Selasa, 18 Juni 2019

Pornos dan Moichos (23): Terikat hingga Kematian Memisahkan


Selasa, 18 Juni 2019
Bacaan Alkitab: Roma 7:1-6
Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.(Rm 7:13)


Pornos dan Moichos (23): Terikat hingga Kematian Memisahkan


Ketika saya menulis renungan ini, baru beberapa hari yang lalu saya menghadiri suatu pemberkatan nikah dari seorang yang saya kenal cukup baik sejak masa remajanya. Dalam pemberkatan nikah tersebut, saya hadir Bersama dengan istri saya dan mendengar khotbah nikah dan segala prosesinya, termasuk pengucapan janji nikah, pemasangan cincin, dan lain sebagainya. Saya sangat yakin bahwa dalam setiap pemberkatan nikah yang dilakukan secara Kristiani, pastilah ada kata-kata “sampai maut memisahkan” atau yang sejenisnya. Ini menunjukkan bahwa pernikahan Kristen berlaku seumur hidup, dan seharusnya hanya maut yang dapat memisahkan dua orang yang mengikat janji di hadapan Tuhan, Pendeta dan jemaat.

Saya sangat yakin bahwa semua mempelai yang diberkati di gereja pastilah mengucapkan janji tersebut dengan sukarela dan penuh kesadaran, tanpa paksaan apapun. Namun kenyataannya, praktik yang ada belakangan ini menunjukkan bahwa tidak sedikit pasangan yang diberkati di gereja (yang telah mengucapkan janji nikah mereka) ternyata bercerai. Saya tidak membahas mengapa hal tersebut dapat terjadi, tetapi fakta ini menunjukkan bahwa mungkin kita cukup sering mengucapkan sesuatu tanpa menyadari bahwa ucapan kita itu memiliki makna yang dalam. Kita sering menyepelekan apa yang kita ucapkan, dan kemudian dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, kita bisa seakan-akan “mencabut” perkataan kita tanpa adanya konsekuensi apapun.

Sebenarnya paham mengenai ikatan pernikahan/perkawinan yang berlaku seumur hidup ini bukanlah  monopoli dalam kekristenan. Banyak bangsa-bangsa kuno lain yang sudah menerapkan prinsip ini. Di masa Rasul Paulus hidup, sudah ada aturan umum bahwa suatu hukum berlaku selama seseorang itu hidup (ay. 1). Paulus kemudian menuliskan contoh yang lebih spesifik lagi, yaitu hukum atau tatanan pernikahan yang sudah berlaku secara umum pada masa itu, yaitu ikatan hukum antara seorang istri dan suami. Ingat pada waktu itu posisi wanita masih dianggap berada di bawah pria, sehingga Paulus dalam hal ini mengambil sudut pandang dari sisi seorang istri, dimana ia terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya masih hidup (ay. 2a)

Seorang istri dianggap berzinah (moichalis/μοιχαλίς) jika ia berselingkuh dengan pria lain selama suaminya masih hidup (ay. 3a). Hukuman untuk perzinahan pada masa itu sangat mungkin adalah hukuman yang cukup berat, bahkan mungkin hukuman mati. Pada masa itu, hukum (termasuk hukum perkawinan) mengikat seseorang hingga ia mati. Maka seorang istri yang dahulu adalah perempuan bebas sebelum menikah, menjadi terikat ketika menikah dengan suaminya. Jika suaminya meninggal, maka ia kembali ke status bebas dan tidak terikat lagi (ay. 2b). Jika ia sudah menjadi janda (karena suaminya meninggal), maka kalaupun ia menjadi istri laki-laki lain maka tindakannya tersebut tidak terhitung sebagai suatu perzinahan (ay. 3b).

Hal ini sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa. Jauh sebelum kekristenan berkembang seperti sekarang ini, sudah ada aturan perkawinan semacam itu yang lazim terjadi di zaman Rasul Paulus hidup. Konteks pada waktu itu kemudian dijadikan contoh oleh Paulus mengenai bagaimana orang percaya harus bersikap dalam kaitannya dengan hukum Taurat. Dari contoh yang disampaikan, Paulus hendak menyatakan bahwa meskipun dulu orang percaya adalah penganut agama Yahudi (karena kebanyakan jemaat mula-mula juga adalah orang Yahudi), tetapi mereka sebenarnya harus mengikuti suatu “perjanjian yang baru”.

Jika diibaratkan dengan orang yang menikah, maka agama Yahudi adalah “suami yang lama” dan Yesus Kristus adalah “suami yang baru”. Oleh karena itu, seorang yang mau mengikut Kristus harus bersedia membuat “suami lamanya mati”. Tentu kata mati di sini adalah kiasan, dan tidak boleh diartikan secara harafiah bahwa orang Kristen boleh membunuh orang lain. Orang percaya yang selama ini hidup dan terikat dalam hukum Taurat harus mematikan hukum Taurat tersebut sehingga ia dapat dengan sah menjadi mempelai Kristus (ay. 4).

Di sini kita harus bersedia “mematikan” hukum Taurat, yang artinya adalah tidak lagi menganggap hukum Taurat itu sebagai hal yang terpenting. Ketika kita percaya kepada Kristus, maka satu-satunya agenda kita dan prioritas kita adalah untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang kita utamakan. Kita tidak boleh lagi memiliki ambisi pribadi, keinginan, bahkan pemikiran yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa di surga. Kita harus dapat berjuang mengenakan hidup seperti pribadi Kristus yang ketika menjadi manusia dapat hidup berkenan kepada Bapa dalam segala hal.

Saya sedang tidak mengatakan bahwa hukum Taurat itu jelek. Hukum Taurat mengandung banyak prinsip yang baik untuk diikuti. Namun demikian, jika kita hanya hidup berdasarkan hukum Taurat, maka kita akan terjebak pada syariat-syariat dan aturan hukum yang kaku, khususnya terkait hal beribadah kepada Allah. Sementara itu, hukum Taurat tidak akan dapat membuat kita menjadi sempurna karena tubuh dan pikiran kita “disandera” oleh hukum Taurat sehingga kita hanya berfokus pada apa yang tertulis menurut hukum tanpa mempertimbangkan apakah yang kita lakukan, ucapkan dan pikirkan itu berkenan di hadapan Bapa. Ingat bahwa standar orang percaya adalah melakukan kehendak Bapa di surga (Mat 7:21-23). Oleh karena itu, sebagai orang percaya yang hidup di zaman Perjanjian Baru, kita harus bisa move on dari segala macam hukum dan syariat yang ada di Perjanjian Lama. Orientasi kita bukan lagi bagaimana kita melakukan hukum Taurat, tetapi bagaimana kita bisa melakukan kehendak Bapa. Prinsip kita sudah bukan Torah is my Law (Taurat adalah hukumku) tetapi God is my Law (Allah sendiri adalah hukumku).

Oleh karena itu, orang percaya harus berjuang untuk mencapai tingkatan ini. Kita sudah tidak mempermasalahkan lagi tuntutan hukum Taurat, bahkan harus menganggap kita sudah mati terhadap hukum Taurat. Kita baru dapat melayani Allah secara pantas jika kita berani “mematikan” hukum Taurat dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya hukum dalam hidup kita (ay. 5-6). Melayani Allah berarti melayani perasaan-Nya, dan hal itu hanya dapat dilakukan jika kita memutuskan perjanjian yang lama (dengan hukum Taurat, atau dengan apapun juga selain Allah) dan menjalin suatu perjanjian yang baru dengan Allah. Jangan biarkan apapun juga menghalangi ikatan perjanjian antara diri kita dan Allah sehingga kita dipandang “berzinah” di hadapan-Nya.



Bacaan Alkitab: Roma 7:1-6
7:1 Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, — sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum — bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup?
7:2 Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.
7:3 Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.
7:4 Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.
7:5 Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut.
7:6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.





Senin, 17 Juni 2019

Pornos dan Moichos (22): Konsistensi antara Perkataan dan Perbuatan


Senin, 17 Juni 2019
Bacaan Alkitab: Roma 2:17-24
Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? (Rm 2:22)


Pornos dan Moichos (22): Konsistensi antara Perkataan dan Perbuatan


Bangsa Yahudi yang merupakan keturunan bangsa Israel merupakan bangsa pilihan dimana Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Bahkan dari bangsa Yahudi inilah Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menjadi Juruselamat dunia. Jika demikian, apakah orang Kristen patut untuk meniru dan bahkan mengkultuskan bangsa Yahudi?

Jika kita membaca sebagian besar surat-surat Paulus termasuk surat Roma ini, maka kita akan melihat bagaimana Paulus begitu tegas bersikap terhadap orang Yahudi. Ketika orang Yahudi pada saat itu bangga terhadap status keyahudiannya, bangga terhadap hukum Taurat yang mereka miliki (yang mereka klaim adalah hukum dari Tuhan sendiri), maka mereka merasa bahwa mereka adalah bangsa pilihan yang pasti akan dibela tanpa batas oleh Tuhan mereka.

Paulus menekankan bahwa jika mereka menyebut diri mereka sebagai orang Yahudi, bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, bahkan bisa tahu kehendak-Nya (karena menerima pengajaran di dalam hukum Taurat), bahkan dapat mengerti mana yang baik dan mana yang jahat (menurut hukum Taurat), serta yakin bahwa mereka membawa terang dan menuntun mereka yang di dalam kegelapan, maka mereka sebenarnya memiliki peran yang sangat mulia sekali. Mereka tentu dapat berperan sebagai pendidik bagi orang bodoh (ay. 17-20). Dalam hal ini kita harus memahami konteks kitab Roma ini ditulis, dimana Paulus menunjukkan perbedaan antara kehidupan orang Yahudi yang menjalankan hukum secara lahiriah dan bagaimana orang-orang non Yahudi yang percaya namun tidak lagi hidup menurut hukum.

Dalam hal ini, bangsa Yahudi dipandang sebagai bangsa yang sudah mengenal terang, karena mereka memiliki hukum yang berasal dari Allah sendiri (yaitu 10 hukum dan turunannya). Mereka seharusnya sudah mengenal Allah, firman-Nya, dan kebenaran-Nya. Mereka harusnya dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang hendak hidup benar di hadapan Allah. Namun kenyataannya, karena sikap dan kehidupan orang Yahudi yang sangat bebal, justru nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain. Mengapa demikian? Karena hidup mereka tidak mencerminkan keagungan Allah yang mereka sembah. Karakter mereka sehari-hari sangat jauh dari standar hukum Allah yang sudah jelas dinyatakan ribuan tahun sebelumya.

Paulus yang adalah orang Yahudi asli sangat mengerti akan hal ini. Paulus hidup di dalam agama Yahudi sejak ia kecil hingga dewasa. Bahkan dalam salah satu tulisannya, Paulus mengatakan bahwa ia adalah orang Ibrani (Yahudi) asli dan ia menjalankan hukum Taurat nyaris tanpa cela (Flp 3:5-6). Namun demikian, ia memahami benar bahwa ada satu kekurangan dalam kehidupan orang Yahudi secara umum, yaitu kurangnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Orang Yahudi yang lebih memahami dan mengenal Allah (karena memiliki firman dari Allah dan nenek moyang mereka bahkan mengalami sendiri kuasa Allah yang hebat) tentu seharusnya bisa membawa terang bagi bangsa-bangsa lain. Mereka seharusnya dapat mengajar orang lain untuk mengenal Allah yang benar dengan cara yang benar pula. Sayangnya, di sini justru terletak kegagalan bangsa Yahudi untuk membawa terang bagi bangsa-bangsa.

Paulus menulis bahwa mereka yang sudah berani untuk mengajar orang lain, seharusnya sudah lulus dalam mengajar diri mereka sendiri (ay. 21a). Dalam bahasa yang lebih sederhana, jika seseorang berkata (apalagi jika sudah mengajar) kepada orang lain untuk tidak mencuri, maka ia seharusnya sudah tidak mencuri lagi (ay. 21b). Jika ia berkata kepada orang lain untuk tidak berzinah, maka ia seharusnya juga tidak berzinah. Itulah sebabnya Paulus menulis: “Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah?” (ay. 22a).

Kata berzinah di ayat ini dalam bahasa aslinya menggunakan kata moicheuein (μοιχεύειν) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω). Kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk merujuk salah satu dari Dasatitah di Perjanjian Lama yaitu “Jangan berzinah” (Kel 20:14). Jika kita memposisikan diri secara lebih obyektif, suatu bangsa yang memiliki hukum yang mengatur secara rinci mengenai kehidupan bangsa tersebut dengan Tuhannya dan sesamanya selama lebih dari 1.000 tahun, seharusnya memiliki standar hidup yang jauh lebih baik, beradab, dan mulia. Hukum Taurat adalah hukum yang mulia. Sayangnya, hukum itu hanya dilakukan sesuai  bunyinya, bukan sesuai nafasnya. Itulah sebabnya dalam kesempatan yang lain Tuhan Yesus menegur bangsa Yahudi yang merasa tidak berzinah (karena memahami zinah hanya sebagai tindakan hubungan seksual antara 2 orang yang tidak terikat hubungan perkawinan) padahal mereka tidak sadar bahwa ketika mereka melihat lawan jenis hingga tergerak birahinya, maka mereka sebenarnya sudah berzinah (Mat 5:27-28).

Betapa berbahayanya jika hukum dan syariat agama hanya dilakukan sesuai dengan bunyinya tanpa melihat spirit atau nafas dari hukum tersebut. Bangsa Yahudi bisa dikatakan jijik terhadap segala berhala, khususnya segala macam patung. Pada masa itu mereka sedang dijajah oleh bangsa Romawi (dan sebelumnya juga dijajah bangsa Yunani), dimana kebudayaan Romawi/Yunani sangat sarat dengan patung-patung dewa yang mereka sembah. Mereka memang jijik dengan patung-patung tersebut, tetapi lupa bahwa mereka pun tanpa mereka sadari sedang merampok rumah berhala. Ayat ini mungkin terkait dengan praktik pada masa itu dimana mereka pun juga menerima sumbangan dari orang-orang non Yahudi atas pendirian rumah-rumah ibadah yang memiliki patung-patung di dalamnya (ay. 22b). 

Bangsa Yahudi memang adalah bangsa yang dipilih Allah sebagai sarana untuk lahirnya Mesias. Untuk itulah mereka diberikan hukum Taurat sebagai pedoman hidup. Selama ini Hukum Taurat menjadi suatu hal yang sangat dibanggakan oleh bangsa Yahudi. Mereka sangat bangga karena menerima suatu hukum yang diberikan langsung oleh Allah sesembahan mereka (Elohim Yahweh). Namun demikian, tanpa mereka sadari mereka justru mempermalukan dan menghina Allah ketika mereka tidak melakukan hukum Taurat sebagaimana seharusnya seperti yang dikehendaki oleh Allah (ay. 23).

Dalam hal ini, sekali lagi kita harus mengerti bahwa Allah tidak menghendaki bangsa Yahudi hanya melakukan hukum Taurat sesuai bunyinya, karena hal itu hanya akan membuat mereka sebagai bangsa yang berhukum. Hukum Taurat memang baik karena mendorong manusia untuk memiliki karakter yang baik (tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, dan lain sebagainya). Tapi Allah ingin supaya manusia memiliki karakter yang sempurna, dan tidak hanya sekedar baik. Oleh karena itu, bangsa Yahudi mungkin tidak membunuh, tetapi perkataan mereka seringkali tidak terkendali dan membunuh karakter maupun semangat orang lain. Mereka mungkin tidak sampai melakukan hubungan seksual selain pasangannya, tetapi pikiran mereka liar dan bergairah melihat wanita lain. Hal-hal seperti inilah yang dikatakan sebagai menghina Allah.

Biarlah pengalaman bangsa Yahudi ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa meskipun menyandang status sebagai “bangsa pilihan”, bukan berarti bangsa Yahudi otomatis berkenan di hadapan Allah. Status sebagai bangsa pilihan harus dibuktikan pula dengan kehidupan yang menunjukkan kualitas sebagai bangsa pilihan itu sendiri. Lebih dalam lagi, tidak cukup hanya bangga memiliki hukum Taurat, berstatus sebagai bangsa pilihan, bahkan mengucapkan ayat-ayat dari kitab suci. Bagi kita yang sering mengaku diri sebagai anak-anak Allah, hal yang jauh lebih penting adalah apakah kita sungguh-sungguh menghidupi status kita sebagai anak-anak Allah? Apakah kita sungguh-sungguh tidak hanya gemar mengutip atau mengucapkan ayat-ayat dari kitab suci tetapi melakukannya? Apakah kita tidak hanya sibuk berteori dan berteologia, tetapi juga menghidupi prinsip-prinsip kekristenan yang kita yakini sebagai kebenaran? Jika tidak, mungkin selama ini kita telah berbohong dan berdusta terhadap diri sendiri dan juga terhadap Allah. Jangan sampai nama Allah dihujat karena kehidupan kita tidak memancarkan keagungan yang seharusnya kita miliki sebagai anak-anak Allah (ay. 23). Jangan sampai kehidupan kita yang busuk menjadi penghambat bagi orang lain untuk dapat percaya kepada Allah yang benar.  



Bacaan Alkitab: Roma 2:17-24
2:17 Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah,
2:18 dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak,
2:19 dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan,
2:20 pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.
2:21 Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?
2:22 Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?
2:23 Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?
2:24 Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain."

Jumat, 25 Januari 2019

Pornos dan Moichos (21): Keputusan yang Konsisten


Jumat, 25 Januari 2019
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 21:17-25
Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain, yang telah menjadi percaya, sudah kami tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. (Kis 21:25)


Pornos dan Moichos (21): Keputusan yang Konsisten


Ternyata berita bohong (hoaks) dan fitnah bukan hanya terjadi di zaman modern seperti sekarang ini. Sekitar 2.000 tahun yang lalu, pada masa gereja mula-mula, sudah ada banyak hoaks dan fitnah yang bersebaran. Jika kita konsisten mengikuti membaca Alkitab, maka kita akan tahu bahwa ada jeda yang cukup lama antara peristiwa di Kisah Para Rasul pasal 15 dan 21, dimana dalam jeda tersebut (mungkin sekitar beberapa tahun), Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya sudah memberitakan Injil ke banyak daerah kepada bangsa-bangsa non Yahudi.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 21, konteks peristiwa pada waktu itu adalah ketika Paulus hendak ke Yerusalem, meskipun ia sudah mengerti bahwa ia akan ditangkap dan menderita di Yerusalem. Tetapi Paulus tetap teguh pada pendiriannya karena ia mengerti kehendak Tuhan secara khusus bagi dirinya. Ketika Paulus dan rekan-rekannya tiba di Yerusalem, semua saudara menyambut dengan gembira (ay. 17). Paulus pun mengunjungi para pemimpin jemaat (antara lain Yakobus) dan para penatua di Yerusalem (ay. 18). Paulus menceritakan apa yang ia lakukan selama beberapa waktu tersebut di antara bangsa-bangsa lain (ay. 19).

Mendengar cerita Paulus tersebut, semua orang yang hadir memuji dan memuliakan Allah. Para pemimpin dan penatua di Yerusalem juga berkata bahwa ribuan orang Yahudi menjadi percaya kepada Yesus dan mereka semua tetap rajin memelihara hukum Taurat (ay. 20). Kita harus mengerti bahwa masa itu adalah masa awal pembentukan jemaat mula-mula. Sedang terjadi transisi dari kekristenan sebagai salah satu bagian dalam agama Yahudi menjadi suatu “agama” baru. Karena Yesus sendiri lahir sebagai orang Yahudi dan pada awalnya juga sebagian besar pengikutnya adalah maka tentu kebanyakan orang yang percaya di dalam jemaat mula-mula juga adalah orang Yahudi.

Sebagian orang Yahudi yang mendengar khotbah Tuhan Yesus (atau mendengar khotbah murid-murid-Nya setelah peristiwa Tuhan Yesus naik ke surga), akhirnya menjadi percaya dan mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka mungkin mereka belum sepenuhnya mengakui Yesus adalah Tuhan atau Kurios atau salah satu pribadi di dalam lembaga Elohim. Itulah sebabnya kata percaya di sini sebenarnya tidaklah sama dengan percaya yang seharusnya. Hal ini tentu dapat dipahami karena orang Yahudi tersebut masih menjalankan dan memelihara hukum Taurat mereka. Mereka masih menyangka bahwa hukum Taurat tetap harus dipelihara, seperti menjauhi makanan yang tidak kosher, mempersembahkan korban bakaran, termasuk memelihara tradisi sunat bagi laki-laki.

Itulah sebabnya di kalangan orang Yahudi (bahkan termasuk di kalangan orang Yahudi yang sudah “percaya”), mereka mendengar isu dan berita bahwa Paulus mengajar orang-orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain (di luar daerah Israel) untuk melepaskan hukum Taurat. Mereka mendengar berita yang menyatakan bahwa Paulus melarang orang menyunatkan anak-anaknya dan hidup menurut adat istiadat Yahudi (ay. 21). Ini adalah berita bohong atau hoaks. Paulus memang mengajarkan kepada orang non Yahudi bahwa mereka tidak wajib bersunat, tetapi yang sudah terlanjur disunat, tidak perlu menghilangkan tanda-tanda sunatnya (1 Kor 7:18). Hal itu mungkin sekali diputarbalikkan oleh segelintir oknum Yahudi yang tidak suka dengan Paulus. Akibatnya berita besar tersebar di antara kalangan orang Yahudi bahwa Paulus telah menista agama Yahudi.

Hal ini telah menjadi perhatian bagi para pemimpin jemaat waktu itu. Oleh karena itu Yakobus menyarankan agar Paulus membawa 4 orang yang sedang bernazar untuk beribadah ke Bait Allah. Dengan demikian diharapkan orang dapat melihat bahwa Paulus tetap menjalankan adat istiadat Yahudi (sebagai orang Yahudi) dan tidak berniat mengubahnya meskipun ia sudah menjadi orang Kristen (ay. 22-24). Dalam hal ini mengingat kekristenan masih berada di awal pembentukannya, maka masih ada sedikit dualisme antara orang Kristen dari kelompok Yahudi dan orang Kristen dari kelompok non Yahudi. Namun demikian, para pemimpin jemaat (yang notabene sebagian besar adalah berasal dari kelompok orang Yahudi), tidak mewajibkan orang Kristen non Yahudi untuk disunat. Mereka hanya diminta untuk menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan (ay. 25).

Patut dibayangkan kondisi kota Yerusalem ketika ada informasi bahwa Paulus (orang yang dianggap sudah menista agama Yahudi) akan datang ke Yerusalem. Kekristenan pada masa itu berada di ambang perpecahan, antara orang Kristen dari kelompok Yahudi dan dari kelompok non Yahudi. Apa yang dilakukan pemimpin jemaat (seperti Petrus atau Yakobus) pada waktu itu? Apakah mereka akan menerbitkan “fatwa” baru bahwa orang Kristen (baik Yahudi maupun non Yahudi) sebaiknya disunat seperti yang tertulis dalam hukum Taurat guna meredam kemungkinan konflik yang akan terjadi?

Ternyata jawabannya adalah tidak. Pemimpin jemaat di Yerusalem tetap pada keputusan semula bahwa orang Kristen non Yahudi tidak wajib disunat. Mereka hanya dianjurkan untuk menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Konsistensi ini patut diacungi jempol karena di dalam tekanan maupun kondisi yang tidak kondusif, para pemimpin tetap konsisten menyatakan apa yang wajib dan apa yang tidak wajib, apa yang mayor dan apa yang minor.

Memang dalam beberapa kasus dibutuhkan dinamisitas yang tinggi dari seorang pemimpin. Akan tetapi, patut dihargai bahwa terkait dengan keputusan sidang pimpinan jemaat di Yerusalem, hal tersebut tetap menjadi suatu anjuran yang konsisten dan tidak diubah-ubah demi kepentingan segelintir orang. Para pemimpin jemaat pada waktu itu sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan sehiingga keputusan yang diambil bisa tetap diterapkan dengan konsisten. Mereka bukan para pemimpin yang plin-plan dan berubah-ubah sesuai dengan arah angin. Perkataan dan keputusan mereka sungguh-sungguh dapat dipegang sehingga jemaat tidak dibuat bingung.

Saya sendiri pernah bertemu dengan seorang pendeta yang di suatu waktu menyatakan bahwa pernikahan salah satu jemaatnya dengan orang luar gereja adalah sah di mata hukum dan di mata Tuhan karena sudah diberkati di gereja dan telah didaftarkan ke catatan sipil, meskipun pernikahan mereka diawali dengan “kecelakaan”. Namun beberapa waktu kemudian, pendeta tersebut berkata bahwa pernikahannya tidak sah di mata Tuhan karena orang luar gereja itu kembali ke kebiasaannya yang lama. Hal ini tentu saja dapat membingungkan jemaat apalagi jemaat yang awam. Nyatanya ternyata jemaat tadi menikah lagi dengan orang dalam gereja dengan cara yang sama: “kecelakaan” dahulu sebelum menikah. Jadi, sampai saat ini ada banyak jemaat yang bertanya-tanya, sebenarnya apa sih ukuran pernikahan itu bisa dikatakan sah atau tidak? Lalu apakah bisa pernikahan yang dahulu dibilang sah kemudian menjadi tidak sah? Hal apa yang membuat suatu pernikahan menjadi tidak sah lagi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya adalah hal minor yang terjadi karena melalaikan hal-hal yang mayor. Andaikata penekanan terhadap anjuran bapa-bapa gereja mula-mula masih konsisten ditekankan, yaitu salah satunya adalah menjauhi percabulan, gereja (pendeta dan jemaat) tidak akan disibukkan dengan urusan sah atau tidaknya suatu pernikahan. Pernikahan di dalam gereja akan menjadi pernikahan yang suci dan kudus, dan bahkan bisa menjadi contoh maupun teladan bagi orang-orang di sekitar mereka termasuk bagi mereka yang belum percaya.

Dalam hal ini saya tidak menyalahkan pendeta karena mungkin saja ia menghadapi tekanan yang luar biasa sehingga muncul pernyataan yang tidak konsisten. Saya pun ketika berada dalam posisinya sangat mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Akan tetapi, apa yang dapat saya pelajari dari kasus di atas adalah bahwa ketika kita betul-betul menyadari mana hal yang mayor dan mana hal yang minor, maka kita pasti akan berusaha memprioritaskan hal-hal yang mayor untuk dilakukan. Kita harus belajar untuk konsisten dalam belajar kebenaran, konsisten dalam menyampaikan kebenaran, serta konsisten dalam melakukan kebenaran.






Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 21:17-25
21:17 Ketika kami tiba di Yerusalem, semua saudara menyambut kami dengan suka hati.
21:18 Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.
21:19 Paulus memberi salam kepada mereka, lalu menceriterakan dengan terperinci apa yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain oleh pelayanannya.
21:20 Mendengar itu mereka memuliakan Allah. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat.
21:21 Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita.
21:22 Jadi bagaimana sekarang? Tentu mereka akan mendengar, bahwa engkau telah datang ke mari.
21:23 Sebab itu, lakukanlah apa yang kami katakan ini: Di antara kami ada empat orang yang bernazar.
21:24 Bawalah mereka bersama-sama dengan engkau, lakukanlah pentahiran dirimu bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat.
21:25 Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain, yang telah menjadi percaya, sudah kami tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan."

Jumat, 18 Januari 2019

Pornos dan Moichos (20): Menyampaikan Keputusan dengan Terbuka

Jumat, 18 Januari 2019
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 15:22-29
"Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat." (Kis 15:28-29)


Pornos dan Moichos (20): Menyampaikan Keputusan dengan Terbuka


Sekilas, renungan hari ini tidak akan terlalu banyak membahas mengenai makna kata percabulan (porneia) di ayat 29, karena sebenarnya intinya sudah cukup banyak dijelaskan di renungan hari sebelumnya. Namun demikian, ada satu hal yang menarik dari peristiwa sidang di Yerusalam tersebut yaitu tentang bagaimana para pemimpin gereja mula-mula tersebut mengambil keputusan dan untuk selanjutnya disampaikan kepada seluruh jemaat yang ada.

Jangan dibayangkan kondisi waktu itu sama dengan kondisi saat ini, dimana informasi dapat dengan mudah dikirimkan dan diterima melalui aplikasi chatting dan media sosial. Pada masa itu, informasi harus dikirim melalui surat atau melalui orang yang dapat dipercaya. Pada waktu itu, keputusan yang diambil dalam sidang para rasul dan penatua jemaat di Yerusalem harus disampaikan kepada jemaat Tuhan, khususnya jemaat di Antiokhia (yang kemungkinan besar adalah jemaat terbesar pada waktu itu, karena di sanalah orang percaya disebut sebagai Kristen/Kristiani, yang artinya adalah pengikut Kristus).

Dalam menyampaikan keputusan tersebut, para rasul mengutus beberapa orang yang terpandang dan dapat dipercaya untuk menyampaikan keputusan hasil sidang di Yerusalem, yaitu Paulus, Barnabas, Yudas/Barsabas, dan Silas (ay. 22). Mereka adalah orang-orang yang terpandang di antara orang percaya. Tentu mereka juga adalah orang-orang yang dapat dipercayai, yang sudah terbukti dan teruji dalam pelayanan.

Kepada mereka kemudian diserahkan surat yang memuat hasil keputusan para pemimpin gereja di  Yerusalem. Jika kita melihat, surat tersebut ditujukan kepada saudara-saudara seiman (jemaat) di Antiokhia, Siria, dan Kilkia, khususnya mereka yang berasal dari bangsa-bangsa lain selain bangsa Yahudi (ay. 23). Jemaat dari bangsa non Yahudi tentu juga gelisah karena ada ajaran yang menyatakan bahwa orang percaya juga harus disunat seperti orang Yahudi (ay. 24). Untuk mengatasi kebimbangan tersebut, maka pemimpin jemaat bertindak cepat untuk mengambil keputusan dan menyampaikannya kepada jemaat melalui utusan-utusan yang dapat dipercaya (ay. 25-27).

Tidak dapat disangkal, bahwa sunat adalah tradisi turun temurun agama Yahudi yang dilakukan oleh keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Bedanya, agama Yahudi mewajibkan sunat bagi setiap anak laki-laki pada hari kedelapan setelah lahir sama seperti Ishak yang disunat pada hari kedelapan. Dengan pimpinan Roh Kudus, para pemimpin jemaat melalui surat ini hendak menunjukkan bahwa agama Kristen tidaklah sama dengan agama Yahudi. Kekristenan bukan merupakan salah satu “sekte” dalam agama Yahudi. Kekristenan adalah jalan hidup, artinya tidak terikat dengan hukum-hukum lahiriah (seperti hukum Taurat), tetapi terikat dengan pribadi Yesus sebagai contoh dan teladan yang harus kita ikuti jejaknya.

Sejak peristiwa ini, kekristenan tidak dapat dipandang lagi sama seperti agama-agama lain. Kekristenan memiliki posisi yang unik karena tidak ada aturan tertulis mengenai syariat seperti yang dimiliki agama Yahudi. Kekristenan tidak memiliki hukum-hukum yang rumit yang membebani orang percaya karena hal itu hanya akan membuat seseorang menjalankan hukum hanya sesuai bunyinya semata (ay. 28). Memang tetap ada suatu anjuran tetapi lebih bersifat umum dan dalam kaitannya dengan hidup kekristenan di masa-masa itu, yaitu: “menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan” (ay. 29a).

Kita tidak akan membahas banyak hal mengenai apa yang dianjurkan tersebut karena sudah dibahas dalam renungan sebelumnya. Akan tetapi saya ingin menekankan satu kalimat penutup dimana “jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik” (ay. 29b). Perhatikan bahwa sebenarnya anjuran dari hasil keputusan sidang di Yerusalem bukanlah sesuatu yang sangat penting, meskipun bisa dikatakan penting juga. Hal ini penting karena membawa kita kepada kebaikan, dan melakukan anjuran tersebut adalah suatu perbuatan baik. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru, baik saja tidaklah cukup. Seseorang harus berjuang untuk tidak sekedar menjadi baik, tetapi sampai kepada level sempurna (Rm 12:2), sama seperti Tuhan Yesus yang telah mencapai kesempurnaan-Nya (Ibr 5:9). Namun sekali lagi perlu ditekankan bahwa perbuatan baik itu pun penting, karena tidak mungkin kita bisa berjuang untuk sempurna jika kita belum mencapai level kebaikan secara umum.

Terkait dengan level kebaikan secara umum ini, kita akan sedikit memfokuskan kepada kata percabulan yang ada di ayat 29. Dalam bahasa aslinya, kata percabulan menggunakan kata porneias (πορνείας) dari akar kata porneia (πορνεία). Kita telah banyak membahas dalam renungan-renungan sebelumnya bahwa kata porneia ini menunjuk dosa percabulan yang lebih parah dibandingkan dengan kata moicheuó (μοιχεύω). Hal ini memang dapat menunjuk pada praktik perzinahan/percabulan secara harafiah (hubungan seks yang merusak hakikat pernikahan), maupun secara metafora (mencintai dunia dan tidak mencintai Tuhan).

Secara umum, perzinahan baik jasmani maupun rohani tidaklah dibenarkan dalam hampir semua kebudayaan maupun agama. Oleh karena itu, anjuran yang merupakan keputusan sidang di Yerusalem harus disampaikan secara terbuka kepada semua jemaat. Sekitar 2.000 tahun yang lalu, para pemimpin jemaat sudah menyadari pentingnya suatu standar yang sama yang harus dimiliki oleh semua orang Kristen. Untuk itulah meskipun banyak keterbatasan, mereka tetap mengusahakan agar jemaat-jemaat di kota-kota lain juga dapat mendengar dan memahami anjuran ini, supaya mereka antara lain menjauhi percabulan dan dapat menjadi teladan dalam hidupnya. Jelas bahwa umat percaya pada masa itu memiliki suatu standar kehidupan seksual yang dapat diteladani: yaitu menjauhi percabulan, dan hal ini pasti ditekankan terus dari waktu ke waktu oleh para pemimpin gereja kepada jemaat mereka.

Bayangkan jika informasi ini hanya diputuskan di Yerusalem tanpa disebarkan ke jemaat lain, bisa jadi ada sejumlah jemaat yang masih hidup dalam dosa dan tidak mengetahui bahwa apa yang ia lakukan salah. Pengumuman keputusan sidang Yerusalem ini juga ingin menunjukkan bahwa siapa jemaat yang benar dan siapa jemaat yang ikut-ikutan. Jemaat yang benar adalah mereka yang mau menaati hasil keputusan sidang tersebut sebagai keputusan tertinggi yang dibuat pada masa gereja mula-mula dalam tuntunan Roh Kudus. Ini juga akan membedakan antara jemaat asli dengan jemaat palsu/semu. Jemaat palsu/semu mungkin mengakui akan 4 anjuran tersebut, tetapi mereka menambahkan aturan-aturan lain seperti sunat, puasa, mempersembahkan korban, dan adat-adat agama Yahudi lainnya. Tetapi dengan keputusan yang diumumkan secara terbuka ini, maka jemaat dan orang banyak akan mengerti manakah jemaat yang benar dan manakah jemaat yang palsu. Mereka akan dapat melihat manakah pemimpin yang benar dan pemimpin yang palsu. Jika demikian, lalu apa aplikasinya bagi kita di masa modern ini?

Bagi saya secara pribadi, hal ini menunjukkan bahwa dinamika permasalahan di dalam suatu organisasi gereja maupun jemaat sudah terjadi sejak masa gereja mula-mula. Bahkan jika mau jujur, mereka menghadapi tantangan yang sangat berat, termasuk penganiayaan dari orang Yahudi dan orang Romawi, serta adanya doktrin-doktrin palsu yang mencoba menyusup. Namun semua itu dapat diatasi dengan suatu keputusan bersama yang dibuat oleh para pemimpin gereja di dalam pimpinan Roh Kudus. Tidak hanya bersidang dan mengambil keputusan dengan bijaksana, mereka pun juga mengumumkannya dengan terbuka supaya diketahui oleh seluruh jemaat bahkan hingga ke kota-kota lain. Saya yakin bahwa keputusan ini dijalankan secara konsekuen oleh jemaat mula-mula tanpa banyak protes. Mereka yang awalnya pro sunat pun juga menerima keputusan yang sudah diambil. Dan sampai dengan saat ini, kita melihat bahwa sunat sudah tidak lagi menjadi syarat wajib bagi penganut agama Kristen.

Dalam hal ini kita harus belajar mengakui kedewasaan para pemimpin jemaat mula-mula pada masa itu. Mereka mungkin sempat berbeda pandangan mengenai kewajiban sunat bagi umat percaya. Tetapi setelah diputuskan di dalam sidang, maka semua mengakui hasil keputusan sidang tersebut. Kita melihat bahwa sesudah peristiwa ini Alkitab tidak mencatat lagi adanya perbedaan pendapat terkait dengan sunat bagi umat Perjanjian Baru. Memang masih ada pengajaran Paulus mengenai sunat dalam surat-suratnya, tetapi tidak terkait dengan perbedaan pendapat sunat ini.

Selain itu, sikap terbuka dari pemimpin kepada jemaat membuat jemaat tidak perlu bertanya-tanya dan menebak-nebak apa sebenarnya yang sudah ditetapkan oleh para pemimpin jemaat. Ada keterbukaan yang luar biasa antara pemimpin dan jemaatnya. Pemimpin menggembalakan jemaat dengan tulus, dan sebaliknya jemaat percaya kepada pemimpinnya. Hal ini membuat jemaat dan juga pemimpinnya lebih cepat bertumbuh karena waktu mereka tidak harus tersita untuk urusan yang tidak penting. Hal ini mungkin yang dapat kita contoh dan teladani, bahwa pada masa jemaat mula-mula meskipun kondisi begitu berat dan banyak persoalan, tetapi mereka tetap fokus pada satu tujuan: berjuang untuk hidup benar dan sempurna di hadapan Bapa, sehingga setiap masalah dapat diatasi dengan kepala dingin, perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan tuntunan Roh Kudus, tidak habis waktu mengurusi hal-hal minor, dan yang terpenting adanya kepercayaan yang tinggi antar jemaat, antar pemimpin, serta antar pemimpin dan jemaat. Tidak ada yang disembunyikan oleh pemimpin kepada jemaat, tetapi pemimpin justru terbuka kepada jemata sehingga jemaat juga lebih cepat bertumbuh. Pemimpin tidak takut akan jemaat yang cerdas, pemimpin justru mendorong jemaat untuk menjadi cerdas sehingga siap untuk memimpin jemaat lainnya.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 15:22-29
15:22 Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu.
15:23 Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: "Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain.
15:24 Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka.
15:25 Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi,
15:26 yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus.
15:27 Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu.
15:28 Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini:
15:29 kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."

Selasa, 06 November 2018

Pornos dan Moichos (19): Membedakan Mana Hal yang Minor dan Hal yang Mayor


Selasa, 6 November 2018
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 15:1-21
Tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. (Kis 15:20)


Pornos dan Moichos (19): Membedakan Mana Hal yang Minor dan Hal yang Mayor


Saya pernah sempat beribadah di sebuah gereja dimana pendeta di gereja tersebut sering berkata: “Kita harus tidak boleh memayorkan hal-hal yang minor dan tidak boleh meminorkan hal-hal yang mayor”. Terkait kalimat tersebut, saya sangat setuju. Masalahnya adalah kita sering tidak mengerti apa saja hal-hal yang mayor dan apa saja hal-hal yang minor. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti hal ini sehingga justru sering salah mengidentifikasi mana hal yang minor dan mana hal yang mayor. Akibatnya kehidupan orang Kristen seringkali tidak memancarkan keagungan Tuhan dan bahkan kehidupan orang Kristen justru lebih parah dari kehidupan orang-orang non Kristen.

Dalam sejarah perkembangan gereja khususnya jemaat mula-mula setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga, terjadi juga perdebatan di kalangan jemaat dan juga pemimpin umat mengenai sunat. Karena orang-orang Kristen pada awalnya juga berasal dari orang-orang Yahudi, ada sekelompok orang yang mengajarkan bahwa jika orang Kristen tidak disunat menurut adat istiadat Yahudi yang diwariskan oleh Musa, maka mereka tidak dapat diselamatkan (ay. 1). Bagi kita yang hidup di zaman modern ini mungkin tidak paham betul mengenai kondisi saat itu. Akan tetapi bisa dibayangkan bahwa ajaran ini pada waktu itu sangatlah populer dan viral. Akibatnya, banyak pro dan kontra akan ajaran tersebut.

Mereka yang pro berpendapat bahwa Tuhan Yesus lahir sebagai manusia dari orang Yahudi, disunat pada hari ke-8, dan juga pernah berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat tetapi untuk menggenapinya. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa hukum Taurat tetap berlaku di dalam kekristenan, termasuk sunat yang merupakan tanda perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel juga harus tetap dilaksanakan (ay. 5).

Mereka yang kontra (seperti Paulus dan Barnabas) mengatakan bahwa sunat atau tidak itu bukanlah suatu kewajiban. Mereka yang sudah terlanjur disunat tidak boleh menghilangkan tanda-tanda tersebut, tetapi yang belum disunat pun tidak wajib disunat (1 Kor 7:18). Mereka mencoba memberi pengertian bahwa perjanjian sunat adalah perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya secara jasmani, sementara orang percaya adalah keturunan Abraham secara rohani. Justru yang penting adalah sunat hati, bukan sunat secara jasmani (Rm 2:25-29, 4:9-12, dan sebagainya).

Paulus dan Barnabas akhirnya pergi ke Yerusalem untuk membahas hal ini guna mewakili kelompok yang kontra tadi guna membahasnya dengan rasul-rasul di Yerusalem (ay. 2-4). Karena perdebatan yang cukup sengit, maka para rasul bersidang untuk membahas hal tersebut (ay. 6). Sidang tersebut berlangsung cukup alot, hingga Petrus (sebagai salah satu rasul yang dianggap paling terkemuka dan menjadi pemimpin jemaat pada waktu itu), menyampaikan pendapatnya bahwa Allah telah menerima orang-orang non Yahudi untuk menjadi umat-Nya, bahkan memberikan Roh Kudus kepada mereka (merujuk kepada peristiwa Kornelius, seorang kepala pasukan Romawi yang menerima Roh Kudus). Oleh karena itu, kekristenan tidak dapat lagi dipandang sebagai salah satu sekte dalam agama Yahudi (dimana keselamatan hanya diberikan kepada orang Yahudi yang percaya), tetapi kekristenan harus bersifat umum dan terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang suku, ras dan golongan (ay. 7-8). Petrus lebih lanjut menekankan bahwa iman jauh lebih penting daripada perkara sunat, sehingga para pemimpin jemaat tidak boleh meletakkan suatu kuk pada murid-murid/jemaat-jemaat yang tidak perlu (ay. 9-10). Petrus juga menekankan jika ia percaya bahwa hanya oleh kasih karunia Tuhan maka mereka semua dan orang-orang lain akan diselamatkan (ay. 11).

Sesudah itu, Paulus dan Barnabas juga menceritakan peristiwa yang mereka alami, dimana mereka menyaksikan banyak orang non Yahudi juga menjadi percaya bahkan menerima Roh Kudus (ay. 12). Apa yang Paulus dan Barnabas saksikan di hadapan orang banyak pada sidang di Yerusalem tersebut menunjukkan bahwa Tuhan juga mencurakan Roh Kudus kepada orang non Yahudi dan tidak hanya bagi orang Yahudi saja. Ini berarti bahwa seharusnya segala adat istiadat Yahudi yang hanya bersifat lahiriah semata seharusnya tidak lagi bisa diterima di dalam kekristenan. Tentu dalam hal ini kita harus cerdas membedakan mana ajaran Yahudi yang bisa diadopsi dalam Kekristenan dan mana ajaran Yahudi yang harus ditinggalkan.
Kemudian Yakobus sebagai salah satu rasul yang terkemuka dan juga dipandang sebagai salah satu pemimpin jemaat pada waktu itu akhirnya berdiri dan menarik kesimpulan bahwa Tuhan ingin memanggil suatu umat yang taat kepada-Nya, tidak hanya dari keturunan Daud (bangsa Israel/Yahudi) tetapi juga dari seluruh bangsa yang mau dan bersedia taat kepada-Nya (ay. 13-18). Di sini jelas bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, bukan hanya dosa orang Yahudi, atau dosa sebagian dunia saja (Yoh 1:29).

Kita harus mencoba memahami kondisi pada saat tersebut dimana kekristenan sedang diuji untuk menentukan sikap dan arahnya, apakah hanya sebatas menjadi salah satu “sekte” dalam agama Yahudi, atau berkembang dan menjadi suatu gerakan baru yaitu jalan hidup yang membawa orang-orang mengenal Allah yang benar. Oleh karena itu, keputusan apapun yang diambil dalam sidang di Yerusalem ini akan menentukan arah kekristenan di masa yang akan datang. Dapat dibayangkan betapa berat dampak dari keputusan yang diambil tersebut, yang tentu saja sebenarnya wajib tetap kita pelihara hingga saat ini. Dan pada akhirnya, arah yang diambil oleh Yakobus adalah keputusan yang tidak menyulitkan orang yang hendak beribadah kepada Allah yang benar (ay. 19).

Hasil keputusan sidang di Yerusalem itu menyebutkan bahwa ada 4 anjuran utama bagi orang Kristen yaitu:
  •         Menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala;
  •         Menjauhkan diri dari percabulan;
  •         Menjauhkan diri dari daging binatang yang mati dicekik; dan
  •         Menjauhkan diri dari darah (ay. 20).

Jika agama (seperti agama Yahudi) pada umumnya penuh dengan hukum dan aturan-aturan ibadah (misal: jangan makan ini, puasa pada hari tertentu, harus disunat, dan lain sebagainya), maka kekristenan sebenarnya tidaklah demikian. Kekristenan adalah jalan hidup (way of life) dan bukan sekedar agama. Oleh karena itu, kekristenan sebenarnya tidaklah identik dengan hukum-hukum tertulis yang bersifat lahiriah seperti agama Yahudi. Namun dalam perikop ini, kita melihat seakan-akan ada aturan hukum yang bersifat mengikat orang Kristen. Namun sebenarnya ini hanya bersifat anjuran, himbauan dan arahan yang tidak mengatur secara rinci seperti syariat. Keempat kalimat di atas tersebut tidak disusun dalam hukum yang rinci seperti: “Tidak boleh makan makanan yang telah dicemarkan berhala, yaitu makanan yang sudah disajikan kepada dewa-dewa lain selain Allah Semesta Alam, kecuali dalam keadaan terpaksa dimana tidak ada makanan lagi dan jika makanan tersebut tidak dimakan maka orang itu akan mati..., dan seterusnya”. Anjuran tersebut hanya sederhana tetapi memiliki makna yang dalam, dan sebenarnya semangat ini juga sudah ada sejak zaman Musa (ay. 21). Ini menunjukkan bahwa kekristenan memang mengadopsi sebagian ajaran agama Yahudi yang dipandang relevan bagi jemaat di masa itu dan bahkan hingga masa kini. Kata “menjauhkan” dalam bahasa aslinya adalah apechesthai (ἀπέχεσθαι) dari akar kata phulassó (φυλάσσω) yang dapat berarti to guard, protect, keep watch over, keep secure, keep what is entrusted (menjaga, melindungi, mengawasi, mengamankan, menjaga sesuatu yang dipercayakan). Jelas bahwa kata “menjauhkan” ini harus diusahakan dan dikerjakan dengan serius oleh yang menerima perintah, dalam hal ini seluruh jemaat atau umat percaya.

Sekilas kita membaca bahwa keempat anjuran tersebut terutama berkaitan dengan makanan (3 aturan) dan seks (1 aturan). Ini berbicara mengenai keinginan daging, yang terutama adalah nafsu makan dan nafsu seksual (1 Yoh 2:16). Bagaimanapun juga keinginan daging memang akan lebih terlihat nyata dibandingkan keinginan mata (yaitu materialisme, konsumerisme, dan sebagainya). Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai 3 anjuran terkait makanan. Cukuplah disimpulkan dengan sederhana bahwa kita harus makan dengan bertanggung jawab, yaitu dengan bahan makanan yang sehat. Ini dapat dilihat dari anjuran untuk menjauhi daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Saya rasa hal ini pun dapat dibuktikan dari sudut pandang keilmuan medis, dimana sebaiknya binatang disembelih daripada hanya dicekik (mati karena tidak dapat bernafas/kehabisan oksigen). Darah binatang pun juga dapat menjadi sumber penyakit jika tidak diolah dengan benar. Anjuran yang ada memang tidak mempermasalahkan makanan yang halal dan yang haram. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru, kita perlu juga memperkarakan makanan yang kita masuk supaya membuat tubuh kita sehat. Daging kambing yang halal menurut Taurat, jika diperlukan harus kita anggap haram jika kita menderita kolesterol. Jadi kekristenan tidak mengatur kehalalan atau keharaman suatu makanan dalam suatu hukum tertentu, tetapi kita yang harus dapat mengendalikan keinginan daging yaitu nafsu makan kita supaya tubuh kita sehat dan memuliakan nama Tuhan.

Terkait dengan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, secara medis dan nutrisi tentu hal ini tidak menjadi masalah. Namun hal tersebut berpotensi menjadi “batu sandungan” bagi orang lain, terlebih bagi orang yang imannya lemah (Rm 14:1-2 & 20-21). Dari ayat-ayat tersebut kemungkinan sekali pada waktu itu orang percaya masih merupakan jemaat yang awal dengan iman yang juga masih bervariasi. Ada kemungkinan juga banyak orang percaya yang berasal dari orang Yahudi, dan mereka sangat “anti” terhadap praktik penyembahan dewa-dewa kafir yang dilakukan oleh bangsa lain seperti bangsa Yunani dan bangsa Romawi. Mereka tidak akan mau menyentuh makanan yang sudah “dipersembahkan” kepada dewa lain kepada Elohim Yahweh.

Namun jika kita melihat dalam bahasa aslinya, ada kemungkinan bahwa ketiga anjuran tersebut  juga bisa bermakna lain dan tidak hanya sekedar terkait dengan makanan. Dalam bahasa aslinya, kata-kata di ayat 20 adalah sebagai berikut:

  • Kata “makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala”, dalam bahasa aslinya adalah tōn alisgēmatōn tōn eidōlōn (τῶν ἀλισγημάτων τῶν εἰδώλων). Kata alisgēmatōn memiliki akar kata alisgéma (ἀλίσγημα) yang dapat berarti pollution, polluted thing (especially food), things contaminated (pencemaran, sesuatu yang tercemar (khususnya makanan), sesuatu yang terkontaminasi). Tercemar atau terkontaminasi dari apa? Kata eidōlōn memiliki makna berhala, tuhan yang palsu. Memang frasa tersebut dapat bermakna makanan yang “tercemar” karena telah dipersembahkan kepada berhala. Namun jika mau jujur, frasa ini juga dapat berarti kita harus menjauhkan diri dari pencemaran terhadap berhala. Mungkin ada di antara kita yang berkata: “Kan kita menyembah Tuhan Yesus, tidak menyembah patung, dewa, atau berhala lain”. Tapi kita yang sudah mulai  belajar kebenaran tentu tidak akan sulit untuk menyimpulkan bahwa berhala tidak selalu memiliki bentuk patung dewa atau patung lain. Berhala adalah hal-hal yang menjadi prioritas atau sesuatu yang kita beri nilai tinggi atau sesuatu yang kita idolakan dan banggakan. Jika mau jujur, banyak hal yang mungkin bisa menjadi berhala bagi kita: uang, kekayaan, kedudukan, nama baik, harga diri, dan apapun yang tidak membuat Tuhan menjadi satu-satunya yang terutama dalam hidup kita. Kita harus waspada dan menjauhkan diri dari polusi-polusi itu yang akan mencemari hidup kita dan hubungan kita dengan Tuhan.
  • Kata “daging binatang yang mati dicekik”, dalam bahasa aslinya adalah pniktou (πνικτοῦ) dari akar kata pniktos (πνικτός) yang dapat bermakna strangled, throttled, suffocated, an animal deprived of life without shedding its blood, an animal choked to death (dicekik, mati lemas, binatang yang diambil nyawanya tanpa menumpahkan darahnya, binatang yang dicekik sampai mati). Memang hal ini sangat mungkin terkait dengan makanan, tetapi hal ini juga bicara tentang praktik-praktik penyembelihan binatang yang tidak patut. Kebanyakan budaya di dunia ini telah mempraktikkan cara penyembelihan hewan yang baik, namun memang sebagian kecil kebudayaan yang membunuh binatang dengan cara yang “kurang pantas” seperti mencekik, menenggelamkan, dan lain sebagainya. Mungkin saja pada waktu itu ada praktik membunuh binatang dengan mencekik untuk kemudian dipersembahkan kepada dewa-dewa tertentu dan kemudian dimakan bersama. Jadi hal ini juga bisa diartikan supaya orang percaya tidak mengikuti kebiasaan-kebisaan orang lain (kemungkinan besar khususnya orang Romawi atau Yunani) yang tidak patut ditiru.
  • Kata “darah” dalam bahasa aslinya adalah haimatos (αἵματος) dari akar kata haima (αἷμα) yang secara harafiah berarti darah atau penumpahan darah. Darah di sini tidak harus merujuk pada darah hewan/binatang, tetapi juga digunakan untuk merujuk darah manusia secara umum. Jadi kata darah di sini selain dapat diartikan tidak boleh memakan darah, juga dapat diartikan tidak boleh membunuh atau menumpahkan darah orang lain. Ingat bahwa pada waktu itu orang Kristen hidup di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi yang memang memiliki budaya kekerasan yang cukup tinggi. Jika belajar sejarah gereja, orang Romawi tidak segan-segan memancung orang Kristen, menyiksa hingga mati, bahkan membuat orang Kristen menjadi makanan hewan-hewan buas. Anjuran untuk menjauhkan diri dari darah selain dapat berarti menjauhkan diri dari makanan yang mengandung darah, namun juga dapat berarti menjauhkan diri dari penumpahan darah, bahkan tidak boleh membalas penumpahan darah dengan penumpahan darah.

Cukuplah penjelasan di atas sebagai suatu kemungkinan yang patut menjadi pertimbangan, karena sebagian kata-kata dalam ayat 20 tersebut juga dapat memiliki makna selain makanan. Namun karena fokus kita adalah mengenai kata pornos, maka kita juga perlu melihat anjuran ke-4 yaitu supaya kita menjauhi percabulan.

Jika 3 hal sebelumnya dapat diperdebatkan apakah memang hanya terkait makanan atau juga memiliki makna lainnya yang tersirat, maka untuk anjuran supaya umat percaya menjauhi percabulan sebenarnya juga dapat memiliki makna yang tersurat maupun tersirat. Kata percabulan dalam ayat ini menggunakan kata porneias (πορνείας) dari akar kata porneia (πορνεία) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai fornication, whoredom (percabulan, persundalan), tetapi secara metafora dapat juga bermakna idolatry (pemujaan berhala, pemberhalaan).

Jika mau jujur, makna sederhana dari keempat anjuran di ayat 20 ini adalah mengenai pengendalian makan/minum dan seks. Secara ringkas hal itu berarti bahwa umat percaya dianjurkan untuk menjauhi makanan/minuman yang tidak sehat serta kehidupan seks yang tidak sehat pula. Jika mau jujur, hal ini sudah mulai langka dikhotbahkan di gereja-gereja pada masa kini. Jarang ada gereja yang dengan tegas berkata: “Kita harus menjaga pola makan kita supaya tubuh kita sehat dan memuliakan Tuhan”. Lebih banyak gereja yang sekarang berkata: “Tuhan memberikan kita karunia untuk menikmati, jadi kita boleh makan apa saja yang penting kita doakan sebelum makan supaya apapun makanan yang masuk ke mulut kita menyehatkan”. Gereja tidak mengajarkan jemaat untuk hidup bertanggung jawab dari hal kecil, yaitu dari makanan dan minuman.

Terkait dengan percabulan (porneia), saat ini jika mau jujur, semakin jarang gereja yang menyuarakan hidup suci dan menjaga kekudusan seks (baik sebelum menikah maupun setelah menikah). Hamil sebelum menikah serta praktik kawin cerai menjadi hal yang dipandang wajar di dalam jemaat. Bahkan tidak jarang hal semacam itu justru dilakukan oleh para “petinggi” gereja (pendeta, majelis, diaken, dan keluarga mereka). Sangat sulit mencari teladan di antara para pemimpin gereja yang dapat dicontoh terkait kehidupan seksual yang suci dan kudus ini. Gereja seperti menutup mata atas tantangan yang dihadapi oleh generasi muda di gereja (pemuda, remaja, sekolah minggu) dan tidak pernah mengajarkan tentang kesucian hidup dalam hal seks kepada orang-orang muda. Begitu mereka salah melangkah dan terlibat dalam percabulan, maka gereja dengan entengnya berkata: “Nasi sudah menjadi bubur, yang penting sekarang bagaimana bubur itu bisa menjadi enak”. Gereja menjadi tumpul dan tidak berdaya, apalagi jika yang tersandung kasus percabulan adalah keluarga “petinggi” gereja.

Jika terkait hal jasmani saja anjuran para rasul tersebut sudah tidak lagi diperhatikan gereja, bagaimana jika ayat 20 tersebut dikaitkan dengan hal rohani? Nyaris tidak ada gereja-gereja yang mau berlelah-lelah memberitakan Injil yang benar supaya orang percaya tidak terikat dengan pemberhalaan. Di masa saat ini, berhala paling kuat adalah materialisme, dimana orang percaya dapat dengan mudah mencintai dunia sehingga mereka tidak lagi mau berjuang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Jemaat berselingkuh dalam percabulan dengan percintaan dunia, meskipun Alkitab jelas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4). Perkataan para rasul sekitar 2.000 tahun yang lalu hanya sebatas kata-kata belaka tanpa adanya usaha dari sebagian besar orang percaya untuk menghidupinya di masa modern saat ini.

Saat ini, banyak gereja lebih suka mengkhotbahkan hal-hal minor lainnya seperti kesembuhan, berkat jasmani, perlindungan Tuhan, doa yang dijawab, dan lain sebagainya. Mereka melupakan bahkan mengabaikan hal yang mayor, yang sudah digumulkan dalam sebuah sidang oleh bapa-bapa gereja sekitar 2.000 tahun yang lalu. Hal yang mayor adalah kita menjaga diri kita dari makanan yang haram dan tidak sehat, serta dari percabulan. Hal yang mayor adalah kita menjaga diri kita supaya tidak tercemar oleh hal-hal yang menjadi berhala yang dapat mendukakan hati Tuhan (menjaga kekudusan, menjaga perasaan Tuhan, dan lain sebagainya). Sayangnya, semakin ke sini semakin sedikit gereja yang menyuarakan hal-hal yang mayor, dan mereka lebih suka menyibukkan diri dengan hal-hal yang minor. Tidak jarang karena hal-hal yang minor itu ada banyak perdebatan antar gereja dan pendeta, bahkan sampai timbul perpecahan di antara umat Tuhan.


Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 15:1-21
15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ.
15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.
15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."
15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.
15:7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.
15:8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita,
15:9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.
15:10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?
15:11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."
15:12 Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain.
15:13 Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku:
15:14 Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya.
15:15 Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis:
15:16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,
15:17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,
15:18 yang telah diketahui dari sejak semula.
15:19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,
15:20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.
15:21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."