Rabu, 10 Juni 2020

Lebih Taat kepada Allah daripada kepada Manusia


Selasa, 09 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:26-29
Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. (Kis 5:29)


Lebih Taat kepada Allah daripada kepada Manusia


Bagian bacaan Alkitab kita pada hari ini berbicara mengenai bagaimana Petrus dan Yohanes yang ditangkap dan kemudian dibawa untuk menghadap Mahkamah Agama Yahudi (ay. 26-27a). Kita tentu perlu mengetahui latar belakang peristiwa ini, yaitu ketika Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang yang lumpuh kakinya, dan kemudian memberitakan Yesus Kristus kepada orang banyak yang terheran-heran kepadanya (Kis 3:1-26). Sebelum peristiwa di ayat 26-29 ini, kita juga dapat melihat bahwa setelah peristiwa penyembuhan orang lumpuh tersebut, Petrus dan Yohanes sudah ditangkap dan dibawa kepada suatu sidang dimana terdapat Imam Besar dan ahli-ahli Taurat, dan mereka diperingatkan untuk tidak memberitakan nama Yesus di Bait Allah (Kis 4:5-22).

Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa konteks keadaan pada waktu peristiwa ini ditulis adalah ketika jemaat masih sangat awal, bahkan sangat mula-mula. Pada waktu itu, para pengikut Kristus masih dianggap sebagai salah satu mazhab atau sekte dalam agama Yahudi (Kis 24:5 & 14, Kis 28:22). Tidak mengherankan karena Yesus sendiri dipandang sebagai seorang guru atau rabi, bahkan yang menyebutkan ini tidak hanya rakyat biasa tetapi juga Nikodemus, seorang pengajar Yahudi yang sangat dihormati (Yoh 3:2). Posisi kekristenan pada saat itu sebagai suatu mazhab dalam Yudaisme dapat dipahami karena pada waktu itu, para rasul masih mengadakan pertemuan di Bait Allah, bahkan masih bersembahyang di Bait Allah (Kis 2:46, 3:1).

Suatu agama pada umumnya (seperti agama Yahudi) setidaknya memiliki tiga ciri utama: 1) adanya liturgi, seremonial, atau upacara agama; 2) adanya penokohan orang-orang tertentu dan dominasi tokoh tersebut dalam ibadah; serta 3) adanya hukum dan syariat tertulis yang mengatur kehidupan umat beragama. Dalam hal ini, kekristenan pada masa awal-awal masih memiliki ciri-ciri seperti ini. Petrus dan Yohanes masih datang ke Bait Allah pada waktu sembahyang (Kis 3:1). Jemaat mula-mula juga dikatakan berkumpul setiap hari di dalam Bait Allah, yang kemungkinan besar adalah untuk bersembahyang sesuai adat dan tradisi agama Yahudi (Kis 2:46). Jemaat mula-mula juga masih terbatas memberitakan Injil kepada orang Yahudi, dan baru berani mendobrak tradisi ketika Petrus bertemu Kornelius. Hal ini berarti saat itu, para rasul pun masih memposisikan diri mereka sendiri sebagai bagian dari agama Yahudi, hanya saja mereka mengikuti ajaran Tuhan Yesus.

Dengan memahami kondisi dan latar belakang ini maka kita akan dapat mengerti posisi Petrus dan Yohanes pada waktu itu. Mereka dihadapkan kepada Imam Besar, yaitu pemimpin tertinggi agama Yahudi (ay. 27b). Ingat bahwa pada waktu itu, pengikut Yesus masih dipandang sebagai bagian dari agama Yahudi. Oleh karena itu, sebenarnya Petrus dan Yohanes sedang berhadapan dengan pemimpin agama mereka secara de jure. Imam Besar kemudian mengulangi keputusan yang telah mereka ambil dalam pertemuan sebelumnya, yaitu melarang para rasul mengajar dalam nama Yesus, akan tetapi ternyata para rasul tetap memberitakan kematian dan kebangkitan Yesus (ay. 28). Dengan bahasa lain, Imam Besar hendak menyatakan bahwa, ia adalah Imam Besar, pemimpin tertinggi agama Yahudi yang mewakili Allah, dan seharusnya para rasul juga taat dan tunduk kepada keputusannya. Akan tetapi, Petrus dan Yohanes menjawab: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (ay. 29). Apa artinya ini?

Hal tersebut sebenarnya merujuk pada mulainya pemisahan Kekristenan dari agama Yahudi. Kekristenan adalah jalan hidup, yaitu hidup dengan ketaatan mutlak kepada Allah. Oleh karena itu, jika ada suatu benturan antara apa yang Allah inginkan dan apa yang manusia inginkan, seharusnya orang Kristen berani dengan tegas berkata: “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia”. Dalam hal ini, para rasul seakan-akan berani menantang para pemimpin dan tokoh agama tersebut: “Kami ada di pihak Allah karena kami mengikuti Allah. Di pihak manakah kamu berada?”. Tentu kalimat ini bukanlah hanya kalimat kosong, melainkan kalimat yang memiliki konsekuensi yang sangat besar. Dengan mengucapkan kalimat tersebut, mereka seakan-akan menaruh leher mereka di bawah pedang, karena pastilah mereka juga akan mendapat ancaman aniaya bahkan pembunuhan (Kis 5:33).

Prinsip ini yang seharusnya juga dimiliki oleh orang percaya di zaman ini. Kita dapat melihat bagaimana orang-orang Kristen setelah peristiwa ini mengalami aniaya hebat dari bangsa Yahudi (karena dianggap menghujat Allah) dan dari bangsa Romawi (karena dianggap sebagai penjahat dan pemberontak negara). Mereka dikejar-kejar, ditangkap, dianiaya, bahkan dibunuh dengan cara yang keji. Mereka tentu tidak dapat lagi memiliki liturgi atau cara ibadah seperti agama lain. Mereka bahkan harus beribadah di rumah-rumah, bahkan di dalam kuburan-kuburan batu dengan sembunyi-sembunyi. Mereka tidak memiliki struktur organisasi yang jelas (seperti di agama Yahudi yang memiliki Imam Besar, imam lainnya, ahli Taurat, dan lain sebagainya) karena para pemimpinnya pun banyak yang ditangkapi. Mereka juga tidak memiliki hukum atau syariat, seperti tata cara berpakaian, tata cara beribadah, dan lain sebagainya karena kondisi tidak memungkinkan. Sesungguhnya, dalam aniaya inilah kekristenan benar-benar berbeda dengan agama pada umumnya dan menjadi jalan hidup yang tidak terikat dengan liturgi/seremonial agama, hukum/syariat, dan dominasi tokoh-tokoh tertentu sebagai pemimpin agama. Kekristenan menjadi suatu jalan hidup yang dituntun oleh ketaatan terhadap perintah Allah melalui Roh Kudus yang dimeteraikan di hati orang percaya.

Sebenarnya, konsep inilah yang paling ideal, yaitu dimana orang percaya harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, ketika kekristenan mulai menjadi agama di kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-4, justru di situ kekristenan kehilangan kekuatannya. Kekristenan mulai berbentuk sebagai agama, dengan liturgi dan seremonial, hukum-hukum dan syariat-syariat yang ketat, bahkan dominasi tokoh, yang menyebabkan adanya pembedaan antara para imam dan jemaat awam. Sejarah mencatat bahwa pada abad-abad selanjutnya, ketika kekristenan sudah menjadi agama negara, justru di situlah muncul abad kegelapan selama berabad-abad. Kitab suci hanya menjadi milik para imam dan rohaniawan, sementara mereka yang tidak termasuk golongan rohaniawan hanya menjadi jemaat yang pasif dan didoktrin untuk tunduk kepada para rohaniawan tersebut. Kelompok rohaniawan memposisikan diri mereka sebagai wakil Allah dan hamba Allah yang merasa berhak mengatur orang lain yang bukan rohaniawan.

Pola keberagamaan seperti ini sempat direformasi oleh Martin Luther dan para reformis lainnya. Akan tetapi, pola ini masih sedikit banyak terbawa hingga saat ini. Gereja penuh dengan orang-orang yang merasa dirinya sebagai rohaniawan, pelayan, pendeta, dan lain sebagainya. Dalam pengalaman saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai denominasi gereja, saya menemukan adanya gereja-gereja tertentu yang membuat sistem (atau bahkan semacam rezim) yang menunjukkan dominasi tokoh-tokoh agama ini. Misalnya saja, ada gereja dimana jemaat harus bertanya kepada pendetanya jika mau menikah, dan harus disetujui oleh pendeta tersebut. Tentu hal ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi sebenarnya pendeta juga harus membuat jemaat menjadi cerdas dan lebih taat kepada Allah. Pendeta harus membuat jemaatnya menjadi dewasa sehingga mereka dapat dewasa dan mandiri secara rohani. Akan tetapi, sebagian pendeta tidak mau melakukan hal ini dan justru mem-“bonsai” jemaat sehingga mereka terus menerus menjadi “kerdil” secara rohani.

Tentu setiap orang Kristen harus diajarkan untuk menemukan Allah dan memiliki waktu-waktu khusus untuk dapat bertemu dengan Allah setiap hari. Mereka harus dapat hidup dalam tuntunan Allah dan mengerti kehendak Allah. Bagaimana mungkin jemaat diajarkan bertanya kepada pendetanya dan selalu minta didoakan pendeta supaya doanya manjur, sementara seharusnya setiap orang percaya dapat langsung bertemu Tuhan tanpa perantara. Akhirnya kekristenan lama-lama menjadi sama seperti apa yang terjadi di Kisah Para Rasul 5 ini. Jemaat yang mulai belajar menemukan kebenaran, mulai memiliki jam doa khusus untuk bertemu Allah, dipandang sebagai “ancaman” oleh para rohaniawan. Tidak jarang cap “sok pintar”, “sok tahu”, “pemberontak”, bahkan “sesat” bisa saja dikenakan kepada jemaat-jemaat ini.

Tentu kita harus menghormati hamba-hamba Tuhan yang bekerja keras mengambil bagian dalam pelayanan. Akan tetapi, dalam segala hal, kita harus lebih tunduk kepada Allah daripada kepada manusia, sekalipun mereka mengaku sebagai wakil Allah atau hamba Allah. Dalam hal ini setiap orang percaya harus memiliki kecerdasan rohani yang baik, sehingga mereka dapat membedakan manakah kehendak Allah yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm 12:1). Idealnya, jika pendeta atau pemimpin jemaat adalah orang yang tunduk kepada Allah, tentu ia tidak akan membuat keputusan atau kebijakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Namun jika dalam praktiknya terjadi perbedaan, maka orang percaya wajib lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Tentu sebisa mungkin prinsip taat kepada Allah ini jangan sampai dibenturkan sehingga menimbulkan perpecahan dalam gereja atau jemaat. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu mungkin memang orang percaya harus mulai berani mengambil sikap. Dalam hal ini yang terpenting adalah sikap yang diambil harus sudah digumulkan dengan sungguh-sungguh dalam doa-doa dan perenungan kita, sehingga kita tidak salah mengambil posisi taat kepada siapa. Ini adalah pergumulan pribadi dan harus kita pertanggungjawabkan nanti pada hari penghakiman. Adalah sangat konyol jika kita merasa sudah berdiri di pihak Allah, merasa sudah taat kepada Allah, tetapi sesungguhnya kita hanya ingin tampil dan mendirikan kerajaan kita sendiri. Jika demikian, suatu saat nanti kita dapat ditolak oleh-Nya (Mat 7:21-23).



Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 5:26-29
5:26 Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka.
5:27 Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka,
5:28 katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."
5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

Kamis, 04 Juni 2020

Meratapi Keadaan Diri Sendiri dalam Doa-doa Kita


Kamis, 04 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (Luk 18:13)


Meratapi Keadaan Diri Sendiri dalam Doa-doa Kita


Bacaan perikop kita pada hari ini sebenarnya memiliki makna agar orang percaya tidak menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain (ay. 9). Tentu konteks aslinya sebenarnya ditujukan kepada orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan para imam di zaman itu. Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus sering sekali mendapatkan pertentangan dari kelompok-kelompok ini. Mereka tidak segan memata-matai Tuhan Yesus, mencoba menjebak Tuhan Yesus dengan pertanyaan yang sulit. Dan pada akhirnya mereka berusaha menangkap dan membunuh Tuhan Yesus karena apa yang Tuhan Yesus ajarkan benar-benar “mengganggu” sistem keagamaan orang Yahudi yang sudah berjalan turun-temurun.

Orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan para imam pada umumnya merasa diri mereka lebih dari orang lain, karena pemahaman akan hukum Taurat yang mereka pahami. Mereka sangat pandai bersoal jawab mengenai hukum Taurat. Mereka berusaha menjalankan hukum Taurat dengan seketat-ketatnya, hingga melupakan esensi hukum Taurat yang sebenarnya, yaitu kasih. Secara singkat, perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus itu menunjukkan adanya dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai (ay. 10). Orang Farisi itu berdoa dalam hatinya dan mengucap syukur atas keadaannya, bahkan atas kemampuannya untuk melakukan hukum Taurat (ay. 11-12). Tetapi pemungut cukai tersebut berdiri jauh-jauh dan memukul dirinya serta meratapi dan menangisi keberdosaannya atau keberadaan dirinya yang masih hidup dalam dosa (ay. 13). Sangat mungkin bahwa dosa yang disebutkan di ayat ini adalah dosa karena ia menjadi seorang pemungut cukai, seorang yang bekerja bagi pemerintah (atau bisa disebut sebagai penjajah) bangsa Romawi. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang dipandang memalukan (khususnya bagi orang Farisi) karena mereka dianggap sedang “melacurkan diri” kepada pemerintah yang berasal dari bangsa kafir.

Akan tetapi, dalam renungan hari ini saya akan mencoba membahas ayat ini dari sudut pandang yang agak sedikit berbeda, yaitu dari sudut pandang si pemungut cukai. Terkait dengan hal itu, saya tidak meragukan bahwa orang Kristen pasti cukup sering berdoa. Katakanlah berdoa ketika bangun tidur, sebelum makan (3x sehari) dan sebelum tidur. Minimal kita berdoa 5 kali setiap hari. Tetapi mari kita persoalkan, apakah isi doa kita sudah sesuai dengan kehendak Allah?

Tentu tidak salah ketika kita mengucap syukur dalam doa kita. Hal itu adalah sesuatu yang bagus sekali. Tetapi perhatikan bahwa terkadang kita perlu melihat diri kita sendiri ketika kita berdoa. Pernahkah kita jujur berkata kepada Tuhan dalam jam-jam doa pribadi kita, bahwa kita sebenarnya adalah pribadi yang tidak baik, dengan karakter yang buruk, kondisi yang masih duniawi, masih terikat dengan segala nafsu dan percintaan dunia? Sesungguhnya kita adalah makhluk yang pantas untuk dibinasakan karena kodrat kita masih terikat dalam kodrat dosa. Jika kita mau jujur, dari pagi hari kita bangun tidur hingga malam hari, sangatlah banyak ucapan-ucapan kita yang tidak sepatutnya keluar dari mulut kita, atau bahkan tindakan-tindakan kita yang tidak menjadi berkat bagi orang lain.

Sesungguhnya keadaan kita sangat buruk karena masih sering jatuh dalam dosa. Dosa di sini tidak hanya pelanggaran moral secara umum (mencuri, membunuh, berzinah), tetapi juga kemelesetan yang kita lakukan, keputusan yang tidak tepat yang kita pilih, dan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Namun demikian, terkadang kita lupa bahwa kita perlu mengakui keberadaan diri kita yang masih penuh dosa di hadapan Tuhan ketika kita datang menghadap. Tentu kita pun perlu meminta ampun atas dosa-dosa kita dan mengucapkan komitmen untuk mau berubah di hadapan Tuhan.

Sayangnya kita sering kali diajarkan bahwa doa adalah kesempatan kita untuk meminta kepada Tuhan. Jika perlu kita harus meminta sebanyak-banyaknya karena Tuhan itu baik dan pasti akan mengabulkan. Sikap ini adalah sikap yang salah karena tidak menghormati Tuhan secara pantas, bahkan seakan-akan Tuhan dianggap sebagai jin botol yang harus mengabulkan setiap permintaan kita. Seringkali juga ketika kita mengucap syukur, muncul kesombongan yang muncul dalam diri kita, seperti yang dilakukan oleh orang Farisi dalam perumpamaan ini. Seringkali kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, atau bahkan tanpa rasa malu menyebut nama orang lain dalam doa kita, tetapi bukan untuk mendoakannya dengan tulus, tetapi untuk menunjukkan kesalahan orang itu di hadapan Tuhan dan bahkan meminta Tuhan untuk menghukum kesalahannya.

Perhatikan apa yang dilakukan oleh si pemungut cukai. Ia menangisi dirinya sendiri. Ia meratapi keadaan dirinya. Ia memukuli dirinya sendiri. Ia tidak berani menengadah ke langit. Ia berdiri jauh-jauh dari orang lain, karena ia melihat kondisi dirinya yang penuh dosa (tentu dosa yang dipahami pada waktu itu adalah pelanggaran terhadap hukum Taurat). Ia memohon belas kasihan atas dirinya karena keadaanya yang berdosa di hadapan Allah (ay. 13). Ucapan doanya singkat, hanya sepertiga ayat (bandingkan dengan ucapan doa orang Farisi yang ditulis dalam dua ayat), yaitu: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”

Apa yang kemudian terjadi? Tuhan Yesus menyatakan dengan jelas bahwa si pemungut cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah, sementara orang Farisi itu tidak (ay. 14a). Lho, mengapa demikian? Bukankah jelas-jelas pemungut cukai adalah pekerjaan yang dipandang hina oleh orang Yahudi (dan mungkin ada fatwa-fatwa atau dalil-dalil pada waktu itu yang menyatakan bahwa pekerjaan pemungut cukai adalah haram)? Dengan kata lain, doa pemungut cukai itu didengar dan dijawab oleh Allah. Mengapa bisa demikian?

Dalam doa pemungut cukai, ada suatu kejujuran dalam dirinya di hadapan Allah. Pemungut cukai itu tidak memiliki pengalaman teologi sedalam teologi yang dimiliki oleh orang Farisi. Pemungut cukai itu mungkin tidak pandai mengucapkan untaian kata-kata indah dalam doanya. Isi doanya singkat, padat, dan jelas. Tetapi itulah ucapan yang jujur dari si pemungut cukai, yang keluar dari dalam hatinya dengan tulus. Ia tidak berlaku munafik. Ia tidak sibuk mempersoalkan orang lain (bandingkan dengan orang Farisi yang membandingkan keadaan dirinya dengan si pemungut cukai itu ketika ia berdoa). Ia hanya sibuk mempersoalkan keadaan dirinya sendiri. Ia meratapi dirinya sendiri dan berdoa memohon belas kasihan Allah, memohon pengampunan Allah, dan memohon agar ia dapat tetap dalam kasih Allah. Mungkin ia tidak dapat keluar dari pekerjaannya karena satu dan lain hal, sehingga hanya ini yang ia dapat lakukan: meratapi keadaannya sendiri.

Sikap inilah yang perlu kita mulai untuk kita terapkan dalam jam-jam doa kita (bukan hanya waktu doa yang hanya sebentar sebelum kita makan). Kita perlu memiliki jam doa khusus dimana kita duduk diam di kaki Tuhan, menginstropeksi diri kita, melihat kehidupan kita, dan meratapi keberdosaan kita. Di sini diperlukan sikap rendah hati dan kejujuran dalam melihat dan menilai diri kita sendiri. Kecenderungan manusia adalah mudah menilai orang lain tetapi sangat sulit untuk menilai diri kita sendiri (Luk 6:41-42). Itulah sebabnya, lebih mudah bagi kita untuk menjadi tinggi hati dan sombong (apalagi jika kita sudah memiliki jabatan dalam gereja atau persekutuan).

Sebenarnya, meratapi diri kita sendiri dalam jam-jam doa kita memiliki dampak yang positif. Pertama, kita akan belajar untuk jujur dan terbuka kepada Tuhan dalam doa kita. Kita akan terlatih untuk tidak menjadi orang-orang yang munafik, tetapi kita dapat berkata dengan jujur kepada Tuhan: “Ujilah aku Tuhan, selidikilah batinku dan hatiku” (Mzm 26:2). Kedua, kita tidak akan memiliki waktu untuk sibuk mengurusi kehidupan orang lain, karena kita akan lebih sibuk memperkarakan dan mengurusi kehidupan kita di hadapan Tuhan, yaitu keberadaan kita yang penuh dosa. Ketiga, kita akan mulai peka akan hal-hal yang tidak menyukakan hati Tuhan. Kita akan mulai dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, karena kita tekun memperkarakan setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil. Keempat, jika kita sudah terbiasa menggelar “penghakiman” atas hidup kita di hadapan Tuhan dengan jujur, maka sesungguhnya kita sedang mempersiapkan diri menghadap tahta penghakiman Tuhan pada akhir zaman nanti. Sikap orang yang mau meratapi diri sendiri adalah sikap yang rendah hati, dan Tuhan Yesus dengan jelas menyatakan bahwa orang yang merendahkan diri, akan ditinggikan oleh Tuhan, tetapi orang yang meninggikan diri (atau tidak mau merendahkan diri), suatu saat nanti akan direndahkan (ay. 14b). Mana yang kita pilih?


Bacaan Alkitab: Lukas 18:9-14
18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Selasa, 02 Juni 2020

Kawanan Kecil yang Terpilih


Selasa, 02 Juni  2020
Bacaan Alkitab: Lukas 12:29-34
Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. (Luk 12:32)


Kawanan Kecil yang Terpilih


Frasa “kawanan kecil” hanya terdapat satu kali di dalam Alkitab, yaitu di Injil Lukas pasal 12 ini. Tentu untuk dapat memahami ayat ini dengan benar, kita perlu melihat konteks ayat tersebut. Dalam ayat sebelumnya dikatakan bahwa agar orang percaya tidak mempersoalkan mengenai apa yang akan kita makan ataupun apa yang akan kita minum (ay. 29). Kita tidak perlu cemas dan mempersoalkan hal-hal jasmani seperti makanan maupun pakaian. Semuanya itu dicari oleh bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapa kita di surga tahu bahwa kita memang memerlukan semuanya itu (yaitu makanan, pakaian, uang, dan segala kebutuhan jasmani) (ay. 30).

Tentu di sini kita harus memahami bahwa Tuhan memiliki tatanan yang sangat mulia. Tatanan tersebut dalam konteks ini adalah bahwa mereka yang hidup bertanggung jawab dengan cara bekerja keras mencari nafkah, pasti akan memperoleh rejeki. Ini adalah tatanan yang umum, dan juga berlaku secara universal (termasuk bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah, orang beragama lain, bahkan orang atheis sekalipun). Memang terkadang Tuhan memberikan mujizat ketika kita belum dewasa, misalnya ketika kita masih hidup dalam kepicikan dan belum dapat hidup bertanggung jawab. Misalnya ketika kita dalam keadaan terjepit karena hutang (yang sebagai dampak dari kebodohan kita mengelola uang dan keserakahan kita atau keborosan kita, atau karena kita suka berjudi), Tuhan dapat memberikan jalan keluar yang ajaib sehingga hutang kita lunas. Tetapi secara umum, tatanan Tuhan adalah bahwa orang yang bekerja keras, yang hemat, yang hidup bertanggung jawab, tidak boros pasti juga akan hidup berkecukupan.

Dalam hal ini Tuhan Yesus mengatakan agar orang percaya mencari kerajaan-Nya (Kerajaan Allah atau Kerajaan Bapa), maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepada kita (ay. 31). Dalam hal ini, ayat 29-31 memiliki ayat paralel di Injil Matius yang sudah sangat sering kita dengar (Mat 6:31-33). Saya sendiri sudah pernah mengupas mengenai apa yang dimaksud dengan kata “semuanya itu”, yang sering disalahartikan oleh orang Kristen dan para pembicara/pengkhotbah. Semuanya itu bukanlah segala kelimpahan, tetapi konteksnya adalah kebutuhan pokok, yaitu makanan dan pakaian yang secukupnya. Jika kita hidup bertanggung jawab dan bekerja keras, paling tidak kita pasti akan dapat makan dan memakai pakaian untuk menutupi ketelanjangan kita.

Dalam perikop di Injil Lukas ini, ada satu ayat yang unik yang berbunyi demikian: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Ayat ini tidak ada dalam perikop paralel di Injil Matius. Mengapakah Tuhan Yesus menggunakan frasa “kawanan kecil” dalam ayat 32 ini?

Kata kawanan (poimnion atau ποίμνιον) ini merujuk kepada sekawanan domba-domba yang dituntun oleh gembala. Kata ini ada dalam ayat lain seperti Kis 20:28-29 dan 1 Ptr 5:2-3 yang merujuk kepada jemaat Tuhan yaitu jemaat mula-mula dalam konteks itu. Kita tentu sudah lebih memahami makna kata “kawanan” karena Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik, yang menuntun domba-domba-Nya sebagai suatu kawanan. Akan tetapi, mengapa Tuhan Yesus menyebutkan kawanan tersebut sebagai kawanan yang kecil? Bukankah akan lebih baik jika kawanan itu adalah kawanan yang besar, dimana banyak orang masuk ke dalam karya keselamatan Allah?

Kita harus memahami bahwa dalam ayat 32 ini dikatakan bahwa kawanan kecil ini adalah kawanan yang diperkenan Bapa untuk menerima kerajaan tersebut. Kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Allah yang sudah datang dan akan nyata kelak ketika Tuhan Yesus datang kembali untuk menjadi Raja dalam kerajaan Allah selama-lamanya. Memang Tuhan Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus dosa dunia, yaitu menebus dosa seluruh umat manusia. Tetapi dalam ayat lain juga dikatakan bahwa mereka yang mau masuk ke dalam kerajaan surga harus masuk melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit (Mat 7:13-14). Bahkan Tuhan Yesus juga berkata supaya kita berjuang untuk masuk ke dalam pintu yang sesak itu, karena banyak orang akan berusaha untuk masuk tetapi tidak dapat (Luk 13:24). Dalam hal ini nyata bahwa kerajaan Allah memerlukan perjuangan dan ketekunan untuk dapat memasukinya. Dibutuhkan perjuangan untuk meninggalkan dosa dan percintaan dunia agar kita boleh diperkenankan masuk ke dalamnya.

Itulah sebabnya, keselamatan sebenarnya adalah sesuatu yang sangat mahal. Dikatakan sangat mahal karena harga keselamatan itu sendiri adalah darah Allah Anak yang telah mati ketika Ia menjadi manusia dan disamakan seperti kita. Mungkin ada yang berpendapat bahwa “Kan orang Kristen itu banyak di dunia ini, bahkan menjadi agama terbesar di dunia. Mengapa disebut sebagai kawanan kecil?”. Fakta itu memang benar adanya, tetapi Tuhan tidak hanya peduli akan kuantitas, tetapi Ia lebih peduli akan kualitas iman yang harus dimiliki oleh orang percaya. Ada standar iman yang harus dipenuhi oleh mereka yang mengaku sebagai orang Kristen. Sayangnya tidak banyak orang Kristen mau memperkarakan hal ini, dan bahkan lebih sedikit lagi orang Kristen yang mau berjuang dan berusaha untuk mencapai standar iman tersebut.

Sangat mungkin bahwa dari jutaan bahkan milyaran orang yang mengaku Kristen (atau setidaknya tercatat beragama Kristen) hanya sedikit yang benar-benar diperkenankan masuk ke dalam kerajaan Allah. Bukan karena Tuhan tidak ingin banyak orang selamat, tetapi karena orang-orang tersebut sudah merasa puas dengan status agama Kristen di KTP mereka, atau sudah merasa menjadi orang Kristen yang baik dengan datang ke gereja setiap minggu dan memberi persembahan. Tuhan Yesus sendiri dengan tegas dan jelas berkata bahwa akan ada banyak orang Kristen (dan bahkan para pelayan Tuhan, hamba Tuhan, pengkhotbah dan pendeta) yang datang kepada Tuhan pada hari penghakiman nanti, dan mereka merasa sudah berhak masuk ke dalam kerajaan surga. Pada saat itu Tuhan akan menolak mereka karena mereka sebenarnya melakukan kejahatan (Mat 7:21-23). Mereka mungkin sudah merasa melakukan pelayanan-pelayanan rohani di gereja maupun jemaat, tetapi mereka tidak mau sungguh-sungguh memperkarakan keadaan mereka dan tidak mau memilih jalan sesak. Mereka lebih memilih pintu yang lebar yang lebih nyaman untuk mereka dan tidak mau berusaha untuk berjuang masuk melalui pintu yang sesak itu. Hal sangat mengerikan karena Tuhan Yesus baru akan berterus terang pada hari penghakiman nanti. Artinya adalah mereka yang tidak serius memperkarakan kondisi iman mereka di hadapan Tuhan pada hari-hari hidupnya bisa jadi akan terkejut ketika mendapati kondisi batin mereka yang ternyata sangat buruk di hadapan Tuhan saat mereka mati atau saat Tuhan Yesus datang kembali sebagai Raja.

Penggunaan kata “kawanan kecil” dalam hal ini dapat merujuk bahwa sangat mungkin hanya ada sebagian kecil saja dari orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh berjuang hidup benar di hadapan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mau mendengarkan suara Gembala mereka dan mau mengikut dan mengiring Sang Gembala kemanapun Ia membawa mereka. Hal ini dapat merujuk bahwa mereka yang masuk ke dalam “kawanan kecil” adalah orang-orang yang mungkin dipandang aneh oleh sebagian besar orang Kristen karena memiliki cara hidup yang berbeda dan tidak wajar, misalnya saja selalu mempersoalkan keberadaannya yang masih berdosa, selalu bertobat dan meminta ampun, selalu ingin hidup benar dan tidak bercacat cela di hadapan-Nya, selalu mengingat bahwa suatu saat mereka pasti akan mati, dan selalu menaruh pengharapan mereka pada hari kedatangan Tuhan Yesus, dimana pada saat itu semua manusia akan dihakimi. Mereka mungkin dipandang “nyentrik” oleh kebanyakan orang Kristen, tetapi bisa jadi justru orang-orang inilah adalah orang-orang yang benar karena mereka berjuang untuk hidup sebenar-benarnya di hadapan Allah.

Tentu cara yang paling baik adalah dengan memperkarakan hidup kita masing-masing di hadapan Tuhan. Perkarakan diri kita, jangan-jangan masih ada hal-hal yang belum kita lakukan sebagai bagian kita, atau masih ada dosa-dosa tersembunyi yang harus kita akui dan kita selesaikan di hadapan Tuhan. Kita tentu tidak perlu sibuk mengurusi orang lain jika kita belum mengurusi keberadaan diri kita sendiri di hadapan-Nya. Jangan sampai kita sibuk dengan segala rutinitas hidup dan bahkan rutinitas pelayanan, tetapi kita tidak pernah berjuang dan memperkarakan apakah kita sudah layak masuk ke dalam “kawanan kecil” tersebut. Setidaknya mereka yang menjadi bagian dalam kawanan kecil tersebut pasti memiliki ciri-ciri yang terlihat antara lain: 1) tidak sibuk menggenggam harta dunia; 2) rela melepaskan apapun juga demi kerajaan Allah; 3) memiliki hati yang suka memberi dan membantu orang lain; 4) menaruh hati di dalam kerajaan surga (ay. 33-34). Orang-orang seperti ini pastilah tidak melakukan hal-hal yang membahayakan sesamanya, dan bahkan memiliki keagungan hidup sebagai anak-anak Allah dan bagian dari kawanan kecil tersebut. Sudahkah kita memperkarakan hidup kita masing-masing?



Bacaan Alkitab: Lukas 12:29-34
12:29 Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu.
12:30 Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.
12:31 Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.
12:32 Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.
12:33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.
12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Semangat Pertobatan yang Kian Memudar


Senin, 01 Juni 2020
Bacaan Alkitab: Yunus 3:4-10
Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. (Yun 3:5)


Semangat Pertobatan yang Kian Memudar


Kita tentu sudah pernah mendengar tentang kisah Yunus dalam Alkitab, bagaimana ia diutus oleh Tuhan ke kota Niniwe namun ia melarikan diri. Ia kemudian ditelan oleh ikan dan diberi kesempatan kedua untuk melakukan tugasnya kembali. Kali ini ia taat dan menyampaikan firman Tuhan kepada kota Niniwe yaitu bahwa Allah akan menunggangbalikkan kota tersebut sebagai akibat dari kejahatannya (ay. 4).

Dalam perikop-perikop sebelumnya, dikatakan bahwa kota Niniwe adalah kota yang sangat jahat, bahkan seruan atas kejahatan penduduk kota itu sudah sampai ke hadirat Allah (Yun 1:2). Niniwe adalah kota yang terletak di kota Asyur, yang merupakan ibukota dari kerajaan tersebut. Sangat mungkin dosa dan kejahatan yang dilakukan penduduk kota ini tidak hanya penyembahan terhadap dewa-dewa (karena mereka tidak mengenal Allah yang benar yaitu Allahnya orang Israel). Bisa jadi ada banyak tindakan dan perbuatan jahat lainnya yang dilakukan oleh penduduk kota itu.

Dalam hal ini Yunus adalah orang Israel yang merupakan bangsa pilihan Tuhan di Perjanjian Lama. Kebanyakan orang Israel pada waktu itu (termasuk Yunus) berpikir bahwa karena mereka adalah bangsa pilihan, maka mereka pasti dikasihi Tuhan. Sementara bangsa-bangsa lain dianggap kafir dan dipandang tidak layak untuk dikasihani. Sangat mungkin Yunus melakukan tugas yang diberikan Allah dengan ogah-ogahan, yang penting tugasnya sudah dilakukan. Ia mungkin saja tidak berharap bahwa orang Niniwe akan bertobat. Mungkin dalam hatinya, ia berharap agar mereka tidak mendengarkan seruan Yunus sehingga Tuhan benar-benar akan menunggangbalikkan kota tersebut.

Tetapi apa yang dilakukan oleh para penduduk kota Niniwe setelah mendengar firman yang disampaikan oleh Yunus? Dikatakan bahwa orang-orang Niniwe tersebut mendengarkan firman yang disampaikan Yunus. Mereka percaya kepada Allah, mereka mengumumkan puasa dan bertobat. Bahkan tidak hanya orang dewasa saja yang bertobat, tetapi anak-anak juga bertobat dan mengenakan kain kabung (ay. 5).

Lebih dahsyat lagi, ketika kabar itu (atau firman itu) sampai kepada Raja Niniwe, ia turun dari singgasananya dan ikut berkabung dan bertobat (ay. 6). Sang raja bahkan mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat Niniwe dan bahkan hewan ternak mereka berpuasa, tidak makan dan tidak minum untuk memohon belas kasihan Allah (ay. 7). Tidak hanya berkabung dan berpuasa, Raja Niniwe juga memerintahkan rakyatnya untuk berseru kepada Allah dan berbalik dari kejahatan dan kekerasan yang selama ini mereka lakukan (ay. 8). Mereka sangat mungkin tidak mengenal Allah orang Israel (karena sudah memiliki dewa-dewa sendiri). Namun mereka berkata bahwa siapa tahu dengan pertobatan mereka yang sungguh-sungguh ini Allah akan berpaling dari murka-Nya dan tidak membinasakan mereka (ay. 9)

Kita dapat melihat bagaimana firman yang disampaikan oleh seorang dari bangsa Israel di kota Niniwe yang sangat besar, bisa benar-benar membawa pertobatan bagi seisi kota tersebut. Bagaimana orang-orang Niniwe tidak mencari keselamatan dari dewa-dewa mereka, tetapi benar-benar menyesal, berkabung dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Bukti dari pertobatan mereka yang sungguh-sungguh itu diverifikasi di ayat 10, dimana dikatakan bahwa Allah menyesal karena malapetaka yang direncanakan atas orang Niniwe, walaupun tentu malapetaka tersebut dirancangkan sebagai akibat dosa-dosa dan kejahatan yang dilakukan orang Niniwe selama ini. Tetapi pada akhirnya, Allah menghargai pertobatan itu dan tidak jadi melakukannya.

Dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat banyak tokoh Alkitab yang bertobat dengan sungguh-sungguh. Kita melihat bagaimana Daud bertobat, bangsa Israel bertobat, dan bahkan orang Niniwe ini bertobat. Kita dapat melihat bagaimana orang Niniwe yang kafir (yaitu bukan bagian dari umat pilihan yaitu bangsa Israel) dapat didengar Allah. Pertobatan orang Niniwe yang sungguh-sungguh telah sampai ke hadirat Allah. Tentu Allah adalah Allah yang menguji hati. Ia tahu mana pertobatan yang sungguh-sungguh dan mana “pertobatan” yang pura-pura. Dan dalam hal ini, kita dapat melihat dan menyimpulkan bahwa pertobatan orang Niniwe pastilah pertobatan yang benar, bahkan sangat ekstrem karena rajanya sendiri juga bertobat, bahkan anak-anak dan hewan ternak juga ikut berkabung dan bepruasa.

Namun demikian, kita sudah jarang melihat seruan pertobatan di gereja atau jemaat masa kini. Sebenarnya seruan pertobatan juga disuarakan dengan keras di dalam Perjanjian Baru, misalnya saja Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus dan para rasul. Bahkan Alkitab juga mencatat pertobatan murid-murid Tuhan Yesus seperti Petrus dan juga Paulus yang bertobat dari kesalahan dan kejahatan mereka. Namun, saya merasa dan melihat bahwa semangat pertobatan di dalam gereja ini semakin memudar. Kalaupun ada seruan pertobatan di dalam ibadah, seringkali itu hanya sebagai suatu bagian dari liturgi yang nyaris tidak memiliki makna yang bernilai tinggi. Seringkali seruan pertobatan hanya sebagai suatu formalitas dalam ibadah, dimana pendeta atau jemaat akan meminta pengampunan atas “semua dosa-dosa yang diperbuat dengan sengaja maupun tidak sengaja”. Hal ini membuat kesan bahwa seakan-akan dosa-dosa sepanjang minggu sudah beres dengan pengakuan dosa beberapa menit di gereja. Tentu kematian Tuhan Yesus sudah menghapus dosa-dosa seluruh umat manusia. Tetapi jika hal pengakuan dosa dan pertobatan hanya dilakukan sebagai hal yang bersifat formalitas semata, maka orang Kristen tidak akan mengalami pertobatan yang benar dan proporsional. Mereka hanya merasa sudah bertobat ketika datang di gereja, tetapi tidak sungguh-sungguh berjuang dan bertobat meninggalkan kodrat dosa dan karakter-karakter buruk yang ada di dalam diri mereka.

Hal ini besar kemungkinan akibat kesalahan memahami karya keselamatan melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Banyak orang Kristen merasa sudah selamat karena percaya bahwa Tuhan Yesus sudah mati di atas kayu salib. Memang benar bahwa Tuhan Yesus mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa umat manusia. Akan tetapi, iman seperti ini barulah iman atas sejarah-Nya saja. Iman seperti ini bukan iman yang hidup karena tidak dilanjutkan dengan perjuangan untuk hidup benar dan melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak Bapa.

Saya takut bahwa ketika seruan pertobatan ini semakin memudar dan jarang disuarakan di gereja-gereja dan jemaat-jemaat, maka orang Kristen merasa “baik-baik saja” akan hidupnya. Mereka tidak merasa perlu untuk bertobat, karena dianggap bahwa liturgi pengakuan dosa seminggu sekali sudah cukup untuk menghapus dosa-dosa mereka, dan kalaupun mereka berbuat dosa lagi kemudian hari, mereka akan tenang karena setiap hari Minggu mereka dapat meminta pengampunan dosa dari pendeta. Padahal sejatinya kita harus meminta pengampunan dosa dari Juruselamat kita yaitu Tuhan Yesus sendiri, melalui jam-jam doa kita, saat teduh, dan waktu-waktu khusus dimana kita menunjukkan pertobatan yang sungguh-sungguh.

Selama ini kita sering melakukan pertobatan yang palsu atau semu (pseudo). Kita merasa sudah bertobat padahal sebenarnya kita belum bertobat. Salah satu ciri pertobatan yang benar adalah ketika kita merasa sangat menyesal jika kita melakukan dosa bahkan kesalahan atau kemelesetan yang kecil di hadapan Tuhan. Seakan-akan kita menyalibkan kembali Tuhan Yesus ketika kita melakukan dosa tersebut. Ciri lain orang yang bertobat adalah mereka tahu bahwa mereka sudah berbuat salah. Sama seperti orang Niniwe yang menyadari keadaan mereka yang jahat dan penuh kekerasan, seharusnya kita menyadari dosa-dosa yang pasti kita lakukan dengan sengaja.

Seruan pertobatan ini semakin memudar, meskipun di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru penuh dengan kisah pertobatan tokoh-tokoh Alkitab dan bahkan seruan untuk bertobat yang disampaikan oleh para nabi dan juga Tuhan Yesus sendiri. Di akhir zaman ini, kita harus lebih sungguh-sungguh bertobat mengingat dunia ini dapat berakhir kapanpun. Itulah sebabnya, di dalam kitab Wahyu kita menemukan seruan pertobatan dari Tuhan Yesus kepada seluruh jemaat (Why 2-3). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang Kristen tidak peduli dengan pertobatan yang benar, sehingga Tuhan merasa perlu untuk mengingatkan seluruh jemaat-Nya. Semoga kita yang membaca tulisan ini benar-benar dapat menyadari keberdosaannya di hadapan Allah, dan sungguh-sungguh mau bertobat di hadapan-Nya, supaya kita terhindar dari siksaan api neraka kekal dan diperkenankan masuk ke dalam kerajaan-Nya yang mulia.



Bacaan Alkitab: Yunus 3:4-10
3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."
3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.
3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.
3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.
3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa."
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.

Minggu, 19 April 2020

Menguji Karunia Nabi (3): Suatu Saat Akan Berakhir


Minggu, 19 April 2020
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 13:8-13
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. (1 Kor 13:8)


Menguji Karunia Nabi (3): Suatu Saat Akan Berakhir


Ada sebagian gereja tertentu yang sangat menekankan karunia-karunia rohani (atau karunia Roh). Ukuran kedewasaan seseorang dalam gereja ini biasanya diukur dari karunia yang orang tersebut miliki. Dan, hal yang paling mudah dilihat atau diukur adalah karunia berbahasa roh. Seringkali dalam ibadah-ibadahnya, gereja ini sering mengajak jemaat untuk berbahasa roh bersama-sama. Memang tidak ada yang salah dengan hal ini, tetapi bagi orang yang belum memperoleh karunia tersebut, mungkin saja orang itu akan merasa minder karena belum bisa berbahasa roh, dan akhirnya justru akan “tergoda” untuk meniru bahasa roh tersebut (dengan memperhatikan orang lain di sekitarnya). Akibatnya, justru jemaat tidak diajarkan bagaimana bergumul untuk berbahasa roh dengan benar, tetapi bisa jadi hanya sekedar ikut-ikutan supaya dipandang sudah rohani (karena sudah memperolah karunia).

Saya tidak menampik bahwa karunia itu penting dan berguna bagi diri kita dan juga bagi jemaat. Akan tetapi, hendaknya karunia roh itu tidak dimanipulasi dan dibuat-buat. Lagipula, Paulus mengatakan bahwa karunia (atau hal-hal spiritual/rohani) pun aka nada batasnya. Dikatakan bahwa nubuatan (prophēteiai) akan berakhir, bahasa roh (glōssai) akan berhenti, dan pengetahuan (gnōsis) akan lenyap – akan tetapi kasih tidak akan pernah berkesudahan (ay. 8). Ketiga hal yang disebutkan di ayat 8 ini sudah disebutkan di dalam perikop sebelumnya mengenai bermacam-macam karunia, meskipun dengan penggunaan kata yang agak berbeda, misalnya: karunia untuk bernubuat (prophēteia), karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh (gene glōssōn), dan karunia berkata-kata dengan pengetahuan (logos gnōseōs) (1 Kor 12:7-10). Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa segala karunia itu suatu saat akan berhenti.

Kapankah karunia-karunia tersebut akan berhenti? Paulus memberikan jawabannya bahwa karunia-karunia tersebut tidak lengkap dan tidaklah sempurna (ay. 9). Semua hal yang tidak sempurna akan lenyap ketika yang sempurna sudah tiba atau sudah datang atau sudah dinyatakan (ay. 10). Tentu hal ini harusnya berbicara tentang kerajaan Allah yang dinyatakan pada akhir zaman, ketika dunia ini akan menjadi lautan api dan orang-orang percaya dibawa Tuhan ke dalam langit yang baru dan bumi yang baru. Di situlah kita sudah tidak membutuhkan karunia-karunia sebagaimana yang disebutkan di atas.

Misalnya, terkait dengan nubuatan, kita di bumi ini masih membutuhkan karena mungkin saja kita dapat memberi penguatan dengan menyampaikan apa yang Tuhan suruh kita sampaikan kepada orang lain. Namun ketika kita sudah dibawa masuk ke dalam kerajaan Allah, maka kita sudah masuk ke dalam pemerintahan Allah yang kekal dan sempurna, sehingga Anak Domba Allah pun menjadi Raja yang kekal, dan semua orang dapat langsung hidup dalam pemerintahan-Nya. Mungkin saja di surga kita dapat langsung mendengar suara-Nya dan kehendak-Nya yang khusus bagi masing-masing kita, sehingga nubuatan tidak diperlukan lagi karena kita akan mengenal Allah dengan sempurna (ay. 12b). Demikian pula dengan pengetahuan yang kita miliki akan menjadi sempurna di dalam surga.

Jadi, sebenarnya tidak ada yang salah dengan karunia itu. Tentu saya juga merindukan memiliki karunia-karunia supaya saya dapat lebih efektif lagi melayani Allah. Namun jika karena karunia maka kita saling menjelek-jelekkan gereja lain, saling mengatakan gereja lain sebagai gereja yang sesat, atau juga dengan cara memanipulasi dan memanfaatkan karunia demi kepentingan kita sendiri, maka itu menunjukkan sikap kita yang masih kanak-kanak. Seseorang yang masih kanak-kanak biasanya akan meributkan hal-hal yang tidak penting. Mereka bisa berkelahi hanya karena berebut mainan, padahal orang dewasa mungkin dapat menyelesaikannya dengan bermain bersama atau bergantian. Tentu anak kecil yang benar-benar masih anak kecil tidak dapat disalahkan jika ia berpikir dan berperilaku seperti anak-anak. Hal ini berlaku pula dalam hal rohani. Orang yang masih kanak-kanak secara rohani tentu masih dimaklumi jika pola pikir mereka belum dewasa dan masih suka mempersoalkan hal-hal yang tidak esensial. Akan tetapi, jika orang tersebut seharusnya sudah cukup dewasa ditinjau dari segi usia/umur tetapi masih bersikap seperti kanak-kanak, berarti ada yang salah dengan orang tersebut, karena mungkin saja ia tidak bertumbuh secara proporsional secara rohani (ay. 11-12a).

Di balik karunia-karunia yang bermacam-macam jenisnya, kita harus memahami bahwa karunia itu memang sangat berguna bagi kita. Tetapi kita telah diingatkan lagi bahwa ada hal lain yang jauh lebih penting atau lebih utama, yaitu kasih (1 Kor 12:31). Oleh karena itu jangan kita lebih fokus pada karunia-karunia yang dapat berakhir tetapi melupakan apa yang tidak dapat berkesudahan, yaitu kasih (ay. 8a). Bahkan, dari tiga hal yang akan tinggal tetap (yang sangat mungkin akan tetap ada hingga pada kekekalan), yaitu iman, pengharapan, dan kasih, yang paling besar atau paling utama (meizōn) dari ketiganya adalah kasih (ay. 13). Hal ini sebenarnya dapat dengan mudah dipahami jika kita mengerti definisi kasih, yang tidak hanya sekedar kerelaan untuk memberi kepada orang lain, tetapi juga sampai pada tingkatan berupa tindakan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah (atau kehendak Allah).

Orang yang melakukan segala sesuatu dalam kasih – artinya melakukannya sesuai dengan kehendak Allah – maka dalam segala hal ia akan didapati berkenan di hadapan Allah. Kalaupun ia memiliki karunia-karunia, maka ia akan menggunakan karunia tersebut dengan bijaksana, sesuai dengan tuntunan Allah. Dalam segala hal ia akan memperkarakan apakah yang harus ia lakukan dengan karunia tersebut. Sebagai contoh, jika seseorang yang hidup dalam kasih memiliki karunia untuk bernubuat (atau menyampaikan nubuatan/suara Allah), maka ketika ia hendak menyampaikan nubuatan kepada orang lain, ia akan mempersoalkan terlebih dahulu apakah memang ia yang harus menyampaikan nubuatan tersebut, bagaimana caranya, kapan dan dimana tempatnya. Ia tidak akan terburu-buru mengucapkan nubuatan tanpa memikirkan perasaan Allah. Tentu ia juga tidak akan menambah-nambahi atau mengurangi isi nubuatan tersebut, misalnya dengan memberi suatu batas waktu atau menyebutkan suatu tanggal/bulan/tahun yang sebetulnya tidak dikehendaki Allah.

Orang seperti ini juga tidak akan mempermasalahkan jika ia memiliki suatu karunia atau ia tidak memiliki karunia tertentu. Ia tidak akan menghitung karunia-karunia yang dimiliki, karena baginya karunia adalah anugerah dari Allah. Yang terpenting baginya adalah jika kepadanya dipercayakan suatu karunia, maka ia harus mempergunakan karunia itu dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh tanggung jawab. Ibarat hamba yang diberi talenta, maka ia wajib untuk mempergunakan dan mengembangkan talenta tersebut dengan baik. Ia tidak akan menjadi sombong atas karunia yang dimiliki karena ia sadar bahwa karunia itu hanya sementara, dan yang penting adalah tetap hidup dalam iman, pengharapan dan kasih. Ia tidak akan menyalahgunakan karunia-karunia itu untuk kepentingannya sendiri. Dalam hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang sudah dewasa rohani, pasti memiliki ciri-ciri hidup dalam kasih, dan tidak meributkan hal-hal yang suatu saat akan berakhir.



Bacaan Alkitab: 1 Korintus 13:8-13
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Kamis, 16 April 2020

Menguji Karunia Nabi (2): Harus Berdasarkan Kasih

Kamis, 16 April 2020
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 13:1-3
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (1 Kor 13:2)


Menguji Karunia Nabi (2): Harus Berdasarkan Kasih


Hari ini kita akan belajar mengenai jalan yang lebih utama, yang dikatakan oleh Paulus dalam bagian akhir pasal 12 dari kitab 1 Korintus. Kita telah belajar bagaimana Allah menetapkan jabatan atau peran-peran tertentu dalam jemaat, di mana salah satunya adalah jabatan nabi (prophétés). Selain jabatan yang ditetapkan Allah, Paulus juga menyinggung mengenai kuasa (yang pada umumnya terkait dengan mujizat) dan sejumlah karunia yang disebutkan. Namun, dari sekian banyak hal yang positif yang disebutkan oleh Paulus dalam pasal 12, ada satu hal lagi yang jauh lebih utama (hyperbolēn) yang akan kita pelajari hari ini, yaitu kasih.

Apa itu kasih? Secara singkat dapat dikatakan bahwa kasih itu berasal dari Allah dan kasih adalah natur Allah itu sendiri (1 Yoh 4:7-8). Jika boleh saya meringkas, maka kasih adalah pikiran dan perasaan Allah itu sendiri. Artinya, ketika kita melakukan sesuatu karena kasih, maka untuk menguji apakah kasih kita sudah benar, kita harus memperkarakan, apakah yang kita lakukan tersebut sudah sejalan dan selaras dengan pikiran dan perasaan Allah (atau secara sederhana, apakah yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan kehendak Allah) atau belum.

Tentu karunia adalah hal yang penting, bahkan sangat penting. Demikian pula dengan jabatan-jabatan yang dimiliki seseorang dalam jemaat. Kita dapat melihat bagaimana orang yang memiliki jabatan dan karunia tertentu dapat dipakai Allah secara efektif dalam pelayanan. Namun, Paulus menuliskan bahwa sekalipun ia dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia (yang menunjukkan kepintaran atau IQ yang luar biasa) dan bahkan dengan bahasa malaikat (yang menggambarkan suatu prestasi yang sangat hebat dari sisi rohani), tetapi jika ia tidak mempunyai kasih, ia sama saja dengan alat musik yang hanya mengeluarkan bunyi tanpa arti (ay. 1).

Dalam ayat selanjutnya, Paulus berkata bahwa sekalipun ia memiliki karunia untuk bernubuat dan mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, bahkan memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika ia tidak mempunyai kasih, semua itu sama sekali tidak berguna (ay. 2). Lebih ekstrem lagi, bahkan sekalipun Paulus membagi-bagikan seluruh apa yang ia miliki dan bahkan mati dengan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar, tetapi jika ia tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagi dirinya (ay. 3). Kita dapat melihat bahwa ada suatu tingkatan dari ayat 1 sampai ayat 3, mulai dari prestasi secara duniawi, prestasi dalam hal rohani/pelayanan, hingga melepaskan segala sesuatu yang ia miliki termasuk nyawa sekalipun. Namun dalam tingkatan dari ayat 1 hingga ayat 3 tersebut, semua hal yang mungkin dipandang baik dan sangat luar biasa dari sudut pandang manusia, bisa menjadi hal yang tidak berarti ditinjau dari sudut pandang Allah.

Menjadi pertanyaan, apakah mungkin orang melakukan ayat 1 hingga ayat 3 tetapi tidak memiliki kasih? Jika kita melihat ayat 1, orang memang dapat belajar semua bahasa manusia tanpa kasih, misalnya orang yang terus menerus mengejar gelar akademis tanpa henti. Di ayat 2, kita juga dapat melihat bahwa sangat mungkin ada orang-orang yang dapat mengetahui banyak rahasia dan pengetahuan meskipun orang tersebut bukan orang Kristen dan tidak mengenal Allah. Di ayat 3, masih ada kemungkinan orang mau menjual segala miliknya dan membagi-bagikan kepada orang lain, misalnya orang yang terpanggil untuk menjadi seorang pertapa di tempat sunyi. Meskipun demikian, tentu dapat dikatakan bahwa orang tersebut memiliki kasih secara umum ketika ia rela membagi-bagikan hartanya kepada orang lain.. Artinya, sebagian dari apa yang ditulis oleh Paulus dalam ayat 1 sampai 3 tersebut masih mungkin dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah atau dalam level kasih umum seperti yang dipahami oleh manusia pada umumnya.

Namun, jika kita memperhatikan, ada sejumlah hal dalam ayat 1 sampai 3 yang sebenarnya identik dengan iman Kristen. Sebagai contoh: berbicara dalam bahasa malaikat atau bahasa surgawi (ay. 1b), memiliki karunia untuk bernubuat dan memiliki iman untuk memindahkan gunung (ay. 2a dan 2c), serta membagi-bagikan harta kepada orang lain dan bersedia menyerahkan nyawa (ay. 3). Dari sudut pandang agama pada umumnya, tindakan-tindakan ini adalah tindakan yang mulia dan bernilai tinggi. Tetapi, Paulus menulis bahwa tanpa kasih, semua tindakan itu adalah sia-sia dan tidak bermanfaat.

Kita dapat melihat bahwa sebagian dari aktivitas yang terkait dengan kekristenan tersebut juga ada dalam pengajaran Tuhan Yesus sendiri, seperti iman yang dapat memindahkan gunung (Mat 17:20), menjual seluruh hartanya dan membagi-bagikan kepada orang lain (Mat 19:21), bahkan mengalami aniaya hingga mati (Yoh 15:20). Tetapi itu semua bisa tidak berarti jika tidak dilakukan tanpa kasih, yaitu pikiran dan perasaan Allah. Dalam Mat 19:21 misalnya, Tuhan Yesus menyuruh orang kaya itu untuk menjual seluruh harta miliknya, membagi-bagikan kepada orang miskin, lalu mengikut Dia. Tentu Tuhan Yesus tidak menyuruh kita untuk menjual semua harta milik kita untuk mengikut diri-Nya, melainkan konteks ucapan Tuhan Yesus adalah kepada orang muda yang kaya itu, karena ia bertanya mengenai cara untuk dapat sempurna di hadapan Allah. Tuhan tidak meminta Zakheus untuk menjual segala miliknya, misalnya. Jadi jika kita kemudian menjual seluruh harta kita dan membagi-bagikan seluruhnya kepada orang lain, mungkin di mata manusia itu adalah tindakan yang baik, tetapi jika kita tidak disuruh oleh Allah (tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah atau tidak sesuai dengan kehendak Allah), maka itu berarti kita melakukannya tanpa kasih.

Terkait dengan pembahasan kita mengenai karunia nabi, tentu kita harus melihat pula dalam ayat 2 yang menyebutkan bahwa: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat … tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (ay. 2). Dalam bahasa aslinya, kata “karunia untuk bernubuat” menggunakan kata prophēteian (προφητείαν) dari akar kata prophéteia (προφητεία). Kata ini merupakan kata benda yang dapat dikatakan sebagai suatu nubuat/nubuatan atau suara nabi, yang seringkali dikaitkan mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Kata ini terkait dengan kata prophḗtēs (nabi) seperti yang telah kita bahas dalam renungan hari sebelumnya. Kata prophéteia ini juga termasuk salah satu dari karunia-karunia yang disebutkan dalam pasal 12 (1 Kor 12:8).

Jadi apakah salah jika kita menyampaikan nubuatan kepada orang lain? Bukankah nubuatan itu adalah karunia dari Roh Kudus? Tentu untuk menjawab ini, kita harus benar-benar mempersoalkan nubuatan yang kita terima tersebut. Minimal ada beberapa hal yang harus kita perkarakan sebelum kita menyampaikan nubuatan tersebut. Pertama, apakah benar nubuatan tersebut berasal dari Tuhan? Kedua, kepada siapakah nubuatan tersebut ditujukan? Ketiga, bagaimana cara menyampaikan nubuatan tersebut kepada pihak yang dituju (misalnya: metode untuk menyampaikan, tempat, dan waktu penyampaian)? Keempat, apakah yang kita sampaikan benar-benar nubuatan yang murni dari Tuhan dan tidak kita tambah-tambahi atau kita kurang-kurangi? Dan dalam segala hal, kita harus menggumulkan supaya apa yang kita lakukan terkait nubuatan tersebut benar-benar sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Jika kita membedah kata asli dari nubuatan yaitu prophéteia, sebenarnya kata tersebut juga memiliki makna sebagai “discourse emanating from divine inspiration and declaring the purposes of God, whether by reproving and admonishing the wicked, or comforting the afflicted, or revealing things hidden; especially by foretelling future events” (Suatu perkataan yang berasal dari ilham ilahi dan menyatakan suatu tujuan yang Allah kehendaki. Hal ini dapat berupa suatu teguran/peringatan dan nasehat kepada mereka yang jahat, suatu perkataan yang menghibur bagi mereka yang menderita, atau menyingkapkan hal-hal yang masih tersembunyi, khususnya terkait dengan menyatakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang). Jadi nubuatan tidak selalu berkaitan dengan apa yang terjadi secara umum di masa yang akan datang. Jika mau jujur, ketika Tuhan memberikan kepada kita ilham ilahi untuk menyampaikan suatu perkataan kepada orang tertentu (tidak harus berkaitan dengan peristiwa global di masa yang akan datang), itu pun dapat dianggap sebagai nubuatan atau suara kenabian. Bukankah nabi adalah mereka yang menyampaikan perkataan Tuhan kepada orang lain yang menjadi bagiannya?

Mari kita melihat penggunaan kata nabi di dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama pun, kita akan menemukan bahwa Abraham adalah seorang nabi (Kej 20:7), Musa adalah seorang nabi (Ul 34:10), Harun juga adalah seorang nabi (Kel 7:1), Miryam adalah seorang nabiah (Kel 15:20), dan masih banyak lagi contoh lainnya (selain mereka yang umum disebut nabi seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan lain sebagainya). Jika ukuran seorang nabi hanya dilihat mengenai nubuatan di masa yang akan datang, bagaimana mungkin Abraham disebut sebagai seorang nabi (sejajar dengan nabi-nabi lain)? Apalagi konteks penyebutan kata “nabi” kepada Abraham adalah ketika ia menumpang di tanah Gerar. Pemberian sebutan “nabi” itu juga dinyatakan oleh Allah kepada Abimelekh, Raja Gerar, dalam sebuah mimpi. Jelas bahwa ukuran nabi tidaklah harus berpatokan pada nubuatan mengenai peristiwa di masa yang akan datang (meskipun tentu itu juga menjadi salah satu parameter yang harus dipertimbangkan). Jika kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, maka akan ada kalanya Tuhan menaruh “perkataan-Nya” dalam diri kita untuk kita sampaikan kepada orang lain. Dan menurut saya, jika kita taat terhadap kehendak Bapa, maka di situ kita sudah menyampaikan “nubuatan” atau “suara kenabian” kita.

Tentu kita harus melihat, bahwa seorang nabi pada umumnya ditunjuk secara spesifik untuk menyampaikan suara Allah kepada orang-orang tertentu atau bangsa-bangsa tertentu. Musa, Harun, dan Miryam tentu menjadi nabi bagi bangsa Israel. Sebagian nabi-nabi lain seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, ditetapkan Allah sebagai nabi bagi bangsa Israel dan Yehuda, dan juga kepada bangsa-bangsa lain. Yunus (meskipun tidak ditulis secara eksplisit sebagai seorang nabi), sesungguhnya adalah nabi yang manyampaikan suara Allah kepada kota Niniwe. Sebagian nabi lain mungkin hanya muncul sesekali untuk menyampaikan suara Allah secara spesifik kepada orang-orang tertentu (misal: nabi Natan yang menyampaikan suara Allah kepada Raja Daud). Dalam hal ini, seorang nabi akan dipandang taat ketika ia melakukan dengan tepat apa yang Allah perintahkan kepada orang tersebut (orang yang dituju, isi berita yang disampaikan, cara menyampaikan, waktu penyampaian, dan lain sebagainya). Dalam hal ini barulah seorang nabi dapat dikatakan memiliki kasih, jika semuanya itu dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Tidak heran bahwa, suatu saat nanti akan ada orang-orang yang merasa sudah bernubuat atau menyampaikan suara kenabian dalam hidup mereka, tetapi pada akhirnya ditolak oleh Tuhan karena mereka sebenarnya tidak melakukan kehendak Allah (Mat 7:21-23).



Bacaan Alkitab: 1 Korintus 13:1-3
13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.