Rabu, 13 Juni 2018

Pornos dan Moichos (11): Berlaku Sama untuk Pria dan Wanita


Rabu, 13 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 10:1-12
“Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.” (Mrk 10:12)


Pornos dan Moichos (11): Berlaku Sama untuk Pria dan Wanita


Harus diakui bahwa perikop di Markus 10:1-12 isinya nyaris sama persis dengan apa yang tertulis di Matius 19:1-12, terutama di bagian depan kedua perikop tersebut. Namun demikian, jika kita jeli mengamati kedua perikop tersebut, maka kita akan melihat ada sedikit perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan penekanan dari masing-masing penulis kitab Injil. Hal ini bukan berarti Firman Tuhan tidak konsisten, tetapi justru satu dan yang lainnya saling melengkapi untuk membangun suatu pengertian yang benar.

Ringkasan peristiwa di perikop ini dapat diringkas sebagai berikut: Tuhan Yesus pergi ke daerah Yudea dan seberang sungai Yordan untuk mengajar seperti biasa (ay. 1). Pada saat itu ada orang-orang Farisi yang hendak mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan yang menjebak, yaitu mengenai apakah seorang suami boleh menceraikan istrinya atau tidak (ay. 2). Tuhan Yesus menanyakan kepada orang Farisi mengenai apa perintah Musa (hukum Taurat) mengenai hal itu, karena orang Farisi adalah orang-orang yang sangat paham mengenai hukum Taurat (ay. 3). Orang Farisi menjawab bahwa hukum Taurat mengizinkan mereka menceraikan istrinya dengan membuat surat cerai (ay. 4).

Intinya, Tuhan Yesus menjawab bahwa hukum Taurat memuat kelonggaran (bukan perintah atau kewajiban) terhadap perceraian, yaitu karena mereka memiliki hati yang tegar (ay. 5), padahal rancangan awal Allah tidaklah demikian terhadap manusia. Pada awal penciptaan, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan (ay. 6). Lebih tepatnya lagi, satu orang laki-laki (Adam) dan satu orang perempuan (Hawa). Jadi jika memang Allah merencanakan perceraian, maka Adam tidak akan bisa menemukan perempuan lain dan Hawa tidak akan bisa menemukan laki-laki lain. Itulah tatanan Allah yang sangat luar biasa sejak penciptaan manusia, yaitu supaya mereka bersatu menjadi satu daging (ay. 7a). Sehingga ketika mereka menjadi satu, mereka bukan lagi dua tetapi satu (ay. 7b). Apa yang sudah dipersatukan Allah pun tidak boleh diceraikan manusia (ay. 8). Hal ini sudah kita bahas lebih dalam pada pembahasan di Matius 19:1-12 (seri ke-6 dari serial Pornos dan Moichos ini).

Karena apa yang tertulis di ayat 1 hingga 9 relatif sama dengan bagian awal peristiwa yang sama di Matius 19, maka kita akan membahas mulai ayat 10. Dikatakan di Injil Markus ini bahwa murid-murid Tuhan Yesus baru menanyakan mengenai jawaban Tuhan Yesus di ayat-ayat sebelumnya setelah mereka sampai di rumah (bukan di depan orang-orang Farisi pada waktu itu). Alkitab memang tidak menjelaskan mengapa mereka baru menanyakannya di rumah, mungkin karena malu kepada Tuhan Yesus atau takut dengan orang Farisi (atau bisa juga karena baru terpikir pada saat mereka pulang di rumah). Menanggapi pertanyaan murid-murid-Nya, Tuhan Yesus menjawab dengan terus terang kepada mereka inti dari penjelasan-Nya terdahulu kepada orang Farisi: 1) Suami yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu; dan 2) Istri yang menceraikan suaminya lalu kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah (ay. 11-12).

Selama ini, harus diakui bahwa hukum Taurat di Perjanjian Lama memang cenderung berfokus pada sisi laki-lakinya karena pola masyarakat Israel/Yahudi yang memang menganut sistem bersifat patrilineal. Artinya tidak banyak ada aturan tentang yang diatur terhadap wanita karena mungkin saja status wanita yang waktu itu masih dianggap sebagai masyarakat kelas dua di di bawah pria/laki-laki. Namun sebenarnya apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus telah mendobrak strata ini. Pengajaran Tuhan Yesus di Perjanjian Baru hampir semua dapat dikenakan baik oleh pria maupun wanita. Dunia pada zaman Tuhan Yesus hidup memang adalah masyarakat Yahudi yang masih memegang teguh adat istiadat mereka. Namun mereka juga sedang dijajah oleh bangsa Romawi membawa kebudayaan baru. Jika dalam budaya bangsa Yahudi biasanya wanita tidak akan berani berzinah (karena hukumannya adalah hukuman mati), tetapi di budaya bangsa Romawi, bisa jadi ada wanita-wanita kaya yang suka bergonta-ganti pasangan dan hal tersebut mungkin sedikit banyak mempengaruhi pandangan bangsa Yahudi pada masa itu.

Oleh sebab itu, Tuhan Yesus hendak menyampaikan kebenaran Injil yang tidak terbatas bagi bangsa Yahudi saja tetapi juga kepada bangsa-bangsa lainnya termasuk bangsa Yunani, Romawi, dan juga bangsa Indonesia di masa kini. Kebenaran yang Tuhan Yesus sampaikan sangat fleksibel dan dapat diterapkan dalam segala kondisi masyarakat dalam segala waktu dan zaman. Ayat 11 intinya adalah jika seorang pria menceraikan istrinya dan kawin (menikah) lagi dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya tersebut.

Dalam bahasa aslinya, kata menceraikan di ayat 11 dan 12 adalah kata apolysē (ἀπολύσῃ) dan apolysasa (ἀπολύσασα) dari akar kata apoluó (ἀπολύω). Kata apoluó di sini memiliki pengertian to set free (membebaskan), release (melepaskan, mengeluarkan), let go (melepaskan), send away (mengirimkan, mengusir), divorce (menceraikan, memisahkan), dismiss (memberhentikan, membubarkan), abandon (mengabaikan, membuang). Singkatnya, menceraikan disini melepaskan diri dari ikatan pernikahan antara suami dan istri. Dalam konteks ayat 11 dan 12 ini pun, bisa dikatakan pihak yang menceraikan sedang membuang pasangannya supaya dapat menikah lagi dengan orang lain.

Tuhan Yesus jelas mengatakan jika ada orang yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, maka ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan istrinya dalam bagian akhir ayat 11 ini? Apakah perempuan yang pertama (yang diceraikan) ataukah perempuan yang kedua (yang sudah dinikahinya). Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, hampir semua hanya menulis “commits adultery against her” (berbuat zinah atau hidup dalam perzinahan terhadap dia), sama seperti apa yang ditulis di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru. Namun dalam beberapa Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama dan bahasa suku, ada yang menulis bahwa si laki-laki sedang berzinah terhadap istri yang pertama (yang diceraikan tadi).

Kata hidup dalam perzinahan (atau berbuat zinah) tersebut dalam bahasa aslinya menggunakan kata moichatai (μοιχᾶται) dari akar kata moichaó (μοιχάομαι). Kata moichaó sendiri menunjukkan tindakan seseorang yang sudah menikah (awalnya lebih kepada wanita namun juga dapat berlaku bagi pria) yang melakukan hubungan seksual yang tidak sah dengan orang yang bukan pasangannya, atau dengan pasangan orang lain. Dalam budaya Yahudi dan Romawi pada waktu itu, terdapat pemikiran bahwa orang yang sudah bercerai (diakui oleh negara/pemerintah) dengan bukti surat cerai, maka orang tersebut sudah sah bercerai. Memang di mata negara (Romawi) maupun di pandangan agama (Yahudi) orang tersebut sudah dipandang sah untuk bercerai, tetapi bagaimana dengan status orang tersebut di pandangan Allah? Jika mau jujur, inilah jawaban yang paling logis, yaitu di mata Tuhan, orang tersebut tetap hidup dalam perzinahan terhadap pasangannya yang terdahulu. Kata perzinahan yang dipakai di sini adalah moichaó dan bukan pornos/porneia karena memang perzinahan ini bukan sesuatu yang pasti salah dan tidak dapat diperbaiki lagi. Akan tetapi perzinahan tetaplah perzinahan, sebisa mungkin kita harus menghindari perzinahan karena kita sudah mengucapkan janji suci kita di hadapan Tuhan untuk mengasihi hingga maut memisahkan, dan jika kita menceraikan suami/istri kita, maka kita sedang melanggar janji kita sendiri.

Lebih parah lagi, jika ada orang yang menceraikan pasangannya dengan sudah memiliki niat di dalam hatinya untuk menikah dengan orang lain. Bisa jadi bahwa orang ini sudah menjalin affair dengan “orang ketiga” tersebut sejak masih berstatus sebagai suami istri. Akibatnya, perceraian yang didasarkan pada kondisi seperti ini sebenarnya hanyalah “sandiwara” belaka karena memang tujuan perceraian adalah supaya orang yang berselingkuh ini dapat menikah dengan selingkuhannya setelah bercerai dari suaminya/istrinya yang pertama. Seharusnya pemimpin jemaat (pendeta/gembala sidang) harus dapat peka terhadap suara Roh Kudus sehingga tidak terburu-buru bisa menyetujui perceraian jemaatnya.  Harus ada suatu konseling yang komprehensif terhadap pasangan yang ingin bercerai tersebut supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Dahulu mungkin lebih banyak suami yang menceraikan istrinya (karena status wanita yang dipandang lebih rendah dari pria). Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak wanita yang juga berani menceraikan suaminya dengan berbagai alasan, seperti tidak dinafkahi, tidak cocok, bahkan alasan yang kekinian adalah karena adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Memang jika KDRT tersebut benar terjadi, hal tersebut memang bisa menjadi pertimbangan. Akan tetapi jika KDRT yang dimaksud hanyalah kesalahpahaman dan adu mulut (yang mungkin wajar terjadi dalam pernikahan, apalagi jika yang menikah masih muda atau menikah tanpa adanya persiapan/pengenalan yang cukup), tentu harus dipertanyakan, apakah alasan tersebut cukup kuat untuk dijadikan alasan bercerai? Di sinilah peran penting pendeta dan gembala jemaat, sehingga perceraian itu dapat diminimalisir. Kalaupun perceraian benar-benar terjadi, perlu ditekankan bahwa perceraian itu pun memang adalah solusi terakhir yang tidak dapat dihindari lagi. Jangan sampai setelah bercerai, selang beberapa waktu justru ada pernikahan lagi dengan orang lain, dan kemudian karena pokok masalahnya tidak diselesaikan, maka muncul perceraian kembali. Jangan biarkan kawin cerai menjadi hal yang umum terjadi di gereja, karena gereja harusnya menjadi saksi dalam hal yang benar, bukan justru melegitimasi kesalahan dengan juga melakukan praktik-praktik duniawi di dalamnya.

Terkait dengan perceraian yang dilakukan oleh wanita (yaitu wanita yang mengajukan gugatan cerai), Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, maka ia berbuat zinah. Tentu ayat 11 dan 12 ini harus juga dipandang dalam konteks alasan perceraian yang benar, seperti yang sudah kita bahas di seri sebelumnya yang membahas ayat Mat 5:31-32. Jika si wanita menceraikan suaminya dengan alasan yang dibuat-buat, apalagi supaya bisa kawin dengan laki-laki lain, maka sesungguhnya ia sedang berbuat zinah atau moichatai (μοιχᾶται). Jadi moichatai tidak hanya berlaku bagi wanita yang masih bersuami, tetapi meskipun ia sudah cerai di mata negara/agama, bisa jadi wanita tersebut masih melakukan moichatai.

Jelas bahwa moichatai tidak dapat dipandang sebelah mata. Mungkin moichatai tidak separah pornos/porneia, tetapi jika sikap moichatai tidak segera diperbaiki, maka hal tersebut dapat semakin parah hingga menjadi porneia yang tidak dapat diperbaiki lagi. Dan ini tidak hanya berlaku bagi para laki-laki yang selama ini cenderung lebih sering menceraikan istrinya, tetapi juga berlaku bagi para perempuan/wanita yang juga menceraikan suaminya, apalagi jika tujuan perceraian tersebut adalah supaya bisa menikah dengan orang lain. Itu adalah hal yang jahat di mata Tuhan.



Bacaan Alkitab: Markus 10:1-12

10:1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.
10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"
10:4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."
10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.
10:6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,
10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.

10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."

Minggu, 10 Juni 2018

Pornos dan Moichos (10): Berbeda dengan Angkatan yang Tidak Setia


Senin, 11 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 8:34-38
“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” (Mrk 8:38)


Pornos dan Moichos (10): Berbeda dengan Angkatan yang Tidak Setia


Konteks dari bacaan Alkitab kita hari ini adalah ketika Tuhan Yesus menyampaikan pemberitahuan pertama mengenai penderitaan yang akan Tuhan Yesus alami dan sekaligus syarat-syarat untuk mengikut Dia. Dalam ayat-ayat sebelumnya kita dapat melihat bagaimana Simon Petrus seakan-akan ingin tampil sebagai pahlawan ketika ia menegor Tuhan Yesus ketika Tuhan menyampaikan bahwa Ia akan mengalami penderitaan dan bahkan mati. Di sini kita melihat bahwa Simon Petrus sebenarnya masih belum mengerti tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia. Petrus masih berharap bahwa Tuhan akan menjadi Mesias secara jasmani, dan membawa bangsa Israel/Yahudi mengalahkan musuh mereka yaitu kerajaan Romawi sehingga bangsa Yahudi menjadi bangsa yang besar seperti pada zaman raja Daud.

Itu bukanlah tujuan Tuhan Yesus datang ke dunia. Tuhan Yesus memang adalah Mesias, tetapi bukan dalam artian memulihkan kerajaan Israel secara jasmani, tetapi untuk membuka jalan menuju Bapa. Oleh sebab itu ketika ada orang yang berkata hendak mengikut Tuhan Yesus (terutama karena melihat mujizat-mujizat yang luar biasa), maka Tuhan dengan tegas mengatakan standar yang harus ia kenakan, yaitu menyangkal dirinya, memikul salibnya dan baru bisa mengikut Tuhan dengan benar (ay. 34). Kita akan mengerti bahwa Tuhan tidak pernah menurunkan standar hidup yang harus seseorang kenakan untuk berkenan ke hadapan Bapa. Seseorang tidak dapat mengikut Tuhan tanpa menyangkal diri dan memikul salibnya (akhiran “nya” dengan huruf kecil yang artinya setiap orang memiliki salibnya masing-masing yang harus dipikul).

Bahkan dalam ayat selanjutnya, Tuhan berkata bahwa semua orang yang hendak mengikut Tuhan harus berani kehilangan nyawanya (ay. 35). Nyawa di sini dapat berarti jiwa, kehormatan, bahkan segala kesenangan hidupnya demi kerajaan Tuhan. Ini berarti bahwa tidak ada sesuatu yang dipertahankan dalam kehidupan ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan. Ingat bahwa kehilangan nyawa di sini bukan sembarang kehilangan nyawa tetapi harus kehilangan nyawanya karena Tuhan dan karena Injil. Tidak mungkin orang Kristen yang benar kemudian berani mati dengan membawa bom dan meledakkan diri. Itu adalah kehilangan nyawa secara konyol. Kehilangan nyawa di sini berarti berani kehilangan segala sesuatu demi Tuhan dan kebenaran Firman Tuhan. Ada orang-orang tertentu yang mungkin bisa tidak masalah memberikan uang kepada orang lain, tetapi siapkah ia ketika harus kehilangan kehormatan, harga diri, bahkan nama baik ketika ia difitnah? Kehilangan nyawa di sini berarti harus siap mengiring Tuhan secara ekstrem dan berani melepaskan apapun demi Tuhan.

Masih banyak orang Kristen yang berkata hendak mengikut Tuhan tetapi di sisi lain ia masih mencoba memegang dunia dengan segala harta dan keindahannya. Dalam ayat selanjutnya Tuhan Yesus jelas berkata bahwa apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya (ay. 36). Di sini jelas bahwa tidak mungkin orang bisa kehilangan nyawa ketika ia masih ingin mendapatkan kenikmatan dari dunia. Kita tidak dapat berdiri di kedua sisi, tetapi harus memilih salah satu: Tuhan dan kerajaan-Nya, atau dunia dan kerajaannya (yaitu diri sendiri dan kerajaan kita sendiri). Orang harus memilih salah satu, kehilangan nyawa di dunia ini dan memperoleh nyawa di kekekalan, atau mempertahankan/menyelamatkan nyawa di dunia ini tetapi kehilangan nyawa di kekekalan.

Prinsip ini sebenarnya sederhana tetapi banyak orang Kristen belum memahaminya sampai level yang benar. Kebanyakan orang Kristen hanya menganggap bahwa ketika ia menjadi orang Kristen dan pergi beribadah ke gereja (apalagi sudah melayani di gereja), maka mereka sudah merasa berkorban bagi Tuhan dan itu sudah sama dengan kehilangan nyawa demi pekerjaan Tuhan. Padahal itu sama sekali bukan kehilangan nyawa. Jika kehilangan nyawa hanya dimaknai secara dangkal seperti itu, maka Tuhan tidak perlu berkata kepada murid-murid-Nya dan kepada orang banyak yang mau mengikut Tuhan untuk menyangkal diri dan memikul salib. Kehilangan nyawa berarti rela kehilangan segala sesuatu bahkan apa yang dipandang berharga demi Tuhan.

Sikap kehilangan nyawa ini mungkin baru disadari ketika seseorang sudah berada di ujung maut, misalnya ketika di ruang ICU rumah sakit dengan nafas yang sudah tersengal-sengal ketika menghadapi kematian. Ketika seseorang sudah di ujung maut, maka ia baru menyadari bahwa mungkin ia selama ini masih belum sepenuhnya rela kehilangan nyawa dalam artian belum melakukan apa yang pantas bagi Tuhan. Di situ akan muncul penyesalan yang luar biasa namun semua sudah terlambat.

Banyak orang tidak mau kehilangan nyawa selama di dunia ini. Mereka bisa malu karena Tuhan dan karena perkataan Tuhan di tengah-tengah dunia ini (ay. 38a). Kata “malu” di ayat ini dalam bahasa aslinya adalah epaischynthē (ἐπαισχυνθῇ) dari akar kata epaischunomai (ἐπαισχύνομαι) selain berarti be ashamed, disgraced, personally humiliated (malu, ternoda, dihina secara pribadi), tetapi juga dapat memiliki makna being disgraced, like someone "singled out" because they misplaced their confidence or support, being disgraced, bringing on "fitting" shame that matches the error of wrongly identifying (aligning) with something (malu seperti seseorang yang diasingkan/dikucilkan karena dianggap berbeda prinsip dengan keyakinan atau dukungan orang banyak, atau malu dengan dipandang berbeda/tidak cocok/tidak sesuai dengan sesuatu hal).

Kata malu di sini di ayat 38 ini jelas berbicara mengenai sikap malu karena berbeda dengan kebanyakan orang. Jika dikaitkan dengan ajaran Tuhan Yesus mengenai syarat-syarat mengikut Tuhan, maka malu di sini tidak hanya berarti malu karena menjadi orang Kristen kemudian menyembunyikan “kekristenannya” di kalangan masyarakat yang mayoritas bukan orang Kristen. Jika kita mau menggali lebih dalam, maka sikap malu di sini juga dapat berarti menjadi malu ketika berbeda pandangan dengan orang-orang beragama Kristen lainnya yang ingin hidup secara wajar, dalam hal ini misalnya adalah masih mencintai dunia dengan segala kenikmatannya. Padahal Alkitab jelas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4). Ketika kita memiliki sikap untuk rela kehilangan nyawa, maka kita akan dipandang aneh oleh orang-orang Kristen lainnya. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menjadi malu karena dipandang berbeda dan pada akhirnya bersikap kompromistis dengan prinsip-prinsip keberagamaan Kristen yang sesungguhnya bukan Injil yang benar.

Untuk lebih mengerti kata “malu” di ayat ini, kita perlu melihat kalimat selanjutnya dimana Tuhan Yesus mengatakan “angkatan yang tidak setia dan berdosa”. Kata tidak setia dalam ayat ini menggunakan kata moichalidi (μοιχαλίδι) dari akar kata moichalis (μοιχαλίς) yang sejajar dengan seorang wanita yang sudah menikah yang kemudian berzinah dengan orang lainnya. Jadi yang dimaksud dengan angkatan yang tidak setia dan berdosa ini bukanlah mereka yang tidak percaya Tuhan Yesus (atau secara sederhana adalah mereka yang bukan orang Kristen), melainkan mereka yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi masih “berselingkuh” dengan Tuhan yaitu ketika mereka masih mengharapkan kebahagiaan dunia dan tidak mau melepaskan percintaan dengan dunia.

Di sinilah kesungguhan orang-orang Kristen yang mau hidup benar akan diuji, yaitu ketika mereka diperhadapkan dengan orang-orang yang mengaku beragama Kristen tetapi hidupnya tidak sejalan dengan hidup Kristus, karena masih tidak mau melepaskan percintaan dengan dunia. Ujian bagi kita yang mau hidup benar adalah apakah kita masih bersikap kompromistis dengan hal-hal seperti itu atau berani berkata benar dan mengambil sikap benar di hadapan Tuhan. Jika kita tidak mau menyangkal diri, maka kita dapat menjadi “malu” di hadapan angkatan yang tidak setia ini tetapi tidak malu di hadapan Tuhan.

Kita harus sadar bahwa pembuktian kita hanyalah satu, yaitu ketika Tuhan datang untuk yang kedua kalinya dan menjadi Hakim yang Agung, yang Adil dan yang Benar (ay. 38b). Di situlah segala kehidupan kita akan dihakimi dan tidak ada yang tersembunyi. Di situlah Tuhan akan membuktikan apakah kita benar-benar telah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan dengan cara rela kehilangan nyawanya, ataukah sebenarnya masih belum benar-benar rela kehilangan nyawa karena malu terhadap angkatan yang tidak setia tersebut.

Inilah ujian kita yang sebenarnya bagi kita yang mengaku menjadi orang Kristen. Kita harus berjuang untuk tidak hanya bersikap sebagai angkatan yang tidak setia, tetapi juga untuk siap kehilangan nyawa kita dan tidak malu di hadapan manusia. Kita harus memiliki prinsip lebih malu di hadapan Tuhan daripada malu di hadapan manusia, termasuk tidak ingin terhormat di hadapan manusia dibandingkan di hadapan Tuhan. Kita harus siap untuk berbeda dari angkatan yang tidak setia dengan menunjukkan kualitas hidup kita yang benar di hadapan Tuhan. Tuhan tidak akan menghilangkan orang-orang yang tidak setia ini, tetapi mereka akan menjadi semacam ujian bagi kita untuk membuktikan apakah kita siap kehilangan nyawa di hadapan Tuhan (dengan sikap berbeda dengan kebanyakan orang lain) ataukah kita menyerah dan menjadi malu di hadapan orang banyak.



Bacaan Alkitab: Markus 8:34-38
8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."

Pornos dan Moichos (9): Keluar dari Dalam Hati


Minggu, 10 Juni 2018
Bacaan Alkitab: Markus 7:20-23
Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. (Mrk 7:20-22)


Pornos dan Moichos (9): Keluar dari Dalam Hati


Sebelumnya saya minta maaf karena lebih dari 3 bulan saya off menulis renungan ini dikarenakan kesibukan saya yang benar-benar menyita waktu sehingga tidak sempat lagi menulis renungan. Namun saya harap secara bertahap saya juga bisa mulai kembali menulis renungan dengan rutin supaya kita semakin paham akan kebenaran.

Harus diakui, bacaan Alkitab kita hari ini adalah ayat-ayat yang paralel dengan apa yang ditulis di kitab Injil lainnya, yaitu di Matius 15:15-20, sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya. Tentu isi dari kedua perikop tersebut hampir sama (hanya ada perbedaan minor di beberapa kata, namun esensinya tetap sama). Namun demikian dalam renungan kita hari ini, saya hendak mengajak para pembaca untuk melihat satu hal yang penting, yang seringkali terabaikan oleh para pembicara di atas mimbar-mimbar gereja.

Tentu konteks ayat ini adalah ketika Tuhan Yesus adalah dalam hal makanan yang menajiskan. Bangsa Yahudi khususnya ahli Taurat dan orang Farisi sangat menjaga betul “kehalalan” (atau ke-kosher-an) makanan mereka.  Namun sayangnya mereka sangat memfokuskan akan kehalalan makanan tetapi lupa mempersoalkan apakah hidup mereka sudah “halal” di hadapan Tuhan.

Itulah sebabnya, Tuhan Yesus jelas berkata bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya (ay. 20). Tentu dalam hal ini kita dapat mengerti bahwa dalam kekristenan, sudah tidak diperlukan lagi adanya syariat atau hukum mengenai makanan apa yang halal dan makanan apa yang haram. Semua halal, tetapi tidak semua berguna. Ini justru membuat orang Kristen menjadi cerdas, karena ukurannya bukan lagi adalah hukum yang tertulis, tetapi Tuhan akan menjadi hukum kita. Dalam segala hal kita akan berjuang untuk menentukan apakah apa yang kita makan itu memuliakan Tuhan atau tidak.

Satu hal yang menarik adalah penggunaan kata “keluar dari seseorang” yang diucapkan oleh Tuhan Yesus. Dalam bahasa aslinya di ayat ini, kata “keluar” menggunakan kata ekporeuomenon (ἐκπορευόμενον) dari akar kata ekporeuomai (ἐκπορεύομαι). Kata ini secara harafiah berarti go out from (pergi keluar dari). Namun kata ini juga memiliki penekanan yaitu emphasizing the outcome (end-impact) of going through a particular process or passage – i.e. the influence on the person (or thing) which comes forth. It links the source to the outcome (influence) on the object (as specified by the individual context) (menekankan hasil akhir/dampak akhir dari sesuatu yang melalui proses atau jalan/lorong tertentu, sebagai contoh adanya pengaruh dari orang/benda yang keluar. Kata ini juga menghubungkan antara sumber dengan hasil akhir/pengaruh terhadap objek (yang ditentukan oleh konteks secara individu)).

Jadi jelas bahwa kata “keluar” di ayat ini tidak memiliki makna sederhana seperti orang yang keluar ruangan begitu saja. Kata “keluar” di sini erat kaitannya dengan adanya suatu sumber, melalui suatu proses, dan hasil akhir yang pada akhirnya muncul. Oleh karena itu, jika kita melihat ayat-ayat berikutnya, disebutkan beberapa hal jahat yang dapat keluar dari diri seseorang, yaitu pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan (ay. 21b-22). Ada 2 kata di ayat 21 dan 22 ini yaitu “percabulan” (porneiai dari kata dasar pornos) dan “perzinahan” (moicheiai dari akar kata moichos). Semua hal itu berasal dari dalam, yaitu dari hati seseorang (ay. 21a) dan kemudian keluar dalam bentuk suatu tindakan nyata yang terlihat oleh orang lain.

Dalam hal ini, Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa orang yang jelas melakukan hal-hal jahat tersebut tidak mungkin melakukannya tanpa sengaja atau secara tiba-tiba. Semua ada tatanan dan ada prosesnya. Dalam konteks percabulan dan perzinahan, seseorang tidak mungkin tiba-tiba bisa melakukan percabulan dan perzinahan (misal: berselingkuh dengan orang lain) secara tiba-tiba. Perselingkuhan tersebut pasti dimulai dari kebiasaan buruk semisal menonton film porno, membaca artikel-artikel yang menjurus ke percabulan dan perzinahan, atau bergaul dengan orang yang salah. Itulah sebabnya, jika ada seseorang yang sampai melakukan hal jahat yang nyata-nyata terlihat, maka semua itu adalah rangkaian proses panjang yang dimulai dari hal-hal yang kecil.

Oleh karena itu kita perlu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, mengenai isi hati kita. Kita mungkin belum sampai pada tahapan dimana kita berzinah atau berselingkuh dengan orang lain. Akan tetapi jika hidup kita masih penuh dengan segala hal yang merusak hati dan pikiran kita, maka sebenarnya perbuatan jahat tersebut adalah bom waktu yang siap “meledak” pada waktunya. Tuhan Yesus jelas menyatakan bahwa segala hal jahat itu muncul dari dalam hati seseorang (yaitu dari dalam pikiran) yang kemudian diwujudnyatakan dalam tindakan nyata.

Menjadi persoalan karena ayat 21 dan 22 juga memuat hal-hal yang sulit untuk dibuktikan secara nyata, misal hal keserakahan, kelicikan, iri hati, kesombongan, dan kebebalan (jika dibandingkan dengan percabulan, pembunuhan, perzinahan, dan lainnya). Namun saya percaya bahwa segala hal jahat yang disebutkan di ayat 21 dan 22 tersebut sebenarnya tidak dapat disimpan rapat-rapat. Suatu saat pasti keserakahan, iri hati, dan kesombongan akan menjadi nyata dari perkataan dan perbuatan hidupnya. Seorang yang memiliki hati serakah mungkin bisa saja tidak terlalu terlihat selama beberapa saat lamanya. Akan tetapi, pada momen-momen tertentu, keserakahan itu bisa nampak dan terlihat jelas, misalnya pada saat pembagian warisan, dimana orang tersebut bisa tiba-tiba menjadi ingin mendapatkan bagian warisan yang terbesar.

Hal ini justru lebih berbahaya bagi orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja atau persekutuan, terlebih mereka yang selama ini menjadi “pelayan mimbar” atau orang yang tampil di atas mimbar gereja (seperti pemimpin pujian/worship leader, pemusik, bahkan pembicara/pendeta). Mereka selama ini mungkin terlihat saleh bahkan dipandang baik di mata masyarakat apalagi di mata jemaat. Akan tetapi, pasti terdapat momen-momen tertentu yang dapat menunjukkan keserakahan, iri hati, bahkan kesombongan. Hal tersebut dapat terlihat ketika misalnya ada pemilihan ketua wilayah atau bahkan ketua sinode, maka para pendeta dapat bisa saling bersaing dan saling menjatuhkan. Bisa juga ketika ada jemaat yang kritis maka pendeta bisa merasa “terganggu” dan kemudian mencoba mempertahankan posisi dan kehormatannya di mata jemaat dengan menunjukkan bahwa dirinya adalah orang spesial di hadapan Tuhan, bahkan bisa mengatakan bahwa dirinya lebih hebat dibandingkan orang lain.

Dalam konteks percabulan dan perzinahan, saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa mereka yang sudah melayani sebagai “pelayan mimbar” justru sangat rawan jatuh dalam dosa seksual ini. Dalam pengalaman saya sebagai orang Kristen, tidak terhitung jumlah para pelayan gereja/persekutuan yang akhirnya hamil duluan sebelum menikah, berzinah, berselingkuh, dan lain sebagainya. Dan herannya lagi, dengan posisi mereka yang selama ini sering tampil di depan jemaat, mereka bisa mempertahankan diri mereka dengan segala macam dalih dan ayat-ayat Alkitab yang sebenarnya diputarbalikkan.

Saya tidak ingin menyalahkan mereka yang sudah jatuh dalam dosa percabulan dan perzinahan di gereja. Akan tetapi, seseorang yang menyadari kesalahannya seharusnya tidak perlu membela diri secara berlebihan tetapi cukup mengakui kesalahannya dan bertobat untuk menjadi lebih baik lagi. Ini juga menjadi peringatan keras bagi kita untuk menjaga hati kita dengan sangat hati-hati. Kita perlu benar-benar menjaga hati dan pikiran kita supaya tidak ada celah sedikit pun untuk melakukan kejahatan. Dosa besar biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Ingat bahwa semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang (ay. 23). Kata “timbul dari dalam” dalam bahasa aslinya adalah esōthen (ἔσωθεν) yang berarti dari dalam, dari bagian dalam manusia (yaitu hati manusia) dan ekporeuetai (ἐκπορεύεται) dengan makna yang sama dengan kata di ayat 20 di atas. Semakin jelas bahwa Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa cara untuk mencegah kejahatan tersebut adalah dengan cara menjaga hati. Menjaga hati di sini bukan hanya berkata “Tuhan, jagalah hatiku”, tetapi dengan berjuang untuk berkenan kepada Tuhan setiap saat, dari jam ke jam dan dari menit ke menit. Menjaga hati dimulai dari hal-hal yang kecil dimana kita berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan. Sama seperti orang tidak mungkin dapat melakukan kejahatan besar tanpa dimulai dari kejahatan-kejahatan kecil, maka orang pun tidak mungkin dapat hidup berkenan kepada Tuhan dalam perkara-perkara besar tanpa berjuang berkenan dari hal-hal yang kecil.
Kejahatan itulah yang sebenarnya akan menajiskan orang. Kata “menajiskan” dalam bahasa aslinya adalah koinoi (κοινοῖ) dari akar kata koinoó (κοινόω) yang memiliki makna “make unclean, pollute, desecrate, treating what is sacred as common or ordinary” (membuat najis, mencemari/mengotori, menodai, memperlakukan apa yang sakral/kudus sebagai hal yang biasa/wajar). Makna ini begitu dalam karena selama ini saya berpikir bahwa kata “menajiskan” di ayat ini sama halnya dengan menjadikan kotor. Tetapi menajiskan di sini juga dapat berarti ketika kita memperlakukan sesuatu yang seharusnya kudus sebagai hal yang biasa saja. Oleh karena itu hal-hal jahat yang ada di ayat 21 dan 22 ini sebenarnya memang menajiskan/mengotori hidup. Namun demikian, ini pun dapat menjadi warning bagi kita bahwa ketika kita menganggap sesuatu yang kudus sebagai hal yang biasa, maka itu pun adalah suatu hal yang menajiskan. Betapa berbahayanya kita pada akhirnya menjadi immune (kebal) terhadap Firman Tuhan dan menganggap bahwa kejahatan adalah hal yang biasa. Betapa berbahayanya juga ketika kita menjadi kebal dan tidak pernah mempersoalkan isi hati kita di hadapan Tuhan. Justru Firman Tuhan di sini harus menjadi peringatan keras bagi kita untuk tidak hanya menjaga kelakuan dan image di hadapan manusia, tetapi justru kita harus menjaga hati kita supaya tetap bersih dan berkenan di hadapan Allah Bapa, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap saat.



Bacaan Alkitab: Markus 7:20-23
7:20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,
7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Minggu, 04 Maret 2018

Pornos dan Moichos (8): Bisa Mendahului Masuk ke dalam Kerajaan Surga



Minggu, 4 Maret 2018
Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32
Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:31b-32)


Pornos dan Moichos (8): Bisa Mendahului Masuk ke dalam Kerajaan Surga


Perikop yang akan kita bahas dalam renungan kita hari ini mungkin lebih dikenal dengan perumpamaan 2 orang anak. Dikisahkan bahwa ada seorang bapa yang memiliki 2 orang anak laki-laki, yaitu yang sulung dan yang bungsu. Sang bapa menyuruh anak sulungnya untuk pergi dan bekerja di dalam kebun anggur. Anak yang pertama menjawab “Ya Bapa”, tetapi ia tidak pergi (ay. 28). Selanjutnya sang Bapa pun berkata kepada anaknya yang bungsu dengan kalimat yang sama, tetapi anak yang bungsu menjawab bahwa ia tidak mau pergi. Namun demikian si bungsu kemudian menyesal dan akhirnya pergi juga (ay. 29). Dari perumpamaan tersebut, Tuhan Yesus kemudian bertanya kepada orang yang mendengarkan-Nya (termasuk imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang datang kepada-Nya (Mat 21:23), selain orang banyak yang sudah ada di situ), siapakah dari kedua anak tersebut yang melakukan kehendak ayahnya (ay. 30a).

Mereka pun serempak menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu yang terakhir (ay. 30b), yaitu si anak bungsu yang walaupun berkata “tidak” tetapi pada akhirnya ia mau juga melakukan kehendak ayahnya. Jelas di sini semua orang sepakat bahwa tindakan nyata lebih baik daripada sekedar perkataan yang hanya menjadi wacana. Tentu selama ini kita berpikir bahwa makna perumpamaan tersebut hanya berhenti sampai di situ. Tetapi ternyata Tuhan Yesus tidak berhenti sampai di situ. Tuhan Yesus melanjutkan ucapan-Nya bahwa sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 30c).

Lho, mengapa Tuhan Yesus tiba-tiba berkata seperti itu? Jika kita cermat membaca ayat-ayat sebelumnya dan juga sesudahnya, maka kita akan mengerti bahwa yang dimaksud dengan anak sulung adalah orang Israel/Yahudi, khususnya mereka yang mengaku sebagai pemimpin Yahudi, seperti para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi/Saduki. Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa mereka adalah seperti anak sulung, yaitu mereka yang sebenarnya “terpilih” untuk mendapatkan hak istimewa (karena dalam  budaya Yahudi anak sulung menerima warisan 2 bagian sementara adik-adiknya masing-masing hanya menerima 1 bagian). Hal istimewa itu adalah kesempatan untuk mengenal Allah yang benar, memperoleh hukum langsung dari Allah, dan kesempatan untuk menjadi bangsa yang akan melahirkan Mesias.

Bangsa Israel sungguh mendapatkan kesempatan yang luar biasa dalam rencana penyelamatan Allah bagi manusia. Sayangnya, mereka menjadi sombong dan terjebak pada suatu rutinitas keagamaan yang hampa dan kosong. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan perumpamaan yang demikian. Bangsa Israel/Yahudi diibaratkan sebagai anak sulung yang seharusnya lebih dewasa (karena lebih lama mengenal ayahnya dibandingkan dengan anak bungsu) tetapi ternyata mereka tidak mengerti apa kehendak ayahnya. Ketika sang ayah berkata kepada anak sulung itu, anak sulung hanya berkata “ya” tetapi tidak mau melakukannya. Ini menunjukkan bagaimana orang Israel/Yahudi tidak pernah menunjukkan hidup seperti anak sulung yang seharusnya ditunjukkan, sebagai calon penerus pekerjaan ayahnya atau calon penerima warisan ayahnya (yang berupa kebun anggur).

Sebagai dampak dari tidak dilakukannya kehendak ayahnya, kemudian sang ayah berpaling kepada anak bungsu. Anak bungsu pada umumnya bersifat lebih cuek dan lebih bandel. Hal ini tentu karena umur mereka lebih sedikit daripada anak sulung, dan tentu lebih sedikit waktu untuk belajar mengenal kehendak ayahnya. Dalam perumpamaan yang lain, ditunjukkan adanya anak bungsu yang meminta bagian warisan lalu pergi meninggalkan ayahnya (Luk 15:11-32). Hal yang sama nyaris ditunjukkan oleh si anak bungsu dalam perumpamaan ini, dimana ia menjawab “tidak mau” ketika ayahnya memintanya untuk pergi dan bekerja di kebun anggur. Akan tetapi ternyata kemudian si anak bungsu menyesal dan pergi juga ke kebun anggur untuk bekerja di sana walaupun sebelumnya ia berkata “tidak mau”.

Jadi dalam hal ini kita harus menyadari bahwa anak yang menyenangkan hati ayahnya adalah ia yang melakukan kehendak ayahnya, bukan hanya sekedar perkataan di mulut semata. Semua orang yang mendengar khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu juga menyetujui bahwa anak yang melakukan kehendak ayahnya adalah yang terakhir. Ini tentu menjadi peringatan keras kepada mereka yang mengaku lebih dahulu mengenal Tuhan tetapi tidak mau berubah dan bertobat. Bertobat di sini dapat diartikan sebagai menyadari kesalahannya dan kemudian melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa kita. Anak yang sulung tidak bertobat meskipun berkata “ya” karena ia tidak mau melakukan ucapannya. Anak yang bungsu, jika ia berkata “tidak” dan kemudian menyesal, itu bukanlah pertobatan sampai jika ia mau melakukan kehendak ayahnya. Jika ia hanya menyesal dengan ucapannya, lalu kembali tidur lagi tanpa pergi ke ladang, itu bukanlah pertobatan. Jadi jelas bahwa pertobatan adalah hal yang sangat pribadi, dimana mungkin hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu apakah kita benar-benar bertobat atau  hanya ucapan pertobatan di mulut saya.

Saya pun baru menyadari bahwa dalam perikop ini ternyata ada kata perempuan sundal, yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata pornai (πόρναι) dari akar kata porné (πόρνη). Kata porné adalah kata feminim dari kata pornos. Itulah sebabnya dalam Alkitab, kata porné seluruhnya diterjemahkan sebagai perempuan sundal atau pelacur dan tidak digunakan untuk merujuk kepada gender laki-laki. Kata porné sendiri dapat  bermakna a woman who sells her body for sexual uses (seorang perempuan yang menjual tubuhnya untuk keperluan seksual) atau any woman indulging in unlawful sexual intercourse, whether for gain or for lust (Setiap perempuan yang melakukan hubungan seksual yang tidak sah, baik untuk mendapatkan sesuatu atau hanya untuk nafsu semata). Perempuan sundal dan pelacur ini sudah ada sejak zaman nenek moyang bangsa Israel, dan tetap ada di masa Tuhan Yesus hidup, bahkan tetap ada sampai saat ini.

Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu (secara khusus kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, namun secara umum juga kepada orang Yahudi yang mendengarkan-Nya) masuk ke dalam kerajaan Allah (ay. 31b). Oleh karena itu yang penting adalah bukan pada masa lalu kita. Saya yakin bahwa ada di antara kita yang memiliki masa lalu yang kelam. Seburuk apapun masa lalu kita di hadapan Tuhan, ketika kita mau sungguh-sungguh bertobat, maka Tuhan pasti menghargai pertobatan kita.

Menarik melihat penggunaan kata pornai/pornos dalam ayat ini, dimana kita tahu bahwa kata pornos ini menunjukkan tingkatan dosa yang lebih parah dari sekedar moichos. Saya melihat bahwa dalam ayat ini Tuhan hendak menunjukkan bahwa walaupun seseorang dahulu adalah orang yang berdosa, bahkan sampai benar-benar menjadi pelacur atau perempuan sundal, tetapi jika ia sungguh-sungguh bertobat, maka pertobatannya tersebut akan menyelamatkan dirinya. Tentu di sini pertobatan tidak sekedar datang ke gereja/KKR lalu menangis tersedu-sedu dan esoknya kembali ke dosa yang lama. Di sini pertobatan harus dimaknai sebagai suatu tindakan nyata yang berbalik 180 derajat dari dosa kepada kebenaran, dari kejahatan kepada kebaikan, dari persundalan/pelacuran kepada kekudusan hidup.

Pelacur atau perempuan sundal adalah pihak yang dipandang hina oleh orang Yahudi, dan juga oleh sebagian besar suku bangsa di dunia ini. Tidak hanya di masa lalu, di masa kini pun orang dengan dosa seksual apalagi mereka yang berprofesi sebagai pelacur/perempuan sundal pasti dianggap najis oleh orang lain. Tentu kita harus membedakan antara penggunaan kata pornos dalam kaitannya dengan pernikahan dan perceraian dengan kata pornos dalam ayat ini yang menunjukkan contoh tindakan dosa yang ekstrem tetapi mereka masih dapat diselamatkan jika benar-benar bertobat. Penggunaan kata pornos di ayat ini bukan berarti Tuhan Yesus hendak membolehkan orang percaya melakukan dosa pornos dan kemudian bertobat. Tetapi penggunaan kata pornos di ayat ini merujuk pada orang-orang yang sebelum mendengar berita Injil memang sudah berkeadaan sebagai pelacur/perempuan sundal. Setelah mereka mendengar Injil, maka mereka akan dihakimi menurut respon mereka terhadap Injil. Jika mereka sungguh-sungguh bertobat setelah mendengar Injil, maka mereka dapat masuk ke dalam kerajaan surga, bahkan bisa mendahului orang Farisi dan ahli Taurat.

Mengapa orang Farisi dan ahli Taurat bisa didahului oleh para pemungut cukai dan perempuan sundal? Karena orang Farisi dan ahli  Taurat sudah mendengar kebenaran (yang dimulai sejak Yohanes Pembaptis mengajak orang banyak bertobat dan memberi diri dibaptis) tetapi mereka tidak mau percaya kepadanya (ay. 32a). Kata “percaya” di ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata episteusate (ἐπιστεύσατε) dari akar kata pisteuó (πιστεύω) yang tidak hanya berarti sekedar yakin, tetapi sampai benar-benar menyerahkan diri kepada objek yang kita percayai. Secara singkat, pisteuó tidak hanya cukup sampai di tingkat keyakinan pikiran saja, tetapi harus sampai ditunjukkan dengan tindakan yang nyata. Orang farisi dan ahli Taurat tidak dapat dikatakan percaya kepada jalan kebenaran yang ditunjukkan/diajarkan oleh  Yohanes Pembaptis karena mereka saja tidak mau dibaptis olehnya (Luk 7:30).

Hal sebaliknya ditunjukkan oleh orang-orang berdosa seperti pemungut cukai dan perempuan sundal yang percaya kepada Yohanes Pembaptis dan mau dibaptis olehnya (ay. 32b). Jadi jelas bahwa ukuran percaya seseorang tidak mungkin tidak terlihat, tetapi pasti terlihat dari sikap dan perbuatan sehari-hari. Orang yang percaya kepada Tuhan dengan benar, pasti kualitas hidupnya akan memancarkan keagungan Tuhan. Memang kita juga tidak tahu apakah mereka yang dibaptis oleh Yohanes itu sungguh-sungguh bertobat atau tidak. Tetapi setidaknya mereka memiliki niat untuk bertobat, dibandingkan dengan orang Farisi dan ahli Taurat yang memandang rendah Yohanes Pembaptis dan tidak mau dibaptis (karena merasa diri mereka sudah benar).  

Bahkan lebih parah lagi, orang Farisi dan ahli Taurat yang melihat sendiri pertobatan pemungut cukai dan perempuan sundal (yaitu mereka yang bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis), mereka tidak menyesal sama sekali. Hati mereka sekaan-akan sudah membatu melihat pertobatan orang lain dan tetap tidak merasa harus bertobat juga. Kata “menyesal” dalam ayat ini adalah metemelēthēte (μετεμελήθητε) dari akar kata metamelomai (μεταμέλομαι). Kata ini berasal dari 2 kata yaitu kata metá (μετά) yang bermakna change after being with (berubah setelah bersama-sama dengan) dan kata mélō (μέλει) yang bermakna care, be concerned with (perhatian, peduli dengan). Jadi kata metamelomai di sini menunjukkan adanya suatu perubahan (khususnya di pikiran) setelah ia bersama-sama dengan pihak lain dan memperhatikan pihak lain tersebut.

Kata metamelomai ini juga digunakan di ayat 30 sebagai untuk menunjukkan bahwa anak bungsu menyesal dan kemudian pergi juga ke ladang melakukan kehendak ayahnya. Si anak tentu saja tidak menyesal begitu saja, tetapi karena adanya interaksi antara dirinya dengan ayahnya. Mungkin saja setelah si bungsu menolak, ia kemudian melihat ayahnya bersiap-siap pergi ke ladang atau melihat raut muka ayahnya yang sedih. Adanya interaksi antara si bungsu dengan ayahnya (walaupun interaksi tersebut mungkin hanya melihat dari kejauhan tanpa adanya komunikasi verbal), membuat si anak bungsu menyesal dan melakukan apa yang dikehendaki ayahnya. Jelas bahwa anak bungsu melakukan tindakan nyata sebagai bukti nyata dari penyesalannya.

Kata metamelomai ini juga digunakan untuk menunjukkan penyesalan Yudas setelah ia melihat Tuhan Yesus pada akhirnya dijatuhi hukuman mati (Mat 27:3). Jika Yudas saja bisa menyesal dan berubah pikiran (walau pada akhirnya ia bunuh diri juga dan tidak memperbaiki kesalahannya), maka tentu orang Farisi dan ahli Taurat yang sudah melihat pertobatan pemungut cukai dan perempuan sundal, bahkan berinteraksi langsung dengan Tuhan Yesus melalui ajaran dan khotbah-Nya, seharusnya lebih mudah bertobat. Nyatanya tidak demikian, orang Farisi dan ahli Taurat tidak mau bertobat dan tidak mau percaya. Ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang sudah disediakan Tuhan melalui peristiwa-peristiwa di sekitar mereka. Ada banyak kesempatan untuk bertobat melalui orang-orang di sekitar mereka, tetapi mereka tidak memedulikannya. Tidak salah jika Tuhan Yesus berkata bahwa pada akhirnya, para pemungut cukai dan perempuan sundal (yang benar-benar bertobat) akan mendahului orang Farisi dan ahli Taurat masuk ke dalam kerajaan surga.

Persoalannya, di sisi mana kita berdiri saat ini? Apakah kita ada di pihak anak sulung yang tidak mau melakukan kehendak ayahnya dan orang Farisi yang tidak mau bertobat? Atau kita ada di pihak anak bungsu yang walaupun sempat menolak ayahnya atau seperti perempuan sundal punya masa lalu yang kurang baik tetapi pada akhirnya sungguh-sungguh bertobat dan melakukan kehendak Bapa di surga. Manfaatkan sisa waktu hidup kita di dunia ini selagi masih ada kesempatan. Ingat bahwa hanya perempuan sundal yang bertobat yang masuk ke dalam kerajaan surga, sementara perempuan sundal yang tidak mau bertobat tentu tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga.



Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32
21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."