Kamis, 10 Agustus 2017

Tersesat Mengikut Iblis



Jumat, 11 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 5:11-16
Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. (1 Tim 5:15)


Tersesat Mengikut Iblis


Mungkin ada beberapa pembaca renungan ini yang berkata sinis, memangnya ada orang yang mau mengikut iblis? Memang secara wajar hampir tidak ada orang yang dengan sadar mengikut iblis. Namun di dalam Alkitab, saya menemukan satu ayat yang menyebutkan adanya orang yang masuk kategori ini, yaitu mengikut iblis. Memang untuk memahami ayat tersebut kita harus melihat konteks dari ayat tersebut sehingga tidak terjadi salah paham atau fitnah yang berlebihan.

Perikop dalam bacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang janda di dalam jemaat mula-mula. Secara ringkas, Paulus menekankan bahwa ada kriteria khusus untuk bisa didaftarkan sebagai janda dalam jemaat, mengingat janda mendapatkan “perhatian khusus” termasuk dalam hal bantuan finansial dari jemaat. Dalam hal ini Paulus menegaskan bahwa mereka yang didaftarkan sebagai janda haruslah yang sudah berusia cukup tua dan telah terbukti memiliki hidup yang benar. Paulus menasehatkan Timotius untuk menolak pendaftaran janda-janda yang lebih muda, karena mereka masih bisa digairahkan oleh nafsu berahi dan ingin kawin (ay. 11).

Ingat bahwa dorongan seksual adalah hal yang wajar dan dimiliki semua orang. Seorang janda (yang sudah pernah merasakan kehidupan seksual) tentu sangat wajar memiliki keinginan seksual kembali. Namun jika janda tersebut “digairahkan” dengan tidak pantas, maka hal tersebut bisa membuat mereka “cerai” dari Kristus. Inilah yang berbahaya dan harus diwapadai. Seorang janda harus menjadikan Kristus sebagai “suaminya”, artinya bergantung hanya pada Kristus karena ia tidak memiliki suami lagi. Jika tidak, maka janda tersebut tidak setia dan mendatangkan hukuman atas dirinya (ay. 12).

Seorang janda tentu memiliki cukup banyak waktu luang kecuali mereka yang masih memiliki anak dan harus merawat dan membesarkan anaknya tersebut. Oleh karena itu Paulus menekankan bahwa adalah tidak baik bagi seorang janda untuk membiasakan diri bermalas-malasan saja (ay. 13b). Apalagi jika janda tersebut suka keluar masuk ke rumah orang (karena banyaknya waktu luang yang mereka miliki), meleter, mencampuri urusan orang lain, dan mengucapkan perkataan yang tidak pantas (ay. 13a & 13c). Seorang janda harus bisa memaksimalkan waktunya bagi kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya.

Oleh karena itu Paulus memberikan nasehat (bahkan sedikit berbau perintah) agar janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, dan memimpin rumah tangganya, sehingga tidak membuat nama jemaat menjadi buruk di mata orang luar (ay. 14). Ini adalah suatu nasehat atau perintah yang logis, terlebih dikaitkan dengan ayat selanjutnya, dimana Paulus berkata bahwa ada beberapa janda yang telah tersesat mengikut iblis (ay. 15). Kira-kira mengapa Paulus berkata demikian hingga dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa janda yang telah tersesat mengikut iblis?

Tentu kita harus kembali memperhatikan konteks ayat-ayat di atasnya. Paulus memberikan sejumlah petunjuk untuk dapat mengidentifikasi orang-orang yang telah menjadi pengikut iblis, yaitu:

Pertama, hidup dalam keberahian dan hawa nafsu (ay. 11). Tidak dapat dipungkiri, nafsu seksual adalah anugerah Tuhan yang indah. Tentu dikatakan indah jika digunakan dalam waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan dengan orang yang tepat. Dalam hal ini nafsu seksual hanya boleh digunakan dengan pasangan kita yang sah (suami atau istri kita), dalam pernikahan yang kudus (bukan sebelum menikah atau di luar pernikahan). Namun iblis begitu cerdasnya membuat manusia mengumbar nafsu seksual ini, khususnya di akhir zaman. Banyak suami tidak setia dengan istrinya, istri tidak setia dengan suaminya, anak-anak muda mulai melakukan percabulan dengan pacarnya, dan lain sebagainya. Belum lagi banyaknya film porno dan penyimpangan seksual lainnya. Ketidakkudusan ini membuat pikiran orang menjadi tercemari dan tercandui dengan nafsu berahi yang salah.

Jangan salah, penyimpangan seksual ini tidak hanya terjadi di luar gereja atau jemaat Tuhan, tetapi juga cukup sering terjadi di gereja. Berapa banyak anggota jemaat kita yang hamil duluan karena pacaran yang kelewat batas? Di beberapa gereja, ada pendeta yang memiliki affair dengan jemaatnya hingga memiliki anak. Dan ketika jemaat mencoba menanyakannya kepada pendeta tersebut, maka pendeta tersebut berkata bahwa “ini adalah kehendak Tuhan” atau “kalian jemaat tidak boleh mengusik orang yang sudah diurapi Tuhan”, atau dengan ancaman-ancaman lain yang diucapkan pendeta kepada jemaat yang kritis. Oleh karena itu tidak heran bahwa kita harus berjuang keras mengendalikan hawa nafsu seksual ini supaya tidak sampai membuat kita berdosa dan terpisah dari Allah.

Kedua, menjadi malas dan mengucapkan perkataan yang tidak membangun (ay. 13). Ini sebenarnya sangatlah umum. Akan tetapi penting untuk dilihat bahwa waktu adalah anugerah Tuhan bagi setiap manusia. Sehingga kita pun harus menggunakan waktu dengan bijaksana bagi Tuhan. Selain itu perkataan kita pun juga harus memberi dampak bagi orang di sekitar kita. Kita harus menjaga lidah kita supaya perkataan kita tidak menjadi batu sandungan. Jangankan jemaat Tuhan, seorang pendeta saja kadang-kadang perkataannya tidak menjadi berkat karena adanya kepentingan dan ambisi pribadi. Tidak heran ada pendeta yang saling menyerang bahkan menjelek-jelekkan satu dengan yang lainnya. Tentu hal ini disebabkan adanya ambisi pribadi (seperti jabatan, kedudukan, dan juga uang).

Ketiga, tidak mengikuti alur yang benar dan mempermalukan nama Tuhan (ay. 14). Jika kita perhatikan nasehat Paulus kepada janda-janda yang muda di ayat 14, maka kita akan menemukan alur yang benar yaitu: menikah, punya anak, dan mengurus keluarganya dengan baik. Itu tidak akan merugikan siapa-siapa dan tidak akan memburukkan nama Tuhan dan gereja di mata orang luar. Tetapi ada kecenderungan apa yang terjadi di gereja akhir-akhir ini bahwa alur ini sudah mulai berubah. Janda tidak menikah, punya anak, dan mengurus keluarganya, tetapi justru ada janda yang punya anak (hamil duluan), baru dinikahkan, dan mengurus keluarganya.

Ini adalah suatu penyimpangan terhadap alur yang benar. Dan penyimpangan terhadap alur yang benar pasti menimbulkan masalah di kemudian hari. Sebagai contoh, jika ada janda dalam gereja yang ternyata bukannya menikah dulu baru punya anak, tetapi justru hamil duluan (apalagi hamil dengan orang di gereja tersebut), maka apa kata orang di sekitar kita? Hal ini sebenarnya tidak melulu salah si janda, tetapi mungkin gereja (pendeta dan pengurus gereja) kurang bijak menyikapi fenomena janda dalam gereja tersebut, sehingga terjadilah hal yang memalukan gereja.

Jadi jika tiga hal di atas dilakukan oleh janda, maka tepat rasanya jika Paulus mengatakan bahwa beberapa janda (ingat, tidak semua janda) telah tersesat mengikut iblis. Dan sebenarnya tidak hanya janda saja, semua orang (mau janda atau duda, menikah atau belum menikah), bisa tersesat mengikut iblis jika melakukan kesalah seperti penjelasan di atas. Tidak gampang mencap seseorang mengikut iblis. Dan adalah suatu kelancangan jika seorang Kristen (apalagi seorang pendeta) dengan mudahnya mencap orang lain sebagai pengikut iblis. Hanya mereka yang memang bebal, tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, hingga mempermalukan nama Tuhan yang masuk kategori mereka yang tersesat mengikut iblis. Dan ini juga adalah pekerjaan rumah bagi semua jemaat Tuhan untuk juga peduli terhadap hal-hal yang bisa membuat orang tersesat (ay. 16). Jangan semua diserahkan kepada gereja dan pendeta dan kemudian orang Kristen lepas tangan (misalnya orang tua menyerahkan pendidikan rohani anak-anaknya kepada guru sekolah minggu, padahal itu adalah tanggung jawab setiap orang tua dan bukan hanya tanggung jawab guru sekolah minggu). Berjuanglah supaya kita tidak tersesat mengikut iblis, dan orang-orang di sekitar kita juga tidak tersesat mengikut iblis.



Bacaan Alkitab: 1 Timotius 5:11-16
5:11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda. Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin kawin
5:12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas dirinya.
5:13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.
5:14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita.
5:15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis.
5:16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Rabu, 09 Agustus 2017

Kita Lebih dari Pemenang?



Kamis, 10 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: Roma 8:31-39
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm 8:37)


Kita Lebih dari Pemenang?


Para pembaca renungan ini yang berasal dari gereja aliran pentakosta/karismatik pasti mengenal lagu-lagu yang liriknya mengandung kata-kata “kita lebih dari pemenang”. Lagu itu bahkan menjadi lagu favorit beberapa worship leader di gereja saya, karena memang kata-katanya dan juga jenis musiknya bisa menambah semangat jemaat dalam bernyanyi, apalagi dengan embel-embel “kita lebih dari pemenang”. Namun demikian, semakin saya belajar kebenaran Firman Tuhan, semakin saya berpikir apakah memang begitu ajaran yang benar.

Saya menemukan bahwa kalimat “lebih dari pemenang” berasal dari salah satu ayat di kitab Roma yang berbunyi “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (ay. 37). Ayat ini sebenarnya ditujukan kepada jemaat di kota Roma, dan tidak ditemukan dalam surat-surat ke jemaat di kota lain seperti Efesus, Galatia, Tesalonika, dan lain sebagainya. Artinya jika kita mau jujur, maka kita harus mempelajari konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya untuk mengerti mengapa jemaat di kota Roma disebut Paulus sebagai mereka yang lebih dari pada orang-orang yang menang (lebih dari pemenang).

Sebagai ilustrasi, jika ada seorang ibu yang mengirimkan surat kepada anaknya yang sedang kuliah di kota lain, dan anak tersebut punya penyakit darah rendah, maka ibu tersebut sangat mungkin menulis “seringlah makan daging kambing”. Akan tetapi jika surat tersebut dibaca oleh orang yang sudah tua dan tanpa pikir panjang surat tersebut langsung dilakukan, maka efeknya bukan menjadikan lebih baik tetapi justru lebih buruk. Itu adalah ilustrasi bahwa kita tidak bisa serta merta langsung mengambil sebuah ayat dan mengenakannya dalam hidup kita tanpa mengerti konteks dan latar belakangnya. Adalah terlalu naif jika kita merasa sudah layak disebut sebagai lebih dari pemenang seperti jemaat Roma tanpa mengerti apa yang jemaat Roma hadapi dan sudah lewati.

Jemaat di kota Roma adalah jemaat di kota besar, ibu kota negara Romawi pada waktu itu. Sebagai pengikut Kristus (yang dianggap sekte pada waktu itu), mereka seringkali mengalami penindasan dan ketidakadilan, khususnya dari orang Yahudi dan juga pemerintah Romawi. Tidak jarang pasukan Romawi menangkap dan menyiksa orang Kristen dan memaksa mereka meninggalkan iman Kristen dan menyembah dewa-dewa Romawi atau patung kaisar. Namun demikian, mereka tetap tabah dan menjaga iman mereka sekalipun ada di antara mereka yang disiksa, dipukuli, bahkan mati dengan cara diadu dengan binatang buas.

Oleh karena iman jemaat Roma yang tetap teguh menghadapi aniaya tersebut, Paulus mengatakan agar jemaat Roma tidak perlu takut karena Allah ada di pihak mereka. Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (ay. 31). Ini bukan berarti bahwa Tuhan akan membela jemaat Roma sehingga ketika mereka melawan binatang buas maka binatang tersebut menjadi jinak, dan mujizat lainnya. Akan tetapi Paulus hendak mengatakan bahwa jika Allah ada di pihak mereka, maka sekalipun ada orang-orang yang melawan mereka bahkan membunuh mereka, sesungguhnya mereka sedang melawan Tuhan. Dan penderitaan yang mereka alami itu adalah bukti bahwa mereka sungguh-sungguh memiliki Kristus dalam hidup mereka.

Jadi, dinaiaya atau tidak itu bukanlah hal yang terpenting. Yang terpenting adalah apakah jemaat Roma sudah sungguh-sungguh berjuang dalam iman yang benar, hingga mereka bisa mengenakan pribadi Kristus dalam diri mereka? Tuhan akan mengaruniakan kemampuan kepada mereka yang mau berjuang bersama-Nya (ay. 32). Dan yang lebih penting lagi, walaupun di dunia ini Tuhan seperti kalah dengan dewa-dewa Romawi, akan tetapi yang terpenting adalah bahwa Tuhan akan membela dan membenarkan umat-Nya pada hari penghakiman Tuhan tiba.

Oleh karena itu, pengharapan jemaat Roma tidak boleh hanya berhenti bahwa Tuhan Yesus sudah mati bagi dosa-dosa mereka, tetapi bahwa Tuhan Yesus juga sudah bangkit dari kematian, sehingga semua orang yang memiliki karakter seperti Kristus juga suatu saat nanti akan bangkit (ay. 34). Inilah pengharapan jemaat Roma yang luar biasa, sehingga mereka tidak lagi memandang dan mencintai dunia. Dunia pun menjadi semakin pudar di mata mereka, digantikan dengan pengharapan di kekekalan untuk memerintah bersama-sama dengan Kristus.

Oleh karena itu tidak ada hal apapun yang dapat memisahkan jemaat di kota Roma dengan kasih Kristus. Mereka tetap mengasihi Kristus walaupun mengalami penindasan (diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Romawi), kesesakan (karena harta benda mereka disita), penganiayaan (dipukuli dan dianggap pemberontak karena tidak mau menyembah dewa Romawi atau patung kaisar), kelaparan (dimasukkan ke dalam penjara dan diberi makan sangat sedikit atau tidak sama sekali), ketelanjangan (diberlakukan sebagai budak yang akan diumpankan kepada binatang buas), bahkan bahaya dan pedang (kematian diri mereka) sekalipun (ay. 35). Karena iman mereka kepada Kristus, mereka senantiasa dibayangi oleh bahaya maut setiap harinya. Tetapi dalam kondisi sulit yang ekstrem seperti itu, mereka siap bahkan jika harus mati sekalipun, ibarat domba-domba yang sedang mengantri untuk disembelih (ay. 36).

Nah, dengan melihat konteks aniaya dan penindasan yang dialami oleh jemaat Roma pada waktu itu, tentu di mata orang lain, jemaat Roma dianggap sebagai pihak yang kalah. Mereka tidak punya uang, pengaruh, dan secara kedudukan politik mereka dianggap sama seperti budak bahkan penjahat yang tidak dapat membela diri. Banyak jemaat Roma yang harus dianiaya bahkan mati karena membela iman mereka. Namun demikian, Paulus menegaskan bahwa walaupun orang dunia memandang bahwa pemerintah Romawi adalah pihak yang menang dan jemaat Roma adalah pihak yang kalah, tetapi di mata Tuhan mereka lebih daripada orang-orang yang menang (ay. 37a). Ini tentu bukan karena kekuatan diri mereka sendiri, tetapi juga karena karya Roh Kudus dalam diri mereka dan ketaatan mereka untuk mau melakukan kehendak Bapa (ay. 37b).

Tentu konsekuensi logis menjadi orang-orang yang lebih dari pemenang dalam konteks jemaat Roma ini bukanlah kemudian hidup mereka menjadi enak atau nyaman. Justru pernyataan Paulus bahwa mereka lebih dari pemenang membuat mereka harus siap mempertaruhkan apapun bagi kerajaan Tuhan. Paulus mengatakan bahwa jika jemaat Roma sudah mencapai level lebih dari pemenang, maka tidak ada satu pun hal yang dapat memisahkan mereka dari kasih Tuhan. Mereka akan tetap mengasihi Tuhan entah mereka hidup atau mati, entah ada malaikat-malaikat (mungkin merujuk kepada malaikat jahat atau malaikat yang jatuh/fallen angels yang mengganggu hidup orang percaya), pemerintah yang menindas, segala hal-hal di atas (tinggi) maupun di bawah (dalam), maupun makhluk ciptaan lainnya. Tidak akan ada hal apapun yang dapat memisahkan jemaat Roma dari kasih Allah di dalam Tuhan Yesus, sehingga mereka pantas disebut sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang.

Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita sudah teruji dalam kondisi sulit yang ekstrem seperti yang dialami oleh jemaat Roma? Jika ya, maka kita pantas dan layak disebut sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang. Akan tetapi jika kita masih jauh dari standar hidup jemaat Roma, maka seharusnya kita malu jika kita menyanyikan lagu dengan lirik “lebih dari pemenang” tetapi kita masih hidup dalam dosa dan percintaan dunia. Bukan lagunya atau lirik lagunya yang salah, tetapi jika kita menyanyi tanpa mengerti kebenaran yang terkandung dalam liriknya, lambat laun kita akan menjadi orang-orang yang munafik, yang bisa menyanyi dengan meriah, tetapi kelakuan hidup kita adalah nol besar. Bagaimana kita bisa mengaku lebih dari pemenang tetapi dalam hidup kita, kita masih kalah oleh dosa (masih suka hidup dalam dosa, baik yang nyata maupun yang tersembunyi) dan masih kalah oleh dunia (masih mencintai dunia lebih daripada mencintai Tuhan)? Marilah kita berjuang untuk menjadi orang-orang yang lebih dari pemenang di hadapan Tuhan. Minimal berjuanglah untuk menang dalam kehidupan kita masing-masing, supaya pada hari penghakiman, jerih payah kita di dalam Tuhan akan berbuahkan mahkota kehidupan (Why 2:10).



Bacaan Alkitab: Roma 8:31-39
8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?
8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
8:36 Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan."
8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Selasa, 08 Agustus 2017

Tujuan Nasehat yang Sebenarnya

Rabu, 9 Agustus 2017
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 1:5-7
Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. (1 Tim 1:5)


Tujuan Nasehat yang Sebenarnya


Masih menyambung dengan renungan sebelumnya mengenai nasehat, maka pada hari ini kita akan belajar mengenai apa sih tujuan nasehat yang sebenarnya itu. Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengatakan bahwa tujuan nasehat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci dan hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas (ay. 5). Jadi jelas bahwa nasehat itu harus diberikan dalam kasih supaya mereka yang mendengar nasehat juga boleh memiliki kasih yang sama dengan kasih kita dan juga kasih Tuhan (ay. 5a). Sebagai contoh, jika ada orang yang sedang dimusuhi oleh orang lain, nasehat apa yang harus kita berikan? Salah satu nasehat yang baik adalah jika kita menasehatkan agar orang tersebut mengampuni orang lain yang memusuhinya. Dalam hal itu kita memberikan nasehat dalam kasih supaya orang tersebut memiliki kasih yang sama dengan kita. Jika kita belum hidup dalam kasih, maka akan mustahil kita dapat memberikan nasehat dalam kasih.

Selanjutnya, nasehat juga diberikan supaya mereka yang mendengarnya dapat memiliki hati nurani yang murni (ay. 5b). Dalam hal ini kita harus punya kecerdasan supaya kita yang mendengar nasehat dapat membedakan mana nasehat yang diberikan dengan maksud yang murni dan mana nasehat yang diberikan dengan maksud yang tidak murni atau tidak tulus. Di sisi lain, kita yang memberikan nasehat juga harus belajar menjaga hati dan motivasi kita supaya nasehat kita adalah nasehat yang lahir dari hati nurani yang murni. Akan sangat berbahaya jika kita memberikan nasehat yang menyesatkan karena niat hati kita tidak tulus untuk membantu, misalnya karena kita iri hati, dendam, atau punya rasa tidak mau kalah dengan orang lain. Di situ nasehat kita akan mulai menyimpang dari jalan yang seharusnya. Betapa berbahayanya jika kesalahan ini dilakukan oleh mereka yang menjadi pemimpin, khususnya pemimpin jemaat. Orang seperti itu tidak hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga akan merusak iman jemaat yang dipimpinnya dengan nasehat yang berasal dari hati nurani yang sudah gelap dan tidak murni lagi.

Terakhir, nasehat juga harus diberikan dari iman yang tulus ikhlas. Di sini ada dua kata penting yaitu iman dan ketulusan/keikhlasan. Nasehat yang diberikan dari iman artinya adalah dalam setiap hal, nasehat yang kita berikan tidak menyimpang dari kebenaran di dalam Injil. Sebagai contoh jika ada seorang wanita datang kepada kita dan mengeluh bahwa suaminya bukan orang percaya dan memaksanya untuk pindah agama ke agama suaminya, maka tentu kita tidak bisa menggunakan ayat “hai istri, tunduklah kepada suamimu”. Kita harus memberikan nasehat dengan bijak yaitu bahwa ia harus lebih tunduk kepada Tuhan daripada kepada suaminya. Dalam hal ini ia harus tetap mengasihi dan tunduk kepada suaminya dalam batas-batas tertentu saja, dan tidak boleh meninggalkan iman percayanya demi suaminya. Nasehat yang diberikan dari iman yang benar akan membuat orang yang mendengar dan melakukan nasehat tersebut semakin beriman kepada Tuhan dan bukannya justru meninggalkan Tuhan.

Selain itu, nasehat juga harus diberikan dengan ketulusan dan kehikhlasan. Artinya dalam memberikan nasehat kita tidak boleh mengharapkan sesuatu. Jangan sampai kita memberikan nasehat kepada orang lain dengan tujuan untuk keuntungan dan/atau kepentingan diri kita sendiri. Sebagai contoh jika ada orang lain sedang sakit, apakah kita boleh menawarkan obat yang kita jual (misal dari MLM yang kita ikuti)?. Jika obat tersebut memang benar-benar manjur (dan kita tahu pasti khasiatnya dan penyakit yang diderita orang itu), maka tidak salah kita menawarkan obat yang kita jual. Akan tetapi jika tujuan kita menawarkan obat tersebut hanyalah supaya produk kita laku dijual, kita dapat untung, dapat poin, atau dapat bonus dari MLM tersebut, maka itu bukanlah nasehat yang tulus ikhlas.

Dalam ayat selanjutnya Paulus dengan tegas mengatakan bahwa ada orang-orang yang tidak sampai pada tujuan itu (yaitu tujuan memberikan nasehat denga benar). Akibatnya, mereka tersesat dalam omongan yang sia-sia (ay. 6). Tentu dalam hal ini jika nasehat tidak diberikan dengan benar, maka yang ada hanyalah perdebatan tanpa akhir. Akhirnya terciptalah suatu omongan/perkataan yang sia-sia antara kedua belah pihak. Nasehat yang menyesatkan jika dilakukan maka akan menimbulkan masalah baru. Selanjutnya pihak yang menerima nasehat akan menyalahkan pihak yang memberi nasehat, dan seterusnya.

Oleh karena itu, mereka yang hendak memberi nasehat harus menguji diri sendiri dahulu apakah ia sudah layak dan pantas untuk memberi nasehat dengan benar. Betapa berbahayanya jika orang-orang yang sudah merasa berhak memberikan nasehat, apalagi sudah merasa berhak mengajar, kemudian menyampaikan nasehat dengan cara yang tidak benar. Mereka diibaratkan sebagai orang-orang yang ingin mengajar hukum Taurat, tetapi mereka tidak mengerti pokok-pokok ajaran mereka (ay. 7). Mereka bahkan sebenarnya tidak mengerti perkataan mereka sendiri. Oleh sebab itu tanpa disadari (atau mungkin dengan sadar juga), mereka sedang mengajarkan penyesatan kepada orang lain.

Jika orang tersebut adalah seorang pembicara/pengkhotbah/pendeta, maka jemaat akan dibawa kepada kesesatan yang sistematis. Tidak jarang bahwa pokok-pokok Firman Tuhan atau nasehat-nasehat yang disampaikan adalah bagaimana membangun kerajaan si pembicara tersebut di dunia ini. Mereka mulai mengkultuskan dirinya sendiri, menganggap semua kritik kepada pembicara itu adalah dosa karena pembicara adalah hamba Tuhan, dan lain sebagainya. Akibatnya, gereja seperti ini tidak akan membawa jemaat ke surga tetapi gereja hanya akan memarkir jemaat tersebut di bumi. Di dalam gereja seperti itu, bisa jadi nasehat adalah sesuatu yang langka, karena hanya pendeta yang boleh memberikan nasehat. Lagipula, nasehat yang diberikan juga belum tentu adalah nasehat yang benar, sehingga jemaat tidak akan dibawa kepada pemahaman dan pengenalan akan Tuhan yang benar. Mereka hanya dibuat nyaman di bumi dan lupa untuk memikirkan kekekalan abadi.



Bacaan Alkitab: 1 Timotius 1:5-7
1:5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.
1:6 Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.
1:7 Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.