Rabu, 11 Oktober 2017

Disukai Semua Orang?



Rabu, 11 Oktober 2017
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 2:41-47
Sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis 2:47)


Disukai Semua Orang?


Pada ibadah hari Minggu kemarin, saya mendengarkan khotbah di sebuah gereja, dimana pembicara/pengkhotbah tersebut  berkata bahwa jemaat mula-mula adalah jemaat yang disukai semua orang, sehingga mereka pun terus berkembang dan menuai jiwa-jiwa dengan bertambahnya jumlah jemaat. Pengkhotbah tersebut berkata bahwa jemaat gereja juga harus bisa sampai level “disukai semua orang” sehingga banyak jiwa-jiwa akan dapat diajak datang ke gereja dan menjadi anggota jemaat supaya gereja semakin berkembang dan jemaat menjadi bertambah banyak.

Sekilas, tidak ada yang salah dengan khotbah tersebut. Apalagi jika gereja atau sinodenya juga sedang membahas tema mengenai misi di gereja tersebut. Namun demikian, untuk dapat memahami makna sebenarnya dari ayat-ayat tersebut, kita harus melihat konteks dan latar belakang dari ayat tersebut, terlebih jika mengingat fakta bahwa setelah ayat tersebut, maka tidak ada lagi “masa bulan madu” jemaat mula-mula, karena mereka langsung  mengalami aniaya yang hebat.

Konteks dan latar belakang ayat ini adalah beberapa saat setelah hari Pentakosta, dimana Roh Kudus dicurahkan kepada murid-murid. Pada waktu itu Petrus sebagai pemimpin rasul-rasul berkhotbah dengan berani (atas pimpinan Roh Kudus) kepada orang-orang dari segala bangsa yang berkumpul di Yerusalem, dan sebagai hasilnya, jumlah jemaat langsung bertambah kira-kira 3.000 jiwa (ay. 21). Jemaat mula-mula ini (bahkan benar-benar jemaat yang paling mula-mula atau paling awal), dengan setia bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan (ay. 42a). Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (ay. 42b). Ada kemungkinan kegiatan “memecahkan roti dan berdoa” tersebut bukan hanya sekedar makan bersama tetapi mungkin juga terkait dengan perintah Tuhan Yesus untuk melakukan perjamuan untuk mengingat kematian-Nya. Selain pengajaran dan persekutuan, Alkitab juga mencatat bahwa rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda (ay. 43). Belum lagi kegiatan mereka yang dengan tekun dan sehati berkumpul di dalam Bait Allah, memecahkan roti dan makan bersama di rumah masing-masing secara bergilir dengan gembira dan tulus hati sambil (ay. 45 & 47a).

Sayangnya banyak pembicara Kristen cenderung melompati pembahasan dari ayat 44. Mengapa demikian? Karena ayat 44 berbicara mengenai bagaimana semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (ay. 44). Hal ini sangat mungkin dilakukan di masyarakat 2.000 tahun yang lalu, tetapi nyaris mustahil dilakukan di masa kini. Apa buktinya? Kita dapat melihat bagaimana gereja-gereja dan pendeta-pendeta berselisih, hingga akhirnya ada pendeta yang membentuk gereja baru dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu saja, saya yakin hampir tidak ada pendeta yang berani mengkhotbahkan gaya hidup jemaat mula-mula dimana kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Mengapa demikian? Karena gaya hidup ini nyaris tidak ditemukan di kalangan pendeta-pendeta masa kini. Bahkan pada saat saya mendengarkan khotbah ini minggu lalu, pengkhotbah di gereja tersebut dengan jelas-jelas berkata, bahwa “persepuluhan adalah hak saya dan saya berhak menggunakan sesuai kehendak saya”. Padahal jika kita belajar mengenai persepuluhan dalam renungan-renungan sebelumnya, tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa persepuluhan adalah hak pendeta atau gembala jemaat. Jadi jika pendetanya saja masih menganggap bahwa persepuluhan adalah hak pendeta, bagaimana pendeta mengajar jemaatnya untuk saling berbagi? Jika jemaat melihat bahwa pendetanya belum melakukan apa yang ia khotbahkan, dan hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi: 1) pendetanya akan merasa malu lalu bertobat; atau 2) pendetanya akan “ngeles” dengan berbagai alasan dan kutipan ayat untuk membenarkan dirinya.

Nah terkait dengan ciri-ciri jemaat mula-mula tersebut, ada bagian akhir yang juga harus diperhatikan, adalah ketika dikatakan bahwa jemaat mula-mula itu disukai oleh semua orang (ay. 47b). Hal ini tentu terkait bahwa jumlah jemaat mula-mula semakin bertambah karena banyak orang tertarik dan menyukai gaya hidup jemaat mula-mula (ay. 47c). Jika kita perhatikan, apanya yang disukai? Jawabannya ada beraneka ragam kemungkinan. Ada kemungkinan banyak orang suka karena ada banyak mujizat dan tanda. Ada kemungkinan banyak orang suka karena ada banyak yang menjual harta miliknya dan membagi-bagikan. Ada kemungkinan juga banyak orang suka karena mereka sudah pernah mendengar pengajaran Tuhan Yesus dan ingin mendalami ajaran-Nya.

Namun demikian, kita harus ingat bahwa konteks perikop ini adalah beberapa saat setelah hari Pentakosta, dimana para imam, ahli Taurat dan orang Farisi belum bersikap keras kepada jemaat Tuhan. Mereka masih dapat berkumpul setiap hari di bait Allah, karena mungkin apa yang diajarkan oleh rasul-rasul tidak terlalu bertentangan dengan ajaran Yahudi. Namun seiring dengan tuntunan Roh Kudus, mau tidak mau jemaat Tuhan dibawa Tuhan untuk naik level dengan cepat. Ada orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus dan memiliki kecerdasaran rohani yang luar biasa, seperti Stefanus. Akibatnya, mulailah terjadi gesekan antara jemaat mula-mula. Mereka yang awalnya disukai di pasal 2 ini (ay. 47), kemudian tetap dihormati di pasal 5 (Kis 5:13), dan pada akhirnya mulai dianiaya dengan hebat di pasal 8 (Kis 8:1). Jadi hanya berselang 6 pasal, jemaat mula-mula sudah harus menghadapi tantangan dan aniaya yang bahkan juga mengancam nyawa mereka.

Jadi hal ini seharusnya menempelak orang-orang yang berkata bahwa orang Kristen pasti disukai oleh orang lain, apalagi disukai oleh dunia. Seiring perkembangan zaman, kita melihat bahwa mau tidak mau, orang Kristen yang hidup benar pasti akan terpisah dengan mereka yang mencintai dunia. Pemisahan ini akan menjadi begitu nyata dan jelas, seperti yang dikatakan dalam kitab Wahyu: “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” (Why 22:11). Artinya, di akhir zaman ini, mereka yang hidup kudus akan semakin kudus, dan mereka yang jahat akan semakin jahat. Orang Kristen yang hidup sungguh-sungguh pasti dimusuhi oleh mereka yang hidup duniawi. Orang Kristen yang hidup benar mungkin akan dipercaya oleh atasan yang hidup benar juga, tetapi di sisi lain pasti akan dimusuhi oleh rekan sekerja, bawahan, bahkan atasan yang hidup tidak benar. Ini adalah fakta yang tidak dapat dibantah. Dan jika Alkitab menulis bahwa pada akhir zaman akan datang masa yang sukar (2 Tim 3:1), itu adalah masa dimana manusia banyak yang hidup dengan jahat dan pasti akan menyulitkan orang percaya yang hidup benar.

Jadi kalimat “disukai semua orang” harus dilihat pada konteks jemaat mula-mula di Yerusalem sebelum adanya penganiayaan. Bagi kita yang hidup di masa akhir zaman ini, jangan pernah berharap kita akan disukai oleh semua orang. Justru kita harus siap menderita demi nama Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa sama seperti mereka (orang dunia) menganiaya Aku, maka mereka pun juga akan menganiaya pengikut Kristus yang sejati (Yoh 15:20). Tetapi soal disukai oleh orang atau tidak, sebenarnya itu bukanlah masalah. Yang terpenting adalah kita berjuang supaya hidup kita menyukakan Allah. Kita berjuang supaya kita disukai Allah. Biarlah kita senantiasa mencari kesukaan Allah dan bukan kesukaan manusia, sama seperti Paulus, hamba-Nya yang setia (Gal 1:10).


