Jumat, 21 Februari 2020

Pornos dan Moichos (56): Tidak Dapat Masuk ke dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru

Jumat, 21 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 21:1-8
Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua. (Why 21:8)


Pornos dan Moichos (56): Tidak Dapat Masuk ke dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru


Dalam bagian akhir dari kitab Wahyu, kita menemukan dua istilah yang seharusnya dipahami oleh semua orang percaya, karena ini adalah tujuan akhir dari pengiringan kita terhadap Tuhan, yaitu: 1) Langit yang baru dan bumi yang baru; serta 2) Yerusalem baru. Mengapa harus ada langit dan bumi yang baru? Jawabannya sederhana: Karena langit dan bumi yang pertama (yang diciptakan Allah sebagaimana tercatat dalam kitab Kejadian) harus dihancurkan akibat dosa manusia (ay. 1). Meskipun langit dan bumi yang pertama harus dihancurkan, tetapi Tuhan menyediakan langit dan bumi yang baru untuk ditempati oleh orang-orang yang mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya.

Di dalam langit dan bumi yang baru ini juga ada Yerusalem baru, suatu kota yang turun dari surga, dari Allah, sebagai suatu “pusat pemerintahan” kerajaan Allah (ay. 2-3). Salah satu ciri dari langit dan bumi yang baru adalah bahwa di sana tidak akan lagi dukacita dan tidak ada lagi kematian (ay. 4). Tidak ada dukacita di sini adlaah dukacita akibat kematian orang-orang yang kita kasihi, serta dukacita karena orang-orang yang berbuat dosa. Karena dosa tidak ada lagi di langit dan bumi yang baru, maka tidak ada lagi orang yang jahat, pembunuh, pencuri, dan lain sebagainya. Inilah dunia yang ideal sebagaimana yang hendak Allah ciptakan bagi manusia pada awalnya (sebelum manusia jatuh ke dalam dosa).

Siapa yang membuat langit dan bumi yang baru? Tentu yang membuat adalah Allah sendiri. Dalam hal ini Tuhan Yesus sebagai Anak Allah juga memiliki peran untuk mempersiapkannya, sebagai tempat bagi orang percaya (ay. 5, bandingkan dengan Yoh 14:2-3). Saya sendiri lebih cenderung berpendapat bahwa Tuhan Yesus sebagai Allah Anak yang akan menyiapkannya, mengingat ada istilah “Alfa dan Omega” (Why 1:8) serta kalimat “memberi minum dari Air Kehidupan” (bandingkan dengan Yoh 4:10-14, Yoh 7:37) pada ayat selanjutnya (ay. 6). Namun sebenarnya itu bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan antar gereja. Justru yang terpenting adalah kepastian bahwa akan ada langit dan bumi yang baru yang disediakan Allah bagi kita, dan kita pun harus berjuang supaya dapat diperkenankan masuk ke sana dan tidak ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat 7:21-23).

Perhatikan kata “barangsiapa menang” sebagai syarat untuk memperoleh semua janji ini dan syarat untuk menjadi anak Allah (ay. 7). Istilah “barangsiapa menang” juga ada pada surat kepada 7 jemaat di kitab Wahyu. Ini menunjukkan bahwa adanya suatu perjuangan dan pertandingan yang harus kita menangkan. Itulah pertandingan kehidupan dimana masing-masing dari kita harus mampu menang di dalam hidup kita. Menang atas dosa, menang atas godaan, menang atas segala hal yang tidak berkenan di hadapan Allah. Tuhan Yesus sudah menang ketika Ia berhasil taat hingga akhir, bahkan hingga mati di atas kayu salib. Saatnya kita juga harus berjuang sampai akhir supaya kita dapat menang. Tentu Allah akan membantu kita untuk menang dengan Roh Kudusnya, tetapi ada bagian kita yang harus kita lakukan.

Jika ayat 7 berbicara tentang syarat untuk memperoleh hak masuk ke dalam langit yang baru dan bumi yang baru, maka ayat selanjutnya berbicara tentang “syarat minimal” untuk masuk ke dalamnya yang ditulis dengan contoh-contoh yang praktis. Mengapa saya menyebut ini sebagai syarat minimal? Karena jika kita mengaku diri sebagai orang Kristen, tentu kita harus memiliki standar hidup yang jauh lebih tinggi dan lebih agung. Syarat-syarat di ayat 8 ini hanyalah “syarat minimal” yang harus dimiliki oleh orang-orang yang berhak masuk ke dalam langit dan bumi yang baru. “Syarat-syarat minimal” tersebut adalah: tidak termasuk dalam orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta (ay. 8a). Kita akan mencoba membedah satu persatu yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut.

Pertama, bukan termasuk dalam orang-orang penakut. Dalam bahasa aslinya digunakan kata deilois (δειλοῖς) dari akar kata deilos (δειλός). Kata ini dapat bermakna cowardly, timid, fearful (pengecut, malu, takut). Kata deilos ini hampir selalu merujuk pada makna yang negatif, berlawanan dengan kata phobos yang diartikan sebagai ketakutan atau kegentaran yang positif (seperti takut atau gentar akan Tuhan). Besar kemungkinan bahwa kata deilos ini berkaitan dengan sikap penakut dan pengecut orang percaya menghadapi aniaya (yang umum pada masa gereja mula-mula). Mereka yang takut akan aniaya dan pada akhirnya mengingkari imannya, dipandang tidak layak untuk masuk kepada dunia yang akan datang.

Kedua, bukan termasuk orang-orang yang tidak percaya. Dalam bahasa aslinya digunakan kata apistois (ἀπίστοις) dari akar kata apistos (ἄπιστος). Kata apistos ini merupakan gabungan 2 kata: a (yang berarti tidak atau bukan) dan pistis (yang berarti iman atau percaya). Jadi golongan orang-orang ini adalah orang-orang yang tidak beriman atau tidak percaya. Beberapa orang Kristen mungkin berpikir: “Wah kalau begitu kita aman dong, kan kita sudah percaya kepada Yesus”. Apakah benar demikian?

Menurut saya, permasalahannya terletak pada apakah yang dimaksud dengan iman atau percaya itu? Kita bisa percaya bahwa Yesus lahir di Betlehem dan telah mati di Golgota, namun itu barulah iman sejarah, yaitu ketika kita percaya sejarah Yesus. Kita bisa percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang turun menjadi manusia, dan nanti akan datang kembali. Namun itu pun baru iman atau percaya akan pribadi Yesus. Iman yang benar pasti membawa konsekuensi logis dalam hidup kita, yaitu harus ditunjukkan dengan tindakan kita dalam hidup sehari-hari. Tindakan kita itulah cerminan iman kita.

Abraham dikatakan sebagai bapa orang percaya atau bapa orang beriman. Ketika Abraham disuruh keluar dari Ur Kasdim dan akan dijadikan bangsa yang besar, apakah Abraham berkata kepada Tuhan: “Aku percaya Tuhan, tapi kan nggak usah keluar kota Ur Kasdim bisa juga toh?”. Atau ketika Abraham disuruh menghitung bintang di langit sebagai lambang akan banyaknya keturunanya, apakah Abraham kemudian tidak pernah menyentuh Sara, istrinya? Atau ketika Abraham disuruh mempersembahkan Ishak, apakah Abraham berkata: “Aku percaya kepada-Mu Tuhan, tetapi Ishak biar di rumah saja, nanti saya ganti dengan domba deh”? Tentu dalam segala hal Abraham menunjukkan bagaimana ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Itulah yang dimaksud Yakobus, bahwa perbuatan kita menunjukkan bagaimana kualitas iman kita (Yak 2:14-26).

Kita bisa saja berkata “Oh, saya sudah percaya Yesus kok, saya pasti sudah selamat meskipun saya masih suka berbuat dosa, masih suka berjudi, mabuk, berzinah, dan lain sebagainya”. Itu adalah pandangan yang sangat salah. Jangankan melakukan tindakan amoral seperti itu, orang yang sudah bernubuat dan mengusir setan demi nama Yesus saja bisa ditolak masuk dalam kerajaan surga (Mat 7:21-23). Oleh karena itu, kita perlu memeriksa diri kita masing-masing, bagaimana kualitas iman kita di hadapan Tuhan? Mungkin kita berkata: “Iman sebesar biji sesawi saja bisa memindahkan gunung kok”. Ya itu memang benar, tetapi apakah iman kita hanya terus-terusan sebesar biji sesawi? Ataukah kita terus berjuang menumbuhkan iman kita hingga mencapai standar iman yang Tuhan kehendaki? Jika kita tidak membuat iman kita bertumbuh, jangan-jangan kita dapat masuk ke dalam kategori orang yang tidak beriman/percaya yang seharusnya.

Ketiga, bukan termasuk dalam kelompok orang-orang keji. Dalam bahasa aslinya digunakan kata ebdelygmenois (ἐβδελυγμένοις) dari akar kata bdelussomai (βδελύσσομαι). Kata ini dapat bermakna to abhor, detest, loathe (benci, jijik, muak), sebagaimana juga digunakan dalam Roma 2:22. Selain itu kata ini dapat pula bermakna to render foul, abominable  (melakukan pelanggaran, mengerikan/sangat buruk sekali), yang mungkin lebih tepat untuk konteks ayat ini (yang diterjemahkan dengan kata keji). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata keji dapat bermakna memiliki moral yang sangat rendah atau hina. Jika melihat arti harafiah ayat tersebut, maka kelompok orang-orang ini adalah mereka yang memiliki moral yang sangat rendah, menjijikkan dalam kelakuan, bahkan sangat hina karena kelakuan mereka jauh di bawah rata-rata orang pada umumnya. Kita tidak tahu bagaimana konteks standar kelakuan manusia pada zaman itu. Tetapi mungkin saja di masa sekarang, orang-orang ini adalah mereka yang melakukan hal-hal yang memalukan demi keuntungan pribadi mereka sendiri, dengan karakter yang sangat jahat (diluar apa yang disebutkan di ayat 8 seperti mencuri, berzinah, dan lain sebagainya).

Keempat, bukan termasuk dalam kelompok orang-orang pembunuh. Dalam bahasa aslinya digunakan kata phoneusin (φονεῦσιν) dari akar kata phoneus (φονεύς). Kata ini dapat bermakna murderer, committing unjustified, intentional homicide (pembunuh, melakukan pembunuhan yang tidak dapat dibenarkan dan dengan sengaja). Tentu ini tidak termasuk orang-orang yang tidak sengaja membunuh atau terpaksa membunuh demi bertahan hidup. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang dengan sengaja melakukan pembunuhan terhadap orang lain, dimana tindakannya sama sekali tidak dapat dibenarkan. Mungkin sekali yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang merupakan pembunuh bayaran (assassin), atau yang melakukan pembunuhan dengan niat jahat dan sengaja (misalnya: membunuh karena dendam, membunuh untuk merampok, atau membunuh untuk menikahi pasangan orang yang dibunuh tersebut)

Kelima, bukan termasuk dalam kelompok orang-orang sundal. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pornois (πόρνοις) dari akar kata pornos (πόρνος). Seperti kita telah bahas dalam seri renungan ini, kata pornos dapat bermakna orang yang terlibat dalam hubungan seksual yang tidak sah (termasuk dengan orang yang masih menjadi suami/istri dari orang lain), atau orang yang melacurkan dirinya sendiri demi kepuasan hawa nafsu atau materi. Tingkatan kata pornos ini jauh lebih berbahaya daripada moichos karena tindakan pornos adalah tindakan yang sudah merusak hakekat pernikahan itu sendiri (jika dilakukan oleh orang yang sudah menikah).

Tentu orang-orang sundal ini tidak mungkin dapat masuk ke dalam langit dan bumi yang baru karena karakternya yang buruk dan merusak. Bayangkan jika ada orang yang pikirannya sudah menjurus ke hal-hal yang tidak benar (porno), jika ia masuk ke langit dan bumi yang baru, pastilah pikirannya ini juga akan merusak dirinya sendiri dan juga merusak tatanan surga yang sudah sempurna. Orang-orang seperti ini sangat berbahaya jika memiliki kesempatan masuk ke dalam langit dan bumi yang baru. Oleh karena itu, marilah kita bertobat dari jenis dosa ini, karena dosa ini sangat mengikat dan sulit untuk dihilangkan.

Keenam, bukan termasuk kelompok tukang-tukang sihir. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pharmakois (φαρμάκοις) dari akar kata pharmakos (φάρμακος). Kata ini dapat bermakna a poisoner, sorcerer, magician (peracik obat-obatan/racun, tukang sihir, tukang sulap). Kata ini memang dapat diartikan sebagai orang-orang yang melakukan sihir-sihir tertentu (dengan bantuan kuasa kegelapan). Namun demikian, perlu dipahami konteks pada masa itu bahwa ada orang-orang yang ahli menggunakan ramuan tertentu untuk menciptakan suatu ilusi atau halusinasi bagi orang lain, sehingga seakan-akan ia memiliki kuasa sihir dalam bentuk manifestasi-manifestasi tertentu. Kata ini juga merujuk kepada praktik penyembahan dewa-dewa Yunani dan Romawi tertentu yang menggunakan semacam ramuan obat-obatan untuk mencapai tingkatan trance tertentu, yang seakan-akan sudah mencapai tingkat “penyembahan” tertentu.

Apakah praktik ini ada di kalangan orang Kristen? Sebenarnya secara teori, musik dan pencahayaan tertentu dapat membuat semacam “halusinasi” pada sejumlah orang. Hal ini yang umum digunakan pada diskotik dan klub-klub malam yang menggunakan musik dengan beat dan ritme tertentu (tentu dengan suara bass yang sangat keras), serta permainan cahaya yang berkelap-kelip dan cenderung gelap. Tanpa bermaksud menghakimi, saat ini sejumlah gereja juga sudah menggunakan lampu-lampu yang berkelap kelip dan ritme musik yang cenderung cepat ditambah suara bass yang kencang. Saya tidak tahu apakah hal itu membantu membuat orang mencapai suasana hati tertentu atau tidak. Tetapi yang ditakutkan adalah ketika orang merasa sudah menyembah karena suasana musik dan atmosfer “pertunjukan” yang ada di dalam gereja itu sendiri. Kita harus berhati-hati terhadap pseudo-worship ­(penyembahan yang semu) dalam gereja, dimana dengan musik dan suasana ibadah yang meriah, yang membawa jemaat merasa sudah menyembah padahal sebenarnya belum. Sebenarnya penyembahan yang benar tidak hanya terlihat di dalam gedung gereja saja (pada saat ibadah), melainkan juga harus terpancar dalam hidup sehari-hari.

Ketujuh, bukan termasuk golongan penyembah berhala. Dalam bahasa aslinya digunakan kata eidōlolatrais (εἰδωλολάτραις) dari akar kata eidólolatrés (εἰδωλολάτρης). Kata ini memang memiliki makna an image worshiper (penyembah patung atau berhala). Dalam konteks jemaat mula-mula, mereka hidup di dalam dunia yang dikuasai oleh bangsa Romawi, dengan masyarakat yang menyembah dewa-dewa Romawi (dan mungkin beberapa dewa-dewa Yunani) dalam kuil-kuil. Tentu tantangan jemaat mula-mula adalah bagaimana supaya mereka tidak menyembah dewa-dewa tetapi menyembah Allah yang benar. Tidak jarang penguasa Romawi memaksakan penyembahan dewa-dewa tertentu kepada rakyatnya, dan di sini posisi orang Kristen menjadi sulit. Mungkin saja jika mereka tidak mau menyembah dewa-dewa itu, maka mereka akan ditangkap, disiksa, bahkan dihukum mati.

Namun makna lain dari kata eidólolatrés secara umum juga adalah orang-orang yang tidak menyembah Allah yang benar, atau tidak menyembah Allah secara benar. Orang yang mengaku menyembah Allah harus menjadikan Allah sebagai satu-satunya obyek penyembahan, atau memberikan nilai tertinggi kepada Allah. Jika ada obyek apapun yang melebih posisi Allah dalam prioritas seseorang, itu berarti ia sedang tidak menyembah Allah, atau dapat dikatakan bahwa orang tersebut menyembah obyek yang lain. Dalam hal ini, obyek yang lain itu dapat juga dikategorikan sebagai berhala. Jika berhala zaman dahulu dapat berupa patung dewa, gambar dewa, atau semacamnya, maka berhala “zaman now” dapat berupa harta, uang, kekayaan, kedudukan, kehormatan, nama baik, dan lain sebagainya. Mereka yang menilai segala sesuatu dengan uang (yang artinya memberi nilai tinggi pada uang dan harta) maka dapat dikatakan sebagai penyembah berhala (dalam hal ini berhalanya adalah uang). Oleh karena itu, kita harus berhati-hati supaya tidak sampai masuk dalam kategori penyembah berhala, yang tidak hanya sekedar menyembah berhala secara fisik, tetapi juga secara non fisik).

Kedelapan, tidak termasuk dalam kelompok orang-orang pendusta. Dalam bahasa aslinya digunakan kata pseudesin (ψευδέσιν) dari akar kata pseudés (ψευδής). Kata ini dapat bermakna false, deceitful, lying, untrue (salah/palsu/tidak sesuai fakta, menyesatkan, bohong, tidak benar). Saya rasa hampir semua di antara kita pasti pernah berbohong, sejak masa kecil dan hingga saat ini. Mungkin kebohongan kita tidak terlalu tampak nyata, tetapi dengan mengucapkan perkataan yang berkelit sedikit saja itu pun juga sudah merupakan kebohongan. Tanpa kita sadari, kebohongan-kebohongan kecil akan menumpuk menjadi kebohongan besar (karena kebohongan yang baru harus dibuat untuk menutupi kebohongan yang lama).

Jadi, apakah kita semua pasti tidak dapat masuk langit dan bumi yang baru karena sudah pernah berbohong? Tentu jika kita meminta ampun dan bertobat dari kebohongan yang kita lakukan, maka Tuhan akan mengampuni dosa kita. Persoalannya terletak pada karakter kita. Apakah kita suka berbohong atau mengemukakan alasan palsu untuk menyelamatkan diri kita sendiri? Apakah kita lebih memilih menyebarkan berita bohong (hoax) untuk menjatuhkan orang lain atau untuk meninggikan diri kita sendiri? Apakah kita terbiasa berbohong dari hal-hal yang kecil (termasuk juga ketika kita tidak menyampaikan kebenaran yang sebenarnya) untuk keuntungan kita pribadi. Jika jawaban dari pertanyaan di atas kebanyakan adalah “ya”, maka kita harus lebih berhati-hati, karena kebohongan sudah menjadi semacam karakter yang tertanam dalam hidup kita. Terlebih di era teknologi informasi seperti ini, ada banyak sekali kesempatan dan cara untuk berbohong, misalnya dengan menyebarkan hoax yang dapat merusak nama baik orang lain. Sebagai contoh, ada pendeta yang dengan sengaja memotong khotbah pendeta lain sehingga jika didengar sepotong (tidak mendengarkan khotbah keseluruhan) seakan-akan pendeta itu menyampaikan hal yang salah, dan kemudian disebarkan dengan kata-kata: “pendeta ini sesat”. Saya rasa itu termasuk dalam kelompok orang-orang pendusta ini, yang suka berbohong dan menyebarkan kabar bohong (atau informasi yang tidak benar).

Alkitab secara jelas sudah menulis bahwa kelompok orang-orang tersebut pasti tidak diperkenankan masuk ke dalam langit yang baru dan bumi yang baru. Oleh karena itu, mari kita memeriksa diri kita sendiri masing-masing. Jika masih ada dosa-dosa yang perlu kita selesaikan dengan Tuhan, mari kita selesaikan. Jika masih ada karakter buruk terkait dengan persundalan, kebohongan, dan lain-lain, maka mari kita bertobat dan meminta Tuhan untuk membantu kita menghilangkan karakter buruk tersebut. Ada bagian kita yaitu berjuang untuk mematikan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru yang terus menerus dibaharui dalam iman dan kebenaran supaya semakin serupa dengan karakter Kristus. Jika kita memperkarakan hal ini dengan serius dan bertobat senantiasa, barulah kita dapat memiliki keyakinan dan kepastian penuh bahwa kita tidak akan ditolak masuk ke dalam kerajaan surga.




Bacaan Alkitab: Wahyu 21:1-8
21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
21:6 Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.
21:7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
21:8 Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Kamis, 20 Februari 2020

Pornos dan Moichos (55): Pengadilan yang Maha Adil

Kamis, 20 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 19:1-9
Sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu. (Why 19:2)


Pornos dan Moichos (55): Pengadilan yang Maha Adil


Kita sudah cukup banyak membahas tentang wanita pelacur besar dalam renungan kita di hari-hari sebelumnya. Kita juga sudah dapat melihat bagaimana akhir dari wanita pelacur besar tersebut. Dalam hal ini kita harus memahami bahwa hukuman atas wanita pelacur besar itu memang sudah sepantasnya. Dikatakan bahwa setelah semua penglihatan ini ditunjukkan kepada Rasul Yohanes, terdengar suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di surga yang memuji Allah (ay. 1). Dalam pujian dan pengagungan mereka, disebutkan bahwa penghakiman-Nya adalah benar dan adil (ay. 2a). Itulah sebabnya pelacur besar yang telah merusakkan bumi dengan percabulannya telah dihukum dengan adil (ay. 2b). Bahkan hukuman itu sebagai salah satu bentuk “balasan” atas darah hamba-hamba Allah yang telah tertumpah (ay. 2c).

Kita telah membahas mengenai wanita pelacur besar (porné/πόρνη yang berarti pelacur wanita) yang telah merusakkan bumi dengan percabulannya (porneia/πορνεία). Perhatikan bahwa di kitab Wahyu ini lebih banyak menggunakan kata porneia/pornos dibandingkan kata moicheuo/moichos, khususnya sejak pasal 14 yang merujuk kepada wanita pelacur besar ini. Wanita pelacur besar ini yang menggambarkan spirit kuasa kegelapan telah membuat bumi menjadi rusak (dalam bahasa aslinya menggunakan kata phtheiró/ φθείρω yang berarti to destroy, corrupt, spoil, ruin atau menghancurkan, merusak, membuat busuk, menjadikan reruntuhan). Jelas bahwa percabulan yang dibawa oleh spirit ini adalah tindakan yang merusak, apalagi jika skalanya sudah sangat masif yaitu hampir seluruh penduduk bumi. Akibatnya bumi menjadi tempat yang sudah tidak nyaman lagi dihuni (khususnya bagi orang percaya yang berjuang untuk hidup kudus). Itulah sebabnya nanti (mulai pasal 20 dan seterusnya) dituliskan bahwa bumi ini akan dihancurkan menjadi lautan api, namun Allah telah menyiapkan suatu langit yang baru dan bumi yang baru, yang akan menjadi “surga” bagi orang-orang benar.

Disebutkan juga bahwa ada darah dari hamba-hamba Allah yang tertumpah karena wanita pelacur itu. Tidak terlalu jelas apakah spirit yang dibawa tersebut membuat terjadinya penganiayaan dan pembunuhan atas orang-orang percaya. Akan tetapi, selain dapat bermakna secara harafiah (yaitu terkait penganiayaan dan pembunuhan orang benar), hal ini juga dapat bermakna kiasan. Darah yang tertumpah juga dapat merujuk kepada beban dan penderitaan yang dialami orang-orang benar. Tidak perlu penganiayaan seperti pada zaman gereja mula-mula. Dengan segala kenyamanan dan kelimpahan hidup di masa modern ini, banyak orang percaya yang benar yang merasakan kesulitan untuk hidup benar di hadapan Tuhan, misalnya: memilih untuk meninggalkan percintaan dunia dan mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Segala kesulitan itu pun dapat dikategorikan sebagai suatu “darah” yang tertumpah yang melambangkan beratnya perjuangan anak-anak Allah yang benar untuk mencapai standar hidup yang berkenan di hadapan Bapa.

Dalam ayat selanjutnya, kita melihat bagaimana himpunan besar orang banyak di surga melanjutkan pujian dan penyembahan mereka, termasuk 24 tua-tua dan keempat makhluk surgawi (ay. 3-6). Inti dari perkataan pujian dan penyembahan mereka adalah kenyataan bahwa waktu bagi kerajaan Allah untuk nyata telah datang. Hari itu dilambangkan dengan hari perkawinan, yaitu perkawinan antara Anak Domba dengan pengantin-Nya (yaitu jemaat-Nya) (ay. 7).

Sebenarnya di sini persoalannya bukanlah pada “Kapan hari itu akan terjadi?” atau “Apa saja peristiwa yang akan terjadi pada hari itu?”. Hal yang lebih penting lagi yang kita perkarakan adalah apakah kita sudah siap untuk menghadap Allah pada hari itu? Pengadilan Allah adalah pengadilan yang maha benar dan maha adil. Kita akan menghadap tahta pengadilan Allah dengan membawa seluruh hidup kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, bahkan apa yang kita pikirkan. Untuk menjadi jemaat yang siap menjadi mempelai Kristus (yang merupakan gambaran dari hari perkawinan Anak Domba), maka kita harus mempersiapkan diri dengan benar. Bagaimana caranya?

Ayat selanjutnya berkata bahwa ada gambaran kain lenan halus yang berwarna putih bersih dan berkilau-kilauan (ay. 8a). Lenan ini merupakan gambaran dari perbuatan yang benar dari orang-orang kudus (ay. 8b). Persoalannya, siapa yang harus mengenakan kain lenan ini? Ada yang berpendapat bahwa karena lenan ini menggambarkan perbuatan benar orang-orang kudus, maka lenan ini menggambarkan perbuatan baik yang dilakukan orang-orang kudus yang mati sebelum zaman anugerah, dimana mereka dihakimi menurut perbuatan mereka. Dalam bahasa aslinya pun tidak digunakan kata yang bersifat maskulin atau feminim sebagai petunjuk lebih lanjut. Namun saya sendiri lebih cenderung berpendapat bahwa lenan itu adalah suatu pakaian yang harus dikenakan oleh jemaat yang mau menjadi mempelai Kristus. Hal ini diperkuat dengan terjemahan Bahasa Inggris seperti KJV, NIV, dan lain-lain yang hampir semuanya menggunakan kata “she” atau “her” untuk merujuk kepada mempelai wanita (yaitu jemaat Tuhan).

Oleh karena itu jelas bahwa undangan untuk menjadi mempelai Kristus terbuka kepada seluruh orang percaya.  Namun demikian, yang menjadi persoalan apakah kita sudah memantaskan diri untuk layak menjadi mempelai-Nya? Dalam salah satu khotbahnya, Tuhan Yesus pernah menyampaikan perumpamaan tentang perjamuan kawin, dimana tamu-tamu yang awalnya diundang tetapi tidak ada yang mau datang dengan berbagai alasan. Akhirnya, tuan rumah memutuskan untuk mengundang orang-orang yang ada di jalan untuk datang ke pesta perkawinan tersebut. Datanglah orang banyak berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan pesta. Namun demikian, ada seorang tamu yang tidak memakai pakaian pesta. Ketika ditanya, orang itu pun diam saja. Akhirnya orang ini pun diusir dan dihukum oleh tuan rumah (Mat 22:1-14). Ini menggambarkan keadaan dimana keselamatan melalui pengorbanan Tuhan Yesus ditawarkan kepada semua orang yang mau percaya. Namun demikian, standar “pakaian pesta” tetap ada. Orang yang mengaku percaya tidak cukup hanya sekedar meyakini di dalam pikiran atau perkataan saja (pada saat dibaptis atau sidi), tetapi harus nampak dalam keseluruhan hidup orang percaya tersebut, dalam perkataan dan perbuatan kita sehari-hari. Kita harus menyiapkan “kain lenan” kita untuk dapat menjadi mempelai Kristus. Jika selama hidup kita selalu memperkarakan apakah hidup kita sudah berkenan di hadapan-Nya, maka pada saat kita menutup mata saat kita mati, maka kita akan mendapati adanya suara yang lembut menyambut kita: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (ay. 9). Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan kenyataan bahwa kita diperkenan untuk menjadi mempelai Kristus, karena selama hidup kita sudah berjuang untuk menjadi pribadi yang berkenan kepada Bapa, melakukan kehendak Bapa, dan meneladani jalan hidup Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang berkenan kepada-Nya hingga akhir.



Bacaan Alkitab: Wahyu 19:1-9
19:1 Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: "Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,
19:2 sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu."
19:3 Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: "Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya."
19:4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: "Amin, Haleluya."
19:5 Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: "Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!"
19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]
19:9 Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

Rabu, 19 Februari 2020

Pornos dan Moichos (54): Diratapi dan Ditangisi

Rabu, 19 Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 18:9-10
Dan raja-raja di bumi, yang telah berbuat cabul dan hidup dalam kelimpahan dengan dia, akan menangisi dan meratapinya, apabila mereka melihat asap api yang membakarnya. (Why 18:9)


Pornos dan Moichos (54): Diratapi dan Ditangisi


Ketika membaca bagiaan bacaan ayat Alkitab kita hari ini, saya membayangkan adanya seorang wanita cantik yang terkenal, dimana banyak pria sudah pernah terjerat untuk berbuat cabul (berzinah) dengan wanita tersebut. Pada suatu saat, wanita ini akhirnya tertangkap basah dan dijatuhi hukuman berat. Pada saat si wanita dijatuhi hukuman tersebut (dimana peristiwa ini diliput banyak media massa), kira-kira apa yang ada di pikiran orang-orang yang pernah berbuat cabul dengannya? Mungkin ada yang merasa kasihan, ada yang merasa cuek, ada yang mencoba menghilangkan jejak bahwa ia pernah berselingkuh dengan wanita itu, ada yang kemudian berbalik memaki dan mengutuk wanita itu, ada yang merasa tertipu, dan lain sebagainya.

Ilustrasi ini menggambarkan bahwa dalam kondisi normal, mungkin hanya sedikit orang yang bersimpati atas kemalangan orang yang dipandang jahat. Akan tetapi dalam ayat yang kita baca hari ini, kita melihat bagaimana raja-raja di bumi (atau para pemimpin) menangisi dan meratapi Babel yang telah runtuh dan hancur (ay. 9). Dikatakan bahwa raja-raja di bumi itu telah berbuat cabul dan hidup dalam kelimpahan dengan dia. Kata berbuat cabul dalam ayat ini menggunakan kata kerja porneuó (πορνεύω) yang menggambarkan tingkat percabulan yang sangat parah. Kata ini (termasuk kata benda yang sejajar dengan porneuó) juga digunakan di ayat-ayat lain yang menggambarkan wanita pelacur atau Babel di dalam kitab Wahyu sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya.

Dikatakan bahwa raja-raja di bumi tidak hanya berbuat cabul dengannya, tetapi hidup dalam kelimpahan dengan dia. Kata “kelimpahan” dalam ayat ini menggunakan kata stréniaó (στρηνιάω), berbeda dengan kata “kelimpahan” yang digunakan oleh Tuhan Yesus yaitu perissos (περισσός) (Yoh 10:10). Jika kata perissos menunjuk pada suatu kondisi yang lebih (khususnya secara kualitas), maka kata stréniaó dapat diartikan sebagai living in sensual, lustful behavior, live luxuriously, revel, riot (hidup dalam sensualitas, perilaku yang penuh nafsu, hidup dalam kemewahan, bersukaria, hidup dalam kegaduhan). Jelas bahwa apa yang ditawarkan oleh spirit duniawi ini berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menawarkan kelimpahan secara kualitas, dari sudut pandang kerajaan surga. Namun banyak manusia lebih memilih kelimpahan yang ditawarkan dunia.

Tuhan Yesus sendiri juga pernah ditawari keindahan, kelimpahan dan kenikmatan dunawi oleh iblis. Untungnya Tuhan Yesus menolak tawaran tersebut (Mat 4:8-10). Akan tetapi hampir semua manusia telah terpikat oleh tawaran keindahan dan kelimpahan dunia ini. Itulah mengapa ketika Babel dihukum dan dihancurkan, banyak raja-raja yang justru menangisi dan meratapinya. Memang benar mereka berdiri jauh-jauh karena takut akan hukuman yang diterima oleh Babel itu. Mereka juga mengucapkan kalimat “dukacita” mengenai hukuman Babel yang sangat tiba-tiba (digambarkan dengan ukuran satu jam) (ay. 10). Namun dibalik itu semua, mereka masih merasa iba dan mengharapkan dapat memperoleh kenikmatan di balik rasa kelimpahan duniawi itu.

Jika orang sudah terikat dengan sesuatu, bagaimanapun pasti akan sulit untuk melepaskan rasa ikatan tersebut. Sama halnya dengan orang yang sudah terikat dengan segala kekayaan dan kenikmatan dunia, pasti akan sulit untuk melepas rasa itu. Padahal Alkitab sudah sangat jelas menyebutkan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak 4:4). Ini sejajar dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa manusia tidak mungkin dapat mengabdi kepada dua tuan, namun harus memilih salah satu. Meskipun akhir dari dunia ini juga sudah dengan jelas dinyatakan (Why 20-22), namun kenyataannya banyak manusia yang tidak mau memilih kerajaan surga karena hati mereka sudah terikat dan tertambat dengan kenyamanan dunia ini. Tidak heran bahwa akan ada orang-orang yang meratapi musnahnya dunia yang nyaman ini namun mereka lupa untuk meratapi diri sendiri yang belum berkenan di hadapan Allah.



Bacaan Alkitab: Wahyu 18:9-10
18:9 Dan raja-raja di bumi, yang telah berbuat cabul dan hidup dalam kelimpahan dengan dia, akan menangisi dan meratapinya, apabila mereka melihat asap api yang membakarnya.
18:10 Mereka akan berdiri jauh-jauh karena takut akan siksaannya dan mereka akan berkata: "Celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung penghakimanmu!"

Selasa, 18 Februari 2020

Pornos dan Moichos (53): (Hampir) Semua telah Berbuat Cabul

Selasa, 18Februari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 18:1-4
Karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya. (Why 18:3)


Pornos dan Moichos (53): (Hampir) Semua telah Berbuat Cabul


Berbicara tentang perempuan cabul yang dijelaskan dalam kitab Wahyu pasal 14 hingga 17, kita dapat melihat bagaimana spirit percabulan ini memiliki dampak yang sangat luas, bahkan dapat dikatakan bahwa hampir semua orang telah berbuat cabul dengannya. Dalam kelanjutan kitab Wahyu di pasal 18, kita dapat melihat bagiamana Rasul Yohanes kemudian melihat seorang malaikat lainnya turun dari surga. Ia memiliki kekuasaan yang besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya (ay. 1). Kemudian malaikat tersebut berseru bahwa Babel, kota besar itu, telah runtuh (ay. 2a). Babel pun kini menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan hewan-hewan yang najis (ay. 2b). Hal ini menarik karena dikatakan bahwa sebelumnya Babel yang merupakan nama wanita pelacur besar itu digambarkan sebagai sesuatu yang sangat kuat dan berkuasa. Namun pada akhirnya, Babel harus runtuh dan menjadi sunyi. Hal ini merupakan salah satu hukuman karena spirit Babel yang sudah menyebabkan banyak orang menjadi berdosa.

Ayat selanjutnya menyatakan bahwa semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya (ay. 3a). Kata “semua bangsa” menunjukkan bahwa secara kolektif, bangsa dan negara telah menikmati anggur hawa nafsu percabulan dari Babel atau wanita pelacur itu. Kata “anggur hawa nafsu cabul” memliki kata yang sama dengan yang digunakan dalam pasal 14 (Why 14:8) yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata tou oinou tou thymou tēs porneias. Penggunaan kata porneias (πορνείας) dari akar kata porneia (πορνεία) yang berarti percabulan atau perzinahan dengan level yang sudah sangat parah. Dikatakan bahwa semua bangsa (gambaran kolektivitas) telah minum anggur hawa nafsu percabulan tersebut. Ini menunjukkan spirit Babel sudah merasuk tidak hanya di negara-negara maju atau kapitalis, bahkan juga di negara-negara yang masih berkembang atau bahkan di negara-negara kecil.

Dikatakan pula bahwa raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengannya (ay. 3b). Raja-raja di sini menggambarkan para pemimpin, tidak hanya pemimpin suatu bangsa atau negara (raja, ratu, presiden, perdana menteri, kaisar, dan lain sebagainya), tetapi juga pemimpin masyarakat atau kelompok lainnya (misalnya: gubernur, bupati, menteri) serta tentunya juga pemimpin umat beragama. Sangat mungkin bahwa spirit Babel ini juga sudah masuk ke dalam gereja dan mempengaruhi para pemimpin umat Kristen seperti pendeta, gembala sidang, bahkan ketua sinode gereja.

Jika bangsa-bangsa sudah minum dari anggur hawa nafsu percabulan, maka para raja (atau para pemimpin) ini dikatakan sudah berbuat cabul dengannya. Tentu saja tidak ada orang yang mengaku sudah berbuat cabul dengan spirit Babel ini, apalagi para pemimpin di dalam gereja. Namun jika kita melihat spirit Babel yang menekankan ketidaktundukan pada Allah, tidak menghormati Allah, mencintai dunia dan diri sendiri daripada mencintai Allah, maka kita akan mengerti bahwa memang banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah terkontaminasi (berbuat cabul) dengan spirit ini. Dalam konteks jemaat, ketika seorang pemimpin sudah terkontaminasi spirit ini, maka akan sangat mudah bagi jemaat untuk tertular “virus” ini. Jika tidak segera disadari dan diatasi, seluruh jemaat dapat dengan mudah menjadi seteru-seteru Allah. Tidak heran bahwa kata yang digunakan untuk kata “berbuat cabul” adalah porneuó (πορνεύω), yaitu versi kata kerja (verba) yang sama dari kata porneia yang digunakan di bagian awal ayat 3 ini.

Salah satu ciri spirit Babel ini adalah menekankan kenikmatan dan kekayaan/kelimpahan duniawi. Dikatakan bahwa para pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya (ay. 3c). Kata “pedagang” di sini menggunakan kata emporos (ἔμπορος) yang dapat berarti “a passenger on shipboard, a merchant, a trader” (penumpang kapal, saudagar, pedagang). Tentu ini merujuk pada profesi yang umum pada masa itu dimana seorang pedagang biasanya akan menggunakan kapal untuk memuat barang dagangan dari satu kota ke kota lain (atau antar pelabuhan) untuk melakukan jual beli barang dagangannya. Artinya seorang saudagar atau pedagang memang hidup dari kegiatan berdagangnya. Pada waktu itu, seorang saudagar dapat sangat kaya jika ia dapat membeli barang murah dan menjualnya dengan harga mahal. Tidak heran mereka pun dapat melakukan segala macam cara (menipu, merampok, dan lain sebagainya) untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Jika dikatakan para pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya, maka dapat dikatakan bahwa spirit ini menekankan mengenai fokus pada kekayaan duniawi. Semua hal akan diukur dengan harta atau nominal uang. Semua hal dihitung dengan untung rugi. Hal ini jika sampai masuk ke dalam gereja, maka sangat mungkin bahwa ada pendeta yang berkhotbah mengenai kekayaan dan kelimpahan. Mungkin juga isi khotbahnya hanya menekankan tentang bagaimana memberi lebih banyak kepada gereja (yang biasanya juga sebagian akan masuk ke kantong pribadi pendeta tersebut).

Oleh karena itu, wajar jika kemudian ada suara dari surga yang menyuarakan kebenaran, meminta umat Tuhan untuk pergi daripadanya (dapat berarti pergi menjauhi spirit Babel ataupun pergi menjauhi orang-orang dan raja-raja/pemimpin-pemimpin yang sudah terkontaminasi) (ay. 4a). Umat Tuhan yang benar pasti akan mendengar suara Tuhan untuk menjauhi dosa dan tidak mengambil bagian dalam dosa yang dilakukan orang lain. Saya yakin bahwa Tuhan masih terus bersuara kepada umat-Nya untuk hidup dalam kekudusan. Namun ketika suara percabulan lebih kuat daripada suara kekudusan, maka akan banyak orang yang terjerat dalam percabulan, baik percabulan jasmani maupun rohani.

Tentu Tuhan tidak ingin semakin banyak orang binasa. Adalah keinginan Tuhan untuk menyelamatkan manusia sebanyak mungkin. Namun Tuhan adalah Tuhan yang agung dan memiliki tatanan. Manusia yang sudah memiliki kehendak bebas wajib mempergunakan kehendak bebasnya secara bertanggung jawab. Artinya, setiap keputusan yang diambil oleh manusia harus dipertanggungjawabkan dalam pengadilan ilahi suatu saat nanti. Oleh karena itu, umat percaya yang sudah memiliki fasilitas pendukung yang lengkap (Injil yang lengkap serta Roh Kudus yang ada di dalam hati), seharusnya dapat menjadi lebih peka terhadap kehendak Bapa, dalam hal ini untuk tidak terlibat percabulan dengan keduniawian, tetapi untuk hidup dalam kekudusan supaya terhindar dari hukuman Allah (ay. 4b).



Bacaan Alkitab: Wahyu 18:1-4
18:1 Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya.
18:2 Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: "Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci,
18:3 karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya."
18:4 Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: "Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.

Senin, 27 Januari 2020

Pornos dan Moichos (52): Akhir dari si “Pelacur Besar”


Senin, 27 Januari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 17:15-18
Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api. (Why 17:16)


Pornos dan Moichos (52): Akhir dari si “Pelacur Besar”


Dalam renungan hari ini kita akan belajar bagaimana akhir dari si “pelacur besar” yang telah kita bahas beberapa hari ini. Setelah Yohanes melihat penglihatan tentang “pelacur besar” atau “perempuan” tersebut, malaikat kemudian datang dan memberi penjelasan atas penglihatan tersebut. Dikatakan bahwa wanita pelacur itu (pornē/πόρνη) duduk di tempat yang banyak airnya (Why 17:1), dan air itu adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan Bahasa (ay. 15).

Kemudian sepuluh tanduk (yaitu sepuluh raja) dan binatang itu akan membenci pelacur itu, bahkan akan membuatnya menjadi sunyi dan telanjang, serta akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api (ay. 16). Ayat ini adalah ayat yang sulit, mengapa wanita pelacur itu kemudian dibenci oleh binatang tersebut? Bukankah selama ini pelacur itu sudah membuat banyak penyesatan atas penduduk bumi, sesuai dengan keinginan binatang?

Untuk memahaminya, kita harus melihat bahwa ayat 15 dan seterusnya terjadi setelah kejadian di ayat 13 dan 14, dimana sepuluh tanduk (yaitu sepuluh raja) itu berperang melawan Anak Domba dan akhirnya kalah (Why 17:13-14). Karena kekalahan itulah mereka pada akhirnya sadar bahwa “pelacur” itu sudah tidak berguna lagi ketika Anak Domba datang. Kita telah membahas bahwa “pelacur besar” itu adalah gambaran dari spirit kuasa kegelapan berupa segala kekayaan dan kenikmatan dunia ini.

Dikatakan bahwa aka nada masanya dimana binatang itu akan membenci pelacur itu dan membuatnya menjadi sunyi dan telanjang (ay. 16b). Kata menjadi sunyi dalam bahasa aslinya adalah erémoó (ἐρημόω) yang berarti to “make desolate, to bring to desolation, to destroy, to waste, to strip, to rob” (membuat sunyi, membawa kepada kehancuran, menghancurkan/membinasakan/memusnahkan, merusakkan/menyia-nyiakan, melucuti/menelanjangi, merampas). Jadi akan nada waktunya dimana segala tipu daya kekayaan dunia itu akan tersingkap dan tertelanjangi, yaitu bahwa semua itu tidak akan berguna lagi ketika Anak Domba Allah datang kembali untuk yang kedua kalinya.

Digambarkan si “pelacur besar” itu akan dimakan dan dibakar dengan api (ay. 16c). Walaupun ayat ini memang sulit untuk dimengerti, berdasarkan apa yang saya pahami ini menggambarkan semacam hukuman dari Allah untuk bumi ini yang pada akhirnya akan dibakar dengan api (2 Ptr 3:10, Why 20:9-15). Api dari Allah akan membakar unsur-unsur dunia ini sehingga bumi akan menjadi lautan api, yaitu tempat dimana orang-orang yang jahat dan fasik akan menderita selama-lamanya. Oleh karena itu, setelah kedatangan kembali dan kemenangan Anak Domba, segala kekayaan dan kenikmatan dunia menjadi tidak berarti lagi. Semua akan sadar tentang betapa fananya segala harta dunia yang selama ini banyak dicari oleh manusia.

Selanjutnya, dikatakan bahwa Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala Firman Allah telah digenapi (ay. 17). Ayat ini cukup sulit untuk dimengerti. Jika tidak hati-hati, maka orang yang membaca dapat memaknai ayat ini sebagai bukti bahwa Allah telah sengaja untuk membuat orang-orang jahat (yaitu sepuluh raja yang dilambangkan dengan sepuluh tanduk) untuk menyerahkan pemerintahan mereka kepada binatang tersebut. Sebenarnya adalah raja-raja itu memang memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu dengan sadar, karena mereka tahu bahwa binatang itu memiliki kekuasaan yang besar. Tentu kebesaran dan kekuasaan adalah suatu impian bagi seorang raja atau pemimpin bangsa. Mereka akan bangga jika memiliki bangsa atau kerajaan yang dipimpinnya memiliki kekuasaan yang besar.

Kata “seia sekata” dalam ayat 17 juga digunakan dalam ayat 13, dengan kata yang sama. Dalam bahasa aslinya digunakan kata mian gnōmēn (μίαν γνώμην) yang dapat berarti satu pemikiran, satu tujuan, atau sepakat, yaitu memiliki pemikiran dan tujuan yang sama. Jadi memang dari awal, hati para raja ini sudah sepakat untuk menyerahkan pemerintahan mereka kepada binatang tersebut, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mau tunduk pada pemerintahan Allah.

Allah tidak dengan sengaja menentukan bahwa para raja itu akan melawan Allah. Mereka sendiri memang sudah memiliki hati yang jahat. Kata “menerangi” di sini lebih tepat diterjemahkan sebagai “menaruh atau meletakkan”, karena sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, memang Allah merencanakan bahwa dunia ini harus dimusnahkan, dengan janji adanya suatu langit yang baru dan bumi yang baru (Why 20-22). Namun soal orang-orang yang mau tunduk kepada “binatang” dan bukan kepada Allah tentu itu tidak dapat dipandang sebagai suatu penentuan Tuhan bahwa mereka adalah orang-orang yang ditentukan untuk binasa. Perlu disadari bahwa dunia ini menuju kepada arah yang semakin jahat. Banyak raja-raja di zaman dulu yang sangat jahat. Sebagaimana tertulis di Alkitab, kita mengenal raja yang jahat seperti Raja Ahab atau Raja Herodes). Dan bukan tidak mungkin bahwa di akhir zaman ini, dengan kekuasaan binatang yang semakin nyata dan pengaruh dari “pelacur besar” itu tentu membuat banyak orang menjadi semakin jahat.

Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, tentu Allah tahu bahwa akan ada orang-orang yang hatinya jahat. Kepada beberapa orang, Allah dapat mengingatkan orang tersebut secara langsung untuk bertobat (contoh: Kain), mengingatkan melalui orang lain (contoh: penduduk kota Sodom dan Gomora yang diingatkan oleh Lot, penduduk kota Niniwe yang diingatkan oleh Yunus, Firaun yang diingatkan oleh Musa, bahkan Raja Ahab yang diingatkan oleh nabi-nabi Tuhan). Akan tetapi, jika orang itu memang sudah terlalu jahat, maka mau diingatkan bagaimanapun memang orang itu akan sangat sulit untuk bertobat. Dalam hal ini, siapakah yang harus mengingatkan raja-raja itu? Tentu itu seharusnya menjadi bagian gereja untuk menyuarakan kebenaran. Akan tetapi bisa jadi memang mereka sudah terlalu jahat dan tetap tunduk kepada binatang itu dan tetap tidak mau tunduk kepada Allah. Yang jelas bahwa firman Allah akan selalu digenapi, dalam hal ini bukan siapa-siapa orang yang akan melakukan kejahatan, tetapi bahwa akan ada masa dimana orang-orang akan cenderung berbuat jahat sebelum hukuman Tuhan dilaksanakan atas bumi ini. Ini juga terjadi di zaman Nuh dan zaman Lot, dimana penduduk bumi serta kota Sodom dan Gomora pada waktu itu sudah sangat jahat, sehingga Tuhan harus memusnahkan mereka, namun ada sebagian kecil yang diselamatkan, yaitu mereka yang hidup benar (Nuh dan keluarganya serta Lot dan keluarganya).

Jadi jelas bahwa raja-raja di bumi sebenarnya juga memiliki kehendak bebas untuk memilih mau tunduk kepada binatang (dan mengenakan spirit perempuan itu) atau tunduk kepada kerajaan Allah. Nyatanya mereka memilih untuk tunduk kepada binatang. Bahkan “perempuan” atau “pelacur besar” itu dikatakan sebagai suatu kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi (ay. 18). Spirit kekayaan dan kenikmatan dunia itu memang dapat memerintah atas raja-raja di bumi, dan dapat membuat manusia menjadi jauh dari Allah. Namun akan ada masanya dimana pelacur besar itu harus dikalahkan dan pemerintahan Allah akan nyata suatu hari nanti. Oleh karena itu, berjaga-jagalah supaya kita tidak disesatkan oleh “pelacur besar” itu, tetapi supaya kita memiliki hidup yang benar di bawah pemerintahan Allah.





Bacaan Alkitab: Wahyu 17:15-18
17:15 Lalu ia berkata kepadaku: "Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.
17:16 Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.
17:17 Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi.
17:18 Dan perempuan yang telah kaulihat itu, adalah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi."

Kamis, 23 Januari 2020

Pornos dan Moichos (51): Gambaran si “Pelacur Besar”


Kamis, 23 Januari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 17:3-5
Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi." (Why 17:4-5)


Pornos dan Moichos (51): Gambaran si “Pelacur Besar”


Setelah dalam ayat sebelumnya kita sudah mulai memahami siapa yang dimaksud dengan si “pelacur besar” tersebut, maka kita akan masuk lebih dalam pada gambaran yang diberikan Yohanes kepada jemaat mengenai “pelacur besar” ini. Dalam konteks ini, Rasul Yohanes kemudian dibawa dalam roh oleh malaikat ke padang gurun, supaya Yohanes dapat melihat sendiri gambaran si “pelacur besar tersebut” (ay. 3a). Perlu kita pahami bahwa dalam Alkitab, padang gurun selalu berbicara mengenai tempat yang tidak nyaman, khususnya bagi umat Tuhan atau orang percaya. Hal ini juga dapat memberikan gambaran bagaimana si “pelacur besar” ini menguasai bumi ini dan membuat orang percaya seharusnya tidak lagi merasa nyaman di bumi ini.

Dalam penglihatannya, Rasul Yohanes melihat seorang perempuan (yaitu si pelacur besar ini) duduk di atas seekor binatang yang berwarna merah ungu, yang penuh dengan tulisan nama-nama hujat (ay. 3b). Dalam bahasa aslinya, sebenarnya perempuan itu bertahta (kathémai/κάθημαι) di atas seekor binatang yang berwarna merah ungu (atau merah kirmizi). Jadi “pelacur besar” ini sebenarnya memiliki spirit yang sama dengan binatang, dimana kata binatang dalam kitab Wahyu menggambarkan suatu kekuatan yang melawan kekuatan ilahi yang dimiliki oleh Allah Bapa. Jika dalam ayat 1-2 digunakan kata “pelacur besar” karena merupakan ucapan malaikat kepada Yohanes, maka di ayat 3 dan seterusnya lebih banyak digunakan kata “perempuan” karena ditulis dari sudut pandang Rasul Yohanes sendiri. Kedua kata itu dalam konteks pasal 17 ini merujuk pada hal yang sama.

Salah satu ciri dari “pelacur besar” ini adalah semangatnya untuk selalu melawan jalan kebenaran dan kerajaan surga. Penggunaan warna merah ungu atau merah kirmizi (Bahasa Inggris: scarlet; Bahasa Yunani: kokkinos/κόκκινος) dalam ayat ini juga memiliki makna yang cukup penting. Kemungkinan besar pada zaman itu, ada warna-warna tertentu yang merujuk pada maksud tertentu saat digunakan. Sebagai contoh, warna ungu atau kain warna ungu merujuk pada kekayaan karena harga kain warna ungu pada waktu itu cukup mahal mengingat cara pembuatannya yang cukup sulit (bandingkan Luk 16:19, Kis 16:14). Sementara warna merah kirmizi atau scarlet ini merujuk pada tindakan amoral seperti percabulan.

Jika kita melihat makna percabulan dalam ayat-ayat sebelumnya, kita akan tahu bahwa percabulan dapat bersifat rohani dan tidak hanya jasmani. Hal ini sejalan juga dengan binatang itu yang memiliki nama-nama hujat, yang dapat berarti merendahkan, melawan atau menentang Allah. Jadi jelas bahwa binatang ini tidak akan pernah mau tunduk di bawah kekuasaan dan pemerintahan Allah. Mereka akan selalu mencoba melawan Allah dan menyeret manusia untuk ikut melawan Allah.

Dalam ayat selanjutnya juga dikatakan bahwa binatang itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk (ay. 3c). Sangat mungkin ini juga bermakna simbolis, karena cukup aneh jika dipikir ada tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Bagaimana membagi sepuluh tanduk pada tujuh kepala? Apakah ada kepala yang mendapat empat tanduk dan lainnya hanya satu? Ataukah ada tiga kepala yang mendapatkan dua tanduk dan yang lain hanya satu?

Pertanyaan ini akan membingungkan jika dipandang secara harafiah. Namun jika melihatnya sebagai suatu simbol yang hendak disampaikan oleh Rasul Yohanes kepada jemaat pada waktu itu, kita akan lebih mudah mengerti. Alkitab jelas menulis bahwa ketujuh kepala melambangkan tujuh kerajaan, sudah ada lima yang sudah ada dan sudah jatuh, yang satu ada (kemungkinan kerajaan Romawi), dan satu lagi belum ada (Why 17:9-10). Kesepuluh tanduk melambangkan sepuluh raja yang akan memerintah (dalam sudut pandang Rasul Yohanes pada masa itu) (Why 17:12-13). Tentu banyak orang yang menebak-nebak apakah kerajaan ketujuh itu, dan siapa sepuluh raja yang dimaksud. Tetapi alangkah bijaknya jika kita cukup mengerti inti maksud penyampaian tersebut supaya orang percaya berhati-hati karena kuasa kegelapan tidak akan tinggal diam menyerang umat pilihan Tuhan.

Dikatakan bahwa perempuan itu memakain kain ungu (gambaran kemewahan) dan kain kirmizi (kata yang sama digunakan dalam ayat 3 dan 4 yaitu kokkinos yang merujuk pada tindakan amoral atau percabulan), yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara (yang menggambarkan kekayaan, kekuasaan dan kehormatan dalam dunia) (ay. 4a). Jadi “pelacur besar” ini memiliki spirit yang selalu mengagung-agungkan tiga hal di atas: kemewahan, percabulan, dan kekayaan/kekuasaan. Inilah yang ditawarkan oleh “pelacur besar” ini kepada para penduduk bumi termasuk orang percaya. Dan jika kita mau jujur, di masa sekarang ini, sudah banyak manusia yang memandang ketiga hal itu sebagai tujuan hidup. Mereka sibuk mengejar harta, kekayaan, kemewahan, bahkan percabulan dan tidak peduli lagi mengenai kebenaran.

Dikatakan pula bahwa perempuan ini memegang suatu cawan emas yang penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya (ay. 4b). Kata “cawan” dalam ayat ini menggunakan kata potérion (ποτήριον) yang berarti cawan, gelas, cawan anggur. Kata ini juga digunakan dalam Alkitab Perjanjian Baru, misalnya: secangkir air sejuk (Mat 10:42), atau cawan yang digunakan dalam adat Yahudi (Mat 23:25-26). Namun kata potérion ini paling banyak digunakan dalam merujuk pada cawan yang digunakan dalam perjamuan terakhir oleh Yesus dan murid-murid-Nya serta dalam perjamuan kudus yang dilakukan oleh jemaat mula-mula.

Oleh karena itu, penggunaan kata “cawan emas” dalam kitab Wahyu ini menggambarkan bagaimana si perempuan atau “pelacur besar” tersebut mencoba meniru apa yang diajarkan Tuhan Yesus. Jika Tuhan Yesus menggunakan cawan dalam perjamuan dan mengajarkan kepada para murid-Nya untuk mengingat kematian-Nya, maka perempuan pelacur besar ini menggunakan cawan juga, tetapi cawan emas. Tuhan Yesus tidak pernah menyebutkan spesifikasi cawannya, dan menurut saya pastilah yang digunakan bukan cawan emas tetapi cawan biasa.

Cawan emas menggambarkan suatu kemewahan yang mungkin terlihat indah dari luar. Sementara itu konsep cawan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus merujuk kepada penderitaan (Mat 20:22-23). Tuhan Yesus juga berkata bahwa setiap kali kita memakan roti dan meminum dari cawan (melambangkan perjamuan kudus), maka kita memberitakan kematian Tuhan (1 Kor 11:26). Itulah sebabnya perjamuan kudus harus dimaknai sebagai komitmen untuk ikut mengambil bagian dalam penderitaan Tuhan Yesus, bukan hanya sekedar suatu “liturgi” untuk mengklaim janji Tuhan akan berkat dan kesembuhan, mengingat Tuhan Yesus sendiri tidak pernah mengajarkan hal demikian.

Justru kekayaan, kelimpahan, kehormatan, serta segala kenikmatan dunia itulah yang ditawarkan oleh si perempuan atau pelacur besar tersebut. Ia menawarkannya dalam cawan emas (yang terlihat menarik dan mewah dari luar), tetapi di dalamnya penuh dengan segala kekejian dan kenajisan dalam percabulannya. Ini mungkin sejajar dengan apa yang dilakukan oleh orang Farisi yang lebih suka membersihkan bagian luar cawan tetapi bagian dalamnya penuh dengan hal-hal yang buruk (Mat 23:25-26).

Kata “percabulan” dalam ayat 26 ini menggunakan kata porneia (πορνεία) sama seperti yang digunakan dalam ayat 2 pada pasal 17 ini. Kita tentu dapat mengerti bahwa spirit percabulan rohani ini disembunyikan begitu rupa dalam cawan emas yang terlihat menarik dari luar. Orang yang tidak mengenal Allah dengan benar tentu merasa mereka sudah hidup dengan benar karena sudah melakukan segala macam liturgi atau syariat agama yang mereka yakini. Padahal mungkin saja itu adalah cawan emas yang hanya terlihat indah dari luar, tetapi dalamnya penuh dengan kebusukan dan kenajisan. Orang percaya yang tidak hidup dalam kebenaran mungkin saja bisa tertipu dengan segala macam kegiatan-kegiatan di gereja yang nampak baik dan indah dari luar, tetapi di dalamnya hampa. Ingat bahwa “pelacur besar” ini selalu melawan Allah, dan akan menggunakan segala macam cara untuk menyesatkan manusia, termasuk dengan meniru kebenaran dengan penuh tipu daya.

Dalam ayat selanjutnya kita melihat bagaimana pada dahi perempuan itu tertulis suatu nama, yaitu suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi(ay. 5). Kata “dahi” dalam ayat ini menggunakan kata metópon (μέτωπον) yang hanya digunakan sebanyak 8 kali, semuanya dalam kitab Wahyu. Kata ini digunakan untuk hal merujuk kepada tanda binatang yang ditulis di dahi orang-orang yang menyembah binatang tersebut (Why 13:16, 14:9, 17:5, 20:4) dan juga merujuk kepada meterai Allah yang ditaruh di dahi orang-orang kudus yang menyembah Allah (Why 7:3, 9:4, 14:1, 22:4).

Hal ini menunjukkan bahwa kuasa kegelapan selalu mencoba untuk meniru kebenaran supaya banyak orang terperdaya dan tersesat mengikuti jalan yang salah. Meskipun banyak orang (termasuk saya dahulu) menyangka tanda di dahi ini adalah semacam barcode, chip, implant, dan teknologi lainnya yang akan digunakan oleh antikristus, tapi saat ini saya percaya bahwa ini lebih merujuk kepada siapa pihak yang disembah oleh manusia. Apakah antikristus (dengan segala kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan dunia yang ditawarkan) ataukah Tuhan Yesus (dengan standar hidup kesucian yang tinggi, kekudusan, dan kesempurnaan dalam melakukan kehendak Bapa).

Itulah sebabnya, Rasul Yohanes mencoba mengungkap bahwa perempuan atau pelacur besar (yang menggambarkan spirit kuasa kegelapan untuk mempengaruhi orang dengan segala kenikmatan dunia) memiliki nama yang tertulis di dahinya. Hal ini mungkin adalah sebuah rahasia yang masih tersembunyi bagi Rasul Yohanes dan orang-orang yang hidup di zaman itu. Tentu pada masa itu sudah ada orang-orang jahat. Namun pengaruh kekayaan dan kenikmatan dunia belum mencapai puncaknya seperti yang terjadi di masa sekarang ini, dimana hampir semua orang mengejar segala kekayaan dan kenikmatan dunia, yaitu percintaan dengan dunia ini (1 Yoh 2:16-17). Dalam hal ini mungkin saja berlaku bahwa di masa-masa akhir, akan banyak rahasia yang disingkapkan, karena orang jahat akan semakin bertambah jahat, sementara orang benar akan semakin disucikan dan dimurnikan (Dan 12:8-10, Why 22:10-12).

Dalam nama yang disingkapkan oleh Rasul Yohanes itu digunakan kalimat “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi” (ay. 5b). Kata “besar” di sini menggunakan kata yang sama dengan di ayat 1, yang merujuk pada kekuasaan yang besar. Kata “Babel” sendiri sering digunakan untuk merujuk suatu pemerintahan yang melawan pemerintahan Allah, sama seperti bangsa Babel yang memerangi bangsa Yehuda yang merupakan bangsa pilihan Allah di dalam Perjanjian Lama.

Sementara itu, digunakan pula kata “ibu dari wanita-wanita pelacur”. Kata pelacur dalam ayat ini menggunakan kata porné (πόρνη), yang berarti “pelacur wanita, perempuan cabul” yang juga digunakan dalam ayat 1. Jelas bahwa dalam ayat 5 ini Rasul Yohanes hendak menekankan bahwa apa yang ia lihat di padang gurun ini adalah benar sebagaimana gambaran yang disampaikan oleh malaikat di ayat 1. Jika dikatakan bahwa ia adalah ibu dari wanita-wanita pelacur, maka ini menggambarkan betapa segala tindakan percabulan bersumber atau diawali dari perempuan itu. Tentu jika percabulan dipandang juga sebagai percabulan rohani, maka ini pastilah merujuk kepada spirit kuasa kegelapan atau spirit iblis yang mencoba menyesatkan manusia dari jalan yang benar.

Kalimat terakhir yaitu “kekejian bumi” merujuk pada kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di bumi, atau kejahatan yang hendak diperkenalkan kepada para penduduk bumi. Kata ini juga digunakan di ayat 4 yang menunjukkan isi dari cawan emas yang dipegang perempuan ini. Jelas bahwa ini adalah dosa dan kesalahan manusia yang mengikuti jalan si perempuan pelacur besar ini. Jadi sosok perempuan atau pelacur besar ini adalah ibu dari wanita-wanita pelacur dan juga ibu dari segala kekejian di bumi ini. Begitu besar spirit kuasa kegelapan ini yang hendak menyeret manusia ke dalam hawa nafsu yang membinasakan. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu hati-hati dan berjaga-jaga akan spirit ini.



Bacaan Alkitab: Wahyu 17:3-5
17:3 Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.
17:4 Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.
17:5 Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi."

Rabu, 22 Januari 2020

Pornos dan Moichos (50): Memahami si “Pelacur Besar”


Rabu, 22 Januari 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 17:1-2
Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya." (Why 17:1)


Pornos dan Moichos (50): Memahami si “Pelacur Besar”


Dalam kitab Wahyu setidaknya kita sudah mengenal beberapa istilah yang dijadikan simbol sebagai hal yang buruk, di antaranya “wanita Izebel”, “Babel” dan juga “binatang”. Pada renungan hari ini, kita akan belajar mengenai istilah lain yang tidak kalah jahatnya yaitu “pelacur besar”. Konteks penglihatan Rasul Yohanes ini adalah setelah ketujuh cawan dicurahkan dimana hal itu dapat dikatakan sebagai salah satu hukuman akhir atas manusia sebelum akhirnya di perikop ini Tuhan hendak menunjukkan hukuman akhir atas pelacur besar itu.

Dari ketujuh malaikat yang telah membawa ketujuh cawan murka Allah dan menumpahkannya ke atas bumi, salah satu di antaranya datang kepada Rasul Yohanes dan mengajaknya untuk datang (ay. 1a). Malaikat tersebut hendak menunjukkan kepada Rasul Yohanes mengenai putusan atas pelacur besar (ay. 1b). Supaya kita mengerti mengenai konteks dan maksud tulisan ini, kita akan mencoba untuk membedah ayat ini dengan lebih dalam.

Kata “pelacur besar” dalam bahasa aslinya menggunakan kata pornēs tēs megalēs (πόρνης τῆς μεγάλης). Kata pornēs yang diterjemahkan sebagai “pelacur” berasal dari kata porné (πόρνη) memiliki makna a prostitute, a harlot, a strumpet, a woman who sells her body for sexual uses, any woman indulging in unlawful sexual intercourse, whether for gain or for lust (seorang pelacur, perempuan cabul, kupu-kupu malam, perempuan yang menjual tubuhnya untuk kegunaan seksual, perempuan yang telribat dalam suatu hubungan seksual yang tidak sah, demi keuntungan materi ataupun hanya untuk nafsu semata). Namun kata porné ini juga dapat memiliki makna figuratif yaitu an idolatress (wanita penyembah berhala).

Sementara itu kata “besar” di sini menggunakan kata megalēs dari akar kata megas (μέγας) yang berarti besar, hebat, kuat, penting, berkuasa. Jadi makna pelacur besar di sini adalah pelacur yang sangat besar dan hebat, dengan posisi yang sangat penting, strategis dan penuh kuasa. Perhatikan pula kalimat selanjutnya yang berbunyi “yang duduk di tempat yang banyak airnya” (ay. 1c). Beberapa teolog memaknai kalimat “di tempat yang banyak airnya” secara harafiah, dimana mereka menganggap bahwa bahwa salah satu ciri-ciri “pelacur besar” ini berasal atau berada di daerah yang banyak airnya (banyak danau, dekat laut, atau di tempat dengan hujan yang cukup tinggi.

Namun demikian, kalimat ini tentu tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. Jika kita melihat di ayat 15, kita akan menemukan bahwa yang dimaksud dengan air dalam hal ini adalah orang banyak dari segala bangsa-bangsa. Mereka adalah orang-orang yang “ditundukkan” oleh si “pelacur besar“ itu. Jangankan orang biasa, bahkan dikatakan bahwa raja-raja di bumi (para pemimpin-pemimpin bangsa) telah berbuat cabul dengannya (ay. 2a).

Kata “berbuat cabul” di ayat ini menggunakan kata eporneusan (ἐπόρνευσαν) dari akar kata porneuó (πορνεύω). Kata ini bersifat kata kerja dan sejajar dengan kata porné sebagai kata benda yang digunakan di ayat sebelumnya. Dalam konteks pada masa itu, suatu percabulan adalah tindakan antara dua orang atau lebih, dimana pelakunya dapat disebut sebagai pornos (laki-laki) atau porné (perempuan) yang melakukan tindakan/perbuatan cabul (porneuó), dan keseluruhannya dimaknai sebagai percabulan (porneia) yang merupakan kata benda. Sehingga jika diibaratkan bahwa ada seorang wanita yang berbuat cabul dengan banyak pemimpin-pemimpin atau raja-raja di bumi, maka betapa mengerikan sosok yang dimaksud dengan wanita “pelacur besar” ini.

Bahkan, dikatakan pula bahwa penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya (ay. 2b). Ada pemilihan kata yang menarik di ayat ini, dimana untuk kata “penghuni-penghuni” digunakan kata katoikeó (κατοικέω), yang bermakna penduduk atau orang-orang yang tinggal dan menetap di suatu daerah. Dalam ayat lain, kita telah diingatkan bahwa kita sebenarnya bukanlah penghuni tetap di bumi ini, melainkan adalah “pendatang dan perantau” (1 Ptr 2:11). Jelas bahwa orang percaya sebenarnya di-setting Tuhan bukan untuk menikmati bumi ini (karena bumi ini akan menjadi lautan api), tetapi untuk menikmati hidup kekal bersama-sama dengan-Nya dalam kerajaan-Nya yang kekal.

Oleh karena itu, jika kita sudah merasa betah dan nyaman di bumi ini, dan menganggap bahwa segala kesenangan dan kebahagiaan di bumi ini adalah sesuatu yang sangat berharga, maka kita bukanlah “pendatang dan perantau”, tetapi sudah menjadi penghuni-penghuni bumi ini, yang sangat mungkin sekali sudah menjadi orang-orang yang sudah dimabukkan dengan anggung percabulannya. Seharusnya, orang Kristen yang benar harus sadar bahwa dunia ini bukanlah hunian tetap, melainkan hanyalah hunian sementara. Hunian tetap kita nanti sedang disiapkan oleh Tuhan Yesus dalam kerajaan-Nya yang kekal (Yoh 14:2).

Kata “anggur percabulan” yang digunakan di ayat 2 ini berasal dari dua kata yaitu oinos (οἶνος) dan porneia (πορνεία). Kata oinos berarti anggur, yang digunakan sebagai minuman yang cukup umum di zaman itu. Kita sebagai orang percaya harus cerdas, bahwa oinos ini tidak pernah merujuk pada anggur yang digunakan dalam perjamuan kudus. Dalam setiap ayat yang merujuk pada perjamuan terakhir yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya, serta pada kegiatan perjamuan kudus yang dilakukan oleh jemaat mula-mula, tidak pernah ada ayat yang merujuk pada kata anggur (oinos), tetapi selalu menggunakan kata cawan.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh “pelacur besar” di sini adalah melakukan sesuatu yang menyesatkan orang percaya. Orang Kristen yang tidak hidup benar dan tidak hati-hati tentu akan mudah tertipu dan terjebak dalam penyesatannya. Bisa saja mereka akan sama dengan para penduduk bumi lainnya yang terjebak dalam anggur percabulan dan kemudian menjadi mabuk. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, Rasul Paulus sudah mengingatkan agar orang percaya tidak mabuk oleh anggur karena dapat menimbulkan hawa nafsu, tetapi harus penuh dengan Roh (Ef 5:18). Kata yang digunakan dalam ayat di kitab Efesus itu sama dengan yang digunakan dalam kitab Wahyu ini yaitu methuskó (μεθύσκω).

Karena kitab Wahyu penuh dengan simbol-simbol (yang tentu saja sudah dimengerti oleh para pembacanya pada waktu itu, karena mereka hidup dalam kondisi zaman dan konteks yang sama), maka percabulan di pasal 17 ini tidak boleh hanya dipandang sebagai percabulan jasmani, melainkan lebih kepada percabulan rohani. Dalam hal ini, “pelacur besar” adalah iblis (atau spirit iblis) yang membuat orang tidak menyembah Allah yang benar. Orang yang tidak menyembah Allah bukan berarti menyembah iblis, tetapi mereka bisa jadi menyembah diri sendiri, atau kekayaan dunia. Sebagai contoh, orang yang mencari kekayaan dengan pergi ke dukun misalnya, dia tidak dapat dikatakan menyembah dukun, tetapi menyembah kekayaan (karena itu menjadi prioritas hidupnya, dan harus dicapai dengan cara apapun, bahkan jika harus ke dukun dan membuat perjanjian dengan kuasa kegelapan).

Jadi jika demikian, sesungguhnya bumi ini sudah dikuasai oleh spirit dari “pelacur besar” tersebut. Sebagian besar penduduk bumi termasuk para pemimpinnya sudah terikat dan mabuk dengan segala keindahan dunia termasuk kekayaan dunia. Prinsip orang hidup pada hari ini adalah bagaimana mereka bisa mendapat uang, kekayaan, kedudukan, kehormatan, dan lain sebagainya. Tentu saja banyak juga jemaat atau gereja yang sudah tercemar oleh spirit ini. Kita dapat melihat bagaimana ada para pelayan gereja berebut jadwal melayani, atau ada di antara para pendeta yang berebut kedudukan dan kekuasaan. Jika mau jujur, maka mereka sebenarnya termasuk di antara penghuni bumi yang sudah mabuk oleh anggur percabulan atau spirit duniawi ini.

Tidak heran bahwa Rasul Yohanes mengingatkan orang percaya untuk tidak mengasihi dunia dan terjebak dalam segala percintaan dunia (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup), karena dunia ini akan lenyap suatu saat nanti (1 Yoh 2:16-17). Ini harus menjadi perhatian serius bagi gereja dan khususnya bagi para pendeta selaku pemimpin jemaat. Gereja harus berani berperang menyuarakan kebenaran dan melawan spirit kuasa kegelapan yang hendak memabukkan orang-orang dengan percabulan rohani. Dalam renungan selanjutnya kita akan melihat bagaimana kelanjutan dari “pelacur besar” ini.


Bacaan Alkitab: Wahyu 17:1-2
17:1 Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.
17:2 Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya."