Jumat, 25 November 2011

Bukan Awal yang Penting, Tetapi Bagaimana Akhirnya

Jumat, 25 November 2011

Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32

“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat 21:31)


Bukan Awal yang Penting, Tetapi Bagaimana Akhirnya


Dalam setiap kompetisi atau pertandingan, yang penting bukanlah bagaimana seseorang mengawali lomba tersebut, tetapi adalah bagaimana seseorang tersebut mengakhiri lomba tersebut. Dalam perlombaan balap motor misalnya, yang paling penting bukan bagaimana seorang pembalap melaju cepat di awal-awal, tetapi bagaimana pembalap tersebut bisa menjadi yang tercepat masuk di garis finis. Percuma jika awal-awal pembalap tersebut sudah memimpin tetapi di pertengahan jalan ia terjatuh dan tidak dapat melanjutkan lomba. Hal yang sama terjadi juga ketika final sepakbola SEA Games kemarin, ketika Indonesia awalnya bisa unggul terlebih dahulu tetapi akhirnya dibalas oleh Malaysia dan justru gagal pada saat adu penalti. Seorang atlet dilihat prestasinya didasarkan pada hasil akhir ketika perlombaan atau pertandingan tersebut telah berakhir.

Prinsip yang sama ditunjukkan Yesus ketika Ia memberikan perumpamaan kepada orang Israel yang kita baca hari ini. Dikisahkan bahwa ada seorang yang memiliki dua anak laki-laki. Ia berkata kepada anaknya yang sulung dan memintanya untuk pergi dan bekerja di kebun anggur. Anak sulung tersebut berkata “Ya”, tetapi ternyata ia tidak pergi. Orang itu pun berkata kepada anaknya yang kedua dan memintanya untuk pergi dan bekerja di kebun anggur. Anak bungsu tersebut berkata “Tidak mau”, tetapi kemudian ia menyesal dan akhirnya pergi juga. Saat itu Tuhan Yesus bertanya kepada orang banyak, siapa yang melakukan kehendak Bapanya? Mereka pun menjawab “Yang terakhir”.

Dari bacaan Alkitab kita hari ini, kita melihat bahwa sesungguhnya Tuhan tidak ingin kita hanya berkata “Ya” dan “Ya” tanpa ada tindakan nyata. Berapa kali di Gereja, para Pendeta kita bertanya “Siapa yang ingin bertobat?” atau “Siapa yang ingin lebih sungguh-sungguh lagi mengiring Tuhan?”, dan pada umumnya semua jemaat berkata “Ya”. Tetapi apakah perkataan yang mereka ucapkan itu benar-benar dilakukan sepulang dari Gereja? Berapa banyak Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang sudah kita ikuti? Tetapi apakah kerohanian kita sungguh-sungguh bangkit setiap kali kita datang di KKR?

Tuhan Yesus berkata lebih lanjut, bahwa para pemungut cukai dan para perempuan sundal akan mendahului masuk ke Kerajaan Allah (ay. 31). Hal tersebut menggenapi Firman Tuhan yang berkata “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu" (Mat 19:30). Berapa kali kita lihat di gereja, bahwa para petobat baru rata-rata pasti lebih giat melayani Tuhan, dibandingkan kita yang sudah beragama Kristen sejak lahir. Kita yang sejak kecil sudah mengenal Tuhan kadang-kadang sudah menganggap bahwa ibadah itu hanya sekedar rutinitas saja, tetapi mereka yang baru bertobat justru merasa bahwa ibadah dan pelayanan adalah hal-hal yang sangat luar biasa. Orang-orang yang baru bertobat pasti merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan keselamatan, sehingga mereka pun akan lebih bersyukur.

Sama seperti kisah tentang perempuan berdosa yang mengurapi dan meminyaki kaki Tuhan Yesus, di mana Tuhan Yesus pun berkata bahwa bahwa perempuan tersebut melakukan hal itu karena ia telah merasa banyak berdosa dan telah diampuni, sehingga ia pun ingin membalas kasih Tuhan kepadanya. Justru murid-murid Yesus yang sejak awal dipilih Tuhan tidak pernah mengurapi kaki Tuhan Yesus. Bagaimana mungkin justru orang lain yang barangkali baru satu dua kali bertemu Tuhan Yesuslah yang akhirnya mengurapi kaki Tuhan Yesus? Dimana posisi murid-murid Yesus pada saat itu?

Mungkin ada di antara kita yang memiliki awal kisah hidup yang kurang baik. Mungkin ada di antara kita yang dulunya telah banyak berbuat dosa, atau ada di antara kita yang dulunya malas-malasan untuk mengiring Tuhan, atau mungkin justru ada di antara kita yang sejak kecil sudah Kristen tetapi kehidupan rohani kita sampai dengan saat ini tidak pernah bertumbuh. Tuhan tidak mempermasalahkan awal kehidupan kita. Tetapi Tuhan ingin agar mulai saat ini, kita berubah, dan kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Mungkin dulu kita pernah berkata “ Tidak mau” ketika Tuhan meminta kita untuk melayaniNya, tetapi bacaan kita hari ini berkata bahwa Tuhan lebih melihat orang-orang yang akhirnya mau melakukan kehendak Bapa, walaupun mungkin di awal kita sempat berkata “Tidak”. Tidak ada yang terlambat bagi Tuhan. Tidak masalah sejauh apapun kita telah menyimpang dari jalan Tuhan, pada hari ini ketika kita menyadarinya, segeralah berbalik dan ikutilah jalan Tuhan itu. Selagi kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, marilah kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita.


Bacaan Alkitab: Matius 21:28-32

21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.

21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

Kamis, 24 November 2011

Mengajarkan Firman Tuhan kepada Anak-anak Kita

Kamis, 24 November 2011

Bacaan Alkitab: Ulangan 6:4-9

“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ul 6:7)


Mengajarkan Firman Tuhan kepada Anak-anak Kita


Beberapa waktu lalu saya pernah berpikir, jika saya telah memiliki anak, bagaimana cara mendidik anak saya nanti agar tetap takut akan Tuhan? Saya melihat bahwa semakin hari kondisi dunia semakin mengkhawatirkan. Jika saat ini saja pengaruh negatif sudah sangat mengkhawatirkan, bahkan anak-anak yang dididik dengan baik sejak kecil, kadang-kadang berubah ketika dewasa karena pengaruh lingkungan mereka. Pengaruh-pengaruh negatif seperti narkoba, seks bebas, dan lain-lain semakin menakutkan, apa lagi di zaman anak saya hidup nantinya.

Jauh sebelum saya memikirkan hal tersebut, Musa pun sudah melihat pentingnya pendidikan iman sejak dini kepada anak-anak. Dalam bacaan kita kali ini, Musa memulainya dengan prinsip utama yaitu Tuhan, Allah bangsa Israel adalah Tuhan yang esa (ay. 4). Artinya, tidak ada Tuhan lain yang berkuasa dalam kehidupan bangsa Israel. Satu-satunya Tuhan yang harus disembah adalah Tuhan itu sendiri. Selanjutnya Musa memerintahkan bangsa Israel untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatannya (ay. 5). Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa mengasihi Allah adalah hukum yang paling terutama (Mat 22:37).

Selanjutnya, Musa memerintahkan bangsa Israel agar apa yang diajarkan Musa (yaitu Firman Tuhan dan segala peraturan dari Tuhan), harus diperhatikan oleh bangsa Israel (ay. 6). Dan tidak hanya diperhatikan, Musa juga meminta bangsa Israel mengajarkan secara berulang-ulang kepada anak-anak mereka, dan membicarakan tentang Firman Tuhan dalam segala kondisi (ay. 7). Bahkan secara agak ekstrim, Musa meminta agar Firman Tuhan selalu diikatkan pada tangan dan menjadi lambang di dahi mereka, bahkan menuliskan pada pintu rumah dan pintu gerbang mereka (ay. 8-9). Saya sendiri belum pernah ke Israel, tetapi dari beberapa sumber, mereka mengatakan bahwa di pintu-pintu Israel biasanya ditulis beberapa kutipan dari Taurat.

Melihat hal ini, sudah seharusnya kita pun memperlakukan Firman Tuhan seperti apa yang Musa ajarkan kepada bangsa Israel. Tidak cukup kita hanya mendengar Firman Tuhan pada hari Minggu saja, terlebih anak-anak kita. Saya yakin bahwa anak-anak kita pun tak cukup hanya ikut Sekolah Minggu pada hari Minggu saja. Apalagi jika dalam kehidupan sehari-hari kedua orang tua pun tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Firman Tuhan. Anak-anak akan lebih banyak mendapat pengaruh dari lingkungan di sekitarnya, entah sekolah, ataupun teman-teman bermainnya. Bagaimana anak kita bisa memiliki iman yang kuat jika orang tuanya tidak pernah mengajarkan tentang Firman Tuhan? Kita rasanya perlu mencontoh apa yang dilakukan saudara-saudara kita yang beragama lain, di mana mereka rela membayar guru untuk mengajar anak-anak mereka mengaji. Paling tidak, mereka pun terbiasa untuk membaca kitab suci mereka sendiri. Sedangkan kita, pernahkah kita berpikir untuk mendatangkan guru sekolah minggu untuk datang ke rumah dan mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak kita selain pada hari Minggu?

Saat ini anak saya pun masih belum lahir, tetapi saya dan isteri saya belajar paling tidak untuk mulai mengucapkan Firman Tuhan selagi anak saya masih dalam kandungan. Walaupun saya tidak tahu apakah ia sudah bisa mendengar atau tidak, tetapi paling tidak kami mencoba untuk membangun keluarga yang dilandasi oleh Firman Tuhan sejak awal. Semoga itu pun dapat menjadi dasar bagi anak saya nanti yang akan menghadapi dunia yang lebih berbahaya dari sekarang.


Bacaan Alkitab: Ulangan 6:4-9

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Rabu, 23 November 2011

Ketika Letih Lesu

Rabu, 23 November 2011

Bacaan Alkitab: Matius 11:28-30

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28)


Ketika Letih Lesu


Beberapa hari yang lalu, saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya di kantor, di mana saat ini adalah saat di mana laporan hasil audit saya sedang masuk pada tahap penyusunan. Audit yang sedang saya kerjakan ini sangat berat karena merupakan audit yang bersifat politis dan ditunggu-tunggu oleh banyak pihak dengan ekspektasi yang sangat tinggi. Ditambah lagi saya pun bepergian ke luar kota pada hari jumat malam dan tiba pada hari sabtu siang, sedangkan pada hari minggu siangnya pun saya sudah harus pulang lagi dan tiba kembali di Jakarta hari senin pagi. Jujur saja saat itu saya pun merasa sangat lelah dengan segala aktivitas saya. Saya pun sempat berpikir untuk sementara tidak meneruskan tulisan saya ini, karena memang kesibukan saya yang sangat padat, apalagi sudah 4 hari lamanya saya tidak sanggup untuk menulis renungan, karena begitu saya sampai di rumah, badan saya sudah sangat lelah dan biasanya langsung tertidur.

Namun ketika saya merenung, sesungguhnya Tuhan sedang menguji saya apakah saya tetap setia mengerjakan panggilan saya. Tulisan saya ini pun mungkin bukanlah tulisan yang bagus, jika dibandingkan dengan tulisan hamba-hamba Tuhan lainnya yang lebih terkenal. Tulisan saya ini saja pun hanya dibaca oleh beberapa orang, tidak seperti tulisan-tulisan di renungan harian yang dibaca oleh banyak orang di seluruh Indonesia. Saya sempat berpikir, kira-kira apa mungkin salah satu tulisan saya ini akan dimuat di dalam renungan harian dan dibaca banyak orang? Saat sedang lelah-lelahnya, saya pun sempat berpikir untuk mengubah tulisan saya yang awalnya bersifat harian menjadi tulisan-tulisan lepas. Namun setelah saya merenungkan bahwa Tuhan yang telah memulai pelayanan saya di bidang ini, saya pun mengurungkan niat saya. Saya hanya berkata kepada Tuhan, bahwa jika Tuhan yang memiliki pelayanan ini berkehendak saya tetap meneruskan pelayanan ini, walaupun hanya kecil, tolong berikan saya kekuatan untuk dapat menulis renungan ini dengan tepat waktu.

Saya pun membaca ajakan Tuhan dalam Matius 11:28 yang berbunyi “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”. Saya sudah pernah membaca ayat ini berulang kali, namun entah kenapa ayat itu menjadi sangat bermakna bagi saya di hari-hari ini. Tuhan tidak mengajak orang-orang yang sedang letih lesu dan berbeban berat untuk pergi ke tempat lain, atau untuk tidur dan beristirahat, tetapi Tuhan ingin agar orang-orang seperti itu untuk datang kepadaNya, karena hanya Tuhan yang mampu memberikan kelegaan kepada kita.

Saya pun belajar untuk datang kembali kepadaNya, dan memutuskan untuk tetap mengerjakan bagian saya. Saya sadar bahwa apa yang saya lakukan adalah “kuk” dari Tuhan dalam hidup saya (ay. 29-30). Mungkin awalnya saya menganggap bahwa kuk itu adalah beban atau hukuman bagi saya, tetapi ketika saya membandingkan diri dengan apa yang orang lain lakukan bagi Tuhan, dengan para hamba-hamba Tuhan yang mengerjakan pelayanan dengan full time, bahkan waktu mereka pun seakan-akan 24 jam untuk Tuhan dan melayani orang lain, saya merasa bahwa saya bukan apa-apa di hadapan Tuhan. Kuk yang saya terima itu masih kuk yang ringan, yang sebetulnya pun tidak sebanding dengan sukacita yang nanti akan kita terima di surga kelak.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan anda semua. Puji Tuhan jika kebanyakan dari kita sedang bersemangat untuk melayani Tuhan dan tidak lelah, tetapi jika ada di antara kita yang sedang lelah atau jenuh dalam melayani Tuhan, mungkin saatnya kita datang kepada Tuhan dan minta Tuhan untuk memberi kekuatan yang akan me-refresh kehidupan rohani kita. Nabi Elia pun pernah merasakan ketakutan yang luar biasa dan nyaris melarikan diri dari panggilan Tuhan, tetapi ketika Tuhan datang, dan memberi Elia makan dan minum, maka Elia sanggup berjalan empat puluh hari dan empat puluh malam untuk menuju gunung Allah untuk bertemu dengan Allah (1 Raj 19:1-8). Barangsiapa yang datang kepada Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yes 40:31).


Bacaan Alkitab: Matius 11:28-30

11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

Kota Perlindungan

Selasa, 22 November 2011

Bacaan Alkitab: Yosua 20:1-6

“Katakanlah kepada orang Israel, begini: Tentukanlah bagimu kota-kota perlindungan, yang telah Kusebutkan kepadamu dengan perantaraan Musa, supaya siapa yang membunuh seseorang dengan tidak sengaja, dengan tidak ada niat lebih dahulu, dapat melarikan diri ke sana, sehingga kota-kota itu menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut tebusan darah.” (Yos 20:2-3)


Kota Perlindungan


Zaman dahulu kala, ketika bangsa Israel baru akan masuk ke dalam tanah Kanaan, Tuhan berfirman kepada Yosua, pemimpin bangsa Israel yang menggantikan Musa, untuk menetapkan kota-kota perlindungan (ay. 2). Tujuan dari kota-kota perlindungan adalah sebagai tempat berlindung bagi orang-orang yang tidak sengaja membunuh sesama mereka (ay. 3). Dalam masa itu, Tuhan pun telah berfirman bahwa hukum yang berlaku di bangsa Israel adalah “Nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, dan kaki ganti kaki” (Ul 19:21). Dengan demikian, seharusnya jika hanya berpatokan pada hukum “nyawa ganti nyawa” tersebut, semua orang yang membunuh tentunya harus dihukum mati, tetapi dalam bacaan kita hari ini, ternyata Tuhan ingin agar hukum tadi pun juga diaplikasikan dengan bijaksana.

Kota-kota perlindungan ditetapkan ada enam kota, tiga di sebelah barat sungai Yordan, dan tiga lagi di sebelah timur sungai Yordan. Hal itu agar semua orang Israel punya akses ke kota perlindungan. Perkara pembunuhan dengan tidak sengaja tersebut akan dibawa kepada para tua-tua kota, dan jika memang diputuskan bahwa pembunuhan itu dilakukan dengan tidak sengaja, maka pembunuh tersebut harus tinggal di kota itu demi keselamatan dirinya (ay. 4). Barulah ketika imam besar yang berkuasa pada saat itu mati, orang tersebut baru boleh pulang ke kota asalnya tanpa kuatir lagi akan dibunuh oleh keluarga dari orang yang telah tidak sengaja dibunuh olehnya.

Kota perlindungan itu menggambarkan Tuhan sendiri. Dalam hidup kita, kita pasti sering berbuat dosa atau kesalahan. Sebagai konsekuensi dari dosa-dosa kita, seharusnya kita pun mendapatkan hukuman, sebab upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Akan tetapi syukur kepada Allah bahwa Tuhan pun adalah tempat perlindungan kita dalam kesesakan (Mzm 9:10), dengan kata lain Tuhan menjadi tempat perlindungan atau kota perlindungan. Ketika kita mengaku dosa kita, maka Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil, dan Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9).

Jika di zaman Yosua, seseorang baru bisa diselamatkan secara tuntas dari tuntutan keluarga orang yang dengan tidak sengaja dibunuhnya ketika imam besar telah mati, maka Tuhan Yesus pun adalah Imam Besar bagi kita (Ibr 9:11), yang melalui kematianNya di kayu salib, telah menyempurnakan penebusan kita dari segala dosa-dosa kita. Sehingga, dengan kata lain, bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus telah diselamatkan secara tuntas dari tuntutan iblis. Yesus telah mati untuk menanggung dosa banyak orang, yaitu orang-orang yang percaya kepadaNya, untuk menganugerahkan keselamatan bagi mereka (Ibr 9:28).

Kita pun sudah sepantasnya bersyukur atas Tuhan kita yang senantiasa menjadi tempat perlindungan bagi kita. Dan bagaimanakah cara kita bersyukur, tentunya dengan tidak berbuat dosa lagi dan juga dengan menceritakan tentang keselamatan yang Tuhan berikan kepada orang lain yang belum mengenal Tuhan. Sudahkah kita melakukannya?


Bacaan Alkitab: Yosua 20:1-6

20:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian:

20:2 "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Tentukanlah bagimu kota-kota perlindungan, yang telah Kusebutkan kepadamu dengan perantaraan Musa,

20:3 supaya siapa yang membunuh seseorang dengan tidak sengaja, dengan tidak ada niat lebih dahulu, dapat melarikan diri ke sana, sehingga kota-kota itu menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut tebusan darah.

20:4 Apabila ia melarikan diri ke salah satu kota tadi, maka haruslah ia tinggal berdiri di depan pintu gerbang kota dan memberitahukan perkaranya kepada para tua-tua kota. Mereka harus menerima dia dalam kota itu dan memberikan tempat kepadanya, dan ia akan diam pada mereka.

20:5 Apabila penuntut tebusan darah itu mengejar dia, pembunuh itu tidak akan diserahkan mereka ke dalam tangannya, sebab ia telah membunuh sesamanya manusia dengan tidak ada niat lebih dahulu, dan dengan tidak menaruh benci kepadanya lebih dahulu.

20:6 Ia harus tetap diam di kota itu sampai ia dihadapkan kepada rapat jemaah untuk diadili, sampai imam besar yang ada pada waktu itu mati. Maka barulah pembunuh itu boleh pulang ke kotanya dan ke rumahnya, ke kota dari mana ia melarikan diri."

Ajaran yang Memuaskan Keinginan Telinga

Senin, 21 November 2011

Bacaan Alkitab: 2 Timotius 4:1-5

“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” (2 Tim 4:3)


Ajaran yang Memuaskan Keinginan Telinga


Beberapa tahun terakhir ini, cukup banyak acara-acara di televisi yang didasarkan pada popularitas semata. Banyak kompetisi-kompetisi di televisi yang hanya didasarkan pada sms penonton yang masuk. Kompetisi ini pun sangat banyak, mulai dari kompetisi menyanyi, kompetisi menari, kompetisi kecantikan kompetisi bersosialisi. Saya berpikir, apakah suatu saat nanti akan ada acara semacam “pemilihan pendeta/penginjil/pengkhotbah favorit” di televisi, di mana juaranya adalah orang yang paling banyak dipilih oleh penonton melalui sms? Misalkan acara tersebut benar-benar ada, apakah orang yang menjadi juara adalah orang yang benar-benar memiliki jiwa melayani, ataukah ia hanya menang karena mungkin wajahnya paling ganteng, atau suaranya paling menawan, atau karena khotbahnya paling menarik, walau mungkin tidak terlalu alkitabiah?

Memang kompetisi itu pun tidak salah, tetapi yang menjadi sorotan saya adalah, dengan berkembangnya zaman saat ini, apakah ada para pendeta/pengkhotbah yang mulai berkompromi dengan tuntutan masa kini? Apakah para pendeta dan pengkhotbah saat ini masih berani menyampaikan Firman Tuhan yang benar, ataukah hanya khotbah-khotbah yang “menyenangkan” hati jemaat saja? Apaka para pendeta dan pengkhotbah masih berani berkhotbah tentang penyangkalan diri dan salib yang harus dipikul oleh orang percaya? Ataukah mereka kebanyakan berkhotbah tentang berkat-berkat Tuhan yang akan diterima oleh jemaat jika mereka mau memberikan persembahan yang besar ke gereja?

Memang prinsip tentang berkat juga ada di dalam Alkitab. Tetapi jika dalam setiap kebaktian yang dikhotbahkan hanya tentang berkat saja, tanpa pernah ada khotbah tentang penyangkalan diri, apakah mungkin jemaat juga bisa bertumbuh dalam iman yang benar? Saya sendiri jika mau memilih juga pasti ingin mendengar khotbah tentang berkat dan berkat yang luar biasa. Tetapi apakah isi Alkitab hanyalah melulu tentang berkat? Alkitab pun bercerita tentang pergumulan dan masalah yaang dihadapi oleh tokoh-tokoh dalam Alkitab, termasuk oleh Tuhan Yesus sendiri.

Saya tidak antipati dengan khotbah-khotbah semacam itu, tetapi yang saya kuatirkan adalah bahwa orang-orang percaya akan pergi dari gereja ke gereja untuk mencari pendeta-pendeta yang hanya mengkhotbahkan tentang hal-hal yang enak saja. Hal ini pun sebenarnya sudah ada dalam tulisan Paulus kepada Timotius yang kita baca hari ini, bahwa akan datang waktunya bahwa orang akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan telinga mereka (ay. 3). Jika memang mereka masih mencari ajaran Tuhan sih masih mending, tetapi yang bahaya adalah ketika mereka pun akhirnya tidak selektif terhadap ajaran yang mereka dengar (ay. 4). Yang bahaya adalah ketika mereka tidak pernah mengecek lagi apakah ajaran tersebut memang ada di Alkitab atau tidak, apakah ajaran tersebut memang sesuai dengan konteks di Alkitab atau hanya main comot ayat-ayat saja, yang penting ayatnya menyenangkan hati.

Tuhan Yesus selama mengajar memang banyak menyampaikan Firman yang menyejukkan hati orang-orang, terutama orang berdosa, tetapi di sisi lain Tuhan Yesus pun juga banyak menyampaikan Firman yang “keras” dan “tegas”. Paulus pun menegaskan kepada Timotius untuk memberitakan Firman, menyatakan apa yang salah sehingga dapat dibenarkan kembali (ay. 2). Pekerjaan ini memang sulit, terutama jika para pendengarnya sudah lebih memilih untuk mendengarkan kata-kata yang menyenangkan hati dan telinga mereka. Tetapi Paulus kembali menekankan agar Timotius tetap menguasai diri dan tetap melakukan pekerjaan pemberitaan Injil sesuai dengan panggilan pelayanannya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi Timotius yang memberitakan Firman Tuhan yang benar, dan bukan hanya “firman” yang menyenangkan telinga pendengarnya? Atau justru kita malah yang menjadi orang-orang yang hanya mendengarkan ajaran-ajaran yang menyenangkan telinga kita?


Bacaan Alkitab: 2 Timotius 4:1-5

4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:

4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

Membuang Hal-hal yang Menyesatkan

Minggu, 20 November 2011

Bacaan Alkitab: Matius 18:8-9

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” (Mat 18:9)


Membuang Hal-hal yang Menyesatkan


Beberapa tahun yang lalu, ketika saya membaca ayat ini, saya merasa bahwa Tuhan Yesus sedang berbicara tentang kiasan. Masa iya sih kita disuruh memotong tangan atau kaki kita kalau tangan dan kaki kita menyesatkan kita? Masa iya sih kita harus mencungkil mata kita jika mata kita menyesatkan kita? Tetapi setelah saya membaca ayat ini lagi beberapa waktu yang lalu, saya merasa bahwa memang kita harus berani membuang hal-hal yang menyesatkan kita.

Apa definisi sesat? Secara mudah sesat dapat berarti kehilangan arah dan tujuan. Seseorang yang tersesat berarti orang tersebut tidak tahu ia berada di mana dan ia tidak mengerti bagaimana ia dapat mencapai tujuannya. Alkitab mengatakan bahwa dahulu, sebelum kita mengenal Kristus, kita pun sesat seperti domba, dalam hal ini kita sesat karena kita tidak mengenal Yesus sebagai gembala kita (1 Pet 2:25). Sebenarnya sebagai orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus, kita seharusnya tidak boleh sesat lagi. Tetapi ada beberapa hal yang dapat menyesatkan orang percaya, antara lain:

Pertama, sesat karena tidak mengerti Kitab Suci dan kuasa Allah (Mat 22:29). Sebagai orang percaya, seharusnya kita bertekun dalam pembacaan Kitab Suci (1 Tim 4:13). Hal ini berarti bahwa kita harus rajin membaca Firman Tuhan agar iman kita pun menjadi bertumbuh karenanya. Seseorang yang mengaku dirinya Kristen tetapi tidak pernah membaca Firman Tuhan sesungguhnya patut diragukan status kekristenannya.

Kedua, sesat karena hidup dalam pergaulan yang buruk (1 Kor 15:33). Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan orang lain, tetapi kita pun harus berhati-hati agar tidak memiliki lingkungan pergaulan yang buruk. Banyak cerita di mana orang yang imannya kuat pun akhirnya jatuh karena lingkungannya tidak mendukung.

Ketiga, sesat karena ajaran-ajaran yang asing atau ajaran yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan (Ibr 3:9). Tidak bisa dipungkiri, sekarang banyak sekali aliran dan denominasi gereja beserta dengan ajaran-ajaran dari denominasi tersebut. Begitu banyaknya ajaran-ajaran yang ada saat ini, sehingga jika kita tidak hati-hati pun bisa-bisa ada beberapa ajaran yang menyimpang yang tanpa kita sadari menyesatkan kita.

Tuhan ingin agar kita sebagai anak-anakNya tidak menjadi sesat, apalagi justru menyesatkan orang lain. Dalam ayat sebelumnya di perikop ini, Tuhan mengingatkan agar murid-muridNya tidak menyesatkan anak kecil. Anak kecil di sini dapat berarti anak kecil secara harafiah, yang berarti bahwa kita harus mendidik anak-anak dalam kebenaran, tetapi juga berarti anak kecil dalam arti rohani, yaitu orang-orang yang imannya belum kuat. Dengan kata lain, kita yang memiliki iman yang lebih kuat daripada orang lain, tidak boleh membuat orang lain yang imannya lebih lemah daripada kita menjadi tersesat.

Kembali lagi ke diri kita masing-masing. Saya tidak tahu hal-hal apakah yang membuat anda menjadi sesat. Tetapi, beranikah anda membuang hal-hal yang menyesatkan anda? Ada cerita salah satu teman saya yang mengeluh bahwa pikirannya selalu “kotor”, ternyata di komputernya ada banyak foto-foto dan video porno. Ketika saya bertanya mengapa ia tidak mau menghapus file-file tersebut, ia berkata bahwa ia sangat sayang jika harus membuang file-file tersebut, karena ia mengumpulkan dengan susah payah. Dalam hal ini, tidak mungkin teman saya itu bisa memiliki pikiran yang “jernih” jika file-file yang “kotor” itu masih ada di komputernya. Ia harus mau mengambil langkah untuk membuang hal-hal yang menyesatkannya. Mungkin saja salah satu hal yang menyesatkan anda adalah lingkungan anda, pergaulan dengan teman-teman terdekat anda, jejaring sosial anda, dan lain sebagainya. Beranikah anda membuang hal-hal tersebut? Beranikah anda membuang Blackberry anda jika memang Blackberry anda menyesatkan? Beranikah anda menghapus akun Facebook atau Twitter anda jika memang anda menjadi sesat karena jejaring sosial anda? Beranikah anda meninggalkan lingkungan teman-teman dekat anda yang merusak iman anda? Saya tidak tahu kapan sebaiknya anda harus membuang hal-hal tersebut, karena anda lah yang paling mengerti kapan waktu yang tepat untuk membuang hal-hal menyesatkan tersebut. Tetapi mungkin suatu saat memang hal tersebut harus dibuang agar kita tidak tersesat dan masuk ke dalam surga yang mulia dan kekal.


Bacaan Alkitab: Matius 18:8-9

18:8 Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.

18:9 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.