Jumat, 08 Desember 2017

Anjing dan Babi dalam Alkitab (38): Pengulangan Gambaran Hukuman terhadap Babel



Sabtu, 9 Desember 2017
Bacaan Alkitab: Yeremia 50:39-42
Sebab itu binatang-binatang gurun serta anjing-anjing hutan akan diam di sana, juga burung-burung unta akan tinggal di dalamnya. Negeri itu tidak akan didiami lagi untuk seterusnya dan tidak akan ditinggali lagi turun-temurun. (Yer 50:39)


Anjing dan Babi dalam Alkitab (38): Pengulangan Gambaran Hukuman terhadap Babel


Dalam renungan-renungan sebelumnya, kita telah belajar bagaimana anjing (khususnya anjing hutan) digunakan untuk menggambarkan hukuman terhadap Babel, sebagaimana yang disampaikan oleh nabi Yesaya. Kali ini, gambaran hukuman terhadap Babel juga diperkuat dengan nubuatan yang disampaikan oleh nabi Yeremia. Pada intinya, kedua nubuatan tersebut menggambarkan jenis hukuman yang serupa, yaitu bahwa wilayah Babel akan ditinggalkan oleh penduduknya dan menjadi suatu daerah yang tandus dan sepi.

Nabi Yeremia menulis bahwa binatang-binatang gurun serta anjing-anjing hutan akan diam di sana, bahkan burung unta akan tinggal di dalamnya (ay. 39a). Ayat ini hampir sejajar dengan apa yang ditulis oleh nabi Yesaya (Yes 13:21). Wilayah Babel akan menjadi sepi tanpa penduduk sehingga yang diam di sana adalah binatang-binatang gurun, termasuk anjing-anjing hutan dan burung unta. Jenis binatang yang disebutkan di sana adalah jenis binatang yang najis, yang tidak boleh dimakan oleh bangsa Israel. Jadi dengan kata lain wilayah Babel akan dinajiskan oleh Tuhan sehingga sudah tidak lagi ditempati oleh para penduduknya (ay. 39b).

Nubuatan tersebut diperjelas dengan ayat-ayat selanjutnya, dimana Tuhan menggambarkan hukuman terhadap Babel adalah sama seperti hukuman terhadap Sodom dan Gomora yang ditunggangbalikkan Tuhan (ay. 40a). Kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh api dan belerang sehingga tidak dapat dibangun lagi, dan tidak ada orang yang dapat tinggal di sana. Demikianlah gambaran yang serupa antara Sodom dan Gomora dengan kota-kota Babel.

Memang cara hukuman yang digunakan Tuhan kepada Babel tidaklah sama persis dengan Sodom dan Gomora. Jika pada Sodom dan Gomora Tuhan menggunakan api dan belerang, maka terhadap Babel, Tuhan menggunakan suatu suku bangsa dari utara yang akan menyerang dan menghancurkan Babel (ay. 41). Dari sejarah kita mengerti bahwa kerajaan Babel yang begitu besar dan megah pada waktu itu akhirnya dikalahkan oleh kerajaan Media dan Persia. Secara geografis pun, wilayah Media dan Persia memang berada sedikit lebih ke utara dibandingkan dari kerajaan Babel. Oleh karena itu, nubuatan ini digenapi langsung pada saat kerajaan Babel ditaklukkan oleh kerajaan Media dan Persia. 
Bangsa Media dan Persia ini menyerang Babel dan menaklukkanya tanpa belas kasihan (ay. 42).
Ini adalah pengulangan gambaran hukuman terhadap bangsa Babel yang menunjukkan bahwa hukuman tersebut akan dilaksanakan dengan segera. Sejarah pun membuktikan bahwa bangsa Babel hanya berkuasa dalam waktu yang relatif singkat sebelum ditaklukkan oleh kerajaan Media dan Persia. Bahkan dalam sejarah dunia, bangsa Israel masih bertahan hingga saat ini (dengan segala hukum-hukumnya dan tata cara ibadahnya) sementara kerajaan-kerajaan lain seperti Babel sudah lenyap tidak bebekas. Jika mau jujur, ini menunjukkan bahwa bangsa Israel memang adalah umat pilihan Tuhan di zaman Perjanjian Lama.



Bacaan Alkitab: Yeremia 50:39-42
50:39 Sebab itu binatang-binatang gurun serta anjing-anjing hutan akan diam di sana, juga burung-burung unta akan tinggal di dalamnya. Negeri itu tidak akan didiami lagi untuk seterusnya dan tidak akan ditinggali lagi turun-temurun.
50:40 Seperti dahulu pada waktu Allah menunggangbalikkan Sodom dan Gomora serta kota-kota tetangganya, demikianlah firman TUHAN, demikianlah tidak akan ada orang lagi yang diam di sana dan seorang anak manusia pun tidak akan tinggal lagi di dalamnya.
50:41 Lihatlah, suatu bangsa akan datang dari utara, suatu suku bangsa yang besar, dan banyak raja, akan bergerak maju dari ujung bumi.
50:42 Mereka memakai panah dan tombak; mereka bengis, tidak kenal belas kasihan. Suara mereka gemuruh seperti laut, mereka mengendarai kuda, berlengkap seperti orang maju berperang, menyerang engkau, hai puteri Babel!

Anjing dan Babi dalam Alkitab (37): Salah Satu Bentuk Hukuman Tuhan atas Yehuda



Jumat, 8 Desember 2017
Bacaan Alkitab: Yeremia 15:1-4
Aku akan mendatangkan atas mereka empat hukuman, demikianlah firman TUHAN: pedang untuk membunuh, anjing-anjing untuk menyeret-nyeret, burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi untuk memakan dan menghabiskan. (Yer 15:3)


Anjing dan Babi dalam Alkitab (37): Salah Satu Bentuk Hukuman Tuhan atas Yehuda


Karena kejahatan bangsa Israel dan Yehuda, Tuhan terus menenerus menyerukan suara pertobatan kepada mereka. Tuhan mengirimkan nabi-nabi-Nya untuk memperingatkan bangsa Israel dan Yehuda supaya mereka tidak melakukan apa yang jahat. Nyatanya, bangsa Israel utara (10 suku Israel) tidak mau bertobat sehingga akhirnya kerajaan mereka ditaklukkan oleh Kerajaan Asyur. Bangsa Yehuda pun nyaris demikian. Berulang kali nabi-nabi Tuhan seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel menyuarakan firman Tuhan yang benar, tetapi mereka tetap mengabaikannya.

Akibatnya Tuhan pun menyampaikan firman-Nya yang begitu keras kepada bangsa Yehuda. Bahkan kepada nabi Yeremia, Tuhan pun berkata bahwa sekalipun Musa dan Samuel (sebagai contoh tokoh-tokoh Alkitab Perjanjian Lama yang memimpin bangsa Israel dengan bijaksana) berdiri di hadapan Tuhan, namun hati Tuhan tidak akan berbalik kepada bangsa ini. Tuhan ingin mengusir bangsa Yehuda dari hadapan-Nya (ay. 1). Bukannya Tuhan tidak panjang sabar kepada bangsa Israel dan Yehuda, tetapi Tuhan memiliki standar-Nya sendiri terhadap umat pilihan Tuhan. Tuhan mau membentuk bangsa Israel dan Yehuda sebagai umat Tuhan dengan standar yang tinggi, sehingga tentu mereka harus hidup kudus dan berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya. Kalau kepada bangsa-bangsa lain, Tuhan seperti lebih sabar, tentu karena mereka tidak memiliki hukum Taurat dan pengenalan akan Tuhan yang benar. Tetapi kepada bangsa Israel dan Yehuda, yang memilikii hukum Taurat, yang memiliki nabi-nabi yang menyuarakan suara Tuhan, maka tentu mereka harus cepat-cepat bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Dalam batas tertentu, Tuhan menemukan bahwa bangsa Israel dan Yehuda sudah tidak mungkin diperbaiki lagi. Oleh karena itu Tuhan mengizinkan mereka untuk ditawan oleh bangsa asing supaya mereka bisa sadar akan kesalahannya. Ketika bangsa Yehuda kemudian ada yang mendengar suara nabi Yeremia dan bertanya kepadanya: “Ke manakah kami harus pergi?” maka Yeremia diperintahkan oleh Tuhan untuk berkata: “Yang ke maut, ke mautlah! Yang ke pedang, ke pedanglah! Yang ke kelaparan, ke kelaparanlah! Yang ke tawanan, ke tawananlah!” (ay. 2). Ini merujuk hukuman yang akan diberikan kepada bangsa Yehuda bahwa mereka akan mengalami maut (kematian), mengalami pedang (peperangan), mengalami kelaparan, dan mengalami penawanan oleh bangsa lain. Ini merujuk nubatan terhadap akhir sejarah bangsa Yehuda termasuk kota Yerusalem yang akan ditaklukkan dan dihancurkan oleh bangsa lain.

Selanjutnya Tuhan berfirman bahwa akan ada 4 hukuman bagi bangsa Yehuda atas dosa-dosa dan kejahatan mereka (ay. 3a). Sebenarnya kata 4 hukuman tersebut bisa juga diterjemahkan 4 jenis hukuman atau 4 jenis penghukum. Bentuk hukuman tersebut adalah
  • Pedang untuk membunuh (ay. 3b). Ini merujuk adanya kematian oleh pedang dan peperangan yang akan dialami oleh bangsa Yehuda
  • Anjing-anjing untuk menyeret-nyeret (ay. 3c). Kita tahu bahwa anjing adalah binatang yang najis bagi bangsa Israel dan Yehuda. Oleh karena itu juga ada orang Yehuda yang diseret-seret oleh anjing, maka itu adalah peristiwa yang memalukan dan menajiskan. Siapakah anjing ini? Kemungkinan besar ini adalah gambaran dari bangsa-bangsa asing (bangsa-bangsa yang tidak bersunat dan yang menyembah dewa-dewa). Bangsa Israel dan Yehuda selama ini menganggap bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan dan pasti dibela Tuhan habis-habisan Jadi ketika mereka dikalahkan dan ditawan oleh bangsa lain, maka itu akan menjadi peristiwa yang memalukan bagi mereka sampai kapanpun
  • Burung-burung di udara (ay. 3d). Kemungkinan ini adalah burung-burung yang memakan hasil ladang yang ditinggalkan, atau burung-burung nasar yang memakan daging-daging orang Yehuda yang mati di padang
  • Binatang-binatang di bumi untuk memakan dan menghabiskan (ay. 3e). Kemungkinan ini adalah binatang yang memakan hasil tanaman yang ditinggalkan di tanah-tanah Yehuda.
Bagi umat pilihan Tuhan, hukuman semacam ini adalah hukuman yang berat. Nenek moyang mereka sudah dijanjikan tanah Kanaan dan dibawa masuk oleh Tuhan kepada tanah tersebut, tetapi karena dosa-dosa bangsa Israel dan Yehuda, mereka harus terusir dari tanah perjanjian tersebut. Lebih hina lagi, mereka terusir oleh bangsa-bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan.

Namun ini adalah konsekuensi atas kejahatan yang selama ini dilakukan oleh bangsa Yehuda termasuk oleh raja-rajanya. Dalam firman-Nya, Tuhan mengutip nama raja Manasye bin Hizkia, raja Yehuda yang dipandang bersalah sebagai penyebab semua ini (ay. 4b). Raja Manasye adalah anak dari raja Hizkia. Raja Hizkia dipandang sebagai raja yang benar, yang mengandalkan Tuhan dalam masa pemerintahannya (meskipun Alkitab juga mencatat beberapa kesalahan yang dilakukan olehnya). Namun demikian Manasye tidak mau hidup menurut jalan kebenaran yang ditempuh oleh ayahnya. Manasye justru membawa bangsa Yehuda kembali kepada jalan kejahatan.

Akibatnya, Tuhan tidak tanggung-tanggung menghukum bangsa Yehuda. Meskipun bangsa Yehuda adalah bangsa pilihan Tuhan, Tuhan rela membuat mereka menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. Sebelumnya, bangsa Israel sudah ditaklukkan oleh bangsa Asyur, tetapi hal itu tidak mau membuat bangsa Yehuda bertobat. Bangsa Yehuda berpikir bahwa bangsa Israel dikalahkan Asyur karena mereka tidak memiliki Bait Allah di Yerusalem. Mereka berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin membiarkan “rumah-Nya” dihancurkan dan diinjak-injak bangsa kafir. Namun demikian, faktanya Tuhan membiarkan bangsa Yehuda dikalahkan dan nama-Nya seakan-akan kalah oleh dewa-dewa Babel. Tapi semua itu sebenarnya bukan karena Tuhan tidak sanggup untuk membela umat-Nya, melainkan karena Tuhan ingin mengajar konsekuensi hukuman atas dosa-dosa yang dilakukan oleh bangsa Yehuda sebagai umat pilihan Tuhan.



Bacaan Alkitab: Yeremia 15:1-4
15:1 TUHAN berfirman kepadaku: "Sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku tidak akan berbalik kepada bangsa ini. Usirlah mereka dari hadapan-Ku, biarlah mereka pergi!
15:2 Dan apabila mereka bertanya kepadamu: Ke manakah kami harus pergi?, maka jawablah mereka: Beginilah firman TUHAN: Yang ke maut, ke mautlah! Yang ke pedang, ke pedanglah! Yang ke kelaparan, ke kelaparanlah! dan yang ke tawanan, ke tawananlah!
15:3 Aku akan mendatangkan atas mereka empat hukuman, demikianlah firman TUHAN: pedang untuk membunuh, anjing-anjing untuk menyeret-nyeret, burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi untuk memakan dan menghabiskan.
15:4 Dengan demikian Aku akan membuat mereka menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi, oleh karena segala apa yang dilakukan Manasye bin Hizkia, raja Yehuda, di Yerusalem."

Kamis, 07 Desember 2017

Anjing dan Babi dalam Alkitab (36): Hukuman Bagi Orang Jahat



Kamis, 7 Desember 2017
Bacaan Alkitab: Yesaya 66:15-17
Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN. (Yes 66:17)


Anjing dan Babi dalam Alkitab (36): Hukuman Bagi Orang Jahat


Bagi orang Kristen yang hidup benar, hari kedatangan Tuhan yang kedua kali adalah hari yang istimewa dan dinanti-nanti. Sebaliknya, bagi orang yang masih belum hidup benar, maka hari terakhir itu sering disebutkan sebagai hari kiamat yang menakutkan. Mereka takut karena belum siap menghadapi hari tersebut. Mereka masih ingin hidup di dunia dan menikmati kesenangan dunia. Oleh karena itu kita dapat melihat sejumlah film-film layar lebar yang menggambarkan ketakutan mayoritas penduduk dunia menghadapi kiamat.

Persoalannya, kedatangan Tuhan yang kedua kali adalah suatu kepastian, bukan hanya suatu kemungkinan. Sejak zaman Perjanjian Lama, janji mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali sudah berulang kali disuarakan. Salah satunya adalah apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya, dimana dikatakan bahwa Tuhan akan datang dengan api untuk melampiaskan murka-Nya dengan nyala api (ay. 15). Ini bisa menggambarkan akhir dunia ini yang akan dihancurkan dengan api, dimana bumi ini akan menjadi lautan api (2 Ptr 3:10).

Pada hari itu, hukuman Tuhan akan nyata kepada segala yang hidup dimana mereka akan mati terbunuh oleh Tuhan dalam jumlah yang  besar (ay. 16). Tentu segala yang hidup di sini merujuk kepada orang-orang jahat yang pantas untuk dihukum dengan api. Tidak semua orang akan dihukum dengan api. Orang-orang benar akan diselamatkan untuk masuk ke dalam kerajaan surga yang kekal, sementara orang-orang jahat pasti menerima hukuman tersebut. Kata mati di sini tidak boleh sekedar diartikan kematian secara fisik, tetapi harus dipandang sebagai keterpisahan dengan Tuhan dalam kekekalan. Mereka yang jahat tidak akan dapat menikmati kekekalan bersama-sama dengan Tuhan karena dalam kerajaan Tuhan tidak boleh ada sesuatu yang jahat dan najis yang masuk ke dalamnya.

Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan, siapa saja yang masuk ke dalam kelompok orang-orang jahat tersebut. Apa yang mereka lakukan sehingga mereka dipandang sebagai orang jahat? Oleh karena itu kita akan belajar dalam ayat selanjutnya mengenai dosa-dosa manusia yang dipandang sebagai orang jahat tersebut.

Dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa ada mereka yang kena hukuman adalah mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa (ay. 17a). Sepintas kata-kata menguduskan dan mentahirkan terlihat sebagai kata yang positif. Namun demikian ternyata orang-orang ini bukan menguduskan dan mentahirkan dirinya bagi Tuhan, tetapi justru bagi dewa-dewa. Artinya mereka tidak menghargai Tuhan sebagaimana mestinya dan justru menggantikan standar ibadah yang benar kepada Tuhan dengan ibadah kepada dewa-dewa lain.

Kita harus memahami bahwa Tuhan sudah memberikan aturan ibadah dalam semacam liturgi kepada bangsa Israel di dalam hukum Taurat yang diberikan. Dalam hukum Taurat tersebut sudah diatur bagaimana orang Israel harus beribadah kepada Tuhan (Elohim Yahweh) melalui persembahan korban, persembahan persepuluhan, nyanyian dan perayaan. Mungkin ada orang Israel yang jahat yang tidak mau menyembah Elohim Yahweh dengan tata cara liturgi semacam itu. Tetapi ada pula orang-orang Israel yang lebih jahat, yaitu mereka yang melakukan standar ibadah kepada Tuhan tetapi melakukannya untuk ibadah kepada dewa-dewa lain. Jadi mereka bukan hanya tidak mempersembahkan korban kepada Tuhan di Bait Allah, tetapi korban tersebut justru dipersembahkan kepada dewa-dewa lainnya. Bukankah ini suatu tindakan yang kurang ajar?

Orang-orang jahat juga digambarkan sebagai mereka yang mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya (ay. 17b). Mengapa hal ini dipandang sebagai suatu kesalahan atau kejahatan? Bukankah hal ini adalah hal yang normal? Persoalannya adalah bahwa mereka tidak mau mengikuti Tuhan dan nabi-nabi-Nya yang benar. Mereka tidak mau mengikuti jalan Tuhan tetapi justru mengikuti jalan manusia. Mereka tidak mau mendengar suara Tuhan tetapi lebih memilih mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengah mereka.

Pada waktu itu, kita harus memahami kondisi bangsa Israel yang benar-benar hidup sesuka mereka sendiri. Mereka sudah tidak peduli dengan suara Tuhan dan nabi-nabi-Nya, tetapi lebih memilih suara nabi-nabi palsu yang menjanjikan keamanan dan ketenangan yang palsu. Padahal ajaran nabi palsu tersebut tidak membawa bangsa Israel bertobat dan melakukan yang benar, tetapi justru membawa bangsa Israel kepada dosa-dosa yang semakin parah. Nabi-nabi yang benar pasti membawa kepada kebenaran dan kesucian hidup sesuai dengan standar umat Tuhan, namun nabi-nabi palsu pasti tidak akan berani membawa kepada kebenaran dan kesucian hidup. Mereka akan mengajarkan hidup yang kompromi dengan dosa dan apa yang menyenangkan telinga pendengarnya.

Kita harus tahu bahwa orang-orang Israel pada waktu itu sudah memiliki hukum Taurat yang lengkap yang berisi panduan untuk hidup sesuai dengan jalan Tuhan. Oleh karena itu kalaupun ada ajaran-ajaran sesat mereka dapat membandingkannya dengan hukum Taurat yang mereka miliki. Sayangnya, kebanyakan orang-orang Israel pada waktu itu lebih memilih mendengarkan dan mengikuti orang-orang di antara mereka yang mengajarkan kepalsuan yang menyenangkan dan meninabobokan. Pada waktu itu tidak ada lagi khotbah-khotbah yang menyuarakan pertobatan karena sudah kalah bersaing dengan khotbah-khotbah palsu.

Terakhir, ciri-ciri orang-orang jahat tersebut adalah mereka yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik termasuk tikus (ay. 17c). Kita tahu bahwa babi adalah binatang yang haram menurut hukum Taurat, seperti halnya tikus. Orang Israel sampai dengan saat ini sangat anti dengan binatang babi. Namun demikian pada waktu nabi Yesaya hidup, ternyata mereka banyak di antara mereka yang juga memakan makanan yang haram seperti babi dan binatang-binatang najis lainnya. Dari luar, mereka terlihat sebagai orang Israel yang benar dan kudus. Namun demikian, di dalamnya, mereka penuh dengan kenajisan karena menikmati binatang-binatang haram termasuk babi.

Ini menunjukkan orang-orang yang hidup dalam dualisme. Mereka adalah orang-orang munafik yang sibuk mendandani bagian luar sehingga terlihat cantik tetapi bagian dalamnya penuh dengan kenajisan. Dalam Perjanjian Baru, hal ini digambarkan dengan tepat oleh kehidupan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka sibuk mengurusi bagian luar tanpa pernah mau bertobat di dalamnya. Orang-orang seperti ini mungkin terlihat alim di luar, tetapi hati mereka penuh dengan perencanaan kejahatan bahkan sangat mungkin masih hidup dalam dosa seperti penipuan dan percabulan.

Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang jahat karena mereka tidak hanya menipu manusia tetapi juga menipu Tuhan. Mereka bukan hanya saja menipu Tuhan tetapi juga membuat banyak orang lain tertipu. Oleh karena itu ada janji hukuman bagi mereka, yaitu bahwa mereka semuanya akan dilenyapkan (ay. 17d). Hal ini seharusnya menjadi peringataan bagi kita, supaya kita tidak beribadah kepada allah yang lain. Allah yang lain bukan berarti kita pindah agama, tetapi allah yang lain adalah hal-hal selain Tuhan yang kita beri nilai tinggi. Allah yang lain bisa merupakan uang kita, kekayaan kita, karir kita, nama baik kita, dan lain sebagainya. Jika hal-hal tersebut menjadi priroritas kita melebihi Tuhan, maka sesungguhnya kita sedang menjadi orang yang jahat di mata Tuhan.

Kita juga harus sungguh-sungguh mencari Tuhan dan hidup menurut jalan Tuhan. Kita yang hidup di masa sekarang ini telah memiliki Alkitab yang lengkap (jika dibandingkan dengan jemaat mula-mula di abad pertama, atau jika dibandingkan dengan jemaat di abad pertengahan) . Oleh karena itu, standar hidup kita harus senantiasa kita uji apakah telah sesuai dengan firman Tuhan atau tidak. Ketika ada orang-orang tertentu yang menyuarakan sesuatu yang menarik, maka kita harus mengujinya sesuai dengan Firman Tuhan, apakah hal itu benar atau tidak. Sayangnya banyak orang Kristen yang tidak cerdas dan menelan mentah-mentah khotbah-khotbah yang didengar tanpa menguji apakah khotbah tersebut sudah sesuai dengan kebenaran atau tidak. Jangan biarkan kita tersesat karena kita bodoh dan tidak cerdas, tetapi harus terus menerus dengan rendah hati belajar kebenaran yang memerdekakan kita.

Terakhir, kita harus tidak bersikap sebagai orang-orang munafik. Jangan hanya ingin terlihat alim dan kudus di luar melalui penampilan fisik bahkan melalui pelayanan kita di gereja, tetapi isi hidup kita sudah najis dan busuk. Jangan biarkan kemunafikan itu menghalangi kita untuk hidup tak bercacat dan tak bercela di hadapan Tuhan. Uji hidup kita setiap hari dan terima teguran Tuhan atas kita supaya kita terus hidup dalam pertobatan. Jangan sekalipun berusaha mendiamkan suara Roh Kudus yang mengingatkan kita, karena jika kita terus menerus mendiamkan Roh Kudus, maka kita akan sampai pada tahap mendukakan Roh Kudus bahkan hingga menghujat Roh Kudus, sehingga kita tidak mungkin dapat diselamatkan lagi dan masuk ke dalam kebinasaan kekal.



Bacaan Alkitab: Yesaya 66:15-17
66:15 Sebab sesungguhnya, TUHAN akan datang dengan api, dan kereta-kereta-Nya akan seperti puting beliung, untuk melampiaskan murka-Nya dengan kepanasan dan hardik-Nya dengan nyala api.
66:16 Sebab TUHAN akan menghukum segala yang hidup dengan api dan dengan pedang-Nya, dan orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN akan banyak jumlahnya.
66:17 Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN.