Kamis, 08 Juli 2021

Makna Keterhilangan (10): Keputusan dalam Keputusasaan

 Kamis, 8 Juli 2021

Bacaan Alkitab: Lukas 15:15

Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. (Luk 15:13)


Makna Keterhilangan (10): Keputusan dalam Keputusasaan

 

Saya yakin bahwa para pembaca renungan ini pasti pernah mengalami suatu keadaan dimana kita berada dalam posisi yang terjepit. Kita mengalami suatu kesesakan, bahkan suatu keputusasaan dimana kita seakan-akan tidak dapat menemukan solusi atau jalan keluar dari masalah kita tersebut. Dalam kondisi yang sudah putus asa tersebut, sering kali kita melakukan keputusan tanpa berpikir panjang. Tentu hal itu dapat dimaklumi karena kondisi yang sudah menekan dan mendesak kita. Dalam kondisi yang kritis tersebut, kita sering lupa bertanya kepada Tuhan dan seringkali langsung mengambil keputusan yang ternyata kurang tepat.

Demikian pula dengan yang dialami oleh si anak bungsu ini. Dengan kondisi yang sudah terjepit, tidak ada uang dan harta lagi, teman-teman yang meninggalkan dirinya, serta posisi yang jauh dari siapa-siapa, maka mau tidak mau ia harus melakukan sesuatu untuk menyambung hidup. Si anak bungsu ini telah menghambur-hamburkan uang hasil menjual hak miliknya secara sembrono, dan dengan demikian ia sedang menabur apa yang telah dituainya.

Dalam kondisi seperti ini, ia mengambil keputusan untuk pergi. Sayangnya, bukannya ia pergi kembali ke rumah ayahnya, ia justru pergi ke orang lain yaitu seorang yang disebut sebagai majikan di negeri itu (ay. 15a). Saya juga tidak mengerti mengapa ia tidak pergi kepada teman-temannya yang selama ini pernah ia traktir. Namun sangat mungkin bahwa si bungsu ini belum mengerti banyak tentang realitas kehidupan. Ia berpikir bahwa dengan sering mentraktir orang lain, maka orang tersebut akan menjadi sahabat dekat. Memang uang dan harta dapat dikatakan sebagai “mamon yang tidak jujur” (Luk 16:11). Justru “mamon yang tidak jujur” itu dapat menyingkapkan kejujuran, yaitu melihat manakah orang yang mau menjadi sahabat hanya karena uang, dan manakah mereka yang menjadi sahabat dengan tulus.

Sayangnya, keputusan yang diambil dalam keputusasaan oleh si anak bungsu ini kurang tepat. Oleh sang majikan (yang mungkin adalah orang non-Yahudi), ia justru disuruh ke ladang untuk menjaga babi miliknya (ay. 15b). Dalam konteks perumpamaan Yesus yang ditujukan kepada ahli Taurat dan orang Farisi (yang notabene adalah orang Yahudi), maka hampir pasti keluarga dalam perumpamaan ini (sang ayah, anak sulung, dan anak bungsu) adalah orang Yahudi. Sehingga, ketika ia disuruh untuk menjaga babi, sebenarnya ia sedang mempertaruhkan iman Yahudinya dimana dalam agama Yahudi itu babi dianggap haram.

Hal ini menunjukkan bahwa keputusan si anak bungsu yang diambil dalam kondisi kesesakan dan keputusasaan justru menjadi kurang tepat. Ia yang dahulu adalah anak dari keluarga Yahudi yang terhormat (dan mungkin juga dari keluarga berada), kini harus menjadi seorang penjaga babi. Mungkin karena kondisi yang sangat mendesak, ia tidak sempat memikirkan alternatif lainnya sehingga ia buru-buru mengambil keputusan. Memang keputusan ini adalah keputusan yang kurang tepat. Akan tetapi, pada akhirnya kita akan melihat bagaimana Allah dapat membuat keputusan ini menjadi suatu titik tolak bagi si anak bungsu untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Dalam hal ini saya tidak menganjurkan kita untuk mengambil keputusan dengan tergesa-gesa atau tanpa berpikir panjang. Dalam kondisi kesesakan sekalipun, kita harus belajar untuk mencari wajah Tuhan dan kehendak-Nya dalam hidup kita. Bahkan sebenarnya, dalam segala kondisi (baik dalam kesesakan maupun dalam kenyamanan), kita harus senantiasa mencari kehendak-Nya untuk kita lakukan. Memang betul bahwa Allah sanggup mengubah kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang baik. Akan tetapi, sebisa mungkin, janganlah kita membawa diri kita ke dalam masalah dengan salah mengambil keputusan. Alangkah baiknya jika dalam setiap hal, dari hal kecil sampai hal besar, kita dapat sungguh-sungguh mempertimbangkan perasaan Allah setiap kita mengambil keputusan. Sehingga kita dapat belajar menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan-Nya.

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:15

15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

Senin, 05 Juli 2021

Makna Keterhilangan (9): Pertaruhan yang Keliru

Senin, 5 Juli 2021

Bacaan Alkitab: Lukas 15:14

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. (Luk 15:13)


Makna Keterhilangan (9): Pertaruhan yang Keliru

 

Salah satu keuntungan ketika kita hidup dalam keluarga atau persaudaraan adalah adanya orang-orang yang dapat men-support kita ketika kita dalam keadaan yang kurang mengenakkan. Tentu, hal ini tidak selamanya berlaku karena bisa jadi kita juga bertemu dengan orang-orang yang “mengganggu” kita dalam keluarga atau persaudaraan tersebut. Oleh karena itu, kita pun sebaiknya juga tetap selektif dalam menjalin persaudaraan atau persahabatan dengan orang lain. Tetapi terlepas dari itu semua, keluarga dapat dikatakan sebagai tempat yang aman bagi seseorang, khususnya ketika ada masalah yang datang.

Hal ini tidak berarti bahwa seseorang tidak harus keluar dari “zona nyaman” mereka dan harus tetap tinggal di zona nyaman. Ada masa-masa tertentu dimana kita harus berani keluar dari zona nyaman kita. Ada kalanya kita harus rela berjauhan dari orang-orang yang selama ini mendukung kita supaya kita dapat mandiri. Hal ini bisa saja terjadi ketika kita harus sekolah/kuliah/bekerja di luar kota/luar negeri. Atau seseorang menerima panggilan untuk pergi ke suatu tempat bagi pekerjaan Tuhan.

Sebenarnya, keputusan yang dilakukan oleh anak bungsu ini dapat kita pahami dari sudut pandang manusia pada umumnya. Mungkin saja ia ingin mencoba untuk mandiri dan lepas dari bayang-bayang ayahnya. Akan tetapi, jika mau jujur, ada 1 kesalahan utama si anak bungsu yang menyebabkan proses “keluar dari zona nyamannya” ini menjadi bumerang bagi dirinya. Hal itu adalah ketika ia meminta semua hak yang menjadi miliknya dan pergi dari rumah ayahnya, sebagaimana telah kita bahas di dalam renungan-renungan sebelumnya.

Kita dapat membayangkan, jika si anak bungsu ini menyampaikan keinginannya untuk mencoba mandiri kepada ayahnya, pastilah sang ayah akan merestuinya. Ia akan memberikan sejumlah modal kepada anak bungsu ini untuk mencoba usahanya di tempat lain. Tetapi karena anak bungsu ini meminta apa yang menjadi haknya, kemudian menjual semuanya itu, dan pergi ke tempat yang jauh serta berfoya-foya, maka hal itu menjadi masalah ketika ada hal yang tidak terduga menimpa dirinya.

Alkitab menuliskan kalimat “Setelah dihabiskannya semuanya…”, yang dapat diartikan bahwa segala hak miliknya yang telah ia jual dan dijadikan uang/emas, telah ia habiskan semuanya (ay. 14a). Ya, terlepas dari keinginan untuk mandiri, ternyata membawa uang dalam jumlah banyak dan pergi ke tempat yang baru dapat membuat seseorang terlena dan menjadi boros. Akibatnya semua hartanya habis hanya untuk hal-hal yang tidak produktif. Harta yang sangat banyak itu dapat habis dan karena ia tidak memiliki cadangan lagi (semua hak miliknya sudah diminta dari ayahnya), maka ia menjadi melarat dan jatuh miskin. Ditambah lagi dengan bencana kelapran di negeri itu (yang tidak pernah ia duga sebelumnya), yang mungkin membuat harga-harga naik dan semakin mempercepat habisnya harta milik si anak bungsu (ay. 14b).

Kita dapat simpukan bahwa apa yang dilakukan oleh si anak bungsu ini tidak tepat. Ia memang ingin mandiri dan keluar dari zona nyamannya. Tetapi ia telah mempertaruhkan semua harta miliknya di tempat yang salah. Ia telah mengambil suatu pertaruhan yang salah, yang pada akhirnya nyaris membuat dirinya hilang untuk selama-lamanya. Hartanya sudah habis tanpa ada cadangan. Secara de facto (dan juga de jure), sebenarnya anak bungsu ini sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Jika ia kembali ke ayahnya pun, ia sudah tidak berhak atas apapun, belum ditambah lagi rasa malu yang mungkin ia miliki. Hal ini adalah akibat dari suatu pertaruhan yang keliru, terlebih anak bungsu ini melakukan pertaruhan seluruh miliknya di tempat yang salah, yang kemudian mencelakakan dirinya

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:14

15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.

Kamis, 01 Juli 2021

Makna Keterhilangan (8): Pergi untuk Terhilang

 Kamis, 1 Juli 2021

Bacaan Alkitab: Lukas 15:13

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. (Luk 15:13)


Makna Keterhilangan (8): Pergi untuk Terhilang

 

Dalam ayat sebelumnya kita telah melihat bagaimana pada akhirnya sang ayah membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka (yaitu sang ayah, anak sulung, dan anak bungsu). Kita tidak tahu berapa besarnya persentase pembagian di antara mereka, apakah semua mendapat 1/3, ataukah anak sulung mendapat jatah 2 kali lipat dibanding adiknya, lalu apakah sang ayah juga masih mendapat bagian atau tidak. Namun menurut pendapat saya pribadi, adalah mungkin jika kekayaan sang ayah dibagi 3, dimana anak sulung mendapatkan jatah 2 bagian namun belum diberikan kepada anak sulung itu (pada umumnya anak sulung menerima bagian 2 kali lipat dibandingkan dengan anak yang lain), sementara anak bungsu menerima 1 bagian yang kemudian langsung dengan sah menjadi miliknya.

Sangatlah mungkin bahwa kekayaan yang diberikan itu tidak hanya dalam bentuk uang, melainkan mungkin juga dalam bentuk tanah, rumah, ladang, ternak, dan barang-barang lainnya. Alkitab menuliskan bahwa anak bungsu itu menjual seluruh bagian yang menjadi hak miliknya tersebut beberapa hari setelah ia menerimanya (ay. 13a). Mungkin ia membutuhkan waktu untuk menjual segala harta yang diterima sebagai “warisan” atau haknya itu untuk menjadi uang atau emas yang dapat dibawanya. Alkitab juga tidak mengatakan kepada siapa ia menjual harta miliknya tersebut. Bisa jadi ia menjualnya kepada orang lain, tetapi ada kemungkinan juga ia menjualnya kepada keluarga besarnya, atau bahkan kepada sang ayah sendiri (mungkin ia membeli tanah, rumah, ternak, dan lain sebagainya dan menukarnya dengan uang emas). Ingat bahwa setelah pembagian tersebut, harta sang ayah (yang nantinya akan menjadi bagian anak sulung) masih minimal sebesar 2/3 dari total harta awalnya.

Jika memang benar bahwa sang ayah yang membeli kembali (buyback) harta yang menjadi milik anak bungsu, maka kita dapat merasakan kesedihan yang dialami oleh sang ayah pada waktu itu. Tanah, rumah, ladang, dan lainnya adalah milik sang ayah, yang tentu saja sang ayah ingin agar harta atau “usaha” tersebut dapat diteruskan oleh kedua anaknya. Akan tetapi si anak bungsu sudah tidak peduli lagi dengan harta tersebut dan memilih untuk menjualnya untuk mendapatkan uang. Ia tidak lagi menganggap segala kenangan yang mungkin ia pernah rasakan dengan harta tersebut (misal: rumah dimana ia lahir, ladang dimana ia pernah bermain, dsb.) adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia sudah tidak pernah membayangkan perasaan ayahnya.

Alkitab menuliskan bahwa setelah si anak bungsu menjual seluruh bagiannya itu (menjadi uang atau emas yang mudah dibawa), ia kemudian pergi meninggalkan ayahnya dan pergi ke negeri yang jauh (ay. 13b). Di sinilah sebenarnya letak kehilangan yang pertama. Ia sudah tidak peduli dengan perasaan ayahnya, kakaknya, dan dengan segala kenangan indah yang ia pernah rasakan. Ia memilih untuk pergi dari rumah dan keluarga yang selama ini telah membesarkannya. Saya tidak tahu apakah kira-kira si anak bungsu ini berpamitan dengan ayah, kakak, keluarganya yang lain, serta para hamba yang selama ini melayaninya. Kalaupun iya, sangat mungkin si anak bungsu tidak meneteskan air mata sama sekali sedangkan sang ayah pasti sedih melepas kepergian anak bungsunya tersebut. Namun nasi telah menjadi bubur. Keputusan si anak bungsu sudah bulat bahwa ia akan meninggalkan ayahnya dan pergi ke negeri yang jauh.

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, ketika mereka memegang uang dalam jumlah banyak, pasti ada kecenderungan untuk boros. Kita di Indonesia mengenal hal ini dengan istilah “Orang Kaya Baru atau OKB”. Salah satu ciri dari OKB adalah membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan, pergi ke tempat-tempat baru untuk berkenalan dengan orang lain, menunjukkan kekayaannya dengan cara mentraktir atau membelikan barang kepada orang lain. Hal ini juga yang dilakukan oleh si anak bungsu itu dengan cara memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Kita dapat melihat bahwa si anak bungsu ini adalah anak yang sangat egois. Yang ada di pikirannya adalah “hartaku”, “milikku”, “kepunyaanku”, dan lain sebagainya. Ia tidak pernah memikirkan orang lain, bahkan perasaan ayahnya sendiri. Orang seperti anak bungsu ini pastilah juga tidak pernah memikirkan perasaan Allah. Ia akan hidup suka-suka sendiri, hanya memikirkan kepentingannya sendiri, bahkan cenderung membangun “kerajaannya” sendiri di bumi ini. Ia akan bertindak sebagai “raja” bagi hidupnya sendiri, apa yang ia suka inginkan, itulah yang ia lakukan. Inilah tanda awal bahwa seseorang sedang terhilang di dalam dunia, yaitu ketika ia hanya fokus kepada apa yang menjadi keinginan dan kesenangannya sendiri, dan pergi dari tempat yang seharusnya ia tinggal. Ketika seseorang pergi dari tempat yang seharusnya atau yang sebenarnya, di situlah ia akan mulai menjadi orang yang terhilang.

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:13

15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Rabu, 30 Juni 2021

Makna Keterhilangan (7): Gambaran Dua Orang Anak

 Rabu, 30 Juni 2021

Bacaan Alkitab: Lukas 15:11-12

Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.(Luk 15:11-12)


Makna Keterhilangan (7): Gambaran Dua Orang Anak

 

Sekarang kita akan mulai masuk ke dalam perumpamaan ketiga mengenai keterhilangan, yaitu perumpamaan mengenai anak yang hilang. Perumpamaan ini adalah perumpamaan yang terpanjang dari seri perumpamaan mengenai keterhilangan. Total ada 12 ayat dalam perumpamaan mengenai anak yang hilang, dibandingkan dengan 4 ayat dalam perumpamaan tentang domba yang hilang, dan 3 ayat dalam perumpamaan tentang dirham yang hilang.

Namun inti dari perumpamaan ini tetaplah sama. Ada sesuatu yang dahulu tidak hilang, kemudian hilang, dan kemudian ditemukan kembali. Barulah ada sukacita karena apa yang hilang telah ditemukan, yang menunjukkan adanya pertobatan yang benar. Namun perumpamaan ketiga ini lebih memiliki makna yang dalam karena menggunakan sosok anak (manusia), dan bukannya hewan (seperti domba yang hilang), atau bahkan benda mati (seperti dirham yang hilang).

Jika dibandingkan dengan hewan, tentu manusia punya keunggulan. Di antaranya manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran akan jati dirinya. Dalam pemahaman mengenai manusia, Sebagian orang berpendapat bahwa manusia terdiri dari 3 unsur: tubuh, jiwa, dan roh, sebagaimana ditulis dengan jelas dalam Alkitab bahwa Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam manusia pertama yaitu Adam (Kej 2:7). Selain itu ada pula ayat Alkitab yang berkata bahwa Allah adalah Bapa segala roh (Ibr 12:9), sehingga ketika manusia meninggal maka rohnya akan kembali kepada Allah yang mengaruniakannya (Pkh 12:7).

Penggunaan gambaran mengenai 2 orang anak di sini menunjukkan kutub ekstrem akan 2 jenis manusia pada umumnya, yang digambarkan sebagai anak sulung dan anak bungsu. Tentu akan ada manusia yang berada di antara kedua kutub tersebut. Akan tetapi penggunaan kedua contoh ekstrem tersebut menunjukkan bahwa manusia dengan kehendak bebas yang dimilikinya, sangat mungkin terjebak dan terjerat pada keinginan yang membinasakan. Perlahan kita akan melihat bagaimana anak bungsu tersebut menjadi anak yang terhilang, dan bagaimana anak sulung yang kelihatannya santun, tidak nakal, tetapi juga ternyata pada akhirnya juga akan terhilang.

Fakta mengenai kehendak bebas ini terlihat di ayat 12, dimana anak bungsu tersebut datang kepada ayahnya dan meminta bagian harta milik kita yang menjadi haknya. Perhatikan bahwa pada awalnya disebutkan harta milik “kita”, yang artiinya adalah milik bersama antara sang ayah, anak sulung, dan anak bungsu. Akan tetapi, keegoisan anak bungsu membuat ia berani meminta apa yang menjadi jatahnya bahkan sebelum sang ayah meninggal. Ia tidak memikirkan tentang “kita”, tetapi semua diukur dari apa yang menjadi miliknya sendiri.

Jika sang ayah adalah gambaran Allah Bapa yang sangat menyayangi anak-anak-Nya, maka tindakan anak bungsu yang meminta jatah miliknya dapat dipandang sebagai suatu “pemberontakan”. Bayangkan jika kekayaan bersama tersebut dapat kita pandang sebagai suatu “perusahaan bersama/keluarga”, maka ketika anak bungsu itu meminta haknya, sebenarnya ia hendak memberontak terhadap ayahnya, dan ingin mendirikan perusahaan atau kerajaannya sendiri, lepas dari milik ayahnya. Ini adalah suatu keputusan yang sangat fatal, yang akan kita lihat dalam renungan-renungan kita selanjutnya.

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:11-12

15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Rabu, 07 April 2021

Makna Keterhilangan (6): Sukacita Surgawi

 Rabu, 7 April 2021

Bacaan Alkitab: Lukas 15:9-10

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:10)


Makna Keterhilangan (6): Sukacita Surgawi

 

Sebenarnya kedua ayat yang menjadi ayat tema renungan kita hari ini merupakan pengulangan dari ayat-ayat di dalam perumpamaan sebelumnya, yaitu mengenai domba yang hilang (bandingkan dengan Luk 15:5-7). Di dalam dua perumpamaan tersebut, kita melihat adanya kesamaan, yaitu ada frasa “Dan kalau ia telah menemukannya” (ay. 5 & 9a), “memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya” (ay. 6a & 9b), “mengajak orang lain bersukacita bersama-sama dengan dirinya karena domba/dirhamnya yang hilang telah ditemukan” (ay. 6b & 9c), serta adanya “sukacita di surga karena satu orang yang bertobat” (ay. 7 & 10).

Tentu kita telah belajar dari renungan-renungan sebelumnya bahwa tetap ada kemungkinan domba atau dirham yang hilang itu tidak dapat ditemukan (jika melewati batas-batas tertentu). Namun, jika ternyata dirhamnya dapat ditemukan, maka tentu ada sukacita yang besar, dan sukacita itu akan membuat orang tersebut mampu membagikannya kepada orang lain, bahkan mengajak orang lain masuk ke dalam sukacitanya tersebut. Tentu di sini harus ditekankan bahwa yang paling bersukacita adalah Kerajaan Surga.

Seringkali orang Kristen, khususnya para pelayan gereja atau pendeta, sudah merasa bersukacita ketika ada orang baru yang datang ke gereja. Di sejumlah gereja, mereka yang baru pertama kali datang ke dalam gereja akan diminta untuk berdiri, kemudian orang disebelahnya akan menyalami, lalu ada majelis yang mendatangi dan memberikan semacam brosur dan bahkan formulir untuk menjadi anggota gereja tersebut. Dikesankan (dan selama ini juga diajarkan), bahwa jemaat dan bahkan surga bersukacita ketika ada orang baru datang ke gereja. Apalagi jika yang datang adalah seorang public figure misalnya aktor atau aktris terkenal. Namun apakah benar demikian?

Sukacita yang benar adalah ketika kita bersukacita dan kita tahu bahwa Allah Bapa di surga (beserta Tuhan Yesus dan para malaikat di surga) juga bersukacita. Oleh karena itu, pertobatan adalah suatu hal yang sangat misteri. Orang yang sungguh-sungguh bertobat justru biasanya sangat jarang berkoar-koar di tempat umum bahwa ia telah bertobat. Orang yang sungguh-sungguh bertobat biasanya akan semakin rendah hati, semakin menyadari bahwa pertobatannya itu masih merupakan suatu “jalan panjang" yang harus ditapaki selangkah demi selangkah. Pertobatan memang dimulai dari suatu titik, yaitu titik dimana kita menyatakan pertobatan kita di hadapan Allah. Tetapi titik itu barulah awal dari suatu garis panjang yang harus kita jalani selama kita hidup di dunia ini.

Orang yang sungguh-sungguh bertobat akan terus menerus menanyakan dalam dirinya, “Apakah aku sudah berkenan di hadapan Allah? Apakah Allah bersukacita melihat hidupku setiap hari, dari hal besar sampai hal terkecil sekalipun?”. Itulah sebabnya, gereja harus menekankan sukacita yang benar, yaitu sukacita yang sampai membuat malaikat di surga bersukacita pula (ay. 10). Gereja juga harus menekankan pertobatan yang terus menerus, dan tidak berhenti pada suatu titik saja. Memang benar, pertobatan pastilah diawali dari pertobatan atas dosa-dosa yang kelihatan. Misalnya, yang dahulu mencuri sekarang tidak mencuri lagi, yang dahulu berzinah sekarang tidak berzinah lagi, yang dahulu korupsi sekarang tidak korupsi lagi. Akan tetapi, mengingat pertobatan adalah suatu proses yang berjalan terus menerus sampai akhir hidup seseorang, mestinya gereja juga mulai mengajarkan pertobatan di level yang lebih tinggi lagi, yaitu pertobatan yang membuat Allah dan para malaikat di surga bersukacita. Dan sukacita Allah ini tidak mungkin bisa dicapai jika seseorang tidak serius untuk berubah dan bertobat di dalam pimpinan Roh Kudus.

Roh Kudus akan menuntun kita hingga kita dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (Rm 12:2). Tentu tidak salah jika orang Kristen menjadi orang yang baik, dalam hal ini baik secara norma umum, baik dalam menjalankan “hukum”, dan lain sebagainya. Tetapi jika kita membidik level yang lebih tinggi lagi, yaitu berkenan kepada Allah bahkan hingga level sempurna, maka hidup kita hanya akan memiliki satu target, yaitu bagaimana membuat Allah bersukacita karena kita, dan tidak sampai berdukacita karena hidup kita. Kita akan memaksa untuk hidup sekudus-kudusnya dan sesuci-sucinya. Kita akan mulai peka terhadap hal-hal yang dapat mendukakan hati Allah, bahkan sekalipun hal itu tidak melanggar hukum (misal: tayangan apa yang kita tonton, lagu apa yang kita dengar, dan lain sebagainya). Di tingkat inilah maka pertobatan kita akan menghasilkan sukacita yang benar, yaitu sukacita surgawi yang kekal.

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:9-10

15:9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.

15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

Senin, 19 Oktober 2020

Makna Keterhilangan (5): Milik Kepunyaan-Nya

 Senin, 19 Oktober 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:8

"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?" (Luk 15:8)


Makna Keterhilangan (5): Milik Kepunyaan-Nya

 

Dalam kisah perumpamaan yang pertama yaitu tentang domba yang hilang, memang disebutkan bahwa domba-domba dalam kisah tersebut merupakan milik seseorang, yang dalam hal ini Tuhan Yesus menunjuk salah satu di antara mereka sebagai orang-orang yang memiliki domba tersebut (Luk 15:4). Dalam perumpamaan kedua ini, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan mengenai sepuluh dirham yang dimiliki oleh seorang perempuan (ay. 8a). Jika dalam perumpamaan pertama, Tuhan Yesus menggunakan gambaran seorang laki-laki (pemilik domba), maka dalam perumpamaan yang kedua, Tuhan Yesus menggunakan gambaran seorang perempuan yang mempunyai sepuluh dirham.

Jelas bahwa uang atau keeping dirham bukanlah benda hidup seperti domba yang dapat memiliki kehendak bebas untuk menjauh dari sang gembala atau pemilik domba. Uang dirham adalah benda mati, yang sebenarnya tidak bisa keluar atas kemauannya sendiri dari dompet atau tempat penyimpanan uang. Jadi, mengapa Tuhan Yesus menggunakan dirham ini dalam perumpamaannya? Bukankah orang bisa tersesat/terhilang karena kemauannya sendiri? Bagaimana dengan uang dirham?

Jika kita mau jujur membaca dan memahami perumpamaan kedua ini, kita akan melihat bahwa perumpamaan yang kedua ini adalah semacam pengulangan dari perumpamaan yang pertama. Meskipun demikian, tentu ada pelajaran rohani penting yang dapat kita petik dari perumpamaan kedua ini. Dalam perumpamaan yang kedua, memang tetap ada penekanan mengenai keterhilangan, yaitu satu uang dirham yang hilang dari 10 yang dimiliki oleh perempuan tersebut (ay. 8b). Dalam hal ini, terdapat penekanan bahwa sesuatu yang hilang adalah sesuatu yang tidak berada di tempat yang semestinya. Uang yang hilang adalah uang yang tidak ada di dompet atau tempat penyimpanan. Dan uang yang hilang itu bukanlah uang milik orang lain, tetapi memang benar-benar milik si perempuan tersebut.

Uang dirham adalah uang Yunani yang nilainya hampir setara dengan uang dinar Romawi. Jika demikian, nilainya kira-kira sama dengan upah seorang pekerja selama satu hari untuk menghidupi keluarganya. Sangat mungkin bahwa inilah “tabungan” si perempuan untuk menghidupi rumah tangganya selama 10 hari ke depan. Jika uang dirham itu hilang, maka dapat dikatakan bahwa perempuan tersebut akan menemukan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan selama satu hari. Karena “tabungan” perempuan tersebut tidaklah terlalu besar (hanya untuk 10 hari), maka satu dirham itu pun berharga.

Perempuan itu mengenal berapa uang yang ada di dompetnya, sama seperti Allah yang mengenal milik-milik kepunyaan-Nya (2 Tim 2:19). Jadi ia tahu ketika dirham itu terjatuh dan hilang karena sudah tidak ada di tempat yang seharusnya. Perempuan tersebut kemudian menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya. Bagi sebagian kita, kita akan berpikir, “Halah, demi satu dirham saja sampai harus menyalakan pelita dan menyapu rumah untuk mencari. Lebay deh”. Bagi kita yang kaya, upah sehari (katakanlah Rp100.000) mungkin tidak terlalu berharga. Tetapi bagi mereka yang hidup pas-pasan, mendapatkan upah harian dari hari ke hari, maka upah sehari itu sangat berharga. Tentulah perempuan itu akan berusaha sekeras mungkin mencari uang dirham yang kecil itu, sampai ketemu. Ia akan mencari hingga ke sudut rumah hingga menemukan uang dirham yang hilang tersebut.

Sama seperti uang dirham itu sangat berharga bagi si perempuan dalam perumpamaan yang kedua, demikianlah kita juga sangat berharga di pemandangan Allah (Yes 43:4). Meskipun ayat di dalam kitab Yesaya tersebut konteksnya adalah umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama yaitu bangsa Israel, namun dalam konteks lebih luas kita pun tetap berharga karena kita memiliki roh yang kekal, yang berasal dari Allah, Bapa segala roh (Ibr 12:9). Itulah sebabnya Allah mengingini roh yang ada di dalam diri kita dengan cemburu (Yak 4:5). Kata cemburu di sini menunjuk kerinduan Bapa agar setiap manusia (dengan roh yang kekal di setiap diri manusia) dapat diselamatkan, sehingga roh manusia tersebut dapat kembali kepada Bapa. Akan tetapi, tentu hal ini tidak berarti bahwa Allah lalu “menurunkan standar” dan semua orang lalu diselamatkan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi respon manusia terhadap anugerah keselamatan itu tidaklah gratis. Manusia perlu meresponi anugerah keselamatan yang ditawarkan Allah dengan tindakan iman yang proporsional

 

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:8

15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?

Rabu, 14 Oktober 2020

Makna Keterhilangan (4): Pertobatan yang Benar

 

Rabu, 14 Oktober 2020

Bacaan Alkitab: Lukas 15:7

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan. (Luk 15:7)


Makna Keterhilangan (4): Pertobatan yang Benar

 

Ayat bacaan kita pada renungan hari ini cukup sering dikutip oleh para pendeta, para penginjil maupun oleh para pengajar di lingkungan orang Kristen. Ayat ini sering dibaca dan dimaknai di luar konteks aslinya. Sebagai contoh, ketika ada peristiwa kebaktian kebangunan rohani (KKR) dimana orang yang datang kemudian mengangkat tangan atau maju ke depan (altar call), maka hal itu sudah dianggap sebagai suatu pertobatan. Tidak jarang pendeta/pengkhotbah/pembicara di KKR tersebut langsung berkata dan menyimpulkan bahwa surga bersukacita karena sudah ada satu (atau lebih) orang yang bertobat di KKR tersebut.

Nyatanya, sering kali seepulang dari acara KKR itu, tidak jelas apa yang dimaksud dengan pertobatan. Hidup orang-orang itu sepertinya sama saja sebelum dan sesudah datang ke KKR. Mereka bisa jadi masih tetap hidup dalam dosa, dan tidak menunjukkan buah-buah pertobatan yang nyata. Jika demikian, apakah benar surga bersukacita ketika orang maju ke depan dalam altar call di ibadah gereja ataupun KKR? Padahal orang yang maju belum tentu benar-benar bertobat tetapi mungkin hanya ikut-ikutan saja?

Kenyataannya, jika kita membaca konteks ayat ini di dalam perikopnya, maka kita akan mengetahui bahwa sang pemilik domba telah menemukan dombanya yang hilang, dan telah menggendongnya pulang, serta telah tiba di rumahnya (ay. 5-6). Ia tidak bersukacita ketika dombanya baru ditemukan. Ia baru bersukacita ketika dombanya telah dipastikan tiba di rumah dengan selamat. Hal ini yang seringkali luput dari penekanan para pembicara atau pengkhotbah di atas mimbar. Seakan-akan dikesankan bahwa ketika orang maju pada saat KKR, maka orang itu sudah selamat dan surga bersukacita.

Sebenarnya, jika kita mau jujur, surga akan bersukacita ketika seseorang telah menyelesaikan pertobatannya dan telah setia sampai akhir. Pertobatan tidak boleh dipandang sudah selesai ketika seseorang  maju di KKR atau mengangkat tangan pada saat ibadah. Hal itu barulah suatu “titik awal” dari pertobatan yang sesungguhnya. Pertobatan yang benar dimulai sejak seseorang mengenal Tuhan Yesus Kristus dan percaya kepada-Nya, dan kemudian diwujudkan dalam kehidupan keseharian setiap harinya.

Ucapan Tuhan Yesus itu sangatlah benar, bahwa akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, daripada 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (ay. 7). Ayat ini tidak boleh dipandang bahwa kita adalah 99 orang tersebut yang tidak perlu bertobat, dan justru memandang bahwa orang lain adalah satu orang yang perlu bertobat. Seharusnya, sudut pandang kita diubah. Kita harus senantiasa berpikir bahwa kita adalah satu orang yang perlu bertobat itu. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak melihat kehidupan orang lain dan sibuk mengurusi apakah orang itu sudah bertobat atau belum, melainkan akan lebih mempersoalkan dirinya sendiri, jangan-jangan saya adalah orang berdosa yang perlu bertobat.

Jadi jelas bahwa pertobatan yang benar itu bukanlah sesuatu yang mudah dan sederhana. Pertobatan adalah sesuatu yang kompleks, membutuhkan waktu panjang (yaitu seumur hidup), dan harus terlihat buah-buah pertobatan yang nyata (Mat 3:8, Luk 3:8). Pertobatan tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengikuti KKR dan maju ke depan. Pertobatan tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengangkat tangan. Mengangkat tangan dan maju ke depan bisa jadi adalah awal pertobatan, atau suatu pembaharuan komitmen untuk terus bertobat. Tetapi, tanpa niat dan kerja keras dari orang tersebut, maka pertobatan itu tidak akan terwujud.

Katakanlah ada seseorang yang terikat dosa seksual (berselingkuh, kecanduan film porno, dan lain sebagainya). Ia bisa saja datang ke KKR setiap hari, mengangkat tangan dan maju ke depan. Tetapi jika ia tidak menindaklanjuti komitmennya itu (misalnya: menghindari film-film yang merangsang birahi, atau menjauhi tempat-tempat pelacuran, atau memutuskan kontak dengan orang yang selama ini menjadi selingkuhannya), maka bisa saja pertobatannya tidak akan optimal. Bertobat itu adalah kembali dari keterhilangan, dan berusaha untuk tidak terhilang lagi. Ibarat domba yang terhilang/tersesat dan ditemukan gembala, tetapi jika domba itu masih nakal dan ingin melarikan diri, maka sekalipun ia sudah ditemukan gembala, bisa jadi ia akan melepaskan diri dari genggaman gembala itu. Ia bisa saja terhilang lagi. Oleh karena itu, bertobat berarti menyadari keterhilangan dan ketersesatan kita, serta berusaha untuk tidak terhilang lagi. Memang semua itu tetap dalam anugerah Tuhan, tetapi karena manusia memiliki kehendak bebas, maka seseorang dapat memilih untuk tetap hidup dalam keterhilangan, ataukah mau bertobat dengan benar. Pertobatan yang benar akan dapat dilihat dari buah kehidupannya (yaitu buah pertobatan), serta pertobatan yang terus menerus hingga seseorang menutup mata.

 

Bacaan Alkitab: Lukas 15:7

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."