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 2:41-47
2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Senin, 09 Oktober 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (21): Sebagai Bentuk Pengakuan kepada Yang Lebih Tinggi



Senin, 9 Oktober 2017
Bacaan Alkitab: Ibrani 7:6-11
Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji. Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi (Ibr 7:6-7)


Persepuluhan di dalam Alkitab (21): Sebagai Bentuk Pengakuan kepada Yang Lebih Tinggi
 

Hari ini kita akan mengakhiri serial renungan mengenai persepuluhan di dalam Alkitab. Kita telah belajar mengenai sejarah persembahan persepuluhan pada zaman Perjanjian Lama, hingga praktik penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi di zaman Perjanjian Baru. Hingga saat ini saya berharap kita semua sudah mulai mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persembahan persepuluhan di dalam Alkitab. Namun demikian, pada akhir serial renungan ini, saya akan membahas satu hal yang mungkin selama ini kurang kita sadari, yaitu apa tujuan kita memberi persembahan?

Selama ini kebanyakan orang Kristen memberi persembahan karena sejak kecil sudah diajar demikian. Ada pula orang Kristen yang diajar memberi persembahan karena terpengaruh dengan prinsip agama lain, dimana persembahan adalah sedekah untuk membuka pintu-pintu berkat. Orang semacam ini berpikir bahwa jika ia memberikan persembahan sejumlah uang ke gereja, maka Tuhan akan senang dan akan semakin memberkati orang tersebut. Saya sendiri pernah terjebak pada suatu prinsip yang salah, bahwa jika saya memberi persembahan persepuluhan sebanyak 20% dari penghasilan saya, maka saya akan diberkati Tuhan lebih banyak lagi, yaitu 200% dari penghasilan saya, dan seterusnya (persepuluhan sebanyak 30% akan dibalas Tuhan dengan 300% penghasilan, dan seterusnya).

Setelah saya semakin belajar memahami kebenaran, ternyata prinsip persembahan tidaklah sesederhana itu. Persembahan bukan kita berikan untuk “menyogok” Tuhan sehingga Tuhan melakukan apa yang kita inginkan (atau mengabulkan permintaan kita). Persembahan juga tidak sekedar diberikan untuk membantu pelayanan di gereja atau persekutuan. Makna persembahan dalam Alkitab sebenarnya jauh lebih agung dan mulia dari apa yang selama ini banyak diajarkan di gereja.

Hari ini kita membaca bagaimana Melkisedek yang sebenarnya bukan keturunan orang Yahudi (atau nenek moyang orang Yahudi), ternyata memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati Abraham (ay. 6a). Padahal Abraham sendiri adalah pemilik janji Allah (Elohim Yahweh) dimana Allah berjanji akan menjadikan Abraham sebagai bapa banyak bangsa (ay. 6b). Di sini terlihat suatu paradoks, dimana Abraham (sang pemilik janji) justru diberkati oleh Melkisedek. Kita tidak tahu latar belakang Melkisedek karena namanya hanya muncul beberapa kali saja. Namun satu hal yang sudah pasti adalah prinsip bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi (ay. 7).

Jadi walaupun Abraham adalah bapa orang percaya atau bapa orang beriman, ternyata Abraham sadar bahwa ada lagi yang lebih tinggi dari dirinya, yaitu Melkisedek, iman Allah yang maha tinggi. Proses pemberian persepuluhan dari Abraham kepada Melkisedek melambangkan tunduknya keturunan Abraham kepada keturunan yang lebih tinggi lagi, yaitu keturunan ilahi. Dalam hal ini bangsa Israel yang adalah umat pilihan di Perjanjian Lama, ternyata harus tunduk kepada umat pilihan lain, yaitu umat pilihan di Perjanjian Baru. Dalam hal ini hukum Taurat pun harus tunduk kepada Sang Pembuat Hukum, yaitu Allah sendiri, yang di dalam Perjanjian Baru telah memberikan Anak-Nya yang tunggal sebagai jalan keselamatan.

Jadi dalam hal ini persembahan persepuluhan di dalam Alkitab merupakan gambaran dimana ada orang-orang yang memberikan persembahan persepuluhan kepada orang lain, yaitu pihak yang lebih tinggi. Persembahan persepuluhan merupakan gambaran bagi manusia fana, tetapi makna rohaninya tidak berhenti sampai di situ, tetapi justru harus dilihat secara lebih luas, yang menggambarkan ketertundukan manusia kepada Tuhan yang hidup (ay. 8). Jika hukum Taurat dalam Perjanjian Lama diatur berdasarkan panggilan Abraham, maka persembahan persepuluhan tidak hanya diberikan oleh orang Israel kepada orang Lewi, tetapi juga dipungut persepuluhan dari orang Lewi tersebut, sebagaimana gambaran Abraham yang memberikan sepersepuluh kepada Melkisedek (ay. 9-10).

Gambaran ini sebenarnya menunjukkan bahwa imamat Lewi (yaitu imamat menurut hukum Taurat yang dilambangkan dengan persembahan persepuluhan) bukanlah imamat yang sempurna (ay. 11). Ada suatu imamat lain yang dilambangkan oleh Melkisedek, sehingga Abraham pun memberikan sepersepuluh dari hasil rampasan yang diperolehnya kepada Melkisedek. Ini menunjukkan bahwa ada suatu imamat yang lebih tinggi lagi, yaitu imamat menurut Tuhan Yesus, karena Ia adalah Imam Besar kita. Jadi jika umat Perjanjian Lama diatur menurut hukum Taurat, maka umat Perjanjian Baru tidak diatur menurut hukum Taurat, tetapi berdasarkan Tuhan Yesus.

Artinya, jika selama ini hukum Taurat mengatur bagaiaman bangsa Israel harus berperilaku, maka di Perjanjian Baru, kita dituntut untuk mengenakan kehidupan Kristus dalam diri kita. Kita tidak lagi diatur oleh hukum Taurat, tetapi Tuhan adalah hukum kita. Artinya kita dituntut untuk berpikir, berkata-kata, bahkan bertindak dan berperilaku seperti Tuhan Yesus. Bahkan dalam hal persembahan persepuluhan, jika orang Israel di Perjanjian Lama diatur dengan hukum Taurat untuk memberikan persembahan sekian persen, termasuk apa-apa saja yang harus dihitung sepersepuluh, serta kepada siapa persembahan itu diberikan, maka  orang percaya di zaman Perjanjian baru tidaklah diatur oleh hukum tertulis seperti itu. Dalam hal ini, orang percaya harus bisa memberikan persembahan sesuai dengan kehendak dan isi hati Tuhan. Artinya, kita yang harus memiliki standar Tuhan Yesus dalam hidup kita, dimana kita melakukannya sesuai dengan kehendak Tuhan dalam tuntunan Roh Kudus. Ini artinya kita tidak terpaku pada aturan kita harus memberi berapa persen, harus memberi kepada siapa dan bagaimana cara menghitungnya. Yang lebih penting lagi adalah kesadaran bahwa segenap hidup kita (termasuk uang yang ada di dompet/rekening kita) adalah milik Tuhan dan harus digunakan bagi kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya. Di situ kita akan benar-benar berjuang untuk melakukan prinsip ini: Tuhan adalah hukumku (The Lord is my law), sehingga ukuran persembahan kita bukan lagi berapa banyak atau dimana/kepada siapa kita memberi, akan tetapi ukuran persembahan kita adalah bagaimana kita menghargai Tuhan sebagai pemilik hidup kita, dan bagaimana kita menggunakan uang yang ada di dompet/rekening kita sesuai dengan kehendak-Nya, termasuk dalam hal persembahan.



Bacaan Alkitab: Ibrani 7:6-11
7:6 Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji.
7:7 Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.
7:8 Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup.
7:9 Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan,
7:10 sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya itu.
7:11 Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan -- sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat -- apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun?

Senin, 02 Oktober 2017

Persepuluhan di dalam Alkitab (20): Menurut Hukum Taurat dan Untuk Umat Israel



Senin, 2 Oktober 2017
Bacaan Alkitab: Ibrani 7:4-5
Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. (Ibr 7:5)


Persepuluhan di dalam Alkitab (20): Menurut Hukum Taurat dan Untuk Umat Israel


Setelah kita belajar konteks dari perikop ini pada renungan hari sebelumnya, maka hari ini kita akan melanjutkan pembahasan perikop tersebut untuk lebih mengerti mengenai konteks ayat yang memuat mengenai persembahan persepuluhan di dalam Perjanjian Baru. Kita telah mengerti bahwa konteks penyebutan persembahan persepuluhan dalam perikop ini sesungguhnya bukan untuk melegitimasi penerapan atau praktik persembahan persepuluhan di dalam jemaat Perjanjian Baru, melainkan untuk menunjukkan bahwa ada suatu sosok yang lebih tinggi dari Abraham, sehingga bangsa Yahudi selaku keturunan fisik Abraham juga harus mengakuinya. Dalam hal ini Melkisedek adalah gambaran dari Yesus Kristus selaku imam yang memiliki kekuasaan selama-lamanya.

Oleh karena itu, penulis kitab Ibrani melanjutkan pembahasan mengenai Melkisedek, dengan berkata kepada bangsa Yahudi supaya mereka menanamkan kebenaran ini, yaitu betapa besarnya orang tersebut (Melkisedek), dimana Abraham, bapa leluhur orang Yahudi, telah memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik (ay. 4). Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya kita telah belajar bahwa Abraham memang memberikan sepersepuluh dari hasil rampasan perangnya kepada Melkisedek, dan bukan sepersepuluh dari penghasilannya atau sepersepuluh dari harta miliknya. Namun demikian, dalam ayat 4 tersebut jelas dikatakan bahwa Abraham memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik.

Sangat jelas bahwa harta rampasan dapat terdiri dari berbagai macam benda/barang dengan kualitas yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, jika seseorang hendak memberikan sepersepuluh dari barang rampasan yang diperolehnya kepada orang lain, maka setidaknya ada 3 alternatif yang dapat dilakukan: 1) memberikan sepersepuluh secara acak; 2) memberikan sepersepuluh dari yang terburuk; atau 3) memberikan sepersepuluh dari yang terbaik. Jelas bahwa pilihan nomor 3 adalah pilihan yang tersulit, karena setidaknya orang tersebut harus memilah-milah barang rampasan untuk selanjutnya memberikan yang terbaik kepada orang lain.

Namun jelas terlihat di sini kekuatan karakter Abraham dimana Abraham tidak segan-segan memberikan yang terbaik kepada orang lain, bahkan kepada orang yang baru dikenalnya. Tidak heran ia pun dengan cepat memberikan Lot, keponakannya, kesempatan untuk memilih daerah untuk menggembalakan kambing dombanya (Kej 13:8-9). Abraham sudah membiasakan dirinya untuk tidak mengambil apa yang sebenarnya menjadi haknya. Oleh karena itu, Tuhan terus mengujinya hingga ujian terberat dalam hidup Abraham, yaitu ketika Tuhan memintanya untuk mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal itu.

Di sini jelas terlihat bahwa jika Abraham saja memberikan hasil rampasan yang terbaik kepada Melkisedek, itu berarti Abraham mengakui bahwa Melkisedek jauh lebih besar daripada dirinya. Oleh karena itu jika keturunan Abraham, khususnya anak-anak Lewi (suku Lewi) kemudian menerima jabatan imam, maka sebenarnya mereka menerima suatu imamat yang berasal dari Abraham (ay. 5a). Namun demikian, harus disadari bahwa masih ada imamat lainnya yang lebih besar dari Abraham, yaitu imamat yang berasal dari Melkisedek, karena Abraham pun tunduk kepada Melkisedek.

Bahkan penulis kitab Ibrani juga meneruskan bahwa ketika suku Lewi (khususnya para imam) mendapat tugas menurut hukum Taurat untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka (ke-11 suku lainnya), maka itu adalah tugas yang diberikan berdasarkan hukum Taurat (ay. 5b). Uniknya lagi, tugas suku Lewi untuk memungut persembahan persepuluhan tersebut hanya boleh dilakukan terhadap orang-orang sebangsanya (yaitu bangsa Israel atau bangsa Yahudi, yaitu ), dan bukan kepada orang di luar keturunan Abraham. Suku Lewi tidak diperkenankan memungut persembahan persepuluhan dari orang Filistin atau dari orang Romawi. Hal ini juga berlaku bagi bangsa Yahudi atau bangsa Israel. Sekalipun bangsa Yahudi adalah keturunan Abraham, mereka tidak boleh memungut persembahan persepuluhan dari orang non Yahudi. Dalam hal ini berlaku bahwa sekalipun ke-11 suku Israel (selain suku Lewi) adalah keturunan Abraham, mereka wajib memberikan persembahan persepuluhan kepada suku Lewi menurut hukum Taurat.

Ini menunjukkan kebenaran yang seringkali diabaikan oleh orang Kristen, yaitu pada prinsipnya persembahan persepuluhan adalah suatu kewajiban dalam Alkitab yang didasarkan pada hukum Taurat. Jadi kita yang bukan orang Yahudi sebenarnya tidak pantas bersikap keyahudi-yahudian karena kita sesungguhnya adalah umat pilihan dalam Perjanjian Baru, bukan umat pilihan dalam Perjanjian Lama yaitu bangsa Israel/bangsa Yahudi. Namun demikian, kenyataan di sejumlah gereja menunjukkan bahwa sebagian orang Kristen, sebagian gereja, dan bahkan sebagian pendeta kini cukup sering menyampaikan pengajaran yang keyahudi-yahudian, termasuk hitung-menghitung tahun Ibrani, sejumlah kosakata Ibrani, dan lain sebagainya.

Tidak salah memang jika orang Kristen belajar bahasa Ibrani untuk dapat lebih memahami isi Alkitab dengan benar. Namun demikian, akan menjadi salah jika orang Kristen non Yahudi justru semakin bersikap keyahudi-yahudian dan bukan berjuang untuk menjadi serupa seperti Kristus. Jika demikian, sejumlah gereja dan pendeta kini sudah bergeser dari mengajarkan kekristenan menjadi mengajarkan agama Yahudi. Salah satu ciri dari penyimpangan ini adalah gereja (orang-orang Kristen) atau pendeta yang menyamakan diri mereka dengan orang Yahudi, dalam artian sama berhak memiliki janji-janji Tuhan, sama memiliki orientasi ke Yerusalem dan tanah Kanaan, bahkan sama dalam hal mulai mengucapkan bahasa Yahudi dan juga melakukan adat istiadat Yahudi dalam keseharian hidup mereka.

Oleh karena itu gereja atau pendeta yang seperti ini pastilah pengajarannya jauh lebih banyak mengupas mengenai Alkitab Perjanjian Lama. Mereka sibuk berputar-putar di hukum Taurat, kebiasaan (tradisi) Yahudi, bahkan tidak jarang mulai memanggil Tuhan dengan sebutan Allah orang Yahudi. Apakah itu salah? Jawaban saya tegas: Jika pengajaran gereja atau pendeta tidak berpusat pada Kristus dan ajaran-Nya di dalam Perjanjian Baru, maka itu bukanlah Kristen yang benar! Kekristenan yang sejati tidak akan berputar-putar di Perjanjian Lama tetapi akan berfokus ke Perjanjian Baru. Kekristenan yang sejati tidak akan mendorong jemaat untuk bisa mengunjungi Yerusalem dan Kanaan sebagai tanah perjanjian (karena itu adalah tanah perjanjian bagi bangsa Israel), tetapi harus mendorong jemaat untuk bisa masuk ke tanah air surgawi, yaitu Yerusalem Baru.

Jadi dari penjelasan di atas semakin jelas bahwa penyebutan persembahan persepuluhan di kitab Ibrani (Perjanjian Baru) bukan merupakan suatu anjuran supaya praktik tersebut tetap dilakukan oleh jemaat mula-mula pada waktu itu. Penulis kitab Ibrani dengan tegas dan jelas telah menyebutkan bahwa praktik persembahan persepuluhan adalah suatu tugas bagi orang Ibrani (khususnya suku Lewi) yang diatur menurut hukum Taurat, yang berlaku bagi umat Israel yang adalah keturunan Abraham. Bahkan jika kita melihat kaitan ayat 4 dan ayat 5, jelas terlihat bahwa persembahan persepuluhan tersebut bukan hanya sebatas memberi sepersepuluh saja, tetapi lebih kepada frasa memberi yang terbaik kepada suatu “sosok” (yang digambarkan sebagai orang) yang besar dan agung. Tentu hal ini berbicara tentang bagaimana sikap kita terhadap Tuhan, dimana kita harus senantiasa memberi yang terbaik kepada-Nya.

Orang Kristen pasti tidak akan dihakimi menurut apakah ia melakukan syariat persembahan persepuluhan menurut hukum Taurat atau tidak. Orang Kristen akan dinilai berdasarkan seberapa ia melakukan kehendak Bapa (Mat 7:21-23). Orang Kristen akan dinilai apakah ia telah hidup seperti Kristus yang telah memberikan segala sesuatu kepada Bapa hingga taat mati di atas kayu salib. Orang Kristen akan dinilai berdasarkan sikapnya kepada Allah yang Maha Besar, dan seberapa ia memberikan yang terbaik kepadanya. Persembahan yang seharusnya diberikan kepada Allah tidak dapat diukur hanya sekedar berdasarkan sekian persen dari penghasilannya atau sekian persen dari kekayaannya. Persembahan yang benar adalah ketika orang Kristen memberikan segenap tubuh dan hidupnya bagi Tuhan, tanpa kecuali Ini berarti tidak ada satu bagian pun dalam hidup kita (uang, harta, tubuh, dan sebagainya) yang menjadi milik kita, karena semua adalah milik Tuhan. Semua itu harus digunakan bagi kemuliaan Tuhan, maka barulah itu menjadi suatu persembahan yang sejati di hadapan Tuhan (Rm 12:1).



Bacaan Alkitab: Ibrani 7:4-5
7:4 Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik.
7:5 Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham.