Rabu, 25 September 2019

Pornos dan Moichos (42): Contoh Pertobatan dengan Iman yang Benar


Kamis, 26 September 2019
Bacaan Alkitab: Yakobus 2:24-26
Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? (Yak 2:25)


Pornos dan Moichos (42): Contoh Pertobatan dengan Iman yang Benar


Kitab Yakobus pernah disebut sebagai suatu “jerami kering” oleh Bapa-bapa gereja pada zaman reformasi. Hal ini antara lain karena Yakobus tidak hanya menekankan mengenai pentingnya iman, tetapi juga menekankan mengenai perbuatan. Tentu apa yang ditulis oleh Yakobus tidak sejalan dengan nafas reformasi yang antara lain menekankan slogan “sola gracia, sola fide, sola scriptura” (hanya oleh anugerah, hanya oleh iman, dan hanya oleh kitab suci). Walaupun demikian, harus dilihat lagi apakah pengertian iman yang dimaksud di dalam kitab Yakobus ini sama dengan iman di kitab lain (terutama di kitab Roma).

Jika kita teliti membedah ayat demi ayat di dalam kitab Yakobus dan juga kitab Roma, maka kita akan menemukan bahwa sesungguhnya definisi iman yang ada di kitab Yakobus ini berbeda dengan iman di kitab Roma. Demikian pula halnya definisi perbuatan yang ada di kedua kitab tersebut. Di dalam kitab Roma, definisi kata perbuatan adalah perbuatan menurut hukum Taurat. Tidak mungkin orang dibenarkan hanya dengan melakukan hukum Taurat. Sementara di dalam kitab Yakobus, perbuatan yang dimaksud di sini adalah perbuatan sebagai respon kita terhadap iman. Jadi iman tidak hanya sekedar keyakinan di dalam pikiran saja (yakin bahwa saya beriman), tetapi harus nampak dalam kehidupan nyata orang Kristen.

Sebagai contoh, orang yang mengaku beriman kepada Tuhan tentu tidak hanya cukup meyakini bahwa dirinya beriman dan kemudian ia boleh hidup suka-sukanya sendiri di dalam dosa. Orang yang mengaku beriman kepada Tuhan tidak boleh lagi masih hidup dalam perzinahan, percabulan, korupsi, perjudian, perampokan, dan segala jenis kejahatan lainnya. Jika demikian, maka pasti ada yang salah dengan iman tersebut. Iman yang benar akan ditunjukkan dengan perbuatan baik yang nyata dalam hidup seseorang. Dalam hal ini Yakobus menulis bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (tindakan nyata dalam hidup seseorang) dan bukan hanya karena iman (yaitu hanya sekedar percaya dan yakin di dalam pikiran/akal seseorang saja) (ay. 24). Hal ini juga akan nampak jelas jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya yang membahas mengenai iman Abraham yang nampak nyata dari perbuatannya.

Selain Abraham, Yakobus juga mengambil contoh lain yaitu Rahab. Kita telah membahas Rahab dalam renungan di hari-hari sebelumnya, dimana ia sebenarnya berprofesi sebagai seorang pelacur/perempuan sundal. Kata pelacur dalam ayat ini adalah porné (πόρνη) yang sebagaimana telah kita bahas dalam renungan-renungan sebelumnya merupakan kata feminim untuk pelacur atau perempuan sundal. Jadi memang Rahab adalah seorang perempuan sundal, yaitu seseorang yang dibayar untuk memuaskan nafsu orang lain. Mengapa kemudian ia bisa dibenarkan atau dipandang benar?

Menjadi menarik bahwa dalam hal ini Yakobus menuliskan perbuatan-perbuatan yang menggambarkan iman Rahab. Tidak ditulis bahwa perbuatan Rahab yang membuat ia dibenarkan adalah profesinya sebagai pelacur. Tetapi di sini dikatakan bahwa perbuatan-perbuatan yang membenarkannya adalah ketika ia menyembunyikan mata-mata Israel di dalam rumahnya dan menolong mereka lolos melalui jalan yang lain (ay. 25b). Yakobus tidak bermaksud mengatakan bahwa Rahab dibenarkan karena tindakan melacurnya. Tetapi Yakobus hendak menyatakan bahwa imannya (yaitu kepercayaannya kepada Allah Israel) membuat ia berani mengambil tindakan yang berisiko (bahkan berisiko maut bagi dirinya dan keluarganya) untuk menyelamatkan mata-mata Israel tersebut.

Jika demikian, apakah kita bisa berkata bahwa: “Oh kalau begitu, kita berbuat dosa dahulu sampai puas, lalu bertobat”? Tentu tidak. Dalam hal ini kita tidak tahu latar belakang Rahab. Bisa jadi ia terpaksa menjadi pelacur karena tidak ada pilihan lain. Mungkin saja ia atau orang tuanya memiliki hutang yang besar sehingga Rahab harus mencari uang dan mau tidak mau menjadi seorang pelacur. Tetapi penekanan ayat ini adalah bahwa ketika iman seseorang muncul, maka itu akan nampak dalam perbuatan dan tindakan nyata. Mungkin saja Rahab sudah memiliki iman bahwa Allah orang Israel adalah Allah yang benar. Tetapi ketika mata-mata itu datang (dan tentu ia tahu bahwa mata-mata itu adalah orang Israel), Rahab diperhadapkan pada 3 pilihan yang sama-sama berisiko.

Pilihan pertama adalah ia langsung melaporkan mata-mata tersebut kepada tentara Yerikho, yang akan langsung menangkap mata-mata. Rahab mungkin akan diberikan penghargaan oleh Raja Yerikho, tetapi besar kemungkinan ia akan binasa ketika tentara Israel menyerang Yerikho.

Pilihan kedua adalah ia tetap menjadi pelacur, tetap melayani mata-mata itu dan kemudian bersikap sama seperti biasa. Tetapi jika demikian, besar kemungkinan ia juga akan binasa ketika tentara Israel menyerang Yerikho. Bahkan ada juga risiko ia akan ditangkap oleh tentara Yerikho karena tidak memberitahukan ada mata-mata yang datang.

Pilihan ketiga adalah ia menyambut mata-mata Israel itu, berkata bahwa sebenarnya ia juga percaya kepada Allah Israel (karena perbuatan-Nya yang dahsyat sejak membawa Israel keluar dari Mesir). Dari situ Rahab berusaha untuk menyelamatkan mata-mata tersebut dari pasukan Yerikho. Di sini tindakannya sangat berisiko, karena jika ketahuan maka ia dan mata-mata itu akan ditangkap dan mungkin akan dieksekusi. Namun di sini nampak kualitas iman Rahab yang luar biasa. Ia menunjukkan bahwa dirinya memiliki iman yang teguh dan bulat untuk percaya kepada Allah Israel.

Ketika tentara Israel menyerbu, tentu Rahab juga berharap cemas apakah ia dan keluarganya akan diselamatkan? Atau jangan-jangan ia lebih dahulu dibunuh oleh tentara Yerikho. Namun kembali lagi kepada definisi iman yang nyata disertai perbuatan, ia dbenarkan karena tindakannya yang sangat heroik bagi umat pilihan Allah di Perjanjian Lama. Itulah sebabnya, Yakobus menulis bahwa seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (ay. 26). Perhatikan bagaimana Yakobus menulis kata jamak/plural yaitu “perbuatan-perbuatan” dan bukan hanya satu “perbuatan”. Jelas bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis. Iman tidak hanya cukup dibuktikan dengan satu perbuatan saja, tetapi oleh perbuatan-perbuatan yang kita lakukan terus menerus selama kita hidup. Dalam hal ini Rahab tentu setelah diselamatkan dan dimasukkan ke dalam hitungan bangsa Israel, ia harus hidup dalam perbuatan-perbuatan yang nyata, misalnya dahulu ia menyembah dewa Yerikho, maka sekarang ia harus belajar tentang tata cara dan hukum orang Israel, termasuk bagaimana ia menyembah Allah Israel.

Mungkin satu-satunya pengecualian adalah orang yang disalib di sebelah salib Yesus. Orang itu sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan perbuatan. Tetapi ia menunjukkan imannya melalui perkataannya kepada Yesus, dan karena iman dan perkataannya itu ia dibenarkan. Namun perlu diingat  bahwa jangan sampai kita menunggu hingga detik-detik terakhir untuk bertobat dan beriman. Kita tidak tahu kapan akhir hidup kita. Bisa saja tahun depan kita mati, atau bulan depan, minggu depan, bahkan hari ini. Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, mari kita menunjukkan iman kita yang benar kepada Tuhan. Sama seperti Rahab yang bertobat dan berani mengambil risiko untuk memiliki iman yang benar (yang disertai perbuatan nyata), beranikah kita juga bertobat dan mengambil risiko untuk hidup di dalam iman yang benar, yang nampak melalui perbuatan-perbuatan kita dalam hidup sehari-hari?



Bacaan Alkitab: Yakobus 2:24-26
2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?
2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Selasa, 24 September 2019

Pornos dan Moichos (41): Standar yang Tidak Dapat Dikurangi


Rabu, 25 September 2019
Bacaan Alkitab: Yakobus 2:10-12
Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga. (Yak 2:11)


Pornos dan Moichos (41): Standar yang Tidak Dapat Dikurangi


Suka atau tidak suka, sekarang ini sedang muncul tren dimana manusia melakukan sesuatu yang sebenarnya hanya bersifat parsial atau dari salah satu sisi saja, sebagai dampak dari ketidaktahuan dan kemalasan orang tersebut untuk mencari tahu apa yang benar. Sebagai contoh di dalam gereja, orang menganggap sudah beribadah ketika ia sudah datang ke gereja, menaikkan nyanyian pujian, berdoa, mendengar khotbah, memberi persembahan, dan kemudian pulang dengan keyakinan bahwa ia sudah beribadah. Atau dalam contoh yang lebih rinci lagi, seorang Kristen merasa dirinya sudah memberi kepada Tuhan ketika ia sudah memberikan persembahan persepuluhan termasuk kolekte setiap minggunya, dan ia merasa berhak untuk meminta Tuhan memberkati dirinya dengan lebih limpah lagi. Dan masih banyak hal yang dapat dijadikan contoh baik di dalam jemaat maupun di luar jemaat.

Yakobus dengan jelas menulis dalam ayat bahasan kita hari ini, yaitu barangsiapa menuruti seluruh hukum itu (yaitu hukum Taurat), tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, maka ia bersalah terhadap seluruh hukum Taurat tersebut (ay. 10). Sebenarnya dalam bahasa aslinya terdapat hal yang menarik sekaligus menggelitik. Dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, kita melihat bahwa seakan-akan ada orang yang berkoar-koar menaati hukum tapi sengaja mengabaikan satu bagian hukum, sehingga hal itu dipandang sebagai suatu kesalahan.

Kata “mengabaikan” dalam bahasa aslinya adalah ptaisē (πταίσῃ) dari akar kata ptaió (πταίω) yang berarti to stumble, to fall, to sin, to err, to transgress (tersandung, terjatuh, berdosa/melanggar, salah/keliru, melanggar/melampaui batas). Jadi sebenarnya ayat 10 ini lebih tepat diterjemahkan sebab barangsiapa yang memegang hukum Taurat, tetapi ia gagal melakukan salah satu bagian dari hukum tersebut, maka ia bersalah terhadap seluruhnya. Jelas bahwa jangankan sengaja untuk tidak melakukan satu bagian hukum, bahkan ketika orang tersebut gagal (bukan karena keinginannya sendiri untuk sengaja tidak melakukan), ia pun bersalah terhadap seluruhnya.

Dalam ayat selanjutnya, Yakobus menulis bahwa siapa yang berkata “Jangan berzinah”, maka mau tidak mau ia juga harus berkata “Jangan membunuh” karena kedua hukum tersebut ada di dalam hukum yang sama yaitu di Dekalog atau Sepuluh Hukum (ay. 11a). Bahkan lebih lanjut  lagi, jika ada orang yang tidak berzinah tetapi membunuh, maka orang tersebut menjadi pelanggar hukum juga (ay. 11b). Demikian pula sebaliknya, jika ada orang yang tidak membunuh tetapi berzinah, maka ia juga menjadi pelanggar hukum.

Kata “berzinah” yang disebutkan 2 kali dalam ayat ini adalah moicheuó (μοιχεύω) yang secara konsisten merujuk kepada salah satu hukum dalam Sepuluh Perintah Allah (Kel 20:14). Jelas bahwa Yakobus ingin menunjukkan bahwa Kesepuluh Perintah Allah tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Bahkan tidak hanya Sepuluh Perintah Allah (Dekalog) tersebut yang saling terkait, seluruh hukum Taurat dan kitab Perjanjian Lama juga saling terkait dan tidak bisa diabaikan salah satunya. Jangankan dengan sengaja mengabaikan salah satu hukum, jika orang tersandung dan tidak sengaja mengabaikan pun maka hal itu sudah dipandang sebagai suatu pelanggaran.

Dalam hal ini menurut saya ada 2 persoalan serius yang perlu dipergumulkan: 1) Karena konteks ayat ini adalah hukum Taurat, apakah prinsip ini masih relevan bagi umat percaya yang sudah tidak lagi hidup terhadap hukum Taurat; dan 2) Bagaimana jika ada seorang pengkhotbah/pendeta/gembala sidang yang sebenarnya sudah tahu kebenaran secara utuh, tapi sengaja hanya mengajarkan sebagian saja kepada jemaat karena satu dan lain hal?

Untuk menjawab pertanyaan nomor 1, tentu prinsip ini terkait erat dengan ayat-ayat sebelumnya, dimana Yakobus menulis bahwa jika ada orang yang beribadah maupun berbuat baik, tetapi dalam jemaat ada yang memandang muka, maka orang itu sebenarnya melakukan pelanggaran. Kita lihat bahwa di ayat-ayat sebelumnya, dibahas mengenai dosa memandang muka dalam jemaat. Jika kita memperhatikan hukum Taurat, maka jelas bahwa hukum Taurat sama sekali belum mengatur mengenai hal memandang muka ini, apalagi dalam peraturan ibadah.

Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa prinsip di ayat 10 ini masih relevan juga hingga sekarang. Perbedaannya adalah bahwa contoh yang ditulis oleh Yakobus adalah contoh hidup orang Yahudi yang melakukan hukum Taurat karena prinsip mereka adalah Torah is my Law (Taurat adalah Hukumku), sedangkan bagi orang percaya, seharusnya Tuhanlah yang menjadi hukum kita (The Lord is my Law). Namun pada dasarnya prinsipnya tetap sama. Semua kehendak Tuhan harus kita laksanakan tanpa kecuali. Bedanya adalah kita sudah tidak lagi bertindak menurut hukum yang tertulis, tetapi kita harus bertindak menurut pikiran dan perasaan Kristus (Flp 2:5)

Dalam hal ini, suatu saat nanti kita akan menghadap pengadilan Tuhan, dimana kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, tentu berlaku prinsip “Yang diberi banyak, dituntut banyak”. Kita yang telah mengenal kasih Kristus tidak akan dihakimi menurut hukum Taurat, tetapi akan dihakimi menurut berapa banyak kehendak Bapa yang sudah kita lakukan. Di situ kita harus banyak belajar dari hidup Tuhan Yesus, yang telah melakukan kehendak Bapa dengan sempurna selama Ia menjadi manusia di dunia ini, sehiingga kita harus benar-benar dapat mengikuti jejak hidup-Nya dan menerapkannya dalam hidup kita masing-masing.

Sedangkan jawaban untuk pertanyaan nomor 2 adalah: hal tersebut akan menjadi urusan pendeta tersebut dengan Tuhan. Jelas bahwa Tuhan sudah menyampaikan firman-Nya kepada kita yang dapat kita baca di dalam Perjanjian Baru. Jelas bahwa standar keselamatan sudah ditetapkan oleh Tuhan dan sama sekali tidak ada potongan atau diskon sekecil apapun. Jika Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang hendak mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24), maka memang orang Kristen harus menyangkal diri dan memikul salib serta mengikut jejak-Nya. Tidak ada tolerasnsi dalam hal ini seperti misalnya: “Kalau begitu, saya minta salib yang ringan saja ya Tuhan”. Sama seperti Tuhan Yesus juga harus melalui semua hal dari Betlehem, Nazaret, hingga ke Golgota tanpa diskon/keringanan, demikianlah juga dalam hidup kita masing-masing kita harus menghadapi banyak pencobaan, ujian, dan salib-salib yang harus kita pikul tanpa adanya diskon dari Tuhan.

Menjadi menarik jika Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus berjuang untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga (Luk 13:24), tetapi banyak pendeta yang berkata: “Masuk surga itu mudah, cukup percaya saja dan mengimani (meyakini), pasti nanti mati masuk surga”. Memang kita harus percaya kepada Tuhan Yesus dan memiliki iman kepada-Nya, tetapi bukan berarti setelah itu kita tidak perlu berjuang. Ada perjuangan dalam hidup kita yaitu menyangkal diri, memikul salib kita, dan pada akhirnya mengikuti jejak hidup-Nya. Oleh sebab itu, tanpa bermaksud menghakimi mereka yang berbeda pendapat, saya sendiri berpendapat bahwa memang masuk surga itu adalah hal yang sukar, sangat sukar, bahkan mustahil bagi manusia, tetapi tidak mustahil bagi Allah (Mrk 10:26-27). Keselamatan itu memang adalah anugerah Allah tetapi harus diresponi oleh manusia secara proporsional.

Oleh karena itu menjadi seorang pengkhotbah, pendeta, apalagi gembala siding adalah suatu hal yang sangat berat. Seringkali seorang pendeta karena belum bisa melakukan suatu bagian dari firman, maka ia dengan sengaja mengurangi porsi firman supaya jemaat tidak perlu menuntut teladan dari pendeta tersebut. Atau pendeta tersebut bisa membela diri atas kegagalannya melakukan salah satu bagian firman dengan begitu banyak ayat yang “direkayasa dan diarahkan” seakan-akan untuk menunjukkan bahwa pendeta itu melakukan apa yang benar, atau untuk membela si pendeta bahwa wajar kalau ia masih belum bisa melakukan firman tersebut.

Sebenarnya saya tahu bahwa semua orang, baik saya sendiri maupun orang lain, bahkan pendeta sekalipun memang masih harus berjuang untuk hidup sesuai firman secara konsisten. Tidak ada orang yang sudah sempurna melakukan firman di dunia ini. Namun adalah sangat salah jika khutbah di atas mimbar “dikurangi” atau “dimodifikasi” dengan tujuan untuk kepentingan pendeta, keluarganya, atau segelintir orang di dalam gereja. Standar kehidupan orang percaya yang Tuhan kehendaki sudah tertulis jelas di dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Baru, antara lain: 1) Hidup dalam kesucian/kekudusan; 2) Merindukan kedatangan Tuhan dan Kerajaan-Nya; serta 3) Memaksimalkan talenta dan potensi selama hidup di dunia ini bagi kemuliaan nama Tuhan. Tetapi seringkali hal yang mayor dijadikan minor dan hal yang minor dijadikan mayor di atas mimbar gereja. Di situ terkadang saya merasa sedih dan tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Tidak heran bahwa di akhir zaman nanti, akan ada banyak orang yang merasa sudah beribadah kepada Tuhan, bahkan merasa sudah melayani Tuhan tetapi pada akhirnya ditolak Tuhan (Mat 7:21-23). Semoga kita tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang seperti itu.

Oleh sebab itu, benar sekali tulisan Yakobus bahwa kita harus berkata dan berlaku seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang (ay. 12). Sekilas terkesan bahwa kita akan dihakimi oleh hukum Taurat. Namun jika kita membaca lebih lanjut, yang dimaksud dalam ayat 12 ini adalah hukum yang memerdekakan orang. Tentu itu bukanlah hukum Taurat karena hukum Taurat adalah hukum yang menawan orang, sementara hukum yang memerdekakan orang adalah Tuhan, karena Tuhan adalah hukum kita (The Lord is my law). Itulah hukum yang sempurna, yang akan membentuk karakter kita menjadi sempurna dan membawa kita kepada kemuliaan kekal (Yak 1:25).

Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk berkata: “Saya kan masih belum sempurna” atau “Saya sih sudah melakukan 90% hukum, tetapi masih ada 10% lagi yang tidak bisa saya lakukan”. Itu adalah prinsip yang salah. Melalui pimpinan dan pertolongan Roh Kudus, kita pasti dimampukan untuk hidup menurut kehendak Tuhan. Tidak boleh lagi ada alasan untuk mengurangi standar keselamatan yang sudah Allah tetapkan bagi manusia. Semaksimal mungkin kita harus hidup sesuci-sucinya di hadapan Allah, supaya suatu saat nanti, kita dapat tahan berdiri di hadapan pengadilan Allah.



Bacaan Alkitab: Yakobus 2:10-12
2:10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.
2:11 Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.
2:12 Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.

Pornos dan Moichos (40): Akan Dihakimi oleh Allah


Selasa, 24 September 2019
Bacaan Alkitab: Ibrani 13:1-4
Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. (Ibr 13:4)


Pornos dan Moichos (40): Akan Dihakimi oleh Allah


Renungan kita hari ini masih membahas ayat-ayat dari kitab Ibrani. Dalam pasal 13 ini, penulis kitab Ibrani melanjutkan dengan contoh perbuatan kasih yang harus mampu ditunjukkan oleh orang percaya. Hal ini tentu saja masih terkait dengan pembahasan kita di hari sebelumnya yang juga menggunakan ayat di pasal 12, dimana orang percaya dituntut untuk dapat hidup damai dengan semua orang. Tentu saja, selain dengan semua orang, orang percaya harus juga memiliki kasih persaudaraan (ay. 1). Kasih ini harus nyata terlebih lagi kepada saudara seiman. Adalah lucu jika orang Kristen dapat terlihat lebih mengasihi orang yang beragama lain tetapi justru kurang atau tidak mengasihi saudara-saudaranya yang seagama.

Selain kasih persaudaraan, penulis kitab Ibrani ini juga memberikan suatu saran praktis, yaitu memberi tumpangan kepada orang lain yang membutuhkan (ay. 2a). Kata “memberi tumpangan” dalam ayat ini menggunakan kata philoxenia (φιλοξενία) yang secara harafiah berarti mengasihi orang asing. Memang mengasihi orang asing ini pada waktu itu sangat  mungkin dilakukan dengan cara yang umum, yaitu memberikan tumpangan kepada mereka agar mereka dapat beristirahat. Saya tidak tahu apakah ayat ini masih relevan dengan kondisi sekarang dimana manusia semakin bertambah jahat. Namun pada dasarnya, memang kasih itu harus ditunjukkan dengan tindakan nyata. Jika 2.000 tahun yang lalu kasih ditunjukkan dengan memberi tumpangan, maka di masa sekarang ini, kasih dapat ditunjukkan dengan cara lain yang lebih relevan, yaitu kepada orang asing sekalipun, tidak hanya terbatas kepada saudara seiman.

Penulis kitab Ibrani bahkan menuliskan bahwa tanpa disadari, mungkin saja orang yang berbuat kasih tersebut sedang menjamu malaikat-malaikat (ay. 2b). Kata ini juga memang sulit dimengerti, apakah ada malaikat-malaikat yang datang menyamar? Tetapi jika di Perjanjian Lama memang banyak malaikat yang datang menemui orang-orang tertentu, dan di Perjanjian Baru juga ada tulisan mengenai malaikat yang datang dan berbicara kepada orang-orang kudus, maka tentu bukan suatu hal yang mustahil malaikat juga dapat diutus Tuhan untuk menguji tingkatan kasih yang dimiliki oleh orang percaya.

Selain itu jemaat juga diingatkan untuk selalu mengingat orang-orang hukuman, karena mereka sendiri pun sebenarnya terhitung sebagai orang-orang hukuman (ay. 3a). Kata “orang-orang hukuman” dalam Bahasa aslinya adalah desmios (δέσμιος) yang berarti one bound, a prisoner, a captive (orang yang terikat/terpasung, tahanan, tawanan). Kata ini menunjukkan kondisi orang yang tidak bebas karena ditahan oleh pemerintah Romawi pada waktu itu. Mereka sama sekali tidak ada yang memperhatikan, dan adalah salah satu tugas orang percaya untuk memperhatikan mereka.

Dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru, seakan-akan dikesankan bahwa jemaat pada waktu itu juga adalah orang-orang hukuman. Saya mencoba mencari tahu kata yang digunakan dalam bahasa aslinya yaitu syndedemenoi (συνδεδεμένοι) dari akar kata sundeó (συνδέω). Kata ini secara harafiah dapat diartikan terikat bersama (to bind together). Sehingga menurut saya, ayat ini lebih terpat dimaknai sebagai perintah untuk mengingat orang-orang yang menjadi tawanan atau tertindas, dan memiliki suatu “ikatan batin” dengan mereka. Memang mungkin juga jemaat pada waktu itu mengalami penindasan dan tekanan sehingga mereka dapat merasakan bagaimana beratnya beban yang ditanggung oleh orang-orang hukuman tersebut. Namun menurut saya, kata tersebut lebih tepat bermakna “turut merasakan” atau “turut sepenanggungan” dengan orang-orang hukuman.

Selain kepada orang-orang hukuman, jemaat juga diingatkan untuk mengingat orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang (ay. 3a). Kata ini juga dapat berarti dilukai, diperlakukan tidak adil, diperlakukan dengan salah. Hal ini menunjuk kepada orang-orang yang tidak berdaya sama sekali melawan ketidakadilan yang mereka terima. Bisa jadi orang ini adalah orang-orang yang lemah secara finansial, lemah secara politik, maupun lemah dalam hal lainnya. Jemaat diingatkan bahwa mereka masih hidup di dalam dunia, yaitu dunia yang penuh dengan orang-orang jahat, tamak, curang, dan segala bentuk kejahatan lainnya (ay. 3c). Sebenarnya, kita hanya sedang menunggu dunia yang baru, dimana Tuhan Yesus menjadi Raja dalam kerajaan-Nya yang kekal, dan tidak ada lagi dosa di dalamnya.

Penulis kitab Ibrani juga mengingatkan jemaat agar penuh hormat terhadap perkawinan dan jangan mencemarkan tempat tidur (ay. 4a). Jelas bahwa kekudusan pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral dan tidak patut untuk dinodai. Sejak masa Perjanjian Lama, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan diatur dengan ketat dalam hukum Taurat. Menghormati perkawinan bukan saja tidak berselingkuh setelah menikah, tetapi juga menjaga diri supaya tidak melakukan apa yang tidak patut dilakukan sebelum pernikahan. Inilah pentingnya pendidikan karakter dan iman sejak dini supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak patut.
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi oleh Allah (ay. 4). Terdapat 2 kata yang sudah sering kita bahas yaitu orang-orang sundal (pornos/πόρνος) dan pezinah (moichos/μοιχός). Jelas bahwa kedua jenis percabulan itu (baik moichos apalagi pornos) pasti akan dihakimi oleh Allah. Sebenarnya semua orang pun harus masuk ke dalam penghakiman Allah, termasuk orang benar sekalipun. Bedanya, orang yang melakukan pornos dan moichos berpotensi besar menerima hukuman dari Allah, apalagi jika mereka tidak bertobat dari kesalahan mereka selama masih hidup.
Sebenarnya setiap dosa pasti memiliki konsekuensi. Namun kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib telah menghapus dosa seluruh dunia. Jika demikian, apakah semua orang bisa selamat? Tentu pertanyaan ini akan memancing perdebatan doktrinal yang tiada henti. Namun bagi saya, jika orang sungguh-sungguh bertobat dari dosa-dosanya, pastilah orang tersebut akan diampuni dosanya dan masuk ke dalam surga, seperti salah satu dari orang yang disalib di sisi Tuhan Yesus (Luk 23:43). Persoalannya adalah, dosa seksual ini (baik moichos maupun pornos) adalah dosa yang mengikat dan menagih serta membuat kecanduan. Sangat sulit bagi seseorang untuk dapat lepas dari dosa tersebut. Dibutuhkan komitmen yang kuat serta tuntunan Roh Kudus setiap hari untuk dapat mengatasi dosa ini. Jadi tanpa mengecilkan arti dosa-dosa yang lain, dosa percabulan ini sangat rawan untuk menyeret kita kepada hukuman yang kekal dalam pengadilan Allah nanti.
Di sini letak kesulitannya, karena kebanyakan orang akan berprinsip: “Sekali ini saja Tuhan, setelah itu saya akan bertobat”, atau “Nanti sebelum mati pasti saya akan bertobat”. Meskipun dosa moichos relatif lebih mudah “ditangani” daripada dosa pornos, namun jika tidak hati-hati orang yang sudah sering melakukan moichos juga akan bisa terikat sehingga akan melakukan dosa pornos. Ingat bahwa cara bekerja iblis tidaklah langsung menggoda melalui dosa besar. Iblis pasti memulai dengan dosa kecil: misalnya orang tidak akan langsung selingkuh dengan orang lain, tetapi mulai dari sms, chat, telepon, video call, bertemu, jalan bersama, hingga akhirnya tidur bersama. Jika tidak segera diakhiri, maka hal itu akan menjadi semakin parah dan dapat merusak hakekat pernikahan. Demikian juga orang yang suka datang ke tempat prostitusi, pada awalnya mungkin suka membaca cerita-cerita jorok, menonton film porno, kemudian mencoba datang ke panti pijat plus atau sejenisnya, dan pada akhirnya ketagihan hingga tidak bisa lepas dari jerat prostitusi.
Ingat bahwa semua pasti ada akhirnya. Ingat bahwa hidup ini adalah suatu anugerah dan kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemilik Hidup suatu saat nanti. Tuhan ingin agar kita memiliki hidup yang berkualitas tinggi, yang memuliakan nama-Nya dan menyukakan hati-Nya. Oleh karena itu, setiap kali kita melakukan dosa, ingatlah akan dosa kita tersebut, menyesallah dan bertobatlah. Buatlah komitmen kepada Tuhan untuk setiap hari menjadi lebih baik lagi dan lebih berkenan lagi di pemandangan-Nya. Tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Tuhan, tetapi setiap pertobatan butuh komitmen dan tindakan nyata, bukan hanya sekedar ucapan di mulut: “Saya bertobat”, tetapi kemudian kita terus berbuat dosa dan hidup dalam dosa itu lagi. Penghakiman Tuhan bukanlah penghakiman manusia di dunia ini yang masih bisa dibeli dan diselewengkan. Penghakiman Tuhan adalah penghakiman yang paling adil, dan setiap orang akan menerima apa yang patut diterimanya dalam kekekalan, sesuai dengan apa yang dilakukannya dalam hidup ini, entah baik maupun jahat (2 Kor 5:10).



Bacaan Alkitab: Ibrani 13:1-4
13:1 Peliharalah kasih persaudaraan!
13:2 Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.
13:3 Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.
13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Senin, 23 September 2019

Pornos dan Moichos (39): Harus Mengejar Kekudusan


Senin, 23 September 2019
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:14-17
Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. (Ibr 12:16)


Pornos dan Moichos (39): Harus Mengejar Kekudusan


Setelah sekian banyak pembahasan dimana kata pornos dan moichos memang bermakna harafiah dalam ayat Alkitab, maka hari ini kita akan melihat bagaimana kata pornos juga digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi lain (tidak secara harafiah). Sebelum membahas hal tersebut, sebagai pengantar maka kita harus mengerti bahwa kitab Ibrani ini ditulis oleh seseorang pemimpin Kristen (kemungkinan adalah Paulus) yang ditujukan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa Yahudi. Oleh karena itu, kitab ini banyak sekali mengutip ayat-ayat di Perjanjian Lama, termasuk nama tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

Dalam bagian bacaan Alkitab kita hari ini, kita memulai pembahasan dari ayat yang menyerukan agar orang percaya harus berjuang untuk dapat hidup damai dengan semua orang dan juga harus mengejar kekudusan (ay. 14a). Hal ini sebenarnya juga dapat dilihat dari 2 aspek utama dalam hidup, yaitu mengasihi Tuhan dan juga mengasihi sesama. Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa intisari dari hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:37-40). Oleh sebab itu, memang benar bahwa kita harus hidup dalam kekudusan karena tanpa kekudusan maka tidak ada seorang pun yang dapat melihat Tuhan (ay. 14b).

Itulah sebabnya di ayat 14 ini, penulis kitab Ibrani mencoba mengingatkan jemaat agar mereka “berusaha” dan “mengejar”. Di dalam bahasa aslinya, sebenarnya hanya ada satu kata perintah (imperative) yaitu diōkete (διώκετε) dari akar kata diókó (διώκω) yang bermakna to pursue, to aggressively chase (memburu, mengejar secara agresif). Kata ini dapat bermakna positif (mengejar sesuatu yang positif) namun juga bermakna negative (semisal: memburu dan mengejar-ngejar orang percaya). Oleh karena itu, untuk mengerti makna kata diókó ini harus dilihat dalam konteks pemakaiannya. Namun yang pasti, kata diókó tersebut mengandung unsur dimana ada suatu usaha keras dalam memburu/mengejar sesuatu demi mendapatkannya. Dalam hal ini kita harus berusaha keras untuk dapat hidup damai dengan semua orang, dan terlebih supaya kita dapat mengejar kekudusan supaya dapat melihat Tuhan.

Selanjutnya, terkait dengan hubungan kepada Tuhan dan manusia, penulis kitab Ibrani ini juga mengingatkan supaya kita menjaga diri kita. Sebenarnya dalam bahasa asli, tidak ada kalimat imperatif dalam ayat ini (yaitu “jagalah”). Kata yang digunakan untuk kata “jagalah” tersebut adalah episkopountes  (ἐπισκοποῦντες) dari akar kata episkopeó (ἐπισκοπέω) yang berjenis kata partisipatif (bukan imperatif). Kata ini bermakna to look upon, to observe, to care for, to visit (melihat, memperhatikan, merawat, memedulikan, menilik, mengunjungi). Kata ini juga sejajar dengan kata episkopos yang diterjemahkan sebagai penilik jemaat atau gembala (Kis 20:28, Flp 1:1, 1 Tim 3:2, Tit 1:7, dan 1 Ptr 2:25). Dari kata episkopos inilah muncul istilah uskup sebagai pemimpin jemaat di suatu wilayah.

Jadi jelas bahwa jemaat harus bejuang untuk hidup damai dengan semua orang dan mengejar kekudusan, antara lain dengan cara menjaga dan memperhatikan. Apa saja yang dijaga dan diperhatikan? Dalam ayat 15-17 ini setidaknya ada 3 hal yang harus kita jaga dan perhatikan yaitu:

Pertama, supaya jangan ada orang yang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (ay. 15a). Apakah ada orang yang bisa menjauhkan diri dari kasih karunia Allah? Apakah kasih karunia Allah itu tidak sempurna sehingga masih dapat membuat orang lari dari kasih karunia Allah? Kata menjauhkan diri di sini dalam bahasa aslinya adalah hysteron (ὑστερῶν) dari akar kata hustereó (ὑστερέω) yang bermakna to come late, to be behind, to come short, to be lacking (terlambat, berada di belakang, ketinggalan, kekurangan). Oleh karena itu, yang saya pahami adalah ada orang tidak merespon kasih karunia Allah dengan benar sehingga ia tidak mencapai “standar yang seharusnya” dalam pertumbuhan rohani. Sebagai akibatnya, orang tersebut lambat laun akan “mati rohani” karena tidak bertumbuh. Hal ini sangat relevan dengan perintah yang disampaikan dalam ayat sebelumnya yang meminta jemaat untuk terus berjuang dan berusaha. Jika kita tidak berusaha bertumbuh dengan benar, maka hal tersebut dapat membuat kita kerdil bahkan mati secara rohani.

Kedua, supaya jangan tumbuh akar yang pahit yang dapat menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang (ay. 15b).    Ada banyak sekali tafsiran mengenai akar yang pahit, tetapi menurut saya, istilah ini juga merujuk pada istilah dalam Perjanjian lama, yaitu Ul 29:18. Di situ tertulis istilah “janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh” (Ul 29:18b). Jika kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan mengerti bahwa istilah ini juga menunjuk kepada orang-orang yang memberi pengaruh buruk, bahkan menghasilkan buah yang buruk, yang dapat merusak orang lain dalam suatu komunitas. Dalam kitab Ulangan, komunitas yang dimaksud tentu adalah orang Israel, sedangkan di kitab Ibrani ini komunitas yang dimaksud adalah jemaat (orang percaya) khususnya kepada mereka yang berasal dari latar belakang Yahudi.

Kita harus mengamati dan memperhatikan apakah ada akar yang pahit yang mulai tumbuh. Jangan sampai akar pahit tersebut tumbuh besar bahkan sampai mengeluarkan buah, karena hal itu akan menimbulkan kerusuhan. Jika sampai menimbulkan kerusuhan, tentulah akar pahit ini merujuk kepada orang-orang yang mengajak untuk murtad atau mengajak untuk meninggalkan ajaran sehat (menjauhkan diri dari kasih karunia Allah). Inilah sebabnya Paulus menasehati supaya kita memperhatikan supaya jangan sampai muncul akar yang pahit, karena akan berdampak masif bagi jemaat.

Kata “menimbulkan kerusuhan” dalam bahasa aslinya adalah enochleó (ἐνοχλέω) yang bermakna to disturb, to annoy to cause tumult, to trouble, (mengganggu, mengacaukan, menyebabkan keributan/huru-hara, menyusahkan). Oleh karena itu kita benar-benar harus memperhatikan jangan sampai jemaat sibuk mengurusi kekacauan/keributan yang disebabkan oleh orang-orang tertentu yang diistilahkan dengan akar yang pahit tersebut. Tidak hanya sampai kepada kerusuhan/kekacauan, namun hal tersebut dapat membuat banyak orang (di dalam jemaat) menjadi tercemar.

Jelas bahwa akar yang pahit ini adalah orang-orang yang hidupnya rusak, yang juga ingin membuat orang lain menjadi rusak. Dalam hal ini, mereka seakan-akan memberi contoh hidup yang buruk, dan jika tidak hati-hati maka jemaat lain juga dapat terseret olehnya. Itulah sebabnya “akar pahit” ini harus diberantas sebelum berbuah, sehingga tidak sampai mencemari/mempengaruhi orang lain dalam arti negatif.

Sebagai contoh, jika ada orang yang melakukan kesalahan fatal (katakanlah jelas-jelas mencuri uang gereja), namun ternyata orang tersebut dibiarkan saja bahkan kemudian dijadikan pengurus, diaken, bahkan majelis, maka dapat dibayangkan teladan macam apa yang sedang diajarkan di jemaat tersebut. Jangan sampai nanti ada jemaat yang berkata: “Oh, jadi kalau gitu kita nggak apa-apa mencuri uang gereja, karena toh pasti dimaafkan. Nanti juga kita masih bisa jadi pengurus, aktivis, bahkan majelis”. Tanpa disadari, sikap ketidaktegasan terhadap dosa sekecil apapun di dalam jemaat bisa mendorong tumbuhnya akar pahit ini, yang pada akhirnya akan menghancurkan jemaat tersebut dari dalam.

Akar pahit ini tidak hanya berbicara mengenai kepahitan, luka batin, dan juga masalah-masalah psikologis dan interpersonal. Jika penulis kitab Ibrani ini sampai menuliskan akar pahit, berarti memang ada ancaman yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masalah kepahitan antar anggota jemaat (walau tidak bisa dipungkiri, bahwa mungkin saja permasalahan tersebut dimulai dari luka batin tersebut). Bagaimanapun juga, ketika ada kerusuhan atau kekacauan di dalam jemaat, maka pihak yang paling diuntungkan adalah iblis karena jemaat hanya akan sibuk mengurusi kekacuaan tersebut dan tidak punya waktu lagi untuk berjuang mengubah karakter dari karakter dunia menjadi karakter ilahi.

Sedangkan poin yang ketiga adalah supaya jangan ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau (ay. 16a). Kata “cabul” dalam ayat ini menggunakan kata pornos (πόρνος) yang juga berarti adalah seorang pelacur pria, atau seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang tidak sesuai dengan hukum. Apakah Esau melakukan perzinahan? Dari Alkitab kita dapat melihat bahwa yang dilakukan Esau adalah mengambil 2 perempuaan Kanaan (orang Het) menjadi istri-istrinya (Kej 26:34-35). Apakah hal tersebut termasuk perzinahan? Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak. “Ya”, karena orang tua (Ishak dan Ribka) tentu sudah menekankan panggilan Allah terhadap Abraham dan Ishak, dan tentunya Esau harus pintar dalam memilih istri. Juga “Ya”, karena Esau langsung memiliki 2 istri (walaupun ini dapat diperdebatkan juga, karena Abraham dan Yakub juga memiliki lebih dari 1 istri). Tetapi bisa juga jawabannya “Tidak” karena memang tidak ada pelanggaran hukum atau moral dalam hal ini (karena hukum Taurat belum diturunkan, dan memang Esau juga mengambil kedua perempuan tersebut dalam hubungan perkawinan yang jelas).

Oleh karena itu, ayat 16 ini memang masih dapat dipersoalkan, apakah Esau di sini digunakan sebagai contoh orang yang mempunyai nafsu yang rendah (yang sejajar dengan orang yang melakukan percabulan), atau Esau juga digunakan sebagai contoh orang cabul dan sekaligus orang yang rendah. Namun terlepas dari Esau sebagai contoh, kita memang harus memperhatikan supaya jangan ada orang yang menjadi cabul. Jangan sampai ada jemaat yang sudah mencapai taraf yang sangat parah, yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi, seperti jemaat di Korintus misalnya.

Selain mengenai percabulan, jemaat juga diingatkan supaya tidak memiliki nafsu yang rendah. Kata yang digunakan dalam bahasa aslinya adalah bebélos (βέβηλος), yaitu suatu kata yang dapat berarti godless, profane, worldly (murtad/jahat/tak beriman, kotor/najis/tidak suci, duniawi). Dari kata ini, jelas bahwa Esau memang sangat bersifat duniawi dan hampir tidak percaya kepada Allah. Bagaimana mungkin dia dengan sembrononya menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan (ay. 16). Masih lebih baik jika ia menjual hak kesulungannya untuk hal yang lebih besar, semisal untuk tanah yang luas. Ini menunjukkan pola pikirnya yang sangat dangkal dan tidak berpikir panjang. Jangankan memikirkan kekekalan, atas hal yang ada di dunia ini saja ia tidak dapat memilih prioritas yang tepat.

Tidak heran kemudian ditulis bahwa Esau ditolak ketika ia hendak menerima berkat itu (ay. 17a). Ia tidak dapat lagi memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan tersebut, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata (ay. 17b). Ini menunjukkan bagaimana Esau menyesal karena telah menganggap sepele hal yang sangat penting baginya pada waktu itu. Akibat kesalahannya itu, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya. Ia memang juga diberkati secara luar biasa oleh Allah, tetapi Ia sebenarnya bisa saja memperoleh jauh lebih banyak lagi jika ia berhati-hati terhadap ucapannya.

Pelajaran bagi kita adalah kita harus memperhatikan sungguh-sungguh ketiga hal di atas. Menurut saya, poin yang terpenting adalah poin ketiga, dimana jangan sampai kita melakukan kesalahan yang tidak dapat diperbaiki selama kita hidup. Betapa berbahayanya jika kita tidak berhati-hati dan berdampak akan hidup kita, bahkan hingga kepada kekekalan. Hal ini tentu termasuk dalam hal percabulan. Ke depannya kita akan belajar bahwa tidak ada orang cabul yang diizinkan Tuhan masuk ke dalam kekekalan. Betapa berbahayanya jika selama ini kita masih hidup dalam percabulan dan tidak bertobat. Selagi kita masih hidup, mari kita mengejar kekudusan supaya kita dapat berkenan dan layak di pemandangan-Nya.


Bacaan Alkitab: Ibrani 12:14-17
12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Sabtu, 21 September 2019

Pornos dan Moichos (38): Tertulis dalam Sejarah Kehidupan


Minggu, 22 September 2019
Bacaan Alkitab: Ibrani 11:30-31
Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. (Ibr 11:31)


Pornos dan Moichos (38): Tertulis dalam Sejarah Kehidupan


Kita tentu sudah familiar mengenai kisah Yosua ketika merebut kota Yerikho, misalnya bagaimana tembok Yerikho runtuh setelah dikelilingi sebanyak 7 kali. Tapi di balik kisah itu, tentu ada sosok pahlawan yang luar biasa bagi bangsa Israel (meskipun jika mau fair, sebenarnya orang tersebut adalah “pengkhianat” bagi orang sekotanya), yaitu Rahab. Rahab adalah orang yang menyembunyikan mata-mata Israel di atas sotoh rumahnya sehingga tidak tertangkap tantara Yerikho. Sebagai balasannya, Rahab sekeluarga diselamatkan oleh bangsa Israel dan kemungkinan besar diperhitungkan untuk masuk ke dalam kelompok orang Israel (Yos 2:1-24, Yos 6:1-27).

Menariknya lagi, Alkitab berterus terang mengenai siapakah Rahab itu. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Rahab adalah seorang perempuan sundal (Yos 2:1). Bahkan di ayat tersebut ditulis bahwa para pengintai tersebut tidur di situ. Kata “tidur” di ayat tersebut adalah וַיִּשְׁכְּבוּ־ (way·yiš·kə·ḇū-) yang selain dapat berarti berbaring (secara harafiah), juga dapat berarti lodged (tinggal). Memang masih bisa diperdebatkan apakah para pengintai tersebut “menggunakan jasa” Rahab ataukah hanya menyamar supaya tidak diketahui oleh tentara Yerikho. Tetapi menurut pemahaman saya, apapun yang dilakukan oleh kedua pengintai tersebut bukanlah hal yang mayor, tetapi justru apa pekerjaan Rahab inilah yang merupakan hal yang mayor.

Rahab memang berprofesi sebagai perempuan sundal. Dalam Yos 2:1 kata “perempuan sundal” menggunakan kata zō·nāh (זוֹנָ֛ה) dari akar kata zanah (זָנָה) yang berarti “orang yang melakukan percabulan, pelacur). Dalam kitab Ibrani, kata “perempuan sundal” menggunakan kata pornē (πόρνη) yang berarti pelacur perempuan. Jelas bahwa Rahab memang adalah seorang pelacur atau perempuan sundal di kota Yerikho pada waktu itu. Dalam hal ini, tindakan dan profesi Rahab sama sekali tidak patut untuk dicontoh. Namun demikian, nama Rahab disebutkan sebanyak 8 kali dalam Alkitab (5 dalam Perjanjian Baru dan 3 dalam Perjanjian Lama). Rahab bahkan menjadi salah satu nenek moyang dalam silsilah Yesus (Mat 1:5). Apa yang menyebabkan Rahab menerima kehormatan seperti itu?

Dalam konteks kitab Ibrani, khususnya di pasal 11, kita menemukan bahwa perikop ini berbicara banyak mengenai iman. Apakah iman itu? Secara sederhannya, iman artinya percaya terhadap sesuatu. Tetapi dari contoh-contoh yang disajikan, ternyata iman tidak sesederhana itu. Iman tidak hanya berupa keyakinan dalam pikiran saja, tetapi harus sampai pada tindakan yang nyata yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh iman.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat 2 contoh, bagaimana iman yang ditunjukkan oleh orang Israel, yaitu ketika mengelilingi tembok Yerikho selama 7 hari lamanya hingga tembok tersebut runtuh (ay. 30). Namun demikian, di ayat setelahnya, kita melihat bagaimana iman Rahab yang nyata-nyata adalah seorang perempuan sundal di kota Yerikho. Muncul pertanyaan, “Jika demikian, apakah Rahab beriman? Karena jelas-jelas ia telah bersundal?”

Menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat bahwa kehidupan Rahab dahulu memang sangat salah. Tetapi ketika ia mendengar mengenai Allah orang Israel (karena berita mengenai kemenangan orang Israel pastilah sudah tersebar luas di kalangan bangsa-bangsa Kanaan), ia lalu menjadi percaya kepada Allah. Dalam hal ini, iman Rahab awalnya memang baru iman berupa keyakinan dalam pikiran. Namun ketika para pengintai Israel itu datang, dan Rahab menyadari bahwa kedua orang tersebut adalah musuh bangsanya, maka ia dihadapkan pada 2 pilihan: membela bangsanya, ataukah melakukan sesuatu bagi bangsa pilihan Allah.

Iman Rahab nyata dan lengkap ketika ia pada akhirnya memilih untuk menyembunyikan kedua pengintai tersebut. Jelas bahwa pada akhirnya pilihan yang diambilnya itu tidak  keliru karena ia tidak jadi ikut binasa bersama-sama dengan orang Yerikho, tetapi justru diselamatkan karena telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik (ay. 31). Lebih lanjut lagi, ia diterima masuk ke dalam kelompok orang Israel, menjadi istri dari salah satu orang Israel yang pada akhirnya nanti menjadi nenek moyang Daud hingga juga masuk ke dalam silsilah Yesus Kristus.

Namun demikian, ingat bahwa setiap kesalahan pasti membawa konsekuensi. Rahab memang sudah menjadi pahlawan bagi orang Israel. Ia juga menjadi salah satu contoh pahlawan iman atau tokoh iman. Namun, sejarah tetap mencatat bahwa ia adalah seorang perempuan sundal, suatu profesi yang mungkiin sangat memalukan dan bahkan menjijikkan. Sampai kapanpun di dunia ini, mungkin Rahab akan tetap identic dengan hal tersebut, kecuali mungkin setelah di surga dimana kita akan diberikan nama yang baru oleh Tuhan.

Oleh karena itu, perhatikanlah kehidupan kita dengan sungguh-sungguh. Jangan pernah sekalipun melakukan tindakan yang memalukan, apalagi jika terkait dengan percabulan dan perzinahan. Sejarah manusia akan mencatat bagaimana kehidupan kita. Apakah kita memiliki sejarah yang baik, ataukah pernah memiliki sejarah yang kelam. Apalagi di zaman digital seperti sekarang ini. Jangan sampai suatu saat nanti anak cucu kita mencoba mencari tahu nama kita di mesin pencari, dan menemukan bahwa kita pernah melakukan percabulan yang memalukan. Bahkan kalaupun tidak ada yang mengetahui, suatu saat nanti kita semua akan telanjang di hadapan-Nya dalam penghakiman Tuhan. Sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada-Nya?



Bacaan Alkitab: Ibrani 11:30-31
11:30 Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.
11:31 Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.

Pornos dan Moichos (37): Bertentangan dengan Ajaran Sehat


Sabtu, 21 September 2019
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 1:8-11
Bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat (1 Tim 1:10)


Pornos dan Moichos (37): Bertentangan dengan Ajaran Sehat


Sejak dahulu kala, Allah telah menuntun umat-Nya di Perjanjian Lama (yaitu bangsa Israel) dengan memberikan tuntunan berupa hukum Taurat kepada mereka. Tentu pemberian hukum ini dimaksudkan untuk membentuk karakter bangsa Israel yang terkenal keras kepala dan juga masih bermental budak karena baru saja keluar dari perbudakan selama 430 tahun di tanah Mesir. Oleh karena itu, Allah memberikan hukum yang sangat rinci yang mengatur tidak hanya bagaimana mereka harus hidup dan menjalin relasi dengan Allah, tetapi juga bagaimana mereka hidup bersama-sama dengan masyarakat yang lain.

Dengan hukum Taurat yang diberikan sekitar 3.200 tahun yang lalu (sekitar tahun 1.300 sampai 1.200 SM), maka hukum itu menjadi sumber utama dari hukum-hukum dalam agama samawi lainnya yang muncul setelah agama Yahudi lahir. Tidak heran bahwa ada beberapa kesamaan di antara hukum Taurat dengan hukum di agama lain seperti misalnya: tidak boleh memakan makanan yang haram, tidak boleh melakukan percabulan, dan lain sebagainya.

Ketika Paulus menulis surat pertamanya kepada Timotius, kita harus menyadari bahwa Timotius adalah separuh Yahudi. Ayah Timotius adalah orang Yunani, sementara ibunya adalah orang Yahudi. Oleh karena itu, tentu ia pasti pernah diajar mengenai hukum Taurat oleh ibunya. Ia pasti mengenal 10 hukum (dasa titah) dan juga kitab-kitab Taurat serta kisah mengenai para nabi. Oleh karena itu, Paulus yang mengerti bahwa Timotius memang mengenal hukum Taurat tanpa ragu mengatakan bahwa hukum  Taurat itu baik, jika digunakan dengan tepat (ay. 8).

Kalimat ini jika dibaca sekilas akan menimbulkan keraguan, apakah ada penggunaan hukum Taurat yang tepat dan yang tidak tepat? Jika ditarik ke kehidupan orang Kristen, akan muncul pula keraguan: Jadi apakah jangan-jangan Alkitab dapat digunakan dengan tepat dan tidak tepat pula? Untuk memahami hal ini, mari kita melihat dalam bahasa aslinya, dimana digunakan kata nomimós (νομίμως) yang berarti “rightly, lawfully, conformable to law” (sepatutnya, sah, sesuai hukum). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya hukum Taurat itu cocok bagi orang-orang yang memang menjadi tujuan pemberian hukum Taurat tersebut.

Dalam hal ini, hukum Taurat sebenarnya diberikan kepada bangsa Israel pada waktu mereka keluar dari tanah Mesir, yaitu suatu bangsa yang memiliki mental budak karena sudah 430 tahun diperbudak, dan membutuhkan suatu hukum dan tatatanan yang mengatur bagaimana mereka hidup. Jelas bahwa Paulus menulis kalimat selanjutnya: “yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar” (ay. 9a). Hukum Taurat diberikan kepada orang-orang yang masih belum benar, di antaranya adalah mereka yang masih durhaka, lalim, fasik, berdosa, duniawi, tak beragama, pembunuh, cabul, penculik, pendusta, dan lain sebagainya (ay. 9b-10). Apa maksudnya kalimat tersebut?

Menurut pendapat saya secara pribadi, hal ini memperkuat pendapat bahwa hukum Taurat memang dapat membuat orang jahat menjadi baik. Orang yang dahulu membunuh sekarang dapat menjadi tidak membunuh lagi ketika mengetahui bahwa hukum Taurat berkata “Jangan membunuh”. Orang yang dahulu tidak beragama, maka dapat mengenal Allah dalam hukum Taurat sehingga mereka menjadi beragama dan seharusnya menjadi orang baik karena menaati hukum Taurat.

Dalam ayat 10 juga digunakan istilah orang cabul dan pemburit. Kata “orang cabul” dalam ayat ini adalah pornois (πόρνοις) yang berasal dari akar kata pornos (πόρνος). Kata ini dapat bermakna “a man who prostitutes his body to another's lust for hire, a male prostitute”, yaitu seseorang (umumnya pria) yang melacurkan tubuhnya kepada hawa nafsu orang lain dengan cara disewakan/untuk menerima bayaran, atau seorang pelacur pria. Kata pornos ini juga dapat berarti “a man who indulges in unlawful sexual intercourse, a fornicator, a whoremonger” (seorang pria yang melakukan/terlibat dalam hubungan seksual yang tidak sah/melanggar hukum, seorang pezinah, orang yang banyak berhubungan dengan para pelacur).

Dari penjelasan di atas jelas bahwa seorang pornois/pornos adalah orang-orang yang sudah sangat rusak. Ia tidak melakukan percabulan hanya sesekali saja, tetapi sudah menjadi habit atau kebiasaan yang mengikat. Bahkan sampai taraf tertentu, orang ini dapat menjadi seorang pelacur pria, yang memberikan tubuhnya untuk memuaskan nafsu orang lain. Dalam hal ini, bagaimana menyadarkan orang yang sudah jatuh ke dalam dosa percabulan atau perzinahan tersebut?

Salah satu caranya adalah membuat orang yang berdosa itu sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Tentu orang yang sudah jatuh dalam dosa seperti ini, harus ditunjukkan bukti bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah. Itulah gunanya hukum Taurat, dimana hukum Taurat mengatur secara rinci mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Hal yang sama juga diatur tentang pemburit, yaitu tindakan homoseksual (pria dengan pria). Jelas bahwa hukum Taurat melarang tegas tindakan ini. Dan semua tindakan yang dilakukan di ayat 9 dan 10 ini adalah bertentangan dengan ajaran yang sehat.

Ajaran sehat bukan hanya sekedar moral umum yang sering diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya. Di Indonesia, beberapa tindakan di ayat 9 dan 10 tersebut adalah suatu hal yang melanggar norma umum, seperti tindakan cabul, pemburit (homoseksual), dan pembunuh. Namun di beberapa negara lain, tindakan homoseksual misalnya, sudah dipandang sebagai suatu tindakan yang wajar, bahkan mereka memiliki hak yang sama dengan yang lain, termasuk dalam hal melangsungkan pernikahan sesama jenis.

Oleh karena itu ajaran yang sehat harus didefinisikan ulang menurut standar yang benar. Selama ini seringkali pengajaran Kristen tidak jauh berbeda dengan pengajaran moral etika secara umum. Namun seharusnya pengajaran Kristen didasarkan pada pikiran dan perasaan Bapa, yang mengarah kepada kehendak-Nya untuk dilakukan. Oleh karena itu, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa hukum Taurat itu sebenarnya sudah tidak lagi relevan bagi orang percaya/orang Kristen, karena orang percaya seharusnya sudah tidak lagi hidup di dalam dosa-dosa seperti yang dijelaskan dalam ayat 9-10, seperti membunuh, berzinah, dan menculik. Orang Kristen seharusnya juga sudah tidak lagi berdusta, tidak fasik, bahkan seharusnya juga sudah tidak lagi duniawi.

Itulah sebabnya orang Kristen seharusnya sudah tidak lagi sibuk memikirkan tentang hukum Taurat (Perjanjian Lama), karena kurikulum orang Kristen seharusnya adalah Injil (Perjanjian Baru). Injil itulah anugerah dari Allah yang memungkinkan orang percaya tidak hanya berkelakuan baik tetapi juga sampai kepada tingkat berkenan kepada Bapa di surga (ay. 11). Injil adalah anugerah yang dipercayakan Allah kepada manusia, dan oleh sebab itu manusia juga harus mempertanggungjawabkan anugerah yang telah diberikan Allah tersebut. Tidak ada anugerah tanpa tanggung jawab. Memang bukan karena perbuatan baik, manusia dapat diselamatkan. Tetapi karena anugerah dari pengorbanan Kristus di kayu salib, maka manusia dapat diselamatkan.

Oleh karena itu, setelah menerima anugerah keselamatan tersebut, manusia seharusnya tidak lagi melakukan tindakan apapun yang mendukakan hati Allah. Manusia harus berjuang mengerti kehendak Bapa dan berjuang pula untuk melakukannya. Seharusnya, orang Kristen yang benar (yang sudah menerima anugerah keselamatan), tidak lagi melakukan dosa. Tidak boleh lagi ada orang Kristen yang masih melakukan dosa-dosa yang mendukakan hati Bapa, apalagi yang tidak sesuai dengan nilai moral umum. Mereka yang masih berdusta, harus berjuang untuk berkata jujur dan benar. Mereka yang masih hidup dalam keduniawian, maka harus berjuang meninggalkan keduniawian dan mengarahkan pandangannya kepada kekekalan. Mereka yang masih melakukan percabulan dan perzinahan, harus meninggalkannya dan hidup dalam kekudusan. Dengan demikian, orang percaya akan memiliki kualitas hidup yang luar biasa, tidak hanya di mata manusia, tetapi juga di mata Allah. Inilah yang dimaksud dengan ajaran yang sehat dalam kekristenan.



Bacaan Alkitab: 1 Timotius 1:8-11
1:8 Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan,
1:9 yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,
1:10 bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat
1:11 yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku.