Senin, 07 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (48): Kondisi Manusia di Akhir Zaman yang Sulit untuk Bertobat


Senin, 7 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 9:20-21
Dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian. (Why 9:21)


Pornos dan Moichos (48): Kondisi Manusia di Akhir Zaman yang Sulit untuk Bertobat


Kitab Wahyu dipercaya sebagai salah satu kitab yang menubuatkan masa depan dan akhir dari kehidupan manusia di dunia ini, sebelum datangnya kerajaan Allah yang kekal. Dalam bahasa Inggris, nama kitab ini adalah Revelation, yang berarti penyingkapan atau pengungkapan. Jadi kitab Wahyu seharusnya menyingkap dan mengungkap hal-hal yang belum diketahui pada saat itu (pada saat kitab Wahyu ditulis). Banyak pasal dalam kitab Wahyu yang berbicara mengenai masa yang akan datang, baik ditinjau dari sudut pandang Yohanes (sekitar abad 1 masehi) dan juga bagi kita yang hidup saat ini. Paling tidak, dalam Wahyu 9 ini yang berbicara mengenai sangkakala kelima dan keenam, banyak dipandang oleh ahli Alkitab masih belum terjadi dan merujuk kepada kejadian di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai ketujuh sangkakala di kitab Wahyu, maka sangkakala keenam yang menjadi konteks ayat-ayat bacaan kita hari ini, tentu tidak dapat dipisahkan dari sangkakala-sangkakala sebelumnya. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Rasul Yohanes menuliskan bencana yang akan menimpa sepertiga dari bumi dan langit ini ketika sangkakala pertama hingga keempat ditiup (Why 8:1-13). Selanjutnya sangkakala kelima berbicara mengenai penyiksaan terhadap manusia, dan sangkakala keenam berbicara mengenai perang yang akan membunuh sepertiga manusia (Why 9:1-19). Kira-kira, apa yang akan terjadi ketika malapetaka ini dialami oleh manusia di muka bumi ini. Apakah mereka akan bertobat melihat bencana yang ada di depan mata mereka?

Dulu saya berpikir bahwa manusia jika diberikan bencana maka mereka akan bertobat, menginstropeksi diri, dan ke depannya akan berubah menjadi lebih baik lagi karena diingatkan mengenai kematian yang bisa datang kapan saja. Ternyata pemikiran saya selama ini salah. Kita ambil contoh saja di negeri kita tercinta, Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, sudah banyak bencana yang menimpa Indonesia dan menewaskan ratusan bahkan mungkin ribuan korban jiwa. Apakah penduduk Indonesia kemudian melakukan pertobatan massal dan berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat? Saya piker tidak. Justru bencana-bencana yang ada tidak membuat orang Indonesia menjadi lebih baik secara moral. Mereka justru sibuk mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain, bahkan tidak segan-segan menggunakan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, bahkan membangun opini untuk menjatuhkan orang lain. Tidak hanya di Indonesia tetapi hal ini juga terjadi di hampir semua belahan bumi. Akibatnya, semakin hari kondisi dunia ini semakin mengkhawatirkan bagi mereka yang hidup benar.

Hal ini ternyata juga sudah tertulis dalam nubuatan di kitab Wahyu. Dengan segala bencana yang terjadi atas bumi ini sejak sangkakala pertama hingga keenam, ternyata manusia lain yang tidak mati oleh malapetaka tersebut, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka yang jahat (ay. 20a). Ini adalah gambaran orang-orang yang sudah sangat jahat di akhir zaman ini. Hati nurani mereka sudah tumpul dan sudah tidak dapat diperbaiki meskipun bencana yang hebat ada di depan mata mereka sendiri. Mereka sudah tidak memikirkan kekekalan secara proporsional, karena hati mereka sudah terikat dengan hal-hal yang duniawi.

Dikatakan bahwa mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala (ay. 20b). Kata menyembah dalam ayat ini adalah proskynēsousin (προσκυνήσουσιν) dari akar kata proskuneó (προσκυνέω). Kata proskuneó ini sebenarnya lebih banyak digunakan untuk menunjukkan penyembahan kepada Tuhan, namun dalam beberapa ayat kata ini digunakan juga untuk menunjuk penyembahan kepada obyek lain, yang dalam ayat ini merujuk kepada roh-roh jahat dan berhala-berhala. Kata menyembah sendiri dalam arti sempit berarti tunduk, dan dalam arti luas berarti memberi nilai tinggi. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa manusia akhir zaman sudah tidak lagi memberi nilai tinggi kepada Tuhan, tetapi justru kepada obyek lain, dalam hal ini adalah roh jahat dan berhala-berhala.

Orang-orang ini akan menyembah roh-roh jahat yang secara tidak langsung menyembah iblis, dan juga menyembah berhala. Beberapa orang Kristen berpikir, kalau begitu aman jika kita masih menyembah Tuhan dalam ibadah-ibadah di gereja. Persoalannya tidak sesederhana itu, karena penyembahan sendiri tidak hanya boleh dipandang sebagai penyembahan di gereja, tetapi siapa yang kita berikan nilai tinggi dalam hidup kita. Kita bisa berkata “Oh Tuhan, aku menyembah-Mu” selama ibadah selama dua jam di gereja. Namun apakah dalam 22 jam lainnya, atau bahkan dalam enam hari lainnya kita sudah menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya pribadi yang kita beri nilai tinggi?

Itulah sebabnya ayat 20 ini juga harus dimaknai bahwa jika kita tidak menjadikan Tuhan sebagai pribadi yang kita beri nilai tinggi setiap saat, maka sesungguhnya ada hal lain yang kita berikan nilai tinggi, dan itulah penyembahan kita yang sebenarnya. Jadi orang dapat dikatakan menyembah roh-roh jahat atau berhala bukan karena dia berkata “Oh roh jahat, aku menyembahmu” atau “Oh berhala, aku menyembahmu”, tetapi bisa juga karena ia tidak menjadikan Tuhan sebagai obyek penyembahan yang benar dan satu-satunya dalam hidupnya.

Orang yang menyembah roh-roh jahat, berarti ia tidak menjadikan Tuhan sebagai prioritas hidupnya, dan pola pikirnya dikuasai oleh hal-hal yang bersifat jahat. Orang ini tidak segan-segan mencuri, berbohong, atau korupsi ketika ada kesempatan, selama hal itu dipandang akan menguntungkan dirinya. Melanggar hukum-hukum umum atau norma-norma sosial sudah dianggap sebagai suatu hal yang wajar dalam hidupnya, selama apa yang ia inginkan bisa tercapai meskipun harus melakukan pelanggaran moral atau pelanggaran hukum.

Sedangkan orang-orang yang menyembah berhala adalah mereka yang terikat dengan harta duniawi dan kekayaan yang bersifat fana. Tidak heran bahwa Yohanes menulis berhala-berhala yang disembah adalah berhala-berhala yang terbuat dari emas dan perak, tembaga, batu, dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan. Ayat ini memang bisa juga merujuk kepada orang-orang yang melakukan penyembahan terhadap benda-benda mati (patung-patung atau berhala-berhala) secara harafiah. Namun ayat ini juga memiliki makna figurative dimana yang diberi nilai tinggi oleh manusia akhir zaman adalah segala harta benda dunia, baik itu emas, perak, tembaga, batu maupun kayu. Semua hal akan diukur dengan ukuran harta kekayaan dunia, meskipun itu bukanlah obyek penyembahan yang benar, karena semua itu hanyalah benda mati yang fana dan tidak memiliki pribadi. Inti dari ayat 20 ini adalah bahwa manusia akhir zaman sudah tidak lagi mengerti siapa yang pantas menjadi obyek penyembahan yang benar, dan mereka akan menyembah apapun dan siapapun yang menurut mereka layak untuk disembah, sesuai dengan pola pikir mereka yang sudah rusak.

Dampak dari penyembahan yang salah ini kemudian membuat mereka juga tidak bertobat dari hal-hal jahat yang mereka lakukan. Setidaknya ada empat perbuatan jahat yang disebutkan dalam ayat ini: Pembunuhan, sihir, percabulan, dan pencurian. Inilah ciri-ciri manusia akhir zaman yang tidak segan-segan untuk membunuh, terpikat bahkan mempraktikkan hal-hal gaib dan juga sihir, hidup dalam percabulan, serta tidak segan-segan untuk mencuri atau mengambil apa yang bukan merupakan haknya atau miliknya (ay. 21). Terkait dengan percabulan yang kita bahas dalam serial renungan kita beberapa waktu belakangan ini, kita dapat melihat bahwa kata “percabulan” dalam ayat 21 ini menggunakan kata porneia (πορνεία) yang merujuk pada tindakan percabulan yang jauh lebih parah daripada hanya sekedar tindakan moicheuo. Secara tidak langsung, hal ini berarti bahwa manusia akhir zaman memang memiliki moral yang sangat rendah, di mana tindakan percabulan yang masuk kategori porneia pun sudah menjadi hal yang wajar untuk dilakukan.

Dari keempat tindakan jahat yang disebutkan di ayat 21, kita dapat melihat bahwa tindakan percabulan itu disejajarkan dengan tindakan pencurian, praktik sihir, bahkan pembunuhan. Bisa dibayangkan ada orang-orang yang memiliki moral yang sangat rendah dan dengan mudah mencuri milik orang lain (korupsi), atau dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain karena masalah sepele, atau dengan mudah pula melakukan percabulan yang merusak hakikat pernikahan (misal: mempunyai selingkuhan, atau suka melakukan hubungan seksual dengan para pelacur). Ini adalah gambaran manusia akhir zaman seperti yang ditulis dalam Alkitab. Dan jika kita mau jujur, berita surat kabar belakangan ini pun sudah mengarah kepada ciri-ciri manusia akhir zaman. Ini menunjukkan bahwa kita sudah berada di bagian akhir dari sejarah dunia ini. Suka atau tidak suka, akan terjadi pemisahan yang hebat, dimana orang benar akan berjuang untuk semakin benar, dan orang jahat akan menjadi semakin jahat. Ketika itu terjadi, bersiap-siaplah dalam pengharapan yang benar akan kerajaan Allah, supaya kita diperkenan untuk masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Bapa di surga.



Bacaan Alkitab: Wahyu 9:20-21
9:20 Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan,
9:21 dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian.

Minggu, 06 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (48): Hukuman kepada “Wanita Izebel” dan Orang-orang yang Mengikutinya


Minggu, 6 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:21-23
Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. (Why 2:21-22)


Pornos dan Moichos (48): Hukuman kepada “Wanita Izebel” dan Orang-orang yang Mengikutinya


Pada renungan sebelumnya kita telah belajar mengenai ajaran “wanita Izebel” yang sudah masuk ke dalam jemaat Tiatira bahkan telah menyesatkan hamba-hamba Tuhan di sana. Hari ini kita akan belajar mengenai apa yang akan terjadi pada “Wanita Izebel” dan juga orang-orang yang mengikutinya tersebut.

Dalam ayat 21, Tuhan berkata bahwa Ia telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Siapa yang dimaksud dengan dia dalam ayat ini? Dalam bahasa aslinya, digunakan kata autē (αὐτῇ) yang merupakan bentuk feminim dari kata orang ketiga tunggal. Jelas bahwa ini sebenarnya merujuk pada sosok nabiah palsu atau “wanita Izebel” yang dimaksud dalam ayat-ayat sebelumnya. Dalam konteks jemaat Tiatira pada waktu itu, bisa jadi ini merujuk pada nama salah satu nabiah palsu yang ada di kota tersebut. Tapi mengingat bahwa ketujuh jemaat ini adalah gambaran perwakilan jemaat yang ada di berbagai tempat dan waktu, maka ini bisa juga adalah menggambarkan Iblis dengan spiritnya yang mencoba menyesatkan orang percaya.

Dalam hal ini Tuhan sudah memberikan waktu kepadanya untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Kata zinah di sini menggunakan kata porneias (πορνείας) dari akar kata porneia (πορνεία) yang dapat berarti  fornication, whoredom (perzinahan, persetubuhan di luar nikah, persetubuhan yang dilakukan atas rasa suka sama suka dan saling membutuhkan tanpa paksaan dan tanpa bayaran antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan atau perkawinan, persundalan, pelacuran atau aktivitas seksual lain tanpa memilih-milih). Kata ini juga dapat bermakna metafora sebagai idolatry (pemujaan berhala atau menyembah dewa lain selain Allah yang benar).

Karena konteks ayat 21 ini dapat dimaknai secara historis (yaitu merujuk kepada nabiah palsu di Tiatira pada zaman surat ini ditulis), secara futuris (yaitu merujuk kepada orang-orang yang mirip seperti nabiah palsu tersebut pada jemaat lain yang memiliki ciri-ciri seperti jemaat Tiatira), dan juga secara metaforis (merujuk kepada Iblis yang tidak mau bertobat). Oleh karena itu, kita tidak bisa memaksakan bahwa ayat ini lebih tepat ditujukan kepada satu obyek tertentu. Tetapi kita harus melihat ciri dari obyek yang dimaksud yaitu bahwa meskipun sudah diberi kesempatan oleh Allah, tetapi nyatanya ia tetap tidak mau bertobat dari perzinahan yang ia lakukan.

Oleh karena itu, ada hukuman bagi mereka yang tidak mau bertobat, yaitu akan dilemparkan Tuhan ke atas ranjang orang sakit (ay. 22a). Kata ranjang orang sakit ini menggunakan kata kline (κλίνη) yang dapat  berarti  a couch, bed, portable bed or mat, a couch for reclining at meals, possibly also a bier (dipan, ranjang, tilam, tempat tidur, tempat tidur/tikar yang dapat dibawa-bawa, semacam sofa/kursi malas yang digunakan untuk berbaring pada saat perjamuan, kemungkinan juga adalah sebuah tandu/usungan). Kata ini cukup umum digunakan dalam Alkitab di Perjanjian Baru, pada umumnya merujuk kepada tempat tidur yang digunakan oleh orang sakit (Mat 9:2, Mat 9:6, Luk 5:18), tempat tidur secara umum (Mrk 4:21, Mrk 7:30, Luk 8:16, Luk 17:34). Dalam penggunaannya di ayat 22, saya belum dapat menyimpulkan dengan pasti apakah kata kline ini bermakna tempat tidur/ranjang/tandu untuk orang sakit, ataukah hanya bermakna tempa tidur secara umum, yang dapat digunakan untuk melakukan perzinahan. Frasa “melemparkan dia ke atas ranjang” bisa bermakna untuk memberi hukuman berupa sakit kepada orang yang bersalah, tetapi bisa juga bermakna konotatif seperti mempersilahkan orang lain untuk berzinah dengan orang tersebut.

Namun terlepas dari pembahasan kita di paragraf di atas, kita harus tahu bahwa setiap kesalahan yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensi. “Wanita Izebel” tersebut (apapun makna yang kita pahami) telah menerima hukuman yaitu dilemparkan ke ranjang (bisa bermakna ranjang orang sakit yang menunjuk hukuman Tuhan). Dan orang-orang yang juga berbuat zinah dengan dia akan dilemparkan pula ke dalam kesukaran besar. Kata “berbuat zinah” dalam ayat 22 ini menggunakan kata yang berbeda dengan ayat 21. Dalam ayat 22, digunakan kata moicheuontas (μοιχεύοντας) dari akar kata moicheuó (μοιχεύω) yang merupakan percabulan tetapi dengan tingkatan yang dipandang lebih rendah daripada porneia.

Namun jangan salah menyangka bahwa orang yang melakukan moicheuó lebih “aman”. Jangan sampai ada pemikiran bahwa “Oh, kalau begitu kita melakukan sampai tingkatan moicheuó saja, kan tidak sampai mencapai tingkat porneia”. Kenyataannya, porneia pun dimulai dari tindakan moicheuó yang tidak segera dihilangkan, sehingga lambat laun bertambah dan bertumpuk-tumpuk hingga mencapai level porneia. Bahkan dalam ayat ini juga ditulis bahwa mereka (merujuk kepada orang-orang Kristen/jemaat Tuhan bahkan mungkin hamba-hamba Tuhan) yang berbuat zinah dengan “wanita Izebel” itu akan dilemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan “wanita Izebel” itu (ay. 22b).

Jelas bahwa jemaat di Tiatira ini sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan. Hamba-hamba Tuhan di sana sudah mengikuti ajaran “wanita Izebel” ini dan bahkan sudah dipandang melakukan zinah (moicheuó) dengan “wanita Izebel” ini. Akibatnya, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu, maka mereka akan dilemparkan Tuhan ke dalam kesukaran besar. Kesukaran yang besar ini juga dapat merujuk kepada kesukaran sebagai konsekuensi atas kesalahan orang-orang percaya itu, atau juga dapat merujuk kepada waktu kesukaran atau waktu yang sukar secara umum. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ini merujuk pada hukuman kekal di neraka. Karena memang kitab Wahyu ini penuh dengan symbol, maka semua kemungkinan tersebut bisa saja benar. Sehingga poin yang harus kita ambil di ayat ini adalah pentingnya pertobatan supaya kita tidak terkena hukuman dari Allah berupa kesukaran besar itu.

Bahkan jika melihat di ayat selanjutnya, ada hukuman yang lebih dahsyat lagi yaitu anak-anaknya akan dimatikan oleh Tuhan (ay. 23a). Jika kita membaca sekilas, kita akan berpikir bahwa ini masih merupakan sambungan dari ayat sebelumnya (ayat 22) yang menunjuk kepada hukuman bagi orang-orang yang berzinah dengan wanita Izebel itu, dimana anaknya kemudian akan mati. Oleh sebab itu, ada sebagian kecil orang Kristen yang kemudian berkata: “Tuh buktinya orang itu anaknya tidak mati, berarti dia tidak berdosa dong”.

Sebenarnya dalam ayat 23 ini, akhiran “-nya” yang dimaksud di sini merujuk kepada “wanita Izebel” itu. Jadi anak-anaknya yang dimaksud dalam ayat ini merujuk kepada anak-anak dari “wanita Izebel” tersebut. Kata anak-anak di sini juga tidak menggunakan kata huios atau nothos tetapi menggunakan kata teknon (τέκνον) yang selain bermakna children (anak-anak), namun juga lebih sering diartikan sebagai descendent, inhabitans (keturunan, penduduk/penghuni/warga). Jadi anak-anaknya disini berarti adalah orang-orang yang mewarisi karakter dari “wanita Izebel” ini. Ketika Tuhan berkata bahwa Ia akan mematikan anak-anak Izebel, maka itu juga bisa bermakna kematian jasmani maupun kematian rohani. Namun demikian, dalam tulisannya lebih lanjut dikatakan bahwa semua jemaat akan mengetahui bahwa Allah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Ia akan membalaskan perbuatan dari setiap orang (ay. 23b).

Dalam bahasa aslinya, kata mengetahui menggunakan kata gnōsontai (γνώσονται) dari akar kata ginóskó (γινώσκω). Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang umum diterjemahkan sebagai kata “tahu”, yaitu kata eidó dan ginóskó. Kata eidó ini lebih bermakna sebagai “tahu karena melihat dengan mata”. Sementara kata ginóskó lebih bermakna sebagai “tahu karena mengalami sendiri”. Itulah sebabnya kata ginóskó juga cukup sering diterjemahkan sebagai “mengenal”, karena membutuhkan suatu pengalaman pribadi terhadap obyek yang dimaksud.

Ketika kata ginóskó ini digunakan di ayat 23 ini, maka kita akan mengerti bahwa jemaat yang dimaksud oleh Tuhan akan mengalami sendiri fakta bagaimana orang-orang yang mewarisi ajaran “wanita Izebel” itu menerima hukuman dari Allah. Ingat bahwa hukuman itu tidak boleh hanya dipandang bahwa mereka akan menerima azab di dunia ini, hidupnya susah, miskin, sakit-sakitan, dan lain sebagainya. Tetapi jemaat akan mengalami sendiri bahwa orang-orang seperti ini tidak memiliki keagungan sebagai anak-anak Allah yang sah. Mereka bisa jadi adalah orang-orang yang sukses, kaya, terhormat di mata manusia, dan sebagainya. Namun dalam pengalaman dan interaksi dengan orang-orang seperti ini, orang percaya yang peka akan suara Tuhan akan mengerti bahwa orang-orang tersebut mungkin sudah memiliki kerohanian yang sudah mati, dan sangat mungkin juga sudah melihat bagaimana nantinya akhir hidup dari orang-orang yang jahat di mata Tuhan.

Memang Allah adalah pribadi yang menguji (memeriksa) batin dan hati orang, dan kedua hal ini cukup sulit untuk dapat dilihat oleh orang lain, khususnya orang yang tidak cukup sering berinteraksi. Namun bagi jemaat yang memang berinteraksi dengan orang-orang ini (karena memang para pengikut “wanita Izebel” ini, maka mereka pasti mengalami banyak momen dimana isi batin dan hati seseorang akan nampak keluar dari perbuatannya maupun perkataannya. Meskipun memang dikatakan Allah menguji batin dan hati orang, tetapi pembalasan Allah adalah terhadap perbuatannya (bukan terhadap iman, yaitu keyakinan dalam pikiran saja).

Jelas bahwa seseorang bisa saja berkata “Oh, saya percaya kepada Yesus kok” atau “Oh saya sih beriman kepada Yesus”. Akan tetapi, membuktikan iman percaya itu dalam perbuatan sehari-hari adalah suatu hal yang sangat sukar. Dan persoalannya adalah Tuhan tidak menghakimi iman (dalam hal ini iman berupa keyakinan pikiran saja), tetapi Ia menghakimi iman yang benar (yaitu iman yang tercermin dalam perbuatan manusia). Betapa menakutkannya jika selama ini kita sudah merasa yakin dan “sok tahu” bahwa kita akan masuk surga hanya karena percaya dalam nalar atau memiliki keyakinan pikiran kita sudah diselamatkan, sedangkan perbuatan hidup kita masih jauh dari kekudusan. Betapa berbahayanya jika tanpa kita sadari ternyata kita pun sudah mengikuti dan mewarisi ajaran “wanita Izebel” itu dan bahkan juga sudah mengajarkannya kepada orang lain. Jika kita tidak bertobat, kita akan dilemparkan ke dalam kesukaran besar, bahkan akan dimatikan oleh Tuhan, sebagai balasan atas perbuatan kita yang jahat di mata-Nya.



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:21-23
2:21 Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya.
2:22 Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.
2:23 Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.

Jumat, 04 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (47): Wanita Izebel yang Menyesatkan Hamba-Hamba Tuhan


Sabtu, 5 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:18-20
Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. (Why 2:20)


Pornos dan Moichos (47): Wanita Izebel yang Menyesatkan Hamba-Hamba Tuhan


Setelah kemarin kita belajar dari jemaat Pergamus, maka hari ini dan setelahnya kita akan belajar dari jemaat di Tiatira. Pesan Tuhan kepada jemaat di Tiatira dimulai dengan tulisan bahwa ini adalah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga (ay. 18). Tuhan tentu tahu segala pekerjaan dan apa yang kita lakukan. Demikian pula dengan jemaat di Tiatira, dimana Tuhan tahu segala pekerjaan mereka, kasih mereka, iman mereka, pelayanan mereka, dan ketekunan mereka (ay. 19a). Dalam hal ini Tuhan tahu bahwa pekerjaan mereka yang terakhir lebih banyak atau lebih besar daripada yang pertama (ay. 19b).

Jelas bahwa jemaat Tiatira ini adalah jemaat yang sangat rajin, karena pekerjaan (ergon/ἔργον) yang mereka lakukan dipuji karena semakin hari pekerjaan mereka semakin banyak atau semakin besar. Ini dapat berarti bahwa mereka mungkin saja punya banyak pekerjaan atau pelayanan di dalam jemaat yang semakin hari semakin bertambah banyak. Apakah ini salah? Dari satu sisi, ini adalah hal yang baik karena dengan demikian ada banyak orang yang dapat menerima pelayanan mereka, baik jemaat maupun orang-orang di luar jemaat. Namun demikian, di sisi lain juga masih ada potensi kemelesetan karena mereka hanya fokus pada apa yang kelihatan dan terlihat baik dari luar tanpa memperhatikan apa yang ada di dalam.

Meskipun dalam hal pekerjaan dan pelayanan ini jemaat Tiatira patut menerima pujian, namun ternyata Tuhan juga mencela mereka, karena mereka membiarkan wanita Izebel untuk mengajar dan menyesatkan hamba-hamba Tuhan (ay. 20). Karena kitab Wahyu ini penuh dengan simbol-simbol, maka untuk mengerti dengan lebih dalam lagi maka kita harus menyelidiki apa yang dimaksud dengan wanita Izebel di dalam ayat ini. Kita juga harus menyelidiki mengapa wanita Izebel ini berbahaya dan apa yang dilakukan oleh wanita Izebel ini terhadap jemaat Tuhan.

Kata Izebel (Iezabel/ Ἰεζάβελ) ini hanya muncul satu kali dalam Alkitab Perjanjian Baru yaitu di ayat 20 ini. Jika merujuk pada Perjanjian Lama, kita akan mengerti bahwa Izebel ini adalah istri raja Ahab (1 Raj 16:31). Izebel adalah wanita yang sangat jahat, bahkan mungkin salah satu yang terjahat yang tercatat dalam Alkitab. Setidaknya Alkitab mencatat bagaimana Izebel membujuk Ahab untuk menyembah dewa-dewa lain (1 Raj 16:31), bagaimana Izebel membunuhi nabi-nabi Tuhan (1 Raj 18:4 & 13), bagaimana Izebel mengancam akan membunuh Elia hingga Elia takut (1 Raj 19:2-3), dan bagaimana Izebel merancang pembunuhan Nabot hanya supaya Ahab dapat menikmati kebun anggurnya (1 Raj 21:5-16).

Jelaslah jika Tuhan menggunakan istilah “wanita Izebel” dalam pesan kepada jemaat di Tiatira, maka ada suatu masalah yang luar biasa yang mengancam iman jemaat tersebut. Alkitab menulis bahwa apa yang diajarkan oleh wanita Izebel ini adalah supaya hamba-hamba Tuhan berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala (ay. 20b). Sebenarnya apa yang dilakukan Izebel ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh Bileam, karena mempengaruhi jemaat untuk berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala (bandingkan dengan Why 2:14). Kata “zinah” di ayat 20 ini menggunakan kata porneusai (πορνεῦσαι) dari akar kata porneuó (πορνεύω), kata yang sama persis dengan yang digunakan di ayat 14. Hal ini bisa merujuk kepada perzinahan jasmani maupun perzinahan rohani.

Namun jika mau jujur, menurut pendapat saya “ajaran wanita Izebel” di jemaat Tiatira ini jauh lebih berbahaya daripada “ajaran Bileam” di jemaat Pergamus. Mengapa saya berkata demikian?

Pertama, dari target penyesatannya. Pada jemaat Pergamus, ajaran Bileam “hanya” menargetkan jemaat untuk mengikuti ajaran tersebut. Namun pada jemaat Tiatira, wanita Izebel ini menyebut dirinya sebagai nabiah (nabi perempuan) dan kemudian mengajar dan meyesatkan hamba-hamba Tuhan. Walaupun sebenarnya semua orang percaya juga adalah hamba Tuhan, tetapi dalam konteks ayat ini kata hamba-hamba (doulos/δοῦλος) lebih merujuk kepada orang-orang yang memegang posisi tertentu dalam jemaat. Bayangkan adanya 2 musuh, yang satu mengincar orang biasa tetapi yang satu mengincar para pemimpin, jelas bahwa musuh yang mengincar atau menargetkan para pemimpin adalah jauh lebih berbahaya.

Kedua, dari dampaknya terhadap jemaat. Pada jemaat Pergamus, ajaran Bileam ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam ini. Beberapa orang itu saja sudah cukup memberi pengaruh negatif kepada jemaat. Bayangkan jika di jemaat Tiatira, justru hamba-hamba Tuhan yang seharusnya menyampaikan kebenaran tetapi justru mereka sudah terkontaminasi dengan “wanita Izebel”. Kira-kira pengajaran macam apa yang akan disampaikan oleh para hamba-hamba Tuhan kepada jemaat? Dampak dari penyesatan ini sudah sangat masif dan berbahaya bagi jemaat Tuhan.

Ketiga, dari dampaknya terhadap para pemimpin jemaat. Karena target penyesatan “wanita Izebel” ini adalah para hamba-hamba Tuhan yang notabene adalah pemimpin jemaat, maka kita akan melihat  bagaimana jemaat Tiatira membiarkan wanita Izebel ini mengajar dan menyesatkan. Kira-kira, mungkinkah jemaat biasa memiliki wewenang untuk membiarkan wanita Izebel ini menyesatkan? Bukankah yang seharusnya memiliki wewenang adalah para pemimpin jemaat? Kita dapat melihat bagaimana para pemimpin yang sudah terkontaminasi ajaran wanita Izebel ini pada akhirnya membiarkan ajaran itu dalam pengajaran yang kemudian menyesatkan hamba-hamba Tuhan dan tentunya juga jemaat Tuhan.

Kata “membiarkan” dalam ayat 20 ini menggunakan kata aphiémi (ἀφίημι), yang dapat berarti “to send away, to let go, to release, to permit, to tolerate” (mengutus, melepaskan, membiarkan, mengizinkan, membolehkan, mentolerir). Jadi hamba-hamba Tuhan di jemaat Tiatira tentu sudah mengerti standar kebenaran, tetapi pada akhirnya mereka membiarkan dan menoleransi ajaran wanita Izebel ini masuk ke dalam jemaat. Kita telah membahas dalam renungan hari sebelumnya bahwa ajaran Bileam kemungkinan besar merujuk kepada percintaan dunia dan juga hawa nafsu. Ini berarti bahwa ajaran “wanita Izebel” juga memiliki kemiripan, tetapi dengan dosis atau dampak yang lebih besar lagi karena dapat mempengaruhi hamba-hamba Tuhan.

Jika boleh mengibaratkan dan menganalogikan, jika ajaran Bileam mengajarkan jemaat untuk cinta uang, mencari uang dengan sebanyak-banyaknya supaya kaya, bahkan jika perlu melakukan tindakan yang melawan hukum, maka ajaran “wanita Izebel” jauh lebih dahsyat dari itu. Ajaran “wanita Izebel” yang ditujukan kepada hamba-hamba Tuhan mungkin adalah percintaan dunia dengan barang-barang bermerek, keterikatan dengan rumah, mobil, dan perhiasan (kalau tidak menggunakan mobil merek ini dan tipe ini, atau menggunakan jam tangan merk ini maka ada sesuatu yang kurang). Ajaran “wanita Izebel” mungkin juga akan nampak dalam keserakahan dan ketamakan, sehingga hamba-hamba Tuhan menuntut jemaat untuk memberikan persembahan lebih banyak, bahkan mengadakan banyak jam-jam ibadah supaya dengan demikian semakin banyak kolekte yang masuk, atau mungkin mengadakan perbedaan antara orang-orang yang rajin memberi persembahan (antara lain persembahan persepuluhan) kepada pendeta dan yang bukan, dan mendorong orang-orang berlomba-lomba untuk memberi lebih banyak supaya dapat memperoleh tempat istimewa di hati pendeta.

Saya yakin bahwa hamba-hamba Tuhan di kota Tiatira bukannya tidak mengerti bahwa hal itu salah, tetapi mereka sudah terikat dan tidak dapat melepaskan diri dari ikatan tersebut. Lebih bahaya lagi jika ajaran “wanita Izebel” ini menyerang istri-istri pendeta sehingga para pendeta mau tidak mau harus menyampaikan ajaran ini supaya dapat memuaskan gaya hidup istri-istri pendeta. Hal ini sangat mungkin dapat terjadi karena pada kenyataannya, di dalam Perjanjian Lama Izebel pun mempengaruhi raja Ahab (yang merupakan pemimpin umat Israel) dan membuat Ahab mengambil banyak keputusan yang salah, bahkan hingga mengorbankan nyawa rakyatnya sendiri. Raja Ahab yang seharusnya melindungi rakyatnya justru membiarkan rakyatnya mati hanya karena hasutan Izebel yang ada di sampingnya.

Karena ketujuh jemaat di kitab Wahyu adalah gambaran mengenai jemaat Tuhan di segala tempat dan waktu hingga saat ini, jadi sangatlah mungkin kalau ada beberapa jemaat Tuhan yang mengalami tantangan seperti ini. Iblis mungkin tidak menyerang jemaat secara langsung, tetapi mencoba menyerang jemaat dengan menguasai para pemimpinnya. Betapa berbahayanya jika hal ini terjadi. Jika sampai hamba-hamba Tuhan didapati tersesat oleh pengajaran “wanita Izebel” tersebut, maka jemaat tersebut sebenarnya sudah berada di ambang kehancuran.



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:18-20
2:18 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga:
2:19 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.
2:20 Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

Pornos dan Moichos (46): Keberatan Tuhan kepada Jemaat-Nya


Jumat, 4 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Wahyu 2:12-16
Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. (Why 2:14)


Pornos dan Moichos (46): Keberatan Tuhan kepada Jemaat-Nya


Jika kita bekerja di suatu perusahaan atau kantor, kita tentu mempunyai seorang atasan atau bos. Pernahkah kita mendapat suatu keberatan dari bos kita? Tentu keberatan yang disampaikan pasti terkait dengan kesalahan atau kemelesetan yang kita lakukan di pandangan bos kita tersebut. Jika sampai ada bos yang menyampaikan keberatan kepada kita, sesungguhnya bos itu adalah bos yang baik, karena ia tidak langsung menghukum dan memecat kita ketika kita melakukan kesalahan. Bos kita itu masih mengingatkan kita dan menyampaikan keberatan sebelum kita benar-benar melakukan kesalahan yang lebih fatal lagi.

Demikian juga dengan Tuhan. Jika kita memandang Tuhan sebagai majikan kita, maka kita harus siap menerima keberatan dari Tuhan ketika kita melakukan hal yang salah, atau bahkan ketika kita baru akan melakukan hal yang salah. Hendaknya keberatan dari Tuhan itu tidak dipandang sebagai suatu hukuman atau suatu kebencian dari-Nya kepada kita. Justru tingkatan dari keberatan itu masih berada di bawah teguran, karena ia belum sampai menegur kita tetapi baru menyampaikan keberatan-Nya kepada kita. Itu adalah semacam peringatan dini dari-Nya sebelum kita sampai melakukan kesalahan atau dosa yang lebih fatal lagi.

Hari ini kita akan belajar bagaimana Tuhan pun memiliki keberatan kepada salah satu jemaat yang tercatat di kitab Wahyu, yaitu jemaat di kota Pergamus. Sebagai salah satu dari tujuh jemaat yang disebutkan dalam kitab Wahyu, secara umum kita dapat melihat kondisi kota Pergamus yang cukup “berbahaya” bagi orang percaya pada waktu itu. Dikatakan bahwa jemaat Pergamus seakan-akan tinggal di tempat tahta Iblis, atau tempat dimana  iblis diam (ay. 13a & 13d). Bahkan Tuhan digambarkan sebagai sosok yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua (ay. 12). Ini menunjukkan bahwa jemaat Pergamus menghadapi tantangan yang tidak mudah, karena mereka harus berhadapan langsung untuk melawan kuasa kegelapan.

Salah satu tantangan yang dihadapi mereka antara lain adalah aniaya, dimana salah satu hamba-Nya yang bernama Antipas, dibunuh di hadapan jemaat (ay. 13c). Ini merujuk pada tindakan Iblis yang mencoba untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan kekristenan di kota tersebut, antara lain dengan membunuh para pemimpin jemaat pada waktu itu. Namun demikian, di tengah tantangan aniaya yang begitu hebat, jemaat Pergamus tetap diberi pujian dari Tuhan karena mereka tidak menyangkal iman mereka kepada Tuhan (ay. 13b).

Namun demikian, Tuhan ternyata memiliki beberapa keberatan terhadap jemaat Pergamus ini (ay. 14a). Keberatan Tuhan yang dimaksud antara lain adalah karena ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam (ay. 14b). Apakah ajaran Bileam itu? Jika kita membaca kisah dalam Perjanjian Lama, kita akan melihat bagaimana Bileam adalah seorang yang memiliki “karunia” untuk memberkati dan mengutuk orang lain (Bil 22:6). Sebenarnya jika kita teliti membaca ayat di kitab Bilangan, memang Bileam memiliki suatu hubungan yang spesial dengan Allah (Elohim Yahweh) (Bil 22:7-20). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Allah tidak hanya berurusan dengan bangsa Israel saja tetapi juga dapat berurusan dengan orang lain di luar orang Israel. Kita juga melihat bahwa pada akhirnya Bileam tidak jadi mengutuki bangsa Israel tetapi pada akhirnya memberkati mereka. Bileam tidak lagi peduli akan upah tenung yang besar yang dijanjikan Balak kepadanya.

Tetapi dalam perjalanannya ketika hendak bertemu dengan Balak, ada satu peristiwa di mana Allah sempat murka kepada Bileam (Bil 22:22). Alkitab memang tidak menceritakan dengan rinci mengenai hal ini, tetapi ada kemungkinan bahwa Bileam berubah hatinya ketika ia sedang dalam perjalanan untuk menemui  Balak. Meskipun awalnya Bileam sudah bertekad bahwa ia hanya akan mengatakan apa yang Allah firmankan (Bil 22:20), tetapi  mungkin saja ketika ia pergi bersama-sama dengan pemuka Moab yaitu utusan Balak, hatinya mulai goyah dan mulai memikirkan upah yang besar yang dapat ia terima. Ketika hatinya sudah mulai serong, untungnya Allah masih memperingatkan dan menegurnya, sehingga ia pun bertobat dan tidak mengutuk bangsa Israel.

Kemungkinan hal inilah yang dipersoalkan dalam ayat 14 ini, dimana Bileam (sebelum ia bertobat) sempat memberi nasehat kepada Balak untuk menyesatkan orang Isreal (ay. 14c). Sebenarnya kata “ajaran” di ayat ini menggunakan kata didaché (διδαχή) dan kata “memberi nasehat” menggunakan kata didaskó (διδάσκω) yang merupakan dua kata yang memiliki makna yang hampir sama, hanya berbeda jenis katanya saja. Saya pikir kita tidak perlu terlalu lama membahas Bileam dan Balak, tetapi kita harus menyadari bahwa yang lebih penting lagi adalah bagaimana adanya suatu nasehat/ajaran yang salah, yang diajarkan oleh orang-orang yang tidak mengerti, sehingga orang yang menerima ajaran itu menjadi tersesat. Dalam hal ini contoh kesesatan yang digunakan adalah supaya orang Israel makan persembahan berhala dan berbuat zinah (kemungkinan berhala yang dimaksud adalah berhala orang Moab dan supaya orang Israel berzinah/kawin dengan orang-orang Moab) (ay. 14d).

Dalam Bahasa aslinya, kata berzinah di sini adalah kata porneusai (πορνεῦσαι) dari akar kata porneuó (πορνεύω). Meskipun kata porneuó ini dapat bermakna perzinahan secara harafiah (berzinah secara fisik), seperti yang tertulis dalam kitab 1 Korintus (1 Kor 6:18, 1 Kor 10:8), tetapi kata ini juga dapat bermakna sebagai suatu perzinahan rohani, yang dicontohkan umat Israel ketika mereka menyembah dewa-dewa Moab (meskipun harus diakui bahwa sangat mungkin penyembahan berhala itu dimulai dari perzinahan antara umat Israel dengan bangsa Moab, yang ujung-ujungnya membawa hati umat Israel condong untuk menyembah dewa-dewa Moab dan dewa lainnya).

Dalam ayat selanjutnya, dapat dilihat bahwa kalimat “orang-orang yang menganut ajaran Bileam” itu adalah gambaran dari orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus (ay. 15). Siapakah Nikolaus ini? Saya sendiri belum mendapatkan jawaban pasti mengenai apakah ajaran dari “sekte” Nikolaus ini meskipun di internet cukup banyak beredar informasi mengenai hal tersebut. Hal ini disebabkan saya masih belum tahu pasti mana penjelasan yang benar (atau minimal bisa dianggap benar) terkait ajaran Nikolaus ini. Namun karena kata ini digunakan juga dalam tulisan kepada jemaat di Efesus, maka kemungkinan besar ajaran Nikolaus ini sudah beredar cukup luas di kalangan jemaat pada waktu itu (Why 2:6). Yang jelas ajaran Nikolaus ini adalah ajaran sesat yang dibenci oleh Tuhan (Why 2:6), sehingga cukup memalukan jika ada jemaat di kota Pergamus yang masih memegang ajaran Nikolaus ini.

Mengingat kitab Wahyu adalah kitab yang penuh dengan simbol, maka kita tidak dapat meyakini dengan pasti apa yang dimaksudkan oleh Yohanes mengenai ajaran Nikolaus ini. Namun demikian, karena sebenarnya jemaat Pergamus dan 6 jemaat lainnya merupakan penggambaran jemaat Tuhan yang ada di seluruh dunia, maka bisa jadi “ajaran Nikolaus” ini juga dialami oleh sekelompok jemaat Tuhan. Jika ciri-ciri ajaran Nikolaus hampir sama dengan ajaran Bileam, maka bisa disimpulkan bahwa ajaran Nikolaus tersebut membawa jemaat Tuhan untuk mencintai “obyek lain” dan mengajak melakukan perzinahan (bisa perzinahan jasmani maupun perzinahan rohani).

Sangat besar kemungkinan bahwa “obyek lain” yang dimaksud ini adalah dunia dengan segala keindahannya. Iblis mencoba untuk merayu orang percaya supaya tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati tetapi membuat mereka terpikat dengan percintaan dunia. Tidak hanya kekayaan dan keindahan dunia (dalam hal ini harta maupun kedudukan) yang digunakan, tetapi juga sangat mungkin adalah pemuasan hawa nafsu seksual. Hal ini sangat mungkin digunakan iblis karena jika jemaat sudah terpikat oleh godaan hawa nafsu seksual, maka mereka dapat dikatakan sudah berzinah secara jasmani dan selangkah lagi untuk berzinah secara rohani.

Oleh karena itu, Tuhan berkata kepada jemaat Pergamus: “Bertobatlah!” dengan menggunakan tanda seru (!). Memang di dalam pesan kepda keenam jemaat lainnya, ada juga penggunaan kata “bertobat” dan juga penggunaan tanda seru. Namun dengan kata perintah yang sangat singkat (Sebab itu bertobatlah!), hendaknya kita dapat belajar satu hal bahwa apa yang dilakukan oleh jemaat Pergamus itu tidak disukai oleh Tuhan. Pertobatan yang dimaksud adalah pertobatan pikiran atau pertobatan pola pikir (metanoeó/μετανοέω). Semua pertobatan harus dimulai dari pikiran, karena jika pikiran seseorang masih belum diubah, maka pertobatan secara tindakan itu hanyalah suatu pertobatan yang semu dan sangat mudah untuk kembali kepada dosa yang dilakukan.

Jika tidak ada pertobatan, maka Tuhan berkata bahwa Dia akan segera datang kepada mereka (ay. 16b). Menurut saya ayat ini tidak berbicara tentang kedatangan-Nya yang kedua kali, melainkan lebih kepada kehadiran-Nya yang akan menjadi “lawan” bagi orang-orang yang hidupnya tidak benar. Bahkan kepada mereka yang menjadi musuh Allah (karena mencintai dunia dengan segala keindahannya), maka Tuhan akan memerangi mereka pedang yang ada di mulut-Nya (ay. 16c). Dalam banyak ayat di kitab lain selain Wahyu, kata “pedang” menggunakan kata machaira (μάχαιρα) yang pada umumnya memiliki makna sebagai “a short sword, dagger” pedang pendek, belati, yang umum digunakan untuk menusuk. Namun di kitab Wahyu, kata “pedang” hanya menggunakan satu kata yaitu rhomphaia (ῥομφαία) yang pada umumnya memiliki makna “a sword, scimitar” pedang, pedang yang melengkung yang umum digunakan pada masyarakat timur tengah, yang pada umumnya digunakan untuk menebas dan memotong (walaupun bisa juga digunakan untuk menusuk).

Kata pedang ini sangat mungkin menunjukkan suatu hukuman dari Tuhan, seperti yang umum digunakan di dalam kitab Wahyu (Bandingkan dengan Why 6:8, Why 19:15, Why 19:21). Oleh karena itu, kedatangan Tuhan yang dimaksud di ayat 16 ini sungguh menakutkan. Kita sebagai orang Kristen yang normal tentu rindu melihat Tuhan datang di dalam ibadah kita, Tuhan datang di dalam gereja, bahkan Tuhan datang di rumah dan di hati kita. Tetapi jika Tuhan datang sebagai musuh yang akan memerangi kita dengan pedang dari mulut-Nya. Oleh karena itu jagalah diri kita dan bertobatlah selagi masih ada kesempatan. Jika Tuhan masih menyampaikan keberatan-Nya kepada kita, maka biarlah kita dengar-dengaran dan segera menginstropeksi diri kita dengan benar. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan sehingga kita sampai pada tahap dimana tidak dapat diubah lagi. Jika sampai kita menjadi musuh Allah, siapakah yang akan mampu menyelamatkan kita dari murka-Nya yang dahsyat?



Bacaan Alkitab: Wahyu 2:12-16
2:12 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:
2:13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.
2:14 Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.
2:15 Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.
2:16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.

Kamis, 03 Oktober 2019

Pornos dan Moichos (45): Belajar dari Sodom dan Gomora


Kamis, 3 Oktober 2019
Bacaan Alkitab: Yudas 1:3-7
Sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. (Yud 1:7)


Pornos dan Moichos (45): Belajar dari Sodom dan Gomora


Ada banyak kejadian percabulan yang ditulis dalam Alkitab, baik yang melibatkan orang-orang awam hingga orang-orang yang terpandang seperti pemimpin umat, raja, dan lain sebagainya. Namun saya rasa tidak ada kisah yang lebih dramatis selain apa yang terjadi di kota Sodom dan Gomora. Begitu parahnya praktik percabulan di kota Sodom dan Gomora sehingga pada akhirnya kedua kota tersebut dihukum Tuhan dengan cara yang tidak terbayangkan oleh manusia. Begitu parahnya praktik percabulan di sana sehingga nama kota tersebut dijadikan menjadi nama salah satu praktik homoseksual, yaitu sodomi.

Semua kisah mengenai percabulan, orang yang melakukannya, dalam beberapa hal juga latar belakang kejadian, serta hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang tersebut yang tercatat di dalam Alkitab, seharusnya menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita semua supaya kita jangan sampai melakukan kesalahan di hadapan-Nya supaya kita jangan sampai menerima murka-Nya. Dalam kitab ini Yudas (yang bukan Yudas Iskariot tetapi Yudas saudara Yakobus) menulis kepada para pembaca (yaitu jemaat Tuhan) mengenai keselamatan (ay. 3a).

Jelas bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya untuk dapat mengenakan hidup yang berkualitas karena kehadiran Yesus Kristus di dalam hidup orang percaya. Keselamatan apa yang hendak ditekankan oleh Yudas dalam suratnya yang singkat ini? Yudas menulis dan menasehati jemaat supaya mereka tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus, yaitu orang-orang percaya (ay. 3b). Apakah dengan demikian maka keselamatan bisa hilang?

Jika memandang keselamatan sebagai suatu anugerah, tentu kita akan dapat mengerti bahwa manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dengan usahanya sendiri, dengan perbuatan baik sebaik apapun. Manusia hanya bisa diselamatkan melalui anugerah Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib yang menebus dosa dunia. Oleh karena itu, memang tidak ada keselamatan di luar Tuhan Yesus Kristus. Akan tetapi, karena keselamatan adalah anugerah, maka perlu ada respon yang memadai dari manusia yang menerima anugerah. Kalau Tuhan sudah memberikan keselamatan, bukan berarti kita kemudian berdiam diri dan berkata “Yes, saya sudah selamat, jadi saya bebas melakukan apapun dan saya pasti tetap selamat”. Keselamatan adalah suatu hal yang progresif, yang harus dipertahankan dengan penuh perjuangan dalam hidup kita masing-masing. Salah satu contoh yang diberikan kepada jemaat mula-mula adalah ketika mereka terancam aniaya, apakah mereka tetap berjuang sampai akhir atau “menyerah di tengah jalan”.

Salah satu hal yang berbahaya adalah adanya orang-orang tertentu yang menyelusup di tengah-tengah jemaat (ay. 4a). Inilah guru-guru palsu atau saudara-saudara palsu yang membuat orang percaya tidak dapat bertumbuh dalam iman yang benar. Mereka akan mempengaruhi orang percaya sehingga mereka yang tidak bertumbuh akan dapat terseret ke dalam hukuman Allah. Mereka adalah kelompok orang-orang yang sudah disiapkan hukuman oleh Tuhan (ay. 4b). Ciri-ciri kelompok orang ini adalah mereka yang disebut sebagai orang fasik, yaitu mereka yang menyalahgunakan kasih karunia Allah (ay. 4c). Apakah kasih karunia dapat disalahgunakan? Apakah itu berarti kasih karunia Allah tidak sempurna?

Tentu anugerah dan kasih karunia Allah adalah anugerah dan kasih karunia yang sempurna. Namun anugerah itu memerlukan iman yang sempurna juga untuk meresponinya. Ibarat beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa dimana semua biaya kuliah, biaya hidup, dan lain sebagainya sudah diberikan secara penuh kepada mahasiswa tersebut. Bukan berarti si mahasiswa pasti akan lulus karena beasiswa yang diberikan, tetapi perlu ada respon yang memadai dari mahasiswa itu untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan setiap mata kuliah hingga akhir sehingga beasiswa itu dapat terealisasi dengan sempurna dalam hidupnya. Apakah beasiswa itu bisa disalahgunakan? Tentu bisa, dimana uang yang diberikan bisa dipakai untuk hal-hal yang tidak benar, misal untuk berfoya-foya atau untuk dibelikan narkoba.

Dalam analogi di atas, siapakah yang salah ketika mahasiswa yang mendapat beasiswa penuh namun ternyata gagal dalam studinya? Apakah beasiswanya yang salah, pemberi beasiswanya yang salah, atau mahasiswanya yang salah? Kesalahan dalam contoh di atas terjadi karena adanya “penyalahgunaan” atas anugerah atau kasih karunia yang diberikan. Oleh karena itu pantas bahwa mereka disebut sebagai orang-orang yang fasik karena mereka melampiaskan hawa nafsu mereka dan dengan demikian menyangkal Tuhan Yesus Kristus (ay. 4d). Ini berbicara mengenai bagaimana orang fasik tersebut tidak mengendalikan hawa nafsu mereka dan dengan demikian menjadikan hawa nafsu mereka sebagai “Tuhan” mereka dan dengan demikian menyangkal Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Tetapi walaupun sebenarnya jemaat Tuhan sudah mengetahui semuanya itu (melalui khotbah dan pengajaran para rasul dan pemimpin jemaan) dan tentu tidak meragukannya lagi, Yudas kembali mengingatkan mengenai prinsip keselamatan sekali lagi. Dalam hal ini, Yudas memberi contoh bagaimana Tuhan menyelamatkan umat Israel dari tanah Mesir, tetapi pada akhirnya mereka yang tidak percaya akan binasa (ay. 5). Lalu apakah hubungan dari keselamatan dengan iman percaya? Bukankah jika Allah memberi anugerah keselamatan maka orang yang diberi anugerah pasti percaya kepada-Nya?

Dalam hal ini kita harus mengerti benar makna kata percaya yang sama sekali tidak sederhana. Tingkat percaya yang benar adalah percaya yang ditunjukkan melalui hidup kita yang berbuah. Tidak mungkin orang bisa berkata “Saya percaya kok kepada Tuhan Yesus, sehingga saya percaya sudah menerima keselamatan” tetapi hidupnya masih terus hidup di dalam dosa. Jika orang mengaku percaya, ia harus menunjukkan percayanya tersebut dalam hidupnya dengan buah-buah pertobatan dan buah Roh yang nyata dan dapat dinikmati sesama terlebih dinikmati Tuhan. Jangan seperti orang Israel yang ketika diselamatkan dari tanah Mesir memuji Tuhan tetapi ketika berjalan di padang gurun justru menyembah patung dewa lain dan mengkhianati Tuhan sebagai bukti ketidakpercayaan mereka. Hidup ini adalah pembuktian apakah kita dapat mempertahankan iman percaya kita sampai akhir, ataukah kita akhirnya akan gugur di tengah jalan.

Dalam hal ini Yudas memberi contoh yaitu malaikat-malaikat yang tidak taat terhadap batas kekusasaan mereka dan meninggalkan tempat kediaman mereka (ay. 6a). Ini kemungkinan merujuk ketika ada malaikat-malaikat yang jatuh karena mengikuti pemberontakan iblis/lucifer. Dalam ayat lain juga dikatakan bahwa malaikat pun bisa didapati tersesat (Ayb 4:18). Dan kepada malaikat-malaikat yang tersesat dan dengan demikian menunjukkan ketidakpercayaan mereka atas pemerintahan Allah, maka Tuhan pun menyiapkan hukuman bagi mereka berupa belenggu abadi dalam dunia kekelaman hingga pada datangnya hari penghakiman tersebut (ay. 6b).

Contoh lain yang disampaikan oleh Yudas adalah mengenai penduduk kota Sodom dan Gomora yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan yang tidak wajar, dimana mereka pada akhirnya dihukum dengan siksaan api kekal sebagai peringatan bagi orang-orang (ay. 7). Perhatikan frasa “dengan cara yang sama”, di mana hal ini menunjukkan contoh yang sama atas ketidakpercayaan yang mendatangkan hukuman, sama seperti orang Israel yang berguguran di tengah padang gurun, maupun malaikat yang akhirnya jatuh dan tersesat.

Apakah yang dilakukan oleh para penduduk Sodom dan Gomora? Ayat 7 ini menunjukkan dosa mereka yaitu melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar (ay. 7a). Kata percabulan dalam hal ini adalah ekporneuó (ἐκπορνεύω) yang berarti menyerahkan diri mereka sendiri kepada percabulan. Untuk dapat mengerti kata ini, kita perlu melihat contoh lain yaitu mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar. Tentu ayat ini merujuk kepada tindakan amoral yang tidak wajar pada masa itu, yaitu melakukan hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki. Hal ini terlihat jelas dalam perikop mengenai Sodom dan Gomora, dimana mereka ingin “memperkosa” malaikat Tuhan yang datang ke kota Sodom dan Gomora untuk menyelamatkan Lot (Kej 19:1-29). Betapa sudah rusaknya moral Sodom dan Gomora, dan suka atau tidak suka, hal itu mempengaruhi pemikiran orang-orang yang tinggal di sana termasuk anak-anak perempuan Lot yang akhirnya tidur dan mempunyai anak dengan ayahnya sendiri.

Berbicara tentang kepuasan seksual, tentu ada kepuasan seksual yang kudus, yaitu di dalam hubungan seksual antara suami dan istri yang diberkati Tuhan. Di luar itu adalah kepuasan seksual yang tidak wajar. Dewasa ini ada banyak berita mengenai hubungan seksual yang tidak wajar, antara lain: melakukan hubungan seksual dengan orang lain (di luar suami/istri yang sah), melakukan hubungan seksual sesama jenis, melakukan hubungan seksual dengan orang sedarah (kakak-adik, orang tua-anak), dan lain sebagainya yang tidak pantas disebutkan di sini. Betapa berbahayanya jika kita terikat akan hal yang salah dan terus mengejar hal yang salah itu.

Ingat bahwa para penduduk kota Sodom dan Gomora pada akhirnya menerima hukuman Allah. Tidak hanya nanti pada saat penghakiman akhir, tetapi mereka juga sudah menerima hukuman ketika di bumi ini karena tindakan dan kelakuan mereka yang sangat jahat. Ketika Alkitab menulis mengenai hukuman yang tidak wajar yang diterima oleh orang-orang tertentu, hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa dosa-dosa mereka adalah di luar batas kewajaran dalam konteks masyarakat pada zaman tersebut. Kita dapat melihat hukuman Allah atas manusia pada zaman Nuh yang mati karena air bah, hukuman atas penduduk Sodom dan Gomora, hukuman atas Korah, Datan, dan Abiram, termasuk hukuman kepada Raja Herodes serta Ananias dan Safira. Sebenarnya semua hukuman tersebut memiliki maksud yang baik yaitu supaya orang lain yang melihatnya memiliki kesempatan untuk bertobat.

Menjadi persoalan sekarang ini ketika seakan-akan Tuhan diam dan tidak menghukum orang-orang yang melakukan dosa. Kita melihat bagaimana di sejumlah negara praktik homoseksual menjadi sesuatu yang wajar bahkan dilegalkan secara hukum sebagai bagian dari “hak asasi manusia”. Akan tetapi kita melihat justru negara-negara tersebut seakan-akan tidak ada masalah dan malah bertambah makmur dan maju. Hal ini bukan berarti bahwa Tuhan tidak bekerja. Justru kita tidak boleh terlena dengan kondisi ini dan berpendapat bahwa “Oh, berarti kalau tidak ada hukuman Tuhan, maka itu adalah hal yang benar ya”. Kita harus cukup belajar dari Alkitab mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Contoh-contoh dalam Alkitab sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan apa yang salah dan apa yang benar. Tidak perlu lagi berbagai alasan untuk membenarkan diri.

Ketika kita diingatkan menganai respon manusia terhadap anugerah keselamatan, serta bagaimana contoh kesalahan manusia dan hukuman yang diterima mereka, maka cukuplah itu menjadi peringatan bagi kita. Tidak perlu kita mengerti bahaya narkoba dengan mencoba menggunakan narkoba. Cukuplah kita belajar dari orang-orang di masa lalu maupun orang-orang di sekitar kita, di mana Tuhan akan menuntun kita dan mengingatkan kita supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Tidak perlu iri terhadap orang fasik yang sepertinya mujur, karena di balik itu semua, masih ada satu penghakiman lagi yang maha adil, dimana setiap kita akan menerima upah kita atas kehidupan kita, entah baik maupun jahat.



Bacaan Alkitab: Yudas 1:-7
1:3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
1:4 Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.
1:5 Tetapi, sekalipun kamu telah mengetahui semuanya itu dan tidak meragukannya lagi, aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya.
1:6 Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar,
1:7 sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.