Kamis, 06 Juli 2017

Penistaan di dalam Alkitab (27): Hukuman Terakhir bagi Para Penista Tuhan



Kamis, 6 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Yudas 1:14-16
Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan." (Yud 1:15)


Penistaan di dalam Alkitab (27): Hukuman Terakhir bagi Para Penista Tuhan


Kitab Yudas adalah kitab yang sangat pendek di dalam Alkitab. Bahkan karena image terhadap nama “Yudas” di kalangan orang Kristen cukup jelek (yang disebabkan oleh kelakuan Yudas Iskariot), maka kitab Yudas ini sangat jarang dijadikan topik khotbah oleh para pembicara Kristen di atas mimbar. Namun demikian, terkait dengan penistaan di dalam Alkitab, ada satu ayat terakhir yang muncul di kitab Yudas yang akan kita pelajari, yaitu dalam kaitannya dengan hukuman terakhir yang akan dialami oleh para penista Tuhan.

Kitab Yudas merujuk pada ucapan Henokh yang menyatakan bahwa Tuhan akan datang dengan beribu-ribu orang kudusnya (ay. 14). Apa salah satu “tujuan” kedatangan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus akan datang untuk menghakimi semua orang yang ada di dunia (ay. 15a). Tentu hal ini dapat dilakukan karena Tuhan Yesus sudah berhasil mencapai kesempurnaan di hadapan Bapa. Oleh karena Tuhan Yesus sudah sempurna, maka Ia berhak menjadi hakim karena hidup-Nya akan menjadi standar penghakiman bagi semua orang. Artinya adalah, seseorang akan dinyatakan “benar” apabila memiliki hidup seperti hidup Tuhan Yesus dan akan dinyatakan “salah” apabila tidak memiliki hidup seperti hidup Tuhan Yesus.

Dalam hal ini, ukuran kehidupan Tuhan Yesus yang dikenakan kepada setiap orang adalah apakah mereka melakukan kehendak Bapa di surga dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34). Dalam hal ini, tentu Tuhan Yesus juga memiliki keadilan, misalnya bagi mereka yang tidak mengenal Injil dengan benar, tentu mereka tidak mengenal standar hidup Tuhan Yesus seperti yang tertulis dalam Injil. Oleh karena itu bagi mereka berlaku standar yaitu apakah mereka mengasihi orang lain seperti diri mereka sendiri (yaitu memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, memberi makan kepada mereka yang lapar, dan lain sebagainya) (Mat 25:31-46).

Akan tetapi bagi orang Kristen apalagi yang sudah mengenal Tuhan Yesus, tentu standarnya bukan lagi hanya mengasihi orang lain seperti mereka yang tidak mengenal Tuhan yang benar. Orang Kristen harus berjuang untuk mengerti kehendak Tuhan yaitu supaya kita mengasihi Tuhan tanpa batas. Orang Kristen tidak boleh hanya bangga menjadi orang baik seperti orang beragama lain. Kita dipanggil untuk menjadi sempurna sesuai standar Bapa dan sesuai standar hidup Tuhan Yesus (Mat 5:48). Inilah yang harus dikejar oleh orang Kristen supaya kita tidak sampai dihukum oleh Tuhan.

Tuhan sendiri berkata bahwa hukuman akan dijatuhkan kepada orang-orang fasik (ay. 15b). Apa saja yang dipertimbangkan Tuhan sebagai dasar pemberian hukuman Tuhan kepada orang-orang fasik tersebut? Alkitab mengatakan bahwa orang-orang fasik tersebut dihukum karena perbuatan fasik yang kita lakukan serta perkataan nista yang diucapkan terhadap Tuhan (ay. 15c). Dalam hal ini kita yang telah belajar mengenai apa itu penistaan menurut Alkitab, akan mengerti bahwa kita tidak boleh sampai mengucapkan perkataan yang menista Tuhan, apalagi melakukan tindakan yang menista Tuhan. Di situ kita akan dipandang berdosa oleh Tuhan dan pasti akan menerima hukuman Tuhan jika kita tidak segera bertobat.

Tentu dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita diajarkan bahwa tindakan orang-orang fasik tersebut dapat terlihat dari sikapnya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  • Mereka antara lain suka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya (ay. 16a)
    Kita dapat melihat karakter seseorang dari sikapnya menghadapi masalah. Bahkan karakter seseorang yang asli dapat terlihat dengan jelas saat ia menghadapi masalah terberat dalam hidupnya. Dalam kondisi tertekan dan terjepit, bagaimanakah perkataannya? Apakah ia dapat menjaga mulutnya dari mengucapkan kata-kata yang sia-sia? Ataukah ia justru tidak dapat mengendalikan mulutnya dan suka menggerutu dan mengeluh kepada Tuhan? Jangan lihat karakter seseorang ketika ia sedang mendapatkan berkat dari Tuhan, tapi belajarlah melihat karakter asli seseorang ketika ia sedang menghadapi ujian masalah dari Tuhan.
  • Mereka hidup menuruti hawa nafsunya (ay. 16b)
    Yang dimaksud dengan hawa nafsu adalah segala yang bukan merupakan kehendak Tuhan. Banyak orang berdoa kepada Tuhan seakan-akan mereka adalah orang yang rohani, tetapi ternyata isi doanya adalah untuk pemenuhan keinginan hawa nafsu mereka. Tidak heran ada banyak perselisihan di gereja karena hawa nafsu, bahkan mungkin ada “perebutan kekuasaan” antar pendeta karena hawa nafsu mereka. Tugas kita adalah mematikan hawa nafsu daging kita sehingga kita tidak menuruti hawa nafsu, tetapi menuruti kehendak Allah. Jika kita menuruti hawa nafsu kita berarti kita sedang bersahabat atau mencintai dunia (dengan segala isinya), sementara Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4).
  • Mulut mereka mengeluarkan perkataan yang bukan-bukan (ay. 16c)  
    Banyak konflik terjadi karena orang-orang tidak dapat menahan perkataan mereka. Yang lebih parah lagi, ada orang-orang tertentu yang suka menjadi “provokator” dengan cara mengeluarkan perkataan yang bukan-bukan untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin mereka ingin dipandang oleh pemimpin bahwa mereka ada di pihak sang pemimpin, sehingga mereka tanpa ragu mengucapkan perkataan yang menjelek-jelekkan orang lain. Bahkan tidak jarang mereka bisa dengan mudah mengucapkan kata-kata yang memanas-manasi keadaan dan bukannya menciptakan kedamaian ketika ada konflik.
     
  • Mereka menjilat orang untuk mendapatkan keuntungan (ay. 16d)
    Salah satu “profesi” manusia yang paling parah dan memalukan adalah mereka yang menjadi para penjilat. Orang-orang yang gemar menjilat atasan atau pimpinan biasanya akan terlihat bersikap manis dan santun ke atas tetapi kejam ke bawah. Tidak heran bahwa di depan pimpinan mereka terlihat selalu berkata “ya” terhadap instruksi pimpinan, tetapi setelahnya, mereka bisa menekan orang-orang di sekitar mereka (terutama anak buah atau mereka yang lebih lemah/lebih rendah kedudukannya) dengan kejam dan memanfaatkan mereka untuk keuntungan dirinya sendiri. Biasanya hasil pekerjaan orang lain diakui sebagai hasil pekerjaannya sendiri (sebagai seorang single fighter yang hebat), serta ia gemar memakai topeng di hadapan pimpinan. Seorang pemimpin yang baik harus waspada terhadap para penjilat seperti ini.
Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang memiliki karakter di atas, terlebih mereka yang ada di persekutuan/gereja. Orang-orang semacam ini awalnya terlihat menyenangkan, tetapi ternyata ia sedang menusuk kita dari belakang. Para pemimpin khususnya pemimpin gereja harus waspada supaya tidak terjadi perpecahan di dalam gereja karena orang-orang fasik seperti ini. Kita semua juga harus tetap waspada supaya kita tidak sampai menjadi orang-orang fasik yang bisa dikategorikan sebagai penista Tuhan. Ingatlah bahwa pasti ada hukuman bagi mereka yang menistanya, dan siapa yang bisa menilai apakah kita sudah menista Tuhan atau tidak selain Tuhan sendiri? Oleh karena itu setiap hari kita harus senantiasa memperkarakan apakah kita masuk kategori penurut Firman atau penista Tuhan. Jangan biarkan kita mengeraskan hati kita sehingga kita mematikan suara Roh Kudus dalam diri kita, karena jika demikian, kita sesungguhnya sedang berjalan menuju kebinasaan dan kepada hukuman Tuhan yang mengerikan dan kekal adanya.



Bacaan Alkitab: Yudas 1:14-16
1:14 Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya,
1:15 hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan."
1:16 Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.

Rabu, 05 Juli 2017

Penistaan di dalam Alkitab (26): Menderita dan Dinista karena Nama Kristus



Rabu, 5 Juli 2017
Bacaan Alkitab: 1 Petrus 4:12-19
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. (1 Ptr 4:14)




Penistaan di dalam Alkitab (26): Menderita dan Dinista karena Nama Kristus




Ayat kedua dalam Perjanjian Baru yang memuat kata “nista” ada di kitab 1 Petrus pasal 4. Petrus sendiri adalah salah satu rasul yang dekat dengan Yesus Kristus. Petrus sudah mengalami “naik turun” pelayanan bersama Tuhan Yesus. Ia pernah dipuji Tuhan, namun pernah juga dihardik Tuhan, dan pada akhirnya menyangkal Tuhan Yesus walaupun pada akhirnya ia bertobat dan menjadi salah satu pemimpin jemaat mula-mula. Sejarah gereja juga mencatat bagaimana Petrus akhirnya mati dengan disalib terbalik karena ia merasa tidak pantas untuk disalib seperti Tuhannya.



Oleh karena itu, dalam tulisannya, Petrus sangat kuat membagikan Firman mengenai penggembalaan (karena ia telah banyak belajar dari Gembala Agung yaitu Tuhan Yesus Kristus), dan juga mengenai penderitaan. Dari apa yang tertulis dalam Alkitab, Petrus sendiri setidaknya sudah 2 kali ditahan di penjara karena imannya. Oleh sebab itu kitab 1 Petrus penuh dengan ajaran mengenai hidup menderita sebagai orang percaya karena iman kepada Kristus.



Petrus mengatakan bahwa siksaan atau penderitaan kepada orang Kristen itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Itu adalah suatu hal biasa dan bisa dianggap sebagai ujian (ay. 12). Sama seperti murid yang sekolah harus menghadapi ujian sebagai hal yang biasa bahkan harus dihadapi jika ingin naik kelas, maka bagi orang Kristen, siksaan dan penderitaan harus dianggap sebagai suatu ujian untuk naik level ke tingkat yang lebih tinggi. Orang Kristen harus memandang penderitaan sebagai suatu sukacita, karena dengan demikian kita boleh ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus supaya kita boleh dimuliakan bersama-sama dengan Kristus (ay. 13). Ingat bahwa tidak ada mahkota kemuliaan tanpa penderitaan salib (There is no crown without cross).



Di sisi lain, Tuhan juga mengatakan bahwa orang Kristen harus bisa berbahagia jika kita dinista karena nama Kristus (ay. 14a). Ingat, ini bukan berarti kita harus berbahagia jika dinista karena kesalahan atau dosa kita. Jika demikian keadaannya, justru kita harus merasa malu karena di situ kita sedang mempermalukan Tuhan (ay. 15-16). Kita harus ingat bahwa orang Kristen yang benar pasti memiliki Roh Allah di dalam dirinya (ay. 14b). Roh Allah itu yang harus kita jaga supaya kita tetap hidup dipimpin oleh Roh sehingga kita dapat memilih untuk tidak mau lagi menista Tuhan dan melukai hati-Nya.



Sekilas, urusan penistaan ini sepertinya banyak terjadi di luar lingkungan gereja/jemaat. Pola pikir orang Kristen pada umumnya adalah bahwa penistaan dilakukan oleh orang non Kristen kepada orang Kristen atau kepada Tuhan (yaitu Tuhannya orang Kristen). Pandangan ini sebenarnya tidaklah 100% tepat. Alkitab jelas menulis bahwa penghakiman (yaitu terkait penistaan kepada Tuhan) justru dimulai dari rumah Allah sendiri yaitu gereja atau jemaat (ay. 17a). Di sini Tuhan hendak mengatakan bahwa cukup banyak orang Kristen yang merasa sudah menjadi umat Allah, namun dari tindakan hidupnya, dari perkataannya, bahkan dari pikirannya mencerminkan bahwa mereka adalah para penista Tuhan. Orang-orang seperti ini merasa puas dengan datang ke gereja setiap hari Minggu, atau mungkin dengan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja, padahal semua itu hanyalah pencitraan di hadapan manusia. Mereka terlihat terhormat di pandangan manusia namun terkutuk di pandangan Tuhan.



Dari gereja penghakiman Tuhan dimulai. Dan jika gereja saja dikenakan standar yang begitu tinggi (karena standarnya adalah sempurna seperti Tuhan Yesus), maka sudah pasti akan ada hukuman bagi mereka yang tidak percaya pada kebenaran Injil (ay. 17b). Ini berbicara kepada orang-orang yang sudah mendengar kebenaran Injil tetapi dengan sengaja memilih untuk tidak percaya dan tidak melakukan dan bukan kepada mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar Injil. Orang benar (orang Kristen) saja hampir-hampir tidak dapat diselamatkan (yang artinya masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah untuk memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus) karena standar keselamatan adalah hidup Tuhan Yesus sendiri. Oleh karena itu tentu orang non Kristen juga tidak mungkin menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah karena mereka tidak mengenal karya penyelamatan Yesus Kristus (ay. 18). Dalam hal ini mereka maksimal hanya masuk kategori orang-orang yang menjadi anggota masyarakat di langit yang baru dan bumi yang baru, yaitu bagi mereka yang mengasihi sesamanya (Mat 25:31-46).



Oleh karena itu, kita harus memandang bahwa jika kita sampai menderita dan dinista karena nama Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya kita sedang memperoleh anugerah Tuhan. Tidak semua orang Kristen mengalami penderitaan dan penistaan karena imannya. Oleh karena itu, kita harus memahami apa maksud Tuhan di balik penderitaan yang kita alami. Salah satu hal yang sering diajarkan Tuhan kepada orang Kristen adalah bahwa orang Kristen seharusnya tidak memiliki hak lagi atas hidupnya. Seluruh hidupnya adalah bagi Tuhan (Rm 11:36, Gal 2:19-20, Kol 3:23). Semua harus kita serahkan kepada Tuhan karena semua adalah milik Tuhan, termasuk jiwa kita pun milik Tuhan (ay. 19). Jadi penderitaan dan penistaan yang mungkin kita alami karena nama Tuhan Yesus, pasti mengajarkan kita bahwa kita sudah tidak memiliki diri kita sendiri. Tuhanlah yang memiliki diri kita. Apa lagi yang bisa kita banggakan dan pertahankan di dunia ini? Bukankah bagian kita adalah hidup bagi Tuhan dengan semaksimal mungkin sehingga nama Tuhan dipermuliakan? Biarlah kita dinista karena kebenaran, asalkan kita tidak menista Tuhan dengan segala tipu daya, penyesatan dan kemunafikan.



Bacaan Alkitab: 1 Petrus 4:12-19
4:12 Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
4:15 Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
4:16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
4:17 Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?
4:18 Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?
4:19 Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.

Sabtu, 01 Juli 2017

Penistaan di dalam Alkitab (25): Tuhan Yesus Juga Dinista



Sabtu, 1 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Lukas 23:8-12
Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. (Luk 23:11)


Penistaan di dalam Alkitab (25): Tuhan Yesus Juga Dinista


Setelah kita melihat 24 buah ayat di dalam Alkitab Perjanjian Lama mengenai penistaan, kini saatnya kita melihat ayat-ayat di Perjanjian Baru mengenai penistaan. Hanya ada 3 buah ayat yang memuat kata “nista” di dalam Perjanjian Baru, dan menariknya ayat pertama di Perjanjian Baru menceritakan penistaan yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus ketika Ia mengenakan tubuh daging di dunia ini.

Dalam Injil Lukas pasal 23, ditulis bahwa Tuhan Yesus sudah ditangkap dan sedang diperhadapkan kepada para pemimpin di Palestina pada waktu itu, yaitu Pontius Pilatus dan Raja Herodes. Ketika Herodes melihat Tuhan Yesus pada waktu itu, ia sangat girang karena memang Herodes sangat ingin melihat-Nya setelah selama ini ia banyak mendengar tentang Yesus (ay. 8a). Sebagai pemimpin negara pada waktu itu, ia tentu saja merasa berhak untuk berbincang dengan Yesus termasuk meminta Yesus menunjukkan suatu “tanda” atau mujizat di hadapannya secara langsung (ay. 8b).

Namun demikian, Tuhan Yesus tidak mau menuruti perintah Raja Herodes dan juga tidak mau menjawab pertanyaan Raja Herodes (ay. 9). Dalam Injil lainnya, tidak ada tulisan mengenai peristiwa Tuhan Yesus yang dihadapkan kepada Raja Herodes. Namun mengingat Tuhan Yesus juga tidak menjawab pertanyaan Raja Herodes, maka sangatlah wajar jika ketiga penulis Injil lainnya tidak memuat hal ini dalam Injil mereka. Pada saat Tuhan Yesus diam di hadapan Raja Herodes, maka imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Tuhan Yesus, sama seperti yang mereka lakukan di hadapan Pontius Pilatus (ay. 10).

Pada saat itu, Herodes dan pasukan-pasukannya mulai menista dan mengolok-olokkan Tuhan Yesus (ay. 11a). Dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani), kata menista menggunakan kata exouthenēsas (ἐξουθενήσας) yang berasal dari kata  dasar exoutheneó (ἐξουθενέω) yang artinya adalah “to set at naught, to ignore, to despise” (menganggap bukan apa-apa/menganggap tidak berarti, mengabaikan/menganggap rendah, menghina/menolak). Jadi kata menista dalam ayat 11 ini dapat diartikan bahwa Herodes dan para pasukannya tidak memperlakukan Tuhan Yesus secara semestinya. Tuhan Yesus yang adalah Anak Allah justru diperlakukan dengan semena-mena hanya karena Tuhan Yesus dipandang tidak menghormati Herodes.

Perlakuan nista yang diterima Tuhan Yesus antara lain dikenakan jubah kebesaran (seakan-akan menunjukkan Ia sebagai “raja” namun tertawan) sebelum Tuhan Yesus dikirim kembali kepada Pontius Pilatus (ay. 11b). Bahkan kehadiran Tuhan Yesus dikatakan membawa suatu “persahabatan” antara Herodes dan Pilatus karena sebelum itu mereka ternyata bermusuhan.

Di sini kita melihat bahwa Tuhan Yesus dalam hidup-Nya di dunia ini telah memberikan teladan yang sempurna, yang layak dan harus diteladani oleh segenap umat percaya (1 Ptr 2:21). Jadi sebagai orang Kristen, kita harus bisa mengenakan pribadi Kristus, meneladani jejak hidup-Nya dan hidup sesempurna mungkin seperti Kristus hidup. Di situ kita harus dapat memiliki prinsip hidup seperti Kristus, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34).

Jadi jika Kristus juga telah dinista padahal Ia tidak berbuat salah sama sekali, maka kita pun harus siap dinista oleh orang lain. Dengan catatan, jangan sampai kita dinista karena kita melakukan perbuatan jahat. Tetapi jika kita dinista karena kita melakukan kebenaran, karena kita hidup seperti Kristus hidup, maka kita dinista karena kebenaran atau sama dengan menderita karena kebenaran (Mat 5:10, 1 Ptr 3:17). Di situ kita akan merasakan sukacita surgawi jika kita telah meneladani hidup Tuhan kita, Yesus Kristus, yaitu dinista karena kebenaran.

Namun kita harus ingat bahwa sikap menista itu bukan sekedar mengolok-olok dan memfitnah diri kita. Jika kita dalam hidup kita tidak memperlakukan Tuhan dengan seharusnya, atau menganggap rendah Tuhan, maka itu bisa juga menjadi suatu penistaan bagi Tuhan. Bagi umat percaya, Tuhan harus menjadi nomor satu dan satu-satunya tujuan hidup kita. Selama ini kita telah sesat ketika kita merasa bahwa kita menjadikan hal lain sebagai nomor 1 dalam hidup kita. Hal itu bisa merupakan kekayaan, hormat, jabatan, dan lain sebagainya. Di sisi lain kita juga sering menduakan Tuhan ketika Tuhan memang tetap menjadi nomor 1 tetapi ada hal lain yang bisa membahagiakan kita selain Tuhan. Itu sama saja dengan menista Tuhan (exoutheneó). Oleh karena itu, bagi umat Perjanjian Baru, kita harus rela dinista karena kebenaran atau karena nama Tuhan, dan di sisi lain kita harus menjaga diri kita supaya tidak sampai menista (exoutheneó) nama Tuhan dengan sikap kita yang tidak menghargai Tuhan dengan sepantasnya.



Bacaan Alkitab: Lukas 23:8-12
23:8 Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, lagipula ia mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda.
23:9 Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apa pun.
23:10 Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia.
23:11 Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia, ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus.
23:12 Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.