Selasa, 13 Agustus 2019

Pornos dan Moichos (35): Harus Dimatikan


Selasa, 13 Agustus 2019
Bacaan Alkitab: Kolose 3:1-6
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (Kol 3:5)


Pornos dan Moichos (35): Harus Dimatikan


Salah satu prinsip dasar orang Kristen adalah mengenai kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Hal ini penting karena jika Kristus tidak benar-benar bangkit, maka sia-sialah segala iman dan pengharapan kita (1 Kor 15:14). Oleh karena itu, bapa-bapa gereja memandang hal ini sebagai hal yang penting dan masuk dalam poin-poin pada pengakuan iman rasuli. Saya rasa semua gereja yang benar pasti memiliki pengakuan iman atas hal ini, baik itu menggunakan pengakuan iman rasuli maupun membuat pengakuan iman mereka sendiri.

Kebangkitan Kristus ini menjadi hal yang sangat penting dalam dimensi iman kekristenan karena jika Kristus tidak dibangkitkan, maka kita pun juga tidak akan dibangkitkan. Oleh karena itu pengakuan iman rasuli dan pengakuan iman gereja lain yang memiliki ajaran benar pasti akan memasukkan poin mengenai kebangkitan kita (kebangkitan tubuh/kebangkitan orang mati) di dalamnya. Karena hal ini adalah hal yang sangat prinsip, maka tidak mengherankan bahwa hal kebangkitan Kristus ini adalah hal yang paling sering diserang oleh orang lain. Agama Yahudi misalnya, mencatat dan mengakui bahwa Yesus memang sudah mati di atas kayu salib, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah Bapa. Mereka menyebarkan cerita bohong (hoax) mengenai tubuh  Yesus yang dicuri oleh murid-murid-Nya (Mat 28:11-15). Padahal sangat tidak mungkin prajurit yang menjaga kubur Yesus lari hanya karena “diserang” oleh murid-murid-Nya. Mereka sampai harus mengarang cerita bohong ini karena memang kebangkitan Kristus ini bisa membuat banyak orang percaya kepada-Nya dan meninggalkan agama Yahudi. Oleh karena itu, iblis melalui roh antikristus sejak saat itu hingga saat ini mencoba membuat orang-orang menjadi tidak percaya akan kebangkitan Yesus, sehingga Yesus hanya dianggap orang biasa atau paling tinggi dianggap sebagai nabi yang tidak pernah mati, apalagi dibangkitkan.

Padahal, kebangkitan Kristus ini memiliki makna yang luar biasa bagi kita, karena kita pun harus juga dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus (ay. 1a). Tentu supaya kita bisa dibangkitkan Bersama dengan Kristus, kita pun harus mati bersama dengan Kristus, supaya kita hidup dan bangkit bersama dengan-Nya. Ciri orang yang sudah bangkit bersama dengan Kristus adalah mencari perkara yang diatas, yaitu perkara surgawi dan bukan hal-hal duniawi lagi (ay. 1b-2). Kita harus mematikan diri kita dari hal-hal duniawi dan hidup hanya bagi kepentingan kerajaan Allah.

Bagi dunia, kita harus sudah mematikan diri kita sendiri (ay. 3a). Kita tidak boleh lagi tertarik dengan hal-hal duniawi seperti keinginan daging maupun keinginan mata. Kita tidak boleh lagi tergoda akan keindahan dunia seperti harta, tahta, maupun wanita. Artinya bukan kita tidak boleh lagi memiliki harta, menduduki posisi tinggi di perusahaan, atau memiliki istri. Namun apapun yang kita miliki, berapapun harta yang kita miliki, seberapa tinggi posisi kita di pekerjaan, maupun seberapa cantik istri kita, semua itu hanyalah sarana untuk menemukan Tuhan dan hidup bagi-Nya.

Orang yang sudah mati terhadap dunia, maka hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah Bapa (ay. 3b). Maksud dari kata “tersembunyi” ini adalah kita Allah Bapa melindungi kita sama seperti Allah Bapa melindungi Kristus ketika ia berhasil mati bagi dunia. Tentu ayat 3b ini tidak bisa dikenakan kepada semua orang yang beragama Kristen, karena belum tentu orang yang beragama Kristen sudah mati terhadap dunia dan hidup bagi Allah. Namun bagi orang-orang yang sudah mematikan hidupnya secara duniawi, tentu akan mendapatkan suatu perlindungan Allah yang istimewa.

Oleh karena itu, menjadi pertanyaan, apa saja yang harus kita matikan? Apakah kita tidak boleh memiliki rumah, mobil, deposito, dan lain sebagainya? Apakah kita tidak boleh kaya? Justru orang percaya harus memaksimalkan potensinya demi kerajaan Tuhan. Dalam hal ini alangkah baiknya orang percaya memiliki karakter yang baik dalam marketplace atau tempat kerjanya (perusahaan, sekolah, atau bisnis/usaha yang dirintis) yaitu: bekerja keras, jujur, bisa dipercaya, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Kita harus berjuang menjadi orang yang berhasil, tetapi segala keberhasilan itu harus kita gunakan demi memuliakan Tuhan.

Oleh karena itu, hal yang harus dimatikan adalah segala sesuatu yang duniawi (ay. 5a). Paulus menuliskan sejumlah hal duniawi yang harus kita matikan, antara lain: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (ay. 5b). Perhatikan bahwa Paulus sekali lagi menyamakan hal-hal duniawi tersebut dengan penyembahan berhala (eidólolatria) dalam ayat ini, yang memilki makna yang hampir sama seperti yang Paulus tulis dalam suratnya ke jemaat Efesus yaitu kata eidólolatrés (Ef 5:5).

Dalam ayat 5 ini, Paulus menggunakan 5 buah kata untuk menggambarkan hal-hal duniawi yang harus dimatikan oleh orang percaya. Tiga dari lima kata tersebut memiliki kesamaan dengan kata yang digunakan dalam Ef 5:3 maupun Ef 5:5 yaitu percabulan (porneia), kenajisan (akatharsia) (yang di ayat lain diterjemahkan sebagai kecemaran), dan keserakahan (pleonexia). Memang Selain 3 kata tersebut, ada pula tambahan 2 kata lain yaitu hawa nafsu (pathos) dan nafsu jahat (epithymian kakēn dari kata epithumia dan kakos).

Kata pathos (πάθος) berbicara tentang suatu perasaan yang kuat atau emosi yang tidak dipimpin oleh Allah, seperti hal-hal yang menggunakan nafsu (strong feelings (emotions) which are not guided by God (like consuming lust)). Kata pathos ini juga dapat berarti depraved passion (gairah atu nafsu yang jahat/bejat). Jelas bahwa hawa nafsu ini juga pasti terkait dengan tindakan cabul, kecemaran, serta keserakahan. Manusia memang memiliki keinginan, akan tetapi jika keinginan tersebut tidak berada dalam tuntunan Allah dan manusia cenderung untuk tidak mengendalikan keinginan tersebut, maka hal tersebut dapat berubah menjadi hawa nafsu yang membahayakan. Contoh kecil misalnya manusia memiliki keinginan untuk sukses, naik pangkat/karir, dan menjadi pemimpin. Keinginan tersebut tentu adalah keinginan yang netral dan tidak menyalahi aturan. Namun apabila tidak dikendalikan, maka keinginan ini dapat menjadi ambisi yang liar, dengan cara menyingkirkan siapa saja dengan cara apapun demi kesuksesan karir orang tersebut.

Sementara itu kata nafsu jahat menggunakan 2 kata yaitu epithumia (ἐπιθυμία) dan kakos (κακός). Kata epithumia secara umum bermakna desire, eagerness for, inordinate desire, lust (keinginan, kehendak, gairah, hasrat, keinginan yang banyak, nafsu). Sementara kata kakos bermakna bad, evil, base, wrong, wicked (buruk, jahat, rendah, salah, durjana). Jadi hal ini menunjukkan suatu gairah/hasrat yang jahat. Kemungkinan besar kata ini juga merujuk kepada nafsu cabul, nafsu serakah, dan juga nafsu untuk melakukan kecemaran.

Oleh karena itu, kita yang mau hidup di dalam Tuhan harus mematikan semuanya itu. Tidak boleh lagi ada percabulan, kecemaran/kenajisan, keserakahan, hawa nafsu dan nafsu jahat, karena semuanya itu tidak menyenangkan hati Allah. Hal-hal yang tadi disebutkan justru membuat Allah murka (ay. 6a), karena manusia yang sudah ditebus oleh Allah sudah tidak pantas lagi melakukan hal-hal seperti itu. Jika kita yang mengaku percaya kepada Allah masih melakukan hal tersebut, maka kita dipandang sebagai orang-orang durhaka (bahasa Yunani: apeitheia/ἀπείθεια yang berarti: willful unbelief, obstinacy, disobedience, rebellious atau ketidakpercayaan yang disengaja, bandel, keras kepala, membangkang, tidak taat, tidak tunduk, mengabaikan perintah, memberontak, suka melawan, suka menentang). Jika kita sampai dipandang sebagai pemberontak oleh Allah, maka bagaimana mungkin kita dapat bisa tetap yakin bahwa Allah akan menerima kita masuk ke dalam kerajaan-Nya? Mungkin inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus ketika suatu saat nanti Ia akan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat 7:23).

Kita harus sadar bahwa apa yang kita lakukan selama hidup kita di dunia ini adalah suatu “taburan”, dimana suatu saat nanti kita pasti akan “menuainya”. Oleh karena itu, jika kita masih belum bersedia mematikan diri kita dari hal-hal duniawi seperti percabulan, kecemaran, keserakahan, hawa nafsu dan nafsu jahat, maka kita sesungguhnya belum mati bersama Kristus. Jika kita belum mati bersama Kristus, maka jangan harapkan kita juga akan dibangkitkan bersama Kristus.

Paulus dengan tegas mengatakan bahwa jika Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, maka kita pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan (ay. 4). Ayat ini sekilas susah dimengerti. Bagaimana mungkin Paulus berkata Kristus yang adalah hidup kita? Bukankah pribadi kita berbeda dengan pribadi Kristus? Satu-satunya penjelasan yang logis atas hal ini adalah bahwa orang percaya atau orang Kristen harus mengenakan pribadi Kristus dalam hidupnya. Hal ini dapat dilihat dari tulisan Paulus yang meminta kita untuk  mengenakan pikiran dan perasaan Kristus dalam hidup kita (Flp 2:5).

Jika kita sudah hidup dan memancarkan keagungan pribadi yang mulia seperti pribadi Kristus, maka barulah kita dapat berkata bahwa Kristus adalah hidup kita. Apakah mungkin kita bisa mencapai tingkatan seperti itu? Jawabannya adalah bisa. Paulus sendiri mengatakan bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp 1:21). Paulus mungkin belum sempurna, tetapi ia belajar untuk menjadi berkenan di hadapan Bapa dan pada titik ketika ia menulis surat tersebut, ia berani berkata: “Hidupku adalah Kristus”. Berapa banyak dari kita yang berani berkata demikian? Jangankan kita, orang yang sudah menjadi pendeta besar saja belum tentu berani berkata seperti itu. Mengapa kita sulit untuk mencapai level seperti Paulus? Karena kita masih belum rela melepaskan dan mematikan hal-hal duniawi tersebut.

Dalam hal percabulan misalnya, berapa banyak dari kita yang jika tanpa sengaja membuka gambar di internet yang sedikit vulgar, lalu langsung menutupnya? Atau jangan-jangan kita masih suka melihat hal-hal yang berbau pornografi, atau malah ada di antara kita yang memiliki selingkuhan. Dalam hal keserakahan, berapa banyak orang yang berani untuk menolak suap? Berapa banyak orang yang berani untuk tidak mengambil bahkan tidak menyentuh apapun yang bukan menjadi miliknya? Dalam hal ini justru banyak pendeta masih belum bisa menjadi teladan. Ketika persembahan dan persepuluhan dari jemaat menjadi semakin banyak, maka jika tidak berhati-hati akan muncul keserakahan di dalam gereja. Tidak heran ada sejumlah pendeta yang berebut kursi di dalam gereja hanya karena urusan uang. Tidak heran juga jika ada orang-orang tertentu di dalam gereja yang kaya dan mampu “menyetir” pendeta untuk melakukan apa yang mereka kehendaki dan pendeta tersebut tidak bisa melawannya karena keluarga kaya itu adalah sumber penghasilan pendeta. Terlalu banyak contoh lain yang bisa kita sebutkan dan tuliskan. Tetapi intinya kita harus belajar untuk mengenakan pribadi Kristus dalam hidup kita, supaya jika Kristus menyatakan diri, maka kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan (ay. 4b).

Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, kita menemukan bahwa kalimat di ayat 4 seakan-akan menunjukkan bahwa Kristus akan menyatakan diri kelak (di masa yang akan datang), barulah kita menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Namun saya mencoba melihat dalam hampir semua terjemahan bahasa Inggris, kalimat yang digunakan tidak menunjukkan tenses di masa depan atau future. Kebanyakan terjemahan bahasa Inggris menggunakan kalimat: “When Christ, who is your live, appears” atau “When Christ, who is y our live, is revealed”. Terjemahan bebas dari kalimat tersebut adalah: “Ketika Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri/dinyatakan”. Sehingga saya secara pribadi berpendapat bahwa kalimat tersebut tidak secara langsung merujuk kepada peristiwa penyataan Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi sudah berlangsung saat ini yaitu ketika kita hidup.

Dalam bahasa aslinya juga digunakan kata phanerōthē (φανερωθῇ) dari akar kata phaneroó (φανερόω) dimana kata phanerōthē ini bersifat verb – aorist subjunctive passive – 3rd person singular. Jelas bahwa kata ini tidak bersifat future sehingga penyataan Kristus dalam hidup kita itu tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Kita harus bisa mengenakan pribadi Kristus dalam hidup kita saat ini juga, hingga pribadi Kristus dapat dinyatakan dalam hidup kita dan dapat dilihat bahkan dirasakan oleh orang lain. Jadi jika Kristus dimusuhi oleh orang banyak (khususnya orang Farisi), difitnah, dihina, dan bahkan dilukai namun tidak membalas, maka kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus juga harus siap untuk tidak membalas jika diperlakukan seperti itu.

Barulah setelah kita bisa menghadirkan pribadi Kristus dalam hidup kita, maka kita akan dapat menyatakan diri kita bersama-sama dengan Kristus dalam kemuliaan (ay. 4b). Tentu klausul ini akan terjadi  nanti di masa yang akan datang, yaitu pada saat Kristus dating untuk kedua kalinya dan menjadi Raja dalam kerajaan-Nya yang kekal. Kata “akan menyatakan diri” dalam bahasa aslinya menggunakan kata phanerōthēsesthe (φανερωθήσεσθε) dari akar kata yang sama yaitu phaneroó (φανερόω). Namun kata phanerōthēsesthe ini menggunakan bentuk kata verb – future indicative passive – 2nd person plural atau kata kerja di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, ayat 4 jika salah dimengerti oleh orang Kristen pada umumnya, hanya akan menjadi bermakna dangkal. Hal tersebut terjadi karena orang Kristen hanya akan menunggu Kristus menyatakan diri kelak, yaitu pada saat hari terakhir atau hari kedatangan-Nya. Namun jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh kalimat di ayat 4 tersebut, jelas bahwa kita harus berjuang mengenakan pribadi Kristus sampai pada level kita dapat memancarkan pribadi Kristus tersebut dalam hidup kita sehari-hari (atau pribadi Kristus tersebut dapat dinyatakan melalui kehidupan kita). Hal ini tentu saja hanya bisa dicapai jika kita lebih dahulu mematikan diri kita dari hal-hal duniawi. Tidak mungkin ada orang bahkan pendeta sekalipun yang dapat berkata: “Saya hamba Tuhan lho. Saya wakil Tuhan lho. Ada pribadi Kristus dalam diri saya”, tetapi pada kenyataannya ia belum mematikan hal-hal duniawi dalam dirinya, seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, apalagi keserakahan. Sudah menjadi tugas kita untuk mematikan semuanya itu sehingga kita bisa mengenakan pribadi Kristus, supaya suatu saat nanti kita juga dimuliakan bersama-sama dengan Kristus dalam kerajaan-Nya.




Bacaan Alkitab: Kolose 3:1-6
3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].

Senin, 12 Agustus 2019

Pornos dan Moichos (34): Bukan Ciri dari Anak-anak Terang


Senin, 12 Agustus 2019
Bacaan Alkitab: Efesus 5:5-10
Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. (Ef 5:5)


Pornos dan Moichos (34): Bukan Ciri dari Anak-anak Terang


Jika renungan sebelumnya berbicara tentang tindakan porneia yang tidak patut dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai umat yang kudus atau anak-anak Allah, maka hari ini kita belajar bahwa tindakan persundalan/percabulan (pornos/porneia) tersebut tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Paulus dalam sambungan suratnya (yang persis berada di bawah ayat-ayat pada renungan kita sebelumnya), berbicara bahwa tidak ada orang sundal, orang cemar, atau orang serakah yang mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah (ay. 5).

Dalam ayat 5 ini disebutkan bahwa orang-orang yang dikatakan tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah adalah orang sundal, orang cemar, orang serakah, serta termasuk para penyembah berhala. Dalam bahasa aslinya, kata “orang sundal” ini adalah pornos (πόρνος) yang merupakan kata benda dari kata kerja porneia. Kata pornos ini merujuk pada orang-orang cabul, orang-orang yang melakukan persundalan, dan orang-orang yang melacurkan diri sendiri. Kata pornos ini bersifat maskulin yang berarti pada masa itu sudah ada orang-orang (laki-laki) yang melakukan percabulan dan pelacuran (tidak hanya kaum wanita).

Dalam ayat 5 ini, semua orang yang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah menggunakan kata benda yang merujuk pada kata kerja sebagaimana disebutkan dalam Ef 5:3. Hal ini terlihat dari pemilihan kata “orang sundal” (pornos), sementara di ayat 3 digunakan kata “percabulan” (porneia), kata “orang cemar” (akathartos) yang di ayat 3 digunakan kata “kecemaran” (akatharsia), dan kata “orang serakah” (pleonektés) dimana di ayat 3 digunakan kata “keserakahan” (pleonexia). Jelas bahwa terdapat hubungan yang jelas antara ayat 3 yang membicarakan tentang tindakan-tindakan yang tidak patut dilakukan, dengan ayat 5 yang membicarakan tentang para pelaku atau bahkan orang-orang yang masih memiliki karakter yang buruk karena melakukan tindakan-tindakan cabul, kecemaran, dan keserakahan.

Dalam hal ini, orang-orang yang berkarakter buruk tersebut (karena berbuat sundal/cabul, melakukan kecemaran dan keserakahan) disamakan posisinya dengan penyembah berhala. Kata “penyembah berhala” dalam ayat ini menggunakan kata eidólolatrés (εἰδωλολάτρης) yang juga digunakan di dalam 1 Kor 5:10-11 dan 1 Kor 6:9. Dalam ayat-ayat tersebut Paulus menggunakan kata pornos dan juga eidólolatrés dalam ayat yang sama, serta juga menyebutkan bahwa orang-orang seperti ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Hal ini menunjukkan keterkaitan yang era tantara surat kepada jemaat di Korintus dan jemaat di Efesus.

Paulus menegaskan kembali dalam ayat 5 ini bahwa orang-orang jahat seperti ini tidak akan mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Hanya ada sedikit perbedaan dalam ayat 5 ini dengan 1 Kor 6:9, dimana di dalam 1 Kor 6:9 dikatakan bahwa orang-orang seperti ini tidak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Namun di surat Efesus ini, Paulus menambahkan kata “Kristus” sehingga terdapat istilah Kerajaan Kristus dan Allah. Tentu hal ini menunjukkan bahwa di dalam Kerajaan Allah, Kristus yang menjadi kepala dan menjadi Raja dalam Kerajaan Allah. Hal ini tentu bukan berarti bahwa Kristus punya kerajaan-Nya sendiri dan Allah (Bapa) juga punya kerajaan-Nya sendiri. Namun karena Kristus telah menunaikan tugas-Nya dengan sempurna, maka Allah Bapa mengembalikan kedudukan Kristus sebagai kepala yang memimpin Kerajaan Allah.

Paulus menegaskan akan adanya kemuliaan yang akan dating dalam Kerajaan Allah, dimana Kristus akan menjadi Raja untuk selama-lamanya, dan akan ada orang-orang yang dipercaya untuk memerintah bersama-sama dengan Kristus dalam kerajaan-Nya. Oleh karena itu, jangka waktu selama 70-80 tahun di bumi ini adalah kesempatan bagi kita untuk dapat membangun hidup yang menyenangkan hati Bapa. Kita harus hidup dengan menjauhi dosa dan tidak melakukan apapun yang dapat mendukakan hati Bapa.

Jelaslah mengapa Paulus menulis agar jemaat Efesus tidak disesatkan orang lain dengan kata-kata yang hampa, yang pada nantinya akan mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka (ay. 6). Kata “disesatkan” dalam ayat ini menggunakan kata apataó (ἀπατάω) yang dapat berarti “to deceive, cheat, beguile, lead into error” (menipu, mengecoh, mengelabui, membohongi, mencurangi, memperdaya, menuntun dalam kesalahan, membuat orang menjadi bersalah). Dalam hal apa saja orang percaya bisa berpotensi tersesat? Jika melihat kaitan ayat-ayat sebelumnya, tentu penyesatan ini sangat mungkin datang terkait godaan untuk melakukan percabulan, kecemaran, dan juga keserakahan.

Mari kita ambil contoh penyesatan dalam hal percabulan karena memang renungan kita sedang membahas serial mengenai kata pornos dan moichos. Jika mau jujur, semua orang Kristen akan sepakat untuk menyatakan bahwa percabulan adalah suatu dosa dan kejahatan. Namun apa fakta yang terjadi di lapangan? Banyak orang Kristen, bahkan sangat banyak orang Kristen yang masih jatuh ke dalam dosa percabulan. Tidak hanya di kalangan jemaat umum dan pemuda remaja saja, tetapi ada juga para pelayan, aktivis gereja, bahkan pendeta yang jatuh dalam dosa percabulan.

Bagaimana bisa orang yang berkhotbah di atas mimbar, yang selalu berkata dan mengaku sebagai hamba Tuhan, bahkan mungkin sudah memiliki karunia bahasa Roh bisa jatuh juga ke dalam dosa percabulan? Jawabannya sederhana: Membuka celah sehingga bisa disesatkan. Penyesatan itu tidak datang dalam godaan yang langsung terlihat besar, namun dimulai dari hal-hal kecil. Jika kita terpancing dan mulai membuka celah, maka tanpa disadari kita sedang masuk ke dalam perangkap yang membinasakan.

Seseorang (apalagi jika sudah menjadi pelayan, aktivis gereja, bahkan pendeta) pada umumnya tidak mungkin langsung melakukan perzinahan atau percabulan (misal: menghamili orang lain). Akan tetapi, semuanya dimulai dengan penyesatan yang terlihat sepele: menonton film biru, melakukan chatting dengan lawan jenis yang mulai menjurus ke hal-hal yang tidak pantas, dan lain sebagainya. Tanpa sadar, hal itu bisa mendorong seseorang untuk melakukan hal yang “lebih” dan tanpa disadari, tiba-tiba ia sudah berada di ujung jurang. Jelas bahwa seseorang tidak akan mungkin langsung melakukan sebuah dosa “besar” tanpa diawali dari dosa-dosa “kecil” yang sudah biasa ia lakukan.

Jika kita tidak hati-hati, maka hal seperti itu akan membuat kita dimurkai Allah, karena kita diperhitungkan sebagai orang yang durhaka. Oleh karena itu, betapa kita harus berhati-hati supaya kita tidak disesatkan oleh orang-orang yang berniat jahat kepada kita. Paulus menulis agar kita menjauhi orang-orang seperti itu (yang berpotensi menyesatkan kita dengan kata-kata yang hampa) dan bahkan jangan berkawan dengan mereka (ay. 7). Dalam ayat lain, kita juga membaca ayat yang mengatakan supaya kita tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (Mzm 1:1), atau bagaimana pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik (1 Kor 15:33).

Bagi beberapa orang di Jemaat Efesus (dan mungkin sebagian dari kita), dahulu kita pun sama seperti orang-orang fasik dan hidup seperti mereka. Kita adalah orang-orang yang pernah hidup dalam kegelapan (ay. 8a). Persoalannya, apakah kita mau meninggalkan kegelapan dan berpindah untuk hidup di dalam terang? Seharusnya ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita harus menjadi terang dan harus pula hidup dalam terang. Kita seharusnya tidak lagi menjadi anak-anak kegelapan, tetapi harus terus hidup sebagai anak-anak terang yang senantiasa membawa terang kemanapun kita pergi (ay. 8b).

Salah satu ciri anak-anak terang adalah memiliki buah hidup yang nyata dan dapat dilihat bahkan dinikmati orang lain. Anak-anak terang tidak akan lagi hidup dalam persundalan, kecemaran, dan keserakahan. Anak-anak terang haruslah berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Orang Kristen tidak boleh hanya sekedar baik dan adil, tetapi harus sampai memiliki kebenaran dalam hidupnya. Kata kebaikan dalam ayat ini menggunakan kata agathosune (ἀγαθωσύνη) yang dapat dimaknai kebaikan yang bersifat intrinsik (di dalam diri seseorang). Jadi orang yang sudah agathosune seharusnya memang memiliki karakter yang baik. Dia tidak hanya berbuat baik karena ingin dipuji, atau ingin dilihat orang. Dia memang berbuat baik karena dia tahu bahwa ia harus berbuat baik dalam hidupnya.

Kata keadilan dan kebenaran ini menggunakan 2 kata yaitu dikaiosuné (δικαιοσύνη) dan alétheia (ἀλήθεια). Kata dikaiosuné ini juga sering diterjemahkan dengan kata “kebenaran”. Namun ada perbedaan antara dikaiosuné dan alétheia, dimana kata alétheia lebih sering digunakan untuk menunjuk hal yang benar, kebenaran yang sejati, kebenaran yang benar-benar adalah kebenaran. Kebenaran dalam alétheia lebih merujuk kepada kodrat kebenaran, khususnya yang dimiliki oleh Allah. Tidak heran bahwa Tuhan Yesus ketika berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” menggunakan kata alétheia (Yoh 14:6).

Sementara itu kata dikaiosuné lebih merujuk kepada kebenaran (righteousness), keadilan (justice), yang lebih menekankan kepada natur manusia dalam melakukan kebenaran. Dalam beberapa literatur, kata dikaiosuné ini dapat diterjemahkan sebagai kebenaran yang dimengerti manusia, kebenaran yang nampak melalui tindakan seseorang, atau karakter seseorang. Namun bukan berarti dikaiosuné lebih rendah maknanya dairpada alétheia, karena orang yang mengenal alétheia dengan benar, pasti akan memancarkan dikaiosuné dalam dirinya dengan agung dan mulia. Tidak mungkin orang mengaku mengenal dan mengerti tentang alétheia namun tidak memancarkan kehidupan di dalam kebenaran yang dipancarkan dan dilihat orang lain (dikaiosuné). Jika ada orang seperti itu, maka kemungkinan orang itu belum sungguh-sungguh mengenal alétheia.

Oleh karena itu, kita dapat mengerti Paulus berkata dalam ayat sesudahnya: “Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan” (ay. 10). Hal ini tentu tidak dapat dilepaskan dari pembahasan ayat-ayat sebelumnya, apalagi ayat 10 ini masih merupakan satu kalimat dengan ayat 8 dan 9. Oleh karena itu, dalam hal apa kita harus melakukan pengujian itu? Tentu jawabannya adalah dalam hal kehidupan kita, khususnya yang mengaku sebagai anak-anak Terang.

Kita sering kali mengaku bahwa kita adalah anak-anak Allah atau anak-anak Terang. Apakah hal itu hanya pengakuan di mulut dan bibir kita saja tetapi kita tidak hidup sebagai anak-anak Terang? Dalam hal ini marilah kita menguji diri kita masing-masing. Perkarakan apakah hidup kita sudah memancarkan buah-buah kebenaran yang memuliakan Tuhan. Proses ini mungkin melelahkan, tetapi hal itu lebih baik daripada jika kita tidak pernah menguji diri kita sendiri, dan baru tahu bahwa hidup kita tidak berkenan di hadapan Tuhan pada hari penghakiman. Pada saat itu semua sudah terlambat, dan tidak akan ada kesempatan bagi kita untuk mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Alangkah pentingnya melihat diri kita, menguji dan menginstropeksi selagi  masih ada kesempatan di bumi ini, karena masih ada kesempatan bagi kita untuk bertobat dan memperbaiki hidup kita. Jika kita terus menunda-nunda, maka suatu saat bisa jadi semua sudah terlambat.



Bacaan Alkitab: Efesus 5:5-10
5:5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
5:6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
5:7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,
5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

Jumat, 09 Agustus 2019

Pornos dan Moichos (33): Tidak Patut Dilakukan oleh Mereka yang Mengaku sebagai Anak-anak Allah

Sabtu, 10 Agustus 2019
Bacaan Alkitab: Efesus 5:1-4
Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. (Ef 5:3)


Pornos dan Moichos (33): Tidak Patut Dilakukan oleh Mereka yang Mengaku sebagai Anak-anak Allah


Bicara tentang teladan, integritas, dan konsistensi, hal ini menjadi hal yang semakin langka ditemukan dalam diri. Mengapa saya menulis seperti ini, karena kalau mau jujur, di gereja kita sendiri saja, kita sudah sangat sulit menemukan sosok orang yang bisa kita teladani. Tidak jarang para pelayan gereja, aktivis, pemain musik, worship leader, bahkan pendeta sekalipun tidak bisa diteladani secara utuh. Belum lagi bicara mengenai integritas dan konsistensi, hampir-hampir kita tidak dapat menemukan orang yang bisa memberikan contoh bagaimana hidup dalam integritas secara konsisten dari waktu ke waktu.

Memang tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Akan tetapi menurut saya, paling tidak mereka yang sudah mengaku sebagai orang Kristen, mengaku sebagai anak-anak Allah, bahkan mengaku sebagai hamba Tuhan dan “juru bicara Tuhan”, mereka seharusnya sudah memiliki standar hidup yang lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya, sehingga dapat diteladani. Memang mereka tidak bisa sempurna dalam segala hal, tetapi seorang harus bisa memberi teladan, minimal memberi insipirasi kepada orang lain melalui kehidupannya yang baik, jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah.

Menjadi anak-anak Allah bukan hanya sekedar status yang kita yakini di pikiran atau nalar kita saja. Menjadi anak-anak Allah artinya kita menjadikan Allah sebagai Bapa kita. Sebagai anak-anak Allah, kita harus belajar untuk menurut terhadap apa yang Bapa inginkan. Kehendak Bapa harus menjadi satu-satunya hal yang kita kerjakan. Percuma saja kita mengaku di mulut sebagai anak-anak Allah, menyebut Allah dengan sebutan “Bapa”, berdoa dengan mengucapkan doa Bapa kami, akan tetapi hidup kita tidak menjadi penurut-penurut Allah (ay. 1).

Sebagai penurut-penurut Allah, maka kita harus hidup di dalam kasih karena Allah sendiri adalah kasih (ay. 2a). Lebih lanjut, hal itu juga harus kita lakukan karena Tuhan Yesus juga telah memberi teladan dalam hal mengasihi. Tuhan Yesus telah mengasihi kita (dan bahkan mengasihi seluruh dunia) dengan cara menyerahkan diri-Nya untuk mati menebus dosa kita semua (ay. 2b). Hidup-Nya telah menjadi persembahan dan korban yang harum di hadapan Allah Bapa (ay. 2c). Dalam hal ini, kita wajib meneladani Tuhan Yesus yang ketika dalam rupa manusia, Ia berjuang untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya hingga akhir.

Kita tidak boleh hanya kagum terhadap karya penyelamatan Yesus di atas kayu salib, yaitu ketika Ia berkorban sampai mati bagi penebusan dosa manusia. Akan tetapi, kita harus dapat menghayati bagaimana Yesus berjuang sejak masa kecilnya (masa kanak-kanak) untuk berkenan kepada Allah Bapa, bersedia untuk dibaptis, melakukan bagian pelayanan-Nya selama hidupnya yang sekitar 33,5 tahun sejak kelahiran-Nya di Betlehem, ke Nazaret, hingga ke bukit Golgota dan mati di sana. Jelas bahwa perjuangan Yesus dimulai dari kehidupan-Nya sehari-hari, sehingga Ia bisa berkenan di hadapan Allah, dan bahkan Allah sendiri menyatakan bahwa Ia adalah Anak-Nya yang dikasihi.

Jelas dalam hal ini Tuhan Yesus telah memberikan suatu teladan bagi kita, yaitu suatu hidup yang penuh dengan integritas dalam perkataan, perbuatan, bahkan pemikiran, serta adanya suatu konsistensi hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela sepanjang hidupnya. Jelas bahwa Tuhan Yesus berjuang untuk berkenan kepada Allah Bapa selama hidup-Nya sebagai manusia. Hal ini pula yang harus kita peragakan dalam kehidupan kita. Dan jika kita memiliki kehidupan seperti hidupnya Tuhan Yesus, maka pasti kehidupan kita juga akan menginspirasi orang lain yang ada di sekitar kita.

Secara praktis, Paulus menuliskan bahwa hidup orang percaya, yaitu mereka yang mengaku diri sebagai anak-anak Allah haruslah mencerminkan kehidupan yang kudus, sama seperti Allah adalah kudus adanya. Terkadang orang Kristen menggampangkan hal ini, karena mereka menganggap bahwa darh Tuhan Yesus mampu menghapus dosa yang dilakukan. Akibatnya, tidak jarang orang Kristen memiliki kehidupan yang tidak memuliakan Tuhan, tetapi justru memalukan nama Tuhan. Tidak jarang orang-orang yang memiliki nama-nama bercorak Kristen justru menjadi pelaku kejahatan, bahkan kejahatan yang dikatakan memalukan. Tidak jarang mereka yang sudah merasa “aman” karena menyangka bahwa sebagai anak-anak Allah maka mereka akan selalu diampuni dosa-dosanya, tidak berniat untuk berjuang mengubah hidup supaya menjadi semakin berkenan di hadapan Allah. Dalam hal ini, Paulus menulis setidaknya ada tiga hal yang merupakan kejahatan, yang semuanya itu tidak patut dilakukan oleh orang-orang percaya, bahkan sekedar disebut atau diperkatakan saja sudah sangat tidak pantas. Ketiga hal itu adalah percabulan, rupa-rupa kecemaran, serta keserakahan (ay. 3a).

Kata “percabulan” dalam ayat ini menggunakan kata porneia (πορνεία), yang seperti telah kita bahas dalam renungan-renungan sebelumnya, menggambarkan suatu tingkat percabulan yang sudah sangat parah, bahkan jauh lebih parah daripada moichos/moicheuo. Kata porneia ini juga sudah disebut di dalam 2 Kor 12:21 dan Gal 5:19, yang menunjukkan bahwa kemungkinan besar surat 2 Korintus, Galatia dan Efesus ini ditulis dalam rentang waktu yang hampir berdekatan. Hal ini diperkuat dengan penggunaan kata selanjutnya yaitu rupa-rupa kecemaran (atau dalam terjemahan lain: segala kecemaran), dimana kata “kecemaran” dalam ayat ini menggunakan kata akatharsia (ἀκαθαρσία) yang juga digunakan di 2 Kor 12:21 dan Gal 5:19.

Kata ketiga yang disebut oleh Paulus adalah “keserakahan” yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata pleonexia (πλεονεξία). Kata ini memiliki makna “covetousness, avarice, aggression, desire for advantage” (ketamakan, keserakahan, kekikiran, mengambil milik orang lain dengan kekerasan/paksaan, keinginan/bernafsu untuk mendapatkan keuntungan). Hal ini secara umum menunjukkan sikap seseorang yang selalu ingin lebih, bahkan mengingini milik orang lain dan kalau ada kesempatan, ia akan mengambil milik orang lain itu dengan cara apapun sepanjang itu dapat menguntungkan dirinya. Jelas ia tidak pernah berpikir mengenai perasaan Tuhan maupun kepentingan Tuhan. Yang ada di dalam otak orang-orang seperti ini adalah bagaimana ia bisa memperoleh keuntungan demi kepentingannya sendiri.

Oleh karena itu, jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah, orang percaya, bahkan orang kudus atau umat yang kudus, kita tidak boleh sedikit pun memiliki karakter seperti itu. Jangankan sampai ke level karakter, melakukannya sehingga kita diperkatakan/disebutkan oleh orang lain saja sudah merupakan suatu hal yang seharusnya menohok diri kita sendiri (ay. 3b). Kata “disebutkan” di dalam ayat ini menggunakan kata onomazó (ὀνομάζω), yang dapat diartikan sebagai “to name, to give a name, to mention, to call upon the name of” (memanggil, menyebut nama, memberi nama, menyebutkan, memanggil dengan nama).

Jadi orang percaya harusnya malu apabila mereka di gereja menyanyi “Kitalah umat pemenang”, atau “Aku anak-anak Allah”, “Kitalah umat-Nya yang kudus”, dan lain sebagainya, tetapi ketika berada di luar gereja, orang lain memberi nama kita dengan sebutan lain. Sebutan lain di sini dalam artian sebutan atau sindiran karena dosa yang kita lakukan, seperti percabulan, kecemaran, bahkan keserakahan. Adalah lucu jika dalam suatu orang Kristen mengunggah status: “Bangga sebagai anak-anak Allah” tetapi orang itu hidup dalam percabulan, perzinahan, maupun perselingkuhan. Jika demikian, bisa jadi ada orang di luar gereja akan mencap orang Kristen sebagai agama yang cabul, dan pasti juga akan berpendapat: “Oh, jadi begini ya orang Kristen yang mengaku hidup sebagai anak-anak Allah. Apakah Allahnya orang Kristen adalah Allah yang cabul? Kok hidup orang Kristen seperti ini?”.

Oleh karena itu, saya agak bertolak belakang dengan kebanyakan pendeta terkait penginjilan. Banyak pendeta berkata penginjilan/misi/istilah lainnya adalah mengabarkan Injil dengan datang kepada orang lain lalu menceritakan tentang Yesus dan bertanya: “Maukah bapak/ibu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat?”. Penginjilan yang sejati sesungguhnya jauh lebih dalam dari hal tersebut. Kita semua dipanggil untuk menginjili orang lain. Dengan cara apa? Dengan cara memiliki kehidupan yang berpadanan dengan Injil, sehingga orang di luar akan berkata: “Kalau hidup orang Kristen betul-betul mulia seperti ini, pastilah Allah yang disembah orang Kristen adalah Allah yang benar”. Sayangnya, jika saya menyampaikan tentang hal ini, pasti akan banyak orang Kristen bahkan pendeta yang mencibir pendapat ini. Padahal, jika mau jujur, mengapa jemaat mula-mula begitu banyak menjangkau jiwa-jiwa, adalah karena jemaat mula-mula benar-benar mengenakan hidup seperti Tuhan Yesus hidup, sehingga kehidupan mereka dapat dilihat, dicontoh, dan diteladani dalam hal integritas dan konsistensinya.

Jemaat mula-mula mungkin bukan orang-orang yang sukses secara karir, politik, maupun finansial. Tetapi mereka benar-benar menampilkan kehidupan manusia yang agung sebagai anak-anak Allah. Ketika mereka dianiaya, mereka tidak membalas. Ketika mereka disiksa bahkan dibunuh, mereka menyambutnya dengan sukacita. Bagaimana mungkin kehidupan yang ditampilkan ini tidak mengubah pandangan orang lain? Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya, karena kehidupan yang ditampilkan oleh jemaat mula-mula pada akhirnya mulai menarik orang lain untuk juga menjadi orang Kristen, yaitu orang-orang yang memiliki gaya hidup seperti Kristus. Meskipun mereka sangat sering difitnah oleh kelompok-kelompok tertentu, tetapi keharuman hidup yang dipancarkan tidak akan pernah padam namun semakin berbau harum.

Selain tiga hal di ayat 3 tersebut, Paulus juga menuliskan pentingnya menjaga perkataan kita. Orang percaya haruslah juga mengeluarkan perkataan yang membangun. Mulut kita tidak boleh kita gunakan untuk mengucapkan perkataan yang kotor, yang kosong, atau yang sembrono (ay. 4a). Dalam hal ini, kata “kotor” menggunakan kata aischrotés (αἰσχρότης) yang bermakna “obscenity, indecency, baseness, dishonor” (perkataan cabul/saru, tidak senonoh, menghina, mencemari, memalukan). Sementara kata “kosong” menggunakan kata mórologia (μωρολογία) yang bermakna “foolish talking” (perkataan yang bodoh, tanpa akal sehat). Sedangkan kata “sembrono” menggunakan kata eutrapelia (εὐτραπελία) yang bermakna “ready wit, coarse jesting, low jesting, ribaldry, pleasantry, humor, facetiousness, scurrility” (jenaka, lelucon yang kasar, lelucon yang bersifat rendahan, bahasa/ejekan kasar, olok-olok, lelucon, kejenakaan, lelucon yang kasar/mesum).

Ketiga kata di ayat 4a ini hanya muncul sekali dalam Alkitab Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kita tidak boleh terpaku akan makna harafiah dari kata-kata tersebut. Kita harus melihat secara lebih luas mengenai mengapa Paulus menggunakan kata tersebut dalam ayat ini. Dari kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya, jelas Paulus hendak menekankan adanya teladan, integritas dan konsistensi dalam perbuatan/tindakan orang percaya (ay. 3a) serta dalam perkataan orang percaya (ay. 4a). Oleh karena itu, meskipun kita selaku orang percaya tidak sampai melakukan percabulan, tetapi perkataan kita juga harus kita jaga supaya jangan ada perkataan cabul yang keluar dari mulut kita. Integritas tidak hanya bicara tentang apa yang kita katakan di atas mimbar gereja (atau di dalam gereja), tetapi  juga apakah kelakukan kita di luar gereja juga sesuai dengan apa yang kita katakan. Jangan sampai perkataan kita tidak sesuai dengan kelakuan kita, begitu pula sebaliknya. Jangan sampai perkataan dan kelakuan kita memalukan nama Tuhan. Sebaliknya, hidup kita harus benar-benar menjadi suatu bentuk ucapan syukur kita kepada Tuhan, bahkan yang lebih baik lagi, orang-orang di sekitar kita dapat mengucap syukur kepada Tuhan karena kehadiran kita yang membawa damai dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar kita (ay. 4b).



Bacaan Alkitab: Efesus 5:1-4
5:1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih
5:2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
5:3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.
5:4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono -- karena hal-hal ini tidak pantas -- tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur

Pornos dan Moichos (32): Bukan Termasuk Buah Roh


Jumat, 9 Agustus 2019
Bacaan Alkitab: Galatia 5:19-23
Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu. (Gal 5:19)


Pornos dan Moichos (32): Bukan Termasuk Buah Roh


Sebagian besar orang Kristen pastilah pernah mendengar mengenai buah Roh. Buah Roh ini adalah hasil dari karya Roh Kudus yang berada di dalam kehidupan orang percaya, selain karunia Roh. Menurut saya, perbedaan utama antara buah Roh dan karunia Roh adalah bahwa buah Roh seharusnya bersifat permanen, sementara karunia Roh lebih bersifat “temporer”. Mengapa karunia Roh bersifat temporer? Karena karunia Roh diberikan kepada umat percaya untuk membangun jemaat, semisal karunia untuk bernubuat, karunia untuk menyembuhkan, dan lain sebagainya. Sementara itu buah Roh seharusnya bersifat permanen serta bisa dinikmati dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Sebagian besar dari kita tentu sudah pernah belajar mengenai apa saja yang termasuk buah Roh. Sayangnya, banyak orang Kristen menganggap bahwa selain buah Roh ada juga buah daging. Nyatanya, Paulus tidak pernah menggunakan istilah buah daging, melainkan perbuatan daging (ay. 19a). Perbuatan daging ini adalah hal-hal yang pada umumnya dilakukan oleh orang yang belum menerima Roh Kudus. Namun tidak menutup kemungkinan ada pula orang Kristen yang masih melakukan perbuatan daging ini. Dalam hal ini kita harus berani fair menyatakan bahwa tidak semua orang yang mengaku orang Kristen sudah benar-benar menerima Roh Kudus dan dipimpin oleh-Nya.
Apa saja yang termasuk dalam perbuatan daging? Paulus menuliskan sekian banyak hal-hal yang merupakan perbuatan daging, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (ay. 19b-21a). Ini adalah perbuatan yang dilakukan oleh mereka yang masih hidup di dalam daging.

Mari kita ambil salah satu contoh, yaitu percabulan yang sesuai dengan tema serial renungan kita. Dalam bahasa aslinya, Rasul Paulus menggunakan kata porneia (πορνεία) yang juga digunakan Paulus dalam surat-suratnya ke jemaat lain (di kota Roma, Korintus, dan lain sebagainya). Kata ini menggambarkan praktik percabulan yang sudah parah tingkatannya, sehingga dapat mengganggu hakikat pernikahan (jika yang melakukan adalah orang yang sudah menikah). Menariknya dalam ayat 19 ini, kata-kata yang digunakan hampir sama dengan apa yang dituliskan Paulus dalam ayat bahasan kita sebelumnya (2 Kor 12:21) yaitu: percabulan (porneia), kecemaran (akatharsia), dan hawa nafsu (aselgeia). Namun demikian, dalam 2 Kor 12:21, Alkitab Terjemahan Baru Bahasa Indonesia menggunakan kata-kata: percabulan, kecemaran, dan ketidaksopanan. Namun dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan dalam kedua ayat tersebut adalah sama persis.

Sangat mungkin Paulus teringat akan suratnya kepada jemaat di Korintus ketika menulis surat kepada jemaat di Galatia ini (atau bahkan sebaliknya, teringat akan jemaat Galatia ketika Paulus menulis surat keduanya kepada jemaat Korintus) mengingat kata yang digunakan sama persis antara kedua ayat tersebut. Selain percabulan, kecemaran, dan ketidaksopanan, ada banyak perbuatan daging lainnya yang disebutkan, seperti penyembahan berhala, perseteruan, amarah, pesta pora, dan lain sebagainya (ay. 20-21a). Yang menarik di sini, Paulus menuliskan bahwa perbuatan daging itu pasti dapat dilihat atau bersifat nyata (ay. 19a). Kata “nyata” di sini dalam bahasa aslinya adalah phaneros (φανερός) yang berarti apparent, clear, visible, manifest (nyata, terang, jelas terlihat, jernih, gamblang, dapat dilihat, terwujudkan).

Jadi sebenarnya, hal-hal perbuatan daging seperti yang telah disebutkan di ayat 19-21 tersebut adalah hal-hal yang dapat dilihat oleh orang lain. Terlihat di sini tidak hanya bermakna dapat dilihat oleh mata jasmani saja, tetapi juga dapat dilihat oleh mata rohani. Orang yang memiliki jiwa dan pikiran yang jernih dan sehat akan dapat membedakan mana yang merupakan perbuatan daging dan mana yang merupakan buah Roh.

Dalam ayat selanjutnya Paulus menuliskan mengenai buah Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Kata buah di sini merujuk kepada buah yang dihasilkan oleh tanaman, analogi yang sama bahwa kehidupan seseorang juga pasti menghasilkan dampak yang diibaratkan seperti buah. Buah yang dihasilkan oleh tanaman adalah sesuatu yang dapat dilihat, dinikmati, bahkan dirasakan oleh orang lain. Setahu saya, hampir semua tanaman memiliki buah yang dapat terlihat, tidak disembunyikan di tanah (seperti umbi). Sama halnya dengan buah secara fisik, maka seharusnya buah Roh juga dapat terlihat dengan jelas oleh orang lain, tidak tersembunyi di dalam hati. Hal ini menunjukkan bahwa buah Roh seperti yang dijelaskan di ayat 22-23 itu sejajar dengan perbuatan daging yang disebutkan di ayat 19-21, yaitu sama-sama dapat dilihat, dirasakan, bahkan dinikmati oleh orang di sekitarnya.

Namun menurut saya ada sebuah perbedaan mendasar antara perbuatan daging di ayat 19-21 dan buah Roh di ayat 22-23. Menarik melihat bahwa kata buah Roh di ayat 22 adalah kata yang bersifat tunggal/singular, bukan jamak (termasuk di dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris maupun bahasa Yunani). Sementara itu kata perbuatan di ayat 19 adalah kata yang bersifat jamak/plural. Mengapa Paulus menggunakan jenis kata yang berbeda? Bukankah penjelasan buah Roh ada lebih dari satu? Mengapa Paulus menggunakan jenis kata singular pada kata “buah Roh”?

Menurut pendapat saya pribadi, perbedaan utama adalah ketika seseorang telah dipenuhi Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus akan bekerja dalam diri orang tersebut sehingga orang itu dapat menghasilkan buah Roh. Buah Roh di sini bersifat tunggal meskipun dijelaskan dengan lebih dari satu kata. Saya berpendapat bahwa buah Roh yang dihasilkan oleh seseorang pasti dapat terlihat dari 9 aspek tersebut: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Dalam hal ini saya percaya bahwa seseorang yang dipimpin oleh Roh Kudus tidak mungkin hanya penuh sukacita tetapi tidak punya kasih. Seseorang yang dipimpin oleh Roh Kudus tidak mungkin lemah lembut tetapi tidak setia. Kesembilan aspek rohani tersebut saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kesembilan aspek tersebut seharusnya akan nampak dalam diri orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Sebaliknya, kata “perbuatan daging” menggunakan jenis kata yang bersifat jamak. Artinya adalah seseorang yang hidup menurut daging (atau hidup di dalam kedagingan) bisa saja tidak melakukan percabulan, tetapi ia masih memiliki rasa perselisihan, iri hati, dan amarah di dalam dirinya. Ia mungkin saja tidak menyembah berhala, tetapi hidupnya dihabiskan untuk kepentingan dirinya sendiri, bahkan jika perlu memecah-belah pihak lain demi keuntungannya. Hal ini tentu berbeda dengan buah Roh yang harus memiliki seluruh aspek buah Roh dalam diri orang percaya. Oleh karena itu, dapat dilihat sulitnya bagi seseorang untuk hidup di dalam pimpin oleh Roh Kudus, karena ia harus berjuang meninggalkan perbuatan-perbuatan daging dan berjuang pula untuk menghasilkan buah Roh dalam kehidupannya (tentu semuanya harus ada dalam tuntunan Roh Kudus)

Kesembilan aspek yang disebutkan dalam buah Roh tidak mungkin melanggar hukum apapun yang ada di dunia ini (ay. 23b). Orang tidak mungkin dihukum karena berbuat kasih, karena sabar, atau karena murah hati. Namun kalaupun ada orang-orang jahat yang menerapkan hukum yang melarang buah Roh tersebut, maka buah Roh itu akan tetap berbicara dan berdampak kepada orang lain. Kasih mungkin dapat disalahkan dan seakan-akan dapat “dikalahkan”. Namun pada akhirnya, kasih akan menang karena dalam kekekalan nanti, hanya orang-orang yang berbuat kasih (dan juga memiliki aspek buah Roh lainnya) yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, sementara orang yang melakukan perbuatan daging akan ditolak masuk ke dalamnya dan tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah (ay. 21b).



Bacaan Alkitab: Galatia 5:19-23
5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,
5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.