Selasa, 08 Agustus 2017

Nasehat dari Maksud yang Tidak Murni



Selasa, 8 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 2:3-6
Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya (1 Tes 2:3)


Nasehat dari Maksud yang Tidak Murni


Suatu hari seorang ibu (sebut saja ibu A) datang dan bercerita kepada saya. Ia punya seorang anak perempuan yang saat ini sedang berpacaran dengan seorang laki-laki non Kristen. Suatu saat, ada seorang ibu lain (sebut saja ibu B) yang datang kepada ibu A lalu berkata kepadanya: “Bu, kapan mantu? Kan anak perempuan ibu sudah punya calon, mbok ya segera dinikahkan saja”. Mendengar hal itu, ibu A datang dan bertanya kepada saya, mengapa kok ibu B bisa memberikan nasehat seperti itu, padahal ibu A saja sedang berjuang untuk meyakinkan anaknya supaya tidak menikah dengan orang yang beda agama. 

Saya kemudian mencoba mencerna mengapa ibu B sampai memberikan nasehat seperti itu. Ternyata, ibu B ini pernah punya masalah dalam keluarganya, yaitu anak laki-lakinya menghamili seorang janda (sama-sama jemaat di gereja yang sama) dan terpaksa dinikahkan karena hamil duluan. Persoalan lebih lanjut karena keluarga ibu B ini mempunyai posisi yang cukup tinggi di dalam gereja (dan permasalahan anak si ibu B ini membuat jemaat cukup goncang bahkan menjadi pergunjingan di masyarakat sekitar gereja). Mengetahui hal tersebut, saya menjadi yakin bahwa ibu B ini memberikan nasehat kepada ibu A dengan maksud yang tidak murni atau tidak tulus. Ibu B menyarankan ibu A untuk menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang beda agama tersebut supaya posisi ibu A tidak terlalu malu dan ada alasan untuk berkata “Tuh kan, walaupun anakku menikah karena menghamili janda, yang penting ia nikah sama sesama orang Kristen. Tapi anaknya ibu B tuh, menikah kok sama orang non Kristen. Kelihatan kan kalau anakku jauh lebih baik daripada anaknya ibu B?”. Jadi ibu B memberikan saran atau nasehat yang licik kepada ibu A supaya posisi ibu B tidak menjadi yang paling buruk di pandangan masyarakat dan jemaat.

Saya tidak habis pikir bahwa saya sendiri bisa mendengar nasehat yang seperti itu. Paulus sendiri dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika berkata bahwa nasihat mereka tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya (ay. 3). Paulus tentu memberikan banyak nasehat kepada jemaat Tesalonika (dan juga kepada jemaat-jemaat yang lain). Akan tetapi jelas bahwa nasehat Paulus tidak pernah lahir dari pikiran yang sesat atau dari maksud yang tidak murni. Nasehat Paulus juga tidak disertai dengan tipu daya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Paulus memberikan nasehat dengan tulus, dengan maksud yang murni dan lahir dari kebenaran. Paulus hanya ingin jemaat dan umat percaya hidup dalam pemahaman Injil yang benar, yang mengubah pola pikir mereka sehingga memiliki pola pikir Kristus (Flp 2:5-7). Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya sadar bahwa Allah telah mempercayakan Injil kepada mereka, sehingga mereka harus berbicara dan menyuarakan Injil bukan hanya untuk menyukakan manusia, tetapi untuk menyukakan Allah yang tidak bisa dibohongi (ay. 4). Ingat bahwa Allah sanggup melihat hati kita yang paling dalam, sehingga yang terpenting di hadapan Allah adalah motivasi batin kita dalam melakukan sesuatu. Jika kita memberi nasehat, apakah motivasi kita di balik nasehat itu benar? Jika kita memberitakan Firman Tuhan, apakah motivasi kita di balik pemberitaan Firman Tuhan itu sudah benar? Hal itulah yang harus kita pergumulkan dan perkarakan di hadapan Tuhan.

Paulus selanjutnya berkata bahwa ia sama sekali tidak pernah bermulut manis (ay. 5a). Paulus tidak pernah memberi nasehat atau memberitakan Firman hanya dengan mulut manis supaya perkataannya enak didengar di telinga orang lain. Paulus lebih suka menyampaikan kebenaran dengan keras walaupun memiliki konsekuensi pahit untuk didengar. Nyatanya, banyak nasehat yang benar adalah nasehat yang keras di telinga. Justru kebanyakan nasehat yang manis itu adalah nasehat yang “menipu” karena menjanjikan suatu kenyamanan tetapi tidak akan menyelesaikan masalah.

Paulus juga berkata bahwa ia tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi (ay. 5b). Artinya adalah dalam memberikan nasehat ataupun perkataan Firman, tidak ada maksud dari Paulus untuk kepentingan dirinya sendiri. Semua nasehat dan Firman yang disampaikan hanya supaya manusia mengerti kehendak Allah dan mau berjuang untuk hidup benar di hadapan-Nya. Paulus tidak pernah berkata: “Berikanlah persembahanmu dengan limpah kepada kami supaya nanti kami mendoakan jemaat agar semakin diberkati dengan limpah”. Paulus tidak pernah memiliki maksud untuk mencari keuntungan pribadi melalui nasehat dan perkataan Firman yang disampaikan. Hal ini ditekankan Paulus bahwa Allah akan menjadi saksi apabila Paulus memiliki maksud loba yang tersembunyi, dan hal itu akan bisa membuat seorang hamba Tuhan atau pelayan Tuhan ditolak oleh Tuhan sendiri pada hari penghakiman nanti (Mat  7:21-23).

Selanjutnya, Paulus juga menekankan bahwa dalam segala pelayanannya, ia tidak pernah mencari pujian dari manusia (ay. 6). Paulus sadar bahwa yang terpenting bukanlah pujian dari manusia atau penerimaan dari manusia. Yang terpenting adalah perkenanan Tuhan dan bukan perkenanan manusia (Gal 1:10). Paulus melakukan apapun dengan harapan agar apa yang ia lakukan dapat berkenan di hadapan-Nya. Tidak masalah jika manusia menolak atau mencibir dirinya. Tidak masalah jika jemaat tidak mau memuji dirinya, yang terpenting adalah pada hari penghakiman nanti, Tuhan akan memuji dirinya sebagai seorang hamba yang baik dan setia (Mat 25:21)

Kembali ke cerita saya di atas, seringkali kita mendapatkan masukan atau nasehat dari orang lain. Tidak semua nasehat dari sesama orang Kristen (atau bahkan dari hamba Tuhan atau pendeta) adalah nasehat yang benar. Tidak semua nasehat dari orang non-Kristen adalah nasehat yang buruk. Kita sendiri yang harus belajar untuk menjadi cerdas, sehingga kita bisa membedakan mana nasehat yang lahir dari kebenaran atau yang lahir dari kesesatan; mana nasehat yang lahir dari maksud yang murni atau yang lahir maksud yang tidak murni; dan mana nasehat yang lahir dari ketulusan atau yang lahir dari tipu daya.

Selanjutnya, kita juga harus belajar untuk bisa memberikan nasehat dengan benar kepada orang lain yang membutuhkan. Kita harus belajar supaya perkataan kita adalah perkataan yang dapat membangun orang lain. Jaga lidah kita supaya kata-kata kita tidak hambar tetapi dapat menjadi berkat bagi orang lain. Jaga hati dan pikiran kita supaya kita dapat memberikan nasehat tanpa maksud loba yang tersembunyi, tanpa mulut manis, dan tanpa mengharapkan pujian dari manusia. Belajarlah seperti Paulus yang memiliki motivasi yang murni dalam melakukan apapun, supaya suatu saat kita dapat dipandang Tuhan sebagai hamba-Nya yang baik dan setia, dan bukan hamba dosa yang sering mengajarkan kesesatan.



Bacaan Alkitab: 1 Tesalonika 2:3-6
2:3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.
2:4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.
2:5 Karena kami tidak pernah bermulut manis -- hal itu kamu ketahui -- dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi -- Allah adalah saksi --
2:6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.

Kamis, 03 Agustus 2017

Mengasihi Musuh dengan Benar



Jumat, 4 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Matius 5:38-48
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Mat 5:44)


Mengasihi Musuh dengan Benar


Suatu hari ketika saya tidur, tiba-tiba sekitar tengah malam saya terbangun karena tenggorokan saya terasa sangat sakit. Sakitnya luar biasa padahal seingat saya, sebelumnya saya tidak makan/minum yang aneh-aneh. Pada saat itu, saya sempat ke kamar mandi dan kembali ke tempat tidur, namun rasa sakit di tenggorokan saya benar-benar sangat sakit hingga saya sempat berpikir, bahwa mungkin saja saya akan mati pada malam itu. Saya mencoba untuk tidur namun belum bisa karena rasa sakit tersebut. Di tengah-tengah kondisi antara terjaga dan tidur, pikiran saya mengembara kemana-mana, sampai saya berpikir apakah sakit saya ini karena saya sedang diserang dengan kuasa gelap.

Pada waktu itu saya percaya bahwa Tuhan pasti melindungi anak-anak-Nya dari kuasa gelap. Namun tidak  menutup kemungkinan Tuhan membuka pagar perlindungan-Nya seperti yang dilakukan-Nya kepada Ayub. Di dalam rasa sakit yang luar biasa, seperti ada pikiran dalam diri saya bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang saya kenal, yaitu seorang Kristen juga yang juga sudah melayani di gereja. Saya sempat menepis pikiran tersebut dan berkata bahwa “Ah masa iya seorang pelayan gereja masih main hal-hal seperti ini”, tetapi pikiran saya yang lain juga berpikir “Tidak semua orang Kristen bahkan pelayan Tuhan juga orang benar, bisa saja ia melakukan hal ini karena iri atau dendam kepada saya”.

Saat itu saya tidak tahu apakah saya sedang bermimpi atau tidak, tetapi saya ingat bahwa pada saat itu saya sempat berkata kepada Tuhan begini: “Tuhan, aku tahu Engkau selalu melindungi aku, sehingga tidak ada kuasa kegelapan yang bisa mempan terhadap aku. Namun demikian, andaikan benar Engkau telah mengangkat pagar perlindungan-Mu, dan siapapun yang melakukan hal ini, bahkan jika orang Kristen tersebut (menunjuk ke orang yang sempat saya pikirkan itu) yang melakukan, dan saya harus sampai mati karena hal ini, maka saat ini aku berkata kepada-Mu: ‘Aku mengampuni orang itu, karena ia tidak tahu apa yang ia lakukan itu salah’”. Saat itu rasanya saya mengucapkan kalimat pengampunan tersebut dengan begitu tulus dan saya bahkan sudah siap dan pasrah untuk mati. Akan tetapi Tuhan berkendak lain, dan saya bisa tertidur dan bangun di pagi harinya dengan kondisi yang jauh lebih baik. Saya merasa bahwa ucapan saya itu bukan ucapan dalam mimpi (karena saya tipe orang yang jarang mengingat mimpi, walaupun mimpi itu baru terjadi). Ketika saya merenungkan hal ini beberapa waktu kemudian, jelas bahwa saya sedang diajar Tuhan apakah saya bisa mengampuni orang lain dengan tulus.

Cerita di atas adalah pengalaman saya pribadi yang tentunya sangatlah subyektif. Namun demikian, saya ingin membagikan renungan mengenai hal ini, yaitu bagaimana cara mengasihi musuh dengan tulus. Perlu dipahami bahwa konteks Matius pasal 5-7 merupakan ucapan Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya dimana pada waktu itu tentu ajaran Tuhan Yesus pasti ditentang habis-habisan oleh pihak penguasa (antara lain para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi). Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajar dengan mengambil contoh mengenai beberapa hal antara lain mengenai membunuh, berzinah, dan juga ketika berhadapan dengan orang-orang yang memusuhi (yaitu yang akan kita pelajari hari ini).

Orang-orang yang mengikuti Tuhan Yesus pada waktu itu tentu saja sudah tahu mengenai hukum Taurat, yang mengajarkan antara lain: mata ganti mata dan gigi ganti gigi (ay. 38). Ini adalah sesuatu hal yang wajar, karena manusia memiliki naluri untuk membalas. Namun demikian Tuhan Yesus mengajarkan bahwa para pengikutnya harus bisa sampai pada level yang lebih tinggi lagi, yaitu sampai mengampuni musuh kita. Jadi dalam hal ini kita harus bisa sampai tidak melawan mereka yang berbuat jahat kepada kita (ay. 39a), tidak membalas orang yang menampar pipi kita (ay. 39b), bersedia menyerahkan apapun bagi kepentingan Tuhan (ay. 40), dan tidak mengeluh atas penderitaan (ay. 41).

Tentu kita harus mengerti bahwa konteks ini adalah penderitaan yang harus dialami (dan akan dialami) oleh para pengikut Kristus di abad mula-mula (yaitu jemaat mula-mula). Mereka mengalami aniaya yang hebat, dan di situ mereka diajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan untuk menunjukkan kasih Kristus dalam diri mereka. Dalam hal ini kita tidak boleh mengambil mentah-mentah ayat 39 ini semisal ada orang yang mau mencuri motor kita lalu kita berikan juga mobil kita. Kita harus peka terhadap suara Tuhan. Ada kalanya kita disuruh untuk diam dan mengalah, tetapi ada kalanya juga Tuhan memerintahkan kita untuk membela pekerjaan dan kepentingan-Nya (Ingat, membela kepentingan Tuhan bukan kepentingan kita sendiri). Oleh karena itu sangatlah wajar jika dalam 10 Hukum tertulis “Jangan membunuh” tetapi di peristiwa lain Tuhan juga memerintahkan bangsa Israel menyerang musuh-Nya dan harus membunuh mereka. Di sini kita harus belajar agar kita dapat peka terhadap suara Tuhan.

Namun yang lebih penting lagi adalah kita harus bisa untuk menghilangkan naluri membalas sehingga kita dapat mengampuni dan mengasihi orang-orang yang memusuhi kita (ay. 44). Inilah perbedaan antara kita sebagai umat Perjanjian Baru dan mereka yang hidup dengan standar Perjanijan Lama, dimana mereka hanya mengasihi sesama mereka namun mereka sangat kejam terhadap orang-orang yang berbeda dengan mereka (dianggap sebagai musuh) (ay. 43). Hal ini karena status kita sebagai anak-anak Allah yang harus bisa memancarkan kasih Allah kepada semua orang (termasuk kepada mereka yang memusuhi kita) (ay. 45). Umat percaya di Perjanjian Baru tidak hanya dipanggil untuk menjadi orang yang baik, tetapi harus sampai kepada level sempurna sama seperti Bapa di surga juga sempurna (ay. 48).

Oleh karena itu kita harus belajar menanggalkan naluri kemanusiaan kita yang tidak sesuai dengan standar kesempurnaan Allah. Kita harus berjuang untuk mencapai standar Allah sendiri, yaitu kasih tanpa syarat. Dalam hal ini, kita tentu tidak selalu mengalah, atau memberi pinjaman tanpa syarat kepada orang yang datang kepada kita (ay. 42). Tetapi kita harus menjadi cerdas sehingga kita bisa mengasihi musuh kita atau memberikan pinjaman kepada mereka yang membutuhkan jika diperlukan dan jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak boleh memiliki standar seperti orang-orang di luar Kristen yang hanya mengasihi orang-orang tertentu (ay. 46-47). Di situlah perjuangan kita yang tidak mudah, karena harus bersedia menanggalkan naluri kemanusiaan kita untuk mengenakan naluri Allah sehingga kita bisa memiliki natur yang sama dengan-Nya, yaitu hingga memiliki natur atau kodrat ilahi.



Bacaan Alkitab: Matius 5:38-48
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Mereka yang Mengacaukan Perlombaan Jemaat



Kamis, 3 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Galatia 5:7-10
Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? (Gal 5:7)


Mereka yang Mengacaukan Perlombaan Jemaat


Suka atau tidak suka, kita semua sudah terhisap masuk ke dalam suatu perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr 12:1). Perlu dipahami bahwa perlombaan tersebut bukan sekedar meninggalkan semua beban dan dosa yang merintangi kita. Itu barulah “syarat pendaftaran” untuk masuk ke dalam perlombaan tersebut. Perlombaan yang dimaksud adalah berjuang untuk hidup sempurna seperti Tuhan Yesus hidup (Ibr 12:2). Dalam hal ini gereja dan pendeta harus membawa jemaat untuk masuk ke dalam perlombaan ini, tanpa kecuali.

Jemaat di Galatia sendiri juga telah mengerti tentang hal ini. Dikatakan bahwa dahulu mereka berlomba dengan baik (ay. 7a), sehingga tentu mereka juga sudah masuk dalam perlombaan, dan telah membayar “syarat pendaftarannya” yaitu meninggalkan beban (percintaan dunia) dan dosa (ketidaktaatan terhadap perintah Allah). Namun di ayat-ayat selanjutnya, Paulus menulis bahwa ternyata jemaat di Galatia mulai tidak setia mengikuti perlombaan tersebut. Paulus menulis: “Siapakah yang menghalang-halangi kamu sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi” (ay. 7b). Dalam bahasa yang lebih sederhana, hal tersebut bisa diterjemahkan: “Siapakah yang mengacaukan kamu sehingga kamu tidak berlomba dengan benar lagi?”.

Paulus menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah mengajarkan bahwa umat-Nya (orang percaya) untuk tidak perlu bersusah-susah ikut dalam perlombaan. Tuhan Yesus dengan jelas berkata bahwa setiap orang harus sempurna seperti Bapa di surga juga sempurna (Mat 5:48) atau berkata bahwa setiap orang harus berjuang untuk bisa memasuki pintu yang sesak (Luk 13:24). Tentu inilah perjuangan kita sebagai orang Kristen yaitu pengikut Kristus. Jadi jika ada yang mengajarkan bahwa kita tidak perlu berlomba karena Tuhan Yesus yang sudah berlomba bagi kita, itu bukanlah ajaran yang benar. Ajakan untuk menuruti ajaran yang keliru tersebut tentu bukan datang dari Tuhan yang telah memanggil kita untuk berjuang dan berlomba dengan tekun (ay. 8).

Kita harus mulai bisa selektif terhadap ajaran-ajaran yang mengisi pola pikir kita, karena ajaran yang keliru bila dibiarkan saja masuk ke dalam hati dan pikiran kita, akan mewarnai jiwa kita dengan warna yang salah. Ibarat ragi yang dicampurkan ke dalam adonan, maka sedikit ragi pun bila didiamkan dan tidak dibuang, lambat laun akan mengkhamirkan seluruh adonan, apalagi jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama (ay. 9). Hal ini bukan berarti lalu kita men-judge atau menghakimi bahwa seluruh pendeta/pengkhotbah pasti salah, tetapi kita harus bisa selektif terhadap khotbah-khotbah atau ajaran-ajaran yang masuk ke dalam telinga kita. Kita harus mulai bisa memilah mana ajaran yang benar (yang harus masuk sampai ke dalam hati kita) dan mana ajaran yang keliru yang tidak perlu masuk ke dalam hati (cukup masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan, atau bahkan jangan sampai masuk telinga kita).

Dalam sebuah khotbah di ibadah hari minggu misalnya, dari 60 menit khotbah seorang pendeta, kita harus bisa menangkap butir-butir kebenaran yang harus kita simpan di dalam hati kita dan mana yang tidak perlu kita simpan. Jangan justru kebalikannya, kita menyimpan hal-hal yang keliru dan mengabaikan butir-butir kebenaran yang disampaikan. Oleh karena itu jemaat harus menjadi cerdas mengerti kehendak Allah bagi umat Perjanjian Baru. Salah satu kunci untuk bisa peka adalah hidup dalam Firman dan persekutuan dengan Tuhan. Hidup dalam Firman berarti kita harus mengusahakan membaca Alkitab Perjanjian Baru (PB) minimal 2 kali lipat dari Alkitab Perjanjian Lama (PL) (misal: setiap hari membaca PL 1 pasal dan PB 2 pasal, atau membaca PL 2 pasal dan PB 4 pasal, dan seterusnya). Hidup dalam persekutuan dengan Tuhan berarti kita memiliki waktu-waktu khusus untuk berdoa, menyembah, dan bersekutu dengan-Nya. Dalam waktu-waktu itu kita seharusnya tidak melakukan hal apapun selain meminta Tuhan berbicara kepada kita dan mengajar kita mengenai kehendak-Nya supaya kita mampu melakukannya dalam hidup kita.

Paulus sendiri yakin bahwa jemaat Galatia sesungguhnnya sudah mengerti tentang hal ini (ay. 10a). Mereka sudah pernah mengikuti perlombaan sehingga pastilah sudah mengerti mengenai kebenaran tersebut. Namun demikian, Paulus mengingatkan bahwa setiap kita akan bertanggung jawab terhadap pilihan yang kita ambil. Mereka yang dengan setia mengikuti perlombaan hingga akhir akan dianggap sebagai kelompok pemenang, dan akan memperoleh “hadiah” di hari penghakiman nanti (Why 2:7). Namun di sisi lain, mereka yang memilih untuk mundur dari perlombaan tentu juga akan menerima konsekuensinya. Lebih lanjut lagi Paulus menegaskan bahwa orang-orang yang mengacaukan jemaat (yang antara lain membuat jemaat tidak lagi berlomba dengan baik), juga akan menerima hukuman yang lebih berat, siapapun juga dia (ay. 10b).

Jika kita mau jujur, kelompok yang ketiga ini (yaitu mereka yang mengacaukan iman jemaat) bisa jadi adalah orang-orang di luar jemaat (misalnya: mereka yang anti terhadap kekristenan sehingga menganiaya jemaat supaya mundur dari imannya), namun juga bisa berarti orang-orang yang ada di dalam diri jemaat itu sendiri. Yang lebih berbahaya lagi, orang seperti ini bisa menduduki posisi strategis dalam jemaat sebagai pemimpin kelompok sel, pengurus gereja, diaken, majelis, bahkan pendeta dan gembala sidang. Orang-orang seperti ini yang belum sungguh-sungguh berlomba dengan baik namun sudah duduk di posisi-posisi strategis semacam itu, akan dapat memberikan pengaruh lebih besar kepada jemaat. Akan sangat berbahaya jika pengaruh yang diberikan adalah pengaruh yang salah.

Bayangkan jika seorang diaken atau majelis bisa berkata “prinsip saya ikut Tuhan Yesus itu ya pasti enak, Tuhan pasti melindungi, Tuhan pasti memberkati, sekalipun saya korupsi Tuhan pasti menjaga karena uangnya saya berikan juga kepada gereja untuk membangun gereja”. Atau bayangkan jika seorang pendeta/gembala sidang berkhotbah bahwa “Tuhan Yesus sudah mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan kita, sehingga jemaat tidak perlu hidup benar, yang penting percaya saja dan pasti selamat. Jemaat cukup meyakini saja dalam hati bahwa kita sudah selamat tanpa perbuatan baik, yang artinya tanpa perlu berbuat baik”. Ini tidak akan membawa jemaat kepada kesucian hidup yang benar. Akibatnya banyak orang Kristen yang masih berjudi, mabuk-mabukan, berzinah, korupsi, membunuh, dan lain sebagainya, namun mereka memiliki keyakinan dalam diri mereka bahwa mereka tetap selamat karena mereka orang Kristen. Pengajaran-pengajaran yang salah seperti sebenarnya tidak membawa jemaat ke surga, tetapi justru mengarahkan mereka kepada kengerian neraka kekal.

Oleh karena itu tidak salah jika Tuhan Yesus berkata bahwa di hari terakhir nanti, akan ada orang-orang yang telah mengusir setan bahkan melakukan mujizat tapi tidak dikenal Tuhan dan dibuang dari hadapan Tuhan (Mat 7:21-23). Hal itu tentu menunjuk kepada orang-orang yang menduduki posisi dalam gereja tetapi tidak pernah mengajar jemaat dalam kebenaran. Hidupnya tidak memancarkan kesucian dan kekudusan Tuhan. Hidupnya tidak memancarkan kebenaran yang sejati sehingga justru membuat jemaat dan orang lain menjadi tidak hidup kudus. Orang lain yang melihat hidup mereka akan berkata “Oh jadi orang Kristen (bahkan jadi pengurus, diaken, majelis, dan pendeta) itu hidupnya cukup seperti itu toh? Berarti boleh berbuat dosa bahkan hidup dalam dosa, yang penting setiap hari Minggu ke gereja, kasih persembahan dan perpuluhan, lalu masuk surga”. Betapa rusaknya iman jemaat dan orang lain yang melihat kehidupan para pengurus dan pejabat gereja yang tidak benar. Tidak heran bahwa suatu saat nanti Tuhan Yesus baru akan berkata kepada mereka dengan terus terang: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat 7:23)




Bacaan Alkitab: Galatia 5:7-10
5:7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?
5:8 Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu.
5:9 Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.
5:10 Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia.