Selasa, 27 September 2011

Mengandalkan Tuhan dalam Segala Hal

Minggu, 25 September 2011

Bacaan Alkitab: Mazmur 127:1-5

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mzm 127:1)

Mengandalkan Tuhan dalam Segala Hal

Coba kita hitung, berapa kali kita bangun tidur dan langsung melakukan aktivitas kita tanpa berdoa kepada Tuhan, meminta Tuhan menyertai kita dalam segala aktivitas kita? Berapa kali sebelum mengendarai mobil atau sepeda motor kita berdoa memohon Tuhan melindungi kita agar sampai di tempat tujuan dengan selamat? Berapa kali sebelum bekerja kita berdoa meminta Tuhan memberkati apa yang kita lakukan di kantor? Berapa kali sebelum mengambil bagian dalam pelayanan, kita bersikap biasa saja, karena kita sudah sering melakukan pelayanan itu?

Seringkali kita melupakan Tuhan dalam melakukan segala aktivitas kita, bahkan mungkin dalam pelayanan kita karena kita sudah sering menjadi worship leader, kita memilih lagu pun tanpa berdoa terlebih dahulu, melainkan hanya “asal pilih”. Mungkin kita menjadi pengkhotbah yang karena sudah sangat sering berkhotbah, akhirnya berkhotbah tanpa persiapan yang cukup. Bukankah itu adalah hal yang salah? Apa artinya pekerjaan kita dan pelayanan kita jika ternyata kita tidak mengikutsertakan Tuhan di dalamnya?

Firman Tuhan yang kita baca mengatakan bahwa segala usaha kita dalam membangun rumah maupun menjaga kota adalah sia-sia jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri (ay. 1). Hal ini berarti Tuhan harus menjadi dasar dalam segala aktivitas kita, bahkan dalam kegiatan kita yang terkecil sekalipun. Motivasi yang benar adalah untuk memuliakan nama Tuhan, karena segala kemuliaan adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia (Rm 11:36). Selain itu kita juga perlu melibatkan Tuhan dalam segala aktivitas kita. Jangan kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri, melainkan juga harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

Ayat 2 berkata bahwa tanpa Tuhan yang beserta dengan kita, segala pekerjaan kita yang kita lakukan sampai pagi pun menjadi sia-sia. Adalah sia-sia kita bekerja susah payah membanting tulang jika kita melakukannya tanpa Tuhan. Dengan mengandalkan Tuhan, di situ Tuhan akan memberikan berkatNya kepada kita bahkan di saat kita sedang tidur. Bukan kita yang bersusah payah mencari berkat, tetapi ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, Tuhan sendiri yang akan menyuruh berkat untuk datang mencari kita.

Apakah selama ini kita merasa bahwa apa yang kita lakukan sering kali terasa sia-sia dan hampa? Cobalah periksa diri kita masing-masing, apakah selama ini kita telah menempatkan Tuhan dalam posisi yang seharusnya? Apakah ketika kita memulai hari kita, kita sudah mengawali dengan menyerahkan hari yang akan kita jalani? Apakah kita senantiasa minta perlindungan dari Tuhan dalam menjalani hari-hari kita? Apakah kita telah meminta Tuhan untuk memberikan berkat kepada kita? Apakah kita telah menjadi orang yang dicintai Tuhan sehingga berkat-berkat Tuhan terus mengalir kepada kita bahkan ketika kita sedang tidur? Mari kita instropeksi diri kita masing-masing, dan andalkanlah Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita.

Bacaan Alkitab: Mazmur 127:1-5

127:1 Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

127:2 Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

127:3 Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.

127:4 Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

127:5 Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

Membayar Pajak kepada Pemerintah

Sabtu, 24 September 2011

Bacaan Alkitab: Roma 13:1-7

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” (Rm 13:7)

Membayar Pajak kepada Pemerintah

Saat saya masih bekerja dulu di sebuah perusahaan swasta, terjadi perubahan sistem penggajian di perusahaan tersebut, di mana dulu pajak ditanggung oleh perusahaan, sehingga gaji yang diterima pegawai adalah gaji yang sudah netto, namun kemudian diubah menjadi gaji bruto, sehingga pegawai pun harus membayar pajak penghasilan mereka masing-masing. Hal ini terkait dengan kebijakan perpajakan di Indonesia yang mewajibkan semua orang memiliki nomor pokok wajib pajak pribadi sebagai bukti bahwa mereka adalah warga negara yang taat membayar pajak. Hasilnya, terjadi pro dan kontra. Banyak yang merasa dirugikan dengan kebijakan tersebut, karena ternyata penghasilan yang diterima oleh para pegawai terpotong pajak penghasilan. Terlebih dengan adanya kasus pegawai pajak yang menggelapkan pajak sehingga sempat banyak pegawai yang ingin kembali ke sistem penggajian lama, di mana mereka tidak harus membayar pajak.

Ketika mengingat hal tersebut, saya terpikir apa pandangan Alkitab mengenai pajak. Apakah kita masih harus membayar pajak walau kita tahu mungkin pajak kita mungkin digunakan untuk hal-hal yang tidak seharusnya?

Dalam bacaan kita saat ini, Paulus mengatakan bahwa orang percaya sebagai bagian dari warga negara yang baik, harus tunduk kepada pemerintah. Paulus menggunakan kata “harus” yang menekankan bahwa apapun pemerintah yang sedang berkuasa, di situ Tuhan tetap campur tangan dan pemerintah merupakan kepanjangan tangan Tuhan terhadap umatNya (ay. 1). Orang percaya harus tetap tunduk kepada pemerintah, walaupun tentunya orang percaya juga harus lebih tunduk kepada Tuhan. Andai pemerintah memerintahkan anda untuk menyangkal Tuhan, tentunya anda harus lebih memilih tunduk kepada Tuhan daripada tunduk kepada pemerintah, seperti yang dialami oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (Dan 3:1-30).

Ketundukan orang percaya kepada pemerintah tentunya terkait dengan melaksanakan kewajiban kita sebagai warga negara. Kita juga harus tunduk terhadap peraturan-peraturan yang ada, termasuk membayar pajak kepada negara. Dalam ayat 7 dikatakan bahwa kita wajib membayar apa yang wajib kita bayar. Entah itu berupa pajak, cukai, dan lain sebagainya. Bahkan Tuhan Yesus ketika ditanya orang Farisi apakah boleh membayar pajak kepada kaisar, mengatakan “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Terlebih lagi, ketika Yesus dan Petrus ingin masuk ke Bait Allah dan harus membayar bea masuk, mereka juga membayar bea masuk, bahkan dengan cara yang ajaib yaitu melalui uang yang ada dalam mulut ikan (Mat 17:24-27)

Hal ini berarti kita sebagai orang percaya dan warga negara yang baik, tetap harus membayar pajak. Mungkin kita tahu bahwa masih ada penyelewengan-penyelewengan dalam pengelolaan pajak di negara ini, tetapi marilah kita lakukan bagian kita yaitu membayar apa yang harus kita bayar. Sungguh aneh jika orang Kristen mau membayar perpuluhan di gereja, tetapi tidak mau membayar pajak. Mari kita tetap taat membayar pajak, dan juga tetap mengawasi penggunaanya agar pajak yang kita bayar benar-benar digunakan untuk pembangunan negara ini.

Bacaan Alkitab: Roma 13:1-7

13:1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

13:2 Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

13:3 Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.

13:4 Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

13:5 Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.

13:6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.

13:7 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Kelimpahan dalam Musim Kekeringan

Jumat, 23 September 2011

Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 17:7-16

“Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.” (1 Raj 17:16)

Kelimpahan dalam Musim Kekeringan

Ketika beberapa hari yang lalu saya bepergian ke daerah Solo dengan menggunakan kereta api, saya melihat pemandangan yang cukup menyedihkan. Selama ini saya terbiasa melihat hamparan sawah hijau sepanjang rel kereta api yang saya lalui. Tetapi pada perjalanan saya kali ini, suasana seperti itu sangat jarang saya temui. Hampir semua sawah dalam keadaan kering, bahkan saluran-saluran yang irigasi yang biasanya digunakan untuk mengairi sawah-sawah pun kering, hingga saya dapat melihat dasar dari saluran-saluran irigasi tersebut.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada salah satu peristiwa kekeringan yang dicatat dalam Alkitab. Dalam ayat-ayat sebelumnya, dikatakan bahwa Tuhan mendatangkan hukuman terhadap bangsa Israel dengan cara tidak memberikan hujan sebagai hukuman atas dosa-dosa bangsa Israel, khususnya Ahab sebagai raja (1 Raj 16:29 – 17:1). Bahkan jika kita baca ayat-ayat selanjutnya, dikatakan bahwa hujan baru turun setelah tahun ketiga. Bayangkan, tiga tahun tanpa hujan, betapa keringnya kondisi tanah di Israel saat itu. Bahkan Elia yang sebelumnya bersembunyi di tepi sungai Kerit pun akhirnya harus pindah karena sungai tersebut juga telah menjadi kering (ay. 7).

Perintah Tuhan kepada Elia cukup unik, Tuhan tidak menyuruh Elia untuk pergi ke rumah orang kaya agar Elia bisa hidup berkecukupan, tetapi justru menggunakan seorang janda untuk memberi Elia makan (ay. 8). Sering kali dalam hidup kita, seakan-akan Tuhan meminta kita melakukan hal yang tak masuk akal. Seperti contoh yang dialami Elia, bagaimana Elia benar-benar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bahkan ketika Tuhan mengatakan bahwa ia akan diberi makan oleh seorang janda. Bayangkan dalam masa kekeringan tiga tahun tanpa hujan, bagaimana seorang janda dapat memberi makan Elia?

Tetapi di sinilah ketaatan Elia diuji. Ia tetap taat terhadap perintah Tuhan. Ketika Elia melihat janda yang dimaksud tersebut, Elia langsung meminta air dan roti kepada janda itu (ay. 10-11). Elia saat itu tidak tahu bahwa tepung dan minyak yang dimiliki oleh janda tersebut mungkin adalah makanan terakhir yang akan dimakan oleh janda tersebut (ay. 12). Ketika janda tersebut mengutarakan kondisinya kepada Elia, Elia menyatakan bahwa jika janda itu mengikuti apa yang Elia perintahkan (yang juga merupakan perintah Tuhan), niscaya tepung dan minyak yang dimiliki janda tersebut tidak akan pernah habis (ay. 13-14). Untungnya janda tersebut taat kepada suara Tuhan, dan akhirnya mujizat terjadi. Dalam masa kekeringan yang hebat sekalipun, janda tersebut selalu memiliki tepung dan minyak dalam buli-bulinya (ay. 15-16)

Dalam hal ini, mujizat tersebut terjadi hanya karena Elia dan janda tersebut mau taat kepada suara Tuhan. Elia mau taat untuk pergi ke Sarfat dan meminta makan kepada janda tersebut. Di sisi yang lain, janda tersebut juga mau mendengarkan apa yang dikatakan Elia sebagai nabi Tuhan, dan mau taat melakukannya. Bayangkan jika Elia tidak mau taat kepada Tuhan dan tidak meminta makan kepada janda tersebut, mungkin saja Tuhan masih dapat menggunakan cara lain dan memberi makan Elia, tetapi janda dan anaknya tersebut akan mati kelaparan. Begitu juga jika janda tersebut tidak mau memberi makan kepada Elia, pasti akhirnya akan sama, yaitu mati. Tapi syukurlah karena dalam kisah yang kita baca hari ini, kedua pihak mau taat kepada suara Tuhan, dan akhirnya mujizat pun terjadi.

Kisah kali ini menunjukkan bahwa dalam masa-masa kekeringan atau krisis yang kita alami, mujizat terjadi jika dan hanya jika kita mau tunduk dan taat melakukan perintah-perintah Tuhan. Mungkin apa yang Tuhan perintahkan sepertinya tidak masuk akal bagi kita. Mungkin di kala kondisi keuangan kita sedang defisit, Tuhan justru menantang anda untuk memberi lebih banyak bagi pelayanan. Apa yang anda lakukan? Ketika anda tidak melakukan apa yang Tuhan ingin anda lakukan, mungkin anda tidak akan mengalami mujizat keuangan dalam hidup anda. Tetapi ketika anda berani memberi yang terbaik bahkan dalam kondisi krisis anda, niscaya mujizat pasti akan terjadi, sama seperti janda yang mau memberikan miliknya yang paling berharga kepada hambaNya Elia dan kemudian mengalami berkat Tuhan yang melimpah bahkan dalam masa kekeringan yang paling parah sekalipun. Ingatlah Firman Tuhan dalam Matius 6:33 yang berbunyi “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Maukah kita melakukannya?

Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 17:7-16

17:7 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.

17:8 Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:

17:9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."

17:10 Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum."

17:11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."

17:12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."

17:13 Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

17:14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."

17:15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

17:16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Rabu, 21 September 2011

Perbedaan antara Petrus dan Yudas Iskariot

Kamis, 22 September 2011

Bacaan Alkitab: Matius 27:3-10

“Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia… Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.” (Mat 27:3,5)

Perbedaan antara Petrus dan Yudas Iskariot

Dalam keempat Injil diceritakan bahwa ada dua murid Yesus yang telah melakukan “kesalahan” yang fatal kepada Tuhan. Yang pertama adalah Petrus yang telah menyangkal Yesus dan yang kedua adalah Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus. Dalam kitab Matius bahkan kedua “kesalahan” ini ditempatkan berdampingan, kisah Petrus ditulis dalam Matius 26:69-75 sementara kisah Yudas ditulis dalam Matius 27:1-10. Tapi uniknya kedua murid ini memiliki cara yang berbeda ketika mereka menyadari kesalahannya.

Yudas, setelah “menjual” Yesus seharga 30 keping perak kepada imam kepala dan tua-tua, akhirnya menyesal. Penyesalan itu karena ternyata ia sadar bahwa ia telah menyerahkan Yesus yang akhirnya dijatuhi hukuman mati. Yudas kemudian menghadap imam kepala dan bermaksud menyerahkan uang 30 keping perak tersebut kepada imam kepala dan tua-tua, dengan harapan hal itu akan memperbaiki keadaan. Namun ternyata imam kepala dan tua-tua tidak peduli dengan uang itu. Bagi mereka yang penting adalah Yesus akhirnya dihukum mati. Merasa telah melakukan kesalahan fatal, Yudas akhirnya tidak berpikir panjang dan melemparkan uang tersebut lalu pergi dan menggantung diri.

Petrus, setelah sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak akan menyangkal Yesus (Mat 26:35), ternyata begitu ditanya orang lain bisa takut juga. Bahkan ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok. Dalam kitab Lukas diceritakan bahwa saat ayam berkokok, Tuhan Yesus berpaling dan memandang Petrus. Bisa kita bayangkan perasaan Petrus? Petrus yang bebrapa jam yang lalu berkoar-koar bahwa ia takkan pernah meninggalkan Yesus, ternyata sudah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Padahal peristiwa penyangkalan tersebut belum sampai 1 x 24 jam sejak perkataan Petrus sebelumnya. Saya yakin Petrus pasti malu dan sedih. Dikatakan bahwa ia sampai menangis tersedu-sedu dan pergi ke luar. Saya yakin pada saat ia melihat tatapan Tuhan ketika ayam berkokok, pasti Petrus merasa lebih baik mati saja daripada menanggung rasa malu dan rasa bersalahnya.

Tapi di situlah perbedaan Yudas dengan Petrus. Ketika Yudas menghadapi masalah, ia lebih memilih jalan pintas yaitu mati. Sementara Petrus ia masih memilih untuk tetap hidup dan menjalani konsekuensi perbuatannya, walaupun nanti ia akan ditanya Tuhan “Apakah engkau mengasihi aku?” hingga tiga kali (Yoh 21:15-19) sebagai konsekuensi penyangkalannya yang juga adalah sebanyak tiga kali. Keputusan Petrus untuk tidak memilih jalan seperti Yudas akhirnya menjadikan Petrus sebagai batu karang jemaat mula-mula, bahkan sekali berkhotbah, hingga 3000 orang menjadi percaya (Kis 2:41). Petrus bahkan menulis dua kitab yang dimuat dalam Alkitab yaitu kitab 1 dan 2 Petrus. Walaupun akhirnya Petrus mati juga, tapi ia tidak mati dengan cara yang memalukan seperti Yudas. Tradisi mengatakan bahwa Petrus mati dengan disalib secara terbalik karena Petrus merasa tidak layak untuk disalib seperti Tuhan Yesus.

Apakah anda pernah melakukan “kesalahan” dalam hidup anda? Barangkali anda merasa bahwa “kesalahan” tersebut adalah “kesalahan” yang tak termaafkan. Barangkali hal itu merupakan kelalaian anda, atau bahkan dosa yang pernah anda lakukan yang berdampak besar dalam kehidupan anda, bahkan berdampak bagi orang-orang di sekitar anda. Ingatlah renungan hari ini, tidak ada suatu “kesalahan” pun yang tidak dapat diampuni. Alkitab menyatakan bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9). Jadilah seperti Petrus yang mampu bangkit dari “kesalahan”nya, dan bahkan setelah itu dipakai Tuhan luar biasa dalam membangun kerajaanNya. Apapun “kesalahan” kita, minta ampun kepada Tuhan, dan marilah kita sadar kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi (1 Kor 15:34a).

Bacaan Alkitab: Matius 27:3-10

27:3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,

27:4 dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"

27:5 Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.

27:6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: "Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah."

27:7 Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.

27:8 Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.

27:9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,

27:10 dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."

Melupakan yang Ada di Belakang

Rabu, 21 September 2011

Bacaan Alkitab: Filipi 3:1-14

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” (Flp 3:13)

Melupakan yang Ada di Belakang

Pernahkan anda mengalami putus cinta? Bagaimana rasanya? Berapa lama yang dibutuhkan untuk dapat melupakan orang itu? Kalau anda tanyakan hal itu kepada saya, pasti saya jawab “Saya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakannya”. Ketika saya belum menikah dulu, saya pernah membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk akhirnya melupakan seseorang yang dulu pernah saya cintai. Tapi saat ini, setelah saya menikah, ternyata sangat mudah untuk melupakan segala kenangan tentang sang mantan. Saya berpikir, “Apa sebabnya?” dan ternyata jawabannya adalah karena setelah menikah, saya sadar bahwa saya memiliki seorang isteri yang begitu mengasihi saya, dan saya sangat mengasihinya sehingga apa yang sudah berlalu itu bagi saya sudah tidak berarti pada saat ini.

Demikian juga dengan kehidupan orang percaya. Beberapa, bahkan kebanyakan di antara kita pernah memiliki masa lalu yang mungkin kurang baik. Kadang-kadang peristiwa di masa lalu itu terus menerus menghantui kita dan membuat kita tidak bisa melihat masa depan yang baik yang Tuhan telah siapkan bagi kita. Masa lalu kita seakan-akan menghambat kita untuk maju. Seringkali kita berkata, “Ah Tuhan, aku sudah punya masa lalu yang kurang baik, apakah Tuhan masih mau aku untuk maju?”

Sadarlah sahabat, bahwa dalam ayat ini Paulus mengatakan agar kita melupakan apa yang ada di belakang kita. Segala yang sudah terjadi sudah tidak ada artinya, selama kita paham bahwa apa yang di hadapan kita jauh lebih besar dari apapun juga, yaitu keselamatan kekal yang Tuhan telah berikan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Paulus mengatakan hal ini karena ia telah mengalaminya sendiri. Paulus (dahulu Saulus) adalah seorang pemuka Farisi, dan sebagaimana orang Farisi lainnya, ia sangat memahami dan melaksanakan hukum Taurat (ay. 4-6). Paulus bahkan hadir dalam peristiwa pelemparan batu kepada Stefanus (Kis 7:58) dan Paulus pun berniat untuk menangkap orang percaya di Damsyik dengan kekuasan penuh dari Imam Besar yang merupakan pemimpin rohani terbesar bangsa Yahudi saat itu (Kis 9:1-2). Dengan kata lain kehidupan Paulus dahulu sudah sangat bagus, karena ia bahkan bisa mendapatkan surat kuasa dari Imam Besar. Mungkin pada saat itu Saulus merupakan the rising star dalam organisasi orang Farisi yang bisa memiliki akses bahkan ke pemimpin tertinggi orang Farisi yaitu Imam Besar.

Tapi segala posisi tinggi, kekuasaan yang besar, status yang baik, dan lain sebagainya bagi Paulus itu sudah tidak ada artinya lagi, karena ia telah menemukan apa yang dianggapnya lebih mulia dari segalanya, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Paulus bahkan menganggap segala sesuatunya adalah sampah, karena ia telah menemukan Yesus Kristus (ay. 7-8). Paulus melupakan semua hal yang pernah ia lewati dalam kehidupannya, dan mengarahkan pandangannya kepada hal-hal surgawi (ay. 13-14). Sama seperti perumpamaan tentang seseorang yang menemukan mutiara yang sangat berharga, lalu orang itu menjualk segala miliknya untuk mendapatkan mutiara tersebut (Mat 13:44-46).

Saya tidak tahu bagaimana masa lalu anda, apakah anda memiliki masa lalu yang penuh dengan dosa, ataukah selama ini anda merasa menjalani hidup yang sia-sia, ataukah masa lalu anda terasa begitu berat untuk dilupakan… Apapun masa lalu anda, Tuhan ingin agar kita tidak terpaku pada masa lalu, tetapi harus fokus melihat apa yang menjadi tujuan hidup kita. Selama tujuan dan fokus hidup kita adalah Tuhan, pasti segala sesuatu di dunia ini menjadi tidak berarti. Seburuk apapun masa lalu anda, saya yakin anda pasti bisa melupakannya. Jangan seperti isteri Lot yang selalu mengingat masa lalunya sehingga ia menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam (Kej 19:26), tetapi jadilah Paulus yang dengan tekun berlari untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (ay. 14)

Bacaan Alkitab: Filipi 3:1-14

3:1a Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan.

3:1b Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.

3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,

3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.