Kamis, 09 April 2015

Tanggung Jawab Menjadi Guru atau Pengajar



Jumat, 10 April 2015
Bacaan Alkitab: Yakobus 3:1-2
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. (Yak 3:1)


Tanggung Jawab Menjadi Guru atau Pengajar


Sejak era reformasi, profesi guru menjadi salah satu profesi favorit bagi kebanyakan orang. Terlebih sejak adanya tunjangan sertifikasi guru, banyak orang berlomba-lomba menjadi guru, terlebih di daerah-daerah tertentu. Mereka menganggap bahwa menjadi guru adalah pekerjaan yang cukup enak dan mudah. Mereka cukup  bekerja dari jam 7 pagi sampai siang atau sore (tidak perlu sampai malam), mereka dapat memperoleh tambahan penghasilan dari les kepada murid-muridnya, dan mereka pun juga mendapatkan tunjangan yang cukup besar.

Sayangnya masih banyak orang (bahkan termasuk orang Kristen) yang ingin berlomba-lomba menjadi guru. Bahkan sejumlah besar pelayan Tuhan juga berlomba-lomba ingin menjadi pengajar atau pengkhotbah yang menyampaikan Firman Tuhan di ibadah-ibadah, baik sekolah minggu, di ibadah remaja, ibadah pemuda, ibadah tengah minggu, terlebih ibadah raya hari Minggu. Tidak jarang terjadi konflik antar pelayan Tuhan ketika mereka “memperebutkan” jadwal pelayanan untuk boleh menyampaikan Firman Tuhan di ibadah gereja. Lalu, seberapa pentingnya kah menjadi pengajar, terlebih menjadi pengajar Alkitab alias pengkhotbah Firman Tuhan?

Saya mengakui bahwa para pengkhotbah Firman Tuhan adalah orang-orang yang dipakai Tuhan luar biasa dan pada umumnya sangat dihormati oleh jemaat Tuhan. Namun demikian, ada satu hal yang sangat penting yang harus diketahui oleh para pelayan Tuhan, yaitu bahwa menjadi guru, pengajar, terlebih menjadi pengkhotbah adalah hal yang sangat berat dan memiliki tanggung jawab yang besar, dan tidak dapat dianggap enteng.

Yakobus menulis agar jangan ada banyak orang yang mau menjadi guru (ay. 1a). Tentu saja melihat konteks tulisan Yakobus yang ditujukan kepada jemaat Tuhan, tentu yang dimaksud dengan “guru” dalam ayat ini bukan merujuk pada guru sekolah pada umumnya, tetapi lebih kepada pengajar Firman Tuhan atau pengkhotbah Firman Tuhan dalam pertemuan-pertemuan ibadah yang ada. Walaupun demikian, sebenarnya ayat ini dapat juga menjadi suatu “ warning” bagi guru-guru sekuler karena ayat ini pun masih sangat relevan dan memuat prinsip-prinsip yang baik sekali untuk diterapkan.

Selanjutnya Yakobus menegaskan bahwa sebagai seorang guru (atau pengajar atau pemberita Firman), maka orang tersebut akan memiliki tanggung jawab yang luar biasa, yaitu dihakimi mennurut apa yang diucapkan dan diajarkan. Karena seorang guru atau pengkhotbah harus mengucapkan lebih banyak kata dan harus mengajar orang lain, maka tentu saja ia akan dihakimi Tuhan menurut ukuran yang lebih berat (ay. 1b).

Setiap orang memang harus mempertanggungjawabkan perkataannya di hadapan Tuhan (ay. 2). Namun demikian, seorang guru atau pengkhotbah mengajar orang lain. Bahkan seorang pengkhotbah mengajar jemaat Tuhan tentang bagaimana mereka harus hidup di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, mereka harus hidup dalam kebenaran terlebih dahulu, mereka harus memiliki kompetensi yang baik dan pengertian yang benar sebelum mereka boleh mengajar orang lain. Jangan sampai muncul guru-guru atau pengkhotbah-pengkhotbah yang “baru” namun mereka sebenarnya belum siap mengajar. Justru hal ini akan menjadi bumerang bagi jemaat Tuhan karena mungkin saja yang diajarkan adalah hal yang kurang tepat menurut Firman Tuhan.

Bagi kita yang dipanggil Tuhan menjadi guru, pengajar, atau pengkhotbah, kita harus sadar bahwa panggilan itu adalah panggilan yang mulia. Tetapi bagian kita adalah harus menjaga segenap hidup kita untuk dapat menjadi seorang guru, pengajar atau pengkhotbah dengan menyampaikan kebenaran yang benar bagi orang yang mendengarnya, sehingga perkataan kita boleh menjadi perkataan yang membangun, hidup kita boleh menjadi hidup yang menjadi berkat  bagi orang lain. Tanggung jawab kita berat, tetapi jika kita melakukan bagian kita dan tanggung jawab kita dengan benar, maka Tuhan juga akan berkenan kepada kita dan pelayanan kita.


Bacaan Alkitab: Yakobus 3:1-2
3:1 Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.
3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

Hal yang Sangat Penting



Kamis, 9 April 2015
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 15:3-8
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci. (1 Kor 15:3)


Hal yang Sangat Penting


Alkitab penuh dengan ayat-ayat penting yang harus kita perhatikan. Ada begitu banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang berbicara tentang kelahiran kembali, pengampunan dosa, berkat jasmani, dan lain sebagainya. Namun demikian, kita perlu belajar tentang suatu prinsip kekristenan yang sebenarnya sangat penting, namun sering dianggap sepele atau dijadikan nomor kesekian dalam hidup kita.

Beberapa waktu lalu, kita baru saja merayakan Paskah. Jika ditanya kepada sebagian besar orang Kristen, kita akan mendapatkan jawaban bahwa hari Paskah dianggap seakan-akan sebagai “hari raya kedua” setelah Natal. Orang lebih suka merayakan Natal daripada Paskah. Orang lebih suka merayakan kelahiran Yesus daripada merayakan kebangkitan Yesus. Memang tanpa kelahiran Yesus tidak mungkin ada pengorbanan dan kebangkitan Yesus. Tetapi kita harus mengerti bahwa puncak dari segala pelayanan Yesus Kristus di dunia ini dapat adalah ketika Dia mau taat sampai mati di atas kayu salib dan mencapai kesempurnaanNya sehingga hidupNya boleh sungguh-sungguh tak bercacat dan tak bercela di hadapan Bapa.

Paulus mengibaratkan hal ini dengan istilah “hal yang sangat penting” (ay. 3a). Hal yang sangat penting itu adalah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita (ay. 3b), bahwa Yesus telah dikuburkan, dan juga telah dibangkitkan pada hari yang ketiga (ay. 4), dan  bahwa Yesus telah menampakkan diri ke sejumlah orang percaya, mulai dari Kefas dan kedua belas muridNya (ay. 5), kepada kebanyakan muridnya (ay. 6), kepada Yakobus, para rasul (ay. 7), dan terakhir kepada Paulus (ay. 8).

Kebanyakan kita merasa bahwa hal ini adalah hal yang biasa, namun sebenarnya Paulus ingin menuliskan di sini bahwa penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus adalah suatu hal yang penting. Mengapa demikian? Karena melalui satu paket itulah (penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus), maka kita telah dibukakan jalan untuk menjadi serupa seperti Kristus. Kita yang sebelumnya hidup dalam dosa, dimampukan untuk menjadi sempurna seperti Kristus telah sempurna melakukan pekerjaanNya di dunia ini.

Dalam ayat lain Paulus menegaskan bahwa ia ingin mengenal Kristus dan kuasa kebangkitanNya, dan persekutuan dalam penderitaanNya, dan serupa dalam kematianNya, supaya Paulus beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Flp 3:10-11). Paulus sadar pentingnya penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus dalam kehidupan orang Kristen. Dan itu juga yang seharusnya kita pikirkan, yaitu kita berusaha mengenal Kristus beserta keseluruhan hidupNya. Kita harus meneladani Kristus dalam segala hal, karena Ia telah terlebih dahulu mencapai kesempurnaan melalui ketaatanNya yang sempurna kepada kehendak Bapa di surga.

Dalam momen Paskah ini kita diingatkan bahwa Tuhan Yesus sudah mati dan bangkit  bagi kita. Ia mati dan bangkit sehingga kita boleh mendapatkan keselamatan kekal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Ia telah meletakkan pondasi kehidupanNya di dunia ini untuk kita teladani dan ikuti jejakNya. Jika kita mengaku diri kita sebagai seorang Kristen, maka sudah seharusnya kita juga hidup menurut kehidupan Kristus (1 Yoh 2:6). Sudahkah kita melakukannya?


Bacaan Alkitab: 1 Korintus 15:3-8
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

Rabu, 01 April 2015

Berubahlah!

Rabu, 1 April 2015
Bacaan Alkitab: Roma 12:1-2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Rm 12:2)


Berubahlah!


Pada masa saya masih anak-anak (usia sekolah dasar/SD), saya ingat akan sebuah film anak-anak yang berjudul Ksatria Baja Hitam. Dalam film tersebut dikisahkan bahwa jagoan utama film itu dapat berubah dari manusia biasa menjadi ksatria untuk mengalahkan musuhnya. Ketika sang jagoan belum  berubah, ia tentu tidak dapat mengimbangi musuh-musuhnya, tetapi begitu berubah menjadi ksatria, maka ia akan dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah. Ada cukup banyak film lain yang seperti itu, sebut saja Sailor Moon, Saint Seiya, Ultraman, dan lain sebagainya. Tetapi film Ksatria Baja Hitam adalah yang paling berkesan karena setiap kali sang jagoan mau berubah, pasti disertai dengan suara “Berubah!”.

Ternyata, orang Kristen pun juga harus berubah. Awalnya, Paulus menulis dalam kitab Roma bahwa ia menasehatkan jemaat untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai suatu persembahan kepada Allah (ay. 1b). Persembahan tersebut haruslah  bukan persembahan yang biasa, tetapi harus menjadi sebuah persembahan yang hidup, yang kudus dan  yang berkenan kepada Allah. Nasehat tersebut diberikan Paulus dengan hati dan motivasi yang tulus, yaitu demi kemurahan Allah yang sudah dilimpahkannya bagi hidup kita (ay. 1a).

Lalu bagaimana kita harus berubah?

Sebelumnya kita harus tahu suatu dasar bahwa kita yang telah ditebus menjadi anak-anak Allah, tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini (ay. 2a). Lalu siapa yang harus kita serupai? Tentu saja kita harus menjadi serupa dengan Yesus Kristus, Tuhan kita. Kita sebagai orang Kristen harus menjadi serupa dengan Yesus Kristus yang mau taat dan setia melakukan kehendak Bapa (Flp 2:5-8). Kemudian, akan muncul pertanyaan yaitu bagaimana kita harus  berubah?

Alkitab menjawab bahwa kita harus berubah oleh pembaharuan budi kita (ay. 2b). Kata “pembaharuan” di sini dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani) adalah “metamorphousthe”, yang memiliki akar kata yang sama dengan istilah metamorfosa atau metamorfosis seperti yang kita pelajari dalam pelajaran biologi di sekolah. Metamorfosa adalah suatu perubahan yang radikal dalam seluruh aspek suatu organisme sehingga menjadi berbeda seluruhnya dari bentuk semula. Kita mengenal binatang ulat yang setelah bermetamorfosa lalu menjadi kupu-kupu. Ulat dan kupu-kupu memiliki natur yang sangat berbeda, baik dari segi fisik, kebiasaan, makanan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, kita sebagai anak-anak Tuhan harus sadar bahwa hidup kita harus berubah, berubah dari kodrat dosa (sinful nature) menjadi kodrat Ilahi (divine nature). Kita harus berani meninggalkan “hidup lama” kita dan menggantinya dengan hidup yang baru, yaitu hidup yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Kita tidak boleh hanya berpuas diri dengan standar “baik”, karena itu adalah hal yang umum bagi orang-orang di luar Tuhan sekalipun. Kita harus sampai dapat mencapai taraf “sempurna” (ay. 2c), karena Bapa kita di surga juga adalah sempurna (Mat 5:48).


Bacaan Alkitab: Roma 12:1-2
12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Jumat, 20 Februari 2015

Tanda dan Mujizat itu Untuk Siapa?



Senin, 23 Februari 2015
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:12-16
Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. (Kis 5:12)


Tanda dan Mujizat itu Untuk Siapa?


Sekarang ini, banyak gereja berlomba-lomba membuat kebaktian kebangunan rohani (KKR). Entah apa makna dari kata “KKR” tersebut, tetapi sepertinya kebanyakan gereja saat ini menganggap bahwa KKR adalah ibadah dimana ada mujizat Tuhan dan tanda-tanda heran dinyatakan dalam ibadah itu. Tidak heran banyak gereja mengambil tema tentang mujizat. Ada gereja yang memiliki tema “gereja yang penuh mujizat Tuhan”, tema “Mujizat untuk anda”, dan lain sebagainya.

Saya tentu saja tidak anti dengan mujizat, karena memang sejak zaman rasul-rasul di gereja mula-mula, mujizat sudah ada. Bahkan Alkitab Perjanjian Lama pun penuh dengan mujizat dan pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus selama di dunia ini pun sering mengadakan mujizat, sebut saja mujizat air menjadi anggur, mujizat 5 roti dan 2 ikan cukup untuk 5.000 orang, mujizat menyembuhkan orang, mujizat membangkitkan orang mati, dan lain sebagainya.

Namun saya melihat dari sisi yang agak luas. Kata “tanda”, menggunakan bahasa Yunani “shmeia” yang berasal dari kata “shmeion” atau “semeion”, yang salah satu artinya adalah petunjuk atau isyarat. Bahasa kita  pun menggunakan kata “tanda” yang hampir sama maknannya dengan “rambu penunjuk”. Kata “mujizat” menggunakan bahasa Yunani “terata” yang berasal dari kata “terav” atau “teras”, yang juga dapat berarti suatu “pertanda sebelum terjadinya sesuatu”.

Oleh karena itu, saya sendiri melihat bahwa tanda dan mujizat itu memang penting dan memang ada di seluruh masa gereja, mulai dari gereja mula-mula, gereja di abad pertengahan, gereja di abad ke-21 dan juga di gereja akhir zaman. Akan tetapi tanda dan mujizat ini justru lebih berperan dalam pelayanan gereja keluar, yaitu supaya orang percaya kepada Tuhan. Tentu jika kita mengadakan KKR kesembuhan illahi atau kita mendoakan orang sakit dan orang itu sembuh, maka orang itu yang belum percaya kepada Tuhan akan percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menyembuhkan. Sampai di sini sesungguhnya saya melihat belum ada masalah.

Masalahnya mulai muncul pada saat gereja-gereja Tuhan justru menganggap tanda dan mujizat adalah yang terutama, bahkan bagi jemaat yang sudah rutin beribadah di  gereja tersebut. Gereja tersebut merasa bahwa jika ada ibadah tanpa ada jemaat yang disembuhkan atau tanpa ada mujizat Tuhan dinyatakan, maka ibadah tersebut terasa kurang Roh atau kurang rohani. Hal ini yang saya coba luruskan dalam renungan hari ini.

Jika kita membaca ayat dalam Kisah Para Rasul ini, maka kita akan melihat bahwa rasul-rasul mengadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak (ay. 12a). Orang banyak yang dimaksud di sini bukanlah jemaat Tuhan, melainkan orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang beribadah di Bait Suci, dan mereka melihat  tanda dan mujizat yang dilakukan oleh para rasul. Dalam ayat yang sama dinyatakan bahwa semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat (ay. 12b). Jadi jelas bahwa orang banyak dan orang percaya tidak ada kaitannya dalam hal ini.

Bahkan ayat selanjutnya  berbicara tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang percaya. Walaupun banyak orang masih takut atau ragu-ragu masuk ke kumpulan orang percaya, tetapi mereka sangat dihormati orang banyak (ay. 13). Mengapa mereka sangat dihormati? Karena tanda-tanda dan mujizat yang dibuat oleh para rasul. Dan meskipun banyak orang yang masih takut bergabung, tetapi banyak juga di antara mereka yang percaya kepada Tuhan (ay. 14), meskipun mereka belum berani berkumpul dan bertekun dalam kumpulan orang percaya.

Orang-orang yang baru percaya ini (belum menjadi jemaat karena mereka belum berkumpul dalam persekutuan orang percaya) membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan dengan harapan disembuhkan oleh para rasul, antara lain rasul Petrus. Bahkan mereka percaya bahwa jika kena bayangan Petrus saja, maka orang yang sakit dapat disembuhkan (ay. 15). Selain orang-orang itu (yang memang tinggal di Yerusalem), banyak juga orang-orang yang masih belum percaya dari kota-kota sekitar Yerusalem yang datang untuk membawa orang-orang yang sakit dan diganggu roh jahat untuk disembuhkan (ay. 16).

Pertanyaannya, apakah ada tanda dan mujizat yang dinyatakan kepada kumpulan orang percaya? Jika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, saya merasa bahwa hampir semua tanda dan mujizat yang dilakukan oleh para rasul ataupun hamba-hamba Tuhan ditujukan kepada orang-orang yang belum percaya. Tanda-tanda dan mujizat adalah sebagai suatu “petunjuk awal” kepada orang yang belum tahu tentang Tuhan Yesus Kristus, agar mereka dapat percaya kepadaNya.

Bagaimana dengan kumpulan orang percaya yang hidup bertekun dalam pengajaran rasul-rasul? Sepengetahuan saya, hampir tidak ada berita tentang tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan dalam kumpulan orang percaya tersebut. Para rasul berfokus pada adanya persekutuan yang indah di dalam Tuhan, bagaimana mereka melayani janda-janda dan orang-orang miskin, bertumbuh dalam pengajaran yang benar, dan tentu saja memberitakan Firman. Tetapi hampir tidak ada tanda dan mujizat yang dilakukan secara khusus oleh para rasul kepada jemaat mula-mula. Tanda dan mujizat itu hanya sebagai “pengantar” agar orang-orang datang dan percaya kepada Tuhan.

Jika gereja saat ini sangat fokus dan peduli dengan tanda dan mujizat, itu memang bagus, selama tanda dan mujizat itu lebih diarahkan kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Jemaat-jemaat Tuhan yang sudah cukup lama menjadi orang Kristen harusnya dapat menjadi seseorang  yang dewasa rohani, yang mampu berkata “jika aku hidup, aku hidup untuk Tuhan, dan jika aku mati, aku mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, aku adalah milik Tuhan” (Rm 14:8).

Memang setiap orang pasti pernah terserang penyakit, masalah dan lain sebagainya. Tetapi “mengobral” tanda dan mujizat dalam setiap ibadah juga kurang tepat. Jangan salah, jika orang sakit selalu dianggap orang yang membutuhkan mujizat, bukankah setiap orang pada nantinya harus mati? Bagaimana jika pendeta yang selalu mengagung-agungkan mujizat pada nantinya mati karena sakit penyakit? Mau dibawa kemana muka dari gereja Tuhan jika gereja Tuhan hanya mementingkan tanda dan mujizat, dimana setiap orang yang sakit pasti disembuhkan?

Kita harus menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana. Paulus pun memiliki duri dalam daging (yang ditafsirkan oleh sejumlah hamba Tuhan sebagai penyakit dalam dirinya). Paulus pun meminta agar Tuhan mengambil duri tersebut, tetapi Tuhan menjawab “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:7-9). Jika Paulus yang adalah seorang rasul Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa saja tidak mementingkan tanda dan mujizat dalam setiap pengajarannya, dan juga menekankan akan pemahaman yang benar tentang Firman Allah, beranikah kita bersikap lebih dari Paulus? Tanda dan mujizat memang penting, tetapi menurut pendapat saya, itu bukan yang utama. Yang lebih utama adalah bagaimana kita dapat hidup menurut kehendak Bapa, menurut standar Bapa, dan menyukakan hati Bapa. Saya takut jika kita hanya mementingkan tanda dan mujizat, tapi kita tidak dikenal oleh Bapa di Surga, maka kita akan dienyahkan Tuhan dan ditolak masuk ke dalam surga yang mulia (Mat 7:22-23).


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:12-16
5:12 Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.
5:13 Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak.
5:14 Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan,
5:15 bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.
5:16 Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.