Kamis, 11 Mei 2017

Imam yang Tidak Membawa Umatnya Mengenal Allah



Jumat, 12 Mei 2017
Bacaan Alkitab: Hosea 4:4-6
Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. (Hos 4:6)


Imam yang Tidak Membawa Umatnya Mengenal Allah


Dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana peran para imam sangatlah sentral dalam kehidupan bangsa Israel (yang kemudian terbagi menjadi kerajaan Israel di utara dan Yehuda di selatan). Namun demikian, dalam kitab Hosea dan kitab nabi-nabi lainnya, banyak sekali keluhan terhadap tindakan dan perilaku para imam. Tentu keluhan itu juga terkait dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik bangsa Israel. Namun dalam kitab Hosea kita menemukan bagaimana suara kenabian Hosea yang ditujukan kepada para imam.

Kita melihat larangan orang mengadu dan menegor (ay. 4a). Awalnya saya mengira bahwa Tuhan melarang umat Israel untuk mengeluh karena bencana yang mereka terima. Namun demikian, setelah membaca ayat-ayat selanjutnya, kita mengerti bahwa larangan itu ditujukan Tuhan kepada para imam. Ternyata yang selama ini mengadu dan mengeluh terhadap kondisi bangsa Israel adalah para imam. Namun sebenarnya para imam tidak sadar akan dosa-dosa dan kesalahan mereka yang menyebabkan bencana bagi Israel.

Tuhan juga menubuatkan bahwa para imam yang jahat itu akan tetap tergelincir jatuh pada siang hari. Bahkan para nabi-nabi palsu yang bernubuat palsu juga akan tergelincir pada malam hari (ay. 5a). Bahkan tidak hanya itu saja hukuman Tuhan bagi para imam. Tuhan juga bernubuat bahwa Ia akan membinasakan ibu para imam tersebut (ay. 5b). Ini adalah gambaran bahwa dosa para imam tersebut begitu beratnya sehingga keluarga para imam pun tetap harus menanggung dampak kejahatan dari para imam. Tentu dalam hal ini Tuhan bersikap adil. Jika keluarga para imam sadar tentang dosa, ia akan tahu bahwa pekerjaan para imam itu tidak berkenan di hadapan Tuhan, sehingga seharusnya mereka mengingatkan para imam bahwa mereka sedang berada di jalan yang salah. Oleh karena itu dalam hal ini umat Israel tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak adil karena keluarga para imam juga ikut dihukum. Para imam dihukum karena kesalahannya. Keluarga para imam juga ikut menerima hukuman karena mereka juga ikut menikmati hasil kejahatan para imam tersebut.

Namun satu hal yang lebih menyakitkan hati Tuhan adalah karena umat Tuhan (konteks pada waktu itu adalah umat Israel dan Yehuda) kemudian akan menjadi binasa. Alkitab menulis bahwa umat Tuhan menjadi binasa karena tidak mengenal Allah yang benar (ay. 6a). Umat tidak mengerti dan mengenal Allah karena para imam juga tidak pernah mengajarkan kebenaran semacam itu kepada umat. Imam justru menolak pengenalan Allah yang benar karena jika umat mengenal Allah dengan benar, maka mereka akan menjadi cerdas dan kemudian mengerti bahwa para imam sedang melakukan kejahatan (ay. 6b).

Oleh karena itu, Tuhan Allah menolak para imam tersebut (ay. 6c). Bahkan karena mereka melupakan pengajaran yang benar, yaitu pengajaran supaya umat mengenal Allah dengan benar, mengerti kehendak Allah dengan benar, dan dapat melakukan kehendak Allah dengan benar, maka Tuhan juga melupakan para imam dan juga melupakan keluarga mereka (ay. 6d). Ingat bahwa keluarga para imam juga berbuat jahat dengan ikut menikmati hasil kejahatan para imam. Pada waktu itu kondisi masyarakat Israel begitu bobroknya sehingga hampir semua orang tahu kejahatan yang terjadi di antara mereka. Dan tidak ada yang berani mengingatkan kejahatan mereka selain nabi Tuhan yang benar. Para imam tetap berbuat jahat, nabi-nabi palsu juga diam atau justru mendukung kejahatan para imam, keluarga dan orang-orang terdekat para imam juga ikut menikmati kejahatan. Itulah sebabnya Tuhan menghukum para imam dan semua orang yang terkait dengan mereka, karena mereka tidak mau membawa umat Tuhan untuk mengenal Tuhannya dengan benar. Bagaimana mungkin mereka menyebut umat dengan sebutan umat Allah, namun ternyata umat tersebut belum sungguh-sungguh mengenal Allah?



Bacaan Alkitab: Hosea 4:4-6
4:4 Hanya janganlah ada orang mengadu, dan janganlah ada orang menegor, sebab terhadap engkaulah pengaduan-Ku itu, hai imam!
4:5 Engkau akan tergelincir jatuh pada siang hari, juga nabi akan tergelincir jatuh bersama-sama engkau pada malam hari; dan Aku akan membinasakan ibumu.
4:6 Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.

Jumat, 05 Mei 2017

Baptisan dalam Perjanjian Baru (Bagian 33): Baptisan sebagai Kiasan



Sabtu, 6 Mei 2017
Bacaan Alkitab: 1 Petrus 3:21-22
Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus (1 Ptr 3:21)


Baptisan dalam Perjanjian Baru (Bagian 33): Baptisan sebagai Kiasan


Perlu dipahami bahwa ayat terakhir mengenai baptisan dalam kitab-kitab di Perjanjian Baru adalah ayat di dalam kitab 1 Petrus ini. Selanjutnya kitab 1-3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu tidak berbicara apapun mengenai baptisan. Oleh karena itu, saya tidak tahu pasti apakah nanti di langit baru dan bumi baru akan ada baptisan lagi atau tidak, tapi karena tidak ada dosa di sana, maka mungkin saja sudah tidak ada baptisan dalam kekekalan. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan ayat mengenai baptisan di kitab 1 Petrus ini, kita akan belajar kesimpulan dari baptisan dalam Perjanjian Baru, yaitu baptisan sebagai kiasan.

Petrus menulis bahwa kita sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan (ay. 21a). Jika kita baca ayat-ayat sebelumnya, dituliskan bahwa keselamatan dilakukan oleh Yesus Kristus yang telah mati untuk segala dosa kita (1 Ptr 3:18a). Oleh karena itu, Yesus harus mati dan turun ke dalam kerajaan maut, untuk selanjutnya bangkit dan menjadi Juruselamat dunia. Inilah yang dilambangkan oleh baptisan, yaitu ketika kita mati terhadap hidup kita yang lama, mati terhadap dosa, dan mati terhadap hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Bapa. Barulah kemudian kita bangkit dan berjuang untuk menghidupi hidup yang baru ketika kita telah percaya kepada Yesus dan dibaptis.

Jadi baptisan tidak hanya sekedar upacara keagamaan atau bahkan sakramen yang dimaknai secara lahiriah, yaitu untuk sekedar membersihkan kenajisan jasmani (ay. 21b). Baptisan itu harus dilakukan oleh semua orang percaya untuk meminta hati nurani yang baik dan murni kepada Allah. Kata meminta di sini tidak hanya berarti pasif dan kita menunggu Allah memberikan hati yang baru kepada kita, melainkan juga harus dimaknai sebagai suatu perjuangan untuk boleh memiliki hati nurani yang baik, berkenan, bahkan sampai level sempurna di hadapan Allah (ay. 21c). Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus itulah yang membuat kita mampu hidup berkenan di hadapan Allah (ay. 21d).

Ketika Tuhan Yesus bangkit, maka Ia telah mencapai kesempurnaan dan menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr 5:9). Oleh karena itu, kita harus meneladani segenap hidup Kristus dan berjuang untuk dapat mempraktikkan hidup Kristus itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan Yesus telah berjuang untuk bisa sempurna, dan sekarang giliran kita untuk bisa memiliki kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dengan cara meneladani kehidupan Kristus.

Ingat bahwa Yesus Kristus saat ini telah duduk di sebelah kanan Allah Bapa, ke tempat-Nya semula sebelum Ia turun ke dunia ini. Karena kesempurnaan hidup-Nya, maka Ia menjadi pemerintah atas segala sesuatu, baik segala malaikat, segala kuasa dan segala kekuatan yang ada (ay. 22). Oleh karena itu, kita belajar mengenai baptisan yaitu suatu bukti dari pertobatan dan kepercayaan kepada Tuhan Yesus Kristus dalam iman yang benar, supaya suatu saat nanti kita boleh tahan berdiri di hadapan-Nya, bahkan diperkenankan untuk memerintah bersama-sama dengan Dia dalam kekekalan.

Baptisan tidak hanya berdampak di bumi, tetapi juga berdampak sampai kepada kekekalan. Sebenarnya bukan baptisan saja tetap apapun yang kita lakukan di dunia ini sebenarnya kita sedang mengukir kitab hidup kita di dalam kekekalan. Alkitab selalu berkata bahwa kita akan dihakimi menurut perbuatan kita (bukan menurut iman). Jadi hidup kita di kekekalan sebenarnya ditentukan dari perbuatan yang kita lakukan di dunia ini. Pilihan hidup macam apa yang kita pilih di dunia ini tidak hanya berdampak pada masa depan kita di dunia ini, tetapi juga akan berdampak kepada masa depan kita di kekekalan. Oleh karena itu, jangan main-main. Hiduplah dalam pertobatan senantiasa supaya hidup kita semakin cemerlang dan berkenan di hadapan-Nya.



Bacaan Alkitab: 1 Petrus 3:21-22
3:21 Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus,
3:22 yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.

Kamis, 04 Mei 2017

Baptisan dalam Perjanjian Baru (Bagian 32): Baptisan sebagai Ajaran Dasar



Jumat, 5 Mei 2017
Bacaan Alkitab: Ibrani 6:1-3
Yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. (Ibr 6:2)

 
Baptisan dalam Perjanjian Baru (Bagian 32): Baptisan sebagai Ajaran Dasar


Ayat dalam bagian bacaan Alkitab kita hari ini juga merupakan salah satu ayat yang sulit dipahami dalam kaitannya dengan baptisan di Perjanjian Baru. Bacaan renungan kita hari ini dimulai dengan ajakan atau perintah kepada umat percaya untuk meninggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus (ay. 1a). Menjadi pertanyaan bagi kita mengapa umat percaya harus meninggalkan asas-asas pertama tersebut? Bukankah adalah hal yang baik belajar dari dasar yang dimulai dari asas-asas pertama tersebut?

Dalam Alkitab Terjemahan Lama terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kata “asas-asas pertama” dalam ayat 1 tersebut ditulis sebagai “pengajaran yang mula-mula”. Terjemahan lain dalam bahasa Indonesia menggunakan kata “pengajaran dasar”. Dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani), digunakan kata arché (ἀρχή) yang dapat diterjemahkan sebagai awalan atau permulaan. Jadi asas-asas pertama kurang tepat diartikan sebagai dasar (seperti dasar negara yaitu Pancasila), melainkan lebih merujuk kepada urutan, dimana arche merujuk pada urutan yang awal atau mula-mula.

Oleh karena itu, asas-asas pertama harus dipandang sebagai hal-hal yang perlu dipahami oleh mereka yang baru percaya dan belajar mengikut Tuhan Yesus. Namun demikian, penulis kitab Ibrani menekankan bahwa umat percaya tidak boleh hanya puas mengenai asas-asas pertama tetapi harus mulai berani beralih kepada perkembangannya yang penuh (ay. 1b). Sepintas penggunaan kata “beralih” menunjukkan sesuatu yang mudah. Namun dalam bahasa aslinya digunakan kata pherōmetha (φερώμεθα) yang berasal dari kata dasar pheró (φέρω) yang dapat diartikan sebagai to bear, to carry, to bring forth (menanggung/memikul beban, membawa/mengangkat/memuat, melahirkan). Ini menunjukkan suatu beban yang harus dipikul dan ditanggung, dan hal itu mengindikasikan sesuatu hal yang berat dan tidak mudah untuk dilakukan. 

Jadi kata beralih dalam ayat 1 harus dimaknai juga secara benar, supaya kita dapat mengerti bahwa harus ada usaha dan perjuangan keras dari setiap manusia untuk mencapai perkembangannya yang penuh atau yang sempurna. Asas-asas pertama itu belumlah suatu kesempurnaan. Jika kesempurnaan diberikan nilai 100, maka asas-asas pertama itu mungkin barulah urutan 1 sampai 5 atau 1 sampai 10. Masih ada 90-an urutan lagi yang harus kita tempuh hingga mencapai kesempurnaan atau perkembangannya yang penuh.

Oleh karena itu, kita disarankan agar tidak meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia (ay. 1c). Hal ini dapat diartikan bahwa seiring bertambahnya waktu dan usia rohani kita, seharusnya kita sudah tidak lagi berkutat dengan permasalahan pertobatan atas perbuatan kita. Seharusnya kita sudah memiliki sikap hidup yang memenuhi standar moral umum manusia (misalnya tidak mencuri, tidak berzinah, tidak membunuh). Standar moral umum semacam itu dapat dikenakan oleh semua manusia tanpa harus menjadi orang Kristen. Namun bagi orang Kristen, kita seharusnya mampu melangkah lebih lanjut untuk memiliki sikap hidup yang berkualitas di hadapan Allah, bukan hanya sekedar hidup wajar dan baik di mata manusia.

Kalimat berikutnya sangat membingungkan karena dimulai dengan kalimat “dan dasar kepercayaan kepada Allah” (ay. 1d). Ini dapat menunjukkan suatu perbandingan antara perbuatan sia-sia dan kepercayaan yang benar kepada Allah, namun juga dapat diartikan sebagai tingkat iman yang masih dasar (belum penuh atau belum sempurna).

Jika kalimat dalam ayat 1d itu menunjukkan suatu perbandingan, maka apa yang ditulis di ayat 2 mengenai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang mati dan hukuman kekal adalah sesuatu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Jika demikian, maka baptisan adalah sesuatu hal yang penting dan harus dimengerti bahkan dilakukan oleh semua orang percaya. Pemahaman mengenai kebangkitan orang mati dan hukuman kekal juga harus dipahami dengan benar oleh setiap umat Tuhan. Namun apakah penumpangan tangan juga harus dimengerti dan dilakukan?

Saya mencoba mencari ayat-ayat mengenai penumpangan tangan di Alkitab Perjanjian Baru dan menemukan bahwa jumlah ayat mengenai penumpangan tangan tidaklah terlalu banyak. Penumpangan tangan hanya terdapat di kitab Kisah Para Rasul dimana penumpangan tangan tersebut erat kaitannya dengan tindakan mujizat dan pencurahan Roh Kudus. Selain itu, ada 3 kali kata penumpangan tangan disebutkan di dalam kitab 1 dan 2 Timotius, dan 1 kali dalam kitab Ibrani ini. Bahkan di dalam kitab Timotius tersebut, 2 kali kata penumpangan tangan merujuk pada tindakan yang dilakukan Paulus kepada Timotius pada masa lampau, dan hanya 1 kali perintah Paulus kepada Timotius terkait penumpangan tangan, dimana Timotius diminta untuk tidak terburu-buru menumpangkan tangan kepada orang lain (1 Tim 5:22). Oleh karena itu, saya secara pribadi kurang sependapat jika penumpangan tangan ini adalah hal yang penting dan harus kita perbuat sebagai orang Kristen seperti yang ditulis pada ayat selanjutnya (ay. 3a).

Saya sendiri lebih condong pada pendapat yang kedua, dimana ayat 1d berbicara mengenai dasar kepercayan kepada Kristus dalam artian sebagai pemahaman mengenai iman pada tingkatan yang mula-mula atau yang awal. Dalam hal ini, kita perlu mengerti bahwa kitab Ibrani ditulis dan ditujukan kepada jemaat yang berasal dari orang-orang Ibrani (Yahudi) yang ada di masa Perjanjian Baru. Oleh karena itu, hal-hal yang terdapat dalam ayat 2 (baptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang mati dan hukuman kekal) harus dipandang sebagai ajaran-ajaran Yudaisme (Yahudi) yang sudah dipahami oleh orang-orang Ibrani sejak kecil.

Jadi jika seseorang (khususnya orang percaya yang berlatar belakang orang Ibrani) baru dibaptis, ditumpangkan tangan, mengerti mengenai kebangkitan orang mati dan juga hukuman kekal di neraka, itu barulah tahapan awal mengenai iman kepada Allah melalui Kristus Yesus. Baptisan dan penumpangan tangan adalah salah satu adat Yahudi yang sudah ada sejak Perjanjian Lama. Oleh karena itu, umat Perjanjian Baru tidak boleh hanya melihat baptisan sebagai hal yang terpenting (karena ada di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, walaupun melambangkan hal yang berbeda), tetapi itu barulah sebagai dasar pijakan untuk menggapai tingkat iman yang lebih tinggi lagi.

Baptisan memang penting, tetapi jika umat percaya hanya fokus kepada baptisan, misalnya fokus untuk membaptis orang sebanyak-banyaknya tanpa membawa orang tersebut menuju kepada perkembangan iman yang sempurna, maka itu dapat menjadi sebuah penyesatan yang terselubung. Baptisan barulah langkah awal dari perjuangan iman yang benar. Kita harus membawa iman kita dan juga iman orang lain hingga kepada kesempurnaan. Jangan hanya bangga dan berhenti sampai pada tingkat baptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang mati dan juga hukuman kekal, kita juga harus mulai mengenal dan belajar mengenai arti menyangkal diri, memikul salib, meninggalkan segala sesuatu, dan mengikut Tuhan dengan benar. Kita juga harus belajar mengenai pengharapan yang benar di langit yang baru dan bumi yang baru, Yerusalem baru, serta pemerintahan Allah yang kekal. Kita harus berjuang untuk dapat menjadi anggota keluarga kerajaan Allah tersebut dan tidak hanya menjadi anggota masyarakat di dalam kekekalan.

Dengan pemahaman yang benar, maka kita tidak akan lagi ribut mengenai jenis baptisan (apakah percik atau selam), perlukah baptisan ulang, dan lain sebagainya. Jangan hanya berhenti sampai kepada hal-hal yang bersifat awal atau mula-mula saja, tetapi mari kita belajar untuk menapaki tangga iman yang benar sehingga kita bisa berbuat kebenaran dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi. Jika Allah mengizinkan kita dengan memberi kita usia yang panjang dan kecerdasan rohani untuk mengerti kebenaran dengan lebih lengkap lagi (ay. 3b), maka adalah tanggung jawab kita untuk boleh berjuang dan beralih kepada perkembangan iman hingga penuh dan sempurna.



Bacaan Alkitab: Ibrani 6:1-3
6:1 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah,
6:2 yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal.
6:3 Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya.