita di gereja adalah mengasihi isteri satu-satunya (bagi suami) atau mengasihi suami satu-satunya (bagi isteri), sampai maut memisahkan kita. Jika Tuhan sudah memisahkan suami atau isteri kita dengan kematian, memang sesungguhnya adalah hak kita untuk menikah kembali (bahkan kita juga masih boleh memilih untuk tetap melajang sepanjang sisa umur kita). Tetapi di luar alasan itu, kita hanya boleh memiliki satu pasangan yang sah di hadapan Tuhan. Bagi saya, tidak ada kompromi tentang hal ini.



Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
1:1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.
1:2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.
1:3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1:4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.
1:5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
1:6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.
1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
1:8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"


Sabtu, 21 Februari 2015
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
Tetapi madunya (Penina) selalu menyakiti hatinya supaya ia (Hana) gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya. (1 Sam 1:6)

Dampak Negatif Poligami

Poligami. Satu kata yang sering kali diperdebatkan, tidak hanya di kalangan non-Kristen tetapi juga di kalangan Kristen sendiri. Beberapa orang Kristen menganut paham bahwa karena banyak tokoh-tokoh Alkitab yang berpoligami (sebut saja Abraham, Daud, Salomo, dan lain sebagainya) maka sesungguhnya Tuhan tidak melarang laki-laki berpoligami. Mereka bahkan berkata bahwa Tuhan Yesus sendiri pun tidak pernah melarang orang untuk berpoligami.
Saya sendiri tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa poligami itu tidak dibolehkan. Mengapa demikian? Karena pada awalnya Tuhan menciptakan satu Hawa untuk satu Adam. Tuhan tidak menciptakan banyak Hawa untuk satu Adam. Dan kita manusia yang hidup di dunia ini setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, juga harus menyadari posisi kita yang penuh dosa dan kelemahan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosa kita dan membuat kita mampu berjalan mengikuti jejak Tuhan di dunia ini.
Kita harus dikembalikan kepada rancangan Tuhan yang semula seperti di taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa. Oleh karena itu, kita yang lahir di masa Perjanjian Baru, harus betul-betul memegang hal itu sehingga hidup kita boleh menjadi hidup yang berkenan bahkan sempurna di hadapan Bapa di Surga.
Terkait dengan Poligami, saya mengambil satu contoh dalam Alkitab Perjanjian Lama. Contoh ini bukan saya gunakan untuk membenarkan praktek Poligami (karena jika Poligami itu benar dan sesuai standar Allah, maka saya yakin Yesus pasti sudah berpoligami juga). Alkitab menulis contoh tentang seorang laki-laki dari Efraim yang bernama Elkana (ay. 1). Elkana memiliki dua orang isteri yang sah, yang pertama bernama Hana, yang kedua bernama Penina. Alkitab menulis bahwa Penina memiliki anak tetapi Hana tidak memiliki anak (ay. 2).
Dari ayat 2 tersebut saya mengambil kesimpulan saya sendiri bahwa kemungkinan besar Elkana ini sudah menikah dengan Hana tetapi mereka tidak memiliki anak. Karena anak (keturunan) adalah hal yang sangat penting bagi orang Israel pada masa itu (dan bahkan juga penting bagi sejumlah suku/kebudayaan di masa sekarang ini), akhirnya Elkana mengambil isteri kedua (isteri muda) yang bernama Penina. Kebetulan Elkana ini bisa memiliki keturunan dari Penina, isteri mudanya tersebut.
Saya yakin Elkana sudah mencoba bertindak seadil mungkin kepada kedua isterinya. Ketika mereka datang ke rumah Tuhan di kota Silo untuk beribadah dan mempersembahkan korban setiap tahunnya, Elkana membagi-bagi korban persembahannya per orang, dimana Penina mendapatkan banyak bagian (karena anak-anak yang dilahirkan Penina), sementara Hana hanya satu bagian saja (karena Hana tidak melahirkan anak bagi Elkana) (ay. 3-4).
Hana tahu bahwa Elkana suaminya sangat mengasihinya (ay. 5), dan Elkana berusaha untuk tetap seadil mungkin kepada kedua isterinya. Akan tetapi ternyata persoalan di rumah tangga mereka tidak hanya berhenti sampai di situ. Memang setiap rumah tangga pasti memiliki persoalan dan masalahnya sendiri-sendiri. Tetapi masalah yang dialami Hana adalah ketika madunya (Penina) selalu membuatnya gusar (ay. 6). Saya yakin yang dimaksud di sini adalah Penina senantiasa mengejek bahwa Hana tidak dapat memberikan keturunan kepada suaminya, sehingga suaminya pasti lebih sayang kepada Penina.
Hal tersebut membuat Hana sangat sedih. Bahkan ketika setiap tahun mereka sekeluarga datang ke Rumah Tuhan dan mempersembahkan korban, Penina senantiasa menyakiti hati Hana (ay. 7). Suatu hari raya yang sebetulnya adalah momen untuk para keluarga bersukacita, tidak dapat dirasakan oleh Hana karena kesedihannya itu. Meskipun Elkana suaminya mencoba untuk menenangkannya dan menghiburnya (ay. 8), tetapi Hana tetap sedih karena kondisinya yang tidak dapat memberi anak bagi suaminya.
Memang pada akhirnya nanti Tuhan membela Hana dengan cara memberi anak yang dinamakan Samuel untuk menghapus kesedihan Hana. Akan tetapi kita melihat di sini bahwa poligami tidak memberikan “kesenangan” kepada seorang suami, tetapi justru memberikan “kesedihan” bagi para isteri, khususnya isteri-isteri yang dimadu. Bahkan saya berani berkata bahwa poligami hanya memberikan “kesenangan” sesaat kepada si suami karena pada akhirnya, dia sendiri akan direpotkan oleh segala macam permasalahan yang terjadi. Belum lagi harus menafkahi lebih dari satu isteri dan anak-anak yang banyak, permasalahan harta warisan, dan lain sebagainya
Oleh karena itu sebagai anak-anak Tuhan yang hidup dalam kebenaran, kita mesti menyadari betul tentang hal ini dan menolak prinsip Poligami, Poliandri, dan sebagainya. Kita harus mengerti bahwa Tuhan menciptakan satu orang pasangan hidup bagi kita. Oleh sebab itu janji nikah kita di gereja adalah mengasihi isteri satu-satunya (bagi suami) atau mengasihi suami satu-satunya (bagi isteri), sampai maut memisahkan kita. Jika Tuhan sudah memisahkan suami atau isteri kita dengan kematian, memang sesungguhnya adalah hak kita untuk menikah kembali (bahkan kita juga masih boleh memilih untuk tetap melajang sepanjang sisa umur kita). Tetapi di luar alasan itu, kita hanya boleh memiliki satu pasangan yang sah di hadapan Tuhan. Bagi saya, tidak ada kompromi tentang hal ini.

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1:1-8
1:1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.
1:2 Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.
1:3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.
1:4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.
1:5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.
1:6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.
1:7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
1:8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?"

Janda yang Mau Bekerja Keras



Jumat, 20 Februari 2015
Bacaan Alkitab: Rut 2:1-7
Tadi ia (Rut) berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia (Rut) datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia (Rut) tidak berhenti. (Rut 2:7)


Janda yang Mau Bekerja Keras


Sebelumnya saya mau meminta maaf kepada para pembaca renungan ini karena sudah hampir 2 bulan saya tidak  menulis renungan ini. Memang saya cukup banyak kesibukan di awal tahun,  bahkan pelayanan yang dulu saya tidak pernah saya pikirkan, kemarin sempat beberapa kali saya lakukan. Ke depannya, saya mungkin tidak dapat menulis renungan ini setiap hari, tetapi saya akan usahakan untuk tetap menulis. Dan saya butuh dukungan doa dari para pembaca agar Tuhan memberi hikmat kepada saya dan kemampuan untuk dapat menulis renungan ini secara rutin kembali.

Hari ini kita berbicara tentang seorang janda yang sangat luar biasa yang bernama Rut. Jika kita baca kisah Rut dari awal, maka kita akan mengetahui bahwa Rut adalah seorang Moab yang kemudian mengikuti mertuanya (Naomi) kembali ke Israel karena suaminya sudah meninggal. Ia adalah seorang janda. Ketika banyak janda dipandang negatif dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang, Rut tetap mencoba untuk menjadi janda yang baik.

Rut pun mencoba untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara memungut bulir jelai ladang Boas, yang masih saudara dari suami Naomi (ay. 1-2).  Rut pun bekerja keras dengan cara memungut bulir-bulir jelai yang jatuh di belakang para penyabit yang sedarng bekerja (ay. 3). Ia melakukan itu dengan tekun dan setia.

Bahkan ketika Boas, sang pemilik ladang datang (ay. 4), mata Boas pun langsung tertuju kepada Rut hingga ia bertanya “Dari manakah perempuan ini?” (ay. 5). Saya percaya Boas berkata demikian bukan disebabkan karena Rut adalah orang yang cantilk. Sebagai orang kaya saya yakin tentu saja Boas sering melihat gadis-gadis atau perempuan-perempuan yang cantik. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Boas melihat kesungguhan hati dari seorang Rut yang bekerja keras.

Tidak hanya Boas yang berpendapat demikian, pegawai (bujang) Boas yang mengawasi para penyabit pun berkata bahwa ia adalah seorang perempuan Moab yang pulang bersama-sama dengan Naomi mertuanya (ay. 6). Bahkan bujang itu berkata bagaimana Rut datang kepadanya dengan sopan dan setelah ia diberi ijin, maka ia terus sibuk dari pagi sampai sekarang tanpa berhenti sedikitpun (ay. 7).

Kita bisa belajar banyak dari Rut yang dengan tidak malu melakukan bagiannya yaitu mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya. Di saat kita melihat banyak orang yang bermalas-malasan dalam bekerja (tidak hanya janda yang malas, bahkan orang yang bukan janda/duda pun sering menjadi orang yang bermalas-malasan), justru Rut memberikan teladan yaitu bekerja dengan tidak henti dari pagi hingga siang/sore. Rut memberikan teladan bahwa seseorang memang harus bekerja keras untuk dapat hidup, dan bukan hanya menggantungkan diri pada tangan orang lain.

Alkitab Perjanjian Baru juga  berkata bahwa jika ada orang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes 3:10). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan ingin setiap dari kita bekerja keras untuk mencari nafkah. Memang betul rejeki itu datangnya dari Tuhan, tetapi jangan ada di antara kita yang mempermalukan nama Tuhan dengan berkata bahwa “Aku tidak mau bekerja, tetapi aku mau menerima berkat dari Tuhan karena Tuhan itu Maha Baik”.

Kepada orang-orang yang seperti itu, saya berani katakan bahwa seorang hamba Tuhan (pendeta) atau seorang pelayan Tuhan pun dapat dianggap bekerja ketika ia sungguh-sungguh melayani Tuhan dengan sepenuh hatinya. Pekerjaan mereka adalah melayani Tuhan dan seorang hamba Tuhan full timer pun pasti diberkati oleh Tuhan. Tetapi jika ada di antara kita tidak mau bekerja dan hanya duduk diam menanti berkat Tuhan, saya ragu bahwa orang tersebut mengerti kebenaran Firman Tuhan. Belajarlah dari Rut, sang janda yang rajin dan mau bekerja keras, belajarlah juga dari semut yang juga bekerja keras (Ams 6:6), belajarlah dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang terus menerus bekerja (Yoh 5:17), bahkan jika itu semua tidak mempan, maka belajarlah pula dari Iblis, yang sampai hari ini dia bekerja untuk menyesatkan orang dan memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun untuk menyesatkan orang (Why 20:7-8).



Bacaan Alkitab: Rut 2:1-7
2:1 Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas.
2:2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku."
2:3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.
2:4 Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!"
2:5 Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?"
2:6 Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab.
2:7 Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti."