Jumat, 03 Maret 2017

Keistimewaan Orang Kecil



Minggu, 5 Maret 2017
Bacaan Alkitab: Matius 11:25-26
Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” (Mat 11:25)


Keistimewaan Orang Kecil


Istilah “wong cilik” atau “orang kecil” sudah saya dengar sejak saya kecil. Pada waktu itu (kira-kira 20 tahun yang lalu), istilah tersebut ditujukan kepada orang-orang yang memang tidak punya kemampuan dan kesempatan untuk tampil di muka umum. Mereka adalah orang-orang kecil yang tidak punya uang, tidak punya kesempatan, tidak punya kemampuan untuk bisa sukses. Namun sejak beberapa tahun yang lalu, istilah “wong cilik” mulai umum digunakan dan biasanya digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan rakyat kecil atau rakyat jelata sebagai basis massa pendukungnya.

Istilah orang kecil sendiri sebenarnya sudah cukup sering disebut di dalam Alkitab. Bahkan dalam bacaan ayat Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus juga menyebut tentang orang kecil . Dalam ayat tersebut, Tuhan Yesus dikatakan sedang berbicara dan mengucap syukur kepada Allah Bapa (ay. 25a). Hal apa yang membuat Tuhan Yesus sampai mengucap syukur? Ternyata Tuhan Yesus mengucap syukur atas apa yang disembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi yang dinyatakan kepada orang kecil (ay. 25b).

Tentu saja, apa yang dinyatakan kepada orang kecil bukanlah harta atau kekayaan dunia. Jika kita memperhatikan dengan seksama konteks ayat tersebut (dengan membaca ayat-ayat sebelum dan sesudahnya), kita akan menemukan bahwa yang dimaksud dengan orang bijak dan orang pandai antara lain adalah mereka yang tidak mau bertobat (karena merasa diri mereka bijak, pandai, dan tidak perlu bertobat karena merasa tidak pernah melanggar hukum). Hal ini dapat kita lihat dari ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang penduduk kota-kota yang tidak bertobat meskipun telah melihat banyak mujizat. 

Selain itu, jika kita melihat ayat-ayat setelahnya, kita akan dapat melihat bahwa orang bijak dan orang pandai itu merujuk kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, yaitu mereka yang merasa memiliki “pengetahuan” lebih dalam hal agama, tetapi ternyata pengenalan mereka terhadap Tuhan dan kehendak-Nya adalah nol besar. Hal ini terlihat dari bagaimana murid-murid Tuhan Yesus yang adalah orang-orang biasa (bahkan memiliki profesi yang dipandang rendah oleh kebanyakan orang pada waktu itu) seperti nelayan, pemungut cukai, pemberontak (orang Zelot), dan lain sebagainya, namun ternyata mampu mengalahkan kepintaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Dalam hal ini, orang percaya di masa kini juga harus berjuang untuk mampu mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya. Tidak perlu semua orang Kristen menjadi pendeta atau memiliki gelar teologia, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita boleh melakukan apa yang berkenan di hadapan Bapa (ay. 26). Kita bisa melihat bahwa walaupun kita orang kecil di mata manusia, tetapi kita harus berusaha untuk bisa hidup berkenan di pandangan Tuhan. Justru kepada orang-orang yang dipandang kecil oleh manusia, di situ Tuhan mungkin lebih berkenan untuk mempercayakan hal-hal yang lebih besar kepada orang kecil tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan kerendahan hati untuk dapat mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan, dan berjuang untuk selalu menyenangkannya. Sebaliknya, orang-orang yang merasa dirinya bijak dan pandai, bisa jadi akan berhenti bertobat. Ia merasa sudah paling benar sehingga lebih banyak menyuruh orang lain bertobat dibandingkan dengan membuat dirinya sendiri bertobat. 

Bagi saya secara pribadi, saya bersyukur menjadi orang kecil, karena Tuhan ternyata mempercayakan banyak hal kepada saya, antara lain untuk menyampaikan Firman Tuhan melalui berbagai macam cara, termasuk lewat renungan ini. Ada begitu banyak hal yang Tuhan bukakan kepada saya, yang selama ini belum pernah saya dengar dari para hamba Tuhan lainnya. Ada begitu banyak kebenaran yang Tuhan berikan kepada saya, sehingga saya dapat menulis renungan seperti ini, yang mungkin memiliki sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Intinya, saya bersyukur menjadi orang kecil, orang yang tidak dianggap oleh Tuhan, tetapi justru karena itulah saya dapat ada seperti sekarang ini. Banggalah jika kita dipandang kecil di mata manusia, tetapi setialah mengerjakan bagian kita, karena yang terpenting bukanlah apa yang dipandang oleh manusia, tetapi adalah apa yang dipandang oleh Tuhan.



Bacaan Alkitab: Matius 11:25-26
11:25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.
11:26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Kamis, 02 Maret 2017

Tujuan Tuhan Memberi Mujizat



Sabtu, 4 Maret 2017
Bacaan Alkitab: Matius 11:20-24
Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya. (Mat 11:20)


Tujuan Tuhan Memberi Mujizat


Banyak orang Kristen sebenarnya yang belum mengerti dan memaknai mujizat dengan benar. Hal tersebut dapat terlihat misalnya dari begitu banyaknya orang Kristen yang berdoa meminta mujizat Tuhan dalam hidupnya. Saya pun sejak kecil juga sering diajar Tuhan bahwa Tuhan itu rindu memberikan mujizat dalam hidup kita, sehingga jika berdoa seringkali kita meminta Tuhan untuk memberikan mujizat dalam hidup kita dengan menjawab doa-doa kita. Hal ini ditambah lagi dengan banyaknya program rohani agama Kristen di televisi dan radio yang menggunakan kata-kata mujizat dalam judul programnya. Sehingga tanpa disadari, orang Kristen sudah memiliki pikiran bawah sadar yang salah, bahwa menjadi orang Kristen itu harus mengalami mujizat, atau jika kita tidak mengalami mujizat maka ada yang salah dengan iman kita.

Kenyataannya, harus dipahami dengan benar mengenai apa tujuan Tuhan memberi mujizat kepada seseorang. Tentu dalam hal ini, kita harus kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang sejati. Dalam ayat bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus membuat mujizat di sejumlah kota. Sayangnya, di beberapa kota/tempat yang paling banyak dilakukan mujizat, justru tidak ada pertobatan di kota itu (ay. 20). Secara implisit, dapat dilihat bahwa tujuan utama Tuhan memberi mujizat adalah supaya seseorang bertobat. 

Oleh karena itu harus dipahami bahwa sebenarnya mujizat itu seharusnya lebih ditujukan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, atau kepada orang-orang yang masih “kanak-kanak” secara rohani. Mereka tentu masih belum mengenal Tuhan dengan benar, sehingga mereka masih membutuhkan hal-hal yang spektakuler dalam hidup mereka, yaitu mujizat Tuhan yang mereka alami secara langsung. Jika kita perhatikan, dalam Alkitab Perjanjian Baru, hampir tidak ada mujizat yang dilakukan oleh Tuhan kepada murid-murid-Nya. Memang ada beberapa kali mujizat yang dialami para murid (Seperti ketika ibu mertua Simon Petrus disembuhkan, Petrus dilepaskan dari penjara, atau Paulus dan Silas mengalami gempa bumi di dalam penjara Filipi), tetapi jumlahnya tidak signifikan dibanding total mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Lagipula, meskipun Petrus dan Paulus sempat bebas dari penjara, namun pada akhirnya sejarah gereja mencatat bahwa mereka tetap mati martir bagi Kristus. Jadi mujizat yang mereka alami itu pun bukan bertujuan untuk menyelamatkan Petrus dan Paulus, tetapi “menunda” kematian mereka supaya mereka masih bisa efektif melakukan pekerjaan bagi Tuhan dalam sisa waktu yang ada.

Kembali ke ayat bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus menyebutkan kota-kota yang mengalami mujizat paling banyak tetapi justru merekalah yang paling tidak mau bertobat, yaitu Khorazim, Betsaida (ay. 21a), dan Kapernaum (ay. 23a). Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika mujizat-mujizat itu terjadi di kota-kota bangsa-bangsa kafir seperti Tirus dan Sidon di daerah Libanon (ay. 21b), atau bahkan di Sodom (ay. 23b), maka para penduduk di kota Tirus, Sidon, dan Sodom pasti akan bertobat. 

Terkait dengan hal ini, harus dipahami bahwa salah satu tujuan pemberian mujizat oleh Tuhan adalah untuk pertobatan. Selanjutnya, harus juga dipahami bahwa mereka yang diberi banyak tentu akan dituntut banyak (Luk 12:48). Hal ini pun juga berlaku dalam hal mujizat. Mereka yang mendapatkan banyak mujizat, juga harus lebih banyak lagi bertobat. Jika tidak, maka pada hari penghakiman, orang-orang yang menerima banyak mujizat tetapi tidak bertobat akan dituntut oleh Tuhan (ay. 22 & 24). Terkait dengan hal tersebut, maka kalimat ini yang berlaku: Mujizat tanpa pertobatan adalah kejahatan di hadapan Tuhan.  

Di sisi lain, para hamba Tuhan juga harus bertobat. Mereka harus ingat bahwa tujuan Tuhan memberikan mujizat adalah pertobatan. Jadi, jika ada gereja atau pendeta yang menekankan sisi mujizat secara berlebihan tetapi tidak diimbangi dengan sisi pertobatan, maka hal itu hanya akan menghasilkan jemaat yang kerdil secara rohani. Secara kuantitas mungkin gereja atau pendeta tersebut memiliki jumlah jemaat yang besar. Tetapi secara kualitas, sangat besar kemungkinan jemaat yang dimiliki itu masih berkualitas sebagai “kanak-kanak” rohani, yang artinya setiap hari mengharapkan mujizat Tuhan, setiap berdoa hanya mujizat yang diminta, dan tidak pernah ada gairah atau kerinduan untuk mengenal kebenaran yang murni atau kerinduan untuk bertobat dari cara hidup yang sia-sia. Tidak heran bahwa jika Tuhan Yesus mengatakan bahwa pada hari penghakiman nanti, di hadapan Tuhan akan ada banyak orang (hamba Tuhan atau pendeta) yang berkata “Bukankah kami sudah mengadakan mujizat demi nama-Mu?”, dan pada waktu itu Tuhan akan berkata “Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat 7:21-23). Mengapa demikian? Karena para hamba Tuhan dan pendeta tersebut tidak pernah mengajar jemaat untuk mengerti apa tujuan dari mujizat Tuhan itu, sehingga banyak orang Kristen yang hingga akhir hidupnya tidak mengalami pertobatan dan terhilang dari hadapan Tuhan. Jadi, marilah kita bertobat selagi ada waktu. Jangan biarkan mujizat menghalangi kita dari pertobatan kita yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.




Bacaan Alkitab: Matius 11:20-24
11:20 Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:
11:21 "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
11:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.
11:23 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.
11:24 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

Rabu, 01 Maret 2017

Ciri Ahli Taurat dan Orang Farisi (16): Merasa Diri Bebas dari Hukuman



Jumat, 3 Maret 2017
Bacaan Alkitab: Matius 23:33-36
Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (Mat 23:33)


Ciri Ahli Taurat dan Orang Farisi (16): Merasa Diri Bebas dari Hukuman


Salah satu kelemahan para pemimpin agama adalah mereka merasa lebih suci dan lebih dekat dengan Tuhan karena posisi mereka. Mereka merasa bahwa karena mereka lebih banyak mengerti kitab suci, lebih banyak hafal ayat kitab suci, lebih banyak berbicara di depan umat, dan lebih banyak melakukan ibadah, maka mereka tentu sudah dipandang lebih mulia di mata Tuhan. Ironisnya, banyak pemimpin agama yang dengan mudah “menghakimi” orang lain (bisa umatnya sendiri, orang yang seagama tetapi berbeda aliran, atau orang yang berbeda agama) dan mengatakan bahwa orang-orang seperti itu suatu saat akan dihukum oleh Tuhan karena tidak suci seperti dirinya.
Padahal dalam ayat bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus mengkritik para ahli Taurat dan orang Farisi bahwa mereka pun sebagai pemimpin umat dan juga pengajar umat tidak mungkin akan luput dari hukuman (ay. 33). Faktanya adalah bahwa semua manusia, siapapun ia, harus menghadap tahta pengadilan Allah. Semua orang, termasuk pendeta, pengkhotbah, guru agama, dan juga doktor teologi sekalipun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan suatu saat nanti.

Memang Tuhan Yesus pun telah mati di atas kayu salib untuk menebus semua dosa-dosa kita. Namun demikian, hal tersebut bukan berarti bahwa kita bebas berbuat dosa dan menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Oleh karena itu, sebagai orang yang hidupnya sudah ditebus oleh Tuhan Yesus, maka kita harus lebih berhati-hati dalam kehidupan, supaya jangan sampai kita melukai hati-Nya melalui perbuatan, perkataan, dan bahkan pikiran kita.

Dalam hal ini, meskipun pada saat itu para ahli Taurat dan orang Farisi belum melakukan dosa secara perbuatan (belum membunuh Tuhan Yesus), akan tetapi Tuhan Yesus melihat hati mereka yang sudah penuh dengan kejahatan, yang disebabkan karena rasa iri hati. Sikap ini ternyata juga diwarisi dari nenek moyang mereka yang selama ini hidup dalam kejahatan, yaitu membunuh nabi-nabi yang Tuhan utus. Bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa pada  masa yang akan datang, mereka (para ahli Taurat dan orang Farisi) akan menganiaya orang-orang benar dan bahkan membunuh mereka (ay. 24). Hal ini terbukti pada masa gereja mula-mula, ketika para ahli Taurat dan orang Farisi (antara lain Saulus) yang berusaha menangkap orang percaya karena dianggap sebagai musuh agama Yahudi. Roh antikristus ini juga pada akhirnya nanti berkembang menganiaya umat percaya di seluruh kerajaan Romawi, karena umat Kristen dianggap sebagai musuh negara.

Apa yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi ini sebenarnya sangat layak untuk dihukum. Sejak zaman nenek moyang mereka, mereka telah membunuh orang-orang benar, mulai dari Habel hingga Zakharia anak Berekhya (ay. 25a). Lebih sadis lagi, Zakharia dibunuh di pelataran Bait Suci, yaitu di antara tempat kudus dan mezbah (ay. 25b). Bayangkan jika ada pemimpin agama yang menyuruh untuk membunuh orang lain (yang tidak berpandangan sama dengan pemimpin agama tersebut) di tempat suci atau tempat ibadah mereka. Itu adalah suatu kejahatan yang sangat keji. Tempat ibadah yang seharusnya menjadi tempat untuk mencari dan bertemu dengan Tuhan justru dijadikan tempat untuk melakukan kejahatan. Tidak salah jika Tuhan Yesus berkata: “Semua akan ditanggung oleh angkatan ini!”, karena pada masa itu, apa yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi sungguh amat jahat di mata Tuhan (ay. 26). Hal ini digenapi sekitar 40 tahun kemudian, yaitu pada tahun 70 Masehi dimana Yerusalem akhirnya dihancurleburkan oleh pasukan Romawi. Selanjutnya, bangsa Yahudi pun tersebar ke seluruh penjuru dunia, mengembara di berbagai bangsa dan negara, hingga akhirnya pada tahun 1948, mereka baru kembali lagi ke tanah Kanaan.

Satu hal yang pasti, tidak ada seorang pun yang melakukan kejahatan yang luput dari hukuman. Apakah orang itu jemaat biasa, seorang pelayan Tuhan, seorang pengkhotbah, seorang pendeta, ataupun seorang sarjana teologi atau doktor teologi sekalipun, jika orang itu salah maka pasti ada hukuman Tuhan. Ini adalah konsekuensi dari hukum tabur tuai, yaitu apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal 6:7). Tentu dalam hal ini, Tuhan pasti maha adil. Tuhan tentu tidak akan menuntut orang Kristen yang baru percaya untuk sempurna. Tetapi jika ada seorang pemimpin agama yang sudah tahu ayat-ayat Alkitab tetapi masih melakukan kejahatan yang sangat mendasar (misal: mencuri, membunuh, berzinah, dan lain sebagainya), tentu saja Tuhan pasti menuntut orang tersebut dengan tuntutan yang lebih berat, karena orang itu sudah mengerti perintah Tuhan dan terkait dengan posisinya sebagai pemimpin umat. Ini juga berlaku bagi para ahli Taurat dan orang Farisi, dimana mereka sebenarnya sudah tahu apa yang benar dan seharusnya menjadi pemimpin umat yang diteladani. Ketika mereka salah karena melakukan kejahatan (yaitu membungkam orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan membunuhnya), maka tentu hukuman Tuhan pasti akan lebih berat (Luk 12:48).



Bacaan Alkitab: Matius 23:33-36
23:33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?
23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,
23:35 supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.
23:36 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"