Minggu, 09 Juli 2017

Pesan kepada Ketujuh Jemaat di Kitab Wahyu: (2) Tuhan Tahu tentang Kita



Senin, 10 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:2-3
Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. (Why 2:2)


Pesan kepada Ketujuh Jemaat di Kitab Wahyu: (2) Tuhan Tahu tentang Kita


Bagian kedua dari pesan Tuhan kepada ketujuh jemaat di kitab Wahyu adalah pernyataan bahwa Tuhan tahu mengenai kita, yaitu apa yang kita lakukan dan segala pekerjaan kita (ay. 2a). Dalam ayat-ayat lainnya kepada keenam jemaat lainnya, kita bisa mengerti bahwa kalimat “Aku tahu” yang dikatakan oleh Tuhan sendiri itu terkait dengan pekerjaan kita (ada 5 ayat: Why 2:2, 2:19, 3:1, 3:8a, 3:15), terkait dengan kesusahan dan kemiskinan kita (ada 1 ayat: Why 2:9), terkait dengan tempat kita diam (ada 1 ayat: Why 2:13), serta terkait dengan kekuatan kita (ada 1 ayat: Why 3:8b).

Kebanyakan kata “Aku tahu” dalam pesan Tuhan kepada ketujuh jemaat ini berbicara mengenai pekerjaan kita. Tentu dalam hal ini bukan sekedar pekerjaan jasmani kita di kantor atau usaha kita dalam rangka mencari nafkah, tetapi lebih kepada pekerjaan yang dilakukan oleh jemaat dalam rangka melayani Tuhan. Di situ kita harus sadar bahwa segala sesuatu tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Tuhan tahu apa yang ada di dalam hati kita dan yang menjadi motivasi kita ketika kita melakukan pelayanan. Tuhan tahu segala sesuatunya. Dan betapa berbahayanya jika selama ini masih ada jemaat Tuhan (bahkan pelayan Tuhan) yang berpikir bahwa ia bisa “menyembunyikan” sesuatu dari hadapan Tuhan.

Ingat bahwa Tuhan tahu segala pekerjaan kita, yaitu segala jerih payah kita maupun ketekunan kita (hal yang positif) (ay. 2b). Di ayat-ayat lain sebagaimana telah disebutkan di atas, dikatakan pula bahwa Tuhan tahu segala hal negatif yang juga kita lakukan, misalnya jemaat Sardis yang merasa sedang hidup (melayani Tuhan) padahal sebenarnya mereka mati (Why 3:1), atau jemaat Laodikia yang ternyata nilai pekerjaannya adalah suam-suam kuku, yaitu tidak dingin dan tidak panas (Why 3:16). Tuhan tahu segala sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif. Di situ kita harus sadar bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya dan kita harus dengan rendah hati mau menerima Firman-Nya.

Kepada jemaat di Efesus (karena bagian bacaan kita hari ini mengambil contoh jemaat di Efesus), Tuhan berkata bahwa pekerjaan mereka sudah bagus, yaitu mereka tidak dapat sabar kepada orang jahat, dan bahkan berani “mencobai” rasul-rasul palsu, dapat mengidentifikasi orang-orang yang menjadi “pendusta” di antara jemaat (ay. 2c), tetap sabar dan menderita oleh karena nama Tuhan, serta tidak mengenal lelah bekerja bagi Tuhan (ay. 3). Ini adalah pujian yang tulus dari Tuhan atas apa yang jemaat Efesus lakukan. Di mata orang pada umumnya, apa yang jemaat Efesus lakukan pasti tidak nampak atau terlihat secara jelas. Namun Tuhan mampu membedakan mana pekerjaan baik yang dilakukan oleh seseorang sekalipun orang lain tidak mengetahuinya. Sebaliknya, kita harus ingat juga bahwa Tuhan juga mampu membedakan mana pekerjaan jahat meskipun di mata orang lain kita seakan-akan sedang melakukan pekerjaan yang baik.

Di sini saya belajar bahwa kita tidak boleh munafik di hadapan Tuhan. Kita juga tidak boleh mencoba mencari pujian dari manusia dengan cara-cara yang melawan kebenaran. Kita harus lebih memburu perkenanan dan kesukaan Tuhan daripada perkenanan dan kesukaan manusia (Gal 1:10). Jangan mempertaruhkan kekekalan hanya pada pujian manusia, karena suatu saat nanti, pada hari penghakiman nanti, hanya perkenanan Tuhan yang mampu menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal. Di situ akan terbukti mana orang-orang (termasuk mereka yang mengaku sebagai hamba Tuhan) yang selama ini hanya mencari perkenanan manusia, dan mana orang-orang yang sungguh-sungguh bekerja keras mencari perkenanan Tuhan.



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:2-3
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.

Sabtu, 08 Juli 2017

Pesan kepada Ketujuh Jemaat di Kitab Wahyu: (1) Sumber Firman yang Benar



Minggu, 9 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:1
Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. (Why 2:1)


Pesan kepada Ketujuh Jemaat di Kitab Wahyu: (1) Sumber Firman yang Benar


Mulai hari ini kita akan belajar mengenai pesan kepada Tuhan kepada ketujuh jemaat yang termuat di kitab Wahyu, yaitu Wahyu pasal 2 dan 3. Saat ini kita tidak akan membahas satu per satu apa yang dikatakan oleh Tuhan kepada tiap-tiap jemaat, tetapi akan melihat gambaran umum mengenai hal-hal apa saja yang ada di tiap-tiap pesan kepada jemaat tersebut. Untuk itu selama beberapa hari ke depan mungkin renungan ini hanya akan mengambil 1 ayat untuk bagian bacaan Alkitab pada hari itu.

Pesan kepada ketujuh jemaat di kitab Wahyu (Efesus, Pergamus, Smirna, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia) dimulai dari sumber pesan tersebut, yaitu sumber Firman kepada ketujuh jemaat tersebut. Menarik bahwa jemaat-jemaat yang disebutkan dalam Wahyu pasal 2 dan 3  tidak ada yang berada di Israel, melainkan tersebar di daerah Asia Kecil. Tidak ada surat atau pesan kepada jemaat di Yerusalem maupun Antiokhia, atau Roma. Namun saya berpendapat bahwa ketujuh jemaat tersebut sudah mewakili jenis-jenis jemaat Tuhan yang ada di dunia ini.

Satu hal yang harus kita perhatikan adalah ayat pertama dari setiap pesan, dimana hal tersebut menunjukkan sosok dari “sumber pesan” atau “sumber Firman” tersebut. Tentu kita tahu bahwa yang menulis sumber Firman adalah Tuhan Yesus sendiri, tetapi kita akan memperhatikan bahwa dalam setiap jemaat, Tuhan Yesus memiliki “peran” atau “sebutan” yang berbeda-beda, yaitu: a) “Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu” (Why 2:1); b) “Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali” (Why 2:8); c) “Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua” (Why 2:12); d) “Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga” (Why 2:18); e) 3:1 "Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu” (Why 3:1); f) “Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud” (Why 3:7); dan g) “Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah” (Why 3:14).

Dari ketujuh ayat di atas saja kita dapat banyak belajar siapakah Tuhan Yesus itu. Dia adalah Anak Allah, Dia adalah Alfa dan Omega (Yang Awal dan Yang Akhir), Dia adalah Mesias yang telah  mati dan hidup kembali, Dia adalah Yang Kudus dan Yang Benar, Dia adalah Amin untuk setiap janji Tuhan, dan lain sebagainya. Kita tidak mungkin membedah setiap ayat tersebut tetapi kita dapat belajar bahwa Tuhan Yesus benar-benar adalah Mesias dan Juruselamat. Di situ kita harus semakin menghormati Tuhan Yesus dan percaya (bahkan harus percaya total) kepada-Nya. Bersyukurlah kita mengenal Tuhan Yesus dengan benar sehingga kita boleh percaya kepada-Nya.

Dalam sejumlah pemberitaan Firman, Tuhan Yesus sering dilukiskan sebagai pribadi yang sangat ramah, penuh kasih, dan pengampun. Hal tersebut memang tidaklah salah. Injil banyak memuat tentang tindakan Tuhan Yesus yang mengasihi orang lain dan menyembuhkan mereka yang sakit. Di masa Natal, kita juga sering mendengar Firman mengenai bayi Tuhan Yesus yang lahir di palungan. Namun, di kitab Wahyu ini kita belajar bahwa Tuhan Yesus suatu saat nanti tidak akan datang sebagai “bayi kecil”, atau sebagai “nabi yang penuh kasih”, namun akan datang sebagai seorang hakim yang adil. Dalam pesan kepada jemaat Smirna dan Tiatira, Tuhan Yesus digambarkan sebagai sosok yang memegang pedang bermata dua serta memiliki nyala api dan kaki tembaga. Tentu hal ini akan kita bahas lebih lanjut ketika kita membahas mengenai apa yang dilakukan oleh masing-masing jemaat.  Namun demikian, satu hal yang harus kita pahami adalah bahwa pesan kepada ketujuh jemaat adalah dari Tuhan Yesus sendiri, yaitu Dia yang akan datang kembali suatu saat nanti untuk menghakimi semua manusia. Jika hari itu datang, sudah siapkah kita bertemu dengan-Nya? Apakah yang akan Tuhan katakan kepada kita, dan apakah jawaban kita kepada-Nya?



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:1
2:1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.

Jumat, 07 Juli 2017

Menghadapi Pertanyaan yang Menjebak


Sabtu, 8 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Yohanes 8:1-11
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (Yoh 8:6)


Menghadapi Pertanyaan yang Menjebak


Sejak saya masih kecil, saya sudah cukup sering membaca kisah mengenai perempuan yang berzinah di dalam Injil Yohanes pasal 8 ini. Namun demikian ketika beberapa hari lalu membaca lagi perikop ini, saya mulai dibukakan Tuhan mengenai kebenaran yang ada di dalam kisah ini, dan itulah yang akan saya bagikan dalam renungan hari ini.

Alkitab menulis bahwa Tuhan Yesus pergi ke bukit Zaitun (pada malam harinya), dan pada pagi-pagi benar Ia sudah berada lagi di Bait Allah (ay. 1-2a). Saya tidak tahu mengapa Tuhan Yesus tidak menginap saja di Bait Allah, tetapi kita bisa melihat dedikasi Tuhan Yesus untuk sudah berada di Bait Allah pada waktu pagi-pagi benar. Saat itu banyak rakyat yang datang kepada Tuhan Yesus untuk diajar oleh-Nya (ay. 2).

Para ahli Taurat dan orang Farisi tentu paham dengan kebiasaan Tuhan Yesus setiap harinya. Mereka pasti mengamat-amati apa yang dilakukan Tuhan Yesus supaya mereka dapat menyalahkannya dari perkataan yang Ia ucapkan. Adalah suatu kebanggaan jika mereka dapat menjerat Tuhan Yesus di hadapan orang banyak yang sedang diajar oleh-Nya. Oleh karena itu, mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah (ay. 3).

Perlu dipahami bahwa pada masa itu, bangsa Yahudi sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Sebenarnya, bangsa Yahudi memiliki Hukum Taurat yang lengkap, yang memuat aturan-aturan ibadah kepada Tuhan (Yahweh) dan juga aturan hidup bermasyarakat kepada sesama manusia. Dahulu, ketika bangsa Yahudi merdeka, mereka dapat dengan mudah melakukan seluruh hukum Taurat dengan bebas. Namun ketika mereka ditaklukkan dan dijajah oleh bangsa Romawi, maka mereka pun tidak bisa sesukanya menerapkan hukum Taurat khususnya dalam aturan-aturan bermasyarakat (misalnya: anak yang mengutuki orang tuanya akan langsung dihukum mati, atau orang yang memukul orang lain hingga buta maka berlaku prinsip “mata ganti mata”). Aturan-aturan bermasyarakat sesuai Hukum Taurat ini tidak bisa diterapkan secara total saat itu karena bangsa Romawi juga sudah memiliki hukum dan aturan-aturan mereka sendiri, yang mau tidak mau harus diterapkan di seluruh wilayah Romawi termasuk di Palestina (Yerusalem). Terkait aturan mengenai perzinahan, kemungkinan besar pada waktu itu bangsa Romawi cukup “toleran” mengenai perzinahan karena kehidupan seksual di bangsa Romawi cukup bejat, sehingga perzinahan sangat mungkin tidak bisa dianggap sebagai suatu kejahatan yang pantas menerima hukuman mati oleh bangsa Romawi.

Sehingga dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi adalah upaya untuk menjebak Yesus, karena mereka seakan-akan menggiring bahwa perempuan tersebut telah tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah dan Hukum Taurat memerintahkan mereka (bangsa Yahudi) untuk melempari perempuan seperti itu (ay. 4-5a). Jadi mereka pun bertanya kepada Tuhan Yesus: “Apa pendapat Tuhan tentang hal itu?” (ay. 5b). Jelas bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi sedang berusaha untuk menjebak Tuhan Yesus di hadapan orang banyak. Mereka berpikir jika Tuhan menjawab: “Ayo lempari”, maka pasukan Romawi pasti langsung menangkap Tuhan Yesus karena Ia dianggap menentang hukum Romawi. Sebaliknya jika Tuhan menjawab: “Jangan lempari”, maka Ia akan dianggap sebagai penentang agama Yahudi dan dianggap pro penjajah Romawi.

Para ahli Taurat dan orang Farisi menganggap pertanyaan mereka tersebut sudah sangat cerdik dan licik sehingga pasti membuat Tuhan Yesus dapat dipersalahkan dari ucapan-Nya (ay. 6a). Tetapi Alkitab menulis bahwa Tuhan Yesus kemudian membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah (ay. 6b). Kita tidak tahu apa yang Ia tulis di tanah, tetapi ketika para ahli Taurat dan orang Farisi terus-menerus bertanya kepada-Nya dan membuat suasana semakin panas, sementara orang banyak yang tadinya sedang mendengar ajaran Tuhan Yesus kini dibuat menunggu jawaban Tuhan Yesus terhadap pertanyaan para ahli Taurat dan orang Farisi. Bisa dibayangkan, kondisi saat itu cukup menegangkan, terlebih bagi perempuan yang tertangkap basah tersebut. Perempuan tersebut bisa segera mati dilempari batu jika Tuhan Yesus berkata “Ayo lempari”. Ia juga belum tentu selamat jika Tuhan berkata “Jangan lempari”, karena bisa saja nanti setelah Tuhan Yesus ditangkap oleh pasukan Romawi, ia juga akan menerima hukuman dari para ahli Taurat dan orang Farisi. Ingat bahwa walaupun hukum Romawi cukup ketat, namun Stefanus saja bisa tetap mati dirajam (dilempari batu) oleh orang-orang Yahudi tanpa ada pasukan Romawi yang menghentikannya.

Oleh karena itu, menarik melihat jawaban Tuhan Yesus yang sangat bijaksana: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (ay. 7), dan setelah berkata itu, Tuhan Yesus kembali membungkuk dan menulis di tanah (ay. 8). Jawaban tersebut membuat Tuhan Yesus tidak menganulir Hukum Taurat, tetapi juga tidak secara langsung menyuruh mereka melempari perempuan tersebut. Artinya Hukum Taurat (melempari orang yang berzinah) boleh dilakukan asal yang melempari adalah mereka yang sudah melakukan 100% Hukum Taurat dengan sempurna. Perkataan Tuhan Yesus ini semacam tamparan yang membuat para ahli Taurat dan orang Farisi harus bercermin, apakah mereka sudah melakukan Hukum Taurat dengan sempurna. Jika mereka saja masih “bolong-bolong” melakukan Hukum Taurat, maka ketika mereka ingin merajam perempuan yang berzinah, maka mereka pun juga harus siap menerima hukuman atas “kelalaian” mereka melakukan Hukum Taurat dengan sempurna. Sangat mungkin para ahli Taurat dan orang Farisi tersebut menjadi malu di depan orang banyak yang sedang mendengarkan ajaran Tuhan Yesus. Jika sampai ada dari para ahli Taurat dan orang Farisi yang mulai melemparkan batu, pastilah seluruh orang banyak itu akan melihat hidup orang yang melempar batu tersebut, apakah sudah sempurna melakukan hukum Taurat atau belum.

Alkitab mencatat bahwa setelah ucapan Tuhan Yesus tersebut, maka satu per satu para ahli Taurat dan orang Farisi yang membawa perempuan tersebut berangsur-angsur mundur, mulai dari yang tertua, hingga akhirnya perempuan tersebut hanya seorang diri (ay. 9). Lalu Tuhan Yesus berdiri dan berkata kepada perempuan tersebut: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" (ay. 10).  Perempuan tersebut menjawab (mungkin dengan nada gemetar dan masih disertai ketakutan): "Tidak ada, Tuhan." (ay. 11a).

Tuhan bisa saja “hanya” menyuruh perempuan tersebut pulang karena Ia juga tidak menghukum mati perempuan tersebut. Tetapi Tuhan ingin agar perempuan tersebut juga mengalami pertobatan, sehingga ucapan Tuhan Yesus adalah: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (ay. 11b). Di sini Tuhan Yesus memberikan teladan bahwa sebagai pemimpin tidak hanya dilakukan dengan mengajarkan Teologi, atau berjuang menegakkan hukum dan syariat sesuai Kitab Suci semata. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa yang lebih penting lagi adalah pertobatan dari mereka yang berdosa. Tuhan ingin agar sebanyak-banyaknya manusia dapat diselamatkan, sehingga Tuhan Yesus pun mengampuni perempuan yang berzinah tersebut, dan memberikannya pesan pertobatan. Seharusnya perempuan tersebut benar-benar bertobat dari dosanya. Jika tidak, maka ia telah menyia-nyiakan anugerah Allah yang besar atas dirinya.

Hari ini kita belajar bagaimana menghadapi pertanyaan yang menjebak. Salah satu prinsipnya adalah kita harus mengerti kehendak Tuhan dan jangan terburu-buru dengan perkataan lidah kita. Kita harus dapat membaca ke mana arah pertanyaan tersebut supaya jangan kita dipersalahkan karena ucapan kita. Mintalah hikmat dari Roh Kudus supaya jawaban kita bisa menjadi jawaban yang bijaksana dan justru membawa pertobatan bagi orang lain.





Bacaan Alkitab: Yohanes 8:1-11
8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Mengerti Hati Seseorang dari Raut Mukanya


Jumat, 7 Juli 2017
Bacaan Alkitab: Kejadian 31:1­-7
Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya. (Kej 31:2)


Mengerti Hati Seseorang dari Raut Mukanya


Yakub adalah seorang yang cerdik namun pada masa mudanya ia cenderung licik. Ia sudah berkali-kali menghadapi banyak jenis orang dan juga beberapa kali berhasil “menipu” orang-orang tersebut demi keuntungan dirinya sendiri. Ia pernah menipu Ishak, ayahnya, dan membuat Esau, kakaknya, menjadi marah. Namun apa yang ia tabur ternyata pada akhirnya ia tuai kembali. Ketika ia tinggal di rumah Laban, ia juga mengalami “penipuan” antara lain ketika ingin menikahi Rahel tetapi justru diberikan Lea. 

Yakub yang bekerja kepada Laban untuk memperoleh istri-istrinya, ternyata lambat laun Laban menjadi iri akan apa yang dilakukan oleh Yakub (karena Allah menyertai dirinya). Laban iri karena Yakub, menantunya, telah memperoleh banyak harta dan banyak ternak. Terlebih anak-anak Laban (saudara ipar Yakub) terdengar berkata bahwa Yakub telah mengambil segala harta milik Laban dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya (ay. 1). Hal tersebut juga ternyata dirasakan Yakub karena ia melihat raut muka Laban, bahwa laban sudah tidak lagi seperti yang sebelumnya, artinya ada perubahan dari sikap dan raut muka Laban terhadap Yakub (ay. 2).

Terkait dengan kondisi itu, Tuhan pun berfirman kepada Yakub agar ia pulang ke tanah Kanaan, tempat nenek moyangnya (Abraham dan Ishak) tinggal (ay. 3). Selanjutnya Yakub pun taat kepada suara Tuhan dan memanggil istri-istrinya (Rahel dan Lea) untuk datang ke padang tempat Yakub biasa menggembalakan domba-dombanya (ay. 4). Yakub pun menyampaikan apa yang menjadi pertimbangannya kepada istri-istrinya, yaitu bahwa dari raut muka Laban, ada perubahan sikap Laban kepada Yakub sehingga sikap Laban tidak lagi seperti yang dahulu (ay. 5a). Oleh karena itu Yakub tentu berpikir untuk pergi meninggalkan Laban. Namun demikian, Yakub terlebih dahulu mendiskusikannya dengan istri-istrinya.

Yakub menjelaskan bahwa selama ini ia telah bekerja sekuat-kuatnya (artinya dengan sungguh-sungguh, serius, dan bekerja keras) kepada Laban yang adalah ayah dari Rahel dan Lea (ay. 6). Namun demikian, ternyata Laban menjadi iri dan berbuat tindakan yang merugikan Yakub. Dikatakan bahwa Laban telah 10 kali mengubah upah Yakub (ay. 7a). Ini mungkin saja adalah hasil tuaian dari apa yang ditabur Yakub. Namun demikian, dalam hal ini, walaupun Yakub dirugikan dan diperlakukan tidak adil, Tuhan menjaga Yakub sehingga Laban tidak sampai berbuat jahat dan membahayakan diri Yakub (ay. 7b).

Di situ Yakub semakin yakin bahwa Tuhan menyertai dirinya seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya (ay. 5b). Oleh karena itu jika kita membaca kelanjutan kisah ini, kita akan melihat bagaimana Yakub mantap untuk membawa anak istrinya beserta segala miliknya dan meninggalkan Laban menuju kepada tanah Kanaan. Ia melihat bahwa masa depannya sudah bukan lagi di rumah Laban karena adanya perubahan sikap Laban yang terlihat dari raut mukanya. Alkitab mencatat bahwa tindakan Yakub kembali ke tanah Kanaan itu adalah suatu hal yang benar karena tidak hanya didasarkan pada analisis psikologis dan emosi sesaat semata, tetapi juga karena sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan bagi dirinya.

Apakah ada di antara kita saat ini yang sedang menghadapi kondisi yang sama seperti yang Yakub alami? Mungkinkah raut muka pemimpin dan atasan kita berubah terhadap kita? Jika ya, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada Tuhan mengenai apa yang harus kita lakukan. Ada 2 kemungkinan besar, yaitu: 1) tetap bertahan di situ dengan tetap memegang teguh integritas dan kebenaran, atau 2) mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan dia dan menuju ke tempat yang baru sesuai yang Tuhan tunjukkan. Dalam hal ini penting bagi kita untuk sungguh-sungguh belajar mencari tahu kehendak Tuhan hingga benar-benar mendengar suara Tuhan bagi kita. Di situ kita tidak akan salah melangkah. Namun jika kita mengedepankan emosi saat mengambil keputusan, kemungkinan besar keputusan yang kita ambil saat emosi sesaat adalah keputusan yang salah.



Bacaan Alkitab: Kejadian 31:1­-7
31:1 Kedengaranlah kepada Yakub anak-anak Laban berkata demikian: "Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya."
31:2 Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya.
31:3 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: "Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau."
31:4 Sesudah itu Yakub menyuruh memanggil Rahel dan Lea untuk datang ke padang, ke tempat kambing dombanya,
31:5 lalu ia berkata kepada mereka: "Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku.
31:6 Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu.
31:7 Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku.