Senin, 13 April 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (10) Kuasa Kemenangan


Senin, 13 April 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 12:10-12
Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata:  "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa  dan pemerintahan Allah kita,  dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya,  karena telah dilemparkan ke bawah  pendakwa saudara-saudara kita,  yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita." (Why 12:10)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (10) Kuasa Kemenangan


Kita telah tiba pada bagian akhir dari serial renungan mengenai pengurapan dalam Perjanjian Baru. Bacaan Alkitab kita hari ini mungkin sudah cukup sering didengar oleh sebagian orang Kristen, khususnya bagi mereka yang berjemaat di gereja aliran pentakosta maupun karismatik, karena ada sebuah lagu pujian yang didasarkan pada ayat-ayat tersebut. Namun karena renungan kita terkait dengan pengurapan, maka kita akan mencoba belajar konteks ayat-ayat tersebut dalam kaitannya dengan kata pengurapan tersebut.

Kitab Wahyu tidak boleh hanya dipandang sebagai kitab yang bercerita mengenai hal-hal yang akan datang (futuristis) dari sudut pandang kita yang hidup di abad ke-21. Kita harus juga melihat konteks pada saat kitab ini ditulis, dimana sebagian besar memang bersifat futuristis ditinjau dari masa ketika Rasul Yohanes menuliskan kitab ini (yang kemungkinan ditulis pada akhir abad ke-1 masehi). Artinya, sebagian tulisan dalam kitab ini memang bersifat futuris ditinjau dari sudut pandang abad ke-1, tetapi mungkin juga ada yang sudah bersifat historis bagi kita yang hidup di abad ke-21. Sebagian lagi juga berbicara mengenai hal-hal yang sudah terjadi dari sudut pandang penulis kitab ini di abad ke-1.

Terkait dengan bacaan kita di pasal 12 dari kitab Wahyu, tentu kita akan bertanya, apakah ayat-ayat ini berbicara mengenai kejadian di masa yang akan datang (bisa dari sudut pandang abad ke-1 atau abad ke-21), ataukah bersifat historis dari sudut pandang abad ke-1? Dalam hal ini mereka yang berpandangan futuris, berbicara mengenai urut-urutan tulisan dalam kitab Wahyu yang seharusnya bersifat kronologis (misal: peristiwa di pasal 10 terjadi sebelum peristiwa di pasal 11, peristiwa di pasal 11 terjadi sebelum peristiwa di pasal 12, dan seterusnya). Jika demikian, maka pasal 12 ini tentu berbicara mengenai peristiwa futuris di masa yang akan datang (setelah ketujuh meterai dan ketujuh sangkakala di pasal-pasal sebelumnya), setidaknya ditinjau dari sudut pandang penulis di abad ke-1.

Akan tetapi, ada pula pandangan yang melihat bahwa urutan penulisan di kitab Wahyu tidaklah selalu berbicara mengenai kronologis. Sebagai contoh, bacaan Alkitab kita hari ini berbicara mengenai peperangan yang terjadi di surga, antara Mikael dan malaikat terang melawan naga (Iblis) dan malaikat yang telah jatuh (ay. 7). Kira-kira kapankah peristiwa ini terjadi? Apakah ini berbicara mengenai peristiwa yang akan datang? Menurut saya tidak. Ayat ini dapat dimaknai sebagai peristiwa pemberontakan Iblis (atau Lucifer) di surga, dimana akhirnya mereka kalah dan dibuang ke bumi. Hal ini didukung dengan kata “sekarang telah tiba” yang dalam bahasa aslinya menggunakan kata egeneto (ἐγένετο). Kata egeneto ini merupakan bentuk kata kerja aorist indicative middle dari akar kata ginomai (γίνομαι) yang memiliki makna “to come into being, to happen, to become” (terwujud, terjadi, menjadi). Kata kerja dengan sifat aorist menunjuk suatu peristiwa yang pernah terjadi/dilakukan terjadi di masa lampau pada suatu titik waktu dan tidak terjadi secara terus menerus/berulang kali.

Namun demikian, ada pula pandangan yang menyatakan bahwa sebenarnya hal ini berbicara mengenai kemenangan Kristus melalui karya keselamatan-Nya, sehingga Iblis tidak mendapatkan tempat di surga dan dilemparkan ke bumi (ay. 8-9). Hal ini bisa jadi terkait fakta bahwa kematian Yesus membuat Iblis dikalahkan, sehingga ia tidak dapat lagi berada di surga (kemungkinan seperti apa yang ditulis dalam Ayb 1:6-12, 2:1-7). Saya secara pribadi lebih condong kepada alternatif yang kedua ini, karena akan lebih “nyambung” dengan apa yang ditulis dalam ayat-ayat selanjutnya.

Dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa setelah Iblis dikalahkan, tidak mendapat tempat lagi di surga dan kemudian dilemparkan ke bumi bersama dengan malaikat-malaikat yang telah jatuh, maka terdengarlah suara yang nyaring di surga (ay. 10a). Suara tersebut berkata bahwa sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa, dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya (ay. 10b). Dalam bahasa aslinya, kata “Dia yang diurapi-Nya” menggunakan dua kata yaitu Christou autou (Χριστοῦ αὐτοῦ). Dalam konteks dengan kata sebelumnya, frasa “dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya” dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris digunakan kata “And the kingdom of our God, and the [ruling] authority (atau the power) of His Christ/His Messiah”. Jelas bahwa dalam ayat 10b ini ada 4 hal yang ditulis secara sejajar yaitu: 1) keselamatan; 2) kuasa; 3) pemerintahan Allah kita; dan 4) kuasa/pemerintahan Kristus-(nya/Nya).

Penggunaan kata Christou autou di sini tidak terlalu menjadi masalah seperti pembahasan di dalam ayat-ayat pada renungan sebelumnya, karena sebelum kata Christou autou telah dijelaskan bahwa adanya pemerintahan Allah Bapa (Theou/Θεοῦ). Jadi Kristus jelas merupakan Kristus yang berasal dari Allah Bapa, atau pribadi yang diurapi oleh Allah Bapa. Kekuasaan atau otoritas yang dimiliki Kristus jelas berasal dari Allah Bapa. Anak tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Bapa, dan dalam segala hal, Bapa adalah pribadi yang memiliki kuasa dan menyerahkannya kepada Anak untuk memegang pemerintahan dalam kerajaan-Nya.

Keselamatan, kuasa, kerajaan Allah dan kuasa pemerintahan Kristus jelas nyata ketika Ia telah berhasil menang atas kuasa Iblis. Dikatakan bahwa Iblis adalah pribadi yang terus menerus mendakwa saudara-saudara kita di hadapan Allah Bapa (ay. 10c). Memang ada beberapa pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan saudara-saudara kita ini. Ada yang berkata bahwa ini adalah orang-orang kudus yang telah mati. Namun ada pula pendapat yang menyatakan bahwa ini adalah orang-orang yang diangkat hidup-hidup oleh Allah ke dalam surga (contoh: Henokh dan Elia). Tentu tatanan Allah menyatakan bahwa manusia harus mati karena dosa. Akan tetapi nyatanya Allah mengizinkan beberapa orang untuk diangkat ke surga dalam keadaan hidup. Dalam hal ini, bisa jadi iblis mendakwa saudara-saudara kita tersebut mengapa mereka diizinkan masuk surga. Kita dapat melihat bahwa di Perjanjian Lama, Iblis masih dimungkinkan datang ke hadapan Allah dan bahkan berbincang-bincang dengan-Nya (Ayb 1:6-12, 2:1-7). Mungkin saja salah satu topik pembicaraannya adalah dakwaan Iblis supaya orang-orang kudus yang diangkat Allah itu (contoh: Henokh dan Elia) dikembalikan ke dunia orang mati di bawah kuasa Iblis. Akan tetapi, melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, maka Yesus memproklamirkan kemenangan-Nya atas maut. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa Iblis telah dikalahkan oleh dua hal: 1) oleh darah Anak Domba (yang membuat-Nya berhak menebus dosa manusia); dan 2) oleh perkataan kesaksian mereka (ay. 11a).

Dalam hal ini, poin pertama mungkin sudah cukup jelas bagi kita, karena sebagai orang Kristen kita sudah percaya dengan pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib untuk menebus dosa kita. Sama seperti darah domba di masa Perjanjian Lama sebagai penebus dosa atau kesalahan bangsa Israel, maka di zaman Perjanjian Baru, darah Anak Domba Allah juga tercurah untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Iblis tentu telah dikalahkan oleh kuasa darah Anak Domba Allah tersebut. Namun terkait dengan perkataan kesaksian di ayat 11 ini juga perlu kita perdalam lagi. Beberapa gereja membuka banyak ruang kesaksian di dalam ibadahnya dikarenakan pemahaman yang kurang tepat mengenai ayat ini. Tentu saya tidak melarang kesaksian-kesaksian tersebut. Tetapi dari pengalaman saya, sering terjadi ketika orang-orang yang masih baru bertobat bersaksi, ternyata kesaksiannya itu kurang tepat. Misal, kesaksian yang disampaikan selalu saja tentang bagaimana Tuhan menjawab doa, Tuhan menyembuhkan, Tuhan memberikan berkat jasmani, dan hal-hal lain yang sebenarnya tidaklah penting namun tetap disaksikan. Memang hal tersebut bisa menjadi berkat bagi orang lain yang mendengarnya. Tetapi jika setiap ibadah kita “dicekoki” dengan kesaksian mengenai Tuhan memberi berkat uang, kekayaan, promosi jabatan dan lain sebagainya, tanpa kita sadari, pola pikir kita akan terbangun bahwa kita juga harus bisa mengalami seperti apa yang orang lain alami. Akan muncul perasaan minder jika kita tidak memperoleh uang dalam jumlah besar seperti apa yang orang lain saksikan. Padahal jika kita mau jujur, uang dapat menjadi berhala dan menghambat kita untuk bertumbuh dengan benar.

Jika kesaksian hanya dipahami sebagai kesaksian menerima berkat Tuhan (terutama berkat jasmani seperti uang, kekayaan, dan lain sebagainya), saya ragu bahwa kesaksian tersebut dapat mengalahkan Iblis. Menurut saya, kesaksian yang benar itu tentu terkait dengan ayat selanjutnya, yaitu kesaksian hidup yang benar dimana orang-orang tidak lagi mengasihi nyawanya sendiri (ay. 11b). Kita melihat teladan dalam jemaat mula-mula yang mengalami aniaya yang begitu hebat. Mereka tidak hanya mati demi iman mereka kepada Kristus, tetapi juga dianiaya secara fisik dan psikis. Mereka dipukul, ditelanjangi, harta mereka dirampas, kewarganegaraan mereka dicabut, anak-anak mereka dibunuh di depan mata mereka sendiri, disiksa secara kejam, dikuliti, dibakar hidup-hidup, dan lain sebagainya. Apakah dalam aniaya tersebut mereka kemudian menyampaikan kesaksian bahwa: “Tuhan itu baik dan menjawab doa, Ia membuat mujizat dan melepaskan saya dari penderitaan, hidup saya selalu nyaman karena atas berkat-Nya saya bisa membeli banyak barang?”

Tentu tidak! Kesaksian mereka adalah kesaksian yang nyata, bahkan ketika mulut mereka sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Ketika dalam saat-saat terakhir menjelang kematian mereka (akibat tebasan pedang, kayu salib, kobaran api, atau binatang buas yang akan mencabik-cabik mereka), mereka tidak takut dan tidak menyangkali iman mereka. Mereka hanya diam, atau mungkin justru menyanyikan nyanyian pujian kepada Allah. Beberapa dari antara mereka justru mengucapkan kata-kata berkat dan mengampuni orang yang membunuh mereka. Itulah kesaksian yang seharusnya kita kenakan. Mereka hidup dengan benar dalam kesucian hidup, dan tetap percaya kepada Allah sekalipun Allah tidak menyelamatkan mereka dari aniaya. Sangat berbeda dengan kebanyakan doa yang diucapkan orang Kristen di masa-masa ini, dimana mereka menuntut Allah untuk menjawab doa mereka dengan berkata bahwa Allah itu baik, dan kebaikan Allah hanya diukur dari doa-doa yang dijawab (dan iebagian besar isi doa tersebut hanyalah pemuasan keinginan dan hawa nafsu, seperti ingin dapat uang banyak, ingin dapat istri cantik, ingin segera naik jabatan, ingin memiliki rumah atau mobil baru, dan lain sebagainya).

Kesaksian seperti itulah yang harus dimiliki orang percaya jika mereka mau sungguh-sungguh menang. Dengan memiliki kesaksian hidup yang agung, tidak bercacat dan tidak bercela, berarti mereka menghormati pribadi Allah Tritunggal yang Maha Suci, serta kuasa, keselamatan, dan kerajaan-Nya yang kekal. Ketika Anak Allah menang atas kuasa Iblis, maka Iblis dilemparkan ke bumi (artinya tidak lagi memiliki hak di surga, seperti pada zaman Perjanjian Lama). Iblis pun tahu bahwa waktunya telah singkat. Tentu Iblis ingin dapat menyesatkan sebanyak-banyaknya orang supaya mereka melawan Allah dan kerajaan-Nya. Tidak heran, Iblis mencoba menyesatkan banyak orang percaya di waktu yang singkat ini (ay. 12). Penyesatan bisa datang melalui aniaya (dengan harapan orang percaya akan murtad karena aniaya), dengan godaan dosa (korupsi, berzinah, mencuri, membunuh), dan bahkan dengan godaan harta dan kenikmatan dunia, sehingga mereka merasa masih berstatus sebagai orang percaya, tetapi hati mereka sudah terikat dengan dunia ini.

Yang harus kita pahami bahwa Kristus sudah menang melalui ketaatan-Nya yang sempurna hingga mati di atas kayu salib. Kebangkitan-Nya membawa pengharapan baru bahwa kuasa Iblis telah dikalahkan dan kerajaan Allah telah nyata. Tentu kerajaan Allah akan sempurna ketika bumi ini dihancurkan dan manusia-manusia yang hidup benar akan dibangkitkan untuk memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kekekalan. Oleh karena itu, tugas kita sebagai orang percaya adalah untuk berjuang hidup dalam kemenangan Tuhan Yesus ini.

Ingat bahwa Tuhan Yesus sudah menang, tetapi kita tentu masih belum dapat dikatakan menang. Kemenangan kita baru akan terlihat ketika kita mengakhiri hidup kita nanti, apakah kita sudah memilih apa yang benar dalam hidup kita dan menjauhi apa yang salah? Apakah sepanjang hidup kita, kehendak Allah sudah kita lakukan dengan sempurna? Jika kita menghayai karya keselamatan Kristus melalui darah-Nya yang tercurah di atas kayu salib, tentu bagian kita adalah memiliki perkataan kesaksian yang benar. Dalam hal ini perkataan kesaksian tidak boleh hanya dimaknai bahwa kita harus bersaksi di gereja setiap hari Minggu. Jika demikian, nanti ibadah di gereja hanya diisi dengan kesaksian-kesaksian dari seluruh jemaat yang hadir tanpa ada pemberitaan firman yang benar. Dalam hal ini kesaksian harus dipandang sebagai keadaan hidup kita setiap hari, bahkan setiap saat, yang mempermuliakan nama Allah. Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi, itu berarti bahwa dimanapun kita berada, kita harus tetap menjadi saksi Tuhan yang benar, sehingga setiap orang lain yang melihat hidup kita akan mempermuliakan nama Allah. Percuma kita sering bersaksi di gereja tetapi dalam hidup kita sehari-hari, kita justru mempermalukan Tuhan melalui perkataan dan Tindakan kita yang sembrono. Berjuanglah supaya kuasa kemenangan Tuhan Yesus juga dapat kita kenakan dalam hidup kita setiap saat, hingga suatu saat nanti kita didapati sebagai pribadi yang layak masuk ke dalam kerajaan-Nya.



Bacaan Alkitab: Wahyu 12:7-12
12:7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu  dibantu oleh malaikat-malaikatnya,
12:8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.
12:9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.
12:10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata:  "Sekarang telah tiba  keselamatan dan kuasa  dan pemerintahan Allah kita,  dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya,  karena telah dilemparkan ke bawah  pendakwa saudara-saudara kita,  yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.
12:11 Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba,  dan oleh perkataan kesaksian mereka.  Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.
12:12 Karena itu bersukacitalah,  hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya,  celakalah kamu, hai bumi dan laut!  karena Iblis telah turun kepadamu,  dalam geramnya yang dahsyat,  karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat."

Minggu, 05 April 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (9) Terkait dengan Pemerintahan Kerajaan Allah


Minggu, 05 April 2020
Bacaan Alkitab: Wahyu 11:15-18
Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." (Why 11:15)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (9) Terkait dengan Pemerintahan Kerajaan Allah


Tentu bukan tanpa alasan bahwa Allah memberikan pengurapan kepada Yesus Kristus ketika ia menjadi manusia. Sebutan Mesias yang berarti “Yang Diurapi” menunjuk bahwa pribadi Mesias ini adalah tokoh sentral dalam tatanan kerajaan Allah. Dalam hal ini, pengurapan Allah tentu juga terkait pada apa yang dilakukan dalam Perjanjian Lama, dimana pengurapan hanya dilakukan bagi para imam dan raja. Jadi Mesias adalah gambaran pribadi yang menjalankan peran sebagai Imam dan Raja. Jika di masa Perjanjian Lama, kedua jabatan tersebut dipisah (khususnya sejak bangsa Israel memiliki raja pertama yaitu raja Saul), maka di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri adalah Sang Mesias itu, yang menyatukan kembali peranannya sebagai Imam Besar dan juga Raja yang Kekal.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, konteks ayat-ayat bacaan kita hari ini adalah ketika malaikat meniup sangkakala yang ketujuh, yaitu yang terakhir dari ketujuh sangkakala. Jika kita melihat ayat-ayat sebelumnya, lima sangkakala sebelumnya berbicara mengenai bencana yang akan terjadi di dunia ini, dan sangkakala keenam berbicara mengenai bangkitnya dua saksi Allah. Ketika sangkakala ketujuh ditiup, dikatakan bahwa terdengar suara nyaring di dalam surga (ay. 15a). Suara itu menyatakan bahwa pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya (ay. 15b).

Kalimat di ayat 15 ini cukup sulit untuk dimengerti, mengingat dalam terjemahan bahasa Indonesia, seakan-akan ada 2 pribadi: Tuhan kita (pribadi pertama yaitu Yesus Kristus), dan Dia yang diurapi-Nya (pribadi kedua). Jika kita tidak teliti membaca, maka seakan-akan pribadi kedua ini adalah pribadi yang diurapi oleh Tuhan Yesus (pribadi pertama). Lalu siapakah pribadi kedua ini? Siapakah dari kedua pribadi ini yang dikatakan akan memerintah menjadi raja selama-lamanya?

Untuk dapat memahami hal ini, mari kita melihat dalam bahasa aslinya yang diterjemahkan sebagai berikut: Egeneto (telah menjadi) hē basileia (kerajaan) tou kosmou (dunia/kosmos) tou Kyriou (Tuhan/Tuan) hēmōn (bagi kita) kai (dan) tou Christou (Kristus/Mesias) autou (bagi Dia) kai basileusei (memerintah) eis (kepada/untuk/hingga) tous aiōnas (masa/zaman) tōn aiōnōn (masa/zaman). Dalam hal ini kita dapat melihat sebenarnya tidak ada kata “pengurapan” maupun “diurapi” dalam ayat ini seperti di 1 Yoh 2 misalnya. Kata yang digunakan adalah kata Christou (Χριστοῦ) dari akar kata Christos (Χριστός) yang dapat diterjemahkan Kristus atau Mesias. Tentu kata Mesias memang juga bermakna: “Yang Diurapi”. Namun dengan melihat bahasa aslinya, kita akan tahu bahwa sebenarnya ayat 15 ini berbicara mengenai pribadi yang sama, yang kita kenal sebagai Kurios (Tuhan/Tuan) dan juga Kristus (Mesias/Yang Diurapi [oleh Allah Bapa]).

Penerjemahan kata Christos di ayat 15 dengan kata “yang diurapi” ini hampir mirip dengan yang terjadi pada Luk 2:26. Sebagaimana yang telah kita bahas dalam renungan pertama dari seri renungan kita ini, kita melihat bahwa ada sedikit ketidakkonsistenan dalam penerjemahan kata Christos yang pada umumnya diterjemahkan sebagai Kristus, namun dalam beberapa ayat (seperti di ayat 15 ini) kata tersebut diterjemahkan sebagai “yang diurapi”. Tentu kita dapat memahami bahwa kemungkinan karena dalam satu ayat digunakan kata Kurios dan Christos, sehingga perlu diberikan tambahan penjelasan untuk kata Christos yang akhirnya diterjemahkan sebagai “yang diurapi”. Namun kita juga melihat ada ayat-ayat lain yang menggunakan kata Kurios dan Christos dalam ayat yang sama namun tetap diterjemahkan sebagai “Tuhan dan Kristus” (misal: Kis 2:36).

Kemungkinan lain adalah karena penggunaan kata autou di belakang kata Christos. Kata autou sendiri adalah kata personal pronoun yang jika merujuk kepada orang ketiga tunggal maskulin (dalam bahasa inggris: he), maka kata auton ini dapat diterjemahkan sebagai “himself, him, of him”. Saya mencoba melihat terjemahan bahasa Inggris untuk kata Christou auton dalam ayat 15 ini dan menemukan bahwa sebagian besar terjemahan menerjemahkan kata tersebut dengan “of His Christ” atau “of His Messiah”. Jika digabungkan dengan kata-kata sebelumnya, sebagian besar terjemahan bahasa Inggris menulis dengan “The kingdom of the world has become the kingdom of our Lord and of His Christ” (Kerajaan dunia ini telah menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus/Mesias yang berasal dari-Nya (atau yang adalah diri-Nya/Dia sendiri).

Dari pembahasan tersebut, jelas bahwa kata “diurapi” di sini tidak menggunakan kata chrisma atau chrió, melainkan merupakan penjelasan lebih lanjut dari kata Mesias yang memang bermakna “yang diurapi”. Namun pribadi Tuhan dan Mesias/yang diurapi sebenarnya adalah pribadi yang sama yaitu pribadi Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Dari pembahasan renungan kita di hari-hari sebelumnya, jelas bahwa Yesus Kristus adalah pribadi yang diurapi oleh Allah Bapa. Dialah yang akan memerintah sebagai Raja (dan sebenarnya juga sebagai Imam) selama-lamanya (ay. 15b).

Memang menjadi pertanyaan juga, bukankah Tuhan Yesus memang sudah memerintah sebagai Raja sejak dahulu kala? Tentu jawabannya adalah ya. Namun semenjak pemberontakan Lusifer dan juga kejatuhan manusia, maka dunia telah berada di bawah kekuasaan Iblis (atau Lusifer yang telah dibuang ke bumi). Tidak heran Iblis berani menawarkan dunia dengan segala keindahannya kepada Tuhan Yesus ketika Ia dicobai di padang gurun (Mat 4:8-9). Perhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak menghardik Iblis dan berkata: “Kamu tidak berhak atas kerajaan dunia”. Artinya memang sejak kejatuhan manusia, dunia ini ada di bawah kekuasaan iblis. Manusia di-setting oleh Iblis untuk hidup nyaman di dunia dengan segala kelimpahan, kemewahan, dan keindahannya.

Barulah sejak Yesus mati dan bangkit, maka kuasa Iblis dikalahkan. Ia kembali memegang kendali atas pemerintahan dunia ini. Tentu Tuhan Yesus adalah Raja yang memerintah dalam kerajaan Allah. Namun kematian dan kebangkitan-Nya menjadi bukti nyata bahwa dunia ini kembali berada di bawah pemerintahan Allah atau menjadi bagian dari kerajaan Allah kembali. Inilah yang dimaksud dengan kalimat yang umum kita dengar bahwa “Iblis telah dikalahkan oleh Yesus Kristus”. Ketaatan-Nya yang sempurna hingga mati di atas kayu salib membuat kemenangan atas kuasa Iblis di dunia ini.

Dapat dilihat bahwa para tua-tua di dalam kerajaan surga juga menyatakan hal yang sama, yaitu bahwa Tuhan telah memangku kuasa yang besar dan mulai memerintah sebagai raja (ay. 16-17). Tentu ini tidak merujuk pada masa lalu (sebelum dunia dijadikan), tetapi lebih merujuk pada kemenangan Kristus yang membuat-Nya menjadi Raja atas langit dan bumi. Artinya, sejak kematian dan kebangkitan Kristus, dunia ini ada di dalam pemerintahan Allah secara mutlak. Sejak saat itu, Tuhan pun men-setting dunia ini kepada masa yang akan semakin sukar menuju akhir zaman. Memang kondisi itu harus terjadi, karena sesungguhnya Tuhan akan melenyapkan langit dan bumi yang sekarang ini, dan menyediakan suatu langit yang baru dan bumi yang baru bagi orang-orang benar. Jadi segala macam pergolakan dunia, perang, wabah penyakit, resesi ekonomi, dan kondisi-kondisi sulit lainnya harus kita pandang sebagai “peringatan Tuhan” kepada manusia bahwa dunia ini akan berakhir, namun Ia telah menyiapkan suatu dunia yang baru, yang kekal, dimana tidak ada lagi air mata di sana. Namun tentu, hanya orang-orang benar sajalah yang diperkenankan masuk kedalam dunia yang akan datang tersebut.

Kedatangan kerajaan Allah dalam dunia ini tentu disambut dengan sukacita oleh orang-orang benar. Dikatakan bahwa hamba-hamba Tuhan, para nabi, orang kudus, dan semua orang yang takut kepada Tuhan akan bersukacita dan menerima upahnya. Di sisi lain, bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan justru akan bersikap sebaliknya. Mereka tidak akan bersukacita atas pemerintahan Tuhan Yesus tetapi justru marah. Namun demikian, akan tiba waktunya dimana amarah atau murka Tuhan akan dinyatakan kepada bangsa-bangsa yang marah tersebut, yang mungkin selama ini telah membunuh orang-orang benar, para nabi dan hamba-hamba Tuhan. Dalam hal ini Tuhan akan membinasakan orang-orang jahat namun akan menyelamatkan orang-orang yang hidup benar (ay. 18).

Dalam hal ini jelas bahwa pengurapan Allah erat kaitannya dengan pemerintahan Allah. Yesus Kristus sebagai Mesias (atau yang diurapi oleh Allah Bapa), adalah pribadi yang berhak memerintah dalam kerajaan Allah. Jika dikaitkan dengan pengurapan yang diberikan Allah Bapa kepada orang percaya, maka hal itu dapat diartikan sebagai hak untuk memerintah pula dalam kerajaan Allah. Tentu tingkatan pemerintahan kita pasti berbeda dengan pemerintahan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memerintah sebagai Raja, sementara kita juga akan memerintah bersama-sama dengan-Nya, ibarat hulubalang-hulubalang di sekitar Sang Raja tersebut (2 Tim 2:12). Bukankah itu adalah suatu kehormatan yang luar biasa tinggi jika kita dapat memerintah bersama-sama dengan Sang Raja Agung dalam Kerajaan Allah yang kekal?



Bacaan Alkitab: Wahyu 11:15-18
11:15 Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya."
11:16 Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah,
11:17 sambil berkata: "Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja
11:18 dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi."

Sabtu, 04 April 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (8) Perjuangan untuk Tetap Tinggal di dalam Dia


Sabtu, 04 April 2020
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:26-29
Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. (1 Yoh 2:27)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (8) Perjuangan untuk Tetap Tinggal di dalam Dia


Konteks dari perikop yang kita baca dalam renungan hari ini sesungguhnya berbicara mengenai penyesatan yang terjadi dan akan semakin memuncak hingga hari-hari terakhir. Kita sudah melihat bagaimana antikristus akan muncul (dalam konteks masa Rasul Yohanes menulis surat tersebut) dan spirit antikristus tersebut akan semakin nyata pada akhir zaman. Salah satu tanda yang juga sudah akan sangat nyata adalah penyesatan terhadap orang-orang percaya. Dalam ucapan-Nya kepada para murid mengenai akhir zaman, salah satu tanda pertama yang disebutkan oleh Tuhan Yesus adalah mengenai penyesatan, dan supaya mereka tetap waspada mengenai penyesatan (Mat 24:4-5, Mrk 13:5-6, Luk 21:8). Hal ini sejajar dengan apa yang ditulis oleh Rasul Yohanes, yaitu akan ada orang-orang yang berusaha menyesatkan orang percaya atau jemaat Tuhan (ay. 26).

Bagaimana orang percaya bisa disesatkan? Bukankah Tuhan pasti melindungi mereka? Tentu Tuhan selalu melindungi dan menjagai. Akan tetapi, penyesatan tidak selalu datang dalam rupa yang jelas-jelas menyesatkan. Penyesatan tentu muncul dengan cara yang sangat halus, namun perlahan-lahan menggiring orang percaya menyimpang dari iman. Dalam hal ini salah satu bentuk penyesatan adalah menggiring orang percaya kepada sikap materialistis dan cinta akan uang (1 Tim 6:10). Hal lain yang mungkin dapat menyesatkan orang lain adalah pertentangan mengenai pengetahuan (1 Tim 6:21). Tentu pengetahuan adalah hal yang baik, apalagi dalam hal-hal rohani seperti doktrin teologi. Namun jika doktrin tersebut dijadikan suatu hal yang mutlak, maka akan muncul pula pertentangan-pertentangan antar aliran gereja. Kita sudah melihat bagaimana di masa lalu, gereja yang satu bisa mengatakan gereja lain sesat, pendeta yang satu bisa mengatakan pendeta yang lain sesat, dan akhirnya terjadi kucil-mengucilkan bahkan terjadi penganiayaan antar sesama orang yang mengaku sebagai orang Kristen.

Memang doktrin adalah penting, tetapi doktrin yang benar pastilah menghasilkan karakter yang agung. Tidak mungkin doktrin yang benar akan menghasilkan pribadi yang masih hidup dalam dosa, yang suka menyerang orang lain, bahkan membunuh orang lain yang berbeda paham dengannya. Dari buahnya kita dapat melihat apakah suatu doktrin atau pengajaran seseorang adalah benar atau tidak (Mat 7:15-20). Namun jika kita mengaku sebagai orang percaya, tentu kita memiliki Roh Kudus dalam hati kita. Roh Kudus akan memimpin kita kepada kebenaran, yaitu supaya kita semakin menjadi pribadi yang menyenangkan dan menyukakan hati Bapa di surga (Yoh 16:13).

Itulah esensi dari pengurapan yang telah dicurahkan oleh Allah Bapa kepada manusia yang percaya kepada-Nya melalui Yesus Kristus (ay. 27a). Kedua kata “pengurapan” dalam ayat 27 ini menggunakan kata chrisma (χρίσμα) yang sama dengan yang dipakai dalam 1 Yoh 2:20. Kata ini merupakan kata benda dari kata kerja chrió (χρίω) yang telah kita bahas lebih mendalam pada renungan-renungan sebelumnya. Dalam hal ini pengurapan Allah (melalui Roh Kudus atau Roh Allah) akan mengajar kita mengenai segala sesuatu (ay. 27c). Segala sesuatu di sini tentu terkait dengan kebenaran yang harus kita kenakan dalam hidup kita. Artinya, pengurapan Allah melalui Roh Kudus akan membuat kita menjadi cerdas, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah yang harus kita lakukan: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm 12:2). Dalam hal ini, semakin kita bertumbuh, kita akan semakin mengerti perbedaan antara apa yang baik dan apa yang sempurna. Kita akan semakin dapat membedakan “irisan” yang semakin tipis antara kehendak Bapa dengan kehendak kita.

Ketika kita masih kanak-kanak rohani, kita melihat dosa sebagai perbuatan yang melanggar moral umum (mencuri, berjudi, berzinah). Namun seiring dengan pertumbuhan rohani kita akan mulai mengerti tipisnya perbedaan antara yang berkenan dan yang tidak. Sebagai contoh, ketika kita memberi uang kepada orang lain, kita akan semakin mengerti mana memberi yang berkenan dan mana memberi yang tidak berkenan. Dalam hal ini kita sudah tidak berbicara mengenai nominal uang (jika lebih banyak memberi maka Tuhan pasti lebih berkenan), tetapi justru lebih mempersoalkan kepada sikap hati dan ketaatan terhadap kehendak Tuhan bagi kita terkait penggunaan uang tersebut.

Itulah sebabnya, Rasul Yohanes menulis bahwa jika seseorang tetap tinggal dalam pengurapan Roh Kudus (yaitu dalam pimpinan dan tuntunan Roh Kudus setiap hari), sebenarnya ia tidak perlu diajar oleh orang lain (ay. 27b). Lalu bagaimanakah dengan peran pendeta, pengkhotbah, dan para pengajar di gereja atau sekolah? Apakah kita tidak perlu belajar dari mereka? Tentu kita perlu belajar dari para pendeta, tokoh-tokoh gereja yang memang patut kita teladani. Namun sejujurnya, peranan para pendeta, pengkhotbah dan pengajar sebenarnya tidak lebih dari sekedar “mentor”. Mentor disini merujuk kepada peran para pendeta, pengkhotbah, dan pengajar untuk memimpin jemaat dan orang percaya mengalami Tuhan secara pribadi melalui Roh Kudusnya.

Bagi orang Kristen baru, tentu mereka membutuhkan pimpinan dan bimbingan para pendeta untuk mengajar mereka mengenai cara berdoa, cara membaca Alkitab, dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu pendeta memiliki peran yang sangat besar untuk membangun dasar iman yang kuat. Tidak jarang bahwa dalam fase ini, para pendeta perlu mendoakan jemaat-jemaat yang memerlukan dukungan. Namun seiring berjalannya waktu, jemaat tentu harus diajar bertumbuh. Jemaat harus diajar untuk dapat makan makanan rohani yang keras, dan tidak selalu diberi “susu” oleh para pendeta. Jemaat harus diajar untuk dapat hidup mandiri secara rohani, bahkan harus mampu mencari “makanan keras” bagi diri mereka sendiri. Dalam hal ini pendeta harus mulai menunjukkan keteladanan hidup yang dapat dicontoh, dan bahkan harus ikhlas dan legowo jika suatu saat jemaatnya ada yang lebih pintar dari pendeta tersebut.

Dengan berperan sebagai mentor, maka pendeta tidak akan berusaha untuk mempertahankan kedudukannya sebagai pribadi yang terhormat di gereja. Pendeta seharusnya tidak membuat semacam strata atau tingkatan di gereja yang menempatkan para pendeta sebagai kasta “brahmana”, para pelayan gereja sebagai kasta “ksatria”, jemaat-jemaat yang kaya dan memberi banyak persembahan sebagai kasta “waisya”, dan sisanya adalah kasta paling rendah yaitu kasta “sudra”. Jika pendeta masih mencoba mempertahankan kedudukannya sebagai orang penting dalam gereja, maka ia akan menjadikan dirinya sebagai “perantara” antara jemaat dengan Tuhan. Sebagai contoh: dikesankan bahwa jika jemaat didoakan oleh pendeta tertentu, maka doanya akan lebih didengar Tuhan daripada jika jemaat berdoa sendiri.

Dalam hal ini, penyesatan bisa saja timbul di dalam gereja dan jemaat Tuhan, yang biasanya dimulai dengan orang-orang yang berprofesi sebagai rohaniawan (pemuka agama) yang merasa penting, harus dihormati, dan harus ditaati secara mutlak. Akibatnya jemaat dikurung dalam sudut pandang yang sempit dan kerdil sehingga yang mereka pahami adalah bahwa pendeta adalah wakil Tuhan yang harus ditaati secara mutlak dalam segala hal. Tidak heran jika kita pernah mendengar ada pendeta yang mengajak jemaatnya bunuh diri dan mereka mau melakukannya, atau pendeta yang berkata bahwa Tuhan menyuruh jemaat untuk memberikan uang persembahan, padahal uang itu digunakan untuk kepentingan pribadi pendeta tersebut dan bukan digunakan  untuk kepentingan pekerjaan Tuhan.

Tentu saya tidak mengatakan bahwa semua pendeta salah. Justru di sini kita harus lebih peka mendengarkan tuntunan Roh Kudus dalam hidup kita. Kita harus memiliki waktu-waktu khusus untuk bertemu dengan Tuhan dan berdialog dengan-Nya. Kita harus terbiasa mendengar suara-Nya dan tuntunan-Nya. Tentu Tuhan juga bisa berbicara melalui hamba-hamba-Nya di gereja (para pendeta, pengkhotbah dan pengajar). Namun jika kita terbiasa memiliki waktu khusus dan pribadi dengan-Nya setiap hari, idealnya, Tuhan pasti berbicara kepada kita setiap saat. Inilah yang disebut sebagai tinggal dalam Dia (ay. 27d). Tinggal di dalam Dia tentu berbicara tentang sikap hati yang menjauhi dosa, yang berusaha hidup benar dan berkenan di hadapan-Nya dan yang selalu mencari wajah Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Orang seperti ini akan berusaha untuk selalu terhubung dengan Tuhan dalam setiap waktu. Baginya, meskipun ada jam-jam doa pribadi untuk bersekutu dengan Tuhan, tetapi sebenarnya ia pun senantiasa berdoa setiap saat, yaitu terus menerus berhubungan dan berdialog dengan Tuhan. Orang seperti ini akan semakin berhati-hati dalam bertindak, dalam berbicara, bahkan berhati-hati dalam pikirannya, supaya tidak ada kemelesetan sekecil apapun dalam hidupnya.

Tentu Tuhan yang sama tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang berbeda kepada orang yang hidup di dalam-Nya. Jika kita hidup benar di dalam Tuhan, memiliki waktu teduh pribadi dan persekutuan yang benar dengan Tuhan – dan hal itu juga dilakukan oleh para pendeta dan pengkhotbah – maka seharusnya apa yang disampaikan oleh para pendeta dan pengkhotbah pasti selaras dengan apa yang kita terima dalam dialog kita dengan Tuhan setiap hari. Jika ada perbedaan, kita harus memperkarakan di hadapan Tuhan: Apakah kita yang salah karena tidak hidup dalam kebenaran dan persekutuan dengan Tuhan setiap hari, ataukah mungkin ada yang salah dengan pendeta tersebut. Jika memang kita yang tidak hidup dalam kebenaran, pastilah kita tidak dapat menerima kebenaran yang diajarkan di atas mimbar. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak cepat menuduh orang lain sesat (misal: menuduh pendeta sesat), karena bisa jadi diri kita sendiri yang sebenarnya telah sesat dan berpotensi menyesatkan orang lain.

Jika kita tetap tinggal di dalam Dia, berarti kita tidak menyia-nyiakan pengurapan yang telah Allah berikan kepada kita. Ini berarti kita meresponi pengurapan-Nya dengan benar dan tidak menyia-nyiakan anugerah Roh Kudus yang diberikan-Nya kepada kita. Pengurapan Allah memang adalah anugerah, tetapi manusia harus memberikan respon yang memadai dan proporsional terhadap anugerah tersebut. Sama seperti fakta bahwa Yesus mati bagi semua orang, itu adalah anugerah. Tetapi keselamatan seseorang akan sangat tergantung pada respon orang tersebut terhadap anugerah keselamatan itu. Tidak heran Paulus berkata supaya kita tetap mengerjakan keselamatan tersebut sebagai respon yang sepatutnya (Flp 2:12). Dalam pemahaman yang sama, tentu kita harus meresponi pengurapan Allah dengan cara tetap tinggal di dalam-Nya.

Orang yang meresponi pengurapan Allah dengan tetap tinggal dalam Dia, maka ia akan mengerti keadaannya di hadapan Allah. Ia akan tahu apakah ia sudah menjadi pribadi yang berkenan atau belum. Setiap saat ia akan memperkarakan hidupnya di hadapan Allah. Jika ada dosa, kesalahan, atau kemelesetan dalam hidupnya, ia akan sangat menyesal dan kemudian berjuang untuk hidup lebih benar lagi ke depannya. Setiap hari bahkan setiap saat, orang tersebut akan menggelar “pengadilan” terhadap dirinya sendiri untuk mencari tahu apakah masih ada ketidaktepatan yang ia lakukan di hadapan Allah. Orang seperti ini pastilah memiliki perjuangan yang proporsional untuk tetap tinggal di dalam kehendak Allah. Tidak mengherankan bahwa orang seperti ini tidak akan takut menghadapi kematian dan bahkan hari penghakiman, karena ia sudah terbiasa “mematikan dirinya sendiri” dan “menggelar pengadilan/penghakiman atas dirinya sendiri” selama ia hidup (ay. 28). Namun jika orang Kristen hidup sembarangan di dunia ini, ia sebenarnya tidak memberikan respon yang benar terhadap anugerah yang Allah berikan. Orang yang hidup sembarangan, yang tidak pernah mempersoalkan keadaannya di pemandangan Bapa, pada umumnya akan gentar menghadapi kematian. Dalam hal ini kita perlu memeriksa diri kita masing-masing. Jika kita masih gentar menghadapi kematian, ada kemungkinan bahwa hidup kita belum seluruhnya bersih. Tugas kita selanjutnya adalah memperkarakannya di hadapan Allah dan bertobat.

Pengurapan Allah dalam diri orang percaya seharusnya akan nampak dalam hidup orang percaya sehari-hari. Orang percaya yang meresponi pengurapan Allah dengan benar akan memancarkan keagungan ilahi melalui tindakan hidupnya sehari-hari (ay. 29a). Ia akan selalu bertindak dengan santun dan bijak. Ia tidak akan mengucapkan perkataan yang dapat menjatuhkan orang lain. Ketika ia dihina atau difitnah, ia tidak akan membalas. Sosok pribadi Anak Allah yang agung pasti nampak dalam kehidupannya sehari-hari, yang tentu dapat dilihat oleh orang lain, khususnya orang-orang dekatnya yang tiap hari bersentuhan dengannya.

Perjuangan untuk meresponi anugerah pengurapan Allah tentu bukanlah hal yang mudah. Ini juga bukanlah hal yang dapat terjadi dalam waktu singkat. Dibutuhkan perjuangan dalam waktu yang lama – mungkin bisa bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun – untuk dapat menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah. Itulah proses kelahiran baru yang benar, yang tidak sekedar hanya percaya lalu dibaptis atau sidi, tetapi perjuangan untuk “melahirkan” manusia baru, yaitu manusia ilahi yang dipimpin oleh Roh Kudus (ay. 29b). Tentu kita semua memiliki kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda. Kita tidak boleh sibuk melihat dan menghakimi orang lain, namun sebaiknya kita lebih sibuk melihat dan menghakimi diri kita sendiri, apakah kita sudah hidup benar dan tinggal di dalam Dia? Apakah kita sudah meresponi anugerah keselamatan dan pengurapan Roh Kudus dari Allah Bapa? Apakah kita sudah menjadi pribadi yang berkenan dan telah menjadi manusia baru yang dilahirkan dari Allah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Perjuangan melakukan hal ini memanglah berat, tetapi tidak akan ada mahkota kemenangan tanpa perjuangan yang proporsional. Selamat berjuang!



Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:26-29
2:26 Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu.
2:27 Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.
2:28 Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.
2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

Jumat, 03 April 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (7) Bertentangan dan Berlawanan dengan Spirit Antikristus


Jumat, 03 April 2020
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:18-21
Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. (1 Yoh 2:20)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (7) Bertentangan dan Berlawanan dengan Spirit Antikristus


Jika kita renungkan, pengurapan yang dilakukan oleh Allah tentu bersifat kudus, karena sifat atau natur Allah yang juga adalah kudus. Kekudusan berbicara mengenai kesucian hidup yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Kekudusan tentu berbicara tentang keadaan yang tidak berdosa semaksimal mungkin. Orang yang hidup kudus memang masih dapat hidup dalam dosa, akan tetapi ia akan berjuang untuk tidak jatuh dalam dosa. Orang yang hidup kudus akan berusaha setiap hari memeriksa hidupnya apakah ia masih hidup dalam dosa, ataukah ada hal-hal kecil yang merupakan dosa. Jika dosa bagi kebanyakan orang adalah mencuri, berzinah, berdusta, maka bisa jadi bagi orang yang berjuang untuk hidup kudus, dosa yang dipersoalkan bukan lagi dosa-dosa dalam hal pelanggaran moral umum, tetapi sudah masuk kepada level selanjutnya, semisal: kesombongan yang tersembunyi, perasaan ingin dihormati dan dihargai, serta keangkuhan hidup. Semua hal itu mungkin adalah hal yang wajar di mata dunia, tetapi bagi orang yang sudah mencapai level ini, ia akan mulai dapat membedakan manakah sikap hati yang meleset dari apa yang Tuhan inginkan.

Perlu dipahami bahwa kondisi zaman dimana kita hidup saat ini dapat dikatakan sudah semakin dekat menuju akhir zaman. Memang masa akhir zaman sudah dimulai sejak kenaikan Yesus ke surga. Namun dengan melihat tanda-tanda zaman, kita akan mengetahui bahwa kita sudah berada di ujung dari akhir zaman tersebut. Rasul Yohanes menulis kepada anak-anak rohaninya bahwa waktu ini (yaitu waktu dimana Rasul Yohanes hidup, kemungkinan sekitar tahun 60-90 masehi) adalah waktu yang terakhir (ay. 18a). Dapat kita bayangkan jika sekitar 2.000 tahun yang lalu Rasul Yohanes sudah berkata bahwa pada waktu itu sudah termasuk waktu yang terakhir (atau dalam terjemahan bebas: “jam yang terakhir”, jika dibandingkan dalam konteks durasi selama satu hari), maka tentu hari-hari ini benar-benar adalah hari yang semakin dekat kepada akhir perjalanan dunia ini.

Tentu apa yang disampaikan oleh Rasul Yohanes bukan tanpa alasan. Terdapat salah satu tanda yang tidak dapat dipungkiri merujuk kepada dimulainya akhir zaman. Rasul Yohanes berkata bahwa seorang antikristus akan datang (ay. 18b). Perhatikan konteks dimana tulisan ini ditulis, yaitu pada abad ke-1 masehi, dimana dikatakan bahwa seorang antikristus akan datang. Tentu hal ini tidak dapat dikatakan bahwa di abad 21 masehi ini antikristus tersebut belum juga datang. Antikristus dalam ayat 20 ini ada 2 macam, yaitu yang bersifat tunggal (yang akan datang dalam konteks abad ke-1 masehi) dan yang bersifat jamak (yang sudah datang pada konteks abad ke-1 masehi).

Sebenarnya, kata “akan datang” dalam ayat 18b tersebut dalam bahasa aslinya adalah erchetai (ἔρχεται), sebuah kata kerja yang bersifat present indicative middle/passive. Dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris kata ini ditulis dengan kata “is coming” (sedang datang), namun ada juga beberapa terjemahan yang menggunakan kata “was to come” atau “shall come” (akan datang). Ini dapat berarti bahwa antikristus itu sudah bergerak di masa Rasul Yohanes hidup, namun bisa juga baru akan nampak nyata di masa yang akan datang. Ada banyak tokoh-tokoh tunggal yang dapat dipandang sebagai antikristus, misalnya saja Kaisar Nero yang menganiaya orang Kristen dengan sangat hebat. Namun, terkait dengan antikristus tunggal ini, kita harus melihat ciri-cirinya. Ciri yang pertama bahwa sesuai dengan Namanya, antikristus pasti akan menolak pribadi Kristus sebagai anak Allah, sebagai utusan Allah, dan bahkan menolak karya keselamatan Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Ciri yang kedua adalah bahwa antikristus pasti akan memusuhi orang percaya atau gereja Tuhan sebagai umat pilihan Allah yang benar. Mengingat bangsa Israel juga adalah umat pilihan Allah di Perjanjian Lama, maka ciri yang ketiga adalah besar kemungkinan bahwa antikristus juga akan memusuhi dan memerangi bangsa Israel atau bangsa Yahudi.

Jadi tentu antikristus dapat dikatakan sudah datang (di masa lalu), sedang datang (di masa sekarang), dan akan semakin nyata lagi pada akhir zaman (di masa depan). Kita tidak perlu terlalu memusingkan siapakah sosok antikristus yang dimaksud di dalam Alkitab. Tetapi orang percaya yang sungguh-sungguh hidup benar akan dapat mengidentifikasi siapa antikristus (khususnya yang tunggal) yang dimaksud berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas. Namun demikian, spirit antikristus (yaitu antikristus jamak) juga akan semakin bermunculan menjelang akhir zaman. Itu akan menjadi tanda bahwa memang waktunya sudah mendekati waktu yang terakhir (ay. 18d). Spirit antikristus tidak hanya berarti aniaya secara fisik, namun spirit apapun yang mencoba menjauhkan orang percaya dari Tuhan dan kerajaan-Nya (termasuk misalnya: materialisme dan percintaan dunia) juga dapat dikatakan sebagai spirit antikristus. Apa buktinya?

Dalam ayat selanjutnya Rasul Yohanes juga menulis bahwa mereka (antikristus jamak) berasal dari golongan orang percaya, namun mereka tidak sungguh-sungguh tetap bersama-sama dengan orang percaya yang benar (ay. 19a). Dengan bahasa yang lain, para antikristus (jamak) ini awalnya adalah termasuk dalam golongan orang-orang percaya. Namun karena mereka tidak tetap bersama-sama dengan kebenaran (tidak terus bertumbuh), pada akhirnya mereka kemudian menjadi antikristus (jamak) atau terbawa oleh spirit antikristus tersebut. Hal ini tentu akan menjadi nyata sebagai bukti manakan orang percaya yang benar dan manakah orang percaya yang “semu” (ay. 19b). Dalam hal ini nyata bahwa penampian di dalam gereja Tuhan memang benar-benar terjadi (1 Ptr 4:17), serta orang jahat akan menjadi jahat dan orang benar akan menjadi semakin benar (Why 22:11).

Tentu mendengar tentang apa yang akan terjadi dalam jemaat, tentu ada sebagian orang percaya yang menjadi kuatir. Namun Rasul Yohanes mengingatkan bahwa pada diri orang percaya yang benar (yaitu mereka yang berusaha sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran serta berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela), bahwa mereka telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus (ay. 21). Kata pengurapan dalam ayat 21 ini menggunakan kata chrisma (χρίσμα) yang merupakan kata benda dari kata kerja chrió (χρίω) sebagaimana telah kita bahas dalam renungan hari-hari sebelumnya.

Jelas bahwa pengurapan memang diberikan Allah kepada orang percaya yang memperlengkapi mereka untuk dapat menjadi pribadi yang berkenan di hadapan-Nya. Namun di sisi lain, ada pula spirit antikristus yang selalu berusaha untuk menentang Kristus (dalam hal ini pribadi-Nya dan kerajaan-Nya). Kedua sisi ini selalu bertolak belakang dan berlawanan. Alkitab jelas menyatakan bahwa persahabatan dengan dunia (belum sampai ke percintaan, baru kepada persahabatan saja) sudah membuat seseorang menjadi musuh Allah (Yak 4:4). Rasul Yohanes juga menulis bahwa orang yang mengasihi dunia tidak memiliki kasih kepada Bapa (1 Yoh 2:15). Jelaslah bahwa memang kita harus memilih kepada siapa kita harus mengabdi, karena kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat 6:24).

Mereka yang masuk kepada kelompok orang percaya (dalam hal ini menjadi anggota jemaat) memang harus membuktikan apakah mereka masuk kepada kelompok yang benar atau kelompok yang tidak benar. Namun bagi mereka yang sungguh-sungguh hidup mengabdi kepada Tuhan (yaitu mereka yang tidak termasuk dalam kelompok antikristus), kepada merekalah dikatakan bahwa mereka beroleh pengurapan dari Yang Kudus (ay. 20). Tidak dikatakan bahwa orang yang beragama Kristen yang lain (yang tidak hidup sungguh-sungguh) juga menerima pengurapan. Jelas bahwa pengurapan di sini berbicara mengenai Roh Kudus. Allah memang telah mencurahkan Roh Kudus kepada manusia pada hari Pentakosta. Artinya, sejak hari Pentakosta itu, Roh Kudus dimungkinkan untuk diam secara permanen dalam diri manusia. Roh Kudus inilah yang akan menuntun manusia kepada kebenaran, untuk mengerti kehendak Bapa supaya manusia dapat berjuang melakukan kehendak Bapa dalam hidupnya. Hal ini nantinya yang akan menjadi ukuran penghakiman manusia, yaitu apakah manusia melakukan kehendak Bapa atau tidak dalam hidupnya (Mat 7:21-23).

Namun ternyata ada juga orang-orang yang tidak peduli mengenai pengurapan ini (dalam hal ini pemberian Roh Kudus dalam diri manusia secara permanen). Mereka tentu hidup suka-suka mereka sendiri dan tidak pernah memperkarakan apa kehendak Allah dalam hidupnya. Dalam jangka panjang, jika kondisi ini tidak disadari dan tidak segera diperbaiki, mereka akan sampai pada tahap mendukakan dan mematikan Roh Kudus. Ini sama saja dengan menolak pengurapan yang dari Allah. Pengurapan dari Allah bersifat kudus, tentu orang yang benar-benar meresponi pengurapan tersebut dengan benar pasti terlihat dari kualitas hidupnya yang semakin kudus dan tidak bercacat cela di hadapan Allah Bapa.

Jelas bahwa tulisan Rasul Yohanes dalam perikop ini bukan ditujukan kepada orang-orang di luar jemaat, tetapi justru kepada mereka yang berada di dalam jemaat. Hal ini semakin jelas dari tulisan Rasul Yohanes yang menyatakan bahwa sesungguhnya mereka (orang-orang yang dimaksud oleh Rasul Yohanes) bukanlah mereka yang tidak mengerti tentang kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang sudah tahu, mengerti, dan mengenal kebenaran tersebut (ay. 21a). Kata kebenaran dalam ayat ini adalah alétheia (ἀλήθεια) yang merujuk kepada pribadi Yesus Kristus yang adalah kebenaran itu sendiri (Yoh 14:6). Oleh karena itu Rasul Yohanes mengingatkan mereka yang telah percaya kepada Kristus untuk menyadari pengurapan yang telah mereka terima, dan supaya mereka tidak menyia-nyiakan pengurapan tersebut.

Dalam bagian terakhir, kita melihat bagaimana Rasul Yohanes mengingatkan bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran (ay. 21b). Kata dusta di sini adalah pseudos (ψεῦδος) yang selain bermakna lie (dusta) juga dapat bermakna falsehood (kebohongan, ketidakjujuran), untruth (ketidakbenaran, kebenaran yang tidak benar). Kata pseudo juga dapat menggambarkan keadaan yang semu, pura-pura, atau palsu. Dengan demikian, jemaat yang hidup dalam kepura-puraan, dusta, kebohongan, dan ketidakbenaran sesungguhnya tidak mungkin berasal dari kebenaran yang sejati. Mereka pasti adalah orang-orang yang tidak mengabdi kepada Kristus dan menjadikan Kristus sebagai tuan atau majikan mereka. Dengan kata lain, orang-orang yang hidup dalam ketidakbenaran dapat dikatakan sebagai antikristus-antikristus, atau jika sedikit lebih halus: orang-orang yang telah memiliki spirit antikristus.

Dalam hal ini jelas bahwa Kristus pasti bertentangan dengan antikristus. Kebenaran pasti bertentangan dengan kebohongan/dusta/ketidakbenaran. Roh Kudus pasti bertentangan dengan spirit antikristus. Pengurapan yang berasal dari Yang Maha Kudus tentu pasti bertentangan dengan dosa dan kenajisan. Oleh karena itu, ada baiknya hari ini kita memeriksa diri kita sendiri. Apakah hidup kita saat ini sudah mencerminkan pengurapan Roh Kudus dalam diri kita? Orang yang kudus pasti akan berjuang untuk semakin kudus. Jika tidak, barangkali ada yang salah dengan diri kita. Mungkin selama ini kita hidup dalam kepalsuan. Di luar kita seakan-akan adalah pribadi yang kudus, namun di dalamnya kita masih hidup berkubang dalam dosa dan kejahatan. Jika demikian, berhati-hatilah karena bisa jadi kita adalah antikristus-antikristus yang dimaksud dalam Alkitab. Marilah kita senantiasa bertobat selama masih ada kesempatan, supaya kita tidak sampai ditolak masuk ke dalam kerajaan Allah pada hari penghakiman nanti.



Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:18-21
2:18 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.
2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.
2:20 Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.
2:21 Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.

Senin, 30 Maret 2020

Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (6) Untuk Pribadi yang Berkenan kepada Allah


Senin, 30 Maret 2020
Bacaan Alkitab: Ibrani 1:8-9
Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu. (Ibr 1:9)


Pengurapan dalam Perjanjian Baru: (6) Untuk Pribadi yang Berkenan kepada Allah


Dalam renungan-renungan sebelumnya kita telah belajar bagaimana Tuhan Yesus adalah Mesias, yaitu Ia yang diurapi oleh Allah Bapa sebagai satu-satunya utusan Allah untuk menyelamatkan manusia. Kita juga telah belajar bagaimana Allah Bapa juga mengurapi orang percaya dengan Roh Kudus, yang telah digenapi pada hari Pentakosta. Dengan demikian, pengurapan disediakan oleh Allah Bapa untuk setiap orang yang mau percaya kepada-Nya, dan kepada Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus yang telah menjadi Juruselamat bagi kita.

Memang pengurapan tersebut adalah anugerah. Jika di masa Perjanjian Lama, Roh Allah dapat tinggal di dalam diri seseorang secara temporer, maka di masa Perjanjian Baru, Allah memungkinkan Roh-Nya untuk tinggal secara permanen di dalam diri seseorang. Roh itulah yang akan menuntun pribadi orang tersebut kepada seluruh kebenaran, supaya ia dapat mengerti kehendak Bapa dan melakukannya dalam kehidupannya.

Namun kita tidak boleh menganggap remeh atau menganggap rendah anugerah Allah dalam pengurapan-Nya atas kita. Karena Allah adalah kudus, maka tentu saja Roh-Nya juga pasti bersifat kudus. Itulah mengapa dalam Perjanjian Baru Roh Allah juga lebih sering disebut dengan Roh Kudus. Karena karakter kekudusan yang dimiliki oleh Allah, tentu hal tersebut juga harus kita perhatikan dengan seksama. Dengan demikian kita harus menjaga diri kita dalam kekudusan supaya pengurapan-Nya atas kita tidak kita sia-siakan.

Pribadi Yesus Kristus sebagai Mesias atau Yang diurapi oleh Allah juga demikian. Saya berpikir bahwa pasti Allah Bapa mengurapi Yesus Kristus pada saat pembaptisan-Nya (Mat 3:16-17, Mrk 1:10, Luk 3:22, Yoh 1:32) bukanlah tanpa alasan. Kita harus mengerti bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha Besar, yang tentu memiliki tatanan ilahi dalam diri-Nya. Artinya, pengurapan Allah atas diri Tuhan Yesus (yang waktu itu berinkarnasi sebagai manusia) tentu tidaklah diberikan secara sembarangan. Ingat bahwa ketika menjadi manusia, Tuhan Yesus benar-benar disamakan dengan manusia (Ibr 2:17). Memang Yesus adalah Tuhan, yang telah bertahta dari sebelum dunia dijadikan dan selamanya (ay. 8a). Ini paralel dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Ia adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir (Why 1:8, 1:17, 21:6, 22:13). Dalam pemerintahan-Nya sejak dahulu kala, Ia telah memerintah dengan kebenaran sebagai tongkat kerajaan-Nya (ay. 8b).

Ketika menjadi manusia, tentu “hak istimewa” Yesus Kristus sebagai Raja yang telah memerintah sejak dahulu kala “dicabut”. Ia benar-benar menjadi manusia yang merasakan apa yang kita alami. Ia merasakan rasa sakit, rasa sedih, bahkan Ia harus belajar dalam segala hal untuk menjadi pribadi yang menykakan hati Bapa. Saya rasa, sejak masa kecilnya, Tuhan Yesus terus belajar Firman dan berjuang untuk tidak berbuat dosa. Hingga suatu hari di usia-Nya yang ke 30 tahun, Ia pun menyerahkan diri-Nya untuk dibaptis oleh Yohanes, padahal Yohanes sendiri berkata bahwa seharusnya dirinyalah yang dibaptis oleh Tuhan Yesus (Mat 3:13-15). Setelah dibaptis itulah maka Roh Kudus turun ke atas diri Tuhan Yesus yang melambangkan pengurapan dari Allah dengan suara dari surga yang berkata “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan”(Mat 3:16-17).

Tentu bukan tanpa alasan Allah Bapa berkata seperti itu. Dalam hidup-Nya sebagai manusia sampai dengan saat itu, Yesus Kristus telah menunjukkan pribadi yang agung dan menyukakan hati Bapa-Nya. Hal itu digambarkan dengan “mencintai keadilan dan membenci kefasikan” (ay. 9a). Ingat bahwa ayat 8 dan 9 ini merupakan kutipan dari Perjanjian Lama, tepatnya Mazmur 45:7-8, sehingga di ayat 8 dan 9 ini digunakan kata-kata yang lebih bersifat puitis, namun tetap dapat dikenakan kepada pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itulah, maka Allah mengurapi sebagai tanda bahwa pribadi Yesus Kristus adalah pribadi yang menyukakan hati Allah Bapa (atau berkenan kepada-Nya) (ay. 9b). Perhatikan bahwa memang ada perbedaan medium pengurapan, dimana ayat di Perjanjian Lama menggunakan kata “minyak” sebagai cara pengurapan yang wajar pada waktu itu, sementara di Perjanjian Baru tentu pengurapan yang terjadi menggunakan Roh Kudus. Kalimat “melebihi teman-teman sekutumu” juga merupakan kutipan langsung dari ayat di Perjanjian Lama, yang mungkin tidak perlu kita permasalahkan lebih jauh dalam pembahasan kali ini.

Namun saya ingin menekankan bahwa pengurapan Allah atas diri Yesus Kristus tentu karena Ia telah berjuang untuk menjadi pribadi yang berkenan. Dari lahir hingga umur 30 tahun, Ia telah membuktikan perjuangan-Nya untuk senantiasa hidup dalam kehendak Allah Bapa. Itulah sebabnya Allah Bapa mengurapi-Nya pada peristiwa pembaptisan-Nya dan selanjut-Nya Yesus pun memulai pelayanan-Nya di bumi ini. Sampai pada kematian-Nya di atas kayu salib, Ia telah membuktikan ketaatan-Nya yang mutlak dan sempurna kepada Bapa-Nya, hingga kemudian Ia dibangkitkan dan naik ke surga untuk duduk kembali di tahta-Nya yang seharusnya.

Dalam hal ini kita pun perlu mengikuti teladan yang telah diberikan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Kita secara kolektif (sebagai bagian dari jemaat Tuhan atau orang percaya) telah diurapi sejak hari Pentakosta. Namun secara pribadi, kita perlu mempersoalkan apakah hidup kita sudah sejalan dengan pengurapan tersebut. Kita perlu memeriksa diri kita sendiri apakah kita sudah hidup dalam kekudusan sejalan dengan kekudusan pribadi Allah dan Roh Kudus. Itulah sebabnya sebagai orang percaya, kita perlu sungguh-sungguh bertobat, yang selama ini dikenal sebagai kelahiran baru.

Kelahiran baru bukan sekedar keputusan untuk bersedia dibaptis atau sidi. Memang idealnya orang yang dibaptis atau sidi adalah orang yang benar-benar bertobat. Namun pada praktiknya, seringkali orang dibaptis atau sidi hanya karena usianya dipandang sudah akil balik, atau karena akan menikah di gereja, sehingga sebagai salah satu persyaratan ia harus dibaptis. Oleh karena itu, kelahiran baru sejatinya tidak dapat hanya diukur dari tanggal baptisan atau sidi di gereja. Kelahiran baru berarti seseorang berubah dari kodrat dosa (yaitu pribadi yang masih menyenangi dosa dan hidup di dalamnya) menjadi kodrat ilahi (yaitu pribadi yang berusaha terus menghindari dosa dan kemelesetan, dan berusaha hidup dalam kehendak Bapa). Tentu orang yang lahir baru sudah tidak boleh lagi hidup dalam dosa-dosa umum seperti pelanggaran moral (mencuri, membunuh, berzinah), tetapi sudah harus memperkarakan kehendak Bapa dalam segala hal. Seiring pertumbuhan rohaninya, orang yang lahir baru harus semakin membenci kefasikan dan mencintai keadilan dan kekudusan. Ia akan semakin mengerti kemelesetan-kemelesetan yang semakin tipis perbedaannya, dan dapat semakin dibentuk menuju pribadi yang berkenan kepada Allah Bapa.

Oleh karena itu, mari kita berperkara dengan diri kita sendiri dan dengan Tuhan. Apakah dalam hidup kita sehari-hari kita sudah membenci dosa, kefasikan, kemunafikan, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan hati Bapa? Apakah hidup kita sehari-hari sudah mencintai kasih, keadilan, dan kekudusan? Apakah kita sudah memperkarakan apa kehendak Bapa dalam hidup kita, dan berusaha untuk melakukan bagian kita? Di situ kita akan semakin diteguhkan bahwa pengurapan-Nya dalam hidup kita telah menjadi nyata, karena kita tidak menyia-nyiakan anugerah pengurapan tersebut. Namun jika tidak, berhati-hatilah supaya kita tidak terus menerus mendukakan Roh Kudus dalam hati kita, yang jika tidak segera diperbaiki maka akan sampai pada taraf menghujat atau menyangkal Roh Kudus, yaitu suatu kondisi dimana orang tersebut sudah tidak bisa lagi diperbaiki kepada kebenaran.



Bacaan Alkitab: Ibrani 1:8-9
1:8 Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.
1:9 Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu."