Rabu, 27 September 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (17): Tradisi yang Salah Dapat Membawa Celaka



Rabu, 27 September 2017
Bacaan Alkitab: Lukas 11:37-44
Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Luk 11:42)


Persepuluhan di dalam Alkitab (17): Tradisi yang Salah Dapat Membawa Celaka


Dalam kitab Lukas juga terdapat ayat yang hampir mirip dengan ayat di renungan sebelumnya yaitu mengenai ucapan Tuhan Yesus tentang praktik persembahan persepuluhan yang dilakukan oleh orang Farisi terhadap tanaman-tanaman yang terkecil. Ada sedikit perbedaan jika di kitab Matius Tuhan langsung berbicara kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, tetapi di kitab Lukas ini Tuhan berbicara lebih dahulu kepada orang Farisi secara khusus. 

Tentu kita harus memperhatikan konteks ucapan Tuhan Yesus tersebut, mengapa Tuhan sampai mengucapkan hal tersebut kepada orang Farisi. Dalam perikop ini, Lukas mengawali tulisannya mengenai kejadian dimana Tuhan Yesus selesai mengajar, lalu ada seorang Farisi yang datang mengundang Tuhan Yesus untuk makan di rumahnya. Maka Tuhan Yesus pun masuk ke dalam rumah orang Farisi tersebut dan makan di sana (ay. 37). Pada waktu makan tersebut, orang Farisi heran karena Tuhan Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan (ay. 38), sementara kebiasaan orang Farisi adalah untuk mencuci tangan sebelum makan, dan banyak lagi tradisi dan adat istiadat lainnya (Mrk 7:1-5). Dan di dalam kesempatan itulah, Tuhan Yesus berkata kepada orang Farisi yang ada di situ (termasuk kepada tuan rumah yang mengundang-Nya makan), bahwa mereka (orang-orang Farisi) hanya membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, sementara bagian dalamnya penuh dengan rampasan dan kejahatan (ay. 39).

Ucapan ini dapat diartikan bahwa orang Farisi cenderung untuk hanya mempersoalkan apa yang kelihatan dari luar tetapi tidak pernah berurusan dengan apa yang didalam. Mereka lebih suka terlihat bersih dari luar (sehingga perlu mencuci tangan, atau melakukan adat istiadat/tradisi lainnya), daripada memiliki sikap hati yang benar dan tidak jahat. Ini adalah sikap yang bodoh dan munafik, karena bagian luar dan dalam seharusnya adalah satu paket, karena sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Artinya, percuma jika kita hanya terlihat bagus di luar tetapi busuk di dalam.

Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Farisi supaya mereka memberikan isinya sebagai sedekah supaya semuanya bersih bagi mereka (ay. 41). Tentu Tuhan Yesus mengucapkan hal ini sebagai suatu “peralihan” ketika ia sedang membahas mengenai tradisi Yahudi mengenai mencuci tangan sebelum makan dengan sikap kemunafikan orang Farisi dalam segala hal, termasuk dalam hal uang. Tuhan Yesus ingin agar orang Farisi memiliki sikap hati yang dalam segala hal, dan itu harus dimulai dari “ perkara kecil” yaitu soal uang, dimana mereka harus punya hati yang benar dalam menggunakan uang, dalam memberikan persembahan dan sedekah.

Selama ini orang Farisi terkenal sebagai orang yang religius, yang dapat terlihat dari tindakan mereka dalam memberikan persembahan persepuluhan, dimana mereka membayar persepuluhan dari seluruh hasil tanah, bahkan termasuk sayuran yang terkecil sekalipun seperti selasih (ay. 42a). Namun demikian, tindakan mereka dalam memberikan persembahan persepuluhan dari hal-hal yang terkecil ini pun ternyata tidak mendatangkan berkat tetapi mendatangkan celaka, karena itu semua hanya dilakukan secara lahiriah tanpa sikap batin yang benar. Mereka merasa sedang melakukan hukum Tuhan bahkan membela Tuhan melalui tindakan mereka memberikan persepuluhan, tetapi mereka lupa bahwa mereka telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah (ay. 42b).

Selanjutnya Tuhan bahkan mengecam kebiasaan atau tradisi orang Farisi yang lain, yaitu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar (ay. 43). Ini adalah salah satu tanda bahwa orang Farisi suka dengan hal-hal lahiriah yang mudah dilihat orang lain. Mereka suka duduk di tempat terdepat supaya dipandang sebagai orang yang mencari Tuhan dan dekat dengan Tuhan. Mereka sangat suka dihormat orang lain, dan bahkan sikap inilah yang membuat orang Farisi takut bahwa orang Yahudi akan lebih menghormati Tuhan Yesus daripada mereka sehingga akhirnya mereka ingin membunuh Tuhan Yesus.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang Farisi ibarat kubur yang tidak memakai tanda, sehingga orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya (ay. 44). Orang Farisi adalah orang terkemuka dalam jabatan agama Yahudi, sehingga banyak orang Yahudi menghormati mereka bahkan menaati mereka. Banyak orang Yahudi yang melakukan tradisi orang Farisi karena mereka percaya bahwa orang Farisi pasti mengajarkan apa yang benar. Nyatanya orang Farisi ibarat kuburan yang tidak memakai tanda. Mereka terlihat putih bersih dari luar tetapi isinya busuk. Tidak hanya busuk, tetapi mereka juga menyesatkan orang-orang yang tulus ingin beribadah kepada Tuhan. Inilah mengapa Tuhan sangat mengkritik perilaku orang Farisi yang munafik tersebut.

Jadi dalam hal ini Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan yang selama ini dilakukan oleh orang Farisi, bahkan diajarkan oleh orang Farisi kepada orang Yahudi, adalah suatu tradisi yang tidak dipahami dengan benar. Persembahan persepuluhan seperti yang diajarkan di dalam hukum Taurat memang adalah kebenaran, tetapi ketika itu sudah menjadi tradisi yang ditambah-tambahkan dari generasi ke generasi, maka hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang salah. Pemberian persembahan persepuluhan oleh orang Farisi hanyalah menjadi suatu tradisi lahiriah yang justru membawa celaka bagi mereka dan bukan membawa berkat. Hal ini dikarenakan mereka hanya mementingkan apa yang kelihatan secara lahiriah saja dan bukan sikap hati yang ada di dalamnya.

Ini bukan berarti bahwa memberikan persembahan persepuluhan di masa Perjanjian Baru adalah hal yang salah. Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan demikian. Akan tetapi, kita harus belajar supaya tidak menjadikan persembahan persepuluhan sebagai suatu “tradisi Kristen” yang harus dilestarikan. Persembahan persepuluhan dan juga persembahan lainnya, bahkan setiap tindakan kita harus didasarkan pada sikap hati yang benar. Hal ini membuat seluruh tindakan kita harus mencerminkan unsur keadilan dan unsur kasih Allah (dan jika perlu ditambah dengan unsur kesetiaan). Orang Kristen tidak boleh merasa sudah melakukan bagiannya dengan memberikan persembahan persepuluhan. Orang Kristen harus bisa hidup sesuai kasih Allah, termasuk dalam hal memberi persembahan. Itu berarti kita harus memperkarakan berapa uang yang harus kita berikan, kepada siapa kita berikan, dimana kita harus memberikan, kapan kita harus memberikan, dan bagaimana kita harus memberikannya. Ingat bahwa berapapun jumlah uang yang Tuhan ingin kita berikan kepada orang lain ataupun pekerjaan Tuhan, berikan itu dengan sukacita. Orang Kristen di masa Perjanjian Baru tidak boleh hanya terikat dengan prinsip persembahan persepuluhan secara lahiriah tanpa sikap hati yang benar, karena itu hanya akan membuat kita sama seperti orang Farisi yang dicela Tuhan sebagai kuburan tanpa tanda yang menyesatkan orang lain.



Bacaan Alkitab: Lukas 11:37-44
11:37 Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.
11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.
11:39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.
11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?
11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.
11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.
11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."

Selasa, 26 September 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (16): Bisa Menjadi Suatu Kemunafikan

Selasa, 26 September 2017

Bacaan Alkitab: Matius 23:23-26
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Mat 23:23)


Persepuluhan di dalam Alkitab (16): Bisa Menjadi Suatu Kemunafikan


Hari ini kita akan mulai membahas mengenai ayat yang memuat tentang persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Baru. Ayat nats kita hari ini adalah ayat yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ayat ini ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, sebagai bagian dari rangkaian ucapan Tuhan Yesus kepada mereka yang selama ini bersikap sebagai orang munafik. 

Salah satu bentuk kemunafikan mereka terlihat jelas dalam hal persembahan persepuluhan, dimana para ahli Taurat dan orang Farisi memperhitungkan persembahan persepuluhan dari segala hasil tanah, bahkan hingga ke tanaman yang terkecil sekalipun. Dalam praktiknya, terjadi sejumlah pergeseran makna dimana jika di dalam Perjanjian Lama sebenarnya Tuhan berfirman agar bangsa Israel mempersembahkan sepersepuluh dari hasil tanah atau hasil ladang (yang pada waktu itu dalam bentuk gandum, jelai, serta buah-buahan), maka seiring perkembangan zaman dimana hasil tanah juga bervariasi, pada masa Tuhan Yesus hidup, para ahli Taurat dan orang Farisi kemudian “memperketat” aturan tersebut dengan mengajarkan bahwa persepuluhan harus diberikan atas seluruh hasil tanah. Mereka berpendapat bahwa dari tanaman-tanaman yang kecil seperti selasih, adas manis, dan jintan pun tetap harus dipungut persembahan persepuluhan (ay. 23a).

Sebenarnya hal ini tidaklah sepenuhnya salah. Hukum Taurat sebenarnya mengatur persembahan persepuluhan dari hasil tanah, dan jika seseorang menanam sayuran lain semisal selasih dan ia mau mempersembahkan persembahan persepuluhan, itu adalah hal yang baik. Namun demikian, prinsip tersebut akan menjadi salah jika dibuat aturan yang “njelimet” mengenai persembahan persepuluhan, termasuk tanaman apa saja yang terkena aturan tersebut, tetapi semangat persembahan persepuluhan menjadi pudar. Dalam hal ini semangat persembahan persepuluhan di dalam hukum Taurat adalah untuk keseimbangan di suku-suku Israel serta supaya orang Lewi dan para imam dapat hidup dengan layak dan wajar. Namun di masa Tuhan Yesus hidup, persembahan persepuluhan ini “dimanfaatkan” oleh para ahli Taurat dan orang Farisi sebagai suatu kewajiban yang dibebankan kepada orang Yahudi. Para ahli Taurat dan orang Farisi menekankan orang Yahudi supaya wajib memberikan persembahan persepuluhan dari segala hal, tetapi tanpa pernah mengajarkan mengenai sikap hati yang harus dimiliki oleh orang Yahudi. Hukum Taurat pun diajarkan secara legalistik dan dianggap mutlak sehingga justru hal yang terpenting dalam hukum Taurat menjadi terabaikan.

Sebenarnya, apakah hal terpenting dalam hukum Taurat? Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa tiga hal terpenting dalam hukum Taurat adalah keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (ay. 23b). Keadilan jelas terlihat dari perintah hukum Taurat mengenai “mata ganti mata dan gigi ganti gigi”. Walaupun demikian, keadilan tersebut dimasukkan di dalam hukum Taurat dimaksudkan supaya bangsa Israel bersikap benar terhadap sesamanya manusia, tidak merugikan sesamanya dan tidak mengacukan tatanan umat Tuhan. Belas kasihan juga terlihat di sejumlah hukum Taurat antara lain bangsa Israel wajib membantu sesamanya, tidak mengenakan bunga kepada sesamanya yang meminjam, dan lain sebagainya. Kesetiaan juga dapat terlihat dari perintah-perintah di dalam hukum Taurat supaya bangsa Israel beribadah kepada Tuhan dengan setia. Tiga hal ini sebenarnya adalah inti dari hukum Taurat yang harus diajarkan secara proporsional tanpa mengutamakan salah satu dan mengabaikan yang lain (ay. 23c).

Dalam hal ini tepatlah jika Tuhan Yesus berkata kepada para ahli Taurat dan orang Farisi dan memanggil mereka dengan sebutan “pemimpin-pemimpin buta”. Mengapa mereka dikatakan sebagai pemimpin buta? Karena sebagai pemimpin mereka seharusnya mengajarkan hukum Taurat dengan sudut pandang yang benar kepada orang Yahudi, tetapi kenyataannya mereka melupakan hal-hal terpenting dalam hukum Taurat. Jika diibaratkan dengan suatu minuman, maka mereka menepis nyamuk yang terjatuh ke dalam minuman mereka, tetapi mereka lupa mengeluarkan unta yang ada di dalam minuman mereka, bahkan menelannya (ay. 24). Ini menggambarkan para pemimpin buta itu yang mengurusi hal-hal kecil yang tidak penting tetapi lupa untuk mengajarkan hal-hal yang penting kepada umatnya.

Kalimat yang hampir senada pun diucapkan Tuhan Yesus setelahnya, yang disebut Tuhan Yesus sebagai orang-orang munafik (ay. 25a). Mengapa mereka dikatakan munafik? Selain karena mereka mengabaikan apa yang penting dan justru menekankan apa yang tidak penting. Mereka juga dikatakan munafik karena mementingkan apa yang terlihat dari luar tetapi melupakan apa yang ada di dalam (yaitu isi hati manusia). Ini digambarkan dengan orang yang membersihkan sebelah luar cawan dan pinggan tetapi isi dalamnya tidak dibersihkan meskipun penuh rampasan dan kerakusan (ay. 25b). Dalam hal ini, orang Yahudi “digiring” oleh pengajaran para ahli Taurat dan orang Farisi supaya mereka melakukan hukum Taurat dari apa yang terlihat oleh orang lain. Hal ini jelas terlihat dari ajaran mereka yang mementingkan untuk memberi persembahan persepuluhan dari seluruh hasil tanah termasuk tanaman-tanaman kecil (selasih, adas manis, dan jintan), tetapi isi hati mereka ternyata masih serong di hadapan Tuhan.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh orang tersebut? Tuhan Yesus sendiri berkata kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, supaya mereka membersihkan dahulu bagian dalam cawan mereka, maka luarnya pun juga akan bersih (ay. 26). Dalam konteks persembahan persepuluhan, maka Tuhan Yesus ingin menekankan bahwa sikap hati seseorang dalam memberikan persembahan (tidak hanya persembahan persepuluhan) jauh lebih penting daripada apa yang diberikan, dan dari apa persembahan itu diberikan. Artinya, adalah lebih baik orang memiliki sikap hati yang benar dulu sebelum memberi, daripada orang memberi 10% atau bahkan 90% dari segala hal hingga dari hal yang terkecil sekalipun, tetapi sikap hatinya tidak benar.

Di sejumlah gereja, ada orang-orang Kristen yang bisa menghitung persembahan persepuluhannya dengan njelimet, bahkan dari perhitungan bunga bank yang diterima, dari segala fasilitas di kantor yang diterima (makan siang, minuman, dan lain sebagainya), bahkan juga ketika ia ditraktir oleh orang lain. Ini tidak sepenuhnya salah, selama ia memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan. Sikap hati tersebut yaitu ia harus terlebih dahulu sadar bahwa segala yang dimiliki di dunia ini sebenarnya bukan hartanya sendiri, tetapi harta Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Oleh karena itu, ia harus mampu mengerti kehendak Tuhan dalam mengelola uang dan harta tersebut dan bukan mengelolanya dengan suka-sukanya sendiri.

Jika mau jujur, uang yang ada di dompet atau rekening kita harus minimal digunakan dengan prinsip keadilan (tidak digunakan untuk korupsi, suap-menyuap maupun sogok-menyogok), prinsip belas kasihan (digunakan untuk membantu orang yang kesulitan, sesuai dengan tuntunan Tuhan), dan prinsip kesetiaan (semua dilakukan dengan hati yang setia kepada Tuhan). Ini sejajar dengan ayat yang menyatakan bahwa jika kita makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain (termasuk memberi persembahan), lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Kor 10:31), sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia, sehingga segala kemuliaan hanyalah bagi Dia untuk selama-lamanya (Rm 11:36). Ini artinya adalah kita harus dapat mengerti kehendak Tuhan dalam menggunakan uang yang ada di dompet atau rekening kita. Kita tidak boleh hanya mementingkan persembahan persepuluhan lalu yang 90% sisanya kita gunakan untuk hal-hal yang mendukakan hati Tuhan. Seluruh uang yang kita miliki, 100%-nya harus kita gunakan sesuai tuntunan-Nya, apakah itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita, untuk gereja dan pelayanan lainnya, ataukah untuk membantu orang lain. Di sini sikap hati yang benar harus kita miliki supaya kita tidak terjebak pada sikap munafik yang ditunjukkan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Persembahan persepuluhan adalah hal yang baik, tidak hanya di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Namun hendaknya kita tidak memberikan persembahan persepuluhan tersebut dalam topeng kemunafikan, sehingga kita dilihat orang lain sebagai orang yang saleh padahal hidup kita menyembunyikan kebusukan yang tidak diketahui oleh orang lain.




Bacaan Alkitab: Matius 23:23-26
23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
23:24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.
23:25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
23:26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Kamis, 14 September 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (15): Ayat yang Paling Populer



Kamis, 14 September 2017
Bacaan Alkitab: Maleakhi 3:6-12
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (Mal 3:10)


Persepuluhan di dalam Alkitab (15): Ayat yang Paling Populer


Bagaimanapun juga, hampir semua orang Kristen pasti pernah mendengar khotbah atau membaca ayat terfavorit mengenai persembahan persepuluhan, yang berbunyi: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (ay. 10). Sebenarnya jika kita mau jujur, ada banyak janji Tuhan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Namun demikian ayat tersebutlah yang cukup sering dikutip oleh sejumlah pengkhotbah/pendeta karena hal tersebut terkait dengan persembahan persepuluhan, yang selama ini diklaim merupakan milik pendeta tersebut.

Jika kita membaca ayat 10 saja tanpa melihat latar belakang dan konteks ayat tersebut, sepertinya memang janji ini adalah janji luar biasa, yaitu Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita sampai berkelimpahan (ay. 10b). Namun seperti biasa kita harus melihat latar belakang dan konteks ayat tersebut. Kita harus mengakui bahwa kitab Maleakhi sebenarnya ditujukan kepada bangsa Yehuda yang sudah kembali dari pembuangan di Babel, namun mereka tidak melakukan perintah Tuhan dengan setia. Bahkan jika kita membaca keseluruhan kitab Maleakhi, kita dapat melihat bagaimana Tuhan melalui nabi-Nya berfirman dan kemudian membalas pertanyaan bangsa Yehuda berkali-kali. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Yehuda pada waktu itu adalah bangsa yang sangat “ngeyel” dan sulit dinasehati. Bahkan dalam sejumlah bagian, Firman Tuhan tersebut ditujukan kepada para imam di Yerusalem yang juga telah menjadi bebal (Mal 2:1).

Jadi sebenarnya semangat kitab Maleakhi adalah untuk memerintahkan bangsa Yehuda (tidak hanya rakyat biasa tetapi juga para imam sebagai pemimpin rohani mereka) untuk kembali melakukan apa yang benar sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Jika kita membaca keseluruhan kitab, maka kita akan melihat bagaimana nabi Tuhan bertanya jawab dengan rakyat Yehuda yang “menantang” Tuhan, misalnya dengan perkataan: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (Mal 1:6) atau “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” (Mal 2:17). Ini menunjukkan sikap rakyat Yehuda yang sulit untuk menerima koreksi dan teguran dari Tuhan melalui nabi-Nya.

Salah satu bentuk teguran Tuhan kepada mereka adalah ketika Tuhan menyampaikan Firman-Nya bahwa Tuhan tidak berubah dan janji Tuhan kepada keturunan Israel juga tidak akan berubah, yaitu bahwa mereka tidak akan lenyap (ay. 6). Kita bisa melihat bahwa janji ini telah digenapi Tuhan hingga saat ini yaitu bangsa Israel walaupun telah dibuang ke Babel tetapi dapat kembali di zaman Ezra dan Nehemia, dan bahkan ketika terserak ke seluruh dunia sejak tahun 70 Masehi, mereka dapat berkumpul kembali dan mendirikan negara Israel di tahun 1948. Padahal bangsa-bangsa di sekitar mereka saja seperti bangsa Amon, bangsa Moab, atau bangsa Filistin sudah tidak ada lagi. Bangsa Israel adalah salah satu bangsa yang masih bisa memegang teguh ajaran agamanya setelah terserak ribuan tahun lamanya. Ini adalah penggenapan janji Tuhan yang luar biasa atas mereka, padahal sejarah membuktikan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang sering menyimpang dari Firman Tuhan (ay. 7a). Oleh karena itu Tuhan berfirman kepada keturunan Yakub yang pada saat itu telah kembali ke Yerusalem dan tanah Kanaan, supaya mereka kembali kepada Tuhan, maka Tuhan pun juga akan kembali kepada mereka (ay. 7b).

Jika kita saat ini berada di posisi bangsa Yehuda, mungkinkah kita membantah suara nabi yang menyampaikan suara Tuhan? Saya rasa tidak. Akan tetapi bangsa Yehuda justru seakan-akan menantang Tuhan dengan berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?” (ay. 7c). Ini adalah sikap yang kurang ajar. Tetapi Tuhan tetap sabar dan meladeni pertanyaan bangsa Yehuda tersebut, dengan membalas bahwa sebenarnya mereka telah menipu Tuhan (ay. 8a). Namun sekali lagi mereka juga menjawab dengan nada menantang: “Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?” (ay. 8b).

Jika kita perhatikan dalam kitab Maleakhi, ada banyak tanda seru yang digunakan untuk menunjukkan kemarahan Tuhan terhadap sikap bangsa Yehuda yang terlalu bebal. Dua di antaranya juga digunakan dalam perikop ini, dimana Tuhan menjawab pertanyaan bangsa Yehuda mengenai cara bagaimana mereka menipu Tuhan, yaitu dalam hal persembahan persepuluhan dan persembahan khusus (ay. 8c). Tuhan berkata bahwa mereka sebenarnya telah kena kutuk tetapi mereka masih menipu Tuhan (ay. 9a). Bahkan Tuhan berfirman bahwa seluruh bangsa telah menipu Tuhan, bukan hanya rakyat saja tetapi juga para imam (ay. 9b). Perhatikan 2 buah tanda seru yang ada di ayat 8 dan 9 tersebut. Perhatikan pula bahwa penipuan yang dilakukan oleh segenap bangsa Yehuda (termasuk para imam) terjadi persis sebelum ayat 10 yang merupakan ayat populer mengenai persembahan persepuluhan yang sering dikutip oleh para pendeta. Jadi jika kita mau jujur, maka konteks ayat 10 tersebut ada ketika Tuhan sedang marah kepada bangsa Yehuda atas kesalahan mereka sebagai seluruh bangsa (yaitu rakyat dan pemimpin/imam). Jadi konteks ayat 10 tidaklah hanya ditujukan kepada rakyat semata, tetapi juga ditujukan kepada para imam yaitu pemimpin rohani bangsa Yehuda pada waktu itu.

Jika kita mau jujur, hampir semua janji Tuhan (khususnya di Perjanjian Lama) adalah janji yang bersyarat. Janji mengenai berkat dan kutuk dalam kitab Ulangan pasal 28 juga diawali dengan syarat: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati bangsa Israel” (Ul 28:1 dst). Namun jika bangsa Israel tidak melakukannya, yaitu “jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka mereka akan terkena kutuk” (Ul 28:15 dst). Jadi ketika Tuhan berfirman bahwa bangsa Yehuda telah kena kutuk (ay. 9a), maka sebenarnya ada perintah Tuhan yang mereka lalaikan dan abaikan, yang antara lain terkait dengan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus.

Kita telah belajar dalam renungan-renungan sebelumnya, bahwa persembahan persepuluhan adalah suatu persembahan khusus yang diatur secara rinci dalam hukum Taurat sejak zaman Musa. Namun demikian, ternyata walaupun mereka sudah berulang kali diingatkan oleh Tuhan (antara lain pada zaman raja Hizkia, nabi Amos, dan juga Nehemia), namun pada masa Maleakhi ini (setelah masa Nehemia), bangsa Yehuda kembali melakukan kesalahan terkait persembahan persepuluhan tersebut. Jadi kita harus mencari tahu kira-kira apakah kesalahan bangsa Yehuda pada waktu itu sehingga Tuhan berfirman seperti tertulis di ayat 10 tersebut?

Kemungkinan Pertama, bisa jadi selama ini persembahan persepuluhan bangsa Yehuda “dimanipulasi” sedemikian rupa sehingga mereka membawa binatang yang cacat kepada Tuhan (Mal 1:8). Ingat bahwa persembahan persepuluhan atas hasil ternak dihitung dari setiap kelipatan 10. Memang di hukum Taurat ada aturan bahwa apapun yang dihitung setiap kelipatan 10 maka itulah yang menjadi persembahan persepuluhan, entah yang baik atau yang buruk, dan tidak boleh ditukar (Im 27:32-33). Namun sepertinya bangsa Yehuda mencoba “mengakali” ketentuan tersebut yaitu dengan cara menyusun barisan hewannya sedemikian rupa sehingga setiap kelipatan 10 adalah hewan yang buruk atau yang cacat. Ini adalah sikap manipulatif yang luar biasa jahat dan sangat berani di hadapan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan murka dan kemudian berkata agar bangsa Yehuda membawa seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah Tuhan (ay. 10a), yaitu makanan yang sehat dari hewan ternak yang sehat dan bukan dari hewan ternak yang sakit atau cacat.

Dari kalimat ini saja ada juga kemungkinan kedua, yaitu bangsa Yehuda membawa persembahan persepuluhan tetapi tidak seluruhnya. Ada kemungkinan bahwa bangsa Yehuda pada waktu itu melalaikan (benar-benar tidak pernah memberikan lagi atau memberikan sebagian saja) persembahan persepuluhan tersebut. Hal ini tentu jelas terlihat dari sikap bangsa Yehuda yang dikritik Tuhan sepanjang kitab Maleakhi. Jadi, persembahan persepuluhan itu hanyalah satu dari sekian banyak hukum Taurat yang diabaikan oleh mereka. Dalam hal ini Tuhan ingin mengajar supaya bangsa Yehuda konsisten melakukan hukum Taurat secara utuh, bukan parsial (sebagian saja).

Ada pula kemungkinan ketiga, dimana bangsa Yehuda selama ini hanya berfokus dalam membangun rumahnya, lumbungnya, ladangnya, dan melalaikan ibadah yang sejati (yang pada waktu itu memang hanya difokuskan di Bait Allah di Yerusalem sebagai satu-satunya tempat ibadah yang melambangkan kehadiran Tuhan). Kondisi tersebut mirip dengan seperti apa yang terjadi pada zaman Hagai, dimana mereka melalaikan Bait Allah dan hanya berfokus untuk membangun rumah, ladang, dan kekayaan mereka pribadi. Saat itu mereka tidak sadar bahwa mereka telah kena kutuk dari Tuhan (ay. 9), dan itu akibat dari hati mereka yang lebih mementingkan kekayaan duniawi daripada ibadah kepada Tuhan. Mungkin secara finansial mereka masih cukup kaya (karena hasil kerja keras mereka), memiliki harta yang berlimpah, tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Sehingga akhirnya, Tuhan murka dan menantang orang Yehuda supaya hati mereka kembali kepada Tuhan, sehingga muncullah kalimat  “ujilah Aku, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (ay. 10b). Ayat tersebut dapat dibahasakan dalam bahasa masa kini dengan kalimat berikut: “Jika hatimu sungguh-sungguh melekat kepada-Ku, kamu tidak fokus dengan hidupmu sendiri, dan kamu sungguh-sungguh melakukan Firman-Ku, kamu juga pasti tidak akan kekurangan. Kamu selama ini menjadi kaya dari hasil kerja kerasmu tetapi kamu jauh dari Aku. Kalau kamu mendekat kepada-Ku dan taat kepada perintah-Ku, hal itu juga tidak akan membuatmu menjadi miskin dan melarat”.

Kita perlu senantiasa mengingat bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan di Perjanjian Lama dengan orientasi berkat secara fisik, dimana janji Tuhan yang paling utama adalah mereka boleh masuk dan tinggal di tanah Kanaan. Namun orang Kristen adalah umat pilihan Tuhan di Perjanjian Baru, dengan orientasi berkat bukan secara fisik/jasmani tetapi rohani. Janji Tuhan kepada umat Perjanjian Baru adalah janji mengenai tanah air surgawi, yaitu langit yang baru dan bumi yang baru. Oleh karena itu, sebenarnya ayat 10 di atas sudah tidak lagi relevan bagi umat Perjanjian Baru, karena orientasi yang sudah berbeda. Kita boleh saja membaca Alkitab Perjanjian Lama tetapi kita harus melihatnya dari sudut pandang Perjanjian Baru. Sebagai contoh, jemaat mula-mula yang memberikan persembahan persepuluhan bahkan menjual segala miliknya, mengapa mereka tetap mengalami aniaya dan terusir dari tanah mereka?

Jadi, dengan menyimpulkan ketiga kemungkinan dan penjelasan di atas, makna rohani yang bisa kita pelajari adalah supaya kita belajar melakukan kehendak Tuhan secara utuh dan bulat. Jika kehendak Tuhan bagi bangsa Israel dan Yehuda di Perjanjian Lama adalah supaya mereka melakukan hukum Taurat, maka bagi kita di Perjanjian Baru, kehendak Tuhan adalah ketika kita melakukan apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Itulah sebabnya Tuhan berfirman supaya kita mengasihi Tuhan dengan segenap (tidak setengah ataupun sebagian) hati, dengan segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi kita. Kita tidak bisa memberikan hanya 10% kepada Tuhan kemudian yang 90% kita gunakan suka-suka kita sendiri. Semua harus diberikan bagi kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya, atau lebih baik tidak sama sekali.

Banyak orang terjebak dengan aturan 10% ini sehingga yang penting sudah memberikan 10%, lalu yang 90% bisa digunakan untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Mereka merasa yang penting sudah memberi apa yang menjadi hak Tuhan. Padahal, Alkitab tidak pernah berkata bahwa 10% adalah hak Tuhan. Tuhan tidak hanya memiliki hak 10% dari harta kita, tetapi Tuhan sebenarnya mempunyai hak atas 100% hidup kita. Oleh karena itu, percuma jika kita memberikan persembahan persepuluhan tetapi segenap hidup kita tidak kita berikan untuk Tuhan. Lambat laun kita hanya akan menjadi orang-orang yang munafik seperti orang Farisi di Perjanjian Baru (nanti akan kita pelajari di renungan-renungan selanjutnya). Orang-orang seperti ini adalah mereka yang menjalankan ibadah secara lahiriah, tetapi mengabaikan kebenaran yang bersifat batiniah.

Salah satu tujuan Tuhan supaya bangsa Israel diberkati adalah karena dari bangsa itulah akan lahir Mesias, dan juga karena mereka harus membawa pengenalan akan Tuhan yang benar. Di sini maksud supaya mereka diberkati secara jasmani adalah supaya bangsa-bangsa lain dapat melihat bangsa Israel sebagai negeri kesukaan (ay. 12). Namun demikian, tugas kita sebagai umat percaya di Perjanjian Baru tidaklah sama. Tugas kita adalah hidup dalam kebenaran supaya orang lain melihat perbuatan kita yang baik dan kemudian mempermuliakan Bapa di surga (Mat 5:16). Ini adalah tugas yang tidak mudah. Banyak orang Kristen mengabaikan ini sehingga mereka lupa bahwa mereka harus menjadi teladan.

Yang lebih parah lagi, dapat terjadi sejumlah penyimpangan mengenai praktik persembahan persepuluhan yang terjadi di gereja sebagai dampak pemahaman prinsip persembahan persepuluhan yang salah, antara lain: 1) memberikan 10% ke gereja (dianggap bahwa itu sama dengan memberikan 10% ke Tuhan) tetapi yang 90% digunakan untuk hal-hal lain yang tidak berguna bahkan yang merusak/jahat; 2) memberikan 10% ke gereja dan merasa bahwa persembahan persepuluhan tersebut bisa menghapus dosa dan kesalahan yang dilakukan. Akibatnya orang-orang ini menjadi rajin memberikan persembahan persepuluhan, namun mereka tetap hidup dan berkubang dalam dosa; 3) memberikan 10% dari hasil kejahatan (misal hasil korupsi) ke gereja , dan merasa berhak menikmati hasil kejahatan tersebut karena seakan-akan hasil kejahatan tersebut sudah disucikan oleh 10% yang diberikan ke gereja. Prinsip ini seakan-akan dapat mengubah uang haram menjadi halal dengan memberikan 10%-nya ke gereja. Hal ini akan menjadi lebih parah lagi jika ada pendeta atau gereja yang mengerti bahwa itu adalah uang hasil kejahatan, tetapi tetap menerimanya bahkan menjustifikasinya sebagai perbuatan yang benar.

Jadi, setelah kita belajar mengenai konteks di dalam kitab Maleakhi, kita akan mengetahui bahwa ayat 10 tidak berbicara tentang perintah yang mutlak bahwa jika kita memberi 10% maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap berkat jasmani dari langit dan kita akan hidup berkelimpahan. Kita harus dapat mengerti konteks dan latar belakang ayat tersebut. Jemaat mula-mula yang sudah memberi segenap hartanya bahkan segenap hidupnya, tidak pernah menerima harta duniawi yang berkelimpahan. Mereka bahkan harus rela terusir dari rumahnya, kehilangan harta benda, dianggap sebagai penjahat, dianiaya bahkan disiksa hingga mati. Ingat bahwa Tuhan lebih ingin hati kita daripada harta kita. Jika hati kita sudah melekat kepada Tuhan, kita tidak akan pernah hitung-hitungan dengan Tuhan berapa yang akan kita berikan kepada-Nya. Jika Tuhan berkata kepada kita: “berikan Rp50 ribu ke tetangga kita”, berikanlah dengan sukacita. Jika Tuhan berkata kepada kita: “berikan 10% kepada gereja kita”, berikanlah dengan sukacita. Jika Tuhan berkata kepada kita: “berikan 20% kepada kepada pendeta lain”, berikanlah dengan sukacita. Bahkan sekalipun Tuhan berkata kepada kita: “jual rumahmu, kemudian gunakan uangnya untuk membangun gereja di pedalaman”, lakukanlah dengan sukacita. Dalam hal ini kita akan dipandang berkenan di hadapan Bapa, yaitu ketika kita mau melakukan kehendak Bapa terkait harta kita, yaitu ketika kita mengerti bahwa harta dunia ini hanyalah titipan-Nya, dan kita harus menggunakannya dengan bijaksana, sesuai dengan kehendak-Nya tanpa terikat dengan premis “sekian persen untuk Tuhan, sekian persen untuk aku”.



Bacaan Alkitab: Maleakhi 3:6-12
3:6 Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.
3:7 Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?"
3:8 Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!
3:9 Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!
3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.
3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.