Sabtu, 22 Oktober 2011

Tidak Sampai Tergeletak

Sabtu, 22 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Mazmur 37:23-24

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.”


Tidak Sampai Tergeletak


Dahulu, ketika saya masih berjiwa muda, saya sering mengendarai motor dengan kecepatan yang cukup tinggi. Maklumlah, saat itu saya masih baru-barunya memiliki motor, sehingga masih tergoda untuk mencoba mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi. Kemudian pada suatu pagi, sekitar pukul 05.00 WIB ketika saya akan pergi ke kantor, saya mengendarai motor dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ketika akan melewati sebuah flyover yang agak menikung, tiba-tiba motor saya selip. Sekilas saya berpikir bahwa saya akan jatuh, dan benar saja beberapa saat kemudian saya terpental dari motor. Saat itu saya terguling-guling di aspal, dan sekilas saya sempat melihat bahwa motor saya pun terseret sekitar 20 meter. Karena kecepatan yang tinggi, sempat terjadi percikan api akibat gesekan setang kemudi motor dengan aspal.

Entah mengapa saat itu saya bisa langsung bangun, dan kebetulan ada beberapa anak muda sedang berada di dekat tempat kejadian menolong saya. Mereka berkata, “Wah, Bapak orang keempat yang jatuh pagi ini. Soalnya ada solar tumpah jadi jalannya licin. Karena masih gelap jadi mungkin solar tersebut tidak terlihat.” Ketika saya melihat ke depan, ternyata persis sebelum saya ada orang yang juga baru saja terjatuh dari motor di lokasi yang sama, dan saya melihat bahwa orang tersebut luka-luka cukup parah, mungkin karena gesekan dengan aspal. Saya pun kemudian mengecek kondisi motor saya, hasilnya karet setang sebelah kanan mengelupas, dan bodi sebelah kanan penuh baret dari depan sampai belakang. Ketika saya melihat diri saya sendiri, saya terheran-heran, celana saya robek sampai ke lutut, jaket saya pun sobek-sobek, jam tangan saya sampai terpental dan kacanya hancur, padahal itu adalah jam tangan mahal yang katanya anti gores, namun pada diri saya tidak ada luka sama sekali, bahkan saya tidak merasa sakit atau ngilu. Memang saya menggunakan helm yang cukup bagus dan sepatu safety, tapi saya justru tidak menggunakan sarung tangan, jaket yang tebal dan juga celana yang tebal. Logikanya minimal saya akan mengalami luka-luka yang parah, minimal di ujung tangan atau di badan saya (mengingat celana saya saja robek hingga ke lutut).

Sejak saat itu saya baru mengerti apa artinya jatuh tapi tidak tergeletak. Tuhan masih mengasihi saya sehingga Ia melindungi saya dengan tanganNya untuk menjaga agar saya tidak terluka, walau secara logika seharusnya itu tidak mungkin. Dan saya pun percaya, bahwa perlindungan Tuhan atas orang-orang pilihanNya masih berlaku hingga saat ini. Ketika saya membaca kutipan Kitab Suci hari ini, saya tahu bahwa Tuhan akan selalu melindungi orang-orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana cara kita hidup berkenan kepada Tuhan?

Berkenan artinya apa yang kita lakukan sesuai dengan harapan orang tersebut, atau dengan kata lain kita melakukan apa yang menjadi keinginan atau kesukaan orang tersebut. Jika kita ingin berkenan kepada manusia, misal kepada bos kita, maka kita akan melakukan apa saja yang bos kita perintahkan, atau kita memberikan bos kita sesuatu yang sangat ia sukai. Berkenan kepada manusia memang baik, tetapi seharusnya kita harus hidup lebih berkenan kepada Allah daripada kepada manusia (Gal 1:10). Berkenan kepada Allah berarti kita melakukan kehendak Tuhan. Sama seperti Yesus yang mau merendahkan diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis yang menandakan bahwa Yesus siap menjalankan tugasNya di dunia ini untuk mengabarkan kabar keselamatan, pada saat itulah Allah Bapa berfirman “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Janji Tuhan terhadap orang-orang yang berkenan kepada Tuhan, bahwa Tuhan akan menetapkan langkah-langkah orang tersebut, serta tidak akan membiarkan orang itu tergeletak (ay. 23-24). Memang Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa orang tersebut tidak akan pernah jatuh, tetapi janji Tuhan adalah bahwa walaupun orang tersebut jatuh, ia tidak akan jatuh tertimpa tangga, tergeletak dan tidak dapat bangkit kembali, tetapi Tuhan akan menopang tangannya, sehingga ia akan mampu bangkit kembali dari kejatuhannya. Memang kita tidak berharap bahwa kita akan jatuh, tetapi kadang-kadang peristiwa ketika kita mampu bangkit dari kejatuhan kita, justru bisa menjadi berkat bagi kita dan juga bagi orang lain.

Saya tidak tahu bagaimana pengalaman hidup Anda masing-masing. Mungkin ada di antara kita yang sudah pernah mengalami mujizat, atau sudah pernah mengalami perlindungan Tuhan yang menjaga kita sehingga kita tidak sampai tergeletak. Firman Tuhan berkata bahwa kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu (Mzm 34:20). Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan permasalahan, tetapi selama Tuhan menopang kita dengan tanganNya, bahkan memegang kita dengan tangan kananNya, maka kita tidak perlu takut karena Tuhan akan meneguhkan kita dan menolong kita, bahkan akan membawa kita kepada kemenangan (Yes 41:10).


Bacaan Alkitab: Mazmur 37:23-24

37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Just in Time

Jumat, 21 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Kejadian 22:9-14

“Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.” (Kej 22:14)


Just in Time


Just in Time awalnya merupakan filosofi orang-orang Jepang dalam mengembangkan proses produksi di perusahaan-perusahaan Jepang. Secara singkat, inti dari filosofi Just in Time adalah bagaimana pada bahan baku bisa tersedia tepat waktu dan tepat jumlah saat akan diproduksi, demikian juga konsumen juga bisa mendapatkan produk yang diinginkan dengan tepat waktu dan tepat jumlah, sesuai permintaan konsumen. Sekilas, hal ini terlihat sebagai sebuah filosofi yang sederhana, tetapi ketika saya bekerja di bagian Production Control pada sebuah pabrik produsen sepeda motor, hal ini tidaklah mudah. Saya bekerja di sebuah pabrik dengan kecepatan 20 detik per motor, dan dengan komponen mencapai lebih dari seribu buah per motor, yang artinya jika ada satu saja komponen yang terlambat datang, maka hal tersebut dapat mengakibatkan produksi berhenti. Dan andaikan produksi tersebut berhenti selama lima menit saja, maka kerugian yang ditimbulkan adalah 15 unit motor. Kalikan saja jumlah motor tersebut dengan harga jualnya, maka akan muncul sebuah angka yang fantastis.

Demikian juga dalam kehidupan Abraham, ketika ia diminta Tuhan untuk mempersembahkan Ishak di atas gunung. Abraham tetap taat walau hal itu sangat berat baginya. Bagaimana tidak, Abraham diminta untuk mempersembahkan Ishak yang adalah anak perjanjian yang telah dijanjikan Tuhan, sedangkan umur Abraham sudah tua dan isterinya Sara sudah mati haid, dan hampir tidak mungkin Abraham akan mendapatkan anak yang baru untuk menggantikan Ishak.

Saya pikir, mungkin dalam hatinya Abraham sudah berharap bahwa Tuhan akan membatalkan niatnya. Barangkali harapan Abraham itu sudah ada sejak ia berangkat dari rumah menuju gunung Moria, tapi ternyata Tuhan tidak membatalkannya. Kemudian Abraham mulai mendaki gunung, menyiapkan mezbah, bahkan sampai dengan mengikat Ishak, tapi Tuhan masih belum membatalkannya. Akhirnya Abraham pun pasrah, dan kemudian mengangkat pisaunya untuk menyembelih Ishak.

Tapi Tuhan sungguh Allah yang ajaib. Pada saat yang tepat ketika pisau tersebut belum menyentuh Ishak, pada saat itulah tiba-tiba Malaikat Tuhan berseru kepada Abraham untuk mencegahnya membunuh Ishak. Saya pikir waktu Tuhan sangat tepat. Jika terlalu awal, mungkin kita tidak akan dapat membaca bagaimana Abraham memiliki iman yang sangat besar kepada Tuhan. Jika sedikit saja terlambat, maka mungkin Ishak akan mati. Tuhan selalu bertindak pada waktuNya, dan waktuNya itu selalu tepat, tidak lebih cepat, dan juga tidak lebih lambat.

Jika kita baca kisah selanjutnya, setelah itu akhirnya Tuhan pun “memberikan” seekor domba jantan kepada Abraham di semak belukar di belakang Abraham. Saya berpikir, pastilah domba tersebut “diijinkan” Tuhan untuk tersangkut tepat pada waktunya, yaitu sebagai pengganti Ishak yang rencananya akan dikorbankan. Kalau saja domba tersebut tersangkut lebih awal, tentunya saat itu Abraham sudah melihatnya dan mungkin saja Abraham akan menawar kepada Tuhan untuk mempersembahkan domba tersebut kepada Tuhan. Jika domba tersebut tidak tersangkut, berarti tidak akan ada ganti Ishak sebagai korban kepada Tuhan, padahal mezbah sudah didirikan yang artinya korban harus tetap dilakukan.

Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada kita pada waktuNya, karena waktuNya sungguh adalah yang terbaik bagi kita. Dalam Alkitab, kita sering membaca bagaimana Tuhan selalu tidak pernah terlambat melakukan sesuatu bagi orang-orang yang dikasihiNya. Seperti ketika bangsa Israel terjepit antara Laut Merah dengan pasukan Mesir, Tuhan bertindak tepat pada waktunya untuk membelah Laut Merah tersebut. Ketika orang-orang pada perjamuan kawin di Kana kehabisan anggur, Yesus datang tepat waktu untuk membuat mujizat mengubah air menjadi anggur. Tuhan kita adalah Tuhan yang Just in Time. PertolonganNya selalu tepat waktu, dan tidak pernah terlambat ataupun terlalu cepat. Mungkin saat ini kita sedang menanti jawaban Tuhan atas doa atau permohonan kita. Ketika Tuhan belum menjawab, mungkin itu memang belum waktunya Tuhan, maka marilah kita tetap tekun berdoa, agar kita pun mampu mengerti kapan waktu yang tepat untuk Tuhan menjawab doa-doa kita. Yakinlah bahwa Tuhan pasti akan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya.

Bacaan Alkitab: Kejadian 22:9-14

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."

22:12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."

22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Bepegang pada Firman Tuhan dalam Kesesakan

Kamis, 20 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Mazmur 119:145-150

“Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu.” (Mzm 119:147)


Berpegang pada Firman Tuhan dalam Kesesakan


Pernahkah kita mengalami suatu masalah atau pergumulan yang begitu berat, sampai-sampai kita benar-benar habis akal dan tidak tahu harus berbuat apa? Pernahkah kita mengalami saat-saat sulit hingga kita berseru-seru kepada Tuhan untuk minta jalan keluar dari Tuhan karena kita benar-benar tidak tahu bagaimana dapat keluar dari persoalan tersebut? Pernahkah kita merasa begitu sedih hingga kita menangis seharian bahkan semalaman, dan bahkan air mata kita rasanya sudah habis tak tersisa?

Mungkin seperti itulah gambaran tentang apa yang dialami pemazmur dalam bacaan Kitab Suci kita kali ini. Ketika pemazmur sedang mengalami masa-masa sulit, yaitu berada di kondisi di mana banyak orang fasik yang mencoba untuk menjatuhkannya bahkan mengejarnya dengan maksud jahat (ay. 150), pemazmur berseru kepada Tuhan. Ia meminta jawaban dari Tuhan. Ia tidak meminta jawaban dari orang lain tetapi langsung kepada Tuhan yang berkuasa atas hidupnya untuk menyelamatkannya dari masalah tersebut (ay. 145-146).

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam bacaan kita kali ini, pemazmur tidak hanya berseru kepada Tuhan begitu saja, tetapi ia bahkan berseru kepada Tuhan pada waktu yang tak lazim, yaitu pada pagi-pagi buta (ay. 147). Pagi-pagi buta di sini menggambarkan suatu kondisi di mana matahari belum terbit, yang artinya pemazmur benar-benar habis-habisan minta tolong kepada Tuhan, walau mungkin ia harus mengorbankan waktu tidurnya. Bahkan sebelum pagi-pagi buta, pemazmur pun mau untuk bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-janji Tuhan. Inilah harga yang dibayar oleh pemazmur untuk dapat mendapatkan jawaban dan jalan keluar dari Tuhan.

Dalam menghadapi masalahnya, pemazmur tahu bahwa ia harus berseru kepada Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan adalah Tuhan yang sanggup menjawabnya dan menyelamatkannya. Darimana ia tahu? Tentunya ia tahu karena ia suka membaca Firman Tuhan. Dikatakan bahwa pemazmur selalu berpegang pada ketetapan dan peringatan Tuhan (ay. 145-146), serta suka merenungkan janji Tuhan (ay. 148). Pemazmur bahkan berani berperkara dengan Tuhan untuk menyelamatkannya (ay. 149), karena ia tahu hukum Tuhan, bahwa siapa yang berseru kepada Tuhan akan diselamatkan oleh Tuhan (Mzm 91:15). Pemazmur berbeda dengan orang fasik, karena pemazmur selalu berpegang pada Firman Tuhan, sementara orang fasik justru semakin menjauh dari Firman Tuhan (ay. 150).

Bagaimana dengan kita? Berapa banyak dari kita saat menghadapi masalah justru menyerah begitu saja? Ketika ada masalah, kita bukannya semakin rajin membaca Firman Tuhan dan semakin rajin berseru kepada Tuhan, melainkan malah semakin malas ke Gereja, semakin malas membaca Firman Tuhan, bahkan semakin jauh dari Tuhan. Jika seperti itu, apa bedanya kita dengan orang fasik? Justru dalam masalah seberat apapun, kita harus semakin rela membayar harga. Jika perlu, kita harus lebih banyak berdoa, lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca Firman Tuhan, serta lebih banyak bersaat teduh. Jika perlu, kita harus meneladani apa yang pemazmur lakukan yaitu bangun pagi-pagi untuk berdoa dan minta tolong kepada Tuhan, bahkan bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan Firman Tuhan. Tuhan pasti akan menolong orang-orang yang berseru kepadanya siang dan malam (Luk 18:7).

Bacaan Alkitab: Mazmur 119:145-150

119:145 Aku berseru dengan segenap hati; jawablah aku, ya TUHAN! Ketetapan-ketetapan-Mu hendak kupegang.

119:146 Aku berseru kepada-Mu; selamatkanlah aku! Aku hendak berpegang pada peringatan-peringatan-Mu.

119:147 Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu.

119:148 Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.

119:149 Dengarlah suaraku sesuai dengan kasih setia-Mu; ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan hukum-Mu.

119:150 Mendekat orang-orang yang mengejar aku dengan maksud jahat, mereka menjauh dari Taurat-Mu.

Selasa, 18 Oktober 2011

Garam dan Terang Dunia

Rabu, 19 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat 5:13)


Garam dan Terang Dunia


Ketika membaca perikop ini, saya teringat kejadian sekitar sembilan tahun yang lalu, di mana saya membagikan ayat ini dalam suatu kelompok persekutuan mahasiswa. Waktu itu seingat saya, intinya saya menyampaikan bahwa menjadi orang Kristen, tidak cukup hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja, tetapi harus dapat memberikan pengaruh baik kepada lingkungan, karena kita adalah garam dan terang bagi dunia ini. Dan ketika saya kembali merenungkan ayat ini pada saat saya menulis renungan ini, ternyata ayat ini masih relevan dalam kondisi saat ini.

Saat saya menulis ini, baru saja dilakukan reshuffle kabinet oleh Presiden. Melihat susunan kabinet, saya agak sedikit sedih, mengapa tidak banyak orang Kristen yang ada dalam kabinet sekarang ini. Apakah fenomena yang sedang terjadi? Apakah banyak orang Kristen yang tidak mau menjadi bekerja di bidang pemerintahan? Apakah banyak orang Kristen yang lebih suka melayani dan menjadi terang di Gereja, tetapi tidak menjadi terang di lingkungan masyarakat? Yang lebih menyedihkan lagi adalah dalam audit yang saya sedang lakukan, banyak sekali orang-orang Kristen yang menjadi “penjahat” dengan menggelapkan dana dan melakukan penyimpangan-penyimpangan. Beberapa dari mereka telah masuk penjara karena terbukti melanggar hukum, dan beberapa orang juga menggunakan nama-nama Kristen. Saya sempat terheran-heran, mengapa kok justru banyak nama-nama Kristen seperti Paulus, Andreas, Yohanes, dan lain-lain yang ada di penjara? Bagaimana orang lain bisa percaya kepada Tuhan Yesus jika orang yang mengaku diri mereka adalah orang Kristen justru malah banyak yang menjadi “penjahat”?

Tuhan mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Fungsi garam sangat banyak sekali, garam dapat digunakan untuk mengasinkan, untuk mengawetkan, untuk memberi rasa, dan lain sebagainya. Tuhan sendiri menyoroti fungsi utama garam yaitu memberi rasa asin. Jika garam itu sudah menjadi tawar, bagaimana ia bisa mengasinkan makanan? Tidak ada gunanya bagi garam itu selain dibuang dan diinjak orang (ay. 13). Dalam hal ini saya merasa Tuhan sedang menegur kita, yang selama ini mungkin aktif dalam pelayanan, mungkin diberikan banyak karunia dalam hidup kita, tetapi kita mungkin lupa bahwa hidup kita juga harus memberikan pengaruh baik bagi orang lain.

Dalam ayat selanjutnya, dikatakan bahwa kita pun adalah terang dunia. Ketika kita mengaku sebagai orang Kristen, mau tidak mau kita akan disorot habis-habisan. Sekali saja kita melakukan kesalahan, biasanya akan ada omongan seperti “Wah, katanya dia orang Kristen tapi kok kelakuannya kayak gitu ya?”. Saat ini kita tidak boleh main-main dengan status kita sebagai orang Kristen, apalagi jika nama kita mengandung nama-nama Kristiani. Kita memikul tanggung jawab yang berat sebagai orang Kristen, karena apapun tingkah laku kita, apapun perbuatan kita, apapun perkataan kita, selalu diperhatikan orang lain.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak ada cara lain adalah dengan sungguh-sungguh menjadi garam dan terang bagi dunia. Tuhan tidak mengatakan kita adalah garam gereja atau terang gereja, tetapi kita adalah garam dunia dan terang dunia. Artinya kita diutus ke tengah-tengah dunia untuk menggarami dan menerangi dunia ini. Walaupun Tuhan mengutus kita seperti domba ke tengah-tengah serigala, tetapi kita harus mampu menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang berbeda dengan dunia. Kita tidak boleh mempermalukan nama Tuhan, tetapi kita justru harus melakukan perbuatan-perbuatan baik kita agar kita dapat memuliakan nama Tuhan.

Mari kita mulai dari hal-hal sederhana. Misalkan kita tidak berkata kasar kepada bawahan kita, atau mungkin kepada pembantu di rumah kita. Kita memberi contoh di kantor dengan datang tepat waktu dan mengerjakan segala tugas dan tanggung jawab kita dengan baik. Dan sebenarnya masih banyak hal-hal lainnya yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, agar orang lain yang melihat kita (terutama mereka yang masih belum percaya), dapat melihat Kristus dalam kehidupan kita. Semua itu bukan untuk kebaikan kita, tetapi agar nama Tuhan dapat dimuliakan.


Bacaan Alkitab: Matius 5:13-16

5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Banyak Harta

Selasa, 18 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Matius 19:16-26

“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Mat 19:22)


Banyak Harta

Dulu waktu saya masih kecil, ada pepatah yang berkata demikian, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Wuih, rasanya enak sekali kalau itu bisa terjadi ya. Masih muda kita foya-foya dan melakukan apapun yang kita suka, saat kita tua, kita kaya raya sehingga menikmati hidup, dan ketika kita meninggal kita pun masuk surga. Bisakah seperti itu? Ya, secara teori sih bisa-bisa saja, andai misal sebelum mati orang itu telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Tapi bacaan Alkitab kita pada hari ini mengatakan beberapa hal mengenai menjadi orang yang kaya alias banyak harta.

Bacaan kita dimulai dengan kisah adanya seorang yang datang kepada Yesus dan bertanya, perbuatan baik apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal (alias masuk surga)? Yesus menjawab bahwa orang itu harus menuruti segala perintah Allah. Ketika orang itu kembali bertanya secara spesifik perintah Allah yang mana, Yesus kembali memberikan jawaban berupa beberapa contoh perintah yang ada dalam hukum Taurat.

Orang tersebut lalu berkata bahwa ia telah melakukan hal-hal tersebut, apa lagi yang masih kurang? Wow, sekilas kita dapat melihat bahwa orang ini memang bukan orang sembarangan. Ia berani berkata kepada Yesus bahwa semua hukum Taurat telah dilakukannya. Dalam ayat 20 dikatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang masih muda, sedangkan dalam ayat 22 secara tersirat dapat disimpulkan bahwa orang tersebut memiliki banyak harta. Jadi dengan kata lain, orang yang bertanya jawab dengan Yesus adalah seorang muda yang kaya dan telah melakukan hukum Taurat. Mungkin jika diibaratkan dalam keadaan sekarang, orang ini seperti pengusaha muda sukses yang menjalankan seluruh perintah-perintah Allah dalam Alkitab.

Tapi Yesus tidak mau hanya seperti itu, Yesus ingin agar orang ini pegi, menjual semua harta miliknya dan memberikannya kepada orang-orang miskin, lalu datang kembali dan mengikut Yesus (ay. 21). Wow, Yesus kembali menantang orang muda tersebut apakah ia rela untuk menjual semua harta miliknya dan mengikut Yesus. Alkitab tidak mengatakan secara jelas apa yang terjadi kemudian, Alkitab hanya mengatakan bahwa orang muda tersebut akhirnya pergi dengan sedih, karena banyak hartanya (ay. 22). Tidak diketahui apakah ia pergi dengan sedih untuk menjual semua harta miliknya dan akhirnya mengikut Yesus, ataukah ia akhirnya pergi dan memilih untuk tidak mengikut Yesus.

Selanjutnya, Yesus bahkan mengatakan lebih mudah bagi seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 24). Hal ini tentunya terkait dengan sikap hati orang yang kaya, yang biasanya akan lebih mengutamakan kekayaannya, daripada mengutamakan Tuhan yang telah memberikan kekayaan tersebut. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21). Seorang yang kaya pastilah memikirkan hartanya setiap saat, memikirkan investasi mana yang harus dipilihnya, memikirkan bagaimana menyimpan kekayaannya tersebut, memikirkan apa yang harus dilakukan agar harta miliknya tidak diambil oleh pencuri, dan seterusnya. Orang kaya akan menghabiskan lebih banyak waktu mengurus hartanya ketimbang memikirkan tentang perkara-perkara rohani.

Mendengar hal ini keluar dari mulut Yesus, murid-murid Yesus menjadi gempar (ay. 25). Mereka berpikir kalau hal ini terjadi, bisa-bisa tidak akan ada yang diselamatkan, atau kalaupun ada, orang-orang yang diselamatkan adalah orang-orang miskin. Tapi Yesus kembali menegaskan bahwa bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin (ay. 26). Semua hal yang mustahil bagi manusia tidaklah mustahil di hadapan Allah.

Saudara, menjadi kaya tidaklah salah. Jemaat Tuhan membutuhkan orang-orang kaya juga untuk membantu pelayanan pekerjaan Tuhan. Jika semua jemaat Tuhan adalah orang miskin, bagaimana jemaat bisa membangun gedung Gereja yang besar untuk menampung jiwa-jiwa baru? Jika semua jemaat Tuhan adalah orang miskin, bagaimana kita bisa memberikan bantuan sosial kepada orang-orang lain yang membutuhkan?

Dalam kisah di atas, Tuhan tidak melarang orang menjadi kaya. Yang Tuhan ingin lihat dari orang muda yang kaya tersebut adalah apakah ia mau memberikan miliknya yang paling berharga kepada Tuhan. Orang yang kaya kadang-kadang terjebak pada sikap lebih mengutamakan kekayaannya daripada Tuhan, padahal seharusnya Tuhan harus ditempatkan di tempat yang utama, lebih dari segala hal yang kita cintai. Tuhan pun pernah menguji Abraham untuk mengorbankan Ishak, putranya yang sangat Abraham sayangi, dan ketika Abraham lulus uji, Tuhan pun semakin memberkati Abraham. Jadi tidaklah salah kita menjadi orang kaya dan banyak harta, asalkan kita tetap mengingat Tuhan sebagai pemberi berkat, dan kita pun mau menjadi berkat bagi orang lain melalui berkat-berkat yang kita terima.

Bacaan Alkitab: Matius 19:16-22

19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

19:17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."

19:18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,

19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"

19:21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

19:25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"

19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."

Skeptis

Senin, 17 Oktober 2011

Bacaan Alkitab: Yohanes 20:24-29

“…Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29b)


Skeptis

Dalam pekerjaan saya sebagai seorang auditor, sejak awal masuk, saya selalu ditekankan akan pentingnya sikap skeptis dalam menjalankan tugas sebagai auditor. Skeptis di sini secara sederhana dapat diartikan sebagai selalu tidak mudah percaya, sikap selalu curiga, dan juga sikap yang melihat data dan fakta sebelum mengambil keputusan. Hal ini penting karena apa yang saya lakukan kadang-kadang memang harus menemukan banyak fakta yang tersembunyi atau disembunyikan pihak-pihak yang tidak ingin diketahui oleh auditor.

Dalam bacaan kita kali ini, salah satu murid Yesus yaitu Tomas, juga memiliki sikap skeptis. Hal ini terlihat dari sikapnya yang tidak bersama-sama dengan murid-murid lain setelah kematian Yesus (ay. 24). Ada kemungkinan bahwa hal ini didasari oleh sikap skeptis Tomas melihat bahwa Yesus yang katanya adalah Mesias justru telah mati di atas kayu salib. Sikap skeptis Tomas tersebut mungkin telah membuatnya tidak percaya bahwa Yesus adalah benar-benar Juruselamat, sehingga ia pun mencoba untuk memisahkan diri dari murid-murid yang lain.

Dalam ayat 25, lebih jelas lagi terlihat sikap skeptis dari Tomas, yang berkata “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya”. Tomas butuh bukti nyata, karena sikap skeptis dan rasional Tomas mengatakan bahwa tidak mungkin seorang yang telah mati bisa bangkit kembali. Padahal kemungkinan besar Tomas sendiri melihat ketika Yesus tiga kali membangkitkan orang mati, yaitu anak kepala rumah ibadat (Mat 9:18-26), anak muda di Nain (Luk 7:11-17), dan Lazarus (Yoh 11:1-44).

Walaupun demikian, Tuhan Yesus tetap mengasihi Tomas. Ia masih memberikan kesempatan khusus kepada Tomas untuk dapat melihat Yesus yang telah bangkit, dengan lubang paku di tangan dan bekas tusukan di lambungNya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus hanya menunjukkan tanganNya dan lambungNya yang berlubang kepada Tomas. Artinya Tomas mendapatkan keistimewaan dibandingkan dengan murid-muridNya. Hal ini tentunya berkaitan dengan karakter Tomas yang skeptis tersebut, sehingga Tuhan Yesus pun memberikan perlakuan khusus kepada Tomas, agar ia tidak ragu lagi bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian (ay. 27).

Sejak itu Tomas pun mengakui bahwa Yesus memang benar-benar bangkit dari kematian. Tomas memanggil Yesus dengan sebutan "Ya Tuhanku dan Allahku!" (ay. 28). Artinya Tomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah. Selanjutnya, menurut tradisi Tomas pun menjadi pengabar Injil yang setia hingga mati. Menurut tradisi Ia bahkan mengabarkan Injil hingga ke daerah India hingga mati syahid di sana. Tomas, dari sebelumnya adalah seorang murid Yesus yang skeptis, namun ia akhirnya percaya penuh kepada Tuhan dan mau melakukan kehendak Tuhan untuk mengabarkan Injil.

Bagaimana dengan kita? Tentunya tidaklah salah untuk bersikap skeptis ketika pekerjaan kita di kantor (misal sebagai auditor, atau penyidik) menuntut kita untuk bersikap demikian. Namun dalam hal hubungan kita dengan Tuhan, kita tidak bisa bersikap skeptis kepada Tuhan. Ibrani 11:1 mengatakan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Jadi kalau kita masih bersikap skeptis kepada Tuhan dan meminta bukti terlebih dulu baru kita percaya, berarti kita masih masuk dalam golongan orang-orang yang tidak beriman. Tuhan menghendaki kita untuk percaya penuh kepadaNya dalam kondisi apapun. Apapun yang terjadi, saat kita tidak dapat melihat jalan yang Tuhan berikan kepada kita, saat kita tidak mengerti apa rencana Tuhan bagi kita, satu hal yang harus kita pegang adalah percaya dengan segenap hati kepada Tuhan, serperti apa yang Tuhan katakan yaitu “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ay. 29).

Bacaan Alkitab: Yohanes 20:24-29

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Senin, 17 Oktober 2011

Bersukacita Menyambut Hari Minggu

Minggu, 16 Oktober 2011
Bacaan Alkitab: Mazmur 122:1-9
“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” (Mzm 122:1)



Bersukacita Menyambut Hari Minggu



Ketika membaca ayat ini, saya merenung sebentar. Saya melihat diri saya sendiri, bagaimana respon saya saat bangun pagi di hari Minggu? Apakah saya bangun dengan semangat dan sukacita untuk bersiap-siap pergi ke Gereja? Ataukah saya bangun dengan malas sambil sedikit mengomel karena harus berangkat pagi untuk ke Gereja. Entah mengapa kalau mau jujur, saya merasa bahwa hari Minggu pagi adalah hari paling enak untuk bangun siang. Selama ini saya terbiasa untuk mengikuti ibadah pukul 06.00 WIB, yang artinya saya harus bangun paling telat pukul 05.00 WIB. Kadangkala rasa kantuk itu masih mendominasi untuk kembali tidur, tetapi untunglah ada isteri saya yang selalu siap membangunkan saya dengan berbagai cara untuk pergi ke Gereja.


Memang seharusnya kita menyambut setiap hari dengan sukacita, tetapi dalam ayat 1 dikatakan bahwa kita seharusnya lebih bersukacita ketika kita hendak pergi ke rumah Tuhan atau Gereja. Pergi ke Gereja tidak selalu pada hari Minggu bukan, tetapi bisa juga pergi ke persekutuan-persekutuan lainnya, atau ke kelompok sel, atau seminar dan acara khusus lainnya. Kita seharusnya bersukacita dan bersemangat untuk mengikuti ibadah, apapun bentuknya, dan dimanapun Gereja kita berada.


Tapi pengalaman saya, kadang-kadang iblis menggunakan banyak cara untuk merampas sukacita kita ketika kita akan berangkat untuk beribadah. Mungkin taksi yang kita tunggu tidak datang-datang, kendaraan kita tiba-tiba mogok, pakaian yang hendak kita kenakan ternyata belum disetrika, anak-anak menjadi rewel, dan lain sebagainya. Itu adalah cara-cara iblis agar sukacita kita hilang ketika kita akan pergi ke Gereja. Kita harus mampu menjaga sukacita kita agar tidak hilang dicuri oleh Iblis.


Kita harus tetap bersukacita karena dalam persekutuan atau Gereja, di situ kita dapat bersyukur kepada Tuhan, memuji dan memuliakan Tuhan bersama dengan orang-orang percaya lainnya (ay. 4). Memang di rumah maupun di dalam kamar kita juga dapat memuji Tuhan, tetapi ketika kita memuji Tuhan bersama dengan orang lain, kita dapat merasakan hadirat Tuhan lebih dashyat lagi. Di dalam persekutuan kita dapat berdoa bersama-sama dengan orang lain, mendoakan orang-orang lain yang membutuhkan doa dari kita (ay. 6).


Dengan bersekutu dan beribadah dalam persekutuan atau Gereja, kita dikuatkan oleh Firman Tuhan dan oleh kesaksian-kesaksian dari orang-orang percaya lainnya di sekitar kita. Sehingga seharusnya kita pun dapat kembali menjadi berkat bagi orang lain. Dengan merasakan indahnya persekutuan di dalam Kristus, maka sudah sepantasnya kita juga mengajak orang lain untuk ikut merasakan kasih Kristus di persekutuan atau Gereja kita (ay. 7-8). Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merasakan sukacita itu setiap kali kita akan beribadah? Dan sudahkah kita membagi sukacita itu kepada orang lain, bahkan mengajak orang lain untuk dapat menikmati sukacita tersebut?


Bacaan Alkitab: Mazmur 122:1-9
122:1 Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."
122:2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.
122:3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat,
122:4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.
122:5 Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.
122:6 Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.
122:7 Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!"
122:8 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!"
122:9 Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.