Minggu, 29 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (5) Allah yang Telah Mengurapi


Minggu, 29 Maret 2020
Bacaan Alkitab: 2 Korintus 1:21-22
Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi (2 Kor 1:21)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (5) Allah yang Telah Mengurapi


Kita telah belajar bagaimana Allah Bapa telah mengurapi Allah Anak yaitu Yesus Kristus sebagai utusan yang sah untuk melaksanakan karya penyelamatan-Nya bagi seluruh umat manusia. Demikian pula Allah Bapa juga telah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus atau Roh Allah yang menyertai-Nya dalam segala pelayanan-Nya, termasuk dalam hal mengadakan mujizat, mengajar, memberitakan kabar baik, dan lain sebagainya. Kini, kita perlu mempersoalkan apakah orang percaya juga dapat menerima pengurapan dari Allah Bapa atau tidak. Jika jawabannya adalah ya, kepada siapakah pengurapan itu diberikan? Kepada semua orang ataukah hanya kepada orang-orang tertentu saja?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan belajar dari bacaan Alkitab kita pada hari ini. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di kota Korintus, Paulus menyatakan bagaimana Allah berkarya dalam hidupnya dan hidup orang percaya, yaitu dengan cara meneguhkan Paulus dan jemaat di dalam Kristus (ay. 21a). Dalam hal ini Paulus mengatakan pula bahwa Allah yang telah meneguhkan bersama (atau menyatukan) juga adalah Allah yang mengurapi (ay. 21b).

Sepintas dalam bahasa Indonesia, kita melihat kalimat di bagian awal dan akhir dari ayat 21 ini adalah ayat yang sejajar. Namun jika kita melihat dalam bahasa aslinya, kata “meneguhkan” di ayat 21 ini bersifat present participle active sementara kata “mengurapi” bersifat aorist participle active. Apa artinya? Kata kerja yang bersifat aorist secara sederhana menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu pada suatu waktu tertentu yang tidak berkelanjutan. Kata kerja yang bersifat aorist juga digunakan pada kata “memeteraikan” dan “memberikan” pada ayat 22. Sehingga dalam terjemahan bebas khususnya terkait dengan bentuk kata kerjanya, ayat 21 dan 22 dapat dilihat sebagai: “Sebab Dia yang meneguhkan (present) kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi (aorist), telah memeteraikan (aorist) tanda milik-Nya atas kita, dan yang telah memberikan (aorist) Roh Kudus dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Dengan demikian, di masa kini (present) Allah memang sedang berkarya untuk mempersatukan orang percaya di dalam Kristus. Allah yang sama adalah Allah yang telah mengurapi kita, yang telah memeteraikan tanda milik-Nya atas kita, dan yang telah memberikan Roh Kudus di dalam hati kita. Ketiga hal yang disebutkan terakhir bersifat aorist yang artinya telah terjadi pada suatu waktu di masa lalu. Dalam hal ini, terjadinya peristiwa pengurapan yang dimaksud dalam ayat 21 ini tentu sudah terjadi di masa lampau ditinjau dari lini masa dimana surat ini ditulis oleh Paulus.

Tentu jika kita menyelidiki peristiwa di lini masa Perjanjian Baru, kita akan mengerti bahwa peristiwa pengurapan yang dimaksud sangat mungkin merujuk kepada kejadian pencurahan Roh Kudus kepada para murid pada hari Pentakosta. Kita telah melihat dalam renungan-renungan hari sebelumnya bagaimana Allah Bapa mengurapi Yesus Kristus dengan Roh Kudus (Roh Allah) dalam pelayanan-Nya di dunia ini. Sama seperti pengurapan kepada Yesus Kristus, Allah Bapa juga mengurapi orang percaya (yaitu para murid) dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Kita melihat bagaimana setelah Pentakosta, para murid dan jemaat mula-mula melakukan pemberitaan Injil dengan berani, bahkan memiliki karunia Roh yang luar biasa seperti membuat mujizat. Kata mengurapi di ayat 21 ini juga menggunakan akar kata yang sama yaitu chrió (χρίω), yang juga digunakan dalam Luk 4:18, Kis 4:27, dan Kis 10:38 sebagaimana yang telah kita bahas dalam renungan sebelumnya.

Saya kemudian berpikir, mengapa dalam ayat ini kata “mengurapi” menggunakan jenis kata kerja aorist? Mengapa tidak digunakan kata kerja jenis present saja? Dalam perenungan dan pergumulan saya secara pribadi, saya menemukan jawabannya. Menurut pendapat saya, Allah Bapa sudah mengurapi umat-Nya dengan memberikan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Sejak saat itu, jemaat adalah bait Roh Kudus, tempat Roh Allah berdiam di dalam diri manusia. Artinya, setiap orang yang percaya kepada Allah dimungkinkan untuk memiliki kehidupan seperti hidup yang Tuhan Yesus miliki selama mengenakan tubuh daging di dunia ini.

Hal ini berarti bahwa, jika Tuhan Yesus mampu melakukan perbuatan baik sepanjang hidupnya, melakukan pekerjaan yang menjadi bagian-Nya, dan mampu memiliki ketaatan yang sempurna hingga kematian-Nya, maka kita yang telah percaya kepada-Nya juga dimungkinkan untuk memiliki hidup seperti Tuhan Yesus hidup. Memang tingkat kesempurnaan kita tentu berbeda dengan tingkat kesempurnaan Tuhan Yesus. Akan tetapi, menarik bahwa pada hari terakhir, kita akan dihakimi berdasarkan apa yang kita lakukan dalam hidup ini, yaitu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa dalam hidup kita (Mat 7:21-23). Oleh karena itu, pengurapan yang Allah berikan tentu bertujuan untuk memampukan kita mengerti kehendak Bapa dan juga untuk melakukan-Nya.

Namun demikian, keputusan untuk memilih melakukan kehendak Bapa atau memilih untuk melakukan keinginan kita ada di tangan kita masing-masing. Di situlah kita harus memilih, mau masuk melalui pintu yang lebar atau masuk melalui pintu yang sempit. Kita harus memilih apakah kita bersedia hidup untuk kepentingan Tuhan dan kerajaan-Nya ataukah hidup untuk kepentingan diri kita sendiri dan membangun kerajaan kita sendiri. Setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil itulah yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan ketika suatu saat kita menutup mata.

Dalam hal ini saya tidak mengerdilkan peran Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Harus diakui ada saat-saat tertentu dimana Roh Kudus memberikan karunia-Nya kepada orang percaya yang dapat dilihat oleh orang lain, seperti berkata-kata dengan bahasa roh, bernubuat, membuat mujizat, dan lain sebagainya (1 Kor 12:1-11). Namun karunia Roh yang nampak tersebut tidak dapat dimaknai sebagai pengurapan yang terjadi berkali-kali. Menurut pemahaman yang saya miliki, sama seperti para imam dan raja di Perjanjian Lama cukup diurapi satu kali, dan Tuhan Yesus juga diurapi satu kali (yaitu setelah peristiwa pembaptisan, dimana Roh Allah turun kepada-Nya (Mat 3:16-17, Mrk 1:10, Luk 3:22, Yoh 1:32)), maka sebenarnya sejak hari Pentakosta Allah sudah memberikan pengurapan kepada manusia yang percaya kepada-Nya melalui Tuhan Yesus Kristus. Manifestasi-manifestasi terkait dengan karunia Roh sebaiknya tidak disamakan dengan pengurapan, karena ketika kita bertobat dan mengaku percaya kepada Yesus Kristus (dan mulai belajar menjadi murid-Nya dengan cara mengenakan hidup-Nya), di situ kita sudah diurapi dan diberikan Roh Kudus dalam hidup kita.

Demikian pula pengurapan dalam Perjanjian Baru tidak dapat dilihat sebagai suatu peristiwa yang hanya terjadi kepada orang-orang tertentu. Setiap orang percaya adalah anak-anak Allah, yang tentu berhak menerima pengurapan Allah sebagai anak-Nya. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang tertentu yang diberikan karunia lebih banyak dengan tanggung jawab yang lebih besar pula seperti Paulus, Petrus, dan banyak lagi hamba-hamba Tuhan dan pemimpin jemaat dari masa jemaat mula-mula hingga saat ini. Namun demikian, karunia yang lebih banyak dari yang lain sebenarnya tidak terkait langsung dengan pengurapan dalam konteks kata chrió tersebut. Karunia Roh yang diberikan kepada seseorang tentu saja terkait dengan pelayanan atau tanggung jawab yang harus dipikul orang tersebut. Para pemimpin jemaat atau para pengkhotbah/pembicara tentu membutuhkan karunia Roh yang lebih dari jemaat awam misalnya, namun hal tersebut bukan berarti ia lebih diurapi daripada jemaat yang mendengarkan.



Bacaan Alkitab: 2 Korintus 1:21-22
1:21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi,
1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Sabtu, 28 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (4) Isi Pemberitaan Injil yang Benar


Sabtu, 28 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 10:34-43
yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. (Kis 10:38)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (4) Isi Pemberitaan Injil yang Benar


Tidak dapat dipungkiri, pemberitaan Injil yang benar berarti pemberitaan mengenai karya keselamatan di dalam Yesus Kristus. Jadi, apakah yang seharusnya diberitakan? Tentu pemberitaan yang benar harus berpusat pada kehidupan Yesus Kristus yang taat sampai mati kepada Allah Bapa hingga kematian-Nya di atas kayu salib. Jadi semua pemberitaan Injil haruslah berpusat pada pekerjaan Yesus Kristus dan karya keselamatan-Nya bagi umat manusia.

Konteks bacaan Alkitab kita adalah ketika Petrus menyampaikan pemberitaan Injil kepada Kornelius. Dalam perkembangan jemaat mula-mula pada saat itu, Kornelius dapat dikatakan sebagai orang non-Yahudi pertama yang menerima pemberitaan Injil dari para rasul. Sebelum Kornelius, para murid Yesus hanya memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi. Namun ketika Petrus diperintahkan Roh Kudus untuk memberitakan Injil kepada Kornelius, seorang yang bukan berasal dari bangsa Yahudi, maka mengertilah Petrus bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang dan karya keselamatan di dalam Yesus Kristus bukanlah sesuatu yang hanya eksklusif bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi semua orang yang mau percaya dan mengikut jejak hidup-Nya (ay. 34-35).

Sangat mungkin Petrus kemudian teringat masa-masa bersama Tuhan Yesus atau perkataan Tuhan Yesus kepadanya terkait dengan hal ini. Mungkin saja ia teringat perintah untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya (Mat 28:19). Mungkin saja ia juga teringat bagaimana Tuhan Yesus menyampaikan perintah kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga, agar mereka menjadi saksi, tidak hanya di Yerusalem dan Samaria, tapi bahkan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Perkataan Tuhan Yesus mungkin saja selama ini tersembunyi, dan baru kemudian dimengerti oleh Petrus pada saat ia harus datang ke rumah Kornelius. Tentu Petrus teringat bahwa Tuhan Yesus menyampaikan firman yang memberitakan damai sejahtera kepada semua orang (meskipun awalnya memang hanya kepada orang-orang Israel/Yahudi), karena Yesus adalah Tuhan atas semua orang (ay. 36).

Jadi, dalam pemberitaan Injil ini, apakah yang disampaikan oleh Petrus kepada Kornelius? Apakah isi pemberitaan Injil kepada Kornelius berbeda dengan pemberitaan Injil kepada orang lain yang dilakukan oleh Petrus sebelumnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita harus tahu bahwa teknik pemberitaan Injil mungkin saja berbeda-beda pada kondisi yang berbeda pula. Kita dapat melihat bagaimana Petrus berkhotbah kepada khalayak banyak pada hari Pentakosta (Kis 2:14-40), berkhotbah kepada orang banyak di Bait Allah (Kis 3:11-26), berkhotbah dalam kelompok-kelompok kecil maupun secara personal seperti yang dilakukan oleh Filipus kepada sida-sida dari Etiopia (Kis 8:26-40). Dapat dikatakan bahwa metode maupun teknis pemberitaan Injil tentu saja sangat dinamis.

Namun jika berbicara mengenai isi dari pemberitaan Injil, tentu yang harus diberitakan adalah Injil yang benar. Apakah Injil itu? Jika kita mengerti bahwa ada kitab-kitab Injil dalam Alkitab kita, maka itu adalah keempat kitab yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Apakah yang mereka tulis? Tentu tak lain dan tak bukan adalah kehidupan Tuhan Yesus, sejak kelahiran-Nya, pelayanan-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya hingga kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Jadi dapat disimpulkan bahwa Injil adalah karya keselamatan Yesus Kristus yang dari kelahiran-Nya hingga kebangkitan-Nya (dan tentu juga termasuk kenaikan-Nya ke surga dan kedatangan-Nya kembali suatu saat nanti).

Pada masa itu, berita mengenai apa yang terjadi pada Yesus Kristus tentu sudah diketahui oleh khalayak banyak. Tidak terkecuali oleh Kornelius, seorang kepala pasukan Romawi (atau pasukan Italia) yang tinggal di kota Kaisarea (ay. 37). Petrus kemudian menyampaikan bagaimana karya keselamatan Yesus Kristus dimulai sejak Yohanes mengajak orang-orang untuk dibaptis, serta karya pelayanan Yesus dari Nazaret termasuk semua perbuatan yang dilakukan-Nya dan mujizat-mujizat-Nya (ay. 38). Perhatikan di sini bahwa ada suatu kata “mengurapi” dalam ayat 38. Oleh karena itu kita akan mencoba melihat makna kata tersebut dalam konteks pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Petrus.

Kata “mengurapi” dalam ayat ini menggunakan kata kerja echrisen (ἔχρισέν) yang juga digunakan dalam Luk 4:18. Kata echrisen berasal dari akar kata chrió (χρίω) yang berarti mengurapi, dengan cara menggosokkan atau menuangkan minyak zaitun kepada seseorang. Jika kita melihat hubungan ayat 38 ini dengan Luk 4:18, jelaslah bahwa pengurapan Allah Bapa kepada Yesus Kristus dimaksudkan untuk memberikan legitimasi melalui pengurapan Roh Kudus (Roh Allah) terhadap pemberitaan Injil (kabar baik) yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam pelayanan-Nya. Bagaimana bentuk dari pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Tuhan Yesus?

Mengingat pengurapan juga dapat dimaknai sebagai penunjukan seseorang sebagai utusan yang sah, maka tentu saja Allah mengurapi Yesus Kristus dengan Roh Kudus (Roh Allah) supaya Ia dapat melakukan karya pelayanan-Nya melalui setiap perbuatan dan mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Ingat bahwa mujizat adalah bagian dari perbuatan (yang ditulis sebagai perbuatan baik) yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Dalam hal ini mujizat tidak dapat dipisahkan dari perbuatan baik. Adalah sangat aneh jika ada orang yang bisa punya karunia mujizat yang luar biasa tetapi ia tidak memiliki karakter yang baik dalam hidupnya (yang tercermin melalui perkataan dan perbuatannya). Mujizat memang penting, khususnya dalam pemberitaan Injil kepada orang non Kristen (seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para murid di awal masa-masa jemaat mula-mula). Namun mengingat mujizat adalah bagian dari perbuatan baik (atau karakter ilahi yang harus dimiliki orang percaya), maka seiring pertumbuhan rohani, orang percaya harus mulai beralih dari mujizat kepada perbuatan baik, yaitu karakter seperti yang dimiliki oleh Tuhan kita Yesus Kristus.

Selain pengurapan Yesus Kristus serta segala karya dan perbuatan baik yang dilakukan oleh Yesus Kristus, isi dari pemberitaan Injil yang benar juga haruslah mencakup penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib (ay. 39) dan kebangkitan-Nya (ay. 40-41). Tentu kita harus paham bahwa konteks peristiwa dalam perikop ini adalah ketika para saksi mata yang menyaksikan kematian dan kebangkitan Tuhan (termasuk kenaikan-Nya ke surga) masih hidup. Mereka inilah (termasuk Petrus di dalamnya) adalah orang-orang yang melihat dengan mata mereka sendiri bagaimana Yesus mati, bangkit, menampakkan diri, dan naik ke surga. Mereka ini adalah saksi mata otentik dari karya keselamatan Yesus Kristus. Oleh karena itu, mereka tentu adalah orang-orang yang sangat legitimate untuk menyampaikan pemberitaan Injil tersebut.

Namun kita perlu melihat bahwa pemberitaan Injil tersebut tidak hanya berfokus pada apa yang sudah Yesus lakukan selama hidup-Nya di dunia ini. Pemberitaan Injil yang benar juga berbicara mengenai apa yang akan Yesus lakukan di masa yang akan datang. Dalam hal ini, Petrus tidak lupa menyampaikan pemberitaan mengenai Yesus Kristus yang akan menjadi Hakim yang adil, yang akan mengadili semua orang, baik yang hidup maupun yang sudah mati pada saat hari penghakiman kelak (ay. 42). Jelas bahwa pemberitaan Injil harus diisi dengan berita Injil yang benar dan proporsional, yaitu dalam hal ini tidak hanya menekankan pada salah satu sisi saja dan melupakan hal yang lain.

Adalah tidak bijak jika misalnya pemberitaan Injil saat ini hanya menekankan pada mujizat yang dilakukan oleh Tuhan, tanpa menekankan pada perubahan karakter manusia. Adalah tidak bijak juga jika pemberitaan Injil saat ini hanya menekankan pada urapan Roh Kudus (dalam konteks urapan kepada orang-orang tertentu dalam gereja yang dikesankan memiliki posisi khusus dan spesial) dan tidak menekankan pada urapan Roh Kudus dalam diri Tuhan Yesus yang nampak dalam karya penyelamatan-Nya. Adalah tidak bijak juga jika pemberitaan Injil saat ini hanya menekankan mujizat yang dilakukan Yesus tapi tidak memberitakan kedatangan-Nya kelak, dan apa yang harus manusia persiapkan supaya layak berdiri di hadapan-Nya pada saat hari penghakiman nanti.

Memang dalam hal ini, kita harus memberitakan bahwa tidak ada pengampunan dosa di luar Kristus (ay. 43). Artinya tidak ada keselamatan di luar Kristus. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa kita harus mnejelek-jelekkan orang yang beragama lain. Ingat bahwa Kristus mati untuk semua orang, Ia adalah Anak Allah yang menghapus (mengangkat) dosa dunia (Yoh 1:29). Bagian kita adalah memberitakan Injil kepada semua orang, selain melalui perkataan kita, tetapi lebih penting lagi melalui sikap dan perbuatan hidup kita yang nyata dalam hidup keseharian kita. Akan sangat sulit jika kita memberitakan Injil melalui perkataan kita tetapi hidup kita tidak menjadi teladan bagi orang lain. Pemberitaan Injil yang benar haruslah berfokus pada pribadi Yesus Kristus yang diurapi oleh Allah, dimana kita juga meneladani hidup-Nya dalam tindakan nyata di hidup kita masing-masing. Jangan sampai kita merasa sudah memberitakan Injil, padahal “injil” yang diberitakan sebenarnya bukanlah Injil yang benar. Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan hal tersebut di hadapan pengadilan Tuhan nanti?



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 10:34-43
10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
10:35 Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
10:36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.
10:37 Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,
10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.
10:39 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.
10:40 Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri,
10:41 bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.
10:42 Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.
10:43 Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya."

Rabu, 18 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (3) Yesus Yang Diurapi Allah Bapa


Rabu, 18 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:23-31
Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi (Kis 4:26-27)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (3) Yesus Yang Diurapi Allah Bapa


Bacaan Alkitab kita hari ini sudah beralih dari masa ketika Tuhan Yesus hidup, kepada masa dimana Tuhan Yesus telah naik ke surga dan Roh Kudus telah dicurahkan pada hari Pentakosta. Singkat cerita, Petrus dan Yohanes telah melakukan mujizat yang sangat luar biasa yaitu menyembuhkan seorang yang telah lumpuh sejak lahir selama sekitar 40 tahun. Karena itulah rakyat banyak sangat bersukacita atas mujizat tersebut. Dalam hal ini Petrus dan Yohanes memanfaatkan kesempatan ini untuk memberitakan Injil keselamatan melalui karya Yesus Kristus. Oleh karena itu para pemimpin Yahudi termasuk para imam, tua-tua dan ahli Taurat kemudian menangkap dan menyidang kedua murid tersebut. Para pemimpin agama Yahudi tersebut merasa tidak suka dengan pemberitaan Injil yang dilakukan, karena hal itu akan mengancam posisi mereka sebagai pemimpin agama yang terhormat.

Namun karena takut kepada orang banyak akibat mujizat yang luar biasa – dan yang dilakukan oleh orang biasa pula, mengingat mereka dahulu hanyalah seorang nelayan – maka para pemimpin Yahudi ini pun tidak dapat menyiksa maupun menangkap mereka (setidaknya untuk konteks pada waktu itu). Kemudian setelah Petrus dan Yohanes dilepaskan, maka mereka pun pergi kepada teman-teman mereka dan menceritakan apa yang mereka alami (termasuk ancaman para imam dan tua-tua) (ay. 23). Ketika murid-murid yang lain mendengar hal tersebut, mereka kemudian berseru (bisa jadi juga dalam bentuk berdoa) (ay. 24a). Adapun isi seruan mereka adalah bahwa mereka sadar bahwa Tuhanlah yang menjadikan langit dan bumi ini beserta isinya (ay. 24b).

Dalam hal ini mereka kemudian mengutip apa yang telah ditulis oleh Daud dalam kitab Perjanjian Lama (ay. 25a), yang berbunyi demikian: “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya” (ay. 25b-26). Jika kita menelusuri kalimat tersebut, kita akan mengerti bahwa ayat tersebut dikutip dari kitab Mazmur pasal 2 ayat 1-2. Kalimat tersebut ditulis oleh pemazmur (yang mungkin adalah Raja Daud) untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa dan raja-raja dunia selalu berusaha untuk menyerang umat Tuhan dan yang diurapi oleh-Nya. Tentu konteks tulisan di kitab Mazmur tersebut dipandang relevan dengan kondisi yang dialami oleh jemaat mula-mula yang baru saja “ditinggalkan Tuhan Yesus ke surga”. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu kala, memang dunia selalu memusuhi kebenaran yang sejati.

Selanjutnya mereka pun berkata dengan merujuk konteks kejadian yang mereka alami, yaitu bagaimana raja-raja (dalam hal ini Herodes dan Pilatus) serta bangsa-bangsa (baik bangsa Romawi maupun bangsa Israel sendiri) berusaha melawan Yesus Kristus yang telah Engkau urapi (ay. 26). Sebenarnya, ada beberapa kata yang berpotensi menimbulkan kebingungan dalam ayat-ayat ini, antara lain:

Pertama, di ayat 24 dikatakan bahwa para murid berdoa kepada Tuhan, namun di ayat 27, mereka berkata bahwa raja-raja dan bangsa-bangsa melawan Yesus, hamba-Mu yang kudus yang Engkau urapi. Ayat ini berpotensi membingungkan pemahaman mengenai Allah Tritunggal, karena seakan-akan mereka berdoa kepada Tuhan di ayat 24, lalu di ayat 27 mereka berkata bahwa Yesus telah Engkau urapi (yang dapat mengesankan bahwa Yesus bukanlah Tuhan). Apakah benar demikian?

Tentu untuk memahami hal ini kita harus melihat ayat dalam bahasa aslinya. Dalam bahasa aslinya, kata Tuhan di ayat 24 menggunakan kata despota (Δέσποτα) dari akar kata despotés (δεσπότης). Kata ini memang dapat bermakna lord (tuan) atau Lord (Tuhan). Namun kata despotés ini berbeda dengan kata Tuhan di ayat 27 yang menggunakan kata kurios (κύριος). Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kata kurios ini sangat identik dengan Tuhan Yesus. Namun kata despotes ini dapat memiliki makna yang bermacam-macam (tidak spesifik merujuk kepada Tuhan Yesus). Jika kita perhatikan, dikatakan bahwa mereka berdoa kepada Allah (theos) yang merujuk kepada Allah Bapa. Namun mengapa kemudian mereka menggunakan kata despotés dalam isi doanya?

Kata despotés ini secara harafiah juga memiliki hubungan dengan kata posis yang berarti seorang suami. Pada masa itu, dalam kondisi masyarakat yang sangat patrilineal, seorang suami adalah kepala rumah tangga yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan terhormat. Dalam keluarga, seorang suami bertindak sebagai kepala, sebagai raja (dalam pengambilan keputusan), sebagai imam, dan peran-peran lainnya. Tentu pada masa itu apa yang dikatakan oleh suami haruslah dilakukan oleh istri dan anak-anaknya. Jadi penggunaan kata despotés di sini hendak menunjukkan bagaimana entitas atau pribadi yang dimaksud ini memiliki suatu otoritas atau kekuasaan yang mutlak yang apapun kehendaknya harus dilakukan.

Kata despotés ini digunakan beberapa kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Terjemahan Bahasa Inggris kata ini ditulis sebagai (Sovereign) Lord, Master, Masters (Tuhan, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuan, Tuan-tuan). Dalam Alkitab Terjemahan Baru Bahasa Indonesia, kata despotés ini ditulis sebagai Penguasa, Tuhan, dan Tuan. Bahkan dalam Yud 1:4 kata despotés disandingkan dengan kata kurios (Master and Lord atau Penguasa dan Tuan). Dalam sebagian terjemahan Alkitab bahasa Inggris, kata despotés dalam ayat 24 ini diterjemahkan sebagai Lord, Master, dan juga Sovereign Lord. Jadi, ada kemungkinan juga kata despotés ini bisa merujuk kepada pribadi Tuhan Yesus sebagai Anak Allah, atau lembaga Allah Tritunggal (yang di dalamnya terdapat Allah Bapa dan Allah Anak juga).

Sementara itu penggunaan kata “Tuhan dan Yang Diurapi-Nya” dalam ayat 26 memang sekilas terkesan bahwa ada dua pribadi di sini: yaitu Tuhan, dan Yang Diurapi-Nya. Apalagi Alkitab terjemahan bahasa Indonesia menggunakan huruf tebal untuk kedua pribadi tersebut, sehingga terkesan ada dua pribadi dalam ayat 26 ini. Perhatikan bahwa ayat ini adalah kutipan langsung dari Mzm 2:2 yang berbunyi demikian: “Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya”. Dalam kitab Mazmur, kata “yang diurapi-Nya” menggunakan huruf kecil, karena memang merujuk kepada umat Israel secara umum, atau tokoh-tokoh tertentu yang mendapatkan pengurapan dalam Perjanjian Lama seperti para imam dan raja.

Jika demikian, apakah terjemahan Alkitab kita salah karena menggunakan huruf besar? Dengan membandingkan Alkitab terjemahan lain khususnya bahasa Inggris, ditemukan bahwa dalam ayat 26 kata Yang Diurapi-Nya memang menunjuk pada pribadi ilahi yang menggunakan huruf besar. Jelas bahwa bukan manusia biasa (misal: jemaat Tuhan, atau para rasul) yang dimaksud dengan “Yang Diurapi-Nya” dalam ayat 26 ini. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh, kita perlu melihat ayat ini dalam bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, frasa “untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya” menggunakan frasa kata tou Kyriou kai kata tou Christou autou. Terjemahan secara bebas atas frasa tersebut adalah “against the Lord and against the Christ of Him” (melawan Tuhan dan melawan Kristus yang adalah Dia/yang berasal dari-Nya).

Dari bahasa aslinya jelas bahwa sebenarnya Tuhan dan Kristus itu adalah pribadi yang sama, tetapi digunakan pengulangan untuk menunjukkan bahwa Tuhan (Yesus) itu adalah Kristus atau Mesias yang dimaksud. Penggunaan kata autou dalam ayat 26 juga dapat menekankan bahwa Kristus/Mesias yang dimaksud adalah Dia (Tuhan Yesus) sendiri atau Kristus/Mesias yang dimaksud adalah berasal dari Dia (artinya tidak ada orang lain yang merupakan Mesias selain Yesus). Jadi penggunaan kata “Yang Diurapi-Nya” tentu merujuk kepada Yesus Kristus, bukan dalam artian Yesus diurapi oleh diri-Nya sendiri, tetapi Yesus itulah Mesias atau pribadi yang diurapi (oleh Allah Bapa).

Pertanyaan kedua yang mungkin muncul berkaitan dengan ayat selanjutnya. Ayat 27 memang berbicara tentang kondisi paralel yang dihadapi oleh jemaat mula-mula yang hampir mirip dengan kondisi yang dialami oleh pemazmur dalam Mzm 2:1-2 tersebut. Namun ada frasa di akhir ayat yang cukup sulit dimengerti yaitu “melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi”. Jika di ayat 24, mereka berseru kepada Tuhan (kurios), maka di ayat 27 ini akan menjadi aneh jika doa yang sama ditujukan kepada kurios yang umum ditujukan kepada pribadi Anak Alah.

Salah satu kemungkinan adalah bahwa doa atau seruan ini ditujukan kepada pribadi Allah Tritunggal karena di awal menggunakan kata despotés, dan bukan kata Theos (yang umum merujuk kepada pribadi Allah Bapa) atau kata kurios (yang umum merujuk kepada pribadi Allah Anak). Ada kemungkinan bahwa ayat 24-26 sebenarnya lebih ditujukan kepada pribadi Allah Anak, sementara ayat 27 ini lebih ditujukan kepada pribadi Allah Bapa. Salah satu pertimbangan adalah peristiwa ini terjadi di awal jemaat mula-mula, sehingga mereka mungkin masih perlu belajar membedakan mana ucapan doa mereka yang seharusnya ditujukan kepada Allah Bapa (Theos), mana yang ditujukan kepada Allah Anak (kurios), dan mana yang ditujukan kepada pribadi Allah Tritunggal. Orang percaya yang memiliki kehidupan doa yang benar, tentu akan mengetahui saat-saat dimana ucapan doanya lebih ditujukan kepada pribadi Allah Bapa atau ditujukan kepada pribadi Allah Anak, atau bahkan mungkin kepada pribadi Allah Tritunggal. Tentu mereka yang sudah sampai pada level ini pasti mengerti bahwa isi doa kepada Allah Bapa tentu berbeda dengan isi doa kepada Allah Anak, serta ada pula doa yang lebih “umum” ditujukan kepada Allah Tritunggal.

Jika melihat frasa “melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi” dalam ayat 27, besar kemungkinan bahwa ayat 27 ini adalah doa atau seruan yang ditujukan kepada pribadi Allah Bapa (Theos). Dalam ayat 27 ini, tidak ada lagi kata Mesias dalam bahasa aslinya tetapi digunakan kata kerja echrisas (ἔχρισας) dari akar kata chrió (χρίω) yang berarti mengurapi, dengan cara menggosokkan atau menuangkan minyak zaitun kepada seseorang untuk menggambarkan aliran Roh Kudus. Pengurapan di sini juga dapat berarti suatu pernyataan yang menyatakan bahwa orang yang diurapi tersebut adalah orang yang benar-benar ditunjuk atau disahkan (authorized) oleh Allah. Ibarat dealer mobil atau bengkel mobil, ada dealer/bengkel yang memang merupakan authorized dealer (dealer resmi yang ditunjuk oleh pabrikan), dan ada pula dealer lain yang sama-sama bisa menjual mobil, tetapi tidak ditunjuk langsung oleh pabrikan. Pengurapan Yesus Kristus oleh Allah Bapa menunjukkan bahwa Yesus Kristus inilah pribadi yang memang ditunjuk dan disahkan untuk menjadi utusan Allah yang menyelamatkan. Dan karena Yesus Kristus inilah pribadi yang diurapi Allah Bapa, maka Ia adalah satu-satunya pribadi yang dapat menyelamatkan manusia, sehingga tidak ada keselamatan di luar Kristus (Yoh 17:3).

Tentu sebagai utusan yang sah, maka Yesus harus mampu melakukan/melaksanakan tugas-Nya selama di dunia ini (ay. 28). Inkarnasi Tuhan Yesus ke dalam tubuh manusia juga diiringi dengan suatu tugas yang maha mulia untuk menyelamatkan manusia. Ia tidak boleh melakukan dosa sekecil apapun, rela mengosongkan diri, rela teraniaya, bahkan harus mampu taat sampai mati di atas kayu salib. Barulah dengan ketaatan-Nya yang sempurna, ia dapat menjadi Juruselamat bagi manusia, yang kemudian tidak hanya memikul dosa dunia, tetapi juga memberikan teladan hidup yang harus dikenakan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada-Nya. Itulah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Tuhan Yesus selama dalam hidup-Nya di dunia ini (Yoh 4:3-4).

Dalam ayat selanjutnya, kita dapat memperhatikan bahwa ucapan mereka kemudian lebih ditujukan kepada pribadi Allah Anak karena penggunaan kata Kurios. Mereka berseru kepada Tuhan Yesus bahwa ada ancaman yang mereka terima sebagai konsekuensi dari memberitakan dan melakukan Injil (ay. 29). Ancaman ini sebenarnya juga sudah diterima oleh Tuhan Yesus selama hidup-Nya di dunia. Namun bedanya, Tuhan Yesus sudah menang karena Ia sudah menerima segala ancaman dan aniaya, bahkan kematian sebagai bagian dari “tugas” yang harus Ia lakukan. Persoalannya adalah para murid pada masa itu masih belum sampai pada level tersebut. Namun pada dasarnya mereka sudah tahu bahwa mereka pasti akan menerima ancaman dan aniaya sebagai konsekuensi logis iman mereka kepada Tuhan. Perhatikan bahwa mereka tidak meminta supaya Tuhan menghalaukan ancaman dan aniaya tersebut. Namun isi doa mereka adalah supaya mereka memperoleh keberanian untuk tetap memberitakan Injil.

Dan tidak hanya itu juga, merek ajuga meminta supaya mereka tetap memiliki karunia untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat (ay. 30). Ayat ini juga perlu diperhatikan konteksnya. Pada masa itu, pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Tuhan Yesus memang penuh dengan mujizat. Bahkan di masa awal jemaat Tuhan terbentuk, mujizat juga masih ada dan banyak dilakukan oleh para rasul. Mengapa mujizat penting? Karena mujizat inilah salah satu tanda yang menunjukkan bahwa para rasul memang adalah orang-orang yang diutus oleh Allah yang benar. Salah satunya adalah bagaimana mujizat yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes di dalam Bait Allah membuat banyak orang Yahudi percaya kepada mereka, dan membuat mereka mau mendengar apa yang disampaikan oleh Petrus dan Yohanes.

Dalam hal ini, mujizat adalah tanda bahwa para rasul (dan juga orang-orang Kristen) adalah orang yang benar. Orang lain yang belum percaya (baik itu orang Yahudi maupun orang non Yahudi) banyak yang menjadi percaya karena melihat mujizat. Namun perlu diingat bahwa di masa jemaat mula-mula pun, masa-masa yang penuh dengan mujizat itu hanya terjadi di awal-awal saja. Setelah itu, yang ada hanyalah penganiayaan tanpa henti, dimana orang percaya disiksa, dijadikan santapan binatang buas, disalib, dibakar hidup-hidup, bahkan dibunuh dengan cara-cara yang sadis lainnya. Jelas bahwa mujizat itu penting, khususnya bagi mereka yang bertugas sebagai pemberita Injil di daerah yang tidak mengenal Injil, atau di masa-masa awal kekristenan. Namun seiring berjalannya waktu, bagi mereka yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen seharusnya tidak berhenti sampai di mujizat saja, tetapi harus terus bertumbuh dan tidak menganggap mujizat sebagai hal yang paling penting. Sayangnya sejumlah gereja dan pendeta masih “memarkir” jemaat mereka dalam urusan mujizat, sehingga meskipun sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menjadi Kristen, mereka tetap saja seperti anak-anak rohani dan mengabaikan pentingnya pertumbuhan rohani. Sebagai penutup, Alkitab kemudian menulis ketika mereka berdoa, turunlah Roh Kudus memenuhi mereka dan kemudian mereka memberitakan firman Allah dengan berani (ay. 31).

Jadi apa kesimpulan dari bacaan Alkitab kita hari ini? Mengingat konteks renungan kita adalah mengenai pengurapan dalam Perjanjian Baru, maka dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat dua hal penting mengenai pengurapan oleh Allah Bapa. Pertama, Yesus adalah Mesias, yaitu pribadi yang diurapi oleh Allah menjadi satu-satunya utusan Allah untuk menyelamatkan manusia. Kedua, pengurapan dari Allah berarti pengesahan dan penunjukan Allah terhadap seseorang sebagai pihak yang telah diotorisasi (authorized) sebagai utusan Allah. Dalam konteks ayat ini, Yesuslah pribadi yang sudah diotorisasi oleh Allah Bapa sendiri melalui pengurapan atas diri-Nya. Dalam renungan selanjutnya, kita akan melihat lebih dalam lagi mengenai pengurapan Allah dalam diri Tuhan Yesus ini, khususnya terkait dengan kehidupan dan pelayanan-Nya.



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 4:23-31
4:23 Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
4:24 Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
4:25 Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
4:26 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
4:27 Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,
4:28 untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
4:29 Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
4:30 Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Sabtu, 14 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (2) Verifikasi oleh Tuhan Yesus Sendiri


Sabtu, 14 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Lukas 4:14-21
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (2) Verifikasi oleh Tuhan Yesus Sendiri


Setelah kita melihat kata “pengurapan” dalam Perjanjian Baru yang pertama kali digunakan pada waktu kelahiran Tuhan Yesus, maka kita akan melihat bagaimana kata tersebut digunakan untuk yang kedua kalinya pada saat awal-awal pelayanan-Nya. Jika kita melihat ayat-ayat sebelumnya, kita akan tahu bahwa peristiwa sebelumnya adalah pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan pencobaan di padang gurun, dimana Tuhan Yesus telah dapat melewatinya. Setelah peristiwa pencobaan di padang gurun itu, Tuhan Yesus mulai mengajar di rumah-rumah ibadat. Dalam hal ini, besar kemungkinan bahwa Tuhan Yesus selama masa mudanya (sejak usia 12 tahun hingga 30 tahun), Ia telah belajar hukum Taurat secara formal hingga Ia memperoleh suatu “izin” untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan juga dipanggil sebagai “Guru/Rabi”. Tidak hanya orang biasa yang memanggil-Nya dengan sebutan “Guru” atau “Rabi”, tetapi juga Nikodemus, seorang pengajar Farisi yang terkenal yang juga memanggil Tuhan Yesus dengan sebutan “Rabi” (Yoh 3:2).

Hal yang menguatkan adalah bahwa kemungkinan besar hanya orang-orang yang telah mengenyam pendidikan agama Yahudi secara formal yang boleh berkhotbah di rumah-rumah ibadat Yahudi. Dikatakan bahwa Tuhan Yesus kembali ke Galilea dan mengajar di rumah-rumah ibadat (ay. 14-15). Menurut pendapat saya, sangat besar kemungkinan Ia telah belajar pendidikan agama Yahudi secara formal dan telah diangkat sebagai semacam “Guru” agama Yahudi yang berhak memberikan pengajaran. Jika tidak demikian, tentu Tuhan Yesus sudah dilempari batu oleh orang Yahudi ketika Ia mengajar, apalagi ketika ajaran-Nya sangat berbeda dengan adat-istiadat dan tradisi Yahudi.

Dalam aktivitas pengajaran-Nya secara berkeliling di rumah-rumah ibadat, Tuhan Yesus kemudian kembali ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan oleh orang tuanya (ay. 16a). Meskipun sebenarnya Ia lahir di Betlehem, tetapi karena sejak kecil Ia tinggal di Nazaret, maka banyak orang menyebut-Nya dengan kalimat “Yesus dari Nazaret” atau “Yesus orang Nazaret”. Dari kata “Nazaret” inilah muncul istilah “Nasrani” yang umum dikenakan sebagai salah satu panggilan kepada orang percaya. Karena Tuhan Yesus lebih terkenal sebagai orang Nazaret, maka banyak orang Yahudi tidak percaya bahwa Ia adalah Mesias, karena nubuatan kitab Suci mengatakan bahwa Mesias lahir di kota Betlehem (yang sebenarnya sudah digenapi pada saat kelahiran Yesus).

Kembali ke kota Nazaret, Tuhan Yesus kemudian masuk ke dalam rumah ibadat pada hari sabat, dan ia hendak membaca dari Alkitab (dalam hal ini adalah kitab Perjanjian Lama sebagai kitab orang Yahudi yang berisi kitab-kitab Taurat, Mazmur, dan kitab para nabi) (ay. 16b). Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya (yang sangat mungkin berbentuk semacam gulungan perkamen). Ia membuka kitab tersebut dan menemukan suatu nas yang berbunyi demikian: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (ay. 17-19). Ayat yang dibaca oleh Tuhan Yesus tersebut dapat kita temukan dalam kitab Yesaya pasal 61 ayat 1 dan 2.

Sangat besar kemungkinan bahwa pada masa itu, mereka yang sudah memperoleh predikat sebagai “Guru” diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengajaran pada saat ibadah di rumah-rumah ibadat agama Yahudi atau sinagog. Tentu logikanya tidak semua orang diizinkan untuk mengajar di sana. Karena Tuhan Yesus sudah sah sebagai seorang “Guru” pada masa itu, adalah hal yang wajar bagi mereka untuk memberikan kesempatan berbicara dan mengajar di rumah ibadat tersebut. Setelah membaca nas ayat tersebut, Tuhan Yesus mengembalikan gulungan kitab Yesaya kepada pejabat di rumah ibadat tersebut. Ketika mata semua orang tertuju kepada-Nya, Ia berkata dengan tegas: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (ay. 20-21).

Apakah yang dimaksud dengan Tuhan Yesus bahwa nas dari kitab Yesaya tersebut telah digenapi? Tentu kita harus melihat ayat atau nas yang dikutip oleh Tuhan Yesus tersebut. Dalam bagian awal dikatakan bahwa: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (ay, 18a). Jika kita melihat bahwa nas yang dikutip oleh Tuhan Yesus adalah sebuat nubuatan mengenai keselamatan bagi Sion. Kata “Sion” ini tidak hanya berarti bukit Sion atau kota Yerusalem, melainkan juga dapat melambangkan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama. Inilah nubuatan yang dirindukan oleh segenap bangsa Yahudi pada waktu itu, dimana mereka berharap akan ada Mesias yang datang dan memulihkan kerajaan Israel kembali seperti pada zaman Daud. Padahal keselamatan yang dimaksudkan oleh Allah tidak hanya bersifat jasmani, tetapi lebih bersifat rohani yaitu terkait pemulihan manusia menjadi anak-anak Allah.

Dalam ayat aslinya di Perjanjian Lama, digunakan juga kata “mengurapi”. Pasal 61 dari kitab Yesaya masuk ke dalam bagian kedua, yang lebih banyak merupakan nubuatan setelah masa Yesaya hidup. Tentu kata “mengurapi” yang digunakan di Yesaya 61:1 tersebut bisa ditujukan kepada Yesaya sendiri (karena bosa jadi Allah telah mengurapi-Nya sebagai nabi yang menyampaikan suara Tuhan, meskipun sebenarnya konteks pengurapan lebih kepada para imam dan raja), dan juga bisa dipandang dalam konteks penggenapan keselamatan yang digenapi oleh Yesus Kristus. Namun mengingat ayat ini diucapkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus, maka kita dapat melihat bagaimana Ia melakukan verifikasi terhadap nubuatan nabi Yesaya ini. Dengan kata lain, Tuhan Yesus memverifikasi bahwa Ia adalah “Yang Diurapi Allah” atau Mesias itu sendiri. Mengapa demikian? Setidaknya sejumlah kalimat selanjutnya juga telah digenapi oleh Tuhan Yesus sendiri.

Sebagai contoh, Tuhan Yesus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, yaitu orang-orang yang tertindas. Dalam konteks nabi Yesaya, mungkin yang dimaksud dengan orang miskin adalah bangsa Yehuda yang dikalahkan oleh musuh mereka dan dibuang ke Babel sehingga menjadi miskin. Namun dalam konteks Perjanjian Baru, Tuhan Yesus datang untuk semua orang, termasuk orang yang miskin secara jasmani (yang sering terabaikan oleh para pemuka agama) dan juga mereka yang miskin di hadapan Allah (Mat 5:3). Tuhan Yesus juga jelas merupakan utusan dari Allah Bapa, yang membawa hidup kekal bagi mereka yang percaya (Yoh 17:3).

Oleh karena itu, berbicara tentang pengurapan Allah dalam Perjanjian Baru, memang tidak bisa dilepaskan dari Tuhan Yesus sebagai pribadi yang diurapi oleh Allah. Tuhan Yesus adalah penggenapan dari segala nubuatan mengenai pengurapan di Perjanjian Lama. Jika di dalam Perjanjian Lama hanya imam dan raja yang diurapi, maka di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus adalah penggenapannya, karena Ia adalah Imam (bandingkan dengan Ibr 2:17, 3:1, 4:14, 5:10, dan lain sebagainya) dan juga sebagai Raja. Melalui Tuhan Yesuslah maka jabatan imam dan raja kembali “disatukan”, dan akan dinyatakan dengan mutlak pada hari terakhir, dimana kerajaan Allah akan datang dengan Tuhan Yesus sebagai Raja dan sekaligus sebagai Imam Besar kita.



Bacaan Alkitab: Lukas 4:14-21
4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Selasa, 03 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (1) Mesias, Yang Diurapi (oleh Allah)


Selasa, 03 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Lukas 2:25-26
Dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. (Luk 2:26)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (1) Mesias, Yang Diurapi (oleh Allah)


Hari ini kita akan memulai seri baru mengenai pengurapan dalam Perjanjian Baru. Dalam sejumlah renungan saya yang terdahulu, beberapa kali saya membahas mengenai pengurapan yang merupakan suatu tradisi yang sangat erat kaitannya dengan agama Yahudi/Yudaisme. Namun demikian, sebenarnya praktik pengurapan tersebut sudah tidak relevan lagi di masa Perjanjian Baru. Oleh karena itulah kita mencoba untuk melihat praktik pengurapan dari perspektif Perjanjian Baru.

Kata urapan (atau yang mirip dengan itu, seperti diurapi, mengurapi, dan lain sebagainya) pertama kali muncul di dalam Alkitab Terjemahan Baru Bahasa Indonesia di ayat renungan kita hari ini. Konteks peristiwa ini adalah ketika Lukas mencatat adanya seorang laki-laki yang bernama Simeon yang tinggal di Yerusalem (ay. 25a). Dikatakan bahwa ia adalah seorang yang benar dan saleh (ay. 25b). Tentu saya yakin bahwa Simeon ini pastilah sudah cukup terkenal di kalangan orang-orang Yerusalem pada waktu itu karena kesalehannya dan hidupnya yang benar.

Dikatakan bahwa ia menantikan penghiburan bagi Israel (ay. 25c). Dalam hal ini penghiburan yang dimaksud sangat erat kaitannya dengan kedatangan Sang Mesias, yang dipercaya oleh orang Yahudi bahwa Mesias akan memulihkan kerajaan Israel. Persoalannya adalah hampir semua orang Yahudi berpikir bahwa pemulihan itu akan terjadi secara fisik/duniawi, dimana Mesias akan mendirikan kerajaan Israel yang baru dan mengalahkan musuh-musuh mereka, sama seperti Raja Daud yang membawa bangsa Israel mencapai puncak kejayaannya.

Ini adalah kesalahan pemahaman yang umum dimiliki oleh orang Yahudi pada waktu itu. Saya tidak tahu apakah Simeon sudah memiliki pemahaman yang benar mengenai konsep Mesias ini. Namun karena dikatakan bahwa Roh Kudus ada di atas dirinya (ay. 25d), maka ada kemungkinan bahwa ia sudah memahami konsep Mesias yang benar. Hal itu dapat dilihat dari ucapan Simeon di ayat-ayat selanjutnya yang sama sekali tidak menyinggung mengenai kejayaan kerajaan Israel secara duniawi.

Roh Kudus yang ada pada diri Simeon juga menyatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan (ay. 26). Dari kalimat ini ada kemungkinan bahwa Simeon adalah seorang yang sudah cukup tua/lanjut usia. Ketika ia melihat bayi Yesus yang dibawa oleh kedua orang tua-Nya, ia kemudian mengenali bahwa bayi ini adalah Mesias. Dan ia sangat bersyukur dan berkata, jikalau hari ini ia harus mati, maka ia akan mati dalam damai sejahtera karena ia sudah melihat keselamatan yang datang dari Allah. Simeon memang belum melihat bagaimana karya keselamatan Yesus Kristus (dan mungkin tidak sempat melihatnya dengan matanya sendiri). Namun melihat bagaimana Anak Allah turun menjadi manusia dalam rupa seorang bayi kecil saja ia sudah sangat berbahagia.

Ada hal yang menarik di sini bagaimana Alkitab Terjemahan Baru menggunakan kata: Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan (ay. 26b). Padahal dalam bahasa aslinya hanya digunakan 2 kata: Christon Kyriou (Χριστὸν Κυρίου). Secara harafiah kata tersebut dapat berarti Christ of [the] Lord atau the Lord’s Christ (Kristus sang Tuhan, atau Kristus yang berasal dari Tuhan). Kata Kristus (Christon/Christos) sendiri merupakan kata Yunani yang sepadan dengan kata Mesias (atau Masyiakh atau Al Masih) dalam Perjanjian Lama yang menggunakan bahasa Ibrani. Kata Mesias itu secara sederhana dapat berarti “Yang Diurapi”. Diurapi oleh siapa? Tentu dalam konteks Perjanjian Lama, ada para imam yang diurapi oleh imam lain (imam besar), serta ada raja-raja yang juga diurapi oleh imam. Namun dalam konteks Perjanjian Baru, hampir semua pengurapan berbicara mengenai pengurapan yang dari Allah.

Sebenarnya saya kurang mengerti mengapa para penerjemah Perjanjian Baru menggunakan kata yang cukup Panjang untuk ayat 26 ini, dibandingkan menggunakan kata yang lebih pendek seperti: “Kristus, yang berasal dari Tuhan” atau “Kristus Tuhan itu” (seperti Terjemahan Lama). Dalam hal ini kata Christos diterjemahkan sebagai Mesias dan bukan menggunakan kata Kristus yang lebih umum. Lagi pula kata Christos sebenarnya juga sudah digunakan di ayat pertama dalam Perjanjian Baru: “Inilah silsilah Yesus Kristus (Christos), anak Daud, anak Abraham” namun tidak diterjemahkan sebagai Mesias (Mat 1:1).

Lagipula terdapat sedikit kata yang membingungkan dalam ayat 26 ini yaitu Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Penggunaan kata yang diurapi Tuhan di sini dapat menimbulkan kerancuan. Memang di Perjanjian Lama, ada sedikit kerancuan mengenai kata Tuhan dan Allah dalam ayat-ayat Perjanjian Lama. Seakan-akan Tuhan dan Allah itu sama (meskipun tentu jika kita membedah lebih dalam, ada perbedaan makna antara Tuhan dan Allah). Namun di Perjanjian Baru, kata “Allah” hampir selalu merujuk kepada sosok Bapa di surga (Allah Bapa), sementara kata “Tuhan” hampir selalu merujuk pada pribadi Anak Allah yaitu Yesus Kristus. Itulah mengapa orang Kristen memanggil Yesus sebagai Tuhan dan memanggil Bapa sebagai Allah. Bahkan Tuhan Yesus ketika turun menjadi manusia di bumi ini juga menyebut pribadi Allah Bapa dengan kata “Allah” atau “Bapa”. Prinsip pemahaman mengenai Tuhan dan Allah dalam Kekristenan ini memang sangat rawan jika “dibenturkan” dengan konsep agama lain. Oleh karena itu hendaknya kita tetap menahan diri untuk tidak menghakimi orang beragama lain dari sudut pandang kitab suci kita, apalagi di media sosial, karena memang ada perbedaan prinsip mengenai kata Tuhan dan Allah antara Alkitab dengan kitab suci agama lain.

Jika diterapkan dalam ayat 26, maka akan sedikit terjadi kebingungan yang mengindikasikan bahwa seakan-akan Mesias itu adalalah Dia yang diurapi Tuhan. Saya sendiri lebih suka menggunakan kata Mesias, yaitu Dia yang diurapi. Jika perlu seharusnya memang harus ditambahkan kata “oleh Allah” dan bukan “oleh Tuhan”. Namun karena juga digunakan kata Kurios di ayat 26 itu, lebih baik ayat tersebut diterjemahkan sebagai: “Kristus/Mesias, yang adalah Tuhan itu” atau “Kristus/Mesias yang (berasal) dari Tuhan”.

Walaupun demikian kita tetap harus berterima kasih kepada penerjemah Alkitab Terjemahan Baru karena dari situ kita dapat belajar mengenai arti kata Kristus yang adalah Mesias atau “Yang Diurapi”. Jika kata ini ditujukan kepada bayi Yesus dalam konteks ayat ini tentu itu adalah suatu hal yang sangat benar, karena memang Yesus adalah Kristus/Mesias/Juruselamat. Selain itu Yesus juga adalah pribadi yang diurapi oleh pribadi yang lebih tinggi secara hirarki, yaitu diurapi oleh Allah Bapa. Dalam renungan-renungan selanjutnya kita akan melihat bagaimana kata pengurapan digunakan dalam banyak kesempatan di Perjanjian Baru untuk merujuk sosok Yesus Kristus. Bahkan sudah tidak ada praktik pengurapan seperti dalam Perjanjian Lama yang dilakukan terhadap orang-orang dengan posisi tertentu. Dengan memahami prinsip pengurapan dalam Perjanjian Baru, diharapkan kita semua dapat membedakan konteks pengurapan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru supaya kita dapat menjadi orang Kristen yang cerdas.



Bacaan Alkitab: Lukas 2:25-26
2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.